Muqaddimah (13) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Sebagai contoh ucapannya pada (II/285): "Di sini kai -dengan terpaksa- menghilangkan sejumlah paragraf yang kurang patut atau tidak layak..." Dan yang lebih mengherankan -sebagaimana yang saya ketahui-, ia berani menghilangkan empat lembar yang termasuk pada jilid dua, yaitu halaman 98, 99, 101 dan 102.
Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui beragam orang yang mengaku sebagai ahli ilmu di zaman ini. Akan tetapi saya belum pernah menemukan orang seberani, sebodoh dan sebangga diri si al-Fahim ini. Sekiranya kenyataannya ia tidak demikian, maka katakan padaku Demi Rabb-mu, 'bagaimana ia membolehkan dirinya melakukan tindakan buruk yang mencederai kode etik penulisan ilmiah terhadap buku Imam al-Hafizh Ibnu Katsir, dengan menambahkan sejumlah sub judul terhadapnya dan bahkan membuang sejumlah halaman, juga menghukumi dha'if sejumlah hadits shahih yang termuat di dalamnya, atau merubah maknanya dengan berdalih melakukan takwil terhadapnya dan agar makna lahirnya kelihatan logis.
Demi Allah, saya tidak dapat mengerti bagaimana penerbit dapat begitu tertarik terhadap buku ini? Dalam pengantar penerbit disebutkan: "Penelitian mendalam serta studi keotentikan (tahqiq) -alhamdulillaah dengan taufiq dari Allah- telah dilakukan oleh Syaikh Muhammad al-Fahim Abu 'Ubayyah salah seorang ulaam al-Azhar yang mulia, dan beliau... dan seterusnya. Beliau telah mencurahkan segala usaha dan jerih payahnya sehingga dapat membersihkan buku tersebut dari kesalahan-kesalahan kebahasaan dan kesalahan (atau penyimpangan) yang banyak dalam nama-nama (al-A'laam) yang tersebut di dalamnya, juga membetulkan sejumlah teks yang ada.
Demi Allah, sangat mengherankan, orang seperti al-Fahim disifati dengan sifat-sifat demikian. Padahal -kalau mau jujur- di dalam bukunya terdapat ratusan bukti yang menunjukkan bahwa -sebenarnya- ia tidak sebagaimana yang disifatkan. Sebenarnya ia telah melakukan banyak kesalahan pada teks-teks tulisannya, kesalahan-kesalahan kebahasaan, juga penyimpangan-penyimpangan meski dalam satu halaman saja (padahal negara Saudi Arabia telah banyak berbaik sangka terhadap ulama-ulama al-Azhar seperti dia).
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (12) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Menurut hemat al-Fahim ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sepertinya tidak boleh atau tidak selayaknya berbicara tentang perkara ghaib, yang mana bagi akal tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya. Dengan demikian iman kepada hal ghaib (yang merupakan sikap membenarkan) tidak ada wujudnya dalam dirinya.
Menyikapi hadits tentang akan diadzabnya orang-orang yang menggambar (makhluk hidup) (II/50), ia memberiakn sub judul terhadapnya: "'Adzaabul Mushawwiriin al-Mujassimiin Yaumal Qiyaamah."
Pendek kata, sub-sub judul yang dibuat sendiri oleh 'al-Fahim' di sejumlah tempat dalam buku tersebut (buku Ibnu Katsir) -padahal yang demikian ini bertentangan dengan kode etik penulisan ilmiah-, di samping hal ini menunjukkan sejauh mana kedalaman ilmu yang dimilikinya, juga mengakibatkan kerugian bagi penerbit baik secara materi maupun immateri. Sebab studi Ta'liqnya telah mengubah rambu-rambu buku tersebut dan menjadikannya tampil sebagai buku lain (yang bukan lagi seperti buku karya Ibnu Katsir).
Andai saja arogansi al-Fahim terhadap kitab Ibnu Katsir hanya sampai di situ, -ternyata tidak- bahkan lebih dari itu, ia berani membuang banyak kalimat Ibnu Katsir dan hadits-hadits hasil riwayatnya yang tidak sesuai atau sulit diterima oleh logikanya. Dan itulah yang ia sebutkan di awal-awal bukunya. Ia berkata: "...bahkan kami -dengan terpaksa- menghilangkan sebagian riwayat yang oleh penulis (Ibnu Katsir) disebutkan dalam bukunya lantaran makna yang dikandungnya tidak sesuai dengan kesimpulan akal atau tidak sejalan dengan nilai-nilai agama."
Orang yang membaca karya ta'lilqnya akan mendapati -di sejumlah halaman yang ada- bahwa ia telah membuang sejumlah riwayat semaunya sendiri dengan tanpa menyebutkan kalimat-kalimat yang dibuangnya, yang semestinya diketahui oleh pembaca sebagai bentuk tanggung jawab ilmiahnya. Ini pun sekiranya membuang kalimat-kalimat karya orang lain itu boleh.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (11) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Sungguh ia telah melakukan hal yang sangat tidak patut -dalam buku ta'liqnya terhadap buku yang disebut di atas (buku Ibnu Katsir0 baik terhadap penulis dan bukunya di satu sisi, atau bahkan terhadap hadits Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) pada sisi lain. Yang ini menunjukkan kejahilannya. Sebab ia berani menilai dha'if -dengan pasti- hadits-hadits yang shahih, dikarenakan hatinya merasa sulit untuk dapat menerimanya (secara apa adanya) padahal sikap seperti itu belum pernah dilakukan oleh ahli ilmu sebelumnya. Sebagai misal hadits tentang al-Jasasah. Lihat bukunya pada halaman 6, 96, 101, padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim. Juga hadits tentang al-Mahdi pada halaman 37, ia tidak mempedulikan status shahih yang diberikan oleh Ibnu Katsir terhadap sebagian hadits tentang hal itu.
Adapun sikap buruknya terhadap buku berikut penulisnya (Ibnu Katsir), dalam buku tersebut ia memberikan sub-sub judul sendiri tanpa memberikan catatan bahwa itu kreasi darinya dan bukan dari penulis asli (Ibnu Katsir), dan sebagiannya ditulis dengan metodologi penulisan yang tidak sesuai dengan yang digunakan oleh Ibnu Katsir yang diakui sebagai salah seorang imam dalam bidang hadits yang mengimani nash-nash hadits yang berkaitan dengan tanda-tanda datangnya hari Kiamat dengan tanpa melakukan takwil padanya yang mana (takwil) tersebut telah biasa dilakukan oleh orang-orang ahli bid'ah dari kalangan kelomppok mu'tazilah dan lainnya. Padahal Syaikh al-Fahim dalam buku Ta'liqatnya telah menjelaskan bahwa dirinya -dalam menulis bukunya- mengikuti langkah dan metodologi yang digunakan mereka.
Berikut contoh bahwa ia membuat sub judul sendiri dalam buku ta'liqatnya. Pada halaman 116 ia memberi sub judul "Hadiitsun Yajibu Sharfuhuu 'an zhaahirihii ilat Takwiil" (Hadits yang semestinya dipahami dengan jalan takwil). Sub tersebut ditempatkan di atas hadits riwayat Muslim yang menerangkan bahwasanya dajjal nanti akan membunuh seorang mukmin lalu mampu menghidupkannya kembali (Lihat potongan hadits: 17 dan 18 Abu Umamah). Begitu pula sub judul yang lain, ia menuliskan sub judul pada hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad yang sebagiannya terdapat dalam Shahih al-Bukhari, ia menuliskan pada halaman 104 "Marwiyyaatun Marfuudhatun Liannahaa laa Tushaddaqu 'Aqlan walaitsa bima'quulin Shuduuruhaa 'Anirrasuuli shallallahu 'alaihi wa sallam" (Hadits-hadits yang tertolak, sebab sulit diterima akal, dan rasanya tidak logis ungkapan-ungkapan itu diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (10) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Imam al-Hafizh Ibnu Hajar dalam 'Fat-hul Baari'nya berkata, Imam an-Nawawi berkata: "Pemahaman yang benar -sebagaimana pendapat para Muhaqqiqun (para peneliti)- yang dimaksud 'al-Kitabah' di sini adalah benar-benar tulisan. Allah telah menjadikannya sebagai bukti yang tak terbantahkan tentang kedustaan dajjal. Allah memperlihatkan 'tulisan' tersebut bagi orang-orang beriman, sedang Dia menampakkannya atas orang-orang yang Allah kehendaki sengsara atas mereka."
Imam al-Hafizh Ibnu Hajar juga berkata: "Al-Qadhi 'Iyadh meriwayatkan pendapat (pemahaman) yang berbeda bahwa sebagian mereka berkata: 'Itu merupakan ungkapan 'Majaz' (metaforis) tentang tanda-tanda apa yang terjadi padanya.' Namun ini merupakan pendapat yang lemah."
Kemudian si al-Fahim tidak cukup hanya memilih dan menguatkan model takwil yang bathil seperti di atas, bahkan ia memastikan pemahaman seperti itulah yang benar menurutnya sesudah mengulasnya dalam sejumlah halaman. Ia berkata di halaman 118 dari bukunya dalam sub judul "Perbedaan Pendapat Tentang Hadits-hadits Mengenai Tempat Munculnya dajjal..." Dan dia mengindikasikan bahwa yang dimaksud dajjal di dalamnya adalah simbol tentang keburukan dan kerusakan yang telah melanda seluruh masyarakat..." Pendapat itulah yang ia kuatkan dan pegangi di dalam buku yang ditulisnya. Lihatlah pada halaman 6, ia berkata: "Kami sependapat dengan mereka yang menyatakan bahwa maksud 'munculnya al-Mahdy dan 'Isa 'alaihis salam' merupakan simbol dan pertanda atas kemenangan kebaikan melawan keburukan (bukan berarti muncul sebenarnya). Dajjal sebagai perlambang dominannya fitnah dan kesesatan untuk beberapa masa..."!
Saya berkata: 'Al-Fahim di sini sebagai ketua utusan dari pihak Universitas al-Azhar yang mulia di Libanon, sebagaimana itu tertulis di bawah namanya di bagian sampul buku."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (9) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Sesudah itu, Allah kemudian menjadikannya lemah, sehingga tidak mampu membunuh orang laki-laki dan tidak pula selainnya. Kemudian Allah menghabisi peran dan segala kelebihannya, lalu dapat dibunuh oleh 'Isa. Sebagian kelompok khawarij, mu'tazilah dan al-jahmiyyah tidak menerima keyakinan seperti ini. Mereka mengingkari adanya dajjal bahkan menolak haidts-hadits shahih tentangnya.
Saya (al-Albani) berkata: "Dan pendapat ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh al-Fahim al-Azhary dan sebagian guru-gurunya -yang mengikuti langkah pendahulu mereka dari kalangan khawarij, mu'tazilah dan terakhir al-qadaaniyyah sebagaimana telah disinggung di muka- yang ada kalanya dengan meragukan keshahihan hadits-hadits yang ada dengan mengatakan bahwa hadits-hadits itu ahad, sebagaimana yang dilakukan Syaikh Mahmud Syaltut dalam sebagian artikel ilmiahnya, yang mengikuti langkah Syaikh Muhammad 'Abduh sebagaimana disebut di muka. Adakalanya pula dengan melakukan takwil dan ta'thil (memberikan pemahaman tidak sebagaimana yang tersurat) sebagaimana yang dilakukan oleh al-Fahim al-Azhari tadi. Meski di situ ia hanya sebatas memaparkan adanya dua pendpat -sesuai klaimnya- dan tidak memiliki sikap yang jelas terhadap keduanya, yang sesungguhnya ia melakukan semua itu untuk mengaburkan dan mengelabui para pembaca sekalian, juga mengkondisikan mereka secara psikologis agar membenarkan apa yang hendak ia pilih nanti. Simaklah ucapannya dalam ta'liq (komentar)nya atas potongan hadits berikut (12 Abu Umamah), 'Yaqra-uhu Kullu Mukminin Kaatibin wa Ghairi Kaatibin.' Para ulama berbeda pendapat tentang maksud al-Kitabah (tulisan) dalam hadits ini, apakah dimaknai dengan makna aslinya, ataukah ia merupakan kata 'kiasan' untuk makna tanda-tanda yang menunjukkan pemiliknya? Dan bahwasanya makna 'al-Qira'ah' di sini adalah dengan kemunculan tanda-tanda itu, jiwa yang beriman dapat menangkap hakikat sebenarnya tanpa ada keraguan... dan boleh jadi 'takwil' yang demikianlah yang lebih mendekati makna yang dimaksud dan lebih selamat." Begitulah al-Fahim berkata tentang itu sambil berpura-pura tidak mengetahui pendapat Imam an-Nawawi tentang itu dan ulama lain, yang mana pendapat mereka berlawanan dengan makna yang dipilihnya (al-Fahim al-Azhari).
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (8) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Dan begitu pula pendpat yang dikatakan tentang dajjal. Apakah ia seseorang (manusia) yang memiliki daging dan darah, yang menyebarkan kerusakan, meneror hamba-hamba Allah, dan memiliki sarana-sarana bujukan dan ancaman serta berbuat kerusakan sehingga (Allah) mendatangkan Nabi 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya? Atau dajjal adalah simbol siatuasi dimana keburukan begitu merajalela, fitnah melanda di mana-mana, serta hasrat umat kepada nilai-nilaikeutamaan sudah melemah, lalu berhembuslah angin kebaikan tersebut menghapus segala bentuk keburukan di atas, lalu menggiring manusia menuju kebaikan, nilai-nilai keadilan serta berpegang teguh kepada ajaran agama secara baik.
Saya (al-Albani) berkata: "Saudara 'al-Fahim al-Azhari' ini tidak hanya melakukan ta'thil (menafikan) nash-nash hadits dan menakwilkannya -dengan memahaminya sebagai 'simbol' dan pertanda, yang itu merupakan madzhab yang dianut kelompok 'al-Bathiniyyah' sebagaimana diketahui dari cerita Sayyid Rasyid Ridha di muka-, bahkan ia mengesankan kepada pembaca bahwa cara takwil demikian, merupakan pendapat yang dianut sebagian kelompok ulama sebagai lawan dari pendapat pertama (pemahaman secara tekstual). Sebenarnya, pendapat yang ia katakan tersebut tak seorang pun dari ahli ilmu dari kalangan Ahli Hadits dan Sunnah yang melontarkannya. Yang benar, pendapat tersebut adalah pendapat sebagian orang dari kelompok khawarij dan mu'tazilah, dari kelompok-kelompok sesat.
Al-Qadhi 'Iyadh berkata: 'Di dalam hadits-hadits -sebagaimana dimaksud di atas- terdapat hujjah bagi kalangan 'Ahlus Sunnah' tentang kebenaran wujudnya dajjal yang bahwasanya dia adalah seseorang tertentu yang mana Allah menjadikannya sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Dia memberinya sejumlah kemampuan; menghidupkan mayit yang telah ia bunuh (alinea ke 17, dan 18 dari redaksi Abu Umamah), merubah lahan-lahan menjadi subur, menampakkan sungai-sungai, Surga dan Neraka. Simpanan-simpanan kekayaan bumi turut padanya, ia mampu menyuruh langit sehingga menurunkan hujan dan bumi sehingga menumbuhkan sejumlah tanaman (alinea 19-21 -Abu Umamah, sebagaimana redaksinya). Itu semua atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (7) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Saya (Nashiruddin al-Albani) berkata: "Jika demikian, apa perbedaan takwil kelompok al-Bathiniyyah terhadap ayat al-Qur-an, dengan takwil kelompok al-Qaadiyaaniyyah serta Muhammad Abduh dan pengikutnya terhadap hadits-hadits tentang turunnya 'Isa dan munculnya dajjal dengan model takwil yang jelas-jelas bathil sebagaimana disebutkan di muka? Lalu mengapa Sayyid Muhammad Rasyid Ridha juga berdiam diri terhadapnya (membiarkannya) bahkan memberikan takwil baru atas model takwil mereka itu, yaitu bahwa hadits-hadits tersebut diriwayatkan secara maknanya? Sekiranya demikian, apakah itu kemudian mengesampingkan dan menolak riwayat yang shahih yang diriwayatkan secara makna oleh para Sahabat, dan bahkan secara mutawatir dari mereka?
Sebagai misal, jika ada riwayat yang mutawatir dari para Sahabat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengharamkan sesuatu, misalnya daging keledai yang dipelihara di rumah-rumah. Ini tentu bentuk periwayatan secara makna. Apakah dengan demikian, makna yang mereka riwayatkan tersebut semestinya ditolak dengan menggunakan salah satu bentuk takwil, sehingga seakan-akan larangan itu tidak pernah datang dari Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali? Sungguh, ini adalah kesesatan yang nyata. Kita memohon kepada Allah agar memelihara kita dari perbuatan demikian.
Berikut contoh lain dari 'penakwilan' terhadap teks yang menghinggapi sebagian penulis masa kini alumni al-Azhar. Syaikh Muhammad Fahim Abu 'Ubayyah berkata dalam bukunya ketika mengomentari kitab 'Nihaayatul Bidaayah wan Nihaayah' juz 1 halaman 71: "Apakah 'Isa 'alaihis salam masih hidup hingga kini, kemudian akan turun ke bumi untuk kemudian melakukan pembaruan terhadap dakwah kepada Allah secara sendirian? Ataukah maksud dari 'turunnya 'Isa 'alaihis salam' adalah menangnya agama yang haq dan menyebarnya kembali agama tersebut, yang disampaikan oleh orang-orang yang sangat ikhlas bekerja untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk perbuatan buruk dan dosa? Dalam hal ini ada dua pendapat. Masing-masing didukung oleh sekelompok ulama.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (6) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Anehnya, pendapat atau penakwilan semacam ini telah ada sebelumnya, yaitu pendapat yang dilontarkan oleh sang pengaku Nabi Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian India. Dia senantiasa mengulang-ulang takwil semacam itu dalam sejumlah buku dan risalahnya. Dia juga menakwilkan sejumlah ayat al-Qur-an seperti takwil di atas. Dia merubah makna ayat-ayat tersebut untuk dijadikan bukti dan hujjah atas kenabiannya. Misalnya ia menakwilkan firman Allah tentang 'Isa: "Wa mubasysyiran birasuulin ya'tii min ba'dismuhuu Ahmad" (...dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Mirza mengklaim dirinyalah yang dimaksud dengan Ahmad dalam ayat tersebut. Dia (Mirza Ghulam Ahmad) banyak memiliki model takwil semacam itu dan pendapat-pendapat yang sangat lemah terhadap ayat-ayat al-Qur-an. Hal itu sebagaimana yang Rasyid Ridha katakan sendiri dalam rangka menyangkal pendapatnya, yaitu dalam tafsirnya juz 6 halaman 58, ia berkata: "Ia telah mengikuti cara para pengikut aliran al-Mahdawiyyah dari kalangan kaum syi'ah Iran, seperti kelompok 'al-Baha' dan 'al-Baab' dalam menyimpulkan dalil-dalil yang lemah dari al-Qur-an untuk mendukung dakwahnya. Bahkan sampai-sampai ia mengambil itu dari surat al-faatihah." Khusus dalam menafsirkan surat ini (al-Faatihah), ia memiliki sebuah buku yang sangat hina sebab ia mengaku 'al-Faatihah' tersebut sebagai mukjizatnya. Ia menjadikan surat tersebut sebagai pemberi kabar gembira atas kemunculannya (Mirza) danbahwa ia sebagai 'al-Masih' umat ini."
Setelah itu Sayyid Rasyid Ridha berkata: "Sesungguhnya yang membuka pintu penakwilan al-Qur-an yang aneh ini di tengah umat, juga upaya merubah muatan lafazh-lafazh dari makna yang semestinya kepada makna-maknayang nampak aneh yang tidak mirip dan tidak cocok untuknya, adalah orang-orang zindiq dari kalangan majusi dan pengikut-pengikutnya yang meletakkan dasar-dasar ajaran kelompok 'al-Bathiniyyah', yang kemudian menjadi laku keras hingga di kalangan kaum shufi."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (5) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Di antara hal yang mendorong saya melakukan hal ini adalahs ebagai berikut:
Pertama, keraguan sebagian besar orang yang menisbahkan diri sebagai ahli ilmu -bahkan sebagai da'i Islam, lebih-lebih orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan cukup tentang Islam baik dari kalangan muda terdidik atau yang awam- terhadap ihwal turunnya 'Isa 'alaihis salam yang kemudian akan membunuh dajjal di akhir zaman. Bahkan menurut hemat saya, kebanyakan mahasiswa alumni Universitas al-Azhar, termasuk orang yang meragukan hal itu -jika tidak disebut malah mengingkarinya. Saya dapat mengetahui itu semua setelah beberapa kali melakukan dialog dengan sebagian mereka secara langsung, juga dari fatwa-fatwa sebagian mereka yang sempat saya telaah serta komentar-komentar mereka terhadap sebagian karya orang lain.
Yang paling terkenal di antara mereka adalah Syaikh Muhammad 'Abduh. Komentarnya terhadap hadits tentang turunnya 'Isa 'alaihis salam, kadang-kadang ia berkata: "Itu hadits ahad (sedikit riwayatnya)." Ucapan ini tentu sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang hadits. Menurut hemat saya, dia adalah ulama modern yang komentarnya terhadap hadits tersebut paling jauh dari paling jauh kebenaran. Terkadang dia menakwilkan 'turunnya 'Isa dan berkuasanya di muka bumi' dengan kemenangan ruh serta rahasia risalahnya atas manusia seluruhnya; yaitu ajarannya yang menonjol berupa perintah kepada sekalian manusia agar berkasih sayang, saling mencintai dan hidup damai dan aman antar sesama. Inilah yang disitir Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam buku tafsirnya 'al-Manar' juz 3 halaman 317. Meski ia sendiri menyangkal pendapat itu sesudahnya dengan ucapannya: "Akan tetapi zhahir hadits-hadits tentang itu menolak pendapat tersebut." Di samping itu ia juga membantah pendapat tersebut dengan ucapan berikutnya: "Hendaknya bagi para ahli takwil berkata, 'Sesungguhnya hadits-hadits ini telah dinukil (diriwayatkan) secara maknanya sebagaimana mayoritas hadits-hadits yang ada, dan orang yang menukil secara makna berarti ia menukil apa yang ia pahami.' Suatu ketika Muhammad 'Abduh ditanya tentang al-Masih ad-dajjal dan terbunuhnya dia oleh 'Isa 'alaihis salam? Jawabnya: "Sesungguhnya dajjal merupakan simbol bagi khurafat, kedustaan dan keburukan-keburukan yang akan sirna dengan ditegakkannya syari'at di hadapannya..."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (4) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Oleh karena itu, sesudah saya merampungkan studi hadits tersebut dan redaksinya serta menyelesaikan pula takhrij hadits-hadits lain sebagai syawahidnya, laly saya tuliskan pada buku saya "Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah" dengan nomor (2457), maka muncullah dalam benak saya gagasan bagus, yaitu menyelidiki faidah-faidah yang maksud di muka untuk kemudian mengumpulkannya di tempat yang sesuai dengan apa yang ada di hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu untuk dirangkai menjadi satu rangkaian hadits (yang utuuh), sebagaimana hal itu pernah saya lakukan dalam penulisan buku "Hajjatun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kamaa Rawaahaa jabir radhiyallahu 'anhu" meski ada perbedaan menonjol antara kedua hadits tersebut. Buku yang pertama "Hajjatun Nabi..." khusus hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu 'anhu sendiri dan tidak ditambahi dengan riwayat-riwayat Sahabat selainnya. Saya telah meneliti hadits-hadits tersebut, lalu setiap ada tambahan (di hadits lain) yang shahih saya letakkan pada tempatnya yang sesuai untuk kemudian menyuguhkan dan menuliskan hadits Jabir radhiyallahu 'anhu sebagai hasil riwayat Muslim dari Abu Ja'far al-Baqir, dari Jabir.
Adapun hadits Abu Umamah, saya telah menggabungkan padanya sejumlah hadits dari riwayat-riwayat Sahabat lain yang shahih yang jumlah mereka lebih dari dua puluh orang Sahabat sebagaimana telah saya singgung di muka.
Ide serta gagasan yang saya maksud di atas senantiasa menghampiri saya dan berputar-putar di pikiran, hingga akhirnya ia menguat dan mendorong saya untuk merealisasikannya. Itu saya lakukan sesudah saya melihat urgensinya dan tuntutan yang mendesak untuk disampaikan kepada khalayak manusia dalam bentuk pemaparan yang baik lagi mudah dijangkau dan dimengerti oleh mereka -sesuai latar belakang pendidikan, keilmuan serta status sosial masing-masing- dan menyatukan hadits-hadits yang bercerai-berai yang sangat sulit bisa dipahami isinya oleh orang-orang khusus (berpendidikan), lebih-lebih oleh orang-orang awam.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (3) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Maka dari itu,s aya memusatkan perhatian untuk melakukan penelitian dan studi terhadap hadits di muka, kalimat per kalimat bahkan lafazh per lafazh, serta berusaha menyebutkan hadits-hadits lain sebagai pendukung terhadap klaimat-kalimat tersebut sebatas yang mampu saya lakukan, kemudian melakukan takhrij terhadap hadits-hadits tersebut secara keseluruhan dan mengomentari sanad-sanadnya untuk mengetahui status akhirnya; shahih atau dha'if berdasarkan pada kaidah-kaidah ilmu hadits yang ada (yaitu dalam menentukan status hadits; shahih, hasan, atau bahkan dha'if). Di samping itu saya juga berusaha mencari mutabi' serta syahid (hadits-hadits pendukung) yang dapat membantu saya membersihkan hadits tersebut dari unsur kelemahan yang ada padanya, baik dari sisi matan ataupun sanadnya, maksudnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah di muka.
Sesudah dilakukan studi mendalam dan telaah kritis terhadap hadits di muka, akhirnya menjadi jelas bagi saya bahwa hadits di atas dengan seluruh redaksi yang ada, kecuali hanya sedikit saja masuk dalam kategori hadits hasan lighairihi. Bahkan kebanyakan dari hadits-hadits tersebut termasuk mutawatir yang tidak diragukan lagi validitasnya dan bersumber dari Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya adalah yang terkait dengan kemunculan dajjal yang buta sebelah mata, juga turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salam dari langit dan terbunuhnya dajjal olehnya.
Adalah wajar sekali saya menemukan manfaat yang banyak sekali dari hadits-hadits yang saya teliti (takhrij) tentang 'Isa 'alaihis salam serta dajjal yang buta sebelah mata, yang itu tidak saya dapatkan dalam hadits Abu Umamah. Terlebih jumlah hadits tentang itu mencapai sekitar tiga puluh buah hadits yang diriwayatkan lebih dari dua puluh Sahabat. Ada sebagian atau sebuah hadits yang diriwayatkan dari seorang Sahabat melalui beberapa jalur periwayatan, khususnya hadits dari Abu Hurairah. Saya telah menemukan sepuluh jalur periwayatan dari dirinya (Abu Hurairah). Pada masing-masing jalur terdapat faidah serta tambahan yang tidak ada pada jalur yang lainnya.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah (2) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Sebenarnya belum pernah terlintas sekalipun di benak saya untuk secara khusus meluangkan waktu guna menulis risalah semacam ini, akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu, Dia akan sediakan penyebab-penyebab (sarana-sarana)nya.
Ceritanya, pada permulaan bulan Jumadil Ula 1393 H. Usaha 'tahqiq' (penelitian) terhadap buku "al-Fat-hul Kabiir fii Dhammi az-Ziyaadati ilaal Jaami' ash-Shaghiir" -yang saya pisahkan menjadi dua buku;; Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir dan Dha'iiful Jaami' ash-Shaghiir- telah sampai pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu tentang peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap umatnya ihwal adanya dajjal. Dia menjelaskan tentang sifat-sifat dajjal dengan penjelasan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi sebelumnya, juga ihwal Nabi 'Isa 'alaihis salam yang nanti akan membunuh dajjal di daerah al-Ludd, Palestina, serta hal-hal yang berhubungan dengan "al-Masih" pembawa petunjuk (Nabi 'Isa) dan "al-Masih" pembawa kesesatan (dajjal).
Dengan standar 'tahqiq' yang saya terapkan pada hadits yang tersebut dalam dua buku yang telah saya sebut di atas, realita yang ada menghajatkan untuk dilakukan adanya studi dan pelacakan terhadap isnad hadits yang saya sebut di muka (hadits Abu Umamah al-Bahili). Dan setelah saya lakukan, ternyata saya dapatkan hadits tersebut 'dha'if' dan tidak mungkin dijadikan landasan atau pegangan secara sendirian. Terlebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah keyakinan yang pasti. Akan tetapis aya menangkap -setelah sekilas melihat matannya- bahwa kebanyakannya shahih dan termuat di dalam kitab Shahihain juga kitab-kitab hadits yang lain.
Mengingat -dengan hanya sekilas melihat dan mengamati hadits tersebut- tidak mungkin bagi saya menentukan status hadits dengan shahih secara keseluruhan (secara utuh), juga tidak mungkin untuk kemudian saya sebutkan pada buku pertama dari kedua buku di atas, yaitu 'Shahihul Jaami' ..., bahkan saya harus menelaah secara seksama semua bentuk susunan kalimat hadits dimaksud, bahkan sampai per lafazhnya, di samping harus melacaknya pula pada buku-buku hadits serta mencari hadits-hadits lain yang ada kaitannya dengan itu, yaitu hadits-hadits yang berhubungan -baik secara langsung atau tidak- dengan ihwal 'Isa 'alaihis salam dan dajjal (semoga Allah mengutuknya) untuk kemudian mempelajari dan meneliti sanad-sanadnya dalam bentuk tahqiq yang mendalam dan detail sebagaimana pernah saya lakukan pada buku 'Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah' dan 'Silsilatul Ahaadiits adh-Dha'iifah' sehingga pada akhirnya, saya dapat -secara meyakinkan- menentukan status keshahihannya, baik seluruhnya atau sebagian besarnya. Dan setelah itu dapat dikategorikan dalam hadits shahih baik keseluruhan matan yang ada atau sebagian besarnya sesuai hasil akhir 'tahqiq'.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Muqaddimah | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
BAGIAN PERTAMA.
MUQADDIMAH PENULIS.
Latar Belakang Penulisan Buku ini.
Sesungguhnya, segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya serta memohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa dan amal perbuatan. Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh-Nya, maka tiada seorang pun mampu menyesatkannya, dan barangsiapa telah disesatkan oleh-Nya, maka tak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada 'Ilah' yang berhak disembah selain Allah, yang Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Dalam al-Qur-an Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)
Di surat lain Dia juga berfirman:
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama sekali, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisaa': 1)
Dia juga berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)
Amma ba'du.
Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah "Muhdatsaat" (Hal baru dalam agama yang diadakan tanpa da petunuk sebelumnya dari Allah atau Nabi), dan setiap 'Muhdatsaat' adalah bid'ah. Setiap yang bid'ah adalah kesesatan sedang setiap kesesatan berakhir ke Neraka.
Wa ba'du.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.
Daftar Isi | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya
Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Ustadz Beni Sarbeni.
Daftar Isi.
Pengantar Penerbit (Indonesia).
Muqaddimah Penerbit (Yordania).
Bagian Pertama: Muqaddimah Penulis.
* Latar Belakang Penulisan Buku ini.
* Cara Melindungi Diri dari Fitnah Dajjal.
1. Hendaknya ia meminta pelindungan kepada Allah dari fitnahnya, memperbanyak do'a tersebut terutama ketika membaca tasyahhud akhir dalam shalatnya.
2. Hendaknya ia menghafal sepuluh ayat pertama surat al-Kahfi.
3. Hendaknya ia menjauh dari Dajjal dan tidak sengaja mendekatinya.
4. Hendaknya ia berusaha bermukim di Makkah atau Madinah.
Bagian Kedua: Pada Bagian Kedua ini Dituliskan Teks Hadits Riwayat Abu Umamah Secara Terpotong-potong Menjadi 49 Paragrap, Kemudian Haditsnya Ditakhrij. Selanjutnya Potongan-potongan Hadits Tersebut Ditakhrij Satu Persatu dan Secara Rinci. Baru Berikutnya Penyebutan Sejumlah Nama Sahabat dan Tabi'in yang Mana Potongan Hadits-hadits Mereka Saya Takhrij di dalam Buku ini.
* Hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu Beserta Paragrap-paragrap dan Takhrijnya Secara Umum.
1. Paragrap Pertama.
2. Paragrap Kedua.
3. Paragrap Ketiga.
4. Paragrap Keempat.
5. Paragrap Kelima.
6. Paragrap Keenam.
7. Paragrap Ketujuh.
8. Paragrap Kedelapan.
9. Paragrap Kesembilan.
10. Paragrap Kesepuluh.
11. Paragrap Kesebelas.
12. Paragrap Keduabelas.
13. Paragrap Ketigabelas.
14. Paragrap Keempatbelas.
15. Paragrap Kelimabelas.
16. Paragrap keenambelas.
17. Paragrap Ketujuhbelas.
18. Paragrap Kedelapanbelas.
19. Paragrap Kesembilanbelas.
20. Paragrap Keduapuluh.
21. Paragrap Keduapuluh satu.
22. Paragrap Keduapuluh dua.
23. Paragrap Keduapuluh tiga.
24. Paragrap Keduapuluh empat.
25. Paragrap Keduapuluh lima.
26. Paragrap Keduapuluh enam.
27. Paragrap Keduapuluh tujuh.
28. Paragrap Keduapuluh delapan.
29. Paragrap Keduapuluh sembilan.
30. Paragrap Ketigapuluh.
31. Paragrap Ketigapuluh satu.
32. Paragrap Ketigapuluh dua.
33. Paragrap Ketigapuluh tiga.
34. Paragrap Ketigapuluh empat.
35. Paragrap Ketigapuluh lima.
36. Paragrap Ketigapuluh enam.
37. Paragrap Ketigapuluh tujuh.
38. Paragrap Ketigapuluh delapan.
39. Paragrap Ketigapuluh sembilan.
40. Paragrap Keempatpuluh.
41. Paragrap Keempatpuluh satu.
42. Paragrap Keempatpuluh dua.
43. Paragrap Keempatpuluh tiga.
44. Paragrap Keempatpuluh empat.
45. Paragrap Keempatpuluh lima.
46. Paragrap Keempatpuluh enam.
47. Paragrap Keempatpuluh tujuh.
48. Paragrap Keempatpuluh delapan.
49. Paragrap Keempatpuluh sembilan.
* Takhrij Hadits Secara Umum.
Bagian Ketiga: Takhrij Terhadap Kisah Tersebut Perparagrap.
1. Takhrij Paragrap Pertama.
2. Takhrij Paragrap Kedua.
3. Takhrij Paragrap Ketiga.
4. Takhrij Paragrap Keempat.
5. Takhrij Paragrap Kelima.
6. Takhrij Paragrap Keenam.
7. Takhrij Paragrap Ketujuh.
8. Takhrij Paragrap Kedelapan.
9. Takhrij Paragrap Kesembilan.
10. Takhrij Paragrap Kesepuluh.
11. Takhrij Paragrap Kesebelas.
12. Takhrij Paragrap Keduabelas.
13. Takhrij Paragrap Ketigabelas.
14. Takhrij Paragrap Keempatbelas.
15. Takhrij Paragrap Kelimabelas.
16. Takhrij Paragrap Keenambelas.
17. Takhrij Paragrap Ketujuhbelas.
18. Takhrij Paragrap Kedelapanbelas.
19. Takhrij Paragrap Kesembilanbelas.
20. Takhrij Paragrap Keduapuluh.
21. Takhrij Paragrap Keduapuluh satu.
22. Takhrij Paragrap Keduapuluh dua.
23. Takhrij Paragrap Keduapuluh tiga.
24. Takhrij Paragrap Keduapuluh empat.
25. Takhrij Paragrap Keduapuluh lima.
26. Takhrij Paragrap Keduapuluh enam.
27. Takhrij Paragrap Keduapuluh tujuh.
28. Takhrij Paragrap Keduapuluh delapan.
29. Takhrij Paragrap Keduapuluh sembilan.
30. Takhrij Paragrap Ketigapuluh.
31. Takhrij Paragrap Ketigapuluh satu.
32. Takhrij Paragrap Ketigapuluh dua.
33. Takhrij Paragrap Ketigapuluh tiga.
34. Takhrij Paragrap Ketigapuluh empat.
35. Takhrij Paragrap Ketigapuluh lima.
36. Takhrij Paragrap Ketigapuluh enam.
37. Takhrij Paragrap Ketigapuluh tujuh.
38. Takhrij Paragrap Ketigapuluh delapan.
39. Takhrij Paragrap Ketigapuluh sembilan.
40. Takhrij Paragrap Keempatpuluh.
41. Takhrij Paragrap Keempatpuluh satu.
42. Takhrij Paragrap Keempatpuluh dua.
43. Takhrij Paragrap Keempatpuluh tiga.
44. Takhrij Paragrap Keempatpuluh empat.
45. Takhrij Paragrap Keempatpuluh lima.
46. Takhrij Paragrap Keempatpuluh enam.
47. Takhrij Paragrap Keempatpuluh tujuh.
48. Takhrij Paragrap Keempatpuluh delapan.
49. Takhrij Paragrap Keempatpuluh sembilan.
Bagian Keempat: Daftar Nama Perawi dari Kalangan Sahabat dan Tabi'in.
Bagian Kelima: Kronologi Kisah al-Masih ad-Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam, serta Terbunuhnya Dajjal oleh 'Isa 'alaihis salaam Berdasarkan Riwayat Abu Umamah dengan Tambahan Riwayat yang Shahih dari Sahabat Lain.
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan Pertama, Tahun 1421 H, Judul Terjemahan: Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya, Penerjemah: Ustadz Beni Sarbeni hafizhahullah, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'ul Akhir 1426 H/ Agustus 2005 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Takhrij Terhadap Kisah Tersebut Perparagrap (2)
Bagian ketiga
Takhrij Terhadap Kisah Tersebut Perparagrap
2. Penggalan haditss sebagaimana riwayat Jabir (ra-dhiyallaahu 'anhu) ini memiliki sejumlah syahid dari riwayat lain.
Pertama, riwayat dari 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma, keduanya berkata: "Suatu ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berdiri di tengah manusia, lalu memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungan-Nya, kemudian menyebut dajjal seraya bersabda: 'Sungguh aku memperingatkan kalian tentang dajjal. Tidak seorang Nabi pun, melainkan telah memperingatkan kaumnya tentang fitnah dajjal. (Nuh ('alayhis salaam) pun telah memperingatkan kaumnya akan dajjal). Akan tetapi aku hendak mengatakan kepada kalian sesuatu yang belum pernah dikatakan seorang Nabi pun sebelumku kepada kaumnya. (Ketahuilah) dajjal itu buta sebelah matanya, sesungguhnya Allah tidak buta sebelah mata.'" Hadits ini ditakhrij oleh Ibnu Razzaq dalam kitab al-Mushannaf 11/390/20820, Imam Ahmad 2/149, al-Bukhari 13/80-81 -Fat-h, sedang redaksi haditsnya milik al-Bukhari, dan Muslim 8/193, adapun dua riwayat tambahan adalah miliknya, juga at-Tirmidzi 2236, Abu Dawud 4757, Ibnu Mandah dalam buku al-Iman 96/2 dari jalur Salim bin 'Abdillah, serta al-Khatib dalam buku at-Tarikh 7/183-184.
Dalam riwayat versi Ahmad 2/135 dan Ibnu Mandah 1/97 dari jalur Muhammad bin Zaid Abu 'Umar bin Muhammad berkata, 'Abdullah berkata: Ia menyebutkan hadits yang serupa dengannya, hanya saja dengan bentuk redaksi:
"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan telah memperingatkan ummatnya tentang dajjal. Dan Nabi Nuh 'alayhis salaam telah memperingatkan hal itu kepada ummatnya, juga para Nabi yang datang sesudahnya. Ketahuilah sesungguhnya ciri-ciri dajjal tidak samar (asing) lagi bagi kalian, maka janganlah tidak jelas (samar) atas kalian bahwa Rabb kalian tidak buta sebelah mata-Nya dan ketahuilah sekali lagi sesungguhnya ciri-ciri dajjal tidak samar (asing) bagi kalian, maka janganlah tersamar bagi kalian, bahwa Rabb kalian tidak buta sebelah mata-Nya."
Aku (penulis) katakan: "Isnad hadits ini sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh asy-Syaikhain. Ia juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Mandah dalam buku at-Tauhid 2/82 dari jalur riwayat ketiga, namun dengan tambahan:
'Dan di antara kedua matanya tertulis kata 'kafir' yang terbaca oleh orang yang mengerti baca tulis ataupun tidak.' Sedang sanadnya shahih."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari 3440 dan Muslim 1/107 dari jalur Nafi', dari Ibnu 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) dalam hadits yang panjang, yang di dalamnya terdapat kalimat: "Sesungguhnya dajjal buta mata sebelah kanannya, dan matanya seperti buah anggur yang terapung." Hadits ini tersebut dalam kitab ash-Shahihah 1857.
Kedua, diceritakan dari Anas bin Malik ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Tidak seorang Nabi pun melainkan telah memperingatkan kaumnya akan makhluk yang bermata buta sebelah lagi pendusta (dajjal). Ketahuilah, sesungguhnya ia buta sebelah matanya, sedang Rabb kalian tidak buta sebelah mata. Di antara kedua matanya tertulis huruf ka, fa, ra (yang dapat dibaca oleh setiap muslim)."
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari 13/85, Muslim 8/195, Abu Dawud 2/213, at-Tirmidzi 2246, dan sekaligus dihukumi shahih, Ahmad 3/173, 276, 290, Hanbal 51/2, Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid 32, dan Ibnu Mandah 97/1. Adapun tambahannya milik Imam Muslim, Ahmad dan selain mereka.
Dan tentang hal yang sama akan datang hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri (ra-dhiyallaahu 'anhu) dalam al-Majma' 7/336-337 dan Asma' binti Yazid al-Anshariyyah (ra-dhiyallaahu 'anha). Hal itu -insya Allah- akan disebutkan pada halaman 92-97, juga riwayat dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada halaman 78 serta dari Ummu Salamah pada halaman 78-79.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan Pertama, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Takhrij Terhadap Kisah Tersebut Perparagrap
Bagian ketiga
Takhrij Terhadap Kisah Tersebut Perparagrap
Yang jelas -secara umum- hadits ini shahih dan telah diriwayatkan secara terpisah-pisah dalam sejumlah hadits, kecuali sebagian kecil saja (yang tidak shahih), karena aku belum menemukan riwayat lain yang menguatkannya. Adapun penjelasannya akan kami ketengahkan nanti. Selanjutnya agar lebih mudah menjelaskannya bagi pembaca dan lebih memudahkan aku untuk mentakhrijnya, maka hadits-hadits tentang dajjal tersebut aku bagi-bagi menjadi beberapa bagian dengan hadits dan nomor yang berurutan. Aku katakan:
1. Paragrap atau penggalan hadits yang pertama ini disebut dalam sejumlah riwayat.
Pertama, riwayat dari Hisyam bin 'Amir secara marfu' dengan redaksi:
"Antara penciptaan Adam hingga hari Kiamat tiba tidak ada makhluk yang lebih besar melebihi dajjal."
Dalam riwayat versi lain: "Tidak ada fitnah yang lebih besar melebihi fitnah dajjal." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim 8/207, Imam al-Hakim 4/528, dan Imam Ahmad 4/20-21. Sedang riwayat versi lain juga termasuk salah satu dari dua riwayatnya, yaitu riwayat Imam al-Hakim dengan sedikit tambahan 'Indallaahi. Imam al-Hakim berkata: "Hadits ini shahih sesuai persyaratan Imam al-Bukhari, akan tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim tidak mentakhrijnya). Begitu komentar Imam al-Hakim. Boleh jadi yang dimaksud Imam al-Hakim -menurut hemat aku- adalah dengan model lafazh riwayatnya sebagaimana disebut di atas. Jika tidak demikian, sesungguhnya Imam Muslim mentakhrijnya sebagaimana aku sebutkan di atas. Dan hadits ini juga ditakhrij oleh Imam ad-Dani 172/2-177-1 dengan tambahan lafazh: "Qad Akalath Tha'aam wa Masyaa fil Aswaaqi (ia sungguh memakan makanan dan berjalan-jalan di pasar-pasar)."
Kedua, riwayat dari 'Abdullah bin Mughaffal, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih besar dari fitnah dajjal. Aku sungguh telah berucap (menerangkan) tentang ciri-cirinya dengan ucapan yang belum pernah disampaikan oleh siapapun Nabi sebelumku: 'Ia (dajjal) berkulit sawo matang, rambutnya keriting, mata sebelah kirinya tidak nampak, di atas matanya terdapat kulit selaput mata yang menebal, ia mampu menyembuhkan orang yang buta dan yang sakit kulit (kusta) dan ia berkata: 'Aku adalah Rabb kalian.' Barangsiapa berkata: 'Rabbku Allah,' maka ia tidak akan terfitnah olehnya, sedang siapa yang berkata: 'Engkau (dajjal) Rabbku,' sungguh ua telah terkena fitnahnya. Ia akan hidup bersama kalian untuk sekian masa sesuai kehendak Allah. Sesudah itu, turunlah 'Isa bin Maryam sebagai pembenar atas ajaran Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, ia sebagai imam Mahdi (yang memberi petunjuk) serta hakim yang adil lalu membunuh sang dajjal."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dalam kitabnya al-Mu'jamul Kabiir dan al-Mu'jamul Ausath. Perawi-perawinya termasuk terpercaya (tsiqah), meski ada sebagiannya yang diperselisihkan namun tidak begitu berarti. Ini sebagaimana yang ia ucapkan dalam kitab Majma'uz Zawaa-id 7/336.
Dalam hal mata dajjal terdapat syahid dari hadits lain yang diriwayatkan oleh Anas dengan lafazh: "Innad dajjaala A'warul 'Ainisy Syimaali, 'Alaihaa Dhufratun Ghaliidhatun, Maktuubun Baina 'Ainaihi Kaafirun (Sesungguhnya dajjal itu mata sebelah kirinya buta, di atas matanya terdapat selaput kulit yang menebal dan di antara kedua matanya tertulis kata "kafir"). Hadits riwayat Imam Ahmad 3/115 dan 201 dengan sanad shahih.
Ketiga, dari Hudzaifah, ia berkata:
"Suatu ketika ihwal dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda, 'Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari fitnah sebelum fitnah dajjal melainkan akan selamat pula darinya (dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini -baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah dajjal." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/389 dan Ibnu Hibban 1897. (1)
Aku (penulis) berkata: "Isnad hadits ini shahih, perawi-perawinya pun terpercaya dan termasuk perawi-perawi hadits milik al-Bukhari dan Muslim. Imam al-Haitsami 7/335 berkata: 'Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Bazzar dan perawi-perawinya merupakan perawi hadits (shahih).'"
Keempat, riwayat dari Jabir bin 'Abdillah, haditsnya ada pada halaman (113) dari buku ini.
===
(1) Dan lafazhnya berbunyi: "Sesungguhnya tidak ada fitnah yang kecil maupun besar kecuali tunduk kepada fitnah dajjal." Dan riwayat itu menambahkan "Tertulis di antara kedua matanya, 'Kafir'." Muslim 8/195 dan Ahmad 5/386 menambahkan: "Yang bisa dibaca oleh setiap mukmin yang tahu baca tulis atau tidak." Dan tambahan ini ada pada riwayat Hanbal LXI/1, dari jalan lain, dari Hudzaifah.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan Pertama, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Takhrij hadits secara umum
Bagian kedua
Takhrij hadits secara umum
Hadits tersebut -dengan redaksi yang lengkap sebagaimana di atas- dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (2/512-516) juga Imam ar-Rauyani, namun dengan sedikit diringkas (30/8/2-9/2 dan 10/1) dari Isma'il bin Rafi', dari Abu Zar'ah as-Saibani Yahya bin Abi 'Amr (dari 'Amr bin 'Abdillah al-Hadhrami), dari Abu Umamah al-Bahili (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata: "Suatu ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyampaikan khutbah kepada kami. Mayoritas isi khutbah yang disampaikan adalah tentang dajjal dan beliau memperingatkan kami tentangnya. Di antara yang disampaikan adalah..." kemudian Abu Umamah al-Bahili menuturkan hadits di atas secara panjang (semuanya).
Aku (penulis, -Imam al-Albani-) berkata: "Isnad ini lemah, sebab tidak ada yang meriwayatkan hadits 'Amr bin 'Abdillah al-Hadhrami selain as-Saibani dan tidak ada yang memberinya gelar tsiqah (terpercaya) selain Imam Ibnu Hibban (1/185), oleh sebab itu al-Hafizh Ibnu Hajar menggelarinya "maqbul" (bisa diterima). Di sisi lain Isma'il bin Rafi' lemah hafalannya, namun riwayat ini didukung (dikuatkan) oleh Dhamrah bin Rabi'ah, yang menyampaikan: "Riwayat ini disampaikan oleh as-Saibani kepada kami kecuali ucapannya, 'Qaaluu yaa Rasulullah! Wamaa yurakhishul farasa... (Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan harga kuda perang murah?)' hingga akhir hadits.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Hanbal bin Ishaq asy-Syaibani -anak paman Imam Ahmad- dalam kitab al-Fitan (Q/1-53/2), juga Tamam dalam buku al-Fawaid (3/371-38/1), Imam al-Ajurri dalam kitab asy-Syari'ah halaman 375 (akan tetapi ia tidak secara penuh menyebutkan lafazhnya) namun menggabungkannya dengan hadits an-Nawwas berikut. Imam Ibnu 'Ashim juga termasuk meriwayatkan hadits ini dalam kitab as-Sunnah (no. 391 yang dilengkapi tahqiq dariku), 'Abdullah bin Ahmad dalam kitab as-Sunnah (halaman 138-139), Abu Dawud (2/213), Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Mu'jamul Kabir (8/7645 dan 15/295/48) dan Ibnu 'Asakir dalam kitab at-Tarikh (1/611-614/Tha').
Aku (penulis) berkata: "Imam al-Hafizh berkomentar tentang Dhamrah bin Rabi'ah: 'Ia orang jujur, akan tetapu terkadang lupa sedikit.' Ia dikuatkan oleh 'Atha al-Khurasani dari riwayat Yahya, kecuali ucapan Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam): 'Tsummaa Shalluu, fayakuunu 'Isa Ibni Maryama fii Ummati Hakama... (Kemudian shalatlah.' Di tengah ummatku, 'Isa bin Maryam 'alaihis salaam menjadi hakim yang adil...)' hingga akhir hadits. Hadits di atas juga dikeluarkan oleh Imam al-Hakim (4/536-537) dan ia berkata: 'Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim,' dan penilaian itu disetujui oleh Imam adz-Dzahabi."
Aku (penulis) berkata: "Penilaian demikian termasuk kesalahan dari keduanya, sebab Imam Muslim sama sekali tidak mentakhrij hadits dari 'Amr al-Hadhrami, sedang 'Atha -anak Abu Muslim al-Khurasani- meski Imam Muslim mentakhrij hadits darinya, akan tetapi ia seringkali salah dan kadang-kadang melakukan tadlis (menyembunyikan cacat hadits) dan juga meriwayatkan hadits dengan mu'an'an (diriwayatkan dengan lafazh 'an, 'an yang menunjukkan tidak bertemu), maka bagaimana mungkin riwayatnya disebut 'shahih'?"
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (49)
Bagian kedua
Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap.
Pada bagian kedua ini dituliskan teks hadits riwayat Abu Umamah (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara terpotong-potong menjadi 49 paragrap, kemudian haditsnya ditakhrij. Selanjutnya potongan-potongan hadits tersebut ditakhrij satu persatu dan secara rinci. Baru berikutnya penyebutan sejumlah nama Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) dan Tabi'in (rahimahumullaah) yang mana potongan hadits-hadits mereka aku takhrij di dalam buku ini.
Paragrap keempat puluh sembilan:
"Rasulullah (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) ditanya: 'Apa yang dapat menghidupi manusia saat itu?' Sabda Rasul (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam): 'Ucapan tahlil, takbir, tasbih, dan tahmid, dan ucapan seperti itu bagi mereka berfungsi seperti makanan (biologis)."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (48)
Bagian kedua
Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap.
Pada bagian kedua ini dituliskan teks hadits riwayat Abu Umamah (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara terpotong-potong menjadi 49 paragrap, kemudian haditsnya ditakhrij. Selanjutnya potongan-potongan hadits tersebut ditakhrij satu persatu dan secara rinci. Baru berikutnya penyebutan sejumlah nama Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) dan Tabi'in (rahimahumullaah) yang mana potongan hadits-hadits mereka aku takhrij di dalam buku ini.
Paragrap keempat puluh delapan:
"Sesungguhnya sebelum datang masa kemunculan dajjal, sekalian manusia ditimpa kesulitan hidup (paceklik) yang sangat sehingga mereka menderita kelaparan selama tiga tahun. Pada tahun pertama Allah memerintahkan langit agar menahan sepertiga air hujannya, menyuruh bumi agar menahan sepertiga tumbuh-tumbuhannya (tidak menghasilkan atau tidak berbuah), kemudian di tahun kedua menyuruh langit agar menahan dua pertiga air hujannya, dan memerintahkan bumi agar menahan dua pertiga hasil tumbuh-tumbuhannya, kemudian di tahun ketiga, Dia memerintah langit agar menahan seluruh air hujannya -sehingga tidak setetes air pun yang menetes- dan memerintah bumi supaya menahan seluruh hasil buminya, sehingga tidak menumbuhkan tumbuhan yang hijau-hijau, maka saat itu tiada seekor binatang pun kecuali mati, selain yang Allah kehendaki."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (47)
Bagian kedua
Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap.
Pada bagian kedua ini dituliskan teks hadits riwayat Abu Umamah (ra-dhiyallaahu 'anhu) secara terpotong-potong menjadi 49 paragrap, kemudian haditsnya ditakhrij. Selanjutnya potongan-potongan hadits tersebut ditakhrij satu persatu dan secara rinci. Baru berikutnya penyebutan sejumlah nama Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) dan Tabi'in (rahimahumullaah) yang mana potongan hadits-hadits mereka aku takhrij di dalam buku ini.
Paragrap keempat puluh tujuh:
"Ditanyakan pula kepada Rasul (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam): 'Apa penyebab harga sapi jantan begitu mahal?' Sabda beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam): 'Sebab seluruh bumi akan dibajak (dengannya).'"
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Pengedit Isi: Abu 'Azzam, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, 1426 H/ 2005 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT