Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya (4) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Bab V
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya (3)
B. Dalil-dalil dari As-Sunnah
'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: 'Ini jalan Allah yang lurus.' Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: 'Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.' Selanjutnya beliau membaca firman Allah 'Azza wa Jalla: 'Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.'" (QS. Al-An'aam: 153) (143)
"Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya." (144)
Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan tentang kebaikan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia serta keutamaannya. Sedangkan perkataan 'sebaik-baik manusia' yaitu tentang 'aqidahnya, manhajnya, akhlaqnya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu mereka dikatakan sebaik-baik manusia. (145) Dan dalam riwayat lain disebutkan dengan kata (khairu kum) 'sebaik-baik kalian' dan dalam riwayat yang lain disebutkan (khaira ummati) 'sebaik-baik umatku'.
Kata Shahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
"Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan kepadanya risalah kemudian Allah melihat dari seluruh hati hamba-hamba-Nya setelah Nabi-Nya, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek." (146)
=====
Catatan Kaki:
143. Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah lil Imam al-Baghawy (no. 97), dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam as-Sunnah libni Abi 'Ashim no. 17, Tafsir an-Nasa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).
144. Muttafaq 'alaihi. HR. Al-Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim (no. 2533 (211)) dan lainnya dari shahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini mutawatir sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishaabah (I/12), al-Munawy dalam Faidhul Qadir (III/478) serta disetujui oleh al-Kattaany dalam kitab Nadhmul Mutanatsir (hal. 127). Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhajas Salafy (hal. 87).
145. Limadza Ikhtartu al-Manhajas Salafy hal. 86-87.
146. HR. Ahmad (I/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir (no. 3600). Lihat Majma'uz Zawaa-id (I/177-178).
=====
Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Bab V
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya (2)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An-Nisaa': 115)
Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum Mukminin sebagai sebab akan terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan masuk Neraka Jahannam. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya umat Islam untuk mengikuti jalannya kaum Mu'minin dan jalannya kaum Mu'minin adalah perkataan dan perbuatan para Shahabat radhiyallahu 'anhum. Karena, ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali para Shahabat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Rasul telah beriman kepada al-Qur-an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 285)
Orang-orang Mukmin ketika itu hanyalah para Shahabat radhiyallahu 'anhum, tidak ada yang lain.
Ayat di atas menunjukkan bahwasanya mengikuti jalan para Shahabat dalam memahami syari'at adalah wajib dan menyalahinya adalah kesesatan. (140)
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah: 100)
Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Shahabat radhiyallahu 'anhum adalah benar. Dan orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan disediakan bagi mereka Surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin.
Kalau mereka tidak mau mengikuti maka mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keridhaan Allah 'Azza wa Jalla dan ini harus diperhatikan. (141)
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali 'Imraan: 110)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menetapkan keutamaan atas sekalian umat-umat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqamahan para Shahabat dalam setiap keadaan karena mereka tidak menyimpang dari syariat yang terang benderang, sehingga Allah 'Azza wa Jalla mempersaksikan bahwa mereka memerintahkan setiap kema'rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka (Shahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka sampai Allah 'Azza wa Jalla mewariskan bumi dan seisinya. (142)
=====
Catatan Kaki:
140. Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarh Marwiyati Manhajis Salaf (hal. 54).
141. Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarh Marwiyati Manhajis Salaf hal. 43, 53-54.
142. Lihat Limadza Ikhtartu Manhajas Salafy hal. 86 oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.
=====
Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Bab V
Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya
Mengikuti manhaj/jalan Salafush Shalih (yaitu para Shahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:
A. Dalil-dalil dari al-Qur-an.
Allah berfirman:
"Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui." (QS. Al-Baqarah: 137)
Al-Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata: "Ayat ini Allah menjadikan Iman para Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai timbangan/tolok ukur untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan. Apabila ahlul Kitab beriman sebagaimana berimannya para Shahabat, maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (ahli Kitab) berpaling (tidak beriman) sebagaimana imannya para Shahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan dan kesesatan yang sangat jauh..."
Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan: "Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) Shahabat Rasul radhiyallahu 'anhum adalah kewajiban yang paling wajib." (138)
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'aam: 153)
Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid'ah. Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah 'alaihish shalaatu was salaam dan para Shahabatnya radhiyallahu 'anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap Muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU... Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah kecuali melalui jalan yang satu ini. (139)
=====
138. Bashaa-iru Dzawi Syaraf bi Syarah Marwiyati Manhajas Salaf (hal. 53) karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.
139. Tafsiirul Qayyim lil Ibnil Qayyim hal. 14-15.
====
Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
Beberapa Karakteristik 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Beberapa Karakteristik 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Beberapa Karakteristik 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Setiap Perkara Baru yang Tidak Ada Sebelumnya di Dalam Agama adalah Bid'ah. Setiap Bid'ah adalah Kesesatan dan Setiap Kesesatan Tempatnya di Neraka (4) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Setiap Perkara Baru yang Tidak Ada Sebelumnya di Dalam Agama adalah Bid'ah. Setiap Bid'ah adalah Kesesatan dan Setiap Kesesatan Tempatnya di Neraka (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Setiap Perkara Baru yang Tidak Ada Sebelumnya di Dalam Agama adalah Bid'ah. Setiap Bid'ah adalah Kesesatan dan Setiap Kesesatan Tempatnya di Neraka (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Setiap Perkara Baru yang Tidak Ada Sebelumnya di Dalam Agama adalah Bid'ah. Setiap Bid'ah adalah Kesesatan dan Setiap Kesesatan Tempatnya di Neraka | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Penjelasan Sikap Ahlus Sunnah wal Jama'ah Terhadap Ilmu Kalam | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Dalil 'aqli yang benar akan sesuai dengan dalil naqli yang shahih (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Dalil 'aqli yang benar akan sesuai dengan dalil naqli yang shahih (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Dalil 'aqli yang benar akan sesuai dengan dalil naqli yang shahih | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Taslim, patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih, dengan qiyas, perasaan, kasyf, ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan yang lainnya (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Bab III.
Penjelasan Kaidah-kaidah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil.
Penjelasan Kaidah Kelima (3).
"Berserah diri (taslim), patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih, (baik menolaknya itu) dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyf (iluminasi atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seoranv syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan yang lainnya."
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang anak-anak kaum musyrikin yang meninggal dunia, beliau menjawab:
"Allah-lah Yang Mahatahu apa yang telah mereka kerjakan." (70)
Dari Abu Umamah al-Baahili radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah suatu kaum akan tersesat setelah mendapat hidayah kecuali apabila di kalangan mereka diberi kebiasaan berdebat." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan firman Allah 'Azza wa Jalla:
"... Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja..." (QS. Az-Zukhruf: 58) (71)
Dari Aisyah (72) radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang keras hati lagi suka membantah.'" (73)
Tidak diragukan lagi bahwa orang yang tidak taslim kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka telah berkurang tauhidnya. Dan orang berkata dengan ra'yunya (logikanya), hawa nafsunya atau taqlid kepada orang yang mempunyai ra'yu dan mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah, maka berkuranglah tauhidnya menurut kadar keluarnya dia dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya dia telah menjadikan sesembahan selain Allah 'Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka, siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al-Jaatsiyah: 23) (74)
=====
Catatan Kaki:
70. HR. Al-Bukhari no. 1384 dan Muslim no. 2659, dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
71. HR. At-Tirmidzi (no. 3253), Ibnu Majah (no. 48), Ahmad (V/252, 256), ath-Thabrani dalam Mu'jamul Kabir dan al-Hakim (II/447, 448), dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Menurut Syaikh al-Albani hadits ini hasan sebagaimana perkataan Imam at-Tirmidzi, lihat Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib no. 141.
72. Beliau adalah Ummul Mukminin. Nama lengkapnya 'Aisyah bintu Abi Bakar ash-Shiddiq, isteri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang dinikahi di Makkah pada waktu berusia enam tahun. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hidup bersamanya di Madinah ketika dia berusia sembilan tahun pada tahun kedua Hijriyah dan tidak menikah dengan perawan selainnya. Dia adalah isteri yang paling dicintainya di antara isteri-isteri lainnya. Dia banyak menghafal hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan wanita yang paling cerdas dan paling 'alim.
Lihat al-Ishaabah fii Tamyiiz ash-Shahaabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani (IV/359 no. 704, cet. Daarul Fikr).
73. HR. Al-Bukhari (no. 2457), Muslim (no. 2668), at-Tirmidzi (no. 2976), an-Nasa-i (VIII/248) dan Ahmad (VI/55, 62, 205).
74. Lihat penjelasannya di dalam kitab Syarah 'Aqiidah Thahawiyyah, takhrij dan ta'liq oleh Syu'aib al-Arnauth dan 'Abdullah bin 'Abdil Muhsin at-Turki (hal. 228-235).
=====
Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
Taslim, patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih, dengan qiyas, perasaan, kasyf, ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan yang lainnya (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Taslim, patuh dan taat hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, secara lahir dan bathin. Tidak menolak sesuatu dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih, dengan qiyas, perasaan, kasyf, ucapan seorang syaikh, ataupun pendapat imam-imam dan yang lainnya | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Setiap Sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah wajib diterima, walaupun sifatnya ahad | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Definisi 'Aqidah | Objek Kajian Ilmu 'Aqidah | Makna Salaf | Makna Ahlus Sunnah wal Jama'ah | Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai makna al-Ghuraba':
"Yaitu orang-orang yang senantiasa memperbaiki (ummat) di tengah-tengah rusaknya manusia." (42)
Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Yaitu orang-orang yang memperbaiki Sunnahku (Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam) sesudah dirusak oleh manusia." (43)
Ahlus Sunnah, ath-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah semuanya disebut juga Ahlul Hadits. Penyebutan Ahlus Sunnah, ath-Thaifah al-Manshurah dan al-Firqatun Najiyah dengan Ahlul Hadits suatu hal yang masyhur dan dikenal sejak generasi Salaf, karena penyebutan itu merupakan tuntutan nash dan sesuai dengan kondisi dan realitas yang ada. Hal ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari para Imam seperti, 'Abdullah Ibnul Mubarak, 'Ali Ibnul Madiiny, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhary, Ahmad bin Sinan dan yang lainnya, rahimahumullah. (44)
Imam asy-Syafi'i (45) (wafat th. 204 H) rahimahullah berkata: "Apabila aku melihat seorang ahli hadits, seolah-olah aku melihat seorang dari Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, mudah-mudahan Allah memberikan ganjaran yang terbaik kepada mereka. Mereka telah menjaga pokok-pokok agama untuk kita dan wajib atas kita berterima kasih atas usaha mereka." (46)
Imam Ibnu Hazm azh-Zhahiri (wafat th. 456 H) menjelaskan mengenai Ahlus Sunnah, "Ahlus Sunnah yang kami sebutkan itu adalah Ahlul Haq, sedangkan selain mereka adalah Ahlul Bid'ah. Karena sesungguhnya Ahlus Sunnah itu adalah para Shahabat radhiyallahu 'anhum dan setiap orang yang mengikuti manhaj mereka dari para Tabi'in yang terpilih, kemudian Ash-habul Hadits dan yang mengikuti mereka dari ahli fiqih dari setiap generasi sampai pada masa kita ini serta orang-orang awam yang mengikuti mereka baik di timur maupun di barat." (47)
E. Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Penamaan istilah Ahlus Sunnah ini sudah ada sejak generasi pertama Islam pada kurun yang dimuliakan Allah yaitu generasi Shahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in.
Ibnu 'Abbas (48) radhiyallahu 'anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muramnya (kepada mereka dikatakan): 'Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah adzab disebabkan kekafiranmu itu.'" (QS. Ali Imran: 106)
"Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah ahlul bid'ah dan sesat." (49)
Kemudian istilah Ahlus Sunnah ini diikuti oleh kebanyakan ulama Salaf rahimahumullah, di antaranya:
1. Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah (wafat th. 131 H), ia berkata, "Apabila aku dikabarkan tentang meninggalnya seorang dari Ahlus Sunnah seolah-olah hilang salah satu anggota tubuhku."
2. Sufyan ats-Tsaury rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata: "Aku wasiatkan kalian untuk tetap berpegang kepada Ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghuraba' (orang yang terasing). Alangkah sedikitnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah." (50)
3. Fudhail bin 'Iyadh (51) (wafat th. 187 H) berkata: "... Berkata Ahlus Sunnah: Iman itu keyakinan, perkataan dan perbuatan."
4. Abu 'Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahullah (hidup th. 157-224 H) berkata dalam muqaddimah kitabnya, al-Imaan (52): "... Maka sesungguhnya apabila engkau bertanya kepadaku tentang iman, perselisihan umat tentang kesempurnaan iman, bertambah dan berkurangnya iman dan engkau menyebutkan seolah-olah engkau berkeinginan sekali untuk mengetahui tentang iman menurut Ahlus Sunnah dari yang demikian..."
5. Imam Ahmad bin Hanbal (53) rahimahullah (hidup th. 164-241 H), beliau berkata dalam muqaddimah kitabnya, as-Sunnah: "Inilah madzhab Ahlul 'Ilmi, Ash-habul Atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, dari semenjak zaman para Shahabat radhiyallahu 'anhum hingga pada masa sekarang ini..."
6. Imam Ibnu Jarir ath-Thabary rahimahullah (wafat th. 310 H) berkata: "... Adapun yang benar dari perkataan tentang keyakinan bahwa kaum Mukminin akan melihat Allah pada hari Kiamat, maka itu merupakan agama yang kami beragama dengannya, dan kami mengetahui bahwa Ahlus Sunnah wal Jama'ah berpendapat bahwa ahli Surga akan melihat Allah sesuai dengan berita yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (54)
7. Imam Abu Ja'far Ahmad bin Muhammad ath-Thahawy rahimahullah (hidup th. 239-321 H). Beliau berkata dalam muqaddimah kitab 'aqidahnya yang masyhur ('Aqidah Thahawiyah): "... Ini adalah penjelasan tentang 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah."
Dengan penukilan tersebut, maka jelaslah bagi kita bahwa lafazh Ahlus Sunnah sudah dikenal di kalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak untuk melawan ahlul bid'ah. Para ulama Ahlus Sunnah menulis penjelasan tentang 'aqidah Ahlus Sunnah agar ummat faham tentang 'aqidah yang benar dan untuk membedakan antara mereka dengan ahlul bid'ah. Sebagaimana telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Barbahary, Imam ath-Thahawy serta yang lainnya.
Dan ini juga sebagai bantahan kepada orang yang berpendapat bahwa istilah Ahlus Sunnah pertama kali dipakai oleh golongan asy'ariyah, padahal asy'ariyah timbul pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriyyah. (55)
42. HR. Abu Ja'far ath-Thahawy dalam Syarah Musykilul Atsaar (II/170 no. 689), al-Laalika-iy dalam Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah no. 173 dari Shahabat Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih li ghairihi karena ada beberapa syawahidnya. Lihat Syarah Musykilul Atsaar (II/170-171) dan Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah non 1273.
43. HR. At-Tirmidzi no. 2630, beliau berkata, "Hadits ini hasan shahih." Dari Shahabat 'Amr bin 'Auf radhiyallahu 'anhu.
44. Sunan at-Tirmidzi, Kitaabul Fitan no. 2229. Lihat Silsilah Ahaadits ash-Shahiihah karya Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah (I/539 no. 270) dan Ahlul Hadits Humuth Thaifah al-Manshurah karya Syaikh Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhaly.
45. Nama lengkap beliau, Imam Abu 'Abdillah Muhammad bin Idris bin 'Abbas al-Qurasyi asy-Syafi'i rahimahullah, yang terkenal dengan sebutan Imam asy-Syafi'i, beliau punya hubungan nasab dengan anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang bertemu dengannya pada silsilah 'Abdi Manaf. Beliau dilahirkan tahun 150 H. Para ulama sepakat bahwa beliau adalah orang yang tsiqah, amanah, adil, zuhud, wara', 'alim, faqih dan dermawan. Beliau wafat di Mesir th. 204 H dalam usia 54 tahun. Di antara kitab-kitab karya beliau adalah kitab al-Umm dalam bidang fiqih, ar-Risalah dalam ushul fiqih dan lainnya. Lihat Siyar A'laamin Nubalaa' (X/5-99). Untuk mengetahui lebih jelas tentanv manhaj Imam asy-Syafi'i dalam masalah 'aqidah dapat dilihat pada kitab Manhajul Imam asy-Syafi'i fii Itsbaatil 'Aqiidah karya Dr. Muhammad bin 'Abdil Wahhab al-'Aqiil, cet. I-1419 H, dalam dua jilid.
46. Lihat Siyar A'laamin Nubalaa' (X/60).
47. Al-Fishaal fil Milaal wal Ahwaa' wan Nihaal II/271 - Daarul Jiil, Beirut.
48. Beliau adalah seorang Shahabat yang mulia dan termasuk orang pilihan radhiyallahu 'anhuma. Nama lengkapnya adalah 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muththalib al-Hasyimi al-Qurasyi, anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, penafsir al-Qur-an dan pemuka kaum Muslimin di bidang tafsir. Dia diberi gelar 'pena' dan juga 'laut', karena luas keilmuannya dalam bidang tafsir, bahasa dan syair Arab. Beliau dipanggil oleh para Khulafa' ar-Rasyidin untuk dimintai nasehat dan pertimbangan dalam berbagai perkara. Beliau radhiyallahu 'anhuma pernah menjadi wali pada zaman 'Utsman radhiyallahu 'anhu tahun 35 H, ikut memerangi kaum khawarij bersama 'Ali (radhiyallahu 'anhu), cerdas dan kuat hujjahnya. Menjadi 'Amir di Bashrah, kemudian tinggal di Thaif hingga meninggal dunia tahun 68 H. Beliau lahir tiga tahun sebelum hijrah. Lihat al-Ishaabah (II/330 no. 4781).
49. Lihat Tafsiir Ibni Katsiir (I/419, cet. Daarus Salaam), Syarh Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah (I/79 no. 74).
50. Syarah Ushuul I'tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama'ah (I/71 no. 49 dan 50).
51. Beliau Fudhail bin 'Iyadh bin Mas'ud at-Tamimy rahimahullah, adalah seorang yang terkenal zuhud, berasal dari Khuraasaan dan bermukim di Makkah, tsiqah, wara', 'alim, diambil riwayatnya oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat Taqriibut Tahdziib (II/15 no. 5448), Tahdziibut Tahdziib (VII/264 no. 540).
52. Tahqiq dan takhrij Syaikh al-Albany rahimahullah.
53. Beliau rahimahullah adalah seorang Imam yang luar biasa dalam kecerdasan, kemuliaan, keimaman, kewara'an, kezuhudan, hafalan, alim dan faqih. Nama lengkapnya Abu 'Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaibani, lahir pada tahun 164 H. Seorang Muhaddits utama Ahlus Sunnah. Pada masa al-Ma'mun beliau dipaksa mengatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk, sehingga beliau dipukul dan dipenjara, namun beliau menolak mengatakannya. Beliau tetap mengatakan al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Beliau meninggal di Baghdad. Beliau menulis beberapa kitab dan yang paling terkenal adalah al-Musnad fil Hadiits (Musnad Imam Ahmad). Lihat Siyar A'laamin Nubalaa' (XI/177 no. 78).
54. Lihat kitab Shariihus Sunnah oleh Imam ath-Thabary rahimahullah.
55. Lihat kitab Wasathiyyah Ahlis Sunnah bainal Firaq karya Dr. Muhammad Baa Karim Muhammad Baa 'Abdullah (hal. 41-44).