Showing posts with label perantara antara allah dan makhluk-nya. Show all posts
Showing posts with label perantara antara allah dan makhluk-nya. Show all posts

Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali: Muqaddimah

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali

Muqaddimah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah Jalla Jalaaluh berfirman:

"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (1). Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara (2) dengan Dia."
(Qur-an Surat al-Ikhlash: ayat 1-4)

Allah berfirman:

"Dan katakanlah, 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong (3) dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 111)

Dialah Allah yang:

"Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah (4)."
(Qur-an Surat Thaahaa: ayat 6)

Dialah yang berfirman:

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Qur-an Surat Faathir: ayat 2)

"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul (5) siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."
(Qur-an Surat asy-Syuura: ayat 49-50)

Dia-lah yang:

"Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat al-Hadiid: ayat 2)

"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat al-Mulk: ayat 1)

"(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan (Tuhanku) Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat."
(Qur-an Surat asy-Syu'araa': ayat 78-82)

Dialah Dzat yang Maha memberi dan mencegah, Yang menimpakan madharat dan melimpahkan manfaat, Yang merendahkan dan meninggikan, mengagungkan (memuliakan) dan menghinakan dengan keadilan-Nya, keutamaan-Nya dan hikmah-Nya, bukan karena (keutamaan, -pent) satupun dari makhluk-Nya, bahkan:

"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(Qur-an Surat al-Jumu'ah: ayat 4)

"Katakanlah, 'Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 26)

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; Dia berfirman kepada Nabi-Nya:

"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman."
(Qur-an Surat al-A'raaf: ayat 188)

Dan berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 128)

Dia berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya."
(Qur-an Surat al-Jin: ayat 21-22)

Dan Dia berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah."
(Qur-an Surat al-Ahzab: ayat 17)

Dan aku bersaki bahwa junjungan kita Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, yang bersabda:

"Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau minta tolong maka mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seandainya ummat ini bersatu untuk memberikan manfaat padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu; dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan madharat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (6)

Dan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lah yang bersabda:

"Wahai Abu Bakar, janganlah engkau beristighatsah (minta tolong dalam keadaan sempit, -pent) kepadaku namun istighatsah hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla." (7)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada beliau (Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), keluarganya dan para shahabatnya serta setiap hamba yang mengikuti Sunnahnya, menelusuri jejak-jejaknya, menolong dan berwala' (setia, tunduk dan patuh, -pent) kepadanya. Amma ba'du:

Maka risalah ini:
القول الجلي, في حكم التو سل بالنبي والولي
yang ditulis -dengan cepat dan ringkas- oleh seorang yang mengharap untuk digolongkan dengan orang-orang yang bertaqwa lagi terpilih Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin 'Abdus Salam, (dipersembahkan, -pent) bagi setiap ahlul Islam yang hendak menelaahnya, semoga Allah menyinari hati-hati kita dan hati mereka dengan cahaya 'ilmu dan Iman dan semoga Allah menjadikan kita dan mereka termasuk orang-orang yang mengikuti al haq dan petunjuk, menolong Sunnah dan al-Qur-an. Semoga Allah melindungi kita dan mereka dari kesesatan hati dan hasutan syetan serta dari wasilah-wasilah yang diada-adakan (bid'ah) yang mendekatkan kepada Neraka dan semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan dalam beribadah kepada ar-Rahman.

As-Salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Adapaun setelah itu:

Maka, ketahuilah wahai saudara-saudaraku!

Sesungguhnya tawasul di dalam al-Qur-an al-'Azhim, dan dalam sabda as-Sayyid yang maksum dan al-Amin (yang dapat dipercaya), menurut para 'ulama ahli bahasa, ahli hadits dan para ahli tafsir adalah: Mendekatkan diri kepada Allah Rabb semesta alam dengan apa-apa yang disyari'atkan-Nya melalui lisan pemimpinnya para Nabi (yakni Muhammad bin 'Abdillah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, -pent).

Dan berikut ini (aku bawakan, -pent) nash-nash perkataan mereka tentang pengertian tawasul semuanya:

1. Berkata di dalam kitab al-Qamus pada madah (وَسَلَ):

اَلْوَسِيْلَةُ وَالْوَاسِلَةُ
(Al-Wasiilah dan al-Waasilah) adalah satu kedudukan di sisi penguasa (raja) dan tingkatan serta upaya mendekatkan diri.
وَوَسَلَ اِلَى اللّهِ تَعَالَى تَوْسِيْلاً
yaitu menempuh perantara kepada Allah Jalla Jalaaluh dengan suatu wasilah artinya melakukan suatu 'amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Selesai ucapan penulis kitab al-Qamus)

Dan berkata di dalam kitab al-Misbahul Muniir (8) dalam madah (وَسَلَ):

وسلت إلى اللّه بالعمل
Aku menempuh suatu perantara kepada Allah dengan 'amalan, (أَسِلُ) dari bab (وَعَدَ) artinya aku ingin, dan aku mendekatkan diri, dan dari kata (وسل) pecahan dari kata (الوسيلة) yaitu sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada sesuatu -hingga perkataan penulis al-Misbah- dan bertawasul kepada Rabbnya dengan suatu wasilah artinya mendekatkan diri kepada-Nya dengan suatu 'amalan. Selesai ucapan penulis kitab al-Misbah.

2. Dan Imam Ibnul Atsir rahimahullaah berkata di dalam kitab an-Nihayah (وسل) di dalam hadits tentang adzan:

اللّهمّ ات مهمّدا الواسيلة
"Ya Allah, limpahkanlah kepada Muhammad al-Wasilah."

Wasilah asalnya adalah sesuatu yang digunakan sebagai perantara menuju sesuatu dan mendekatkan diri dengannya -sampai perkataannya- dan yang dimaksud hadits tersebut adalah kedekatan kepada Allah. (9) Selesai ucapan penulis.

Dan berkata di dalam (kitab ad-Durur an-Natsir):
Al-Wasiilah adalah sesuatu yang digunakan sebagai perantara menuju sesuatu, dan mendekatkan diri kepadanya, dan bentuk jamaknya adalah al-Wasaail. Selesai ucapan penulis.

3. Dan di dalam (kitab Mufradat ar-Raghib al-Ashfahaniy) pada kata (وسل): Al-Wasiilah adalah bertawasul kepada sesuatu dengan satu harapan -hingga perkataannya-:

"Dan carilah wasilah kepada Allah."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 35)

Hakikat wasilah kepada Allah adalah menjaga jalan-Nya dengan 'ilmu dan 'ibadah dan memelihara syari'at yang mulia. Dan wasilah adalah upaya mendekatkan diri. Selesai ucapan penulis.

Berkata Imam ath-Thabari rahimahullaah di dalam kitab tafsirnya:

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada Allah."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 35)

Dia mengatakan: Dan carilah pendekatan diri kepada-Nya dengan mengamalkan apa-apa yang diridhai-Nya. Al-Wasiilah berwazan (الفعلية) dan ucapan seseorang: "Aku bertawasul kepada fulan dengan ini", maknanya aku mendekatkan diri kepadanya, dan dari sana terdapat ucapan 'Intirah (seorang penyair):

Sesungguhnya para lelaki punya cara untuk mendekatkan diri kepadamu (perempuan)
Jika mereka memperhatikanmu, engkau bercelak dan bersemir

Yaitu dengan al-Wasiilah artinya dengan al-Qurbah (pendekatan diri), kemudian dia berkata: Dan ucapan kami tentang al-Wasiilah adalah seperti yang diucapkan oleh ahli ta'wil (tafsir, -pent) beliau membawakan ucapan-ucapan mereka dan menjelaskannya satu persatu. Kesimpulannya: al-Wasiilah adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan apa-apa yang diridhai-Nya. Selesai ucapan penulis.

Bersambung...

===

(1) Ash-Shamad adalah as-Sayyid, dikarenakan Dia tempat bergantungnya (hamba) dalam rangka memenuhi kebutuhannya, yaitu yang dituju, dikatakan: (قصده) yaitu (صمده من باب نصره).(Kitab Mukhtarush Shihah)

(2) Kata (كفوا) yaitu tidak ada bagi-Nya sesuatupun yang sekufu, yaitu yang serupa dengan-Nya dari sahabat atau yang selainnya. (Tafsir al-Baidhawi)

(3) Kata (ولي) artinya: (penolong) yang menolongnya karena kelemahan yang ada padanya, agar dia (wali tersebut) dapat menolak kelemahan tersebut dengan pertolongannya. Selesai (kitab Tafsir al-Baidhawiy)

(4) Kata (الثرى) artinya tanah yang basah, lembab.

(5) Kata (العقيم) yaitu tidak mempunyai anak, demikian juga makna dari laki-laki yang mandul adalah tidak mempunyai anak. (Kitab Tafsir an-Nusafi)

(6) Dikeluarkan dari hadits Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma oleh Imam Ahmad 1/307, dan Imam at-Tirmidzi 4/575, 576 nomor hadits 2516 dan lafazh ini bagi Imam at-Tirmidzi.

(7) Yang masyhur dari hadits:
"Bahwasanya istighatsah bukan kepadaku, namun istighatsah hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh," diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam kitab Majma' az-Zawa'id 10/159, dia berkata, "Ahmad telah meriwayatkan dengan konteks selain di atas, yaitu dalam al-Adab bab al-Qiyam.

(8) Kitab al-Misbahul Muniir fii Gharibisy Syarhil Kabir lir Rafi'i oleh Ahmad Muhammad al-Muqri 2/660.

(9) Kesempurnaan ibarat yang diberikan Ibnul Atsir adalah (dan dikatakan: yaitu syafa'at pada hari Kiamat dan dikatakan pula, maksudnya adalah suatu kedudukan dari kedudukan-kedudukan yang ada di Surga, demikianlah yang datang dalam hadits. Selesai) (al-Anshari).

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Qaul al-Jalii fii Hukmi at-Tawassul bi an-Nabii wa al-Walii, Penulis: Syaikhul Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin 'Abdus Salam, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (15): Sebab-sebab yang disyari'atkan dan yang tidak disyari'atkan

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (15)

Sebab-sebab yang disyari'atkan dan yang tidak disyari'atkan.

Namun dalam masalah sebab, ada 3 (tiga) perkara yang harus dipahami:

1. Sebab tertentu tidak akan terpisah dengan sesuatu yang diminta, bahkan di sana harus ada sebab-sebab yang lain. Bersamaan dengan ini sebab-sebab tersebut memiliki mawani' (penghalang-penghalang yang dapat mencegah diterimanya sebab-sebab tersebut, -pent), maka jika Allah tidak menyempurnakan sebab-sebab dan tidak mencegah mawani' tersebut, niscaya tidak akan tercapai sesuatu yang hendak dituju. Hal itu karena apa yang Allah Jalla Jalaaluh kehendaki niscaya akan terjadi, meskipun manusia seluruhnya tidak menghendaki. Sebaliknya, apa dikehendaki oleh manusia tidak akan terjadi kecuali jika Allah menghendaki.

2. Tidak boleh meyakini bahwa sesuatu dapat menjadi sebab kecuali berdasarkan 'ilmu. Maka barangsiapa menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar 'ilmu atau justru sesuatu (yang dianggap dapat menjadi sebab) malah menyelisihi syari'at, maka berarti batal (tidak akan menjadi sebab). Contohnya seperti persangkaan bahwa nadzar adalah sebab untuk menolak bala' (musibah) dan memperoleh nikmat. Padahal telah tsabit dalam kitab Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau melarang dari nadzar. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya nadzar itu tidak datang dengan membawa kebaikan, sesungguhnya nadzar tersebut muncul dari orang-orang bakhil."
(Muttafaq 'alaih)

3. Amalan-amalan 'ibadah (yang berkaitan dengan agama) tidak boleh dijadikan sebab kecuali kalau disyari'atkan. Karena sesungguhnya amalan-amalan 'ibadah dibangun di atas tauqifi (sudah ada ketentuan pasti dari syari'at), sehingga tidak boleh bagi seseorang untuk menyekutukan Allah dengan cara berdo'a kepada selain Allah, meski dia mengira bahwa hal itu adalah sebab untuk memperoleh sebagian tujuan-tujuannya. Karenanya, Allah tidaklah disembah dengan melalui cara-cara bid'ah yang menyelisihi syari'at meski ia mengira itu (cara-cara bid'ah tersebut) adalah sebab untuk mencapai sebagian harapan-harapannya. Karena sesungguhnya syaithan sering membantu manusia untuk mencapai sebagian tujuan-tujuannya ketika ia berbuat syirik. Kadang dengan melakukan kekufuran, kefasikan dan perbuatan maksiat bisa tercapai sebagian tujuan seseorang, maka hal itu tidak dihalalkan baginya, karena kerusakan yang dihasilkan dengan sebab itu semua (kekufuran, kefasikan dan perbuatan maksiat) lebih besar daripada maslahat yang diperoleh darinya. Hal itu karena Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam diutus dengan membawa kemaslahatan dan menyempurnakannya, dan meniadakan kerusakan dan meminimalkannya (memperkecil timbulnya kerusakan). Maka segala yang Allah perintahkan maslahatnya pasti lebih besar dan segala yang Dia larang, maka mafsadatnya pasti lebih besar.

Pembahasan ini memiliki cakupan yang sangat luas yang tidak dapat ditulis dalam lembaran yang sedikit ini. Wallahu a'lam. (Lihat kitab Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 1/121)

(Telah selesai risalah ini dan segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang tidak ada Nabi setelah beliau).

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (14): Rasulullah merealisasikan tauhid

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (14)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam merealisasikan tauhid.

Nabi kita Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat menekankan tauhid ini terhadap ummat beliau dan berusaha mencegah dari mereka segala bentuk kesyirikan. Hal itu karena tauhid inilah perwujudan ucapan kita (Arab) karena sesungguhnya al-Ilah (sesembahan) adalah sesuatu yang disembah oleh hati dengan menundukkan kesempurnaan mahabbah, ta'zhim, memuliakan, berharap dan takut. Karenanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sampai bersabda,

"Janganlah kalian mengatakan, 'Ini adalah apa yang Allah kehendaki dan yang dikehendaki Muhammad,' akan tetapi katakanlah oleh kalian, 'Ini adalah apa yang Allah kehendaki kemudian yang dikehendaki Muhammad'."
(Shahih, riwayat Imam Ahmad dan selainnya)

Dan berkata seseorang kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Ini adalah apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki." Kemudian beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Allah?! Katakanlah:

"Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah semata."
(Hadits Riwayat Imam an-Nasa-i dengan sanad yang hasan)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Barangsiapa hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah atas nama Allah atau diam!"
(Muttafaq 'alaih)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik."
(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma:

"Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Telah kering pena (catatan takdir telah ditetapkan, -pent) dengan segala apa yang engkau temui. Maka seandainya seluruh makhluk mengerahkan segala upaya untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tak akan mampu untuk memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu (kebaikan) yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berupaya menimpakan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan madharat kepadamu kecuali dengan sesuatu (keburukan) yang telah Dia tetapkan menimpamu."
(Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi, dan dia berkata, "hadits hasan shahih")

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,

"Janganlah kalian terlalu memuji aku sebagaimana orang-orang nashrani keterlaluan memuji Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, '(Muhammad itu) hamba Allah dan Rasul-Nya'."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga pernah berdo'a:

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah."
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai 'id (tempat yang selalu didatangi secara berkala dan diadakan kumpulan manusia di sana, -pent). Dan ucapkanlah shalawat atasku, maka sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada."
(Hadits Riwayat Imam Abu Dawud dengan sanad hasan)

Di saat sakitnya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (yang menyebabkan wafatnya beliau, -pent), beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Semoga Allah melaknat yahudi dan nashrani. Mereka telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat beribadah)."

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat mengecam terhadap apa yang mereka lakukan. 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma berkata, "Seandainya bukan karena itu (kekhawatiran kuburan beliau dijadikan masjid) niscaya kuburan beliau akan ditinggikan, namun beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam benci kalau kuburannya akan dijadikan masjid." (Muttafaq 'alaih)

Bab ini sangatlah luas (masih banyak lagi hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat tegas merealisasikan tauhid di tengah ummat beliau, -pent).

Bersamaan dengan ini semua, seorang mukmin hendaknya mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb dan penguasa segala sesuatu. Karenanya dia tidak mengingkari sebab-sebab yang Allah ciptakan, seperti Dia menjadikan hujan sebagai sebab untuk tumbuhnya berbagai tanaman, Allah berfirman:

"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan."
(Qur-an Surat al-Baqarah: ayat 64)

Allah juga menjadikan matahari dan bulan sebagai sebab bagi segala yang Dia ciptakan dengan (sebab) adanya matahari dan bulan. Dia juga menjadikan syafa'at dan do'a sebagai sebab bagi akibat-akibat yang dikandungnya seperti perbuatan kaum Muslimin menshalati jenazah adalah termasuk sebab Allah merahmati jenazah tersebut (dengan sebab shalat tersebut) dan juga menjadi sebab Allah melimpahkan pahala terhadap orang-orang yang menshalatinya.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (13): Khasyah hanya untuk Allah semata

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (13)

Khasyah hanya untuk Allah semata

Allah Jalla Jalaaluh berfirman,

"Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 44)

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), oleh karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 175)

Yu-khawwifu aw-liyaa-ahu artinya yu-khawwifukum aw-liyaa-ahu yaitu syaithan menjadikan kalian takut terhadap wali-walinya. Allah juga berfirman,

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya."
(Qur-an Surat an-Nisa': ayat 77)

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 18)

"Dan barangsiapa yang ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."
(Qur-an Surat an-Nuur: ayat 52)

Maka Allah menjelaskan bahwa keta'atan itu diberikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun khasyah (rasa takut yang disertai 'ilmu, -pent) hanya bagi Allah semata. Allah berfirman,

"Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 59)

Dan yang mirip dengan ayat tersebut adalah:

"(Yaitu) orang-orang (yang menta'ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung'."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 173)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (12): Perantara-perantara syirik

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (12)

Perantara-perantara syirik

Dan yang dimaksud di sini bahwa barang siapa yang menetapkan adanya wasithah-wasithah (perantara-perantara) antara Allah dan makhluk-Nya sebagaimana yang ada antara raja-raja dan rakyatnya, maka berarti dia adalah musyrik. Bahkan pada hakikatnya, bentuk perantara seperti di atas itulah agamanya kaum musyrikin, para penyembah berhala yang mereka mengatakan, "Inilah patung-patung para Nabi dan orang-orang shalih!" dan "Mereka itulah para perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah." (7)

Inilah bentuk kesyirikan yang Allah ingkari atas orang-orang nashrani, tatkala Dia berfirman,

"Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Maha Esa; tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 31)

Allah juga berfirman,

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(Qur-an Surat al-Baqarah: ayat 186)

فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِيْ:
maka hendaknya mereka memenuhi seruan-seruan-Ku, yaitu tatkala Aku menyeru mereka untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.

وَلْيُوءْ مِنُوْا:
hendaknya mereka beriman kepada-Ku bahwa Aku pasti mengabulkan do'a mereka kepada-Ku yang disertai penuh pinta (harap) dan ketundukan.

Allah berfirman,

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap."
(Qur-an Surat al-Insyirah: ayat 7-8)

"Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru selain Dia."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 67)

"Atau siapakah yang memperkenankan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?"
(Qur-an Surat an-Naml: ayat 62)

"Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."
(Qur-an Surat ar-Rahman: ayat 29)

Sesungguhnya Allah telah menjelaskan tentang masalah tauhid ini dalam Kitab-Nya dan memutus segala celah kesyirikan, sehingga tidak ada seorangpun yang masih takut kecuali hanya kepada Allah semata dan tidak berhara (raja') kepada selain-Nya, serta tidak bertawakkal kecuali hanya kepada Allah semata.

Bersambung...

===

(7) Allah berfirman,
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya'."
(Qur-an Surat az-Zumar: ayat 3)

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (11): Fenomena minta dido'akan

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (11)

Fenomena minta dido'akan

Dan yang dimaksud di sini bahwa Allah tidak akan memerintahkan seorang makhluk pun untuk meminta kepada makhluk yang lain kecuali pada perkara yang di dalamnya ada maslahah bagi hamba tersebut, baik perkara yang wajib atau mustahab. Karena sesungguhnya Allah tidak menuntut dari seorang hamba kecuali untuk melakukan perintah wajib atau mustahab, lalu bagaimana mungkin Dia memerintahkan hamba-Nya untuk memohon dari-Nya selain perkara yang mengandung kemaslahatan?! Bahkan Allah mengharamkan atas seorang hamba untuk meminta kepada yang lainnya sesuatu yang ia mampu kecuali karena terpaksa, dan apabila tujuannya agar tercapainya maslahat bagi yang diperintah atau agar tercapai maslahatnya diri sendiri dan juga maslahat orang yang diperintah, maka dia diberi pahala atas tujuan ini. Namun apabila tujuannya adalah untuk tercapainya keinginannya sendiri tanpa tujuan untuk memberikan manfaat kepada orang yang diperintah (untuk mendo'akan dirinya) maka berarti hal ini sesuatu yang datang dari dirinya sendiri.

Permintaan seperti ini (yang tujuannya hanya untuk tercapainya keinginannya sendiri tanpa tujuan untuk memberikan manfaat kepada orang yang diperintah) sama sekali tidak Allah perintahkan, bahkan Allah melarangnya. Karena permintaan ini murni bagi seorang makhluk tanpa dia bertujuan untuk memperoleh kemanfaatan, tidak pula kemaslahatan. Sedangkan Allah memerintahkan kita untuk langsung meminta kepada-Nya dan berharap hanya kepada-Nya dan Dia juga memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada para hamba-Nya.

Sedangkan apabila dia tidak memaksudkan apa-apa (dalam permintaannya itu) dan dia tidak menaruh harapan sama sekali kepada Allah dan tidak mau berdo'a kepada-Nya ketika dia shalat atau dia tidak berniat berbuat ihsan (kebaikan) kepada orang lain ketika dia melakukan 'ibadah zakat, meski terkadang seorang hamba tidak berdosa dengan sebab permintaan yang seperti ini, namun bedakanlah antara perkara yang diperintahkan kepada seorang hamba dan yang sekedar diizinkan baginya. Tidaklah engkau tahu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits "70 ribu orang-orang yang masuk Surga tanpa hisab, di antaranya orang-orang yang tidak minta untuk diruqyah"?!

Meski meminta untuk diruqyah itu sebenarnya diperbolehkan. Dan pembahasan ini telah kami jelaskan panjang lebar di tempat yang lain.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (10): Nikmat agama dan nikmat dunia

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (10)

Nikmat agama dan nikmat dunia

Bahkan kenikmatan dunia tanpa dibarengi dengan nikmat agama, apakah merupakan kenikmatan atau bukan?

Dalam masalah ini ada 2 (dua) pendapat yang masyhur di antara para 'ulama yang semadzhab dengan kami dan yang lainnya.

Jawaban secara penelitian bahwa semata-mata nikmat dunia juga disebut sebagai nikmat dari satu sisi, meski bukan sebatas memberi kemampuan kepada hamba, agar hamba itu sendiri akan dapat memperoleh dua kenikmatan tersebut (tanpa terkait dengan takdir Allah, -pent).

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (9): Syarat minta untuk dido'akan

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (9)

Syarat minta untuk dido'akan

Do'a (kebaikan) seorang mukmin untuk saudaranya akan memberikan manfaat bagi yang berdo'a dan bagi yang dido'akan. Sehingga barangsiapa yang mengatakan kepada orang lain, "Do'akanlah aku" sedang dia berniat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh kedua-duanya, maka berarti dia dan saudaranya saling membantu dengan didasari untuk berbuat baik dan bertaqwa. Dan hendaknya dia mengingatkan orang yang dia mintai untuk mendo'akannya dan mengisyaratkan bahwa manfaatnya akan mengenai mereka berdua.

Dan orang yang dimintai untuk mendo'akan hendaknya juga melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi keduanya (yang minta untuk dido'akan dan yang diminta untuk mendo'akan), sebagaimana kedudukan orang yang memerintah orang lain untuk berbuat baik dan bertaqwa, maka yang diperintah diberi pahala karena 'amalannya (menjalankan perintah) dan yang memerintah diberi pahala seperti pahala orang yang diperintah. Hal itu karena dia menyeru kepada kebaikan itu. Lebih-lebih lagi kalau do'a yang diminta adalah dari do'a-do'a yang diperintahkan kepada hamba, sebagaimana Allah berfirman:

"Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan."
(Qur-an Surat Muhammad: ayat 19)

Di sini Allah memerintahkan Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk memohon ampun (beristighfar).

Kemudian Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang."
(Qur-an Surat an-Nisa': ayat 64)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan, "Hendaknya mereka orang-orang mukmin (para shahabat radhiyallaahu 'anhum, -pent) memohon ampunan kepada Allah dan Dia juga menyebutkan, "Perbuatan Nabi memohon ampunan bagi mereka" sebagaimana Allah juga memerintahkan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam agar memohonkan ampun bagi kaum mukminin dan mukminat. Sedangkan Allah tidak akan memerintahkan seorang makhlukpun untuk meminta (kepada makhluk lain) sesuatu yang tidak Allah perintahkan (Allah syari'atkan, -pent) kepada makhluk tersebut. Bahkan segala apa yang Allah perintahkan kepada seorang hamba bisa berupa perintah wajib atau mustahab. Maka mengerjakannya berarti merupakan bentuk 'ibadah kepada Allah dan keta'atan serta pendekatan diri kepada Allah. Juga menunjukkan keshalihan pelakunya dan kebaikan 'amalannya. Sehingga apabila ia sudah mampu melakukan itu semua, hal ini menunjukkan kebaikan dan anugerah nikmat Allah yang terbesar kepadanya. Bahkan nikmat Allah yang termulia dan teragung atas hamba-Nya adalah menunjuki mereka kepada keimanan. Sedangkan iman adalah ucapan dan 'amalan, bertambah dengan berbuat keta'atan dan 'amal kebaikan, maka setiap kali 'amal kebaikan seorang hamba bertambah, berarti bertambah pula keimanannya. Inilah hakikat nikmat yang tersebut dalam firman Allah:

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka."
(Qur-an Surat al-Fatihah: ayat 7)

Dan pada firman-Nya:

"Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah."
(Qur-an Surat an-Nisa': ayat 69)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (8): Kedudukan perintah mendo'akan Rasulullah

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (8)

Kedudukan perintah mendo'akan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam

Dari sini kita tahu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah meminta dari ummat beliau agar mereka mendo'akan untuk beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, (memohon al-Wasilah kepada Allah untuk diberikan kepada beliau sebagaimana dalam hadits, -pent). Namun hal ini bukan dari bab beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam meminta-minta kepada ummatnya (bukan hal ini yang jadi sisi pandang kita, -pent). Akan tetapi perintah beliau kepada ummatnya ini, yaitu agar mereka mendo'akan beliau, setara dengan perintah beliau kepada ummat ini untuk melaksanakan seluruh 'amalan keta'atan yang mereka diberi pahala dengan sebab melaksanakannya. Dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam akan memperoleh pahala seperti pahala-pahala mereka (ummat beliau) dalam setiap yang mereka 'amalkan, karena telah datang (hadits) yang shahih dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda:

"Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka dia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun."
(Hadits Riwayat Imam Muslim)

Sedangkan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah penyeru ummat seluruhnya kepada petunjuk, maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam akan memperoleh pahala-pahala mereka pada setiap perkara yang mereka ikuti dari petunjuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Demikian pula apabila mereka mengucapkan shalawat atas Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam maka sesungguhnya Allah akan melimpahkan shalawat kepada mereka (yang bershalawat tersebut, -pent) sepuluh kali lipat. Dan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam akan memperoleh semisal dengan pahala-pahala mereka bersamaan dengan do'a mereka untuk beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang Allah kabulkan. Do'a yang mereka panjatkan telah ada bagian pahala tersendiri dari Allah bagi mereka dan jadilah segala pahala yang diperoleh adalah sebagai nikmat yang Allah limpahkan atas pelakunya.

Dan telah tsabit (hadits) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam kitab ash-Shahih, bahwa beliau bersabda:

"Tidak ada seorang hamba Muslimpun yang berdo'a suatu do'a kebaikan untuk saudaranya dalam keadaan dia (saudaranya tersebut) tidak mengetahui, kecuali Allah akan menugaskan seorang Malaikat setiap kali dia berdo'a kebaikan untuk saudaranya, Malaikat yang ditugasi tersebut berkata: 'Aamiiiin (Ya Allah kabulkanlah) dan engkau akan mendapatkan kebaikan yang seperti itu pula'."
(Hadits Riwayat Imam Muslim)

Dan dalam hadits yang lain:

"Do'a yang paling cepat terkabulkan adalah do'a orang yang ghaib kepada orang yang ghaib (yang dido'akan tidak mengetahui bahwa dia sedang dido'akan oleh orang lain, -pent)." (6)

Maka mendo'akan kebaikan untuk orang lain akan bermanfaat bagi yang berdo'a dan bagi yang dido'akan, meskipun yang berdo'a kedudukannya di bawah orang yang dia do'akan.

Bersambung...

===

(6) Di dalamnya terdapat 'Abdurrahman bin Ziyad al-Afriifi, dan dia lemah.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (7): Bolehnya minta untuk dido'akan

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (7)

Bolehnya minta untuk dido'akan

Dan do'a itu disyari'atkan. Seorang yang lebih rendah meminta untuk dido'akan kebaikan kepada orang yang lebih mulia darinya, demikian juga sebaliknya. (Di antara contoh seorang yang lebih rendah meminta dido'akan orang yang lebih mulia adalah) bolehnya memohon syafa'at dan do'a dari para Nabi (ketika masih hidup) sebagaimana para shahabat radhiyallaahu 'anhum memohon syafa'at agar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a kepada Allah untuk memintakan hujan dan mereka meminta do'a dari beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Bahkan, demikian pula setelah wafatnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, 'Umar dan kaum Muslimin pada zaman tersebut memohon turunnya hujan kepada Allah dengan perantaraan do'anya al-'Abbas radhiyallaahu 'anhu yaitu paman Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (ketika al-'Abbas masih hidup, -pent).

Pada hari Kiamat manusia memohon syafa'at dari para Nabi dan dari Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau adalah pemimpin orang-orang yang diberi hak untuk memberi syafa'at. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berhak memberi syafa'at yang khusus. Bersamaan dengan itu semua (boleh juga seorang yang lebih mulia meminta untuk dido'akan kebaikan kepada orang yang berada di bawahnya, sebagaimana) telah tsabit dalam kitab Shahihain dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda:

"Apabila kalian mendengar mu'adzin mengumandangkan adzan maka jawablah seperti apa yang dia baca, kemudian bacalah shalawat untukku, sesungguhnya barangsiapa yang membaca shalawat untukku satu kali niscaya Allah akan melimpahkan shalawat kepadanya 10 (sepuluh) kali. Kemudian mintalah kepada Allah (Surga) al-Wasilah untukku, karena sesungguhnya al-Wasilah adalah salah satu kedudukan di dalam Surga yang tidak akan diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap semoga seorang hamba yang mendapatkan al-Wasilah itu adalah aku. Maka barangsiapa yang memohonkan al-Wasilah kepada Allah untukku, dia akan memperoleh syafa'atku pada hari Kiamat."
(Hadits Riwayat Imam Muslim)

Dan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada 'Umar radhiyallaahu 'anhu tatkala 'Umar ingin 'umrah ketika beliau melepas kepergiannya beliau bersabda, "Wahai saudaraku jangan lupakan aku dalam do'amu." (Dalam sanadnya ada 'Ashim bin 'Abdillah dan dia dha'if).

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (6): Kedudukan sebab

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (6)

Kedudukan sebab

Dengan demikian (lanjutan dari pembahasan sebelumnya, -pent) maka condong kepada sebab-sebab adalah termasuk kesyirikan (4) dalam tauhid.

Dan menghilangkan sebab (meremehkannya) untuk menjadi sebab menunjukkan kurangnya akal dan meninggalkan sebab sama sekali adalah tercela dalam syari'at (5). Bahkan seorang hamba haruslah tawakkalnya, do'anya, permohonannya dan harapannya hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh. Kemudian Allah-lah yang mentaqdirkan sebab-sebab tersebut seperti do'a makhluk dan 'amalan mereka yang lainnya sesuai dengan yang Dia kehendaki.

Bersambung...

===

(4) Hal itu jika ia meyakini bahwa sebab-sebab ini dapat memberi pengaruh dengan senirinya tanpa melihat pada Dzat yang menjadikan sebab tersebut yaitu Allah Jalla Jalaaluh.

(5) Wajib atas seorang mukmin untuk mengambil sebab-sebab yang disyari'atkan dan bertawakkal kepada Allah, karena sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada seorang laki-laki, "Ikatlah unta tersebut dan bertawakkallah." (Dihasankan oleh Imam at-Tirmidzi)

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (5): Perbedaan antara syafa'at yang batil dan yang benar

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (5)

Perbedaan antara syafa'at yang batil dan yang benar

Allah Jalla Jalaaluh berfirman:

"Katakanlah: 'Panggillah mereka yang kamu anggap (rabb) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya.' Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 56-57)

Di sini Allah mengabarkan bahwa siapa saja yang diseru selain Dia tidak mampu menghindarkan bahaya dan tidak pula merubahnya, bahkan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap adzab-Nya, juga mendekatkan diri kepada Allah. Allah Jalla Jalaaluh telah meniadakan syafa'at bagi Malaikat dan para Nabi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Dan syafa'at itu juga berupa do'a (permintaan kepada Allah), dan tidak diragukan lagi bahwa do'a seseorang untuk orang lain (seseorang mendo'akan orang lain) itu akan memberikan manfaat, lebih-lebih Allah telah memerintahkan hal tersebut.

Akan tetapi orang yang memohon berupa permohonan untuk memberi syafa'at tidak punya hak untuk memberikan syafa'at tersebut kecuali dengan izin Allah. Maka tidak ada yang dapat memberikan syafa'at dengan syafa'at yang Dia melarangnya, seperti memberi syafa'at (pembelaan) kepada orang-orang musyrik dan memohonkan ampunan kepada mereka. Allah berfirman:

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahannam. Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 113-114)

Dan Allah juga berfirman berkaitan dengan haknya orang-orang munafik:

"Sama saja bagi mereka, kamu memintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka."
(Qur-an Surat al-Munafiqun: ayat 6)

Dan telah tsabit dalam kitab ash-Shahih bahwa Allah melarang Nabi-Nya untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang musyrik dan orang-orang munafik dan Allah mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuni mereka sebagaimana dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya."
(Qur-an Surat an-Nisaa': ayat 48)

"Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 84)

Dan sungguh Allah telah berfirman:

"Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
(Qur-an Surat al-A'raaf: ayat 55)

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan bahwa Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas, maksudnya adalah melampaui batas dalam masalah do'a. Dan termasuk melampaui batas dalam masalah do'a adalah jika seorang hamba memohon kepada Allah sesuatu yang tidak mungkin Allah akan melakukannya, seperti seseorang memohon kepada-Nya diberi kedudukan (sebagaimana kedudukannya) Nabi padahal dia bukan termasuk mereka atau memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik dan yang semisalnya, atau memohon kepada Allah sesuatu yang di dalamnya terdapat maksiat kepada-Nya seperti menolong perbuatan kufur, fasik dan maksiat.

Maka orang yang dapat memberi syafa'at adalah orang yang Allah izinkan untuk memberi syafa'at dan syafa'atnya berupa do'a yang tidak ada padanya permusuhan dan seandainya salah seorang di antara mereka berdo'a dengan sesuatu yang tidak benar, maka tentu dia (pemberi syafa'at yang diterima) tidak akan menyetujuinya, karena sesungguhnya mereka terjaga dari kesalahan yang seperti itu, sebagaimana perkataan Nuh 'alaihis salaam:

"Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya."
(Qur-an Surat Huud: ayat 45)

Allah Jalla Jalaaluh berfirman:

"Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.' Nuh berkata: 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi."
(Qur-an Surat Huud: ayat 46-47)

Dan setiap orang yang berdo'a yang memohon syafa'at kepada Allah Jalla Jalaaluh, tidak akan terkabulkan (do'a dan permohonan syafa'atnya) tersebut kecuali dengan ketetapan, takdir dan kehendak Allah, karena Dialah Dzat Yang Maha Mengabulkan do'a dan menerima syafa'at dan Dia pula yang menciptakan sebab dan akibat, sedangkan do'a termasuk sebab yang telah Allah Jalla Jalaaluh taqdirkan (seseorang untuk berdo'a, -pent).

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4): Macam-macam perantara yang ditolak (3)

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4)

Macam-macam perantara yang ditolak (3).

3. Mungkin karena seorang raja tidak (akan) memberi manfaat kepada rakyatnya dan berbuat baik kepada mereka serta mengasihi mereka kecuali dengan adanya orang yang menggerakkan hatinya dari pihak luar. Sehingga apabila ada seorang yang menasehati raja tersebut dan mengagungkannya atau dengan merasa hina di hadapannya dengan cara menunjukkan harapan yang besar kepadanya atau takut kepadanya, maka barulah keinginan raja tergerak untuk menunaikan kebutuhan rakyatnya. Mungkin karena perkataan penasehatnya yang mampu menggetarkan hatinya, bisa juga karena ungkapan pengagungan atau rasa harap dan takut kepadanya.

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4): Macam-macam perantara yang ditolak (2)

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4)

Macam-macam perantara yang ditolak (2).

2. Mungkin pula karena raja merasa lemah untuk mengatur rakyatnya dan menghalau musuh-musuhnya kecuali dengan bantuan para pembelanya, sehingga dia harus memiliki para penolong karena lemah dan hinanya dia. Sedangkan Allah bukanlah Dzat yang lemah sehingga membutuhkan penolong-penolong dan pembela (yang membela-Nya). Allah berfirman:

"Katakanlah: 'Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Rabb) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya'."
(Qur-an Surat Saba': ayat 22)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4): Macam-macam perantara yang ditolak

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (4)

Macam-macam perantara yang ditolak.

Dan di dalam al-Qur-an terdapat banyak sekali bantahan terhadap kelompok di atas yang bukan di sini tempat pembahasannya. Sesungguhnya wasithah (perantara) antara raja-raja dan manusia (rakyat) terjadi karena dilandasi salah satu dari tiga sisi berikut:

1. Mungkin karena perantara tersebut berfungsi untuk mengabarkan kepada raja-raja tersebut tentang keadaan rakyatnya yang tidak diketahuinya.

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (3): 'Ulama adalah pewaris para Nabi

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (3)

'Ulama adalah pewaris para Nabi.

Adapun selain para Nabi dari kalangan para 'Ulama, maka barangsiapa yang menetapkan mereka sebagai wasithah (perantara) yang menyampaikan risalah Islam kepada ummat beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, mengajari mereka, mendidik adab mereka dan agar mereka mengikuti risalah tersebut, maka pemahaman yang seperti ini adalah benar.

Dan mereka (para 'Ulama) apabila berijma' (bersepakat), maka ijma' mereka adalah hujjah yang pasti kebenarannya, mereka tidak berkumpul di atas kesesatan. Dan apabila mereka berselisih dalam suatu perkara, niscaya mereka mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena individu perorangan di antara para 'Ulama tidaklah ma'sum (terjaga dari kesalahan) secara mutlak. Karena setiap orang bisa diambil ucapannya atau ditinggalkan ucapannya kecuali Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Beliau bersabda:

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (2): Para Rasul tidak dapat memberikan manfaat

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (2)

Para Rasul tidak dapat memberikan manfaat.

Namun jika dia memaksudkan dengan wasithah (perantara) adalah wasithah (perantara) dalam memperoleh manfaat dan mencegah madharat, seperti adanya wasithah (perantara) dalam memperoleh rizki hamba dan menolong mereka dan memberi petunjuk kepada mereka yang mereka minta kepadanya dan kembali memohon kepadanya, maka hal ini adalah sebesar-besar kesyirikan, yang mana dengan sebab itulah Allah mengkafirkan orang-orang musyrik yang telah menjadikan selain Allah sebagai wali-wali dan pemberi syafa'at yang dianggap dapat memberikan manfaat dan menolak madharat. Karena syafa'at hanya bagi orang yang Allah beri izin untuk mendapatkan syafa'at. Allah berfirman:

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya: Para Rasul adalah perantara dalam menyampaikan risalah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Katakanlah segala puji hanya bagi Allah, keselamatan semoga terlimpah atas hamba-hamba-Nya yang terpilih. Apakah Allah lebih baik atau apa yang mereka persekutukan?

Adapun sesudah itu:

Risalah ini menceritakan tentang dua orang yang sedang berdialog, salah satunya mengatakan: Antara kita dan Allah harus ada perantara, karena kita tidak mampu untuk mencapai kepada-Nya, tanpa adanya perantara tersebut.

Para Rasul adalah perantara dalam menyampaikan risalah

(Maka jawabannya) adalah:

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah