Penjelasan Tentang Kerasnya Hati Orang-orang yahudi | Al-Baqarah, Ayat 74 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Baqarah, Ayat 74.

"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan." (QS. 2: 74)

Penjelasan Tentang Kerasnya Hati Orang-orang yahudi.

Firman Allah Ta'ala ini sebagai celaan dan kecaman terhadap Bani Israil atas sikap mereka setelah menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan kemampuan-Nya menghidupkan orang yang sudah mati.

"Setelah itu hatimu menjadi keras," seluruhnya, "Seperti batu," yang selamanya tidak akan pernah melunak. Maka dari itu Allah Ta'ala melarang orang-orang yang beriman menyerupai keadaan mereka, Dia berfirman,

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, menundukkan hati mereka untuk mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hadiid: 16)

Al-'Aufi meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan, "Ketika orang yang terbunuh itu dipukul dengan satu bagian dari anggota badan sapi tersebut, maka ia duduk dalam keadaan hidup, ia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Lalu ditanyakan kepadanya, 'Siapakah yang telah membunuhmu?' Ia menjawab, 'Anak-anak saudaraku yang telah membunuhku.' Setelah itu, nyawanya pun dicabut kembali. Ketika Allah mencabut nyawa orang itu, anak-anak saudaranya itu berkata, 'Demi Allah, kami tidak membunuhnya.' Begitulah mereka mendustakan kebenaran setelah mereka menyaksikannya sendiri."

Maka Allah berfirman, "Setelah itu hatimu menjadi keras," yaitu hati anak-anak saudara orang tersebut. "Seperti batu atau bahkan lebih keras lagi." (284)

Seiring dengan berjalannya waktu akhirnya hati Bani Israil menjadi keras dan tidak mau menerima nasehat (pelajaran), setelah mereka menyaksikan sendiri tanda-tanda kekuasaan Allah dan mukjizat-Nya. Kerasnya hati mereka bagai batu yang tidak dapat lagi dilunakkan, atau bahkan lebih keras dari batu. Karena celah-celah batu masih bisa memancarkan mata air yang mengaliri sungai-sungai. Ada pula di antara batu-batu tersebut yang terbelah sehingga keluarlah air darinya meski tidak dapat mengalir. Kemudian ada pula yang meluncur jatuh dari puncak gunung karena takut kepada Allah, dan masing-masing memiliki rasa takut seperti itu sesuai dengan kadarnya.

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma),

"Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai darinya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air darinya, dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah." Maksudnya, di antara bebatuan itu ada yang lebih lunak dari hati kalian dalam menerima kebenaran diserukan kepada kalian. "Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan." (285)

===

(284) Ath-Thabari (II/234).

(285) Ibnu Abi Hatim (I/233).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ummat ini Diuji di Dalam Kubur | Alam Kubur | Misteri Kematian Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat

Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah.

Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli.

Misteri Kematian.

Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat.

Alam Kubur.

Ummat ini Diuji di Dalam Kubur.

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berada di kebun milik Bani Najjar mengendarai keledai milik beliau dan kami turut serta bersama beliau, tiba-tiba keledai beliau miring dan hampir melemparkan beliau, ternyata di sana ada makam enam, lima atau empat orang -demikian juga yang disampaikan dalam riwayat al-Hariri- kemudian beliau bersabda: 'Siapa yang kenal para penghuni makam ini?' Seseorang menjawab: 'Aku.' Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Kapan mereka dikubur?' Orang itu menjawab: 'Mereka meninggal di (masa) kesyirikan.' Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

'Sungguh ummat ini diuji dalam kuburnya, andai bukan karena (khawatir jika kalian mendengar siksa kubur sehingga) kalian tidak mau mengubur (jenazah), niscaya aku berdo'a kepada Allah untuk memperdengarkan siksa kubur kepada kalian seperti yang aku dengar.' Setelah itu beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) menghadapkan wajah kepada kami, beliau bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari siksa Neraka.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari siksa Neraka.' Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari siksa kubur.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur.' Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari fitnah baik yang nampak ataupun yang tersembunyi.' Mereka berkata: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah baik yang nampak ataupun yang tersembunyi.' Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Berlindunglah kepada Allah dari fitnah dajjal.' Mereka mengucapkan: 'Kami berlindung kepada Allah dari fitnah dajjal.'" (178)

===

(178) Riwayat Muslim, 4/2200.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Apakah Ada jin dan syetan Lelaki dan Wanita? | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

Apakah Ada jin dan syetan Lelaki dan Wanita?

Di dalam Shahihain disebutkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Apabila masuk WC, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca do'a:

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَاءِثِ

Allaahumma innii a'uudzu bika minal khubutsi wal khabaa-its.

'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari jin lelaki dan jin perempuan.'" (34)

Al-Bukhari berkata: Sa'id bin Zaid berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz: "Apabila hendak masuk." (35) Ibnul Atsir berkata: "Al-Khubutsi bentuk jama' dari al-khabits sedangkan al-khaba-its bentuk jama' dari khabitsah yakni syetan lelaki dan syetan perempuan." (36)

Hadits serupa riwayat Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) telah kami sebutkan pada pembahasan tentang keutamaan ayat Kursi. Al-Hafizh berkata, menjelaskan ungkapan akhir dari haidts ini: "Apabila kamu mengucapkannya maka syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi." Ia berkata: Di dalam riwayat Abu Mutawakkil: "Apabila kamu mengucapkannya maka jin lelaki dan jin perempuan tidak akan mendekatimu." Ia berkata: Di dalam riwayat Ibnu Dharis dari jalan ini: "Tidak akan mendekatimu jin lelaki dan tidak pula jin perempuan kecil ataupun besar." (37)

Dari sini dipahami bahwa ada jin lelaki dan ada pula jin perempuan. Wallahu a'lam bish shawab.

===

(34) Al-Bukhari, 1/242 (Fat-hul Bari) dan Muslim, 4/70 (an-Nawawi).

(35) Shahihul Bukhari, Kitabul Wudhu.

(36) Lisanul Arab, 2/1088.

(37) Fat-hul Bari, 4/488.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Nyeri Atas Mata | Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi | Bekam Untuk 100 Penyakit | Sembuh dengan Satu Titik

Sembuh dengan Satu Titik.

dr. Wadda' A. Umar.

Bagian Ketiga.

Bekam Untuk 100 Penyakit.

Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi.

5. Nyeri Atas Mata.

Nyeri ini bisa merupakan bagian dari nyeri karena migrain atau nyeri kepala.

Keluhannya berupa mata silau, keluar air mata yang disertai nyeri. Umumnya keluhan ini dimulai pagi hari, akan mereda di pagi hari dan kambuh di sore hari.

Titik Pengobatan.

Titik yang dipakai adalah titik di sebelah belakang mata kaki bagian luar, yaitu antara mata kaki luar dan tendon akiles (tumit). Karena nyeri daerah ini biasanya muncul pada waktu yang sama, maka bekam sebaiknya dilakukan 1/2 jam sebelum nyeri tersebut kambuh.

Bisa dilakukan bekam pada satu titik sesuai keluhan yang timbul. Bila keluhan di sebelah kiri, maka dilakukan bekam di sebelah kiri, bila keluhan di sebelah kanan, dilakukan bekam di sebelah kanan, atau bisa juga dibekam keduanya, di titik yang kiri dan titik yang kanan.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (210)

Al-Adab al-Mufrad.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

107. Apakah Boleh Mengatakan: Rabbi?

210. Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

"Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan: 'Abdi (hambaku) dan janganlah budak mengucapkan: Rabbi (Pengasuhku), hendaklah dia mengucapkan: Fataya dan Fatati dan sayyidi dan sayyidati. Kalian semua adalah hamba dan Rabb (Pengasuh) itu adalah hanya Allah 'Azza wa Jalla."

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (209)

Al-Adab al-Mufrad.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

106. Bab: Jangan Mengatakan: Hambaku.

209. Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) berkata bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jangan salah seorang di antara kalian mengatakan: 'Budakku.' Kalian semua adalah hamba Allah dan semua istri kalian adalah hamba Allah. Ucapkanlah: 'Ghulami, jariyati, amati, fataya, fatati.'" (33)

===

(33) Ghulam digunakan untuk anak kecil yang belum baligh, sedang yang sudah baligh dipanggil: fataya, dan untuk perempuan: fatati. Jariyati dan amati digunakan untuk budak perempuan. Sedangkan abdi untuk budak laki-laki dan panggilan semacam inilah yang dilarang karena abdi berasal dari kata abada yang bermakna menyembah.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (163)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Kitaabul Haidh.

6. Kitab Haid.

3. Bab: Wanita Haid Mencuci Kepala Suaminya dan Menyisir Rambutnya.

163. Dari 'Urwah, bahwa ia pernah ditanya seseorang, "Bolehkah wanita haid melayaniku?" Atau "Bolehkah wanita junub mendekatiku?" Urwah menjawab, "Semua itu boleh bagiku, semua itu boleh melayaniku, dan itu tidak apa-apa bagi seseorang. 'Aisyah (radhiyallahu 'anhuma) telah menceritakan kepadaku, bahwa ia pernah menyisir rambut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam padahal ia sedang haid, dan saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang [beri'tikaf 1/78] di masjid. Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) mendekatkan (dalam riwayat lain: mengulurkan 2/256) kepalanya kepada 'Aisyah, sementara 'Aisyah berada di kamarnya, lalu ia menyisir rambut beliau, padahal 'Aisyah sedang haid."

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Perintah Bagi Para Wanita Ketika Nifas (Haid) | Kitab Haid | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Kitaabul Haidh.

6. Kitab Haid.

2. Bab: Perintah Bagi Para Wanita Ketika Nifas (Haid).

(Haditsnya adalah bagian dari hadits 'Aisyah (radhiyallahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada nomor 178).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Bagaimana Permulaan Haid? | Kitab Haid | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Kitaabul Haidh.

6. Kitab Haid.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

"Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, 'Haid itu adalah suatu kotoran.' Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.'" {QS. Al-Baqarah (2): 222}

1. Bab: Bagaimana Permulaan Haid?

56.(170) Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah bagi para wanita keturunan Adam."

76.(171) Sebagian ulama berkata, "Pertama kali terjadinya haid adalah pada bani Israil."

Abu 'Abdillah berkata, "Akan tetapi hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih banyak."

===

(170) Ini bagian dari hadits 'Aisyah (radhiyallahu 'anhuma) yang akan disebutkan pada bab 7 hadits nomor 178.

(171) Al-Hafizh berkata, "Tampaknya ia mengisyaratkan pada riwayat yang dikeluarkan oleh 'Abdurrazzaq dari Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu) dengan isnad shahih. Ia berkata, 'Para lelaki dan wanita Bani Israil shalat bersama-sama, yang wanita biasa mengikuti laki-laki. Lalu Allah menetapkan haid pada mereka dan melarang mereka ke masjid." Ada juga riwayat dari 'Aisyah (radhiyallahu 'anhuma) yang seperti haidts ini.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hidupnya Orang yang Terbunuh dan Ia Menunjuk Orang yang Membunuh | Al-Baqarah, Ayat 72 - 73 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Baqarah, Ayat 72 - 73.

"Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkap apa yang selama ini kamu sembunyikan." (QS. 2: 72) "Lalu Kami berfirman, 'Pukullah mayat itu dengan sebagian (anggota badan) sapi betina itu!' Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti." (QS. 2: 73)

Hidupnya Orang yang Terbunuh dan Ia Menunjuk Orang yang Membunuh.

Imam al-Bukhari mengatakan, "(فَادًارَأْتُمْ فِيْهَا) artinya kalian berselisih." (280) Demikian pula dikatakan oleh Mujahid. Sedangkan 'Atha` al-Khurasani dan adh-Dhahhak mengatakan, "Artinya, kalian saling bertengkar karenanya." (281)

"Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang hal itu," Ibnu Juraij mengatakan, "Sebagian mereka berkata, 'Kalian telah membunuhnya.' Dan sebagian lainnya berkata, 'Justru kalianlah yang telah membunuhnya.'" (282) Begitu pula yang dikemukakan oleh 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.

"Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan," Mujahid mengatakan, "Yakni apa yang tidak kalian perlihatkan." (283)

"Pukullah mayat itu dengan sebagian (anggota badan) sapi betina itu!" Maksud dari sebagian tersebut adalah satu bagian dari anggota badan sapi. Dengan demikian, mukjizat itu terjadi melalui bagian badan sapi tersebut. Dan pada saat yang bersamaan bagian itu telah ditentukan. Seandainya penentuan anggota badan ini mengandung manfaat bagi kita dalam urusan agama dan dunia, niscaya Allah Ta'ala akan menjelaskannya kepada kita. Akan tetapi Allah menyamarkannya dan tidak ada satu pun riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskannya, maka kita pun menyamarkan sebagaimana Allah telah menyamarkannya.

Firman Allah Ta'ala, "Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang yang telah mati." Yaitu Bani Israil memukul mayat tersebut dengan satu bagian badan sapi betina itu, hingga akhirnya mayat itu hidup kembali. Dengan kejadian tersebut Allah memperlihatkan kekuasaan dan kemampuan-Nya untuk menghidupkan orang yang sudah mati, seperti yang mereka saksikan dalam kisah orang yang terbunuh itu. Allah Ta'ala menjadikan peristiwa ini sebagai hujjah bagi mereka akan adanya tempat kembali (akhirat) sekaligus sebagai jalan keluar dari permusuhan dan pertikaian yang terjadi di kalangan mereka.

Allah Ta'ala telah menyebutkan kekuasaan-Nya menghidupkan orang yang telah mati dalam surat ini di lima ayat, yaitu firman-Nya, "Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah kematian kalian." (QS. Al-Baqarah: 56), kemudian kisah dalam ayat ini (QS. Al-Baqarah: 73), kisah tentang ribuan orang yang keluar dari kampung halaman mereka karena takut mati (QS. Al-Baqarah: 243), lalu kisah orang yang melewati suatu negeri yang temboknya telah roboh menutupi atapnya (QS. Al-Baqarah: 259), dan kisah Ibrahim dengan empat ekor burung (QS. Al-Baqarah: 260). Selain itu Allah Ta'ala juga mengingatkan kemampuan-Nya menghidupkan tanah setelah kematiannya sebagai bukti bahwa Dia mampu mengembalikan tubuh manusia seperti semula setelah kehancurannya.

Di antara dalil yang menguatkan hal ini adalah firman Allah Ta'ala,

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur, dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan-tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?" (QS. Yaasiin: 33-35)

===

(280) Fat-hul Baari (VI/ 506).

(281) Ibnu Abi Hatim (I/229).

(282) Ath-Thabari (II/225).

(283) Ibnu Abi Hatim (I/229).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Istilah-istilah Hadits | Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Ahkaamul Janaa-iz wa Bida'uha.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah.

Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah.

Istilah-istilah Hadits.

1. 'Illat: Cacat hadits.

2. Syadz: Riwayat rawi yang menyelisihi riwayat rawi lain yang lebih kuat.

3. Tadlis: Memperlihatkan bagusnya sanad dengan menyembunyikan cacatnya.

4. Mudallis: Pelaku Tadlis.

5. Marfu': Yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan maupun sifat.

6. Mauquf: Yang disandarkan kepada Shahabat.

7. Mursal: Yang disandarkan oleh Tabi'in langsung kepada Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam).

8. Mu'allaq: Hadits yang dihilangkan awal sanadnya 1 atau 2 atau lebih secara beruntun.

9. Ta'liq: Mu'allaq.

10. Mudhtharib: Riwayat yang saling berbeda dengan kekuatan yang sama dan tidak dapat dijamak (digabung) ataupun ditarjih (dikuat salah satunya).

11. Musnad: Yang bersambung sanadnya secara marfu'.

12. Mutaba'ah: Riwayat rawi lain yang sama lafazh atau maknanya dimana Shahabat yang meriwayatkannya sama. (Sanadnya berbeda setelah Shahabat).

13. Syahid: Riwayat rawi yang lain sama lafazh atau maknanya tapi Shahabat yang meriwayatkannya berbeda.

14. Tabi' atau Mutabi': Pelaku Mutaba'ah.

15. Mutaba'ah: Riwayat penyerta/ penguat dari jalan yang berbeda setelah urutan Shahabat.

16. Maqrun: Dibarengi dengan rawi lain.

17. Sanad atau Isnad: Rantai rawi yang menyampaikan kepada matan Isnad.

18. Matan: Isi hadits.

19. Mastur atau Majhul hal: Rawi yang meriwayatkan darinya dua/ lebih, tapi tidak ada yang menganggapnya tsiqah.

20. Majhul 'Ain: Rawi yang meriwayatkan darinya 1 rawi saja, tapi tidak ada yang menganggap tsiqah. (Dimutlakkan padanya Majhul).

21. Mubham: Rawi yang tidak disebut namanya.

22. Muhmal: Rawi yang tidak disebut nasabnya.

23. Mu'dhal: Hadits yang dihilangkan sanadnya 2 rawi atau lebih secara berurutan.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Ahkaamul Janaa-iz wa Bida'uha, Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'arif, Riyadh - Saudi Arabia, Cetakan I, Tahun 1412 H/ 1993 M, Judul terjemahan: Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M., Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1426 H/ Maret 2005 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Gambaran Siksa Alam Barzakh | Alam Kubur | Misteri Kematian Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat

Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah.

Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli.

Misteri Kematian.

Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat.

Alam Kubur.

Gambaran Siksa Alam Barzakh.

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Seusai shalat, Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menghadapkan wajah kepada kami, beliau bersabda: 'Siapa di antara kalian yang bermimpi sesuatu semalam?' Bila ada yang bermimpi, ia menceritakannya, lalu beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Masya Allah.' Suatu hari kami bertanya, beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) balik bertanya: 'Adakah salah seorang di antara kalian yang bermimpi sesuatu?' Kami menjawab: 'Tidak.'

Beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda: 'Semalam aku bermimpi, ada dua orang datang menghampiriku, keduanya meraih tanganku lalu membawaku pergi ke tanah suci, di sana ada seseorang yang tengah duduk dan seorang lainnya berdiri, di tangannya terdapat pengait besi -sebagian Shahabat kami meriwayatkan dari Musa: Pengait besi ditusukkan ke dalam leher hingga menembus tengkuk, kemudian ditusukkan lagi seperti sebelumnya, lehernya kembali sembuh seperti sedia kala, tusukan serupa dilakukan lagi- aku bertanya: 'Siapa itu?' Keduanya menjawab: 'Pergilah.'

Kami pergi hingga tiba di hadapan seseorang yang tengah tidur terlentang dan orang lain berdiri di atas kepalanya dengan membawa batu besar, batu itu ia pukulkan di kepala orang itu, ketika dipukulkan, batu itu terpental, ia pergi untuk mengambil batu itu dan ia tidak kembali kepada orang itu hingga kepalanya sembuh seperti sedia kala, ia kembali memukulnya.' Aku bertanya: 'Siapa itu?' Keduanya menjawab: 'Pergilah.'

Kami pergi hingga sampai ke sebuah lubang seperti tungku, bagian atasnya sempit sementara bagian bawahnya luas, di bawahnya dinyalakan api, saat mendidih, mereka naik hingga hampir keluar, dan bila apinya padam mereka kembali ke dasar, di sana terdapat para lelaki dan wanita telanjang. Aku bertanya: 'Siapa itu?' Keduanya menjawab: 'Pergilah.'

Kami pergi hingga tiba di sebuah sungai darah, di sana ada seseorang tengah berdiri di tengah-tengah sungai dan orang lain di hadapannya membawa batu, orang yang ada di sungai itu menghampiri, saat hendak keluar, orang yang membawa batu itu melemparkan batunya ke mulut dan mengembalikannya ke tempat semula, setiap kali ia datang untuk keluar, mulutnya dilempar batu kemudian dikembalikan lagi ke tempat semula. Aku bertanya: 'Siapa itu?' Keduanya menjawab: 'Pergilah.'

Kami pergi hingga tiba di sebuah taman hijau, di sana ada pohon besar, di dekat akarnya terdapat seorang tua dan anak-anak, ada seseorang yang berada di dekat pohon, di depannya ada api yang ia nyalakan, keduanya membawaku naik ke atas pohon dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah, aku sama sekali belum pernah melihat rumah lebih indah dari rumah itu, di sana ada orang-orang tua, kaum muda, kaum wanita dan anak-anak.

Setelah itu keduanya membawaku keluar dan membawaku naik ke atas pohon, keduanya membawaku masuk ke dalam rumah yang lebih bagus dan lebih baik, di sana ada orang-orang tua dan kaum muda.

Aku berkata: 'Kalian berdua telah membawaku berkeliling malam ini, beritahukan padaku tentang apa yang aku lihat!' Keduanya menjawab: 'Baik. Orang yang lehernya ditusuk dengan keras itu adalah pendusta, menuturkan kebohongan, dustanya dibawa hingga mencapai sisi-sisi langit, karena itu ia diperlakukan seperti yang kau lihat hingga hari Kiamat.

Orang yang kepalanya dipukul dengan batu adalah orang yang diajari al-Qur`an oleh Allah, pada malam hari ia tidak membacanya dan pada siang harinya tidak diamalkan, ia diperlakukan seperti itu hingga hari Kiamat.

Yang kau lihat di dalam lubang itu adalah para pezina.

Yang kau lihat di sungai (darah) itu adalah para pemakan riba.

Orang tua yang ada di bawah pohon itu adalah Ibrahim dan anak-anak kecil yang ada di sekitarnya itu adalah anak-anak manusia.

Yang menyalakan api itu adalah Malik, penjaga Neraka.

Rumah pertama yang kau masuki itu adalah rumah seluruh kaum Mukmin, sementara rumah ini adalah rumah syuhada`.

Aku Jibril dan ini Mika`il. Sekarang lihatlah ke atas.' Aku melihat ke atas, di sana terdapat sesuatu seperti awan. Aku berkata: 'Biarkan aku memasuki rumahku.' Keduanya berkata: 'Masih ada sisa usia yang belum kau habiskan, andai usiamu sudah habis kau bisa mendatangi rumahmu.'" (177)

===

(177) Riwayat al-Bukhari, al-Fath, 3/251.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi | Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Ahkaamul Janaa-iz wa Bida'uha.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah.

Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah.

Daftar Isi.

Istilah-istilah Hadits

Pengantar Cetakan Terbaru

Pendahuluan

Bab I: Yang Wajib Dikerjakan oleh Orang yang Sedang Sakit

Bab II: Mentalqin Orang yang Sedang Sakaratul Maut

Bab III: Yang Harus Dikerjakan Orang-orang yang Hadir Setelah Seseorang Meninggal Dunia

Bab IV: Hal-hal yang Boleh Dikerjakan oleh Orang-orang yang Hadir

Bab V: Hal-hal yang Wajib Dikerjakan oleh Kerabat Orang yang Meninggal

Bab VI: Hal-hal yang Haram Dikerjakan oleh Kerabat Mayit

Bab VII: Penyampaian Berita Kematian yang Dibolehkan

Bab VIII: Tanda-tanda Husnul Khatimah

Bab IX: Pujian Orang pada Mayit

Meninggal Dunia pada Saat Gerhana

Bab X: Memandikan Jenazah

Bab XI: Mengkafani Mayat

Bab XII: Mengusung dan Mengantar Jenazah

Bab XIII: Shalat Jenazah

Bab XIV: Pemakaman dan Hal-hal yang Berkenaan Dengannya

Bab XV: Ta'ziyah

Bab XVI: Hal-hal yang Dapat Dimanfaatkan oleh Orang yang Sudah Meninggal

Bab XVII: Ziarah Kubur

Bab XVIII: Hal-hal yang Haram Dilakukan di Kuburan

Bab XIX: Beberapa Praktek Bid'ah Seputar Masalah Jenazah

Sebelum Kematian

Setelah Kematian

Memandikan Jenazah

Mengkafani dan Memberangkatkan Jenazah

Menshalatkan Jenazah

Pemakaman dan Pengiringannya

Ta'ziyah dan Penyertaannya

Ziarah Kubur

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Ahkaamul Janaa-iz wa Bida'uha, Penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'arif, Riyadh - Saudi Arabia, Cetakan I, Tahun 1412 H/ 1993 M, Judul terjemahan: Hukum dan Tata Cara Mengurus Jenazah Menurut al-Qur-an dan as-Sunnah, Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M., Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1426 H/ Maret 2005 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Muqaddimah (3) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullah.

Muqaddimah (3).

Setiap Muslim dan Muslimah dalam sehari semalam minimal 17 (tujuh belas) kali membaca ayat:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Permohonan dan do'a seorang Muslim setiap hari agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus, harus direalisasikan dengan menuntut ilmu syar'i, belajar agama Islam yang benar, berdasarkan al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Shahabat (pemahaman Salafush Shalih) dan mengamalkan sesuai dengan pengamalan mereka. Artinya ummat Islam harus melaksanakan agama yang benar menurut cara beragamanya para Shahabat (radhiyallahu 'anhum) karena sesungguhnya mereka adalah orang yang mengikuti Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Apabila ummat Islam memahami Islam menurut pemahaman Salaf dan mengamalkannya menurut cara apa yang dilaksanakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya. Maka, ummat Islam akan mendapatkan hidayah (petunjuk), barakah, ketenangan hati, terhindar dari pemahaman-pemahaman dan aliran yang sesat, diberikan keselamatan, kemuliaan, kejayaan dunia dan akhirat serta diberikan pertolongan oleh Allah untuk mengalahkan musuh-musuh Islam dari orang-orang kafir dan munafiqin. Realita kondisi ummat Islam yang kita lihat sekarang ini, ummat Islam hancur, berpecah belah dan mendapatkan berbagai musibah dan petaka, dikarenakan mereka tidak berpegang teguh kepada 'aqidah dan manhaj yang benar dan tidak melaksanakan syari'at Islam sesuai dengan pemahaman Shahabat (radhiyallahu 'anhum), serta banyak dari mereka menyelisihi Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Dijadikan kehinaan dan kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi Sunnahku. Dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." (9)

Pertama kali yang harus diluruskan dan diperbaiki adalah 'aqidah dan manhaj ummat Islam dalam menyakini dan melaksanakan agama Islam. Hal ini merupakan upaya untuk mengembalikan jati diri ummat Islam, untuk mendapatkan ridha Allah 'Azza wa Jalla dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki dan meluruskan 'aqidah ummat Islam, penulis berusaha ikut andil untuk menjelaskan 'aqidah dan manhaj yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat Ridhwanullaah 'alaihim 'ajma'in.

Buku yang ada di tangan pembaca adalah "Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah". Penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menjelaskan tentang 'aqidah dan manhaj yang benar dari kitab-kitab para ulama terdahulu dengan dalil-dalil yang shahih dan akurat dari al-Qur-an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, penjelasan para Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in, serta para ulama yang mengikuti jejak mereka dengan baik.

Penulis berusaha mengambil rujukan yang benar dan ilmiyah dari kitab-kitab yang telah diakui keotentikannya oleh para ulama Ahlus Sunnah dari zaman dahulu sampai sekarang. Tujuan penulis menjelaskan tentang 'aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah agar diyakini dengan seyakin-yakinnya oleh ummat Islam terutama oleh para da'i, ustadz, kyai dan lainnya. 'Aqidah ini harus dipahami dengan benar dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada kaum Muslimin dalam setiap majelis ta'lim dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Buku ini juga sebagai bantahan kepada orang atau kelompok atau jama'ah yang mereka telah menyimpang jauh dari 'aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan mereka mengaku-ngaku sebagai golongan dan "pengikut Ahlus Sunnah wal Jama'ah" atau "pengikut Imam asy-Syafi'i". Pengakuan dan dakwaan mereka tidaklah benar. Bagaimana mungkin mereka dikatakan Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan pengikut Imam asy-Syafi'i rahimahullah, sedangkan mereka masih tetap melakukan kesyirikan dan bid'ah. Di antara contoh penyimpangan-penyimpangan mereka adalah, mengajak orang untuk beribadah kepada selain Allah, menyembah kubur para wali, tawassul dengan orang mati, mengingkari sebagian Sifat-sifat Allah, menta'-wil Sifat-sifat Allah dan mengajak orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid'ah dan sebagainya. Pengakuan mereka adalah kebohongan dan kepalsuan yang harus diralat, dikritik, dibantah dan diluruskan supaya ummat Islam tidak tertipu dengan slogan dan propaganda mereka, karena sesungguhnya 'aqidah Imam asy-Syafi'i rahimahullah bukanlah 'aqidah Asy'ariyah yang menta'-wil Sifat-sifat Allah. 'Aqidah Imam asy-Syafi'i rahimahullah adalah 'aqidah Ahlus Sunnah, 'aqidah Salaf, mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Shahabat radhiyallahu 'anhum. Beliau rahimahullah adalah seorang Muttabi' (orang yang mengikuti) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan bukan pembuat bid'ah dan beliau tidak menta'-wil Sifat-sifat Allah. Beliau rahimahullah mengajak ummat untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan menjauhkan syirik.

Syarah (penjelasan) 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah sangat penting untuk dijelaskan kepada para ustadz yang mengaku penganut madzhab Imam asy-Syafi'i namun mereka menyelisihi 'aqidah dan manhaj Imam asy-Syafi'i. Justru yang mereka lakukan adalah syirik dan bid'ah yang membuat mereka menyimpang dari jalan yang lurus bahkan membuat mereka sesat dan menjadi musyrik (yang dapat mengeluarkan dari Islam). Karena perbuatan syirik dan bid'ah yang mereka lakukan justru menghancurkan agama Islam, nas-alullaaha as-Salaamah wal 'aafiyah.

Semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka ke jalan yang benar dan mengembalikan mereka kepada as-Sunnah.

Apa yang saya susun dalam buku ini, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, pembaca dan kaum Muslimin. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada thulaabul 'ilmi (para penuntut ilmu) yang turut membantu menyelesaikan buku ini -mudah-mudahan Allah Jalla Jalaaluh memberi ganjaran yang baik kepada mereka-.

Apa yang benar dalam buku ini datangnya dari Allah 'Azza wa Jalla dan apa yang keliru adalah dari kesalahan penulis dan syaitan. Penulis memohon ampun kepada Allah 'Azza wa Jalla. Allah Mahapengampun dan Mahapenyayang. Akhirnya penulis berharap agar para pembaca memberikan nasehat yang baik apabila di dalam buku ini terdapat kesalahan dan kekurangan.

Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita ganjaran yang baik dan menunjukkan di atas jalan yang haq, dihidupkan dan diwafatkan di atas Sunnah. Semoga shalawat dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan para Shahabatnya.

Alhamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin.

Bogor, Jumadil Akhir 1425 H
Agustus 2004 M

Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Penulis

===

(9) HR. Ahmad (II/50, 92), dari Shahabat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir hafizhahullah dalam tahqiqnya terhadap Musnad Imam Ahmad (no. 5667).

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan? | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan?

Al-Qadhi Abu Ya'la Muhammad bin al-Husain bin al-Farra' berkata, "syetan tidak memiliki kemampuan untuk mengubah penciptaan mereka dan beralih kepada beberapa bentuk, tetapi bisa saja Allah mengajarkan kepada mereka beberapa kalimat dan perbuatan yang apabila diucapkan dan dilakukan maka Allah akan mengubahnya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain, sehingga dikatakan bahwa dia mampu mengubah bentuk dan menciptakan halusinasi dalam pengertian bahwa dia mampu mengucapkan sesuatu yang apabila diucapkan dan dilakukan maka Allah akan mengubahnya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Sesungguhnya dia tidak bisa mengubah bentuknya sendiri karena peralihannya dari satu bentuk kepada bentuk yang lain memerlukan penghancuran struktur dan perombakan bagian-bagiannya. Jika terjadi penghancuran tersebut maka musnahlah kehidupan." (29)

Aku berkata, "Pernyataan ini sangat bagus tetapi memerlukan dalil. Dan, sebagai dalilnya dapat dikemukakan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 'Bahwa beberapa hantu pernah diceritakan kepada 'Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu) lalu beliau berkata, "Sesungguhnya seseorang tidak bisa berubah dari bentuknya yang telah diciptakan Allah tetapi mereka memiliki tukang-tukang sihir seperti tukang-tukang sihir kalian, karena itu bila kalian melihat hal tersebut maka adzanlah."

Al-Hafizh berkata: Sanadnya shahih. (30) Aku berkata: Ibnu Abi Dunya juga meriwayatkannya dengan sanad hasan.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dari Jabir (radhiyallahu 'anhu), ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hantu, beliau menjawab bahwa mereka adalah tukang sihir jin.", adalah lemah sekali sanadnya. Di dalam riwayat ini ada tiga cacat yang bukan tempatnya untuk dijelaskan di sini.

Tetapi hal ini tidak bertentangan dengan apa yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya dari Jabir (radhiyallahu 'anhu) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak ada wabah, tidak ada ramalan tentang kesialan, dan tidak ada (pula) hantu." (31)

Karena hadits ini tidak menafikan adanya hantu tetapi menafikan apa yang pernah diyakini oleh orang-orang Arab bahwa hantu bisa menyesatkan manusia.

Imam an-Nawawi berkata: Jumhur ulama berkata: Orang-orang Arab dahulu berkeyakinan bahwa hantu berada di dalam anak-anak keledai. Ia adalah satu jenis syetan yang menampakkan diri kepada manusia dan mewarnai diri dengan beraneka ragam warna sehingga menyesatkan mereka dari jalan (yang benar) dan mencelakakan mereka. Hal ini kemudian dibantah oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ulama lain berkata: Hadits tersebut tidak bermaksud meniadakan eksistensi hantu tetapi menyanggah apa yang diyakini oleh orang-orang Arab tentang berubah-ubahnya hantu ke dalam beberapa bentuk. Mereka (para ulama) berkata: Makna "tidak ada hantu" yakni tidak bisa menyesatkan seseorang.

Imam an-Nawawi berkata: Hal ini dikuatkan oleh hadits lain yang mengatakan:

"Tidak ada hantu tetapi tukang-tukang sihir jin."

Para ulama berkata: Adalah para tukang sihir jin, yakni di kalangan jin ada tukang sihir yang bisa mengelabui dan membuat halusinasi. (32)

Peringatan: Tidak ada hujjah bagi orang yang melemahkan hadits Jabir (radhiyallahu 'anhu) ini dengan alasan bahwa ia dari jalan Abu Zubair dari Jabir, sedangkan Abu Zubair suka menyamarkan.

Memang Abu Zubair mudallis tetapi ia menyatakan "mendengar" pada jalan yang keempat dalam riwayat Muslim. Dengan demikian hilanglah kemungkinan pentadlisannya. Maka hadits ini shahih, alhamdulillah.

Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari Abu as-Sa'ib mantan budak Hisyam bin Zuhrah, ia berkata: Aku pernah masuk menemui Abu Sa'id al-Khudri (radhiyallahu 'anhu) lalu kudapati dia sedang shalat. Kemudian aku duduk menantinya hingga selesai shalatnya. Aku mendengar bunyi gerakan di bawah dipan di rumahnya, yang kemudian ternyata adalah seekor ular, lalu aku berdiri untuk membunuhnya. Tetapi Abu Sa'id mengisyaratkan agar aku duduk. Setelah selesai shalat, ia mengisyaratkan ke sebuah rumah di pekarangan seraya berkata: "Tahukah engkau rumah ini?" Aku jawab: "Ya." Ia berkata: Rumah ini pernah dihuni oleh seorang pemuda yang baru saja menikah kemudian dia keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ke Khandaq. Ketika sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba dia meminta izin seraya berkata: "Wahai Rasulullah, izinkanlah aku mengemukakan janji kepada istriku." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkannya seraya bersabda: "Pakailah senjatamu, karena aku khawatir terjadi serangan dari Bani Quraidhah terhadapmu." Kemudian pemuda itu pergi menemui istrinya yang kemudian mendapatkannya sedang berdiri di antara dua pintu. Lalu pemuda itu ingin segera memanahnya karena rasa cemburu. Tetapi istri pemuda itu berkata: "Jangan terburu-buru sehingga kamu masuk dan melihat apa yang ada di dalam rumah." Kemudian pemuda itu masuk dan ternyata ada seekor ular yang sedang bertengger di atas tempat tidurnya, lalu pemuda itu pun melepaskan panahnya kepada ular tersebut. Kemudian dia bergembira dengannya dan menancapkannya di pekarangan. Kemudian ular itu menggeliat di ujung panah dan pemuda itu pun tersungkur mati. Tidak diketahui mana yang terlebih dahulu mati, pemuda atau ular? Setelah peristiwa ini disampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Sesungguhnya di Madinah ada jin yang telah masuk Islam. Karena itu, jika kalian melihat sesuatu dari mereka, maka ijinkanlah tiga hari. Jika masih terlihat setelah itu, maka bunuhlah karena ia adalah syetan." (33)

===

(29) Aakaamul Mirjan, hal. 19.

(30) Fat-hul Bari, 6/344.

(31) Diriwayatkan oleh Muslim, 14/217 (an-Nawawi).

(32) Syarhu Muslim, 14/217.

(33) Muslim, 14/235 (an-Nawawi).

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

jin Bisa Melakukan Penyerupaan (2) | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

jin Bisa Melakukan Penyerupaan (2).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari Bani Israil." (22)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Di atas setiap unta ada syetan maka hinakanlah dengan menungganginya." (23)

Dari Abu Qilabah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam di antaranya sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya." (24)

Di dalam Shahih Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

'Apabila salah seorang di antara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika dihadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada dihadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam.'" Aku bertanya, "Wahai Abu Dzar, mengapakah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala?" Ia menjawab, "Wahai anak saudaraku, aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda, 'Anjing hitam adalah syetan.'" (25)

Yang menjadi catatan dari hadits ini adalah sabar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa anjing hitam adalah syetan.

Ibnu Taimiyah berkata, "Anjing hitam adalah syetan anjing dan jin, dia menyerupai warna beberapa bentuk, demikian pula dengan bentuk kucing hitam karena warna hitam lebih bisa menghimpun kekuatan-kekuatan syetan daripada warna lainnya, disamping karena warna hitam menyimpan daya panas." (26)

iblis pernah menyerupai Suraqah bin Malik, pemimpin Bani Mudlij, pada waktu perang Badr. Ia datang bersama kaum musyrikin dengan membawa tentaranya seraya berkata kepada kaum musyrikin, "Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan kalian pada hari ini, dan sesungguhnya aku adalah pembela kalian." Ketika pasukan telah berbaris dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun mengambil segenggam tanah lalu dilemparkan ke arah wajah kaum musyrikin maka mereka pun lari mundur terbirit-birit, dan Jibril 'alaihis salaam datang kepada iblis. Ketika melihat Jibril, iblis spontan melepaskan tangannya yang tengah menggandeng tangan seorang dari kaum musyrikin kemudian dia dan pasukannya lari meninggalkan medan pertempuran, sehingga ada salah seorang yang berkata, "Wahai Suraqah, tidakkah engkau mengatakan akan menjadi pembela kami." Lalu dijawabnya, "Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, sesungguhnya aku takut kepada Allah, dan Allah Maha Keras siksa-Nya." Demikianlah ketika dia (iblis) melihat Malaikat. Riwayat ini dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma). (27)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, unta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung dan anak keturunan Adam." (28)

===

(22) Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, ath-Thabrani di dalam al-Kabir dan Ibnu Abi Hatim di dalam al-'Ilal. Dishahihkan oleh al-Hakim di dalam ash-Shahihah, 4/439 nomor 1824.

(23) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami', 4/38.

(24) Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitabul Musaqat.

(25) Diriwayatkan oleh Muslim, 4/226 (an-Nawawi), an-Nasa-i, 2/64, Ibnu Majah, 1/306, dan ad-Darami, 1/329.

(26) Risalatul jinni, hal. 41.

(27) Tafsir Ibni Katsir, 2/317.

(28) Risalatul jinni, hal. 32.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

jin Bisa Melakukan Penyerupaan | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

jin Bisa Melakukan Penyerupaan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menugasi aku untuk menjaga (harta) zakat Ramadhan, kemudian datanglah makhluk pendatang kepadaku lalu mengais makanan sehingga aku mengambilnya dan kukatakan, 'Demi Allah, akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Makhluk itu berkata, 'Sesungguhnya aku membutuhkan, aku punya tanggungan keluarga dan punya kebutuhan yang mendesak.'" Abu Hurairah berkata, "Lalu kulepaskan dia. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?'" Abu Hurairah berkata, "Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu aku kasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku tahu bahwa dia akan kembali lagi karena pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Lalu aku mengintainya dan dia pun datang mengais makanan lagi, lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.' Dia berkata, 'Biarkanlah aku, sesungguhnya aku sangat memerlukan dan aku punya tanggungan keluarga, aku tidak akan kembali.' Lalu kukasihani dia dan kubiarkan pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengeluhkan kebutuhan yang mendesak dan tanggungan keluarga lalu kukasihani dia dan kulepaskan pergi.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Dia membohongi engkau, dia akan kembali lagi.' Kemudian aku mengintainya untuk ketiga kalinya, sehingga dia datang mengais makanan lalu kuambil dia dan kukatakan, 'Sungguh akan kubawa engkau kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ini adalah untuk ketiga dan terakhir kalinya engkau berjanji tidak kembali kemudian ternyata engkau kembali lagi.' Dia (makhluk pendatang itu) berkata, 'Biarlah kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadamu.' Kukatakan, 'Apa itu?' Dia berkata, 'Apabila kamu pergi ke tempat tidurmu, bacalah ayat kursi "Allaahu laa ilaaha illaa huwal Hayyul Qayyum..." hingga akhir ayat, karena dengan demikian, engkau akan dilindungi oleh Allah dan syetan tidak akan mendekat kepadamu hingga pagi.' Kemudian kubiarkan dia pergi. Keesokan harinya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda lagi, 'Apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, dia mengaku mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku, lalu kubiarkan dia pergi.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apa itu?' Aku jawab, 'Dia berkata kepadaku, apabila engkau pergi ke tempat tidurmu bacalah ayat kursi dari awal hingga akhir ayat. Dia berkata kepadaku, "Allah akan senantiasa melindungi engkau dan syetan tidak akan mendekatimu hingga pagi" -mereka paling menginginkan kebaikan- lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tahukah siapakah orang yang engkau ajak bicara sejak tiga hari itu, wahai Abu Hurairah?' Abu Hurairah menjawab, 'Tidak.' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Itu adalah syetan.'" (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) (20)

Al-Hafizh berkata, "Di dalam hadits Abu Ubay bin Ka'ab riwayat an-Nasa-i disebutkan, 'Bahwasanya dia mempunyai tempat pengeringan yang sedang dipakai mengeringkan kurma dan dijaganya, kemudian didapatinya bahwa kurma tersebut berkurang. Lalu tiba-tiba ada seekor binatang sebesar anak yang baru akil baligh.

Kukatakan kepadanya, 'Apakah engkau makhluk jin atau manusia?' Dia menjawab, 'jin.' Dalam riwayat ini jin tersebut juga mengatakan, 'Kami mendengar bahwa engkau suka bersedekah dan karena itu kami ingin mendapatkan bagian makananmu.' Ia (Shahabat tersebut) bertanya, 'Apakah yang dapat melindungi kami dari (gangguan) kalian?' jin itu menjawab, 'Ayat kursi ini.' Kemudian ia menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'jin itu benar.'"

Selanjutnya al-Hafizh menjadikan hadits Abu Sa'id terdahulu sebagai dalil bahwa syetan bisa menyerupai bentuk dan bisa dilihat. Sedangkan firman Allah, "Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka." (QS. Al-A'raf: 27), adalah khusus bagi syetan dalam bentuk aslinya.

Di tempat lain al-Hafizh berkata, "Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Manaqibusy Syafi'i dengan sanadnya dari ar-Rabi', aku mendengar Syafi'i berkata, 'Barangsiapa mengaku melihat jin maka kami batalkan syahadatnya kecuali Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam).'"

Ia berkata, "Ini berlaku bagi orang yang mengaku melihat mereka dalam bentuknya yang asli. Sedangkan orang yang mengaku melihat sesuatu dari mereka setelah menyerupai beberapa bentuk binatang maka tidak dapat dibantah karena berita-berita tentang penyerupaan mereka sudah mutawatir (banyak)." (21)

===

(20) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, 4/487, 6/335, dan 9/55 (Fat-hul Bari).

(21) Fat-hul Bari 4/489.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

syetan Punya Tanduk | jin, hakekat bukan khurafat | Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami

Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan.

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali.

Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami.

Bab I: jin, hakekat bukan khurafat.

syetan Punya Tanduk.

Dari Amer bin Anbasah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,

'Sesungguhnya matahari terbit di antara dua tanduk syetan dan terbenam di antara dua tanduk syetan.'" (19)

===

(19) Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitabu Bid'il Khalqi bab 11, dan Muslim, Kitabul Mufasirin hadits 2, 90 dan 254.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Nyeri Wajah Trigeminal | Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi | Bekam Untuk 100 Penyakit | Sembuh dengan Satu Titik

Sembuh dengan Satu Titik.

dr. Wadda' A. Umar.

Bagian Ketiga.

Bekam Untuk 100 Penyakit.

Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi.

4. Nyeri Wajah Trigeminal.

Nyeri wajah Trigeminal atau Trigeminal neuralgia adalah nyeri di tempat-tempat yang dilewati syaraf n. Trigeminus.

Keluhannya adalah berupa nyeri di wajah yang berat dan tajam, menyengat seperti tersetrum, timbulnya mendadak, berlangsung singkat beberapa detik hingga beberapa menit. Nyeri sering kambuh dan umumnya mengenai daerah sekitar rahang atas dan rahang bawah hingga ke wajah. Nyeri pertama berlangsung sekitar setengah menit, dan berikutnya dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit. Bila tidak kambuh, maka rasa nyeri tidak terasa.

Penyebabnya adalah gangguan pada syaraf Trigeminus yang dipicu oleh gosok gigi, mengunyah makanan, menguap, menelan, mengusap wajah, hidung, sudut mulut dan pipi. Bisa juga sebelumnya mengalami patah tulang di wajah.

Titik Pengobatan.

Untuk keluhan-keluhan di sekitar pipi dan rahang atas, dipakai titik di depan telinga, antara sudut mata dengan lubang telinga. Titik ini terbukti sangat bermanfaat mengobati nyeri rahang atas dan rahang bawah. Untuk nyeri di sekitar mata dipilih titik di dahi, yaitu di atas pertengahan lengkung alis mata, satu garis sejajar dengan manik-manik mata bila mata melihat lurus ke depan.

Bisa dilakukan bekam pada satu titik sesuai keluhan yang timbul. Bila keluhan di sebelah kiri, maka dilakukan bekam di dahi sebelah kiri. Bila keluhan di sebelah kanan, dilakukan bekam di dahi sebelah kanan, atau bisa juga dibekam keduanya, di dahi kiri dan titik kanan.
===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Nyeri Migrain | Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi | Bekam Untuk 100 Penyakit | Sembuh dengan Satu Titik

Sembuh dengan Satu Titik.

dr. Wadda' A. Umar.

Bagian Ketiga.

Bekam Untuk 100 Penyakit.

Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi.

3. Nyeri Migrain.

Migrain adalah kumpulan gejala yang timbul berulang-ulang yang ditandai dengan nyeri kepala sebelah, berdenyut-denyut, vertigo (seperti berputar), mual, muntah, dan mata silau bila melihat sinar yang berkelip-kelip.

Keluhannya yang sering terjadi adalah sakit kepala yang hilang-timbul secara periodik. Pada awalnya sakit kepala hanya mengenai sebelah sisi kepala. Tetapi makin lama bisa menyerang ke kedua sisi kepala, bahkan dapat mengenai seluruh kepala. Rasa sakit berlangsung beberapa menit sampai beberapa hari. Sakitnya bisa samar-samar, tetapi bisa terasa berat sampai tidak tertahankan.

Titik Pengobatan.

Titik yang dipakai untuk penyakit migrain adalah di sebuah lekukan tepat di bawah telinga. Titik ini sangat baik untuk migrain. Sebab, di sinilah pusat chi, dan dari sinilah terjadi peningkatan chi dan aliran darah ke daerah leher, syaraf-syaraf kepala dan pembuluh darah di kepala, sehingga dapat meredakan migrain.

Bisa dilakukan bekam pada satu titik sesuai keluhan yang timbul. Bila keluhan di sebelah kiri, maka dilakukan bekam di bawah telinga sebelah kiri, bila keluhan di sebelah kanan, dilakukan bekam di sebelah kanan, atau bisa juga dibekam keduanya, di bawah telinga yang kiri dan titik yang kanan.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Muqaddimah (2) | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullah.

Muqaddimah (2).

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb sekalian alam, yang telah memberi karunia hidayah taufiq kepada hamba-Nya, baik berupa ilmu yang bermanfaat, iman, amal shalih, pemahaman yang benar dan manhaj yang haq yaitu mengikuti jejak Salafush Shalih. Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau shallallahu 'alaihi wa sallam sampai hari Kiamat.

'Aqidah tauhid merupakan pegangan yang sangat prinsip yang menentukan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Karena tauhid merupakan pondasi bangunan agama, menjadi dasar bagi setiap amalan yang dilakukan hamba-Nya. Tauhid merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul. Mereka pertama kali memulai dakwahnya dengan tauhid dan tauhid merupakan ilmu yang paling mulia.

'Aqidah yang benar adalah perkara yang amat penting dan kewajiban yang paling besar yang harus diketahui oleh setiap Muslim dan Muslimah. Karena sesungguhnya sempurna dan tidaknya satu amal, diterima dan tidaknya bergantung kepada 'aqidah yang benar. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diperoleh oleh orang-orang yang berpegang pada 'aqidah yang benar ini dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menafikan dan mengurangi kesempurnaan 'aqidah tersebut.

'Aqidah yang benar adalah 'aqidah al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat), 'aqidah ath-Thaifah al-Manshurah (golongan yang mendapat pertolongan Allah), 'Aqidah Salaf, 'Aqidah Ahlul Hadits, Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Islam yang Allah karuniakan kepada kita harus kita pelajari, fahami, amalkan yang bersumber dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Shahabat (Salafush Shalih). Pemahaman para Shahabat adalah satu-satunya pemahaman yang benar. 'Aqidah dan manhaj mereka adalah satu-satunya yang benar. Sesungguhnya jalan kebenaran menuju kepada Allah hanya satu, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hadits Iftiraqul Ummah (tentang perpecahan ummat).

Dari Shahabat 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Ummat yahudi berpecah belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk Surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk Neraka, ummat nashrani berpecah belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk Neraka dan hanya satu golongan yang masuk Surga. Dan demi jiwa Nabi Muhammad yang berada di tangan-Nya sungguh akan berpecah belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk Surga, dan 72 (tujuh puluh dua golongan) masuk Neraka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: 'Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan yang selamat)?' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Al-Jama'ah.'" (5)

Allah memerintahkan kepada ummat Islam mengikuti satu jalan, dan tidak boleh mengikuti jalan yang menceraiberaikan manusia dari jalan-Nya sebagaimana firman-Nya:

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. Al-An'aam: 153)

Imam Ibnul Qayyim (wafat tahun 751 H) rahimahullah berkata: "Hal ini disebabkan jalan menuju Allah hanyalah satu. Jalan itu adalah ajaran yang telah Allah wahyukan kepada Rasul-rasul-Nya dan Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka. Tidak ada satu pun yang dapat sampai kepada-Nya tanpa melalui jalan tersebut. Sekiranya ummat manusia mencoba seluruh jalan yang ada dan berusaha mengetuk seluruh pintu yang ada, maka seluruh jalan itu tertutup dan seluruh pintu itu terkunci kecuali dari jalan yang satu itu. Jalan itulah yang berhubungan langsung kepada Allah dan menyampaikan mereka kepada-Nya." (6)

Akan tetapi, faktor yang membuat kelompok-kelompok dalam Islam itu menyimpang dari jalan yang lurus adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang sebenarnya telah diisyaratkan dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, yakni memahami al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Surat al-Fatihah secara gamblang telah menjelaskan ketiga rujkun tersebut, firman Allah:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

Ayat ini mencakup rukun pertama dan kedua, yakni merujuk kepada al-Qur-an dan as-Sunnah, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 7)

Ayat ini mencakup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih dalam meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan al-Qur-an dan as-Sunnah pasti telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus. Oleh karena metode manusia dalam memahami al-Qur-an dan as-Sunnah berbeda-beda, ada yang benar dan ada yang salah, maka haruslah memenuhi rukun ketiga untuk menghilangkan perbedaan tersebut, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih. (7)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Perhatikanlah hikmah berharga yang terkandung dalam penyebutan sebab dan akibat ketiga kelompok manusia (yang tersebut di akhir surat al-Fatihah) dengan ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan kepada kelompok pertama adalah nikmat hidayah, yakni ilmu yang bermanfaat dan amal shalih." (8)

Uraian di atas merupakan penegasan dari beliau bahwa generasi yang paling utama yang dikarunia Allah ilmu dan amalan shalih adalah para Shahabat Rasul (shallallahu 'alaihi wa sallam). Hal itu karena mereka telah menyaksikan langsung turunnya al-Qur-an, menyaksikan sendiri penafsiran yang shahih yang mereka pahami dari petunjuk Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia.

===

(5) HR. Ibnu Majah dengan lafazh miliknya, dalam Kitabul Fitan, bab Iftiraqul Umam (no. 3992), Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah, bab: Syarhus Sunnah (no. 4596), Ibnu Abi 'Ashim dalam Kitabus Sunnah (no. 63). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 203-204).

Satu golongan dari ummat yahudi yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi Musa 'alaihis salaam serta mati dalam keadaan beriman. Dan begitu juga satu golongan dari ummat nashrani yang masuk Surga adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Nabi 'Isa ('alaihis salaam) sebagai Nabi dan utusan dan hamba Allah serta mati dalam keadaan beriman. Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka semua ummat yahudi dan nashrani wajib masuk Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penutup para Nabi.

(6) Tafsir al-Qayyim lil Ibnil Qayyim (hal. 14-15).

(7) Madaarikun Nazhar fis Siyaasah baina Tathbiiqaat asy-Syar'iyyah wal Infi'aalaat al-Hamasiyah (hal. 27-28) karya 'Abdul Malik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhani al-Jazairy, cet. II - 1418 H.

(8) Lihat Madaarijus Salikin (I/20), cet. Daarul Hadits Kairo.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Muqaddimah | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullah.

Muqaddimah.

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah tunjuki, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan Allah.

"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam." (QS. Ali 'Imraan: 102)

"Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisaa': 1)

"Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba'du:

"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap yang diada-adakan adalah bid'ah, dan setiap bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di Neraka." (1)

Allah 'Azza wa Jalla berfirman, mengingatkan para hamba-Nya tentang besarnya nikmat yang Dia anugerahkan kepada mereka:

"Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan ke-Islaman mereka. Katakanlah: 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-Islamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukimu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujuraat: 17)

Maka, segala puji hanya milik Allah 'Azza wa Jalla yang telah menunjukkan kita kepada Islam dan kita tidak akan pernah mendapat petunjuk, jika kita tidak dianugerahi hidayah oleh-Nya.
Di antara karunia dan nikmat Allah 'Azza wa Jalla bagi ummat ini adalah, Dia mengutus Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam kepada ummat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman tatkala Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya, sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali 'Imran: 164)

Dengan diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan terbuka mata yang buta, menjadikan mendengar telinga yang tuli dan membuka qalbu yang terkunci mati. Dengan diutusnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Allah Subhanahu wa Ta'ala menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina dan menguatkan orang yang lemah, menyatukan orang serta kelompok setelah bercerai berai dan bermusuhan.

Setelah diutus, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan berjihad di jalan Allah Jalla Jalaaluh dengan sebenar-benarnya jihad hingga datang kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kematian, sementara ummat manusia masuk ke dalam agama Allah 'Azza wa Jalla dengan berbondong-bondong. Maka, semoga Allah 'Azza wa Jalla mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberinya ganjaran yang lebih besar atas jasa beliau kepada kita melebihi ganjaran yang pernah diberikan-Nya kepada seorang Nabi karena berjasa kepada ummatnya.

Tatkala Allah 'Azza wa Jalla menyempurnakan agama-Nya yang Dia ridhai untuk menjadi agama bagi ummat ini, Dia menurunkan kepada Nabi-Nya ayat dalam rangka mengingatkan beliau dan ummatnya akan karunia-Nya, yaitu sebuah ayat yang berbunyi:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al-Maa-idah: 3)

Ayat ini turun pada hari besar ummat Islam (2), hari berkumpulnya kaum Muslimin yang paling agung yaitu hari dilaksanakannya wukuf di Arafah yang bertepatan dengan hari Jum'at sebagai hari raya ummat Islam yang selalu ada setiap pekannya. Ummat manusia telah berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah Haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka para Shahabat mendengar langsung ayat ini dari lisan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga mereka mengetahui besarnya karunia dan nikmat yang dianugerahi Allah kepada mereka berupa agama ini dan Allah 'Azza wa Jalla telah menyempurnakan dan memilihnya untuk mereka. Mereka juga mengetahui, bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah memilih mereka untuk mengibarkan panji-panji agama-Nya dan menyebarkannya, berjuang dan berkorban di jalan-Nya baik dengan jiwa maupun dengan harta dan raga, dengan meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini juga merupakan nikmat dan karunia dari Allah 'Azza wa Jalla atas ummat ini. Karena mereka telah membawa bendera jihad dan dakwah, menyampaikan Dienullah (agama Allah) di atas dasar ilmu sehingga Islam menyebar di berbagai penjuru dunia dan cahaya Islam menerangi belahan Timur dan Barat bumi ini, dengan perjuangan mereka. Allah memelihara agama-Nya, yang selaras dengan firman-Nya:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qu-nan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)

Ini juga merupakan nikmat Allah untuk ummat ini.

Jalan yang ditempuh oleh para Shahabat radhiyallahu 'anhum diikuti oleh para ulama yang menetapi manhaj Salafush Shalih. Mereka mengajak manusia kepada agama ini. Mereka berjihad fi sabilillah dan tampil membela al-haq (kebenaran) dan para pengikutnya. Mereka merintis jalan agar mudah ditempuh oleh ummat manusia untuk mendengar suara al-haq (kebenaran), dan setiap kali sekelompok ada di antara mereka dipanggil kembali oleh Allah 'Azza wa Jalla, maka Allah 'Azza wa Jalla menggantinya dengan kelompok baru, maka mereka adalah penerus terbaik yang mewarisi generasi Salaf terbaik.
Dalam kaitan ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk ummat ini pada awal setiap seratus tahun orang yang men-tajdid (memperbaharui) agama mereka." (3)

Maka, segala puji hanya milik Allah 'Azza wa Jalla yang telah menjadikan pada setiap masa yang kosong dari para Rasul, pewaris yang terdiri dari ahli ilmu yang berdakwah, mengajak orang yang sesat kepada hidayah. Mereka tabah dan sabar menghadapi bermacam-macam tantangan dan ujian untuk menghidupkan mereka yang mati hatinya dengan Kitabullah dan dengan cahaya Allah 'Azza wa Jalla, menjadikan terbuka mata mereka yang buta. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang telah mati terbunuh (hatinya) oleh iblis kembali dihidupkan dan banyak dair mereka yang sesat dan kebingungan kembali mendapat petunjuk.

Alangkah baik warisan mereka untuk manusia tetapi sebaliknya, sungguh buruk peninggalan manusia untuk mereka. Para Ahlul Ilmi itu telah tampil menolak manipulasi Kitabullah yang dilakukan oleh mereka yang berlebih-lebihan, dan mencegah pemalsuan orang-orang yang berkecimpung dalam kebathilan serta menolak ta'-wil terhadap Kitabullah yang diperbuat oleh orang-orang bodoh yang mengibarkan bendera bid'ah melepaskan tali pengikat fitnah. Mereka adalah orang-orang yang berselisih tentang Kitabullah sekaligus menyelisihinya. Mereka bersepakat untuk memisahkan diri dari Kitabullah dengan membahas tentang Allah dan tentang Kitabullah tanpa ilmu. Mereka menyampaikan pandangan dan ucapan yang mengandung syubhat yang membingungkan dan mengecoh orang-orang awam. Kita berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dari fitnah orang-orang yang sesat. (4)

===

(1) Khutbatul Hajah, khutbah ini dinamakan Khutbatul Hajah (), khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Shahabat radhiyallahu 'anhum. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 2118), an-Nasa-i (III/104-105), at-Tirmidzi (1105), Ibnu Majah (1892), dan al-Hakim (II-182-183), dari Shahabat 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih. Hadits ini ada beberapa syawahid (penguat) dari beberapa Shahabat, yaitu:

1. Shahabat Abu Musa al-Asy'ari (radhiyallahu 'anhu) (Majma'uz Zawa-id IV/288).

2. Shahabat 'Abdullah bin 'Abdillah (radhiyallahu 'anhu) (Muslim no. 868, al-Baihaqy III/215).

3. (Shahabat) Jabir bin 'Abdillah (radhiyallahu 'anhu) (Ahmad II/37, Muslim no. 867, dan al-Baihaqy III/214).

4. (Shahabat) Jabir bin Syariith (radhiyallahu 'anhu) (al-Baihaqy III/215).

5. Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma.

Lihat Khutbatul Hajah al-Latii Kaana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Yu'allimuha Ash-haabahu, ta'lif Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah, cet. IV, al-Maktab al-Islamy, th. 1400 H dan cet. I, Maktabah al-Ma'arif, th. 1421.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di setiap khutbahnya selalu memulai dengan memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta'ala serta tasyahhud (mengucapkan dua kalimat syahadat) sebagaimana yang diriwayatkan para Shahabat:

1. Dari Asma' binti Abi Bakar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "...Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian beliau bersabda: Amma ba'du." (HR. Al-Bukhary no. 86, 184, 922)

2. 'Amr bin Taghlib (radhiyallahu 'anhu), dengan lafazh yang sama dengan hadits Asma'. (HR. Al-Bukhary no. 923)

3. 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma berkata, "...Tatkala selesai shalat Shubuh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepada para Shahabat, beliau bertasyahhud (mengucapkan kalimat syahadat) kemudian bersabda: Amma ba'du..." (HR. Al-Bukhary no. 924)

4. Abu Humaid as-Saa-idy (radhiyallahu 'anhu) berkata, "Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri khutbah pada waktu perang sesudah shalat ('Ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung serta memuji Allah yang memang hanya Dia-lah yang berhak mendapatkan sanjungan dan pujian, kemudian bersabda: Amma ba'du..." (HR. Al-Bukhary no. 925)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Setiap khutbah yang tidak dimulai dengan tasyahhud, maka khutbah itu seperti tangan yang berpenyakit lepra/ kusta." (HR. Abu Dawud no. 4841, Ahmad II/302-343, Ibnu Hibban no. 1994 -Mawaarid, dan selainnya. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 169)

Menurut Syaikh al-Albany, yang dimaksud dengan tasyahhud di hadits ini adalah Khutbatul Hajah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para Shahabat radhiyallahu 'anhum, yaitu: Innal hamdalillah..." (Hadits Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu))

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: "Khutbah ini adalah Sunnah, dilakukan ketika mengajarkan al-Qur-an, as-Sunnah, fiqih, menasehati orang dan semacamnya... Sesungguhnya hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, tidak mengkhususkan untuk khutbah nikah saja, tetapi khutbah ini pada setiap ada keperluan untuk berbicara kepada hamba-hamba Allah, sebagian kepada sebagian yang lainnya..." (Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XVIII/286-287)

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany rahimahullah: "...Sesungguhnya khutbah ini dibaca sebagai pembuka setiap khutbah, apakah khutbah nikah, atau khutbah Jum'at, atau yang lainnya (seperti ceramah, mengajar dan yang lainnya, -pent), tidak khusus untuk khutbah nikah saja, sebagaimana disangka oleh sebagian orang..." (Khutbatul Hajah (hal. 36), cet. I, al-Ma'arif)
Kemudian beliau melanjutkan: "Khutbatul hajah ini hukumnya sunnah bukan wajib, dan aku membawakan hal ini untuk menghidupkan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ditinggalkan oleh kaum Muslimin dan tidak dipraktekkan oleh para khatib, penceramah, guru, pengajar dan selain mereka. Mereka harus berusaha untuk menghafalnya dan mempraktekkannya ketika memulai khutbah, ceramah, makalah, ataupun mengajar. Semoga Allah merealisasikan tujuan mereka." (Khutbatul hajah (hal. 40), cet. I, al-Ma'aarif dan an-Nashiihah (hal. 81-82), cet. I, Daar Ibnu 'Affan - 1420 H)

(2) Lihat Shahih al-Bukhari (no. 45, 4407, 4606, dan 7268), Muslim (no. 3017), dan an-Nasa-i (V/251 dan VIII/114), dari Thariq bin Syihab dari 'Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu).

(3) HR. Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (IV/522) dan yang lainnya, dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh Imam al-Hakim sebagaimana yang dinukil oleh Imam al-Munawy dalam Faidhul Qadir (II/358) cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah, th. 1415 H. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albany, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 599.

Men-tajdid maksudnya menjelaskan Sunnah dari Bid'ah, memperbanyak ilmu dan memuliakan pemiliknya, membela Sunnah dan pengikutnya, dan menghancurkan bid'ah dan pelakunya, baik dengan lisan, tulisan, pendidikan dan sejenisnya. Dan ini terjadi ketika agama lenyap. ('Aunul Ma'buud Syarah Sunan Abi Dawud (XI/301), cet. Daarul Fikr - 1415 H dan Majmuu' Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah XVIII/297.

(4) Dipetik dari khutbah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam kitabnya, ar-Radd 'ala al-Jahmiyah. Dikutip dari Muqaddimah Manhaj asy-Syafi'i rahimahullah fii Itsbaatil 'Aqiidah (I/3-5) oleh Dr. Muhammad bin 'Abdil Wahhab al-'Aqiil.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Nyeri Dahi | Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi | Bekam Untuk 100 Penyakit | Sembuh dengan Satu Titik

Sembuh dengan Satu Titik.

dr. Wadda' A. Umar.

Bagian Ketiga.

Bekam Untuk 100 Penyakit.

Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi.

2. Nyeri Dahi.

Berupa nyeri di dahi dan sekitar tulang frontalis. Nyeri ini bisa merupakan bagian dari nyeri karena migrain atau nyeri kepala.

Keluhannya berupa nyeri yang disertai keluar air mata. Umumnya, keluhan ini dimulai pagi hari, akan mereda di pagi hari dan kambuh di sore hari.

Titik Pengobatan.

Titik yang dipakai adalah di sebelah belakang mata kaki bagian luar, yaitu antara mata kaki luar dan tendon akiles (tumit). Karena nyeri daerah ini biasanya muncul pada waktu yang sama, maka bekam sebaiknya dilakukan 1/2 jam sebelum nyeri tersebut kambuh.

Bisa dilakukan bekam pada satu titik sesuai keluhan yang timbul. Bila keluhan di sebelah kiri, maka dilakukan bekam di sebelah kiri, bila keluhan di sebelah kanan, dilakukan bekam di sebelah kanan, atau bisa juga dibekam keduanya, di titik yang kiri dan titik yang kanan.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Nyeri Kepala | Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi | Bekam Untuk 100 Penyakit | Sembuh dengan Satu Titik

Sembuh dengan Satu Titik.

dr. Wadda' A. Umar.

Bagian Ketiga.

Bekam Untuk 100 Penyakit.

Gangguan dan Nyeri pada Otot, Tulang, dan Sendi.

1. Nyeri Kepala.

Nyeri kepala atau sefalgia adalah rasa sakit atau rasa tidak enak yang terjadi di bagian atas dari kepala dan kadang-kadang menyebar ke wajah, gigi, rahang, leher, mata, hidung, atau telinga.

Keluhannya berupa rasa tidak enak, rasa berat, menusuk-nusuk, atau berdenyut yang bisa diikuti dengan mual, muntah, dan wajah kemerahan.

Titik Pengobatannya.

Dapat dilakukan bekam di kanan dan kiri tengkuk, di tengah-tengah antara batas rambut bagian belakang dan telinga bagian bawah. Yakni pada pertengahan ujung otot Sternokleidomastoideus dan otot Trapezius.

Titik ini sangat baik untuk bekam, karena merupakan pertemuan banyak persyarafan kepala, pembuluh darah, dan pertemuan otot-otot penting leher dan kepala. Selain itu, juga dapat meningkatkan chi dan aliran darah melingkari titik ini.

Bisa dilakukan bekam pada satu titik sesuai keluhan yang timbul. Bila keluhan di sebelah kiri, maka dilakukan bekam di sebelah kiri tengkuk, bila keluhan di sebelah kanan, dilakukan bekam di sebelah kanan tengkuk, atau bisa juga dibekam keduanya di kiri dan kanan tengkuk.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (208)

Al-Adab al-Mufrad.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

105. Bab: Orang yang Suka Menjadi Budak.

208. Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Hamba sahaya yang Muslim jika dia memenuhi hak Allah dan tuannya maka baginya adalah dua pahala."

Abu Hurairah lalu berkata, "Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya kalau sekiranya bukan karena berjuang di jalan Allah dan haji serta bakti kepada ibuku, aku lebih suka mati dalam keadaan menjadi budak."

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (207)

Al-Adab al-Mufrad.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

104. Bab: Budak Adalah Pengasuh.

207. Dari 'Abdullah bin Sa'ad, budak 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) berkata, 'Seorang budak jika mentaati tuannya, maka dia berarti telah mentaati Allah 'Azza wa Jalla. Jika dia melawan tuannya maka dia berarti telah melawan Allah 'Azza wa Jalla.'"

* Isnadnya dha'if.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (206)

Al-Adab al-Mufrad.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

104. Bab: Budak Adalah Pengasuh.

206. 'Abdullah bin 'Umar (radhiyallahu 'anhuma) berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Kalian semua adalah pengasuh, dan kalian semua adalah bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya. Pemimpin manusia adalah pengasuh dan dia bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya, dan seorang pria adalah pengasuh keluarganya dan dia bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya, dan hamba sahaya adalah pengasuh (pemelihara) harta tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. Kalian semua adalah pengasuh dan kalian semua adalah bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya.'"

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (205)

Al-Adab al-Mufrad.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

103. Bab: Jika Budak Baik Pemiliknya.

205. Abu Burdah meriwayatkan dari dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Bagi seorang budak ada dua lipat pahala, yaitu jika dia memenuhi hak Allah dalam ibadahnya, -atau beliau bersabda: dalam menyempurnakan ibadahnya- dan hak tuannya yang memilikinya."

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (204)

Al-Adab al-Mufrad.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

103. Bab: Jika Budak Baik Pemiliknya.

204. Abu Musa (radhiyallahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Sesungguhnya seorang budak yang menyempurnakan ibadah kepada Tuhannya dan dia juga memberikan kepada tuannya apa yang diwajibkan kepadanya berupa ketaatan dan nasehatnya, maka baginya pahala dua kali lipat.'"

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (203)

Al-Adab al-Mufrad.

Adabul Mufrad.

Kitab Pegawai.

103. Bab: Jika Budak Baik Pemiliknya.

203. Abu Musa (radhiyallahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai mereka:

'Tiga orang yang mendapat dua pahala: Pria yang berasal dari ahlul Kitab beriman pada Nabinya dan beriman pada Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam maka baginya pahala dua kali lipat. Dan seorang budak jika memenuhi hak tuannya dan Tuhannya. Dan seorang pria yang mempunyai budak perempuan dimana dia menguasainya kemudian mendidiknya dan menyempurnakan pendidikannya padanya lalu mengajarinya dan menyempurnakan pengajarannya, lalu dia membebaskannya dan mengawininya.'"

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi | Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullah.

Daftar Isi.

Muqaddimah.

Bab I.

A. Definisi 'Aqidah.

B. Objek Kajian Ilmu 'Aqidah.

C. Makna Salaf.

D. Makna Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

E. Sejarah Munculnya Istilah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Bab II: Kaidah dan Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil.

Bab III: Penjelasan Kaidah-kaidah dalam Mengambil dan Menggunakan Dalil.

Penjelasan Kaidah Kedua.

Penjelasan Kaidah Kelima.

Penjelasan Kaidah Keenam.

Penjelasan Sikap Ahlus Sunnah wal Jama'ah Terhadap Ilmu Kalam.

Penjelasan Kaidah Kesepuluh.

Bab IV: Beberapa Karakteristik 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

1. Keotentikan sumbernya.

2. Berpegang teguh kepada prinsip berserah diri kepada Allah dan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.

3. Sejalan dengan fitrah yang suci dan akal yang sehat.

4. Mata rantai sanadnya sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, para Shahabatnya dan para Tabi'in serta para Imam yang mendapatkan petunjuk.

5. Jelas dan gamblang.

6. Bebas dari kerancuan, kontradiksi dan kesamaran.

7. 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah merupakan faktor utama bagi kemenangan dan kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.

8. 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah 'aqidah yang dapat mempersatukan ummat.

9. Utuh, kokoh, dan tetap langgeng sepanjang masa.

10. Allah menjamin kehidupan yang mulia bagi orang yang menetapi 'aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Bab V: Kewajiban Ittiba' (Mengikuti Jejak) Salafush Shalih dan Menetapkan Manhajnya.

Bab VI: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Satu:
Agama Islam Adalah Agama yang Haq (Benar) yang Dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dua:
Rukun Iman.

Tiga:
Tauhid Rububiyyah.

Empat:
Tauhid Uluhiyyah.

Lima:
Tauhid al-Asma` wash Shifat.

Enam:
Kaidah Tentang Sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla Menurut Ahlus Sunnah.

Tujuh:
Syirik dan Macam-macamnya.

Delapan:
Mengambil Lahiriyah al-Qur-an dan as-Sunnah Merupakan Prinsip Dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Sembilan:
Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam Menafsirkan al-Qur-an, Menguraikannya, Menerangkannya dan Menjelaskannya.

Sepuluh:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Menetapkan Sifat al-'Uluww bagi Allah 'Azza wa Jalla.

Sebelas:
'Arsy Allah.

Dua Belas:
Ahlus Sunnah Menetapkan Istiwa'.

Tiga Belas:
Ahlus Sunnah Menetapkan Ma'iyyah (Kebersamaan Allah).

Empat Belas:
Ahlus Sunnah Menolak Keyakinan Wihdatul Wujud.

Lima Belas:
Ahlus Sunnah Mengimani Tentang an-Nuzul (Turunnya Allah ke Langit Dunia).

Enam Belas:
Ru`-yah (Melihat Allah di Hari Kiamat).

Tujuh Belas:
Iman Kepada Malaikat yang Ditugaskan Allah di Dunia dan di Akhirat.

Delapan Belas:
Iman Kepada Kitab-kitab yang Diturunkan Allah Kepada Para Rasul.

Sembilan Belas:
Iman Bahwa al-Qur-anul Karim adalah Kalamullah, Bukan Makhluk.

Dua Puluh:
Iman Kepada Rasul-rasul yang Diutus Allah Kepada Setiap Kaumnya.

Dua Puluh Satu:
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dua Puluh Dua:
Isra` Mi'raj.

Dua Puluh Tiga:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengimani Adanya Tanda-tanda Kiamat yang Besar.

Dua Puluh Empat:
Dajjal.

Dua Puluh Lima:
Ahlus Sunnah Mengimani Tentang Turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salaam di Akhir Zaman.

Dua Puluh Enam:
Ahlus Sunnah Meyakini Tentang Adanya Ya'juj dan Ma'juj yang Mereka akan Keluar di Akhir Zaman.

Dua Puluh Tujuh:
Ahlus Sunnah Meyakini Tentang Terbitnya Matahari dari Barat.

Dua Puluh Delapan:
Iman Kepada Yaumul Akhir.

Dua Puluh Sembilan:
Ahlus Sunnah Meyakini Tentang Adanya Hisab.

Tiga Puluh:
Ahlus Sunnah Meyakini Tentang al-Mizan.

Tiga Puluh Satu:
Ahlus Sunnah Mengimani Adanya al-Haudh.

Tiga Puluh Dua:
Ahlus Sunnah Mengimani Adanya ash-Shirath.

Tiga Puluh Tiga:
Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Syafa'at.

Tiga Puluh Empat:
Ahlus Sunnah Mengimani Tentang Surga dan Neraka.

Tiga Puluh Lima:
Ahlus Sunnah Mengimani Bahwasanya Setelah Manusia Masuk Surga dan Masuk Neraka Tidak Ada Lagi Kematian.

Tiga Puluh Enam:
Iman Kepada Qadar Baik dan Buruk.

Tiga Puluh Tujuh:
Ahlus Sunnah Adalah Ahlul Wasath.

Tiga Puluh Delapan:
Prinsip Ahlus Sunnah Tentang Dien dan Iman.

Tiga Puluh Sembilan:
Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah Terhadap Masalah Kufur dan Takfir.

Empat Puluh:
Nifaq, Definisi dan Jenis-jenisnya.

Empat Puluh Satu:
Al-Wa'du dan al-Wa'id.

Empat Puluh Dua:
Berhukum dengan Apa yang Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Empat Puluh Tiga:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Secara Lahir dan Batin.

Empat Puluh Empat:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Menjaga Hati dan Lisan Mereka Terhadap Para Shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Empat Puluh Lima:
Karomah Para Wali.

Empat Puluh Enam:
Pernyataan Tentang Hakekat dan Syari'at.

Empat Puluh Tujuh:
Larangan Mendirikan Masjid di Atas Kuburan.

Empat Puluh Delapan:
Ziarah Kubur.

Empat Puluh Sembilan:
Hukum Wasilah (Tawassul).

Lima Puluh:
Tabarruk (Mencari Berkah).

Lima Puluh Satu:
Hukum Sihir dan Penyihir.

Lima Puluh Dua:
Dukun, Tukang Ramal dan Orang Pintar.

Lima Puluh Tiga:
Ahlus Sunnah Melarang Nusyrah.

Lima Puluh Empat:
Ilmu Nujum (Ilmu Perbintangan).

Lima Puluh Lima:
Al-Istisqa' bil Anwa' (Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang).

Lima Puluh Enam:
Hukum Thiyarah (Tathayyur).

Lima Puluh Tujuh:
Ahlus Sunnah Melarang Memakai Jimat.

Lima Puluh Delapan:
Ahlus Sunnah Membolehkan Melakukan Ruqyah Syar'iyyah dan Melarang Ruqyah yang Ada Kesyirikan dan Bid'ah.

Lima Puluh Sembilan:
Ahlus Sunnah Melarang Memakai Gelang, Kalung atau Benang dan Sejenisnya untuk Mengusir atau Menangkal Bahaya.

Enam Puluh:
Al-Wala' wal Bara'.

Enam Puluh Satu:
Hukum Bermu'amalah dengan Orang Kafir.

Enam Puluh Dua:
Perbedaan antara al-Bara' dengan Keharusan Bermu'amalah dengan Baik.

Enam Puluh Tiga:
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Ahlul Bid'ah.

Enam Puluh Empat:
Ahlus Sunnah Menyuruh yang Ma'ruf dan Mencegah yang Munkar Menurut Ketentuan Syari'at.

Enam Puluh Lima:
Ahlus Sunnah Melaksanakan Haji, Jihad, Melaksanakan Shalat Jum'at dan Dua Hari Raya Bersama Ulil Amri, serta Ahlus Sunnah Selalu Menjaga Shalat Lima Waktu dengan Berjama'ah.

Enam Puluh Enam:
Ahlus Sunnah Menegakkan Jihad Bersama Ulil Amri.

Enam Puluh Tujuh:
Agama Adalah Nasehat.

Enam Puluh Delapan:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Tidak Mengadakan Provokasi atau Penghasutan Untuk Memberontak Kepada Penguasa Meskipun Penguasa itu Berbuat Zhalim.

Enam Puluh Sembilan:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Ta'at Kepada Pemimpin Kaum Muslimin.

Tujuh Puluh:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Melarang Keluar untuk Memberontak terhadap Pemimpin Kaum Muslimin.

Tujuh Puluh Satu:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Menjaga Ukhuwah (Persaudaraan) Sesama Mukminin.

Tujuh Puluh Dua:
Ahlus Sunnah Menyuruh Kaum Muslimin untuk Sabar Ketika Mendapat Ujian atau Cobaan, Bersyukur Ketika Mendapat Kesenangan serta Ridha terhadap Pahitnya Qadha dan Qadar.

Tujuh Puluh Tiga:
Ahlus Sunnah wal Jama'ah Mengajak Manusia Kepada Akhlak yang Mulia.

Tujuh Puluh Empat:
Persatuan Ummat Islam.

Tujuh Puluh Lima:
Ahlus Sunnah Senantiasa Melakukan Tashfiyah dan Tarbiyah Sebagai Kata Kunci Bagi Kembalinya Kemuliaan Islam.

Tujuh Puluh Enam:
Manhaj Dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Tujuh Puluh Tujuh:
Keutamaan Dakwah Tauhid.

Tujuh Puluh Delapan:
Syarat dan Kaidah dalam Dakwah (Mengajak) Manusia Kepada Agama Islam yang Benar.

Khatimah.

Maraji' (Daftar Pustaka).

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Penulis: Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah, Penerbit: Pustaka at-Taqwa, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah