Showing posts with label kesurupan jin dan cara pengobatannya secara islami. Show all posts
Showing posts with label kesurupan jin dan cara pengobatannya secara islami. Show all posts

Apakah Ada jin dan syetan Lelaki dan Wanita? | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

Apakah Ada jin dan syetan Lelaki dan Wanita?

Di dalam Shahihain disebutkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Apabila masuk WC, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca do'a:

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَاءِثِ

Allaahumma innii a'uudzu bika minal khubutsi wal khabaa-its.

'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jin lelaki dan jin perempuan.'" (34)

Al-Bukhari berkata: Sa'id bin Zaid berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz: "Apabila hendak masuk." (35) Ibnul Atsir berkata: "Al-Khubutsi bentuk jama' dari al-khabits sedangkan al-khaba-its bentuk jama' dari khabitsah yakni syetan lelaki dan syetan perempuan." (36)

Hadits serupa riwayat Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) telah kami sebutkan pada pembahasan tentang keutamaan ayat Kursi. Al-Hafizh berkata, menjelaskan ungkapan akhir dari haidts ini: "Apabila kamu mengucapkannya maka syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi." Ia berkata: Di dalam riwayat Abu Mutawakkil: "Apabila kamu mengucapkannya maka jin lelaki dan jin perempuan tidak akan mendekatimu." Ia berkata: Di dalam riwayat Ibnu Dharis dari jalan ini: "Tidak akan mendekatimu jin lelaki dan tidak pula jin perempuan kecil ataupun besar." (37)

Dari sini dipahami bahwa ada jin lelaki dan ada pula jin perempuan. Wallahu a'lam bish shawab.

===

(34) Al-Bukhari, 1/242 (Fat-hul Bari) dan Muslim, 4/70 (an-Nawawi).

(35) Shahihul Bukhari, Kitabul Wudhu.

(36) Lisanul Arab, 2/1088.

(37) Fat-hul Bari, 4/488.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan? | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan?

Al-Qadhi Abu Ya'la Muhammad bin al-Husain bin al-Farra' berkata, "syetan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah penciptaan mereka dan beralih kepada beberapa bentuk, tetapi bisa saja Allah mengajarkan kepada mereka beberapa kalimat dan perbuatan yang apabila diucapkan dan dilakukan maka Allah akan mengubahnya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain, sehingga dikatakan bahwa dia mampu mengubah bentuk dan menciptakan halusinasi dalam pengertian bahwa dia mampu mengucapkan sesuatu yang apabila diucapkan dan dilakukan maka Allah akan mengubahnya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Sesungguhnya dia tidak bisa mengubah bentuknya sendiri karena peralihannya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain memerlukan penghancuran struktur dan perombakan bagian-bagiannya. Jika terjadi penghancuran tersebut maka musnahlah kehidupan." (29)

Aku berkata, "Pernyataan ini sangat bagus tetapi memerlukan dalil. Dan, sebagai dalilnya dapat dikemukakan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 'Bahwa beberapa hantu pernah diceritakan kepada 'Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu) lalu beliau berkata, "Sesungguhnya seseorang tidak bisa berubah dari bentuknya yang telah diciptakan Allah tetapi mereka memiliki tukang-tukang sihir seperti tukang-tukang sihir kalian, karena itu bila kalian melihat hal tersebut maka adzanlah."

Al-Hafizh berkata: Sanadnya shahih. (30) Aku berkata: Ibnu Abi Dunya juga meriwayatkannya dengan sanad hasan.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Jabir (radhiyallahu 'anhu), ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hantu, beliau menjawab bahwa mereka adalah tukang sihir jin.", adalah lemah sekali sanadnya. Di dalam riwayat ini ada tiga cacat yang bukan tempatnya untuk dijelaskan di sini.

Tetapi hal ini tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya dari Jabir (radhiyallahu 'anhu) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada wabah, tidak ada ramalan tentang kesialan, dan tidak ada (pula) hantu." (31)

Karena hadits ini tidak menafikan adanya hantu tetapi menafikan apa yang pernah diyakini oleh orang-orang Arab bahwa hantu bisa menyesatkan manusia.

Imam an-Nawawi berkata: Jumhur ulama berkata: Orang-orang Arab dahulu berkeyakinan bahwa hantu berada di dalam anak-anak keledai. Ia adalah satu jenis syetan yang menampakkan diri kepada manusia dan mewarnai diri dengan beraneka ragam warna sehingga menyesatkan mereka dari jalan (yang benar) dan mencelakakan mereka. Hal ini kemudian dibantah oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ulama lain berkata: Hadits tersebut tidak bermaksud meniadakan eksistensi hantu tetapi menyanggah apa yang diyakini oleh orang-orang Arab tentang berubah-ubahnya hantu ke dalam beberapa bentuk. Mereka (para ulama) berkata: Makna "tidak ada hantu" yakni tidak bisa menyesatkan seseorang.

Imam an-Nawawi berkata: Hal ini dikuatkan oleh hadits lain yang mengatakan:

"Tidak ada hantu tetapi tukang-tukang sihir jin."

Para ulama berkata: Adalah para tukang sihir jin, yakni di kalangan jin ada tukang sihir yang bisa mengelabui dan membuat halusinasi. (32)

Peringatan: Tidak ada hujjah bagi orang yang melemahkan hadits Jabir (radhiyallahu 'anhu) ini dengan alasan bahwa ia dari jalan Abu Zubair dari Jabir, sedangkan Abu Zubair suka menyamarkan.

Memang Abu Zubair mudallis tetapi ia menyatakan "mendengar" pada jalan yang keempat dalam riwayat Muslim. Dengan demikian hilanglah kemungkinan pentadlisannya. Maka hadits ini shahih, alhamdulillah.

Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Abu as-Sa'ib mantan budak Hisyam bin Zuhrah, ia berkata: Aku pernah masuk menemui Abu Sa'id al-Khudri (radhiyallahu 'anhu) lalu kudapati dia sedang shalat. Kemudian aku duduk menantinya hingga selesai shalatnya. Aku mendengar bunyi gerakan di bawah dipan di rumahnya, yang kemudian ternyata adalah seekor ular, lalu aku berdiri untuk membunuhnya. Tetapi Abu Sa'id mengisyaratkan agar aku duduk. Setelah selesai shalat, ia mengisyaratkan ke sebuah rumah di pekarangan seraya berkata: "Tahukah engkau rumah ini?" Aku jawab: "Ya." Ia berkata: Rumah ini pernah dihuni oleh seorang pemuda yang baru saja menikah kemudian dia keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Khandaq. Ketika sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba dia meminta izin seraya berkata: "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku mengemukakan janji kepada istriku." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkannya seraya bersabda: "Pakailah senjatamu, karena aku khawatir terjadi serangan dari Bani Quraidhah terhadapmu." Kemudian pemuda itu pergi menemui istrinya yang kemudian mendapatkannya sedang berdiri di antara dua pintu. Lalu pemuda itu ingin segera memanahnya karena rasa cemburu. Tetapi istri pemuda itu berkata: "Jangan terburu-buru sehingga kamu masuk dan melihat apa yang ada di dalam rumah." Kemudian pemuda itu masuk dan ternyata ada seekor ular yang sedang bertengger di atas tempat tidurnya, lalu pemuda itu pun melepaskan panahnya kepada ular tersebut. Kemudian dia bergembira dengannya dan menancapkannya di pekarangan. Kemudian ular itu menggeliat di ujung panah dan pemuda itu pun tersungkur mati. Tidak diketahui mana yang terlebih dahulu mati, pemuda atau ular? Setelah peristiwa ini disampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya di Madinah ada jin yang telah masuk Islam. Karena itu, jika kalian melihat sesuatu dari mereka, maka ijinkanlah tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syetan." (33)

===

(29) Aakaamul Mirjan, hal. 19.

(30) Fat-hul Bari, 6/344.

(31) Diriwayatkan oleh Muslim, 14/217 (an-Nawawi).

(32) Syarhu Muslim, 14/217.

(33) Muslim, 14/235 (an-Nawawi).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

jin Bisa Melakukan Penyerupaan (2) | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

jin Bisa Melakukan Penyerupaan (2).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari Bani Israil." (22)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Di atas setiap unta ada syetan maka hinakanlah dengan menungganginya." (23)

Dari Abu Qilabah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam di antaranya sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya." (24)

Di dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

'Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika dihadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada dihadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam.'" Aku bertanya, "Wahai Abu Dzar, mengapakah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala?" Ia menjawab, "Wahai anak saudaraku, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda, 'Anjing hitam adalah syetan.'" (25)

Yang menjadi catatan dari hadits ini adalah sabar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa anjing hitam adalah syetan.

Ibnu Taimiyah berkata, "Anjing hitam adalah syetan anjing dan jin, dia menyerupai warna beberapa bentuk, demikian pula dengan bentuk kucing hitam karena warna hitam lebih bisa menghimpun kekuatan-kekuatan syetan daripada warna lainnya, disamping karena warna hitam menyimpan daya panas." (26)

iblis pernah menyerupai Suraqah bin Malik, pemimpin Bani Mudlij, pada waktu perang Badr. Ia datang bersama kaum musyrikin dengan membawa tentaranya seraya berkata kepada kaum musyrikin, "Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pembela kalian." Ketika pasukan telah berbaris dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambil segenggam tanah lalu dilemparkan ke arah wajah kaum musyrikin maka mereka pun lari mundur terbirit-birit, dan Jibril 'alaihis salaam datang kepada iblis. Ketika melihat Jibril, iblis spontan melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan seorang dari kaum musyrikin kemudian dia dan pasukannya lari meninggalkan medan pertempuran, sehingga ada salah seorang yang berkata, "Wahai Suraqah, tidakkah engkau mengatakan akan menjadi pembela kami." Lalu dijawabnya, "Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah Maha Keras siksa-Nya." Demikianlah ketika dia (iblis) melihat Malaikat. Riwayat ini dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma). (27)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung dan anak keturunan Adam." (28)

===

(22) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, ath-Thabrani di dalam al-Kabir dan Ibnu Abi Hatim di dalam al-'Ilal. Dishahihkan oleh al-Hakim di dalam ash-Shahihah, 4/439 nomor 1824.

(23) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami', 4/38.

(24) Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitabul Musaqat.

(25) Diriwayatkan oleh Muslim, 4/226 (an-Nawawi), an-Nasa-i, 2/64, Ibnu Majah, 1/306, dan ad-Darami, 1/329.

(26) Risalatul jinni, hal. 41.

(27) Tafsir Ibni Katsir, 2/317.

(28) Risalatul jinni, hal. 32.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

jin Bisa Melakukan Penyerupaan | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

jin Bisa Melakukan Penyerupaan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menugasi aku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah makhluk pendatang kepadaku lalu mengais makanan sehingga aku mengambilnya dan kukatakan, 'Demi Allah, akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Makhluk itu berkata, 'Sesungguhnya aku membutuhkan, aku punya tanggungan keluarga dan punya kebutuhan yang mendesak.'" Abu Hurairah berkata, "Lalu kulepaskan dia. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?'" Abu Hurairah berkata, "Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu aku kasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku tahu bahwa dia akan kembali lagi karena pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Lalu aku mengintainya dan dia pun datang mengais makanan lagi, lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Dia berkata, 'Biarkanlah aku, sesungguhnya aku sangat memerlukan dan aku punya tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali.' Lalu kukasihani dia dan kubiarkan pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu kukasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku mengintainya untuk ketiga kalinya, sehingga dia datang mengais makanan lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ini adalah untuk ketiga dan terakhir kalinya engkau berjanji tidak kembali kemudian ternyata engkau kembali lagi.' Dia (makhluk pendatang itu) berkata, 'Biarlah kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.' Kukatakan, 'Apa itu?' Dia berkata, 'Apabila kamu pergi ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi "Allaahu laa ilaaha illaa huwal Hayyul Qayyum..." hingga akhir ayat, karena dengan demikian, engkau akan dilindungi oleh Allah dan syetan tidak akan mendekat kepadamu hingga pagi.' Kemudian kubiarkan dia pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda lagi, 'Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, lalu kubiarkan dia pergi.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apa itu?' Aku jawab, 'Dia berkata kepadaku, apabila engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir ayat. Dia berkata kepadaku, "Allah akan senantiasa melindungi engkau dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi" -mereka paling menginginkan kebaikan- lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tahukah siapakah orang yang engkau ajak bicara sejak tiga hari itu, wahai Abu Hurairah?' Abu Hurairah menjawab, 'Tidak.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Itu adalah syetan.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) (20)

Al-Hafizh berkata, "Di dalam hadits Abu Ubay bin Ka'ab riwayat an-Nasa-i disebutkan, 'Bahwasanya dia mempunyai tempat pengeringan yang sedang dipakai mengeringkan kurma dan dijaganya, kemudian didapatinya bahwa kurma tersebut berkurang. Lalu tiba-tiba ada seekor binatang sebesar anak yang baru akil baligh.

Kukatakan kepadanya, 'Apakah engkau makhluk jin atau manusia?' Dia menjawab, 'jin.' Dalam riwayat ini jin tersebut juga mengatakan, 'Kami mendengar bahwa engkau suka bersedekah dan karena itu kami ingin mendapatkan bagian makananmu.' Ia (Shahabat tersebut) bertanya, 'Apakah yang dapat melindungi kami dari (gangguan) kalian?' jin itu menjawab, 'Ayat kursi ini.' Kemudian ia menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'jin itu benar.'"

Selanjutnya al-Hafizh menjadikan hadits Abu Sa'id terdahulu sebagai dalil bahwa syetan bisa menyerupai bentuk dan bisa dilihat. Sedangkan firman Allah, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27), adalah khusus bagi syetan dalam bentuk aslinya.

Di tempat lain al-Hafizh berkata, "Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Manaqibusy Syafi'i dengan sanadnya dari ar-Rabi', aku mendengar Syafi'i berkata, 'Barangsiapa mengaku melihat jin maka kami batalkan syahadatnya kecuali Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam).'"

Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang mengaku melihat mereka dalam bentuknya yang asli. Sedangkan orang yang mengaku melihat sesuatu dari mereka setelah menyerupai beberapa bentuk binatang maka tidak dapat dibantah karena berita-berita tentang penyerupaan mereka sudah mutawatir (banyak)." (21)

===

(20) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, 4/487, 6/335, dan 9/55 (Fat-hul Bari).

(21) Fat-hul Bari 4/489.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

syetan Punya Tanduk | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

syetan Punya Tanduk.

Dari Amer bin Anbasah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

'Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan terbenam di antara dua tanduk syetan.'" (19)

===

(19) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitabu Bid'il Khalqi bab 11, dan Muslim, Kitabul Mufasirin hadits 2, 90 dan 254.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Apakah jin Makan dan Minum? | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat.

Apakah jin Makan dan Minum?

Hadits-hadits shahih secara jelas menyebutkan bahwa jin makan dan minum. Di dalam Shahih al-Bukhari dari Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu disebutkan bahwa ia pernah membawakan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bejana berisi air wudhu dan hajatnya. Tatkala ia mengantarkan bejana itu, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Siapakah engkau?" Ia menjawab: "Aku adalah Abu Hurairah." Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Carikan aku beberapa batu, akan aku pergunakan untuk beristinja, dan janganlah kau bawakan aku tulang atau kotoran binatang." Lalu aku bawakan beberapa batu yang kubawa di dalam kainku hingga kuletakkan di dekat beliau, kemudian aku berpaling. Setelah beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) selesai, aku pun berjalan bersama beliau lalu aku bertanya: "Mengapa tidak boleh tulang dan kotoran binatang?" Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kedua benda itu adalah makanan jin."

Pernah datang kepadaku utusan jin Nisbi -sebaik-baik jin- kemudian mereka meminta kepadaku bekal makanan lalu aku berdo'a kepada Allah untuk mereka agar di dalam setiap kotoran tulang dan kotoran binatang yang mereka temukan kiranya mereka bisa mendapatkan makanan." (13)

Muslim meriwayatkan dari hadits 'Abdullah bin 'Umar (ra-dhiyallaahu 'anhuma) bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila salah seorang di antara kalian makan maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan apabila minum hendaklah minum dengan tangan kanannya karena sesungguhnya syetan makan dan minum dengan tangan kirinya." (14)

Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Hudzaifah ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Apabila kami menghadiri hidangan makan bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, kami tidak meletakkan tangan-tangan kami sehingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangannya terlebih dahulu. Pada suatu hari kami pernah menghadiri hidangan makan bersamanya lalu seorang anak wanita datang seolah-olah dia didorong untuk meletakkan tangannya di dalam makanan, kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya, lalu datanglah seorang Arab badui seolah-olah dia didorong, lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam memegang tangannya seraya bersabda: "Sesungguhnya syetan mendapatkan bagian makanan yang tidak disebut nama Allah pada saat memakannya, sesungguhnya syetan telah membawa anak perempuan ini untuk mendapatkan bagiannya, lalu aku pegang tangannya, kemudian syetan membawa orang badui ini untuk mendapatkan bagiannya lalu aku pegang tangannya. Demi yang diriku berada di dalam tangan-Nya, sesungguhnya tangan syetan itu berada pada tanganku bersama dengan tangan anak wanita tersebut." (15) Muslim menambahkan didalam riwayat lain: "Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebut nama Allah dan makan."

Aku katakan: "Didorong" yakni ditarik dengan cepat seolah-olah ada sesuatu yang mendorongnya dari belakang.

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkanm dari Jabir bin 'Abdillah (ra-dhiyallaahu 'anhu) bahwa dia pernah mendengar Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Bila seseorang masuk rumahnya lalu menyebut nama Allah pada saat masuk dan pada saat makan maka syetan berkata (kepada kawan-kawannya): 'Tidak ada bermalam dan tidak ada makan malam buat kalian.' Tetapi jika seseorang masuk rumahnya dengan tidak menyebut nama Allah maka syetan berkata (kepada kawan-kawannya): 'Kalian dapat bermalam.' Bila dia tidak menyebut nama Allah pada saat makan maka syetan berkata (kepada kawan-kawannya): 'Kalian dapat bermalam dan makan malam.'"

Tentang makan dan minumnya jin ini terdapat tiga pendapat:

Pertama: Bahwa semua jin tidak makan dan tidak minum. Pendapat ini batil dan tidak didasarkan pada dalil.

Kedua: Bahwa ada jenis jin yang makan dan minum, tetapi ada pula jenis jin yang tidak makan dan tidak minum. Mereka berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Abdul Barr dari Wahab bin Munabbih, ia berkata: "Jin itu bermacam-macam. Jenis tulen di antara berupa angin, mereka ini tidak makan, tidak minum dan tidak beranak." Di antara mereka mengalami hal tersebut dan di antara mereka tukang sihir dan sejenis tumbuhan berduri." Disebutkan oleh al-Hafizh di dalam Fat-hul Bari. (17)

Mereka juga berdalil dengan Abu Tsa'labah al-Khasyani yang tersebut pada pembahaman tentang macam-macam jin di atas. Aku berkata: Ini satu kemungkinan.

Ketiga: Bahwa mereka semua makan dan minum. Aku katakan: Ini kemungkinan yang paling benar daripada sebelumnya, bahkan didukung dan dikuatkan oleh sejumlah hadits yang telah kami sebutkan di atas. Wallahu a'lam.

Sedangkan hadits Ibnu Mas'ud (ra-dhiyallaahu 'anhu), Imam Muslim telah meriwayatkannya dengan lafazh: "Bagi kalian setiap tulang yang disebut nama Allah padanya (ketika menyembelihnya), ia jatuh ke tangan kalian menjadi makanan." (18) Abu Dawud dan lainnya meriwayatkannya dengan lafazh: "Setiap tulang yang tidak disebut nama Allah padanya."

Kemungkinan perawi hadits menyampaikannya terbalik, atau jika tidak maka dapat dipadukan bahwa riwayat Muslim khusus bagi jin Muslim sedangkan riwayat Abu Dawud khusus bagi syetan. Wallahu a'lam bish shawab.

===

(13) Al-Bukhari, 7/171 (Fat-hul Bari).

(14) Muslim, 13/191, an-Nawawi.

(15) Muslim, 13/190, an-Nawawi.

(16) Muslim, 13/190, an-Nawawi.

(17) Muslim, 6/345, an-Nawawi.

(18) Muslim, 4/170, an-Nawawi.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tempat tinggal jin | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Tempat tinggal jin

Jin mengutamakan tempat-tempat yang sepi dari manusia seperti padang pasir. Di antara mereka ada yang tinggal di tempat-tempat kotoran dan sampah. Ada juga yang tinggal bersama manusia.

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah keluar ke padang pasir mengajak mereka kepada Allah, membacakan al-Qur`an dan mengajarkan masalah agama kepada mereka. Hal ini dilakukan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berkali-kali sebagaimana disebutkan oleh riwayat al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu 'Abbas dan Ibnu Mas'ud ra-dhiyallaahu 'anhum.

Mereka bertempat tinggal di tempat-tempat kotoran dan sampah karena mereka memakan sisa-sisa makanan manusia, sebagaimana disebutkan oleh riwayat Muslim dari hadits Ibnu Mas'ud ra-dhiyallaahu 'anhu terdahulu.

Al-Hafizh berkata: Ibnu Abid Dunya telah meriwayatkan dari jalan Yazid bin Yazid bin Jabir, salah seorang perawi kepercayaan negeri Syam dan tabi'i yang paling muda, ia berkata: Di setiap rumah ada jin yang tinggal di atapnya, setiap kali makanan siang diletakkan maka mereka turun dan makan bersama penghuni rumah, demikian pula pada waktu makan sore. (10)

Aku berkata: Abu Bakar bin Ubaid telah meriwayatkannya di dalam Makaidus syaithan dari Yazid dengan lafazh:

"Di setiap rumah kaum Muslimin ada jin Muslim yang tinggal di atapnya, bila makanan siang diletakkan mereka turun dan bersantap siang bersama penghuni, bila makanan malam diletakkan mereka turun bersantap malam bersama penghuni..."

Jin juga bertempat tinggal di jamban. Diriwayatkan dari Yazid bin Arqam (ra-dhiyallaahu 'anhu) bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya tempat-tempat pembuangan kotoran ini didatangi (jin) karena itu bila salah seorang di antara kalian datang ke jamban maka hendaklah dia mengucapkan (do'a):

اللَّهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَا ءِثِ

Allaahumma innii a'uu-dzu bika minal khubu-tsi wal khabaa-itsi.

'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari jin lelaki dan jin perempuan.'" (11)

Aku berkata: Aku pernah bertanya kepada jin Muslim: "Apakah engkau tinggal di jamban?"

Jin Muslim: "Tidak."

Aku berkata: "Tetapi disebutkan dalam hadits bahwa ada jin yang tinggal di jamban."

Jin Muslim: "Ya tetapi ini khusus bagi jin kafir karena mereka mengutamakan tempat-tempat najis dan kotor."

Aku berkata: "Barangkali ucapan ini benar karena aku telah memperhatikan bahwa jin-jin merasa sesak oleh aroma wewangian terutama aroma misk, sedangkan jin Muslim menyukainya sebagaimana manusia Muslim.

Jin juga tinggal di lubang-lubang. Diriwayatkan oleh an-Nasa`i dengan sanadnya dari Qatadah dari 'Abdullah bin Sarjas (ra-dhiyallaahu 'anhu) bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Janganlah kalian kencing di lubang."

Mereka bertanya kepada Qatadah. Ia menjawab: Dikatakan bahwa ia adalah tempat tinggal jin." (12)

Jin juga tinggal di tempat kotoran unta (binatang). Di dalam Shahih Muslim dan lainnya disebutkan bahwa ia merupakan tempat tinggal para syetan.

===

(10) Fat-hul Bari 6/345.

(11) Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam bab 3, an-Nasa`i di dalam bab 17, Ibnu Majah di dalam bab 9, Imam Ahmad di dalam Musnad-nya 4/369, hadits ini shahih.

(12) Diriwayatkan oleh Abu Dawud bab 16 dan 29, an-Nasa`i, thaharah bab 29, dan Imam Ahmad 5/82, hadits ini shahih, Abu Zar'ah dan Abu Hatim telah mengukuhkan mendengarnya Qatadah dari 'Abdullah bin Sarjas.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Macam-macam jin | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Macam-macam jin

Dari Abu Tsa'labah al-Khasyani (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

"Jin itu tiga jenis: Jenis yang memiliki sayap dan terbang di udara, jenis ular dan kalajengking, dan jenis menetap dan berpindah-pindah." (HR. Ath-Thabrani, al-Hakim dan al-Baihaqi di dalam Asma' wash Shifat, dengan sanad shahih. Shahihul Jami' 3/85) (9)

===

(9) Kutipan dari Dunia jin dan syetan hal. 8.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Jika jin diciptakan dari api, bagaimanakah orang-orang kafir mereka disiksa dengan api? | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Jika jin diciptakan dari api, bagaimanakah orang-orang kafir mereka disiksa dengan api?

Pertanyaan ini sering dilontarkan banyak orang, tetapi seandainya mereka mau berpikir sedikit niscaya akan memahami. Kita semua tahu bahwa manusia diciptakan dari tanah, tetapi sekarang bukan lagi tanah melainkan asalnya saja dari tanah. Demikian pula jin, diciptakan dari api tetapi sekarang bukan lagi api. Dalil tentang hal ini banyak sekali, di antaranya:

a. Hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa`i dengan sanad shahih sesuai syarat al-Bukhari dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah shalat kemudian syetan datang kepadanya, lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam memegangnya, membantingnya dan mencekiknya. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sampai aku rasakan lidahnya yang dingin di tanganku."

Dari hadits ini nyata bahwa sekarang bukan lagi berupa api, sebab seandainya masih berupa api niscaya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak merasakan dingin pada lidah syetan tersebut.

b. Sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya musuh Allah, iblis datang dengan membantu gugusan api untuk diletakkan di wajahku..." (HR. Muslim) (7)

c. Apa yang diriwayatkan oleh Malik di dalam Muwaththa`-nya dari Yahya bin Sa'id secara mursal, ia berkata: "Ketika diisra`kan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melihat ifrid dari jin mencarinya dengan membawa obor dari api, setiap kali Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam) menoleh, beliau melihatnya lalu Jibril berkata kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam: 'Maukah kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang jika engkau ucapkan akan memadamkan obornya dan jatuh ke mulutnya..."

Dari dua hadits ini jelas bahwa seandainya iblis masih tetap berupa api niscaya tidak memerlukan obor dari api tersebut.

d. Sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

"Sesungguhnya syetan mengalir dalam darah manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim) (8)

Seandainya dia tetap berupa api niscaya sudah membakar manusia. Jika ada yang mengatakan bahwa maksud hadits ini ialah godaan syetan, maka kami jawab bahwa para ulama ushul telah sepakat melarang mengalihkan pembicaraan dari lahiriyahnya kecuali dengan qarinah (tanda-tanda yang diperlukan). Di manakah qarinah itu?

Dapat kami tambahkan bahwa manusia diciptakan dari tanah toh bisa juga disiksa dengan menggunakan tanah, sebagaimana ia diciptakan dari air toh juga bisa disiksa dengan menggunakan air. Sebaiknya di sini kita mengatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

===

(7) Diriwayatkan oleh Muslim 5/30, an-Nawawi.

(8) Al-Bukhari 4/282 (Fat-hul Bari) dan Muslim 14/155, an-Nawawi.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT



















Dari apa jin diciptakan? | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Dari apa jin diciptakan?

Ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menunjukkan secara tegas bahwa jin diciptakan dari api. Firman Allah:

"Dan Dia menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar-Rahman: 15)

Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) berkata: "Dari nyala api" yakni dari inti api. Dalam riwayat lain, yakni dari ujung nyalanya. (5)

"Dan telah Kami ciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (QS. Al-Hijr: 27)

"Aku lebih baik darinya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al-A'raf: 12)

Jika ada orang yang bertanya: Bagaimana bisa engkau jadikan perkataan iblis sebagai dalil padahal dia pendusta? Maka kami jawab: Yang menjadi dalil bukan perkataan itu semata-mata tetapi penegasan Allah terhadap perkataan tersebut, karena Allah tidak akan menegaskan sesuatu yang batil.

Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api dan Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan-Nya kepada kalian." (6)

===

(5) Tafsir Ibnu Katsir 4/271.

(6) Diriwayatkan oleh Muslim 18/122, an-Nawawi.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tidak terlihat, bukan berarti tidak ada | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Tidak terlihat, bukan berarti tidak ada

Tidak terlihatnya jin bukan berarti tidak ada. Berapa banyak hal yang tidak dapat kita lihat tetapi benda itu ada. Arus listrik misalnya, kita tidak dapat melihatnya tetapi ia mengalir di dalam kabel. Kita membuktikan keberadaannya dengan pengaruh-pengaruhnya yang nampak dalam bohlam dan lainnya. Demikian pula udara yang kita hirup untuk mempertahankan hidup kita, kita tidka melihatnya tetapi kita bisa merasakannya.

Bahkan ruh yang merupakan esensi kehidupan kita, kita tidak melihatnya dan tidak mengetahui hakekatnya tetapi kita meyakini keberadaannya.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Iman kepada yang ghaib | Jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Bab I: Jin, hakekat bukan khurafat

Iman kepada yang ghaib

Di antara dasar aqidah Islam ialah beriman kepada yang ghaib, bahkan ia merupakan sifat pertama yang dipakai Allah untuk mensifati orang-orang yang bertaqwa. Firman Allah:

"Alif, laam, miim. Kitab (al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (QS. Al-Baqarah: 1-3)

Oleh sebab itu, setiap Muslim wajib beriman tanpa ragu sedikitpun kepada yang ghaib. Ibnu Mas'ud (ra-dhiyallaahu 'anhu) mengatakan: "yang ghaib" ialah apa yang ghaib dari kita dan hal itu diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada kita. (1)

Sedangkan jin termasuk "yang ghaib" yang wajib kita imani, karena terdapat banyak dalil, dari al-Qur`an dan Sunnah, yang menyatakan eksitensinya.

Di antara dalil al-Qur`an

Firman Allah:

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an..." (QS. Al-Ahqaf: 29)

"Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?..." (QS. Al-An'am: 130)

"Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan." (QS. Ar-Rahman: 33)

"Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an), lalu mereka berkata: 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan.''" (QS. Al-Jin: 1)

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (QS. Al-Jin: 6)

Di antara dalil dari Sunnah

1. Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Ibnu Mas'ud ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata:

Kami pernah bersama-sama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pada suatu malam, lalu kami kehilangan beliau sehingga kami mencarinya ke beberapa lembah dan perkampungan. Kemudian kami berkata, "Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) dibawa terbang atau terbunuh." Kemudian malam itu kami bermalam buruk bersama orang-orang. Pada pagi harinya tiba-tiba beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) datang dari arah Hira'. Ibnu Mas'ud berkata: Lalu kami berkata: "Wahai Rasulullah, kami kehilangan engkau lalu kami mencarimu tetapi kami tidak menemukanmu sehingga kami bermalam buruk bersama orang-orang." Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Telah datang kepadaku pengundang (da'i) dari bangsa jin lalu aku pergi bersamanya kemudian aku bacakan al-Qur`an kepada mereka." Ibnu Mas'ud berkata: Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pergi bersama kami lalu memperlihatkan kepada kami bekas-bekas mereka dan bekas-bekas api mereka.

Mereka bertanya kepada beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) tentang bekal (makanan) mereka, lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bagi kalian setiap tulang yang disebutkan nama Allah padanya (ketika menyembelihnya), ia jatuh ke tangan kalian menjadi makanan, dan setiap kotoran dari binatang kalian." Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Karena itu, janganlah kalian beristinja' dengan kedua benda tersebut karena keduanya adalah makanan saudara-saudara kalian." (2)

2. Dari Abu Sa'id al-Khudri ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Aku melihatmu senang kepada kambing dan padang (gembalaan). Jika kamu berada di tengah kambingmu dan padang (gembalaan)mu lalu kamu adzan untuk shalat maka keraskanlah suara adzanmu karena sesungguhnya tidaklah jin, manusia atau apa saja yang mendengar gema suara seorang mu'adzin kecuali akan menjadi saksinya pada hari Kiamat." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Malik, an-Nasa`i dan Ibnu Majah) (3)

3. Dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah pergi bersama sejumlah Shahabatnya menuju ke pasar Ukazh; sementara itu syetan-syetan telah dihalangi dari mendapatkan berita langit dan dilempari dengan meteor sehingga syetan-syetan itu kembali kepada kaum mereka. Kaum mereka bertanya: "Mengapakah kalian?" Mereka menjawab: "Kami telah dihalangi untuk mendapatkan berita langit dan kami pun dilempari sejumlah meteor." Kaum mereka berkata: "Tidak ada sesuatu yang menghalangi kalian dari berita langit kecuali sesuatu yang telah terjadi, karena itu pergilah ke penjuru timur dan barat bumi dan lihatlah apa yang telah menghalangi kalian dair berita langit tersebut. Kemudian mereka yang berangkat arah Tihamah berpaling kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang ketika itu berada di Nikhlah menuju pasar Ukaz dan sedang mengimami pada Shahabatnya shalat Shubuh. Ketika mendengar al-Qur`an (yang dibaca oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam), maka mereka pun mendengarkannya seraya berkata: "Demi Allah, inilah yang menghalangi kalian dari berita langit itu." Di sinilah kemudian mereka kembali kepada kaum mereka seraya berkata: "Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar al-Qur`an yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami." Kemudian Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat (yang artinya): "Katakanlah (hai Muhammad): 'Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekelompok jin telah mendengarkan (al-Qur`an)..." (4)

Dalil tentang eksistensi jin sangat banyak dan insya Allah akan engkau dapatkan yang lainnya dalam pembahasan selanjutnya.

===

(1) Tafsir Ibnu Katsir 1/41.

(2) Muslim 4/170, An-Nawawi.

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari 6/343, Malik 1/68, an-Nasa`i 2/12, dan Ibnu Majah 1/239.

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari 2/253 (Fat-hul Bari), dan Muslim 4/168, an-Nawawi.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Pengantar Cetakan Pertama | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Pengantar Cetakan Pertama

Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan, hidayah dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari segala keburukan diri kami dan dari segala kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa ditunjuki Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi tiada Ilah kecuali Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istri-istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa': 1)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah barang bid'ah. Setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, setiap bid'ah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di dalam Neraka.

Adalah merupakan kewajiban para ulama Islam untuk menjaga aqidah, membelanya dari segala upaya peraguan yang dilancarkan terhadapnya dan membersihkannya dari segala kebid'ahan yang ada karena aqidah merupakan penegak agama dan pilarnya yang paling kokoh. Aku telah menyaksikan sebagian kaum muslimin telah keluar dari agama Allah baik secara beramai-ramai atau sendiri-sendiri, karena kepergian mereka kepada para tukang ramal atau dukun lalu membenarkan mereka dan meyakini bahwa para dukun itu mengetahui yang ghaib. Jika engkau nasehati, mereka akan mengatakan, "Berilah kami gantinya." Hal inilah yang mendorongku untuk membahas masalah ini. Aku berharap semoga Allah mengarunia ganti yang syar'i kepada kita.

Latar Belakang Penulisan Buku Ini

Ada sejumlah motivasi yang semuanya memberikan dorongan kepadaku untuk segera menulis buku ini, di antaranya:

1. Sebelum kita mengajak orang untuk meninggalkan sesuatu, kita harus sudah siap untuk memberikan gantinya. Misalnya, aku pernah berdiskusi dengan seorang pemuda tentang kepergiannya kepada dukun dan tukang sihir. Kepadanya aku jelaskan bahwa hal tersebut diharamkan dalam syari'at, lalu anak muda itu mengatakan: "Pada hari pernikahanku, aku ingin menggauli istriku tetapi aku dapatkan diriku "terikat". Apa yang harus aku lakukan? Lalu aku terpaksa pergi ke tukang sihir, seandainya engkau punya gantinya niscaya aku tidak akan pergi kepadanya."

2. Seringkali jin mengganggu (merasuki) seseorang dan memintanya untuk melakukan beberapa hal yang diharamkan. Permusuhan ini tentunya harus dilawan.

3. Aku melihat ada jin-jin kristen yang merasuki orang Muslim lalu meminta kepadanya agar memakai salib, jika tidak maka jin itu akan terus menempelnya.

4. Adanya sebagian orang kristen yang memakai sihir sebagai senjata tersembunyi. Aku sendiri pernah menyaksikan langsung seorang wanita Muslimah yang memiliki aktivitas keislamana yang sangat baik lalu disihir oleh seorang pendeta sehingga wanita tersebut meminta salib dari keluarganya. Bahkan bila wanita ini melihat seorang pendeta di jalanan, dengan segera dia bersujud kepada pendeta. Berkat pertolongan Allah, wanita ini berhasil sembuh setelah diobati oleh salah seorang saudara kita dengan al-Qur-an. Segala puji bagi Allah.

5. Hingga sekarang aku belum pernah melihat satu buku yang menghimpun masalah ini dari kedua aspek amaliah dan teoritis. Masalah ini memang terlalu luas untuk dibahas dalam satu buku. Ia memerlukan sejumlah besar kajian yang mendalam.

Atas beberapa dorongan tersebut di atas, juga dorongan yang lainnya, aku mulai menulis tema ini, tetapi aku sering ragu sebelum menulisnya, karena tema ini penuh dengan berbagai resiko, namun aku senantiasa meminta pertolongan kepada Allah dan menempuh jalan yang tidak akan pernah sesat siapa yang menempuhnya, yaitu bersandar kepada dalil dalam setiap yang aku katakan dan tulis. Di samping itu, aku tidak menyebutkan satu hadits sekalipun kecuali aku jelaskan derajat keshahihan dan kelemahannya, kemudian aku sebutkan pula rujukan-rujukannya di dalam kitab-kitab hadits.

Dalam kajian ini aku telah menghimpun antara aspek teoritis yang diambil dari sejumlah buku dan aspek amaliah yang memanfaatkan pengalaman dan praktek yang dilandasi al-Qur-an dan Sunnah dalam setiap apa yang aku katakan.

Aku bagi kajian ini dalam dua buku:

Buku pertama: Khusus membahas tentang jin dan syetan, yang berjudul "Wiqayatul Insan minal jinni wasy syaithan" (Melindungi manusia dari jin dan syetan, buku yang tengah anda baca terjemahannya ini, -pent).

Buku kedua: Khusus membahas tentang sihir dan penolakannya, yang berjudul "Ash-Sharimul Battar fit Tashaddi lis Saharatil Asyrar".

Buku pertama terdiri dari:

Bab pertama: Jin adalah hakekat bukan khurafat.

Bab kedua: Kesurupan, hakekat dan pengobatannya.

Bab ketiga: Syetan menemui para Nabi.

Bab keempat: Hubungan syetan dan manusia.

Bab kelima: Pintu-pintu masuk syetan untuk merusak hati.

Perlu diingatkanm di sini bahwa setiap perkataanku yang engkau temukan dalam buku ini dan sesuai dengan al-Qur-an dan Sunnah maka hendaklah engkau mengambilnya, dan yang tidak sesuai dengan keduanya maka buanglah perkataanku dan ambillah al-Qur-an dan Sunnah. Aku membuka lebar dadaku untuk menerima semua kritik membangun yang didasarkan pada al-Qur-an dan Sunnah.

Tidak lupa aku sampaikan rasa terima kasihku kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Semoga Allah mengaruniakan keikhlasan dalam semua perkataan dan perbuataan kita, dalam semua gerak dan diam kita. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari apa yang tidak kami ketahui. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu, Muhammad, keluarga dan para Shahabatnya.

Wahid 'Abdus Salam Bali

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Pengantar Cetakan Kedua

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Pengantar Cetakan Kedua

Segala puji bagi Allah. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Wa ba'du...

Setelah terbitnya buku ini dan tersebar luas dalam waktu yang relatif singkat, sejumlah pemuda Islam dan para da'i ilallah segera menghubungi penulis. Ada yang menyampaikan pujiannya dan ada pula yang meminta penjelasan di samping ada yang menyampaikan nasehatnya. Semoga Allah membalas kebaikan kepada mereka. Tetapi aku tidak merasa cukup dengan banyaknya pujian tersebut karena aku menyadari bahwa amal usaha manusia -terutama orang yang sedikit ilmunya seperti aku ini- tidak akan terbebas dari kesalahan-kesalahan. Karena itu buku ini kemudian aku kemukakan kepada sejumlah ulama, yang masing-masing dari mereka lalu berkenan mengemukakan pendapat dan nasehatnya. Nasehat-nasehat itu lalu aku ikuti dalam banyak pemasalahan. Terakhir buku ini aku sodorkan kepada Syaikh kita yang mulia Abu Bakar al-Jaza'iri yang dikenal luas dan dalam ilmunya di samping cukup lama berpengalaman di lapangan da'wah. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan pendapatnya tentang buku ini (sebagaimana tertuang dalam kata pengantar buku ini, -pent), semoga Allah membalas kebaikan kepadanya.

Ada dua hal yang penting yang perlu disinggung di sini:

Pertama: Banyak pemuda yang bertanya kepada penulis, apakah bisa seseorang melakukan pengobatan terhadap orang yang kemasukan jin?

Jawabannya, insya Allah bisa. Syaratnya engkau harus merealisasikan sifat-sifat seorang Mu'alij (pengobat) yang tersebut dalam fasal kedua (buku ini) kemudian membentengi diri dengan sejumlah pembentengan yang tersebut dalam fasal keenam, di samping memahami cara pengobatan yang dijelaskan pada fasal kedua. Dengan niat ikhlas mulailah pengobatan.

Kedua: Barangkali ada yang menyanggah bahwa sebagian surat atau ayat-ayat yang engkau sebutkan dalam pengobatan ini tidak memiliki sandaran riwayat dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya (ra-dhiyallaahu 'anhum). Aku jawab: Semua ayat al-Qur-an dapat dipakai untuk pengobatan, dengan sejumlah dalil berikut ini:

1. Firman Allah:

"Dan Kami turunkan dari al-Qur-an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra`: 82)

Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya ialah obat yang bersifat ma'nawi (spiritual). Sebagian yang lain mengatakan obat secara umum, baik yang ma'nawi (spiritual) ataupun hissi (fisik), sebab al-Qur-an mengandung obat bagi ruh dan jasad sekaligus.

2. Dari 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah masuk ke rumahnya ketika ia sedang mengobati dan menjampi seorang wanita, lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Obatilah ia dengan Kitab Allah."

Di sini Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebutkan Kitab Allah secara umum tidak menunjuk ayat-ayat atau surat-surat tertentu.

3. Di dalam hadits penjampian yang diriwayatkan oleh al-Bukhari disebutkan bahwa Abu Sa'id al-Khudri ra-dhiyallaahu 'anhu pernah menjampi seseorang dengan surat al-Fatihah. Di akhir hadits tersebut Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

"Bagaimana kau tahu bahwa surat itu adalah jampi-jampian?"

Aku katakan: Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa seorang Shahabat yang mulia ini tidak menunggu sampai dia tahu apakah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah menjampi dengan al-Fatihah atau tidak?

4. Bahkan penjampian dengan al-Qur-an atau dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, atau do'a-do'a dan lainnya itu boleh selama penjampian tersebut tidak mengandung kemusyrikan. Tersebut di dalam hadits shahih riwayat Muslim bahwa orang-orang pernah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami di masa jahiliyah dulu pernah menjampi," lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi kalian itu: tidaklah mengapa melakukan jampi-jampian selama tidak berupa kemusyrikan."

Ini adalah standar syar'i yang telah dibuat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk membedakan antara jampi-jampi yang dibolehkan dan yang diharamkan.

Cetakan (kedua) ini agak sedikit berbeda dari yang pertama karena mendapatkan tambahan yang tidak sedikit yaitu sekitar 40 halaman. Yang terpenting di antaranya adalah contoh keenam dan ketujuh dalam fasal kedua. Contoh keenam mengajarkan bagaimana menghadapi jin kafir (syetan) sedangkan contoh ketujuh mengajarkan bagaimana menghadapi jin kristen khususnya para pendeta mereka.

Akhirnya kami sampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini, terutama kepada Syaikh kami yang mulia Ustadz Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri yang telah aku cintai sebelum aku melihatnya dan aku banyak berguru melalui buku-bukunya sebelum aku mendengarnya secara langsung.

Semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat bagi penulisnya juga penerbit dan para pembacanya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan semua Shahabatnya.

Wahid Abdus Salam Bali

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Pengantar Syaikh al-Jazairi

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Pengantar

Segala puji bagi Allah Ta'ala, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad, yang diutus kepada dua jenis makhluk (manusia dan jin); semoga terlimpahkan pula kepada keluarganya yang suci dan semua Shahabatnya.

Ustadz Wahid 'Abdussalam Bali telah memberikan bukunya "Melindungi manusia dari jin dan syetan" (Wiqayatul Insaan Minal jinni wasy syaithan) kepadaku di Masjid Nabawi dengan permintaan agar aku berkenan membacanya dan menyampaikan pendapatku tentang buku tersebut. Permintaan ini aku penuhi sekalipun di tengah kesibukan dan tugasku yang menumpuk.

Aku telah membaca buku ini dari mukaddimah sampai dengan penutupnya. Buku ini terbebas dari kesalahan baik menyangkut pemahaman ('aqliah) ataupun periwayatan (naqliah). Isi dan sasaran penulisan buku ini sangat tepat dan memadai. Buku ini telah membantah sejumlah anggapan yang keliru dari sekelompok orang yang menolak fenomena merasuknya jin ke dalam diri manusia (kesurupan jin) dan pembicaraannya melalui orang tersebut serta pengungkapan tentang hakekat dan keinginannya.

Buku ini dan penulisnya berciri khas Salafi, yang nampak dalam pemakaian hadits-hadits shahih dan hasan, dengan menghindari hadits-hadits dha'if dan palsu, berikut penjelasan mengenai riwayat hadits (takhrij), sumber dan para perawinya, sehingga memberikan rasa puas kepada para pembaca dan pemakai buku ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang sebaik-baiknya.

Sekalipun sebuah buku ini dapat dinilai melalui judulnya, kata sebagian orang, tetapi buku ustadz Wahid ini memiliki dua kegunaan yang jarang berhimpun dalam sebuah buku seperti ini:

Pertama: Menetapkan aqidah yang benar tentang eksistensi jin, fenomena keberadaan mereka, pengaruh-pengaruh perbuatan mereka, dan perilaku-perilaku kebaikan ataupun keburukan mereka dalam kehidupan.

Kedua: Penjelasan tentang ta'awwudz (do'a-do'a memohon perlindungan) dan jampi-jampi yang shahih untuk mengobati orang yang kemasukan jin dan syetan. Dengan demikian, buku ini menghimpun penjelasan tentang penyakit dan sekaligus obatnya. Ini merupakan keistimewaan penting yang menjadikan buku ini sangat diperlukan oleh setiap Mu'min yang gemar membaca dan memahami permasalahan.

Akhirnya aku berdo'a semoga buku ini bermanfaat bagi penulisnya dan orang-orang yang mencari kebenaran. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para Shahabatnya.

Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri
Pengajar di Masjid Nabawi Madinah
10/01/1409 H

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Daftar Isi

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Daftar Isi

Pengantar Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi

Pengantar Cetakan Kedua

Pengantar Cetakan Pertama

Bab I jin: Hakekat, Bukan Khurafat

Iman Kepada yang Ghaib

Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada

Dari Apa jin Diciptakan?

Jika jin Diciptakan dari Api, Lalu Bagaimana Orang-orang Kafir Mereka Disiksa dengan Api?

Macam-macam jin

Tempat Tinggal jin

Apakah Jin Makan dan Minum?

Syetan Punya Tanduk?

Jin Bisa Melakukan Penyerupaan

Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan?

Apakah Ada jin dan syetan Lelaki atau Wanita?

Apakah jin Mukallaf?

Aqidah jin

Apakah jin Mu'min Akan Masuk Surga?

Jin Takut Kepada Manusia

Jin Mendengki Manusia

Apakah jin Menikah dan Memiliki Keturunan?

Jin Memberi Kesaksian Kepada Muadzin pada Hari Kiamat

Kapan syetan Gentayangan?

Sebagian Binatang Melihat syetan

Syetan Memberitahukan Dimana Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam Berada

Teriakan syetan pada Hari Bai'at Aqabah

Syetan Mencuri Dengar dari Langit

Mungkinkah jin Pendamping (qarin) Masuk Islam?

Syetan Dibelenggu pada Bulan Ramadhan

Haram Menyembelih Untuk jin

Meminta Pertolongan Kepada jin, Haram

Apakah jin Tinggal di Rumah-rumah Manusia?

Bagaimana Engkau Mengusir jin dari Rumah?

Jin Lebih Rendah dari Manusia

Apakah jin Menyakiti Manusia?

Bab II Kesurupan: Hakekat dan Penyembuhannya

Definisi Kesurupan

Dalil-dalil Tentang Kesurupan

Pendapat Para Ulama

Sikap Para Dokter

Diagnosis Kedokteran Tentang Kesurupan

Disyari'atkannya Pengobatan Kesurupan

Pertanyaan yang Berkaitan dengan Orang yang Kesurupan jin

Sebab-sebab Kemasukan jin

Bagaimana jin Masuk ke Dalam Jasad Manusia dan Dimana dia Berada?

Gejala-gejala Gangguan jin Kepada Manusia

Macam-macam Gangguan jin

Sifat-sifat Seorang Mu'alij (Pengobat)

Cara Pengobatan

Peringatan Bagi Mu'alij

Contoh-contoh Aplikatif

Cara-cara Haram Dalam Pengusiran jin

Bab III syetan Menemui Para Nabi

Iblis Menemui Nuh 'alaihis salaam

Syetan Menemui Musa 'alaihis salaam

Syetan Menemui Yahya 'alaihis salaam

Syetan Menemui Ayyub 'alaihis salaam

Iblis Menemui 'Isa 'alaihis salaam

Syetan Menemui Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam

Bab IV Hubungan syetan dengan Manusia

Siapakah syetan?

Permulaan

Rencana Terburu-buru

Sasaran yang Diinginkan

Serangan Pertama

Perbedaan Antara Pemusuhan syetan dan Permusuhan Manusia

Menimbulkan Keraguan pada Tauhid

Buhul-buhul syetan dan Cara Melepaskannya

Bagaimana Cara Melepaskan Buhul-buhul syetan?

Syetan Melecehkan Orang yang Melalaikan Qiyamul Lail

Mengganggu Tidur dan Menimbulkan Kesedihan

Syetan Menertawakan Orang yang Menguap

Dimana syetan Bermalam?

Di antara Program Jahat syetan

Syetan Mengutus Tentaranya Untuk Memfitnah Manusia

Bisikan, Tanda Ketidakmampuan

Bisikan Keraguan Dalam Shalat

Lupa Adalah dari syetan

Menyulut Permusuhan di Antara Manusia

Tempat syetan pada Diri Manusia

Kekuatan Iman Melemahkan syetan

Alat Musik syetan

Syetan Penjilat

Pasar Tempat Pertempuran syetan

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah