Showing posts with label syarah al-qawa'id al-arba'. Show all posts
Showing posts with label syarah al-qawa'id al-arba'. Show all posts

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (11/4)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (11/4).

* Ada yang berkata, "Tapi kan perbuatan dan keyakinan seperti ini sudah ada dari zaman dahulu turun-temurun. Para ulama dalam Islam ini pun dari dahulu membolehkannya dan tidak mengingkarinya."

Maka kita jawab, "Ini adalah klaim dusta. Justru sebaliknya, para ulama dari semua madzhab dari zaman dahulu mengingkarinya dan menerangkan bahwa perbuatan dan keyakinan seperti ini bertentangan dengan syariat."

Kalau seseorang menelaah kitab-kitab yang ditulis mengenai masalah ini, ia akan dapati para ulama secara sharih (tegas) mengatakan bahwa ini semua perbuatan syirik dan keyakinan seperti ini menyelisihi syariat.

Kalau mereka menelaah berbagai kitab fiqh pada bab shalat dan bab ar-riddah (keluarnya seseorang dari Islam/ murtad), ia akan dapati berbagai contoh di mana para ulama menegaskan bahwa penyembahan kubur para wali atau penyembahan gua-gua dan semacamnya termasuk kemurtadan dari Islam.

Kalau seseorang menghitung jumlah tulisan para ulama syari'ah khusus mengenai masalah ini, ia akan mendapati jumlahnya sangat banyak. Jika sebagian ulama tidak bicara mengenai masalah ini, itu bukan berarti menyetujui, melainkan mencukupkan bantahan yang telah dikeluarkan oleh ulama selain mereka.

Kesimpulannya, manusia tidak membutuhkan perbuatan-perbuatan syirik di atas. Karena itu semua akan membuat mereka terjatuh ke dalam syirik besar yang mengeluarkan mereka dari agama Islam, karena mereka telah memalingkan ibadah kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak boleh pula membenarkan perbuatan syirik tersebut dengan alasan adanya orang Islam yang melakukannya. Sebaliknya, justru sudah selayaknya ia membantah perbuatan ini dengan dalil-dalil dari Al-Qur'an dan sunnah.

Penutup.

Demikian risalah ini ditulis dengan ringkas, namun mencakup kaidah-kaidah yang penting dan memiliki makna yang luas. Ini sekaligus mencerminkan ilmu yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam masalah pokok-pokok agama, mengetahui penjelasan dan implementasinya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosanya dan melapangkan kuburnya.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan taufik kepada kita sekalian dalam kebaikan dunia dan akhirat, dan menjadikan kita orang-orang yang diberi petunjuk. Saya juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memperbaiki keadana umat Islam ini, membimbing mereka ke dalam agama Islam ini dengan sebaik-baik bimbingan, dan menjauhkan mereka dari kejahilan dan kesyirikan. Selain itu, saya juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memperbaiki kondisi pemimpin umat Islam dan memberikan taufik kepada mereka dalam melaksanakan kebaikan.

Wallahu a'lam bishshawab...

Semoga keselamatan dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, keluarga beliau, dan para pengikutnya sekalian.

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (11/3)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (11/3).

Bahkan di antara mereka ada yang berkata, "Kalau bukan karena wali fulan, langit pasti sudah runtuh dan menimpa darat dan laut", atau "Masjid ini adalah tonggak bumi yang kalau roboh, maka bumi semuanya hancur", atau perkataan lain yang sejenis. Mereka memiliki pengagungan khusus yang diberikan kepada wali, batu yang dibentuk seperti masjid, pohon, dan semacamnya.

Ada di antara mereka yang pergi ke sebuah pohon atau gua, lalu memohon diberi anak, meminta rezeki, kelapangan dalam urusan, dibantu dalam menyelesaikan masalah dan lainnya. Mereka meninggalkan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Mengatur urusan makhluk-Nya.

Masih banyak lagi contoh yang menggambarkan keadaan kaum musyrikin di zaman kita ini, yang kesyirikannya lebih parah daripada kaum musyrikin di zaman Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

Kumpulan syubhat.

* Ada yang berkata, "Tapi mereka yang di zaman Nabi kan tidak dinamakan orang Islam, bahkan mengaku bukan Islam, bukan kaum Muslimin. Beda halnya dengan orang di zaman ini yang menisbatkan dirinya pada Islam, mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Maka kita jawab, "Yang menjadi patokan adalah realita kondisi manusianya, bukan masalah penamaan. Sekadar menisbatkan diri kepada Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) atau agama Islam ini, tidak otomatis bermakna mereka orang Islam (Muslimin). Patokannya adalah keadaan realitanya."

* Ada yang berkata, "Tapi mereka kan mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, tidak seperti orang di zaman Nabi yang tidak mau mengatakannya."

Maka kita jawab, "Setiap amal ibadah harus memenuhi syarat-syaratnya. Jika seseorang shalat tanpa wudhu maka shalatnya batal. Jika ia shalat tanpa menghadap kiblat padahal ia tahu arah kiblat maka tidak sah shalatnya. Jika ada orang shalat bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, melainkan karena riya' (23) atau sum'ah (24) atau bahkan sekadar latihan menggerakkan badan, maka tidak sah shalatnya dan tidak diberi pahala untuk shalatnya. Begitu pula mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah, tidak akan teranggap dan tidak akan mencapai tujuan pengucapannya, kecuali jika memenuhi syarat-syaratnya yang mencakup pengetahuan tentang maknanya, meyakini kandungannya, mengamalkan konsekuensinya, ikhlas mengucapkannya, dan syarat lainnya (25). Jika seseorang mengucapkan kalimat ini, tetapi tidak memenuhi syarat-syaratnya, maka tidak akan diterima Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak benar kalau ada orang yang menisbatkan dirinya kepada Islam (mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah) dan mengaku sebagai orang Islam, tetapi mengerjakan hal-hal yang melanggar tauhid, lantas kita membenarkan apa yang mereka lakukan. Pengakuan mereka sebagai orang Islam tidak bisa melegalkan kesyirikan yang mereka lakukan. Perbuatan mereka seharusnya menyesuaikan hukum syariat, bukan syariat yang menyesuaikan perbuatan mereka. Jika sebaliknya, maka itu mengubah syariat dan menggonta-gantinya."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

23. Ingin amalnya dilihat orang lain sehingga mendapat pujian, -pent.

24. Ingin amalnya didengar orang lain sehingga mendapat pujian, -pent.

25. Syarat Laa Ilaaha Illallaah ada tujuh, yaitu Al-Ilmu (tahu maknanya), Al-Inqiyaad (patuh), Al-Yaqiin (yakin), Al-Ikhlas (ikhlas), Ash-Shidq (jujur), Al-Mahabbah (cinta), Al-Qabuul (menerima). Bisa dilihat dalam berbagai buku aqidah pada bab penjelasan kalimat Laa Ilaaha Illallaah, -pent.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (11/2)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (11/2).

Orang-orang musyrik dan kafir di zaman Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), dalam kondisi aman dan tenteram, melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah) dengan memalingkan ibadah dan doa mereka kepada yang selain-Nya. Namun, jika datang ketakutan atau kesulitan dalam urusan mereka maka mereka akan memalingkan wajah mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, berdoa, dan mengikhlaskan doa itu hanya kepada-Nya sehingga dengan itu Allah pun menolong mereka.

Adapun orang musyrik di zaman ini justru tidak seperti itu. Dalam kondisi terdesak dan semakin tertekan dalam suatu masalah, mereka justru berpaling kepada manusia atau makhluk lain yang mereka sembah, dengan berdoa, tunduk, memelas dan meminta-minta kepada sembahan mereka agar dibebaskan dari kesulitan dan masalah mereka itu.

Penulis membawakan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (QS. Al-Ankabuut [29]: 65)

Artinya, orang-orang musyrik itu kembali melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala) setelah selamat, meskipun mereka di saat kesulitan dan ketakutan mentauhidkan Allah dalam doanya.

Permisalan yang semacam ini terdapat pula dalam banyak ayat dalam surah yang berbeda-beda di dalam Kitabullah (Al-Qur'an). Semua ayat itu menegaskan bahwa orang-orang musyrik mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengesakan-Nya dalam doa mereka saat dalam kesulitan dan ketakutan. Allah pun mencela mereka, karena bagaimana mungkin mereka tidak mengesakan Allah saat kondisi aman dan tenteram, lantas berpaling kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan mereka selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara itu orang musyrik di zaman ini tetap saja berbuat syirik dalam kondisi tertekan.

Orang-orang musyrik di zaman ini suka membantah, "Kamu bukan siapa-siapa dibandingkan wali yang kami sembah. Kalau kamu dalam keadaan sulit maka tidak ada yang dapat menolongmu selain wali itu."

Begitulah permisalan keadaan kaum musyrikin di zaman kita ini, yang kesyirikannya lebih parah daripada kaum musyrikin yang hidup di zaman Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

Contoh lain yang bisa kita ambil dalam masalah ini adalah orang musyrikin di zaman Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menetapkan tauhid rububiyyah, mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatur semua makhluk, Allah yang menciptakan seluruh lapis langit, daratan dan lautan, Allah yang menahan keduanya di posisinya masing-masing ataupun menabrakkannya. Demikianlah sehingga dikatakan kepada mereka, "Jika kalian memang menetapkan tauhid rububiyyah dan mengesakan Allah di dalamnya, maka sudah seharusnya kalian juga menetapkan tauhid uluhiyyah dan wajibnya mengesakan Allah dalam ibadah kepada-Nya."

Nah, orang-orang di zaman belakangan ini justru lebih rusak daripada orang-orang terdahulu di masa Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Di zaman ini mereka meyakini bahwa para walilah yang mengatur makhluk, yang memberikan anak dan rezeki (bukan Allah, -pent).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (11)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (11).

Penulis berkata,

Kaidah keempat:

Bahwa orang-orang musyrik di zaman kita ini lebih parah kesyirikannya daripada kaum musyrikin terdahulu. Orang-orang musyrik di zaman dahulu hanya melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah) saat dalam kondisi aman dan tenteram, dan mereka mentauhidkan Allah di saat kesulitan dan ketakutan. Adapun orang musyrik di zaman ini senantiasa melakukan kesyirikan, baik dalam kondisi aman dan tenteram maupun dalam kesulitan dan ketakutan.

Dalilnya adalah firman Allah: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (QS. Al-Ankabuut [29]: 65)

Syarah.

* (Kaidah keempat).

Dalam kaidah yang keempat ini, penulis menyebutkan perbandingan antara orang-orang yang dahulu diajak Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam masuk ke dalam Islam, yang beliau hukumi sebagai orang musyrik, dan orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ushul ad-diin (pokok-pokok agama Islam) di zaman belakangan. Penulis memberikan satu contoh perbandingan, yaitu tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam doa di masa sulit dan takut.

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa doa termasuk ibadah, sehingga doa juga merupakan hak Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya selain (menyembah) Allah." (QS. Al-Jinn [72]: 18)

Akan tetapi, jika kita bandingkan antara orang-orang yang dahulu hidup di zaman Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, yang beliau hukumi sebagai orang kafir dan musyrik dan orang-orang yang hidup di zaman ini, maka kita dapati bahwa orang-orang di zaman kita ini yang mengaku beragama Islam lebih parah pelanggarannya terhadap Islam itu sendiri (khususnya dalam masalah mentauhidkan Allah dalam doa di masa sulit dan takut) daripada orang-orang yang dikafirkan oleh Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) di zaman beliau.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/10)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/10).

Di sisi lain, apabila seorang manusia memberikan bantuan kepada seorang jin tanpa diminta, atau sebaliknya seorang jin memberikan bantuan kepada seorang manusia tanpa diminta, maka tidak masuk dalam ayat ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lain), yang maknanya jin dan manusia itu meminta tolong satu sama lain. Mereka mendapatkan kesenangan dengan cara itu.

Dari seluruh pembahasan pada kaidah ini, maka bisa disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

Pertama, suatu ibadah tidak boleh ditujukan atau dipalingkan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua, memalingkan ibadah kepada orang-orang shalih, para Malaikat, para Nabi tidaklah disyariatkan, apa pun bentuk ibadahnya. Bahkan hal itu justru merupakan perbuatan syirik.

Ketiga, meninggalkan penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kalangan para Nabi dan orang-orang shalih tidak bermakna merendahkan kedudukan mereka, tetapi justru bentuk ittiba' (mengikuti) jalan mereka. Tidak beribadah kepada mereka berarti mengikuti ajaran mereka dan menyembah mereka justru menyelisihi jalan mereka.

Keempat, aqidah yang rusak tidak akan bermanfaat di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala sedikitpun. Bisa disimpulkan pula bahwa syirik mencakup penyembahan kepada selain Allah, baik itu ditujukan kepada orang-orang shalih maupun setan.

Kelima, kesyirikan tidak boleh dilakukan walaupun dengan alasan untuk menunjang ibadah dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ada yang mengatakan bahwa keyakinan itu letaknya dalam diri seseorang. Perkataan ini mengandung dua makna:

1. Makna yang benar, yang berarti seseorang mengetahui karakter dan kelebihannya, dan mengetahui kemampuannya untuk memilah mana perbuatan yang bertentangan dengan dirinya sendiri dan mana yang sesuai dengannya;

2. Makna yang meniadakan tawakkal, di mana seseorang sangat percaya pada dirinya, tidak menyandarkan dirinya para Rabb-nya dan tidak bergantung kepada-Nya.

Adapun yang lebih utama adalah meninggalkan penggunaan istilah "keyakinan/percaya diri" ini dikarenakan ada dua kemungkinan maknanya, yaitu makna yang benar dan yang bathil. Sementara yang menjadi kaidah dalam syariat Islam adalah apabila suatu lafazh mengandung dua makna, satu makna adalah benar dan makna yang lain adalah bathil, maka diperintahkan untuk meninggalkannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad), 'Raa'ina'..." (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Ra'inaa memiliki dua kemungkinan makna: (Ar-Ri'ayah/ perlindungan) dan ini makna yang benar, atau (Ar-Ra'uunah/ kesembronoan) dan ini makna yang bathil.

Karena lafazh ini mengandung dua makna, satu makna adalah benar dan satu makna lain adalah bathil, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala larang penggunaannya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/9)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/9).

Dalam hadits ini digambarkan bahwa sebagian dari sahabat ketika itu ingin mencari berkah (ber-tabarruk) dengan pohon sebagai bentuk ibadah dalam pikiran mereka. Ini dikarenakan jihad dengan perang juga merupakan salah satu bentuk ibadah. Maka mereka berinisiatif untuk memohon pertolongan dalam proses jihad mereka melalui tabarruk kepada pohon itu demi ibadah yang memang disyariatkan (yaitu jihad). Akan tetapi, alasan itu tidak membuat Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) membiarkan bagi mereka untuk keluar dari hukum syar'i, yaitu haramnya kesyirikan dan menggantungkan hati kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keinginan untuk mendapatkan pertolongan dalam jihad tidak bisa menjadi alasan untuk membolehkan tabarruk dengan pohon.

Dengan alasan senada, maka apabila ada yang berkata kepada kita, "Saya ingin minta tolong kepada jin dalam menjalankan ibadah saya" maka kita jawab, "Apakah minta tolong kepada jin untuk melaksanakan ibadah disyariatkan atau paling tidak dibolehkan secara syar'i? Apakah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dahulu minta tolong kepada jin atau meminta dari mereka kebutuhan-kebutuhan beliau? Kalau minta tolong kepada jin dibolehkan dengan cara apa pun dalam rangka menolong agama Islam di masa itu memang lebih besar daripada kebutuhan orang selain beliau di zaman setelahnya."

Yang juga menjadi dalil untuk permasalahan di atas adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman), 'Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.' Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah dapat kesenangan dari sebagian yang lain dan kami telah sampai pada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.' Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).' Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'aam [6]: 128)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa sebagian jin dan manusia saling bekerja sama dan tolong-menolong satu sama lain sehingga mereka pun diancam dengan Neraka. Maka ini menunjukkan bahwa meminta tolong kepada jin pada asalnya adalah terlarang.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/8)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/8).

* (Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam)).

Artinya, masih ada sisa-sisa ajaran jahiliyah yang membekas pada diri mereka, yang mereka belum mengetahui hukumnya dalam pandangan Islam.

* (Orang-orang musyrik saat itu mempunyai pohon bidara yang mereka sering menetap lama di sisi pohon tersebut).

Artinya, mereka sering berada di dekat pohon itu dan duduk lama sekali di sisi pohon bidara ini.

* (dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ).

Artinya, mereka mengikat senjata-senjata mereka dengan keyakinan bahwa hal itu akan mendatangkan keberkahan pada diri dan senjata mereka. Mereka juga meyakini bahwa pohon itu yang membantu dan menolong mereka, dan itulah aqidah mereka yang rusak.

* (Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath).

Dinamakan demikian karena banyaknya barang dan senjata yang digantungkan di pohon tersebut.

* (Kami melewati sebuah pohon bidara).

Yaitu pohon jojoba Ibrani. (20)

* (...lalu kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath).

Mereka meminta kepada Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) pohon bidara yang mereka lihat untuk dijadikan Dzatu Anwath juga, yaitu tempat mereka menggantungkan senjata agar mendatangkan keberkahan pada diri dan senjata mereka.

* (sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath).

Yaitu sebagaimana orang-orang musyrik memiliki pohon tempat mereka menggantungkan senjata dan mencari berkah untuk mereka.

Mendengar permintaan tersebut, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab,

"Subhanallah, perkataan kalian sama seperti yang dikatakan oleh kaum Bani Israil kepada Musa, 'Buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' (21) Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jalan kaum sebelum kalian." (22)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

20. Tentang bidara dapat dilihat pada web berikut: http://id.wikipedia.org/wiki/Bidara, -pent.

21. QS. Al-A'raaf [7]: 138.

22. HR. At-Tirmidzi No. 2180, An-Nasai dalam Al-Kubra No. 11121, Ahmad No. 21897, Ibnu Hibban No. 6702.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/8)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/8).

* (Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam)).

Artinya, masih ada sisa-sisa ajaran jahiliyah yang membekas pada diri mereka, yang mereka belum mengetahui hukumnya dalam pandangan Islam.

* (Orang-orang musyrik saat itu mempunyai pohon bidara yang mereka sering menetap lama di sisi pohon tersebut).

Artinya, mereka sering berada di dekat pohon itu dan duduk lama sekali di sisi pohon bidara ini.

* (dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ).

Artinya, mereka mengikat senjata-senjata mereka dengan keyakinan bahwa hal itu akan mendatangkan keberkahan pada diri dan senjata mereka. Mereka juga meyakini bahwa pohon itu yang membantu dan menolong mereka, dan itulah aqidah mereka yang rusak.

* (Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath).

Dinamakan demikian karena banyaknya barang dan senjata yang digantungkan di pohon tersebut.

* (Kami melewati sebuah pohon bidara).

Yaitu pohon jojoba Ibrani. (20)

* (...lalu kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath).

Mereka meminta kepada Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) pohon bidara yang mereka lihat untuk dijadikan Dzatu Anwath juga, yaitu tempat mereka menggantungkan senjata agar mendatangkan keberkahan pada diri dan senjata mereka.

* (sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath).

Yaitu sebagaimana orang-orang musyrik memiliki pohon tempat mereka menggantungkan senjata dan mencari berkah untuk mereka.

Mendengar permintaan tersebut, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab,

"Subhanallah, perkataan kalian sama seperti yang dikatakan oleh kaum Bani Israil kepada Musa, 'Buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' (21) Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jalan kaum sebelum kalian." (22)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

20. Tentang bidara dapat dilihat pada web berikut: http://id.wikipedia.org/wiki/Bidara, -pent.

21. QS. Al-A'raaf [7]: 138.

22. HR. At-Tirmidzi No. 2180, An-Nasai dalam Al-Kubra No. 11121, Ahmad No. 21897, Ibnu Hibban No. 6702.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/7)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/7).

Penulis juga membawakan dalil lain yang melarang menyembah pepohonan dan bebatuan, yaitu hadits dari Abu Waqid Al-Laitsiy radhiyallahu 'anhu:

"Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Hunain. Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik saat itu memiliki pohon bidara yang mereka kerap berlama-lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah untuk kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath.'" (Al-Hadits)

* (Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Hunain).

Hunain adalah suatu daerah di dekat Thaif yang pernah menjadi tempat peperangan yang sangat besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan peperangan ini dalam firman-Nya:

"Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai." (QS. At-Taubah [9]: 25)

Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian menolong Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) dan pasukannya, menurunkan kepada mereka ketenangan dan memenangkan mereka dalam peperangan itu.

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa hati itu tidak selayaknya terikat pada hal-hal duniawi. Hati harus selalu terikat dengan Allah. Hati tidak boleh sombong terhadap harta yang kita miliki, karena harta bisa saja hilang dalam sekejap. Hati tidak boleh ujub terhadap kekuatan badan dan kekuatan hafalan, atau yang semacamnya, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala sangat mampu membalikkan akal pikiran dan memalingkannya dari kebaikan dan ketaatan kepada hal-hal yang berlawanan dengannya.

Sekali lagi, hati itu tidak pantas untuk terikat dengan sebab-sebab duniawi, tetapi ia harus selalu terikat dengan Allah. Jika hati seorang manusia terikat dengan Allah maka Allah akan mencukupkan segala sesuatu untuknya. Akan tetapi, manakala seseorang selalu melihat dan berpatokan pada sebab duniawi maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan jadikan ia bergantung pada sebab-sebab itu dan bergantung pada kelemahan dan kekalahan yang tidak memberikan manfaat sedikitpun untuknya. Kejadian dalam perang Hunain adalah salah satu buktinya.

Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga kita maka Dia akan membantu kita dan kaum Muslimin dengan pertolongan-Nya. Manakala manusia berpegang teguh dengan Allah dan selalu menggantungkan hatinya pada-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menjaganya dari segala keburukan dan membantunya dalam segala kebaikan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/6)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/6).

Kisah uzza.

Adapun uzza dulunya adalah (tiga batang, -pent) pohon yang dibangun di atasnya rumah oleh kaum musyrikin dan diletakkan di sekitarnya tirai-tirai. Pohon-pohon ini terletak antara kota Mekah dan Thaif. Dahulu penduduk Mekah mengagungkan, menyembah, meminta-minta dan mengajukan segala kebutuhan mereka kepada pohon-pohon uzza ini.

Tatkala pecah perang Uhud, Abu Sufyan berkata kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Kami memiliki uzza, sedangkan kalian tidak." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) berkata kepada para sahabat (radhiyallahu 'anhum), "Jawab iya." Para sahabat pun bertanya, "Apa yang harus kami katakan?" Beliau menjawab, "Katakan: 'Kami memiliki Allah sebagai penolong, sedangkan kalian tidak.'" (19)

Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) kemudian mengutus Khalid bin Walid radhiyallahu 'anhu untuk menebang pohon-pohon uzza tersebut. Kemudian keluar dari pohon tersebut jin perempuan yang rambutnya panjang tergerai. Khalid berhasil membunuh jin itu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala meridhai Al-Mughirah, Khalid dan para sahabat Nabi semuanya.

Kisah manaat.

Adapun berhala yang ketiga, manaat, adalah berhala yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Para penduduk Madinah dulu mengagungkannya. Maka Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) mengutus Abu Sufyan radhiyallahu 'anhu untuk menghancurkannya.

Kesimpulannya, tiga berhala ini adalah pepohonan dan bebatuan yang kaum musyrikin terdahulu meyakini kehebatannya dan meyakininya sebagai benda suci di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sementara berhala-berhala itu tidak mampu memberikan manfaat sedikitpun kepada orang-orang yang menyembahnya. Hukum bagi ketiganya pun sama, yaitu tidak boleh menyembahnya sedikitpun.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

19. HR. Al-Bukhari No. 3039, diambil dari hadits yang panjang yang bercerita seputar perang Uhud.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/5)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/5).

Artinya, seakan Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada orang-orang yang menyembah dan berdoa kepada para Nabi dan orang shalih, "Orang-orang yang kalian jadikan sembahan selain Allah tidak punya kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari kalian meskipun sekadar untuk memindahkannya. Ibadah yang kalian tujukan kepada orang-orang shalih itu pun tidak akan bermanfaat bagi mereka, sekalipun mereka adalah orang shalih. Bahkan kalian sesungguhnya justru menyelisihi jalan mereka. Mereka mengesakan Allah dan kalian justru menyekutukan-Nya."

5. Dalil yang melarang menyembah pepohonan dan bebatuan.

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap laata dan uzza, dan manaat yang ketiga, yang terakhir (sebagai anak perempuan Allah)?" (QS. An-Najm [53]: 19-20)

Kisah Laata.

Laata adalah salah satu berhala kaum musyrikin terdahulu yang mereka letakkan di salah satu tempat di kota Thaif. Laata aslinya adalah seorang yang shalih yang suka memberikan makan bagi para jamaah haji dan membuatkan roti untuk mereka. Ia suka memasak gandum yang dicampur air dan dilembutkan, lalu memberikannya kepada jamaah haji. Setelah ia wafat, manusia di kala itu ingin membuat kenangan untuknya. Maka mereka pun membuat patung di atas kubur Laata. Namun seiring perkembangan zaman, akhirnya patungnya dijadikan sembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dan peribadatan pun ditujukan kepadanya. Orang-orang Thaif menyembahnya, menyampaikan harapan mereka kepadanya, mempersembahkan ibadah untuknya, dan berdoa kepadanya.

Ketika berdamai dengan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, datang delegasi mereka kepada Nabi dan berkata, "...kami minta pengecualian." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menjawab, "Apa yang kalian kecualikan?" Mereka berkata, "Kami kecualikan Laata. Kami ingin Laata teta bersama kami selama tiga tahun." Maka Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menolaknya. Mereka menawar, "Tiga bulan." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) pun tetap tidak menyetujui permintaan mereka. Mereka berkata, "Kalau begitu engkau sendiri yang menghancurkannya (mereka takut terkena bencana karena menghancurkan Laata, -pent)." Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) pun menjawab, "Kalau ini saya setuju."

Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) pun mengutus Al-Mughirah bin Syu'bah bersama beberpaa orang radhiyallahu 'anhum karena Al-Mughirah adalah penduduk Thaif dari Bani Tsaqif. Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) ingin menunjukkan kepada penduduk Thaif bahwa utusan beliau ini adalah dari kalangan mereka sendiri, dan manakala mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, berhala-berhala dan segala benda yang mereka sembah tidak akan dapat membahayakan mereka.

Al-Mughirah pun akhirnya sampai. Lalu ia mengambil kapak, lantas memukulkannya ke berhala Laata dengan sekali pukulan biasa hingga roboh. Orang-orang Thaif pun bergembira dan bersorak karena mereka tertolong dan mendapat kemenangan. Al-Mughirah berkata kepada mereka, "Aku tidak bermaksud apa pun, kecuali sekadar ingin menguji akal kalian. Bagaimana bisa seonggok batu seperti ini memberikan kalian manfaat dan bisa mendatangkan bahaya?" Al-Mughirah pun kembali mengambil kapak lalu menghancurkan berhala Laata di hadapan mereka. (18)

Demikianlah kisah tentang batu berhala yang dibangun di atas kubur seorang yang shalih yang dulu suka memberi makanan kepada jamaah haji. Berhala itu tidak mampu memberikan manfaat sedikitpun kepada orang-orang yang menyembahnya. Sementara itu Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tidak menerima pengalihan ibadah kepada berhala itu meskipun hanya sesaat.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

18. Kisah ini dibawakan oleh Ibnu Hisyam di dalam As-Sirah (5/225) dan dibawakan pula kisah yang mirip oleh Al-Baihaqiy dalam Dalaail An-Nubuwwah (5/386).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/4)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/4).

4. Dalil yang melarang menyembah orang shalih.

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya..." (QS. Al-Israa' [17]: 57)

Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang berdoa kepada Uzair, Isa, dan orang-orang shalih di mana mereka berdalih bahwa mereka hanya beribadah kepada orang-orang yang memang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka berkata, "Kami berikan itu kepada wali Allah, dan mengapa kalian mencela kami karena hal itu?"

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengingkari apa yang mereka katakan dan Dia seakan menjelaskan kepada mereka, 'Uzair, Isa dan orang-orang shalih yang kalian sembah, mereka sendiri pun berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka pun sebenarnya hanyalah manusia yang mencari jalan kepada Rabb mereka dan mereka tidak menyembah kepada yang selain Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian menempuh jalan mereka. Apabila kalian berdoa kepada mereka, sesungguhnya kalian justru tidak menempuh jalan orang-orang shalih itu meskipun kalian bermaksud mengagungkan mereka."

Al-Wasilah (jalan) pada ayat ini bermakna segala amal shalih yang dikerjakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Para Nabi dan orang shalih semuanya mengesakan Allah dalam ibadah mereka. Maka sudah selayaknya orang-orang musyrik menempuh jalannya para Nabi dan orang-orang tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah), menunjukkan bahwa orang-orang shalih itu berlomba-lomba dalam kebaikan dan beramal shalih. Mereka berusaha mengerjakan amal kebajikan yang mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena mereka dikatakan oleh Allah (mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya).

Allah Subhanahu wa Ta'ala bahkan berfirman (dalam ayat sebelum ayat di atas),

"Katakanlah, 'Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya." (QS. Al-Israa' [17]: 56)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/3)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/3).

Artinya, para Nabi itu tidaklah memerintahkan kaum mereka untuk menyembah para Malaikat dan para Nabi. Mereka memerintahkan kaumnya agar beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. Ayat ini juga menjadi dalil bahwa tidak ada perbedaan antara peribadatan yang ditujukan kepada orang shalih maupun orang yang jahat. Hal itu dikarenakan kedua hal tersebut sama-sama menyekutukan Allah dan menyelisihi petunjuk para Nabi.

3. Dalil yang melarang menyembah para Nabi.

"Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?' Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib." (QS. Al-Maaidah [5]: 116)

Pada ayat sebelumnya (Surah Ali 'Imraan [3]: 80) terkandung larangan menyembah para Nabi secara umum. Adapun pada ayat berikutnya yang dibawakan penulis (Surah Al-Maaidah [5]: 116) terkandung larangan menyembah Nabi Isa bin Maryam 'alaihis salam secara khusus. Beliau adalah salah satu Nabi Allah, dan termasuk Rasul ulil 'azmi. Namun, meskipun beliau seorang yang shalih dan termasuk wali Allah, tetap peribadatan tidak boleh ditujukan kepada beliau dikarenakan ibadah adalah hak Allah semata, dan wajib mengesakan-Nya dalam ibadah.

Pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

(Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?') makna dua tuhan adalah dua sembahan selain Allah.

Jawaban Nabi Isa (Maha Suci Engkau) maknanya "Engkau terlalu agung untuk aku berkata dengan perkataan semacam ini, dan menyeru manusia untuk menjadikanku sembahan selain Engkau."

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku) maknanya "tidaklah pantas bagiku untuk mengucapkan sesuatu yang bukan hakku, dan adalah kewajibanku untuk berkata yang benar, bukan yang bathil."

Firman-Nya (jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku) bermakna bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidaklah luput dari sesuatupun dari pengetahuan-Nya. Nabi Isa ('alaihis salam) pun mengaku itu sebagaimana dalam penggalan berikutnya (dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib).

Maka dengan itu Nabi Isa 'alaihis salam berlepas diri dari orang-orang yang mengarahkan ibadah mereka kepada beliau atau kepada siapapun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10/2)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10/2).

Matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang hanya Dia yang mengatur keduanya. Tidak boleh sedikitpun menujukan ibadah kepada keduanya, karena ibadah itu merupakan hak Allah semata, sebagaimana yang difirmankan-Nya:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud kepada matahari maupun bulan, tapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang hendak kamu sembah." (QS. Fushshilat [41]: 37)

Tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disebutkan dalam ayat ini adalah tanda-tanda yang jelas dan nyata, di mana orang-orang berakal akan mengakui itu semua sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala ketika mereka merenungkannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang) maknanya adalah malam dan siang merupakan dua tanda kekuasaan Allah yang agung. Begitu pula matahari dan bulan. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menyambung dengan firman-Nya (Janganlah sujud kepada matahari maupun bulan). Ini dikarenakan sujud merupakan bagian dari ibadah, sementara ibadah tidak boleh ditujukan kepada selain Allah. Adapun matahari dan bulan, keduanya hanyalah tanda kekuasaan Allah sehingga tidak boleh menujukan ibadah kepada keduanya ataupun salah satunya.

Ayat yang berbunyi (sujudlah kepada Allah yang menciptakannya) maksudnya, jika kamu adalah orang yang bertauhid dalam ibadah, maka janganlah kamu bersujud kepada matahari dan bulan, tetapi sujudlah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pada penggalan berikutnya (jika Dialah yang hendak kamu sembah), objek pada kalimat ini (Dialah) didahulukan sehingga maknanya adalah tidak menyembah seorang pun, melainkan Dia saja.

2. Dalil yang melarang menyembah Malaikat.

"Dan dia (Nabi) tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan Nabi sebagai sembahan." (QS. Ali 'Imraan [3]: 80)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (10)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (10).

Penulis berkata,

Dalil yang melarang menyembah matahari dan bulan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud kepada matahari maupun bulan, tapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang hendak kamu sembah." (QS. Fushshilat [41]: 37)

Dalil yang melarang menyembah Malaikat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan dia (Nabi) tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan Nabi sebagai sembahan." (QS. Ali 'Imraan [3]: 80)

Dalil yang melarang menyembah para Nabi adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?' Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib." (QS. Al-Maaidah [5]: 116)

Dalil yang melarang menyembah orang-orang shalih adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya..." (QS. Al-Israa' [17]: 57)

Dalil yang melarang menyembah pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap laata dan uzza, dan manaat yang ketiga, yang terakhir (sebagai anak perempuan Allah)?" (QS. An-Najm [53]: 19-20)

Begitu juga hadits dari Abu Waqid Al-Laitsiy radhiyallahu 'anhu: "Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Hunain. Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik saat itu memiliki pohon bidara yang mereka kerap berlama-lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah untuk kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath.'" (Al-Hadits)

Syarah.

Setelah itu penulis membawakan beberapa dalil yang menunjukkan bathilnya penyembahan benda-benda atau makhluk yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

1. Dalil yang melarang menyembah matahari dan bulan.

Di antara makhluk yang disembah adalah matahari dan bulan. Kedua makhluk ini dua tanda yang agung di antara tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah." (17)

Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatur keduanya. Tidak ada selain-Nya yang memiliki kekuasaan atasnya, baik untuk memunculkan maupun menenggelamkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam kepada raja namrud ketika beliau menjawab perkataannya,

"Orang itu (namrud) berkata, 'Saya dapat menghidupkan dan mematikan.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka coba terbitkanlah matahari itu dari barat.' Maka terdiamlah orang kafir itu dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 258)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

17. HR. Al-Bukhari No. 1052 dan Muslim No. 907.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (9)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (9).

Penulis berkata,

Kaidah ketiga:

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerangi orang-orang yang (menyembah selain Allah) dengan bermacam-macam peribadatan. Di antara mereka ada yang menyembah Malaikat, para Nabi dan orang shalih, bebatuan dan pepohonan, matahari dan bulan. Beliau memerangi mereka tanpa pandang bulu.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan), dan agama (penyembahan) itu menjadi semata-mata milik Allah." (QS. Al-Anfaal [8]: 39)

Syarah.

* (Kaidah ketiga).

Kaidah ini digunakan dalam membantah syubhat yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, di mana mereka mengatakan, "Memalingkan peribadatan kepada orang-orang shalih bukanlah perbuatan syirik, melainkan bentuk penghormatan kepada wali-wali Allah dan pernghargaan bagi mereka. Mereka menganggap setiap pengagungan yang diberikan kepada wali Allah merupakan perbuatan yang terpuji, meskipun sebenarnya juga merupakan bentuk kesyirikan dan menujukan ibadah kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menjelaskan bahwa para Nabi dan Malaikat adalah makhluk yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Akan tetapi, tingginya derajat mereka tidak berarti bolehnya mengarahkan peribadatan kepada mereka sedikitpun, karena penyembahan adalah hak Allah semata.

Begitu pula Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak membedakan antara mereka yang menyembah orang shalih, para Nabi dan para wali Allah dengan orang yang menyembah bebatuan, pepohonan dan berhala. Beliau menganggap mereka semua adalah orang musyrik dan memerangi mereka tanpa pandang bulu.

Penulis Al-Qawa'id Al-Arba' berdalil dengan firman Allah:

"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan), dan agama itu menjadi semata-mata milik Allah." (QS. Al-Anfaal [8]: 39)

Makna "ad-diinu" (agama) pada ayat ini adalah penyembahan dan ketaatan. Maka agama ini seluruhnya harus semata-mata milik Allah dengan cara tidak memberikan penyembahan dan ketaatan sedikitpun, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Adapun potongan ayat "hattaa laa takuuna fitnatun" (sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan)) maknanya: agar tidak ada seorangpun yang menyimpangkan mereka dari ketaatan kepada Allah dan pengesaan-Nya dalam ibadah. Adapula yang menafsirkan bahwa penggalan ayat tersebut maknanya agar tidak ada perpecahan dan perselisihan dalam masalah ibadah menjadi bermacam-macam bentuk. Yang lebih tepat adalah tafsir pertama, karena itu adalah zhahir ayat.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (8/3)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (8/3).

Kedua, syafa'at mutsbatah datang dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada syafi' untuk memberikan syafaat, tidak seperti syafa'ay manfiyyah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Siapakah yang mampu memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Kata "man dza" (siapa yang mampu) dalam ayat di atas adalah isim istifham inkariy (kata tanya yang bermaksud untuk mengingkari), sehingga seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan, "Tidak ada orang yang mampu memberikan syafaat (kecuali dengan izin-Nya)."

Adapun kata "illaa bi-idznihi" (kecuali dengan izin-Nya) pada ayat tersebut adalah istitsnaa' (pengecualian), dan ada kaidah bahwa pengecualian dalam konteks peniadaan bermakna penetapan.

Ketiga, syafa'at mutsbatah diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga tidak boleh mengatakan misalnya, "Wahai Rasulullah, syafaatilah aku," karena syafaat itu diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yang benar adalah dengan mengucapkan, "Ya Allah, berikanlah syafaat Nabi-Mu untukku."

Keempat, syafa'at manfiyyah tidak dapat berfaedah sedikitpun bagi yang memintanya. Berbeda dengan syafa'at mutsbatah yang pemintanya mendapatkan manfaatnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila ia memintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena memang manusia tidak boleh memintanya dari yang selain-Nya.

Pertanyaan:

Apa perbedaan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'" (QS. Az-Zumar [39]: 3)

dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan mereka menyembah sesuatu selain Allah yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun manfaat kepada mereka dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.'" (QS. Yunus [10]: 18)

Jawab:

Perbedaannya adalah alasan sebagian dari mereka bahwa menyembah para wali itu supaya mereka didekatkan kepada Allah, sedangkan alasan sebagian yang lain yaitu supaya diberikan syafaat di sisi Allah.

Perbedaan antara kedua alasan ini adalah bahwa golongan yang kedua (syafi'/ pemberi syafaat) tidak dapat melakukan apa pun, kecuali memberi syafaat. Sedangkan golongan kedua mereka mengklaim dapat mendekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syafi' kadang diterima dan kadang ditolak, sementara para wali itu dianggap dapat memberi syafa'at secara mutlak sesuai kehendak mereka.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (8/2)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (8/2).

Syafaat ini juga tidak akan bermanfaat sedikitpun bagi orang yang memintanya, tidak akan mampu menyelamatkannya di hari Kiamat, dan tidak akan menjadi sebab terangkatnya derajat pemintanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah), sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 254)

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "dan tidak ada lagi syafaat" terdapat dalil dihilangkannya syafaat. Sementara dalam ayat yang lain terdapat dalil adanya syafaat. Maka kedua ayat ini menunjukkan ada syafaat yang ditolak dan ada yang diterima.

Syafaat yang kedua adalah syafaat yang dapat memberikan manfaat dan ditetapkan oleh nash Al-Qur'an dan sunnah. Ini disebut syafa'at mutsbatah (yang diterima). Inilah syafaat yang benar.

Contohnya adalah syafaat yang diberikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada orang-orang yang menunggu hisab pada hari Kiamat sehingga dimulai pengadilan untuk mereka. Seluruh manusia ketika mereka berkumpul di satu padang yang luas pada hari Kiamat, matahari (pada saat itu) didekatkan kepada mereka (sehingga mereka pada saat itu berada dalam kesusahan dan kesedihan, -pent). Mereka pun akhirnya mencari orang yang akan memberi syafaat untuk mereka di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka mendatangi para Nabi satu per satu, namun tidak ada yang mengabulkan permohonan mereka, hingga sampailah mereka kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Ketika manusia meminta syafaat beliau, maka beliau pun bersujud di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala lantas memuji-Nya dengan pujian-pujian yang agung hingga terbuka celah untuk beliau. Kemudian ada yang berkata kepadanya, "Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berilah syafaat dan pasti akan dikabulkan, mintalah dan pasti engkau akan diberi, katakanlah dan pasti Dia akan mendengarmu," atau sebagaimana yang terdapat dalam hadits. (16)

Inilah syafa'at mutsbatah, yang ditetapkan oleh nash-nash dan memenuhi syarat diterimanya syafaat, yang jika tidak terpenuhi salah satunya saja, maka akan berubah menjadi syafa'at manfiyyah yang tidak akan bermanfaat bagi orang yang memberikannya maupun yang memintanya.

Apa perbedaan antara syafa'at mutsbatah dan syafa'at manfiyyah?

Ada beberapa hal yang membedakan keduanya:

Pertama, syafa'at mutsbatah datang dengan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga orang yang memintanya haruslah dari kalangan orang yang diridhai di sisi-Nya. Maka tidak akan bisa seorang syafi' (yang memberi syafaat) mensyafaati orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak meridhainya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

16. HR. Muslim No. 501, -pent.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (8)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (8).

Penulis mengatakan,

Syafaat itu ada dua macam: Syafaat manfiyyah (yang ditolak) dan syafaat mutsbatah (yang diterima).

Syafaat manfiyyah (yang ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada yang mampu memberikannya, kecuali Allah.

Dalilnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah), sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 254)

Syafaat mutsbatah (yang diterima) adalah syafaat yang diminta kepada Allah. Syafi' (yang memberi syafaat) dimuliakan Allah dengan hak untuk memberikan syafaat. Masyfu' lahu (orang yang diberikan syafaat) adalah orang yang Allah ridhai perkataan dan perbuatannya, dan akan diberikan syafaat yang diminta setelah adanya izin dari Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Siapakah yang mampu memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Syarah.

* (Syafa'at).

Bantahan senada kita berikan kepada orang-orang yang menyembah kubur, manakala mereka berdalih menjadikan wali sebagai sembahan demi mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala bantah dalam firman-Nya,

"Dan mereka menyembah sesuatu selain Allah yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan mudharat atauun manfaat kepada mereka dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.'" (QS. Yunus [10]: 18)

Menyembah dalam ayat ini maksudnya menujukan berbagai bentuk ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ibadah itu mencakup penghambaan, pengorbanan, rasa cinta, rasa takut, dan pengharapan.

Orang-orang itu memalingkan ibadah mereka kepada orang-orang yang mereka anggap wali, bahkan berhala. Padahal semua yang mereka sembah itu tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun manfaat. Sayangnya, setiap kali dikatakan kepada mereka tentang hal ini, mereka selalu membantah, "Para wali itu memberi syafaat untuk kami di sisi Allah, karena mereka punya tempat dan kedudukan khusus di sisi-Nya."

* (Syafa'at manfiyyah (yang ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah dalam hal yang tidak ada yang mampu memberikannya, kecuali Allah).

Syafaat itu ada dua macam, yaitu syafa'at manfiyyah (yang ditolak) dan syafa'at mutsbatah (yang diterima).

Syafa'at manfiyyah (yang ditolak dan dibatalkan) oleh nash Al-Qur'an dan sunnah adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal yang tidak ada yang mampu memberikannya kecuali Allah. Syafaat seperti ini tidak memberikan manfaat apa pun bagi orang yang dianggap memilikinya dan tidak pula menjadi sebab keselamatannya di akhirat.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (7/4)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (7/4).

Akan tetapi, argumentasi mereka ini tidak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga Allah pun membantah mereka dalam kelanjutan firman-Nya,

"Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka."

(Maksudnya Allah menjelaskan kebenaran kepada manusia).

"...tentang masalah yang mereka berselisih di dalamnya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur." (QS. Az-Zumar [39]: 3)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebut mereka sebagai pendusta karena mengklaim orang-orang yang mereka juluki wali itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Padahal tidak demikian, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala justru menganggap mereka sebagai orang-orang kafir karena mereka menujukan penyembahan mereka kepada sesuatu selain-Nya.

Bahkan apabila kita telisik lebih dalam tentang kondisi orang-orang yang menyembah kubur wali tersebut, mereka sebenarnya tidak hanya melakukan kesyirikan dalam tauhid uluhiyyah saja, bahkan juga tauhid rububiyyah. Buktinya, apabila ditanyakan kepada mereka, "Mengapa kalian persembahkan sembelihan hewan kepada para wali ini?" Maka mereka pun akan menjawab, "Untuk menangkal bahaya dari kami."

Maka kita katakan, kesyirikan yang mereka lakukan lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan para penduduk Mekah di zaman Nabi dulu. Penduduk Mekah dahulu berbuat syirik dalam tauhid uluhiyyah saja, tidak dalam tauhid rububiyyah. Buktinya, saat ditanyakan kepada mereka, "Ada berapa tuhan yang kalian sembah?" Maka mereka menjawab, "Ada tujuh, satu di langit dan enam di bumi." Apabila ditanya lagi, "Siapa di antara yang tujuh itu yang kalian jadikan pendamping dan penolong di saat dalam kondisi susah?" Mereka akan menjawab, "Tuhan yang di langit." (15)

Adapun para penyembah kubur wali tersebut, mereka sebenarnya menujukan ibadah mereka kepada orang yang mereka sembah, memintanya untuk menghilangkan kesulitan dan mewujudkan keinginan mereka. Dengan demikian, kesyirikan mereka lebih parah daripada kesyirikan para penyembah berhala, kecuali sebatas pada masalah keinginan untuk didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

15. Berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh At-Tirmidzi No. 3483:

Dari Imran bin Hushain, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada ayahku, 'Wahai Hushain, berapa tuhan yang engkau sembah hari ini?' Ia menjawab, 'Tujuh, enam di bumi dan satu di langit.' Beliau berkata, 'Bila kamu inginkan sesuatu dan ditimpa suatu kesulitan, kepada siapa kamu meminta?' Ia menjawab, 'Yang ada di langit.' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata lagi, 'Wahai Hushain, jika engkau mau masuk Islam, aku akan ajarkan engkau dua kalimat yang akan bermanfaat untukmu.' Maka tatkala Hushain masuk Islam, ia berkata, 'Wahai Rasulullah, ajarkan aku dua kalimat yang sudah engkau janjikan.' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengatakan, 'Ucapkanlah:

اَللَّهُمَّ أَلْهِمْنِيْ رُشْدِيْ وَأَعِذْنِيْ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ

Allaahumma al-himnii rusydii wa a'idznii min syarri nafsii.
(Ya Allah ilhamkanlah kepadaku kecerdasan dan lindungi aku dari kejahatan diriku sendiri).

Syaikh Al-Albani mendha'ifkan hadits ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah