Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Khidir dan Penjual

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 12

Khidir 'alaihis salaam dan Penjual

Ibnu Abi Dunya berkata, hadits ini kami dapatkan dari ayahku, 'Ali bin Syafiq menuturkan kepada kami, dari Ibnu Mubarak, dari 'Umar bin Muhammad bin al-Munkadir (1), dia berkata, "Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki yang sedang berjualan, sambil mengucapkan sumpah (untuk meyakinkan para pembeli). Mendengar hal itu seorang tua berdiri dan berkata, "Wahai penjual, jual saja seperti biasa, dan jangan pakai kata-kata sumpah." Namun si penjual kembali mengulangi kata-kata sumpahnya. Orang tua tadi berkata lagi, "Jual saja, tidak usah pakai sumpah." Lalu si penjual berkata, "Aku akan menerima saranmu bila kau jelaskan maksud dari perkataanmu tadi." Orang tua itu berkata, "Maksudku begini, dampak kejujuran atas sesuatu yang merugikanmu itu lebih baik dari kebohongan yang memberi manfaat kepadamu. Dan berbicaralah, namun ketika ilmu tidak sampai, diamlah. Dan anggaplah bohong orang yang suka menceritakan keadaan orang lain kepadamu." Si penjual berkata, "Tulislah kalimat tersebut untukku."

Lalu orang tadi melanjutkan, "Jika Allah mentakdirkan sesuatu pasti akan terjadi." Kemudian si penjual tadi tidak melihat orang tua tersebut, menghilang entah kemana. Mereka menganggap bahwa orang tua tadi adalah Khidir.

Ibnu al-Jauzi berkata, sepertinya ini adalah teks asli yang terdapat dalam hadits.

Abu Amr bin as-Samak meriwayatkan dalam kitab Fawaid, dari Yahya bin Abi Thalib dari 'Ali bin 'Ashim (2), dari 'Abdullah bin 'Abdillah, dia berkata: Suatu kali Ibnu 'Umar sedang duduk, sedang di sampingnya ada seseorang yang menawarkan barang dagangannya, dan mengulang-ulang penawaran itu agar orang percaya. Pada saat yang sama lewatlah seorang lelaki yang berkata, "Bertakwalah kepada Allah, janganlah pakai kata-kata sumpah untuk membual. Kamu harus jujur sekalipun akan membuatmu rugi. Dan janganlah berbohong sekalipun akan menguntungkanmu. Dan janganlah kamu menambah-nambah suatu cerita kepada orang lain."

Ibnu 'Umar berkata kepada penjual tadi, "Patuhilah dia. Dan katakan padanya, tulislah kata-kata itu." Si penjual mengikutinya, dan mendengar orang tadi berkata, "Sesuatu yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi." Kemudian orang itu menghilang. Lalu si penjual kembali dan menceritakan hal itu kepada Ibnu 'Umar. Kemudian Ibnu 'Umar berkata, "Dialah Khidir."

Ibnu al-Jauzi berkata, 'Ali bin 'Ashim termasuk orang dha'if dan buruk hafalanny. Bisa saja yang dia maksud adalah 'Umar bin Muhammad bin al-Munkadir, namun disangkanya Ibnu 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma. Diriwayatkan Ahmad bin Muhammad bin Mush'ab, salah seorang dari periwayat hadits maudhu' (palsu) dan termasuk orang-orang majhul, dari 'Atha, dari Ibnu 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma.

Bersambung...

===

(1) Dia adalah 'Umar bin Muhammad bin al-Munkadir at-Taimi, terpercaya. Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa-i, termasuk golongan ketujuh. Lihat: at-Taqrib 2/63, at-Tahdzib 7/497, al-Jam'u 1/346.

(2) Dia adalah 'Ali bin 'Ashim bin Shuhaib al-Wasithi, dapat dipercaya namun juga pernah salah, diduga masuk ke golongan syi'ah. Termasuk dalam golongan kesembilan. Diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Meninggal tahun 201 H. Lihat: adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 1244, al-Majruhin 2/113, at-Taqrib 2/39, at-Tahdzib 7/344, al-Mizan 3/115.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Manusia dan Harta (3) | Anda dan Harta

Anda dan Harta

Kisah Rezeki dan Harta

Manusia dan Harta (3)

Termasuk dari kebijaksanaan Allah adalah dijadikannya sebagian manusia dalam keadaan miskin, dan sebagian yang lain dalam keadaan kaya yang Allah berikan kemurahan rezeki dan Allah lebihkan dari yang lain. Allah berfirman,

"Lihatlah bagaimana Kami melebihkan sebagian di atas sebagian yang lain." (QS. Al-Isra': 21)

Allah berfirman,

"Allah melebihkan sebagian kalian di atas sebagian yang lain dalam rezeki." (QS. An-Nahl: 71)

Yang demikian itu adalah ujian dari Allah bagi orang-orang kaya agar mereka mendermakan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan, yang disebutkan oleh Allah. Allah berfirman,

"Apakah mereka tidak melihat bahwa Allah melapangkan rezeki orang-orang yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang beriman. Berilah sanak saudara, orang-orang miskin, orang-orang jalanan akan hak mereka. Yang demikian itu baik bagi orang-orang yang menginginkan ridha Allah. Merekalah orang-orang yang beruntung. Apa yang engkau keluarkan sebagai riba agar berkembang dalam harta manusia, maka tidak berkembang di hadapan Allah. Apa yang kalian berikan sebagai zakat dengan tujuan ridha Allah, maka mereka itulah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda." (QS. Ar-Rum: 37-39)

Dengan demikian, orang yang mendermakan hartanya pada mereka yang membutuhkan dengan tujuan ridha Allah, maka akan mendapatkan pahala dari Allah. Adapun orang yang memberi sesuatu pada orang lain dengan harapan mendapatkan yang lebih banyak, maka tidak mendapatkan pahala sedikitpun di hadapan Allah. Allah menjelaskan bahwa pahala dan balasan yang berlipat ganda ada pada zakat karena keridhaan Allah.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan kedua puluh delapan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan kedua puluh delapan:

Pada halaman 159-162, dalam menerangkan cara mengobati sihir yang berkaitan dengan suami istri, jin muslim (sahabat Muhammad Isa Dawud) berkata:

Atas anugerah Allah, sangat banyak. Yang paling populer dan yang dapat menghilangkan bahayanya, yakni yang berurusan dengan hubungan suami-istri:

1. Ambillah tujuh lembar daun sirih hijau atau daun teratai. Tumbuklah dengan batu, besi atau apa saja sehingga lumat.

2. Taruh tumbukan daun sirih atau daun teratai itu dalam satu mangkok besar. Isi dengan air secukupnya untuk minum dan membasuh seluruh badan.

3. Letakkan telapak tangan kananmu pada air yang sudah diisi tumbukan daun sirih.

4. Sentuhkan bibirmu pada mangkok, sehingga napas atau sebagian dari ludahmu mengenainya.

5. Bacakan ayat berikut ini dan arahkan pada air tersebut:

a. Ayat Kursi,
b. Lanjutkan dengan surat al-Kafirun,
c. Lalu, surat al-Ikhlas,
d. Berikutnya, surat al-Falaq,
e. Selanjutnya, surat an-Nas,
f. Berikutnya, ayat sihir dalam surat al-A'raaf ayat 117-119,
g. Lalu ayat sihir dalam surat Yunus ayat 79-82,
h. Terakhir, ayat sihir dalam surat Thaha ayat 65, 69.

6. Minumkan air itu kepada si sakit, kemudian mandikan ia dengannya. Ulangi seminggu kemudian, dan sesudah itu, insya Allah, sihir itu tidak akan ada lagi.

Saya (ustadz 'Abdul Hakim) berkata: Ini adalah cara-cara yang dibuat-buat, yang tidak ada dasarnya dalam Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ayat Kursi, surat al-Falaq dan an-Nas memang ada Sunnahnya, akan tetapi surat al-Kafirun dan yang lainnya yang disebutkan di atas tidak ada Sunnahnya dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Kemudian perkataannya, "Ambillah tujuh lembar daun sirih hijau..."

Saya berkata: Apakah daun sirih itu benar-benar ada di Arab? Saya belum menemukannya di Arab. Kalau betul daun sirih tidak ada di Jazirah Arab -yaitu tempat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam hidup-, berarti dengan tegas sekali, jin ini telah membuat-buat sesuatu yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Pembaca bisa bayangkan, bagaimana kalau buku ini dibaca oleh sebagian kaum muslimin yang shalih atau oleh muslimah yang shalihah, tapi tidak punya ilmu, maka akan diamalkanlah amalan-amalan tersebut, yang serupa sekali dengan cara-cara perdukunan.

Memang dengan cara-cara yang demikian itu dapat meneyembuhkan seseorang, akan tetapi perlu saya terangkan di sini, bahwa di samping Allah dan Rasul-Nya Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita cara mengatasi gangguan jin -baik dalam bentuk sihir maupun yang lainnya-, maka iblias pun punya cara untuk menolak sihir yang datang dari iblis yang lainnya dengan cara-cara yang mereka buat-buat sendiri. (84) Ada yang mempergunakan mangkok besar, di tulis ini dan itu dan untuk menyamarkannya dibacakanlah ayat-ayat Allah Jalla wa 'Ala dan kemudian cara itu diwariskan turun menurun. Dengan cara dimandikan ataupun dengan cara yang lainnya, yang persis seperti cara yang diajarkan oleh jin ini (sahabat Muhammad Isa Dawud). Bahkan di negeri kita dengan menggunakan air kembang atau yang disebut dengan kembang tujuh rupa dan lain-lain, dengan cara dimandikan dengan air tersebut. Memang terkadang cara-cara seperti itu dapat menyembuhkan, akan tetapi hal itu termasuk dalam kategori sihir yang jelas-jelas terlarang dalam syara', karena perbuatan itu didapat dengan cara-cara yang diwahyukan iblis, dengan membuat suatu ketentuan-ketentuan tertentu. Umumnya dengan suatu persembahan (tumbal). Banyak yang menyamarkan praktek sihir itu dengan membaca ayat-ayat al-Qur-anul Karim. Hal ini perlu untuk diperhatikan!

Bersambung...

===

(84) Ada beragam cara yang tidak syar'i yang ditempuh oleh setan-setan dari kalangan jin dan manusia untuk mengobati sihir dan kesurupan, yang semua itu diharamkan. Dan siapa yang ingin mengetahui uraiannya lihat kitab 'Alaamus sihri wa sa'wadzah hal. 189-195 karya Dr. Sulaiman al-Asyqar.

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, bantahan terhadap buku Dialog dengan jin Muslim, Penulis: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penyusun: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Penerbit: Darul Qolam, Jakarta - Indonesia, Cetakan kedua, Tahun 1425 H/ 2004 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (3)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 11

Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir 'alaihis salaam Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (3)

Dalam kitab ar-Riddah, Sa'if bin 'Amr at-Tamimi mengatakan bahwa ada sebuah hadits dari Sa'id bin 'Abdillah, dari Ibnu 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhuma, dia berkata: "Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam wafat, Abu Bakar datang dan masuk ke dalam kamarnya. Ketika melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dia berkata, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Kemudian dia shalat jenazah. Ahlul bait juga ikut bersiap-siap melakukan shalat sehingga suasana menjadi riuh. Ketika suasan hening sejenak, mereka mendengar sebuah suara pelan seseorang di pintu: "Assalaamu 'alaikum, wahai ahlul bait, tiap-tiap yang mempunyai jiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat pahala mereka akan disempurnakan. Ingatlah sesungguhnya Allah berada di balik setiap jiwa, menjadi penolong dari setiap ketakutan. Hanya kepada Allah kalian memohon, dan mempercayakan segalanya. Sesungguhnya orang yang tertimpa musibah adalah orang yang diharamkan mendapatkan pahala." Mereka mendengarkan suara itu dan menangis tersedu-sedu. Mereka mengangkat wajah, namun tidak mendapatkan siapa-siapa, lalu mereka kembali menangis. Tak berapa lama, mereka kembali mendengar seseorang, "Wahai ahlul bait, ingatlah kepada Allah, dan pujilah dia dalam setiap keadaan, agar kalian menjadi orang-orang yang ikhlas. Sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah dan pengganti dari segala kebinasaan. Maka percayakanlah kepada-Nya, dan hanya kepada-Nya kalian taat. Sesungguhnya orang yang mendapat musibah adalah orang yang diharamkan mendapatkan pahala." Kemudian Abu Bakar berkata, "Kedua orang ini adalah Khidir dan Ilyas, mereka berdua hadir pada wafatnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Ucapan Sa'if dalam hadits tersebut tidak diketahui berasal dari syaikh yang mana.

Ibnu Abi Dunya berkata: Hadits ini disampaikan Kamil bin Thalhah (5), kami mendapat kabar dari Ibad bin 'Abdish Shamad (6), dari Anas bin Malik ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata: "Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tiada, para Shahabat berkumpul dan menangis sedih di sekitarnya, lalu ada seorang laki-laki yang tinggi melampaui postur tubuh para Shahabat hingga menyentuh kusen pintu rumah Nabi, dengan rambut sebahu dengan memakai selendang dan sarung, masuk ke dalam ruangan dan menangis. Setelah itu dia menemui para Shahabat dan berkata: "Sesungguhnya Allah adalah pelipur lara dari segala musibah dan akan mengganti segala yang telah berlalu, dan Dia berada di balik setiap kebinasaan. Maka percayakanlah kepada Allah. Dengan ujian ini kalian akan dapat melihat dengan jelas, bahwa sebenarnya yang mengalami musibah adalah orang yang tidak diberi pahala.

Kemudian orang tersebut pergi. Lalu Abu Bakar ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Coba beritahu aku siapakah orang tadi." Lalu mereka saling menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada yang melihatnya. Kemudian Abu Bakar berkata, "Mungkin saja ini adalah Khidir, saudara Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dia datang untuk melayat. (7) 'Ibad, perawi hadits ini, dikenal dha'if oleh al-Bukhari dan al-'Aqili. Ath-Thabrani menyebutkannya dalam al-Ausath dari Musa bin Harun dari Kamil, dan dia berkata, Ibad itu terpisah dengan sendirinya dari Anas ra-dhiyallaahu 'anhu.

Dalam kitabnya al-Janaiz Ibnu Syahin berkata, hadits ini kami dapatkan dari Ibnu Abi Dawud, dari Ahmad bin Amr bin as-Siraj (8), kami mendapatkannya dari Ibnu Wahab -orang yang mendapat cerita dari Muhammad bin 'Ajlan (9), dari Muhammad bin al-Munkadir (10).

Dia berkata, ketika 'Umar bin al-Khaththab ra-dhiyallaahu 'anhu shalat jenazah. Tiba-tiba ada orang yang membisikinya dari belakang, "Maukah kau menunggu aku untuk shalat? Semoga Allah merahmatimu." Kemudian 'Umar menunggunya hingga dia berada di shaf, lalu 'Umar bertakbir. (Ketika usai shalat) dia berdo'a: "Jika Engkau mengadzabnya, sungguh dia telah bermaksiat pada-Mu. Jika Engkau mengampuninya, maka ia sangat membutuhkan rahmat dari-Mu."

Lalu 'Umar dan para Shahabat ra-dhiyallaahu 'anhum melihat orang tersebut. Ketika jenazah sudah disemayamkan dalam kubur, orang tadi meratakan tanah kuburan itu, lalu berkata, "Berbahagialah engkau wahai penghuni kubur, sekalipun engkau tidak menjadi orang pintar, pemungut pajak, penyimpan harta, juru tulis, atau penjaga keamanan."

Lalu 'Umar berkata, "Bawalah orang itu kemari, kita akan bertanya kepadanya tentang shalatnya dan juga tentang perkataannya tadi." Ternyata orang itu telah berlalu dari mereka, dan terlihat bekas telapak kakinya sebesar satu dzira'. Lalu 'Umar berkata, "Demi Allah ini adalah Khidir yang pernah diceritakan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." (11) Ibnu al-Jauzi berkata, di dalam periwayatan hadits ini terdapat orang yang tak dikenal (majhul), juga mata rantai perawinya terputus persisnya antara Ibnu al-Munkadir dan 'Umar ra-dhiyallaahu 'anhu.

Bersambung...

===

(5) Dia adalah Kamil bin Thalhah al-Jahdari, Abu Yahya al-Bashri, "tidak apa dengannya" (istilah teknis ilmu hadits untuk menunjukkan kualitas perawi pada tingkat lumayan), termasuk shighar kesembilan. Meninggal tahun 231 H. Lihat: at-Taqrib 2/131.

(6) Dia adalah 'Ibad bin 'Abdush Shamad, Abu Mu'ammar, hadits-haditsnya mungkar. Al-Bukhari berkata: Haditsnya mungkar. Dan berkata Abu Hatim: Dha'if sekali. Lihat: al-Majruhin 2/170, al-Mizan 2/368, adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 1121.

(7) Sanadnya maudhu' (palsu).

(8) Demikian aslinya. Dan benar Ahmad bin Amr as-Sarrah, Abu Thahir al-Mashri, terpercaya, termasuk golongan kesepuluh. Diriwayatkan Muslim, Abu Dawud, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. Meninggal pada tahun 255 H. Lihat: at-Taqrib 2/23, al-Jam'u 1/14, at-Tahdzib 1/64, Dzikru Asma at-Tabi'in 2/13.

(9) Dia adalah Muhammad bin 'Ajlan al-Madani, dapat dipercaya, selain itu dia juga melakukan pencampuran antara pendapatnya dalam hadits-hadits Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu. Dia termasuk golongan kelima. Diriwayatkan oleh Muslim, dan keempat imam yang lain. Meninggal pada tahun 148 H. Lihat: at-Taqrib 2/190, al-Jam'u 2/475, at-Tahdzib 9/341, Tarikh ats-Tsiqat 1627.

(10) Dia adalah Muhammad bin al-Munkadir bin 'Abdillah, terpercaya dan utama. Haditsnya terdapat dalam al-Ushul as-Sittah, termasuk thabaqah ketiga. Meninggal pada tahun 130 H. Lihat: at-Taqrib 2/210, at-Tahdzib 9/473, Tarikh ats-Tsiqat 1651.

(11) Al-Bidayah wa an-Nihayah 1/333 dan berkata: Hadits ini masih meragukan, dan di dalamnya juga masih ada sanad yang terputus, dan tidak dapat dibenarkan.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 11

Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir 'alaihis salaam Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (2)

Syaikh kami, al-Hafizh al-Ashr Abu al-Fadhl bin al-Husain rahimahullaah, mengabarkan sebuah hadits kepada kami dengan berkata, aku dapat kabar dari Abu Muhammad bin al-Qayyim, bahwa Abu al-Hasan bin al-Bukhari mendapatkannya dari Muhammad bin Mu'ammar, dari Sa'id bin Abu ar-Raja, dari Ahmad bin Muhammad bin Nu'man, dari Abu Bakar bin al-Muqra, dari Ishaq bin Ahmad al-Khaza'i.

Hadits ini disampaikan oleh Muhammad bin Yahya bin Abi 'Umar al-Udnay (4), disampaikan oleh Muhammad bin Ja'far, dia berkata: Ayahku, dia adalah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, menyebutkan hadits dari ayahnya, dari kakeknya, dari 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu. "Ada sekelompok orang dari suku Quraisy masuk ke dalam dan dia sedang berada di tempat itu." Kemudian dia berkata, "Maukah aku sampaikan pada kalian tentang Abu al-Qasim?" Mereka berkata, "Tentu." Kemudian disebutkan sebuah hadits panjang tentang Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan akhir cerita yang dia sampaikan adalah sebagai berikut: Lalu Jibril berkata: "Wahai Ahmad, bagimu keselamatan, ini adalah akhir tanah yang kusinggahi di bumi, hanyalah demi kepentinganmu (menyampaikan risalah Islam) aku dibutuhkan berada di dunia."

Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tiada, dan orang berdatangan untuk melayat, ada seseorang yang datang, mereka mendengar suaranya yang pelan, tapi mereka tidak melihat sosok tubuhnya. Kemudian orang misterius itu berkata: "Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wahai ahlul bait, sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah, berada di balik semua kebinasaan, dan mengetahui segala yang telah berlalu. Hanya kepada Allah kalian harus mempercayakan semuanya, hanya kepada-Nya kalian berharap. Sesungguhnya musibah sebenarnya adalah ketika diharamkannya seseorang mendapatkan pahala. Wassalaamu 'alaikum." Kemudian 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Apakah kalian tahu siapa dia? Dia adalah Khidir."

Muhammad bin Ja'far adalah saudara Musa al-Kazhim, menceritakan bahwa hadits ini diperoleh dari bapaknya dan orang lain. Kemudian Ibrahim bin al-Mundzir, dan beberapa orang selain dirinya ikut meriwayatkan tentang dirinya (Muhammad bin Ja'far). Ketika berada di Madinah dan di Makkah, dia berdo'a untuk keselamatan dirinya, lalu menunaikan haji pada tahun 200. Orang-orang pun membai'atnya sebagai khalifah. Lalu al-Mu'tashim datang dalam rangka menunaikan haji, menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Al-Mu'tashim membawa dirinya menemui al-Ma'mun di Khurasa, kemudian dia meninggal di Jurjan pada tahun 203 H.

Al-Khatib menyebutkan dalam biografi dirinya bahwa ketika digantikan kedudukannya, dia naik ke atas mimbar dan berkata: "Wahai manusia, sungguh telah aku sampaikan kepadamu hadits-hadits yang telah aku palsukan, merusak pemahaman orang-orang terhadap kitab-kitab yang telah mereka dengar." Dia hidup selama tujuh puluh tahun.

Al-Bukhari berkata, saudaranya yang bernama Ishaq mempercayainya, dan al-Hakim pernah meriwayatkan hadits yang berasal darinya. Adz-Dzahabi berkata, dalam menceritakan hikayat Sulaiman bin Dawud 'alaihis salaam akan kelihatan kepalsuannya.

Bersambung...

===

(4) Dia adalah Muhammad bin Yahya bin Abi 'Umar al-Adna, berasal dari Makkah, dapat dipercaya, pernah menyusun kitab musnad. Akan tetapu Abu Hatim berkata: Dia pernah lalai, dan dia termasuk dalam golongan kesepuluh. Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. Dia meninggal tahun 143 H. Lihat: at-Taqrib 2/218, at-Tahdzib 5/518, al-Jam'u baina Rijal ash-Shahiihain 2/477.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 11

Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir 'alaihis salaam Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? (2)

Syaikh kami, al-Hafizh al-Ashr Abu al-Fadhl bin al-Husain rahimahullaah, mengabarkan sebuah hadits kepada kami dengan berkata, aku dapat kabar dari Abu Muhammad bin al-Qayyim, bahwa Abu al-Hasan bin al-Bukhari mendapatkannya dari Muhammad bin Mu'ammar, dari Sa'id bin Abu ar-Raja, dari Ahmad bin Muhammad bin Nu'man, dari Abu Bakar bin al-Muqra, dari Ishaq bin Ahmad al-Khaza'i.

Hadits ini disampaikan oleh Muhammad bin Yahya bin Abi 'Umar al-Udnay (4), disampaikan oleh Muhammad bin Ja'far, dia berkata: Ayahku, dia adalah Ja'far bin Muhammad ash-Shadiq, menyebutkan hadits dari ayahnya, dari kakeknya, dari 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu. "Ada sekelompok orang dari suku Quraisy masuk ke dalam dan dia sedang berada di tempat itu." Kemudian dia berkata, "Maukah aku sampaikan pada kalian tentang Abu al-Qasim?" Mereka berkata, "Tentu." Kemudian disebutkan sebuah hadits panjang tentang Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan akhir cerita yang dia sampaikan adalah sebagai berikut: Lalu Jibril berkata: "Wahai Ahmad, bagimu keselamatan, ini adalah akhir tanah yang kusinggahi di bumi, hanyalah demi kepentinganmu (menyampaikan risalah Islam) aku dibutuhkan berada di dunia."

Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tiada, dan orang berdatangan untuk melayat, ada seseorang yang datang, mereka mendengar suaranya yang pelan, tapi mereka tidak melihat sosok tubuhnya. Kemudian orang misterius itu berkata: "Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wahai ahlul bait, sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah, berada di balik semua kebinasaan, dan mengetahui segala yang telah berlalu. Hanya kepada Allah kalian harus mempercayakan semuanya, hanya kepada-Nya kalian berharap. Sesungguhnya musibah sebenarnya adalah ketika diharamkannya seseorang mendapatkan pahala. Wassalaamu 'alaikum." Kemudian 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Apakah kalian tahu siapa dia? Dia adalah Khidir."

Muhammad bin Ja'far adalah saudara Musa al-Kazhim, menceritakan bahwa hadits ini diperoleh dari bapaknya dan orang lain. Kemudian Ibrahim bin al-Mundzir, dan beberapa orang selain dirinya ikut meriwayatkan tentang dirinya (Muhammad bin Ja'far). Ketika berada di Madinah dan di Makkah, dia berdo'a untuk keselamatan dirinya, lalu menunaikan haji pada tahun 200. Orang-orang pun membai'atnya sebagai khalifah. Lalu al-Mu'tashim datang dalam rangka menunaikan haji, menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Al-Mu'tashim membawa dirinya menemui al-Ma'mun di Khurasa, kemudian dia meninggal di Jurjan pada tahun 203 H.

Al-Khatib menyebutkan dalam biografi dirinya bahwa ketika digantikan kedudukannya, dia naik ke atas mimbar dan berkata: "Wahai manusia, sungguh telah aku sampaikan kepadamu hadits-hadits yang telah aku palsukan, merusak pemahaman orang-orang terhadap kitab-kitab yang telah mereka dengar." Dia hidup selama tujuh puluh tahun.

Al-Bukhari berkata, saudaranya yang bernama Ishaq mempercayainya, dan al-Hakim pernah meriwayatkan hadits yang berasal darinya. Adz-Dzahabi berkata, dalam menceritakan hikayat Sulaiman bin Dawud 'alaihis salaam akan kelihatan kepalsuannya.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Baqarah (16)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah (16)

Al-Baqarah, Ayat 16

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. 2: 16)

Tentang firman Allah Ta'ala: "Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk," as-Suddi dalam kitab tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud, dan beberapa orang Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, ia mengatakan: "Mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan petunjuk."

Mujahid mengatakan: "Mereka beriman kemudian mereka kafir."

Qatadah mengatakan: "Mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk." Demikianlah yang dikatakan oleh Qatadah. Dan pendapat ini semakna dengan firman Allah Ta'ala tentang kaum Tsamud: "Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu." (QS. Fushshilat: 17)

Kesimpulan dari pendapat para mufassirin di atas bahwasanya orang-orang munafik itu menyimpang dari petunjuk dan jatuh ke dalam kesesatan. Dan itulah makna firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk." Artinya, mereka menjual petunjuk untuk mendapatkan kesesatan. Hal itu berlaku juga bagi orang yang pernah beriman lalu kembali kepada kekufuran, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman tentang mereka: "Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka ditutup rapat." (QS. Al-Munaafiquun: 3)

Atau mereka lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk, sebagaimana keadaan kelompok lain dari orang-orang munafik, di mana mereka terdiri dari beberapa macam dan bagian. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman: "Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 16). Maksudnya, perniagaan yang mereka lakukan itu tidak memberikan keuntungan dan tidak pula mereka mendapatkan petunjuk dengan sebab apa yang mereka lakukan.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah mengenai firman-Nya: "Maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk," ia mengatakan: "Demi Allah, kalian telah menyaksikan mereka keluar dari petunjuk menuju kesesatan, dari persatuan kepada perpecahan, dari rasa aman kepada ketakutan, dan dari Sunnah kepada bid'ah." (78)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (79)

Bersambung...

===

(78) Tafsiir ath-Thabari 1/316.

(79) Ibnu Abi Hatim 1/60.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti?
Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sembuh dengan Satu Titik: Antara Bekam, Thibbun Nabawi, dan Kedokteran Modern (5)

Sembuh dengan Satu Titik

Bagian Pertama

Sekilas Tentang Bekam

Antara Bekam, Thibbun Nabawi, dan Kedokteran Modern (5)

Ilmu kedokteran terus dikembangkan oleh orang-orang Islam, mulai Tsabit bi Qurrah (836-901 M), Yuhana bin Masawaih (857 M), Ishaq Yuda (855-955 M), Ibnu Zuhr (1073-1162 M), Ibnul Khatib (1313-1374 M), al-Quff (1222-1286 M), dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah yang menulis buku al-Jawaabul Kaafi liman Sa'ala 'Anid Dawaaisy Syaafii (Jawaban Lengkap tentang Obat-obatan Mujarab), Zaadul Ma'aad Hadyi Khairil 'Ibaad dan buku-buku lainnya. Ia juga menuliskan buku tentang kedokteran dengan cabang-cabangnya, seperti: biologi, embriologi, anatomi, patologi dan fisiologi. Ilmu kedokteran ini terus dikembangkan lagi hingga menembus byzantium, yunde-shahpur, iskandaria, damaskus, baghdad, cordova, granada, sicilia, italia, perancis dan jerman.

Karena kegigihan dokter-dokter muslim dalam mengembangkan ilmu kedokteran, maka akhirnya kedokteran Islam menguasai dunia. Namun, seiring dengan kekalahan ummat Islam, musuh-musuh Islam di negara-negara eropa mulai memisahkan kedokteran yang bersandarkan nilai-nilai Ilahi, dan membuangnya dari kurikulum kedokteran mereka. Sehingga pada akhirnya, orang muslim tidak mengetahui bahwa sebenarnya ilmu kedokteran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam itu tidak hanya yang tradisional, namun juga yang modern yang diklaim orang barat sebagai milik mereka. Mereka juga menghapus nama dokter-dokter muslim dari literatur mereka, dan memunculkan dokter-dokter dari kalangan mereka sendiri yang sebenarnya juga mengambil ilmu kedokteran dari dokter-dokter muslim. Memang inilah tujuan mereka untuk menjauhkan kaum muslimin dari penguasaan teknologi kedokteran, yang apabila dikuasai orang Islam, maka kaum muslimin pasti akan kembali menguasai dunia.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi, bahwasanya para dokter muslim pada abad 7-13 Masehi yang menciptakan dasar-dasar kedokteran modern tersebut, adalah para dokter yang mempraktikkan Thibbun Nabawi. Mereka tidak memisah-misahkan antara pengobatan tradisional, medis, dan non medis. Namun, mereka tetap menjaga agar metode pengobatan tersebut tetap berada dalam bingkai keislaman dan dalam arahan wahyu Ilahi.

Saat ini, banyak kalangan yang mengatakan bahwa mereka mempraktikkan Thibbun Nabawi, akan tetapi alat-alat dan bahan-bahan yang dipakai bukan berasal dari ajaran Islam. Demikian juga, ada yang memakai bahan-bahan dan metode Thibbun Nabawi, namun sebenarnya mereka telah keluar dari Thibbun Nabawi karena sudah tidak sesuai lagi dengan tujuan dan kaedah-kaedah Thibbun Nabawi. Ada juga yang melakukan Thibbun Nabawi, tetapi pelaku pengobatannya bukan orang Islam, misalnya yang dilakukan orang-orang di china, korea, jepang dan lain-lainnya. Orang-orang non muslim pun sekarang banyak yang mengamalkan bekam dan herbal. Sementara sekelompok kaum muslimin lainnya yang selama ini melakukan pengobatan modern, dianggap oleh sekelompok muslim lainnya, bukan sebagai Thibbun Nabawi. Jadi, bagaimana definisi yang sebenarnya dari Thibbun Nabawi itu?

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 11

Siapakah yang Pernah Bertemu Khidir 'alaihis salaam Pasca Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?

Ibnu Abi Hatim mengatakan dalam kitab tafsir, hadits berikut kami dapatkan dari 'Abdul 'Aziz al-Uwaisi, dan kami mendapatkannya dari 'Ali bin Abi 'Ali al-Hasyimi, dari Ja'far bin Muhammad bin 'Ali bin Husain, dari bapaknya, bahwa 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu berkata: "Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam wafat, ada seseorang yang datang untuk takziah. Anehnya, mereka hanya dapat mendengar suara pelannya namun tidak dapat melihat postur tubuhnya.

Kemudian orang itu berkata: "Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wahai ahlul bait. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah, berada di balik semua kebinasaan, dan mengetahui segala yang telah berlalu. Hanya kepada Allahlah kalian harus mempercayakan semuanya, hanya kepada-Nya kalian berharap. Sesungguhnya musibah yang sebenarnya adalah ketika diharamkannya seseorang menerima pahala." Ja'far berkata, ayahku memberitahu bahwa 'Ali bin Abi Thalib ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Tahukah kalian siapa dia? Dia ini adalah Khidir." (1)

Muhammad bin Manshur al-Jazar meriwayatkan dari Muhammad bin Ja'far dan 'Abdullah bin Maimun (2) al-Qadah, semuanya berasal dari Ja'far bin Muhammad, dari bapaknya, dari 'Ali bin Husain, kudengar ayahku berkata: Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah tiada, seorang pentakziah datang berkunjung, mereka yang berada di tempat itu mendengar suaranya yang pelan, namun mereka tidak dapat melihat dirinya. Kemudian dia berkata: "Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, wahai ahlul bait. Sesungguhnya Allah pelipur lara dari segala musibah, berada di balik semua kebinasaan, dan mengetahui segala yang telah berlalu. Hanya kepada Allah kalian harus mempercayakan semuanya, hanya kepada-Nya kalian berharap. Sesungguhnya musibah yang sebenarnya adalah ketika diharamkannya seseorang menerima pahala." Kemudian 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Tahukah kalian siapa dia? Inilah dia Khidir." (3)

Ibnu al-Jauzi berkata, dalam hadits ini terdapat nama Muhammad bin Shalih, dari Muhammad bin Ja'far. Seperti yang telah diketahui bersama, Muhammad bin Shalih adalah orang yang dikategorikan dha'if (lemah). Selain itu, menurut periwayatan al-Waqidi, dia ini dikenal sebagai pembohong. Diriwayatkan pula oleh Muhammad bin Abi 'Umar, dari Muhammad bin Ja'far dan Ibnu Abi 'Umar, dia (Muhammad bin Shalih) termasuk majhul. Hematku, hadits ini jelas dha'if.

Ibnu Abi 'Umar lebih otoritatif untuk menerangkan masalah ini. Dia adalah salah seorang syaikh (guru) muslim di antara para imam lainnya. Dia termasuk senior di antara para imam, dia juga terpercaya dan hafal al-Qur-an, pemilik karya musnad terkenal yang menjadi salah satu dasar periwayatan. Dan hadits ini juga terdapat di dalamnya.

Bersambung...

===

(1) Disebutkan Ibnu Katsir dari riwayat al-Baihaqi, dan Ibnu Abi Hatim dalam al-Bidayah 1/332 kemudian dia berkata: Tidak benar.

(2) Dia adalah 'Abdullah bin Maimun al-Qaddah, hadits mungkar (lemah), matruk, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi. Dia termasuk thabaqah kedelapan. Lihat: at-Taqrib 1/455, adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 877, al-Mizan 5/206, al-Majruhin 2/21.

(3) Sanadnya dha'if sekali disebutkan oleh al-Hafizh al-Haitami dalam Majma' az-Zawaid 9/35, dia berkata: Diriwayatkan ath-Thabrani, dan di dalamnya terdapat 'Abdullah bin Maimun al-Qaddah, dan dia termasuk dzahib hadits.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Benarkah Khidir Bertemu Ilyas Setiap Tahun? (3)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 10

Benarkah Khidir 'alaihis salaam Bertemu Ilyas 'alaihis salaam Setiap Tahun? (3)

Hadits serupa juga pernah diriwayatkan tanpa melalui Baqiyyah, melainkan dari al-Auza'i, dengan karakter yang berbeda. Ibnu Abi Dunya berkata, aku mendapat cerita dari Ibrahim bin Sa'id al-Jauhari, kami mendengar cerita ini dari Yazid bin Yazid al-Maushali at-Taimi, seorang pemimpin mereka, cerita ini kami dapatkan dari Abu Ishaq al-Harasyi dan al-Auza'i dari Makhul, dari Anas ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata: Kami ikut berperang bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam hingga ketika kami mencapai di batu ini (19), ketika itulah kami mendengar sebuah do'a yang berbunyi, "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk ummat Muhammad yang dikasihi, yang diampuni, yang mendapatkan taubat atas kesalahannya dan dikabulkan do'anya." Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadaku, "Wahai Anas, perhatikan do'a apakah ini!"

Anas berkata, lalu aku memasuki bebatuan di gunung, dan kulihat seorang laki-laki yang telah beruban dan janggut memutih, dia memakai jubah putih, tinggi badannya lebih dari tiga ratus dzira'. Ketika melihatku, dia berkata, "Kau adalah utusan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?" Aku berkata, "Ya." Dia lalu berkata, "Kembalilah kepadanya dan sampaikan salamku, dan katakan kepadanya, aku adalah saudaramu Ilyas, ingin bertemu denganmu."

Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam datang, dan aku bersamanya hingga ketika aku mendekatinya, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beranjak maju dan aku berada di belakangnya. Kulihat mereka berdua saling berbincang panjang. Kemudian turun sesuatu dari langit seperti hidangan makan pada mereka berdua. Mereka memanggilku, lalu aku makan bersama mereka berdua, dalam hidangan itu terdapat cendawan, delima dan seledri.

Setelah usai makan, aku berdiri, lalu datang sekelebat awan yang membawanya pergi. Aku tertegun melihat putihnya jubah yang dikenakannya berkibar, hingga ia menghilang ke arah negeri Syam.

Lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Demi kedua orang tuaku, apakah makanan yang telah kita makan bersama itu berasal dari langit dan turun padamu?" Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Aku telah bertanya kepada Ilyas, 'Dia berkata, 'Makanan itu datang padaku melalui Jibril. Setidaknya setiap empat puluh hari aku memakannya, dan aku juga meminum seteguk air zam-zam setiap musim. Mungkin kau juga pernah melihat di bibir sumur zam-zam ada orang yang memegang ember kemudian dia minum, dan bisa jadi akulah yang minum." (20)

Ibnu al-Jauzi berkata, Yazid dan Abu Ishaq tidak mengetahui keberadaan hadits ini, dan ada perbedaan tentang hadits sebelumnya yang menerangkan tentang panjang tubuh Ilyas. Ibnu Asakir meriwayatkan hadits melalui 'Ali bin al-Husain bin Tsabit ad-Dauri, dari Hisyam bin Khalid, dari Husain bin Yahya al-Husna, dari Ibnu Abi Ruwwad. Dia berkata, "Khidir dan Ilyas keduanya berpuasa di Baitul Maqdis, dan berhaji setiap tahun. Keduanya juga minum air zam-zam yang dapat mencukupi hilangnya dahaga sampai tahun depan."

Aku juga pernah menemukan hadits serupa dalam kitab Ziyadat az-Zuhd karya 'Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Ahmad berkata, dalam kitab Abu Bakhthah, aku dapatkan Mahdi bin Ja'far menuturkan kepada kami, aku mendapat cerita dari Dhamrah, dari as-Sirri bin Yahya, dari Ibnu Abi Ruwwad, dia berkata, "Ilyas dan Khidir keduanya berpuasa pada bulan Ramadhan, di Baitul Maqdis, dan keduanya juga saling bertemu pada suatu musin setiap tahunnya." (21)

'Abdullah berkata, aku mendapatkan hadits yang sama dari Hasan, dia adalah Ibnu Rafi, dari Dhamrah, dari as-Sirri, dari 'Abdul 'Aziz bin Abi Ruwwad.

Ibnu Jarir juga mengungkapkan hal yang sama dalam kitab sejarahnya, kami dapatkan cerita ini dari 'Abdurrahman bin 'Abdillah bin al-Hukmu al-Mashri. Dia katakan hadits ini diterima dari Muhammad bin al-Mutawakkil, dan kami mendapatkannya dari Dhamrah bin Rabi'ah, dari 'Abdullah bin Syaudzab, dia berkata: Khidir adalah keturunan (anak) seorang persia, dan Ilyas adalah keturunan Bani Israil, keduanya bertemu setiap tahun pada musim tertentu.

Al-Fakihi berkata dalam kitab Makkah, hadits ini kami dapatkan dari az-Zubair bin Bakkar (22), aku dapatkan hadits ini dari Hamzah bin Atbah, aku dapatkan dari Muhammad bin Umran, dari Ja'far bin Muhammad bin 'Ali, dia berkata: "Waktu itu aku sedang bersama ayahku di Makkah, pada malam-malam sepuluh (terakhir bulan Ramadhan). Ayahku berdiri untuk menunaikan shalat di lokasi Hijr Isma'il, lalu masuk pula ke dalam lokasi tersebut seorang laki-laki dengan rambut dan janggut putih, sepertinya dia berkebangsaan Arab. Kemudian dia duduk di samping ayahku. Lalu dia berkata dengan lirih, "Aku datang kepadamu supaya kau dapat memberitahu padaku tentang awal mula diciptakan Baitul Haram ini. Semoga Allah merahmatimu."

Ayahku lalu bertanya, "Siapakah dirimu?" Dia berkata, "Aku seorang warga Maroko." Lalu ayahku berkata, "Awal mula diciptakannya Bait (Ka'bah) ini, waktu Malaikat mengajukan gugatan mereka dengan berkata kepada Allah, Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan. Ucapan mereka yang bernada memprotes Allah, membuat-Nya murka. Kemudian mereka berthawaf di arsy-Nya, mereka memohon ampun kepada Allah. Kemudian Allah memaafkan mereka dan berfirman, "Buatlah suatu rumah di dunia untuk-Ku, untuk dapat digunakan sebagai tempat thawaf bagi hamba-hamba-Ku. Barangsiapa yang Aku murkai, maka dapat Aku maafkan sebagaimana Aku memaafkan kalian."

Lalu orang tersebut berkata kepada ayahku, "Semoga Allah merahmatimu, tidak seorang pun di zamanmu ini yang lebih tahu darimu, dan menguasainya dengan baik." Lalu, ayahku berkata kepadaku, "Perhatikan dan ikutilah orang itu, lalu kembalilah kepadaku." Kemudian, aku keluar melihat orang itu, ketika dia sudah mencapai bab Shafa, tiba-tiba dia menghilang, seakan-akan tidak pernah terlihat sesuatu apapun. Lalu aku menceritakan kepada ayahku, kemudian dia berkata, "Tahukah kau siapa dia?" Aku berkata, "Tidak." Ayahku berkata: "Dia adalah Khidir."

Bersambung...

===

(19) Makna yang dimaksud di sini tidak sesuai, dan nampak bahwa dia meriwayatkan hadits yang telah gugur, dan jika tidak, dia dianggap benar secara ibarat. Wallaahu a'lam, semestinya bermakna: Ketika kami berada di batu ini, unta betina itu menderum.

(20) Disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir (1/338) dengan sanad panjang dari al-Baihaqi. Kemudian dia berkata: Cukup bagi kami al-Baihaqi yang menjelaskan masalahnya, dan dia berkata: Ini adalah hadits dha'if. Dan menakjubkan bahwa al-Hakim Abu 'Abdul Nisaburi -(lihat al-Mustadrak 2/617)- diriwayatkan dalam kitabnya al-Mustadrak sesuai dengan yang terdapat dalam kumpulan hadits Shahiih al-Bukhari - Muslim. Dan ini adalah termasuk yang ditemukan dalam al-Mustadrak, bahwa itu adalah hadits maudhu' (palsu). Berbeda dengan yang terdapat dalam kitab-kitab hadits shahih dari beberapa sisi. Sungguh yang terdapat dalam dua kitab Shahiih (al-Bukhari - Muslim) menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dengan tinggi enam puluh dzira' di langit, kemudian bentuknya terus menerus menyusut hingga sekarang." Dan di dalamnya juga disebutkan bahwa Khidir tidak datang pada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sehingga beliau yang datang menemuinya. Tentu saja ini tidak benar, karena sesungguhnya beliau lebih berhak didatangi sebagai penutup para Nabi. Dan di dalam hadits itu juga disebutkan bahwa dia makan sekali dalam setahun. Padahal telah dijelaskan sebelumnya dari Wahab bahwa Allah melenyapkan rasa lezat makanan dan minuman dari dirinya. Dan sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumny, dari sebagian mereka menceritakan bahwa dia hanya minum air zam-zam sekali dalam setahun, telah cukup menghilangkan rasa hausnya. Seperti itulah hal-hal lainnya. Dan kejadian-kejadian ini satu sama lain saling bertentangan, dan semuanya itu bisa disebut batil, dan tidak dapat dibenarkan sama sekali.

(21) Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits terdahulu.

(22) Dia adalah Zubair bin Bakkar bin 'Abdillah, Abu 'Abdillah, seorang hakim kota Madinah. Dia terpercaya, termasuk dalam tingkatan shigar kesepuluh. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Meninggal pada tahun 256 H. Lihat at-Taqrib 1/257.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Benarkah Khidir Bertemu Ilyas Setiap Tahun? (2)

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 10

Benarkah Khidir 'alaihis salaam Bertemu Ilyas 'alaihis salaam Setiap Tahun? (2)

Kedatangan Khidir 'alaihis salaam ke Baitul Maqdis

'Abdullah bin Ahmad menyebutkan periwayatan sebuah hadits dalam Zawaid Kitab az-Zuhd karya ayahnya, dari al-Hasan bin 'Abdul 'Aziz (11), dari as-Sirri bin Yahya (12), dari 'Abdul 'Aziz bin Abu Ruwwad (13), dia berkata, "Khidir dan Ilyas berkumpul di Baitul Maqdis pada bulan Ramadhan dari awal bulan hingga akhir bulan. Keduanya berbuka puasa dengan sayur seledri. Pada semisal musim-musim tertentu itulah mereka berkumpul setiap tahunnya. (14) Hadits ini mu'dhal.

Dalam Fawaid kami dapatkan riwayat Abu 'Ali bin Muhammad bin 'Ali al-Basyani, kami mendapat cerita dari 'Abdurrahim bin Habib al-Fariyabi (15), kami dapatkan cerita tersebut dari Shalih, dari Asad bin Sa'id, dari Ja'far bin Muhammad, dari para orangtuanya, dari 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata, "Ketika itu aku berada di dekat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, kemudian beliau menyebutkan punya minyak," lalu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Minyak violet lebih utama dibanding seluruh minyak lainnya, sebagaimana kita, ahlul bait lebih utama di atas seluruh makhluk." 'Ali berkata, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada waktu itu sedang memakai minyak tersebut dan wangi-wangian darinya. (16)

Kemudian disebutkan pula hadits yang cukup panjang, dalam hadits itu disebutkan bermacam-macam makanan yang antara lain bawang bakung, rempah-rempah, gargir (semacam sayur lalapan), selada, cendawan, seledri, daging, dan ikan salmon. Ada pula cendawan yang berasal dari Surga yang dapat menjadi obat bagi mata, dan juga obat bagi keracunan. Semua yang tersebut di atas adalah makanan Ilyas dan Yusa, keduanya berkumpul setiap tahun pada musim tertentu, keduanya minum air zam-zam, sekali teguk bagi keduanya telah cukup hingga tahun depan. Kemudian Allah mengembalikan keremajaan mereka berdua pada setiap seratus tahun sekali, dan makanan keduanya cendawan dan seledri.

Tanpa ragu-ragu Ibnu al-Jauzi menyatakan bahwa kedua hadits di atas adalah hadits maudhu' (palsu) dan diragukan keasliannya karena kemungkinan telah dibuat-buat oleh 'Abdurrahim bin Habib. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Habban, dia ('Abdurrahim bin Habib) telah membuat-buat hadits itu. Lagi pula telah disebutkan dari Muqatil bahwa al-Yusa itu sebenarnya adalah Khidir.

Ibnu Syahin berkata, kami mendapat cerita dari Muhammad bin Ahmad bin 'Abdul 'Aziz al-Harani. Kami mendapat cerita dari Abu Thahir Khair bin Arafah (17), kami memperolehnya dari Hani bin al-Mutawakkil, kami mendapatkannya dari Baqiyyah, dari al-Auza'i, dan Makhul, aku mendengar Watsilah bin al-Asqa, dia berkata: Kami ikut berperang bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada perang Tabuk, hingga ketika kami berada di daerah Jadzam, kami merasa sangat haus sekali. Tiba-tiba di hadapan kami turun hujan, sehingga kami merasa gembira, dan tanpa terasa sampai di daerah Ghadir. Lalu kami menunggu sampai sepertiga mala, tiba-tiba kami mendengar orang yang sedang berdo'a dengan sangat sedih, "Ya Allah, jadikanlah aku termasuk dalam ummat Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang dikasihi dan diampuni ini, ummat yang selalu terkabul do'anya, yang selalu Engkau berkati." Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Wahai Hudzaifah, wahai Anas, masuklah kalian berdua ke dalam celah-celah batu itu, dan lihatlah, berasal dari manakah suara tadi?"

Lalu kami masuk ke dalam, dan kami jumpai seorang laki-laki yang memakai baju putih, sangat putih dan lebih putih dari salju, sebagaimana putihnya wajah dan jenggotnya. Dia mempunyai tubuh yang lebih tinggi dari kami sekitar dua dzira'. Lalu kami mengucapkan salam kepadanya, dia berkata, "Silahkan, kalian berdua adalah utusan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?" Kami menyahut, "Ya benar, siapakah dirimu sebenarnya? Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu." Dia berkata, "Aku adalah Ilyas sang Nabi, aku keluar hendak menuju Makkah, kemudian aku melihat sepasukan tentara kalian." Dia melanjutkan, "Aku punya pasukan Malaikat yang dipimpin langsung oleh Jibril untuk bagian depan, dan Mikail untuk bagian belakang. Inilah aku saudara Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan sampaikan salamku kepadanya. Kembalilah kalian kepadanya, dan sampaikan salamku kepadanya. Dan katakan kepadanya, aku ingin sekali bergabung dalam pasukan kalian, tetapi aku khawatir dapat menakut-nakuti unta kalian dan kaum muslim lainnya, karena tubuhku yang panjang ini, karena postur tubuhku tidak seperti postur tubuh kalian."

Hudzaifah dan Anas berkata, maka kami bersalaman, kemudian dia berkata kepada Anas, "Wahai pelayan Rasulullah, siapakah orang di sampingmu ini?" Anas menjawab, "Dia adalah Hudzaifah shahabat rahasia Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Kemudian dia menyampaikan selamat kepadanya dan berkata, "Demi Allah, sesungguhnya dia lebih terkenal di kalangan langit daripada di bumi, shahabat rahasia Rasulullah ini lebih menyerupai warga langit." Hudzaifah berkata, "Apakah engkau pernah berjumpa dengan Malaikat?" Dia berkata, "Tiada hari bagiku tanpa berjumpa dengan mereka, mereka selalu menyalamiku, dan aku ucapkan salam kepada mereka."

Kami mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lalu beliau ikut keluar bersama kami hingga ketika sampai di celah batu besar, tiba-tiba muncul sinar dari wajah Ilyas dan pakaian putihnya yang memancar bagaikan matahari. Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Coba kalian tunjukkan," lalu kami maju sekitar lima puluh dzira'. Ketika mereka berdua bertemu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memeluknya dengan gembira, lalu keduanya duduk.

Kemudian kami melihat sesuatu yang menyerupai burung yang besar berputar mengelilingi mereka berdua, warnanya putih terpancar di seluruh bagian dari sayap-sayapnya, sehingga menghalangi antara kami dan keduanya. Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memanggil kami, "Wahai Hudzaifah, wahai Anas." Lalu kami mendatangi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan melihat di hadapan keduanya telah tersaji hidangan yang hijau, aku belum pernah melihat hidangan seindah ini, sungguh warna hijaunya begitu banyak mempengaruhi dan menyinari baju putih kami, lalu seakan-akan wajah-wajah kami pun menjadi kehijauan.

Di atas hidangan itu terdapat keju, kurma, delima, pisang, anggur, kurma basah, bawang, tidak ketinggalan pula bawang bakung. Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Makanlah dengan menyebut nama Allah." Lalu kami berkata, "Wahai Rasulullah, adakah makanan di dunia yang seperti ini? Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada."

Ilyas berkata, "Ini adalah rezeki yang diberikan untukku pada setiap empat puluh hari. Malaikat yang membawanya kemari, dan kini telah tepat empat puluh hari. Makanan itu termasuk sesuatu yang bila Allah menghendakinya, kun fa yakun, maka jadilah." Lalu kami bertanya, "Dari manakah engkau datang?" Beliau menjawab, "Di belakang romawi, aku berada di antara sepasukan Malaikat dan sepasukan jin muslim, mereka ikut berperang bersama kita, melawan kaum kafir." Kami berkata, "Seberapa jauh tempat engkau tadi berada?" Beliau berkata, "Empat bulan dan aku terpisah darinya sejak sepuluh hari, dan aku ke Makkah untuk minum seteguk air zam-zam setiap tahun. Semua yang terjadi itu adalah kehendak Rabbku, dan Dia selalu melindungiku hingga sampai pada musim berikutnya." Kami berkata, "Negeri-negeri manakah yang lebih sering menjadi tempat tinggalmu?" Beliau berkata, "Syam, Baitul Maqdis, Maroko, dan Yaman. Dan tidak satu pun masjid dari masjid-masjid Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam baik yang kecil ataupun yang besar kecuali aku masuk ke dalamnya."

Kami berkata, "Kapan waktu engkau bertemu Khidir?" Beliau berkata, "Sejak aku bertemu dengannya, maka aku terus bertemu dengannya setahun sekali pada musim tertentu. Khidir pernah berkata, 'Engkau akan bertemu dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lebih dulu, sebelum aku bertemu dengannya, maka sampaikan salamku kepada beliau.' Kemudian dia memeluk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menangis. Dia juga memeluk kami dan menangis, lalu kami menangis bersama-sama.

Lalu kami melihatnya ketika dia terangkat ke langit, dan dia dibawa oleh sesuatu. Lalu kami berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah melihat sesuatu yang menakjubkan!" Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Dia berada di antara kedua sayap Malaikat, hingga berakhir sampai di mana ia mau berhenti." (18)

Ibnu al-Jauzi berkata, semoga Baqiyyah mendengar hadits yang berupa kebohongan besar ini, kemudian memalsukannya seakan-akan berasal dari al-Auza'i. Dia juga berkata, Khair bin Arafah tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Hematku, dia adalah muhaddits (periwayat hadits) terkenal berasal dari Mesir dan nama kakeknya 'Abdullah bin Kamil, yang juga dijuluki sebagai Abu Thahir. Berita tentang dirinya diriwayatkan oleh Abu Thalib al-Hafizh, dia adalah guru ad-Daruquthni dan lainnya, dia meninggal pada tahun 283 H.

Bersambung...

===

(11) Dia adalah al-Hasan bin 'Abdul 'Aziz, al-Jarwa, Abu Ala al-Mashri, terpercaya, tepat dan orang yang utama, meninggal tahun 257 H. Diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab Shahiih. Lihat: at-Taqrib 1/167, at-Tahdzib 2/291.

(12) Dia adalah as-Sirri bin Yahya bin Iyas, terpercaya, diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan an-Nasa-i. Meninggal pada tahun 167 H. Lihat: at-Taqrib 1/285.

(13) Dia adalah 'Abdul 'Aziz bin Abi Ruwwad, orangnya dapat dipercaya dan ahli 'ibadah, namun meragukan. Diriwayatkan oleh empat imam. Meninggal tahun 159 H. Lihat: at-Taqrib 1/509, at-Tahdzib 6/339, Tarikh ats-Tsiqat 1107.

(14) Az-Zuhd karya Ahmad 281. Sanadnya mu'dhal (lemah), ada yang terlepas dari susunan sanadnya dua orang atau lebih secara berturut-turut, dan dia termasuk bagian hadits yang dha'if.

(15) Dia adalah 'Abdurrahim bin Habib al-Fariyabi, dan ditulis dengan aslinya ad-Dariyani. Dan benar sebagaimana yang dinyatakan. Asalnya dari Baghdad, Ibnu Habban berkata: Dia telah meletakkan hadits-hadits kepada orang-orang yang terpercaya secara buatan. Jadi, tidak boleh meriwayatkan hadits darinya, tidak juga menulis hadits darinya kecuali untuk memperluas wawasan pada bagian tertentu. Lihat: al-Majruhin 2/163, al-Mizan 2/63.

(16) Sanadnya maudhu' (palsu) dan dibuat-buat.

(17) Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah 1/338, Husein Arafah.

(18) Disebutkan sebagian darinya karya al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah 1/338. Dan berkata: Ini adalah maudhu' (palsu).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Benarkah Khidir Bertemu Ilyas Setiap Tahun?

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 10

Benarkah Khidir 'alaihis salaam Bertemu Ilyas 'alaihis salaam Setiap Tahun?

Muhammad bin Ishaq bin Khazimah menuturkan kepada kami, Muhammad bin Ahmad bin Zaid (1) menuturkan kepada kami, 'Umar bin 'Ashim (2) menuturkan kepada kami, kami mendapat kabar dari al-Hasan bin Razin (3), dari Ibnu Juraih, dari 'Atha, dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma, 'Abbas berkata: Aku tidak mengajarkan kepadanya kecuali hadits ini sampai ke -berasal dari (marfu')- Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Beliau bersabda: "Khidir bertemu Ilyas setiap tahun pada suatu musim. Salah seorang dari mereka saling mencukur (4) rambut shahabatnya, dan mereka berdua berpisah dengan kalimat: 'Dengan nama Allah apa yang dikehendaki Allah, tidak akan ada kebaikan kecuali karena Allah. Dengan nama Allah apa yang dikehendaki Allah tidak akan terusir keburukan kecuali dengan kehendak-Nya pula. Dengan nama Allah apa yang Dia kehendaki, tiada daya dan kekuatan selain Allah.'"

Dalam kitabnya al-Afraad, ad-Daruquthni mengatakan bahwa hadits ini tidak pernah diceritakan dari Ibnu Juraih tanpa al-Hasan bin Razin. Abu Ja'far al-'Aqili mengatakan bahwa al-Hasan tidak diikuti, dan haditsnya termasuk majhul. Selain itu, haditsnya tidak terjaga dengan baik. Abu Hasan al-Munadi berkata: Hadits tersebut hadits lemah karena adanya perawi al-Hasan itu.

Ada pula hadits yang berbunyi sama, tanpa melalui riwayat al-Hasan, tetapi juga termasuk hadits yang sangat lemah sekali, diriwayatkan oleh Ibnu al-Jauzi melalui Ahmad bin Ammar (5). Berikut haditsnya: Kami mendapat cerita dari Muhammad bin Mahdi, kami mendapatkannya dari Mahdi bin Hilal (6), aku mendapat cerita ini dari Ibnu Juraih, kemudian disebutkan redaksi berikut ini, "Perpaduan daratan dan lautan, Ilyas dan Khidir dilakukan di Makkah setiap tahunnya." Dia berkata, Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma menyampaikan kepada kami bahwa di antara mereka berdua, salah satu saling mencukur rambut shahabatnya, dan salah seorang di antara mereka berdua berkata, "Bismillahi... dan seterusnya."

Dia menambahkan lagi, Ibnu 'Abbas berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Bila seorang hamba mengamalkan do'a itu setiap hari, insya Allah dia akan aman dari kebakaran, terkena petir, kecurian atau apapun yang dibencinya hingga sore hari, dan demikian pula hingga pagi hari."

Menurut Ibnu al-Jauzi, bagi ad-Daruquthni, Ahmad bin Ammar ini termasuk orang yang meriwayatkan hadits matruk. Mahdi bin Hilal juga orang seperti dia. Ibnu Habban berkata, Mahdi bin Bilal meriwayatkan hadits-hadits maudhu' (palsu). (7)

Melalui Ubaid bin Ishaq al-Attar (8), kami mendapat cerita dari Muhammad bin Muyassar (9), dari 'Abdullah bin Hasan, dari bapaknya, dari kakeknya, dari 'Ali ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata, "Setiap tahun pada hari Arafah, Jibril, Mikail, Israfil dan Khidir berkumpul. Lalu Jibril berkata, 'Apapun yang dikehendaki Allah maka tiada daya dan kekuatan selain Allah.' Lalu Mikail menyambutnya dengan berkata, 'Apapun kehendak Allah, setiap nikmat datangnya hanyalah dari Allah.' Tak lama kemudian Israfil menambahkan, 'Apapun kehendak Allah, kebaikan itu semuanya hanyalah berada di tangan Allah.' Lalu Khidir menimpali, 'Apapun kehendak Allah, keburukan itu tidak akan beranjak pergi kecuali karena Allah.' Kemudian mereka berpisah dan tidak berkumpul hingga tahun berikutnya pada hari yang sama. (10) Ubaid bin Ishaq termasuk orang yang meriwayatkan hadits matruk.

Bersambung...

===

(1) Dalam al-Bidayah wa an-Nihayah 1/333, Muhammad bin Ahmad bin Yazid, dan benar apa yang telah dinyatakan olehnya. Lihat: adh-Dhu'afa' al-Kabir karya al-'Aqili 273.

(2) Pada referensi sebelumnya nama yang betul adalah Amru bin Ashim, lihat at-Taqrib 2/72.

(3) Pada referensi sebelumnya al-Hasan bin Zuraiq, dan dia benar seperti yang telah kami nyatakan. Lihat: adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 273, al-Mizan 1/490.

(4) Bandingkan al-Bidayah wa an-Nihayah 1/333.

(5) Dia adalah Ahmad bin Ammar bin Nashir, dari Malik, Muqil. Lihat: adh-Dhu'afa' karya ad-Daruquthni 47, al-Mizan karya adz-Dzahabi 1/123.

(6) Dia adalah Mahdi bin Hilal, julukannya Abu 'Abdillah, termasuk warga Bashrah. Ad-Daruquthni berkata: Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits matruk, dan dianggap berdusta oleh Ibnu Mu'in, dan Yahya bin Sa'id. Lihat: al-Majruhin 3/30, al-Mizan 4/196.

(7) Lihat kata Ibnu Habban dalam al-Majruhin 3/30.

(8) Dia adalah Ubaidillah bin Ishaq, lemah. Lihat: adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 1091, al-Mizan 3/18, adh-Dhu'afa' karya al-Bukhari 221.

(9) Dia adalah Muhammad bin Muyassar, Abu Sa'id ash-Shaghani. Termasuk hadits matruk sebagaimana dikatakan an-Nasa-i. Al-Hafizh berkata: Hadits ini dha'if, diriwayatkan at-Tirmidzi. Lihat: adh-Dhu'afa' karya al-'Aqili 1702, al-Mizan 4/52, at-Tahdzib 9/484, at-Taqrib 2/212, adh-Dhu'afa' karya an-Nasa-i 540.

(10) Sanadnya dha'if sekali.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan kedua puluh tujuh atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan kedua puluh tujuh:

Pada halaman 154-158, mengenai cara mengusir gangguan jin. Jin muslim berkata:

Bacalah akhir surat Ibrahim di bawah ini pada telapak tanganmu: ...

Kemudian pada halaman 156, dia mengatakan:

Lanjutkan dengan akhir surat al-Mu'minuun di bawah ini: ...

Kemudian pada halaman 157, dia mengatakan:

Selanjutnya teruskan dengan surat al-Falaq: ...

Lalu pada halaman 158, dia mengatakan:

Seterusnya surat an-Nas: ...

Kemudian setelah itu semua, jin muslim mengatakan:

Ketika membaca ayat-ayat di atas, letakkan mulutmu di telapak tangan kananmu, sehingga nafasmu atau sebagian dari ludahmu mengenainya. Kemudian sodorkan telapak tangan kananmu itu di depan mata si sakit, dan mintalah dia melihatnya. Kalau dia sama sekali tidak bisa melihatnya, atau matanya menjadi silau atau nanar atau dia melihat telapak tanganmu berwarna sangat merah atau hitam, atau dia melihat banyak salib di telapak tanganmu itu, atau tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing, atau dia menunjukkan satu gejala yang muncul secara tiba-tiba, maka dia, tidak diragukan, terkena sihir atau kesurupan atau kedua-duanya.

Saya (ustadz 'Abdul Hakim) berkata: Di mana keterangan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang menerangkan untuk mengusir gangguan jin dan sihir dengan cara yang seperti ini? Yaitu dengan membaca akhir surat Ibrahim, kemudian akhir surat al-Mu'minuun, kemudian surat al-Falaq dan an-Nas, kalau surat al-Falaq dan an-Nas saja memang benar ada keterangannya dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Bid'ah idhafiyah (80) itu memang ada sunnahnya, akan tetapi bersama dengan itu selalu ditambah dengan bid'ah. Begitu juga keterangan di atas. Telah diajarkan untuk membaca ayat Kursi dan surat ash-Shaffat. Membaca ayat Kursi memang ada Sunnahnya, akan tetapi bacaan surat ash-Shaffat tidak ada Sunnahnya. Demikian juga dengan bacaan akhir dari surat Ibrahim dan surat al-Mu'minuun, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Kalau kita mau mengusir gangguan jin atau setan, maka cukup membaca surat al-Falaq dan an-Nas atau dengan membaca ayat Kursi, itu sudah cukup. Itulah yang diajarkan oleh Nabi yang mulia Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Bahkan setan sendiri yang telah membuka rahasianya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. (81) Maka cukup bacakan ayat Kursi dengan yakin dan bacaan itu sangat kuat sekali pengaruhnya terhadap setan. Apabila sudah dibaca sekali, namun tidak berhasil, maka baca lagi, masih juga tidak berhasil, maka baca lagi, dan begitu seterusnya sampai berhasil dan jin itu keluar. Insya Allah dengan izin Allah Jalla wa 'Ala, jin itu pasti keluar.

Bisa juga dengan membaca surat al-Falaq dan an-Nas atau bisa juga dengan membaca ta'awwudz atau kita ajak jin itu untuk bicara dengan kita. Kita coba memerintahkannya untuk keluar (82), sebagaimana kita berbicara kepada manusia biasa. Memang kita tidak dapat melihat dia, namun dia yang akan berbicara kepada kita kalau dia mau. Dan kalau dia berbicara kepada kita, maka ajaklah dia untuk keluar. Suruh jin itu untuk keluar dari tubuh orang itu, kalau tidak mau, maka kita ancam dia dan bacakan lagi ayat-ayat Allah Jalla wa 'Ala dan begitu seterusnya. Hendaklah kita melaksanakan yang Sunnah. (83)

Kitapun boleh untuk membaca selain ayat yang telah ditentukan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, akan tetapi tidak menentukan caranya. Adapun keterangan pengarang (Muhammad Isa Dawud dan jin muslim sahabatnya) di atas telah dibuat-buat, yakni dengan menentukan bacaan surat Ibrahim, surat al-Mu'minun dan lain-lain.

Mungkin sekali waktu kita baca al-Qur-anul Karim untuk orang yang kesurupan, misalnya kita baca surat Yasin, lalu orang itu sembuh, maka janganlah setelah itu kita buat ketentuan bahwa surat Yasin itu bacaan buat menyembuhkan orang yang kesurupan. Kalau kebetulan kita baca surat an-Nur kemudian sembuh, maka jangan kita buat ketentuan bahwa surat an-Nur adalah bacaan untuk mengobati sihir, kesurupan dan lain-lain. Mungkin ada orang yang lain yang juga membaca surat an-Nur, tetapi tidak sembuh! Kaidah ini perlu untuk dipahami dengan baik! Al-Qur-an itu keseluruhannya merupakan syifa' (obat). Kita tidak tahu ayat mana yang dapat menolak ini dan itu, kecuali bila ada keterangan dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Adapun dengan membaca ayat Kursi, surat al-Falaq dan an-Nas, maka telah jelas dalilnya dari beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Selebihnya, maka cukup dengan pertolongan dari Allah Sub-haanahu wa Ta'aala.

Bersambung...

===

(80) Adalah suatu macam bid'ah yang apabila dilihat dari satu sisi, disyari'atkan atau ada dalilnya, akan tetapi apabila dilihat dari sisi yang lainnya, maka dia serupa dengan bid'ah haqiqiyah. Lihat keterangannya dalam Risalah Bid'ah karya penulis (ustadz 'Abdul Hakim) hal. 40.

(81) Sebagaimana yang tertera dalam hadits Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu yang telah di-takhrij di muka.

(82) Perlu kiranya bagi saya untuk menukilkan perkataan Imam al-Albani dalam salah satu ceramahnya, yang menasehati mereka yang mengobati orang yang kesurupan jin, agar tidak memperbanyak dialog dengan jin yang ada di tubuh si sakit, lantaran beberapa alasan (diambil dari salah satu kasetnya). Wallaahu A'lam.

(83) Siapa yang ingin mengetahui lebih banyak, bacalah buku Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawaz yang berjudul Do'a dan Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir Menurut al-Qur-an dan Sunnah, karena di situ ada keterangan yang cukup memuaskan, insya Allahu Ta'ala.

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, bantahan terhadap buku Dialog dengan jin Muslim, Penulis: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penyusun: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Penerbit: Darul Qolam, Jakarta - Indonesia, Cetakan kedua, Tahun 1425 H/ 2004 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Baqarah (14-15/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah (14-15/2)

Ibnu Jarir berkata: "Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia akan membalas olokan-olokan mereka itu pada hari Kiamat kelak melalui firman-Nya:

'Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka): 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.'" (QS. Al-Hadiid: 13)

Dia juga berfirman:

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya dosa mereka bertambah." Dan ayat selanjutnya. (QS. Ali 'Imran: 178)

Ibnu Jarir berkata: "Ayat-ayat di atas dan yang serupa dengannya menerangkan olok-olok, cemoohan, makar dan tipu daya Allah Ta'ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang yang menyekutukan-Nya.

Makar Orang-orang Munafik akan Kembali kepada Mereka

Ini merupakan kabar dari Allah Ta'ala bahwa Dia akan membalas olok-olokan mereka serta akan menyiksa mereka akibat tipu daya mereka itu. Dia juga memberitahukan balasan dan hukuman yang akan Dia berikan kepada mereka, bersamaan dengan pemberitahuan bahwa perbuatan mereka itu memang berhak mendapat balasan dan siksaan. Pembalasan ini disebutkan dengan satu lafazh, yaitu istihzaa' (memperolok-olok) walaupun maknanya berbeda antara olok-olok Allah terhadap mereka dan olok-olok mereka terhadap Allah, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (QS. Asy-Syuura: 40)

Dan juga firman-Nya:

"Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerangmu, maka seranglah ia." (QS. Al-Baqarah: 194)

Hal yang disebutkan pertama adalah kezhaliman, sedangkan hal yang disebutkan kemudian (balasan) merupakan keadilan. Meskipun kedua kata itu sama namun maknanya berbeda.

Ibnu Jarir mengatakan: "Seluruh kata semacam ini dalam al-Qur-an harus dibawa kepada pemaknaan seperti itu."

Karena telah disepakati secara ijma' bahwasanya Allah terlepas dari perbuatan makar, tipu daya dan cemoohan yang dilakukan dengan tujuan untuk main-main dan perbuatan sia-sia. Adapun yang Dia lakukan sebagai hukuman dan balasan secara adil maka hal itu tidak mustahil bagi-Nya.

Yang dimaksud dengan al-Madd, ath-Thugh-yaan dan al-'Amah

Tentang firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala:

"Dan (Allah) membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka," as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud dan beberapa orang Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: "Wa yamudduhum (Dan (Allah) membiarkan mereka)" artinya memberi tenggang kepada mereka. (74)

Mujahid mengatakan: "Yamudduhum berarti menambah (kesesatan) mereka." (75)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberi kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar." (QS. Al-Mu'-minuun: 55-56)

Ibnu Jarir mengatakan: "Yang benar adalah Kami memberikan tambahan kepada mereka dengan memberikan tangguh serta membiarkan mereka dalam kesesatan dan keduhakaan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur-an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (QS. Al-An'aam: 110) (76)

"Ath-Thugh-yaan" artinya sikap berlebih-lebihan dalam suatu perkara, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera." (QS. Al-Haaqqah: 11)

Ibnu Jarir berkata: "Ath-Thugh-yaan adalah kesesatan. Dikatakan 'Ya'mahu 'amhan wa umuuhan 'amiha fulaanun' Apabila fulan telah tersesat."

Ibnu Jarir mengatakan: "Makna firman Allah: 'Bergelimang dalam kesesatannya yang sangat," adalah mereka terombang-ambing dalam kesesatan dan kekafiran yang mengotori dan menguasai diri mereka. Mereka bingung, sesat dan tidak menemukan jalan keluar, karena Allah Sub-haanahu wa Ta'aala telah mengunci mati hati mereka dan menutupnya. Juga membutakan pandangan mereka dari petunjuk dan menghalanginya, sehingga mereka tidak dapat melihat petunjuk dan tidak pula mendapatkan jalan keluar." (77)

Bersambung...

===

(74) Tafsiir ath-Thabari 1/311.

(75) Ibnu Abi Hatim 1/57.

(76) Tafsiir ath-Thabari 1/307.

(77) Tafsiir ath-Thabari 1/309.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti?
Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sembuh dengan Satu Titik: Antara Bekam, Thibbun Nabawi, dan Kedokteran Modern (4)

Sembuh dengan Satu Titik

Bagian Pertama

Sekilas Tentang Bekam

Antara Bekam, Thibbun Nabawi, dan Kedokteran Modern (4)

Istilah-istilah bahasa Arab telah menduduki bagian penting dalam ilmu kedokteran. Sebagian dokter yang tinggal di Italia bagian utara, telah menulis buku-buku mereka dengan tetap menuliskan istilah-istilah Arabnya. Hal itu disebabkan mereka tertinggal dalam pengembangan ilmu kedokteran. Beberapa istilah seperti: sirup dari syarab, tarter dari tharthir, tared dari tharahahu, alembic dari anbiq, alkohol dari alkuhul, alkali dari al-qali, borax dari buraq, elixir dari al-iksiir, dan lain sebagainya (adalah nama-nama zat kimia yang sering dipakai dalam kedokteran).

Hingga tahun 1139 M, di eropa masih banyak bentuk pengobatan yang dilakukan secara tahayul dan mengada-ada. Orang-orang bodoh mengaku sebagai dokter, mengobati orang hanya untuk memungut biaya, atau sengaja sebagai alat pesanan untuk melakukan pembunuhan. Sedangkan para dukun melakukan praktik bersalin yang sangat terbelakang. Saat itu, masih banyak bermunculan obat-obatan yang aneh. Sebagian orang mengatakan bahwa sebuah batu apabila dipegang oleh seseorang, maka dapat mencegah kehamilan. Ada pula yang berpendapat bahwa laki-laki yang makan kotoran jerapah akan kuat daya seksnya. Hal ini, karena di eropa saat itu belum tersentuh kedokteran yang didasarkan pada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Seiring berjalannya waktu, para dokter muslim saat itu mengembangkan ilmu kedokteran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam secara menyeluruh, tidak hanya yang tradisional, namun juga kedokteran modern, serta tidak memisahkan antara keduanya. Kaum muslimin juga meletakkan ilmu kedokteran dengan nilai-nilai ilahiyah, dalam bingkai al-Qur-an dan as-Sunnah, sehingga berkembanglah ilmu kedokteran dengan pesat sampai menembus belahan eropa yang saat itu masih gelap gulita jauh dari cahaya ilmu pengetahuan.

Penulis ilmu kedokteran Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang pertama adalah 'Ali bin Sahl bin Rabban ath-Thabari (sekitar tahun 785-861 M). Ia adalah seorang ahli kedokteran yang mampu menyatukan dan memadukan ilmu kedokteran yunani, mesir, persia dan india. Salah satu bukunya berjudul Manaafi'ul Ath'immah (Manfaat Makanan). Ia menulis lebih dari 360 judul buku kedokteran.

Muridnya adalah Abu Bakar ar-Razi (854-932 M) yang terkenal di eropa sebagai dokter yang paling besar di abad pertengahan. Bukunya yang terkenal berjudul al-Hawi, dan oleh raja Charles I tahun 1279 diterjemahkan dalam bahasa latin dengan judul Liber Continens, lalu dialihkan dalam bahasa inggris dengan judul The Book of Continent yang dijadikan buku pegangan dokter di seluruh eropa pada saat itu. Bukunya yang lain berjudul Thibbul Athfaal (Ilmu Kedokteran Anak), Mukhtashar fil Laban (Ringkasan Tentang Air Susu), dan al-Judar wal Hisbah (Small pox and Measles/ Cacar dan Campak).

Sedangkan al-Biruni (961-1048 M) menulis buku besar berjudul Kitab ash-Shaidanah fith Thibb (Buku Tentang Batu-batuan Perak yang Berkhasiat dalam Pengobatan).

Ibnu Sina (980-1037 M) yang oleh orang barat kepandaiannya dianggap sejajar dengan Aristoteles, telah menulis buku yang terbaik, yakni al-Qanun fith Thibb (Canon of Medicine). Buku ini dianggap sejajar dengan Injil di eropa.

Sedangkan Zahrawi (936-1013 M) dianggap sebagai bapak ilmu bedah karena bukunya at-Tashriif. Zahrawi ini menjadi guru panutan para dokter bedah di eropa selama lima abad.

Ilmu kedokteran jiwa dikembangkan oleh Ibnu Maimun (1134-1204 M).

Pengobatan dengan herba dikembangkan oleh Ibnul Bithar (1197-1240 M) dengan bukunya al-Jaami' li Mufradaatil Adwiyah wal Aghdiyah, yang berisikan daftar tanaman obat yang berkhasiat untuk penyembuhan.

Kahin al-Aththar (1360 M) dikenal sebagai ahli farmasi dengan bukunya Management of The Drug Store, Minhajud Dukkan wa Dustuur al-A'yaan fi A'maal wa Taraakiibil Adwiyah an-Naafi'ah lil Abdaan.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Misteri Kematian: Tanda-tanda Su'ul Khatimah, Kisah-kisah Su'ul Khatimah dan Mereka yang Terhalang untuk Meraih Angan

Misteri Kematian

Kematian dan Sakaratul Maut

Tanda-tanda Su'ul Khatimah

Syaikh 'Abdu bin Humaid as-Suhaibati rahimahullaah menyampaikan banyak sekali tanda-tanda yang menunjukkan su'ul khatimah, tanda-tanda ini kadang terlihat pada sebagian orang ketika sakit keras, terlihat marah dan berpaling dari putusan Allah. Semoga Allah melindungi kita dari hal itu. Ada juga yang ketika sekarat mengucapkan kata-kata mengundang murka Allah, atau terhalang untuk mengucapkan kalimat tauhid. Tanda-tanda su'ul khatimah kadang terlihat saat mayit dimandikan, seperti perubahan warna kulit dan lainnya. Ada juga yang terlihat saat mayit diturunkan ke liang kubur, ada juga yang terlihat setelah mayit dimakamkan. (66)

Kisah-kisah Su'ul Khatimah dan Mereka yang Terhalang untuk Meraih Angan

Penulis mendengar kisah seseorang yang sering puasa dan ahli ibadah, suatu ketika ia sakit keras dan ia terkena fitnah, aku mendengar orang itu berkata: "Allah membolak-balikkanku di berbagai macam ujian, andai Allah memberiku Firdaus, Allah belum memenuhi balasan atas musibah-musibah yang menimpaku." Setelah itu ia berkata: "Apa arti ujian ini, bila artinya kematian tentu tidak masalah, tapi penyiksaan ini, apa maksudnya?! (67)

Diriwayatkan dari 'Abdurrahman al-Yami rahimahullaah: "Seseorang ditalqin kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah saat sekarat, orang itu menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, ia tidak berbicara sepatah katapun sepertinya orang itu berkata padaku: Aku tidak akan mengucapkannya." (68)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullaah berkata: "Seseorang memberitahu tentang seorang kerabatnya kepadaku, ia seorang pedagang kain, saat sekarat ia berkata: Ini sepotong kain bagus, sesuai ukuranmu, ini murah seharga sekian dan sekian. Ia terus mengucapkan seperti itu hingga mati." (69)

Rabi' bin Murrah bin Ma'bad al-Juhani rahimahullaah berkata, ia adalah sosok ahli ibadah di Bashrah: "Aku menemui beberapa orang di Syam, suatu ketika dikatakan kepada seseorang yang tengah sekarat: Hai fulan, ucapkan: Laa ilaaha illallaah. Ia malah berkata: Minumlah dan beri aku minum." (70)

Dikisahkan kepada kami, suatu ketika ada seorang calo perdagangan sekarat, ada yang berkata padanya: Ucapkan: Laa ilaaha illallaah. Ia malah berkata: Tiga setengah, empat setengah. Percaloan telah menguasai pikirannya." (71)

Penulis pernah melihat seorang akuntan sekarat, ia menghitung dengan jari-jarinya. Dikatakan kepadanya: Ucapkan: Laa ilaaha illallaah. Ia malah mengucapkan: Rumah si A, perbaiki bagian ini dan itunya. Taman si B, kerjakan ini dan itu." (72)

Dikatakan kepada yang lain: Ucapkan: Laa ilaaha illallaah. Ia justru mencemooh: Kau bodoh. (73)

Dikatakan kepada yang lain: Ucapkan: Laa ilaaha illallaah. Ia justru mengucapkan: Lembu kuning. Rasa cinta dan kesibukan mengurus lembu kuning telah menguasainya.

Semoga Allah dengan karunia dan kemuliaan-Nya berkenan menyelamatkan kita dan mematikan kita di atas kalimat syahadat. (74)

Syaikh 'Abdu bin Humaid as-Suhaibati rahimahullaah menuturkan, sebuah peristiwa terjadi di Qasim beberapa tahun lalu. Beritanya tersebar luas kemanapun. Kisah singkatnya, saat seseorang sekarat, ia menentang Rabb dengan jelas. Sebagian teman yang biasa shalat bersamanya di masjid datang menghampiri, Allah Maha Mengetahui isi hati orang itu. Temannya berkata: "Wahai hamba Allah, mushaf yang kau baca ini, bertakwalah kepada Allah dalam dirimu (jangan mencela mushaf). Ia menalqinkan kalimat tauhid. Di akhir kisah temannya bilang: Ia mengingkari mushaf dan kalimat Laa ilaaha illallaah. Usianya ditutup dengan kondisi seperti itu." (75)

Bersambung...

===

(66) At-Tahdzir min Su'il Khatimah, as-Suhaibati, hal. 31.

(67) Tadzkiratul Ikhwan bikhatimatil Insan hal. 45.

(68) Tadzkiratul Ikhwan bikhatimatil Insan hal. 45.

(69) Thariqul Hijratain hala. 308.

(70) At-Tadzkirah, Qurthubi, hal. 36-37.

(71) At-Tadzkirah, Qurthubi, hal. 36-37.

(72) At-Tadzkirah, Qurthubi, hal. 37.

(73) At-Tadzkirah, Qurthubi, hal. 37.

(74) At-Tadzkirah, Qurthubi, hal. 37.

(75) At-Tahdzir min Su'il Khatimah hal. 32.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan II, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah: Do'a Khidir

Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah

Bagian I

Sosok Khidir yang Sebenarnya

Bab 9

Do'a Khidir 'alaihis salaam

Ibnu Syahin berkata, Musa bin Anas bin Khalid bin 'Abdullah bin Thalhah bin Musa bin Anas bin Malik menuturkan kepada kami, kami mendapatkan cerita ini dari bapakku, dan bapakku memperolehnya dari Muhammad bin 'Abdullah al-Anshari, kami mendapatkannya dari Hatim bin Abi Ruwad, dari Mu'adz bin 'Abdullah bin Abu Bakar, dari bapaknya, dari Anas ra-dhiyallaahu 'anhu, dia berkata: Suatu malam Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk suatu keperluan, aku juga ikut keluar berjalan di belakangnya. Kemudian kami mendengar orang berdo'a, "Ya Allah, berikanlah aku rasa kerinduan yang dipunyai para orang shalih, hingga kerinduan yang mereka rasakan itu dapat tercapai." Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bergumam, "Kalau saja dia juga melengkapi do'a tersebut dengan sandingannya," lalu kami mendengar dia berdo'a, "Ya Allah, aku mohon padamu agar Engkau sudi menolongku terhindar dari sesuatu yang membuatku takut." Kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Do'anya terkabul. Wahai Anas, datangilah orang tersebut, lalu minta kepadanya untuk mendo'akan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, agar Allah membukakan hati ummatnya, agar selalu menerima risalah yang dibawanya, dan selalu memberikan pertolongan dengan apa yang dibawanya berupa kebenaran dan menerima kebenaran itu."

Anas ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, lalu aku mendatangi orang tersebut, dan aku berkata, "Wahai hamba Allah, do'akanlah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Kemudian dia berkata kepadaku, "Siapakah dirimu?" Aku enggan memberi tahu dia, karena aku belum meminta izin pada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Tapi dia menolak untuk berdo'a hingga aku memberitahunya. Lalu, aku kembali kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan aku ceritakan kejadiannya. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berkata, "Beritahu dia yang sebenarnya." Lalu aku kembali lagi kepadanya dan berkata, "Aku adalah utusan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepadamu." Dan dia menjawab, "Selamat datang, wahai utusan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam." Lalu dia berdo'a untuk Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Dan dia berkata, "Sampaikanlah salamku, dan katakan padanya bahwa aku adalah saudaramu Khidir, sebenarnya akulah yang mesti mendatangi beliau." Anas berkata, ketika aku menguasai apa yang telah aku dengar darinya, dia berkata lagi, "Ya Allah jadikanlah aku termasuk di antara ummat yang dikasihi, yang mendapatkan taubat terhadap kesalahan-kesalahannya."

Dalam kitabnya al-Afraad, ad-Daruquthni mengatakan bahwa Ahmad bin al-'Abbas al-Baghawi menuturkan kepada kami, Anas bin Khalid menuturkan kepada kami, aku mendapat cerita dari Muhammad bin 'Abdillah. Dia ini adalah Abu Salmah al-Anshari dan dia juga termasuk orang yang sangat lemah dalam periwayatan hadits. Dia bukan salah seorang guru al-Bukhari yang menjadi hakim di Bashrah, yang mempunyai derajat tsiqah (terpercaya) itu. Karena dia lebih dulu hidup sebelum Abu Salmah. Diriwayatkan pada kami dalam Fawaid Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Mazni, melalui periwayatan yang disebutkan ad-Daruquthni.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Menguak Misteri Khidir Dalam Pandangan Sunnah, Penulis: Ibnu Hajar al-Asqalani, Penerjemah: H.M. Nasri, Lc, Penerbit: IIMaN dan Hikmah, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Januari 2003 M/ Dzulqa'adah 1423 H.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com

===

Bisakah anda menjadi agen properti? Bisakah anda meraih keuntungan dengan memposisikan diri di antara pemilik dan pembeli? Jawab: BISA
1) tanpa punya pengalaman apapun di bidang properti
2) tanpa modal
3) tetap di pekerjaan atau bisnis anda sekarang
4) tetap tinggal di kota anda

Untuk info dan daftar GRATIS, klik: http://tinyurl.com/ppamr9b

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Manusia dan Harta (2) | Anda dan Harta

Anda dan Harta

Kisah Rezeki dan Harta

Manusia dan Harta (2)

Jadi, asal dari harta adalah milik Allah. Bahkan bumi dan segala isinya adalah milik Allah. Sebelum manusia diciptakan, bumi bukan milik siapapun, begitu juga setelah semuanya binasa. Sesungguhnya Allah menghendaki siapa saja untuk menjadi khalifah di wilayah tertentu dengan batas tertentu. Kemudian menjadikan orang lain khalifah setelah mereka. Begitulah seterusnya sampai hari Kiamat.

Penguasa sejati dari harta adalah Allah, bukan manusia. Manusia hanyalah pengganti dan wakil Allah dalam menggunakan harta. Dia (manusia) tidak boleh menggunakannya kecuali sesuai dengan apa yang diridhai Allah. Allah mengajarkan pada manusia untuk mendermakan hartanya. Allah menjadikan harta manusia sebagai pinjaman, karena dia mendapatkan dari orang-orang sebelumnya. Dia (manusia) juga akan meninggalkan harta untuk orang-orang sesudahnya. Oleh karena itu Allah memberi petunjuk berupa memanfaatkan harta, sebelum ditinggalkan, ke jalan Allah dan untuk taat kepada-Nya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya Allah berfirman, 'Sesungguhnya Kami menurunkan harta untuk mendirikan shalat dan membayar zakat'." (1)

Seandainya mereka melakukan itu, maka mereka mendapatkan pahala yang besar. Jika tidak, maka mereka akan dihisab karena hartanya, dan akan disiksa karena meninggalkan kewajiban dalam harta.

Ayat di atas menjelaskan bahwa harta mereka akan mereka tinggalkan. Jika ahli waris mereka taat kepada Allah, maka ahli waris lebih bahagia sebab harta yang mereka terima berasal dari orang tuanya. Jika mereka maksiat kepada Allah, maka mereka telah membantu ahli warisnya dalam dosa dan kemungkaran. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Siapakah dari kalian yang harta ahli warisnya lebih dicintai daripada hartanya sendiri?' Para Shahabat ra-dhiyallaahu 'anhum berkata, 'Tidak seorang pun dari kami kecuali mencintai hartanya.' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda lagi,

'Sesungguhnya hartanya adalah apa yang telah ia gunakan dan harta yang ditinggal adalah harta ahli warisnya." (2)

Maksudnya bahwa harta seseorang menjadi milik ahli warisnya setelah ia meninggal dunia, walau sebelumnya menjadi miliknya. Apa yang ia dermakan dari hartanya, itulah yang menjadi miliknya dalam hidup dan setelah kematian. Oleh karena itu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Seorang hamba berkata, 'Hartaku, hartaku!' Sesungguhnya yang menjadi miliknya dari hartanya adalah tiga: Apa yang ia makan dan sirna, apa yang ia pakai dan usang, dan apa yang ia dermakan akan terkumpul. Selain dari yang tiga itu, maka akan hilang dan ia tinggalkan untuk orang lain." (3)

Jadi harta seseorang adalah apa yang ia makan, ia pakai dan ia dermakan. Yang selain itu akan ia tinggalkan untuk ahli warisnya.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

(1) Musnad Ahmad 21803. Hamzah Ahmad az-Zain berkata: Isnad hadits ini shahih.

(2) HR. Al-Bukhari, kitab ar-Riqaq, bab Ma Qaddama min Malihi fa Huwa Lahu.

(3) HR. Muslim, kitab az-Zuhd.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah