Showing posts with label tawassul. Show all posts
Showing posts with label tawassul. Show all posts

Wasilah Kauniyah dan Syar'iyah | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Wasilah Kauniyah dan Syar'iyah.

Telah kita ketahui bahwa wasilah adalah sebab yang menghantarkan kepada sesuatu yang ingin dicapai dengan penuh kesungguhan. Maka kita ketahui pula bahwa wasilah itu ada dua: wasilah kauniyah dan wasilah syar'iyah.

Wasilah kauniyah ialah tiap-tiap sebab alami atau natural atau kauni yang menyampaikan kepada tujuan dengan watak kemakhlukannya yang telah Allah ciptakan, dan menghantarkan kepada yang diinginkan dengan fitrahnya yang telah Allah tetapkan kepadanya. Wasilah ini berlaku bagi orang Mukmin dan kafir, tanpa perbedaan. Contoh, air adalah wasilah (sarana) untuk menghilangkan dahaga manusia, makan adalah wasilah untuk mengenyangkannya, pakaian adalah wasilah untuk melindunginya dari panas dan dingin, mobil adalah wasilah untuk transportasi dari satu tempat ke tempat lain, dan lain sebagainya.

Wasilah syar'iyah ialah setiap sebab yang menghantarkan kepada tujuan, melalui cara yang telah disyariatkan Allah dan dijelaskan di dalam Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Wasilah ini khusus bagi orang Mukmin yang mengikuti perintah Allah dan Rasul. Contohnya mengucapkan dua kalimat syahadat dengan keikhlasan dan memahami artinya merupakan wasilah untuk masuk Surga dan keselamatan dari kekekalan di dalam Neraka. Mengganti kejahatan dengan kebaikan adalah wasilah untuk menghapus kejahatan itu. Mengucapkan doa yang ma'tsur (diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam) setelah adzan adalah wasilah untuk memperoleh syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, silaturrahim adalah wasilah memperpanjang umur dan meluaskan rizki, dan lain sebagainya.

Semua ini dan yang semisalnya kita ketahui sebagai wasilah yang dapat mewujudkan tercapainya tujuan hanya melalui syariat semata, bukan melalui ilmu, pengalaman atau perasaan. Kita mengetahui silaturrahim dapat memanjangkan umur dan melapangkan rizki dari sabda Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam),

"Barangsiapa ingin dilapangkan rizkinya dan diperpanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali persaudaraannya." [7]

Demikian pula contoh-contoh lain.

Banyak orang yang melakukan kesalahan besar dalam memahami dua macam wasilah ini. Kadang mereka menyangka bahwa suatu sebab kauni (alami) dapat menyampaikan kepada tujuan tertentu, padahal persoalan tersebut justru sebaliknya. Dan kadang mereka penganggap suatu sebab syar'i dapat menghantarkan kepada tujuan syar'i tertentu, padahal kenyataan tersebut justru sebaliknya.

Di antara contoh wasilah yang batil secara syar'i dan kauni sekaligus, adalah apa yang sering dilihat para pejalan kaki di jalan An-Nashr Damaskus. Di sana kita dapati sekelompok orang yang meletakkan meja-meja kecil didepannya, sementara di atas meja terdapat seekor binatang kecil seperti tikus, dan disampingnya diletakkan kumpulan kartu yang berisi ramalan-ramalan nasib manusia. Kartu-kartu itu ditulis oleh pemilik binatang atau didiktekan oleh sebagian orang kepadanya, sesuai dengan hawa nafsu dan kebohongannya. Orang-orang berdatangan ke tempat itu untuk melihat nasibnya dengan membayar beberapa qirsy (mata uang Turki, pent.) kepada pemilik binatang. Kemudian ia mengisyaratkan kepada binatang itu untuk mengambil salah satu kartu, lalu diberikan kepada peminat yang telah membayarnya. Dari kartu itulah -menurut sangkaannya- ia bisa melihat nasibnya.

Anda bisa melihat, di manakah nilai akal manusia yang menjadikan binatang sebagai pembimbing dan memberitahukan kepadanya hal-hal yang gaib, jika ia benar-benar meyakini bahwa hewan tersebut mengetahui hal yang gaib, maka hewan lebih baik dari dirinya. Dan jika ia tidak meyakini tetapi melakukannya, maka perbuatannya itu merupakan kesia-siaan, ketololan dan pemborosan waktu serta uang yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang yang berakal sehat. Di samping itu, praktik-praktik seperti ini merupakan penipuan, penyesatan dan pengambilan harta orang lain secara batil.

Tidak diragukan pula, bahwa penyandaran manusia kepada binatang untuk mengetahui perkara ghaib -menurut anggapan mereka- adalah wasilah kauniyah. Akan tetapi anggapan ini tidak benar, ditolak oleh pengalaman dan tidak bisa diterima pemikiran yang sehat. Ia adalah wasilah khurafiyah yang diakibatkan oleh kebodohan dan kedustaan. Sedang menurut pandangan syara', ia pun batil pula, menyalahi Al-Kitab, As-Sunnah dan ijma'. Allah berfirman,

"Dia adalah Rabb yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya." (Al-Jin: 26-27)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

7. Diriwayatkan oleh Bukhary, Muslim dan lainnya. Hadits ini telah ditakhrij di dalam kitab Shahih Abu Daud (1487).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kapankah Amal itu Bernilai Shalih | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Tawassul.

Kapankah Amal itu Bernilai Shalih.

Al-Qur'an dan As-Sunnah telah menjelaskan bahwa suatu amal akan bernilai shalih, diterima dan dapat mendekatkan diri kepada Allah, apabila memenuhi persyaratan penting.

Pertama, bahwa amal tersebut harus ditujukan kepada Allah semata dengan ikhlas.

Kedua, bahwa amal tersebut harus sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah di dalam Kitab-Nya atau apa yang dijelaskan oleh Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Jika salah satunya tidak dipenuhi, maka amal tersebut tidak bernilai shalih dan tertolak. Hal ini ditunjukkan di dalam firman-Nya.

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan agar menjadikan amal itu bernilai shalih, yaitu sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Kemudian Dia memerintahkan agar orang yang mengerjakan amal shalih itu mengikhlaskan niatnya karena Allah semata, tidak menghendaki selain-Nya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata di dalam tafsirnya, "Inilah dua landasan amal yang diterima: Harus ikhlas karena Allah, dan sesuai benar dengan syariat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam."

Perkataan yang sama juga diriwayatkan dari Al-Qadhi 'Iyadh dan lain-lainnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Wasilah dengan Amal Shalih | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Wasilah dengan Amal Shalih.

Anehnya ada sementara orang yang mengaku sebagai ahli ilmu, telah terbiasa menggunakan dua ayat tersebut (Al-Maidah: 35 dan Al-Isra': 57) sebagai dalil untuk membenarkan praktik tawassul dengan melalui para Nabi, hak mereka atau kemuliaan mereka. Ini adalah suatu cara pengambilan dalil (istidhal) yang keliru. Tidaklah benar mengartikan dua ayat tersebut dengan tindakan demikian. Oleh karena di dalam syara' tidak pernah dinyatakan bahwa tawassul seperti ini disyariatkan dan dianjurkan. Itulah sebabnya mengapa istidhal seperti ini tidak pernah disebutkan oleh seorang pun dari ulama salaf, dan mereka pun tidak pernah tawassul seperti itu. Sebaliknya, yang mereka pahami dari dua ayat tersebut ialah bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar bertaqarrub kepada-Nya dengan penuh kesungguhan, mendekatkan diri kepada-Nya sedekat-dekatnya, dan mencapai ridha-Nya dengan cara-cara yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengajarkan kepada kita di dalam nash-nash yang lain, bahwa apabila kita ingin bertaqarrub kepada-Nya, maka kita harus mendekat kepada-Nya dengan amal-amal shalih yang disukai dan diridhai-Nya. Dia tidak membiarkan amalan-amalan tersebut dikerjakan sekehendak hati kita, tidak membiarkan penentuannya berlandaskan akal dan perasaan kita semata. Karena hal itu akan menimbulkan perselisihan dan pertentangan. Akan tetapi Allah memerintahkan kita agar kembali kepada-Nya dalam masalah ini, mengikuti tuntunan dan ajaran-Nya. Karena tidak ada yang mengetahui Dia semata. Oleh karena itu untuk mengetahui wasilah-wasilah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, kita wajib kembali -pada setiap masalah- kepada apa yang disyariatkan Allah dan dijelaskan oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Ini berarti kita harus kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah Rasul-Nya. Dalam kaitan ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah berwasiat kepada kita di dalam sebuah haditsnya,

"Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

6. Diriwayatkan oleh Malik dengan mursal, dan Al-Hakim dari hadits Ibnu Abbas, dan sanadnya hasan. Baginya ada penguat dari hadits Jabir yang telah penulis takhrij di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1761).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Makna Wasilah Menurut Al-Qur'an | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Makna Wasilah Menurut Al-Qur'an.

Penjelasan tentang makna wasilah yang telah saya kemukakan di atas telah dikenal dalam pengertian bahasa dan tidak seorang pun membantahnya. Dengan pengertian yang sama pula para salaf yang shalih dan imam tafsir menafsirkan dua ayat Al-Qur'an yang menyebutkan kata wasilah, yaitu firman Allah,

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (Al-Maidah: 35)

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (wasilah) kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya, sesungguhnya adzab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti." (Al-Isra': 57)

Mengenai ayat pertama, Imam para mufassir Al-Hafizh Ibnu Jarir mengatakan di dalam kitabnya (jilid 6 halaman 226), "Wahai orang-orang yang telah membenarkan Allah dan Rasul-Nya tentang apa yang Dia kabarkan kepada mereka, membenarkan pahala yang Dia janjikan kepada mereka, dan siksa yang Dia ancamkan kepada mereka; bertakwalah kamu kepada Allah." Beliau berkata lagi, "Sambutlah Allah mengenai apa yang diperintahkan-Nya kepadamu dan apa yang dilarang-Nya kepadamu, dengan menaati-Nya; realisirlah keimanan dan pembenaranmu terhadap Rabb dan Nabimu, dengan mengerjakan amal shalih." "Wabtaghu ilaihil-wasilata." Beliau berkata, "Dan carilah kedekatan kepada-Nya dengan amal yang membuat-Nya ridha."

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dengan mengutip dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwa makna wasilah di dalam ayat tersebut ialah peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah (alqurbah). Demikian pula apa yang dikutipkan dari Muhajid, Abu Wa'il, Al-Hasan, Abdullah bin Katsir, As-Sudi, Ibnu Zaid dan lain-lainnya. Ia juga menukil perkataan Qatadah mengenai ayat tersebut, yakni "Mendekatlah kepada Allah dengan menaati-Nya dan mengerjakan amalan yang membuat-Nya ridha."

Kemudian Ibnu Katsir berkata, "Inilah pendapat para imam tersebut, tidak ada silang pendapat di antara ahli tafsir dalam masalah ini. Jadi wasilah adalah sesuatu yang mengantarkan kepada tercapainya tujuan." [3]

Mengenai ayat kedua, salah seorang sahabat terkemuka, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, menjelaskan kaitan (munasabah) turunnya ayat tersebut, sekaligus menjelaskan maknanya, "Ayat ini turun berkenaan dengan adanya beberapa orang Arab yang menyembah jin, kemudian jin-jin tersebut masuk Islam, sedang orang-orang yang menyembah mereka itu tidak menyadarinya." [4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, [5] "Orang-orang yang menyembah jin itu terus menyembahnya, sementara jin itu sendiri tidak menyetujui perbuatan tersebut, karena mereka telah masuk Islam. Bahkan merekalah (jin-jin yang telah masuk Islam) yang sedang mencari jalan untuk mendekatkan diri (wasilah) kepada Rabb mereka. Dan inilah yang dapat dipegangi mengenai ayat tersebut."

Saya berkata, dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan wasilah ialah sesuatu (ibadah) yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Itulah sebabnya Allah berfirman, "Yabtaghuna", yakni mereka mencari sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, berupa amal shalih.

Di samping ayat tersebut juga memberikan indikasi akan adanya gejala aneh yang bertentangan dengan setiap pemikiran sehat. Gejala orang yang menunjukkan ibadah dan doa mereka kepada sebagian hamba Allah. Mereka takut dan berharap kepadanya, padahal hamba-hamba yang mereka sembah itu telah mengumumkan keislamannya, menyatakan peribadatannya kepada Allah, dan mulai berlomba mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal-amal shalih yang disukai dan diridhai-Nya, mengharapkan rahmat-Nya dan takut kepada siksa-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat ini Allah melecehkan mimpi orang-orang dungu yang menyembah jin dan terus menyembahnya. Padahal mereka (jin-jin itu) adalah makhluk-makhluk yang menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala, lemah seperti mereka dan tidak berdaya menolak bahaya atau memberi manfaat. Allah telah mengingkari mereka atas tidak ditujukannya ibadah mereka hanya kepada-Nya semata. Dialah yang memiliki bahaya dan manfaat; di tangan-Nyalah ketentuan segala sesuatu; dan hanya Dialah yang memelihara sesuatu.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

3. Tafsir Ibnu Katsir (2: 52-53).

4. Diriwayatkan oleh Muslim (8: 248, Nawawi) dan Bukhari sepertinya (8: 320-321, Fathul Bary), dan di dalam satu riwayat baginya, "Kemudian jin itu masuk Islam, dan mereka itu berpegang teguh dengan agamanya."

5. Fathul Bary (10: 12-13).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tawassul Menurut Bahasa | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Tawassul Menurut Bahasa.

Sebelum membahas masalah ini secara rinci, perlu dijelaskan salah satu sebab yang menimbulkan terjadinya salah paham mengenai makna tawassul. Pada dasarnya, salah paham itu terjadi karena kebanyakan orang tidak memahami makna tawassul secara lughawi (bahasa), dan menunjukkan (dalalah)nya yang asli. Kata tawassul berasal dari bahasa Arab asli, disebutkan di dalam Al-Qur'an, hadits, pembicaraan orang Arab, syair dan natsr (prosa), yang artinya mendekat (taqarrub) kepada yang dituju dan mencapainya dengan keinginan keras.

Ibnu Atsir mengatakan di dalam kitabnya An-Nihayah, jilid 5 hal. 185: Al-Wasil artinya orang yang berkeinginan (mencapai sesuatu). Al-Wasilah artinya pendekatan, perantara, dan sesuatu yang dijadikan untuk menyampaikan serta mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasa'il.

Al-Fairuzabadi mengatakan di dalam Al-Qamus, jilid 4 halaman 65: Wassala ilallahi tausilan, artinya dia mengamalkan sesuatu amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada-Nya, sebagai perantara.

Ibnu Faris mengatakan di dalam Al-Mu'jam Al-Maqayis, jilid 6 halaman 110: Al-Wasilah artinya keinginan dan tuntutan. Dikatakan wasala apabila ia berkeinginan. Al-Wasil artinya orang yang ingin (sampai) kepada Allah, seperti pada perkataan Labid, "Aku lihat manusia tidak mengetahui apa batas persoalan mereka. Tentu setiap orang yang mempunyai agama ingin (sampai) kepada Allah."

Ar-Raghib Al-Ashfahani berkata di dalam Al-Mufradat, halaman 560-561: Al-Wasilah artinya pencapaian sesuatu dengan penuh keinginan. Ia lebih khusus daripada al-washilah, karena ia (al-wasilah) memuat makna keinginan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "...dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya." (Al-Maidah: 35)

Hakikat wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada Allah ialah menjaga jalan-Nya dengan amal dan ibadah, dan mencari keutamaan syariat, ia seperti taqarrub. Sedangkan al-wasil ialah orang yang ingin sampai kepada Allah.

Selain itu wasilah juga mempunyai makna yang lain, yaitu kedudukan di sisi raja, derajat dan kedekatan.

Di dalam hadits berikut ini kata wasilah dipakai untuk pengertian kedudukan tertinggi di Surga,

"Apabila kamu mendengar (ucapan) mu'adzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena sesungguhnya orang yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku wasilah, karena ia adalah kedudukan di Surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, dan aku berharap menjadi orang tersebut. Maka barangsiapa meminta untukku wasilah tersebut, ia berhak memperoleh syafaat." [2]

Maka jelaslah bahwa dua makna yang terakhir dari kata wasilah ini sangat erat kaitannya dengan maknanya yang asli, akan tetapi bukan kedua makna itu yang menjadi tujuan pembahasan kita.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan kaki:

2. Diriwayatkan oleh Muslim. Ashahabus-Sunan dan lainnya. Hadits ini telah ditakhrij (diteliti shahih tidaknya) di dalam kitab Penulis Irwa'ul-Ghalil (242).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Hukum dan Bentuk-bentuknya | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Hukum dan Bentuk-bentuknya.

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari keburukan perbuatan kami. Barangsiapa memperoleh petunjuk Allah, maka tidak seorang pun dapat menyesatkan. Dan barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak seorang pun dapat menunjukinya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (An-Nisa': 1)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara (agama) adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat dan setiap yang sesat itu di Neraka.

Telah terjadi pertentangan besar menyangkut masalah Tawassul dan hukumnya menurut agama, antara yang membolehkan dan yang mengharamkan. Telah berabad-abad lamanya kaum Muslim terbiasa mengucapkan di dalam doa mereka, "Ya, Allah, dengan hak Nabi-Mu, atau dengan kemuliaan atau kehormatannya di sisi-Mu, ampunilah aku." Atau "Ya Allah, dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shalih, seperti fulan dan fulan." Atau "Ya Allah, dengan karamah (kehormatan) hamba-hamba Allah di sisi-Mu, dengan kemuliaan orang yang kami berada di dalam hadiratnya dan di bawah pertolongannya [1], lepaskanlah kami dari kesedihan dan kesusahan." Atau "Ya Allah, sesungguhnya telah kami ulurkan tangan kami serendah-rendahnya kepada-Mu, seraya bertawassul kepada-Mu dengan orang yang memiliki hak tawassul dan syafaat, tolonglah Islam dan kaum Muslim..." dan lain sebagainya.

Mereka menamakan semua ini tawassul. Mereka membolehkannya dan menganggapnya syar'i (sesuai dengan syara'), karena -menurut mereka- terdapat beberapa ayat dan hadits yang menguatkan dan mensyariatkannya. Lebih sesat lagi, ada sekelompok orang yang membolehkan tawassul kepada Allah dengan melalui sebagian makhluk-Nya yang sebenarnya tidak layak memperoleh kehormatan, seperti kuburan para wali, bangunan yang didirikan di atas kuburan mereka; tanah, batu dan pohon yang ada di sekitar kuburan tersebut. Mereka menganggap apa yang ada di sekitar sesuatu yang mulia adalah mulia, dan penghormatan Allah kepada penghuni kubur itu berarti penghormatan pula kepada kuburannya, sehingga sah untuk menjadi wasilah (perantara) kepada Allah. Bahkan ada pula yang membolehkan istighatsah (meminta pertolongan) kepada selain Allah, lalu dikatakannya tawassul. Padahal perbuatan tersebut merupakan perbuatan syirik yang menggugurkan tauhid.

Lalu apakah tawassul itu? Apakah macam-macamnya? Apakah maksud ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkenaan dengan masalah ini? Bagaimanakah hukumnya menurut Islam? Pada bab-bab selanjutnya akan dijelaskan secara rinci.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan kaki:

1. Mempercayai adanya pertolongan orang mati terhadap orang hidup adalah kepercayaan yang batil. Meminta kepada mayit berarti meminta pertolongan kepada selain Allah, dan ini merupakan syirik besar. Na'udzubillah min dzalik.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan | Tawassul

At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA.

Tawassul.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah.

Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah.

Pendahuluan.

Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari Kiamat.

Pada mulanya buku ini berbentuk dua buah muhadharah (ceramah ilmiah) yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nashiruddin Al-Albany kepada para pemuda Muslim, pada musim panas tahun 1392 H, di rumahnya (Mukhayyam Al-Yarmuk) di kota Damaskus Al-Faiha'. Di dalam kedua Muhadharah itu beliau membahas masalah tawassul dari segala seginya.

Ustadz Muhammad Nashiruddin Al-Albany adalah seorang yang dikenal luas dalam ilmunya dan berpandangan kritis, di samping sebagai seorang pakar di bidang penelitian hadits yang sulit dicari bandingannya sekarang ini.

Kajian yang sangat berharga ini benar-benar telah mengundang kekaguman para hadirin, karena ia merupakan kajian ilmiah yang akurat dan argumentasi yang kuat serta jelas, sehingga mereka dapat menerima hasil-hasil yang dicapainya dan pendapat yang disimpulkannya. Perlu dicatat, bahwa apa yang beliau kemukakan itu merupakan pendapat para imam mujtahid terdahulu -semoga Allah merahmati mereka.

Apa yang mendorong kami menyajikan kajian ini kepada kaum Muslimin, adalah karena melihat adanya faidah yang besar dan kebutuhan yang sangat mendalam terhadap penyebaran kajian ini, sebagai salah satu upaya untuk membebaskan kaum Muslim dari kesalahpahaman dan kerancuan besar yang melanda kebanyakan mereka, menyangkut masalah yang penting ini.

Ternyata Allah telah memudahkan semua itu -segala keutamaan dan karunia dari-Nya- yaitu dengan adanya beberapa ikhwan yang telah merekam kedua ceramah tersebut, kemudian menyumbangkan tenaga dan waktunya untuk memindahkannya ke dalam tulisan tangan yang jelas serta bagus. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Kemudian tulisan tersebut saya periksa ulang dan saya perbaiki sehingga laik terbit. Saya tambahkan pula beberapa hal yang cukup penting, di samping saya berikan pula catatan (nomor) ayat-ayat dan hadits-hadits yang tercantum di dalamnya.

Sesudah itu Ustadz Al-Albany memeriksa risalah tulisan tangan yang pernah ditulisnya sejak hampir dua puluh tahun sebelumnya, dengan judul At-Tawassul wa Ahaditsuhu. Risalah ini merupakan serial yang pernah diterbitkan dengan judul Tasdidu Ishabah ila Man Za'ama Nushrata Khulafai Rasyidin wash-Shahabah. Di dalamnya beliau membantah sebagian tukang bid'ah dan khurafat yang suka mengecam, berdusta atau nama kaum salaf dan memutar-balikkan fakta secara tidak ilmiah dan menyimpang dari prinsip keikhlasan, di dalam berbagai risalah yang mereka terbitkan.

Kemudian Ustadz Al-Albany memperlihatkan risalah tersebut kepada saya untuk dipelajari. Di dalamnya saya dapati berbagai faidah yang sangat berharga, dan hal-hal yang perlu ditambahkan pada kedua muhadharahnya itu. Maka saya tambahkan padanya dan saya susun sedemikian rupa dengan membuang apa yang sudah tidak diperlukan. Akhirnya, seluruh pembahasan tersebut saya perlihatkan kepada Ustadz Al-Albany dalam bentuknya yang baru untuk diperiksa dan diperbaiki, (dengan memberikan tambahan penjelasan dan perbaikannya). Maka terbitlah risalah dalam bentuknya yang ringkas, padat dan komprehensif dengan taufik dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sekarang saya sajikan risalah ini kepada pembaca, dengan harapan mudah-mudahan para pembaca memperoleh kebaikan dan manfaat darinya. Semoga Allah mencatatkan untuk penulis dan penerbitnya pahala yang banyak. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih dapat disempurnakan. Hanya Dialah Pelindung kita, dan hanya Dialah sebaik-baik tempat berserah diri.

Damaskus, 27 Rabi'ul Awwal 1395.

Muhammad 'Ied Al-Abbasi.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: At-Tawassul An Wa'uhu wa AhkamuhuA, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullah, Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi | At-Tawassul an Wa'uhu wa Ahkamuhu

At-Tawassul an Wa'uhu wa Ahkamuhu.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah.

Tawassul.

Daftar Isi.

Pendahuluan.

Tawassul.

Hukum dan Bentuk-bentuknya.

Tawassul Menurut Bahasa.

Makna Wasilah Menurut Al-Qur'an.

Wasilah dengan Amal Shalih?

Kapankah Amal itu Bernilai Shalih?

Wasilah Kauniyah dan Syar'iyah.

Bagaimana Mengetahui Keabsahan Wasilah dan Kesyariatannya?

Tawassul yang Disyariatkan dan Macam-macamnya.

Tawassul Batil Lainnya.

Beberapa Tuduhan dan Jawabnya.

Tuduhan Pertama.

Hadits Istisqa' Umar dengan al-Abbas.

Jawaban dan Bantahannya.

Tuduhan Kedua.

Hadits Orang Buta.

Meluruskan Kerancuan.

Tuduhan Ketiga.

Hadits-hadits Dha'if Tentang Tawassul.

Peringatan.

Pertentangan Hadits ini dengan al-Qur'an.

Dua Atsar yang Lemah.

Perbedaan Tawassul dengan Dzat Nabi dan Permintaan Doa darinya.

Istighatsah dengan Selain Allah.

Tuduhan Keempat.

Mengkiyaskan Allah dengan Makhluk.

Tuduhan Kelima.

Adakah Larangan Melakukan Tawassul Bid'ah, Jika Dilakukan Sebagai Perbuatan Mubah, Bukan Sebagai Perbuatan Sunnat?

Tuduhan Keenam.

Mengqiyaskan Tawassul dengan Dzat Atas Tawassul dengan Amal Shalih.

Tuduhan Ketujuh.

Mengqiyaskan Tawassul dengan Dzat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam Atas Tabarruk dengan Benda-benda Bekas Pakainya.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At-Tawassul an Wa'uhu wa Ahkamuhu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penyusun: Muhammad 'Ied al-Abbasi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Tawassul, Penerjemah: Ustadz Aunur Rafiq hafizhahullaah, Penyunting: Ustadz Fariq Qasim Anuz hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, April 2003 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah