Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (4) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'
Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).
Muflih Safitra.
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (4).
Kaidah Keempat (القاعدة الرابعة).
Bahwa orang-orang musyrik di zaman kita ini lebih parah kesyirikannya daripada zaman kaum musyrikin terdahulu. Orang-orang musyrik di zaman dahulu hanya melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah) saat dalam kondisi aman dan tenteram, dan mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala di saat kesulitan dan ketakutan. Adapun orang musyrik di zaman ini senantiasa melakukan kesyirikan, baik dalam kondisi aman dan tenteram maupun dalam kesulitan dan ketakutan.
Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (QS. Al-Ankabuut [29]: 65)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (3) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'
Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).
Muflih Safitra.
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (3).
Kaidah Ketiga (القاعدة الثالثة).
Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerangi orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan bermacam-macam peribadatan. Di antara mereka ada yang menyembah Malaikat, para Nabi dan orang shalih, bebatuan dan pepohonan, matahari dan bulan. Beliau memerangi mereka tanpa pandang bulu.
Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan), dan agama (penyembahan) itu menjadi semata-mata milik Allah." (QS. Al-Anfaal [8]: 39)
Dalil yang melarang menyembah matahari dan bulan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud kepada matahari maupun bulan, tapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang hendak kamu sembah." (QS. Fushshilat [41]: 37)
Dalil yang melarang menyembah Malaikat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan dia (Nabi) tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan Nabi sebagai sembahan." (QS. Ali 'Imraan [3]: 80)
Dalil yang melarang menyembah para Nabi adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?' Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan itu maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib." (QS. Al-Maaidah [5]: 116)
Dalil yang melarang menyembah orang-orang shalih adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya..." (QS. Al-Israa' [17]: 57)
Dalil yang melarang menyembah pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap laata dan uzza, dan manaat yang ketiga, yang terakhir (sebagai anak perempuan Allah)?" (QS. An-Najm [53]: 19-20)
Begitu juga hadits dari Abu Waqid Al-Laitsiy radhiyallahu 'anhu: "Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Hunain. Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik saat itu memiliki pohon bidara yang mereka kerap berlama-lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath.'" (Al-Hadits)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (2) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'
Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).
Muflih Safitra.
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (2).
Kaidah Kedua (القاعدة الثانية).
Orang-orang kafir dan musyrik yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tersebut berkata, "Kami tidak berdoa kepada mereka (sembahan-sembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti Nabi, orang shalih, dan lain-lain) dan tidak pula menghadapkan wajah kami kepada mereka, kecuali supaya kami didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendapatkan syafaat mereka."
Dalil yang menjelaskan tentang harapan mereka agar didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.' Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang masalah yang mereka berselisih di dalamnya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur." (QS. Az-Zumar [39]: 3)
Adapun dalil yang menjelaskan tentang harapan mereka agar diberi syafa'at:
"Dan mereka menyembah sesuatu selain Allah yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun manfaat kepada mereka dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.'" (QS. Yunus [10]: 18)
Syafaat itu ada dua macam, yaitu syafa'at manfiyyah (yang ditolak) dan syafa'at mutsbatah (yang diterima).
Syafa'at manfiyyah (yang ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal yang tidak ada yang mampu memberikannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 254)
Syafa'at mutsbatah (yang diterima) adalah syafaat yang diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syafi' (yang memberi syafaat) dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hak untuk memberikan syafaat. Masyfu' lahu (orang yang diberi syafaat) adalah orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ridhai perkataan dan perbuatannya, dan akan diberi syafaat yang diminta setelah adanya izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana dalam firman-Nya, "Siapakah yang mampu memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah [2]: 255)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Matan Al-Qawa'id Al-Arba' | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'
Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.
Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).
Muflih Safitra.
Matan Al-Qawa'id Al-Arba'.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Saya memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb yang memiliki 'arsy yang agung agar senantiasa membimbingmu di dunia dan akhirat, dan menjadikanmu seorang yang menebar kebaikan di manapun engkau berada. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikanmu sebagai orang yang jika diberi akan bersyukur, jika diuji akan bersabar, dan jika berbuat dosa akan beristighfar (meminta ampun). Karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah tanda-tanda kebahagiaan.
Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberimu petunjuk dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, bahwa sesungguhnya hakikat dari ajaran Hanafiyyah, agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah agar engkau beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengikhlaskan ibadah itu hanya untuk Dia semata. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)
Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakanmu agar engkau beribadah kepada-Nya maka sekarang ketahuilah, bahwa suatu ibadah tidak akan disebut ibadah yang sesungguhnya, kecuali dibarengi dengan tauhid, sebagaimana shalat tidak akan disebut shalat yang sesungguhnya, kecuali jika dibarengi dengan thaharah (bersuci). Jika kesyirikan masuk dalam sebuah ibadah maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana halnya jika hadats masuk dalam proses thaharah.
Jika engkau telah mengetahui bahwa kesyirikan apabila mencampuri sebuah ibadah akan merusak ibadah tersebut dan akan menghapusnya, serta menyebabkan pelakunya kekal di dalam Neraka, maka engkau akan mengetahui bahwa di antara yang wajib atasmu adalah mengetahui apa itu kesyirikan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala membantumu untuk terbebas dari jeratannya. Syirik itu sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa' [4]: 116)
Engkau akan mengetahui hakikat syirik secara lebih jelas dengan memahami empat kaidah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan dalam Al-Qur'an, sebagai berikut:
Kaidah Pertama (القاعدة الاولى).
Ketahuilah, orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga mengakui bahwa Allah itu Maha Pencipta dan Maha Mengatur segala urusan. Namun pengakuan mereka itu tidaklah otomatis membuat mereka dianggap masuk ke dalam Islam. Dalilnya, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) oendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?'" (QS. Yunus [10]: 31)
Baca selanjutnya:
Daftar Isi Buku Ini.
Daftar Buku Perpustakaan Ini.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.
===
Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!