Showing posts with label isra' mi'raj. Show all posts
Showing posts with label isra' mi'raj. Show all posts

Daftar Isi Majalah as-Sunnah Edisi 06/ Tahun VI/ 1423-2002 M - Isra' dan Mi'raj

Liku-liku ummat tentang Isra' Mi'raj
Faedah dari kisah Isra' Mi'raj
Faedah dari kisah Isra' Mi'raj (2)
Faedah dari kisah Isra' Mi'raj (3)
Faedah dari kisah Isra' Mi'raj (4)
Isra' dan Mi'raj Nabi dengan jasadnya
Isra' dan Mi'raj Nabi dengan jasadnya (2)
Isra' dan Mi'raj Nabi dengan jasadnya (3)
Apakah Nabi melihat Allah?
Apakah Nabi melihat Allah? (2)
Apakah Nabi melihat Allah? (3)
Apakah Nabi melihat Allah? (4)
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Permulaan isra'
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Ketika perjalanan isra'
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (2)
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (3)
Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Setelah Isra' Mi'raj
Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah?
Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (2)
Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (3)
Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (4)

===

Maraji'/ Sumber:
Majalah as-Sunnah, Upaya menghidupkan sunnah, Edisi 06/ Tahun VI/ 1423-2002 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Isra' dan Mi'raj: Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (4)

Mabhats

Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (4)

Fatwa Syaikh Ibnu Baaz rahimahullaah. (15)

Tidak disangsikan lagi, isra' mi'raj merupakan tanda kebesaran Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menunjukkan kebenaran dan tingginya kedudukan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam di sisi Allah Ta'ala. Sebagaimana dia termasuk tanda-tanda keagungan Allah dan ketinggian-Nya atas seluruh makhluk. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Maha Suci Allah, Yang telah menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 1)

Dan telah mutawatir dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa beliau diangkat ke langit. Dibukakan pintu-pintunya sampai melewati langit yang ketujuh. Lalu Rabb berbicara kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan sesuatu yang dikehendakinya dan diwajibkan kepada beliau shalat lima waktu. Pertama kali Allah Subhaanahu wa Ta'aala mewajibkan kepada beliau lima puluh shalat, lalu senantiasa Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam meminta keringanan sehingga menjadi lima shalat, tetapi pahalanya lima puluh; karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Allah-lah Dzat yang harus dipuji dan disyukuri segala nikmat-Nya.

Dalam hadits yang shahih tidak ditemukan penentuan malam terjadinya isra' dan mi'raj. Semua hadits yang menjelaskan penentuan malamnya tidak shahih dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, menurut 'ulama hadits. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memiliki hikmah dalam melupakan manusia tentangnya (waktunya). Seandainya ada penentuan yang absah pun, kaum Muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan satu 'ibadah tertentu. Tidak boleh merayakan peringatannya, karena Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan para shahabatnya radhiyallaahu 'anhum tidak memperingatinya dan tidak pula mengkhususkan dengan 'ibadah tertentu. Seandainya perayaannya sebagai perkara yang disyari'atkan, maka tentu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada ummatnya, baik dengan ucapan atau perbuatan beliau. Seandainya pernah dilakukan niscaya diketahui dan dikenal serta dinukil oleh para shahabatnya untuk kita. Karena mereka telah menyampaikan segala sesuatu yang dibutuhkan ummat dan tidak melalaikan sedikitpun urusan agama ini, bahkan mereka orang yang berlomba kepada kebaikan. Maka seandainya peringatan malam isra' dan mi'raj disyari'atkan, niscaya mereka orang pertama yang melakukannya. Apalagi Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ialah orang yang paling menasehati ummatnya dan telah menyampaikan risalah agama sebaik-baiknya serta telah menunaikan amanah yang diembannya. Maka seandainya mengagungkan dan merayakan malam tersebut termasuk ketentuan agama, tentu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak melalaikan dan menyembunyikannya. Ketika hal tersebut tidak pernah dilakukan, maka jelaslah perayaan dan pengagungan malam tersebut tidak termasuk ajaran Islam. Begitulah Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyempurnakan agama Islam dan menyempurnakan nikmat untuk hamba-hamba-Nya, serta mengingkari orang yang menambah syari'at Islam dengan sesuatu yang tidak diizinkan-Nya. Allah berfirman dalam al-Qur-an Surat al-Maa-idah ayat 3, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agamamu."

Demikian juga dalam firman-Nya,

"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih."
(Qur-an Surat asy-Syura: ayat 21)

Dalam hadits-hadits shahih, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah memperingatkan bahaya bid'ah dan menjelaskan, bahwa hal itu merupakan kesesatan; sebagai peringatan kepada ummat, betapa besarnya bahaya bid'ah dan untuk menakut-nakuti agar tidak membuat-buatnya. Di antaranya hadits shahih yang diriwayatkan dalam kitab Shahihahin dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak."
(Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Dan dalam riwayat Imam Muslim,

"Barangsiapa yang beramal satu 'amalan yang tidak ada perintahku padanya maka dia tertolak."
(Riwayat Imam Muslim)

Dan dalam kitab Shahih Muslim dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkhutbah pada hari Jum'at dan bersabda,

"Amma ba'du, sesungguhnya sebaik-baik ucapan ialah Kitabullah, dan sebaik-baik tauladan ialah contoh petunjuk Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Sejelek-jeleknya perkara yaitu yang dibuat-buat (baru), dan setiap kebid'ahan adalah sesat."

Dan Sunan dari al-Irbaadh bin Saariyah radhiyallaahu 'anhu, dia berkata,

"Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah menasehati kami dengan nasehat yang mendalam, hati bergetar dan mata meneteskan airmata. Lalu kami berkata, 'Wahai Rasulullah, seakan-akan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat!' Lalu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah, patuh dan ta'at, walaupun kalian dipimpin seorang budak, karena siapa yang hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka kalian harus berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa-ur Rasyidin yang memberi petunjuk setelahku. Berpeganglah kalian dan gigitlah (petunjuk itu) dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah dengan hal yang baru, karena setiap hal yang baru itu bid'ah dan setiap kebid'ahan itu sesat."
(Riwayat Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah)

Dan banyak hadits lainnya yang semakna dengan ini.

Demikian juga peringatan serta ancaman tentang kebid'ahan telah ada dari shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan para Salafush Shalih setelah mereka. Dikarenakan kebid'ahan telah menjadikan penambahan agama dan syari'at yang tidak diizinkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Serta meniru musuh Allah dari kalangan kaum yahudi dan nashrani dalam penambahan syari'at agama mereka dan perbuatan bid'ah mereka yang tidak ada hujjah dari Allah. Juga karena konsekuensi perayaan itu dapat menimbulkan pelecehan terhadap agama Islam, dengan tuduhan ketidaksempurnaannya. Dengan demikian jelas menimbulkan kerusakan dan kemungkaran yang besar. Padahal Allah berfirman dalam al-Qur-an Surat al-Maa-idah ayat 3, "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu."

Perayaan semacam ini juga menyelisihi secara terang-terangan hadits-hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang memperingatkan dan mengancam kebid'ahan.

Mudah-mudahan penjelasan melalui dalil-dalil tersebut cukup menjadi petunjuk para pencari kebenaran untuk mengingkari dan mengingatkan kebid'ahan ini. Sesungguhnya perayaan isra' mi'raj, sedikitpun bukan merupakan syari'at Islam. (16)

Demikianlah keterangan para 'ulama seputar hukum merayakan peringatan isra' dan mi'raj. Keterangan yang cukup jelas dan gamblang disertai dalil-dalil yang kuat. Kemudian masihkah kita melakukannya? Padahal perayaan tersebut merupakan kebid'ahan dan bukan termasuk ajaran Islam. Bahkan merupakan tambahan ke dalam syari'at Islam dan penyerupaan 'amalan ahli Kitab yang telah melakukan kebid'ahan dalam agama mereka, sehingga menjadi rusak dan hancur. Sudahkah kita merenungkan bahaya bid'ah terhadap Islam? Cukuplah peringatan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, para shahabat radhiyallaahu 'anhum dan 'ulama Islam agar kita menyadari dan bangkit memperbaiki kondisi kaum Muslimin untuk mencapai kejayaan. Mudah-mudahan kita dapat memahami dan mengamalkan, yaitu dengan meninggalkan perayaan tersebut. Perayaan yang telah banyak menghabiskan harta dan tenaga, akan tetapi justru merusak agama dan 'amal kita.

Bersambung...

===

(15) Beliau bernama 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin 'Abdirrahman bin Baaz, dilahirkan tahun 1330 H di Riyadh. Beliau seorang 'alim besar abad ini dan menjadi mufti agung kerajaan Saudi Arabia menggantikan Syaikh Muhammad bin Ibrahim 'Ali asy-Syaikh sampai meninggal tahun 1420 H.

(16) Lihat catatan kaki kitab Fatawa Lajnah Daimah 3/64-66.

===

Maraji'/ Sumber:
Majalah as-Sunnah, Upaya menghidupkan sunnah, Edisi 06/ Tahun VI/ 1423-2002 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Isra' dan Mi'raj: Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (3)

Mabhats

Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (3)

Adapun dalil dalam al-Qur-an, Allah berfirman:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dna telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 3)

"Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(Qur-an Surat an-Nisa'(4): ayat 59)

Kembali kepada Allah berarti kembali kepada al-Qur-an, dan kembali kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berarti merujuk kepada sunnahnya setelah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam meninggal dunia.

Demikian juga firman-Nya:

"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Qur-an Surat Ali 'Imran (3): ayat 31)

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih."
(Qur-an Surat an-Nur (24): ayat 63)

Adapun dalil dalam Sunnah:

Pertama, hadits shahih dalam kitab Shahihain dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Siapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak."
(Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

"Barangsiapa yang beramal satu 'amalan yang tidak ada perintahku padanya maka dia tertolak."
(Riwayat Imam Muslim)

Kedua, riwayat Imam at-Tirmidzi dan beliau shahihkan; Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dari Irbaadh bin Saariyah radhiyallaahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Hati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap hal yang baru itu bid'ah."

Ketiga, riwayat Imam Ahmad, Imam al-Bazzar dari Ghadhiif bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidaklah satu kaum berbuat bid'ah kecuali dihilangkan sepertinya dari Sunnah."

Dan diriwayatkan oleh Imam ath-Thabrani dengan lafazh:

"Tidak ada ummat yang melakukan kebid'ahan setelah Nabinya, kecuali dihilangkan semisalnya dari Sunnah."

Keempat, riwayat Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Abi Ashim dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda,

"Allah enggan menerima 'amalan pelaku bid'ah sehingga (dia) meninggalkan kebid'ahannya."

Dan dalam riwayat Imam ath-Thabrani dengan lafazh:

"Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua pelaku bid'ah sehingga meninggalkan kebid'ahannya."

Adapun Istishhaab.

Hal ini tidak ada dasar perintahnya. Pada asalnya peribadahan bersifat tauqifiyah. Sehingga tidak dikatakan, 'ibadah ini disyari'atkan kecuali ada dalil al-Kitab (al-Qur-an), as-Sunnah dan ijma' (yang melarangnya). Dan tidak pula dikatakan, ini diperbolehkan karena termasuk maslahat mursalah, istihsan (anggapan baik), qiyas (analogi) atau ijtihad. Karena permasalahan 'aqidah, 'ibadah dan hal-hal yang telah ada ketentuannya (dalam syari'at), seperti pembagian warisan dan pidana termasuk perkara yang tidak ada tempat bagi hal-hal tersebut.

Adapun akal.

Dikatakan, seandainya hal ini disyari'atkan, tentunya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam orang pertama yang melaksanakannya. Hal ini jika pengagungannya dikarenakan isra' dan mi'raj.

Jika untuk mengingat perjuangan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (sebagaimana dilakukan dengan perayaan maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), maka (mestinya) Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu lah orang yang pertama melakukannya, lalu 'Umar, 'Utsman, 'Ali, setelah mereka yaitu para shahabat radhiyallaahu 'anhum sesuai dengan kedudukan mereka di sisi Allah, kemudian para tabi'in dan orang yang setelah mereka dari para imam agama. Padahal tidak seorangpun dari mereka melakukan hal tersebut, walaupun sedikit. Maka cukuplah kita melakukan apa yang telah mencukupkan mereka." (13)

Beliau pun berfatwa dalam kitab Fatawa wa Rasail, "Peringatan isra' dan mi'raj merupakan perkara batil dan satu kebid'ahan. Semacam ini merupakan sikap meniru orang yahudi dan nashrani dalam memuliakan hari yang tidak diagungkan syari'at. Pemilik kedudukan tinggi Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lah yang menetapkan syari'at. Dialah yang menjelaskan halal dan haram. Kemudian juga para Khulafa' Rasyidin. Dan imam petunjuk dari para shahabat dan tabi'in tidak pernah diketahui melakukan peringatan tersebut." Kemudian berkata lagi, "Maksudnya perayaan peringatan isra' dan mi'raj merupakan bid'ah maka tidak boleh berserikat dalam hal tersebut." (14)

Bersambung...

===

(13) Lihat kitab al-Bida' al-Hauliyah halaman 276-279 menukil dari kitab Fatawa wa Rasail asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim 3/97-100.

(14) Lihat kitab al-Bida' al-Hauliyah halaman 276-279 menukil dari kitab Fatawa wa Rasail asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim 3/103.

===

Maraji'/ Sumber:
Majalah as-Sunnah, Upaya menghidupkan sunnah, Edisi 06/ Tahun VI/ 1423-2002 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Isra' dan Mi'raj: Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (2)

Mabhats

Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah? (2)

Hukum memperingati Isra' dan Mi'raj

Mungkinkah Islam sebagai agama yang sempurna telah mensyari'atkan sesuatu yang belum jelas ketentuan waktunya? Cukuplah hal ini sebagai indikator kuat mengenai bid'ahnya perayaan Isra' dan Mi'raj yang banyak diperingati oleh kaum Muslimin. Apalagi telah diketahui, bahwa para 'Ulama Salaf telah sepakat (konsensus) mengadakan perayaan yang dilakukan secara berulang-ulang (musim) yang tidak ada syari'atnya termasuk bid'ah dan dilarang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

"Hati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid'ah dan setiap kebid'ahan itu sesat."
(Riwayat Imam at-Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah)

"Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku (agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak."
(Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

"Barangsiapa yang beramal satu 'amalan yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak."
(Riwayat Imam Muslim)

Peringatan Isra' dan Mi'raj termasuk perkara baru yang tidak pernah dilakukan para shahabat radhiyallaahu 'anhum dan tabi'in maupun orang-orang yang setelah mereka dari para salaf ummat ini, padahal mereka merupakan orang yang paling semangat mencari dan mengamalkan kebaikan dan 'amal shalih. (6)

Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, ketika berbicara tentang keutamaan malam Isra' dan Mi'raj dan Lailatul Qadar, beliau berkata, "Dan tidak seorangpun dari kaum Muslimin mengetahui, bahwa malam Isra' dan Mi'raj memiliki keutamaan (atas selainnya), apalagi dengan malam qadar. Demikian juga (tidak diketahui), bahwa para Shahabat radhiyallaahu 'anhum dan orang (yang mengikutinya dengan baik) berniat mengkhususkan sesuatu pada malam Isra' dan Mi'raj, tidak juga mereka mengingatnya. Sehingga tidak diketahui kapan malam tersebut terjadi; walaupun peristiwa Isra' merupakan keutamaan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang besar. Demikianlah, tidak disyari'atkan pengkhususan malam tersebut dan tidak juga tempatnya dengan satu 'ibadah syar'i. Bahkan gua hira, tempat pertama kali turun wahyu dan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersendirian di sana (sebelum kenabian) selama berada di Makkah. Tidak pula mengkhususkan dari turunnya wahyu dengan 'ibadah atau lainnya. Tidak pula mengkhususkan tempat pertama kali turun wahyu dengan sesuatu. Maka barangsiapa mengkhususkan tempat dan zaman yang diinginkan dengan 'ibadah karena hal tersebut dan yang semisalnya, maka dia termasuk ahli kitab yang telah menjadikan hari kelahiran 'Isa 'alaihis salaam musin dan 'ibadah seperti hari natal." (7)

Untuk lebih jelasnya kami ketengahkan fatwa sebagian 'Ulama tentang hukum perayaan ini:

1. An-Nahaas rahimahullaah (8) berkata, "Perayaan malam Isra' dan Mi'raj merupakan kebid'ahan besar dalam agama, dan kebid'ahan yang dibuat-buat oleh teman-temannya syaithan." (9)

2. Ibnul Haaj (10) berkata, "Di antara kebid'ahan yang mereka buat pada bulan Rajab ialah malam dua puluh tujuh yang merupakan malam Isra' dan Mi'raj." (11)

3. Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim 'Ali asy-Syaikh rahimahullaah (12) dalam menjawab undangan yang diterima dari Rabithah Alam Islami untuk menghadiri salah satu peringatan Isra' dan Mi'raj; setelah ditanya tentang hal itu, beliau menjawab, "Seperti ini tidak disyari'atkan, dengan dasar al-Qur-an, as-Sunnah, istishhab dan akal."

Bersambung...

===

(6) Lihat kitab al-Bida' al-Hauliyah halaman 274.

(7) Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma'ad 1/58-59.

(8) Beliau bernama Abu Zakariya Ahmad bin Ibrahim bin Muhammad ad-Dimasyqi, dikenal dengan Ibnu Nahaas, seorang 'Ulama besar yang meninggal dalam perang menghadapi Perancis tahun 814 H.

(9) Lihat kitab al-Bida' al-Hauliyah halamn 279.

(10) Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin al-Haaj, Abu 'Abdillah al-Abdari al-Faasi, meninggal tahun 737 H.

(11) Lihat kitab al-Bida' al-Hauliyah halaman 275, menukil dari kitab al-Madkhal 1/294.

(12) Beliau bernama Muhammad bin Ibrahim bin 'Abdil Lathif bin 'Abdirrahman bin Hasan bin Muhammad bin 'Abdil Wahaab. Dilahirkan di Riyadh tahun 1311 H dan meninggal di bulan Ramadhan 1398 H. Beliau pernah menjabat sebagai ketua Rabithah Alam Islami, Rektor Jami'ah Islamiyah dan Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia sebelum Syaikh Ibnu Baaz rahimahullaah.

===

Maraji'/ Sumber:
Majalah as-Sunnah, Upaya menghidupkan sunnah, Edisi 06/ Tahun VI/ 1423-2002 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Isra' dan Mi'raj: Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah?

Mabhats

Apakah perayaan Isra' Mi'raj bid'ah?

Disusun oleh Abu 'Abbas Kholid Syamhudi

Bulan Rajab, bulan yang dihormati manusia dan termasuk bulan haram (asyhurul hurum). Pada bulan ini juga, sebagian kaum Muslimin mengetahui adanya satu peristiwa yang sangat luar biasa. Yaitu perjalanan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dari Makkah ke Baitul Maqdis, kemudian ke Sidratul Muntaha menghadap Pencipta alam semesta dan pemeliharanya. Peristiwa yang tidak akan dilupakan kaum Muslimin, karena peristiwa itu menjadi tempat diperintahkan shalat lima waktu sehari semalam. Shalat yang telah dijadikan sebagai tiang agama ini tidak lepas dari peristiwa Isra' dan Mi'raj Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Setelah Isra' Mi'raj

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Setelah Isra' Mi'raj

* Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Rabbmu?" Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Cahaya, bagaimana aku dapat melihat-Nya?!" (Pada riwayat lain: "Aku melihat cahaya."). (60)

* 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu berkata, "(Pada malam isra') Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam diberi 3 perkara (yaitu:) diberi kewajiban shalat 5 kali, diberi penutup surat al-Baqarah, dan ummat beliau yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun maka dosa-dosa besarnya akan diampuni." (61)

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (3)

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit (3)

* 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu berkata tentang firman Allah:

Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar.
(Qur-an Surat an-Najm (53): ayat 18)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya, memiliki 600 sayap. (42) Pada riwayat lain ada tambahan bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihatnya di dekat Sidratul Muntaha, dan dari bulu-bulu sayap Jibril bertaburan (berjatuhan) mutiara dan yakut. (43)

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (2)

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit (2)

* (Dalam riwayat lain: Kemudian kami mendatangi langit keempat seperti itu. Aku mendatangi Idris, lalu Jibril berkata, "Ini adalah Idris, ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya, lalu dia membalas salamku dan berkata, "Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.") (27) (Dan dia mendo'akan kebaikan untukku) (lihat catatan kaki nomor 3). Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman,

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit

* Kemudian dia memegang tanganku, dan membawaku naik ke langit dunia. (Dalam riwayat lain: Kemudian aku berangkat bersama Jibril 'alaihis salaam, lalu kami sampai di langit dunia). (15)

* Setelah aku tiba di langit dunia. Jibril berkata kepada penjaga langitnya, "Bukalah!" Dia bertanya, "Siapa ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Dia bertanya, "Apakah ada seseorang bersamamu?" Jibril menjawab, "Ya, Muhammad bersamaku." Dia bertanya, "Engkau diutus (Allah) kepadanya?" Jibril menjawab, "Ya." (Dalam riwayat lain ada tambahan: Penjaga itu berkata, "Selamat datang kepadanya, orang yang terbaik telah datang"). (16)

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Ketika perjalanan isra'

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Ketika perjalanan isra'

* Pada malam aku diisra'kan, aku melewati Musa di dekat bukit pasir merah, dia sedang berdiri shalat di dalam kuburnya. (7)
(Di dalam masjid Baitul Maqdis) aku bertemu sekelompok para Nabi. Saat itu Musa sedang shalat, dia seorang laki-laki yang tinggi, ramping dan kurus, rambutnya keriting, seperti laki-laki suku Syanuah. 'Isa juga sedang shalat, (dia seorang laki-laki yang sedang, berkulit merah, seolah-olah baru keluar dari pemandian) (8), orang yang paling mirip dengannya ialah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ibrahim juga sedang shalat, orang yang paling mirip dengannya ialah kawanmu ini (Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri). Kemudian masuk waktu shalat. (9)

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Permulaan isra'

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Disusun oleh Muslim Atsari

Berbagai kejadian nyata di dunia ini, ketika telah diceritakan dari mulut ke mulut sering menjadi beda dengan kenyataannya. Baik karena pengurangan, penambahan, atau perubahan. Baik dengan sengaja atau tidak disengaja. Termasuk peristiwa isra' mi'raj Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Suatu kejadian yang termasuk tanda terbesar yang menunjukkan kebenaran beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sebagai seorang Nabi. Banyak kaum Muslimin yang melakukan bid'ah peringatan isra' mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, mengadakan ceramah-ceramah seputarnya dengan tanpa rujukan yang benar.

Apakah Nabi melihat Allah? (4)

Mabhats

Apakah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala? (4)

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan pendapat yang kuat, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak melihat Rabbnya pada malam isra' dengan mata kepala beliau.

Apakah Nabi melihat Allah? (3)

Mabhats

Apakah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala? (3)

Pendapat yang kuat

Imam an-Nawawi rahimahullaah dalam kitab Syarh Shahih Muslim (8) tampaknya cenderung memihak pada pendapat yang menyatakan, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dengan mata kepala beliau sendiri pada malam isra'. Beliau cenderung membenarkan riwayat Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma tentang Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah dengan mata kepalanya sendiri.

Apakah Nabi melihat Allah? (2)

Mabhats

Apakah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala? (2)

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala?

Jika ditanyakan, apakah mungkin Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah dengan mata kepada beliau sendiri? Berdasarkan keterangan di muka jawabannya, "Mungkin".

Tetapi betulkah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah saat bermi'raj?

Apakah Nabi melihat Allah?

Mabhats

Apakah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala?

Disusun oleh Ahmad Faiz bin Asifuddin

Sebelum menjawab judul di atas, alangkah baiknya menjawab pertanyaan berikut, "Mungkinkah Allah dapat dilihat dalam kehidupan dunia ini?" Jawabnya, "Mungkin."

Mengapa? Sebab tidak mungkin Nabiyullah Musa 'alaihis salaam akan meminta kepada Allah permintaan agar dapat melihat-Nya, bila hal itu suatu kemustahilan. Meskipun kemudian Allah menjawab, Musa 'alaihis salaam tidak akan melihat-Nya (di dunia).

Isra' dan Mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan jasadnya? (3)

Mabhats

Isra' dan Mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan jasadnya? (3)

Bagaimanakah kesimpulannya?

Terlepas dari riwayat yang dibawakan oleh Ibnu Ishaq dari 'Aisyah dan Mu'awiyyah radhiyallaahu 'anhum di atas, kebanyakan para 'ulama menegaskan bahwa yang benar, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berisra' (dan bermi'raj) dengan jasadnya dalam keadaan bangun (tidak tidur). (7)

Isra' dan Mi'raj Nabi dengan jasadnya? (2)

Mabhats

Isra' dan Mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan jasadnya? (2)

Bagaimana sebenarnya?

Ibnu Ishaq (seorang tokoh 'ulama Sirah Nabawiyyah, wafat sekitar tahun 152 H) yang meriwayatkan dari 'Aisyah dan Mu'awiyah radhiyallaahu 'anhum; bahwa Isra' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terjadi dengan ruhnya, dan tidak kehilangan jasadnya. Demikian kalimatnya. (5)

Isra' dan Mi'raj Nabi dengan jasadnya?

Mabhats

Isra' dan Mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan jasadnya?

Disusun oleh: Ahmad Faiz Asifuddin

Mungkin ada sekelompok orang yang merasa gerah jika Isra' dan Mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dinyatakan terjadi dengan jasadnya. Logikanya akan segera menangkis, "Tidak rasional." Peristiwa yang sudah berlalu lebih dari 1400 tahun lalu, menyebabkan hakikat persoalan ini kian kabur, sekalipun banyak orang melakukan perayaan bid'ah Isra' Mi'raj pada setiap bulan Rajab.

Faedah dari kisah Isra' dan Mi'raj (4)

Faedah dari kisah Isra' dan Mi'raj (4)

Faedah hadits

3. Peristiwa Mi'raj Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersama Jibril 'alaihis salaam. (11)

Di antara faedah yang diambil dari hadits Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu ini dalam kisah Mi'rajnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ke langit ialah:

a. Adab meminta izin dengan mengetuk pintu dan yang sejenisnya. Ketika Jibril ditanya penjaga langit, "Siapakah engkau?" Dia menjawab, "Jibril." Demikian seharusnya seorang Muslim, apabila mengetuk pintu rumah seseorang dan ditanya siapa dia, maka hendaklah menyebut namanya, tidak hanya menyebut kata-kata, "Saya" atau "Fulan" atau "Akhwat" atau "Ikhwan" dan lain-lainya. Hal ini telah dilarang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya nomor 5600, dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu, dia berkata,

Faedah dari kisah Isra' dan Mi'raj (3)

Faedah dari kisah Isra' dan Mi'raj (3)

Faedah hadits

2. Peristiwa Isra' (7)

Setelah kejadian pembelahan dada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, terjadi pada peristiwa Isra'. Peristiwa ini tidak digambarkan dalam hadits Anas radhiyallaahu 'anhu di atas, akan tetapi diceritakan dalam hadits Anas lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari riwayat Tsabit al-Bunani dari beliau, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah