Showing posts with label kemuliaan rasulullah. Show all posts
Showing posts with label kemuliaan rasulullah. Show all posts

Penutup | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

C. Penutup.

1. Kata penutup dari penulis.

Demikianlah sekilas tentang keistimewaan dan keutamaan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang perlu diketahui oleh orang-orang yang berakal dan cerdas. Kami memohon akan karunia dan kedermawanan Allah Subhanahu wa Ta'ala agar membimbing kita untuk selalu mengikuti dan meneladani sunnah Rasul-Nya dan seluruh akhlaknya. Dan menempatkan kami di antara barisan para pembela dan penolong agamanya.

Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Yang Pantas Mengabulkan permintaan. Tiada daya dan upaya melainkan hanya kepada Allah semata.

Shalawat dan salam kami haturkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

(Akhir dari kitab "Bidayah As-Suul fi Tafdhil Ar-Rasul")

Al Hamdulillahi Wahdah.

2. Kata penutup dari Muhaqqiq (Albani).

"Saya telah menyelesaikan proses akhir ta'liq (komentar) risalah ini, pada hari kamis siang, 24 Dzulhijjah 1401 H. Saya haturkan terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada penulis naskah risalah ini."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (38)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Namun andai kata bahwa kata "Al Bariyyah" berasal dari kata "Al Baraa" yang berarti tanah. Dan manusia merupakan makhluk (yang diciptakan) berasal dari tanah. Seolah-olah dia ingin mengatakan, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka itulah sebaik-baiknya manusia." Hal ini dapat terjawab dari dua aspek pandangan, yaitu:

1) Para ahli bahasa Arab telah sepakat untuk mengkategorikan kata "Al Bariyyah" berasal dari kata "Al Bara" yang tidak membuang hamzahnya seperti dalam kata "Al Baraa".

2) Imam Nafi' membacanya dengan menggunakan hamzah (yakni "Al Bara"). Namun biar bagaimanapun, kedua bacaan tersebut adalah perkataan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena jika dalam salah satu riwayat dari kedua jenis qiraat tersebut menunjukkan supremasi pengistimewaan orang-orang yang beriman di atas derajat seluruh manusia, maka dalam qiraat lainnya menyebut akan keistimewaan supremasinya atas seluruh makhluk. Dan seluruh hal ini menunjukkan bahwa keistimewaan yang dimiliki oleh orang yang teristimewa dari manusia, adalah dia akan lebih istimewa dari Malaikat.

Maka yang paling mulia dan istimewa adalah para Nabi yang telah beriman dan beramal shalih. Seperti dalil firman Allah Subhanahu wa Ta'ala -setelah Dia menyebutkan tentang kelompok para Nabi-,

"Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat alam semesta." (QS. Al An'aam (6): 86)

Ayat ini memberikan indikasi bahwa para Nabi adalah manusia yang paling utama dan lebih utama dari Malaikat, karena Malaikat termasuk dalam kesatuan umat di alam raya ini.

Jika para Nabi lebih utama dari Malaikat, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah Nabi yang paling utama di antara mereka. Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga pernah memimpin para Malaikat. Maka keutamaan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam atas para Malaikat adalah melebihi dua tingkat.

Namun, tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui esensi jenis dan keutamaan tingkatan ini kecuali orang-orang yang terus mengistimewakan dan mengutamakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (sang penutup para Nabi dan penghulu para Rasul) atas seluruh penduduk alam raya ini.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (37)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan ada pula konteks hadits lain yang semakna dengan hadits tersebut, yakni sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Aku telah diberi kunci-kunci untuk bertutur kata, ucapan yang ringkas dan lugas serta penutupnya."

Hadits ini adalah shahih, diriwayatkan dari Abu Musa, Ibnu Umar dan lain-lain radhiyallahu 'anhum. Saya telah mentakhrijnya dalam kitab "Ash-Shahihah" (no. 1483). Sumber asal hadits tersebut dimuat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim dan lain-lain dengan lafadz,

"Aku diutus dengan ucapan yang ringkas dan lugas. Dan aku ditolong dari rasa ketakutan. Ketika aku sedang tertidur, aku telah diberikan kunci-kunci kekayaan bumi dan aku meletakkannya di atas tanganku." (HR. Bukhari-Muslim dan lain-lain. Dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan dari semua sahabat)

zv. Keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

41. Seperti sebelumnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengistimewakan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam daripada para Nabi dan Rasul-Nya dari kalangan manusia, serta mengistimewakannya dari para utusan terpilih-Nya dari penduduk langit dan para Malaikat.

Akan tetapi manusia yang paling utama dan melebihi Malaikat adalah,

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah sebaik-baiknya makhluk." (QS. Al Bayyinah (98): 7)

Dan figur Malaikat termasuk dalam kategori "Al Bariyyah" yang diambil dari kata "Bara` Allahu Al Khalqa", yang maknanya dijadikan dan diciptakan.

Jadi Malaikat tidak termasuk dalam kategori figur yang dispesifikasikan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya di atas, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan beramal shalih." Kendatipun demikian, mereka (para Malaikat) telah beriman dan beramal shalih. Karena lafadz tersebut dikhususkan hanya untuk dipakai bagi konteks manusia yang beriman. Dengan alasan karena pengambilan makna tersebut dilakukan dalam usaha untuk memahami secara mutlak.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (36)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berbunyi, "Dan apa yang kamu sebutkan," sangat jelas menunjukkan akan kenyataan bahwa beberapa Nabi terdahulu pernah mengajukan berbagai bukti kongkrit kepada bani Israil akan kebenaran ajaran mereka. Dan diantaranya adalah kisah api yang melahap korban-korban tersebut. Dan cerita ini mungkin dapat dijadikan sebagai syahid yang kuat secara umum tentang objektifitas kisah Habil tersebut.

Di antara itu, ada juga yang bersumber dari beberapa riwayat hadits (yang akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan selanjutnya) yang berbunyi, "Aku telah diberi lima...", serta sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma,

"Para Nabi memisahkan seperlima, lalu api itu datang dan memakannya." (HR. Bukhari)

Hadits ini disebutkan di dalam kitab "Al Khashaish" karya As-Suyuthi (3/134), tanpa komentar. HR. Ahmad (1/301), tanpa syahid, tapi diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dengan lafadz,

"Orang-orang terdahulu dariku sangat mengagungkan akan (menu) makanannya, dan mereka membakarnya." (Sanad hadits ini adalah hasan dan telah ditakhrij dalam kitab Al Irwa no. 285)

ziv. Ringkas dan lugasnya ucapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

40. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam diutus dengan diberikan ucapan ringkas dan lugas. Beliau selalu meringkas hadits seringkas-ringkasnya, dan mengungguli seantero orang Arab dalam kefasihan serta keindahan ungkapannya.

Albani menguraikan tentang keringkasan Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) dalam bertutur haditsnya, bahwa berita tersebut bersumber dari sebuah hadits dari Umar radhiyallahu 'anhuma yang diriwayatkannya secara marfu' dengan lafadz,

"Aku telah diberikan (karunia) perkataan yang diringkas dan lugas, dan (membuat segala ucapan) haditsku menjadi lebih ringkas."

Sanad hadits ini dha'if seperti yang telah dijelaskan dalam kitab "Al Ahadits Adh-Dha'ifah" (no. 2864). Oleh karena itu, saya membawakannya dalam kitab "Dha'if Al Jami Ash-Shaghir" (no. 1048).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (35)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Selanjutnya Ibnu Jarir (11706) meriwayatkan hadits tersebut hanya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Hadits yang sama juga disebutkan dalam hadits (no. 11709 dan 11713) yang diriwayatkan dari Mujahid dan Athiyyah dengan lafadz yang serupa.

Ibnu Abu Hatim juga meriwayatkan dari riwayat ketiga dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma secara ringkas, namun tanpa menyebutkan kata "api".

Al Hafidz Ibnu Katsir berkomentar bahwa sanad hadits tersebut adalah baik (jayyid). Dan pendapat ini kemudian diikuti oleh As-Suyuthi dalam kitab "Ad-Durr Al Mantsur" (2/273). Sejauh ini saya belum temukan dari makna hadits-hadits tersebut sebuah hadits pun yang langsung dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dan Rasyid Ridha dalam tafsir "Al Manar" telah menyinggungnya dengan berkomentar bahwa hadits tersebut adalah cerita Israilliyyat (cerita religius yang banyak dipengaruhi oleh unsur mitologi bangsa Israel, -ed.). Dan riwayat-riwayat yang bersumber dari para ahli tafsir salaf tentang hal tersebut juga beragam. Ada yang menyerupai cerita orang yahudi dalam sifir penciptaan, dan ada juga yang kontradiktif. Namun tidak ada satu pun riwayat yang dapat dipercaya yang langsung memiliki nisbat teksnya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Menurut saya (Albani), keberadaan penguat yang muncul dengan adanya beberapa syahid dalam hadits ini, menjadikannya sebagai hadits marfu', karena para sahabat dan lain-lainnya menyepakati keberadaan hadits ini. Oleh karena itu, Ibnu Katsir dalam kitab "At-Tarikh" (1/92) menisbatkannya kepada para Imam salaf dan nampaknya berdasarkan hal tersebut penulis buku ini juga turut menetapkan keputusannya soal kredibelitas hadits ini.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah bercerita tentang fenomena orang-orang yahudi seputar isu kisah api tersebut yang tersebar luas di kalangan mereka.

Firman-Nya, "(Yaitu) orang-orang (yahudi) yang mengatakan, 'Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman, kepada seorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api.' Katakanlah, 'Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang Rasul sebelumku, membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka mengapa kamu membunuh mereka jika kamu orang-orang yang benar.'" (QS. Aali 'Imraan (3): 183)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (34)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Serta sabdanya,

"Aku adalah Nabi (pembawa) rahmat."

(Hadits tersebut merupakan potongan dari hadits Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu berkata, "Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menamai dirinya beberapa nama bagi kami. Beliau berkata, 'Saya Muhammad, Ahmad, Al Muqaffa, Al Hasyir, Nabi At-Taubah, dan Nabi Ar-Rahmah.'" Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim 7/90 dan lain-lain dan telah ditakhrij dalam kitab Ar-Raudh An-Nadhir no. 401 dan 1017 lihat kitab Shahih Al Jami Ash-Shaghir no. 1486)

Dalam masalah ini, Albani mengulasnya dengan sangat panjang lebar, seperti berikut,

"Menurut saya, penulis mengisyaratkan akan apa yang diriwayatkan dari salaf seputar tafsir firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban mereka, maka diterima salah satu dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Dia berkata (Qabil), 'Aku pasti membunuhmu.' Berkata Habil, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al Maa`idah (5): 27)

Pembunuhan manusia perdana.

Ibnu Jarir menceritakan di dalam kitab "At-Tafsir" (10/206/11715), dan dalam kitab "At-Tarikh" (1/28-29) meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhum serta dari beberapa orang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Bahwa Nabi Adam 'alaihis salam ketika dikarunia seorang anak laki-laki, selalu akan disertai dengan lahirnya anak perempuan. Kemudian Adam 'alaihis salam menikahkan anak laki-lakinya dari perut pertama dengan anak gadisnya dari perut lain dan menikahkan anak gadisnya dari perut pertama dengan anak laki-lakinya dari perut lain. Hingga dia dikaruniai dua orang anak laki-laki yang dipanggil Qabil dan Habil.

Qabil adalah pasangan Zara', dan Habil adalah pasangan bagi Dhiri. Ketika keduanya mempersembahkan korban, Habil mempersembahkan sepotong daging, dan Qabil mempersembahkan seikat tumbuh-tumbuhan. Kemudian turunlah api yang melahap korban milik Habil dan membiarkan korban milik Qabil. Maka Qabil marah dan berkata, 'Aku sungguh akan membunuhmu.' Habil menjawab, 'Sesungguhnya Allah hanya menerima korban orang-orang yang bertakwa.'"

Menurut saya (Albani), sanad hadits ini adalah baik (jayyid) dan perawinya cukup terpercaya (tsiqah) berdasarkan kriteria Imam Muslim.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (33)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

zii. Ketidaksepakatan umat Islam.

37. Umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam akan selalu terjaga dan terpelihara dari pengambilan keputusan (mufakat) yang didasarkan atas kesesatan.

Albani menambahkan, "Penulis ingin mengisyaratkan konteks ini dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang berbunyi,

"Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan selama-lamanya, dan 'tangan' Allah adalah bersama jamaah." (HR. Tirmidzi, Hakim dan lain-lain dengan sanad shahih)

Hadits ini mempunyai penguat syahid yang bersumber dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dan lain-lain. Dari Ibnu Ashim dalam kitabnya "As-Sunnah" (no. 80-85, "Zhilaal Al Jannah"). Dan saya telah membahas sanad-sanad hadits tersebut di dalam kitab "Al Misykat" (no. 173-174).

38. Kitab sucinya (Al Qur`an) selalu terpelihara kendatipun seandainya orang-orang terdahulu ('awwaliin) hingga sekarang ('aakhiriin) semuanya bersepakat untuk menambah atau mengurangi satu kata dari Al Qur`an, niscaya mereka tak akan sanggup. Seperti sangat jelas dan tidak dapat ditutup-tutupi perubahan serta penyelewengan isi yang terjadi di dalam Taurat dan Injil.

ziii. Perlindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi umat Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

39. Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menyembunyikan amalan umatnya yang belum diterima, sedangkan umat sebelumnya (memelas-melas memohon) bertaqarrub kepada-Nya dengan mengajukan kurban. Namun kurban yang diajukannya akan dibiarkan-Nya dilahap api, dan menyisakan bagian yang belum diterima hingga cacat dan aibnya terbongkar.

Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. Al Anbiyaa` (21): 107)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,

"Sesungguhnya aku adalah rahmat bagi yang mendapat hidayah."

(HR. Al Hakim dan lain-lain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan lain-lain. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Al Hadits Ash-Shahihah" (no. 490), kitab "Al Misykat" (no. 5800), dan kitab "Ghayah Al Maram fi Takhrij Al Halal wa Al Haram" (no. 1).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (32)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

z. Ketulusan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam menunaikan tugas.

35. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam selalu ikhlas dan tulus dalam menjalankan dan menyampaikan misi risalahnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Maka berpalinglah kamu dari mereka, dan kamu sekali-kali tidak tercela." (QS. Adz-Dzaariyaat (51): 54)

Seandainya beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak tulus dalam menjalankan tugas ini, maka celaan akan mengarah kepadanya.

zi. Kesaksian umat Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

36. Allah Subhanahu wa Ta'ala menempatkan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam pada posisi sebagai hakim yang adil. Yakni, ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengadili seluruh hamba-hamba-Nya, kemudian ada beberapa umat yang pernah mengingkari akan penyampaian risalah (oleh Rasul-rasul yang diutus kepada mereka), maka Dia akan menghadirkan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk menjadi saksi bagi mereka bahwa sebenarnya Rasul-rasul-Nya tersebut telah menyampaikan risalahnya kepada mereka (namun mereka menolaknya). Dan keistimewaan ini belum pernah diberikan kepada Nabi-nabi sebelumnya.

Albani menambahkan, bahwa dari konteks penjelasan singkat di atas, penulis ingin mengisyaratkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Telah mendatangiku seorang Nabi bersama dua orang pria, lalu datang seorang Nabi lainnya bersama tiga orang, (dan jumlahnya kurang lebih seperti itu). Lalu ditanyakan kepadanya, 'Sudahkah kamu menyampaikannya (ajaranmu) kepada kaummu?' Nabi tersebut menjawab, 'Ya, sudah.' Lalu kaumnya dipanggil dan dikatakan kepada mereka, 'Apakah dia (Nabimu) telah menyampaikannya (ajaran) kepada kalian?' Dan mereka menjawab, 'Belum.' Lalu dikatakan kepada mereka, 'Siapa yang akan bersaksi bagimu (atas ucapanmu)?' Mereka menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Lalu umat Muhammad pun dipanggil dan ditanya, 'Apakah dia (Nabi dari suatu kaum) telah menyampaikannya?' Mereka menjawab, 'Ya.' Kemudian dikatakan kepada umat Muhammad, 'Apa yang kalian ketahui tentang hal itu?' Mereka menjawab, 'Nabi kami telah memberitahukan kami tentang hal itu bahwa para Rasul telah menyampaikan. Maka kami mempercayainya.' Itulah maksud dari firman Allah, 'Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) mereka.'" (HR. Ibnu Majah (no. 4248) dan lain-lain dengan sanad shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim)

Bukhari telah meriwayatkan hadits ini dengan ringkas dan telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" (no. 2448). Dan As-Suyuthi dalam kitabnya "Al Khashaish" (3/251) tidak menisbatkannya kepada Bukhari dan Muslim, tapi dinisbatkan kepada Ahmad, Nasa`i, dan Baihaqi serta sebuah paragrap yang dinukil olehnya dari penulis buku ini.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (31)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Albani menilai bahwa hadits yang mengarah pada masalah tersebut adalah hadits Aisyah radhiyallahu 'anhuma yang berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Apakah engkau pernah mengalami hari yang dahsyat daripada perang Uhud?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab, "Aku telah mengalaminya dari kaummu dan hal yang paling berat aku alami dari mereka adalah saat terjadinya peristiwa hari 'Aqabah. Ketika aku sedang memperkenalkan diriku kepada Ibnu Abdu Ya Lail bin Abdu Al Kulal yang tidak diresponnya seperti yang aku kehendaki. Kemudian aku pergi dalam keadaan tidak sadar hingga tiba di Qarn Ats-Tsa'alib. Lalu aku mendongakkan kepalaku, ternyata aku berada di bawah awan yang menaungi aku. Kulihat Jibril sedang berada di sana. Lalu dia memanggilku dan berkata, 'Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadap dirimu dan balasan mereka atas dirimu. Untuk itu, seorang Malaikat (sebesar) gunung telah diutus kepadamu (yang siap) untuk diperintah sekehendakmu.'" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya, "Lalu Malaikat gunung tersebut memanggilku dan memberi salam lalu berucap, 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu terhadap dirimu, dan aku adalah Malaikat gunung yang diutus Tuhanmu kepada dirimu (yang siap) untuk diperintah sesuai dengan perintahmu. Lalu apa yang kamu inginkan? Jika kamu menghendakinya, aku akan timpakan kedua buah gunung Akhsyabain ini.' Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawabnya, 'Tidak, aku berharap agar Allah memunculkan dari anak cucu mereka yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.'" (HR. Bukhari (4/115), Muslim (6/181), dan Abu Nu'aim (h. 276-277)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (30)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Beberapa kemuliaan akhlak Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) seperti di atas, dapat ditemukan di dalam teks-teks Al Qur`an atau buku-buku yang mengupas tentang tabiat dan watak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam (Kutub Asy-Syamail).

Albani berkata, "Bahwa kitab yang masyhur dalam hal ini adalah 'Asy-Syamail Al Muhammadiyyah' karya Imam Tirmidzi. Saya telah membuat sebuah mukhtashar (rangkuman) dari buku ini dengan menghapus beberapa sanad hadits yang dikutip secara berulang-ulang. Dan saya juga telah berusaha membedakan dan menerangkan kondisi hadits yang shahih dan yang dhaif, kemudian saya sisipkan dengan beberapa ulasan. Buku ini telah siap cetak, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan segala urusan distribusinya kepada masyarakat."

y. Sikap kasih Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam terhadap umatnya.

32. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memiliki tabiat yang lemah lembut. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur`an, "Maka karena rahmat Allahlah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka." (QS. Aali 'Imran (3): 159)

33. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersikap sangat keras terhadap orang-orang kafir, dan bersikap sayang (dan lemah lembut) terhadap orang-orang yang beriman.

Hal ini termaktub dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al Fath (48): 29)

34. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkeinginan kuat untuk menjaga (dan merawat) tradisi keimanan umatnya, beliau sangat menyayangi orang-orang beriman, serta mengasihi seluruh umat manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang hal ini, "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah (9): 128)

Maksudnya adalah, bahwa beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam akan merasakan kesusahan yang sama dengan yang mereka rasakan saat mereka susah, sangat menginginkan mereka untuk (terus) beriman, dan sangat mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (29)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Maka mereka mendustakan Nuh kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya)." (QS. Al A'raaf (7): 64)

Tentang Hud dan kaumnya 'Aad, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Mak Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat dari Kami dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kamu dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (QS. Al A'raaf (7): 72)

Serta tentang Tsamud kaumnya Nabi Shaleh, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Karena itu mereka ditimpakan gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka; maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat." (QS. Al A'raaf (7): 78-79)

x. Akhlak Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

31. Akhlak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam hal kesantunan, memaafkan, kesabaran, rasa syukur dan kelembutannya karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau tidak pernah marah karena egonya. Tapi beliau selalu bersikap dengan akhlak mulia yang sempurna.

Albani menilai bahwa penulis bermaksud ingin mengisyaratkan akan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia." (Lihat kitab "Ash-Shahihah" (no. 45))

Dan telah terukir ke-khusu'-annya, kesederhanaannya dalam hal makanan, pakaian, minuman, tempat tinggal, baik pergaulannya, mulia tabiatnya, bagus budi bahasanya, nasihat baiknya kepada umat, selalu menjaga keimanan keluarganya, kesediaan dirinya untuk menanggung beban risalah dakwah agar agama Allah Subhanahu wa Ta'ala terus berjaya, menegaskan akan kalimat-Nya, dan (tegar akan) siksaan serta cobaan yang diterimanya dari kaum dan orang-orang lainnya (baik di daerahnya sendiri maupun di negeri antah berantah).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (28)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Al Haitsami berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan sanadnya adalah hasan." Menurut saya barangkali maksudnya adalah hasan lighairih karena saya tidak begitu yakin hadits tersebut berasal dari Abu Ya'la selain dinukil dari riwayat Abu Ma'syar (atau yang dikenal dengan Najih bin Abdurrahman As-Samadi). Ibnu Hajar dalam kitab "At-Taqrib" berkomentar bahwa hadits tersebut adalah dha'if.

w. Universalitas rahmat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

30. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan para manusia dari umatnya yang lalai dan berdosa (karena kelalaian ataupun pendustaan mereka terhadap ajaran yang diemban oleh beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam), siksa bagi mereka akan ditangguhkan implementasinya ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam masih berada di tengah-tengah mereka.

Albani menambahkan, bahwa penulis ingin mengisyaratkan akan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan sekali-kali Allah akan menyiksa mereka sedangkan kamu berada di tengah-tengah mereka."

Abu Nu'aim (h. 19) berkata, "Para musuh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam masih selamat dari siksaan selama masa kehidupan Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersama mereka, dan siksaan bagi mereka selalu ditunda walau mereka memintanya untuk disegerakan (sebagaimana yang mereka tantang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai pembuktian akan kebenaran firman Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut). Kemudian setelah beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam meninggal dunia, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan siksaan bagi mereka baik dalam bentuk pembunuhan ataupun penawanan.

Hal tersebut diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya, "Sungguh jika Kami mewafatkan kamu, maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka."

Selanjutnya penulis (Ibnu Abdus-Salam As-Sulami) menuturkan,

Berbeda dengan kondisi para Nabi sebelumnya, yang cenderung mendapati siksaan bagi umatnya yang disegerakan saat mereka mendustakannya.

Albani juga menambahkan, untuk menguatkan pernyataan penulis, tentang fenomena yang terjadi dan menimpa kaum Nuh dan kaum-kaum lainnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (27)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Menurut saya, yang dimaksudkan dha'if adalah figur Al Alhani sedangkan figur Ubaidillah bin Zahar adalah sama dha'ifnya atau mungkin lebih dha'if lagi. Ibnu Hibban dalam kitab "Al Majruhin" (2/63-64) cetakan Hindiyyah berkomentar bahwa hadits ini adalah sangat munkar, (mungkarul hadits jiddan). Karena hadits tersebut merupakan hadits yang dinukil dari kumpulan hadits-hadits maudhu'. Jika perawi meriwayatkan hadits dari Ali bin Yazid berarti dia telah membawa bencana besar, dan jika dalam sanadnya terkumpul Ubaidillah bin Zahar, Ali bin Yazid, dan Al Qasim Abu Abdurrahman, maka matan (redaksi) hadits tersebut bukanlah merupakan sebuah hadits, melainkan hasil karangan mereka sendiri. Oleh karena itu, tidak boleh berdalih dengan hadits itu. Bahkan sangat dianjurkan untuk menjauhi hadits yang diriwayatkan oleh Ubaidillah bin Zahar.

Menurut saya sanad hadits tersebut adalah sangat dha'if. Walaupun Tirmidzi mengklaim bahwa matan haditsnya adalah hasan lighairih. Namun saya belum menemukan hadits yang menjadi penguat hadits tersebut secara keseluruhan, selain pada potongan bagian awal sebuah hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berkata, "Jibril sedang duduk bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sambil memandang langit, lalu tiba-tiba turunlah seorang Malaikat lain. Maka Jibril berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, 'Malaikat ini belum pernah turun semenjak (dirinya) diciptakan sebelum datangnya Kiamat.' Ketika Malaikat tersebut telah turun di hadapan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Malaikat tersebut berkata, 'Wahai Muhammad, Tuhanmu mengutusku kepadamu (untuk menanyakan), 'Apakah kamu akan Aku jadikan sebagai seorang raja atau hamba dan Rasul?''" (HR. Ahmad (2/231), Ibnu Hibban (2137 - Mawarid) dengan sanad shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim)

Juga, diriwayatkan Al Maqbari dari Aisyah radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Wahai Aisyah, seandainya aku mau, niscaya segunung emas akan berjalan bersamaku, seorang Malaikat telah mendatangiku yang ikat pinggangnya nyaris menyamai Ka'bah. Lalu dia berkata, 'Sesungguhnya Tuhanmu Yang Maha Agung mengirimkan salam untukmu. Apakah kamu ingin untuk menjadi hamba dan Nabi atau menjadi Nabi dan raja?' Aku lalu menoleh kepada Jibril, dan dia memberi isyarat kepadaku agar bertawadhu. Maka kemudian aku menjawab, 'Aku ingin menjadi seorang Nabi dan hamba.'"

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (26)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam muncul dengan ganjaran yang dilipatgandakan berkat bimbingan, kemuliaan dan keagungan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah akan memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian. Dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Paragrap ini dinukil dari As-Suyuthi dalam kitab "Al Khashaish" (2/217).

v. Pilihan kenabian bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

29. Allah Subhanahu wa Ta'ala menawarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam kunci harta benda dan kebaikan bumi, serta kebijakan untuk memilih antara menjadi raja atau Nabi yang menghamba. Lalu beliau memita petunjuk dari Jibril 'alaihis salam, dan beliau diberi petunjuk agar bertawadhu'. Lantas beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab,

"Nabi yang menghamba adalah pilihanku, aku akan menerima untuk lapar sehari, kenyang sehari. Jika aku lapar, aku akan berdoa kepada Allah. Dan jika aku kenyang, aku akan bersyukur kepada Allah."

Maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengharap agar beliau dapat tetap sibuk bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dalam keadaan susah maupun senang, nikmat ataupun bencana.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmidzi no. 2348, Ahmad 5/254 dan Abu Nu'aim halaman 522 dari riwayat Ubaidillah bin Zahar dari Ali bin Yazid dari Al Qasim Abu Abdurrahman dari Abu Umamah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tuhanku telah menawarkan untuk menjadikan kerikil kota Makkah sebagai emas. Aku berkata, 'Tidak, wahai Tuhanku! Tetapi aku lebih suka untuk kenyang sehari dan lapar sehari (atau seperti itu). Apabila aku lapar, aku akan tunduk kepada-Mu dan mengingati-Mu. Apabila aku kenyang, akupun akan memuji dan mensyukuri-Mu.'"

Tirmidzi berkomentar: "Hadits tersebut adalah hadits hasan, dan figur Ali bin Yazid adalah dha'if."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (25)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Hadits ini diangkat dari riwayat Buraid yang bersumber dari Abu Bardah dan hadits ini juga dibuktikan dengan sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dengan redaksi seperti hadits tersebut, namun memiliki redaksi yang lebih lengkap.

Juga dimuat di dalam kitab "Mukhtashar" (no. 312), pada lafadz akhirnya berbunyi,

"Para pengikut yahudi dan nasrani pun marah dan berkata, 'Kenapa kami, padahal kami banyak beramal, namun kami hanya mendapat sedikit balasan?' Allah berfirman, 'Apakah Aku menzhalimi ganjaran dari kalian sedikitpun?' Mereka menjawab, 'Tidak pernah.' Allah berfirman, 'Itu adalah merupakan fadhilah yang Aku miliki dan Aku memberikannya kepada orang yang Aku kehendaki.'"

Dalam kitab "Al Bidayah", Al Hafidz Ibnu Katsir berkomentar setelah membawakan hadits tersebut:

"Maksud dari perumpamaan tersebut adalah sebagai determinasi ganjaran yang diperoleh dengan sedikitnya amal (yang dilakukan). Tapi hal ini masih relatif tergantung pada faktor lain yang dipandang penting di sisi (kebijakan) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan berapa banyak amal yang sedikit, tetapi lebih berguna dan berpahala dari (hanya) amalan yang banyak.

Misalnya, ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar yang merupakan ibadah yang lebih afdhal dari ibadah seribu bulan. Atau juga seperti infaq yang diberikan oleh para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (walau sedikit) tetapi dilakukan dalam beberapa waktu (sering), adalah lebih baik dari infaq yang diberikan orang lain dengan memberikan emas (walau hampir menandingi berat satu mud -kurang lebih 6 ons, atau setengah korma yang diinfakkannya-).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah diangkat menjadi seorang Nabi, saat beliau berumur empat puluh tahun. Dan dipanggil kehadirat-Nya saat beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam berumur enam puluh tiga tahun. Dalam selang waktu 23 tahun, nampak sekali bahwa ilmu yang diamalkannya lebih bermanfaat dibanding ilmu-ilmu para Nabi sebelumnya. Hingga pula melebihi kemanfaatan ilmu Nabi Nuh 'alaihis salam pun yang tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, mengajak mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, dan tidak menyekutukan-Nya, serta taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saat malam dan siang, pagi dan petang.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (24)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

t. Al Qur`an dan substansi ajaran kitab sebelumnya.

27. Al Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuat semua (ajaran) yang tertera di dalam Taurat, Injil dan Zabur dan melebihkannya dengan Al Mufashal.

Albani menilai, bahwa bukti yang memperkuat riwayat ini adalah hadits dari Watsilah bin Al Asqa, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Aku telah diberikan tujuh buah surat panjang (Sab'u Ath-Thiwaal) sebagai tempat (pengganti) Taurat. Dan aku juga telah diberikan beberapa surat yang ayatnya berjumlah seratus lebih (Al Miaini) sebagai tempat (pengganti) Zabur. Dan aku telah diberi beberapa surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus (Al Matsani) sebagai tempat (pengganti) Injil, serta dilebihkan dengan surat-surat pendek."

Hadits ini shahih seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Al Hadits Ash-Shahihah" no. 158. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dimuat dalam kitab "Ad-Dalail" halaman 28, bersumber dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dengan riwayat marfu' yang cukup panjang. Di dalamnya memuat hadits yang diriwayatkan oleh Watsilah, dan As-Suyuthi menampilkannya di dalam kitab "Al Khashaish" (3/239). Namun hal ini tidak diperbolehkan, karena dalam sanad haditsnya terdapat Ishaq bin Basyar alias Abu Hudzaifah Al Kahili. Adz-Dzahabi mengungkapkan, "Hadits ini tidak boleh dipakai, dan para ahli hadits telah menjustifikasi kebohongan Matruk dan Ali bin Al Madini." Ad-Daruquthni berkomentar bahwa dia adalah "Kadzab (pembohong) dan matruk (haditsnya ditinggalkan)."

u. Amal dan pahala umat Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

28. Umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam kendatipun amalnya sedikit dari umat sebelumnya namun akan lebih banyak mendapat ganjaran dan pahala. Hal ini sebagaimana banyak disebutkan dalam hadits yang shahih.

Albani menerangkan tentang hadits yang dimaksud adalah hadits Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu yang dikatakan dari sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Perumpamaan umat Islam, yahudi dan nasrani, seperti perumpamaan seseorang yang menyewa beberapa orang untuk mengerjakan satu tugas dalam sehari semalam dengan upah tertentu. Lalu mereka melaksanakan tugas tersebut hingga tengah hari, lantas mereka berkata, 'Kami tidak butuh akan upah yang engkau janjikan kepada kami, dan (karena) apa yang telah kami kerjakan adalah bathil.' Majikan tersebut menjawab, 'Tidak, jangan kalian lakukan itu, lanjutkan sisa pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian dengan penuh.' Namun mereka tetap enggan dan meninggalkan pekerjaan tersebut. Setelah itu sang majikan menyewa dua orang lain (untuk menggantikan pegawai yang telah pergi) dan berkata kepada mereka berdua, 'Lanjutkan sisa pekerjaan hari ini dan kalian akan memperoleh upah yang saya janjikan kepada pekerja-pekerja sebelumnya.' Lalu mereka bekerja. Hingga ketika tiba waktu ashar, kedua pegawai tersebut berkata, 'Ambillah kembali pekerjaan ini, (karena) apa yang telah kami kerjakan adalah bathil, dan ambillah upah yang kamu janjikan kepada kami.' Sang majikan menjawab, 'Lanjutkan sisa pekerjaan kalian, karena waktu siang yang tersisa hanya tinggal sebentar.' Tapi mereka berdua menolaknya. Kemudian sang majikan kembali menyewa beberapa orang untuk melanjutkan pekerjaan sisa hari itu. Lalu mereka mengerjakannya. Hingga matahari terbenam dan mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut kemudian memperoleh upah (gabungan) dari para pekerja sebelumnya. Demikianlah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka dapatkan dari cahaya ini (Islam).'" (HR. Bukhari (3/90-91))

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (23)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan mengenai kata "turaabahaa" (tanahnya), Albani mengomentari bahwa seperti itulah teks aslinya yang ditemukannya yang tercantum dalam cetakan. Sedangkan yang ada pada Muslim menggunakan kalimat "Turbatuha" bukan "Turaabaha". Serta disebutkan oleh As-Suyuthi dalam kitab "Al Jami Ash-Shaghir" (no. 4099 -"Shahih Al Jami"). Sedangkan lafadz hadits tersebut berasal dari riwayat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi,

"Kami diberikan keistimewaan dari umat lainnya dalam tiga hal (yaitu): 'Barisan kami dijadikan seperti barisan Malaikat, bumi seisinya dijadikan sebagai masjid bagi kami, dan tanahnya dijadikan suci bagi kami apabila tidak ditemukan air." (HR. Muslim dan lain-lain)

r. Keagungan budi pekerti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

25. Pujian Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap akhlak dan budi pekerti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Seperti dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al Qalam (68): 4)

Dan ketika sebuah figur yang agung memuji dan mengagungkan sesuatu, hal ini mengindikasikan akan adanya keagungan orang yang dipujinya melebihi keagungan orang yang mengagungkannya tersebut. Lalu bagaimana andai yang memuji dan mengagungkannya adalah Sang Maha Agung?

s. Macam-macam wahyu.

26. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berdialog dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lewat tiga macam wahyu, yaitu:

a. Mimpi yang benar (mimpi yang sangat mendekati kenyataan sadar).

b. Berbicara langsung tanpa perantara.

c. Melalui Jibril (lewat pesan-Nya).

Albani menambahkan, bahwa menurutnya tersisa satu macam lagi pola Allah Subhanahu wa Ta'ala berdialog dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lewat wahyu-Nya, yaitu dengan cara meniupkan ke dalam hati. Seperti yang dikemukakan dalam sebuah hadits dari Abu Umamah dan lain-lain yang berbunyi,

"Sesungguhnya Jibril telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku. Dan seseorang tidaklah akan menemui kematiannya hingga waktu (ajalnya) tiba dan rezeki (yang menjadi haknya) telah cukup. Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap baiklah dalam segala usaha. Dan janganlah seseorang di antara kalian yang sekali-kali berbuat maksiat karena rezekinya agak terlambat. Karena Allah tidak akan menerima sesuatu dari hamba-Nya kecuali dengan jalan berbuat taat kepada-Nya." (Hadits ditakhrij dalam kitab "Fiqih As-Sirah" no. 96, bagian ini dinukil oleh As-Suyuthi (3/153) dari penulis buku ini. Untuk lebih detail lihat kembali pembahasan tentang macam-macam wahyu yang dikemukakan di dalam kitab "Zaad Al Ma'ad".

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (22)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

p. Umat terakhir.

23. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Kami adalah umat terakhir dan terdahulu."

(Sumber riwayat hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari riwayat Thawus, dan takhrij hadits ini telah dibahas pada pembahasan hadits no. 17, yang diriwayatkan dari Abu Nu'aim dengan riwayat Hammam dan bersumber dari riwayat Muslim).

Penulis (Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimayqi) menilai bahwa hadits di atas menunjukkan akan keberadaan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai umat yang datang dengan urutan zaman yang paling akhir, tetapi paling awal untuk memperoleh kemuliaan dan keistimewaan.

q. Dihalalkannya harta rampasan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

24. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam diberikan keistimewaan dengan dihalalkannya (oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menggunakan) harta hasil rampasan perang, yang dulunya tidak diperbolehkan bagi siapapun (termasuk Nabi-nabi sebelumnya). Dan kelak, barisan umatnya akan menyerupai barisan Malaikat, bumi dijadikan sebagai masjid dan tanahnya suci. Keistimewaan ini membuktikan akan kemuliaan martabat beliau dan kasih atas umatnya.

Albani mengomentari, bahwa lafadz hadits ini adalah shahih, dan bersumber dari beberapa sahabat dengan lafadz yang tidak jauh berbeda. Dan hampir menyerupai lafadznya yaitu sebuah hadits marfu' dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang berbunyi,

"Aku telah diberikan lima keutamaan yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku. Aku diutus kepada seluruh umat, bumi dijadikan sebagai masjid dan tempat yang suci, dihalalkan (bagiku) harta rampasan perang. Sedangkan Nabi sebelumku tidak diperbolehkan. Aku akan ditolong dari ketakutan selama sebulan, musuh takut akan diriku selama perjalanan sebulan. Aku diperintahkan, 'Mintalah, niscaya akan dikabulkan.' Lalu aku menangguhan permohonanku tersebut sebagai syafa'at bagi umatku, dan insya Allah (isi permohonan tersebut) akan diberikan kepada siapa yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." (HR. Ahmad dan lain-lain dengan sanad yang shahih. Dan telah ditakhrij di dalam kitab "Al Irwa", halaman 285, hadits no. 5)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (21)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Al Haudh.

Adapun tentang Al Haudh (telaga), banyak sekali hadits yang dapat ditemukan yang menceritakan tentang topik ini. Yang jumlahnya dapat mencapai derajat mutawatir dan dengan jumlah tersebut menjadikannya sebagai bagian dari sesuatu yang qath'i (absolut). Al Hafidz Ibnu Hajar menilai bahwa hal ini terjadi karena dapat ditemukan lebih dari 30 sahabat yang meriwayatkannya langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Di antaranya terdapat dalam kitab "Shahih Bukhari dan Muslim", yang menunjukkan lebih dari 20 orang sahabat yang meriwayatkan hadits tentang tema ini, dan sisanya terdapat dalam kitab-kitab Shahih lainnya yang juga penukilannya dikategorikan sebagai shahih, serta dengan perawinya yang masyhur.

Albani juga mengemukakan bahwa riwayat-riwayat hadits tersebut telah diteliti oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya "As-Sunnah" (2/321-360 no. 697-776) yang jumlah perawinya lebih dari 35 orang sahabat. Untuk beberapa sahabat terdapat lebih dari satu riwayat yang lengkap nama-namanya sebagai berikut:

1. Umar bin Khaththab, 2. Anas bin Malik, 3. Zaid bin Arqam, 4. Abu Barzah Al Aslami, 5. Al Barra bin 'Azib, 6. 'Aidz bin Amr, 7. Khaulah binti Hakim, 8. Tsauban, 9. Utbah bin Abdussulami, 10. Ubay bin Ka'ab, 11. Abdullah bin Amr, 12. Abu Dzar, 13. Abu Said Al Khudri, 14. Hudzaifah bin Al Yaman, 15. Abdullah bin Umar, 16. Abu Umamah, 17. Rajul bin Khuzah, 18. Abu Hurairah, 19. Samurah bin Jundub, 20. Uqbah bin Amir, 21. Abdullah bin Mas'ud, 22. Abu Darda, 23. Jabir bin Samurah, 24. Ash-Shanabihi, 25. Jubair bin Muthim, 26. Sahl bin Sa'ad, 27. Abdullah bin Abbas, 28. Abu Bakar Ash-Shiddiq, 29. Usaid bin Hudhair, 30. Abdullah bin Zaid, 31. Zaid bin Tsabit, 32. Ka'ab bin Ajarah, 33. Khubab bin Al Arif, 34. Hudzaifah bin Usaid, 35. Abu Bakar, 36. 'Aisyah, 37. Jabir bin Abdullah.

Ibnu Abbas mengungkapkan yang singkatnya sebagai berikut, "Hadits-hadits yang telah kami sebutkan tentang telaga (yang dijanjikan bagi) Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sangat perlu diketahui. Kami mempercayai dan membenarkan akan keberadaannya, dan kami berharap dari sikap tersebut agar Allah Subhanahu wa Ta'ala juga akan menganugerahkannya kepada kami. Sehingga kami dapat meneguk setegukan (dari airnya) agar dapat menghilangkan dahaga kami untuk selama-lamanya. Dan kami juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk merestui kami akan karunia tersebut."

Kemudian tentang kalimat, "...saat sedang berada di mauqif", kalimat ini menunjukkan bahwa telaga tersebut berada sebelum lokasi Shirath. Dan makna inilah yang terimplikasi dari hadits-hadits yang mengulas tentang hal tersebut. Dan pendapat ini kemudian dikuatkan oleh Ibnu Hajar.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (20)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Adapun pendapat Ibnu Hajar dalam kitabnya "Fath Al Bari" (11/354) yang menentang pendapat Ibnu Taimiyyah tersebut, adalah kurang mendasar. Karena penambahan kebenaran sebuah hadits adalah apabila hadits tersebut diriwayatkan dari sumber yang tidak bertentangan dengan otentisitas riwayat yang sesungguhnya yang lebih otentik ataupun lebih populer (banyak) diriwayatkan oleh para ahli riwayat.

Semua ini jelas, dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Sementara hadits ini adalah yang dinukil oleh As-Suyuthi (3/449) dari pengarang teks asli buku ini Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

o. Telaga Al Kautsar.

22. Di dalam Surga terdapat Al Kautsar (nikmat yang banyak) yang dikaruniakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan Haudh (telaga) yang diberikan kepada beliau saat sedang berada di mauqif (telaga yang berada sebelum Shiraathal Mustaqiim).

Albani mengomentari bahwa ungkapan Al Kautsar yang dimaksud di atas, telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) Al Kautsar." (QS. Al Kautsar (108): 1)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dalam menafsirkan kata "Al Kautsar" dengan kenikmatan berlimpah yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan makna ini tidak menyalahkan ucapan Aisyah radhiyallahu 'anhuma (berdasarkan riwayat Bukhari) yang menafsirkan makna kata "Al Kautsar" ini dengan sebuah sungai yang akan diberikan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang pada kedua tepinya terdapat mutiara yang berserakan, dengan bejana yang banyak sebanyak bintang di langit.

Albani menilai bahwa penafsiran tersebut tidak menafikan substansi makna "Al Kautsar" secara umum, karena sungai tersebut adalah karunia berlimpah yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan banyak sekali hadits yang berkenaan dengan topik ini, yang dapat ditemukan di dalam riwayat Bukhari dan Muslim, seperti di dalam sebuah hadits yang dinukil dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam di-mi'raj-kan ke langit beliau bersabda, 'Aku mendatangi sebuah sungai yang kedua tepinya terdapat setumpuk mutiara yang berserakan. Lalu aku bertanya, 'Wahai Jibril, apakah ini?' Dia menjawab, 'Inilah Al Kautsar.'" (HR. Bukhari 8/562). Dapat ditemukan di dalam kitab "Hadi Al Arwah ila Bilad Al Afrah" karya Ibnu Qayyim 1/283-287.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah