Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali: Tawasulnya shahabat kepada Nabi

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali

Tawasulnya shahabat kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Adapun tawasul para shahabat kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka sungguh telah diriwayatkan oleh asy-Syaikhani (yakni Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, -pent) bahwasanya ada seorang laki-laki masuk ke dalam masjid, sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam keadaan berdiri berkhutbah, maka dia berkata, "Wahai Rasulullah, telah binasa harta kekayaan dan telah terputus jalan-jalan, maka berdo'alah engkau kepada Allah agar Dia mencurahkan hujan kepada kami." Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, "Ya Allah, curahkanlah hujan kepada kami." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengucapkannya tiga kali. Tak lama kemudian langitpun mencurahkan hujan selama sepekan. Kemudian masuklah laki-laki tadi pada hari Jum'at berikutnya, sedangkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam keadaan berdiri sedang berkhutbah, maka ia berkata, "Wahai Rasulullah, telah binasa harta kekayaan dan telah terputus jalan-jalan (10), maka berdo'alah kepada Allah agar menghentikan hujan atas kami." Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, "Ya Allah, arahkanlah hujan di daerah sekitar kami dan bukan kepada kami," hingga akhir hadits ini. Perawi berkata, "Maka hujanpun terhenti dan kami keluar berjalan dengan disinari matahari." (11)

Bersambung...

===

(10) Yakni karena hujan yang sangat lebat.

(11) Muttafaqun 'alaih dari hadits Anas, Imam al-Bukhari 2/16, 17, dan Imam Muslim 2/612-614 nomor hadits 897.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Qaul al-Jalii fii Hukmi at-Tawassul bi an-Nabii wa al-Walii, Penulis: Syaikhul Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin 'Abdus Salam, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi? Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (12)

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?

Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama.

Ke-3: Imam an-Nawawi rahimahullaah (2).

Imam an-Nawawi pernah ditanya tentang hukum pelaksanaan shalat raghaa-ib dan shalat malam nisyfu sya'ban, maka beliau menjawab, sebagaimana tercantum di dalam kitab Musajalatul 'Izz bin 'Abdis Salam wa Ibn ash-Shalah Haula Shalatir Raghaa-ib halaman 45-47:

Segala puji hanya bagi Allah, kedua macam shalat ini (yaitu shalat raghaa-ib dan shalat malam nisyfu sya'ban) adalah dua macam shalat yang tidak pernah dicontohkan dan dikerjakan oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak juga pernah dicontohkan oleh seorangpun dari para shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak juga dari para imam madzhab yang empat yang telah disebutkan (yakni Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad bin Hambal) -mudah-mudahan Allah merahmati mereka-, dan kedua macam shalat itu juga tidak pernah diisyaratkan oleh seorangpun dari mereka, dan tidak ada seorangpun dari mereka yang layak dijadikan teladan yang pernah mengerjakannya, dan tidak ada satupun hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang shahih yang menunjukkan akan Sunnahnya kedua shalat tersebut, dan keduanya hanyalah ada pada masa yang belakangan. Maka mengerjakan kedua macam shalat itu termasuk dari perbuatan bid'ah yang munkar dan perkara yang baru yang diada-adakan di dalam agama secara bathil, padahal telah shahih dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwasanya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengadakan suatu perkara yang baru dalam urusan kami yang tidak bersumber dari (ajaran) kami, maka perkara tersebut pasti tertolak", dan di dalam kitab Shahih Muslim bahwasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang mengamalkan suatu 'amalan yang tidak berasal dari perintah (ajaran) kami, maka 'amalan tersebut pasti tertolak."

Dan hendaklah setiap dari kaum Muslimin untuk menjauhkan diri dari melaksanakan shalat-shalat ini, dan memperingatkan dan menjauhkan orang lain dari mengerjakannya, dan menjelekkan mereka yang mengerjakannya, serta membuat gambaran buruk di dalam pelarangan dalam hal ini, karena telah shahih dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda: "Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubah dengan tangannya, bila tidak mampu, maka hendaklah ia merubah dengan lisannya, bila tidak mampu juga, maka hendaklah ia mengingkari kemungkaran itu dengan hatinya." (162) Dan kewajiban para 'ulama untuk menjauhkan diri mereka dari pelaksanaan shalat-shalat yang bid'ah ini lebih besar daripada yang selain 'ulama, karena para 'ulama akan menjadi contoh dan panutan ummat.

Dan janganlah ada seorangpun yang terpengaruh untuk melakukannya, hanya lantaran perbuatan bid'ah ini telah menyebar dan dilakukan oleh kebanyakan orang, karena yang layak menjadi teladan dan panutan (untuk diikuti) hanyalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seorang dan menjalankan apa yang telah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam perintahkan serta menjauhi apa yang telah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam larang dan apa yang beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam peringatkan untuk dijauhi. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala melindungi kita semua dari perkara-perkara bid'ah dan menjaga kita semua dari melakukan penyelisihan (terhadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam). Wallaahu a'lam. (163)

Bersambung...

===

(162) Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 49 dan yang lainnya.

(163) Lihat nukilannya di dalam kitab al-Bida' al-Hauliyyah halaman 265-266.

===

Maraji'/ Sumber:
Judul buku: Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan Maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?, Penulis: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Muraja'ah: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penerbit: Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta - Indonesia, Cetakan ketiga, Syawwal 1435 H/ Agustus 2014 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (17)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (17)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

17 - Adapun hal yang diceritakan oleh Muhammad Ibnu Jarir dari Ahmad rahimahullaah yang menyatakan bahwa orang yang menyatakan bahwa pelafalan al-Qur-an adalah bukan makhluk, berarti dia ahli bid'ah. Maksudnya adalah bahwa para 'ulama as-Salaf (ash-Shalih) dari kalangan Ahlus Sunnah (dari kalangan Shahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'in) tak pernah membicarakan "melafalkan al-Qur-an". Dan mereka tidak merasa perlu mempertanyakan hal itu. Akan tetapi pembicaraan seputar pelafalan al-Qur-an itu (semua kebiasaan itu terjadi) hanya ada di kalangan mereka (ahli bid'ah) yang menyukai soal-soal yang "njlimet". Mereka adalah orang-orang bodoh yang menimbulkan banyak kebid'ahan, membahas dan memperbincangkan banyak kesesatan serta ucapan-ucapan hina yang sudah dilarang (memperbincangkan tentang pendapat tersebut). Padahal para 'ulama Salaf dari kalangan kaum Muslimin tak pernah memperbincangkannya. Maka Imam Ahmad berkata, 'Perkataan itu sendiri secara tidak langsung adalah bid'ah. Sudah sepantasnya seorang yang baik agamanya (orang yang berpegang teguh pada ajaran as-Sunnah) untuk meninggalkannya. Tak perlu mengotori mulut dengannya atau dengan bid'ah-bid'ah sejenisnya. Cukup dia membatasi diri dengan apa yang diucapkan para 'ulama Salaf yang patut dicontoh. Bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah, bukan makhluk. Tak usah menambah-nambahi. Kecuali sekedar mengucapkan bahwa orang yang menyatakan bahwa al-Qur-an itu makhluk adalah kafir.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (8)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap kedelapan:

"Di awal mula kemunculannya (dajjal), ia berkata, 'Aku adalah Nabi. Padahal tidak ada Nabi lagi sesudahku.'"

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (7)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap ketujuh:

"Aku akan menerangkan kepadamu tentang ciri dan sifatnya (dajjal) dengan keterangan yang belum pernah disampaikan oleh seorang Nabi pun sebelumku."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (6)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap keenam:

"Sesungguhnya ia akan muncul dari wilayah 'Khullah' (antara Syam dan Iraq), kemudian akan membuat kerusakan di arah kanan dan kiri. Maka teguhkanlah pendirian kalian, wahai hamba-hamba Allah!"

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tafsir wanita: Surat al-Baqarah: Hukum-hukum puasa

Tafsir wanita

Surat al-Baqarah

Hukum-hukum puasa

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah Maha Mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan hawa nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf di dalam masjid. Itu larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa."
(Qur-an Surat al-Baqarah: ayat 187)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah berkata dalam tafsirnya, (1)

"Ini merupakan keringanan (rukhshah) dari Allah kepada kaum muslimin, dan merupakan keringanan dari apa yang dulu pernah ada ketika awal diturunkan agama Islam, yaitu jika salah seorang muslim telah berbuka, maka ada kesempatan (halal) baginya untuk makan, minum, jima' hingga sampai menjelang shalat 'isya atau hingga dia tidur sebelum waktu itu. Maka jika dia tidur atau shalat 'isya, menjadi haramlah baginya untuk makan, minum, jima' hingga malam selanjutnya."

Namun, mereka merasakan bahwa keringanan ini masih sebagai sesuatu yang sangat berat.

Yang dimaksud dengan rafats pada ayat tersebut adalah jima' (hubungan senggama). Sebagaimana dikatakan oleh 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma dan yang lainnya.

Sedangkan yang dimaksud dengan firman-Nya, "Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka," menurut Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma artinya adalah mereka menjadi penenang bagimu dan engkau menjadi penenang bagi mereka.

Ar-Rabi' bin Anas berkata, "Mereka adalah selimut bagimu dan kamu adalah selimut bagi mereka." Artinya adalah laki-laki dan perempuan itu saling mengisi, menyayangi dan berinteraksi. Maka karena itulah sangat dimungkinkan untuk diberi keringanan dalam masalah jima' pada setiap malam bulan Ramadhan agar mereka tidak mendapatkan kesulitan.

Bersambung...

===

(1) Kitab Tafsir al-Qur-an al-'Azhim, dengan ringkasan, 1/298.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsir al-Qur-an al-Azhim li an-Nisa', Penulis: Syaikh Imad Zaki al-Barudi, Penerbit: al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo - Mesir, Judul terjemahan: Tafsir wanita, Penerjemah: Samson Rahman MA, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan pertama, Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Panduan praktis hukum jenazah: Mengafani mayat (2)

Panduan praktis hukum jenazah

Bab XI

Mengafani mayat (2)

2. Untuk pembelian perangkat kafan diambil dari harta si mayat. Meskipun menghabiskan semua hartanya hingga tidak tersisa lagi, berdasarkan hadits Khabbab bin al-Arat radhiyallaahu 'anhu, ia berkata,

"Kami berhijrah bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam di jalan Allah, kami berharap melihat wajah Allah sehingga pahala kami tersedia di sisi Allah, di antara kami ada yang sudah mati tanpa mengecap sedikitpun hasilnya di dunia ini, seperti Mus'ab bin Umair, ia terbunuh di perang Uhud, tidak ditemukan sedikitpun hartanya, (dalam riwayat lain: ia tidak meninggalkan harta sedikitpun), kecuali hanya sedikit berupa sehelai kain, jika kami menutupi kepalanya maka nampak kedua kakinya, dan jika kami tutupi kedua kakinya maka nampak kepalanya, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Letakkan kain itu di bagian kepalanya (dalam riwayat lain: tutupkan di kepalanya), dan tutupi kedua kakinya dengan idzkhir (18) (daunan).'

Dan ada di antara kami yang mendapati hasil buahnya sampai matang sehingga ia sempat menuainya."

Bersambung...

===

(18) Idzkhir adalah sejenis rumput atau dedaunan yang wangi aromanya.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Talkhiish ahkaamul janaa-iz wa bida'uha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Judul terjemahan: Panduan praktis hukum jenazah, Penerjemah: Muhammad Dahri Lc dkk, Penerbit: Darus Sunnah Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Anda dan harta: Kisah rezeki dan harta: Langgengnya rezeki di bumi (4)

Anda dan harta

Kisah rezeki dan harta

Langgengnya rezeki di bumi (4)

Diceritakan oleh Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, "Pada masa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam terjadi paceklik selama setahun karena tidak ada hujan. Ketika Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sedang khutbah Jum'at, seorang badui berdiri dan berkata, 'Wahai Rasulullah, telah rusak harta dan keluarga karena kelaparan. Berdo'alah pada Allah untuk kami.' Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya, sedangkan kami tidak melihat gumpalan awan di langit. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak menurunkan tangannya sampai awan bergerak seperti gunung-gunung. Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak turun dari mimbarnya sehingga aku lihat hujan turun dengan lebatnya. Maka hujan turun pada hari itu; esok, lusa sampai hari Jum'at selanjutnya. Orang badui itu kemudian berdiri lagi -atau yang lain- dan berkata, 'Wahai Rasulullah, bangunan hancur, harta tenggelam, maka berdo'alah pada Allah untuk kami.' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya dan berdo'a, 'Ya Allah, turunkan hujan di sekitar wilayah kami, jangan di wilayah kami (terlalu banyak).' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memberi isyarat dengan jarinya ke arah awan kemudian awan-awan itu pecah dan kota Madinah menjadi berlubang-lubang (dengan adanya parit). Air mengalir selama sebulan. Tak seorang pun datang dari segala penjuru kecuali berkomentar baik." (1)

Bukti lain dari langgengnya rezeki adalah Allah menundukkan bagi manusia matahari, rembulan, malam dan siang, dan bintang-bintang. Allah menciptakan benda-benda padat di bumi untuk manusia: emas, perak dan lain-lain yang digunakan oleh manusia dalam industri yang bermacam-macam yang dibutuhkan dalam hidup. Allah berfirman,

"Dan apa-apa yang Dia ciptakan untuk kalian bermacam-macam. Pada yang demikian itu sungguh terdapat bukti bagi orang-orang yang berpikir."
(Qur-an Surat an-Nahl: ayat 13)

Allah berfirman,

"Kami turunkan besi yang memiliki kekuatan dan manfaat yang banyak bagi manusia."
(Qur-an Surat al-Hadid: ayat 25)

Allah menyebut besi secara khusus di samping benda-benda berat lainnya, sehingga surat ini disebut dengan al-Hadid, karena besi sangat bermanfaat bagi manusia. Industri besar, senjata-senjata, bangunan, kapal dan lain-lain, semuanya memerlukan besi.

Allah menundukkan laut bagi manusia, sebagai rezeki yang langgeng, agar manusia memakan daging-daging segar darinya. Allah keluarkan dari laut permata dan batu-batu mulia. Manusia berlayar menelusuri laut mencari rezeki dengan kapal-kapal yang diajarkan oleh Allah, pembuatannya melalui Nabi Nuh 'alaihis salaam. Dialah orang pertama yang membuat perahu dengan petunjuk, arahan dan pengawasan dari Allah. Allah berfirman,

"Buatlah perahu di bawah pengawasan Kami dan petunjuk Kami. Jangan kau tanyakan padaku tentang orang-orang zhalim. Sesungguhnya mereka akan tenggelam."
(Qur-an Surat Hud: ayat 37)

Dimungkinkannya manusia mengarungi dan menundukkan lautan dengan kendaraan merupakan nikmat yang besar dan langgeng. Andaikata Allah berkehendak, bisa saja Allah jadikan laut menenggelamkan manusia.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (24)

Kitab Adabul Mufrad (24)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 13: Bakti kepada kedua orang tua yang musyrik.

24. Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu 'anhu berkata, "Ada empat ayat dari al-Qur-an yang turun padaku. Pertama, ibuku bersumpah untuk tidak makan dan minum sampai aku memisahkan diri dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Allah Ta'ala lalu menurunkan ayat 15 surat Luqman:

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."

Kedua, aku pernah mengambil pedang yang aku sukai, lalu aku berkata kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, 'Wahai Rasulullah, berikanlah kepadaku pedang ini'. Maka turunlah ayat 1 surat al-Anfal:

"Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang."

Ketiga, aku pernah sakit, lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengunjungiku. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku ingin membagi hartaku, apakah aku boleh berwasiat untuk memberikan separuhnya?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidak'. Aku bertanya lagi, 'Sepertiganya?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam diam lalu sepertiga dibolehkan setelah itu.

Keempat, aku pernah minum minuman keras bersama salah satu kaum dari Anshar. Tiba-tiba salah seorang dari mereka memukulkan janggut unta pada hidungku. Aku segera menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Setelah itu Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai haramnya minuman keras (khamr)."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia: Pokok-pokok Ajaran syi'ah: Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia

Pokok-pokok Ajaran syi'ah

III. Di antara ajaran sesatnya:

23. Membolehkan shalat dalam keadaan telanjang.

"Imam Shadiq ditanya tentang seorang lelaki yang keluar telanjang, kemudian datang waktu salat. Beliau berkata, 'Ia salat telanjang dengan berdiri bila tidak ada yang melihatnya, dan dengan duduk bila ada yang melihatnya'."
(Buku Fiqih Ja'far, halaman 141)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Buku saku: Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia, Hasil Penelitian dan Kajian Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Diperbanyak oleh: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Jakarta - Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan kedelapan belas atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan kedelapan belas:

Pada halaman 120, pengarang (Muhammad Isa Dawud) berkata:

Jawaban jin sahabat saya itu sungguh mengejutkan, "Ya, memang benar. Mencampuri wanita haid kadang-kadang bisa melahirkan mukhannats. Nutfahnya rusak, bahkan bisa membuat laki-laki dan perempuan itu menderita penyakit."

Saya berkata: Tentang penyakit, maka para dokter tentu lebih tahu daripada kita dan seseorang telah mengabarkan kepada saya bahwa memang hal itu dapat menyebabkan penyakit, Allahu A'lam.

Yang perlu kita lihat lagi di sini adalah, bagaimana jin Muslim ini telah menshahihkan riwayat yang batil dan tidak sah itu. Hal ini dapat membuka peluang bagi terbukanya pintu kerusakan.

Pertanyaan pengarang (Muhammad Isa Dawud) kepada jin Muslim tentang sah atau tidaknya satu riwayat hadits, itu yang sangat berbahaya menurut saya. Muhammad Isa Dawud berkata pada halaman 119, "Bagaimana pendapatmu tentang ucapan Ibnu 'Abbas yang berbunyi..." Dalam hal ini jin telah diberi peluang untuk menshahihkan dan mendha'ifkan riwayat. Inilah yang tidak benar dan tidak pernah terjadi. Para 'ulama kita tidak pernah ada yang bertanya kepada jin tentang sah atau tidaknya sebuah riwayat, karena memang manusia lebih pintar daripada jin. Dan tidak diragukan lagi bahwa 'ulama kita lebih 'alim (mengetahui) dari 'ulama jin. Karena itu Nabi-nabi dan Rasul-rasul itu dari kalangan manusia, tidak ada yang dari kalangan jin.

Permasalahan 'ilmu riwayat ini sangat pelik. Kalau pintu ini dibuka, niscaya nanti akan ada seorang Muslim yang bersahabat dengan jin, kemudian dia akan bertanya kepada jin sahabatnya tentang sah atau tidaknya sebuah riwayat.

Saat ini kita lihat banyak hadits yang beredar yang di antaranya adalah yang dikatakan oleh para imam kita bahwa hadits yang berbunyi:

إِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

"Perselisihan ummatku adalah rahmat." (69)

Adalah tidak ada asalnya, begitu juga dengan hadits:

حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإْ ِيْمَانِ

"Cinta tanah air itu sebagian dari iman." (70)

Kemudian, nanti datang seseorang yang mengatakan bahwa hadits tersebut shahih atau shahih sanadnya. Dan kalau kita tanyakan kepadanya, dari mana anda mengetahui hal itu? Maka dia akan menjawab, "Dari jin," sehingga dapat kita bayangkan kerusakan yang akan timbul.

Bersambung...

===

(69) Hadits ini tidak ada asalnya, lihat uraian penulis dalam kitab Hadits-hadits Dha'if dan Maudhu' jilid 1 halaman 73 nomor 30. Dan lihat pula kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah 1/141-144 nomor 57.

(70) Hadits ini juga tidak ada asalnya, lihat uraian penulis dalam kitab Hadits-hadits Dha'if dan Maudhu' jilid 1 halaman 70 nomor 23.

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, bantahan terhadap buku Dialog dengan jin Muslim, Penulis: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penyusun: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Penerbit: Darul Qolam, Jakarta - Indonesia, Cetakan kedua, Tahun 1425 H/ 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Manajemen Umur: Hal-hal yang menyebabkan panjang umur: Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Manfaatkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah (Catatan kaki)

Manajemen Umur - Resep Sunnah menambah pahala dan usia

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

7. Manfaatkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah (Catatan kaki).

===

(90) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, kitab al-Fath ar-Rabbani 6/166, Imam al-Bukhari 2/530, Imam at-Tirmidzi dengan lafazhnya 3/258, dan Imam Abu Dawud 7/103.

Catatan: Kadang muncul permasalahan tentang bagaimana menggabungkan antara hadits tersebut di atas dengan hadits yang disebutkan pada catatan kaki terdahulu, bahwa tak ada 'amal yang menyamai pahala jihad. Imam al-Banna sendiri mengomentari hadits, "Maukah kalian aku beritahukan sebuah 'amal yang paling baik, yang paling bersih di sisi Allah, yang paling tinggi derajatnya dan lebih baik bagi kalian daripada memperoleh emas dan perak, serta lebih baik daripada berhadapan dengan musuh suatu hari, lalu kalian memenggal kepalanya dan merekapun memenggal kepala kalian?" Mereka (para shahabat radhiyallaahu 'anhum), "Mau wahai Rasulullah." Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Dzikrullah 'Azza wa Jalla." Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafazhnya, kitab al-Fath ar-Rabbani 14/198, Imam at-Tirmidzi 12/270, Imam Ibnu Majah 2/417, Imam Malik 1/211 bersumber dari Abu Darda radhiyallaahu 'anhu dan dishahihkan oleh Imam al-Arnauth dalam kitab Jami' al-Ushul 9/513. Imam al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami' nomor 5520 berkomentar bahwa beberapa 'ulama mempermasalahkan keutamaan dzikir daripada jihad kendatipun terdapat dalil-dalil shahih yang menguatkan bahwa jihad merupakan 'amal yang paling utama. Untuk itu, sejumlah 'ulama menjawab masalah ini dengan beragam jawaban antara lain bahwa hadits-hadits yang menyinggung tentang keunggulan satu 'amal terhadap 'amal lain dan hadits-hadits yang ada itu mengindikasikan bahwa keutamaan sebuah 'amal melebihi yang lain berbeda-beda tergantung pelaku dan kondisi. Siapa saja yang mampu berjihad dan mempunyai tekad kuat maka jihad adalah pilihan 'amal terbaik untuknya. Siapa saja yang mempunyai dukungan dana yang banyak maka sedekah adalah pilihan 'amal terbaik untuknya. Dan siapa saja yang tidak memiliki kedua kemampuan tersebut di atas, maka shalat adalah pilihan 'amal terbaik untuknya. Begitulah seterusnya (kitab al-Fath ar-Rabbani 14/198).

Pada kesempatan lain, beliau berkomentar, "Setiap 'amal yang diakhiri dengan dzikir akan lebih baik daripada 'amal yang tidak disudahi dengan dzikir," kitab al-Fath ar-Rabbani 14/204. Pendapat terakhir inilah yang dianut oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitab al-Wabil ash-Shayyib halaman 152.

Syaikh 'Abdurrahim al-Hasyimi berkata, "Bisa saja hadits yang menyinggung tentang jihad menyebutkan 'amal yang tidak dapat dibandingi dengan yang lainnya diarahkan pada jihad yang hukumnya wajib. Sedangkan hadits tentang dzikir dan 'amal shalih lainnya menggunguli jihad yang hukumnya sunnah. Sebab, hal ini dibutuhkan oleh seorang mujahid." Lebih jauh, silakan merujuk pada kitab Fath al-Bari, al-Hafizh Ibnu Hajar, awal bab Jihad 5/6, kitab ad-Da'awat, bab Dzikrullahi 'Azza wa Jalla 11/213.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Qayyim menyebutkan sebuah pendapat berharga dari empat perbedaan pendapat 'ulama tentang definisi timbangan yang shahih terhadap keutamaan 'ibadah. Ada empat pendapat dalam masalah ini. Beliau cenderung mendukung argumentasi salah satu pendapat, yaitu pendapat yang keempat. Beliau menyebutkan, "Pendapat keempat berargumentasi bahwa 'ibadah yang paling utama adalah 'amal yang dikerjakan untuk mencari keridhaan Allah di setiap waktu yang tepat. Karena itu, 'ibadah yang paling utama pada waktu jihad adalah jihad, meskipun ia harus meninggalkan wirid, shalat malam, puasa bahkan mengerjakan shalat fardhu dengan sempurna seperti yang dikerjakan ketika kondisi aman dan tenang.

'Amal yang paling utama ketika tamu datang berkunjung misalnya adalah memenuhi haknya dan melayaninya daripada berdzikir. Demikian pula halnya dalam melaksanakan hak isteri dan keluarga.

'Amal yang paling utama pada waktu sahur adalah shalat, membaca al-Qur-an, berdo'a, dzikir dan memohon ampun.

'Amal yang paling utama ketika memberikan bimbingan kepada murid dan mengajar orang yang tidak tahu adalah menerima mereka untuk diajari dan melayani mereka.

'Amal yang paling utama ketika adzan berkumandang adalah meninggalkan segala kesibukan dan menjawab adzan.

'Amal yang paling utama saat menunaikan shalat wajib adalah serius dan sungguh-sungguh melaksanakannya dengan sesempurna mungkin, segera menunaikannya pada awal waktu, dan melaksanakannya di masjid jami' meskipun jauh jarak yang ditempuh.

'Amal yang paling utama ketika seseorang sangat membutuhkan pertolongan apakah itu dengan menggunakan kedudukan, fisik atau harta adalah membantunya dan lebih mengutamakan memberikan pertolongan daripada sibuk berdzikir.

'Amal yang paling utama ketika membaca al-Qur-an adalah berkonsentrasi dan memfokuskan diri mentadabburi dan memahami isi al-Qur-an, sehingga seolah Allah Subhaanahu wa Ta'aala sedang berbicara dengan engkau. Dengan begitu, hati engkau akan berkonsentrasi untuk memahami dan mentadabburinya serta bertekad untuk melaksanakan perintah-perintahnya. Itu lebih utama daripada meluangkan waktu untuk menemui orang datang membawa surat dari seorang penguasa.

'Amal yang paling utama ketika wuquf di Arafah adalah bersungguh-sungguh dalam merendahkan diri, berdo'a dan berdzikir daripada berpuasa.

'Amal yang paling utama pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah adalah memperbanyak 'ibadah terutama takbir, tahlil dan tahmid daripada jihad yang hukumnya sunnah.

'Amal yang paling utama saat 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah berdiam diri di masjid, beri'tikaf daripada bergaul dengan masyarakat. 'Amal tersebut lebih utama daripada mengajarkan orang-orang 'ilmu dan membacakan kepada mereka al-Qur-an. Menurut pendapat sebagian besar 'ulama.

'Amal yang paling utama ketika seorang Muslim sakit atau meninggal adalah menjenguk dan melawatnya.

'Amal yang paling utama ketika tertimpa musibah dan dianiaya orang adalah bersabar sembari tetap berbaur dengan mereka. Sebab, Mukmin yang selalu berbaur dengan orang lain dan bersabar atas perlakuan buruk mereka lebih baik daripada orang yang tidak mau berbaur dengan ornag lain dan tidak pernah diperlakukan buruk. Berbaur dengan orang lain dalam kebaikan lebih baik daripada menjauhkan diri dari mereka dalam hal kebaikan. Menghindari berbaur dengan orang lain karena alasan kejahatan lebih utama daripada berbaur dengan mereka. Apabila ia tahu jika ia berbaur ia dapat memberantas atau meminimalkan kejahatan, maka saat itu berbaur lebih utama daripada mengucilkan diri.

'Amal yang paling utama pada setiap waktu dan kondisi adalah mendahulukan ridha Allah dengan menyibukkan diri melakukan 'ibadah yang dituntut pada saat itu. Orang-orang seperti itu adalah ahli 'ibadah yang melakukan 'ibadah dengan tidak terbatas. Sedang yang lain melakukannya dengan terbatas. Karena itu, ketika salah seorang mereka keluar dari jenis 'ibadah yang sering dilakukannya kemudian ditinggalkannya, ia melihat dirinya seolah-olah 'ibadahnya menurun dan telah meninggalkan 'ibadahnya. Sebab, ia hanya melihat 'ibadah dari satu sisi. Adapun orang yang melakukan 'ibadah tanpa batas, tidak mempunyai maksud dalam 'ibadahnya itu sendiri yang dapat mempengaruhi 'ibadahnya yang lain. Ia terus naik dalam tingkat dan kedudukan 'ibadahnya. Setiap kali naik satu kedudukan, ia berusaha menjalankannya dan terus mengerjakannya hingga mencapai kedudukan dan tempat yang lebih tinggi. Inilah awal perjalanannya hingga mencapai akhir. Apabila melihat 'ulama, engkau melihatnya bersama mereka. Jika melihat rakyat biasa, engkau juga melihatnya bersama mereka. Jika engkau melihat para pejuang, engkau pun melihatnya bersama mereka. Jika engkau melihat ahli dzikir, engkau pun melihatnya bersama mereka. Jika engkau melihat orang-orang yang suka bersedekah dan berbuat baik, engkau pun melihatnya bersama mereka.

Inilah bentuk 'ibadah mutlak yang tidak bisa dibatasi dengan batasan apapun. 'Amal yang dilakukan tidak hanya dimaksudkan untuk dirinya sendiri dan ketenangan jiwanya. Tapi ia melakukannya untuk mendapat ridha Rabbnya. (Kitab Tahdzib Madarik as-Salikin, halaman 71)

(91) Diriwayatkan oleh Imam al-Bazzar dari Jabir radhiyallaahu 'anhu dan Imam as-Suyuthi menilai hadits tersebut hasan, kitab al-Jami' ash-Shaghir nomor 1301, Imam al-Manawi dalam kitab Faidh al-Qadir 2/51 berpendapat sama. Imam al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami' nomor 1133 menilai hadits itu shahih dan berkomentar, "Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab Syu'ab al-Iman."

(92) Kitab Zaad al-Ma'ad fi Hadyi Khair al-Ibad, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah 1/57.

(93). Kitab Syu'ab al-Iman, Imam al-Baihaqi 3/354, Imam ad-Darimi 2/41.

(94) Kitab Syu'ab al-Iman, Imam al-Baihaqi 3/354, Imam ad-Darimi 2/41.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Kaifa Tuthiilu 'Umruka al-Intaajii, Penyusun: Muhammad bin Ibrahim an-Nu'aim, Pengantar: Syaikh Dr. Shalih bin Ghanim as-Sadlan, Syaikh 'Abdurrahim bin Ibrahim al-Hasyim, Penerbit: Daar adz-Dzakhair, Dammam - Arab Saudi, Cetakan ke-3, Tahun 1422 H, Judul terjemah: Manajemen Umur, Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia, Penerjemah: M. Yasir 'Abdul Muthalib Lc, Penerbit: Pustaka at-Tazkia, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'ul Awwal 1426 H/ Mei 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali: Muqaddimah

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perkataan yang jelas tentang hukum tawasul kepada Nabi dan wali

Muqaddimah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allah Jalla Jalaaluh berfirman:

"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Esa.' Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu (1). Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara (2) dengan Dia."
(Qur-an Surat al-Ikhlash: ayat 1-4)

Allah berfirman:

"Dan katakanlah, 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong (3) dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 111)

Dialah Allah yang:

"Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah (4)."
(Qur-an Surat Thaahaa: ayat 6)

Dialah yang berfirman:

"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Qur-an Surat Faathir: ayat 2)

"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul (5) siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa."
(Qur-an Surat asy-Syuura: ayat 49-50)

Dia-lah yang:

"Kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat al-Hadiid: ayat 2)

"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat al-Mulk: ayat 1)

"(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan (Tuhanku) Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat."
(Qur-an Surat asy-Syu'araa': ayat 78-82)

Dialah Dzat yang Maha memberi dan mencegah, Yang menimpakan madharat dan melimpahkan manfaat, Yang merendahkan dan meninggikan, mengagungkan (memuliakan) dan menghinakan dengan keadilan-Nya, keutamaan-Nya dan hikmah-Nya, bukan karena (keutamaan, -pent) satupun dari makhluk-Nya, bahkan:

"Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar."
(Qur-an Surat al-Jumu'ah: ayat 4)

"Katakanlah, 'Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 26)

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya; Dia berfirman kepada Nabi-Nya:

"Katakanlah, 'Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman."
(Qur-an Surat al-A'raaf: ayat 188)

Dan berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 128)

Dia berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatan pun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun yang dapat melindungiku dari (adzab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya."
(Qur-an Surat al-Jin: ayat 21-22)

Dan Dia berfirman kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah."
(Qur-an Surat al-Ahzab: ayat 17)

Dan aku bersaki bahwa junjungan kita Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya, yang bersabda:

"Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau minta tolong maka mintalah tolong kepada Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seandainya ummat ini bersatu untuk memberikan manfaat padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukan hal itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagimu; dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan madharat kepadamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering." (6)

Dan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam lah yang bersabda:

"Wahai Abu Bakar, janganlah engkau beristighatsah (minta tolong dalam keadaan sempit, -pent) kepadaku namun istighatsah hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla." (7)

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada beliau (Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam), keluarganya dan para shahabatnya serta setiap hamba yang mengikuti Sunnahnya, menelusuri jejak-jejaknya, menolong dan berwala' (setia, tunduk dan patuh, -pent) kepadanya. Amma ba'du:

Maka risalah ini:
القول الجلي, في حكم التو سل بالنبي والولي
yang ditulis -dengan cepat dan ringkas- oleh seorang yang mengharap untuk digolongkan dengan orang-orang yang bertaqwa lagi terpilih Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin 'Abdus Salam, (dipersembahkan, -pent) bagi setiap ahlul Islam yang hendak menelaahnya, semoga Allah menyinari hati-hati kita dan hati mereka dengan cahaya 'ilmu dan Iman dan semoga Allah menjadikan kita dan mereka termasuk orang-orang yang mengikuti al haq dan petunjuk, menolong Sunnah dan al-Qur-an. Semoga Allah melindungi kita dan mereka dari kesesatan hati dan hasutan syetan serta dari wasilah-wasilah yang diada-adakan (bid'ah) yang mendekatkan kepada Neraka dan semoga Allah melindungi kita dari kesyirikan dalam beribadah kepada ar-Rahman.

As-Salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Adapaun setelah itu:

Maka, ketahuilah wahai saudara-saudaraku!

Sesungguhnya tawasul di dalam al-Qur-an al-'Azhim, dan dalam sabda as-Sayyid yang maksum dan al-Amin (yang dapat dipercaya), menurut para 'ulama ahli bahasa, ahli hadits dan para ahli tafsir adalah: Mendekatkan diri kepada Allah Rabb semesta alam dengan apa-apa yang disyari'atkan-Nya melalui lisan pemimpinnya para Nabi (yakni Muhammad bin 'Abdillah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, -pent).

Dan berikut ini (aku bawakan, -pent) nash-nash perkataan mereka tentang pengertian tawasul semuanya:

1. Berkata di dalam kitab al-Qamus pada madah (وَسَلَ):

اَلْوَسِيْلَةُ وَالْوَاسِلَةُ
(Al-Wasiilah dan al-Waasilah) adalah satu kedudukan di sisi penguasa (raja) dan tingkatan serta upaya mendekatkan diri.
وَوَسَلَ اِلَى اللّهِ تَعَالَى تَوْسِيْلاً
yaitu menempuh perantara kepada Allah Jalla Jalaaluh dengan suatu wasilah artinya melakukan suatu 'amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. (Selesai ucapan penulis kitab al-Qamus)

Dan berkata di dalam kitab al-Misbahul Muniir (8) dalam madah (وَسَلَ):

وسلت إلى اللّه بالعمل
Aku menempuh suatu perantara kepada Allah dengan 'amalan, (أَسِلُ) dari bab (وَعَدَ) artinya aku ingin, dan aku mendekatkan diri, dan dari kata (وسل) pecahan dari kata (الوسيلة) yaitu sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada sesuatu -hingga perkataan penulis al-Misbah- dan bertawasul kepada Rabbnya dengan suatu wasilah artinya mendekatkan diri kepada-Nya dengan suatu 'amalan. Selesai ucapan penulis kitab al-Misbah.

2. Dan Imam Ibnul Atsir rahimahullaah berkata di dalam kitab an-Nihayah (وسل) di dalam hadits tentang adzan:

اللّهمّ ات مهمّدا الواسيلة
"Ya Allah, limpahkanlah kepada Muhammad al-Wasilah."

Wasilah asalnya adalah sesuatu yang digunakan sebagai perantara menuju sesuatu dan mendekatkan diri dengannya -sampai perkataannya- dan yang dimaksud hadits tersebut adalah kedekatan kepada Allah. (9) Selesai ucapan penulis.

Dan berkata di dalam (kitab ad-Durur an-Natsir):
Al-Wasiilah adalah sesuatu yang digunakan sebagai perantara menuju sesuatu, dan mendekatkan diri kepadanya, dan bentuk jamaknya adalah al-Wasaail. Selesai ucapan penulis.

3. Dan di dalam (kitab Mufradat ar-Raghib al-Ashfahaniy) pada kata (وسل): Al-Wasiilah adalah bertawasul kepada sesuatu dengan satu harapan -hingga perkataannya-:

"Dan carilah wasilah kepada Allah."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 35)

Hakikat wasilah kepada Allah adalah menjaga jalan-Nya dengan 'ilmu dan 'ibadah dan memelihara syari'at yang mulia. Dan wasilah adalah upaya mendekatkan diri. Selesai ucapan penulis.

Berkata Imam ath-Thabari rahimahullaah di dalam kitab tafsirnya:

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah wasilah kepada Allah."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 35)

Dia mengatakan: Dan carilah pendekatan diri kepada-Nya dengan mengamalkan apa-apa yang diridhai-Nya. Al-Wasiilah berwazan (الفعلية) dan ucapan seseorang: "Aku bertawasul kepada fulan dengan ini", maknanya aku mendekatkan diri kepadanya, dan dari sana terdapat ucapan 'Intirah (seorang penyair):

Sesungguhnya para lelaki punya cara untuk mendekatkan diri kepadamu (perempuan)
Jika mereka memperhatikanmu, engkau bercelak dan bersemir

Yaitu dengan al-Wasiilah artinya dengan al-Qurbah (pendekatan diri), kemudian dia berkata: Dan ucapan kami tentang al-Wasiilah adalah seperti yang diucapkan oleh ahli ta'wil (tafsir, -pent) beliau membawakan ucapan-ucapan mereka dan menjelaskannya satu persatu. Kesimpulannya: al-Wasiilah adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan apa-apa yang diridhai-Nya. Selesai ucapan penulis.

Bersambung...

===

(1) Ash-Shamad adalah as-Sayyid, dikarenakan Dia tempat bergantungnya (hamba) dalam rangka memenuhi kebutuhannya, yaitu yang dituju, dikatakan: (قصده) yaitu (صمده من باب نصره).(Kitab Mukhtarush Shihah)

(2) Kata (كفوا) yaitu tidak ada bagi-Nya sesuatupun yang sekufu, yaitu yang serupa dengan-Nya dari sahabat atau yang selainnya. (Tafsir al-Baidhawi)

(3) Kata (ولي) artinya: (penolong) yang menolongnya karena kelemahan yang ada padanya, agar dia (wali tersebut) dapat menolak kelemahan tersebut dengan pertolongannya. Selesai (kitab Tafsir al-Baidhawiy)

(4) Kata (الثرى) artinya tanah yang basah, lembab.

(5) Kata (العقيم) yaitu tidak mempunyai anak, demikian juga makna dari laki-laki yang mandul adalah tidak mempunyai anak. (Kitab Tafsir an-Nusafi)

(6) Dikeluarkan dari hadits Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma oleh Imam Ahmad 1/307, dan Imam at-Tirmidzi 4/575, 576 nomor hadits 2516 dan lafazh ini bagi Imam at-Tirmidzi.

(7) Yang masyhur dari hadits:
"Bahwasanya istighatsah bukan kepadaku, namun istighatsah hanya kepada Allah Jalla Jalaaluh," diriwayatkan oleh Imam ath-Thabari dalam kitab Majma' az-Zawa'id 10/159, dia berkata, "Ahmad telah meriwayatkan dengan konteks selain di atas, yaitu dalam al-Adab bab al-Qiyam.

(8) Kitab al-Misbahul Muniir fii Gharibisy Syarhil Kabir lir Rafi'i oleh Ahmad Muhammad al-Muqri 2/660.

(9) Kesempurnaan ibarat yang diberikan Ibnul Atsir adalah (dan dikatakan: yaitu syafa'at pada hari Kiamat dan dikatakan pula, maksudnya adalah suatu kedudukan dari kedudukan-kedudukan yang ada di Surga, demikianlah yang datang dalam hadits. Selesai) (al-Anshari).

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Qaul al-Jalii fii Hukmi at-Tawassul bi an-Nabii wa al-Walii, Penulis: Syaikhul Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin 'Abdus Salam, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (5)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap kelima:

"Jika ia (dajjal) muncul, sedang aku masih berada di tengah-tengah kalian, maka aku akan menjadi pembela (pelindung) bagi setiap muslim. Akan tetapi, jika ia muncul sesudah aku wafat, maka setiap muslim menjadi pembela dirinya sendiri, sedang Allah adalah khalifahku (yang menggantikanku sebagai penyelamat) bagi setiap muslim."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (4)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap keempat:

"Ia (dajjal) pasti akan muncul di tengah kalian (tidak mungkin tidak)."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Teks hadits Abu Umamah (3)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam untuk membunuhnya

Bagian kedua

Teks hadits riwayat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu secara terpotong menjadi 49 paragrap

Paragrap ketiga:

"Aku adalah Nabi terakhir, sedang kalian adalah ummat terakhir pula."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi? Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (11)

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?

Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (11)

Ke-3: Imam an-Nawawi rahimahullaah.

Imam an-Nawawi telah berfatwa di dalam kitab kumpulan Fatwa-fatwanya yang berjudul Fatawa al-Imam an-Nawawi atau yang biasa disebut: al-Masaa-il al-Mantsurah halaman 40:

(Shalat Raghaa-ib) itu adalah sebuah perbuatan bid'ah yang jelek dan munkar serta seburuk-buruk kemungkaran, yang mengandung banyak sekali perbuatan yang munkar. Maka wajib untuk ditinggalkan, dan wajib juga bagi kaum Muslimin untuk tidak memperhatikannya, sebagaimana juga wajib bagi kaum Muslimin untuk mengingkari setiap orang yang mengerjakannya. Dan para penguasa kaum Muslimin juga wajib untuk melarang orang-orang yang mengamalkannya -mudah-mudahan Allah membantu mereka dalam hal ini-, karena sesungguhnya para penguasa itu adalah pemimpin bagi kaum Muslimin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya (di hadapan Allah kelak).

Dan banyak dari para 'ulama yang telah menulis kitab-kitab khusus untuk mengadakan pengingkaran dan pencelaan terhadap perbuatan bid'ah ini, dan mereka juga mencap bodoh orang-orang yang melaksanakannya. Dan janganlah kamu tertipu dengan banyaknya orang yang melakukannya di berbagai negeri Islam, dan jangan pula kamu tertipu dalam hal ini hanya lantaran bid'ah ini telah disebutkan di dalam kitab Qutul Qulub dan kitab Ihya 'Ulumuddin dan selain kedua kitab tersebut. Karena walaupun demikian, tetap saja hal itu adalah perbuatan bid'ah yang bathil, dan telah sah sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang berbunyi: "Barangsiapa yang mengadakan suatu perkara yang baru dalam urusan kami yang tidak bersumber dari (ajaran) kami, maka perkara tersebut pasti tertolak"...dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah memerintahkan kita untuk kembali kepada Kitab-Nya (yakni al-Qur-an) saat terjadi perselisihan di antara kaum Muslimin, dimana Allah berfirman, "Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur-an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian." (Qur-an Surat an-Nisa'(4): ayat 59), dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak memerintahkan kita untuk mengikuti orang-orang jahil (bodoh), dan tidak juga memerintahkan untuk mengikuti ketergelinciran para 'ulama yang tersalah dalam hal ini, wallaahu a'lam.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Judul buku: Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan Maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?, Penulis: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Muraja'ah: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penerbit: Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta - Indonesia, Cetakan ketiga, Syawwal 1435 H/ Agustus 2014 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (16)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (16)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

16 - Aku katakan: Aku mengatakan: Beliau itu -yakni Ibnu Jarir- rahimahullaah Ta'aala dengan pembahasan yang beliau paparkan dalam kitabnya ini, telah mementahkan semua yang dinisbatkan dan dituduhkan kepada beliau, bahwa beliau orang yang menyimpang dari jalan as-Sunnah, atau membelot kepada pemahaman bid'ah. Hal yang beliau ceritakan dari Imam Ahmad rahimahullaah tentang pernyataan bahwa pelafalan al-Qur-an itu adalah keyakinan jahmiyyah adalah benar adanya. Hal itu beliau (Imam Ahmad) ungkapkan, karena Jahm bin Sufyan dan teman-temannya terang-terangan menyatakan bahwa al-Qur-an itu adalah makhluk. Mereka yang menyoal tentang pelafalan al-Qur-an itu sesungguhnya secara berangsur akan menyatakan bahwa al-Qur-an adalah makhluk. Namun mereka masih merasa takut terhadap Ahlus Sunnah pada masa itu untuk terang-terangan menyatakan al-Qur-an sebagai makhluk. (Maka mereka membungkusnya dalam bentuk pernyataan mereka tersebut agar mereka tidak dikelompokkan bersama Jahm bin Sufyan. Mereka itu adalah setan-setan dari golongan manusia yang membisikkan kepada sesamanya ucapan-ucapan yang dihias-hias untuk menipu daya). Maka merekapun melontarkan pernyataan itu. Bahwa al-Qur-an ketika kami lafalkan adalah makhluk. Maka dari itu Imam Ahmad menamakan mereka dengan jahmiyyah (pengikut Jahm bin Sufyan, -pent). Bahkan diriwayatkan juga bahwa beliau pernah berkata: Menyoal tentang pelafalan al-Qur-an itu lebih jahat dari keyakinan jahmiyyah!!

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: 'Aqiidatu as-Salaf Ash-haabu al-Hadiits, Penulis: Syaikhul Islam Abu Isma'il 'Abdurrahman bin Isma'il ash-Shabuni, Pentahqiq: Badar bin 'Abdullah al-Badar, Judul terjemah: 'Aqidah Salaf Ashabul Hadits, Penerjemah: Abu Umar Basyir al-Maidani, Penerbit: at-Tibyan, Solo, Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Anda dan harta: Kisah rezeki dan harta: Langgengnya rezeki di bumi (3)

Anda dan harta

Kisah rezeki dan harta

Langgengnya rezeki di bumi (3)

Sebagian dari nikmat Allah adalah dijadikan turunnya air dengan kadar tertentu sesuai kebutuhan. Allah berfirman:

"Kami turunkan dari langit, air dengan kadar tertentu kemudian Kami tetapkan di bumi. Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa untuk menghilangkannya."
(Qur-an Surat al-Mu'minun: ayat 18)

Air jika terlalu banyak akan merusak bumi dan tanaman, begitu juga jika terlalu sedikit. Dengan demikian air ada ukurannya sesuai dengan kebutuhan untuk menyirami tumbuhan, minum dan lain-lain. Bahkan tanah yang membutuhkan air yang banyak untuk tanamannya, persediaan airnya tidak cukup, maka akan dicukupi dengan mengalirkan air dari negara lain. Seperti tanah di Mesir, tanah yang tidak subur karena hampir tidak pernah turun hujan, Allah mengalirkan air melalui sungai Nil di negeri itu, yang bersamanya ikut mengalir tanah merah dari Etiopia pada musim hujan. Kemudian air datang menyirami bumi Mesir dan tanah merah itu mengendap di Mesir sehingga mudah ditanami. Pada dasarnya tanah Mesir itu gersang, karena terdiri dari pasir.

Maha Suci Allah yang Maha Pengasih pada hamba-hamba-Nya. Begitu juga dengan negeri yang tanahnya tidak pernah mendapatkan turun hujan sama sekali, kemudian Allah mengalirkan air melalui sungai-sungai kecil. Apakah manusia tidak melihat tanda-tanda ini yang menunjukkan adanya Sang Pencipta yang Maha Kuasa secara sempurna? Allah berfirman,

"Apakah mereka tidak melihat sesungguhnya Kami mengalirkan air ke tanah yang tidak subur. Kemudian Kami keluarkan, dengan air, tumbuhan yang dimakan oleh ternak mereka dan diri mereka. Apakah mereka tidak berpikir?"
(Qur-an Surat as-Sajadah: ayat 27)

Atau Allah hidupkan bumi yang mati, yang tidak ada tumbuhan, dengan air yang berkah sebagai rezeki bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman,

"Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, sebagai rezeki bagi para hamba. Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan."
(Qur-an Surat Qaf: ayat 9-11)

"Sebagai tanda bagi mereka, bumi yang mati Kami hidupkan dan Kami keluarkan darinya biji-bijian. Dari biji-bijian itulah mereka makan. Kami jadikan di bumi kebun-kebun kurma, anggur dan Kami pancarkan beberapa mata air supaya mereka memakan dari buah-buahan dan apa yang mereka buat. Apakah mereka tidak bersyukur?"
(Qur-an Surat Yasin: ayat 33-35)

Jadi, semua itu bukanlah ciptaan manusia, melainkan ciptaan Allah sebagai rahmat dari-Nya bagi para hamba. Hendaklah mereka bersyukur atas segala nikmat yang tidak terhingga itu.

Karena sesuatu sering kali diketahui kadarnya melalui lawannya, sebagaimana mengetahui kadar sehat dengan sakit, maka kadangkala pada sebagian wilayah diturunkan hujan yang banyak yang mengakibatkan banjir dan merusak tanaman. Sebagian wilayah sedikit sekali turun hujan yang menyebabkan kekeringan dan paceklik. Yang demikian itu bukanlah adzab dari Allah atas kekufuran manusia, bukan pula sebagai ujian kesabaran bagi mereka orang-orang yang beriman, melainkan peringatan dari Allah bahwa yang demikian itu terjadi berdasarkan kehendak dan kekuasaan-Nya dan peringatan betapa besarnya nikmat turunnya air dengan kadar tertentu sesuai kebutuhan tanah. Dengan demikian para hamba akan mensyukuri nikmat besar dari Allah. Hal ini pernah terjadi di masa Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang menggambarkan tentang peristiwa seperti itu.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Panduan praktis hukum jenazah: Mengafani mayat

Panduan praktis hukum jenazah

Bab XI

Mengafani mayat

1. Setelah selesai memandikan mayat, wajib untuk mengafaninya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk mengafani mayat seseorang yang sedang berihram yang jatuh dari unta hingga lehernya patah, sebagaimana tersebut dalam hadits:

"Dan kafanilah ia."

Hadits ini telah dimuat dalam lafazhnya yang lengkap pada bab terdahulu.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Talkhiish ahkaamul janaa-iz wa bida'uha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Judul terjemahan: Panduan praktis hukum jenazah, Penerjemah: Muhammad Dahri Lc dkk, Penerbit: Darus Sunnah Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Tafsir wanita: Surat al-Baqarah: Qishash untuk perempuan

Tafsir wanita

Surat al-Baqarah

Qishash untuk perempuan

Allah berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapatkan suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah yang memaafkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf membayar diat (denda) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih."
(Qur-an Surah al-Baqarah: ayat 178)

Imam as-Suyuthi rahimahullaah berkata dalam kitab Tafsirnya, (1)

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan (difardhukan). Atas kamu qishash (balasan serupa), berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (baik dalam sifat dan perbuatan). Orang merdeka (dibunuh) dengan orang merdeka (tidak dibunuh dengan hamba), hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita."

Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menerangkan bahwa laki-laki dibunuh karena membunuh seorang wanita.

Aku katakan, "Ini mengisyaratkan pada sebuh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Anas, 'Sesungguhnya ada seorang yahudi memukul seorang perempuan dengan dua batu. Kemudian dikatakan padanya, 'Siapa yang melakukan itu padamu? Apakah fulan atau fulan?' Hingga akhirnya disebutkan nama yahudi, dan dia menganggukkan kepalanya. Maka orang yahudi itu diambil dan dia dipukul kepalanya dengan dua batu." (2)

Oleh karena itulah Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata dalam kitab Syarh Shahih Muslim, (3) bahwa dalam hadits ini ada beberapa hal penting, yaitu:

Pertama, seorang lelaki bisa dibunuh karena membunuh seorang wanita. Ini adalah ijma' 'ulama.

Kedua, seorang yang melakukan tindakan kriminal pembunuhan secara sengaja, maka dia harus dibunuh dengan cara qishash sesuai sifat bagaimana dia membunuh. Jika dia membunuh dengan pedang, maka dia hendaknya dibunuh dengan menggunakan pedang, jika dia membunuh dengan menggunakan batu atau kayu, maka dia hendaknya dibunuh dengan cara serupa. Sebagaimana seorang yahudi yang memukul kepala seorang perempuan, maka kemudian yahudi itu pun dipukul kepalanya sebagai balasan.

Ketiga, dalam penetapan qishash antara lelaki dan wanita, ada tiga madzhab:

1. Madzhab Atha' dan Hasan; Sesungguhnya tidak ada qishash antara keduanya dalam jiwa dan anggota tubuh, namun hendaknya diberikan tebusan, sebagai penafsiran dari firman Allah, "Perempuan dengan perempuan."

2. Madzhab jumhur 'ulama dari kalangan shahabat dan tabi'in, dan orang-orang yang datang setelah mereka, tentang keharusan qishash antara keduanya, baik pada jiwa maupun lainnya. Hal ini berdasarkan pada firman Allah, "Jiwa (dibalas) dengan jiwa..." hingga akhir ayat. (Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 45)

Walaupun ayat ini merupakan syari'at bagi kaum sebelum kita, dan hal itu masih diperselisihkan kehujjahannya secara masyhur di antara para 'ulama ushul, namun perbedaan pendapat itu hanyalah muncul jika syari'at kita tidak mengokohkannya (menegaskan kembali dalam syari'at Islam). Jika syari'at kita ternyata mengokohkannya kembali dan sepakat dengannya, maka hal itu juga berarti menjadi syari'at kita, tanpa ada perbedaan pendapat apa pun di antara mereka. Sedangkan dalam masalah ini, telah ada hadits yang mengokohkannya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas. Demikianlah, wallaahu a'lam.

3. Madzhab Imam Abu Hanifah dan shahabat-shahabatnya mewajibkan qishash antara wanita dan pria, khusus dalam masalah jiwa dan tidak mewajibkan dalam masalah selainnya.

Di antaranya adalah wajibnya qishash dalam hal gigi dengan gigi. Jika tanggal semuanya, maka disepakati harus ada qishash. Jika sebagiannya yang tanggal, maka di sana ada perbedaan pendapat.

Sedangkan jika tulang patah, maka yang demikian itu ada perbedaan pendapat di dalamnya. Pendapat kebanyakan 'ulama adalah tidak berlaku qishash. Wallaahu a'lam.

Aku katakan; Dengan demikian, jumhur 'ulama berpendapat bahwa seorang lelaki yang membunuh seorang perempuan, maka dia harus dibunuh.

Hal ini menggambarkan bahwa jiwa seorang wanita memiliki derajat yang sama dengan jiwa seorang lelaki. Tidak ada bedanya. Itu jika dilihat dari sisi jiwa.

Namun jika dilihat dari sisi nilai diyat (tebusan darah), maka bagi perempuan diberlakukan separuh diyat dari laki-laki. Ini tentu saja tidak berarti mengurangi hak perempuan. Tidak, sekali lagi, sungguh tidak!!

Namun, maksud dijadikannya diyat wanita separuh dari laki-laki yaitu, karena laki-laki adalah pihak yang bertanggung jawab dan yang membiayai atas wanita. Hal ini tentu berbeda dengan wanita, merupakan yang mendapat biaya belanja. Dari sinilah maka syari'ah memperhatikan tebusan (diyat) perempuan separuh dari diyat laki-laki.

Namun jika masalahnya berhubungan dengan jiwa sebagai jiwa, maka di sinilah wajib diberlakukan secara sama, yaitu qishash bagi setiap orang yang membunuh, baik yang membunuh itu laki-laki atau pun perempuan. Ini memberikan penjelasan kepada kita tentang masalah yang pada umumnya tidak dipahami dengan jelas oleh orang-orang yang sengaja membangkang perintah Allah; dengan mengatakan bahwa Islam telah menzhalimi wanita, atau ungkapan-ungkapan lain serupa yang sering mereka pakai.

Mereka juga berdalih, karena dijadikannya tebusan wanita dan warisannya, separuh dari yang berlaku untuk laki-laki.

Namun mereka lupa, bahwa yang menjadi fokus utama dalam persoalan ini sesungguhnya adalah masalah nafkah. Sebab laki-lakilah yang secara umum menanggung biaya hidup wanita. Dengan demikian, maka wajar jika tebusan nyawa wanita dan warisannya separuh dari apa yang berlaku untuk laki-laki. Sebab kehilangan seorang laki-laki sebagai penanggung jawab dan tulang punggung keluarga akan demikian berat bagi sebuah keluarga, dan tentu saja sangat berbeda dengan hilangnya orang lain yang bukan menjadi penanggung jawab dan tulang punggung keluarga. Sebagaimana juga hendaknya wanita tahu, bahwa syari'at itu datang dari Allah, yang tidak akan mungkin berlaku zhalim walaupun seberat buah dzarrah pun baik di langit maupun di bumi. Maka hendaknya engkau rela dan janganlah engkau membecinya!

Bersambung...

===

(1) Maksudnya adalah kitab Tafsir Jalalain, tulisan Imam as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli: 1/34. Kami menisbatkan perkataan ini pada Imam as-Suyuthi, karena dia adalah penulis tafsir itu dari surat al-Baqarah hingga akhir surat al-Isra'. Sedangkan sisa surat selanjutnya ditulis oleh Jalaluddin al-Mahalli.

(2) Hadits Riwayat Imam al-Bukhari 2413, Imam Muslim 1672.

(3) Kitab Syarh Muslim 11/158-164.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsir al-Qur-an al-Azhim li an-Nisa', Penulis: Syaikh Imad Zaki al-Barudi, Penerbit: al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo - Mesir, Judul terjemahan: Tafsir wanita, Penerjemah: Samson Rahman MA, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan pertama, Juni 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan ketujuh belas atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan ketujuh belas:

Masih dalam halaman 119, ia (Muhammad Isa Dawud) berkata:

Bagaimana pendapatmu tentang ucapan Ibnu 'Abbas yang berbunyi, "Apabila seorang laki-laki mencampuri isterinya ketika haidh, maka setan mendahuluinya. Ketika dia hamil dan melahirkan, maka yang lahir adalah al-Mukhannats, yaitu anak-anak jin." (67)

Saya berkata: Apakah para pembaca yang budiman mengetahui apakah itu al-Mukhannats? Al-Mukhannats adalah banci.

Atsar di atas menyatakan bahwa apabila seorang laki-laki menyetubuhi isterinya yang sedang haidh, maka setan mendahuluinya dan lalu kalau lahir anak, maka anaknya itu mukhannats (banci). Ini adalah atsar yang batil. Mencampuri isteri yang sedang haidh memang berdosa, karena Allah Jalla wa 'Ala melarang dengan tegas dalam al-Qur-anul Karim. Para 'ulama berselisih tentang dendanya. Karena dalam salah satu hadits diterangkan bahwa dendanya sebesar satu dinar, setengah dinar (68) dan lain sebagainya. Intinya bahwa hadits-haditsnya masih diperselisihkan. Akan tetapi belakangan ini saya telah mentakhrij hadits-hadits tersebut. Insya Allah sepanjang yang saya ketahui, hadits tersebut dapat digunakan sebagai dasar akan adanya denda bagi mereka yang mencampuri isterinya yang sedang haidh, semampunya.

Jadi selain bertaubat, maka harus membayar denda juga, akan tetapi tidak ada keterangan bahwa anak yang akan lahir nanti adalah banci.

Bersambung...

===

(67) Diriwayatkan oleh Imam Ibnu ath-Thabari' dalam kitab Tafsirnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Isa Dawud.

(68) Haditsnya diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma secara marfu' (sampai kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) dan mauquf (sampai kepada Shahabat) dengan lafazh sebagai berikut:

Dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentang seseorang yang mencampuri isterinya yang sedang haidh, beliau bersabda, 'Hendaklah ia bersedekah satu atau setengah dinar'."

Diriwayatkan secara marfu' oleh Ashabus Sunan (para pengarang kitab Sunan): Imam Abu Dawud nomor 264, Imam at-Tirmidzi nomor 136, Imam an-Nasa-i nomor 290 dan 370, Imam Ibnu Majah nomor 640. Dan hadits ini telah dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud 1/12, kitab Shahih Sunan an-Nasa-i 1/95 nomor 288, dan kitab Shahih Sunan Ibni Majah 1/198 nomor 529.

Saya berkata: Tidak ada seorangpun dari para imam yang empat yang mengamalkan hadits ini, kecuali Imam Ahmad dalam salah satu riwayat bersama dengan sebagian kecil 'ulama yang lainnya dan inilah yang lebih rajih (kuat) berdasarkan hadits di atas. Imam an-Nasa-i berkata dalam kitab Sunannya, "Bab tentang apa yang diwajibkan atas seorang suami yang mendatangi isterinya ketika haidh, setelah ia mengetahui larangan Allah Jalla wa 'Ala tentang larangan mendatanginya." Dan Imam Ibnu Majah berkata dalam kitab Sunannya, "Bab tentang denda seseorang yang mendatangi isterinya di masa haidh." Allahu a'lam.

Setelah kita mengetahui keshahihan hadits di atas, maka wajiblah bagi kita untuk mengamalkannya. Keterangan lengkapnya lihat kitab Adabuz Zifaf halaman 122-123 dan kitab Irwaul Ghalil 1/217-218 nomor 197.

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, bantahan terhadap buku Dialog dengan jin Muslim, Penulis: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penyusun: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Penerbit: Darul Qolam, Jakarta - Indonesia, Cetakan kedua, Tahun 1425 H/ 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia: Pokok-pokok Ajaran syi'ah (24)

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia

Pokok-pokok Ajaran syi'ah

III. Di antara ajaran sesatnya:

22. Mengganti kewajiban membacaa al-Fatihah ketika shalat.

"Pada rakaat ketiga salat magrib dan pada dua rakaat terakhir salat zuhur, asar, dan isya, orang boleh memilih antara membaca al-Fatihah dan membaca:

Sub-haanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.

Sekali. Namun disunnahkan membacanya tiga kali."
(Fiqih Ja'fari, halaman 162)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Buku saku: Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia, Hasil Penelitian dan Kajian Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Diperbanyak oleh: Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Jakarta - Indonesia.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (23)

Kitab Adabul Mufrad (23)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 12: Tidak memintakan ampun bagi orang tua yang musyrik.

23. Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata bahwa ayat 23 dari Surat al-Israa' (yang artinya):

"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan pada keduanya "ah" dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah pada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Wahai Rabbku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku di waktu kecil'."

dimansukhkan (13) dengan ayat 113 Surat at-Taubah (yang artinya):

"Tidak selayaknya bagi Nabi untuk meminta ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka itu adalah kaum kerabat, setelah tampak bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni Neraka."

Bersambung...

===

(13) Mansukh artinya dihapuskan yaitu hukum yang berlaku padanya. Sebenarnya yang terjadi adalah pengkhususan dari ayat pertama. Akan halnya keharusan untuk berbakti pada keduanya, selama itu tidak bertentangan dengan peraturan Allah Ta'ala, adalah masih tetap berlaku.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (22)

Kitab Adabul Mufrad (22)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 11: Siapa yang berbakti pada kedua orang tuanya Allah akan menambah umurnya.

22. Sahl bin Mu'adz dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Siapa yang berbakti kepada kedua orang tuanya maka kebaikanlah baginya, Allah Ta'ala akan menambah umurnya."

* Dha'if

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (21)

Kitab Adabul Mufrad (21)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 10: Orang yang masih hidup orang tuanya tetapi tidak masuk Surga.

21. Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata, "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.' Para shahabat radhiyallaahu 'anhum bertanya, 'Siapa wahai Rasulullah?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Siapa yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup, atau salah satunya, di saat sudah tua lalu dia masuk Neraka.'"

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (15): Sebab-sebab yang disyari'atkan dan yang tidak disyari'atkan

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (15)

Sebab-sebab yang disyari'atkan dan yang tidak disyari'atkan.

Namun dalam masalah sebab, ada 3 (tiga) perkara yang harus dipahami:

1. Sebab tertentu tidak akan terpisah dengan sesuatu yang diminta, bahkan di sana harus ada sebab-sebab yang lain. Bersamaan dengan ini sebab-sebab tersebut memiliki mawani' (penghalang-penghalang yang dapat mencegah diterimanya sebab-sebab tersebut, -pent), maka jika Allah tidak menyempurnakan sebab-sebab dan tidak mencegah mawani' tersebut, niscaya tidak akan tercapai sesuatu yang hendak dituju. Hal itu karena apa yang Allah Jalla Jalaaluh kehendaki niscaya akan terjadi, meskipun manusia seluruhnya tidak menghendaki. Sebaliknya, apa dikehendaki oleh manusia tidak akan terjadi kecuali jika Allah menghendaki.

2. Tidak boleh meyakini bahwa sesuatu dapat menjadi sebab kecuali berdasarkan 'ilmu. Maka barangsiapa menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar 'ilmu atau justru sesuatu (yang dianggap dapat menjadi sebab) malah menyelisihi syari'at, maka berarti batal (tidak akan menjadi sebab). Contohnya seperti persangkaan bahwa nadzar adalah sebab untuk menolak bala' (musibah) dan memperoleh nikmat. Padahal telah tsabit dalam kitab Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau melarang dari nadzar. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya nadzar itu tidak datang dengan membawa kebaikan, sesungguhnya nadzar tersebut muncul dari orang-orang bakhil."
(Muttafaq 'alaih)

3. Amalan-amalan 'ibadah (yang berkaitan dengan agama) tidak boleh dijadikan sebab kecuali kalau disyari'atkan. Karena sesungguhnya amalan-amalan 'ibadah dibangun di atas tauqifi (sudah ada ketentuan pasti dari syari'at), sehingga tidak boleh bagi seseorang untuk menyekutukan Allah dengan cara berdo'a kepada selain Allah, meski dia mengira bahwa hal itu adalah sebab untuk memperoleh sebagian tujuan-tujuannya. Karenanya, Allah tidaklah disembah dengan melalui cara-cara bid'ah yang menyelisihi syari'at meski ia mengira itu (cara-cara bid'ah tersebut) adalah sebab untuk mencapai sebagian harapan-harapannya. Karena sesungguhnya syaithan sering membantu manusia untuk mencapai sebagian tujuan-tujuannya ketika ia berbuat syirik. Kadang dengan melakukan kekufuran, kefasikan dan perbuatan maksiat bisa tercapai sebagian tujuan seseorang, maka hal itu tidak dihalalkan baginya, karena kerusakan yang dihasilkan dengan sebab itu semua (kekufuran, kefasikan dan perbuatan maksiat) lebih besar daripada maslahat yang diperoleh darinya. Hal itu karena Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam diutus dengan membawa kemaslahatan dan menyempurnakannya, dan meniadakan kerusakan dan meminimalkannya (memperkecil timbulnya kerusakan). Maka segala yang Allah perintahkan maslahatnya pasti lebih besar dan segala yang Dia larang, maka mafsadatnya pasti lebih besar.

Pembahasan ini memiliki cakupan yang sangat luas yang tidak dapat ditulis dalam lembaran yang sedikit ini. Wallahu a'lam. (Lihat kitab Majmu' Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 1/121)

(Telah selesai risalah ini dan segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasul Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang tidak ada Nabi setelah beliau).

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (14): Rasulullah merealisasikan tauhid

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (14)

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam merealisasikan tauhid.

Nabi kita Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat menekankan tauhid ini terhadap ummat beliau dan berusaha mencegah dari mereka segala bentuk kesyirikan. Hal itu karena tauhid inilah perwujudan ucapan kita (Arab) karena sesungguhnya al-Ilah (sesembahan) adalah sesuatu yang disembah oleh hati dengan menundukkan kesempurnaan mahabbah, ta'zhim, memuliakan, berharap dan takut. Karenanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sampai bersabda,

"Janganlah kalian mengatakan, 'Ini adalah apa yang Allah kehendaki dan yang dikehendaki Muhammad,' akan tetapi katakanlah oleh kalian, 'Ini adalah apa yang Allah kehendaki kemudian yang dikehendaki Muhammad'."
(Shahih, riwayat Imam Ahmad dan selainnya)

Dan berkata seseorang kepada beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Ini adalah apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki." Kemudian beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Allah?! Katakanlah:

"Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah semata."
(Hadits Riwayat Imam an-Nasa-i dengan sanad yang hasan)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Barangsiapa hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah atas nama Allah atau diam!"
(Muttafaq 'alaih)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka sungguh dia telah berbuat syirik."
(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma:

"Apabila kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. Telah kering pena (catatan takdir telah ditetapkan, -pent) dengan segala apa yang engkau temui. Maka seandainya seluruh makhluk mengerahkan segala upaya untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tak akan mampu untuk memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu (kebaikan) yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berupaya menimpakan madharat kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan madharat kepadamu kecuali dengan sesuatu (keburukan) yang telah Dia tetapkan menimpamu."
(Hadits Riwayat Imam at-Tirmidzi, dan dia berkata, "hadits hasan shahih")

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda,

"Janganlah kalian terlalu memuji aku sebagaimana orang-orang nashrani keterlaluan memuji Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, '(Muhammad itu) hamba Allah dan Rasul-Nya'."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga pernah berdo'a:

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah."
(Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:

"Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai 'id (tempat yang selalu didatangi secara berkala dan diadakan kumpulan manusia di sana, -pent). Dan ucapkanlah shalawat atasku, maka sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada."
(Hadits Riwayat Imam Abu Dawud dengan sanad hasan)

Di saat sakitnya beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam (yang menyebabkan wafatnya beliau, -pent), beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Semoga Allah melaknat yahudi dan nashrani. Mereka telah menjadikan kuburan-kuburan para Nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat beribadah)."

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat mengecam terhadap apa yang mereka lakukan. 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma berkata, "Seandainya bukan karena itu (kekhawatiran kuburan beliau dijadikan masjid) niscaya kuburan beliau akan ditinggikan, namun beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam benci kalau kuburannya akan dijadikan masjid." (Muttafaq 'alaih)

Bab ini sangatlah luas (masih banyak lagi hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sangat tegas merealisasikan tauhid di tengah ummat beliau, -pent).

Bersamaan dengan ini semua, seorang mukmin hendaknya mengetahui bahwa sesungguhnya Allah adalah Rabb dan penguasa segala sesuatu. Karenanya dia tidak mengingkari sebab-sebab yang Allah ciptakan, seperti Dia menjadikan hujan sebagai sebab untuk tumbuhnya berbagai tanaman, Allah berfirman:

"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan."
(Qur-an Surat al-Baqarah: ayat 64)

Allah juga menjadikan matahari dan bulan sebagai sebab bagi segala yang Dia ciptakan dengan (sebab) adanya matahari dan bulan. Dia juga menjadikan syafa'at dan do'a sebagai sebab bagi akibat-akibat yang dikandungnya seperti perbuatan kaum Muslimin menshalati jenazah adalah termasuk sebab Allah merahmati jenazah tersebut (dengan sebab shalat tersebut) dan juga menjadi sebab Allah melimpahkan pahala terhadap orang-orang yang menshalatinya.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (13): Khasyah hanya untuk Allah semata

Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i)

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya (13)

Khasyah hanya untuk Allah semata

Allah Jalla Jalaaluh berfirman,

"Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 44)

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), oleh karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 175)

Yu-khawwifu aw-liyaa-ahu artinya yu-khawwifukum aw-liyaa-ahu yaitu syaithan menjadikan kalian takut terhadap wali-walinya. Allah juga berfirman,

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya."
(Qur-an Surat an-Nisa': ayat 77)

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 18)

"Dan barangsiapa yang ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan."
(Qur-an Surat an-Nuur: ayat 52)

Maka Allah menjelaskan bahwa keta'atan itu diberikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun khasyah (rasa takut yang disertai 'ilmu, -pent) hanya bagi Allah semata. Allah berfirman,

"Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka dan berkata, 'Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebahagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya."
(Qur-an Surat at-Taubah: ayat 59)

Dan yang mirip dengan ayat tersebut adalah:

"(Yaitu) orang-orang (yang menta'ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, 'Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung'."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 173)

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: al-Wasithah baina al-Haq wal Khalq, Penulis: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah, Penerbit: Riaasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta', Cetakan I, Tahun 1419 H. Judul terjemahan: Perantara antara Allah dan makhluk-Nya - Ngalap berkah Nabi dan wali (ditinjau dari sisi Syar'i), Penerjemah: Hikmatur Rahmah, Penerbit: Pustaka al-Haura' Jogjakarta - Indonesia, Cetakan I, Shafar 1425 H/ Maret 2005 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Manajemen Umur: Hal-hal yang menyebabkan panjang umur: Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Manfaatkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah

Manajemen Umur - Resep Sunnah menambah pahala dan usia

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

7. Manfaatkan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Sebagian orang terbiasa menghabiskan liburan mereka pada 10 hari pertama Dzulhijjah hanya untuk bersenang-senang di sebuah tempat wisata sehingga melewatkan kesempatan emas menimba pahala berlipat ganda pada hari yang diberkahi tersebut. Padahal Allah bersumpah dengan menyebut hari itu di awal surah al-Fajar.

Engkau telah mengetahui tentang keutamaan jihad pada pembahasan sebelumnya. Engkau juga perlu tahu amal-amal yang dikerjakan pada hari 10 (pertama awal bulan) Dzulhijjah dimana ganjarannya melebihi pahala jihad sebanyak beberapa tingkatan. Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tak ada hari yang digunakan untuk beramal kebaikan lebih dicintai Allah dari hari sepuluh (pertama awal bulan) Dzulhijjah." Para shahabat radhiyallaahu 'anhum lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, bahkan melebihi jihad di jalan Allah?" Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Walaupun jihad di jalan Allah, kecuali jika ada seseorang yang mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu semua yang ia korbankan itu tak ada yang tersisa sedikitpun." (90)

Banyak orang yang tidak mengetahui kemuliaan hari 10 (pertama awal) bulan Dzulhijjah. Padahal, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri menyebut hari itu sebagai hari paling mulia di luar bulan Ramadhan, "Hari yang paling mulia di dunia ini adalah hari 10 (pertama awal bulan) Dzulhijjah." (91)

Mengenai keutamaan 10 (hari pertama awal bulan) Dzulhijjah dan 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah menjelaskan, "Berkenaan dengan masalah tersebut, lebih tepat jika diungkapkan bahwa malam terakhir 10 Ramadhan lebih utama daripada malam 10 (pertama bulan) Dzulhijjah. Dan malam 10 Dzulhijjah lebih utama dari malam 10 Ramadhan. Dengan penjelasan rinci seperti ini, dapat menghilangkan ketidakjelasan dan kerancuan pemahaman dalam masalah ini. Ini menandakan bahwa malam ke-10 (terakhir bulan) Ramadhan disebut mulia karena pada hari-hari tersebut terdapat Lailatul Qadr yang merupakan bagian dari malam itu. Adapun malam 10 (pertama) bulan Dzulhijjah dimuliakan berdasarkan hari-harinya. Sebab dalam hari-hari tersebut terdapat Yaum Nahar, Yaum Arafah, Yaum Tarwiyah. (92)

Perlu diketahui, kita memerlukan bekal kesungguhan dan keseriusan untuk berjuang melawan diri sendiri, hawa nafsu dan setan pada 10 hari pertama Dzulhijjah agar dapat memanfaatkannya sebaik mungkin. Andai saja orang-orang bersungguh-sungguh menggunakan kesempatan 10 hari pertama Dzulhijjah lalu mengisinya dengan 'amal shalih, maka tak aneh jika kita lihat mereka berbondong-bondong memanfaatkan waktunya dengan membaca al-Qur-an dan menghindari tempat-tempat maksiat pada bulan Ramadhan. Sebab setan saat itu terbelenggu. Sedang pada 10 hari pertama Dzulhijjah, seperti kita ketahui, setan tidak terbelenggu. Karenanya kita perlu meningkatkan kesungguhan dan keseriusan dalam hal ini.

Menjadi kewajiban penceramah, imam masjid, dan saudara-saudara yang bekerja di pers untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Banyak kaum Muslimin yang buta mengenai hal itu. Mereka tidak memahami kedudukan, keutamaan bahkan pahala yang akan diperoleh. Akhirnya kesempatan berharga itu berlalu begitu saja.

Lakukanlah amal-amal shalih yang dianjurkan pada bulan Ramadhan, seperti sedekah, membaca al-Qur-an, dan lainnya. Lakukan hal serupa pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sa'id bin Jubair adalah contoh. Ketika masuk 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, ia bersungguh-sungguh beribadah hingga hampir tak terhitung 'ibadah yang ia lakukan. (93)

Amal-amal yang dianjurkan untuk dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, antara lain:

1. Menunaikan 'ibadah hajji. Ini yang paling utama.

2. Berpuasa, terutama pada hari Arafah bagi yang tidak menunaikan hajji. Sebab puasa pada saat itu menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun.

3. Mengalokasikan sebagian waktu untuk bertahlil, bertakbir dan bertahmid. Dalam riwayat Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhuma, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada hari yang paling agung dan dicintai di sisi Allah untuk digunakan beramal dari 10 hari (pertama bulan Dzulhijjah) ini. Maka dari itu, perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid." (94)

4. Menyembelih hewan kurban.

5. Menghindari menyia-nyiakan waktu dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Jangan biarkan setiap detik hari berlalu sia-sia tanpa diisi dengan kebaikan. Saat itu merupakan hari yang paling mulia di sepanjang perjalanan waktu dunia. Rebutlah kesempatan emas itu dengan melakukan amal-amal di atas. Sebab, bisa jadi hari seperti itu tak pernah kembali lagi selamanya.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Kaifa Tuthiilu 'Umruka al-Intaajii, Penyusun: Muhammad bin Ibrahim an-Nu'aim, Pengantar: Syaikh Dr. Shalih bin Ghanim as-Sadlan, Syaikh 'Abdurrahim bin Ibrahim al-Hasyim, Penerbit: Daar adz-Dzakhair, Dammam - Arab Saudi, Cetakan ke-3, Tahun 1422 H, Judul terjemah: Manajemen Umur, Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia, Penerjemah: M. Yasir 'Abdul Muthalib Lc, Penerbit: Pustaka at-Tazkia, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'ul Awwal 1426 H/ Mei 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah