Showing posts with label aqidah salaf ashabul hadits. Show all posts
Showing posts with label aqidah salaf ashabul hadits. Show all posts

Daftar Isi | Aqidah Salaf Ashhabul Hadits

'Aqiidatu As-Salaf Ash-haabu Al-Hadiits.

Aqidah Salaf Ashhabul Hadits.

Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il Ash-Shabuni.

Badar bin 'Abdullah Al-Badar.

Abu Umar Basyir Al-Maidani.

Daftar Isi.

1. Mukaddimah Pentahqiq.

2. Biografi Penulis.

3. Para Guru dan Pembimbing Beliau.

4. Murid-murid Beliau.

5. Pandangan Para Ulama Tentang Beliau.

6. Alur Periwayatan Kitab dalam Teks Manuskrips.

7. Alur Sanad Sampai Kepada Penulis Kitab ini.

8. Keyakinan Ashhabul Hadits Tentang Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla.

9. Al-Qur'an adalah Kalamullah, Bukan Makhluk!

10. Beristiwa' (Bersemayam)-Nya Allah di Atas 'Arsy.

11. Keyakinan Ahlussunnah wal Jama'ah Tentang Turunnya Allah (dari 'Arsy) dan Kedatangannya.

12. Sikap Para Ulama Sehubungan dengan Hadits ini.

13. Kebangkitan Sesudah Mati.

14. Syafa'at.

15. Al-Haudh dan Telaga Al-Kautsar.

16. Kaum Muslimin Melihat Rabb-nya di Akhirat.

17. Mengimani Jannah dan Naar, Bahwa Keduanya adalah Makhluk Ciptaan Allah.

18. Iman adalah Ucapan dan Perbuatan, dapat Bertambah dan Berkurang.

19. Seorang Muslim Tidak Boleh Dikafirkan dengan Segala Bentuk Dosa.

20. Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat dengan Sengaja.

21. Perbuatan Hamba adalah Makhluk.

22. Hidayah Hanya Berasal dari Allah.

23. Kehendak Allah 'Azza wa Jalla.

24. Akhir Kehidupan Seorang Hamba adalah Perihal yang Ghaib.

25. Persaksian Mereka Terhadap Orang yang Mati dengan Keyakinan yang Dibawanya.

26. Mereka yang Mendapat Kabar Gembira akan Masuk ke dalam Jannah.

27. Sahabat yang Paling Utama dan Masa Kekhalifahan.

28. Shalat Bermakmum kepada Orang yang Shalih dan Fasik serta Berjihad Bersamanya.

29. Sikap Mereka Terhadap Para Sahabat radhiyallahu 'anhum.

30. Engkau Tak Akan Masuk ke dalam Jannah Hanya Karena Amal Perbuatanmu.

31. Setiap Makhluk Telah Ditentukan Ajalnya.

32. Godaan Setan.

33. Sihir dan Para Penyihir.

34. Adab dan Perilaku Ashhabul Hadits.

35. Ciri-ciri Ahli Bid'ah.

36. Ciri-ciri Ahlussunnah wal Jama'ah.

37. Daftar Pustaka.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: 'Aqiidatu As-Salaf Ash-haabu Al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il Ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah Al-Badar, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir Al-Maidani, Penerbit: Pustakan At-Tibyan, Solo - Indonesia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Aqidah Salaf Ashabul Hadits (6)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

6 - Syaikh Abu 'Utsman (rahimahullaah) berkata: Para Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah [ucapan Allah], kitab-Nya, dan firman serta wahyu yang diturunkan-Nya, bukan makhluk. Barangsiapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia (al-Qur-an) adalah makhluk, maka ia kafir menurut pandangan mereka (Ashhabul Hadits). Al-Qur-an yang merupakan wahyu dan Kalamullah itu adalah yang diturunkan Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril ('alaihis salaam) kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan bahasa Arab, untuk orang-orang yang ber'ilmu. Sebagai peringatan sekaligus kabar gembira. Seperti yang difirmankan oleh Allah Yang Maha Perkasa (26):

"Dan sesungguhnya al-Qur-an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin [Jibril], ke dalam hatimu [Muhammad] agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas."
(Qur-an Surat asy-Syu'araa: 192-195)

Al-Qur-an adalah yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada ummatnya sebagaimana diperintahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam al-Qur-an sendiri:

"Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 67)

Dan yang disampaikan oleh beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) adalah Kalamullah 'Azza wa Jalla. Dalam hal itu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Apakah kamu sekalian akan menghalangiku untuk menyampaikan Kalam [ucapan] Rabbku?" (27)

Al-Qur-an itulah yang dipelihara/ dihafal di dalam hati, dibaca oleh lidah dan ditulis dalam mushhaf-mushhaf. Bagaimanapun caranya ia (al-Qur-an) dibaca oleh seorang qari, dilafalkan oleh seseorang, dihafal oleh seorang hafizh, ataupun dibaca di tempat manapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushhaf-mushhaf kaum Muslimin atau buku-buku anak kecil dan lain-lain, semuanya itu adalah Kalamullah 'Azza wa Jalla (dan ia adalah al-Qur-an itu sendiri) dan bukan makhluk. Barangsiapa beranggapan bahwa ia (al-Qur-an) makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

===

(26) Dalam manuskrip tercantum: "...Allah 'Azza wa Jalla berfirman:..."

(27) Hadits diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah (radhiyallaahu 'anhu) bahwasanya beliau (Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) bersabda: "Adakah seseorang yang sudi membawaku kepada kaumnya? Sesungguhnya orang-orang Quraisy menghalang-halangiku untuk menyampaikan Kalam Rabbku."

Hadits tersebut dikeluarkan oleh (Imam) al-Bukhari dalam kitab Af'alul 'Ibad 86/205, (Imam) at-Tirmidzi 2925, dan dishahihkan oleh (Imam) Ibnu Majah 201. Diriwayatkan juga dalam banyak jalan dengan sanad yang shahih. Silakan merujuk kepada kitab Af'alul 'Ibad dan bantahan terhadap jahmiyyah karya 'Utsman bin Sa'id ad-Darimi 258.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Pertama kali disalin pada 7 Maret 2015 pk. 01:41 WIB, dan diedit sesuai buku rujukan pada hari ini.

===

Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits (4)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Keyakinan Ashhabul Hadits Tentang Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla

4 - Mereka (Ashhabul Hadits) juga menyatakan kebenaran sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla yang disebutkan dalam al-Qur-an (22) maupun hadits-hadits shahih. Di antaranya: pendengaran, penglihatan, mata, wajah, 'ilmu, kekuatan, kekuasaan, keperkasaan, keagungan, kehendak, keinginan (23), perkataan, ucapan, keridhaan, kemarahan, hidup, terjaga (24), gembira, tertawa dan lain-lain. Tanpa menyerupakan sedikitpun di antaranya dengan sifat-sifat makhluk ciptaan-Nya. Tapi sebaliknya, mereka membatasi diri hanya pada apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya, tanpa menambah, mengembel-embeli (25), mereka-reka bentuknya, menyerupakan atau menyimpangkan pengertiannya, mengganti, merubah atau membuang ungkapan berita yang biasa dipahami dan digunakan orang-orang Arab untuk kemudian menakwilkannya dengan cara yang salah. Mereka menafsirkannya berdasarkan zhahirnya [yaitu menurut bahasa Arab yang asli, -pent]. Lalu menyerahkan hakikat pengertian yang sesungguhnya kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Dan mengatakan bahwa hakikat yang sesungguhnya hanyalah diketahui oleh Allah 'Azza wa Jalla. Sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam al-Qur-an tentang orang-orang yang mendalam keilmuannya:

"Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran [daripadanya] melainkan orang-orang yang berakal."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 7)

===

(22) Dalam manuskrip tercantum: "...dan para Ash-haabul hadits menetapkan bagi Allah segala yang difirmankan-Nya..."

(23) Dalam manuskrip tercantum: "...keinginan dan kehendak..."

(24) Dalam manuskrip tercantum: "...kecintaan dan kebencian..."

(25) Dalam manuskrip tercantum: "...tanpa mengembel-embeli dan menambahkan..."

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Pertama kali disalin pada 1 Maret 2015 pk. 20:25 WIB, dan diedit sesuai buku rujukan pada hari ini.

===

Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits (3)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Keyakinan Ashhabul Hadits Tentang Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla

3 - [Syaikh Abu Utsman berkata]: Aku mengatakan: Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya.

[Sesungguhnya] Ashhabul Hadits [yang berpegang teguh kepada Kitab dan Sunnah] -semoga Allah memelihara mereka yang masih hidup dan memberi rahmat kepada yang telah wafat- adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Mereka mengenal Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan segala sifat-sifat-Nya yang Allah utarakan dengan wahyu dan Kitab-Nya. Atau melalui persaksian Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang shahih, yang dinukil dan disampaikan oleh para perawi yang dapat dipercaya. Mereka menetapkan [dari sifat-sifat tersebut] apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Mereka tidak meyakini sifat-sifat itu dengan cara menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk. Mereka mengatakan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menciptakan Adam 'alaihis salaam dengan Tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur-an.

[Sebagaimana dalam firman-Nya]:

"Allah berfirman: 'Hai iblis, apa yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku."
(Qur-an Surat Shad: ayat 75)

Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah (15) dari pengertian yang sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau dua kekuatan, seperti yang dilakukan mu'tazilah [dan] jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-. Mereka (Ashhabul Hadits) juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakannya dengan tangan-tangan makhluk (16), seperti yang dilakukan oleh orang-orang al-Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memelihara Ahlus Sunnah dari kebiasaan menyimpangkan, mereka-reka (*) atau [menyerupakan] sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya. Allah telah mengarunia atas diri mereka pemahaman dan pengertian (17), sehingga mereka mampu meniti jalan-jalan (18) mentauhidkan dan mensucikan Allah 'Azza wa Jalla. Merekapun meninggalkan ucapan yang bernada menyerupakan [sifat-sifat itu] atau mencari-cari dalih [pembenaran ucapan mereka]. Mereka justru mengikuti firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Qur-an Surat asy-Syura: ayat 11)

Sebagaimana al-Qur-an menyebutkan "Dua Tangan-Nya" dalam firman-Nya:

"...yang telah Kuciptakan dengan kedua Tangan-Ku..."
(Qur-an Surat Shad: ayat 75)

Dan juga firman-Nya:

"[Tidak demikian], tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki."
(Qur-an Surat al-Ma-idah: ayat 64)

Telah banyak diriwayatkan hadits-hadits shahih yang menyebut-nyebut tentang Tangan Allah 'Azza wa Jalla. Seperti yang tersebut dalam kisah perdebatan Musa 'alaihis salaam dengan Adam 'alaihis salaam, tatkala Musa berkata:

"Allah telah menciptakan dirimu dengan Tangan-Nya dan membuat para Malaikat bersujud kepadamu..." (19)

Demikian juga sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Tidak (...) Allah telah menciptakan Jannah (Surga) Firdaus itu dengan Tangan-Nya." (20)

(...) Aku katakan kepadanya: "Jadilah," maka jadilah ia. (21)

Pernyataan-pernyataan mereka tentang sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla.

===

(15) Dalam manuskrip tercantum: "tidak menyimpangkan kalim (kata-kata)..."

(16) Dalam naskah cetakan disebutkan: ...dan penyerupaan kedua tangan-Nya..."

(*) Dalam manuskrip: "Mereka-reka atau menyimpangkan."

(17) Dalam manuskrip tercantum: "...pengertian dan pemahaman..."

(18) Dalam manuskrip tercantum: "...jalan..."

(19) Dikeluarkan oleh Imam Muslim 4:2043. (Imam) Ahmad dalam kitab as-Sunnah halaman 65. (Imam) Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid halaman 54-55. (Imam) Abu Sa'id ad-Darimi dalam ar-Raddu 'alal jahmiyyah 290, dan lain-lain.

(20) Dikeluarkan oleh (Imam) al-Baihaqi dalam kitab al-Asma was Sifat halaman 318, dari hadits 'Abdullah bin al-Harits (ra-dhiyallaahu 'anhu). Tapi beliau menyebutkan cacatnya yang tersembunyi berupa "irsal" (yaitu seorang tab'i yang menyandarkan hadits langsung kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tanpa menyebut siapa yang menjadi perantara keduanya, -pent). Karena...

(21) Ucapan penulis sebanyak beberapa kata (dalam tanda kurung) juga tidak berhasil ditemukan oleh pemberi tahqiq, -pent.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Pertama kali disalin pada 27 Februari 2015 pk. 18:55 WIB, dan diedit sesuai buku rujukan pada hari ini.

===

Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits (2)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

2. Amma ba'du, pada saat aku mendatangi Aamid Thubrustan dan negeri Gaelan menuju Baitul Haram sambil berziarah ke makam Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (13), beberapa orang rekan seiman meminta aku untuk merangkumkan beberapa pembahasan tentang pokok-pokok ajaran Islam yang menjadi acuan generasi terdahulu dari kalangan para Imam, 'Ulama Islam dan as-Salaf ash-Shalih. Yang kemudian mereka jadikan petunjuk dan mereka dakwahkan kepada manusia di setiap waktu. Mereka berupaya mengenyahkan segala yang bertolak belakang dengan pokok-pokok ajaran itu, dan juga meninggalkan hal-hal yang dihindari oleh golongan kaum Mukminin yang jujur dan bertaqwa. Mereka berwala' dan bersikap antipati kepada siapapun, atas dasar semua itu. Merekapun membid'ahkan bahkan -terkadang- memvonis kafir siapa saja yang meyakini kebalikannya. Mereka mengharapkan barakah dan kebaikannya bagi diri mereka dan bagi siapa saja yang mengajak mereka untuk menerapkannya. Akhirnya, merekapun menikmati pahala dari apa yang mereka yakini, mereka pegang teguh, mereka bimbingkan dan mereka dakwahkan kepada ummat. Maka akupun beristikharah kepada Allah 'Azza wa Jalla. Lalu aku kukuhkan apa yang mungkin aku susun dengan ringkas. Dengan mengharap, agar bermanfaat bagi mereka yang berhati tajam dan bersih. Semoga Allah merealisasikan keyakinan itu, dan melimpahkan karunia dan taufik-Nya kepada kita (untuk kebenaran, kejujuran dan petunjuk) serta keteguhan di atas jalan petunjuk yang hak, dengan karunia dan keutamaan-Nya.

===

(13) Menurutku, yang lebih pantas buat penulis -rahimahullaah-, untuk menyatakan: "...mengunjungi masjid Nabi-Nya..." Karena yang disyari'atkan adalah melakukan perjalanan untuk mengunjungi masjid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bukan kuburan beliau. Untuk memperluas pemahaman kita, silakan merujuk kepada buku tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: "Bantahan terhadap al-Akhnaa-i dan dianjurkannya menziarahi kuburan Nabi menurut syari'at," juga "al-Jawabul Bahir fii Zuwwaril Maqaabir (Bantahan tuntas terhadap para peziarah kubur)." Keduanya termasuk buku-buku yang dicetak oleh percetakan as-Salafiyyah di Mesir.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Pertama kali disalin pada 25 Februari 2015 pk. 19:45 WIB, dan diedit sesuai buku rujukan pada hari ini.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits (1)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

1. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin, wal 'aqibatu lil muttaqin. Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya atas Nabi Muhammad (11), beserta sanak keluarga dan para Shahabatnya yang mulia. (12)

===

(11) Dalam naskah cetakan dicantumkan: Semoga Allah melimpahkan shalawat atas beliau.

(12) Dalam manuskrip tercantum: Semoga Allah melimpahkan shalawat atas Nabi Muhammad beserta sanak keluarga beliau seluruhnya.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Pertama kali disalin pada 25 Februari 2015 pk. 19:32 WIB, dan diedit sesuai buku rujukan pada hari ini.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Alur Sanad Sampai Kepada Penulis Kitab

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Alur Sanad Sampai Kepada Penulis Kitab

Abu 'Utsman Isma'il bin 'Abdirrahman ash-Shabuni telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata:

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Penghulu segala Qadhi di Damaskus, Nizhamuddin 'Umar bin Ibrahim bin Muhammad bin Muflih ash-Shalihi al-Hambali telah mengabarkan kepada kami dengan pengesahan riwayat dari sang guru secara lisan.

Al-Hafizh Abu 'Abdillah Muhammad bin 'Abdillah bin Ahmad bin al-Muhibb al-Maqdisi telah mengabarkan kepada kami juga dengan pengesahan dari gurunya, meski tak mendengarnya secara langsung. Dua orang Syaikh, Jamaluddin 'Abdurrahman bin Ahmad bin 'Umar bin Syukur dan 'Abdullah Muhammad bin al-Muhibb 'Abdullah bin Ahmad bin Muhammad al-Maqdisiaini telah mengabarkan kepada kami. Syaikh yang pertama berkata: Isma'il bin Ahmad bin al-Husein bin Muhammad bin al-'Iraqi, telah mengabarkan kepada kami dengan cara mendengar. Fath 'Abdullah bin Ahmad al-Khiraqi telah mengabarkan kepada kami dengan mendapat pengesahan riwayat. Syaikh yang kedua berkata: Ahmad bin Abdid Da'im rahimahullaah telah mengabarkan kepada kami. Al-Muhaddits Tajuddien Muhammad bin al-Hafizh Imaduddien Isma'il bin Muhammad bin Burdis al-Ba'li telah mengabarkan kepada kami dalam kitabnya. Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin al-Khabbaz telah mengabarkan kepada kami secara lisan. Ahmad bin Abdud Da'im telah mengabarkan kepada kami dengan pengesahan riwayat, meski tak mendengarnya secara langsung. Al-Hafizh 'Abdul Ghani bin 'Abdul Wahid bin 'Ali bin Surur al-Maqdisi telah mengabarkan kepada kami. Al-Khiraqi telah mengabarkan kepada kami melalui apa yang didengarnya. Abu Bakar 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni telah mengabarkan kepada kami. Syaikhul Islam Abu 'Utsman Isma'il bin 'Abdirrahman telah menceritakan kepada kami, lalu beliau menyebutkan teks riwayatnya. Penghulu segala Qadhi, Izzuddien 'Abdurrahim bin Muhammad bin al-Furat al-Hanafi telah mengabarkan kepada kami, dengan pengesahan riwayat secara lisan. Mahmud bin Kalifah bin Muhammad al-Manbaji (10) telah mengabarkan kepada kami. Al-Jamal 'Abdurrahman bin Ahmad bin 'Umar bin Syukr telah mengabarkan kepada kami, dengan teks dari beliau. Beliau berkata:

===

(10) Dalam naskah cetakan tercantum al-Mutabajji. Yang tepat adalah yang telah kami cantumkan di sini, sebagaimana dalam al-Lubaab 3:259.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Alur Periwayatan Kitab Dalam Teks Manuskrip

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Alur Periwayatan Kitab Dalam Teks Manuskrip

Kitab: Rislah fi I'tiqadi Ahli as-Sunnah wa Ashhabil Hadits wal A'immah. Riwayat dari Abu al-Hasan 'Ali bin al-Hasan bin 'Abdus Salam bin Abul Hazzur, dan Abul Hasan 'Ali bin Ahmad bin Zuheir at-Tamimi al-Maliki. Masing-masing dari beliau [ash-Shabuni]. Riwayat Abu Nashar Ghalib bin Ahmad bin al-Muslim al-Adami, dari keduanya. Riwayat al-Imam Abu Muhammad 'Abdurrahman bin 'Ali bin al-Muslim al-Lukhami, dari beliau rahimahullaah.

Riwayat asy-Syaikh, al-Imam al-'Alim Syamsuddin Abul Hajjaj Yusuf bin Khalil bin 'Abdillah ad-Dimasyqi, dari beliau rahimahullaah.

Dari periwayatan hamba yang membutuhkan kasih sayang Allah Yang Maha Pemurah, Muhammad bin Shalih bin Ibrahim beserta anaknya, Shalih. Inilah Akidah Ahlussunnah, semoga Allah memperbanyak jumlah mereka, merahmati penyusunnya, dan mewafatkan kita dalam keyakinan ini. Disusun kembali oleh 'Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Quddamah al-Maqdisi al-Hambali. Semoga Allah mengampuni beliau dengan kasih-Nya. Wa shallallahu 'Ala Muhammadin wa alihi wa sallam.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Al-Imam al-'Alim al-Hafizh Syamsuddin pewaris ajaran Salaf dan pembela Sunnah, Abul Hajjaj Yusuf bin Khalil bin 'Abdillah ad-Dimasyqi telah mengabarkan kepada kami, semoga Allah menutup kehidupannya dengan kebaikan. Sehingga dengan apa yang kupelajari darinya ( ) (9), semoga beliau mencapai apa yang diangankannya di akhirat nanti. Aku berkata kepadanya: al-Imam Dhaya'u ad-Dien Abu Muhammad 'Abdurrahman bin 'Ali bin al-Muslim al-Lukhami telah mengabarkan kepadamu, dengan cara membacakan dihadapannya dan engkau mendengarkannya melalui bacaan Shainuddin Abu Muhammad 'Abdul Qawiyy bin 'Abdul Khaliq bin Wahsyi al-Miski, pada 12 Jumadil Ula Tahun 580 H. Lalu beliau [Abul Hajjaj] mengakuinya, dan berkata:

Abu Nashar Ghalib bin Ahmad bin al-Muslim al-Adami telah memberitakan kepada kami, beliau berkata: Abul Husein 'Ali bin al-Hasan bin 'Abdus Salam bin 'Abul al-Hazzur dan 'Ali bin Muhammad bin Zuheir at-Tamimi al-Maliki telah memberitakan kepada kami, mereka berdua berkata:

Abu 'Utsman Isma'il bin 'Abdirrahman ash-Shabuni telah mengabarkan kepada kami, beliau berkata:

===

(9) Ada bagian putih tanpa tulisan dalam manuskrip aslinya, sehingga ada sekitar enam kata yang hilang.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Pandangan para ulama terhadap beliau

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Pandangan para ulama terhadap beliau

* 'Abdul Ghafir al-Farisi berkata: "Dalam metodologi ilmiah yang dimilikinya, beliau adalah orang yang paling unggul di masanya. Beliau telah menjalankan tugas selaku juru nasihat kaum muslimin selama tujuh puluh tahun. Mengimami dan menjadi khatib di masjid jami' kurang lebih dua puluh tahun. Beliau juga seorang hafizh (satu tingkatan pakar di kalangan ahli hadits, -pent), banyak mendengar riwayat dan menyusun buku. Amat gigih menuntut ilmu. Mendengar riwayat dari banyak guru dan melakukan perjalanan untuk mendapati hadits sehingga beliau dianugerahi Allah kemuliaan dan kehormatan dalam dien dan dunianya. Sosok beliau demikian elok di negeri sendiri, dikenal di kalangan kawan dan lawan. Telah disepakati, bahwa beliau adalah ulama pilih tanding. Beliau ibarat pedang penegak kebenaran, dan ular pembasmi ahlul bid'ah."

* Imam al-Baihaqi berkata, "Beliau adalah Syaikhul Islam sejati, dan Imam kaum muslimin yang sebenar-benarnya."

* Ibnu Katsir berkata, "Beliau seorang hafizh, juru nasihat dan ahli tafsir."

* Adz-Dzahabi berkata, "Beliau seorang juru nasihat, ahli tafsir dan penulis. Beliau juga salah seorang tokoh terkemuka, sekaligus penghulu ulama Khurasan di zamannya."

Beliau wafat pada bulan al-Muharram tahun 449 H. Di antara karya-karya beliau:

* Kitabul Fushul fil Ushul (7)
* Kitabul Intishar (8)

===

(7) Disebutkan oleh Ibnu Nashruddin, sebagaimana tertera dalam asy-Syadzarat.

(8) Disebutkan oleh penulis dalam kitabnya ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Murid-murid beliau

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Murid-murid beliau rahimahullaah Ta'ala

1. Abu Bakar: Ahmad bin al-Husen al-Baihaqi [384-458 H]. Lihat: as-Subki 4:382-384, dan al-Ansaab 8:248.

2. Abu Bakar: Ahmad bin Muhammad bin al-Hasan bin Muhammad bin Ibrahim al-Furaki [408-478 H]. Lihat: as-Subki 4:79.

3. Abu 'Ali: Isma'il bin Ahmad bin al-Husen al-Baihaqi [428-507 H]. Lihat: as-Subki 7:44, dan al-Mustafad hal. 400.

4. Abu Sa'id: al-Hasan bin Muhammad bin Mahmud bin Surah at-Tamimi. Lihat: al-Ansaab 8:248.

5. Abu Muhammad: al-Husen bin Ahmad as-Samarkan. Lihat: Mil ul 'aibah 2:216.

6. Abu al-Fath: Sahal bin Ahad bin 'Ali bin Ahmad al-Arghiyani [426-499] (6). Lihat: as-Subki 4:391, al-Ansaab 1:168, dan al-Wafayat 2:433-434.

7. Abu Bakar: 'Abdurrahman bin Isma'il bin 'Abdirrahman ash-Shabuni [wafat 500 H]. Lihat: as-Subki 7:146-147.

8. Abu Sa'ad: 'Abdurrahman bin Makmun bin 'Ali bin Ibrahim al-Mutawalli [426-478]. Lihat: as-Subki 5:106.

9. Abul Qasim: 'Abdurrahman bin Muhammad bin Tsabit ats-Tsabiti al-Khiraqi [wafat 495 H]. Lihat: as-Subki 5:115.

10. Abu Nashar: 'Abdurrahman bin 'Abdil Karim bin Hawazin al-Qusyairi [wafat 514 H]. Lihat: as-Subki 7:159, at-Tadzkirah 4:1254.

11. Abu Bakar: 'Abdul Ghaffar bin Muhammad bin al-Husein asy-Syairubi. Lihat: al-Ansaab 8:248.

12. Abul Qasim: 'Abdullah bin 'Ali bin Ishaq [414-499 H]. Lihat: as-Subki 5:70.

13. Abul Mahasin: 'Abdul Wahid bin Isma'il bin Ahmad bin Muhammad ar-Ruyani [415-502 H]. Lihat: as-Subki 7:193, al-Mustafad hal. 292.

14. Abul Ma'ali: 'Aziz bin 'Abdil Malik bin Manshur al-Wa'idz [wafat tahun 494 H]. Lihat: as-Subki 5:235.

15. Abul Hasan: 'Ali bin al-Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Shushari al-Baladi al-Mu'addal [wafat tahun 467 H]. Lihat: as-Subki 4:284, al-'Ibar 3:265.

16. 'Ali bin Muhammad bin Isma'il al-'Iraqi [414-498]. Lihat: as-Subki 5:267.

17. Abul Hasan: 'Ali bin Sahal bin al-'Abbas bin Sahal al-Mufassir [wafat tahun 491 H]. Lihat: as-Subki 5:258.

18. Abu 'Ali: al-Fadhal bin Muhammad bin 'Ali al-Farmidi [407-477]. Lihat: as-Subki 5:304.

19. Abu 'Abdillah: Muhammad bin al-Fadhal bin Ahmad al-Farawi [441-530]. Lihat: as-Subki 6:166, al-Ansaab 8:248.

20. Abu 'Ali: Nashrullah bin Ahmad bin 'Utsman al-Khasynaami [409-498]. Lihat: al-Ansaab 3:217, 4:284, 5:143-144, al-Lubab 1:375.

===

(6) Dalam naskah cetakan disebutkan 490, dan itu keliru.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Para Guru dan Pembimbing Beliau

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Para Guru dan Pembimbing Beliau (4)

1. Abu Ubaid: Ahmad bin Muhammad bin 'Abdirrahman bin Muhammad al-Harawi. [Beliau wafat tahun 401 H]. Lihat: Thabaqat as-Subki 4:84, al-'Ibar 3:75, Milul'aibah 2:16.

2. Abu Bakar: Ahmad bin al-Husen bin Mahran al-Muqri. Lihat: Thabaqat as-Subki 3:284, al-Kuna wal Ansab.

3. Abu al-Husen: Ahmad bin Muhammad bin 'Umar az-Zahid al-Khaffaf. Lahir tahun 302 dan wafat tahun 395. Lihat: as-Subki 3:284, al-Ansaab 5:171-172.

4. Abu Muhammad: al-Hasan bin Ahmad al-Mukhalladi al-Mu'addal *. Beliau wafat tahun 389 H. Lihat: al-Ansaab 8:247, Tadzkiratul Huffadz 3:1021, as-Subki 4:284.

5. Abu 'Ali: Zahir bin Ahmad as-Sarkhasi al-Faqih *. [313-389 H]. Lihat: al-Ansaab 8:248, Tadzkirah 3:1021, al-'Ibar 3:219, as-Subki 3:293, 4:283-284.

6. Abu Mu'adz: asy-Syah bin 'Abdirrahman bin Ma'mun al-Harawi. Lihat al-Ansaab 8:248.

7. 'Abdurrahman bin Syuraih Lahrawi. [Wafat tahun 392 H]. Lihat as-Subki 4:284, dan al-'Ibar 3:53.

8. Abul 'Abbas: 'Abdush Shamad bin 'Abdullah al-Mu'mari. Lihat: Mustafad ar-Rihlah wal Ightirab hal. 992, 400.

9. Abu Sa'id: 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdil Wahhab ar-Razi. Lihat: al-Ansaab 98:347, as-Subki 4:284.

10. Abul Ma'ali: 'Abdul Malik bin 'Abdillah bin Yusuf bin Muhammad bin 'Abdillah bin Hayawaih al-Juwaini [419-478 H]. Lihat: as-Subki 95:165.

11. Abul Fath: 'Ali bin Muhammad [ada yang menyebut: Ahmad] bin Husen [ada yang mengatakan: Hasan] bin Yusuf bin 'Abdil 'Aziz al-Busti [wafat tahun 411 H]. Lihat: as-Subki 5:293.

12. Abu Sa'id: Fadhlullah bin Ahmad bin Muhammad bin Abil Khair al-Maihuni [wafat tahun 440 H]. Lihat: as-Subki 5:306, al-Lubab fi Tahdzibi al-Ansaab 3:285.

13. Abu Sa'id: Muhammad bin al-Husen bin Musa as-Simsar. Lihat: al-Ansaab 8:247.

14. Abu Manshur: Muhammad bin 'Abdillah bin Himsyad * [316-388 H]. Lihat: as-Subki 2:194, 3:179.

15. Abu 'Abdillah: Muhammad bin 'Abdillah bin Muhammad bin Hamdawaih [Hamduyah, menurut ahli hadits, -pent] an-Naisaburi, yang lebih dikenal dengan: al-Hakim * [321-405 H]. Lihat: al-Ansaab 4:284.

16. Abu Bakar: Muhammad bin 'Abdillah bin Muhammad bin Zakariya bin al-Hasan al-Juzaqi asy-Syaibani * [306-388]. Lihat: as-Subki 3:184, 4:284, al-Ansaab 8:247.

17. Abu Thahir: Muhammad bin al-Fadhal bin Muhammad bin al-Ishaq bin Khuzaimah (5). [Wafat tahun 387 H]. Lihat: as-Subki 4:284s, al-'Ibar 3:37.

Dan lain-lain.

===

(4) Yang diawalnya terdapat tanda (*), berarti ia adalah gurunya, dan beliau meriwayatkan hadits dari guru tersebut dalam buku ini. Dan rujukan-rujukan yang dicantumkan di sini, bisa jadi di dalamnya terdapat catatan biografi guru itu, bisa juga sekedar pemberitahuan bahwa beliau pernah meriwayatkan hadits dari guru tersebut.

(5) Aku sengaja tidak menyebutkan sembilan guru beliau yang lainnya, yang sebenarnya harus tercantum dalam buku ini, karena aku memang belum menemukan biografi mereka, dengan harapan, semoga pada cetakan selanjutnya Allah memberi taufik kepada aku untuk dapat memaparkannya, insya Allah.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Biografi Penulis

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Biografi Penulis

Beliau bernama Isma'il bin 'Abdurrahman bin Ahmad bin Isma'il bin Ibrahim bin 'Aidz (3) Abu 'Utsman ash-Shabuni rahimahullaah Ta'ala.

Beliau dilahirkan pada tahun 372 H. Ayahnya Abu Nashar, termasuk juru nasihat kenamaan di Naisabur. Ia meninggal terbunuh akibat polemik fanatisme golongan dan madzhab. Lalu al-Imam Abu Thayyib Sahal bin Muhammad bin Sulaiman ash-Sha'luki mengambil alih tugas mendidik dan mengasuh beliau. Beliau mulai bertugas selaku juru nasihat menggantikan ayahnya tatkala berumur sepuluh tahun. Konon, majelis nasihat beliau itu dihadiri oleh para Imam kenamaan pada zamannya. Seperti al-Imam Abu Ishaq al-Isfiraini dan Abu Bakar Faurak. Mereka amat mengagumi kecerdasan dan kecemerlangan otaknya. Juga keindahan tutur kata beliau baik dalam bahasa Arab maupun Parsi, serta hafalan haditss beliau. Hal itu berlanjut, hingga beliau dewasa dan menyamai kedudukan mereka. Reputasi beliau terus menanjak, sehingga demikian tingginya, karena kesempurnaan sifat malu dan kehormatannya. Sementara setiap waktu, beliau disibukkan dengan banyak menunaikan ibadah serta berbagai tugas pengabdian lainnya. Beliau amat menjaga harga diri dan kejujuran serta mampu membawa diri. Beliau dikenal bagus shalatnya, amat khusyu' sehingga mampu menampakkan kewibawaannya dan patut dijadikan teladan dalam hal itu.

===

(3) Dalam al-Bidayah wan Nihayah dicantumkan Aabid, dan itu keliru.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Mukaddimah Pentahqiq (3)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Mukaddimah Pentahqiq (3)

Aku tak dapat bersandar penuh kepada manuskrip tersebut, karena teks yang sudah tercetak memiliki banyak tambahan dibanding manuskrip itu. Sehingga sistematika aku dalam mentahqiq (melakukan penelitian) adalah sebagai berikut:

1. Teks yang telah tercetak itu aku jadikan induk rujukan. Seandainya ada perbedaan antara keduanya (yakni antara naskah cetakan dengan naskah manuskrip), akan aku jelaskan. Seandainya ada tambahan yang terdapat dalam manuskrip yang tak terdapat dalam teks cetakan tersebut, akan aku cantumkan dalam kurung kurawal []. Seandainya ada tambahan dalam teks tercetak tersebut, tak akan aku terangkan karena terlalu banyak.

2. Aku mengklasifikasikan risalah ini menjadi beberapa fasal pembahasan dan aku lengkapi dengan nomor urut agar mudah diberikan komentar dan mudah dijadikan rujukan.

3. Aku membiarkan sub-sub judul yang diberikan oleh penerbit cetakan yang lalu. Tapi mungkin terkadang aku rubah sesuai dengan kebutuhan yang mengharuskan.

4. Aku mentakhrij (menjelaskan sumber) hadits-hadits dan atsar (perbuatan Shahabat) yang termuat dalam risalah ini sebatas kemampuan aku. Sebagian atsar ada yang tidak aku ketemukan siapa yang mengeluarkannya selain penulis sendiri. Lalu aku upayakan untuk menetapkan hukum keshahihan atau kedha'ifan hadits-hadits tersebut berdasarkan kodifikasi dalam musthalahul hadits. Kalau ada yang aku biarkan tanpa komentar, berarti aku belum menemukan biografi salah seorang perawinya. Kadang secara kebetulan, aku tidak menemukan nama atau nasabnya yang tepat. Maka aku meletakkan tanda (?) di depannya sebagai isyarat bahwa aku belum mengetahuinya.

5. Aku memberikan komentar ringkas pada soal-soal yang membutuhkan komentar. Sambil mengharap kepada Allah 'Azza wa Jalla agar melimpahkan kepadaku taufik-Nya, agar dapat mengulang lagi cetakan risalah ini. Sehingga aku dapat memberikan keterangan dan komentar sesuai dengan yang menjadi hak buku ini.

6. Aku membuatkan beberapa daftar isi yang mungkin bermanfaat yaitu:

a. Daftar ayat-ayat al-Qur-an.
b. Daftar hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.
c. Daftar nama-nama yang tercantum dalam risalah ini (yang terakhir ini tidak kami tuliskan dalam terjemahan ini, -pent).

Demikianlah, aku mengharap, semoga Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa melimpahkan taufik-Nya kepada aku dalam pekerjaan aku ini. Menjadikan amalan-amalan kita, semata-mata untuk mencari keridhaan-Nya. Menganugerahkan kepada kita akidah yang shahih. Dan melimpahkan taufik kepada kita menuju segala hal yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dialah yang berhak dan berkuasa atas semua itu.

Badar bin 'Abdullah al-Badar

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Mukaddimah Pentahqiq (2)

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Mukaddimah Pentahqiq (2)

Namun di zaman yang diliputi kelemahan dan berbagai penyelewengan tersebut, Allah tetap menempatkan para ulama pembimbing ummat, yang akan memelihara dan menjaga akidah mereka, serta memberi sanggahan kepada orang-orang yang menyelisihi dan menentang mereka. Dari mulai fajar munculnya ajaran Islam hingga datangnya hari Kiamat, insya Allahu Ta'ala. (1)

Maka dari itu, para ulama Ahlus Sunnah tergerak menyusun berbagai tulisan yang menjelaskan akidah yang benar yang wajib diyakini seorang muslim dan dipegangnya dengan erat sampai akhir hayat. Di antara tulisan-tulisan tersebut, yaitu risalah yang ada di hadapan kita sekarang ini: Risalah tentang 'Akidah Ahlussunnah wa Jama'ah dan Ashhabul Hadits karya Syaikhul Islam al-Imam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah Ta'ala.

Dalam risalah ini, penulis mengungkapkan berbagai persoalan akidah terpenting yang disepakati Ahlussunah wal Jama'ah. Dengan sengaja menghindari pemaparan dalil-dalil dan perselisihan yang terjadi di dalamnya secara panjang lebar. Namun begitu, beliau masih mengulas panjang penyebutan dalil-dalil tentang beberapa persoalan. Seperti persoalan turunnya Allah 'Azza wa Jalla [dari 'Arsy] dan lain-lain.

Demikianlah, dan dalam memberikan komentar terhadap risalah ini, aku bersandar kepada cetakan yang dibuat, termasuk dalam muatan kumpulan risalah-risalah al-Muniriah. (2) Demikian juga aku bersandar kepada copy teks yang masih berupa manuskrip, dari inventaris al-Maktabah azh-Zhahiriah di Damaskus Syiria. Yaitu yang tertulis dalam 16 lembar dengan tulisan tangan yang cukup lumayan. Di dalamnya tertera juga sebagian periwayatannya. Judul yang tertulis di dalamnya yaitu Kitabu ar-Risalah fi I'tiqad Ahlis Sunnah wa Ashhabil Hadits wa A'immah.

Ibnu Taimiyah pernah menyinggung-nyinggung risalah itu dalam kitabnya Syarah Haditsi an-Nuzul hal. 50-52. Demikian juga adz-Dzahabi dalam al-'Uluw hal. 179-180. Mereka berdua menukilnya dari beberapa keterangan nash.

===

(1) Mulai dari Khutbatul hajah yang tertera di awal buku ini, sampai kebagian ini, disadur dari mukaddimah yang ditulis oleh pentahqiq kitab Syarah I'tiqat Ahlissunnah wal Jama'ah, tulisan Imam al-Lalikai. Yaitu yang terhormat Doktor Ahmad Sa'ad Hamdan.

(2) Perlu diketahui, bahwa buku tersebut sudah mengalami pencetakan sebanyak dua kali untuk terakhir kalinya pada tahun 1325 dan 1343 H. Sebagaimana tertulis dalam daftar isi buku-buku perpustakaan al-Azhhariyyah (280: ). Namun aku belum sempat menelaah kedua hasil cetakan itu untuk dapat diambil faedahnya. Dan perlu juga diketahui, bahwa buku ini juga sempat dicetak di ad-Darus Salafiyyah (di Kuwait) tahun 1397 H. Aku mengambil keuntungan dari cetakan itu dalam meniru penempataan sub-sub judul. Adapun kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam buku tersebut, atau dalam cetakan al-Muniriyyah, aku berikan peringatan di sela-sela pemberian komentar terhadap buku ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Aqidah Salaf Ashabul Hadits: Mukaddimah Pentahqiq

'Aqiidatus Salaf Ash-haabul Hadiits

Aqidah Salaf Ashabul Hadits

Mukaddimah Pentahqiq

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Sesungguhnya, segala puji bagi Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, tak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, tiada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi, tidak ada Yang berhak diibadahi (dengan benar) melainkan Allah. Dan bahwasanya Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

Amma ba'du.

Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kalamullah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid'ah. Setiap bid'ah adalah sesat. Dan setiap kesesataan adalah Naar tempat kembalinya.

Amma ba'du, sesungguhnya menghidupkan kembali warisan ajaran Islam yang meliputi akidah Islam yang benar, adalah satu hal yang vital. Demikian sangat vitalnya, khususnya di zaman sekarang ini, dimana kebangkitan Islam mulai muncul diberbagai penjuru negeri-negeri Islam. Hal itu menjadi amat vital di zaman sekarang ini, karena ummat Islam memang harus mengerti rambu-rambu yang benar dalam upaya kembali kepada ajaran Allah Sub-haanahu wa Ta'aala. Rambu-rambu itu akan memperjelas baginya metodologi yang benar dalam memahami akidah yang merupakan asa paling fundamental dalam membangun masyarakat Islam yang sesungguhnya. Karena seandainya metodologi atau sistem memahami Islam yang digunakan belumlah benar, maka kebangkitan Islam itu sendiripun akan menyimpang dari jalan yang lurus. Kita meyakini dengan sangat, bahwa manhaj atau metodologi Ahlus Sunnah wa Jama'ah dalam memahami akidah Islam adalah manhaj yang tepat yang harus disodorkan ke tengah ummat pada saat ini. Sehingga mereka betul-betul menjadi ummat Islam sejati yang berhak mendapatkan pertolongan dan keridhaan Allah Sub-haanahu wa Ta'aala.

Manhaj tersebut tercermin dalam beberapa hal:

1. Merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam setiap permasalahan akidah, tanpa menolaknya sedikitpun atau menakwilkannya.

2. Berpegang teguh kepada apa yang dipegang teguh oleh para Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

3. Menghindari berbantah-bantahan dengan ahlul bid'ah, duduk-duduk dengan mereka, mendengarkan ucapan mereka, atau membongkar syubhat-syubhat mereka.

4. Menghindari pembicaraan dalam perkara-perkara akidah yang berkaitan dengan masalah ghaib, yang tidak ada tempat bagi akal manusia untuk memikirkannya.

5. Gigih dalam membina kesatuan kaum muslimin dan jama'ah mereka.

Itulah manhaj yang hak, yang diterapkan oleh para ulama salaf dan diwasiatkan kepada orang-orang sesudah mereka. Dalam manhaj/ metodologi tersebut, akal manusia dapat terpelihara dari kebobrokan dan penyimpangan. Dan masyarakat pun terbentengi dari perpecahan dan kesesatan. Segala penyimpangan yang terjadi pada ummat ini, adalah akibat penyimpangan mereka dari manhaj tersebut, serta penyelewengan mereka dari wahyu Ilahi, yang mereka ganti dengan undang-undang buatan manusia. Sebagiannya berasal dari kerancuan yang mengalir dari filsafat paganisme ala yunani. Sebagian lagi bersumber pada penyimpangan otak manusia yang jahil terhadap dien Allah Sub-haanahu wa Ta'aala. Akibatnya, ummat terpecah belah menjadi berkelompok-kelompok dan bermadzhab-madzhab. Masing-masing memiliki metode, sistem, pemimpin dan pengikut sendiri-sendiri.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni rahimahullaah, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, tanpa keterangan penerbit, cetakan dan tahun. Judul terjemahan: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo - Indonesia, tanpa keterangan cetakan dan tahun.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashhabul Hadits (21)

'Aqidah Salaf Ashhabul Hadits (21)

Beristiwa' (bersemayam)-nya Allah di atas 'Arsy

21 - Dia (fir'aun) berkata begitu, karena ia mendengar Musa 'alaihis salaam bercerita bahwa Rabbnya ada di atas langit. Cobalah perhatikan ucapannya, "...sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta..." (Qur-an Surat al-Mukmin: ayat 37) yang dimaksud di sini ialah ucapan Musa 'alaihis salaam bahwa di langit itu ada Sesembahan/ Dzat yang diibadahi (Ilah).

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (20)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (20)

Beristiwa' (bersemayam)-nya Allah di atas 'Arsy

20 - Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan tentang fir'aun, hamba-Nya yang terlaknat. Bahwasanya ia pernah berkata kepada (pembantunya) Haman:

"Dan berkatalah fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku bisa melihat Ilah (Dzat yang diibadahi) Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta..."
(Qur-an Surat al-Mukmin: ayat 36-37)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (19)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (19)

Beristiwa' (bersemayam)-nya Allah di atas 'Arsy

19 - Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berada di atas tujuh lapis langit, di atas 'Arsy-Nya. Sebagaimana diungkapkan dalam kitab-Nya, yakni firman Allah 'Azza wa Jalla dalam surat Yunus:

"Sesungguhnya Rabbmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang dapat memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya."
(Qur-an Surat Yunus: ayat 3)

Dan firman-Nya:

"Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan..."
(Qur-an Surat ar-Ra'ad: ayat 2)

Lalu firman-Nya:

"...kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui."
(Qur-an Surat al-Furqan: ayat 59)

Juga firman-Nya:

"...kemudian Dia pun bersemayam di atas 'Arsy."
(Qur-an Surat as-Sajdah: ayat 4)

Lalu firman-Nya:

"...dan kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik..."
(Qur-an Surat Fathir: ayat 10)

Juga firman-Nya:

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya..."
(Qur-an Surat as-Sajdah: ayat 5)

Lalu firman-Nya:

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi berguncang."
(Qur-an Surat al-Mulk: ayat 16)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (18)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (18)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

18 - Beliau lalu berkata: al-Hakim Abu 'Abdillah al-Hafizh rahimahullaah Ta'aala telah mengabarkan kepada kami (dalam kitab Tarikh yang beliau tulis untuk penduduk Naisabur dan para 'ulamanya berkenaan dengan pribadi 'Abdullah bin al-Mubarak radhiyallaahu 'anhu, beliau berkata): Abu Bakar bin Muhammad bin 'Abdillah al-Jarrahi (al-Kharraji) di Marwah telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami, Yahya bin Sasuwaih telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami dari bapaknya 'Abdul Karim al-Yasykuri (as-Sindi), beliau berkata: Wahhab bin Munabbih berkata: al-Basani (al-Basyani) telah mengabarkan kepadaku, beliau berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin al-Mubarak rahimahullaah Ta'aala berkata: "Barang siapa yang mengkufuri satu huruf al-Qur-an saja, ia sudah kafir (yakni) dengan al-Qur-an itu. Barang siapa yang mengatakan: Aku tidak mengimani ucapan ini (al-Qur-an), ia sudah kafir."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (17)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (17)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

17 - Adapun hal yang diceritakan oleh Muhammad Ibnu Jarir dari Ahmad rahimahullaah yang menyatakan bahwa orang yang menyatakan bahwa pelafalan al-Qur-an adalah bukan makhluk, berarti dia ahli bid'ah. Maksudnya adalah bahwa para 'ulama as-Salaf (ash-Shalih) dari kalangan Ahlus Sunnah (dari kalangan Shahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in) tak pernah membicarakan "melafalkan al-Qur-an". Dan mereka tidak merasa perlu mempertanyakan hal itu. Akan tetapi pembicaraan seputar pelafalan al-Qur-an itu (semua kebiasaan itu terjadi) hanya ada di kalangan mereka (ahli bid'ah) yang menyukai soal-soal yang "njlimet". Mereka adalah orang-orang bodoh yang menimbulkan banyak kebid'ahan, membahas dan memperbincangkan banyak kesesatan serta ucapan-ucapan hina yang sudah dilarang (memperbincangkan tentang pendapat tersebut). Padahal para 'ulama Salaf dari kalangan kaum Muslimin tak pernah memperbincangkannya. Maka Imam Ahmad berkata, 'Perkataan itu sendiri secara tidak langsung adalah bid'ah. Sudah sepantasnya seorang yang baik agamanya (orang yang berpegang teguh pada ajaran as-Sunnah) untuk meninggalkannya. Tak perlu mengotori mulut dengannya atau dengan bid'ah-bid'ah sejenisnya. Cukup dia membatasi diri dengan apa yang diucapkan para 'ulama Salaf yang patut dicontoh. Bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Tak usah menambah-nambahi. Kecuali sekedar mengucapkan bahwa orang yang menyatakan bahwa al-Qur-an itu makhluk adalah kafir.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah