AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (4)
Permasalahan
Jika orang yang benar-benar dalam keadaan terpaksa menemukan bangkai dan makanan milikorang lain yang tidak dapat dipastikan pemiliknya serta tidak membahayakan, maka tidak dihalalkan baginya memakan bangkai. Tetapi ia boleh memakan makanan milik orang lain tersebut. Dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini.
Dalam Sunan Ibni Majah disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abbad bin Syurahbil al-'Anzi, ia berkata, "Kami pernah ditimpa kelaparan setahun penuh. Lalu aku datang ke Madinah, maka aku pun memasuki sebuah kebun dan mengambil beberapa tangkai tanaman kemudian aku menggosok-gosokkannya dan setelah itu memakannya. Dan beberapa tangkai lagi aku letakkan di dalam bajuku. Lalu pemilik kebun itu datang memukulku serta mengambil bajuku. Selanjutnya aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu kepada beliau."
Beliau pun bersabda kepada pemilik kebun itu:
"Mengapa engkau tidak memberinya makan, jika ia dalam keadaan lapar (atau berusaha mencari makanan), dan mengapa engkau tidak mengajarkan (ilmu) kepadanya jika ia tidak tahu."
Beliau pun memerintahkan agar baju itu dikembalikan kepada pemiliknya dan memerintahkan agar ia diberi satu atau setengah wasaq (60 sha') makanan. (630)
Sanad hadits di atas shahih, kuat dan jayyid, serta memiliki banyak syahid (hadits lain yang menguatkan), di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang mengambil buah yang masih tergantung di pohon, maka beliau bersabda,
"Barangsiapa terpaksa mengambil sesuatu darinya (pohon itu) karena keperluan mendesak untuk dimakan langsung dengan tidak mengantonginya, maka tidak ada sesuatu (dosa) baginya." (631) Dan hadits selanjutnya.
Menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," Muqatil bin Hayyan mengatakan bahwa maksudnya ialah makanan yang dimakan dalam keadaan terpaksa. (632)
Sa'id bin Jubair mengatakan, "Allah Ta'ala Maha Pengampun atas makanan haram yang dimakan oleh orang itu, dan Dia Maha Penyayang karena Dia telah membolehkan baginya memakan makanan yang haram dalam keadaan terpaksa." (633)
Diriwayatkan dari Masruq, ia berkata, "Barangsiapa benar-benar dalam keadaan terpaksa, namun ia tidak makan dan minum, lalu ia meninggal dunia, maka ia masuk Neraka." (634)
Ini menunjukkan bahwa keringanan memakan bangkai bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa merupakan suatu 'azimah (keharusan) dan bukan sekedar rukhshah (keringanan).
===
Catatan Kaki:
630. Ibnu Majah (II/770). [Shahih: Ibnu Majah (no. 2298). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 5641)].
631. Tuhfatul Ahwadzi (IV/510). [Hasan: At-Tirmidzi (no. 1289). At-Tirmidzi menghasankannya, demikian juga Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 6038)].
632. Ibnu Abi Hatim (I/240), tahqiq: DR. AL-Ghamidi.
633. Ibnu Abi Hatim (I/240), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
634. Al-Baihaqi (IX/357).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Showing posts with label shahih tafsir ibnu katsir jilid 1. Show all posts
Showing posts with label shahih tafsir ibnu katsir jilid 1. Show all posts
Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (3)
BOLEHNYA MEMAKAN MAKANAN YANG HARAM KARENA KONDISI DARURAT
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala membolehkan memakan makanan yang haram karena keadaan darurat dan sangat mendesak ketika tidak ada lagi makanan lainnya. Dia berfirman: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas." "Maka tidak ada dosa baginya," memakan makanan tersebut. "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Menurut Mujahid, firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas," artinya tidak dalam keadaan merampok, atau keluar dari ketaatan imam atau bepergian dalam kemaksiatan kepada Allah, maka ia mendapatkan rukhshah (keringanan). Tetapi orang yang melampaui batas atau melanggar, atau berada dalam kemaksiatan kepada Allah, maka tidak ada keringanan baginya, meskipun terpaksa. Hal yang sama juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu.
Dalam salah satu riwayat Sa'id yang lain dan dari Muqatil bin Hayyan, ia mengatakan, "'Tanpa melampaui batas,' artinya tanpa menghalalkannya." (628)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Tidak melampaui batas," yakni dalam memakan bangkai itu dan tidak mengulangi memakannya (jika telah hilang keterpaksaannya)."
Qatadah mengatakan, "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya," maksudnya tidak berselera terhadap bangkai tersebut, yakni tidak berselera memakannya. Maksud tidak (pula) melampaui batas yaitu dengan melangkahi yang halal dan memilih yang haram, sementara ia masih memiliki alternatif lainnya." (629)
===
Catatan Kaki:
628. Ibnu Abi Hatim (I/236), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
629. Ath-Thabari (III/324).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (3)
BOLEHNYA MEMAKAN MAKANAN YANG HARAM KARENA KONDISI DARURAT
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala membolehkan memakan makanan yang haram karena keadaan darurat dan sangat mendesak ketika tidak ada lagi makanan lainnya. Dia berfirman: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas." "Maka tidak ada dosa baginya," memakan makanan tersebut. "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Menurut Mujahid, firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas," artinya tidak dalam keadaan merampok, atau keluar dari ketaatan imam atau bepergian dalam kemaksiatan kepada Allah, maka ia mendapatkan rukhshah (keringanan). Tetapi orang yang melampaui batas atau melanggar, atau berada dalam kemaksiatan kepada Allah, maka tidak ada keringanan baginya, meskipun terpaksa. Hal yang sama juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu.
Dalam salah satu riwayat Sa'id yang lain dan dari Muqatil bin Hayyan, ia mengatakan, "'Tanpa melampaui batas,' artinya tanpa menghalalkannya." (628)
Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Tidak melampaui batas," yakni dalam memakan bangkai itu dan tidak mengulangi memakannya (jika telah hilang keterpaksaannya)."
Qatadah mengatakan, "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya," maksudnya tidak berselera terhadap bangkai tersebut, yakni tidak berselera memakannya. Maksud tidak (pula) melampaui batas yaitu dengan melangkahi yang halal dan memilih yang haram, sementara ia masih memiliki alternatif lainnya." (629)
===
Catatan Kaki:
628. Ibnu Abi Hatim (I/236), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
629. Ath-Thabari (III/324).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (2)
Tatkala Allah menganugerahkan rizki dan membimbing mereka agar memakan makanan yang baik-baik, maka Allah 'Azza wa Jalla pun memberitahukan bahwa Dia tidak mengharamkan makanan-makanan itu kecuali (pertama) bangkai, yaitu binatang yang mati tanpa disembelih, baik karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk atau diterkam oleh binatang buas.
Dan Allah mengecualikan bangkai hewan laut, berdasarkan firman-Nya, "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut." (QS. Al-Maa-idah: 96) Sebagaimana akan diijelaskan nanti insya Allah. Juga berdasarkan hadits al-'anbar (kisah terdamparnya ikan besar) yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari. (622)
Dalam kitab Musnad, al-Muwaththa' dan Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkenaan dengan laut:
"Laut itu airnya suci dan bangkainya halal." (623)
Imam asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Daraquthni meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu 'Umar secara marfu':
"Dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai dan dua jenis darah, yaitu bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa." (624)
Pembahasan secara rinci akan disebutkan dalam msurat al-Maa-idah, insya Allah.
(Permasalahan)
Yaitu tentang susu dan telur hewan yang sudah mati dan masih menempel padanya, maka hukumnya najis menurut Imam asy-Syafi'i dan selainnya, karena ia merupakan bagian dari bangkai tersebut. Imam Malik mengatakan dalam satu riwayat, "Hukumnya suci, hanya saja ia dihukumi najis karena masih melekat (menempel)."
Demikian pula hukum susu dari unta yang sudah mati. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Namun pendapat yang masyhur di kalangan ulama adalah najis. Mereka membawakan kisah para Sahabat yang memakan keju buatan orang-orang majusi. Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Keju (yang najis dari majusi), yang tercampur dengan susu (yang suci) itu hanya sedikit. Sedangkan sedikit najis, jika bercampur dengan benda cair yang suci dan banyak, maka dimaafkan." (625)
Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Salman radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang minyak samin, keju dan kulit, beliau menjawab:
"Perkara halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan perkara haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam Kitab-Nya. Dan perkara yang tidak disebutkan (didiamkan) termasuk perkara yang dimaafkan." (626)
Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengharamkan (yang kedua) daging babi, baik yang disembelih maupun yang mati dengan sendirinya. Lemak babi termasuk dalam hukum dagingnya, karena keumumannya, atau karena dagingnya mengandung lemak, atau melalui qiyas (analogi) menurut suatu pendapat. Allah Ta'ala juga mengharamkan bagi mereka (yang ketiga) binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, baik itu dengan mengatasnamakan berhala, sekutu, tandingan, dan lain sebagainya, yang dahulu menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyah untuk mempersembahkan kurban kepadanya.
Al-Qurthubi meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa ia pernah ditanya tentang hewan yang disembelih oleh masyarakat non Arab untuk perayaan mereka, kemudian mereka menghadiahkan sebagian dari dagingnya itu kepada kaum muslimin. Maka 'Aisyah pun menjawab, "Apa yang mereka sembelih pada hari itu, maka janganlah kalian memakannya, akan tetapi kalian boleh memakan buah-buahannya." (627)
===
Catatan Kaki:
622. Fat-hul Baari (VI/152). [Al-Bukhari (no. 4361)].
623. Ahmad (V/365), al-Muwaththa' (I/220), Abu Dawud (I/64), Tuhfatul Ahwadzi (I/224), an-Nasa-i (I/50) dan Ibnu Majah (I/136). [Shahih: Ahmad (no. 23484), Abu Dawud (no. 83), at-Tirmidzi (no. 69), an-Nasa-i (no. 59), Ibnu Majah (no. 386). Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 7048)].
624. Tartiib Musnad asy-Syafi'i (II/173), Ahmad (II/97), Ibnu Majah (II/1073) dan ad-Daraquthni (IV/272). [Shahih: Ibnu Majah (no. 3314). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 210)].
625. Al-Qurthubi (II/221).
626. Ibnu Majah (II/1117). [Hasan: Ibnu Majah (no. 3367), Abu Dawud (no. 1710), an-Nasa-i (no. 4958). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 3195)].
627. Al-Qurthubi (II/224).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (2)
Tatkala Allah menganugerahkan rizki dan membimbing mereka agar memakan makanan yang baik-baik, maka Allah 'Azza wa Jalla pun memberitahukan bahwa Dia tidak mengharamkan makanan-makanan itu kecuali (pertama) bangkai, yaitu binatang yang mati tanpa disembelih, baik karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk atau diterkam oleh binatang buas.
Dan Allah mengecualikan bangkai hewan laut, berdasarkan firman-Nya, "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut." (QS. Al-Maa-idah: 96) Sebagaimana akan diijelaskan nanti insya Allah. Juga berdasarkan hadits al-'anbar (kisah terdamparnya ikan besar) yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari. (622)
Dalam kitab Musnad, al-Muwaththa' dan Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkenaan dengan laut:
"Laut itu airnya suci dan bangkainya halal." (623)
Imam asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Daraquthni meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu 'Umar secara marfu':
"Dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai dan dua jenis darah, yaitu bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa." (624)
Pembahasan secara rinci akan disebutkan dalam msurat al-Maa-idah, insya Allah.
(Permasalahan)
Yaitu tentang susu dan telur hewan yang sudah mati dan masih menempel padanya, maka hukumnya najis menurut Imam asy-Syafi'i dan selainnya, karena ia merupakan bagian dari bangkai tersebut. Imam Malik mengatakan dalam satu riwayat, "Hukumnya suci, hanya saja ia dihukumi najis karena masih melekat (menempel)."
Demikian pula hukum susu dari unta yang sudah mati. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Namun pendapat yang masyhur di kalangan ulama adalah najis. Mereka membawakan kisah para Sahabat yang memakan keju buatan orang-orang majusi. Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Keju (yang najis dari majusi), yang tercampur dengan susu (yang suci) itu hanya sedikit. Sedangkan sedikit najis, jika bercampur dengan benda cair yang suci dan banyak, maka dimaafkan." (625)
Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Salman radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang minyak samin, keju dan kulit, beliau menjawab:
"Perkara halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan perkara haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam Kitab-Nya. Dan perkara yang tidak disebutkan (didiamkan) termasuk perkara yang dimaafkan." (626)
Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengharamkan (yang kedua) daging babi, baik yang disembelih maupun yang mati dengan sendirinya. Lemak babi termasuk dalam hukum dagingnya, karena keumumannya, atau karena dagingnya mengandung lemak, atau melalui qiyas (analogi) menurut suatu pendapat. Allah Ta'ala juga mengharamkan bagi mereka (yang ketiga) binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, baik itu dengan mengatasnamakan berhala, sekutu, tandingan, dan lain sebagainya, yang dahulu menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyah untuk mempersembahkan kurban kepadanya.
Al-Qurthubi meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa ia pernah ditanya tentang hewan yang disembelih oleh masyarakat non Arab untuk perayaan mereka, kemudian mereka menghadiahkan sebagian dari dagingnya itu kepada kaum muslimin. Maka 'Aisyah pun menjawab, "Apa yang mereka sembelih pada hari itu, maka janganlah kalian memakannya, akan tetapi kalian boleh memakan buah-buahannya." (627)
===
Catatan Kaki:
622. Fat-hul Baari (VI/152). [Al-Bukhari (no. 4361)].
623. Ahmad (V/365), al-Muwaththa' (I/220), Abu Dawud (I/64), Tuhfatul Ahwadzi (I/224), an-Nasa-i (I/50) dan Ibnu Majah (I/136). [Shahih: Ahmad (no. 23484), Abu Dawud (no. 83), at-Tirmidzi (no. 69), an-Nasa-i (no. 59), Ibnu Majah (no. 386). Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 7048)].
624. Tartiib Musnad asy-Syafi'i (II/173), Ahmad (II/97), Ibnu Majah (II/1073) dan ad-Daraquthni (IV/272). [Shahih: Ibnu Majah (no. 3314). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 210)].
625. Al-Qurthubi (II/221).
626. Ibnu Majah (II/1117). [Hasan: Ibnu Majah (no. 3367), Abu Dawud (no. 1710), an-Nasa-i (no. 4958). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 3195)].
627. Al-Qurthubi (II/224).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. 2:172) Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:173)
PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG BAIK DAN PENJELASAN TENTANG PERKARA-PERKARA HARAM
Firman Allah 'Azza wa Jalla ini memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan makanan yang baik-baik dari sebagian rizki yang telah Dia anugerahkan. Allah pun memerintahkan mereka untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas rizki tersebut jika mereka benar-benar mengaku sebagai hamba-Nya.
Memakan makanan yang halal termasuk salah satu sebab terkabulnya do'a dan diterimanya ibadah, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Wahai manusia, sesuungguhnya Allah itu baik dan Dia tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa-apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman: 'Hai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Mu'minuun: 51) Dan Dia berfirman: 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut yang kusut dan pakaian yang berdebu. Ia membentangkan kedua tangannya ke langit seraya berucap: 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' sementara itu makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana do'anya akan terkabul?'" (620)
Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitab Shahiihnya dan at-Tirmidzi. (621)
===
Catatan Kaki:
620. Ahmad (II/328).
621. Muslim (II/703), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/333). [Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no. 2989)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 172-173
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. 2:172) Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:173)
PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG BAIK DAN PENJELASAN TENTANG PERKARA-PERKARA HARAM
Firman Allah 'Azza wa Jalla ini memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan makanan yang baik-baik dari sebagian rizki yang telah Dia anugerahkan. Allah pun memerintahkan mereka untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas rizki tersebut jika mereka benar-benar mengaku sebagai hamba-Nya.
Memakan makanan yang halal termasuk salah satu sebab terkabulnya do'a dan diterimanya ibadah, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Wahai manusia, sesuungguhnya Allah itu baik dan Dia tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa-apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman: 'Hai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Mu'minuun: 51) Dan Dia berfirman: 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut yang kusut dan pakaian yang berdebu. Ia membentangkan kedua tangannya ke langit seraya berucap: 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' sementara itu makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana do'anya akan terkabul?'" (620)
Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitab Shahiihnya dan at-Tirmidzi. (621)
===
Catatan Kaki:
620. Ahmad (II/328).
621. Muslim (II/703), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/333). [Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no. 2989)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 170-171 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 170-171 (2)
ORANG MUSYRIK ITU SEPERTI HEWAN
Kemudian Allah Ta'ala membuat sesuatu perumpamaan, sebagaimana Dia berfirman, "Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhir mempunyai sifat yang buruk." (QS. An-Nahl: 60)
Dia berfirman: "Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir." Yang dimaksud dengan orang-orang kafir yaitu mereka yang berada dalam kesewenang-wenangan, kesesatan dan kebodohan. Mereka seperti binatang gembalaan yang tidak memahami dan tidak mengerti apa yang diserukan kepadanya. Bahkan, apabila hewan itu diseru oleh penggembalanya kepada sesuatu yang bermanfaat, dia sama sekali tidak memahami ucapan penggembala itu. Binatang itu hanya mendengar suaranya saja. Hal serupa juga diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Abul 'Aliyah, (616) Mujahid, 'Ikrimah, (617) 'Atha' al-Khurasani, (618) al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan ar-Rabi' bin Anas. (619)
Adapun firman Allah, "Mereka tuli, bisu dan buta," yakni mereka tidak dapat mendengar kebenaran, tidak dapat mengatakannya, dan juga tidak dapat melihat jalan menuju kebenaran.
Firman Allah selanjutnya: "(Oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." Artinya, mereka tidak dapat memikirkan dan memahami apa pun.
===
Catatan Kaki:
616. Ibnu Abi Hatim (I/225), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
617. Ibnu Abi Hatim (I/226), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
618. Ibnu Abi Hatim (I/227), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
619. Ibnu Abi Hatim (I/228), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 170-171 (2)
ORANG MUSYRIK ITU SEPERTI HEWAN
Kemudian Allah Ta'ala membuat sesuatu perumpamaan, sebagaimana Dia berfirman, "Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhir mempunyai sifat yang buruk." (QS. An-Nahl: 60)
Dia berfirman: "Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir." Yang dimaksud dengan orang-orang kafir yaitu mereka yang berada dalam kesewenang-wenangan, kesesatan dan kebodohan. Mereka seperti binatang gembalaan yang tidak memahami dan tidak mengerti apa yang diserukan kepadanya. Bahkan, apabila hewan itu diseru oleh penggembalanya kepada sesuatu yang bermanfaat, dia sama sekali tidak memahami ucapan penggembala itu. Binatang itu hanya mendengar suaranya saja. Hal serupa juga diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Abul 'Aliyah, (616) Mujahid, 'Ikrimah, (617) 'Atha' al-Khurasani, (618) al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan ar-Rabi' bin Anas. (619)
Adapun firman Allah, "Mereka tuli, bisu dan buta," yakni mereka tidak dapat mendengar kebenaran, tidak dapat mengatakannya, dan juga tidak dapat melihat jalan menuju kebenaran.
Firman Allah selanjutnya: "(Oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." Artinya, mereka tidak dapat memikirkan dan memahami apa pun.
===
Catatan Kaki:
616. Ibnu Abi Hatim (I/225), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
617. Ibnu Abi Hatim (I/226), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
618. Ibnu Abi Hatim (I/227), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
619. Ibnu Abi Hatim (I/228), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 170-171 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 170-171
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah." Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. 2:170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171)
ORANG MUSYRIK ITU ADALAH TUKANG TAQLID (IKUT-IKUTAN)
Allah Ta'ala menjelaskan bahwa jika dikatakan kepada orang-orang kafir dari kalangan kaum musyrikin, "Ikutilah apa yang telah Allah Ta'ala turunkan kepada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kebodohan yang kalian lakukan." Maka mereka menjawab, "Tidak! Kami hanya akan mengikuti penyembahan yang kami dapati dari nenek moyang kami, yaitu menyembah berhala dan membuat sekut-sekut bagi-Nya."
Lalu Allah Ta'ala mengingkari mereka, seraya berfirman: "Meskipun nenek moyang mereka itu," yaitu orang-orang yang mereka jadikan panutan dan ikutan, "Tidak mengetahui sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?" Maksudnya mereka tidak mempunyai pemahaman dan petunjuk.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang yahudi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak mereka kepada Islam, lalu mereka mengatakan, "(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat ini." (615)
===
Catatan Kaki:
615. Ath-Thabari (III/305).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 170-171
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah." Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. 2:170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171)
ORANG MUSYRIK ITU ADALAH TUKANG TAQLID (IKUT-IKUTAN)
Allah Ta'ala menjelaskan bahwa jika dikatakan kepada orang-orang kafir dari kalangan kaum musyrikin, "Ikutilah apa yang telah Allah Ta'ala turunkan kepada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kebodohan yang kalian lakukan." Maka mereka menjawab, "Tidak! Kami hanya akan mengikuti penyembahan yang kami dapati dari nenek moyang kami, yaitu menyembah berhala dan membuat sekut-sekut bagi-Nya."
Lalu Allah Ta'ala mengingkari mereka, seraya berfirman: "Meskipun nenek moyang mereka itu," yaitu orang-orang yang mereka jadikan panutan dan ikutan, "Tidak mengetahui sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?" Maksudnya mereka tidak mempunyai pemahaman dan petunjuk.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang yahudi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak mereka kepada Islam, lalu mereka mengatakan, "(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat ini." (615)
===
Catatan Kaki:
615. Ath-Thabari (III/305).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 168-169 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 168-169 (2)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu," merupakan peringatan agar menjauhkan diri darinya. Sebagaimana Allah berfirman,
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)
Allah Ta'ala juga berfirman: "Patutkah kamu mengambil dia dan anak keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Kahfi: 50)
Tentang firman-Nya, "Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan," Qatadah dan as-Suddi berkata, "Setiap perbuatan maksiat kepada Allah adalah langkah syaitan." (614)
'Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Sumpah atau nadzar apa pun yang diucapkan dalam keadaan marah, maka itu termasuk langkah-langkah syaitan, dan kaffaratnya adalah kaffarat sumpah."
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." Maksudnya, sesungguhnya musuh kalian, yaitu syaitan, menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan jahat, atau yang lebih berat dari itu, yaitu perbuatan keji seperti zina. Atau bahkan yang lebih berat darinya, yakni mengatakan sesuatu tentang Allah 'Azza wa Jalla tanpa dasar ilmu. Jika demikian, maka setiap orang kafir dan ahlul bid'ah termasuk ke dalam kelompok syaitan (musuh).
===
Catatan Kaki:
614. Ibnu Abi Hatim (I/221), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 168-169 (2)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu," merupakan peringatan agar menjauhkan diri darinya. Sebagaimana Allah berfirman,
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)
Allah Ta'ala juga berfirman: "Patutkah kamu mengambil dia dan anak keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Kahfi: 50)
Tentang firman-Nya, "Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan," Qatadah dan as-Suddi berkata, "Setiap perbuatan maksiat kepada Allah adalah langkah syaitan." (614)
'Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Sumpah atau nadzar apa pun yang diucapkan dalam keadaan marah, maka itu termasuk langkah-langkah syaitan, dan kaffaratnya adalah kaffarat sumpah."
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." Maksudnya, sesungguhnya musuh kalian, yaitu syaitan, menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan jahat, atau yang lebih berat dari itu, yaitu perbuatan keji seperti zina. Atau bahkan yang lebih berat darinya, yakni mengatakan sesuatu tentang Allah 'Azza wa Jalla tanpa dasar ilmu. Jika demikian, maka setiap orang kafir dan ahlul bid'ah termasuk ke dalam kelompok syaitan (musuh).
===
Catatan Kaki:
614. Ibnu Abi Hatim (I/221), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 168-169 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 168-169
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, danjanganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168) Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu bebruat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)
PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG HALAL DAN LARANGAN MENGIKUTI LANGKAH-LANGKAH SYAITAN
Setelah Allah Subhanahhu wa Ta'ala menjelaskan bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia dan bahwasanya Dia sendirilah yang menciptakan seluruh makhluk, maka Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Maha Pemberi rizki bagi seluruh makhluk-Nya. Tentang kedudukan-Nya sebagai Pemberi nikmat, Dia menyebutkan bahwa Dia telah mengizinkan manusia memakan segala yang ada di muka bumi, selagi makanan itu halal dari AAllah dan thayyib. Maksud thayyib adalah baik dan bermanfaat bagi dirinya, serta tidak membahayakan bagi jiwa raganya. Dia pun melarang mereka mengikuti langkah-langkah syaitan, berupa berbagai jalan dan perbuatan syaitan yang menyesatkan para pengikutnya, seperti mengharamkan bahiirah, saa-ibah, washiilah ( * ), dan lain-lain yang ditanamkan syaitan kepada mereka pada masa jahiliyah.
Dijelaskan dalam sebuah ahdits yang tercantum dalam Shahiih Muslim, yang diriwayatkan dari 'Iyadh bin Himar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya setiap harta yang Aku anugerahkan kepada hamba-hamba-ku adalah halal bagi mereka' -dalam hadits ini disebutkan- 'Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku itu cenderung kepada kebenaran (kebaikan), lalu syaitan datang kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.'" (613)
===
Catatan Kaki:
* [Bahiirah: Unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu telinga unta betina itu dibelah, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan air susunya tidak boleh diambil lagi.
Saa-ibah: Unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja karena suatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya saa-ibah jika maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.
Washiilah: Seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.]
613. Muslim (IV/2197). [no. 2865].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 168-169
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, danjanganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168) Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu bebruat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)
PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG HALAL DAN LARANGAN MENGIKUTI LANGKAH-LANGKAH SYAITAN
Setelah Allah Subhanahhu wa Ta'ala menjelaskan bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia dan bahwasanya Dia sendirilah yang menciptakan seluruh makhluk, maka Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Maha Pemberi rizki bagi seluruh makhluk-Nya. Tentang kedudukan-Nya sebagai Pemberi nikmat, Dia menyebutkan bahwa Dia telah mengizinkan manusia memakan segala yang ada di muka bumi, selagi makanan itu halal dari AAllah dan thayyib. Maksud thayyib adalah baik dan bermanfaat bagi dirinya, serta tidak membahayakan bagi jiwa raganya. Dia pun melarang mereka mengikuti langkah-langkah syaitan, berupa berbagai jalan dan perbuatan syaitan yang menyesatkan para pengikutnya, seperti mengharamkan bahiirah, saa-ibah, washiilah ( * ), dan lain-lain yang ditanamkan syaitan kepada mereka pada masa jahiliyah.
Dijelaskan dalam sebuah ahdits yang tercantum dalam Shahiih Muslim, yang diriwayatkan dari 'Iyadh bin Himar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya setiap harta yang Aku anugerahkan kepada hamba-hamba-ku adalah halal bagi mereka' -dalam hadits ini disebutkan- 'Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku itu cenderung kepada kebenaran (kebaikan), lalu syaitan datang kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.'" (613)
===
Catatan Kaki:
* [Bahiirah: Unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu telinga unta betina itu dibelah, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan air susunya tidak boleh diambil lagi.
Saa-ibah: Unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja karena suatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya saa-ibah jika maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.
Washiilah: Seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.]
613. Muslim (IV/2197). [no. 2865].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (5)
Selanjutnya firman Allah Ta'ala dalam ayat ini: "Dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali." Maksudnya, mereka menyaksikan langsung adzab Allah secara nyata, mereka sudah kehabisan akal, serta tidak mendapat tempat dan tebusan untuk menyelamatkan diri dari Neraka.
'Atha' meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "'Dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali.' Yaitu rasa cinta." Ini pun merupakan pendapat Mujahid, dan satu riwayat dari Abu Najih. (612)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: 'Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.'" Artinya, seandainya saja kami dapat kembali ke dunia sehingga kami dapat melepaskan diri dari mereka dan dari penyembahan terhadap mereka, niscaya kami tidak akan pernah menoleh kepada mereka. Tetapi kami akan mengesakan Allah Ta'ala semata dengan beribadah kepada-Nya. Namun mereka berdusta dalam hal itu, bahkan seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali mengerjakan apa yang dilarang itu dan mereka benar-benar berdusta, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah Ta'ala tentang mereka itu.
Oleh karena itu Allah berfirman: "Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka." Yakni, amal perbuatan mereka itu akan sirna dan menghilang, sebagaimana firman-Nya: "Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23)
Allah juga berfirman: "Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu ahri yang berangin kencang." (QS. Ibrahim: 18)
Allah juga berfirman: "Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga." (QS. An-Nuur: 39)
Dia berfirman: "Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka."
===
Catatan Kaki:
612. Ath-Thabari (III/290).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (5)
Selanjutnya firman Allah Ta'ala dalam ayat ini: "Dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali." Maksudnya, mereka menyaksikan langsung adzab Allah secara nyata, mereka sudah kehabisan akal, serta tidak mendapat tempat dan tebusan untuk menyelamatkan diri dari Neraka.
'Atha' meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "'Dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali.' Yaitu rasa cinta." Ini pun merupakan pendapat Mujahid, dan satu riwayat dari Abu Najih. (612)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: 'Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.'" Artinya, seandainya saja kami dapat kembali ke dunia sehingga kami dapat melepaskan diri dari mereka dan dari penyembahan terhadap mereka, niscaya kami tidak akan pernah menoleh kepada mereka. Tetapi kami akan mengesakan Allah Ta'ala semata dengan beribadah kepada-Nya. Namun mereka berdusta dalam hal itu, bahkan seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali mengerjakan apa yang dilarang itu dan mereka benar-benar berdusta, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah Ta'ala tentang mereka itu.
Oleh karena itu Allah berfirman: "Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka." Yakni, amal perbuatan mereka itu akan sirna dan menghilang, sebagaimana firman-Nya: "Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23)
Allah juga berfirman: "Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu ahri yang berangin kencang." (QS. Ibrahim: 18)
Allah juga berfirman: "Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga." (QS. An-Nuur: 39)
Dia berfirman: "Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka."
===
Catatan Kaki:
612. Ath-Thabari (III/290).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (4)
Allah juga berfirman:
"Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zhalim itu di hadapkan kepada Rabb-nya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata orang-orang yang menyombongkan diri: 'Kalau tidaklah karenamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: 'Kamikah yang telah menghalangimu dari petunjuk setelah petunjuk-petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.' Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: '(Tidak), sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekut-sekutu bagi-Nya.' Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Saba': 31-33)
Dan Allah juga berfirman:
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyerumu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. Ibrahim: 22)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (4)
Allah juga berfirman:
"Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zhalim itu di hadapkan kepada Rabb-nya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata orang-orang yang menyombongkan diri: 'Kalau tidaklah karenamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: 'Kamikah yang telah menghalangimu dari petunjuk setelah petunjuk-petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.' Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: '(Tidak), sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekut-sekutu bagi-Nya.' Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Saba': 31-33)
Dan Allah juga berfirman:
"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyerumu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. Ibrahim: 22)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (3)
Dan jin juga berlepas diri dari mereka dan keluar dari penyembahan mereka terhadapnya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
"Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menyembah ilah-ilah selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do'a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), niscaya ilah-ilah itu menjadi musuh mereka dan mengingkari peribadahan mereka." (QS. Al-Ahqaaf: 5-6)
Allah juga berfirman:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu menjadi musuh bagi mereka." (QS. Maryam: 81-82)
Dan al-Khaliil (Ibrahim) berkata kepada kaumnya:
"Dan Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknat sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (QS. Al-'Ankabuut: 25)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (3)
Dan jin juga berlepas diri dari mereka dan keluar dari penyembahan mereka terhadapnya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
"Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menyembah ilah-ilah selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do'a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), niscaya ilah-ilah itu menjadi musuh mereka dan mengingkari peribadahan mereka." (QS. Al-Ahqaaf: 5-6)
Allah juga berfirman:
"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu menjadi musuh bagi mereka." (QS. Maryam: 81-82)
Dan al-Khaliil (Ibrahim) berkata kepada kaumnya:
"Dan Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknat sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (QS. Al-'Ankabuut: 25)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (2)
Firman Allah 'Azza wa Jalla: "Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." Disebabkan kecintaan mereka kepada Allah, kesempurnaan pengetahuan mengenai diri-Nya serta pengesaan mereka kepada-Nya, maka mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebaliknya, mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bertawakkal kepada-Nya, dan mengembalikan segala urusan mereka kepada-Nya.
Kemudian dalam firman Allah 'Azza wa Jalla berikutnya. Dia mengancam orang-orang yang berbuat syirik dan orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan perbuatan syirik tersebut. Allah berfirman: "Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya." Maksudnya, sekiranya mereka mengetahui siksaan yang akan mereka lihat di sana secara nyata, dan apa yang akan ditimpakan kepada mereka berupa adzab yang menakutkan dan mengerikan akibat kemusyrikan dan kekufuran mereka, pasti mereka akan menghentikan kesesatan yang mereka lakukan.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan pengingkaran mereka terhadap berhala-berhala yang dahulu mereka sembah. Allah pun memberitahukan tentang akan berlepas dirinya orang diikuti dari orang-orang yang mengikutinya. Allah berfirman: "(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti melepaskan diri dari orang-orang yang mengikutinya." Maksudnya, para Malaikat yang mereka anggap sebagai sesembahan mereka ketika di dunia, berlepas diri dari mereka, dan para Malaikat itu berkata, "Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada-Mu, mereka sekali-kali tidak menyembah kami." (QS. Al-Qashash: 63)
Dan para Malaikat itu pun berkata, "Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (QS. Saba': 41)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (2)
Firman Allah 'Azza wa Jalla: "Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." Disebabkan kecintaan mereka kepada Allah, kesempurnaan pengetahuan mengenai diri-Nya serta pengesaan mereka kepada-Nya, maka mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebaliknya, mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bertawakkal kepada-Nya, dan mengembalikan segala urusan mereka kepada-Nya.
Kemudian dalam firman Allah 'Azza wa Jalla berikutnya. Dia mengancam orang-orang yang berbuat syirik dan orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan perbuatan syirik tersebut. Allah berfirman: "Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya." Maksudnya, sekiranya mereka mengetahui siksaan yang akan mereka lihat di sana secara nyata, dan apa yang akan ditimpakan kepada mereka berupa adzab yang menakutkan dan mengerikan akibat kemusyrikan dan kekufuran mereka, pasti mereka akan menghentikan kesesatan yang mereka lakukan.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan pengingkaran mereka terhadap berhala-berhala yang dahulu mereka sembah. Allah pun memberitahukan tentang akan berlepas dirinya orang diikuti dari orang-orang yang mengikutinya. Allah berfirman: "(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti melepaskan diri dari orang-orang yang mengikutinya." Maksudnya, para Malaikat yang mereka anggap sebagai sesembahan mereka ketika di dunia, berlepas diri dari mereka, dan para Malaikat itu berkata, "Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada-Mu, mereka sekali-kali tidak menyembah kami." (QS. Al-Qashash: 63)
Dan para Malaikat itu pun berkata, "Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (QS. Saba': 41)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah itu amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165) (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. 2:166) Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka. (QS. 2:167)
KEADAAN ORANG-ORANG MUSYRIK DI DUNIA DAN DI AKHIRAT, DAN ORANG-ORANG YANG DIIKUTI BERLEPAS DIRI DARI ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA PADA HARI KIAMAT
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan keadaan orang-orang musyrik di dunia berikut siksaan yang akan mereka terima di akhirat akibat perbuatan mereka menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah, lalu mereka jadikan sekutu itu sebagai sesembahan selain Allah Ta'ala. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal Dia adalah Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, yang tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya.
Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan bahwa ia pernah bertanya, "Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?" Beliau menjawab,
"Engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu." (611)
===
Catatan Kaki:
611. Fat-hul Baari (VIII/3) dan Muslim (I/90). [Al-Bukhari (no. 4477), Muslim (no. 86)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 165-167
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah itu amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165) (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. 2:166) Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka. (QS. 2:167)
KEADAAN ORANG-ORANG MUSYRIK DI DUNIA DAN DI AKHIRAT, DAN ORANG-ORANG YANG DIIKUTI BERLEPAS DIRI DARI ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA PADA HARI KIAMAT
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan keadaan orang-orang musyrik di dunia berikut siksaan yang akan mereka terima di akhirat akibat perbuatan mereka menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah, lalu mereka jadikan sekutu itu sebagai sesembahan selain Allah Ta'ala. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal Dia adalah Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, yang tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya.
Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan bahwa ia pernah bertanya, "Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?" Beliau menjawab,
"Engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu." (611)
===
Catatan Kaki:
611. Fat-hul Baari (VIII/3) dan Muslim (I/90). [Al-Bukhari (no. 4477), Muslim (no. 86)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 164 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 164 (2)
Selanjutnya: "Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan," dalam berbagai macam bentuk, warna, dan manfaat, kecil dan besar. Dan Dia mengetahui semua itu dan memberikan rizki kepadanya, tidak ada satu pun dari hewan-hewan itu yang tidak terjangkau atau tersembunyi dari-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Huud: 6)
Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "Dan pengisaran angin." Yakni, terkadang angin datang membawa rahmat dan terkadang berhembus membawa bencana. Terkadang datang membawa kabar gembira dengan awan sehingga turun hujan, dan terkadang berhembus dengan membawa pergi awan tersebut. Terkadang mengumpulkannya, dan terkadang mencerai-beraikannya. Terkadang berhembus dari arah utara, sehingga disebut angin utara (asy-Syamiyyah), dan terkadang dari arah selatan. Terkadang angin tersebut membawa hujan yaitu angin timur yang mengenai bagian depan Ka'bah, dan terkadang dari arah belakang yang disebut angin barat, yang menerpa bagian belakang Ka'bah. Beberapa pakar ilmu pengetahuan telah menulis sejumlah buku tentang angin, hujan, bintang-bintang, yang membahas tentang pengaruh dan ketentuan-ketentuannya. Rincian masalah ini terlalu panjang untuk dibahas di sini. Wallaahu a'lam.
"Dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi." Maksudnya yang berarak di antara langit dan bumi, yang diarahkan Allah 'Azza wa Jalla menuju wilayah dan tempat-tempat mana saja yang Dia kehendaki, Dia-lah yang mengendalikannya.
'Sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." Yakni, pada semuanya itu terdapat bukti-bukti nyata yang menunjukkan keesaan Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya,
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.'" (QS. Ali 'Imran: 190-191)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 164 (2)
Selanjutnya: "Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan," dalam berbagai macam bentuk, warna, dan manfaat, kecil dan besar. Dan Dia mengetahui semua itu dan memberikan rizki kepadanya, tidak ada satu pun dari hewan-hewan itu yang tidak terjangkau atau tersembunyi dari-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Huud: 6)
Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "Dan pengisaran angin." Yakni, terkadang angin datang membawa rahmat dan terkadang berhembus membawa bencana. Terkadang datang membawa kabar gembira dengan awan sehingga turun hujan, dan terkadang berhembus dengan membawa pergi awan tersebut. Terkadang mengumpulkannya, dan terkadang mencerai-beraikannya. Terkadang berhembus dari arah utara, sehingga disebut angin utara (asy-Syamiyyah), dan terkadang dari arah selatan. Terkadang angin tersebut membawa hujan yaitu angin timur yang mengenai bagian depan Ka'bah, dan terkadang dari arah belakang yang disebut angin barat, yang menerpa bagian belakang Ka'bah. Beberapa pakar ilmu pengetahuan telah menulis sejumlah buku tentang angin, hujan, bintang-bintang, yang membahas tentang pengaruh dan ketentuan-ketentuannya. Rincian masalah ini terlalu panjang untuk dibahas di sini. Wallaahu a'lam.
"Dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi." Maksudnya yang berarak di antara langit dan bumi, yang diarahkan Allah 'Azza wa Jalla menuju wilayah dan tempat-tempat mana saja yang Dia kehendaki, Dia-lah yang mengendalikannya.
'Sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." Yakni, pada semuanya itu terdapat bukti-bukti nyata yang menunjukkan keesaan Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya,
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.'" (QS. Ali 'Imran: 190-191)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 164 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh, (pada semua itu terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)
DALIL-DALIL TAUHID
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi," yaitu dalam hal ketinggian, kelembutan, dan keluasannya, serta bintang-bintang yang bergerak dan yang diam, juga peredarannya pada orbitnya. Juga dalam ketebalan dan kerendahan bumi, gunung dan laut. Demikian pula kesunyian, kesenyapan dan keramaiannya serta seluruh manfaat yang ada di dalamnya. Di samping itu pergantian siang dan malam, satu pergi dan yang lain datang menggantikannya dengan tidak saling mendahului dan tidak sedikit pun mengalami keterlambatan meski hanya sekejap. Sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Yaasiin: 40)
Terkadang yang satu panjang dan yang lain pendek, dan terkadang yang satu mengambil bagian yang lain, lalu saling menggantikan. Sebagaimana Allah berfirman, "Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam." (QS. Al-Hajj: 61) Artinya, menambahkan malam ke dalam siang, dan siang ke dalam malam.
Selanjutnya firman Allah Ta'ala: "Dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia," artinya Allah Ta'ala menghamparkan laut sehingga bahtera itu dapat berlayar dari satu sisi ke sisi yang lain untuk kepentingan kehidupan manusia dan agar mereka dapat mengambil manfaat dari penduduk suatu daerah dan membawanya ke daerah lain silih berganti.
"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya." Ayat ini serupa dengan ayat:
"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yaasiin: 33-36)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 164
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh, (pada semua itu terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)
DALIL-DALIL TAUHID
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi," yaitu dalam hal ketinggian, kelembutan, dan keluasannya, serta bintang-bintang yang bergerak dan yang diam, juga peredarannya pada orbitnya. Juga dalam ketebalan dan kerendahan bumi, gunung dan laut. Demikian pula kesunyian, kesenyapan dan keramaiannya serta seluruh manfaat yang ada di dalamnya. Di samping itu pergantian siang dan malam, satu pergi dan yang lain datang menggantikannya dengan tidak saling mendahului dan tidak sedikit pun mengalami keterlambatan meski hanya sekejap. Sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Yaasiin: 40)
Terkadang yang satu panjang dan yang lain pendek, dan terkadang yang satu mengambil bagian yang lain, lalu saling menggantikan. Sebagaimana Allah berfirman, "Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam." (QS. Al-Hajj: 61) Artinya, menambahkan malam ke dalam siang, dan siang ke dalam malam.
Selanjutnya firman Allah Ta'ala: "Dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia," artinya Allah Ta'ala menghamparkan laut sehingga bahtera itu dapat berlayar dari satu sisi ke sisi yang lain untuk kepentingan kehidupan manusia dan agar mereka dapat mengambil manfaat dari penduduk suatu daerah dan membawanya ke daerah lain silih berganti.
"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya." Ayat ini serupa dengan ayat:
"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yaasiin: 33-36)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 163 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 163
Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 2:163)
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak diibadahi. Tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya, Dia Maha Esa dan Tunggal, Rabb yang kepada-Nya semua makhluk bergantung, yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, dan Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tentang ar-Rahmaan dan ar-Rahiim telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya awal surat al-Faatihah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat berikut: 'Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.' (QS. Al-Baqarah: 163) dan ayat: 'Alif Laam Miim. Allah, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.' (QS. Ali 'Imran: 1-2)" (610)
Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya dalam Uluhiyyah dengan adanya penciptaan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya, serta berbagai makhluk yang menunjukkan keesaan-Nya. Maka Allah berfirman:
===
Catatan Kaki:
610. Abu Dawud (II/168). [Hasan: Abu Dawud (no. 1496). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 980)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 163
Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 2:163)
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak diibadahi. Tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya, Dia Maha Esa dan Tunggal, Rabb yang kepada-Nya semua makhluk bergantung, yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, dan Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tentang ar-Rahmaan dan ar-Rahiim telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya awal surat al-Faatihah.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,
"Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat berikut: 'Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.' (QS. Al-Baqarah: 163) dan ayat: 'Alif Laam Miim. Allah, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.' (QS. Ali 'Imran: 1-2)" (610)
Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya dalam Uluhiyyah dengan adanya penciptaan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya, serta berbagai makhluk yang menunjukkan keesaan-Nya. Maka Allah berfirman:
===
Catatan Kaki:
610. Abu Dawud (II/168). [Hasan: Abu Dawud (no. 1496). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 980)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 159-162 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162 (2)
BOLEHNYA MELAKNAT ORANG KAFIR
(Pasal) Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal bolehnya melaknat orang-orang kafir.
'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dan para pemimpin setelahnya pernah melaknat orang-orang kafir (secara umum), baik dalam qunut maupun di luar qunut. Adapun laknat terhadap orang kafir tertentu (dengan disebut namanya), maka sekelompok ulama berpendapat bahwa dia tidak boleh dilaknat, karena kita tidak tahu akhir hidup yang bagaimana yang akan Allah Ta'ala tentukan baginya.
Sebaliknya, sebagian lain membolehkan laknat terhadap orang kafir tertentu.
Di dalam kisah seorang yang dibawa ke hadapan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam keadaan mabuk, Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjatuhkan hadd (hukuman/siksa) kepadanya. Lalu seseorang yang berkata, "Semoga Allah melaknatnya, sering sekali ia melakukan hal itu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda,
"Janganlah engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (609)
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mencintai Allah Ta'ala dan Rasul-Nya boleh dilaknat. Wallaahu a'lam.
===
Catatan Kaki:
609. 'Abdurrazzaq (VII/381). [Yang semakna dengan hadits ini, tetapi lafazhnya berbeda diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6780)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162 (2)
BOLEHNYA MELAKNAT ORANG KAFIR
(Pasal) Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal bolehnya melaknat orang-orang kafir.
'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dan para pemimpin setelahnya pernah melaknat orang-orang kafir (secara umum), baik dalam qunut maupun di luar qunut. Adapun laknat terhadap orang kafir tertentu (dengan disebut namanya), maka sekelompok ulama berpendapat bahwa dia tidak boleh dilaknat, karena kita tidak tahu akhir hidup yang bagaimana yang akan Allah Ta'ala tentukan baginya.
Sebaliknya, sebagian lain membolehkan laknat terhadap orang kafir tertentu.
Di dalam kisah seorang yang dibawa ke hadapan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam keadaan mabuk, Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjatuhkan hadd (hukuman/siksa) kepadanya. Lalu seseorang yang berkata, "Semoga Allah melaknatnya, sering sekali ia melakukan hal itu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda,
"Janganlah engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (609)
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mencintai Allah Ta'ala dan Rasul-Nya boleh dilaknat. Wallaahu a'lam.
===
Catatan Kaki:
609. 'Abdurrazzaq (VII/381). [Yang semakna dengan hadits ini, tetapi lafazhnya berbeda diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6780)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 159-162 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat, (QS. 2:159) kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran),maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160) Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. 2:161) Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. 2:162)
LAKNAT YANG TERUS-MENERUS BAGI ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN HUKUM-HUKUM AGAMA
Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang menyembunyikan keterangan yang menjelaskan tujuan-tujuan baik dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati yang dibawa oleh para Rasul-Nya, setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya.
Abu 'Aliyah mengatakan, "Ayat ini turun mengenai ahlul kitab yang menyembunyikan sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (603) Kemudian Allah Ta'ala memberitahukan bahwa mereka dilaknat oleh segala sesuatu akibat perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagaimana seorang ulama dimohonkan ampunan oleh segala sesuatu, bahkan sampai ikan di air dan burung yang terbang di angkasa. Maka sebaliknya, ahlul kitab itu dilaknat oleh Allah dan setiap makhluk yang dapat melaknat.
Telag datang suatu hadits yang tersambung melalui beberapa jalur yang saling memperkuat satu sama lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu namun ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang api Neraka." (604)
Dan dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Seandainya bukan karena ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan sesuatu kepada seseorang." (lalu ia membaca ayat): "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk." (605)
Mujahid mengatakan, "Apabila bumi mengalami masa paceklik, maka hewan-hewan ternak berkata, 'Ini akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Bani Adam. Semoga Allah melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam.'" (606)
Tentang firman Allah 'Azza wa Jalla: "Dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat," Abul 'Aliyah, Rabi' bin Anas, dan Qatadah mengatakan, "Yakni mereka dilaknat oleh para Malaikat dan orang-orang yang beriman." (607) Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Sesungguhnya seorang alim akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga ikan yang berada di lautan." (608)
Dan dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para Malaikat, seluruh manusia, dan juga semua makhluk yang bisa melaknat, yiatu setiap orang yang fasih berbicara Arab atau berbicara 'ajam (non Arab), baik dengan lisaanul maqaal (bahasa lisan) maupun lisaanul haal (bahasa tubuh) atau setiap yang memiliki akal pada hari Kiamat. Wallaahu a'lam.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhususkan orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya, "Kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran)." Maksudnya mereka meninggalkan apa yang telah mereka kerjakan dan memperbaiki amal perbuatan mereka serta menyampaikan kepada manusia apa yang telah mereka sembunyikan: "Maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini mengandung dalil yang menunjukkan bahwa penyeru kepada kekufuran atau bid'ah, jika ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka taubatnya akan diterima.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan tentang orang-orang yang kufur dan terus-menerus berada dalam kekufuran hingga mereka menemui ajalnya, bahwa: "Mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu." Artinya, mereka akan terus-menerus mendapatkan laknat sampai hari Kiamat kelak. Lalu laknat itu menjadi teman setia mereka di Neraka Jahannam. "Tidak akan diringankan siksa dari mereka." Artinya, apa yang mereka rasakan itu tidak akan pernah berkurang, "Tidak (pula) mereka diberi tangguh." Maksudnya, siksa itu tidak akan dialihkan dari mereka meski hanya sekejap saja, akan tetapi siksa itu akan terus-menerus dan berkesinambungan. Na'uudzubillaahi min dzaalik.
===
Catatan Kaki:
603. Ibnu Abi Hatim (I/170), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
604. Ahmad (II/495). [Diriwayatkan dari banyak jalur Sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Anas bin Malik dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum. Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), Ibnu Majah (no. 261). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 120)].
605. Fat-hul Baari (I/258). [Al-Bukhari (no. 118)].
606. Ibnu Abi Hatim (I/175), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
607. Ibnu Abi Hatim (I/174), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
608. [Shahih: Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiihul Jaami' (no. 6297)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat, (QS. 2:159) kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran),maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160) Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. 2:161) Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. 2:162)
LAKNAT YANG TERUS-MENERUS BAGI ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN HUKUM-HUKUM AGAMA
Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang menyembunyikan keterangan yang menjelaskan tujuan-tujuan baik dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati yang dibawa oleh para Rasul-Nya, setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya.
Abu 'Aliyah mengatakan, "Ayat ini turun mengenai ahlul kitab yang menyembunyikan sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (603) Kemudian Allah Ta'ala memberitahukan bahwa mereka dilaknat oleh segala sesuatu akibat perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagaimana seorang ulama dimohonkan ampunan oleh segala sesuatu, bahkan sampai ikan di air dan burung yang terbang di angkasa. Maka sebaliknya, ahlul kitab itu dilaknat oleh Allah dan setiap makhluk yang dapat melaknat.
Telag datang suatu hadits yang tersambung melalui beberapa jalur yang saling memperkuat satu sama lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu namun ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang api Neraka." (604)
Dan dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Seandainya bukan karena ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan sesuatu kepada seseorang." (lalu ia membaca ayat): "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk." (605)
Mujahid mengatakan, "Apabila bumi mengalami masa paceklik, maka hewan-hewan ternak berkata, 'Ini akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Bani Adam. Semoga Allah melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam.'" (606)
Tentang firman Allah 'Azza wa Jalla: "Dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat," Abul 'Aliyah, Rabi' bin Anas, dan Qatadah mengatakan, "Yakni mereka dilaknat oleh para Malaikat dan orang-orang yang beriman." (607) Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Sesungguhnya seorang alim akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga ikan yang berada di lautan." (608)
Dan dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para Malaikat, seluruh manusia, dan juga semua makhluk yang bisa melaknat, yiatu setiap orang yang fasih berbicara Arab atau berbicara 'ajam (non Arab), baik dengan lisaanul maqaal (bahasa lisan) maupun lisaanul haal (bahasa tubuh) atau setiap yang memiliki akal pada hari Kiamat. Wallaahu a'lam.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhususkan orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya, "Kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran)." Maksudnya mereka meninggalkan apa yang telah mereka kerjakan dan memperbaiki amal perbuatan mereka serta menyampaikan kepada manusia apa yang telah mereka sembunyikan: "Maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini mengandung dalil yang menunjukkan bahwa penyeru kepada kekufuran atau bid'ah, jika ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka taubatnya akan diterima.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan tentang orang-orang yang kufur dan terus-menerus berada dalam kekufuran hingga mereka menemui ajalnya, bahwa: "Mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu." Artinya, mereka akan terus-menerus mendapatkan laknat sampai hari Kiamat kelak. Lalu laknat itu menjadi teman setia mereka di Neraka Jahannam. "Tidak akan diringankan siksa dari mereka." Artinya, apa yang mereka rasakan itu tidak akan pernah berkurang, "Tidak (pula) mereka diberi tangguh." Maksudnya, siksa itu tidak akan dialihkan dari mereka meski hanya sekejap saja, akan tetapi siksa itu akan terus-menerus dan berkesinambungan. Na'uudzubillaahi min dzaalik.
===
Catatan Kaki:
603. Ibnu Abi Hatim (I/170), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
604. Ahmad (II/495). [Diriwayatkan dari banyak jalur Sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Anas bin Malik dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum. Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), Ibnu Majah (no. 261). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 120)].
605. Fat-hul Baari (I/258). [Al-Bukhari (no. 118)].
606. Ibnu Abi Hatim (I/175), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
607. Ibnu Abi Hatim (I/174), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
608. [Shahih: Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiihul Jaami' (no. 6297)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 158 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158 (2)
HUKUM SA'I DAN ASALNYA
Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan thawaf di Baitullah, beliau kembali ke rukun (Hajar Aswad), lalu mengusapnya. Kemudian beliau keluar melalui pintu Shafa sambil mengucapkan, "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah." Selanjutnya beliau bersabda,
"Aku memulai dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah."
Dan dalam riwayat an-Nasa-i disebutkan:
"Mulailah kalian dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah." (600)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Habibah binti Abi Tajrah, ia mengatakan: "Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, sedangkan orang-orang berada di hadapan beliau, dan beliau berada di belakang mereka. Beliau berlari-lari kecil sehingga karena sangatnya, aku dapat melihat kedua lutut beliau dililit oleh kainnya. Beliau pun bersabda,
"Kerjakanlah sa'i karena Allah Ta'ala telah mewajibkan sa'i atas kalian." (601)
Hadits ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji (sehingga haji menjadi tidak sah apabila meninggalkannya, -pent).
Pendapat lain mengatakan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah itu merupakan suatu kewajiban, bukan rukun. Karena itu barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja atau dalam keadaan lalai (hajinya tetap sah), namun ia harus menggantinya dengan membayar dam (denda).
Ada juga yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan suatu amalan mustahabb (perkara yang dianjurkan).
Dan yang benar, sa'i di antara keduanya adalah rukun atau wajib dalam haji. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu syi'ar-Nya, dan termasuk sesuatu yang disyari'atkan kepada Ibrahim 'alaihis salam dalam menunaikan ibadah haji.
Dan telah dikemukakan sebelumnya dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa asal-usul sa'i didasarkan pada peristiwa Hajar yang berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa dan Marwah dalam rangka mencari air untuk puteranya setelah air dan bekal keduanya sudah habis. Yaitu ketika Ibrahim 'alaihis salam meninggalkan keduanya di sana, sedang di tempat itu tidak ada seorang pun. maka ketika Hajar mengkhawatirkan keadaan puteranya dan perbekalan pun telah habis, ia berdiri mencari pertolongan dari Allah. Ia berjalan bolak-balik di tanah suci antara bukit Shafa dan bukit Marwah, dengan perasaan tunduk, takut dan khawatir serta memohon kepada Allah. Akhirnya, Allah melepaskan kesulitannya, menghilangkan kesepiannya dan memudahkan kesusahannya. Allah Ta'ala memancarkan air zam-zam untuk keduanya. Air yang merupakan makanan yang dapat mengenyangkan, dan obat bagi penyakit.
Orang yang sedang mengerjakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah hendaklah menghadirkan rasa tunduk, hina, dan sangat butuh kepada-Nya. Hal ini untuk meraih petunjuk bagi hatinya, kebaikan bagi keadaannya, dan pengampunan bagi dosa-dosanya. Juga hendaklah ia segera berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam rangka membersihkan dirinya dari berbagai kekurangan dan aib. Di samping itu, hendaklah ia memohon agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus dan ditetapkan di atasnya sampai ajal menjemput, serta dialihkan keadaannya yang penuh dosa dan maksiat kepada keadaan yang penuh kesempurnaan, ampunan, kelurusan dan keistiqamahan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Hajar 'alaihas salam.
Dan firman-Nya, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan dengan kerelaan hati," ada yang mengatakan, maksudnya menambahkan jumlah putaran sa'i dari jumlah yang wajib, menjadi 8 atau 9 putaran atau lebih dari itu. Ada juga yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada saat mengerjakan haji tathawwu' atau umrah tathawwu' (tidak wajib).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tathawwa'a khairan itu berlaku dalam setiap ibadah, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi yang dinisbatkan kepada al-Hasan al-Bashri. (602) Wallaahu a'lam.
Dan firman Allah, "Maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." Yakni, Dia akan memberikan pahala yang banyak atas amal yang sedikit, dan Dia Maha Mengetahui kadar pahala, sehingga Dia tidak akan mengurangi pahala seseorang dan tidak akan menzhaliminya, walaupun hanya sebesar dzarrah. Dan jika ada kabajikan, meskipun sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya. Dia akan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
===
Catatan Kaki:
600. Muslim (II/886) dan an-Nasa-i (V/239). [Lafazh pertama adalah shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218). Sedangkan lafazh kedua adalah lafazh yang syadzdz (ganjil), sehingga Syaikh al-Albani rahimahullah mendha'ifkannya dalam kitab Dha'iiful Jaami' (no. 36)].
601. Ahmad (VI/421). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 968)].
602. Ar-Razi (IV/146).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158 (2)
HUKUM SA'I DAN ASALNYA
Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan thawaf di Baitullah, beliau kembali ke rukun (Hajar Aswad), lalu mengusapnya. Kemudian beliau keluar melalui pintu Shafa sambil mengucapkan, "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah." Selanjutnya beliau bersabda,
"Aku memulai dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah."
Dan dalam riwayat an-Nasa-i disebutkan:
"Mulailah kalian dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah." (600)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Habibah binti Abi Tajrah, ia mengatakan: "Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, sedangkan orang-orang berada di hadapan beliau, dan beliau berada di belakang mereka. Beliau berlari-lari kecil sehingga karena sangatnya, aku dapat melihat kedua lutut beliau dililit oleh kainnya. Beliau pun bersabda,
"Kerjakanlah sa'i karena Allah Ta'ala telah mewajibkan sa'i atas kalian." (601)
Hadits ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji (sehingga haji menjadi tidak sah apabila meninggalkannya, -pent).
Pendapat lain mengatakan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah itu merupakan suatu kewajiban, bukan rukun. Karena itu barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja atau dalam keadaan lalai (hajinya tetap sah), namun ia harus menggantinya dengan membayar dam (denda).
Ada juga yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan suatu amalan mustahabb (perkara yang dianjurkan).
Dan yang benar, sa'i di antara keduanya adalah rukun atau wajib dalam haji. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu syi'ar-Nya, dan termasuk sesuatu yang disyari'atkan kepada Ibrahim 'alaihis salam dalam menunaikan ibadah haji.
Dan telah dikemukakan sebelumnya dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa asal-usul sa'i didasarkan pada peristiwa Hajar yang berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa dan Marwah dalam rangka mencari air untuk puteranya setelah air dan bekal keduanya sudah habis. Yaitu ketika Ibrahim 'alaihis salam meninggalkan keduanya di sana, sedang di tempat itu tidak ada seorang pun. maka ketika Hajar mengkhawatirkan keadaan puteranya dan perbekalan pun telah habis, ia berdiri mencari pertolongan dari Allah. Ia berjalan bolak-balik di tanah suci antara bukit Shafa dan bukit Marwah, dengan perasaan tunduk, takut dan khawatir serta memohon kepada Allah. Akhirnya, Allah melepaskan kesulitannya, menghilangkan kesepiannya dan memudahkan kesusahannya. Allah Ta'ala memancarkan air zam-zam untuk keduanya. Air yang merupakan makanan yang dapat mengenyangkan, dan obat bagi penyakit.
Orang yang sedang mengerjakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah hendaklah menghadirkan rasa tunduk, hina, dan sangat butuh kepada-Nya. Hal ini untuk meraih petunjuk bagi hatinya, kebaikan bagi keadaannya, dan pengampunan bagi dosa-dosanya. Juga hendaklah ia segera berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam rangka membersihkan dirinya dari berbagai kekurangan dan aib. Di samping itu, hendaklah ia memohon agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus dan ditetapkan di atasnya sampai ajal menjemput, serta dialihkan keadaannya yang penuh dosa dan maksiat kepada keadaan yang penuh kesempurnaan, ampunan, kelurusan dan keistiqamahan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Hajar 'alaihas salam.
Dan firman-Nya, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan dengan kerelaan hati," ada yang mengatakan, maksudnya menambahkan jumlah putaran sa'i dari jumlah yang wajib, menjadi 8 atau 9 putaran atau lebih dari itu. Ada juga yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada saat mengerjakan haji tathawwu' atau umrah tathawwu' (tidak wajib).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tathawwa'a khairan itu berlaku dalam setiap ibadah, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi yang dinisbatkan kepada al-Hasan al-Bashri. (602) Wallaahu a'lam.
Dan firman Allah, "Maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." Yakni, Dia akan memberikan pahala yang banyak atas amal yang sedikit, dan Dia Maha Mengetahui kadar pahala, sehingga Dia tidak akan mengurangi pahala seseorang dan tidak akan menzhaliminya, walaupun hanya sebesar dzarrah. Dan jika ada kabajikan, meskipun sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya. Dia akan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
===
Catatan Kaki:
600. Muslim (II/886) dan an-Nasa-i (V/239). [Lafazh pertama adalah shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218). Sedangkan lafazh kedua adalah lafazh yang syadzdz (ganjil), sehingga Syaikh al-Albani rahimahullah mendha'ifkannya dalam kitab Dha'iiful Jaami' (no. 36)].
601. Ahmad (VI/421). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 968)].
602. Ar-Razi (IV/146).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 158 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158
Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:158)
MAKNA "TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG YANG MENGERJAKAN SA'I ANTARA SHAFA DAN MARWAH"
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia bertanya (kepada 'Urwah), "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." Maka aku ('Urwah) katakan: "Demi Allah, tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah pun berkata, "Wahai anak saudara perempuanku, buruk sekali apa yang engkau katakan ini. Seandainya benar penafsiranmu itu, maka tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i antara keduanya. Tetapi ayat itu diturunkan berkenaan dengan kaum Anshar yang sebelum masuk Islam berkurban dengan berteriak menyebut nama berhala Manat yang mereka sembah di Musyallal. Dan orang-orang yang berkurban dengan berteriak untuknya itu merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Mereka pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ya Rasululllah, kami merasa bersalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliyah, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah berkata, "Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mensyari'atkan sa'i di antara Shafa dan Marwah, dan tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk meninggalkan sa'i di antara keduanya." (597) Hadist ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahiih keduanya. (598)
Dalam riwayat lain dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku sampaikan hadits ini kepada Abu Bakar bin 'Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam. Maka ia berkata, "Sungguh ilmu ini tidak pernah aku dengar sebelumnya. AAku pernah mendengar beberapa orang ahli ilmu mengatakan bahwa orang-orang -selain yang disebutkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Sesungguhnya sa'ia kita antara dua bukit ini termasuk tradisi jahiliyah."
Beberapa orang lainnya dari kaum Anshar mengatakan, "Kita hanya diperintah untuk mengerjakan thawaf di Baitullah, dan kita tidak diperintahkan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah."
Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah."
Abu Bakar bin 'Abdirrahman berkata, "Kemungkinan ayat ini turun berkenaan dengan kedua belah pihak tadi." (599)
Al-Bukhari telah meriwayatkan yang semakna dengannya dari Anas.
Asy-Sya'bi berkata, "Dahulu berhala Isaf terletak di bukit Shafa dan berhala Na-ilah di bukit Marwah. Mereka biasanya memberi hormat kepada berhala-berhala itu. Lalu mereka merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah masuk Islam. Maka turunlah ayat tersebut.
===
Catatan Kaki:
597. Ahmad (VI/144).
598. [Al-Bukhari (no. 1643), Muslim (no. 1277)].
599. Fat-hul Baari (III/581) dan Muslim (II/929). [Al-Bukhari (no. 1643, 4861), Muslim (no. 1277)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158
Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:158)
MAKNA "TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG YANG MENGERJAKAN SA'I ANTARA SHAFA DAN MARWAH"
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia bertanya (kepada 'Urwah), "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." Maka aku ('Urwah) katakan: "Demi Allah, tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah pun berkata, "Wahai anak saudara perempuanku, buruk sekali apa yang engkau katakan ini. Seandainya benar penafsiranmu itu, maka tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i antara keduanya. Tetapi ayat itu diturunkan berkenaan dengan kaum Anshar yang sebelum masuk Islam berkurban dengan berteriak menyebut nama berhala Manat yang mereka sembah di Musyallal. Dan orang-orang yang berkurban dengan berteriak untuknya itu merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Mereka pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ya Rasululllah, kami merasa bersalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliyah, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah berkata, "Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mensyari'atkan sa'i di antara Shafa dan Marwah, dan tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk meninggalkan sa'i di antara keduanya." (597) Hadist ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahiih keduanya. (598)
Dalam riwayat lain dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku sampaikan hadits ini kepada Abu Bakar bin 'Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam. Maka ia berkata, "Sungguh ilmu ini tidak pernah aku dengar sebelumnya. AAku pernah mendengar beberapa orang ahli ilmu mengatakan bahwa orang-orang -selain yang disebutkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Sesungguhnya sa'ia kita antara dua bukit ini termasuk tradisi jahiliyah."
Beberapa orang lainnya dari kaum Anshar mengatakan, "Kita hanya diperintah untuk mengerjakan thawaf di Baitullah, dan kita tidak diperintahkan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah."
Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah."
Abu Bakar bin 'Abdirrahman berkata, "Kemungkinan ayat ini turun berkenaan dengan kedua belah pihak tadi." (599)
Al-Bukhari telah meriwayatkan yang semakna dengannya dari Anas.
Asy-Sya'bi berkata, "Dahulu berhala Isaf terletak di bukit Shafa dan berhala Na-ilah di bukit Marwah. Mereka biasanya memberi hormat kepada berhala-berhala itu. Lalu mereka merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah masuk Islam. Maka turunlah ayat tersebut.
===
Catatan Kaki:
597. Ahmad (VI/144).
598. [Al-Bukhari (no. 1643), Muslim (no. 1277)].
599. Fat-hul Baari (III/581) dan Muslim (II/929). [Al-Bukhari (no. 1643, 4861), Muslim (no. 1277)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Subscribe to:
Posts (Atom)