Showing posts with label menguak misteri khidir dalam pandangan sunnah. Show all posts
Showing posts with label menguak misteri khidir dalam pandangan sunnah. Show all posts

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir (3)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Lampiran

Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir 'alaihis salaam (3)

Keenam, yang menjadi pegangan orang-orang yang menganggap Khidir masih hidup adalah hikayat-hikayat nukilan dari kabar beberapa orang yang telah melihatnya. Sungguh mengherankan! Memangnya Khidir mempunyai ciri-ciri yang dapat diketahui dengan mudah oleh orang yang melihatnya? Di antara mereka banyak yang menceritakan ulang perkataan Khidir, dengan menyebut kata-kata, "Aku adalah Khidir." Sedangkan telah diketahui tidak seorangpun boleh membenarkan perkataan tanpa bukti-bukti yang kuat dari Allah. Maka siapakah yang tahu bahwa orang yang mengabarkan itu benar dan tidak berbohong?

Ketujuh, Khidir berpisah dengan Nabi Musa 'alaihis salaam bin Imran -padahal Musa adalah teman bicara Yang Maha Rahman- dan dia tidak terus menemaninya. Hal ini jelas dengan perkataannya yang direkam al-Qur-an: "Ini adalah perpisahan antara aku dan kau." Maka bagaimana mungkin dia rela meninggalkan Nabi seagung itu dan tidak membaiatnya. Atau mungkin ada orang bodoh yang berkata: Musa memang tidak diutus untuk Khidir (sehingga Khidir tidak wajib mengikutinya). Kalau begitu, lalu siapakah orang yang tidak menghadiri shalat Jum'at, tidak berjama'ah, tidak mengikuti majelis ilmu dan sedikit pun tidak mengetahui syari'at?

Setiap mereka juga suka berkata: Khidir berkata kepadaku, aku didatangi oleh Khidir, dan Khidir memberi nasihat kepadaku.

Sungguh ajaib, Khidir mau berpisah dengan "teman bicara Allah" (kalamullah/Musa), sementara dia berkeliaran di kalangan orang-orang bodoh ini, orang yang tidak tahu cara berwudhu dan tidak tahu cara shalat.

Kedelapan, ummat bersepakat untuk tidak melirik orang yang mengatakan: Aku Khidir. Bahkan sekalipun ucapannya dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, misalnya dengan mengatakan bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata begini dan begini, maka ucapan ini tak akan dianggap ummat sebagai dalil. Kecuali kalau mereka berkata: Khidir tidak menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan tidak membaiatnya, maka ucapan ini bisa disetujui ummat.

Atau orang bodoh ini berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memang tidak diutus kepada Khidir (sehingga Khidir tidak wajib mengikutinya). Perkataan ini mengandung kekufuran kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Kesembilan, kalau saja dia masih hidup, dia akan ikut berjihad melawan kaum kafir, dan mengikat dirinya di jalan Allah, dan posisinya berada di shaf terdepan, dan hadir di shalat Jum'at, ikut shalat jama'ah, dan mengajarkan ilmu lebih baik baginya, daripadaa mengembara di antara orang-orang yang tidak jelas, dan hanya akan mendatangkan celaan dan hinaan kepadanya. (*)

===

(*) Lampiran ini dinukil dari al-Manar karya Ibnu al-Qayyim hal. 28-29. Lihat juga kitab al-Bidayah wa an-Nihayah 1/334-336.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Lampiran

Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir 'alaihis salaam (2)

Adapun dalil menurut akal, ada sepuluh segi:

Pertama, di antaara alasan yang menyebutkan Khidir berumur amat panjang adalah bahwa dia tercipta (anak) dari tulang punggung Adam 'alaihis salaam. Tentu saja ini alasan yang tidak masuk akal, karena dua hal:

a. Umurnya saat ini sekitar 6.000 (enam ribu) tahun (*), sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Johanna (ahli sejarah). Hal ini jauh sekali dari kenyataan, dan tidak mungkin terjadi pada manusia.

b. Kalau saja dia terlahir dari tulang punggung Adam, atau turunan keempat dari anak-anaknya, sebagaimana yang mereka sangka, dan dia waktu itu menjadi menteri Dzulqarnain, maka sosok tubuhnya bukanlah seperti sosok tubuh kita sekarang ini, akan tetapi mempunyai perbedaan dalam tinggi dan lebarnya. Dalam kumpulan hadits shahih al-Bukhari - Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Allah menciptakan Adam dengan panjang 60 dzira', dan kemudian bentuk tubuh manusia menyusut setelah itu." Sedangkan cerita yang disampaikan oleh orang yang pernah melihat Khidir tidak satu pun melihatnya dengan sosok yang mengagumkan, dan tentunya dia manusia yang paling tua.

Kedua (**), sesungguhnya kalau saja Khidir telah ada sebelum Nabi Nuh 'alaihis salaam, dia pasti juga ikut naik kapal bersamanya, dan tidak seorang pun yang menceritakan kejadian ini.

Ketiga, sungguh para 'ulama telah sepakat bahwa ketika Nuh 'alaihis salaam turun dari kapalnya, seluruh penumpang yang bersamanya banyak yang meninggal, bahkan keturunan mereka pun akhirnya meninggal, dan tidak ada yang tersisa kecuali hanya keturunan Nuh. Dalil atas kejadian ini adalah firman Allah: "Dan Kami jadikan keturunan Nuh yang masih tersisa," dan inilah yang menggugurkan pendapat orang yang berpendapat bahwa Khidir hidup sebelum Nuh.

Keempat, kalaupun benar ada di antara anak-anak Adam yang masih hidup dari sejak dilahirkan hingga akhir zaman, dan kelahirannya sebelum Nuh, sungguh ini adalah suatu kejadian besar dan hal yang paling menakjubkan. Tentunya cerita ini akan diabadikan dalam al-Qur-an, tanpa harus dibuat-buat, karena ini adalah kejadian besar di antara ayat-ayat Rabb. Bukankah Allah juga telah menyebutkan orang yang hidupnya 5950 tahun dan menjadikannya sebagai ayat? Bagaimana mungkin Dia tidak menceritakan orang yang dihidupkan hingga akhir masa?

Karena itulah, sebagian ahli ilmu berkata: Tidak ada yang menebarkan cerita semacam ini di antara manusia kecuali setan.

Kelima, perkataan tentang hidupnya Khidir termasuk suatu perkataan yang ditujukan kepada Allah tanpa 'ilmu (hanya berdasarkan prasangka), padahal itu diharamkan sesuai dengan nash al-Qur-an.

Bersambung...

===

(*) Umur ketika pada masa Ibnu al-Jauzi. Adapun sekarang sudah mencapai 7.000 tahun.

(**) Ibnu al-Qayyim tidak menyebutkan yang kedua. Mungkin beliau memaksudkan poin b dari yang pertama tadi sebagai yang kedua.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Lampiran

Pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tentang Kehidupan Khidir 'alaihis salaam

Karena pentingnya tema ini, Imam Ibnu al-Jauzi menulis risalahnya yang apik, 'Ajalah al-Muntadhar fi Syarhi Halat al-Khidir, yang mendukung orang-orang yang mengatakan bahwa Khidir telah wafat.

Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi rahimahullaah berkata:

Dalil bahwa Khidir tidak kekal di dunia ini ada empat macam: Al-Qur-an, As-Sunnah, Ijma' para 'ulama yang telah menelitinya, dan akal.

Adapun dalil dari al-Quran adalah firman-Nya: "Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad)."
Kalau memang Khidir masih hidup, berarti dia itu kekal.

Di antara dalil dari as-Sunnah adalah: "Tidakkah kalian perhatikan malam ini (ibarat siang akan bertemu malam), maka di atas setiap seratus tahun tidak ada seorang pun yang kekal hidup di atas bumi ini." (Hadits muttafaq 'alaih). Dalam Shahih Muslim jug diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah ra-dhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada satu jiwa pun yang bernafas diberi umur lebih dari seratus tahun." Kemudian disebutkan dari al-Bukhari, dan 'Ali Ibnu Musa ar-Ridha menyebutkan bahwa Khidir telah tiada.

Di antara orang yang mengatakan Khidir telah tiada adalah Ibrahim bin Ishaq al-Harabi, Abu Husain bin al-Munadi -keduanya adalah imam besar- sedangkan Ibnu al-Munadi tidak suka ada orang yang mengatakan masih hidup.

Qadhi Abu Yu'la menceritakan tentang kematian Khidir dari sebagian shahabat Ahmad dan sebagian para ahli 'ilmu. Dia beralasan bahwa kalau saja dia masih hidup, dia pasti akan memenuhi risalah Islam dan datang kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Di antara yang paling tidak bisa dipahami adalah orang yang menetapkan keberadaan Khidir, sementara dia sendiri lupa bagaimana cara menjelaskan kemunculannya sesuai dengan syari'at.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Kisah Khidir Bersama Ibrahim bin Adham (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 23

Kisah Khidir 'alaihis salaam Bersama Ibrahim bin Adham (2)

Dalam kitab tafsirnya Abu Hayyan pernah berkata: Banyak orang yang menganjurkan kebaikan suka berbohong bahwa sebagian mereka melihat Khidir. Imam Abu al-Fath al-Qusyairi menceritakan salah seorang syaikhnya yang bercerita tentang dirinya yang pernah melihat Khidir dan berbicara kepadanya. Namun, jika ditanyakan kepadanya, siapa yang memberitahunya bahwa dia adalah Khidir, atau bagaimana caranya dia tahu bahwa itu Khidir, dia hanya terdiam saja.

Lanjut Abu Hayyan: Sebagian mereka juga menyangka bahwa Khidiriyyah (ilmu kekhidiran) merupakan suatu tingkatan ilmu yang dikuasai oleh sebagian orang-orang shalih dengan berguru kepada Khidir. Karena itu ada pula yang mengatakan bahwa di setiap zaman ada Khidir.

Menurut hematku, sesuai dengan dalil yang ada, Khidir yang masyhur itu sebenarnya telah wafat.

Abu Hayyan berkata: Sebagian para syaikh kita juga terlibat dalam perbincangan ini. Di antara mereka adalah 'Abdul Wahid al-'Abbasi al-Hambali. Dia menyakini para shahabatnya pernah berjumpa dengan Khidir. Aku berkata, al-Hafizh Abu al-Fadhl al-Iraqi, salah seorang guru kami, menyebutkan kepadaku bahwa syaikh 'Abdullah bin As'ad al-Yafi'i meyakini Khidir masih hidup. Lalu aku memperingatkan dirinya dengan apa yang telah dinukil dari al-Bukhari, al-Harabi dan selain keduanya tentang sangkalan kabar tersebut. Lalu dia marah dan berkata: "Siapa yang berkata bahwa Khidir itu mati, aku marah kepadanya." Lalu kami katakan kepadanya bahwa kami telah merujuk tentang kematiannya. Kami telah menyimpulkan bahwa orang-orang yang mengatakan pernah bertemu dengan Khidir itu hanyalah membual saja. Di antara mereka al-Qadhi Ilmu ad-Din al-Bashati yang menjadi wali hakim al-Malikiyah pada zaman adh-Dhahir Barquq. Padahal telah jelas banyak beberapa ahli ilmu mengingkari kehidupan Khidir.

Pendapat ini telah dibuktikan oleh dalil-dalil yang sangat kuat, dan sangat berbeda dengan apa yang diyakini oleh kaum awam tentang kehidupannya yang abadi. Tetapi, mungkin pula muncul keraguan tentang kematian Khidir karena banyaknya penukil yang menunjukkan kehidupan Khidir. Misalnya ada orang yang berkata: Anggaplah sanad-sanad (riwayat) yang mengabarkan kehidupannya itu lemah, karena memang setiap riwayat mengandung kelemahannya, tetapi apa kiranya jika berbagai sanad riwayat itu dikumpulkan menjadi satu? Sekalipun riwayat-riwayat itu lemah, tapi jika dikumpulkan menjadi satu, maka semuanya bisa mencapai tingkat mutawatir secara maknawi. (Mutawatir adalah istilah ilmu hadits untuk menunjukkan kualitas hadits yang paling kuat, sebuah hadits disebut mutawatir jika diriwayatkan oleh tidak kurang dari sepuluh perawi pada setiap generasi perawi secara sambung menyambung. Jelas bahwa hadits-hadits tentang Khidir tidak termasuk mutawatir, karena sekalipun riwayatnya banyak, tapi setiap riwayatnya lemah dan banyak cacat. Karena itu, mereka yang mendukung pendapat bahwa Khidir masih hidup, ingin menekankan banyaknya riwayat itu dengan menyebutnya sebagai "mutawatir maknawi", -peny).

Jika mereka berargumen seperti itu, maka mereka pun tak kepalang tanggung harus mentakwil-takwilkan berbagai dalil yang sudah jelas menunjukkan kematian Khidir. Berbagai dalil itu antara lain: "Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad)" (4), juga hadits: "Di atas hitungan setiap seratus tahun... dan seterusnya sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya.

Sementara itu, dalil paling kuat yang menunjukkan kematian Khidir adalah ketidak-datangannya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan dikecualikannya Khidir untuk diberi umur yang sangat panjang, yang sangat berbeda dengan manusia pada umumnya, tanpa ada dalil yang menunjukkan pengecualian tersebut.

Yang sudah pasti adalah kedudukannya sebagai Nabi. Seandainya dia Malaikat, tentu dia tidak akan pernah bisa menjadi makhluk berdaging di muka bumi ini, sebagaimana telah dijelaskan di awal buku ini.

Demikianlah buku ini selesai ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani pada hari Jum'at, 20 Syawwal tahun 867 H.

Bersambung...

===

(4) Surat al-Anbiya': 34.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Kisah Khidir Bersama Ibrahim bin Adham

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 23

Kisah Khidir 'alaihis salaam Bersama Ibrahim bin Adham

Kami meriwayatkan kabar Ibrahim bin Adham (1). Ibrahim bin Basyar, pembantu Ibrahim bin Adham, berkata: "Aku menemaninya pergi ke tanah Syam, lalu aku berkata: 'Wahai Abu Ishaq (Ibrahim bin Adham), ceritakan kepadaku tentang sesuatu ketika dirimu masih muda.' Dia berkata: 'Waktu masih muda aku senang berburu. Suatu hari aku keluar, kulihat jejak kelinci atau serigala. Ketika aku sedang memburunya, tiba-tiba ada suara bisikan, namun aku tidak melihatnyah 'Wahai Ibrahim, apakah untuk ini kau diciptakan? Apakah ini yang telah diperintahkan padamu?' Aku kaget dan terhenti, kemudian aku membaca ta'awwudz. Binatang tungganganku pun berlari-lari, terus bergerak berulang-ulang. Kemudian ada suara bisikan dari bagian depan pelana. Lalu aku jawab, 'Demi Allah, aku tidak diciptakan untuk berbuat ini, dan sama sekali tidak diperintahkan untuk melakukan ini.' Tiba-tiba aku melihat seorang pengembala ayahku sedang menggembala domba, lalu aku ambil surbannya dan aku pakai. Aku langsung bergegas ke arah Makkah tanpa membawa apa-apa.

Ketika aku sampai di daerah Badiah, aku melihat seseorang sedang berjalan, dia tidak mempunyai air ataupun perbekalan. Ketika hari sudah beranjak sore, dan dia menunaikan shalat maghrib, dia menggerakkan bibirnya dengan suatu kata, namun aku tidak memahaminya. Lalu tiba-tiba terdapat hidangan dan minuman tersaji. Kemudian aku makan dan minum bersamanya. Selama berhari-hari inilah yang aku alami, dan dia mengajarkan padaku nama Allah yang paling agung, kemudian dia menghilang. Aku pun tinggal sendiri. Namun ketika pada suatu hari aku merasa tercekam dengan kesendirian, aku berdo'a kepada Allah, lalu ada seseorang yang menarik perhatianku. Dia berkata kepadaku, 'Mintalah sesuatu kau akan memperolehnya.' Perkataannya ini membuatku takit. Dia berkata, 'Janganlah engkau takut, aku saudaramu Khidir.'" (2)

Dalam sebuah bagian dalam karyanya, 'Abdul Mughits bin Zuhair al-Harabi mengumpulkan kabar Khidir dari Ahmad bin Hambal. Dia berkata: "Waktu itu aku berada di Baitul Maqdis, lalu aku melihat Khidir dan Ilyas." Ahmad juga berkata, "Waktu itu aku sedang tidur, lalu Khidir datang kepadaku dan berkata, 'Katakanlah kepada Ahmad, sesungguhnya warga langit dan Malaikat meridhaimu.'" (3)

Masih dari Ahmad bin Hambal, bahwasanya dirinya pergi ke Makkah, kemudian ada seseorang menemaninya. Ahmad berkata: "Terbetik dalam diriku bahwa dia adalah Khidir." Ibnu al-Jauzi mengatakan kabar yang dikumpulkan oleh 'Abdul Mughits itu tidak terbukti berasal dari Ahmad (bin Hambal). Dalam kumpulan itu disebutkan pula bahwa Ma'ruf al-Karakhi berkata: "Khidir berbicara padaku." Persoalannya, benarkah cerita ini berasal dari Ma'ruf?

Bersambung...

===

(1) Dia adalah Ibrahim bin Adham bin Manshur, Abu Ishaq, al-Balakhi, orang yang zahid, orangnya dapat dipercaya, termasuk thabaqat kedelapan. Diriwayatkan at-Tirmidzi dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad. Meninggal tahun 162 H. Lihat: at-Tahdzib 1/103, at-Taqrib 1/131, Ma'rifatu ats-Tsiqat 19, al-Hilyah 7/367, 8/3, Shifatu Shafwah 2/145.

(2) Disebutkan oleh Abu Na'im dalam al-Hilyah 7/368 tanpa menyebutkan masalah Khidir.

(3) Disebutkan Abu Na'im dalam al-Hilyah 9/188 dengan maknanya.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir Melarang Masuk Pintu Para Umara

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 22

Khidir 'alaihis salaam Melarang Masuk Pintu Para Umara

Ibnu Asakir meriwayatkan hadits dalam biografi Abu Zar'ah ar-Razi dengan sanad shahih sampai pada Abu Zar'ah. Ketika masih muda, Abu Zar'ah bertemu dengan seseorang yang mewarnai rambutnya dengan hinaa (daun pacar). Pemuda itu berkata kepadanya, "Janganlah kau memasuki pintu para umara (pejabat pemerintah)." Abu Zar'ah berkata: Kemudian aku bertemu lagi dengannya setelah aku tua, dan dia masih tetap dengan kondisinya semula, lalu dia berkata kepadaku, "Bukankah aku sudah melarangmu untuk memasuki pintu para pejabat?"

Aku menoleh kepadanya, namun aku tidak melihatnya, seakan-akan bumi terbelah dan dia masuk ke dalamnya. Lalu aku anggap dia adalah Khidir. Aku kembali dan tidak pernah lagi mengunjungi pejabat, tidak pula mengetuk pintunya dan tidak pula aku meminta suatu keperluan.

Dalam kitabnya al-Jarh wa Ta'dil, Ibnu Abi Hatim menyebutkan: 'Abdullah bin Bahr dalam kitabnya az-Zuhd pernah menceritakan tentang seseorang yang pernah dilihatnya tapi kemudian menghilang tanpa sepengetahuannya, dan dia menganggap yang dilihat itu adalah Khidir. Dia beranggapan demikian karena Na'im bin Maisarah juga pernah menceritakan tentang seseorang yang dengan cepat menghilang darinya.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Sepuluh Kalimat dari Khidir

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 21

Sepuluh Kalimat dari Khidir 'alaihis salaam

'Abdul Mughits menyebutkan sebuah hadits dari Ibnu 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah yang mencegah kalian untuk melebur dosa-dosa kalian dengan kata-kata yang diajarkan saudaraku Khidir?" Kemudian beliau menyebutkan beberapa kalimat-kalimat yang telah disebutkan dalam hikayat Basyar di atas.

Juga diriwayatkan Abu Na'im, dari Abu Hasan bin Muqsim, dari Abu Muhammad al-Jariri, aku mendengar Abu Ishaq al-Mursattani, dia berkata: Aku melihat Khidir, lalu dia mengajarkanku sepuluh kalimat, dan dia menghitungnya dengan tangannya:

Allaahumma innii as-alukal iqbaala 'alaika, wal ish-ghaa-a ilaika, wal fahma 'anka, wal ba-shiirata fii amrika, wan nafaa-dza fii thaa'atika, wal muwaa-zhabata 'alaa iraadatika, wal mubaadarata ilaa khidmatika, wa husnal adabi fii mu'aamalatika, wat tasliima, wat tafwii-dha ilaika.

Ya Allah aku memohon agar bisa menghadap sepenuhnya kepada-Mu, agar selalu mendengar-Mu, memahami-Mu, mendapat penerangan mata hatiku tentang perintah-Mu, selalu menjalani ketaatan kepada-Mu, senantiasa mengikuti kehendak-Mu, bersegera dalam mengabdi kepada-Mu, bertatakrama dalam bergaul dengan-Mu, dan berserah diri sepenuhnya kepada-Mu. (1)

Abu Hasan bin Jahdham berkata, al-Khuldi menuturkan kepada kami, Ibnu Masruq menuturkan kepada kami, Abu Umran al-Khiyath menuturkan kepada kami: "Sebelumnya aku ini tak menyangka bahwa Allah memiliki seorang wali kecuali aku juga mengetahuinya. Tapi suatu kali Khidir datang menyapaku. Waktu itu aku sedang berada di sebuah masjid di Yaman, sementara orang-orang sedang mendengar hadits dari 'Abdurrazzaq di sekelilingnya. Pada saat yang sama aku lihat seorang pemuda di pojok masjid. Dia berkata kepadaku, 'Sedang apa mereka itu?' Aku berkata, 'Mereka sedang mendengarkan 'Abdurrazzaq.' Dia berkata, 'Maksudmu sedang menuturkan hadits dari seseorang hingga sampai ke Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?' Lalu dia berkata, 'Maukah kau mendengarkan sesuatu yang datang dari Allah 'Azza wa Jalla?' Aku berkata, 'Apakah kau mendengar sesuatu dari Allah?' Dia berkata, 'Ya.' Aku tanya, 'Lalu siapakah dirimu ini?' Dia berkata, 'Khidir.' Sejak itu aku tahu bahwa Allah memiliki wali yang tidak aku kenal. Ibnu Jahdham, penghimpun hadits ini, dikenal sebagai pembohong.

Dari Hasan bin Ghalib, dia berkata: "Aku menunaikan hajji dan berlomba dengan manusia lainnya. Lalu ada seorang pemuda yang memotong jalanku, menemuiku, dan menarik tanganku. Dia membimbingku untuk mengejar keluargaku (yang sudah di depan). Ketika aku sampai di keluargaku, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendengar bahwa kamu telah meninggal. Karena itu kami segera menemui Abu Hasan al-Qazwayni. Kami menceritakan hilangnya kamu kepadanya, dan kami berkata, 'Do'akanlah dia.' Waktu itu Abu Hasan berkata, 'Dia tidak apa-apa kok. Dia belum wafat, malah dia telah bertemu Khidir.'

Ketika itu juga aku datang menemui Abu Hasan. Abu Hasan berkata kepadaku, 'Ceritakan kepadaku, apa yang dilakukan sahabatmu?' Maka aku pun bercerita. Aku katakan kepadanya, 'Waktu itu aku sedang berada di masjid, lalu seseorang masuk. Dia berkata, 'Besok akan datang hadiah kepadamu, janganlah kau terima, dan setelah berhari-hari, akan datang hadiah kepadamu, maka terimalah hadiah itu.' Setelah itu aku mendapat kabar dari keluargaku, bahwa engkau pernah bercerita tentang diriku, bahwa aku bertemu Khidir dua kali."

Menurut Ibnu al-Jauzi, para ahli hadits memandang al-Hasan bin Ghalib sebagai orang yang suka berbohong.

Bersambung...

===

(1) Al-Hilyah 10/1333.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: 'Ulama Dalam Persepsi Khidir

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 20

'Ulama Dalam Persepsi Khidir 'alaihis salaam

Dari al-Laits bin Khalid Abu Bakar Amr -dan dia termasuk orang yang terpercaya- dia berkata, dari al-Musib Abu Yahya -dia adalah salah seorang shahabat Muqatil bin Hayyan- dia berkata, "Aku ditugaskan mendampingi 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, lalu aku melihat seorang pemuda atau orang yang sudah berumur sedang berbicara atau bersandar kepadanya. Kemudian aku tidak melihatnya lagi. Lalu aku bertanya, 'Wahai pemimpin kaum beriman, tadi aku melihat seseorang sedang berbicara kepadamu.' Dia berkata, 'Apakah kau melihatnya?' Aku jawab, 'Ya, aku melihatnya.' Dia berkata, 'Itu adalah Khidir, dia datang kepadaku, memberi dukungan kepadaku dan memberi nasihat kepadaku.'"

Abu 'Abdirrahman as-Salma berkata dalam kitabnya, aku mendengar Muhammad bin 'Abdillah ar-Razi berkata, aku mendengar Bilal al-Khawashi berkata, dulu aku pernah berada di daerah liar bani Israil, lalu aku melihat seorang lelaki mengajakku jalan bersama, aku merasa heran. Kemudian aku merasa bahwa dia adalah Khidir. Lalu aku berkata, "Demi Allah, siapakah engkau tuan?" Dia berkata, "Aku adalah saudaramu, Khidir." Lalu aku berkata, "Apa pendapatmu tentang asy-Syafi'i?" Dia berkata, "Dia termasuk yang kokoh." "Lalu bagaimana Ahmad bin Hambal?" Dia berkata, "Dia adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya." Lalu aku berkata lagi, "Ceritakan tentang Basyar Ibnu al-Harits." Dia berkata, "Tidak ada seorang pun yang dapat mengganti dirinya sesudahnya." Aku berkata, "Dengan cara apakah agar aku dapat melihatmu?" Dia berkata, "Dengan cara berbuat baik kepada ibumu."

Dalam kitabnya al-Hilyah Abu Na'im berkata, kami dapatkan hadits dari Dhafir bin Shalih bin Darij, Bilal al-Khawashi berkata: Aku bermimpi bertemu Khidir. Aku bertanya kepadanya, "Apa pendapatmu tentang Basyar?" Dia berkata, "Tidak ada orang yang dapat menggantikan dirinya sesudahnya." "Apa pendapatmu tentang Ahmad?" Dia berkata, "Ahmad adalah orang yang jujur dan terpercaya." (1)

Abu Hasan bin Jahdham berkata, kami dapatkan hadits dari Muhammad bin Dawud, dia berkata, kami dapat hadits dari Muhammad bin ash-Shalt, dari Basyar bin Harits al-Hafi (2), dia berkata: Dulu aku memiliki kamar khusus, dan aku selalu mengunci kamar itu jika sedang bepergian. Kuncinya aku pegang. Ketika aku datang pada suatu hari, membuka pintu kamar itu dan masuk, aku melihat seseorang sedang shalat, lalu dia menoleh kepadaku. Dia berkata, "Wahai Basyar, janganlah kaget, aku adalah saudaramu Abu 'Abbas al-Khidir." Basyar berkata, aku berkata kepadanya, "Ajarkanlah sesuatu!" Dia berkata, "Ucapkanlah Astaghfirullaah min kulli sababin tuhtu minhu (Aku meminta ampun kepada Allah dari setiap sebab yang membuatku taubat kepada-Nya)." Kemudian aku mengulangi ucapannya dan berkata, "Aku minta maaf dan pengampunan Allah dari segala janji yang telah kubuat sendiri untuk diriku, lalu aku merusaknya dan tidak menepatinya."

Bersambung...

===

(1) Al-Hilyah 9/187.

(2) Dia adalah Basyar bin Harits bin 'Abdirrahman, Abu Nashr al-Hafi, seorang zuhud (sederhana) yang terkenal. Dia juga terpercaya dan menjadi panutan. Termasuk salah seorang dari thabaqat kesepuluh. Meninggal tahun 227 H. Lihat: at-Taqrib 1/98, al-Hilyah 8/336, Shifatu Shafwah 2/325.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Nasihat-nasihat Khidir

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 19

Nasihat-nasihat Khidir 'alaihis salaam

Abu Husain bin al-Munadi menyebutkan hadits melalui Musallamah bin 'Abdil Malik, dari 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, bahwasanya dia bertemu dengan Khidir. Juga dalam kitab al-Mujalasah karya Abu Bakar ad-Dainuri, melalui Ibrahim bin Khalid, dari 'Umar bin 'Abdil Aziz, dia berkata:

Aku melihat Khidir dan dia saat itu sedang berjalan dengan cepat, dan dia berkata: "Sabarlah wahai jiwa, sabarlah bagi hari-hari yang telah engkau lewati dan sirna untuk mendapatkan hari-hari yang kekal abadi. Sabarlah menghadapi hari-hari yang pendek ini, untuk menghadapi hari-hari yang sangat panjang." (1)

Ya'qub bin Sufyan berkata dalam kitab sejarahnya, dari Muhammad bin 'Abdil 'Aziz ar-Ramli (2), dia berkata dari Dhamrah -dia adalah anak Rabi'ah- dari as-Sirri bin Yahya, dari Riyah Ibnu Ubdah (3), dia berkata: Aku melihat seorang laki-laki berjalan bersama 'Umar bin 'Abdil 'Aziz (seorang khalifah), memegang tangannya dengan keras. Dalam hati aku berkata, orang ini benar-benar tidak sopan (kasar), kemudian ketika dia shalat, aku berkata, "Wahai Abu Hafash ('Umar bin 'Abdil 'Aziz), siapakah orang yang tadi bersamamu dan memegang tanganmu dengan keras itu?" Dia berkata, "Sungguh engkau telah melihatnya wahai Riyah?" Aku katakan kepadanya, "Ya, aku melihatnya." Dia berkata, "Menurutku engkau adalah orang yang shalih, tadi itu adalah saudaraku Khidir, dia memberi kabar gembira kepadaku, bahwa aku dapat berbuat adil." (4)

Menurutku, sanad yang terangkum dalam hadits ini lebih baik. Aku juga telah mencermati tema ini. Abu Urubah al-Harani meriwayatkan hadits dalam kitab Tarikh, dari Ayyub Ibnu Muhammad al-Waraq, dari Dhamrah juga. Diriwayatkan Abu Na'im dalam al-Hilyah dari Ibnu al-Muqra, dari Abu Urubah dalam biografi 'Umar bin 'Abdil 'Aziz. (5)

Bersambung...

===

(1) Ibnu Katsir ra-dhiyallaahu 'anhu berkata: Riwayat-riwayat dan hikayat-hikayat ini telah menjadi pokok pembicaraan yang tiada henti hingga saat ini. Hadits-hadits yang disambungkan sanadnya hingga Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ini sangat lemah sekali, tidak dapat dijadikan hujjah dalam hal agama. Dan kebanyakan dari hikayat ini tidak terlepas dari kelemahan yang ada pada sanadnya. Dan kecil kemungkinannya hikayat tersebut shahih, karena orang tersebut bukanlah ma'shum (orang yang dijaga dari perbuatan salah), baik itu shahabat atau selainnya. Oleh karena itu bisa saja dia berbuat salah. Wallaahu a'lam. Demikian nukilan dari al-Bidayah 1/334.

(2) Dia adalah Muhammad bin 'Abdil 'Aziz al-Amri ar-Ramli, orangnya dapat dipercaya dan agak diragukan, termasuk golongan kesepuluh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, an-Nasa-i dan at-Tirmidzi dalam asy-Syamail. Lihat: at-Taqrib 2/186, al-Jam'u 2/462.

(3) Dalam al-Hilyah dan al-Bidayah wa an-Nihayah: Ribah bin Ubaidah.

(4) Disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah 1/334, dia berkata: Syaikh Abu Farah Ibnu al-Jauzi berkata: Di mata para 'ulama ar-Ramli memiliki cacat. Abu al-Husain juga telah mencelanya. Begitu pula Dhamrah, as-Sirri dan ar-Ribah, semuanya tak luput dari kritik Abu Husain. Abu al-Husain kemudian meriwayatkan hadits di atas melalui jalur riwayat lain, yakni dari 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, bahwasanya dia bertemu dengan Khidir. Tapi, dia melemahkan semua jalur riwayat yang disebutkannya.

(5) Al-Hilyah 5/254.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir Mengasingkan Diri Karena Takut Terkenal

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 18

Khidir 'alaihis salaam Mengasingkan Diri Karena Takut Terkenal

Diriwayatkan oleh Dawud bin Mahran, dari Syaikh, dari Habib Abi Muhammad, sesungguhnya Habib melihat seseorang. Lalu Habib berkata kepadanya, "Siapakah kamu?" Dia menjawab, "Aku adalah Khidir."

Diriwayatkan juga dari Muhammad bin Umran, dari Ja'far ash-Shadiq (1), bahwasanya Ja'far dulu sedang bersama bapaknya, tiba-tiba seorang laki-laki datang kepada mereka. Ayahnya bertanya tentang beberapa masalah. Ja'far berkata, lalu ayahku menyuruhku untuk mengikuti orang tadi, tapi aku tidak mendapatkannya. Bapakku berkata, "Dia Khidir."

Diriwayatkan pula dari Abu Ja'far al-Manshur (2), bahwasanya ketika sedang berthawaf, dia mendengar seseorang sedang mengobrol. Orang tadi berkata:

"Aku ingin mengadu kepadamu tentang munculnya berbagai kesewenang-wenangan dan kerusakan." Lalu dia dinasihati oleh teman ngobrolnya. Kemudian teman ngobrolnya itu pergi keluar. Dia berkata kepada orang-orang di sekitar, "Tolong carilah orang tadi!" Namun mereka tidak menemukannya. Dia berkata, "Dia Khidir."

Ibnu Asakir mengeluarkan suatu hadits melalui 'Umar bin Farwakh (3), dari 'Abdurrahman bin Habib (4), dari Sa'ad bin Sa'id, dari Abu Thayyibah, dari Katsir bin Wabrah, bahwasanya Katsir berkata: Saudaraku dari Syam datang kepadaku. Dia memberi hadiah kepadaku. Lalu aku bertanya, "Siapakah yang memberikan hadiah ini kepadamu?" Dia menjawab, "Ibrahim at-Tamimi." "Lalu siapakah yang menghadiahkannya kepada Ibrahim at-Tamimim?" Dia berkata, "Ibrahim at-Tamimi berkata kepadaku, 'Suatu kali aku sedang duduk di bawah pancuran Ka'bah. Lalu datang kepadaku seseorang. Menurutku dia adalah Khidir. Dia memberikan hadiah ini kepadaku, dan dia menyebutkan sebuah dzikir kepadaku berupa puji-pujian dan do'a-do'a. (5)

Bersambung...

===

(1) Dia adalah Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin al-Husain, Abu 'Abdillah, dikenal dengan kejujurannya, dapat dipercaya dan ahli fiqih, seorang imam, termasuk golongan keenam. Diriwayatkan dari Muslim dan keempat imam lainnya, juga al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad. Meninggal tahun 148 H. Lihat: at-Taqrib 1/132, at-Tahdzib 2/103, Ma'rifatu ats-Tsiqat 226.

(2) Khalifah pada zaman Abbasiyah. Lihat biografinya dalam kitab Tarikh al-Khulafa' karya as-Suyuthi 414-433.

(3) Demikian aslinya. Dan yang ada dalam at-Taqrib 2/61. Dia adalah Ghamar bin Farwah, dapat dipercaya dan mungkin juga meragukan, termasuk thabaqah ketujuh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Marasil. Semoga yang dimaksud adalah dia, dan penulisannya dalam bentuk asli. Wallaahu a'lam.

(4) Dia adalah 'Abdurrahman bin Habib bin Ardak al-Madani, termasuk golongan ketujuh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Tutur katanya lembut. Lihat: at-Taqrib 1/476.

(5) Telah disebutkan periwayatannya.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir dan Nama Allah yang Paling Agung

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 17

Khidir 'alaihis salaam dan Nama Allah yang Paling Agung

Dalam kitab ar-Rimah yang telah disebutkan tadi, Abu Hasan bin al-Munadi berkata: Aku mendapat kabar dari Ahmad bin Mala'ib, dari Yahya bin Sa'id al-Sa'di, dari Abu Ja'far al-Kufi, dari Abu 'Umar al-Nashibi, Abu 'Umar berkata: Aku pergi ke Syam untuk bertanya kepada Musallamah bin Mushaqalah -konon dia adalah salah seorang dari abdal (para pengganti). Aku menjumpainya di sebuah lembah di Yordania. Dia berkata kepadaku, "Apakah kau mau kuceritakan sesuatu yang pernah kulihat hari ini di lembah ini?"

Aku berkata, "Tentu." Dia berkata, "Aku masuk ke lembah hari ini, kemudian aku lihat seorang tua yang sedang shalat di sebuah pohon, lalu aku beranjak menghampirinya, ternyata dia adalah Ilyas ('alaihis salaam) sang Nabi. Lalu aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya, sementara dia sedang ruku', lalu duduk dan mengucapkan salam ke kanan dan kiri. Kemudian dia menghadap kepadaku dan berkata, 'Wa 'alaikas salaam.' Aku berkata, 'Siapakah sebenarnya engkau, semoga Allah merahmatimu?' Dia berkata, 'Aku adalah Ilyas sang Nabi.'

Tiba-tiba aku merasakan getaran yang hebat hingga membuatku tersungkur jatuh. Dia berkata, 'Mendekatlah kepadaku', lalu dia meletakkan tangannya di antara kedua dadaku, lalu aku merasakan dingin antara kedua tulang bahuku. Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, berdo'alah kepada Allah agar aku terbebas dari apa yang aku rasakan sehingga aku memahami perkataanmu.' Kemudian dia berdo'a dengan delapan macam Nama-nama Allah, lima di antaranya berasal dari bahasa Arab dan tiga berasal dari bahasa Suryani. Dia berkata, 'Wahai Yang Maha Esa, Wahai Yang Mahatunggal, Wahai Engkau satu-satunya tempat bergantung, Wahai Yang Mahasendiri, Wahai Yang Maha Ganjil,' dan berdo'a lagi dengan tiga bahasa Suryaniyah, yang tak kupahami.

Kemudian dia mengambil tanganku dan mendudukkanku, lalu aku terbebas dari rasa yang telah membebaniku. Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, tahukah engkau apa yang diperbuat orang ini -maksudku adalah Marwan bin Muhammad-? Pada suatu hari dia telah membuat susah kaum Hamash.'

Kemudian dia berkata, 'Memangnya kenapa kau dengan dia? Dia memang sombong dan melampaui batas Allah!' Lalu aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, suatu kali aku pernah berpapasan dengan dia, tapi dia berpaling dariku. Sementara aku, sekalipun aku suka bertemu dengan pengikut mereka maka aku sama sekali tidak ingin membuat mereka terpecah belah. Aku hanya bisa beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.'

Kemudian mukanya tampak senang mendengar apa yang telah kulakukan. Dia berkata, 'Kau telah bersikap benar. Kau jangan kembali lagi kepadanya.'

Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, apakah di dunia pada saat ini masih ada seorang pengganti?' Dia berkata, 'Ya ada, mereka berjumlah enam puluh orang. Lima puluh di antara mereka terdapat di antara al-Arisy sampai al-Farrat. Dan tiga di antara mereka berada di al-Mashishah, dan seorang berada di Antakiah, dan sepuluh sisanya tersebar di seluruh pelosok Arab.'

Lalu aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, apakah engkau bertemu dengan Khidir ('alaihis salaam)?' Dia berkata, 'Ya, kami bertemu pada setiap musim (hajji) di Mina.' Aku berkata, 'Lalu apa yang kalian berdua perbincangkan?' Dia berkata, 'Khidir memangkas sedikit rambutku dan aku pun memangkas sedikit rambutnya.'

Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku sendirian, aku tidak punya istri, tidak punya anak. Jika engkau mengizinkanku, aku bersedia menemani ke mana pun engkau pergi.' Dia berkata, "Engkau tidak akan mampu melakukan itu, sesungguhnya engkau tidak akan kuat menjalaninya.'

Ketika dia sedang berbicara kepadaku, lalu aku melihat hidangan yang keluar dari pohon dan tersusun di hadapannya, sedangkan aku sama sekali tidak melihat orang yang meletakkannya. Di atas hidangan tersebut tersedia tiga roti, kemudian dia mengambil dengan tangannya untuk makan.

Dia berkata, 'Makanlah dan bacalah Bismillah. Makanlah apa saja yang kau mau.' Lalu aku mengambil makanan itu dengan tanganku, dan aku makan bersamanya, dia makan satu setengah roti. Kemudian hidangan itu terangkat dan aku tidak melihat siapa pun yang mengangkatnya. Lalu datanglah bejana yang menghidangkan minuman, kemudian diberikan ke tangannya, sedangkan aku tidak melihat seorang pun yang memberikannya. Lalu dia minum, kemudian menawariku. Dia berkata, 'Minumlah!' Lalu aku minumn, rasanya manis, lebih manis dari madu, dan warnanya sangat putih, lebih putih dari susu. Kemudian aku letakkan bejana itu, tiba-tiba bejana itu dengan sendirinya terangkat, sedang aku tidak melihat seorang pun yang mengangkatnya.

Kemudian dia melihat ke bagian bawah lembah, lalu ada seekor hewan tunggangan yang tingginya melebihi keledai, dan tidak melebih baghal (peranakan kuda dan keledai), dan di atasnya punggungnya terdapat bekal perjalanan. Setelah melihatnya, ia beranjak turun ke bagian lembah itu untuk menaiki hewan tersebut. Aku juga berputar untuk mencari posisi di dekat hewan itu. Ilyas ('alaihis salaam) naik dan beranjak pergi, sedangkan aku berjalan di sampingnya.

Aku berkata, 'Wahai Nabi Allah, maukah engkau mengizinkanku untuk ikut bersamamu dan menemani perjalananmu?' Dia berkata, 'Bukankah tadi telah kukatakan bahwa engkau tidak akan sanggup melakukannya.' Aku berkata, 'Bagaimana caranya aku bisa menemanimu?' Dia berkata, 'Jika kau inginkan aku, maka engkau akan melihatku. Semoga engkau dapat menjumpaiku pada bulan Ramadhan pada saat beri'tikaf di Baitul Maqdis.'

Sebuah pohon menghalangiku untuk dapat melihatnya, lalu aku ambil posisi di sebelahnya dengan berputar dari sisi yang lain, namun aku tidak melihat apa pun. (1) Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Musallamah dan orang-orang yang meriwayatkan darinya, dan Abu Ja'far al-Kufi adalah orang yang tidak dikenal.

Bersambung...

===

(1) Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: Ibnu Asakir menyebutkan beberapa jalan dari 'Ibad mengenai pertemuan seseorang dengan Ilyas ('alaihis salaam), semua haditsnya mengecewakan karena lemah sanadnya. Atau karena ada orang yang tidak diketahui dalam rangkaian sanad tersebut. Demikian dinukil dari al-Bidayah wa an-Nihayah 1/339.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: 'Amal yang Paling Dicintai Allah (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 16

'Amal yang Paling Dicintai Allah (2)

Ibnu Asakir menyebutkan cerita dari jalur riwayat Ibrahim bin 'Abdillah bin al-Mughirah, dari 'Abdullah, 'Abdullah berkata: Ayahku menyampaikan kepadaku bahwa beberapa pengurus masjid berkata kepada Walid bin 'Abdil Malik: Sesungguhnya Khidir melakukan shalat tiap malam di masjid ini.

Ishaq bin Ibrahim al-Hambali berkata dalam karyanya ar-Rimaah, dari 'Utsman bin Sa'id al-Antha'i, dari 'Ali bin al-Asyam al-Mushishi, dari 'Abdul Hamid bin Bahr (4), dari Salam ath-Thawil (5), dari Dawud bin Yahya, tuan yang pernah menolong ath-Thafawi, dari seorang laki-laki yang sering berada di Baitul Maqdis dan Asqalan, dia berkata:

Ketika aku berjalan menyusuri lembah di Yordania, aku bertemu seseorang di sisi lembah sedang berdiri melakukan shalat. Sedangkan di atas sana, awan memayungi dirinya dari terik matahari, lalu terbetik dalam hatiku, sepertinya dia adalah Ilyas 'alaihis salaam sang Nabi. Lalu aku mendatanginya dan menyalaminya. Kemudian dia berhenti berdo'a dan menjawab salamku.

Lalu aku berkata kepadanya, "Siapakah kamu, semoga Allah merahmatimu?" Dia tidak menjawab sedikitpun. Lalu aku mengulangi pertanyaan itu dua kali, kemudian dia menjawab, "Aku adalah Ilyas sang Nabi." Aku merasakan getaran yang hebat, dalam pikiranku, aku khawatir dia akan pergi. Aku berkata kepadanya, "Semoga Allah merahmatimu, do'akanlah aku agar Allah menyingkirkan apa yang menghalangiku hingga aku dapat mengerti apa yang kau ucapkan."

Dia berkata, lalu dia berdo'a untukku dengan delapan macam do'a. Lalu dia berdo'a, "Wahai Sang Maha Kebaikan, Maha Penyayang, Mahahidup, Maha Berdiri Sendiri, Penuh Belas Kasih, Maha Dermawan, Wahai Pengusir Keburukan.

Lalu hilanglah gemetaran yang aku rasakan tadi. Aku bertanya, "Kepada siapa engkau diutus?" Dia berkata, "Kepada kaum Ba'labak." Aku berkata, "Apakah engkau juga diberi wahyu pada saat ini?" Dia berkata, "Untuk kaum Muhammad (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), sang penutup Nabi, aku tidak menerima wahyu." Aku berkata, "Berapa banyak di antara Nabi yang masih hidup?" Dia berkata, "Empat. Aku sendiri dan Khidir di bumi. Idris dan 'Isa di langit." Aku bertanya, "Apakah engkau bertemu dengan Khidir?" Dia berkata, "Ya, aku bertemu dengannya tiap tahun di Arafah." Aku bertanya lagi, "Apa yang kalian bicarakan di sana?" Dia berkata, "Aku mencukur rambutnya, dan dia mencukur rambutku." Aku bertanya lagi, "Lalu ada berapa abdal (para pengganti)?" Dia berkata, "Mereka ada enam puluh laki-laki, lima puluh di antara mereka berada di antara pantai Arisy di Mesir sampai ke pantai al-Farrat, dua orang di al-Mashishah, seorang di Antakia, dan tujuh orang tersebar di seluruh negeri, mereka memberi minum, mereka membasmi para musuh, dan mereka melaksanakan perintah Allah tentang perkara dunia, hingga apabila ada seseorang yang hendak berbuat kehancuran pada dunia, mereka membunuh mereka semua." (6) Menurutku, sanad yang ada dalam hadits ini semuanya tidak diketahui dan matruk.

Bersambung...

===

(4) Dia adalah 'Abdul Hamid bin Bahr al-Kufi, tinggal di Bashrah, meriwayatkan hadits dari Malik dan teman-temannya, dan Ibnu Habban berkata tentangnya: Dia mencuri hadits, tidak dihalalkan menjadikannya sebagai hujjah. Lihat: Al-Majruhin 2/142, al-Mizan 2/538.

(5) Dia adalah Salam bin Salim, Abu Sulaiman, dikatakan padanya hadits panjang ini, matruk, termasuk golongan ketujuh. Diriwayatkan Ibnu Majah. Meninggal tahun 177 H. Lihat: At-Taqrib 1/342, adh-Dhu'afa' ash-Shaghir karya al-Bukhari 55, al-Majruhin 1/335, al-Mizan 2/175, at-Tahdzib 1/342, adh-Dhu'afa' karya ad-Daruquthni 265.

(6) Sanadnya dha'if sekali, dan bahkan mungkin maudhu' (palsu).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: 'Amal yang Paling Dicintai Allah

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 16

'Amal yang Paling Dicintai Allah

Dalam kitabnya al-Hilyah, dalam bagian biografi Raja bin Haiwah (1) yang diperoleh dari Tarikh as-Siraj dan dari riwayat Muhammad bin Dzakwan, Abu Na'im menuturkan cerita Raja bin Haiwah. Raja berkata: Sesungguhnya aku pendukung Sulaiman bin 'Abdil Malik, dia pernah memberiku sebuah rumah. Lalu datang seorang laki-laki. (Raja menyebutkan laki-laki itu berperawakan baik) lalu orang tadi mengucapkan salam dan berkata: "Wahai Raja, engkau telah diuji dengan orang yang memberimu rumah. Di dekat kekuasaannya terdapat penyelewengan. Wahai Raja, kau harus berbuat baik dan menolong orang lemah. Dan ketahuilah bahwa orang yang mendapatkan rumah dari kekuasaan (sultan), lalu dia memenuhi kebutuhan rakyat miskin, yang tidak mampu dipenuhinya sendiri, akan bertemu Allah pada hari Kiamat untuk diperhitungkan. Dan ketahuilah, wahai Raja, sesungguhnya barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya yang Muslim, sungguh Allah berada, akan menolong kebutuhannya. Dan ketahuilah, wahai Raja, bahwa di antara amal yang paling disukai oleh Allah adalah memberikan harapan (raja') kepada sesama Muslim. Kemudian orang itu menghilang, dan Raja menganggap bahwa dia adalah Khidir 'alaihis salaam. (2)

Dalam kitabnya al-Mauqifiyaat az-Zubair bin Bakkar berkata: Aku mendapat kabar dari as-Sirri bin al-Harats al-Anshari, dari anak al-Harats bin ash-Shammah, dari Mush'ab bin Tsabit Ibnu 'Abdillah bin az-Zubair (3), bahwasanya 'Abdullah bin az-Zubair biasa shalat sehari semalam sebanyak seribu raka'at dan berpuasa sepanjang masa.

'Abdullah az-Zubair berkata: Ketika orang-orang sudah mulai keluar dari masjid, aku masih tetap tinggal di dalamnya. Tiba-tiba datang seorang laki-laki mendekati rumah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu berdo'a, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, aku kemarin berpuasa, kemudian tibalah waktu malam, sedangkan aku tidak menemukan sesuatu untuk berbuka puasa. Ya Allah, hingga hari ini pun aku masih berpuasa, namun aku masih belum juga mendapatkan sesuatu untuk berbuka. Ya Allah hari pun berlalu, dan aku menginginkan bubur, maka berilah aku makan dari sisi-Mu."

Lalu aku lihat melalui lubang angin di menara, ada seorang pelayan masuk, postur tubuhnya tidak seperti manusia, dia membawa mangkuk, lalu memberikannya kepada orang yang berdo'a tadi, dan meletakkan mangkuk di hadapannya. Orang tadi makan dan dia memanggilku, "Kemarilah!" Lalu aku datang dan kupikir makanan ini berasal dari Surga. Aku juga berhasrat untuk mencicipinya. Lalu aku makan hidangan tersebut sesuap, dan kurasakan sebuah kelezatan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Karena aku merasa malu, aku berdiri dan kembali ke tempatku semula. Kemudian ketika dia selesai menyantap makanannya, pelayan tadi mengambil mangkuk, lalu kembali ke tempat dimana ia datang sebelumnya.

Kemudian orang tadi berdiri dan beranjak pergi, lalu aku mengikutinya untuk mengetahuinya. Kemudian dia menghilang, dan aku tidak tahu ke mana perginya dia, maka aku mengira bahwa dia adalah Khidir 'alaihis salaam.

Bersambung...

===

(1) Dia adalah Raja bin Haiwah, Abu al-Muqaddam, orangnya terpercaya dan ahli fiqih, termasuk thabaqah ketiga. Diriwayatkan oleh Muslim dan keempat imam lainnya. Meninggal tahun 112 H. Lihat: at-Taqrib 1/248, at-Tahdzib 3/265, Ma'rifatu ats-Tsiqat 473, al-Hilyah 5/170, Shifatu ash-Shafwah 4/213.

(2) Al-Hilyah 5/171 dalam biografi Raja' bin Haiwah.

(3) Dia adalah Mush'ab bin Tsabit 'Abdillah al-Asadi, dan dia juga seorang ahli 'ibadah, dan termasuk golongan ketujuh. Tutur katanya lembut. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. Meninggal tahun 157 H. Lihat: at-Taqrib 2/251, al-Majruhin 3/28, al-Mizan 4/118.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang (3)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 15

Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang (3)

Diriwayatkan pula oleh ath-Thabrani dalam kitab ad-Du'aa, dia berkata: Kami mendapat hadits dari Yahya bin Muhammad al-Hana'i, kami mendapatkannya dari al-Ma'li bin Harami, dari Muhammad bin Muhajir al-Bashri, dari Abu 'Abdillah bin at-Tum ar-Riqasyi, bahwa Sulaiman bin 'Abdil Malik takut pada seseorang dan memintanya untuk membunuhnya. Namun orang-orang yang diutusnya ragu-ragu untuk pergi ke rumah orang tersebut. Lalu mereka memintanya untuk keluar dan menyerahkan diri. Akan tetapi dia tidak mau ditangkap sehingga laki-laki tersebut tidak datang lagi ke negeri tersebut, kecuali dikatakan kepadanya, "Sungguh engkau diminta berada di sini." Setelah beberapa lama perkara ini berlangsung, dia mempunyai niat untuk mendatangi kota tersebut, dengan harapan tidak ada hukum Sulaiman lagi baginya.

Dalam kisah tersebut disebutkan, ketika dia sedang berada di padang pasir yang tandus dan tidak ada air, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki melakukan shalat. Aku takut padanya, lalu aku kembali berpikir dan berkata, "Demi Allah dia sama sekali tidak mempunyai unta atau kendaraan untuk ditumpangi."

Lalu aku berniat untuk menemuinya, kemudian dia ruku' dan sujud. Setelah selesai shalat dia menoleh kepadaku, lalu berkata, "Sepertinya ada seseorang penguasa yang engkau takuti." Aku berkata, "Ya benar." Dia berkata, "Lalu apa yang menghalangimu dari yang tujuh?" Aku berkata, "Wahai tuan, apakah yang maksud dengan tujuh?"

Dia berkata, "Katakanlah Subhaanal Waahid alladzii laisa ghairahu ilaah (Maha Suci Dzat yang Maha Esa, yang tidak ada Yang (berhak diibadahi dengan benar) selain-Nya).

Subhaanal Qaadim alladzii la Bariun Lahu (Maha Suci Dzat Yang Maha Terdahulu, yang tidak ada Pencipta selain-Nya).

Subhaanad Daa'im alladzii la nufad lahu (Maha Suci Dzat Yang Mahakekal untuk selama-lamanya).

Subhaanal ladzii huwa kullu yaumin dii sya'nin (Maha Suci Dia yang setiap saat selalu aktif).

Subhaanal ladzii yuhyii wa yumiit (Maha Suci Dia Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan).

Subhaanal ladzii khalaqa maa yaraa wa maa laa yaraa (Maha Suci Dia Yang Maha Mencipta segala sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat).

Subhaanal ladzii 'alima kulla syaiin bi ghairi ta'lim (Maha Suci Dia Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tanpa belajar).

Kemudian dia berkata, "Coba ucapkanlah!" Lalu aku ikuti ucapannya tadi, dan aku hafalkan. Kemudian aku menoleh kepadanya, tapi aku tidak melihatnya lagi.

Aku memohon kepada Allah dalam hatiku agar mendapatkan keamanan dan aku kembali lagi pada niat semula untuk menemui keluargaku. Aku bertekad untuk datang ke pintu gerbang Sulaiman bin 'Abdil Malik, dengan perlahan aku berjalan ke pintunya. Syukurlah, pada hari itu dia memberikan izin bagi orang-orang untuk masuk. Lalu aku masuk, dan dia sedang berada di atas singgasananya. Dia melihatku, lalu dia merebah di atas singgasananya. Kemudian dia memberi isyarat kepadaku untuk mendekatinya, sehingga aku duduk bersamanya di atas singgasana.

Dia berkata, "Apakah engkau telah menyihirku ataukah engkau memang penyihir, apa yang dapat engkau sampaikan?" Aku berkata, "Wahai pemimpin kaum beriman, aku bukanlah penyihir, tidak pula tahu tentang sihir, dan tidak pula menyihirmu." Dia berkata, "Lalu bagaimana kau kira aku tidak membunuhmu dengan kekuasaanku? Dan ketika aku melihatmu, aku tergerak untuk memanggilmu, lalu aku menyuruhmu duduk bersamaku di atas singgasana ini. Buatlah aku percaya apa yang terjadi padamu?" Lalu aku menceritakan apa yang kualami. Kemudian dia berkata, "Itu adalah Khidir. Dia telah mengajarkanmu do'a tersebut."

"Wahai kalian, tulislah do'a tersebut dengan benar. Dan perlakukan dia dengan baik. Lalu bawalah dia pada keluarganya."

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 15

Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang (2)

Abu Sa'id meriwayatkan dalam sebuah kitab Syarfu al-Mushthafa, sebuah riwayat melalui Ahmad bin Abi Tarrah, kami mendapatkan hadits dari Muhammad bin al-Farrat (4), dari Maysir bin Sa'id (bin Abi Urubah), dari bapaknya (5), ketika al-Hasan berada di majelisnya, dan manusia duduk di sekitarnya, tiba-tiba dia menemukan seorang laki-laki yang matanya kehijauan. Lalu Hasan berkata kepadanya, "Apakah engkau dilahirkan dari kandungan ibumu sudah demikian, atau itu hanya sebuah tanda?" Dia berkata, "Memangnya apa yang engkau ketahui tentang diriku, wahai Abu Sa'id?" Dia berkata, "Lalu siapakah kau?" Lalu dia menceritakan asal-usulnya pada al-Hasan. Tidak seorang pun yang hadir di majelis ini tanpa dia ketahui asal-usulnya. Al-Hasan takjub dan berkata, "Wahai coba ceritakan kisah dirimu?"

Kemudian dia mulai bercerita, "Wahai Abu Sa'id aku sengaja membawa seluruh hartaku, lalu aku letakkan di atas perahu. Aku keluar ingin pergi ke daratan cina melalui lautan. Tiba-tiba bertiup angin kencang menimpa kami dan menenggelamkan kapal. Lalu aku beranjak mencapai pantai berdiri di atas sehelai papan yang tersisa. Aku merasa ragu dan bimbang, sekitar empat bulan yang kumakan hanyalah rumput dan pepohonan, yang kuminum adalah air yang memancar dari mata air. Dalam hatiku mulai takut, "Dapatkah aku melalui musibah ini, bisa saja aku binasa dan mungkin pula aku bisa selamat."

Dengan tenaga yang masih tersisa aku terus berjalan, lalu aku melihat sebuah istana yang seakan-akan memancarkan kilatan perak. Aku memberanikan diri untuk membuka daun pintunya, dan kulihat di dalam istana tersebut dinding-dinding yang di setiap bagiannya terdapat peti-peti yang terbuat dari mutiara, tertutup rapat dengan gembok yang bisa dibuka dengan hanya melihat ke arahnya, seakan-akan terbuka dengan sendirinya.

Aku buka sebagian peti itu, lalu tercium wangi yang amat mengagumkan keluar dari dalam kotak tersebut. Tiba-tiba kulihat terdapat sosok beberapa laki-laki yang memakai sutera dengan warna-warni tersusun indah. Sebagian mereka seolah melakukan gerakan, padahal dia mati, namun seakan-akan masih punya aura kehidupan. Lalu aku tutup kembali peti tersebut, dan keluar sambil menutup pintu istana.

Ketika aku berlalu dari istana itu, aku bertemu dengan dua orang perwira gagah dan rupawan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya seumur hidup. Kedua orang itu bertanya tentang kisahku. Lalu aku ceritakan pada mereka berdua. Kemudian mereka berdua berkata, "Pergilah engkau ke depan, ketika menjumpai sebuah pohon yang di bawahnya berupa kebun, di sana kau akan bertemu dengan seorang tua yang berperawakan baik sedang melakukan shalat. Ceritakan kepadanya kisah yang kau alami, dia akan membimbingmu ke jalan yang benar.

Kemudian aku beranjak pergi untuk menemui orang tua tersebut. Ketika menjumpainya aku ucapkan salam kepadanya, kemudian dia membalas salamku, lalu aku bertanya tentang kisah yang kualami. "Lalu apa yang kau perbuat?" Aku jawab, "Aku tutup kembali peti tersebut dan kukunci pintu-pintunya." Dia terdiam sejenak dan berkata: "Duduklah," dan tiba-tiba sebuah awan lewat dan berkata: "As-Salaamu 'alaikum wahai waliyullah." Orang tua itu bertanya, "Hendak kemanakah kau?" Lalu awan menjawab, "Aku hendak pergi ke suatu negeri ini dan itu." Demikianlah awan-awan itu berlalu satu sama lain, hingga ketika ia bertemu awan yang lain ia bertanya, "Hendak ke manakah kau?" Awan berkata, "Aku hendak ke Bashrah." Dia berkata, "Turunkan aku di sana," kemudian dia turun. Sehingga tinggal aku yang masih berada di awan. Orang tua tadi berkata kepada awan: "Bawalah orang ini hingga sampai dengan selamat di rumahnya." Ketika aku masih berada di atas punggung awan tersebut, aku menyempatkan diri bertanya: "Aku ingin bertanya padamu dengan Nama Rabb yang telah memuliakanmu. Ceritakan padaku tentang istana, dua orang perwira dan tentang dirimu!"

Orang tua itu berkata, "Adapun istana yang kau temukan adalah bagian dari kemuliaan Allah bagi para syahid yang berada di lautan. Allah menugaskan para Malaikat untuk mengambil jasad mereka dari laut dan menyimpannya dalam peti-peti tersebut, dengan tersusun kain kafan sutera. Dua orang perwira adalah dua orang Malaikat yang memberi makan dan mengipasi mereka dengan kedamaian sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah kepada mereka berdua. Adapun diriku adalah Khidir, aku meminta kepada Rabbku untuk dikumpulkan bersama ummat Nabimu Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Ketika aku telah berada di atas awan, aku merasa gemetar karena aku sangat ngeri, hingga aku berada di tempat seperti yang kau lihat sekarang ini. Al-Hasan berkata, "Sungguh engkau telah mengalami peristiwa luar biasa." (6)

Bersambung...

===

(4) Dia adalah Muhammad bin al-Farrat at-Taimi, Abu 'Ali al-Kufi, termasuk thabaqah kedelapan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, mereka menganggapnya berdusta. Al-Bukhari dan an-Nasa-i berkata: Ini hadits mungkar. Lihat: Al-Majruhin 2/281, at-Taqrib 2/199, adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 1681, al-Mizan 4/3, at-Tahdzib 9/397, adh-Dhu'afa' karya ad-Daruquthni 476, adh-Dhu'afa' karya an-Nasa-i 544.

(5) Dia adalah Sa'id bin Abu Urubah ay-Yusykra, terpercaya dan hafal al-Qur-an, akan tetapi dia banyak memalsukan (tadlis) dan mencampur-adukkan hadits. Haditsnya ada dalam Kutub as-Sittah. Meninggal tahun 157 H. Lihat: At-Taqrib 1/307, Tadzkirah 1/177, at-Tahdzib 4/63, Syadzrat 1/239, Thabaqat Ibnu Sa'ad 7/33, al-'Ibru 1/225.

(6) Sanadnya maudhu' (palsu).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 15

Mendo'akan, Mengayomi dan Menolong Orang

Abu Na'im berkata dalam al-Hilyah, kami mendapat hadits dari Ubaidillah bin Muhammad, dia adalah Abu asy-Syaikh, dari Muhammad bin Yahya dia adalah Ibnu Munduh, dari Ahmad bin Mansur al-Marwazi (1), dari Ahmad bin Jamil, dia berkata, Sufyan bin Uyainah berkata: "Ketika aku sedang melakukan thawaf, tiba-tiba aku bertemu seseorang sedang membimbing orang-orang, dengan perawakan yang baik. Lalu kami berkata satu sama lain, tentang orang yang nampaknya ahli dalam keilmuan itu. Lalu kami mengikutinya, hingga dia menyelesaikan thawafnya. Dia berjalan ke maqam Ibrahim untuk shalat dua raka'at. Ketika dia sudah selesai, dia mendekati kiblat lalu berdo'a. Setelah itu, dia menemui kami.

Dia berkata, "Apakah kalian tahu apa yang dikatakan Rabbmu?" Kami bertanya, "Apakah itu?" Dia berkata, "Rabbmu berkata: 'Aku adalah Sang Penguasa.' Aku akan mendo'akan kalian agar menjadi penguasa, kemudian dia menghadap kiblat dan berdo'a dengan do'a-do'a. Lalu dia kembali menoleh kepada kami, "Apakah kalian tahu yang dikatakan Rabb?" Kami bertanya, "Apakah itu?" Dia berkata, "Rabbmu berkata: 'Aku Sang Maha Hidup yang tidak pernah mati.' Aku akan mendo'akan kalian agar hidup dan tak pernah mati." Kemudian dia menghadap kiblat, lalu berdo'a dengan suatu bacaan, kemudian dia menoleh lagi ke kami, "Tahukah kalian apa yang dikatakan Rabbmu?" Kami bertanya, "Apakah yang dikatakan Rabb kami? Ceritakanlah pada kami, semoga Allah merahmatimu." Dia berkata, "Rabbmu berkata: 'Aku adalah Rabb yang dapat mengabulkan apa saja keinginanmu.' Aku akan berdo'a untuk kalian, agar apa yang kalian inginkan menjadi kenyataan."

Ibnu Uyainah berkata, kemudian dia beranjak pergi, dan kami tidak melihatnya. Dia berkata, lalu aku bertemu Sufyan ats-Tsauri, lalu aku kabarkan tentang apa yang terjadi. (2) Sufyan berkata, sepertinya apa yang diceritakan ini serupa dengan Khidir, atau sebagian orang-orang yang menggantikannya. (3)

Muhriz bin Abi Jid'ah mengikutinya, dari Sufyan, diriwayatkan dari Ziyad bin Abi al-Ashba, dari Sufyan. Diriwayatkan Muhammad bin Hasan bin Azhar, dari 'Abbas bin Yazid dari Sufyan, hadits semacam itu.

Bersambung...

===

(1) Dia adalah Ahmad bin Mansur bin Rasyid al-Marwazi, orangnya dapat dipercaya, termasuk golongan kesebelas. Meninggal tahun 258 H. Lihat: at-Taqrib 1/26.

(2) Demikianlah aslinya, dan telah terjadi perubahan dalam nash, dan yang benar sebagaimana yang disebutkan dalam al-Hilyah.

(3) Al-Hilyah 7/303.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir Datang Menghibur

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian II

Sikap dan Perilaku Khidir 'alaihis salaam

Bab 14

Khidir 'alaihis salaam Datang Menghibur

Diriwayatkan Humad bin 'Umar al-Nashibi (1), salah seorang yang dikategorikan matruk, kami mendapatkan hadits dari as-Sirri bin Khalid, dari Ja'far bin Muhammad, dari bapaknya, dari kakeknya 'Ali bin al-Husain: Waktu itu dia sedang menjadi pimpinan beberapa orang di sebuah perahu laut. Kemudian perahu itu karam dan rusak. Saat dia sedang menyisiri di pinggiran laut, tiba-tiba melihat seorang laki-laki di pantai, dan dia melihat hidangan yang turun dari langit. Kemudian tersusun dengan sendirinya, setelah dimakan, tiba-tiba terangkat dengan sendirinya.

Melihat hal tersebut, dia tercengang dan bertanya, "Wahai dengan apa yang kulihat barusan, hamba Allah macam apakah kau ini?" Dia berkata: "Aku adalah Khidir yang pernah kau dengar." Dia berkata, "Dengan apakah makanan dan minuman ini tersedia?" Khidir menjawab, "Dengan nama Allah yang Maha Besar." (2)

Ahmad menyebutkan dalam kitabnya az-Zuhd, dari Hamad bin Usamah (3), kami mendapatkan hadits ini dari Mus'ar (4), dari Mu'in bin 'Abdirrahman bin 'Abdillah bin Mas'ud (5), dari 'Aun bin 'Abdillah bin 'Atbah bin Mas'ud (6), dia berkata: Waktu itu ada seorang laki-laki di sebuah kebun di daerah Mesir sedang tertimpa cobaan. Ibnu az-Zubair merasa sedih dan putus asa, sambil menunduk dia memukul-mukul tanah yang ada di depannya.

Ketika ia mengangkat kepalanya tiba-tiba ada seorang pemuda di hadapannya sedang memegang sekop. Pemuda itu tampak memandangnya dengan penuh toleran. Dia angkat lagi kepalanya, dan melihat pemuda itu seakan-akan merasa kasihan dan berkata: "Aku melihatmu sedang bersedih, ada apakah gerangan?" Dia berkata, "Tidak apa-apa." Dia berkata: "Yah dunia, dunia memang menyediakan semuanya. Orang baik dan orang jahat sama-sama makan darinya. Dan sesungguhnya akhirat merupakan suatu ajal yang benar-benar ada, diatur oleh para Malaikat yang mampu. Sehingga disebutkan bahwa di akhirat benar-benar ada pemisah yang jelas, seperti terpisahnya daging. Barangsiapa berbuat salah terhadap sesuatu, maka dia telah menyalahi kebenaran."

Ketika mendengar perkataan ini, dia merasa takjub, lalu berkata, "Aku merasa sedih atas apa yang terjadi pada kaum muslimin." Dia berkata, "Sesungguhnya Allah akan menyelamatkanmu dengan rasa simpatimu terhadap kaum muslimin. Maka beramallah kepada Allah, jangan sampai jadi orang yang meminta kepada Allah namun tidak diberikan. Atau dia berdo'a namun tidak dikabulkan. Atau dia bertawakkal namun tidak dicukupi, atau percaya kepada-Nya namun tidak diselamatkan." Maka aku pun mulai berdo'a, "Ya Allah, selamatkanlah diriku dan selamatkan orang-orang dari kesalahanku." Lalu aku merasa percaya diri dan tidak merasa tertimpa musibah apapun. Mas'ar berkata, mereka menganggapnya sebagai Khidir. (7)

Abu Na'im juga meriwayatkan hadits serupa dalam kitabnya al-Hilyah. Dalam bagian biografi Aun bin 'Abdillah, ia meriwayatkannya melalui jalur Abu Usamah (8) -dia adalah Humad bin Usamah. Setelah mendengar hadits ini, Abu Na'im mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Aiynah dari Mus'ar. Setelah meriwayatkan hadits dari Muslim tentang orang yang dibunuh dajjal, Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan menyebutkan bahwa konon orang ini adalah Khidir. 'Abdurrazzaq juga berkata, Mu'ammar mendapat kabar dari az-Zuhri, dari Ubaidillah bin 'Abdillah bin Atbah, dari Abu Sa'id, tentang terbunuhnya seseorang di tangan dajjal. Dalam akhir riwayat ini, Mu'ammar berkata, "Aku mendapatkan informasi bahwa orang itu menjadikan untaian papan dari perunggu, dan orang itu adalah Khidir. Ini didukung oleh an-Nawawi karena sanad yang dibuat Mu'ammar. Dia menyangka bahwa di dalamnya terdapat rentetan sanad, padahal itu hanya perkataan Mu'ammar.

Bersambung...

===

(1) Demikianlah aslinya. Dan benar Humad bin Amr an-Nashibi, termasuk hadits matruk, dan telah ditelaah secara detail oleh Ibnu Habban, dia berkata: Dia memalsukan hadits seakan-akan berasal dari orang-orang yang terpercaya. Lihat: Adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 376, adh-Dhu'afa' ash-Shaghir karya al-Bukhari 35, al-Mizan 1/598, al-Majruhin 1/252, adh-Dhu'afa' karya ad-Daruquthni 164, adh-Dhu'afa' karya an-Nasa-i 136.

(2) Sanadnya maudhu' (palsu).

(3) Dia adalah Humad bin Usamah al-Qarsyi, Abu Usamah, masyhur dengan julukannya. Dia termasuk orang yang terpercaya dan tepat. Mungkin juga pernah memalsukan, pada akhir hayatnya dia meriwayatkan hadits dari buku-buku selainnya. Haditsnya dalam Kutub as-Sittah. Dia meninggal tahun 201 H. Lihat: at-Taqrib 1/195, al-Jam'u 1/104, Tadzkirah 1/321, at-Tahdzib 3/2.

(4) Dia adalah Mus'ar bin Kadam al-Hilali, orangnya terpercaya dan tepat dalam hadits, utama, termasuk thabaqah ketujuh. Haditsnya terdapat dalam Kutub as-Sittah. Lihat: at-Taqrib 2/243, at-Tahdzib 10/113, Ma'rifatu ats-Tsiqat 1710.

(5) Dia adalah Mu'in bin 'Abdirrahman bin 'Abdillah, orangnya terpercaya, pernah menjadi hakim di Kuffah, dia juga mempunyai analisa yang tajam dan wawasan yang luas mengenai keilmuan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Lihat: at-Taqrib 2/267, at-Tahdzib 10/252, Ma'rifatu ats-Tsiqat 1767.

(6) Dia adalah 'Aun bin 'Abdillah bin 'Atbah, terpercaya dan ahli 'ibadah, termasuk thabaqah keempat. Diriwayatkan Muslim dan keempat imam lainnya. Meninggal tahun 120 H. Lihat: at-Taqrib 2/90, at-Tahdzib 8/171, Ma'rifatu ats-Tsiqat 1451.

(7) Az-Zuhdu karya Hunad bin as-Sirri 784, dan al-Mushnaf karya Abu Syaibah 13/390 dari Abu Usamah terhadapnya.

(8) Hilyatu al-Auliya' 4/244, dan disebutkan oleh Ibnu Abu Dunya dalam at-Tawakkal 'ala Allah 17.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir dan Abu Mahjan

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 13

Khidir 'alaihis salaam dan Abu Mahjan

Diriwayatkan Sa'if dalam al-Futuh bahwa ada sekelompok orang (jama'ah) bersama Sa'ad bin Abi Waqash. Kemudian mereka melihat Abu Mahjan, dia seorang yang pernah ikut berperang. Lalu Abu Mahjan menceritakan sebuah kisah panjang. Mereka sama sekali tidak mengetahui tentang Khidir, siapakah sebenarnya dirinya.

Cerita ini menunjukkan bahwa mereka telah memastikan tentang kehadiran Khidir pada waktu itu. Abu 'Abdillah bin Battah al-Akbari al-Hambali juga berkata, kami mendapatkan hadits ini dari Syu'aib bin Ahmad bin Abi al-Awwam, dari Ibrahim bin 'Abdil Hamid al-Wasithi, dari Abien bin Sufyan, dari Ghalib bin 'Abdillah bin al-'Aqili, dari Hasan al-Bashri, dia berkata: Suatu ketika terjadi perbedaan paham antara seorang ahlus Sunnah dan Ghailan al-Qadari tentang masalah takdir. Kedua pihak setuju bila ada orang pertama yang muncul dari arah yang telah mereksa sepakati, untuk menjadi penengah. Kemudian muncul seseorang berkebangsaan Arab dengan sorban lentur yang diselempangkan di atas bahu. Melihat orang tersebut, kedua orang tadi berkata kepadanya: "Kami ingin kau menjadi penengah dan menghakimi apa yang kami perselisihkan." Orang tersebut menghamparkan kainnya, lalu duduk di atasnya, dan berkata: "Duduklah kalian berdua." Kemudian kami duduk di hadapannya. Kemudian dia menyalahkan Ghailan. Al-Hasan berkata, itulah Khidir.

Dalam sanadnya terdapat Abien bin Sufyan, dan dia itu termasuk orang yang matruk.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir dan Penjual (3)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 12

Khidir 'alaihis salaam dan Penjual (3)

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Harb al-Nisaburi, dari Muhammad bin Mu'adz al-Harwi, dari Sufyan ats-Tsauri (8), dari 'Abdullah bin Muharrir, dari Yazid al-Asham (9), dari 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu, kemudian dia menyebutkan hadits semacam itu.

Dia bercerita, aku berkata: "Wahai Hamba Allah, ulangilah kalimat tadi." Orang tadi bertanya, "Apakah kau mendengar do'a tadi?" Aku berkata, "Ya." Orang itu melanjutkan ucapannya, "Demi Dzat yang menguasai jiwa Khidir. Khidir membaca do'a itu pada setiap akhir shalat wajib. Siapa saja yang membacanya setiap akhir shalat wajib dia akan diampuni dosanya, sekalipun banyaknya seperti butiran pasir, tetesan air hujan, dan daun-daun di pohon." (10)

Ada pula hadits serupa yang diriwayatkan Muhammad bin Mu'adz al-Harwi, dari Abu 'Ubaid al-Makhzumi, dari 'Abdullah bin al-Walid, dari Muhammad bin Hamid, dari Sufyan ats-Tsauri.

Al-Baihaqi menyebutkan dalam kitab ad-Dalaail, dia berkata, kami mendapatkan hadits ini dari Abu 'Abdillah al-Hafizh, kami mendapatkannya dari Abu Ja'far al-Baghdadi, dari 'Abdullah bin 'Abdirrahman ash-Shan'ani, dari Abul Walid al-Makhzumi, kami mendapatkannya dari Anas bin 'Iyadh (11), dari Ja'far bin Muhammad, dari bapaknya, dari Jabir bin 'Abdillah ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata: Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam wafat, Malaikat datang melayat pada mereka. Ahlul bait mendengar suara pelan, tetapi tidak melihat sosok tubuhnya. Suara tersebut berkata: "As-Salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wahai ahlul bait, sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah. Dia berada di balik segala yang telah berlalu. Maka kalian harus mempercayakannya pada Allah, dan hanya kepada-Nya kalian memohon (berharap). Sesungguhnya orang yang terkena musibah adalah orang yang diharamkan baginya pahala. Was-Salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh."

Al-Baihaqi juga mengatakan bahwa hadits ini kami dapatkan dari al-Hasan bin Hamid bin Rabi al-Lakhmiy, kami mendapatkan hadits ini dari 'Abdullah bin Abi Ziyad, kami mendapatkannya dari Syaiban bin Hatim, dari 'Abdul Wahid bin Sulaiman al-Haritsi, kami memperolehnya dari al-Hasan bin 'Ali, dari Muhammad bin 'Ali, dia adalah anak Husain bin 'Ali, dia berkata, "Ketika menjelang wafatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Jibril turun kepada beliau. Dia menyebutkan kisah yang panjang, di antaranya tentang kedatangan seseorang kepada mereka. Mereka hanya mendengar apa yang diucapkannya, tanpa bisa melihat sosok tubuhnya. Dia berkata: "As-Salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh," kemudian dia menyebutkan cerita seperti hadits tentang takziah.

Bersambung...

===

(8) Dia adalah Sufyan bin Sa'id bin Masruq ats-Tsauri, Abu 'Abdil Kufi. Dia orang terpercaya dan hafal al-Qur-an, ahli fiqih, seorang imam, ahli 'ibadah, dan telah berhaji. Haditsnya terdapat dalam Ushul as-Sittah. Meninggal tahun 161 H. Lihat: Tarikh Baghdad 9/151, Tadzkirah 1/203, at-Tahdzib 4/111, al-Hilyah 6/356, Syadzrat 1/250, al-'Ibru 1/235.

(9) Dia adalah Yazid bin al-Asham, dan namanya Amru bin Ubaid bin Mu'awiyah al-Bakai. Dia adalah keponakan dari Maimunah Ummul Mukminin dari saudara perempuannya. Dia termasuk orang yang terpercaya. Diriwayatkan oleh Muslim, keempat imam yang lain, dan al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad. Meninggal pada tahun 103 H. Lihat: at-Taqrib 2/362, Ma'rifatu ats-Tsiqat 2003, at-Tahdzib 11/313.

(10) Al-Bidayah wa an-Nihayah 1/332. Dia berkata: Ini hadits dha'if dilihat dari sisi 'Abdullah bin al-Muharrir, termasuk hadits matruk. Yazid bin al-Asham tidak sampai pada 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu. Dan yang seperti ini tidak dapat dibenarkan. Wallaahu a'lam.

(11) Dia adalah Anas bin Iyadh bin Dhamrah al-Laitsi, orangnya terpercaya, termasuk golongan kedelapan. Haditsnya ada dalam al-Kutubu as-Sittah. Meninggal tahun 200 H. Lihat: at-Taqrib 1/84, at-Tahdzib 1/375, al-Jam'u 1/36.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir dan Penjual (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 12

Khidir 'alaihis salaam dan Penjual (2)

Aku telah mendapatkan jalan (jalur riwayat) yang baik selain riwayat yang disebutkan tadi dari Ibnu 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma. Al-Baihaqi berkata, dalam kitab Dalail an-Nubuwwah, Abu Bakar Zakaria bin Abu Ishaq mendapat kabar dari Ahmad bin Sulaiman al-Faqih, dia memperolehnya dari al-Hujjaj bin Farafashah (3), ia berkata: Ada dua orang lelaki sedang berjualan barang dagangan milik 'Abdullah bin 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma. Salah seorang di antara mereka memperbanyak bualannya. Ketika mereka berdua sedang berjualan, tiba-tiba lewat seorang laki-laki, lalu berdiri di hadapan mereka. Kemudian ia berkata kepada orang yang banyak bersumpah tadi, "Wahai Hamba Allah, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah banyak menjual sumpah, sesungguhnya sumpahmu itu tidak akan menambah rezekimu, dan tidak pula mengurangi jatah rezekimu jika kau tidak bersumpah."

Dia berkata, "Apa maksudmu?" Orang tadi berkata, "Sesungguhnya yang kumaksud begini," lalu dia mengatakan kalimat tadi -seperti yang telah disebutkan di atas- sampai tiga kali. Orang yang berjualan itu pun menimpali ucapannya. Ketika orang tadi ingin beranjak pergi dari keduanya, dia berkata, "Ketahuilah sesungguhnya termasuk sikap iman adalah, berani mengungkap kejujuran sekalipun membuatmu rugi, dan itu lebih baik daripada kebohongan yang membuatmu untung. Dan janganlah kamu lebih mengutamakan ucapan di atas tindakan." Lalu dia beranjak pergi.

'Abdullah bin 'Umar berkata, "Jumpailah dia dan tulislah apa yang dikatakannya." Penjual itu menemuinya dan berkata, "Wahai hamba Allah, tulislah untukku kalimat yang tadi kau ucapkan, semoga Allah merahmatimu." Orang itu berkata, "Apa yang telah ditakdirkan Allah pasti akan terjadi," dan dia mengulanginya hingga dapat dihafal. Kemudian orang itu beranjak pergi, dan ketika kakinya menginjak masjid, tiba-tiba aku tidak tahu lagi, apakah yang berada di bawah kakinya itu bumi atau langit. Dia berkata, mereka menganggap bahwa dia adalah Khidir atau Ilyas.

Ibnu Abi Dunya juga berkata, kami mendapatkan hadits Ya'qub bin Yusuf, kami mendapatkannya dari Malik bin Isma'il (4), dari Shalih bin Abi al-Aswad, dari Mahfud bin 'Abdillah, dari seorang syaikh yang berasal dari Hadhramaut, dari Muhammad bin Yahya (5), dia berkata, 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu berkata: Ketika aku sedang thawaf, aku bertemu dengan seseorang yang sedang memegang kelambu Ka'bah. Dia berdo'a, "Wahai Engkau yang tidak disibukkan dengan pendengaran apa pun, wahai Engkau yang tidak menolak orang-orang meminta, wahai Engkau yang tidak bosan dengan keluhan orang-orang yang tertekan, berilah aku ampunan-Mu (6) dan rasa manis rahmat-Mu."

'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu melanjutkan ceritanya, aku berkata: "Do'amu ini telah membuka pintu maaf Allah bagimu, ulangi do'a itu." Dia berkata, "Kamu mendengarnya?" Aku berkata, "Ya, aku mendengarnya." Dia berkata, "Maka berdo'alah dengan do'a itu setiap usai shalat. Demi Dzat yang menguasai jiwa Khidir, jikalau kau mempunyai dosa-dosa sebanyak bintang yang bertebaran di angkasa dan memenuhi bumi, tentu Allah akan mengampuni lebih cepat dari kedipan mata." (7) Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dainuri dalam kitab al-Mujalasah.

Bersambung...

===

(3) Aslinya adalah al-Hujjaj bin Quraqashah (yang benar adalah Farafashah), dia al-Bahili al-Bashri, terpercaya dan ahli 'ibadah, namun masih meragukan, termasuk thabaqah keenam. Diriwayatkan Abu Dawud dan an-Nasa-i. Lihat: at-Taqrib 1/154.

(4) Dia adalah Malik bin Isma'il an-Nahdi, terpercaya dan meyakinkan, seorang ahli 'ibadah, termasuk golongan shighar kesembilan. Haditsnya terdapat dalam Kutubu as-Sittah. Meninggal pada tahun 217 H. Lihat: at-Taqrib 2/223, at-Tahdzib 10/3, Tarikh ats-Tsiqat 1666.

(5) Dia adalah Muhammad bin Yahya bin Habban, terpercaya dan ahli fiqih, termasuk golongan keempat. Haditsnya ada dalam Ushul as-Sittah. Meninggal tahun 121 H. Lihat: at-Taqrib 2/216, at-Tahdzib 9/507, Ma'rifah ats-Tsiqat 1659.

(6) Bandingkan dalam al-Bidayah wa an-Nihayah: Urzuqni.

(7) Al-Bidayah wa an-Nihayah 1/333. Dia berkata: Hadits ini terputus, dan dalam sanadnya terdapat orang yang tidak diketahui.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah