Adabul Mufrad (187)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
95. Bab: Berilah Mereka Pakaian Seperti yang Kalian Pakai
187. 'Ubadah bin al-Walid bin 'Ubadah bin ash-Shamit berkata, "Aku pergi bersama ayahku mencari 'ilmu di sebuah dusun orang Anshar, sebelum mereka meninggal. Orang yang pertama kali bertemu dengan kami adalah Abul Yasar, salah seorang Shahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang bersama seorang budaknya. Dia memakai burdah(31) begitu juga dengan budaknya. Lalu kukatakan padanya, 'Wahai paman, kalau sekiranya engkau ambil burdah budakmu dan engkau berikan padanya muafir(32)mu atau kau ambil muafirnya dan engkau berikan padanya burdahmu, maka engkau akan punya sepasang pakaian dan dia juga.' Dia kemudian memegang kepalaku dan berkata, 'Semoga Allah memberimu barakah-Nya, wahai anak saudaraku, kedua mataku telah melihat dan kedua telingaku telah mendengar serta hatiku telah memperhatikannya, sambil menunjuk pada hatinya, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
'Berilah mereka makanan dari yang kalian makan dan berilah mereka pakaian seperti yang kalian pakai.'
Oleh karenanya aku lebih suka memberinya perhiasan dunia. Maka memberinya sebagian dari perhiasan dunia adalah lebih ringan bagiku daripada dia mengambil kebaikanku di akhirat kelak.'"
===
(31) Burdah adalah pakaian yang kainnya bergaris-garis.
(32) Muafir adalah nama pakaian yang dinasabkan pada nama tempat di Yaman yaitu Muafir.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 65-66
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 65-66
"Dan sesungguhnya kamu sudah mengetahui orang-orang yang melanggar di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.' (QS. 2: 65) Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. 2: 66)
Pelanggaran yang dilakukan orang-orang yahudi pada hari Sabtu dan diubahnya bentuk mereka menjadi kera dan babi
Allah Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya kalian sudah mengetahui," hai orang-orang yahudi, adzab yang telah ditimpakan kepada penduduk negeri yang mendurhakai perintah Allah dan melanggar perjanjian yang telah diambil-Nya dari mereka agar menghormati hari Sabtu, serta melaksanakan perintah yang telah disyari'atkan-Nya bagi mereka. Lalu mereka mencari-cari alasan untuk dapat menangkap ikan pada hari Sabtu, yaitu dengan memasang pancing, jala, dan perangkap sebelum hari Sabtu. Ketika ikan-ikan itu datang pada hari Sabtu dalam jumlah yang banyak seperti biasanya, maka ikan-ikan itu pun tertangkap dan tidak bisa keluar dari jaring dan perangkapnya. Di saat malam setelah hari Sabtu berlalu, mereka pun segera mengambil ikan-ikan tersebut. Ketika mereka melakukannya, maka Allah mengubah rupa mereka menjadi kera, hewan yang lebih menyerupai manusia dalam bentuk, namun tidak seperti manusia sesungguhnya.
Demikian pula tindakan dan alasan yang mereka buat-buat yang secara lahiriyah tampak benar, akan tetapi sesungguhnya bertentangan. Karena itulah mereka mendapatkan balasan yang setimpal dengan jenis perbuatannya. Kisah ini tercantum dalam surat al-A'raaf di mana Allah Ta'ala berfirman, "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, ketika datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari selain Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka berlaku fasik." (QS. Al-A'raaf: 163) Hingga kisah selengkapnya.
Firman-Nya, "Lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.'" Al-'Aufi meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia mengatakan, "Maka Allah mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan sebagian lainnya menjadi babi. Diduga bahwa para pemuda dari kaum tersebut diubah-Nya menjadi kera sedang orang-orang tua menjadi babi." (263)
Syaiban an-Nahwi meriwayatkan dari Qatadah: "Lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina,'" ia mengatakan, "Maka mereka berubah menjadi kera yang bergerombol dan memiliki ekor. Dan sebelumnya mereka adalah para lelaki dan wanita." (264)
===
(263) Ibnu Abi Hatim (1/210).
(264) Ibnu Abi Hatim (1/204).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 63-64
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 63-64
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji darimu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya berfirman): 'Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu, dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya agar kamu bertakwa.' (QS. 2: 63) Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka seandainya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS. 2: 64)
Diambilnya Perjanjian dari Kaum yahudi, Diangkatnya Gunung Thursina atas Mereka dan Berpalingnya Mereka Sesudah itu
Allah Ta'ala mengingatkan Bani Israil tentang janji mereka kepada Allah untuk senantiasa beriman hanya kepada-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mengikuti Rasul-rasul-Nya.
Allah Ta'ala pun mengabarkan bahwa ketika mengambil janji dari mereka. Dia mengangkat gunung di atas kepala mereka agar mereka mengakui janji yang telah mereka ikrarkan dan mereka pegang dengan teguh, niat yang kuat untuk melaksanakannya serta tunduk patuh, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu merupakan naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka): 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah (amalkanlah) selalu apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-A'raaf: 171)
Ath-Thuur adalah gunung, sebagaimana ia ditafsirkan dalam surat al-A'raaf. Dan juga telah ditegaskan oleh Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma, Mujahid, 'Atha`, 'Ikrimah, al-Hasan, adh-Dhahhak, ar-Rabi` bin Anas, dan para ulama lainnya. (258) Inilah pendapat yang jelas.
Dalam sebuah riwayat dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma disebutkan, Thuur adalah gunung yang ditumbuhi pepohonan, sedangkan yang tidak ditumbuhi pepohonan tidak disebut Thuur. (259)
Firman-Nya, "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu." Al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Yakni Kitab Taurat." (260) Dan Mujahid mengatakan, "Biquwwatin yaitu dengan mengamalkan dikandungnya." (261)
Firman-Nya, "Dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya," Abul 'Aliyah dan ar-Rabi' bin Anas mengatakan, "Artinya, bacalah Taurat dan amalkanlah apa yang terkandung di dalamnya." (262)
Dan firman Allah, "Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka seandainya tidak ada karunia Allah." Allah Ta'ala berfirman, "Kemudian setelah diambilnya perjanjian yang tegas lagi agung ini, kalian berpaling serta menyimpang darinya dan melanggarnya." "Maka seandainya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya," yakni dengan menerima taubat kalian serta mengutus para Nabi dan Rasul kepada kalian. "Niscaya kalian termasuk orang-orang yang merugi," di dunia dan di akhirat karena pelanggaran yang kalian lakukan terhadap perjanjian itu.
===
(258) Ibnu Abi Hatim (1/203).
(259) Ibnu Abi Hatim (1/203).
(260) Ibnu Abi Hatim (1/203).
(261) Ibnu Abi Hatim (1/205).
(262) Ibnu Abi Hatim (1/205).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 62 (5)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 62 (5)
Ash-Shaabi-uun
Adapun tentang Shabi-un, para ulama berbeda pendapat. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Laits bin Abi Salim, dari Mujahid, ia mengatakan, "Shabi-un adalah suatu kaum antara kaum majusi, yahudi serta nashrani dan mereka tidak mempunyai agama." (256) Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Najih dari Mujahid. (257)
Hal senada juga diriwayatkan dari 'Atha` dan Sa'id bin Jubair. Ada yang mengatakan, mereka adalah kelompok dari Ahli Kitab yang membaca Zabur. Ada pula yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang menyembah Malaikat. Dan ada yang mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang menyembah bintang-bintang. Adapun pendapat yang lebih jelas -wallaahu a'lam- adalah pendapat Mujahid dan orang-orang yang mengikutinya serta Wahb bin Munabbih, bahwa mereka adalah suatu kaum yang tidak memeluk agama yahudi, tidak juga nashrani, ataupun majusi dan tidak pula musyrik. Tetapi mereka adalah kaum yang masih berada di atas fitrah dan tidak ada agama tertentu yang dianut dan dipeluknya.
Oleh sebab itu orang-orang musyrik mengejek orang yang berserah diri dengan sebutan Shabi-i. Artinya, ia berada di luar semua agama yang ada di muka bumi ketika itu. Dan sebagian ulama lainnya mengatakan, "Shabi-un" adalah orang-orang yang tidak sampai kepada mereka dakwah Nabi. Wallaahu a'lam.
===
(256) Ath-Thabari (2/146).
(257) Ath-Thabari (2/146).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Yang Mengikuti Mayit ke Kuburan
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Yang Mengikuti Mayit ke Kuburan
Diriwayatkan dari Anas ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Mayit diikuti tiga (hal), dua (di antaranya) kembali dan yang satunya menetap, mayit diikuti keluarg, harta dan amalnya, keluarga dan hartanya kembali dan amalnya menetap." (164)
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullaah menjelaskan, saat meninggal, orang diikuti oleh para pengantar, keluarganya turut mengantar ke kuburan. Begitu aneh kehidupan dunia, alangkah hina dan rendahnya dunia, engkau dikubur oleh orang yang paling engkau cintai, menjauhkan mereka dari orang-orang terkasih, andai mereka memberi bayaran agar engkau tetap berada di tengah-tengah mereka dalam wujud jasad tanpa nyawa, mereka tidak akan mau. Orang yang paling dekat dengan engkau justru yang mengubur engkau padahal engkau adalah orang yang paling mereka cintai, mereka menjauhkan engkau dan mengantar kepergian engkau!
Mayit diikuti hartanya, maksudnya diikuti pembantu dan para pelayannya. Ini gambaran orang kaya yang memiliki pelayan dan pembantu yang mengikutinya. Amalnya juga turut serta bersamanya. Kemudian dua di antara pengikut itu kembali pulang meninggalkannya seorang diri, namun amalnya tetap berada bersamanya.
Kita memohon kepada Allah semoga berkenan menjadikan amal kita semua sebagai amal yang shalih.
Amal si mayit menetap di dekatnya sebagai teman di dalam kubur bersamanya hingga hari Kiamat. Hadits ini menunjukkan, dunia dan seluruh perhiasannya kembali pulang, tidak menyertai engkau di dalam kubur.
Harta dan anak-anak merupakan perhiasan dunia, semuanya kembali pulang. Lantas apa yang tetap bertahan? Hanya amal saja. Untuk itu, engkau harus menjaga teman yang tidak akan meninggalkan engkau, engkau harus bersungguh-sungguh agar amal engkau menjadi amal shalih yang menjadi teman di kubur, saat engkau sendirian tanpa ditemani orang-orang tercintai, keluarga ataupun anak. (165)
===
(164) Riwayat al-Bukhari hadits nomor 333, Muslim hadits nomor 2644.
(165) Syarh Riyadush Shalihin 1/474-475.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Mayit Disiksa Karena Tangisan Keluarga
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Mayit Disiksa Karena Tangisan Keluarga
Saat 'Umar bin al-Khaththab ra-dhiyallaahu 'anhu tertikam, Shuhaib menjenguk seraya menangis, ia berkata: Duhai saudaraku! Duhai sahabatku! 'Umar berkata: Wahai Shuhaib, apa kau menangisiku sementara Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Sungguh mayit disiksa karena sebagian tangisan keluarga terhadapnya." (162)
Diriwayatkan dari Umran bin Hushain ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh Allah menyiksa mayit karena teriakan keluarga terhadapnya." (163)
Imam al-Bukhari rahimahullaah meriwayatkan dari hadits Nu'man bin Basyir, ia berkata: 'Abdullah bin Rawahah pingsan lalu saudarinya, Umrah, menangis, ia berkata: Duhai gunungku, duhai ini dan itu, ia menyebut-nyebut kebaikan 'Abdullah bin Rawahah, kemudian saat siuman 'Abdullah bin Rawahah bilang: Tidakkah kau mengatakan sesuatupun melainkan dikatakan kepadaku: Benar kau seperti itu? Kemudian saat 'Abdullah meninggal, saudarinya tidak menangisinya.
Menangisi mayit bukan sunnah yang dicontohkan 'Abdullah bin Rawahah, bukan pula karena kuasanya atau yang ia wasiatkan, karena bagian yang ia miliki dalam agama terlalu mulia untuk semua itu, memerintahkan hal semacam itu ataupun mewasiatkan seperti itu.
===
(162) Muttafaq 'alaih.
(163) Riwayat an-Nasa`i 4/15, Ahmad 4/437.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Bagaimana Tulang Rusuk Mayit Meringsek Sementara Saat Makamnya Dibuka Kondisi Mayit Masih Sama Seperti Saat Dikubur?
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Bagaimana Tulang Rusuk Mayit Meringsek Sementara Saat Makamnya Dibuka Kondisi Mayit Masih Sama Seperti Saat Dikubur?
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullaah menjawab, seperti dijelaskan sebelumnya, kubur adalah alam ghaib, tidak menutup kemungkinan kondisinya berbeda, kemudian ketika makamnya dibuka kembali Allah mengembalikan kondisi mayit tetap seperti sedia kala dan mengembalikan segala sesuatunya ke tempat semula sebagai ujian bagi manusia, sebab jika kita saksikan kondisi mayit telah berubah dengan tulang rusuk yang patah dan meringsek tidak seperti saat kita dimakamkan, tentu mempercayai hal tersebut menjadi keimanan yang nyata.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Pengantar Cetakan Kedua
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami
Pengantar Cetakan Kedua
Segala puji bagi Allah. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Wa ba'du...
Setelah terbitnya buku ini dan tersebar luas dalam waktu yang relatif singkat, sejumlah pemuda Islam dan para da'i ilallah segera menghubungi penulis. Ada yang menyampaikan pujiannya dan ada pula yang meminta penjelasan di samping ada yang menyampaikan nasehatnya. Semoga Allah membalas kebaikan kepada mereka. Tetapi aku tidak merasa cukup dengan banyaknya pujian tersebut karena aku menyadari bahwa amal usaha manusia -terutama orang yang sedikit ilmunya seperti aku ini- tidak akan terbebas dari kesalahan-kesalahan. Karena itu buku ini kemudian aku kemukakan kepada sejumlah ulama, yang masing-masing dari mereka lalu berkenan mengemukakan pendapat dan nasehatnya. Nasehat-nasehat itu lalu aku ikuti dalam banyak pemasalahan. Terakhir buku ini aku sodorkan kepada Syaikh kita yang mulia Abu Bakar al-Jaza'iri yang dikenal luas dan dalam ilmunya di samping cukup lama berpengalaman di lapangan da'wah. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan pendapatnya tentang buku ini (sebagaimana tertuang dalam kata pengantar buku ini, -pent), semoga Allah membalas kebaikan kepadanya.
Ada dua hal yang penting yang perlu disinggung di sini:
Pertama: Banyak pemuda yang bertanya kepada penulis, apakah bisa seseorang melakukan pengobatan terhadap orang yang kemasukan jin?
Jawabannya, insya Allah bisa. Syaratnya engkau harus merealisasikan sifat-sifat seorang Mu'alij (pengobat) yang tersebut dalam fasal kedua (buku ini) kemudian membentengi diri dengan sejumlah pembentengan yang tersebut dalam fasal keenam, di samping memahami cara pengobatan yang dijelaskan pada fasal kedua. Dengan niat ikhlas mulailah pengobatan.
Kedua: Barangkali ada yang menyanggah bahwa sebagian surat atau ayat-ayat yang engkau sebutkan dalam pengobatan ini tidak memiliki sandaran riwayat dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para Shahabatnya (ra-dhiyallaahu 'anhum). Aku jawab: Semua ayat al-Qur-an dapat dipakai untuk pengobatan, dengan sejumlah dalil berikut ini:
1. Firman Allah:
"Dan Kami turunkan dari al-Qur-an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Isra`: 82)
Sebagian ulama mengatakan bahwa maksudnya ialah obat yang bersifat ma'nawi (spiritual). Sebagian yang lain mengatakan obat secara umum, baik yang ma'nawi (spiritual) ataupun hissi (fisik), sebab al-Qur-an mengandung obat bagi ruh dan jasad sekaligus.
2. Dari 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah masuk ke rumahnya ketika ia sedang mengobati dan menjampi seorang wanita, lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Obatilah ia dengan Kitab Allah."
Di sini Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menyebutkan Kitab Allah secara umum tidak menunjuk ayat-ayat atau surat-surat tertentu.
3. Di dalam hadits penjampian yang diriwayatkan oleh al-Bukhari disebutkan bahwa Abu Sa'id al-Khudri ra-dhiyallaahu 'anhu pernah menjampi seseorang dengan surat al-Fatihah. Di akhir hadits tersebut Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
"Bagaimana kau tahu bahwa surat itu adalah jampi-jampian?"
Aku katakan: Di dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bahwa seorang Shahabat yang mulia ini tidak menunggu sampai dia tahu apakah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah menjampi dengan al-Fatihah atau tidak?
4. Bahkan penjampian dengan al-Qur-an atau dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, atau do'a-do'a dan lainnya itu boleh selama penjampian tersebut tidak mengandung kemusyrikan. Tersebut di dalam hadits shahih riwayat Muslim bahwa orang-orang pernah berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami di masa jahiliyah dulu pernah menjampi," lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi kalian itu: tidaklah mengapa melakukan jampi-jampian selama tidak berupa kemusyrikan."
Ini adalah standar syar'i yang telah dibuat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk membedakan antara jampi-jampi yang dibolehkan dan yang diharamkan.
Cetakan (kedua) ini agak sedikit berbeda dari yang pertama karena mendapatkan tambahan yang tidak sedikit yaitu sekitar 40 halaman. Yang terpenting di antaranya adalah contoh keenam dan ketujuh dalam fasal kedua. Contoh keenam mengajarkan bagaimana menghadapi jin kafir (syetan) sedangkan contoh ketujuh mengajarkan bagaimana menghadapi jin kristen khususnya para pendeta mereka.
Akhirnya kami sampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini, terutama kepada Syaikh kami yang mulia Ustadz Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri yang telah aku cintai sebelum aku melihatnya dan aku banyak berguru melalui buku-bukunya sebelum aku mendengarnya secara langsung.
Semoga Allah menjadikan buku ini bermanfaat bagi penulisnya juga penerbit dan para pembacanya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan do'a. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan semua Shahabatnya.
Wahid Abdus Salam Bali
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Pengantar Syaikh al-Jazairi
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami
Pengantar
Segala puji bagi Allah Ta'ala, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasul-Nya, Muhammad, yang diutus kepada dua jenis makhluk (manusia dan jin); semoga terlimpahkan pula kepada keluarganya yang suci dan semua Shahabatnya.
Ustadz Wahid 'Abdussalam Bali telah memberikan bukunya "Melindungi manusia dari jin dan syetan" (Wiqayatul Insaan Minal jinni wasy syaithan) kepadaku di Masjid Nabawi dengan permintaan agar aku berkenan membacanya dan menyampaikan pendapatku tentang buku tersebut. Permintaan ini aku penuhi sekalipun di tengah kesibukan dan tugasku yang menumpuk.
Aku telah membaca buku ini dari mukaddimah sampai dengan penutupnya. Buku ini terbebas dari kesalahan baik menyangkut pemahaman ('aqliah) ataupun periwayatan (naqliah). Isi dan sasaran penulisan buku ini sangat tepat dan memadai. Buku ini telah membantah sejumlah anggapan yang keliru dari sekelompok orang yang menolak fenomena merasuknya jin ke dalam diri manusia (kesurupan jin) dan pembicaraannya melalui orang tersebut serta pengungkapan tentang hakekat dan keinginannya.
Buku ini dan penulisnya berciri khas Salafi, yang nampak dalam pemakaian hadits-hadits shahih dan hasan, dengan menghindari hadits-hadits dha'if dan palsu, berikut penjelasan mengenai riwayat hadits (takhrij), sumber dan para perawinya, sehingga memberikan rasa puas kepada para pembaca dan pemakai buku ini. Semoga Allah membalasnya dengan balasan yang sebaik-baiknya.
Sekalipun sebuah buku ini dapat dinilai melalui judulnya, kata sebagian orang, tetapi buku ustadz Wahid ini memiliki dua kegunaan yang jarang berhimpun dalam sebuah buku seperti ini:
Pertama: Menetapkan aqidah yang benar tentang eksistensi jin, fenomena keberadaan mereka, pengaruh-pengaruh perbuatan mereka, dan perilaku-perilaku kebaikan ataupun keburukan mereka dalam kehidupan.
Kedua: Penjelasan tentang ta'awwudz (do'a-do'a memohon perlindungan) dan jampi-jampi yang shahih untuk mengobati orang yang kemasukan jin dan syetan. Dengan demikian, buku ini menghimpun penjelasan tentang penyakit dan sekaligus obatnya. Ini merupakan keistimewaan penting yang menjadikan buku ini sangat diperlukan oleh setiap Mu'min yang gemar membaca dan memahami permasalahan.
Akhirnya aku berdo'a semoga buku ini bermanfaat bagi penulisnya dan orang-orang yang mencari kebenaran. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad, keluarganya dan para Shahabatnya.
Abu Bakar Jabir al-Jaza'iri
Pengajar di Masjid Nabawi Madinah
10/01/1409 H
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami: Daftar Isi
Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami
Daftar Isi
Pengantar Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi
Pengantar Cetakan Kedua
Pengantar Cetakan Pertama
Bab I jin: Hakekat, Bukan Khurafat
Iman Kepada yang Ghaib
Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada
Dari Apa jin Diciptakan?
Jika jin Diciptakan dari Api, Lalu Bagaimana Orang-orang Kafir Mereka Disiksa dengan Api?
Macam-macam jin
Tempat Tinggal jin
Apakah Jin Makan dan Minum?
Syetan Punya Tanduk?
Jin Bisa Melakukan Penyerupaan
Bagaimana jin Melakukan Penyerupaan?
Apakah Ada jin dan syetan Lelaki atau Wanita?
Apakah jin Mukallaf?
Aqidah jin
Apakah jin Mu'min Akan Masuk Surga?
Jin Takut Kepada Manusia
Jin Mendengki Manusia
Apakah jin Menikah dan Memiliki Keturunan?
Jin Memberi Kesaksian Kepada Muadzin pada Hari Kiamat
Kapan syetan Gentayangan?
Sebagian Binatang Melihat syetan
Syetan Memberitahukan Dimana Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam Berada
Teriakan syetan pada Hari Bai'at Aqabah
Syetan Mencuri Dengar dari Langit
Mungkinkah jin Pendamping (qarin) Masuk Islam?
Syetan Dibelenggu pada Bulan Ramadhan
Haram Menyembelih Untuk jin
Meminta Pertolongan Kepada jin, Haram
Apakah jin Tinggal di Rumah-rumah Manusia?
Bagaimana Engkau Mengusir jin dari Rumah?
Jin Lebih Rendah dari Manusia
Apakah jin Menyakiti Manusia?
Bab II Kesurupan: Hakekat dan Penyembuhannya
Definisi Kesurupan
Dalil-dalil Tentang Kesurupan
Pendapat Para Ulama
Sikap Para Dokter
Diagnosis Kedokteran Tentang Kesurupan
Disyari'atkannya Pengobatan Kesurupan
Pertanyaan yang Berkaitan dengan Orang yang Kesurupan jin
Sebab-sebab Kemasukan jin
Bagaimana jin Masuk ke Dalam Jasad Manusia dan Dimana dia Berada?
Gejala-gejala Gangguan jin Kepada Manusia
Macam-macam Gangguan jin
Sifat-sifat Seorang Mu'alij (Pengobat)
Cara Pengobatan
Peringatan Bagi Mu'alij
Contoh-contoh Aplikatif
Cara-cara Haram Dalam Pengusiran jin
Bab III syetan Menemui Para Nabi
Iblis Menemui Nuh 'alaihis salaam
Syetan Menemui Musa 'alaihis salaam
Syetan Menemui Yahya 'alaihis salaam
Syetan Menemui Ayyub 'alaihis salaam
Iblis Menemui 'Isa 'alaihis salaam
Syetan Menemui Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam
Bab IV Hubungan syetan dengan Manusia
Siapakah syetan?
Permulaan
Rencana Terburu-buru
Sasaran yang Diinginkan
Serangan Pertama
Perbedaan Antara Pemusuhan syetan dan Permusuhan Manusia
Menimbulkan Keraguan pada Tauhid
Buhul-buhul syetan dan Cara Melepaskannya
Bagaimana Cara Melepaskan Buhul-buhul syetan?
Syetan Melecehkan Orang yang Melalaikan Qiyamul Lail
Mengganggu Tidur dan Menimbulkan Kesedihan
Syetan Menertawakan Orang yang Menguap
Dimana syetan Bermalam?
Di antara Program Jahat syetan
Syetan Mengutus Tentaranya Untuk Memfitnah Manusia
Bisikan, Tanda Ketidakmampuan
Bisikan Keraguan Dalam Shalat
Lupa Adalah dari syetan
Menyulut Permusuhan di Antara Manusia
Tempat syetan pada Diri Manusia
Kekuatan Iman Melemahkan syetan
Alat Musik syetan
Syetan Penjilat
Pasar Tempat Pertempuran syetan
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Wiqayatul Insan Minal jinni wasy syaithan, Penulis: Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali, Penerbit: Maktabah ash-Shahabah, Jeddah - Arab Saudi, Cetakan Ketiga, 1412 H/ 1992 M, Judul Terjemahan: Kesurupan jin dan Cara Pengobatannya secara Islami, Penerjemah: Aunur Rafiq Shaleh Tamhid Lc, Penerbit: Robbani Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Kesebelas, Jumadil Akhir 1425 H/ Agustus 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Titik Bekam di Kepala (2)
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Titik Bekam di Kepala (2)
10. Pusat Keseimbangan.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan keseimbangan dari otak kecil.
11. Pusat Lambung.
Berfungsi untuk pengobatan: Nyeri lambung, rasa tidak enak di perut bagian atas.
12. Pusat Dada.
Berfungsi untuk pengobatan: Asma bronkialis, nyeri dada, berdebar-debar, dan rasa tidak nyaman pada dada.
13. Pusat Keturunan (Genetik).
Berfungsi untuk pengobatan: Pendarahan haidh yang tidak normal, infeksi panggul, keputihan, dan prolap rahim.
14. Garis Dahi (Tengah-tengah Kepala Bagian Depan).
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan mental, sakit kepala, hidung, lidah dan tenggorokan.
15. Garis Dahi 1.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan paru, bronkus, dan jantung.
16. Garis Dahi 2.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan limpa, lambung, liver, kandung empedu, pankreas.
17. Garis Dahi 3.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan ginjal, kandung kencing, dan genetik.
18. Garis Puncak Kepala.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan tungkai, seperti paralisis (kelumpuhan), kekakuan dan nyeri, prolap anus (anus yang menonjol), ngompol, hipertensi, dan nyeri vertex (puncak kepala).
19. Garis Puncak Kepala 1.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan tungkai, seperti paralisis, kekakuan dan nyeri.
20. Garis Puncak Kepala 2.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan bahu, lengan atas, tangan, seperti: paralisis (kelumpuhan), kekakuan dan nyeri.
21. Garis Pelipis Depan.
Berfungsi untuk pengobatan: Nyeri kepala migrain, afasia, bell palsy (wajah perot), dan kelainan mulut.
22. Garis Pelipis Belakang.
Berfungsi untuk pengobatan: Nyeri kepala migrain, vertigo (perasaan seperti berputar), pendengaran berkurang, telinga berdengung.
23. Garis Oksipital (Kepala Belakang).
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan mata dan nyeri punggung.
24. Garis Oksipital (Kepala Belakang) 1.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan penglihatan, gangguan mata, katarak, dan mata minus.
25. Garis Oksipital (Kepala Belakang) 2.
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan otak kecil, seperti: hilangnya keseimbangan, nyeri punggung dan kepala.
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Titik Bekam di Kepala
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Titik Bekam di Kepala
Kepala tersusun oleh kulit kepala, tulang tengkorak, selaput yang menutupi permukaan otak (meningen), otak, cairan serebrospinalis, dan tentorium. Pada kulit kepala banyak terdapat pembuluh darah, sehingga saat dibekam akan banyak mengeluarkan darah. Juga sering terjadi pendarahan di dalam kulit. Area atau daerah di kepala sangat bermanfaat apabila dilakukan bekam.
Untuk memudahkan menemukan titik-titik bekam, maka kepala dibagi menjadi beberapa bagian, seperti terlihat pada gambar.
1. Pusat Motorik.
Merupakan daerah yang paling cepat mempengaruhi gerakan wajah, leher, badan, lengan, dan tungkai. Area ini dibagi menjadi lima bagian.
a. Di 1/5 bagian atas.
Berfungsi untuk pengobatan: Paralisis (kelumpuhan) anggota gerak bagian bawah (tungkai).
b. Di 2/5 bagian tengah.
Berfungsi untuk pengobatan: Paralisis (kelumpuhan) anggota gerak bagian atas (lengan).
c. Di 1/5 bagian bawah.
Berfungsi untuk pengobatan: Paralisis (kelumpuhan) wajah, afasia (tidak bisa berbicara tetapi bisa mendengarkan), salivasi (air liur yang berlebihan), dan dysphonia (kesulitan mengeluarkan suara).
2. Pusat Sensorik.
Merupakan daerah yang mempengaruhi penerimaan sensasi. Area ini terletak di samping area motorik. Area ini dibagi menjadi lima bagian.
a. Di 1/5 bagian atas.
Berfungsi untuk pengobatan: Nyeri, kekakuan, kesemutan anggota gerak bawah, dan nyeri vertex (puncak kepala).
b. Di 2/5 bagian tengah.
Berfungsi untuk pengobatan: Nyeri, kekakuan, kesemutan anggota gerak atas.
c. Di 1/5 bagian bawah.
Berfungsi untuk pengobatan: Kekakuan wajah, migrain, nyeri wajah trigeminal dan nyeri sendi rahang bawah.
3. Pusat Pengontrol Tremor.
Tremor adalah gerakan berulang-ulang yang tidak bisa dikontrol.
Berfungsi untuk pengobatan: Chorea (gerakan otot wajah yang tidak terkontrol), dan Parkinson's.
4. Pusat Bicara.
Berfungsi untuk pengobatan: Vertigo (perasaan seperti berputar), tinnitus (telinga berdengung), dan penurunan pendengaran.
5. Pusat Bicara 2.
Berfungsi untuk pengobatan: Kehilangan kemampuan untuk memahami dan mengeluarkan wicara.
6. Pusat Bicara 3.
Berfungsi untuk pengobatan: Kehilangan kemampuan memahami wicara.
7. Pusat Praksia.
Berfungsi untuk pengobatan: Ketidakmampuan untuk bicara.
8. Pusat Sensorik Kinestetik Kaki.
Berfungsi untuk pengobatan: Paralisis (kelumpuhan) tungkai, nyeri dan kekakuan tungkai, nyeri di daerah lumbal, dan sering kencing malam.
9. Pusat Visual (Penglihatan).
Berfungsi untuk pengobatan: Gangguan penglihatan cortical.
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Memilih Titik-titik Bekam di Punggung (2)
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Memilih Titik-titik Bekam di Punggung (2)
Titik Limpa
Terletak di atas pinggang, di bawah titik kandung empedu, di antara ujung tulang rusuk (toraks) 11-12, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Perut kembung
> Ikterik (kekuningan pada selaput kulit dan mata)
> Disentri
> Muntah-muntah
> Edema
> Glomerulonefritis (radang pada bagian ginjal)
> Rasa asam dengan banyak riak
Titik Lambung
Terletak di atas pinggang, sejajar dengan tulang dada paling bawah (yang ada di pinggang), di antara tulang rusuk (toraks) 12-lumbal 1, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Nyeri ulu hati
> Distensi lambung (lambung terasa penuh)
> Ulkus peptikum (tukak lambung)
> Regurgitasi (pengeluaran kembali) isi lambung
> Muntah
> Spasme pilorus
Titik Organ Tri Pemanas (Triple Energizer)
Terletak sejajar dengan lekukan pinggang, agak ke atas sedikit, di antara tulang lumbal 1-2, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Borborigmi (gangguan suara usus)
> Gastritis kronis (radang lambung)
> Mual muntah
> Diare
> Indigestion (gangguan pencernaan)
> Ngompol
Titik Ginjal
Terletak sejajar dengan lekukan pinggang, di antara tulang lumbai 2-3, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Emisi seminal
> Ngompol
> Penglihatan kabur
> Telinga tuli atau berdengung
> Kolik (kram) ginjal
> Disuria (kesulitan kemih)
> Haidh tak lancar
> Keputihan
> Impotensi
> Priapismus
> Sering kencing
> Diare kronis
Titik Usus Besar
Terletak di perbatasan pantat dan pinggang, di antara tulang lumbal 4-5, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Gangguan usus besar
> Sumbatan intestinal
> Konstipasi (sembelit)
> Borborigmi (gangguan suara usus)
> Distensi perut (perut terasa penuh)
> Nyeri perut
> Diare akut
Titik Usus Kecil
Terletak di pantat bagian atas, di bawah perbatasan pantat-pinggang, di antara tulang sakrum 1-2, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Nyeri daerah lumbal-simfisis
> Emisi seminal
> Hematuria (kencing darah)
> Hernia (ketedun)
> Disentri
> Ngompol
Titik Kandung Kemih
Di pantat bagian atas, di antara tulang sakrum 2-3, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Hematuria (kencing darah)
> Poliuria (sering kencing)
> Batu ginjal
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Petunjuk Nabi Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at: Daftar Isi
Petunjuk Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at
Daftar Isi
Kata Pengantar
Keutamaan Hari Jum'at
Kecaman dan Larangan Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Terhadap Ummatnya Untuk Meninggalkan Shalat Jum'at
Adakah Kaffarah Untuk Orang yang Meninggalkan Jum'at?
Alasan-alasan (Udzur) Dibolehkannya Meninggalkan Jum'at
Dalil Boleh Meninggalkan Jum'at Karena Hujan
Apakah Shalat Jum'at itu Wajib Bagi Wanita dan Anak-anak?
Hukum Bepergian pada Hari Jum'at
Musafir dan Shalat Jum'at
Adab di Hari Jum'at
Bolehkah Mengkhususkan Waktu Maghrib dan Isya' Malam Jum'at dengan Bacaan Tertentu?
Surat Apa yang Dibaca pada Shalat Shubuh Hari Jum'at?
Mandi pada Hari Jum'at dan Keterangan Hukumnya
Disunnahkan Mandi Junub di Hari Jum'at
Sebuah Masalah Berkenaan dengan Mandi
Disunnahkan Memotong Kuku dan Kumis Setiap Jum'at
Disunnahkan Memakai Wewangian pada Hari Jum'at
Disunnahkan Memakai Pakaian yang Paling Baik di Hari Jum'at
Pelarangan Wanita Untuk Pergi ke Masjid dengan Berdandan
Disunnahkan Bersiwak dan Membersihkan Gigi Saat Hendak Pergi Shalat Jum'at
Disunnah Pergi Lebih Awal Untuk Shalat Jum'at
Disunnahkan Menyibukkan Diri dengan Dzikir dan Shalat Sunnah Sebelum Imam Naik Mimbar
Keterangan Tentang Tidak Adanya Shalat Sunnah Qabliyah Jum'at Berikut Dalilnya
Perintah Shalat Dua Raka'at Bagi Orang yang Masuk Masjid Saat Imam Sedang Berkhutbah
Anjuran Untuk Mendekat ke Tempat Imam
Larangan Memisahkan dan Melangkahi Pundak Jama'ah Shalat Jum'at
Larangan Membangunkan Seseorang Untuk Diduduki Tempat Duduknya
Perintah Bersegera ke Masjid Saat Mendengar Adzan
Hal-hal yang Dilarang pada Malam dan Hari Jum'at
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Hadyu Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) fi Yaumil Jum'ati wal Yaltihaa min Shahihil Sunnati, Penulis: 'Umar 'Abdul Mu'im Salim, Penerbit: Maktabah as-Sawadi Lit Tauzi', Cetakan Pertama, 1415 H/ 1995 M, Judul Terjemahan: Petunjuk Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at, Penerjemah: Abu Okasha, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, Januari 2002 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Petunjuk Nabi Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at: Kata Pengantar
Petunjuk Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at
Kata Pengantar
Innal hamda lillaah, nahmaduhu, wa nasta'iinuhu, wa nastaghfiruhu, wa na'uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa, wa min sayyi-ati a'maalinaa, man yahdihillaahu falaa mudhilla lahu, wa man yudhlil falaa haadiya lahu, wa asyhadu an laa ilaaha illallaahu wah dahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu, shallallaahu 'alaihi wa shahbihi wa sallam.
Amma ba'du
Setelah terbitnya bukuku dengan judul "Sifat Khutbah Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam)" -yang dalam jangka waktu kurang dari setahun banyak laku dan habis di pasaran, alhamdulillah- aku pikir sudah sepantasnya aku mempersembahkan buku kecil yang ada di tanganmu ini. Salah satu dari buku berseri tentang "Al-Hadyu an-Nabawi asy-Syarif" (Petunjuk Nabi yang Mulia (shallallaahu 'alaihi wa sallam)). Dengan alasan, dari satu sisi, karena buku ini sangat erat hubungannya dengan buku "Sifat Khutbah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam" yang sebelumnya. Dari sisi lain, karena acara ritual ibadah jum'at itu secara rutin akan terulang setiap pekan. Dari sini, kebutuhan untuk mengetahui petunjuk Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam masalah ini lebih terasa. Khususnya pada zaman sekarang, dimana kita lihat meningkatnya perhatian kawula muda Muslim untuk mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengetahui Sunnah-sunnah Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) yang pasti, sebagaimana kita lihat juga bagaimana kuatnya keinginan mereka untuk berpegang teguh dengan Sunnah-sunnah Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) tersebut.
Dan buku ini walaupun berukuran kecil tetapi di sini aku berusaha semaksimal mungkin untuk menyebut Sunnah-sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan dalam masalah ini dan memberi penjelasan mana riwayat yang shahih untuk selanjutnya kita amalkan dan mana pula yang lemah agar dapat kita abaikan.
Selain itu aku telah menjelaskan pula pendapat yang lebih rajih (kuat) dari pendapat-pendapat yang ada, disertai dasar-dasar yang menguatkannya baik dari hadits atau keterangan para Shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum). Tak lupa juga aku sebutkan pendapat yang marjuh (lemah) disertai dengan dasar-dasar yang menunjukkan kelemahannya atau jauhnya penafsiran dari nash-nash yang ada.
Akhirnya, aku berharap kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala semoga buku ini dapat bermanfaat kepadaku dan kaum Muslimin secara umum dan semoga pula akan memberatkan timbangan amal kebaikan kita di hari Kiamat nanti. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Penulis
Amr Abdul Mun'im Salim
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Hadyu Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) fi Yaumil Jum'ati wal Yaltihaa min Shahihil Sunnati, Penulis: 'Umar 'Abdul Mu'im Salim, Penerbit: Maktabah as-Sawadi Lit Tauzi', Cetakan Pertama, 1415 H/ 1995 M, Judul Terjemahan: Petunjuk Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) Tentang Amalan Pada Malam Dan Hari Jum'at, Penerjemah: Abu Okasha, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan Ketiga, Januari 2002 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari: Bab Berkumur dan Memasukkan Air ke Dalam Hidung Ketika Mandi Junub
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
7. Bab: Berkumur dan Memasukkan Air ke Dalam Hidung Ketika Mandi Junub
(Haditsnya adalah hadits Maimunah (ra-dhiyallaahu 'anha) tadi)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari (151)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
6. Bab: Orang yang Memulai dengan Hilab atau Harum-haruman Ketika Mandi
151. Dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam kalau mandi junub meminta sesuatu seperti hilab. Lalu beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) mengambilnya dengan telapak tangan dan memulainya dengan kepala sebelah kanan, kemudian sebelah kiri, kemudian menyiram air di atas kepalanya dengan kedua tangan."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari (150)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
5. Bab: Mandi Satu Kali
150. Dari Maimunah (ra-dhiyallaahu 'anha), ia berkata, "Aku meletakkan (dalam riwayat lain: menuangkan) air untuk mandi Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) [karena junub 1/68], [lalu aku menutupnya], maka beliau pun mulai mencuci kedua tangannya dua atau tiga kali, kemudian menyiramkan air [dengan tangan kanannya] ke tangan kirinya, lalu mencuci kemaluannya (dalam riwayat lain: kemaluannya dan bagian lainnya yang terkena kotoran). Kemudian menggosokkan tangannya dengan tanah (dalam riwayat lain: kemudian menggosokkan tangannya pada dinding 1/70, dalam riwayat lain: dengan tangan atau dinding 1/71, 72) [sebanyak dua atau tiga kali], [lalu beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) membasuhnya]. Lalu berkumur, beristinsyaq, membasuh wajah dan kedua tangannya [serta membasuh kepalanya tiga kali 1/71], (dalam riwayat lain: beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) wudhu seperti wudhu untuk shalat kecuali kakinya 1/68), kemudian menyiram tubuhnya, dan bergeser dari tempatnya kemudian membasuh kedua kakinya. [Setelah itu beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) diberi sapu tangan {handuk} tapi beliau tidak memakainya (dalam riwayat lain: maka aku berikan kain, tapi beliau memberi tanda begini, yang maksudnya bahwa beliau tidak memerlukannya), (dalam riwayat lain: lalu aku memberinya kain, tapi beliau tidak mengambilnya, beliau malah mengibaskan {sisa-sisa air di tubuhnya} dengan kedua tangannya."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari (149)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
4. Bab: Orang yang Menyiram Kepalanya Tiga Kali
149. Jubair bin Muth'im (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Adapun aku, maka aku menyiram kepalaku tiga kali,' seraya mengisyaratkan dengan kedua tangannya." (160)
===
(160) Aku katakan: Hadits ini hanya sebagian. Itu tersirat dari ungkapan (أَمَّا أَنَا) (ammaa ana) "Adapun aku". Adapun bagian yang tidka disebutkan di sini, dalam riwayat Muslim (1/178) disebutkan: Dari Jubair, ia berkata, "Mereka membicarakan tentang mandi di hadapan Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam), dan salah seorang mereka berkata, 'Adapun aku, aku mencuci kepalaku demikian-demikian.'" Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Adapun aku, ...dst."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari (148)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
3. Bab: Mandi dengan Air Sebanyak Satu Sha' atau Seukuran itu
148. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan Maimunah (ra-dhiyallaahu 'anha) pernah mandi dari satu tempat air.
Abu 'Abdillah berkata, "Ibnu Uyainah mengatakan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), dari Maimunah (ra-dhiyallaahu 'anha) dan yang benar adalah yang diriwayatkan Abu Nu'aim." (159)
===
(159) Aku katakan, "Maksudnya, bahwa riwayat dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma) yang tanpa menyebutkan Maimunah (ra-dhiyallaahu 'anha) adalah riwayat shahih. Adapun riwayat Ibnu Ayyinah yang disebutkan dari Ibnu 'Abbas, dari Maimunah, adalah riwayat yang syadz (janggal)."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (186)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash bagi budak
186. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Siapa yang memukul satu pukulan dengan dasar kezhaliman akan diqishash darinya di hari Kiamat.'"
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (185)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash bagi budak
185. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Siapa yang memukul satu pukulan akan diqishash (dimintai balasannya) darinya di hari Kiamat."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (184)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash bagi budak
184. Ummu Salamah (istri Nabi) (ra-dhiyallaahu 'anha) berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam suatu kali berada di rumahnya. Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) lalu memanggil budak perempuannya. Tetapi rupanya budaknya segan mendatanginya. Maka tampaklah kemarahan di wajah beliau. Ummu Salamah lalu menggunakan hijab dan mendapatkan budak itu sedang bermain. Saat itu beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) memegang siwak dan bersabda:
"Kalau sekiranya bukan karena takut akan digiring di hari Kiamat, engkau akan kusakiti dengan siwak ini."
* Dha'if
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (183)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash bagi budak
183. Abu Hurairah (ra-dhiyallaahu 'anhu) berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Hak-hak itu pasti akan terpenuhi bagi yang memilikinya, sampai kambing yang tidak bertanduk digiring untuk membalas kambing yang bertanduk (yang pernah menanduknya di dunia)." (30)
===
(30) Karena yang bertanduk pernah menanduk yang tidak bertanduk di dunia, tetapi yang tidak bertanduk tidak dapat membalasnya.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (182)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash bagi budak
182. Suatu kali Salman pernah keluar dari rumahnya dia melihat makanan hewannya berjatuhan dari tempat diikatnya hewan ternak. Dia lalu berkata pada budaknya, "Kalau bukan karena aku takut terhadap qishash (di Akhirat) pasti akan kupukul kau."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Adabul Mufrad (181)
Adabul Mufrad
Kitab Pegawai
94. Bab: Qishash (29) bagi budak
181. 'Ammar bin Yasir berkata, "Tidak seorang pun yang memukul budak, dimana dia berbuat zhalim padanya, kecuali dia di hari Kiamat nanti akan digiring karenanya."
===
(29) Qishash adalah hukuman yang ditimpakan pada seseorang karena kezhalimannya pada orang lain. Hukuman ini semisal dengan perbuatannya tadi.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam al-Bukhari rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan I, Mei 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 62 (4)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 62 (4)
Beberapa Bentuk Latar Belakang Penyebutan Nama 'nashara' (nashrani)
Ketika 'Isa 'alaihis salaam diutus, diwajibkan kepada Bani Israil untuk mengikutinya serta tunduk (patuh) kepadanya. Para sahabat dan pemeluk agama yang dibawa oleh Nabi 'Isa ('alaihis salaam) disebut nashara. Disebut nashara karena di antara mereka terjalin sikap saling tolong-menolong. Mereka juga disebut Anshar, sebagaimana 'Isa 'alaihis salaam mengatakan, "'Siapakah yang akan menjadi anshari (penolong-penolongku) untuk (menegakkan agama) Allah?' Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab, 'Kamilah anshar (penolong-penolong) agama Allah." (QS. Ali 'Imran: 52)
Ada pula yang mengatakan, "Disebut demikian karena mereka mendiami satu daerah yang bernama nashirah." Pendapat ini diungkapkan oleh Qatadah dan Ibnu Juraij, serta diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma. (255) Wallaahu a'lam.
Kata (النَّصَارَى)(an-nashaara) adalah jamak dari kata (نَصْرَانٌ)(nashraanun), seperti (نَشَاوَى)(nasyaawa) jamak dari (نَشَوَانٌ)(nasyawaanun) dan (سُكَارَى)(sukaara) jamak dari (سَكَرَانٌ)(sukraanun). Dan bagi wanita disebut (نَصْرَانَةٌ)(nashraanatun).
Akan tetapi setelah Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh anak cucu Adam, maka wajib bagi mereka semua membenarkan apa yang dibawanya, menaati apa yang diperintahkannya, dan menjauhi apa yang dilarangnya. Merekalah yang disebut mukmin yang haq (orang yang benar-benar beriman). Dan ummat Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam disebut mukminin karena kesungguhan iman mereka serta keyakinan mereka yang kuat. Selain itu, mereka pun beriman kepada seluruh Nabi terdahulu dan juga kepada perkara-perkara ghaib yang akan terjadi.
===
(255) Ar-Razi (3/97).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 62 (3)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 62 (3)
Beberapa Bentuk Latar Belakang Penyebutan Nama 'yahudi'
Kata yahudi (الْيَهُوْدُ)(al-yahuudu) berasal dari kata (الْهَوَادَةُ)(al-hawaadatu) yang berarti kasih sayang, atau (التَّوَهُّدُ)(at-tawahhudu) yang berarti taubat. Sebagaimana ucapan Musa 'alaihis salaam, (إِنَّاهُدْنَا إِلَيْكَ) "Sesungguhnya kami kembali kepada-Mu." (QS. Al-A'raaf: 156) artinya "Kami bertaubat." Kemungkinan mereka disebut demikian pada awalnya karena taubat mereka dan kecintaan mereka kepada sebagian lainnya.
Dikatakan pula bahwa dinamakan yahudi karena hubungan silsilah mereka dengan Yahuda, putera paling tua dari Nabi Ya'qub ('alaihis salaam). Abu 'Amr bin al-'Ala` mengatakan, "Disebut yahudi karena mereka yatahawwaduuna, yaitu bergerak-gerak ketika membaca Taurat."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 62 (2)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 62 (2)
Definisi Mukmin
'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), tentang firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani, dan orang-orang shabi-in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari Akhir..." dan ayat seterusnya, (254) -ia mengatakan,- Setelah itu Allah pun menurunkan ayat: "Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan di Akhirat kelak ia termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Ali 'Imran: 85)
Apa yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas ini merupakan pemberitahuan bahwa Allah tidak akan menerima suatu jalan atau amalan dari seseorang kecuali sesuai dengan syari'at Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam setelah beliau diutus dengan membawa syari'at yang karenanya beliau diutus. Adapun sebelum itu, maka semua orang yang mengikuti Rasul pada zamannya berada di atas petunjuk dan jalan keselamatan. Orang-orang yahudi adalah pengikut Nabi Musa 'alaihis salaam, mereka berhukum kepada Taurat di zamannya.
===
(254) Ibnu Abi Hatim (1/198).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Anda dan Harta: Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta: Berbuat dengan yang Halal (8)
Anda dan Harta
Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta
8. Berbuat dengan yang Halal (8)
G. Memperbanyak Shadaqah
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Wahai para penjual, sesungguhnya jual beli dihinggapi oleh ucapan kosong dan sumpah palsu, maka campurlah dengan shadaqah." (1)
Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam) menjelaskan bahwa seorang penjual kadangkala berbicara kosong dalam jual beli, kadang bersumpah palsu atau memperbanyak sumpah walaupun benar. Oleh karena itu beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) memerintahkan untuk mencampurnya dengan shadaqah, karena shadaqah melebur kesalahan sebagaimana air memadamkan api. Jika ia mengikuti perintah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan memperbanyak shadaqah, maka Allah akan menggantinya dengan rezeki yang berlipat ganda dari apa yang ia dermakan.
===
(1) Shahih Sunan Abi Dawud: 2845.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Editor: H. Abdurrahman Kasdi Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Juli 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Anda dan Harta: Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta: Berbuat dengan yang Halal (7)
Anda dan Harta
Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta
8. Berbuat dengan yang Halal (7)
F. Murah Hati dalam Bisnis dan Jual Beli
Islam menganjurkan untuk murah hati dalam berinteraksi antar manusia. Orang yang murah hati akan dicintai di sisi Allah. Ini lebih berharga dari harta dunia seluruhnya. Murah hati adalah kemudahan dan kebaikan. Dia merupakan bagian dari iman. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Iman adalah kesabaran dan kemurahan hati." (1)
Ketika seseorang adalah penjual atau pelaku bisnis, maka hendaknya ia murah hati ketika menjual dan toleran ketika membeli. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah menyukai sikap murah hati dalam menjual, membeli dan membayar." (2)
Sikap murah hati dalam jual beli adalah kemurahan dan kebaikan di dalamnya. Sedang sikap murah hati dalam membayar adalah kemurahan dan kebaikan dalam menuntut haknya, termasuk ketika menagih hutang dari orang yang berhutang padanya. Digandengkannya rasa cinta dalam semua itu agar menjadi petunjuk bahwa sikap murah hati dan mempermudah akan mendatangkan rasa cinta dan juga mendatangkan rezeki dan harta. Allah mencintai orang yang murah hati karena kemurahan hatinya dan kemampuannya memutuskan hubungan hati dengan harta yang merupakan intisari dunia. Juga karena sikapnya yang memuliakan orang lain dan memberinya manfaat. Yang demikian itu melahirkan kecintaan Allah. Barangsiapa yang mendapatkan kecintaan dari Allah, maka ia akan mendapatkan pertolongan dari-Nya, kesuksesan dalam kerja, kemudian hartanya akan terjaga bahkan akan berkembang dan berkah.
===
(1) Shahih al-Jami' ash-Shaghir.
(2) Shahih Sunan at-Tirmidzi.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Editor: H. Abdurrahman Kasdi Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Juli 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Anda dan Harta: Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta: Berbuat dengan yang Halal (6)
Anda dan Harta
Sebab-sebab Terjaganya Harta dan Bertambahnya Harta
8. Berbuat dengan yang Halal (6)
E. Jujur dalam Jual Beli
Sesungguhnya kejujuran adalah faktor penting bagi kesuksesan kerja, terlebih dalam jual beli. Kejujuran akan mendatangkan langganan bagi seorang penjual, yang berarti bertambahnya keuntungan dan, lebih lagi, keberkahan dari Allah. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Penjual dan pembeli memiliki kebebasan sebelum mereka berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya mendapatkan berkah. Jika keduanya bohong dan menutup-nutupi, maka dihapus keberkahan bagi keduanya." (1)
===
(1) HR. Al-Bukhari, kitab al-Buyu.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Editor: H. Abdurrahman Kasdi Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Juli 2004 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Bagaimana Kubur Diluaskan untuk si Mayit Sementara Ia Berada di Tempat yang Sempit?
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Bagaimana Kubur Diluaskan untuk si Mayit Sementara Ia Berada di Tempat yang Sempit?
Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullaah menjawab, alam ghaib tidak bisa disamakan dengan alam nyata. Bahkan seandainya seseorang menggali kubur sejauh mata memandang kemudian mayit dikubur di tempat tersebut lalu ditutupi tanah, orang yang tidak tahu kubur tersebut tahu atau tidak kalau kuburan itu digali sejauh mata memandang? Jelas ia tidak tahu. Dunia nyata saja seperti itu, meski demikian yang bersangkutan tidak tahu seluas apa kuburan tersebut digali, dan hanya diketahui oleh orang-orang yang menyaksikan saja.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Menyaksikan dan Mendengar Siksa Kubur
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Menyaksikan dan Mendengar Siksa Kubur
Ahlul ilmi dari kalangan Salaf dan lainnya berpendapat, melihat siksa dan nikmat kubur dimungkinkan bisa, sebagian dari hal tersebut pernah terjadi di masa Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam). Allah memperlihatkan apapun yang Dia kehendaki untuk siapapun yang Dia kehendaki.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullaah menyampaikan, ketika Allah berkehendak untuk memperlihatkan siksa atau nikmat kubur pada sebagian hamba, Allah pasti memperlihatkannya pada hamba yan Dia kehendaki sementara yang lain tidka bisa melihat. Melihat siksa kubur sama seperti melihat Malaikat dan jin yang kadang terjadi dan dialami oleh orang yang dikehendaki Allah melihat hal-hal semacam ini. (159)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah menjelaskan, banyak orang yang melihat hal tersebut bahkan mereka bisa mendengar suara orang-orang yang tersiksa dalam kubur, dan melihat sendiri dengan mata kepala mereka seperti yang disebutkan dalam atsar-atsar terkenal. (160) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah juga menyampaikan tidak sedikit orang-orang di masa kita melihat dan mengetahui hal-hal semacam itu, kami memiliki banyak kisah tentang hal itu. (161)
===
(159) Ar-Ruh, hal: 93.
(160) Majmu' al-Fatawa, 4/296.
(161) Majmu' al-Fatawa, 24/376.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Misteri Kematian: Mereka yang Mengingkari Adzab Kubur dan Syubhat-syubhat Mereka (3)
Misteri Kematian
Menguak Fenomena Kematian dan Rentetan Peristiwa Dahsyat Menjelang Kiamat
Alam Kubur
Mereka yang Mengingkari Adzab Kubur dan Syubhat-syubhat Mereka (3)
Syubhat ketiga: dalil akal tentang orang yang disalib yang menurut mereka tidak disiksa setelah disalib.
Jika mereka berhujjah seperti itu, tanggapan kami: kalian lihat orang mati di atas kasur, kalian sama sekali tidak melihat kalau ia dipukul, kalian sama sekali tidak mendengar celaan yang dialamatkan pada si mayit saat mati, ini semua terjadi dan dialami orang-orang kafir dan orang-orang zhalim seperti yang Allah sampaikan: "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalm berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): 'Keluarkanlah nyawamu,' di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan." (QS. Al-An'am: 93) Imam-imam tafsir menyatakan, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya.
Maksudnya memukuli orang-orang zhalim dengan berbagai macam siksa hingga ruh mereka keluar dari jasad. Sisi pengambilan dalil dari ayat ini; bila seperti itu kiranya mereka disiksa di tengah-tengah keluarga baik yang muda atau yang tua, lelaki atau perempuan, namun mereka tidak melihat apapun dan tidak mendengar sedikitpun dari celaan dan cemoohan para Malaikat itu, mereka sama sekali tidak mengetahui pukulan yang dilayangkan. Dan apapun yang diperlakukan terhadap si mayit di malam kubur atau setelah mati jauh lebih hebat. Orang yang melihat dan membuka kuburnya lebih tidak mengetahui hal itu. (157) (158)
===
(157) Bantahan lain; kehidupan banyak macamnya, seperti halnya kaitan antara ruh dan jasad juga bermacam-macam. Kalian lihat orang tidur di atas kasur tidak bergerak, saat tidur ia bermimpi berbicara, datang dan pergi, merasa sakit, lari, berperang dan melihat banyak hal khususnya peristiwa-peristiwa yang bisa digambarkan dengan jelas dan detail, mendengar kata-kata tertentu yang bisa ia ulang dan sampaikan. Lantas apa yang menghalangi keberadaan ruh di alam barzakh terkait dengan jasad untuk kali ketiga, terlebih jasad merasakan sakit oleh rasa sakit yang dirasakan ruh, si pemilik jasad mengetahui hal itu, merasakan dan kondisinya mengalami perubahan tanpa ia sadari, di samping kehidupannya berbeda dengan kehidupan dunia.
(158) Mukhtashar Ma'arijil Qabul oleh Hisyam 'Abdul Qadir 'Ali Uqdah, hal: 218-219.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, Ta'liq: Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun. Judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing, CV Darul Ilmi, Bogor - Indonesia, Cetakan Kedua, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Memilih Titik-titik Bekam di Punggung
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Memilih Titik-titik Bekam di Punggung
Titik-titik yang terdapat di sepanjang punggung merupakan titik dimana chi organ terpancar ke permukaan tubuh bagian belakang. Letak titiknya sesuai dengan ketinggian letak organ bersangkutan. Yaitu di bagian belakang tubuh, tepat di samping kiri dan kanan ruas tulang belakang.
Cara membekam: Tabung gelas diletakkan tepat di samping kiri dan kanan ruas tulang belakang, bersinggungan dengan ruas tulang belakang yang sesuai dengan titik.
Beberapa titik khusus yang ada di punggung antara lain:
1. Titik paru-paru
2. Titik perikardium (selaput jantung)
3. Titik jantung
4. Titik liver (hati)
5. Titik kandung empedu
6. Titik limpa
7. Titik lambung
8. Titik organ tri pemanas (triple energizer)
9. Titik ginjal
10. Titik usus besar
11. Titik usus kecil
12. Titik kandung kemih
Titik Paru-paru
Terletak di antara tulang belikat kanan dan kiri, sejajar dengan 1/3 bagian atas tulang belikat, di antara ujung tulang rusuk (toraks) 3-4, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Penyakit paru-paru
> TBC
> Batuk
> Batuk seratus hari
> Asma bronkial
> Pneumonia (radang paru-paru)
> Batuk darah
> Bronkitis (peradangan saluran bronkus)
> Pleuritis (radang selaput paru-paru)
Titik Perikardium (Selaput Jantung)
Terletak di antara tulang belikat kanan dan kiri, sejajar dengan 1/2 bagian atas tulang belikat, di antara ujung tulang rusuk (toraks) 4-5, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Nyeri angina pectoris
> Batuk
> Kaku dada
> Takikardi (denyut jantung cepat)
> Nyeri dada
Titik Jantung
Terletak di antara tulang belikat kanan dan kiri, sejajar dengan tengah tulang belikat, di antara ujung tulang rusuk (toraks) 5-6, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Epilepsi (ayan)
> Histeria
> Skizofrenia (gangguan kejiwaan)
> Pelupa
> Emisi seminal
> Halusinasi penglihatan/ pendengaran
> Gangguan fungsi jantung
Titik Liver (Hati)
Terletak sejajar dengan ujung bagian bawah tulang belikat, agak ke bawah, di antara ujung tulang rusuk (toraks) 9-10, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Gastritis kronis (radang lambung)
> Hepatitis
> Ikterus (kekuningan pada selaput kulit dan mata)
> Nyeri hipokondrium (perut atas)
> Epilepsi (ayan)
> Mata merah, kabur
> Pembesaran hati
Titik Kandung Empedu
Terletak di atas pinggang sejajar dengan ulu hati, antara ujung tulang rusuk (toraks) 10-11, tepat di kanan dan kiri ruas tulang belakang.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Ikterus (kekuningan pada selaput kulit dan mata)
> Nyeri ulu hati
> Kolesistitis (radang empedu)
> Rasa pahit di mulut
> Nyeri dada
> Penyakit lambung karena gangguan hati
> Hepatitis
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Titik Central Pole
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Memilih Titik-titik Bekam di Dada dan Perut
Titik Central Pole
Dinamakan juga dengan titik kutub tengah. Merupakan titik pancaran kandung kencing. Terletak di atas tulang kemaluan, 4-6 cm di bawah pusar.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Impotensi
> Nefritis (radang nefron ginjal)
> Paralisis sfingter vesika (gangguan berkemih)
> Lekorea (keputihan)
> Haidh tidak teratur
> Emisi seminalis
> Inkontinensia urin (bahasa jawa: anyang-anyangen)
> Nyeri perut bawah
> Pendarahan rahim
> Prolapsus rahim (pergeseran rahim ke bawah)
> Sistisis (radang kandung kemih)
> Endometrioisis (kelainan endometrium rahim)
> Nyeri dan gatal pada alat kelamin
> Eneuresis (ngompol)
> Polakisuria (sering kencing)
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Sembuh dengan Satu Titik: Titik Stone Door
Bagian Kedua
Cara Membekam yang Efektif
Memilih Titik-titik Bekam di Dada dan Perut
Titik Stone Door
Disebut juga titik pintu batu. Merupakan titik pancaran dari organ pemanas (tri energizer). Terletak 2-4 cm di bawah pusar.
Berfungsi untuk pengobatan:
> Enuresis (ngompol)
> Lekorea (keputihan)
> Hernia (ketedun)
> Retensi urin (tidak bisa kemih)
> Edema (bengkak pada tubuh)
> Pendarahan rahim
> Nyeri seluruh perut
> Pendarahan pasca melahirkan
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Sembuh dengan Satu Titik, Penulis: dr. Wadda' A. Umar, Editor: Effendy Abu Ahmad, Penerbit: Al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan XIV, Nopember 2012 M/ Muharram 1434 H.
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 62
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 62
"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang yahudi, orang-orang nashrani dan orang-orang shabi'in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. 2: 62)
Balasan Terhadap Orang yang Beriman
Setelah Allah Ta'ala menjelaskan keadaan orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya, melanggar larangan-Nya, melakukan hal-hal yang tidak diizinkan dan telah diharamkan-Nya, serta menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepada mereka, selanjutnya Dia mengingatkan bahwa siapa yang berbuat baik dan mentaati-Nya dari ummat-ummat terdahulu, maka ia akan mendapatkan pahala kebaikan. Hal itu terus berlanjut hingga hari Kiamat. Setiap orang yang mengikuti Rasul, Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam yang ummiy (buta huruf) akan memperoleh kebahagiaan abadi, dan tidak akan merasa khawatir dalam menghadapi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, serta tidak bersedih atas apa yang mereka tinggalkan dan terluput dari mereka, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (QS. Yunus: 62)
Juga sebagaimana perkataan Malaikat kepada orang-orang mukmin, ketika nyawanya hendak dicabut:
"Sesungguhnya orang-orang mengatakan, 'Rabb kami adalah Allah.' Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), 'Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepada kalian." (QS. Fushshilat: 30)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 61 (3)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 61 (3)
Definisi Sombong
Dalam hadits yang telah disepakati keshahihannya disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan (meremehkan) orang lain." (252)
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari 'Abdullah, yakni Ibnu Mas'ud ra-dhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Manusia yang adzabnya paling keras pada hari Kiamat adalah orang yang dibunuh oleh Nabi atau membunuh Nabi, imam yang sesat dan pembuat patung." (253)
"Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas." Ayat ini merupakan alasan lain mengapa mereka selalu dibalas seperti itu, yaitu karena mereka senantiasa berbuat maksiat dan melampaui batas. Maksiat adalah melakukan berbagai larangan, sedang melampaui batas adalah melanggar ketentuan yang ditetapkan dan diperintahkan-Nya. Wallaahu a'lam.
===
(252) Muslim (1/93). [(no. 91(147)].
(253) Ahmad (1/407). [Hasan: Dihasankan oleh Syaikh al-Arna'uth hafizhahullaah dalam al-Musnad (6/413) cet. ar-Risalah].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Al-Baqarah, Ayat 61 (2)
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Baqarah, Ayat 61 (2)
Ditimpakannya Kehinaan dan Kerendahan Atas Orang-orang yahudi
Allah Ta'ala berfirman, "Lalu ditimpakan kepada mereka nista dan kehinaan." Maksudnya, nista dan kehinaan itu ditimpakan dan ditetapkan atas mereka baik secara syar'i maupun takdir Allah. (*) Artinya, mereka akan terus-menerus dan senantiasa dihinakan. Setiap orang yang menjumpai mereka akan memandang mereka sebagai orang yang hina dan rendah. Dengan demikian itu, mereka benar-benar menghinakan diri sendiri.
Sedangkan al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Allah telah menghinakan mereka, maka mereka tidak mempunyai kekuatan, dan menjadikan mereka berada di bawah kekuasaan kaum muslimin. Dan ummat ini sempat menyaksikan orang-orang majusi memungut jizyah dari mereka." (247)
Abul 'Aliyah, ar-Rabi' bin Anas, dan as-Suddi mengatakan, "(الْمَسْكَنَةٌ) (al-maskanatun) bermakna kesusahan." (248) Dan 'Athiyyah al-'Aufi mengatakan, "Yaitu pajak." (249)
Firman-Nya, "Dan mereka mendapat kemurkaan dari Allah," adh-Dhahhak mengatakan, "Mereka berhak mendapatkan kemurkaan dari Allah." (250)
Ibnu Jarir mengatakan, yakni tentang ayat ini, "Mereka berpaling dan kembali dengan kemurkaan dari Allah. Tidak dikatakan "(بَاءَ) (baa`a) (kembali)" kecuali bersambung dengan kata berikutnya, berupa suatu hal yang baik maupun yang buruk. Seperti dikatakan, "(بَاءَ فُلَانٌ بِذَنْبٍ) (baa`a fulaanun bi-dzanbin) (si fulan kembali dengan membawa dosanya)." Di antaranya juga adalah firman Allah, "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa (membunuh)ku dan dosa kamu sendiri." (QS. Al-Maa-idah: 29). Artinya, hendaklah engkau kembali dengan membawa beban kedua dosa tersebut, dan keduanya menjadi bebanmu. Maka firman Allah tersebut mengandung makna: 'Jika mereka kembali dalam keadaan menanggung murka Allah, berarti mereka benar-benar terkena kemarahan Allah dan pasti tertimpa murka-Nya.'" (251)
Firman Allah Ta'ala, "Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar." Allah Ta'ala menerangkan, "Kenistaan, kehinaan, dan kemurkaan yang Kami timpakan kepada mereka itu disebabkan kesombongan mereka untuk mengikuti kebenaran dan kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah, serta penghinaan mereka atas para pengemban amanat syari'at, yaitu para Nabi 'alaihimus salaam dan para pengikut mereka. Mereka telah melecehkan hingga mencapai puncak keadaan yang menyeret mereka kepada pembunuhan para Nabi. Tidka ada kekufuran yang lebih besar dari ini. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah serta membunuh para Nabi tanpa alasan yang tidak dibenarkan.
===
(*) Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan surat Ali 'Imran ayat 112.
(247) Ibnu Abi Hatim (1/195, 196).
(248) Ibnu Abi Hatim (1/196).
(249) Ibnu Abi Hatim (1/196).
(250) Ath-Thabari (2/138).
(251) Ath-Thabari (2/138).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Ringkasan Shahih Bukhari (147)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
3. Bab: Mandi dengan Air Sebanyak Satu Sha' atau Seukuran itu
147. Dari Abu Ja'far, bahwa ia sedang berada di rumah Jabir bin 'Abdullah -dan ayahnya- yang saat itu ada juga beberapa orang lainnya. Mereka bertanya kepadanya tentang mandi. Ia berkata, "Cukup satu sha' untukmu." Seorang laki-laki berkata, "Itu tidak cukup untukku." Jabir berkata, "Itu cukup bagi orang yang rambutnya lebih banyak dan lebih baik dari kamu." Kemudian ia mengimami kami dengan mengenakan satu baju. (Darinya melalui jalur lain disebutkan: Ia mengatakan bahwa, "Jabir berkata kepadanya, 'Telah datang kepadaku sepupumu -maksudnya adalah al-Hasan bin Muhammad bin al-Hanafiyah- ia berkata, 'Bagaimana cara mandi junub?' Aku katakan, 'Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mengambil tiga telapak dan menyiram kepalanya, kemudian membasahi seluruh tubuhnya.' Al-Hasan berkata kepadaku, 'Aku berambut banyak?' Aku katakan, 'Rambut Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam lebih banyak daripada rambut kamu.'"
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari (146)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
3. Bab: Mandi dengan Air Sebanyak Satu Sha' atau Seukuran itu
146. Dari Abu Salamah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku bersama saudara laki-laki 'Aisyah datang ke rumah 'Aisyah, lalu saudaranya itu bertanya kepadanya tentang mandinya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka 'Aisyah minta dibawakan tempat air yang dapat menampung (54.(158) dalam suatu riwayat mu'allaq (tergantung): sekitar) satu sha', lalu ia mandi dan menyiram kepalanya. Saat itu ada hijab antara kami dan dia.
===
(158) Al-Hafizh tidak mentakhrijnya. Namun Imam Ahmad telah menyebutkannya secara bersambung (6/143), demikian juga Imam Muslim (1/176).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari (145)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
2. Bab: Mandinya Suami Bersama Istrinya
145. Dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhu), ia berkata, "Aku pernah mandi bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dalam satu bak mandi, [saat itu kamu junub 1/78] yang terbuat dari tembaga yang biasa disebut faraq, [di situ tangan kami saling bergantian 1/70] (dalam riwayat lain: kami sama-sama menciduk darinya 1/72) (157) (dalam riwayat lain: Tempat mandi itu telah disediakan untukku dan untuk Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, lalu kami masuk bersama ke dalamnya. 8/154)
===
(157) Aku katakan: Ibnu Khuzaimah menambahkan redaksi hadits tersebut dalam kitan shahihnya (nomor 251 cetakan Beirut) dari jalur lain darinya dengan sanad jayyid, "Aisyah berkata, 'Beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) memulainya dengan menuangkan air pada kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam air.'"
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
Ringkasan Shahih Bukhari (144)
Ringkasan Shahih Bukhari
Kitaabul Ghusli
5. Kitab Mandi
Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman,
"Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." {QS. Al-Maa`idah (5): 6}
Dalam ayat lainnya Allah juga berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." {QS. An-Nisaa` (4): 43}
1. Bab: Wudhu Sebelum Mandi
144. Dari 'Aisyah (ra-dhiyallaahu 'anhuma), istri Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa apabila Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam mandi karena junub, maka beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya kemudian berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Selanjutnya beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) memasukkan jari-jarinya ke dalam air lalu menyela-nyela pangkal rambutnya, lalu (dalam riwayat lain: hingga apabila beliau merasa sudah membasahi kulit kepalanya, beliau 1/72) menyiram kepalanya tiga kali cidukan dengan kedua tangannya. Setelah itu barulah beliau (shallallaahu 'alaihi wa sallam) membasuh seluruh kulitnya (badannya).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.