Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (5/3)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (5/3)

Tauhid Uluhiyyah

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata: Iyyaaka na'budu (Hanya kepada-Mu kami beribadah), yakni hanya Engkau semata yang kami esakan, kami takuti, dan kami harapkan wahai Rabb kami, bukan selain-Mu."

Tauhid Rububiyyah

Wa iyaaka nasta'iin (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), untuk mentaati-Mu dan dalam segala urusan kami. (64)

Qatadah berkata: "Iyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Dia memerintahkan kepada kalian agar mengikhlaskan ibadah dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian." (65)

"Iyyaaka na'budu (Hanya kepada-Mu kami beribadah)" didahulukan dari "wa iyyaaka nasta'iin (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)", karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan. Dan meminta pertolongan merupakan wasilah (sarana) untuk mendapatkannya. Dan perkara yang didahulukan adalah perkara yang lebih penting, dan seterusnya. Wallaahu a'lam.

Allah menyebut Nabi-Nya sebagai hamba yang menduduki maqam yang paling mulia

Allah telah menyebut Nabi-Nya sebagai hamba-Nya yang menjadi bukti bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memiliki kedudukan mulia. Dia berfirman:

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur-an)." (QS. Al-Kahfi: 1)

Dia juga berfirman:

"Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyeru-Nya (mengerjkan ibadah)." (QS. Al-Jinn: 19)

Dia juga berfirman:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-Israa': 1)

Allah menyebutnya (Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sebagai seorang hamba ketika menurunkan al-Qur-an kepadanya, ketika beliau berdakwah dan ketika beliau diperjalankan pada malam hari.

Bimbingan kepada ibadah ketika dada terasa sempit

Dan Allah membimbing Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk senantiasa menjalankan ibadah ketika hati merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadami menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan ibadahilah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 97-99)

Bersambung...

===

(64) Ibnu Abi Hatim 1/19.

(65) Ibnu Abi Hatim 1/20.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (5/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (5/2)

Al-Faatihah adalah petunjuk agar kita memuji Allah, maka kita wajib membacanya ketika shalat

Ini merupakan dalil bahwasanya awal-awal surat al-Faatihah merupakan pemberitahuan dari Allah 'Azza wa Jalla yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut. Oleh karena itu tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Faatihah di dalamnya, sedangkan ia mampu melakukannya, sebagaimana hadits yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari 'Ubaidah bin ash-Shamit radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab.'" (62)

Dan dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku telah membagi shalat (bacaan al-Faatihah) menjadi dua bagian antara diriku dengan hamba-Ku. Satu bagian untuk diri-Ku dan satu bagian untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.' Jika ia mengucapkan al-hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.' Jika ia mengucapkan ar-Rahmaanir Rahiim, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.'" Dan pernah Abu Hurairah mengatakan: "(Allah berfirman:) 'Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.' Jika ia mengucapkan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, maka Allah berfirman: 'Ini adalah bagian diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.' Dan jika ia mengucapkan ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim wa ladhdhaalliin, maka Allah berfirman: 'Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.'" (63)

Bersambung...

===

(62) Fat-hul Baari 2/276 dan Muslim 1/276. Al-Bukhari no. 756, Muslim no. 394.

(63) Muslim 1/297. Muslim no. 395, an-Nasa-i no. 909. Dan riwayat senada oleh Abu Dawud no. 821, at-Tirmidzi no. 2953, Ibnu Majah no. 3784, Ahmad no. 7289, 7823, dan lihat Shahiih at-Targhiib no. 1455.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (5)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (5)

Tafsir ad-Diin

Kata ad-diin berarti pembalasan dan perhitungan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya." (QS. An-Nuur: 25)

Dia juga berfirman:

"Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (QS. Ash-Shaaffaat: 53)

Yakni pembalasan dan perhitungan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Al-Kayyis (orang cerdas dan kuat) adalah orang yang senantiasa bermuhasabah (mengintrospeksi dirinya) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian." (60)

Artinya, ia akan senantiasa menghisab dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh 'Umar radhiyallaahu 'anhu:

"Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri ('amal) kalian sebelum diri ('amal) kalian ditimbang. Dan bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya 'amal seseorang, sementara semua 'amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya. 'Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).' (QS. Al-Haaqqah: 18)." (61)

Al-Faatihah, Ayat 5

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.
Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. (QS. 1: 5)

Makna 'Ibadah Menurut Bahasa dan Istilah Syari'at

Menurut bahasa 'ibadah bermakna kerendahan. Dikatakan: "Thariiqun mu'abbad wa ba'iirun mu'abbad (jalan yang diratakan dan unta yang dijinakkan)", yakni ditundukkan.

Adapun menurut istilah syari'at, 'ibadah adalah sebuah ibarat bagi rangkaian cinta, ketundukan dan rasa takut yang sempurna.

Faedah Didahulukannya Maf'ul dan Kemudian Diulangi

Didahulukannya maf'ul (obyek) yaitu kata iyaaka, dan setelah itu diulangi lagi, bertujuan untuk mendapatkan perhatian, dan juga sebagai pembatasan. Artinya: "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu."

Inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan agama ini secara keseluruhan kembali kepada dua makna di atas.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf, bahwa surat al-Faatihah adalah rahasia al-Qur-an. Dan rahasia al-Faatihah terletak pada ayat:

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.
"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."

Penggalan pertama, yakni "hanya kepada-Mu kami beribadah" merupakan pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yakni "hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan, serta berserah diri kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Makna seperti ini tidak hanya terdapat dalam satu ayat al-Qur-an saja, seperti firman-Nya:

"Maka ibadahilah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud: 123)

Juga firman-Nya:

"Katakanlah: 'Dialah Allah Yang Maha Pemurah, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakkal." (QS. Al-Mulk: 29)

Dan juga firman-Nya:

"(Dialah) Rabb masyriq (timur) dan maghrib (barat), tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung." (QS. Al-Muzzammil: 9)

Demikian juga ayat yang mulia ini:

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Faatihah: 5)

Dan adanya perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhaathab (orang kedua/ lawan bicara), yakni dengan huruf kaf, karena ketika seseorang memuji Allah maka seolah-olah dia dekat dan hadir di hadapan Allah Ta'ala. Karena itulah Dia berfirman:

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Faatihah: 5)

Bersambung...

===

(60) Ibnu Majah 2/1423. Dha'if: At-Tirmidzi no. 2459, Ibnu Majah no. 4260, Ahmad 4/124 dan didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Dha'iiful Jaami' no. 4310 dan Syaikh al-Arna'uth hafizhahullaah, al-Musnad 28/350 no. 17123, cet. Ar-Risalah.

(61) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 34459, cet. Maktabah ar-Rusyd, Riyadh.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (3-4/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (3-4/2)

Makna Yaumud Diin

Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata: "Hari Pembalasan adalah hari Perhitungan bagi semua makhluk, disebut juga hari Kiamat. Mereka diberi balasan sesuai dengan 'amalnya. Jika 'amalnya baik, maka balasannya juga baik. Dan jika 'amalnya buruk, maka balasannya pun buruk kecuali bagi orang yang diampuni." (56)

Hal serupa juga dikatakan oleh Shahabat lainnya radhiyallaahu 'anhum, Tabi'in dan juga para 'ulama Salaf. Dan inilah pendapat yang jelas.

Raja dan Raja Diraja adalah Allah

Raja yang hakiki adalah Allah 'Azza wa Jalla, Dia berfirman:

"Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera." (QS. Al-Hasyr: 23)

Dalam kitab ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim), diriwayatkan sebuah hadits marfu' dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seorang yang menjuluki dirinya malikul mulk (raja diraja), (karena) tidak ada raja yang sebenarnya kecuali Allah." (57)

Dalam kitab yang sama diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Allah (pada hari Kiamat) akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: 'Di manakah raja-raja bumi? Di manakah mereka yang merasa perkasa? Di mana orang-orang yang sombong?'" (58)

Sedangkan di dalam al-Qur-an disebutkan:

"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (QS. Al-Mu'-min: 16)

Adapun penyebutan raja bagi selain Allah di dunia hanyalah bersifat majas (kiasan), sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." (QS. Al-Baqarah: 247)

Juga firman-Nya:

"Karena di hadapan mereka ada seorang raja." (QS. Al-Kahfi: 79)

Dan juga firman-Nya:

"Ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu orang-orang merdeka." (QS. Al-Maa-idah: 20)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits:

"Seperti raja-raja di atas singgasana." (59)

Bersambung...

===

(56) Ibnu Abi Hatim 1/19.

(57) Fat-hul Baari 1/604 dan Muslim 3/1688. Al-Bukhari no. 6205, 6206, Muslim no. 2143(20), Abu Dawud no. 4961, at-Tirmidzi no. 2837, Ahmad no. 7325.

(58) Fat-hul Baari 13/404 dan Muslim 4/2148. Al-Bukhari no. 4812, 6519, 7382, Muslim no. 2788(23), Ahmad no. 8850.

(59) Fat-hul Baari 6/89 dan Muslim 3/1518. Al-Bukhari no. 2877, Muslim no. 1912, an-Nasa-i no. 3171 dengan lafazh Mitslu (مِثْلُ).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (3-4)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (3-4)

Al-Faatihah, Ayat 3

Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Ar-Rahmaanir Rahiim."
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1: 3)

Telah dijelaskan pada pembahasan basmalah, sehingga tidak perlu diulang kembali. Al-Qurthubi berkata: "Allah menyifati diri-Nya dengan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim setelah Rabbul 'aalamiin, untuk menyertai anjuran (targhiib) setelah peringatan (tarhiib). Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr: 49-50)

Dan juga firman-Nya:

"Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-An'aam: 165) (54)

Selanjutnya al-Qurthubi mengatakan: "Ar-Rabb merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim merupakan anjuran."

Dalam Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang bersemangat untuk meraih Surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya." (55)

Al-Faatihah, Ayat 4

"Maaliki yaumid diin."
Yang menguasai hari pembalasan. (QS. 1: 4)

Makna Pengkhususan al-Maalik (Penguasa) pada Hari Pembalasan

Pengkhususan kekuasaan pada hari Pembalasan tidaklah menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan lainnya (kerajaan di dunia). Karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Di adalah Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya itu umum, baik di dunia maupun di akhirat. Disandarkannya (al-Maalik) kepada kalimat yaumid diin (hari Pembalasan), karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-aku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Pada hari ketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaff-shaff, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar." (QS. An-Naba': 38)

Dan Allah berfirman:

"Dan merendahlah semua suara kepada Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja." (QS. Thaahaa: 108)

Dia juga berfirman:

"Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (QS. Huud: 105)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma tentang Maaliki yaumid diin, ia berkata: "Pada hari itu hukum hanyalah milik Allah, tidak seperti ketika mereka hidup di dunia."

Bersambung...

===

(54) Al-Qurthubi 1/139.

(55) Muslim 4/2109. Muslim no. 2755(23), at-Tirmidzi no. 3542, Ahmad no. 8396, 9153, 10285 dan lihat Shahiih at-Targhiib no. 3379.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr (2) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Dua.

Kajian Ramadhan.

Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr (2).

Allah menyatakan bahwa ia adalah malam yang penuh berkah disebabkan karena banyaknya kebaikan, keberkahan dan keutamaannya. Di antara berkahnya adalah diturunkannya al-Qur-an yang penuh berkah di malam itu. Allah juga menyifatinya sebagai waktu dimana segala urusan yang penuh hikmah itu dijelaskan. Maksudnya, ketika itu urusan yang penuh hikmah itu disampaikan secara terperinci dari Lauh Mahfuzh, kepada para Malaikat pencatat mengenai segala hal yang akan terjadi atas perintah dari Allah pada tahun itu, baik yang berupa rezeki, ajal, kebaikan, keburukan dan sebagainya dari setiap urusan yang penuh dengan hikmah di antara urusan-urusan Allah yang sama sekali tidak mengandung cacat, kekurangan, kebodohan dan kebatilan. Semuanya itu menjadi takdir dari Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur-an) pada Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadr itu? Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr (97): 1-5)

Arti dari kata al-qadr itu adalah kemuliaan (asy-syaraf) dan pengagungan (at-ta'zhim). Atau bisa juga bermakna taqdir dan qadha'. Sebab, Lailatul Qadr adalah malam yang mulia dan agung, dimana Allah menakdirkan apa yang akan terjadi dalam setahun dan memutuskannya (menentukan qadha'nya) yang berupa urusan-urusan yang penuh dengan hikmah. "Malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan." (QS. Al-Qadr (97): 3)

Maksudnya adalah dalam hal keutamaan, kemuliaan, dan banyaknya pahala. Oleh karena itu, orang yang mengerjakan shalat pada malam itu yang didasari dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu. "Pada malam itu turun Malaikat-malaikat dan juga ar-Ruh (Jibril)." (QS. Al-Qadr (97): 4)

Para Malaikat adalah bagian dari hamba-hamba yang senantiasa beribadah kepada-Nya siang dan malam. "Malaikat-malaikat yang di sisi-Nya itu tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya." (QS. Al-Anbiya' (21): 19-20)

Mereka turun pada malam Lailatul Qadr itu ke bumi dengan membawa kebaikan, berkah dan rahmat. Termasuk di antara mereka adalah Malaikat ar-Ruh, yaitu Jibril 'alaihis salaam. Jibril ini sengaja disebut tersendiri karena kemuliaan dan keutamaan yang dimilikinya.

"Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr (97): 5). Maksudnya adalah bahwa malam itu merupakan malam kedamaian bagi orang-orang yang beriman dari segala hal yang menakutkan karena banyaknya orang yang ketika itu dibebaskan dari Neraka dan diselamatkan dari adzabnya.

"Sampai terbit fajar." Maksudnya, malam Lailatul Qadr itu berakhir dengan terbitnya fajar bersamaan dengan berakhirnya amalan ibadah malam.

Dalam surat yang mulia ini disebutkan berbagai keutamaan Lailatul Qadr.

Keutamaan pertama: Di dalamnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan al-Qur-an, yang dengannya ummat manusia mendapatkan petunjuk serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Keutamaan kedua: Kalimat tanya yang disebutkan dalam ayat tersebut menunjukkan keagungannya, yaitu firman Allah: "Tahukah kamu apakah malam kemuliaan (Lailatul Qadr) itu?" (QS. Al-Qadr (97): 2)

Keutamaan ketiga: Ia lebih baik dari seribu bulan.

Keutamaan keempat: Para Malaikat turun ke bumi pada malam itu, dan mereka tidaklah turun kecuali dengan membawa kebaikan, berkah dan rahmat.

Keutamaan kelima: Ia merupakan malam kedamaian (keselamatan) dan kesejahteraan, karena banyaknya orang yang selamat dari hukuman dan adzab, disebabkan ketaatan yang dilakukan para hamba kepada Allah 'Azza wa Jalla pada waktu itu.

Keutamaan keenam: Mengenai keutamaan Lailatul Qadr itu Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan satu surat utuh yang akan terus dibaca hingga hari Kiamat.

Baca selanjutnya: Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr (3)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (2/3)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (2/3)

Alif Laam pada Kata al-Hamdu untuk Istighraq

Alif Laam pada kata al-hamdu dimaksudkan untuk istighraq, yakni untuk mencakup segala jenis dan bentuk pujian hanya bagi Allah semata. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

"Ya Allah, bagi-Mu segala pujian seluruhnya, dan bagi-Mu seluruh kerajaan. Di tangan-Mu seluruh kebaikan dan kepada-Mu kembali segala urusan." (52)

Makna ar-Rabb

Ar-Rabb adalah pemilik, penguasa dan pengatur. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada siapa yang berbuat untuk perbaikan. Semua itu benar bagi Allah Ta'ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain Allah, kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya rabbud daar (pemilik rumah). Sedangkan nama ar-Rabb (secara mutlak) hanya boleh digunakan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Dan ada yang mengatakan bahwa itu adalah al-ismul a'zham (nama yang agung).

Makna al-'Aalamiin

Al-'Aalamiin adalah jamak dari 'alam yang berarti segala sesuatu yang ada selain Allah 'Azza wa Jalla. 'Aalam adalah bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk mufrad (bentuk tunggal). Al-'Awaalim berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan maupun lautan. Dan setiap kurun atau generasi juga disebut 'aalam. Al-Farra' dan Abu 'Ubaid mengatakan: "Al-'Aalam adalah sebuah ungkapan bagi sesuatu yang berakal, yakni manusia, jin, Malaikat dan syaitan. Dan hewan tidak disebut alam."

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dan Abu Muhaishin: "Al-'Aalam adalah segala sesuatu yang memiliki ruh dan hidup."

Qatadah berkata: "(Rabbil 'aalamiin) maka 'aalamiin adalah seluruh bentuk alam." Az-Zajjaj mengatakan: "Al-'Aalam adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia maupun akhirat."

Al-Qurthubi berkata: "Inilah yang benar, karena ia mencakup seluruh alam (dunia dan akhirat), sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Fir'aun bertanya: 'Siapa Rabb semesta alam itu?' Musa menjawab: 'Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya (itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang) yang mempercayai-Nya." (QS. Asy-Syu'araa': 23-24)

Alasan Penamaan al-'Aalam

Kata al-'aalam terbentuk (musytaq) dari kata al-'allaamah. Aku (Ibnu Katsir) katakan: "Sebab, alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta menunjukkan keesaan-Nya." (53)

Bersambung...

===

(52) At-Targhiib wat Tarhiib 2/253.

(53) Al-Qurthubi 1/139.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (2/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (2/2)

Ucapan-ucapan Salaf tentang al-Hamdu

Dan diriwayatkan oleh selain Abu Ma'mar, dari Hafsh, ia berkata: "'Umar radhiyallaahu 'anhu berkata kepada 'Ali radhiyallaahu 'anhu -dan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum berada di sisinya-: 'Kami telah mengetahui tentang Laa ilaaha illallaah, Sub-haanallaah, dan Allaahu Akbar. Lalu apa al-Hamdulillaah itu?' Maka 'Ali menjawab: 'Ia adalah kalimat yang disukai oleh Allah Ta'ala bagi diri-Nya dan Dia meridhainya bagi diri-Nya serta menyukai kalimat itu diucapkan'." (46)

Dan Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhu berkata: "Al-Hamdulillaah adalah kalimat syukur. Apabila seorang hamba mengucapkan al-hamdulillaah, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku." Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (47)

Keutamaan al-Hamdu

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari' radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: 'Wahai Rasulullah, maukah engkau aku puji dengan segala pujian seperti yang aku berikan kepada Rabbku Tabaaraka wa Ta'aala?' Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: '(Tidak!) Adapun Rabbmu 'Azza wa Jalla sesungguhnya Dia menyukai al-hamdu'." Diriwayatkan juga oleh an-Nasa-i. (48)

Diriwayatkan oleh Abu 'Isa al-Hafizh at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadits Musa bin Ibrahim bin Katsir, dari Thalhah bin Khurrasy dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sebaik-baik dzikir adalah kalimat Laa ilaaha illallaah, dan sebaik-baik do'a adalah al-Hamdulillaah.'"

At-Tirmidzi mengatakan: "(Hadits hasan) ini gharib." (49)

Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah Allah menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan al-hamdulillaah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik dari apa yang diambil-Nya." (50)

Di dalam kitab Sunan Ibni Majah diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:

'Sesungguhnya seorang dari hamba Allah mengucapkan:

Yaa Rabbi, lakal hamdu kamaa yanba-ghii lijalaali waj-hika wa li'a-zhiimi sul-thaanika
'Ya Rabbku, segala puji bagi-Mu sebagaimana yang layak bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu.' Maka hal itu membingungkan dua Malaikat (pencatat), mereka tidak tahu bagaimana mencatatnya, maka keduanya naik ke langit menemui Allah, seraya berkata: 'Wahai Rabb kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan sebuah ucapan yang kami tidak tahu bagaimana mencatatnya.' Maka Allah bertanya -dan Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya-: 'Apa yang diucapkan hamba-Ku?' Kedua Malaikat itu menjawab: 'Wahai Rabb, dia mengatakan: 'Bagi-Mu segala puji sebagaimana kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu.' Maka Allah berfirman: 'Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku, hingga ia bertemu dengan-Ku lalu Aku memberinya balasan karenanya.'" (51)

Bersambung...

===

(46) Ibnu Abi Hatim 1/15.

(47) Ibnu Abi Hatim 1/13.

(48) Ahmad 3/435 dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 4/416. Hasan: Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Adabul Mufrad no. 660.

(49) Tuhfatul Ahwadzi 9/324, an-Nasa-i dalam al-Kubra 6/208 dan Ibnu Majah 2/1249. Hasan: at-Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800. Lihat Shahiih at-Targhiib no. 1526.

(50) Ibnu Majah 2/1250. Shahih: Ibnu Majah no. 3805. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih Jami' ash-Shaghiir no. 5563.

(51) Ibnu Majah 2/1249. Dha'if: Ibnu Majah no. 3801. Lihat Dha'iif at-Targhiib wat Tarhiib no. 961.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Dua.

Kajian Ramadhan.

Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr.

Segala puji bagi Allah. Dzat yang mengetahui segala yang terbuka maupun rahasia, yang mengalahkan orang-orang sombong dengan kemuliaan dan keperkasaan-Nya. Ia kuasa menghitung tetesan air yang mengalir di sungai. Yang mendatangkan kegelapan malam kemudian menghapusnya dengan cahaya fajar. Ia memberikan pahala yang penuh kepada para hamba-Nya yang beribadah kepada-Nya dan menyempurnakannya. Ia mengetahui mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada. Allah memberikan rezeki secara menyeluruh kepada para makhluk-Nya tanpa terkecuali, sehingga tidak pernah membiarkan seekor semut pun yang ada di pasir atau anak burung di dalam sarangnya. Semuanya butuh kepada-Nya.

Allah mengutamakan sebagian dari makhluk-Nya atas sebagian yang lain, sampai pun mengenai waktu. Allah menjadikan malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan.

Aku memuji Allah dengan pujian yang tiada batas dan hitungannya, dan aku bersyukur (terima kasih) kepada-Nya dengan syukur yang justru akan mendatangkan tambahan dari-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali hanya Allah, Dzat yang tidak mempunyai sekutu, dengan persaksian yang murni dari dasar keyakinan hati. Aku bersaksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Allah senantiasa mencurahkan shalat dan salam kepada beliau, kepada Abu Bakar yang senantiasa menjadi teman beliau dalam keadaan lapang maupun sempit, kepada 'Umar yang menjadi penguat dan pelindung Islam, kepada 'Utsman yang telah menghimpun Kitab Allah, kepada 'Ali yang telah berhasil memenangkan berbagai pertempuran perang dengan keberaniannya, serta kepada keluarga dan para Shahabat beliau seluruhnya.

Saudara sekalian, pada bagian sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan) yang dimuliakan oleh Allah atas malam-malam lainnya. Allah memberikan anugerah kepada ummat ini dengan karunia dan kemurahan-Nya yang sangat besar. Allah menyebutkan keutamaan malam ini dalam Kitab-Nya dengan mengatakan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus Rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Rabbmu dan Rabb bapak-bapakmu yang terdahulu." (QS. Ad-Dukhan (44): 3-8)

Baca selanjutnya: Meningkatkan Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir dan Mencari Lailatul Qadr (2)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (2)

Al-Faatihah, Ayat 2

Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. (QS. 1: 2)

Makna Kata al-Hamdu, -pent.

Abu Ja'far bin Jarir berkata: "Makna al-Hamdulillaah adalah bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah Dia ciptakan, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada para hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya. Kenikmatan tersebut berupa kemudahan berbagai sarana untuk menaati-Nya dan anugerah berupa kekuatan fisik untuk dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya. Selain itu Dia telah memberikan rizki kepada mereka di dunia serta melimpahkan berbagai macam kenikmatan dalam hidup mereka, yang (pada dasarnya) mereka sama sekali tidak memiliki hak atas hal itu. Pelimpahan nikmat ini disertai dengan peringatan dan seruan kepada mereka agar menggunakan nikmat-nikmat itu sebagai sebab-sebab (sarana-sarana) yang dapat membawa mereka kepada kekekalan hidup di Surga tempat segala macam kenikmatan yang abadi. Hanya bagi Allah segala puji, di awal maupun di akhir." (44)

Ibnu Jarir rahimahullaah mengatakan: "Al-Hamdulillaahi merupakan pujian Allah bagi diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memuji diri-Nya, seolah-olah Dia mengatakan: 'Ucapkanlah al-Hamdulillaah'."

Ada yang mengatakan bahwa ucapan al-Hamdulillaah adalah pujian bagi Allah dengan Nama-nama-Nya yang husna (baik) dan sifat-sifat-Nya yang 'ulya (tinggi). Adapun ucapan asy-Syukru lillaah adalah pujian bagi-Nya atas segala nikmat dan pertolongan-Nya. (45)

Perbedaan antara al-Hamdu dan asy-Syukru

Setelah diteliti, antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Al-Hamdu lebih umum dari asy-Syukru jika dilihat dari obyeknya, karena al-hamdu bisa dikaitkan dengan sifat-sifat lazim (tidak berkaitan dengan obyek) dan juga sifat-sifat muta'addi (yang berkaitan dengan obyek) seperti engkau mengatakan: hamid-tuhu lifuruu siyyatihi "حَمِدْتُهُ لِفُرُوْسِيَّتِهِ" (aku memujinya karena sifatnya yang kesatria) dan bisa juga engkau mengatakan: hamid-tuhu likara mihi "حَمِدْتُهُ لِكَرَمِهِ" (aku memujinya karena kedermawanannya). Di satu sisi al-hamdu lebih khusus dari asy-syukru karena al-hamdu hanya bisa diwujudkan dalam bentuk ucapan semata.

Adapun asy-syukru lebih umum dari al-hamdu karena ia bisa diwujudkan melalui ucapan, perbuatan, ataupun niat. Dan ia lebih khusus dari al-hamdu karena hanya berkaitan dengan sifat-sifat muta'addiyah (memiliki obyek). Engkau tidak bisa mengatakan: syakar-tuhu lafuruu siyyatihi "شَكَرْتُهُ لَفُرُوْسِيَّتِهِ" (aku bersyukur kepadanya karena sifatnya yang ksatria). Namun, engkau bisa mengatakan: syakar-tuhu 'ala karamihi wa ihsaanihi ilayya "شَكَرْتُهُ عَلَى كَرَمِهِ وَإِحْسَانِهِ إِلَيَّ" (aku bersyukur kepadanya karena kedermawanan dan kebaikannya kepadaku).

Demikianlah yang disimpulkan oleh sebagian ulama muta-akhkhirin. Wallaahu a'lam.

Abu Nashr Isma'il bin Hammad al-Jauhari mengatakan: "Al-hamdu (pujian) adalah lawan dari adz-dzammu (celaan). Engkau mengatakan: 'Aku memuji seorang laki-laki dengan sebuah pujian.' Orang yang memuji adalah hamiid dan orang yang dipuji adalah mahmuud. At-tahmiid memiliki makna lebih daripada al-hamdu. Al-hamdu lebih umum dari asy-syukru." Ia (Abu Nashr) mengatakan bahwa asy-syukru adalah pujian atas orang yang berbuat kebaikan karena kebaikannta, maka dikatakan: "Syakartuhu" atau, "Syakartu lahu (aku bersyukur kepadanya)." Dan memakai huruf lam itu lebih fasih. Adapun al-mad-hu lebih umum dari al-hamdu, karena al-mad-hu bisa ditujukan kepada orang yang masih hidup ataupun sudah mati dan juga kepada benda mati. Sebagaimana al-mad-hu ditujukan kepada makanan, tempat dan lain sebagainya. Ia bisa diberikan sebelum mendapat kebaikan ataupun setelahnya atas sifat muta'addi (transitif/ memerlukan obyek) maupun lazim (intransitif/ tidak memerlukan obyek).

Bersambung...

===

(44) Tafsiir ath-Thabari 1/135.

(45) Tafsiir ath-Thabari 1/137.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/7)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/7)

Mereka mengatakan: "Ini menunjukkan bahwa Nama ar-Rahmaan, lebih mengandung rahmat karena keumumannya di dua negeri (dunia dan akhirat) dan untuk seluruh makhluk-Nya. Adapun ar-Rahiim dikhususkan bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi disebutkan dalam sebuah do'a Rasulullah: "Rahmaan (Pengasih) di dunia dan akhirat dan Rahiim (Penyayang) pada keduanya." (Dalam do'a ini Rahmaan dan Rahiim meliputi dunia dan akhirat, -pent).

Nama ar-Rahmaan khusus bagi Allah dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Dan juga firman-Nya:

"Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu: 'Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk diibadahi selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf: 45)

Oleh karena itu ketika Musailamah al-Kadzdzab dengan kesombongannya menamakan dirinya dengan Rahmaanul Yamamah, maka Allah memakaikan kepadanya pakaian kebohongan (al-Kadzdzab), sehingga dia terkenal dengannya. Dia tidak dipanggil melainkan dengan sebutan Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah si pendusta). Maka jadilah ia perlambang kebohongan bagi penduduk kota maupun penduduk desa dari kalangan Arab badui.

Oleh karena itulah didahulukan Nama Allah yang tidak bisa dipakai oleh selain-Nya. Dan menyifatkan Allah terlebih dahulu dengan sifat ar-Rahmaan yang tidak boleh disandang oleh selain-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Musailamah telah menyombongkan diri dan menamakan dirinya dengan nama ini (Rahmaan). Dan tidak ada yang mengikutinya dalam hal ini kecuali orang yang bersamanya dalam kesesatan.

Adapun ar-Rahiim, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan selain diri-Nya dengan nama ini. Dia berfirman:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 128)

Sebagaimana Allah telah menyifatkan selain diri-Nya dengan Nama-Nya yang lain. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insaan: 2)

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa di antara Nama-nama Allah ada yang boleh diberikan kepada selain diri-Nya, dan ada juga yang tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, seperti nama ar-Rahmaan, al-Khaaliq, ar-Razzaaq dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah, Dia memulai dengan Nama-Nya (yang paling terkenal), yaitu Allah dan kemudian menyifati-Nya dengan ar-Rahmaan, karena ar-Rahmaan lebih khusus dan lebih dikenal daripada ar-Rahiim. Nama yang disebut lebih dulu adalah nama yang paling mulia, oleh karena itu Dia memulai dengan menyebut Nama-Nya yang lebih khusus, dan seterusnya.

Telah disebutkan dalam hadits Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa memutus bacaan beliau huruf demi huruf (ayat demi ayat): Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-Rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumid diin.

Maka sebagian ulama pun membacanya demikian. Tetapi di antara mereka ada pula yang menyambung bismillaahir Rahmaanir Rahiim dengan ayat al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (4) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Satu.

Kajian Ramadhan.

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (4).

Diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma bahwa ia berkata: "Jika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ingin mengerjakan i'tikaf, maka beliau mengerjakan shalat fajar (Shubuh), kemudian beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke tempat, i'tikaf." Lantas 'Aisyah meminta izin kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (untuk turut beri'tikaf), beliau pun mengizinkannya, lalu 'Aisyah mendirikan tenda. Selanjutnya Hafshah radhiyallaahu 'anha meminta kepada 'Aisyah agar memintakan izin untuknya, lalu 'Aisyah melakukannya, dan selanjutnya Hafshah mendirikan tenda. Ketika Zainab radhiyallaahu 'anha melihat hal itu, maka ia pun melakukan hal yang sama. Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat adanya beberapa tenda, maka beliau bersabda: "Apa-apaan ini?!" Orang-orang menjawab: "Ini adalah tenda milik 'Aisyah, Hafshah dan Zainab." Selanjutnya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah mereka menginginkan kebaikan dengan melakukan hal ini?! Cabut tenda ini, aku tidak mau melihatnya." Akhirnya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mencabut tenda itu, dan meninggalkan i'tikaf di bulan Ramadhan, sehingga akhirnya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengganti dengan i'tikaf selama sepuluh hari di bulan Syawwal."
(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi serta dishahihkan olehnya)

Yang dimaksud dengan i'tikaf adalah memutus hubungan dengan manusia lain untuk memfokuskan diri sepenuhnya untuk melakukan ketaatan (beribadah) di dalam masjid demi mencari keutamaan dan pahalanya, serta demi mendapatkan Lailatul Qadr. Oleh karena itu hendaknya orang yang beri'tikaf menyibukkan diri dengan berdzikir, membaca al-Qur-an, shalat, dan ibadah-ibadah yang lain. Di samping itu juga, ia harus menjauhi segala sesuatu yang tidak berguna yang berupa pembicaraan mengenai masalah keduniaan. Tapi tidak mengapa jika berbicara sedikit saja mengenai hal yang mubah dengan keluarganya atau orang lain untuk suatu kemaslahatan. Ini didasarkan pada hadits Shafiyah Ummul Mukminin radhiyallaahu 'anha bahwa ia berkata:

"Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang melakukan i'tikaf, aku datang mengunjunginya pada malam hari, lalu aku berbicara kepad beliau kemudian aku bangun untuk beranjak pergi, dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pun turut berdiri menyertaiku."
(Mutafaq 'alaih)

Orang yang sedang i'tikaf diharamkan berjima' dan melakukan hal-hal yang menjadi pengantar jima', seperti mengecup dan menyentuh dengan syahwat. Dasarnya adalah firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala: "Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid." (QS. Al-Baqarah (2): 187)

Adapun mengeluarkan sebagian anggota badan keluar masjid, maka tidak mengapa. Dasarnya adalah hadits 'Aisyah bahwa ia berkata:

"Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mengeluarkan kepalanya dari masjid, sedangkan beliau ketika itu sedang beri'tikaf, lalu aku bersihkan kepala beliau padahal aku sedang haidh." (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan:

"Aisyah pernah menyisir rambut beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, padahal ketika itu 'Aisyah sedang haidh, sedangkan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang beri'tikaf di masjid. Ketika itu 'Aisyah berada di biliknya, sementara Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjulurkan kepada beliau kepada 'Aisyah."

Namun jika yang keluar masjid itu adalah seluruh anggota badannya, maka dalam hal ini ada beberapa kategori:

Pertama, keluar masjid untuk kepentingan yang harus dilakukan, baik secara alami maupun syar'i, seperti buang hajat, wudhu' wajib (ketika hendak shalat), mandi wajib karena junub atau sebab lainnya, makan dan minum. Yang demikian ini adalah boleh jika hal itu tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Akan tetapi jika kesemuanya itu bisa dilakukan di dalam masjid, maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan. Misalnya jika di dalam masjid ada toilet dan kamar mandi, yang memungkinkan bagi setiap orang untuk memenuhi hajatnya dan bisa mandi di sana, atau ada orang yang membawakan makanan dan minuman. Dalam keadaan seperti ini ia tidak boleh keluar dari masjid karena tidak ada kepentingan lagi untuk itu.

Kedua, keluar dari masjid untuk melakukan amal ketaatan yang tidak wajib atasnya, seperti mengunjungi orang sakit, menghadiri jenazah dan semisalnya. Hal semacam ini tidak boleh mereka lakukan, kecuali jika sejak awal i'tikafnya ia memang mensyaratkan seperti itu. Umpamanya ia punya keluarga yang sedang sakit yang wajib ia jenguk atau khawatir bila ia meninggal, lalu ia mensyaratkan sejak awal i'tikafnya bahwa ia akan keluar dari masjid untuk kepentingan itu. Jika keadaannya seperti ini, maka tidak mengapa jika ia keluar dari masjid untuk kepentingan tersebut.

Ketiga, keluar dari masjid untuk urusan yang menafikan i'tikaf itu sendiri, seperti keluar untuk berdagang, untuk berjima' dengan isteri-isterinya atau untuk bercumbu dengan mereka dan semisalnya. Hal semacam ini tidak boleh mereka lakukan, baik dengan syarat sebelumnya maupun tidak. Sebab, ini semua membatalkan i'tikaf dan menafikan maksud dari i'tikaf itu sendiri.

Di antara keistimewaan lain dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini adalah bahwa di dalamnya terdapat Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Karena itu ketahuilah bahwa sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan ini mempunyai keutamaan yang sangat besar, sehingga jangan sampai kalian menyia-nyiakannya. Waktunya sangat berharga dan kebaikannya sangat nyata.

Ya Allah, tunjukkan kami kepada sesuatu yang memberikan kebaikan bagi agama dan dunia kami, jadikanlah kesudahan itu baik, dan muliakanlah hunian kami. Berilah kami ampunan, juga kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, wahai Dzat sebaik-baik pemberi rahmat.

Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, serta kepada keluarga dan para Shahabat seluruhnya.
===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/6)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/6)

Tafsir ar-Rahmaan ar-Rahiim

"...Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. 1: 1)

Ar-Rahmaan ar-Rahiim merupakan dua Nama dalam bentuk mubalaghah (bermakna lebih) yang berasal dari satu kata ar-Rahmaan. Namun, Nama ar-Rahmaan memiliki makna yang lebih dari ar-Rahiim.

Dalam pernyataan Ibnu Jarir, dapat dipahami adanya kesepakatan mengenai hal ini.

Al-Qurthubi mengatakan bahwa dalil yang menunjukkan bahwa nama ini musytaq (terbentuk) dari kata lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallaahu 'anhu bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku adalah ar-Rahmaan, Aku telah menciptakan rahim (kekerabatan). Aku telah menjadikan untuknya nama dari Nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya." (41)

Al-Qurthubi berkata: "Ini merupakan nash bahwa nama tersebut musytaq. Dan pengingkaran orang-orang Arab terhadap Nama ar-Rahmaan disebabkan kejahilan mereka tentang Allah dan apa yang wajib bagi-Nya."

Al-Qurthubi berkata: "Kemudian dikatakan, keduanya memiliki satu makna, misalnya kata nadmaan dan nadiim, demikian dikatakan oleh Abu 'Ubaid. Ada juga yang mengatakan bahwasanya timbangan kata fa'laan tidak seperti fa'iil. Karena fa'laan tidak digunakan kecuali pada fi'il yang memiliki makna lebih, seperti perkataanmu rajulun ghadh-baanun untuk menyebut seorang laki-laki yang kemarahannya memuncak. Adapun fa'iil terkadang bermakna faa'ilun (subyek) atau maf'uulun (obyek).

Abu 'Ali al-Farisi berkata: "Ar-Rahmaan merupakan Nama yang bersifat umum meliputi segala bentuk rahmat, dan dikhususkan bagi Allah semata. Sedangkan ar-Rahiim ditujukan bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman: "Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzaab: 43)

Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata: "Keduanya adalah dua nama yang mengandung kelembutan. Dan salah satunya lebih lembut dari yang lainnya, yakni lebih banyak mengandung rahmat." (42)

Ibnu Jarir meriwayatkan: Telah berkata kepada kami as-Sarri bin Yahy at-Tamimi, telah berkata kepada kami 'Utsman bin Zufar, aku mendengar al-'Azrami berkata tentang ar-Rahmaan ar-Rahiim, ia berkata: "Ar-Rahmaan untuk seluruh makhluk dan ar-Rahiim untuk orang-orang yang beriman." (43)

Mereka mengatakan: Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: "Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah." (QS. Al-Furqaan: 59)

Dan Dia berfirman: "(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaahaa: 5)

Dia menyebutkan istiwa' (bersemayam) dengan Nama ar-Rahmaan untuk meliputi seluruh makhluk dengan rahmat-Nya.

Tetapi Dia berfirman: "Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzaab: 43)

Dalam ayat ini Dia mengkhususkan dengan Nama ar-Rahiim.

Bersambung...

===

(41) Tuhfatul Ahwadzi 6/33. Shahiih lighairihi: Abu Dawud no. 1694, at-Tirmidzi no. 1907. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih at-Targhiib no. 2528.

(42) Al-Qurthubi 1/105.

(43) Tafsiir ath-Thabari 1/127.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (3) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Satu.

Kajian Ramadhan.

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (3).

Orang yang berakal tentu tidak akan mau menjadikan setan sebagai wali selain Allah, padahal ia tahu bahwa setan itu selalu memusuhinya, tindakan seperti itu bertentangan dengan akal sehat dan keimanannya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain dari-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Kahfi (18): 50)

"Sungguh setan itu musuh bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu. Sesungguhnya setan itu mengajak golongannya supaya menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS. Fathir (35): 6)

Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan ini adalah bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan i'tikaf di dalamnya. I'tikaf adalah menetap di dalam masjid dengan memanfaatkan waktu sepenuhnya untuk melakukan ketaatan (ibadah) kepada Allah. I'tikaf merupakan bagian dari ibadah sunnah yang didasarkan pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: "Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid." (QS. Al-Baqarah (2): 187)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum melaksanakan i'tikaf, begitu juga kaum muslimin sesudah mereka. Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kemudian beri'tikaf sepuluh hari di tengah bulan Ramadhan, sesudah itu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya aku beri'tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan untuk mencari malam ini (lailatul qadr). Kemudian aku beri'tikaf sepuluh pertengahan bulan Ramadhan, kemudian aku diberi wahyu oleh Allah, lalu dikatakan kepadaku: 'Sesungguhnya ia (lailatul qadr) ada pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.' Maka dari itu, siapa saja di antara kalian yang ingin beri'tikaf silakan melakukannya." (HR. Muslim)

Dalam Shahiihain diriwayatkan hadits dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma bahwa ia berkata:

"Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Sesudah itu, isteri-isteri beliau beri'tikaf pula sepeninggal beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam."

Dalam Shahiih al-Bukhari disebutkan pula riwayat dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma bahwa ia berkata:

"Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan i'tikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah selama setahun tidak melakukan i'tikaf. Maka, ketika tahun berikutnya tiba, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beri'tikaf dua puluh hari."

Baca selanjutnya: Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (4)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/5)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/5)

Makna Lafzhul Jalaalah (اللّه)

(Allah) merupakan nama untuk Rabb Tabaaraka wa Ta'aala. Dikatakan bahwa Allah adalah al-ismul a'zham (nama yang paling agung), karena nama itu menyandang semua sifat. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr: 22-24)

Dengan demikian semua Nama-nama yang baik itu merupakan sifat-Nya, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Hanya milik Allahlah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu." (QS. Al-A'raaf: 180)

Dan Dia juga berfirman:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asma-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) Nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menjaganya, niscaya ia masuk Surga." (40)

Bersambung...

===

(40) Fat-hul Baari 11/218, dan Muslim 4/2062. Al-Bukhari no. 2736, 7392, Muslim no. 2677(6).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/4)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/4)

Disunnahkan membaca basmalah sebelum memulai setiap pekerjaan

Oleh karena itu disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khutbah berdasarkan dalil yang ada. Dan juga disunnahkan membacanya sebelum masuk ke kamar kecil (toilet), berdasarkan hadits dalam masalah itu. (36)

Demikian juga sebelum berwudhu' berdasarkan hadits dalam Musnad al-Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Hurairah, Sa'id bin Zaid dan Abu Sa'id radhiyallaahu 'anhum secara marfu', Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak sempurna wudhu' bagi orang yang tidak menyebut Nama Allah (mengucapkan basmalah) padanya." (37) Hadits ini hasan.

Demikian pula disunnahkan membacanya sebelum makan, berdasarkan hadits dalam Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada anak tiri beliau, 'Umar bin Abi Salamah:

"Ucapkan 'bismillaah', makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu." (38)

Meski demikian, sebagian ulama ada yang mewajibkannya.

Disunnahkan juga membacanya ketika hendak berjima' (berhubungan badan), berdasarkan hadits dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri isterinya ia membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ, اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

'Bismillaah, Allaahumma jannibnasy syai-thaana wa jannibisy syai-thaana maa razaqtanaa
(Dengan menyebut Nama Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami)', maka jika Allah menakdirkan lahirnya anak, maka anak itu tidak akan diganggu oleh syaitan selamanya." (39)

Kata-kata apakah seolah-olah dihilangkan sebelum atau sesudah lafazh 'Bismillaah' (Dengan (menyebut) Nama Allah)

Dari uraian di bawah ini jelaslah bagi kita bahwa dua pendapat di kalangan ahli nahwu dalam masalah apa yang dikaitkan dengan huruf ba' pada ucapan 'Bismillaah', apakah ia isim (kata benda) ataukah fi'il (kata kerja), bahwa kedua pendapat ini berdekatan. Dan keduanya terdapat di dalam al-Qur-an. Adapun mengaitkannya dengan isim, maka taqdir kalimatnya adalah bismillaah ibtida-i (permulaan) seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Dan Nuh berkata: 'Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut Nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.' Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Huud: 41)

Adapun mengaitkannya dengan fi'il, baik amr atau khabar, misalnya: ibda' (mulailah) dengan bismillaah atau ibtada'-tu (aku memulai) dengan bismillaah, seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Bacalah dengan (menyebut) Nama Rabbmu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)

Keduanya benar, karena fi'il pasti memiliki mashdar. Maka engkau mentaqdirkan fi'il dan mashdarnya. Dan itu berkaitan dengn fi'il yang engkau sebutkan sebelumnya, seperti qiyaaman (berdiri), qu'uudan (duduk), akalan (makan), wudhuu-an (wudhu'), atau shalaatan (shalat). Maka yang disyari'atkan adalah menyebut Nama Allah sebelum memulai semua itu, untuk meraih berkah, kebaikan dan pertolongan agar pekerjaan itu sempurna dan dapat diterima. Wallaahu a'lam.

Bersambung...

===

(36) 'Aunul Ma'buud 1/6. Lihat pula Shahiihul Jaami' no. 3610.

(37) Ahmad 3/410, Abu Dawud 1/75, Tuhfatul Ahwadzi 1/115, an-Nasa-i 1/61 dan Ibnu Majah 1/140. Shahih: Abu Dawud no. 101, at-Tirmidzi no. 25, Ibnu Majah no. 399. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib no. 203.

(38) Muslim 3/1600. Al-Bukhari no. 5376, 5378 dengn perbedaan lafazh, Muslim no. 2022.

(39) Fat-hul Baari 9/136 dan Muslim 2/1058. Al-Bukhari no. 141, Muslim no. 1434.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/3)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/3)

Beberapa pendapat lain mengenai bacaan basmalah beserta dalilnya, -pent.

Sebagian ulam lainnya berpendapat bahwa basmalah tidak dibaca secara jahr dalam shalat. Inilah yang shahih dari para khalifah yang empat radhiyallaahu 'anhum, 'Abdullah bin Mughaffal, dan beberapa golongan ulama Salaf maupun Khalaf. Ini pula yang menjadi pendapat madzhab Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullaah.

Adapun menurut Imam Malik, basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahr maupun sirr. Mereka berdalil dengan hadits yang terdapat dalam Shahiih Muslim dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membuka shalat dengan takbir dan bacaan al-hamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin." (30)

Diriwayatkan pula dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, ia menceritakan: "Aku pernah mengerjakan shalat di belakang Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Abu Bakar, 'Umar, dan 'Utsman. Mereka semua membuka shalat dengan bacaan al-hamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin."

Dan menurut riwayat Muslim: "Mereka tidak menyebutkan 'Bismillaahir Rahmaanir Rahiim' pada awal bacaan dan tidak juga pada akhirnya." (31) (32)

Hal senada juga terdapat dalam kitab Sunan, diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu 'anhu. (33)

Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini. Pendapat mereka tidaklah jauh berbeda, karena mereka semua sepakat bahwa orang yang shalat, baik membaca bismillah secara jahr maupun secara sirr keduanya adalah sah. Segala pujian dan sanjungan hanyalah milik Allah 'Azza wa Jalla.

Pasal: Keutamaan basmalah

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan dari seorang yang dibonceng oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, ia berkata: "Tunggangan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tergelincir, maka aku katakan: 'Celaka syaitan.' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Janganlah engkau mengucapkan: 'Celaka syaitan'. Karena jika engkau mengucapkannya, maka ia akan membesar dan berkata: 'Dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia'. Dan jika engkau mengucapkan 'bismillah', maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.'" (34)

Dan an-Nasa-i juga meriwayatkan dalam 'Amalul Yaum wal Lailah dan Ibnu Mardawaih dalam kitab tafsirnya dari Usamah bin 'Umair, ia berkata: "Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam", lalu ia menyebutkan kejadiannya, dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Jangan mengucapkan itu, karena syaitan akan membesar seperti rumah. Akan tetapi ucapkanlah: 'Bismillaah', niscaya ia akan menjadi kecil seperti seekor lalat." (35)

Ini merupakan berkah dari ucapan "bismillaah."

Bersambung...

===

(30) Ibnu Abi Hatim 1/12. Muslim no. 498(240).

(31) Fat-hul Baari 2/265, dan Muslim 1/299. Al-Bukhari no. 743, Muslim no. 399.

(32) Al-Hafizh berkata dalam Buluughul Maraam: "Dalam riwayat Ahmad, an-Nasa-i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: "Mereka tidak menjahrkan 'Bismillaahir Rahmaanir Rahiim', dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah yang lain disebutkan: "Mereka membacanya secara sirr." Oleh karena itulah penafian dalam riwayat Muslim dibawakan kepada makna ini.

(33) At-Tirmidzi no. 244. Ibnu Majah no. 815. Dha'if: Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam kitabnya Dha'iif Sunan at-Tirmidzi no. 39 dan Dha'iif Sunan Ibni Majah no. 174.

(34) Ahmad 5/59. Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiihul Jaami' no. 7401.

(35) An-Nasa-i dalam al-Kubra 6/142.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1/2)

Apakah basmalah dibaca sirr (pelan) atau dibaca jahr (keras) pada shalat jahriyah

Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dikeraskan), maka yang berpendapat bahwa basmalah itu bukan termasuk ayat al-Faatihah, ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengatakan bahwa basmalah adalah satu ayat dari awal al-Faatihah. Adapun mereka yang berpendapat bahwa basmalah merupakan bagian pertama dari setiap surat, dalam hal ini mereka berbeda pendapat. Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa basmalah dibaca secara jahr bersama al-Faatihah dan juga surat-surat lainnya.

Inilah madzhab sekelompok Shahabat, Tabi'in serta para imam, baik Salaf maupun Khalaf. Di antara Shahabat yang membacanya secra jahr adalah Abu Hurairah, Ibnu 'Umar, Ibnu 'Abbas dan Mu'awiyah radhiyallaahu 'anhum. Ibnu 'Abdil Barr dan al-Baihaqi meriwayatkan dari 'Umar dan 'Ali radhiyallaahu 'anhuma. Al-Khatib menukilnya dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali radhiyallaahu 'anhum, dan riwayat ini gharib. Dan dari Tabi'in di antaranya Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, Abu Qilabah, az-Zuhri, 'Ali bin al-Hasan dan anaknya yakni Muhammad, Sa'id bin al-Musayyab, 'Atha', Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm, Abu Wa-il, Ibnu Sirin, Muhammad bin al-Munkadir, 'Ali bin 'Abdillah bin 'Abbas dan anaknya yakni Muhammad, Nafi' maula Ibnu 'Umar, Zaid bin Aslam, 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, al-Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu asy-Sya'tsa', Mak-hul, dan 'Abdullah bin Ma'qil bin Muqrin. Al-Baihaqi menambahkan: 'Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Sementara Ibnu 'Abdil Barr menambahkan: 'Amr bin Dinar.

Dalil yang digunakan oleh orang yang berpendapat bahwa basmalah harus dibaca secara jahr, -pent.

Alasannya karena basmalah termasuk bagian dari surat al-Faatihah. Maka ia pun dibaca keras sebagaimana ayat-ayat lainnya. Demikian juga telah diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam kitab Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahiih keduanya, serta al-Hakim dalam al-Mustadrak dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwasanya ia mengerjakan shalat dan membaca basmalah secara jahr. Setelah selesai ia mengatakan: "Aku telah mempraktekkan shalat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada kalian." Hadits ini dishahihkan oleh ad-Daraquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain. (26)

Dalam Shahiih al-Bukhari disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka ia menjawab: "Bacaan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam itu (kalimat demi kalimat) sesuai dengan panjang pendeknya." Kemudian Anas membaca bismillaahir rahmaanir rahiim, dengan memanjangkan kalimat bismillaah, lalu ar-Rahmaan dan ar-Rahiim (dengan memanjangkan bagian-bagian yang perlu dipanjangkan)." (27)

Dan diriwayatkan dalam Musnad al-Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Shahiih Ibni Khuzaimah, dan Mustadrak al-Hakim dari Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa memutus bacaan beliau di setiap akhir ayat: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-Rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumid diin."

Dan ad-Daraquthni mengatakan: "Sanad-sanadnya shahih." (28)

Adapun Imam Abu 'Abdillah asy-Syafi'i dan al-Hakim dalam kitab Mustadraknya meriwayatkan dari Anas radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Mu'awiyah radhiyallaahu 'anhu mengerjakan shalat di Madinah dan ia meninggalkan basmalah (tidak membacanya secara jahr), maka hal itu diingkari oleh para Shahabat Muhajirin radhiyallaahu 'anhum. Lalu Mu'awiyah mengerjakan shalat untuk kedua kalinya dengan membaca basmalah secara jahr." (29)

Hadits-hadits dan atsar yang kami sebutkan di atas kiranya sudah cukup menjadi hujjah bagi pendapat ini atas pendapat yang menentangnya. Adapun tentang riwayat-riwayat lain yang bertentangan dan asing, tentang jalur-jalurnya, cacat-cacat, kedha'ifan, serta penetapannya dijelaskan pada tempat yang lain.

Bersambung...

===

(26) An-Nasa-i 2/134, Ibnu Khuzaimah 1/251, Shahiih Ibni Hibban 3/143, al-Hakim 1/232, ad-Daraquthni 1/305, dan al-Baihaqi 2/46.

(27) Fat-hul Baari 8/709. Al-Bukhari no. 5046.

(28) Ahmad 6/302, Abu Dawud 4/294, Ibnu Khuzaimah 1/248, al-Hakim 2/231, dan ad-Daraquthni 1/307.

(29) Musnad al-Imam asy-Syafi'i 1/80 dan al-Hakim 1/233.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (2) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Satu.

Kajian Ramadhan.

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (2).

Dalam Shahiihain disebutkan bahwa 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma berkata:

"Ketika telah masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengencangkan sarung, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya."

Dalam al-Musnad disebutkan pula bahwa 'Aisyah berkata:

"Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengisi dua puluh hari bulan Ramadhan dengan mengerjakan shalat dan menyempatkan untuk tidur. Namun ketika tiba sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarung."

Hadits-hadits ini menjadi dalil mengenai keutamaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Sebab, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam meningkatkan kesungguhan beliau di dalam beribadah jauh melebihi kesungguhan beliau di hari-hari yang lain. Kesungguhan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ini meliputi segala bentuk kesungguhan di dalam melaksanakan berbagai jenis ibadah, baik yang berupa shalat, membaca al-Qur-an, berdzikir, sedekah dan sebagainya. Sebab, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika itu mengencangkan sarung, yang berarti meninggalkan isteri-isteri beliau untuk mengisi waktu sepenuhnya dengan ibadah shalat dan dzikir. Di samping itu, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga menghidupkan seluruh waktu malam beliau dengan mengerjakan shalat malam, membaca al-Qur-an dan berdzikir dengan lidah, dan anggota badan. Ini semua beliau lakukan karena kemuliaan malam ini, dan dalam rangka mencari Lailatul Qadr (Malam Kemuliaan). Sebab, siapa saja yang mengerjakan shalat malam di malam itu yang didasari dengan keimanan dan mengharap perhitungan pahala dari Allah, maka Allah memberikan ampunan atas dosa yang dilakukannya di masa lalu. Makna lahiriah hadits ini menunjukkan bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menghidupkan malam sepenuhnya untuk beribadah kepada Rabbnya, dengan berdzikir, membaca ayat suci al-Qur-an, mengerjakan shalat dan persiapan melakukan itu semua, serta untuk melaksanakan sunnah makan sahur dan seterusnya. Dengan pengertian seperti ini, maka tidak ada pertentangan antara hadits di atas dengan hadits yang disebutkan dalam Shahiih Muslim dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma bahwa ia berkata:

"Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menjalankan shalat malam hingga pagi."

Sebab, menghidupkan malam yang dilakukan oleh beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan adalah dengan mengerjakan shalat malam dan macam-macam ibadah lainnya (bukan hanya shalat malam), sedangkan yang dinafikan oleh hadits riwayat Muslim ini adalah menghidupkan malam sepenuhnya dengan ibadah shalat saja. Wallaahu a'lam.

Di antara hal yang menunjukkan keutamaan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dari hadits-hadits di atas adalah bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membangunkan keluarga beliau pada malam-malam tersebut untuk mengerjakan shalat dan berdzikir, didorong oleh keinginan keras beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk memanfaatkan malam-mlam yng penuh berkah itu dengan segala bentuk ibadah. Sebab, ia merupakan kesempatan umur dan ghanimah bagi siapa saja yang diberi petunjuk oleh Allah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Maka tidak sepantasnya jika seorang mukmin yang cerdik dan berakal membuang kesempatan yang berharga ini untuk dirinya maupun keluarganya. Bukankah malam-malam penuh berkah ini hanya berlangsung beberapa malam, dimana pada saat itu manusia akan memperoleh anugerah dari Allah sehingga yang menjadikannya berbahagia di dunia dan akhirat? Sungguh merupakan kerugian yang besar jika kaum muslimin menghabiskan waktu-waktu yang sangat berharga ini untuk sesuatu yang tidak berguna. Mereka begadang menghabiskan waktu malam untuk permainan batil, akibatnya ketika waktu mengerjakan shalat malam tiba, mereka mulai tidur yang mengakibatkan mereka kehilangan kebaikan yang sangat banyak. Padahal, bisa saja mereka tidak bertemu lagi dengan malam-malam penuh berkah ini pada tahun mendatang. Ini merupakan bagian dari bentuk permainan dan tipu daya yang dilancarkan oleh setan terhadap mereka, serta tindakan setan untuk menghalangi mereka dari jalan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan penyesatan terhadap mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat." (QS. Al-Hijr (15): 42)

Baca selanjutnya: Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (3)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (1)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (1)

Al-Faatihah, Ayat 1

Basmalah adalah ayat ke-1 dari surat al-Faatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1: 1)

Para Shahabat radhiyallaahu 'anhum membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama telah sepakat bahwa Bismillaahir Rahmaanir Rahiim adalah salah satu ayat dari surat an-Naml. Tetapi mereka berbeda pendapat, apakah basmalah itu merupakan ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat, atau merupakan bagian dari awal masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya, atau merupakan salah satu ayat dari setiap surat.

Di antara ulama yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surat kecuali at-Taubah adalah Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, dan 'Ali radhiyallaahu 'anhum. Sedangkan dari kalangan Tabi'in adalah 'Atha', Thawus, Sa'id bin Jubair, Makhul dan az-Zuhri rahimahumullaah. Hal yang sama juga dikatakan oleh 'Abdullah Ibnul Mubarak, Imam asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal (menurut satu riwayat), Ishaq bin Rahawaih, dan Abu 'Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahumullaah.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah rahimahumullaah dan orang-orang yang sependapat dengannya mengatakan bahwa basmalah tidak termasuk ayat dari surat al-Faatihah, tidak juga surat-surat yang lain. Dan menurut Dawud, basmalah terletak pada awal setiap surat dan bukan bagian darinya. Demikian pula menurut satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah.

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (0/10)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (0/10)

Penamaan syaitan

Dalam bahasa Arab, kata syaitan berasal dari kata sya-thana (شَطَنَ) yang berarti jauh. Jadi tabi'at syaitan itu sangat jauh dengan tabi'at manusia. Dan karena kefasikannya itu ia sangat jauh dari kebaikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syaa-tha (شَاطَ)= terbakar, karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna yang pertama lebih tepat.

Menurut Sibawaih, bangsa Arab mengatakan: "tasyai-thana fulaanun (تَشَيْطَنَ فُلَانٌ)", berarti si Fulan itu berbuat seperti perbuatan syaitan. Jika kata syaitan itu berasal dari kata syaa-tha tentunya mereka akan mengatakan: tasyai-tha. Maka menurut pendapat yang benar, kata syaitan itu berasal dari kata sya-thana yang berarti jauh. Oleh karena itu mereka menyebut syaitan untuk setiap pendurhaka baik dari kalangan jin, manusia maupun hewan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Dan demikianlah Kami jadikan tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (QS. Al-An'aam: 112)

Dalam Musnad al-Imam Ahmad, disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Wahai Abu Dzarr, mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukan syaitan-syaitan dari jenis manusia dan jin.' Lalu aku bertanya: 'Apakah ada syaitan dari jenis manusia?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Ya, ada.'" (23)

Dan dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang juga dari Abu Dzarr, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesuatu yang dapat membatalkan shalat adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.' Kemudian aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, mengapa anjing hitam, dan bukan anjing merah atau kuning?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Anjing hitam itu adalah syaitan.'" (24)

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwasanya 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu mengendarai kuda tarik, namun kuda itu berjalan pelan maka 'Umar pun memukulnya (supaya jalannya cepat). Namun kuda itu justru berjalan semakin pelan. 'Umar pun turun dan berkata: "Tidaklah kalian membawakan kepadaku kecuali syaitan. Aku turun darinya karena perasaanku merasa tak enak." Sanad-sanadnya shahih. (25)

Makna ar-Rajiim

Ar-rajiim berwazan "فَعِيْلٌ" (subyek) bermakna "مَفْعُوْلٌ" (obyek). Maknanya bahwa syaitan itu terkutuk dan terjauh dari segala kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan." (QS. Al-Mulk: 5)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang." (QS. Ash-Shaaffaat: 6-10)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk. Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang." (QS. Al-Hijr: 16-18)

Dan ayat-ayat lainnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa "رَجِيْمٌ" bermakna "رَاجِمٌ".

Karena ia mengganggu manusia dengan waswas dan bisikan. Hanya saja makna yang pertama lebih masyhur dan lebih tepat.

Bersambung...

===

(23) Ahmad 5/178. Dha'if: Ahmad meriwayatkannya dengan dari dua jalan. Salah satunya dari jalan al-Mas'udi. Al-Haitsami mengatakan: "Dia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), akan tetapi hafalannya bercampur (kacau). Kedua adalah dari jalan 'Ali bin Yazid dan dia dha'if. Sebagaimana disebutkan dalam Majma'uz Zawaa-id 1/214-215.

(24) Muslim 1/365. Lihat Shahiih Muslim no. 510 dan Sunan Abi Dawud no. 702.

(25) Tafsiir ath-Thabari 1/111.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Keduapuluh Satu.

Kajian Ramadhan.

Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang memiliki keagungan dan kekekalan, kebesaran dan kesombongan, keperkasaan yang tiada bandingnya, Maha Esa, Rabb yang menjadi sandaran, Raja yang tidak membutuhkan seseorang, dan Mahaagung yang tidak bisa ditangkap oleh penalaran pikiran. Dia Mahakaya sehingga tidak pernah membutuhkan makhluk-Nya, sedangkan selain-Nya selalu butuh kepada-Nya. Dia memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki sehingga orang itu akhirnya menjadi beriman kepada-Nya dan beristiqamah kemudian mendapatkan kenikmatan tidur malam, lalu ikut bersama orang-orang yang jauh dari tempat tidur untuk melaksanakan shalat malam demi meraih kedudukan yang mulia di sisi Allah. Jika engkau melihat mereka, maka dalam kegelapan malam sebagian dari mereka ada yang memohon ampunan kepada Allah mengenai kesalahannya, yang lain mengadukan kesedihannya, dan yang lain lagi sibuk berdzikir menyebut nama Allah tanpa memohon apa-apa kepadanya.

Mahasuci Allah yang telah membangunkan mereka pada saat manusia lain terlelap dalam tidur. Mahasuci Allah yang memberikan ampunan dan maaf, menutupi kesalahan hamba-Nya, serta menyempurnakan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya.

Aku memuji Allah atas segala nikmat-Nya yang sangat agung, dan aku bersyukur kepada-Nya. Aku memohon kepada-Nya kiranya berkenan memelihara nikmat Islam.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sungguh akan mulia orang yang mulia dengan peribadahan kepada-Nya, dan sungguh akan menjadi hina orang yang sombong sehingga tidak mau melakukan ketaatan kepada-Nya dan justru memilih banyak melakukan dosa.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menjelaskan yang halal dan yang haram. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau, kepada Abu Bakar ash-Shiddiq yang pernah menemani beliau di dalam gua dan menjadi sebaik-baik teman beliau, kepada 'Umar bin al-Khaththab yang diberi petunjuk kepada jalan yang benar, kepada 'Utsman yang senantiasa bersabar di dalam menghadapi segala bencana dan menemui kesyahidan agung dari tangan musuh, kepada putera paman beliau sendiri, 'Ali bin Abi Thalib, serta kepada seluruh shahabat dan tabi'in yang mengikuti jejak mereka hingga hari Kiamat.

Saudara sekalian, telah turun kepada kalian sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Di dalamnya banyak sekali pahala, keutamaan dan keistimewaan.

Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini adalah bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam senantiasa meningkatkan kesungguhan (mujahadah) di dalam beramal, dengan melakukan amalan yang lebih banyak lagi dari hari-hari selainnya. Dalam Shahiih Muslim disebutkan riwayat dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam meningkatkan kesungguhan di dalam beramal pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau pada hari yang lain.

Baca selanjutnya: Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan (2)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah (0/9)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Faatihah (0/9)

Di antara manfaat isti'aadzah

Di antara manfaatnya adalah untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang buruk dan tidak berfaedah. Isti'aadzah ini digunakan untuk membaca firman-firman Allah. Artinya, memohon pertolongan kepada Allah sekaligus menyatakan pengakuan atas kekuasaan-Nya, kelemahan dirinya sebagai seorang hamba dan ia tidak berdaya melawan musuh yang sejati (syaitan), yang bersifat bathin (tidak terlihat) dan tidak seorang pun mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah yang telah menciptakannya. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan. Berbeda dengan musuh dari jenis manusia. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat al-Qur-an tentang tsalaatsin minal matsaani (tiga perkara yang diulang-ulang) dan firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala: "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga." (QS. Al-Israa': 65)

Dan para Malaikat telah turun untuk memerangi musuh dari kalangan manusia. Barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat lahiriyah dari kalangan manusia, maka ia mati syahid. Namun, barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat bathin (syaitan) maka ia terusir. Barangsiapa dikalahkan oleh musuh manusia biasa, maka ia akan mendapatkan pahala. Tetapi, barangsiapa dikalahkan oleh musuh yang bersifat bathin (syaitan), maka ia tertipu dan menanggung dosa. Oleh karena syaitan dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia harus memohon perlindungan kepada Rabb yang melihat syaitan dan syaitan tidak melihat-Nya.

(Pasal) isti'aadzah berarti permohonan perlindungan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari kejahatan setiap yang jahat. Al-'iyaadzah adalah permohonan pertolongan dalam usaha menolak kejahatan, dan al-liyaadz adalah permohonan pertolongan dalam upaya meraih kebaikan.

Makna isti'aadzah

Maka a'uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim adalah aku memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan atau menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang. Karena tidak ada yang mampu mencegah godaan syaitan itu dari manusia kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kepada manusia agar membujuk syaitan dari jenis manusia dan berbuat baik kepadanya, sehingga dapat merubah tabi'at dan kebiasaannya mengganggu orang lain. Tetapi, Allah memerintahkan agar kita memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan. Tabi'at mereka jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang telah menciptakannya.

Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat al-Qur-an, dimana aku tidak mengetahui ada ayat keempat yang semakna dengannya. Pertama, firman-Nya dalam surat al-A'raaf:

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf: 199)

Makna di atas berkenaan dengan mu'amalah dengan musuh dari kalangan manusia.

Dilanjutkan dengan firman-Nya:

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-A'raaf: 200)

Sedangkan dalam surat al-Mu'-minuun Allah berfirman:

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, "Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mua dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu'-minuun: 96-98)

Dan dalam surat Fushshilat Allah berfirman:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kami dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36)

Bersambung...

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah