Memahami makna kalimat laa ilaaha illaLLOOH memberikan dua manfaat

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Memahami makna kalimat laa ilaaha illaLLOOH memberikan dua manfaat: [1]

Pertama: Gembira dengan karunia ALLOH dan rohmat-NYA, sebagaimana disebutkan dalam firman ALLOH:

"Katakanlah, 'Dengan karunia ALLOH dan rohmat-NYA hendaknya mereka bergembira. Karunia ALLOH dan rohmat-NYA itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan'."
(Qur-an Suroh Yunus: ayat 58)

Kedua: Hati akan merasa sangat takut. [2]

Penjelasan

[1] Manfaat tersebut bisa diperoleh karena ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala telah membuka hatimu sehingga engkau dapat memahami dengan benar makna kalimat yang agung ini (laa ilaaha illaLLOOH). Ini merupakan karunia dan rohmat yang besar dari ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala. Engkau patut bergembira, karena hal semacam ini termasuk perbuatan yang diperintahkan oleh ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala. Dalilnya adalah sebagaimana disebutkan oleh Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH bahwa kegembiraan seorang hamba karena nikmat yang ALLOH berikan kepadanya berupa 'ilmu dan 'ibadah termasuk hal yang terpuji. Disebutkan dalam sebuah hadits: "Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yakni gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu ROBB-nya." (11)

[2] Yakni kita takut menyimpang seperti yang dialami oleh orang-orang yang tidak memahami makna kalimat tersebut secara benar. Karena hal seperti ini mengandung bahaya yang sangat besar.

Bersambung...

===

(11) Riwayat Imam al-Bukhori, kitab ash-Shoum, bab Hal Yaqulu Inni Shoim idza Syutima, dan Imam Muslim, kitab ash-Shiyam, bab Fadhl ash-Shiyam.

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Beberapa hukum dan adab 'Idul Adh-ha yang penuh berkah

Beberapa hukum dan adab 'Idul Adh-ha yang penuh berkah

Wahai saudaraku yang kucintai, kami sampaikan salam hormat kami dengan penghormatan Islam, kami ucapkan kepadamu "as-Salaamu 'alaykum wa rohmatuLLOOHI wa barokaatuh", kami menyampaikan salam hormat kepadamu seiring dengan datangnya 'Idul Adh-ha yang penuh berkah, dan kami katakan kepadamu "taqobbalaLLOOHU minnaa wa minka". Kami berharap agar engkau mau menerima dari kami risalah ini, yang kami mohonkan kepada ALLOH 'Azza wa Jalla agar menjadi risalah yang bermanfaat untukmu dan untuk semua kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Saudaraku sesama Muslim, kebaikan dari segala kebaikan adalah dengan mengikuti petunjuk Rosul shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam dalam setiap permasalahan hidup kita. Oleh karena itulah kami ingin mengingatkan engkau akan beberapa hal yang disunnahkan untuk dikerjakan atau untuk diucapkan pada malam 'Idul Adh-ha yang penuh berkah, di hari Nahr (hari penyembelihan qurban) dan tiga hari Tasyriq, serta kami rangkum dalam beberapa poin berikut ini:

1. Takbir

Disyari'atkan untuk bertakbir di pagi hari 'Arofah sampai 'Ashor terakhir hari-hari Tasyriq, yaitu tanggal 13 dari bulan Dzulhijjah. ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,

"Dan hendaklah kamu menyebut nama ALLOH di hari-hari yang terbilang."

Dan caranya adalah dengan engkau mengucapkan,

ALLOOHU Akbar, ALLOOHU Akbar, ALLOOHU Akbar, Laa ilaaha illaLLOOHU WALLOOHU Akbar, ALLOOHU Akbaru wa liLLAAHIL hamdu

ALLOH Maha Besar, ALLOH Maha Besar, ALLOH Maha Besar, Tiada ilah (yang berhak di'ibadahi dengan benar) selain ALLOH dan ALLOH Maha Besar, ALLOH Maha Besar dan segala puji hanya milik ALLOH.

Disunnahkan untuk mengucapkannya setiap selesai sholat dengan suara yang keras bagi laki-laki di masjid-masjid, pasar-pasar dan rumah-rumah, untuk mengumumkan keagungan ALLOH dan menampakkan 'ibadah serta bersyukur kepada-NYA.

2. Menyembelih qurban

Ini dilakukan setelah sholat 'Id berdasarkan sabda Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat, maka hendaknya ia mengulangi penyembelihannya dengan binatang yang lain, dan barangsiapa yang belum menyembelih, maka sembelihlah sekarang."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhori dan Imam Muslim)

Waktu penyembelihan adalah empat hari 'Id, yakni satu hari Nahr (hari penyembelihan), dan tiga hari Tasyriq. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bahwa Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda,

"Seluruh hari-hari Tasyriq adalah waktu penyembelihan."
(Lihat di kitab as-Silsilatul Ahaadiits ash-Shohiihah nomor 2476)

3. Mandi dan memakai minyak wangi untuk laki-laki

Memakai pakaian yang paling bagus tanpa adanya pemborosan dan berlebih-lebihan, tidak melakukan isbal (menjulurkan kain menutupi mata kaki) dan tidak memotong jenggot, karena hal ini diharomkan. Adapun kaum perempuan, mereka disyari'atkan untuk keluar ke musholla (lapangan tempat penyelenggaraan sholat) 'Id tanpa berhias dan tanpa memakai wangi-wangian. Tidak dibenarkan pergi untuk melaksanakan keta'atan kepada ALLOH dan mengerjakan sholat, tetapi kemudian bermaksiat kepada ALLOH dengan berhias, memperlihatkan aurotnya dan memakai wangi-wangian di depan laki-laki.

4. Makan hewan qurban

Ketika itu Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam tidak makan sampai Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam kembali dari musholla (lapangan tempat penyelenggaraan sholat 'Id) lantas Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam makan dari hewan qurbannya.
(Kitab Zaadul Ma'aad 1/441)

Bersambung...

===

Sumber:
Kitab: Keutamaan 10 Dzulhijjah, Penulis: Syaikh 'Abdulloh bin 'Abdirrohman al-Jibrin dan Syaikh Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerjemah: Muhammad Basyirun, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan I, Desember 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Pemeriksaan, pengobatan dan perawatan tifus (2)

Pemeriksaan, pengobatan dan perawatan tifus (2)

Tanda-tanda tifus:

Demam: Terjadi akibat luka (peradangan/ infeksi) terutama di usus.

Nyeri kepala: Akibat dari naiknya uap panas dari usus (demam).

Tidak nafsu makan: Adalah efek dari demam, dimana tubuh tengah konsentrasi berjuang melawan penyakit, atau juga melemahnya kerja empedu hitam yang dikeluarkan limpa (lihat anatomi sistem pencernaan oleh Imam adz-Dzahabi).

Mual dan muntah: Akibat dari penekanan organ oleh usus atau organ lain yang bengkak, seperti hati dan limpa.

Diare: Terjadi akibat peradangan dan menumpuknya lendir di usus yang harus dikeluarkan.

Perasaan tidak enak/ sebah di perut: Akibat obstipasi (sembelit akibat penyumbatan di usus) dan terjebaknya gas di usus.

Denyut nadi melemah: (< 65 denyutan) terjadi akibat panas berlebih dan kurangnya kelembaban pada jantung juga melemahnya nafas sehingga menyebabkan panas (energi) jantung melemah. Kadang menyebabkan darah rendah karena nutrisi yang menghantar kelembaban berkurang akibat usus ikut lemah dalam menyerap makanan.

Tidak bisa tidur: Menandakan kekeringan karena kekurangan unsur pelembab dari penyaluran nutrisi yang terhambat di usus juga dampak ikutan saat terjadinya demam.

Bagian tengah lidah kotor: Adalah tanda infeksi saluran cerna (limpa dan lambung).

Tepi lidah merah: Menandakan hati dan kandung empedu terlalu panas (banyak mengeluarkan empedu kuning/ bilirubin).

Ujung lidah memerah: Menandakan jantung panas dan kering karena denyut meningkat tapi kelembaban nutrisi berkurang sehingga jantung menjadi kering dan pada akhirnya denyut nadi melemah (dalam).

Jika nadi melemah menunjukkan kondisi panas jantung menjadi padam dan lalu jantung menjadi dingin dan kering, inilah yang dapat menyebabkan kematian pada penderita tifus (komplikasi akibat kegagalan sirkulasi cabang akibat perdarahan) atau juga kematian akibat peradangan di pembuluh darah.

Bagian perut kanan bawah sakit ketika ditekan: Tanda peradangan usus bagian lafayifi (ileum) dan penyakit bersifat panas. Kadang penderita tifus juga mengalami perut bagian bawah terasa sakit bila ditekan dengan efek sulit buang air besar (sembelit).

Trombosis (pecahnya sel darah merah): Menghasilkan rendahnya trombosit menyebabkan anemia dan bintik merah di kulit (seperti gejala demam berdarah). Akibat sel darah merah banyak pecah akhirnya produksi darah meningkat yang menyebabkan limpa membesar (bengkak).

Sementara bila dikaitkan dengan hepatitis, adalah akibat lemahnya liver sehingga tubuh terlihat kuning dan mulut pahit akibat banjir cairan empedu kuning dan liver membesar.

Demam tifoid (tifus) disimpulkan juga sebagai demam berkelanjutan yang disebut demam lendir, namun melihat dari perjalanannya dapat juga menyebabkan demam akhlat (demam keras/ gabungan cairan humor).

Pengobatan

Menurut Imam adz-Dzahabi rohimahuLLOOH demam disebabkan oleh lendir, tandanya sedikit haus (dehidrasi), kulit berwarna kelabu dan luntur (pucat), ketika pucat baiknya dilakukan terapi muntah (perut kosong) dan minum minuman sakanjabin dengan air panas. Beberapa hari kemudian dilembutkan tabiatnya dengan obat muntah yang lembut, setelahnya dengan cairan khiyar syanbar, dan berilah makan anak daging ayam yang dimasamkan atau dengan qirthim.

Manfaat sakanjabin untuk memperkuat daya tembus air (resapnya), dengan ditambahkan cuka buah di dalamnya, serta untuk melembabkan dan menyampaikannya ke dalam organ tubuh ditambahkan gula (madu) di dalamnya. Cuka cocok dengan madu dan resep madu bersama cuka disebut sakanjabin merupakan minuman yang paling bermanfaat saat demam.

Jika demam berkaitan dengan organ asli (pokok) dan disertai batuk, mulai mau makan, berkeringat tapi masih lemah, gunakanlah air syair (tajin barley) yang dibumbui.

Sakanjabin adalah minuman yang terbaik saat demam, karena minuman asam-manis ini akan saling menawarkan efek samping bagi liver dan usus. Sementara daya tembus air akan meningkat dan memberi kelembaban. Selain itu mencegah berlanjutnya batuk kering. Sedangkan manfaat cuka diantaranya membangkitkan selera makan.

Jika terjadi batuk kering yang menyertai, dapat diberikan juga tajin barley satu banding setengah antara air jelai dan madu (menurut Imam adz-Dzahabi), yang dapat juga memadamkan panas, meredakan rasa haus, dan membersihkan perut.

Bersambung...

===

Sumber:
Tabloid Bekam Edisi 15/ Tahun ke-3/ Tahun 2012

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Ibadah 'umroh selangkah demi selangkah | Dana Talangan Haji

al-Fiqih al-Islaamii

'Ibadah 'umroh selangkah demi selangkah

Disusun oleh Ustadz Abu Minhal hafizhohuLLOOH

'Ibadah 'umroh tidak disangsikan lagi membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Patut disayangkan manakala 'ibadah 'umroh yang dilaksanakan dengan biaya yang tidak murah dan dengan cucuran keringat apabila tidak dilaksanakan sesuai dengan contoh yang pernah dilakukan Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam.

Bahkan tidak jarang kaum Muslimin diajari tata cara yang sangat mengikat, menyusahkan, membebani namun tanpa dasar syari'at. Sehingga terkesankan manasik 'umroh membingungkan dan menyulitkan. Banyaknya tata cara dan bacaan do'a yang sangat beragam yang dianggap harus dihafal dan dibaca dalam thowaf, sa'i, dan lainnya.

Padahal seharusnya manasik 'umroh ini harus dibuat sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang cukup sederhana dan mudah. Agar semua dapat melakukan 'ibadah tersebut dengan benar dan khusyu' serta diterima ALLOH 'Azza wa Jalla sebagai 'amalan yang sholih.

Etika yang harus diperhatikan

Ada beberapa etika yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin menunaikan 'ibadah 'umroh untuk bisa mendapatkan kesuksesan. Di antaranya:

1. Hendaknya ikhlash dan mengharap ridho ALLOH 'Azza wa Jalla dalam 'ibadah 'umroh.

2. Menghindari riya dan sum'ah, ingin dipuji karena 'umrohnya.

3. Mengikuti petunjuk Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam dalam menjalankan 'umroh.

4. Menjalankan 'ibadah 'umroh dengan semangat dan serius.

5. Mengharap 'umrohnya dapat mensucikan jiwanya dan meningkatkan derajatnya di sisi ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala.

6. Memanfaatkan waktu-waktu berharga di Makkah dan Madinah dengan memperbanyak 'ibadah dan dzikir.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah nomor 5/ tahun XVI, Syawwal 1433 H/ September 2012 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tanda-tanda hajji mabrur | Tidak Semua Hajji Mabrur

al-Mab-hats

Ustadz Anas Burhanuddin

Tanda-tanda hajji mabrur

Pembuka

Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para 'ulama dengan maqooshid syarii'ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhiroh.

Adapun maslahat akhiroh, orang-orang sholih ditunggu kenikmatan tiada tara yang terangkum dalam sabda Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam (hadits qudsi):

"ALLOH berfirman, 'Telah AKU siapkan untuk hamba-hamba-KU yang sholih kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbetik di hati manusia'." (1)

Untuk 'ibadah hajji, secara khusus Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda,

"Hajji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah Surga." (2)

Adapun di dunia, banyak maslahat yang bisa diperoleh ummat Islam dengan menjalankan ajaran agama mereka. Dan untuk 'ibadah hajji khususnya, ada beberapa contoh yang bisa kita sebut; seperti menambah teman, bertemu dengan 'ulama dan keuntungan berdagang.

Di samping itu, ALLOH 'Azza wa Jalla juga memberikan tanda-tanda diterimanya 'amal seseorang, sehingga ALLOH 'Azza wa Jalla bisa menyegerakan kebahagiaan di dunia sebelum akhiroh dan agar ia semakin bersemangat untuk ber'amal.

Tidak semua orang meraih hajji mabrur

Setiap orang yang pergi berhajji mencita-citakan hajji yang mabrur. Hajji mabrur bukanlah sekedar hajji yang sah. Mabrur artinya diterima oleh ALLOH 'Azza wa Jalla, dan sah artinya menggugurkan kewajiban. Bisa jadi hajji seseorang sah sehingga kewajiban berhajji baginya telah gugur, namun belum tentu hajjinya diterima oleh ALLOH 'Azza wa Jalla.

Jadi, tidak semua yang hajjinya sah terhitung sebagai hajji mabrur. Ibnu Rojab al-Hanbali rohimahuLLOOH mengatakan, "Yang hajjinya mabrur sedikit, tapi mungkin ALLOH 'Azza wa Jalla memberikan karunia kepada jama'ah hajji yang tidak baik dikarenakan jama'ah hajji yang baik." (3)

===

(1) Hadits Riwayat Imam al-Bukhori 3073, dan Imam Muslim 2824.

(2) Hadits Riwayat Imam al-Bukhori 1683, dan Imam Muslim 1349.

(3) Kitab Lathoo-iful Ma'aarif fiima li Mawaasimil 'am Minal Wazhoo-if 1/68.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syari'at 'ibadah hajji (2) | Tidak Semua Hajji Mabrur

al-Mab-hats

Syaikh Kholil Harros rohimahuLLOOH

Syari'at 'ibadah hajji (2)

Hajji termasuk 'ibadah yang mempunyai pengaruh besar dalam mendidik jiwa, berupa lepas diri dari gemerlap dunia, kembali kepada fitroh aslinya, mengatasi kesulitan-kesulitan dan kepayahan-kepayahan, mengagungkan kehormatan-kehormatan ALLOH 'Azza wa Jalla dengan menahan diri dari setiap gangguan dan tindakan bermusuhan. Oleh karenanya, seorang yang berihrom tidak boleh membunuh binatang buruan, tidak boleh memotong kuku, tidak boleh mencukur rambut, bahkan semua kegiatan 'ibadah hajji itu adalah keselamatan untuk diri dan orang lain.

Pelaksanaan 'ibadah hajji adalah bentuk pemenuhan terhadap panggilan ALLOH 'Azza wa Jalla melalui lisan kekasih-NYA, yaitu Ibrohim 'alay-his salam, agar berkunjung ke Baitul Harom. Oleh karenanya, orang yang berhajji mengucapkan niatnya berhajji atau ber'umroh:

LabbaikaLLOOHUmma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innalhamda wanni'mata laka wal mulk, laa syariika lak

"Kupenuhi panggilan-MU wahai ALLOH, kupenuhi seruan-MU, kupenuhi panggilan-MU tidak ada sekutu bagi-MU, kupenuhi panggilan-MU, sesungguhnya pujian dan nikmat hanya untuk-MU, juga kerajaan-MU, tidak ada sekutu bagi-MU."

Makna labbaika: Bersegera menuju keta'atan kepada-MU, dan memenuhi panggilan-MU tanpa lama-lama dan lambat.

Selain itu, 'ibadah hajji merupakan ajang perkumpulan kaum Muslimin yang berulang setiap tahunnya, dimana mereka datang dari berbagai belahan bumi, hingga mereka dapat mengingat persatuan agama yang menaungi mereka semua. Meski mereka berbeda jenis dan warna kulit, serta berlainan lisan dan dialek, maka dikenalkan persaudaraan, saling berganti memberikan manfaat di antara mereka, serta saling memahami keadaan masing-masing. Di dalamnya ada perbaikan terhadap keadaan dan kemuliaan mereka; juga memperkuat tali persaudaraan sesama mereka. Sungguh al-Qur-an telah mengisyaratkan akan hal itu dalam firman-NYA,

"...Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka..."
(Qur-an Suroh al-Hajj (22): ayat 28)

Dalam hadits di atas (Hadits Riwayat Imam al-Bukhori 1424) Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam memberitakan bahwa barangsiapa melaksanakan kewajiban hajji dengan cara yang benar, yakni: mengikhlaskan niat kepada ALLOH 'Azza wa Jalla di dalamnya, dia tidak keluar (berhajji) karena riya' atau sum'ah, namun karena iman kepada ALLOH 'Azza wa Jalla dan mengharapkan pahala dari sisi-NYA, patuh atas perintah-NYA; dia menunaikan kewajiban menjauhi perkara yang tidak pantas dilakukan orang yang berihrom berupa rofats, yakni jima' dan pendahulu-pendahulunya dan setiap yang terkait dengannya; juga tidak berbuat fasiq, yaitu keluar dari keta'atan kepada ALLOH 'Azza wa Jalla, yakni bermaksiat terhadap-NYA; maka sungguh dia pulang dari 'ibadah hajji dalam keadaan bersih dari dosa seperti saat dia dilahirkan. Kecuali jika dosa itu menyangkut hak-hak orang lain, maka sungguh dosa ini tidak terhapus dengan 'ibadah hajji dan yang selainnya, bahkan harus mengembalikannya kepada yang berhak, atau meminta kepada mereka agar menghalalkannya.

Tidak heran jika 'ibadah hajji dengan kedudukan seperti ini bisa mensucikan dari dosa-dosa, karena ia sebenarnya rihlah (pergi) menuju ALLOH 'Azza wa Jalla. Saat berhajji, seorang Muslim menanggung banyak kesusahan, terancam berbagai malapetaka dan marabahaya, mengorbankan tenaga dan hartanya, lalu melaksanakan manasik hajji. Ia melangkah menuju pintu ROBB-nya, datang kepada-NYA dari tempat yang amat jauh untuk memohon maaf dan ampunan dari-NYA, meluapkan keluhannya kepada-NYA atas dosa-dosanya yang bisa menyebabkan kehancuran dan kebinasaannya, jika dosa-dosa itu masih ada dan tidak diampuni ALLOH 'Azza wa Jalla.

Maka apa persangkaanmu terhadap ROBB Yang Maha Pemurah, yang hamba-NYA meminta perlindungan kepada-NYA, mencurahkan keluh kesahnya ke hadapan-NYA, mengakui kezholiman dan kejahilannya di sisi-NYA, juga terhadap sikap melampaui batasnya terhadap hak-NYA, kemudian dia bertaubat, menyesal dan menyadari bahwa tidak ada tempat berlindung baginya dari ALLOH 'Azza wa Jalla, kecuali hanya pada-NYA. Juga bahwasanya tidak ada seorangpun yang selamat dari ALLOH 'Azza wa Jalla, serta bahwasanya jikalau dia tidak mendapatkan rohmat dan keutamaan dari ALLOH 'Azza wa Jalla, maka akan menjadi orang yang sengsara dengan kesengsaraan seluruhnya.

Sesungguhnya ALLOH 'Azza wa Jalla paling pengasih daripada DIA mengembalikan hamba-NYA dengan kondisi kecewa setelah DIA mengetahui kejujuran darinya dalam berlindung kepada-NYa dan ikhlash dalam taubatnya dari dosanya. Dan sungguh telah datang di dalam hadits shohih,

"Ibadah hajji mabrur (maka) tidak ada baginya balasan melainkan Surga."
(Hadits Riwayat Imam Muslim)

Kami memohon kepada ALLOH 'Azza wa Jalla agar mengaruniai kami dan saudara-saudara kami kesempurnaan dalam menjalankan kewajiban tersebut dan menerimanya dengan anugerah dan kemurahan-NYA.

Referensi:

Majalah al-Asholah halaman 31-34, bulan Dzulqo'dah, tahun 1425 H, volume ke-47, tahun ke-9.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Para pendosa berharap untuk kembali ke dunia saat sakarotul maut

Kematian

Para pendosa berharap untuk kembali ke dunia saat sakarotul maut

ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya ROBB-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat 'amal yang sholih terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan."
(Qur-an Suroh al-Mu'minun: ayat 99-100)

Syaikh as-Sa'di rohimahuLLOOH menafsirkan, ALLOH mengabarkan bahwa kondisi para pendosa serta orang-orang lalim saat menghadapi kematian ia menyesal karena melihat seperti apa tempat kembalinya, menyaksikan buruknya 'amal perbuatan yang ia lakukan, sehingga ia mengharap untuk dikembalikan lagi ke dunia bukan untuk bersenang-senang dan menuruti hawa nafsu, seperti yang mereka katakan (tercantum dalam al-Qur-an Suroh al-Mu'minun ayat 100) "Agar aku berbuat 'amal yang sholih terhadap yang telah aku tinggalkan." 'Amal sholih yang aku tinggalkan di sisi ALLOH. "Sekali-kali tidak," tidak akan dikembalikan ke dunia dan tidak ada tenggang waktu saat ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala menetapkan mereka tidak akan kembali lagi ke dunia. (15)

===

(15) Kitab Taisirul Karim ar-Rohman halaman 559.

===

Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadiroh fii Shohiih ad-Daaril Akhiroh, Penulis: Dr. Ahmad Musthofa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhiroh) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing - Bogor, Cetakan II, Robiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sakarotul maut

Kematian

Sakarotul maut

Sudah tiba saatnya orang tidur harus bangun, sudah tiba waktunya orang lalai harus sadar sebelum kematian menjelang dengan membawa minuman yang getir, sebelum semua gerakan ini terhenti, sebelum nafas tidak lagi berhembus, sebelum dibawa dan berada di dalam kubur.

Imam al-Qurthubi rohimahuLLOOH menjelaskan, ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala menggambarkan beratnya kematian di empat ayat sebagai berikut,

Pertama, firman-NYA,

"Dan datanglah sakarotul maut dengan sebenar-benarnya."
(Qur-an Suroh Qof: ayat 19)

Kedua,

"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zholim berada dalam tekanan sakarotul maut."
(Qur-an Suroh al-An'am: ayat 93)

Ketiga,

"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan."
(Qur-an Suroh al-Waqi'ah: ayat 93)

Keempat,

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan."
(Qur-an Suroh al-Qiyamah: ayat 26)

Diriwayatkan dari 'Aisyah ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma, "Dihadapan Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam terdapat timba atau ember, Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam memasukkan kedua tangan ke dalam air lalu Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam usapkan ke wajah, Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam mengucapkan,

'Laa ilaaha illaLLOOH, sungguh kematian itu ada sekaratnya.' Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam menengadahkan tangan lalu berdo'a, 'Bersama golongan para Nabi.' Hingga Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam wafat kemudian tangan Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam jatuh." (10)

Imam al-Qurthubi rohimahuLLOOH menyampaikan, bahwa 'ulama menjelaskan, kematian akan menimpa para Nabi, Rosul, golongan pertama, dan orang-orang bertaqwa, lantas kenapa kita sibuk untuk membicarakannya, kenapa kita berselisih pendapat untuk mempersiapkan diri mengahadapinya?!

"Katakanlah, 'Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya.'"
(Qur-an Suroh Shod: ayat 67-68)

Beratnya kematian dan sakarotul maut yang dialami para Nabi memiliki dua manfaat:

Pertama, agar manusia tahu seperti apa derita saat menghadapi kematian, dan beban berat kematian itu tidak terlihat. Kadang orang menyaksikan orang mati tanpa melihat gerakan atau kesedihan si mayit, yang ia lihat hanyalah ruh keluar dari jasad dengan mudahnya, sehingga yang bersangkutan mengira kematian itu mudah padahal ia tidak tahu apa sebenarnya yang dialami si mayit.

Karena para Nabi yang benar imannya telah mengabarkan berita tentang beban berat sakitnya kematian yang mereka alami, padahal mereka adalah orang-orang yang mulia di mata ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala meski ada sebagian Nabi yang wafat dengan mudah, seluruh manusia pun meyakini kematian yang dirasakan dan dialami oleh si mayit sangat berat berdasarkan berita yang mereka sampaikan.

Kedua, mungkin ada sebagian orang berpikir, mereka adalah orang-orang tercinta (para Nabi dan Rosul ALLOH), lalu kenapa mereka juga mengalami beban berat yang begitu besar, ALLOH kuasa untuk meringankan kematian mereka. Jawabannya karena manusia yang paling berat cobaannya di dunia adalah para Nabi, selanjutnya orang-orang semisal mereka, lalu orang-orang yang mengikut mereka. (11)

ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala ingin menguji mereka untuk menyempurnakan kemuliaan mereka di sisi-NYA, meninggikan derajat mereka di dekat-NYA. Beratnya kematian yang dialami para Nabi dan Rosul bukan sebagai kekurangan ataupun siksa, namun seperti yang telah ALLOH sampaikan, hal itu untuk mengangkat kemuliaan mereka setinggi-tingginya, dan mereka ridho atas taqdir yang diberlakukan terhadap mereka. Karena itulah ALLOH ingin menutup usia mereka dengan beban berat seperti itu meski ALLOH bisa meringankan beban itu untuk mengangkat derajat mereka dan memperbesar pahala mereka sebelum wafat, seperti halnya Nabi Ibrohim 'alay-his salam diuji dengan kobaran api, Nabi Musa 'alay-his salam diuji dengan rasa takut dan kitab Taurot, Nabi 'Isa 'alay-his salam diuji dengan tanah gersang dan Nabi kita Muhammad shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam yang diuji dengan kemiskinan di dunia serta peperangan yang Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam lancarkan terhadap orang-orang kafir. Itu semua berfungsi untuk meningkatkan kondisi dan menyempurnakan derajat mereka.

Pertanyaan: Apakah semua makhluq merasaka sakarotul maut?

Jawaban: Sebagian 'ulama memberi penjelasan, berdasarkan dalil yang shohih, kematian sangat terasa getir, semua makhluq merasakannya, hanya saja dalam hal ini ada dua golongan dan dua perkiraan.

Hanya ALLOH semata yang kekal abadi selamanya dan ALLOH memberlakukan ketetapan semua makhluq binasa dan fana, ini menunjukkan bahwa ALLOH berbeda dengan semua makhluq. ALLOH membedakan semua benda nyata berdasarkan perbedaan tingkat dan derajat; ada alam hewan, ada alam manusia, ada pula alam non manusia, kemudian di atasnya ada alam ruhani, dan golongan atas, mereka semua merasakan sakarotul maut. ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati."
(Qur-an Suroh Ali 'Imron: ayat 185)

Imam al-Qurthubi rohimahuLLOOH menjelaskan, bila penjelasan di atas sudah jelas, selanjutnya perlu diketahui kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan, kematian merusak dan memutuskan semua kenikmatan, memutuskan semua kesenangan, mendatangkan berbagai hal yang tidak disukai, memutuskan dan mencerai-beraikan semua anggota badan, dan merusak semua persendian. Kematian benar-benar hal besar, dan hari terjadinya kematian merupakan hari besar. (12)

Oleh karena itu Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam mewasiatkan ketika menghadapi sakarotul maut melalui sabdanya,

"Barangsiapa perkataan terakhirnya 'Laa ilaaha illaLLOOH', ia masuk Surga." (13)

Hendaklah orang yang tengah sekarat mewaspadai dorongan syaithon karena syaithon menghampiri orang yang sekarat untuk merusak aqidahnya. Ketika orang yang sekarat ditalqin dan mengucapkannya satu kali, setelah itu tidak perlu diulang lagi agar tidak ada gelisah padanya.

Ahlul Ilmi memakruhkan memperbanyak dan mendesakkan talqin pada orang yang tengah sekarat bila yang bersangkutan telah memahaminya. Ibnu Mubarok rohimahuLLOOH berkata, "Talqinkan Laa ilaaha illaLLOOH pada orang yang sekarat, bila sudah diucapkan, biarkan."

Abu Muhammad 'Abdul Haq rohimahuLLOOH menjelaskan, bahwa dikhawatirkan bila talqin disampaikan secara terus menerus dan dipaksakan akan menimbulkan kegelisahan pada orang yang sekarat dan diperberat oleh syaithon, sehingga akan menjadi penyebab su'ul khotimah. Perintah Ibnu Mubarok harus dilaksanakan. (14)

===

(10) Riwayat Imam at-Tirmidzi, hadits nomor 2338, dishohihkan oleh Imam al-Albani, lihat kitab Shohiih al-Jami' 1/333.

(11) Riwayat Imam at-Tirmidzi, hadits nomor 2338, dishohihkan oleh Imam al-Albani, lihat kitab Shohiih al-Jami' 1/333.

(12) Kitab at-Tadzkiroh halaman 23-25.

(13) Riwayat Imam Abu Dawud, hadits nomor 3116, dishohihkan oleh Imam al-Albani dalam kitab Shohiih Sunan Abi Dawud, hadits nomor 2673.

(14) Kitab at-Tadzkiroh halaman 31.

===

Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadiroh fii Shohiih ad-Daaril Akhiroh, Penulis: Dr. Ahmad Musthofa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhiroh) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing - Bogor, Cetakan II, Robiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ilmu kematian termasuk salah satu kunci ghoib

Kematian

Ilmu kematian termasuk salah satu kunci ghoib

Tidak seorang pun tahu waktu dan tempat kematiannya karena kematiannya adalah bagian dari ilmu ghoib yang hanya diketahui oleh ALLOH semata. ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,

"Dan pada sisi ALLOH-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali DIA sendiri."
(Qur-an Suroh al-An'am: ayat 59)

Diriwayatkan dari Salim bin 'Abdulloh ro-dhiyaLLOOHU 'anhu dari ayahnya, Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda,

"Kunci-kunci ghoib ada lima, tidak ada yang mengetahui semua itu kecuali ALLOH; 'Sesungguhnya hanya di sisi-NYA sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan DIA-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rohim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya ALLOH Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'. (Qur-an Suroh Luqman: ayat 34)." (9)

===

(9) Riwayat Imam al-Bukhori.

===

Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadiroh fii Shohiih ad-Daaril Akhiroh, Penulis: Dr. Ahmad Musthofa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhiroh) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing - Bogor, Cetakan II, Robiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syari'at 'ibadah hajji | Tidak Semua Hajji Mabrur

Syari'at 'ibadah hajji

Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berhajji karena ALLOH, lantas dia tidak berbuat keji dan melakukan kefasikan, maka dia pulang bagaikan hari dimana dia dilahirkan ibunya."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 1424)

Kaum muslimin keluar dari bulan Romadhon dalam keadaan telah memiliki bekal berupa kekuatan yang besar dalam kehidupan rohani yang suci; jiwa-jiwa mereka menjadi kuat dan tidak bergantung kepada kebendaan; keinginan-keinginan mereka telah terlatih untuk mengalahkan hawa nafsu syahwat; serta mampu menanggung kepayahan-kepayahan dan melawan hal-hal yang dibenci. Karenanya, mereka memasuki bulan-bulan hajji dalam keadaan telah siap sempurna rohani dan jasmaninya. Mereka telah memiliki kesiapan untuk melaksanakan beban-beban yang terdapat pada kewajiban yang suci (hajji), yang menjadi rukun kelima dari rukun-rukun Islam.

Hajji itu seperti puasa, hukumnya wajib sejak dahulu; ALLOH 'Azza wa Jalla telah mewajibkannya kepada para hamba-NYA semenjak DIA memerintahkan kekasih-NYA yaitu Ibrohim 'alay-his salam, agar membangun Baitul Harom di Makkah, kemudian menyuruhnya supaya memaklumkan hajji kepada manusia agar mendatanginya.

"...niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama ALLOH pada hari yang telah ditentukan atas rizqi yang telah ALLOH berikan kepada mereka berupa bintang ternak..."
(Qur-an Suroh al-Hajj (22): ayat 27-28)

ALLOH 'Azza wa Jalla telah memperlihatkan manasik-manasik hajji dan syi'ar-syi'arnya kepada Ibrohim 'alay-his salam dan putranya yaitu Isma'il 'alay-his salam. Maka sepeninggal keduanya manasik-manasik itu akan tetap ada pada anak keturunannya. Mereka berhajji ke Baitulloh dan melakukan thowaf di situ, wuquf di 'Arofah dan Muzdalifah, serta melaksanakan sa'i antara Shofa dan Marwa.

Hanya saja anak keturunan mereka telah mengadakan bid'ah-bid'ah di dalamnya lantaran lamanya masa, dikuasai hawa nafsu, dan syaithon menghiasi penyimpangan mereka.

Mereka mengadakan peribadatan kepada patung-patung, lalu menaruhnya di sekitar Ka'bah dan bagian dalamnya. Mereka memulai ber'ibadah untuk berhala dan menyembelih di dekatnya sebagai bentuk taqorrub kepadanya, dan dahulu mereka mengucapkan dalam talbiahnya,

"Wahai ALLOH, tidak ada sekutu bagi-MU, melainkan sekutu yang ENGKAU punya, ENGKAU memiliki apa yang dia punya."

Dahulu, mereka thowaf di Ka'bah dengan bertelanjang, karena merasa tidak nyaman melaksanakan thowaf dengan pakaian-pakaian yang dikenakan pada saat mereka datang, sampai-sampai kaum wanita pun thowaf di Ka'bah dengan tidak berpakaian. Para wanita itu menutupi farjinya dengan sehelai kain, lalu mengatakan,

"Pada hari ini tampaklah sebagian atau seluruhnya (tubuh), namun apa saja yang terlihat, maka aku tidak membolehkan (dijamah)."

Tatkala ALLOH 'Azza wa Jalla mengutus Nabi-NYA yaitu Muhammad shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam sebagai pembaharu agama Nabi Ibrohim 'alay-his salam, sudah sewajarnya jika pembaharuan itu mencakup kewajiban hajji. Maka, hajji diwajibkan pada tahun keenam dari hijroh, dan dalil fardhunya dari al-Qur-an adalah firman ALLOH 'Azza wa Jalla,

"Dan sempurnakanlah 'ibadah hajji dan 'umroh karena ALLOH."
(Qur-an Suroh al-Baqoroh (2): ayat 196-197)

Hingga firman ALLOH,

"(Musim) hajji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan hajji, maka tidak boleh rofats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan hajji."
(Qur-an Suroh al-Baqoroh (2): ayat 196-197)

Juga firman-NYA yang lain,

"Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (diantaranya) maqom Ibrohim. Barangsiapa memasukinya (Baitulloh itu), dia menjadi aman. Mengerjakan hajji adalah kewajiban manusia terhadap ALLOH, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulloh. Barangsiapa mengingkari (kewajiban hajji), maka sesungguhnya ALLOH Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."
(Qur-an Suroh Ali 'Imron (3): ayat 97)

Adapun dalil dari Sunnah, yaitu sabda Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Sesungguhnya ALLOH telah mewajibkan 'ibadah hajji, maka hajjilah kalian!"
(Hadits Riwayat Imam Muslim)

Juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu 'umar ro-dhiyaLLOOHU 'anhuma,

"Islam dibangun di atas lima rukun, persaksian bahwa tiada ilah yang berhak disembah melainkan ALLOH dan Muhammad adalah utusan ALLOH, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, puasa di bulan Romadhon, serta hajji ke Baitulloh bagi siapa yang sanggup mengadakan perjalanan kepadanya."
(Muttafaqun 'alay-hi, Hadits Riwayat Imam al-Bukhori dan Imam Muslim)

Sungguh, Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam telah menafsirkan makna as-Sabil dengan bekal dan kendaraan, maka siapa yang memiliki nafkah bagi diri dan keluarganya hingga kembali dari hajji serta mendapatkan kendaraan yang menghantarkannya ke Makkah (yakni biaya safar pulang pergi), maka wajib baginya segera berhajji; karena dia tidak akan tahu apa yang akan menghalanginya sesudah itu, sebab sakit atau berkurang hartanya.

Bersambung...

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syarah Kasyfu Syubuhat (19)

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Jika engkau telah benar-benar mengetahui apa yang aku paparkan kepadamu di muka [1], dan engkau pun sudah mengetahui makna syirik yang difirmankan ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala,

"Sesungguhnya ALLOH tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang dikehendaki-NYA."
(Qur-an Suroh an-Nisa': ayat 48) [2]

Dan engkau juga sudah mengetahui agama ALLOH, yang ALLOH telah mengutus para Rosul-NYA sejak pertama hingga yang terakhir untuk membawa agama ini, dan mengetahui bahwa hanya agama inilah yang diterima di sisi ALLOH [3], di samping itu, engkau juga mengetahui bahwa banyak manusia terjerumus ke dalam kesyirikan karena tidak memahami makna kalimat ini [4].

Penjelasan

[1] Yakni engkau mengetahui makna sebenarnya dari kalimat tauhid laa ilaaha illaLLOOH.

[2] Para 'ulama berselisih tentang masalah ini, apakah mencakup semua jenis syirik atau khusus hanya syirik yang besar saja. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ayat itu mencakup semua jenis syirik. Jadi, walaupun syirik kecil, seperti bersumpah dengan nama selain ALLOH, ALLOH tetap tidak akan mengampuninya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa ayat itu khusus untuk syirik besar yang tidak akan diampuni oleh ALLOH. Dan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahuLLOOH mempunyai pendapat yang berbeda-beda, terkadang beliau berpendapat mencakup semua jenis syirik dan terkadang berpendapat khusus untuk syirik besar saja. Apapun pendapat yang dikemukakan, kita wajib secara mutlak berhati-hati terhadap syirik, karena keumuman lafazh tersebut juga mencakup syirik kecil. Pada lafazh "an-yusy-roka bihi", gabungan kata "an" dan kata sesudahnya merupakan perubahan dari kata "isy-rookan bihi". Bentuk kata nakiroh (dengan tanda tanwin) dalam konteks nafi (meniadakan) memberi makna umum.

[3] Yakni ber'ibadah kepada ALLOH saja, sebagaimana disebutkan dalam firman ALLOH,

"Dan tidaklah KAMI mengutus sebelum engkau seorang Rosul pun melainkan KAMI wahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya tidak ada ROBB (yang berhak disembah) melainkan AKU, maka ber'ibadahlah kalian kepada-KU."
(Qur-an Suroh al-Anbiya: ayat 25)

Dan inilah Islam sebagaimana yang disebutkan oleh ALLOH dalam firman-NYA,

"Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka agama tersebut tidak akan diterima (oleh ALLOH)."
(Qur-an Suroh Ali 'Imron: ayat 85)

[4] Yakni tidak memahami kalimat ini dengan benar, sebagaimana telah disindir oleh Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH dengan berkata, "Maka sangat aneh dan mengherankan jika ada orang yang mengaku Islam sementara dia tidak mengetahui makna kalimat tersebut."

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syarah Kasyfu Syubuhat (18)

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Oleh karena itu, jika engkau telah mengetahui bahwa orang kafir yang paling bodoh saja mengetahui makna kalimat ini [1], maka sangat aneh dan mengherankan jika ada orang yang mengaku Islam, sementara dia tidak tahu makna kalimat tersebut [2]. Bahkan dia menyangka bahwa kalimat tersebut cukup sekedar talaffuzh (melafazhkan) huruf-hurufnya tanpa perlu diyakini maknanya dalam hati. Dan orang yang pandai dari kalangan mereka bahkan menyangka bahwasanya maknanya adalah 'Tidak ada Yang Menciptakan, Yang Memberi rizqi dan Yang Mengatur urusan melainkan ALLOH'. Maka jelas orang seperti ini tidak ada kebaikannya sama sekali, karena sebodoh-bodohnya orang kafir lebih tahu dari tentang makna laa ilaaha illaLLOOH.

Penjelasan

[1] Yakni mengetahui makna kalimat laa ilaaha illaLLOOH.

[2] Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH menjelaskan bahwa di antara manusia ada yang mengaku Islam tetapi tidak mengetahui makna kalimat laa ilaaha illaLLOOH. Mereka menyangka bahwa kalimat tersebut cukup dengan melafazhkan huruf-hurufnya saja tanpa perlu mengetahui dan meyakini maknanya dalam hati.

Di antara manusia ada yang menyangka bahwa maksud kalimat tersebut hanyalah sekedar tauhid rububiyah, yakni tidak ada yang mencipta dan tidak ada yang memberi rizqi selain ALLOH.

Di antara manusia ada yang menafsirkan bahwa makna kalimat tersebut adalah 'menafikan adanya keyakinan terhadap sesuatu dan menetapkan bahwa keyakinan hanya kepada ALLOH saja'. Ini adalah tafsiran batil yang tidak dikenal di kalangan Salafush Sholih. Tidak benar makna kalimat tersebut bahwa engkau meyakini ALLOH 'Azza wa Jalla dan menafikan adanya keyakinan terhadap selain-NYA. Hal ini tidak mungkin, karena sesungguhnya keyakinan dapat terjadi juga kepada selain ALLOH. Firman ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala,

"Niscaya engkau akan melihat Neraka Jahim dan sesungguhnya engkau akan melihatnya dengan 'ainul yakin."
(Qur-an Suroh at-Takatsur: ayat 6-7)

Meyakini sesuatu yang ada dan bisa dijangkau oleh indera atau bisa diketahui tidak termasuk meniadakan tauhid.

Ada sebagian orang yang menafsirkan kalimat tersebut dengan makna 'Tidak ada sesembahan selain ALLOH'. Pengertian semacam ini tidak benar karena kenyataannya banyak sesembahan selain ALLOH yang disembah manusia.

Mereka yang menafsirkan seperti itu lebih bodoh daripada orang-orang bodoh yang dida'wahi oleh Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam. Karena orang-orang bodoh yang dahulu dida'wahi Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam mengetahui makna kalimat tauhid secara benar, sedangkan mereka tidak mengetahuinya.

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan (5)

50 kesalahan dalam berhari raya

Bab III

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan

5. Hari raya orang-orang baik

Syaikh 'Abdulloh bin 'Abdil 'Aziz at-Tuwaijiri hafizhohuLLOOH berkata, "Di antara perkara baru yang bid'ah dalam bulan Syawwal adalah hari raya orang-orang baik, yaitu pada tanggal delapan di bulan Syawwal."

Setelah orang-orang menyempurnakan puasa bulan Romadhon, dan berbuka di hari pertama di bulan Syawwal -yaitu 'Idul Fithri-, mereka pun mulai berpuasa enam hari pertama di bulan Syawwal. Pada hari kedelapan, mereka telah selesai melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawwal, lalu mereka pun berbuka dan menamakan hari itu dengan hari raya orang-orang baik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahuLLOOH berkata, "Adapun mengadakan hari raya selain hari raya yang disyari'atkan, seperti beberapa malam di bulan Robi'ul Awwal, yang dinamakan malam Maulid (12) atau beberapa malam di bulan Rojab (13) atau tanggal delapan Dzulhijjah (14) atau hari Jum'at pertama di bulan Rojab atau tanggal delapan di bulan Syawwal, yang dinamakan oleh orang-orang bodoh sebagai hari raya orang-orang baik. Semua itu adalah termasuk bid'ah yang tidak pernah dituntunkan dan dilakukan oleh para Salaf, waLLOOHU Sub-haanahu wa Ta'aala a'lam." (15)

Syaikhul Islam juga berkata, "Adapun tanggal delapan dari bulan Syawwal, ia bukanlah hari raya orang-orang baik, tidak juga hari raya orang-orang jahat. Tidak boleh seseorang meyakininya sebagai hari raya, tidak juga melakukan sesuatu yang menandakan hari raya." (16)

Asy-Syaqiri rohimahuLLOOH berkata, "Di antara perbuatan bid'ah bahwa mereka mengadakan kumpul-kumpul dan hari raya dan mereka menamakannya dengan hari raya orang-orang baik." (17)

Inilah akhir dari pembahasan Kesalahan-kesalahan dalam hari raya dan peringatan-peringatan. Aku memohon kepada ALLOH Yang Maha Pemurah untuk mengampuni kekeliruan dan kesalahanku agar IA menetapkannya sebagai 'amal sholih bagiku dan pembaca dan agar IA memasukkan kita ke dalam Surga tertinggi, dengan karunia dan kebaikan-NYA.

Sub-haanakaLLOOHUmma wa bihamdika, asy-hadu allaa ilaaha illa anta, astagh-firuka, wa atuubu ilaih.
"Maha Suci ENGKAU ya ALLOH dan segala puji bagi-MU. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak di'ibadahi dengan benar, kecuali ENGKAU, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-MU."

Ditulis oleh yang sangat membutuhkan ALLOH
Wahid bin 'Abdissalam bin as-Sayyid bin Muhammad Baali

===

(12) Yaitu malam dua belas Robi'ul Awwal. Dimana sebagian manusia berpesta di malam itu dengan memakan daging atau manisan ataupun membaca sya'ir-sya'ir yang berisi pujian terhadap Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, dan hal-hal lainnya. Mereka menamakannya dengan hari raya Maulid Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam. Hari raya tersebut adalah bid'ah. Bacalah kitab al-Akhthoo-ul Masaajid, point ke-52.

(13) Yaitu malam 27 Rojab. Dimana sebagian manusia berpesta di malam itu, mereka menamakannya dengan malam Isro' dan Mi'roj. Walaupun seandainya malam itu benar merupakan malam Isro' dan Mi'roj, tetap tidak boleh mengadakan perayaan dengannya. Bacalah kitab al-Akhthoo-ul Masaajid, point ke-54.

(14) Yaitu malam kesembilan bulan Dzulhijjah, bertepatan dengan malam wuquf di 'Arofah. Pada malam itu sebagian manusia berpesta dengan makan daging dan sebagainya. Pesta pada malam tersebut adalah bid'ah.

(15) Kitab Majmuu' al-Fataawaa 25/298.

(16) Kitab al-Ikhtiyaarootul Fiqhiyyah, kitab ash-Shoum halaman 111.

(17) Kitab as-Sunan wal Mubtada'aat, bab Bida' Syahri Syawwal halaman 157.

===

Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam berhari raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, Rojab 1426 H/ Agustus 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan (4)

50 kesalahan dalam berhari raya

Bab III

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan

4. Hari ibu

Hari raya ini adalah berasal dari orang-orang kafir, dimana pada hari itu seorang laki-laki memberikan berbagai hadiah kepada ibunya, memberikan ucapan selamat kepadanya, dan mengunjunginya, kemudian setelah itu ia memutuskan hubungan dengannya (dengan tidak mengunjunginya lagi) sepanjang tahun, tidak memperdulikannya.

Maka sebagian kaum muslimin pun bertasyabbuh (menyerupai/ meniru) mereka, dan berbuat seperti perbuatan kaum kafir, berupa memberikan berbagai hadiah kepada ibu mereka pada hari tersebut dan memberikan ucapan selamat kepada mereka.

Sebagian kaum muslimin menganggapnya termasuk dalam berbuat baik kepada kedua orang tua, yang diperintahkan oleh Islam. Hal ini adalah keliru, dikarenakan beberapa sebab:

a. Karena Islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (setiap hari) sepanjang tahun, bukan hanya dalam satu hari saja.

b. Karena hari raya ini, berdasarkan cara dan bentuknya adalah diadakan oleh orang-orang kafir, sedangkan kita telah dilarang dari bertasyabbuh dengan mereka, berdasarkan sabda Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka." (3)

Juga berdasarkan sabda Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Bukan termasuk golongan kami orang yang bertasyabbuh dengan golongan selain kami, janganlah kalian bertasyabbuh dengan yahudi, tidak juga dengan nashroni!" (4)

c. Wajib menyelisihi mereka (khususnya) dalam merayakan hari tersebut, berdasarkan sabda Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Selisihilah orang-orang musyrik!" (5)

d. Hari raya ini membuat cemburu anggota keluarga lainnya, dimana tidak ada hari raya untuk para bapak, saudara laki-laki, paman dari pihak ibu dan dari pihak ayah, tidak ada juga hari raya untuk para anak perempuan, bibi dari pihak ibu dan bibi dari pihak ayah. Padahal mereka semua ini adalah orang-orang yang harus disambung silaturrohmi dengan mereka.

Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baaz rohimahuLLOOH berkata, "Sesungguhnya mengkhususkan dalam menghormati ibu pada satu hari dalam setahun, kemudian menyia-nyiakannya pada tahun lainnya disertai dengan adanya pemenuhan terhadap hak bapak dan famili lainnya (pada tahun-tahun lainnya itu) adalah di antara bentuk (kebudayaan) yang diada-adakan oleh orang barat.

Keburukan hal ini sudah sangat jelas bagi orang yang memiliki hati, yaitu berupa kerusakan yang besar, bersamaan dengan keadaannya yang menyelisihi syari'at Ahkamul Haakimiin (ALLOH, Hakim Yang seadil-adilnya). Dan hal ini menyebabkan terjatuh pada perbuatan yang diperingatkan oleh ar-Rosulul al-Amin shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, dimana Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda,

"Kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sedikit demi sedikit, hingga seandainya mereka masuk ke liang biawak pun, kalian niscaya akan masuk ke dalamnya." Mereka (para Shohabat) bertanya, "Wahai Rosululloh, apakah mereka itu orang-orang yahudi dan nashroni?" Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)!!" (6)

Dalam riwayat lain disebutkan,

"Niscaya ummatku akan mengikuti kebiasaan ummat-ummat sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta." Mereka bertanya, "Wahai Rosululloh, apakah mereka itu bangsa persia dan romawi?" Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Siapa lagi (kalau bukan mereka)!!" (7)

Dan telah terbukti apa yang telah diberitakan oleh ash-Shodiqul Mashduq shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, yaitu mencontohnya ummat (Islam) ini (kepada orang-orang kafir itu), kecuali orang yang ALLOH kehendaki (selamat darinya). Berupa mengikuti orang-orang yahudi, nashroni, majusi, dan bangsa kafir lainnya, pada kebanyakan akhlaq dan perbuatan mereka, hingga nyatalah keterasingan Islam ini, sehingga cara-cara orang-orang kafir, yaitu akhlaq dan perbuatan mereka, dinilai lebih baik dari apa-apa yang datang dari Islam, oleh kebanyakan manusia (orang Islam).

Sehingga berubahlah penilaian kebanyakan manusia, dimana kebaikan dianggap sebagai sesuatu yang munkar dan kemunkaran sebagai sesuatu yang baik, Sunnah dianggap bid'ah, sedangkan bid'ah dianggap suatu hal yang Sunnah. Dikarenakan kebodohan dan menentang apa-apa yang datang dari Islam, berupa akhlaqul karimah dan 'amal sholih yang lurus (benar), innaa liLLAAHI wa innaa ilay-hi rooji'uun.

Kami memohon kepada ALLOH agar memberikan taufiq kepada kaum muslimin pada kefahaman dalam agama dan agar memperbaiki keadaan mereka." (8)

Syaikh Ibnul 'Utsaimin rohimahuLLOOH ditanya mengenai perayaan hari raya ummat lain, beliau menjawab, "Setiap hari raya yang menyelisihi hari raya yang telah disyari'atkan (Islam) adalah bid'ah yang baru, tidak pernah dikenal pada masa Salafush Sholih. Dan mungkin saja asal mulanya dari selain kaum muslimin. Sehingga hal itu di samping sebuah kebid'ahan, juga merupakan perbuatan menyerupai musuh ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala.

Hari raya yang ada dalam Islam hanyalah:

1. 'Idul Fithri.
2. 'Idul Adh-ha.
3. Hari raya yang berulang setiap pekan, yaitu hari Jum'at.

Tidak ada dalam Islam selain tiga hari raya tersebut. Sehingga setiap hari raya yang diadakan, selain dari (tiga) hari raya tersebut adalah tertolak, dikarenakan diada-adakannya hal itu, dan merupakan suatu hal yang bathil dalam syari'at ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala, berdasarkan sabda Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Barangsiapa yang mengadakan suatu hal baru dalam urusan (agama) kami ini, yang bukan berasal darinya, maka hal itu tertolak." (9)

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan,

"Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan, yang bukan berasal dari (agama) kami, maka perbuatan itu tertolak." (10)

Apabila hal ini telah jelas, maka hari raya yang disebutkan dalam pertanyaan itu, yang dinamakan dengan hari ibu adalah tidak boleh, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menandakan hari raya, seperti menampakan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah, dan sebagainya.

Maka kewajiban seorang muslim adalah untuk merasa mulia dan bangga dengan agamanya, dan hendaklah ia membatasi diri pada apa yang ditunjukkan oleh ALLOH Ta'ala dan Rosul-NYA shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, tidak menambah-nambah dan tidak mengurang-nguranginya.

Juga merupakan kewajiban bagi seorang muslim untuk tidak menjadi bunglon, dengan mengikuti setiap penyeru, bahkan seharusnya ia membentuk kepribadiannya sesuai tuntunan syari'at ALLOH Ta'ala. Sehingga ia pun menjadi orang yang diikuti, bukan yang mengikuti, juga menjadi contoh yang baik bukan orang yang mencontoh. Dikarenakan syari'at ALLOH -alhamduliLLAAH- telah sempurna dari segala sisi. ALLOH Ta'ala berfirman,

"Pada hari ini telah KU-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah KU-cukupkan kepadamu nikmat-KU dan telah KU-ridhoi Islam itu jadi agamamu."
(Qur-an Suroh al-Maa-idah: ayat 3)

Seorang ibu adalah orang yang paling berhak untuk dihormati, bukan hanya sehari dalam setahun, bahkan seorang ibu memiliki hak terhadap anak-anaknya untuk mengurusinya, pada setiap waktu dan tempat, memberikan perhatian kepadanya, dan menta'atinya selama bukan dalam kemaksiatan kepada ALLOH 'Azza wa Jalla." (11)

===

(3) Shohih. Hadits Riwayat Imam Abu Dawud nomor 4031, dan dishohihkan oleh Imam al-Albani.

(4) Hasan. Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi nomor 2695, dan dihasankan oleh Imam al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shohiihah nomor 2194.

(5) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 5892, dan Imam Muslim nomor 259.

(6) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 3456, dan Imam Muslim nomor 2669.

(7) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 7319.

(8) Kitab Majmuu' Fataawaa wa Maqoolaat Mutanawwi'ah 5/189 dalam pembahasan mengenai al-Bida' wal Muhdatsaat halaman 217.

(9) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 2697, dan Imam Muslim nomor 1718.

(10) Shohih. Hadits Riwayat Imam Muslim nomor 1718.

(11) Kitab Majmuu' Fataawaa wa Rosaa-il Ibnil 'Utsaimin 2/353.

===

Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam berhari raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, Rojab 1426 H/ Agustus 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan (3)

50 kesalahan dalam berhari raya

Bab III

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan

3. Sibuk mengunjungi teman dari bersilaturrohmi pada hari 'Id

Sebagian manusia sibuk dengan mengunjungi teman dan karib kerabat pada hari 'Id dan melupakan mengunjungi kedua orang tuanya, saudaranya, dan familinya di hari yang diberkahi ini.

Maka seorang muslim harus mendahulukan kedua orang tua dan saudaranya dalam bersilaturrohmi dan berkunjung. Tidak mengapa untuk mengunjungi teman dan karib kerabatnya, akan tetapi tidak boleh melebihkan yang utama dari yang paling utama, tidak juga mendahulukan yang penting dari yang paling penting.

ALLOH Ta'ala berfirman (dalam hadits qudsi) mengenai silaturrohmi,

"Barangsiapa yang menyambungmu (tali silaturrohmi), maka AKU akan menyambung dengannya dan barangsiapa yang memutuskanmu, maka AKU akan memutuskan dengannya." (2)

Maknanya:

Barangsiapa yang menyambung tali silaturrohminya, maka ALLOH akan menyambung dengannya, yaitu menyambungnya dengan 'ilmu, rizqi, keberkahan, kebaikan, dan dengan setiap kebaikan yang bermanfaat baginya, di dunia dan di akhiroh.

===

(2) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori 10/249, dan Imam Muslim nomor 554.

===

Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam berhari raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, Rojab 1426 H/ Agustus 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syarah Kasyfu Syubuhat (17)

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Yang dimaksud dengan kalimat ini [1] adalah maknanya, bukan sekedar lafazhnya. Orang-orang kafir yang bodoh pun mengetahui bahwa maksud perkataan Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam adalah mengesakan ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala dengan selalu bergantung kepada-NYA dan mengingkari serta berlepas diri dari semua bentuk sesembahan selain ALLOH. Maka dari itu ketika Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam menyeru kepada mereka,

"Katakanlah, 'Laa ilaaha illaLLOOH'. Mereka menjawab, 'Apakah dia hendak menjadikan sesembahan yang banyak ini menjadi satu sesembahan saja? Sungguh, ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan."
(Qur-an Suroh ash-Shod: ayat 5) [2]

Penjelasan

[1] Yakni kalimat laa ilaaha illaLLOOH.

[2] Kalimat ini sama dengan kalimat sebelumnya. Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH hendak menjelaskan bahwa laa ilaaha illaLLOOH bermakna 'Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan ALLOH' telah dipahami betul oleh orang-orang musyrik. Dan mereka tahu persis bahwa yang dituntut dari kalimat itu bukan sekedar melafazhkan, tetapi meyakini makna yang disebutkan di atas. Inilah yang mereka tolak. Mereka tidak mengingkari bahwa ALLOH satu-satunya yang mencipta dan memberi rizqi.

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan (2)

50 kesalahan dalam berhari raya

Bab III

Hari-hari raya yang tidak disyari'atkan

2. Perayaan hari kelahiran para wali

Sebagian orang-orang sufi merayakan kelahiran para syaikh, para wali, dan orang-orang sholih, mereka mengadakan kumpul-kumpul dalam perayaan ini, mendirikan kemah, dan berdzikir kepada ALLOH dengan bergoyang dan menari. Berkumpul pula para pedagang dan diadakanlah pasar. Datang pula para murid (pengikut sufi) dari tempat-tempat yang jauh untuk menghidupkan malam kelahiran wali fulan.

Semua itu bukanlah berasal dari ajaran Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, tidak juga dari salah seorang Shohabat Beliau shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam. Seandainya hal itu baik, tentunya mereka telah lebih dahulu melakukannya.

Telah dimaklumi bahwa Abu Bakr ash-Shiddiq ro-dhiyaLLOOHU 'anhu adalah manusia yang paling utama dari ummat ini, setelah Nabi mereka, Nabi Muhammad shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam. Akan tetapi ia tidak pernah mengadakan perayaan hari kelahiran bagi dirinya, tidak juga para Shohabatnya melakukan baginya setelah kematiannya.

Demikian juga sepuluh orang yang dijamin masuk Surga, tidak pernah ada keterangan bahwa para Shohabat ro-dhiyaLLOOHU 'anhum mengadakan perayaan hari kelahiran mereka. Juga para Shohabat ro-dhiyaLLOOHU 'anhum yang lainnya yang utama, mereka seluruhnya adalah sebaik-baik para wali, berdasarkan sabda Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam,

"Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka." (1)

Maka jelaslah bahwa perayaan hari kelahiran ini adalah perbuatan bid'ah, tidak ada contoh mengenainya.

===

(1) Shohih. Hadits Riwayat Imam al-Bukhori nomor 3651, dan Imam Muslim nomor 2533.

===

Sumber:
Kitab: al-Kalimaatun Naafi'ah fil Akhthoo-isy Syaa-i'ah: Khomsuun Khotho-an fii Sholaatil 'Iidain, Penulis: Wahid 'Abdus Salam Baali, Penerbit: Dar Ibni Rojab, Cetakan II, 1424 H/ 2003 M, Judul terjemahan: 50 Kesalahan dalam berhari raya, Penerjemah: Mufti Hamdan, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir - Bogor, Cetakan I, Rojab 1426 H/ Agustus 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syarah Kasyfu Syubuhat (16)

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Inilah tauhid yang merupakan makna dari kalimat laa ilaaha illaLLOOH [1]. Al-ilah (sesembahan) yang dimaksud orang-orang musyrik adalah berkaitan dengan hal-hal tersebut, baik sesembahan itu berwujud Malaikat, Nabi, wali, pohon, kuburan atau jin. Mereka tidak menganggap bahwa al-ilah (sesembahan) mereka itu adalah dia yang menciptakan, yang memberi rizqi, dan yang mengatur alam semesta, karena mereka mengakui bahwa yang demikian itu adalah hak ALLOH semata, sebagaimana telah aku kemukakan di depan. Akan tetapi, yang mereka maksudkan dengan al-ilah (sesembahan) adalah seperti apa yang dikehendaki orang-orang musyrik pada zaman kita dengan lafazh as-sayyid. Dalam keadaan mereka seperti itu, datanglah Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam menyeru kepada kalimat tauhid, yaitu kalimat laa ilaaha illaLLOOH [2].

Penjelasan

[1] Tauhid yang diseru oleh Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam merupakan makna dari kalimat laa ilaaha illaLLOOH, yang artinya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain ALLOH 'Azza wa Jalla. Orang-orang musyrik telah mengetahui makna seperti itu. Mereka juga mengetahui bahwa kalimat ini bukan bermakna "tidak ada yang mencipta, tidak ada yang memberi rizqi dan tidak ada yang mengatur alam semesta melainkan ALLOH." Dan juga tidak seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang ahlul kalam yang mengartikan kalimat ini dengan 'tidak ada yang mampu mengadakan sesuatu yang baru melainkan ALLOH'. Mereka tidak mengingkari dan tidak menolak makna-makna seperti ini. Yang mereka tolak adalah makna bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan ALLOH. ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman tentang mereka,

"Apakah dia hendak menjadikan tuhan-tuhan yang banyak ini menjadi satu ilah saja? Sungguh, ini adalah sesuatu yang mengherankan. Maka pergilah pemimpin-pemimpin mereka itu (seraya berkata), 'Pergilah engkau dan tetaplah (menyembah) sembahan-sembahan engkau. Sesungguhnya ini adalah satu hal yang dia kehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir. Ini (yakni mengesakan ALLOH) tidak lain adalah (dusta) yang diada-adakan.'"
(Qur-an Suroh ash-Shod: ayat 5)

[2] Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak menolak kalimat laa ilaaha illaLLOOH dengan makna "tidak ada yang mengatur atau tidak ada yang mencipta selain ALLOH." Karena mereka mengetahui bahwa hal yang demikian adalah benar. Yang mereka tolak adalah makna 'Tidak ada yang berhak disembah melainkan ALLOH.' Inilah yang disampaikan berulang kali oleh penulis sejak awal dengan maksud untuk menguatkan argumentasinya dalam membantah orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ber'ibadah kepada para Malaikat atau yang selainnya tidak lain hanyalah supaya mereka mendekatkan diri kami kepada ALLOH sedekat-dekatnya. Kami tidak meyakini bahwa merekalah yang menciptakan dan memberi rizqi."

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Syarah Kasyfu Syubuhat (15)

Penjelasan kitab Kasyfu Syubuhat

Engkau telah mengetahui [1] bahwa pengakuan mereka terhadap tauhid rububiyah belum memasukkan mereka ke dalam Islam; dan bahwa 'ibadah yang mereka tujukan kepada para Malaikat, para Nabi atau para wali untuk mendapat syafa'at (pertolongan mereka) serta bertaqorrub (pendekatan diri) kepada ALLOH adalah hal-hal yang menjadikan darah dan harta mereka menjadi halal. Dengan demikian, engkau mengetahui jenis tauhid yang diseru oleh para Rosul tetapi ditolak oleh orang-orang musyrik [2].

Penjelasan

[1] Kalimat ini "wa 'arofta" ma'thuf (bersambung) kepada "fa idzaa tahaqqoqta".

[2] Syaikh (Imam Muhammad bin 'Abdul Wahhab) rohimahuLLOOH mengatakan bahwa tauhid yang dida'wahkan para Rosul ALLOH adalah tauhid uluhiyah. Orang-orang musyrik di zaman Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, sekali pun mereka mengakui tauhid rububiyah, namun Nabi shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam tetap menghalalkan darah dan harta mereka karena mereka mempersembahkan 'ibadahnya kepada para Malaikat, para wali dan orang-orang sholih dengan maksud untuk mendekatkan diri mereka kepada ALLOH. ALLOH Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain ALLOH (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada ALLOH sedekat-dekatnya'."
(Qur-an Suroh az-Zumar: ayat 3)

Mereka mengakui bahwa 'ibadah mereka ditujukan kepada ALLOH akan tetapi mereka menjadikan para Malaikat dan selainnya untuk mendekatkan diri mereka kepada ALLOH. Dengan keadaannya yang demikian, mereka tidak tergolong orang-orang yang bertauhid.

===

Sumber:
Kitab: Syar-hu kasy-fusy syubuhaati wa yaliihi syar-hul u-shuulus sittah, Penulis: Muhammad bin Sholih al-'Utsaimin, Penerbit: Dar ats-Tsaroyya - Kerajaan Saudi Arobia, 1416 H/ 1996 M, Judul terjemah: Syaroh kasyfu syubuhat membongkar akar kesyirikan dilengkapi syaroh ushulus sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrohman, Penerbit: Media Hidayah - Jogjakarta, Cetakan I, Robi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Fatawa: Siapakah orang yang berhak menerima daging hewan qurban?

Fatawa: Siapakah orang yang berhak menerima daging hewan qurban?

Soal:
Siapakah yang berhak menerima daging binatang qurban dan apa hukum memberikan daging hewan qurban kepada yang menyembelih? Banyak kaum muslimin di negeri kami, jika mereka telah menyembelih hewan qurban maka mereka tidak segera membagikan daging hewan tersebut pada hari yang sama, namun mereka tunda sampai besok. Saya tidak tahu, apakah itu Sunnah atau perbuatan itu mendatangkan pahala?

Jawab:
Orang yang melakukan 'ibadah qurban boleh mengkonsumsi daging hewan qurbannya, sebagiannya boleh diberikan kepada orang-orang faqir untuk mencukupi kebutuhan mereka pada hari itu, diberikan kepada kerabat untuk menyambung silaturohim, diberikan kepada tetangga sebagai bantuan dan boleh juga diberikan kepada teman-teman untuk mengokohkan ikatan persaudaraan.

Menyegerakan pembagian hewan qurban pada hari raya lebih baik daripada hari kedua dan seterusnya sebagai penghibur bagi mereka pada hari itu. Berdasarkan keumuman firman ALLOH 'Azza wa Jalla;

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari ROBB-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa."
(Qur-an Suroh Ali 'Imron (3): ayat 133)

"Maka berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan."
(Qur-an Suroh al-Baqoroh (2): ayat 148)

Daging qurban boleh juga diberikan kepada tukang sembelih, tapi bukan sebagai upah. Upah tidak boleh diambilkan dari binatang qurban.

Wa biLLAAHIT tawfiiq, wa shollaLLOOHU 'alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Al-Lajnatud Daa-imah Lil Buhuutsil Ilmiyyah wal Ifta'
Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdulloh bin Baaz
Wakil: Syaikh 'Abdurrozzaq Afifi
Anggota: Syaikh 'Abdulloh bin Ghodyan dan Syaikh 'Abdulloh bin Qu'ud

(Fataawa al-Lajnatid Daa-imah Lil Buhuutsil 'Ilmiyyah wal Ifta' 11/423-424)

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Fatawa: Bermaksiat setelah berhajji

Fatawa: Bermaksiat setelah berhajji

Soal:
AlhamduliLLAH, ALLOH 'Azza wa Jalla telah memberikan taufiq kepada saya untuk melaksanakan 'ibadah hajji setahun yang lalu. Namun sayang, beberapa bulan sepulang saya dari hajji, saya terbujuk syaithon dan melakukan beberapa perbuatan dosa besar. Saya memohon ampun kepada ALLOH 'Azza wa Jalla dan sangat menyesali perbuatan itu. Pertanyaan saya, bagaimanakah hukum 'ibadah hajji yang pernah saya lakukan? Apakah dianggap batal, gugur atau bagaimana, sehingga saya berkewajiban mengulanginya? Karena 'ibadah hajji saya itu telah sirna akibat perbuatan dosa saya ini. Ataukah 'ibadah saya itu tidak gugur? Dan saya cukup bertaubat saja, tidak mengulangi perbuatan dosa itu serta dosa itu tidak berpengaruh terhadap 'ibadah yang pernah saya lakukan? Ini yang membuat saya bingung.

Jawab:
Jika faktanya sesuai dengan cerita anda, maka 'ibadah hajji anda tidak batal; karena perbuatan dosa yang anda lakukan adalah setelah melakukan 'ibadah hajji tersebut. Anda tidak berkewajiban mengqodho'. Namun anda wajib bertaubat kepada ALLOH 'Azza wa Jalla, memperbanyak istighfar, melakukan perbuatan ta'at, menyesali dosa yang pernah anda lakukan dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Semoga ALLOH 'Azza wa Jalla menerima taubat anda dan mengampuni dosa anda. ALLOH 'Azza wa Jalla berfirman,

"Dan sesungguhnya AKU Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, ber'amal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar."
(Qur-an Suroh Thoha (20): ayat 82)

Wa biLLAAHIT tawfiiq, wa shollaLLOOHU 'alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Al-Lajnatud Daa-imah Lil Buhuutsil Ilmiyyah wal Ifta'
Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdulloh bin Baaz
Wakil: Syaikh 'Abdurrozzaq Afifi
Anggota: Syaikh 'Abdulloh bin Ghodyan dan Syaikh 'Abdulloh bin Qu'ud

(Fataawa al-Lajnatid Daa-imah Lil Buhuutsil 'Ilmiyyah wal Ifta' 11/111)

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Fatawa: Tahukah si mayit?

Fatawa: Tahukah si mayit?

Soal:
Jika ada seseorang yang melakukan 'ibadah qurban atas nama bapaknya yang telah wafat atau dia bershodaqoh, mendo'akannya atau menziarohi kuburnya, apa si mayit tahu bahwa ini dari anaknya Fulan?

Jawab:
Yang dijelaskan oleh teks-teks syari'at bahwa orang yang sudah meninggal bisa mendapatkan manfaat dari shodaqoh serta do'a dari orang yang masih hidup. Dan 'ibadah qurban itu termasuk jenis shodaqoh. Jika niat orang yang bershodaqoh atas nama orang yang sudah meninggal itu ikhlash dalam shodaqohnya atau do'anya, maka orang yang sudah meninggal bisa mendapatkan manfaat; serta orang yang bershodaqoh dan berdo'a mendapatkan pahala, sebagai karunia dan rohmat dari ALLOH 'Azza wa Jalla. Cukuplah bagi si pelaku, bahwa ALLOH 'Azza wa Jalla mengetahui keikhlasannya dan kebagusan 'amalnya serta memberikan balasan bagi kedua belah pihak. Adapun tentang si mayit, apakah dia mengetahui siapa yang memberikan kebaikan kepadanya; sebatas yang kami ketahui, permasalahan ini tidak diterangkan dalam dalil syar'i. Ini adalah masalah ghoib yang tidak bisa diketahui kecuali melalui wahyu yang ALLOH 'Azza wa Jalla berikan kepada Rosul-NYA.

Wa biLLAAHIT tawfiiq, wa shollaLLOOHU 'alaa nabiyyinaa Muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam

Al-Lajnatud Daa-imah Lil Buhuutsil Ilmiyyah wal Ifta'
Ketua: Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdulloh bin Baaz
Wakil: Syaikh 'Abdurrozzaq Afifi
Anggota: Syaikh 'Abdulloh bin Ghodyan dan Syaikh 'Abdulloh bin Qu'ud

(Fataawa al-Lajnatid Daa-imah Lil Buhuutsil 'Ilmiyyah wal Ifta' 11/420)

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah Edisi 08/ Tahun XIII/ Dzulqo'dah 1430 H/ November 2009 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hadits sholat arba'in (3) | Dana Talangan Haji

Al-Mab-hats

Hadits sholat arba'in (3)

Disusun oleh Ustadz Asatinizamani Lc hafizhohuLLOOH

Kesimpulan

Hadits yang mengandung perintah untuk sholat sebanyak empat puluh kali sholat (arba'in sholah) di Masjid Nabawi adalah hadits yang dho'if (lemah), sebagaimana dijelaskan tadi. Bahkan bisa dihukumi hadits munkar (34), karena menyelisihi hadits-hadits lainnya yang mengandung perintah untuk sholat selama empat puluh hari tanpa pengkhususan Masjid Nabawi (arba'in yaum atau arba'in shobah atau arbain lailah). Walaupun kita perhatikan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan arba'in yaum atau arba'in shobah atau arba'in lailah, semuanya tidak lepas dari 'illat (cacat), baik yang terlihat dan diketahui ataupun tidak, ditambah lagi adanya banyak perbedaan (idhtirob) dalam redaksi (matan)nya, bersifat umum dan sebagiannya lagi ada yang mengkhususkan sholat tertentu. Namun, dengan berkumpulnya sejumlah riwayat itu, bisa kita katakan bahwa haditsnya menjadi hasan li ghoirihi. WaLLOOHU a'lam.

Tambahan

Ini sekaligus sebagai nasihat bagi sebagian kaum muslimin, khususnya di Indonesia, yang masih sangat yakin tentang keharusan untuk melaksanakan sholat sebanyak empat puluh kali sholat secara berturut-turut di Masjid Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam agar kiranya lebih memperhatikan dan merenungi hadits yang jelas-jelas shohih yaitu:

"Sholat berjama'ah itu lebih utama dari sholat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat"
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhori dan Imam Muslim)

Hadits ini muttafaq 'alaih, sehingga tidak diragukan lagi bahwa derajatnya lebih shohih dari hadits-hadits sholat arba'in di atas. Hadits ini lebih umum dan tidak ada pengkhususan tempat juga tidak ada penyebutan batas waktu tertentu.

WaLLOOHU a'lam.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

(34) Mungkar yang dimaksudkan di sini adalah mungkar dalam pengertian 'ulama hadits, bukan mungkar dalam pengertian kita saat ini. Mungkar dalam 'ilmu hadits artinya hadits yang menyelisihi hadits yang lebih kuat darinya.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah nomor 5/ tahun XVI, Syawwal 1433 H/ September 2012 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hadits sholat arba'in (2) | Dana Talangan Haji

Al-Mab-hats

Hadits sholat arba'in (2)

Disusun oleh Ustadz Asatinizamani Lc hafizhohuLLOOH

Senada tapi tak sama

Kemudian, ada hadits yang hampir senada dengan hadits ini yaitu yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (7), Imam Bahsyal (8) dalam kitabnya Taariikh Waasith (9), Imam Ibnu 'Adi dalam kitab al-Kaamil (10) dan Imam al-Baihaqi dalam kitab Su'abul Iman (11), semua dengan sanad masing-masing, dari Salm bin Qutaibah Abu Qutaibah dari Thu'mah bin 'Amr dari Habib..., dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu, dari Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam. Hanya saja dalam riwayat Imam at-Tirmidzi rohimahuLLOOH disebutkan bahwa riwayatnya, "...dari Habib bin Abu Tsabit dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu." Sedangkan dalam riwayat Imam Ibnu 'Adi rohimahuLLOOH dijelaskan bahwa Habib itu adalah orang yang dijuluki al-Hadzdzaa'. Adapun riwayat Imam Bahsyal dan Imam al-Baihaqi rohimahumaLLOOH disebutkan, "...dari Habib dari Anas ro-dhiyaLLOOHU 'anhu," tanpa menjelaskan nasab perowi yang bernama Habib tersebut.

Redaksi (matan) dari riwayat ini semuanya hampir sama, namun yang harus diperhatikan, dalam riwayat ini tidak ada pengkhususan tempat. Ini berbeda dengan redaksi hadits di atas yang menyebutkan tempat khusus yaitu di Masjid Nabawi saja. Redaksinya adalah sebagai berikut:

"Barangsiapa mendirikan sholat karena ALLOH, selama empat puluh hari, secara berjama'ah, dengan selalu mendapatkan takbir yang pertama (bersama imam); niscaya akan diberikan kepadanya kebebasan (keselamatan) dari dua hal: dari Neraka dan dari kemunafikan."

Kecuali riwayat Imam Bahsyal, yang redaksinya berbeda yaitu:

"Barangsiapa sholat Shubuh bersama imam (yakni secara berjama'ah) selama empat puluh hari; niscaya ia akan terbebas dari dua hal yaitu: Neraka dan kemunafikan."

Redaksi ini juga tidak ada penyebutan tempat secara khusus. WaLLOOHU a'lam.

Sanad hadits ini hasan, disebabkan oleh dua orang perowi dalam sanadnya yang tidak sampai derajat tsiqoh. Keduanya adalah Thu'mah bin 'Amr dan Salm bin Qutaibah.

Thu'mah bin 'Amr, mayoritas 'ulama ahli hadits lebih condong untuk memberinya derajat tsiqoh, seperti Imam Ibnu Ma'in (12), Imam Abu Hatim (13), dan yang lainnya rohimahumuLLOOH. Imam Ibnu Hibban rohimahuLLOOH juga menyebutkan nama beliau dalam kitabnya ats-Tsiqot (14). Pandangan yang berbeda disampaikan Imam ad-Daruquthni, beliau rohimahuLLOOH berkata, "Dia tidak bisa dijadikan hujjah, namun tetap boleh dijadikan sandaran." (15)

Perkataan inilah yang kemudian menurunkan derajat Thu'mah dari tsiqoh menjadi shoduq, sebagaimana perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahuLLOOH, "Shoduq 'abid (bisa dipercaya dan ahli 'ibadah." (16)

Keadaan Salm bin Qutaibah juga tidak jauh beda, mayoritas 'ulama ahli hadits lebih condong untuk memberikannya derajat tsiqoh, diantaranya Imam Ibnu Ma'in (17), Imam Abu Zur'ah (18), Imam Abu Dawud (19), Imam Abu Hatim (20), Imam ad-Daruquthni (21) dan yang lainnya rohimahumuLLOOH. Hanya saja Imam Abu Hatim rohimahuLLOOH mengatakan, "...(beliau) banyak salahnya..." Dan Imam Abu Hatim rohimahuLLOOH termasuk 'ulama ahli hadits yang perkataannya sangat kuat dalam hal ini. Pandangan beliau ini menyebabkan derajat perowi ini turun dari tsiqoh menjadi shoduq, sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar. (22)

Kemudian Thu'mah bin 'Amr yang meriwayatkannya dari Habib bin Abu Tsabit (riwayat Imam at-Tirmidzi) diikuti oleh Kholid bin Thohman, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam al-Khotib al-Baghdadi dalam kitabnya Taariikh Baghdaad (23); dengan sanad beliau dari Qois bin ar-Robi', dari Kholid bin Thohman, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu; secara marfu', dari sabda Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam, dengan matan sebagai berikut:

"Barangsiapa tidak pernah terlewatkan roka'at pertama (dalam sholat), selama empat puluh pagi (hari), niscaya ALLOH akan mengganjarnya dengan dua keselamatan; keselamatan dari Neraka dan keselamatan dari kemunafikan."

Qois bin ar-Robi' diikuti oleh Atho' bin Muslim yang juga meriwayatkannya dari Kholid bin Thohman, dan seterusnya, secara marfu', sebagaimana yang disebutkan oleh ad-Daruquthni dalam kitabnya al-'Ilalul Waaridah (24).

Namun riwayat mereka berdua (Qois bin ar-Robi' dan 'Atho' bin Muslim) ternyata diselisihi oleh riwayat berikut:

* Waki', yang disampaikan oleh Imam at-Tirmidzi (25), dan Imam Ibnu 'Adi dalam kitabnya al-Kaamil (26).

* Abu Usamah, yang disampaikan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Su'abul Iman (27).

* Ahmad bin Yunus, yang disampaikan oleh al-Khotib al-Baghdadi dalam kitab al-Muttafiq wal Muftariq (28).

* Sufyan ats-Tsauri, dan Qurroh bin 'Isa, yang keduanya disampaikan oleh Imam Bahsyal dalam kitab Taariikh Waasith (29) dengan redaksi yang sama seperti riwayat Imam Bahsyal sebelumnya.

Semuanya (Waki', Abu Usamah, Ahmad, Sufyan dan Qurroh) meriwayatkan dari Kholid bin Thohman (Abul 'Ala al-Khoffaf) dari Habib bin Abu Habib (Ab 'Amiroh al-Bajali al-Iskaf) dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu secara mauquf; dari perkataan Anas dan tidak menjadikannya marfu' dengan redaksi yang hampir sama dengan riwayat Imam at-Tirmidzi dan yang lainnya, tanpa ada penyebutan tempat secara khusus, baik tempat maupun jenis sholat tertentu. Kecuali riwayat Abu Usamah yang disampaikan oleh Imam al-Baihaqi, redaksinya sebagai berikut:

"Barangsiapa mendirikan sholat selama empat puluh hari dengan berjama'ah, sholat fajr (Shubuh) dan 'Isya, niscaya akan diganjar dengan kebebasan dari dua hal: dari Neraka dan dari kemunafikan."

Riwayat mereka inilah yang kemudian dianggap lebih kuat (rojih) dan lebih terjaga (mahfudh), sebab tiga di antaranya adalah para perowi yang tidak diragukan lagi ketsiqohan (kafabilitas) mereka dalam meriwayatkan hadits, yaitu Waki' bin al-Jarroh, Abu Usamah (Hammad bin Usamah), Sufyan ats-Tsauri dan Ahmad bin Yunus (30), sedangkan derajat para perowi yang menyelisihi mereka, yaitu Qois bin ar-Robi' dan 'Atho' bin Muslim, tidak bisa disamakan dengan ketiga Imam ini. (31)

Walaupun demikian, sanadnya masih bermasalah. Sebab Habib bin Abu Habib tidak disebutkan dan tidak dijelaskan kondisi dan derajatnya oleh para 'ulama ahli hadits, kecuali Imam Ibnu Hibban, yang hanya menyebutkan nama beliau dalam kitab ats-Tsiqot (32). Imam ad-Daruquthni menyebutkan nama Habib bin Abu Habib dalam kitab adh-Dhu'afa wal Matrukun (33).

===

(7) Kitab Sunan at-Tirmidzi 505 nomor 1733.

(8) Dia adalah Aslam bin Sahl bin Salm bin Ziyaad bin Habiib al-Waasithi, Abul Hasan ar-Rozzaaz, yang dikenal dengan julukan Bahsyal, wafat tahun 292 H rohimahuLLOOH.

(9) Kitab Taariikh Waasith 1/66.

(10) Kitab al-Kaamil fidh Dhu'afaa 2/403.

(11) Kitab Syu'abul Iman 4/345 nomor 2612, 2613.

(12) Kitab al-Jarh wat Ta'diil karya Imam Ibnu Abi Hatim 4/496 nomor 2185.

(13) Ibid (sama dengan atas)

(14) Lihat kitab ats-Tsiqot 6/492.

(15) Kitab Su'aalaatul Barqooni 38 nomor 241.

(16) Kitab Taqriibut Tahdziib 463 nomor 3032.

(17) Kitab Taariikh Yahya bin Ma'in, riwayat 'Abbas al-Duuri 4/171 nomor 3775.

(18) Kitab al-Jarh wat Ta'diil karya Imam Ibnu Abi Hatim 4/266 nomor 1148.

(19) Kitab Su'aalaatul Aajurri.

(20) Kitab al-Jarh wat Ta'diil karya Imam Ibnu Abi Hatim 4/266 nomor 1148.

(21) Kitab Su'aalaatul Haakim 222 nomor 348.

(22) Lihat kitab Taqriibut Tahdziib 397 nomor 2484.

(23) Kitab Taariikh Baghdaad 13/301.

(24) Kitab al-'Ilalul Waaridah fil Ahaadiitsin Nabawiyyah 2/118 nomor 151.

(25) Kitab Sunan at-Tirmidzi 505 nomor 1733.

(26) Kitab al-Kaamil fidh Dhu'afaa 2/403.

(27) Kitab Syu'abul Iman 4/345 nomor 2614.

(28) Kitab al-Muttafiq wal Muftariq 1/683 nomor 397.

(29) Kitab Taariikh Waasith 1/66.

(30) Dia adalah Ahmad bin 'Abdulloh bin Yunus.

(31) Perihal dan derajat mereka berdua bisa dilihat kembali di kitab Tahdziibul Kamaal karya Imam Abul Hajjaaj al-Mizzi, kitab Tahdziibut Tahdziib dan kitab Taqriibut Tahdziib, keduanya karya al-Hafizh Ibnu Hajar dan kitab-kitab lainnya.

(32) Lihat kitab ats-Tsiqot 4/140.

(33) Lihat kitab adh-Dhu'afaa wal Matruukuun 2/149 nomor 170.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah nomor 5/ tahun XVI, Syawwal 1433 H/ September 2012 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hadits sholat arba'in | Dana Talangan Haji

Al-Mab-hats

Hadits sholat arba'in

Disusun oleh Ustadz Asatinizamani Lc hafizhohuLLOOH *)

Keinginan kuat agar selamat dari adzab api Neraka dan selamat dari kemunafikan telah memotivasi banyak orang untuk melakukan sholat berjama'ah selama empat puluh kali di Masjid Nabawi. Sholat ini disebutkan dengan sholat arba'in. Patut diselidiki, bagaimanakah derajat hadits tersebut? Berikut sedikit penjelasannya:

"Barangsiapa melaksanakan sholat di Masjidku sebanyak empat puluh sholat, tanpa ada satu sholat pun yang tertinggal; niscaya ia akan dijauhkan dari Neraka, selamat dari siksaan dan dijauhkan dari sifat kemunafikan."

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad (1) dan Imam ath-Thobroni dalam kitab al-Mu'jamul Awsath (2), dengan sanad mereka dari: 'Abdurrohman bin Abir Rijal, dari Nubaith bin 'Umar, dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu, dia mengatakan bahwa Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda: (sebagaimana redaksi (matan) hadits di atas).

Hadits dengan redaksi (matan) di atas merupakan riwayat Imam Ahmad rohimahuLLOOH, sedangkan dalam riwayat Imam ath-Thobroni rohimahuLLOOH, tanpa ada kalimat: wa bari-a minan nifaaq (dan dijauhkan dari sifat kemunafikan).

Setelah membawakan riwayat ini, Imam ath-Thobroni rohimahuLLOOH mengatakan, "Tidak ada yang meriwayatkannya dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu selain Nubaith bin 'Umar dan hanya Ibnu Abir Rijal yang meriwayatkannya (dari Nubaith)."

Sanad hadits ini bermasalah, karena perowi yang bernama: Nubaith bin 'Umar dalam sanad ini tidak diketahui atau tidak dikenal (majhul), sebagaimana penjelasan Imam ath-Thobroni rohimahuLLOOH, bahwa tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali 'Abdurrohman bin Abir Rijal. Majhul itu ada dua jenis:

a. Majhulul 'ain artinya tidak diketahui atau tidak dikenal. Para 'ulama ahli hadits mendefinisikannya sebagai perowi yang tidak meriwayatkan darinya kecuali satu orang saja.

b. Majhulul hal artinya tidak diketahui perihal atau derajatnya. Dalam istilah lain dikatakan mastur (tertutup) yang didefinisikan sebagai seorang perowi yang meriwayatkan darinya dua orang atau lebih, tapi tidak ada satu 'ulama hadits pun yang bercerita tentang perihal dan derajatnya. (3)

Hadits yang diriwayatkan oleh perowi majhul -baik yang majhulul 'ain maupun hal- dihukumi lemah (dho'if), sampai ditemukan riwayat lain yang mengikutinya dan menguatkan derajatnya. Hadits di atas, tidak ada satu riwayat pun yang mengikuti dan menguatkan riwayat ini, sehingga hadits ini menjadi dho'if.

Namun, Imam Ibnu Hibban rohimahuLLOOH menyebutkan nama Nubaith bin 'Umar dalam kitabnya ats-Tsiqot (4). Ini kemudian dijadikan pegangan oleh beberapa 'ulama untuk menghukumi hadits ini sebagai hadits shohih. Di antaranya adalah Imam al-Haitsami rohimahuLLOOH. Beliau rohimahuLLOOH mengatakan, "Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam ath-Thobroni dalam kitab al-Awsath dan para perowinya semua tsiqoh (5)."

Begitu juga Imam al-Mundziri rohimahuLLOOH, bahkan beliau rohimahuLLOOH berlebihan dengan mengatakan, "Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para perowinya semua adalah para perowi yang disebutkan di kitab-kitab shohih, dan diriwayatkan juga oleh Imam ath-Thobroni di al-Awsath (6)."

Pernyataan ini keliru. Karena tidak semua perowi yang ada dalam sanad tersebut tsiqoh. Kita tidak pernah mendapatkan penyebutan perowi yang bernama Nubaith bin 'Umar dalam kitab-kitab Shohiih, seperti kitab Shohiih al-Bukhori, Shohiih Muslim, dan yang lainnya, bahkan tidak juga dalam kitab-kitab Sunan yang empat: Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan Sunan Ibnu Majah. Lalu, bagaimana bisa dikatakan bahwa semua perowi hadits ini adalah para perowi yang disebutkan dalam kitab-kitab Shohiih, padahal tidak ada para 'ulama yang mengumpulkan hadits-hadits shohih mengambil sanad melalui jalannya (Nubaith bin 'Umar).

Dari uraian ini, kita fahami bahwa perkataan kedua Imam ini adalah sebuah kekeliruan.

Penulisan nama Nubaith bin 'Umar oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitabnya ats-Tsiqot, dianggap oleh para 'ulama hadits sebagai bentuk tasahul (yaitu sikap terlalu mudah atau menggampangkan) beliau dalam memberikan derajat tsiqoh untuk para perowi majhul. Dan tidak ada 'ulama, baik sebelum atau setelah masa beliau, yang menggunakan metode seperti ini. Walaupun sebagian dari mereka ada yang menjadikan sikap tersebut sebagai pegangan untuk mengangkat derajat seorang perowi majhul menjadi tsiqoh. WaLLOOHU a'lam.

Bersambung...

===

*) beliau sedang menempuh kuliah S2 Fakultas Hadits di Universitas Islam Madinah Kerajaan Saudi Arobia.

(1) Kitab al-Musnad 20/40 nomor 12583.

(2) Kitab al-Mu'jamul Awsath 5/325 nomor 5444.

(3) Pembahasan ini bisa dilihat di buku-buku mushtholahul hadiits, seperti kitab Ma'rifah 'Uluumil Hadiits (Imam Ibnu ash-Sholah), kitab at-Taqriib wat Taisiir (Imam an-Nawawi), kitab Tadriibur Roowii (Imam as-Suyuthi), kitab Fat-hul Mughiits (Imam as-Sakhowi), dan lain-lain.

(4) Lihat kitab ats-Tsiqot 5/483.

(5) Kitab Majma'uz Zawaa-id wa Manba'ul Fawaa-id 4/8 nomor 5878)

(6) Kitab at-Targhiib wat Tarhiib 2/505 nomor 1733.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah nomor 5/ tahun XVI, Syawwal 1433 H/ September 2012 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menyorot sholat arba'in di Masjid Nabawi (3) | Dana Talangan Haji

Al-Mab-hats

Menyorot sholat arba'in di Masjid Nabawi (3)

Disusun oleh ustadz Anas Burhanuddin MA hafizhohuLLOOH

Ada arba'in lain

Selain arba'in di atas ada arba'in dengan bentuk lain dengan dalil yang lebih shohih, yaitu hadits berikut:

Dari Anas bin Malik ro-dhiyaLLOOHU 'anhu, Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang sholat karena ALLOH 'Azza wa Jalla empat puluh hari secara berjama'ah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari Neraka dan kebebasan dari kemunafikan."
(Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi nomor 241, dihukumi hasan oleh Imam al-Albani, dan Imam al-'Iroqi mengatakan: Para perowi tsiqoh) (6)

Di banding arba'in yang di atas, arba'in ini memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

1. Jumlah bilangan sholatnya dua ratus sholat dalam empat puluh hari. Bandingkan dengan empat puluh sholat dalam delapan hari. Karenanya, sebagian orang yang pernah mencoba meng'amalkannya mengalami kesulitan yang cukup besar, kira-kira sebanding dengan besarnya pahala yang dijanjikan.

2. Arba'in ini pelaksanaannya tidak terbatas pada Masjid Nabawi, tapi bisa dilakukan di Masjid manapun di atas muka bumi ini.

Jangan lewatkan pahala jihad di Masjid Nabawi

Di akhir pembahasan ini, saya (penyusun) ingin mengajak para peziaroh kota Madinah untuk tidak melewatkan sebuah peluang pahala besar selama di Madinah, yakni sebuah 'amalan yang tidak hanya akan bermanfaat selama musim hajji saja, tapi diharapkan bisa menerangi sisa kehidupan mereka yang akan datang. Hal ini termaktub dalam hadits berikut:

Dari Abu Huroiroh ro-dhiyaLLOOHU 'anhu, dia berkata, Rosululloh shollaLLOOHU 'alay-hi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mendatangi Masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan ALLOH. Dan barangsiapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain."
(Hadits Riwayat Imam Ibnu Majah nomor 227, dihukumi shohih oleh Imam al-Albani)

Memandang barang orang lain maksudnya adalah ia seperti orang yang masuk ke pasar, tapi tidak menjual atau membeli, dan hanya memandang barang orang lain sehingga tidak mendapat apa-apa. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Masjid Nabawi adalah suq al 'ilmi (pasar 'ilmu), dan selayaknya bagi orang yang masuk ke dalamnya untuk berdagang 'ilmu, baik dengan menuntut 'ilmu atau mengajarkannya. (7)

Jika anda paham bahasa Arob, anda bisa belajar langsung kepada para 'ulama di Masjid Nabawi. Jika tidak, anda bisa membawa kitab untuk dibaca, berdiskusi atau membaca al-Qur-an dan terjemahnya. Atau menghadiri pengajian berbahasa Indonesia yang dimulai tahun ini (2012) insya ALLOH 'Azza wa Jalla akan dibuka di kursi-kursi resmi dalam Masjid Nabawi dan diampu para mahasiswa senior di Universitas Islam Madinah. Yang penting setiap langkah anda dari penginapan menuju Masjid Nabawi tidak lepas dari niat mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, agar pahala jihad tidak luput dari anda.

Musin hajji selain menjadi musin 'ibadah juga merupakan titik temu para 'ulama dan penuntut 'ilmu. Para jama'ah hajji yang ingin melipatgandakan keuntungan mereka menimba 'ilmu dari para 'ulama haromain atau para 'ulama yang datang dari berbagai penjuru dunia, kemudian menda'wahkannya di negeri masing-masing. Mereka menjadi duta da'wah sebagaimana dahulu para Shohabat ro-dhiyaLLOOHU 'anhum meninggalkan tanah suci yang mereka cintai untuk menebar hidayah. Atau jika tidak menda'wahkannya secara luas, paling tidak mereka mengenal Islam yang murni langsung dari sumbernya dan bermanfaat untuk mereka dan keluarga mereka, dan ini sungguh keuntungan yang tidak sedikit.

Khotimah

Dari paparan di atas, jelaslah bagi kita keutamaan sholat di Masjid Nabawi. Keutamaan ini sangat cukup memotivasi kita untuk melakukan sholat jama'ah sebanyak mungkin di Masjid Nabawi. Lemahnya hadits arba'in, ditambah adanya praktek-praktek yang salah sebagaimana telah dijelaskan di atas membuat kita tidak memerlukannya. Semoga ALLOH 'Azza wa Jalla membimbing kita dan kaum muslimin untuk ber'ilmu sebelum ber'amal, dan membimbing kita semua kepada apa yang DIA cinta dan ridhoi, Aamiiiin.

===

(6) Kitab Shohiihut Targhiib wat Tarhiib 1/98 nomor 409, kitab Takhriij Ahaadiits Ihya Uluumiddiin 1/334.

(7) Kitab Mir'atul Mafaatiih Syarh Misykaatil Mashoobih 2/456.

===

Sumber:
Majalah as-Sunnah nomor 5/ tahun XVI, Syawwal 1433 H/ September 2012 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah