Syarah Kasyfu Syubuhat 39

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Kemudian apabila dia berkata, "Saya tidak beribadah kecuali kepada Allah, sedangkan berlindung kepada orang-orang shalih dan berdo'a kepada mereka bukanlah ibadah."

Maka katakan kepadanya, "Bukankah engkau mengakui bahwa Allah telah mewajibkan kepadamu untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya [1] dan itu merupakan hak Allah yang harus dipenuhi atas engkau?" Apabila dia berkata, "Benar", maka katakan kepadanya, "Coba jelaskan kepadaku perkara yang telah Allah wajibkan kepadamu berupa keikhlasan beribadah hanya kepada Allah yang merupakan hak Allah yang harus engkau penuhi!" Maka apabila dia tidak mengetahui ibadah dan macam-macamnya, jelaskan kepadanya dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Berdo'alah kalian kepada Rabb kalian dengan merendah dan berlemah lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al A'raf: 55)

Apabila engkau telah mengajarkan hal ini kepadanya, maka katakan padanya: "Apakah engkau tahu bahwa berdo'a itu merupakan ibadah kepada Allah?" Maka dia akan mengatakan: "Benar". Dan do'a adalah inti ibadah. [2]

Penjelasan.

[1] Apabila orang yang suka melontarkan syubhat (kerancuan) ini berkata, "Saya tidak beribadah kepada mereka sebagaimana saya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan berlindung serta berdo'a kepada mereka bukanlah ibadah. Ini adalah syubhat dan bisa dijawab dengan mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepadamu supaya mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya saja." Apabila dia menjawab, "Ya, benar." Maka tanyakan lagi kepadanya apa makna mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah? Mungkin dia tahu, mungkin juga dia tidak tahu. Jika dia tidak tahu, jelaskan kepadanya agar dia mengetahui bahwa do'anya kepada orang-orang shalih serta ketergantungannya kepada mereka termasuk ibadah.

[2] Yakni jelaskan kepadanya macam-macam ibadah, dan katakan kepadanya: "Sesungguhnya Allah berfirman,

'Berdo'alah kalian kepada Rabb kalian dengan merendah dan berlemah lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.'" (QS. Al A'raf: 55)

Ayat ini menerangkan bahwa do'a itu ibadah. Apabila do'a itu ibadah maka sesungguhnya berdo'a kepada selain Allah berarti menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena yang berhak untuk dimintai do'a, diibadahi dan diharapkan adalah Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 38

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Jika dia mengatakan, [1] "Orang-orang kafir menghendaki manfaat dari yang mereka sembah, sedangkan saya (tetap) bersaksi bahwa Allah-lah Yang Memberi Manfaat, Yang Menolak Mudharat, Yang Mengatur Urusan. Saya tidak menghendaki semua itu kecuali dari Allah. Sedangkan orang-orang shalih itu tidak memiliki kekuasaan sedikit pun. Hanya saja saya bermaksud kepada mereka untuk mengharap syafaat mereka di sisi Allah."

Maka jawabannya, "Ini sebenarnya sama dengan ucapan orang-orang kafir. Bacakan kepada mereka firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Orang-orang yang menjadikan para wali sebagai sesembahan selain Allah (mereka mengatakan), 'Tiadalah kami menyembah kepada mereka kecuali agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.'" (QS. Az Zumar: 3)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Mereka (orang-orang musyrikin) mengatakan, 'Mereka adalah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah.'" (QS. Yunus: 18)

Dan ketahuilah bahwa tiga syubhat ini adalah termasuk syubhat yang paling besar yang ada pada mereka. Karena itu jika engkau telah mengetahui bahwa Allah telah menjelaskan kepada kita ketiga hal itu dalam Kitab-Nya dan engkau pun telah memahaminya dengan pemahaman yang baik, maka syubhat-syubhat selain itu lebih mudah lagi dipahami. [2]

Penjelasan.

[1] Yakni orang-orang musyrik itu berkata bahwa orang-orang kafir itu menghendaki manfaat dari sesembahan mereka, atau minta perlindungan dari mudharat, sedang saya tidak menghendaki semua itu kecuali dari Allah. Dan saya meyakini bahwa orang-orang shalih itu tidak memiliki andil sedikitpun dalam memberikan manfaat dan menolak mudharat. Akan tetapi saya hanya mendekatkan diri kepada Allah melalui mereka supaya kelak mereka menjadi pemberi syafaat bagi kami.

Maka katakan kepadanya, "Begitu juga orang-orang musyrik yang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam diutus kepada mereka, mereka tidak beribadah kepada patung-patung karena keyakinan mereka bahwa patung-patung tersebut tidak dapat memberi manfaat atau menolak mudharat akan tetapi mereka beribadah kepada patung-patung dalam rangka untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Kami tidak beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (QS. Az Zumar: 3)

dan firman-Nya,

"Mereka mengatakan sesembahan itu adalah pemberi-pemberi syafaat bagi kami di sisi Allah." (QS. Yunus: 18)

Maka keberadaannya sama seperti keberadaan orang musyrik terdahulu itu.

[2] Syaikh rahimahullah mengatakan bahwa syubhat yang tiga ini adalah:

Pertama: Ucapan mereka, "Kami tidak beribadah kepada patung-patung tetapi kepada wali-wali Allah."

Kedua: Ucapan mereka, "Sesungguhnya kami tidak menujukan ibadah kepada mereka akan tetapi kami tujukan ibadah kami kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Ketiga: Ucapan mereka, "Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka agar mereka memberikan manfaat atau menolak mudharat dari kami. Karena sesungguhnya kemanfaatan dan kemudharatan itu ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kami hanya ingin agar mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan agar mendapatkan syafaat mereka. Kami pun tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta'ala."

Maka apabila ketiga syubhat ini telah tersingkap dan jelas bagimu, maka untuk menyingkap syubhat yang lainnya akan lebih ringan dan lebih mudah karena syubhat ini merupakan syubhat yang paling kuat.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 37

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Sampaikan kepadanya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Dan (ingatlah) pada hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya. Kemudian Allah berfirman kepada Malaikat, 'Apakah mereka ini dahulu menyembah engkau?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Mahasuci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.'" (QS. Saba': 40-41) [1]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai 'Isa putra Maryam, adakah engkau mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua Ilah selain Allah?' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau. Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku [2] dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.'" (QS. Al Maidah: 116)

Maka katakan kepadanya, "Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengafirkan orang yang ibadahnya ditujukan kepada patung-patung dan mengafirkan orang yang ibadahnya ditujukan kepada orang-orang shalih, dan orang-orang semacam ini telah diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam?" [3]

Penjelasan.

[1] Kalimat "Dan sampaikan kepadanya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, 'Dan (ingatlah) pada hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka...' (QS. Saba': 40-41)" ma'thuf (bersambung) kepada kalimat "Maka, katakanlah kepadanya bahwa di antara orang-orang kafir itu, ada yang..." Hal ini untuk menjelaskan kepada orang-orang yang menyembah wali dan orang shalih bahwa di antara orang-orang kafir ada yang beribadah kepada para Malaikat yang merupakan sebaik-baik makhluk Allah dan walinya. Dan juga untuk menolak atau membantah talbis (kerancuan) mereka yang ingin membedakan antara dirinya dengan orang-orang kafir dengan mengatakan bahwa mereka menyeru kepada orang-orang shalih dan wali-walinya sedangkan orang-orang kafir itu beribadah kepada patung-patung yang terbuat dari batu dan yang semisalnya.

[2] Ayat ini menjadi petunjuk bahwa orang-orang kafir terdahulu juga ada yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih. Jadi, tidak ada bedanya antara dia dengan orang-orang kafir itu.

[3] Katakan kepadanya, "Bukankah engkau mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengafirkan..." Kalimat ini menjelaskan kepadanya bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengafirkan orang yang beribadah kepada orang-orang shalih dan yang beribadah kepada patung-patung, dan juga menjelaskan sikap Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang memerangi mereka karena kesyirikan ini dan tidak adanya manfaat bagi mereka walaupun yang diibadahi oleh mereka dari kalangan wali-wali Allah dan Nabi-nabi-Nya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 36

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Maka, katakanlah kepadanya bahwa di antara orang-orang kafir itu, ada yang beribadah dengan cara berdo'a kepada patung-patung; ada yang berdo'a kepada para wali sebagaimana Allah telah firmankan tentang mereka:

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)?" (QS. Al Isra': 57)

Dan di antara mereka ada yang berdo'a kepada 'Isa bin Maryam dan juga kepada Maryam, ibunya, padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman,

"Al Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul sebagaimana Rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). Katakanlah, 'Mengapa engkau menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat menolak mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?' Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Maidah: 75-76) [1]

Penjelasan.

[1] Maka katakanlah kepadanya bahwa orang-orang musyrikin itu ada yang berdo'a kepada patung-patung. Mereka melakukannya untuk meminta syafaat, sama dengan tujuan engkau. Di antara mereka ada yang berdo'a kepada para wali, juga untuk meminta syafaat sama persis dengan engkau yang juga berdo'a kepada wali dengan tujuan yang sama. Dan dalil yang menunjukkan bahwa mereka berdo'a kepada para wali adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)." (QS. Al Isra': 57)

Mereka juga beribadah kepada para Nabi seperti ibadahnya kaum nasrani kepada Al Masih Ibnu Maryam. Mereka juga beribadah kepada para Malaikat, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Dan pada hari ketika Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Allah berfirman kepada para Malaikat. Apakah mereka dahulu menyembah engkau?" (QS. Saba': 40)

Selanjutnya, akan jelas (terbantah) dengan dua jawaban berikut kerancuan yang dia lontarkan bahwa orang-orang musyrik dahulu beribadah kepada patung-patung sedangkan dia beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih.

Pertama: Kerancuan yang dia lontarkan tidaklah benar, karena di antara orang-orang musyrikin dahulu juga ada yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih.

Kedua: Kalaulah kita perkirakan bahwa mereka orang-orang musyrikin itu tidak beribadah kecuali kepada patung-patung, maka tidak ada bedanya antara patung tersebut dengan sembahan lain dari sisi sama-sama tidak bisa memberi manfaat sedikit pun kepada yang menyembahnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 35

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Jika mereka mengatakan, "Ayat-ayat itu [1] turun berkenaan dengan orang-orang yang menyembah kepada patung-patung, bagaimana kalian menyamakan orang-orang shalih itu dengan patung-patung? Atau bagaimana kalian menyamakan para Nabi itu dengan patung-patung?" Perkataan ini hendaklah kalian jawab dengan apa yang dijelaskan di depan.

Sebab, sebenarnya [2] dia mengakui bahwa orang-orang kafir itu bersaksi bahwa sifat rububiyah itu hanya untuk Allah, dan mereka hanya menghendaki syafaat dari yang mereka sembah, hanya saja dia ingin membedakan antara perbuatan mereka dengan perbuatan dia sendiri dengan ucapannya itu.

Penjelasan.

[1] Mereka yakni ahlu syirik mengatakan bahwa ayat-ayat itu diturunkan untuk kaum musyrikin yang menyembah patung-patung, sedangkan para wali bukan patung-patung. Jawabannya apa bedanya antara orang-orang yang beribadah kepada patung-patung dengan orang yang beribadah kepada para Nabi dan wali. Semuanya sama-sama tidak bisa memberikan sesuatu pun kepada mereka.

[2] Yakni bahwa orang yang melontarkan pernyataan di atas mengetahui bahwa orang-orang musyrikin terdahulu mengakui tauhid rububiyah; mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala satu-satunya Pemilik Segala Sesuatu dan Yang Menciptakan serta Menguasainya. Akan tetapi, mereka beribadah kepada patung-patung dengan dalih untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan meminta syafaat kepada mereka. Dan orang yang melontarkan pernyataan tersebut mengakui bahwa maksud orang-orang musyrik tersebut sama dengan maksudnya. Keyakinan orang-orang musyrik itu tidak dapat memberi manfaat kepada mereka sedikit pun, sebagaimana telah dijelaskan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 34

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Akan tetapi karena saya ini orang yang berdosa dan orang-orang shalih itu orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah, maka saya memohon kepada Allah dengan perantaraan mereka. Jawablah perkataan tersebut sebagaimana yang dijelaskan di depan, yaitu bahwa orang-orang yang diperangi Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) mengakui apa yang engkau sebutkan. Mereka juga mengakui bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat mengatur alam semesta sedikit pun. Yang mereka harapkan dari berhala-berhala tersebut adalah kedudukan dan syafa'atnya (pertolongannya) [1]. Dan bacakan kepada mereka dalil-dalil yang sudah disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya, [2] serta sudah diperjelas oleh-Nya.

Penjelasan.

[1] Perkataan, "Akan tetapi karena saya ini orang yang berdosa..." berasal dari orang yang suka melontarkan syubhat.

Untuk membantah mereka, kita cukup mengatakan, "Orang-orang musyrik dahulu juga melontarkan perkataan ini, tetapi mereka tetap diperangi oleh Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), dihalalkan darah dan hartanya, dan wanita-wanitanya boleh dijadikan tawanan perang. Hal ini karena mereka hanya meyakini tauhid rububiyah.

[2] "Dan bacakan kepada mereka dalil-dalil yang sudah disebutkan..." Maksudnya adalah, "Bacakan kepada mereka (yang melontarkan syubhat ini, -ed.) ayat-ayat Al Qur'an yang menerangkan tauhid uluhiyah. Tauhid yang merupakan pembahasan utama dalam Al Qur'an. Dan hal itu disebutkan berulang kali agar tertanam kuat dalam hati manusia dan tak ada lagi alasan untuk menyelisihinya."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Setiap kali Kami mengutus Rasul-rasul sebelum engkau, pasti Kami wahyukan kepada mereka, 'Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Aku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.'" (QS. Al Anbiya: 25)

Allah juga berfirman,

"Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Allah menyatakan bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana." (QS. Ali 'Imran: 18)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan Ilah kalian adalah Ilah yang satu, Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 163)

Dan juga berfirman,

"Maka sembahlah Aku saja." (QS. Al 'Ankabut: 56)

Masih banyak ayat yang menerangkan kewajiban beribadah hanya kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Mereka yang beribadah hanya kepada Allah berarti telah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, sedangkan yang beribadah kepada selain-Nya, digolongkan sebagai orang-orang yang sombong lagi keras kepala, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan." (QS. An Naml: 14)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 33

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Itulah jawaban yang bagus dan tepat. [1] Akah tetapi, hanya orang-orang yang Allah beri taufik saja yang bisa memahaminya. [2] Oleh karena itu, janganlah engkau menyepelekannya. Sebab sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan:

"Dan sifat-sifat yang baik hanya akan dianugerahkan kepada orang-orang yang sabar dan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS. Al Fushilat: 35)

Adapun jawaban secara terperinci [3] sebagai berikut, "Sesungguhnya musuh-musuh Allah sering melontarkan perkataan-perkataan yang bersifat menentang untuk menghalang-halangi manusia dari mengikuti agama para Rasul. Di antaranya mereka berkata, 'Kami tidak menyekutukan Allah. Kami meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan, tidak ada yang memberi rezeki, tidak ada yang memberi manfaat dan tidak pula yang menolak mudharat kecuali Allah saja. Tidak ada sekutu sedikit pun bagi Allah. Dan kami juga meyakini bahwa Muhammad tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak kemadharatan sedikit pun bagi dirinya; apalagi Syaikh Abdul Qadir dan yang lainnya.'"

Penjelasan.

[1] Yakni, bantahan balik kepada orang yang membantah kita. Kita katakan kepadanya bahwa Kalam Allah Ta'ala tidak ada yang saling berlawanan dan ucapan Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tidak ada yang menyelisihi Kalam Allah. Kita wajib mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihat kepada ayat-ayat yang muhkam. Ini adalah bantahan telak yang tidak bisa ditolak lagi oleh siapapun, karena menggunakan dua dalil, nas dan akal.

[2] Yakni, bantahan seperti ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang Allah beri taufik, orang-orang yang telah Allah hindarkan dari fitnah syubhat dan fitnah syahwat.

Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Cara-cara yang baik hanya akan diberikan kepada orang-orang yang sabar." Yakni, cara-cara yang digunakan untuk menambah kebatilan.

[3] Dalam berdebat pertama kali kita gunakan bantahan bersifat mujmal (global) untuk menolak segala bentuk syubhat, lalu kita lanjutkan dengan bantahan bersifat mufashshal (rinci) yang menguraikan secara tuntas syubhat yang dilontarkan. Bila orang musyrik berkata, "Kami tidak menyekutukan Allah. Kami meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan, tidak ada yang memberi rezeki, tidak ada yang memberi manfaat dan tidak pula yang menolak mudharat kecuali Allah. Tidak ada sekutu sedikit pun bagi-Nya. Dan kami juga meyakini bahwa Muhammad tidak mampu mendatangkan manfaat dan menolak kemudharatan sedikit pun bagi dirinya, apalagi Syaikh Abdul Qadir; Nama asli beliau adalah Ibnu Musa Al Jailani; seorang yang memiliki sifat zuhud dan ahli tasawuf. Lahir tahun 471 H di Jailan dan wafat tahun 561 H di Baghdad. Beliau bermadzhab Hambali."

Begitulah syubhat yang mereka lontarkan. Akan tetapi syubhat tersebut sangat mudah dipatahkan dan tidak memberikan manfaat sedikit pun.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 32

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Saya telah memaparkan kepadamu bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan bahwa orang-orang musyrik itu mengakui tauhid rububiyah, dan bahwa kekufuran mereka disebabkan karena ketergantungan mereka kepada para Malaikat, para Nabi dan para wali dengan mengatakan,

"Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." (QS. Yunus: 18)

Itu semua adalah perkara yang muhkam (jelas dan terang) tidak seorangpun kuasa merubahnya. [1] Dan apa yang engkau sebutkan kepadaku, wahai orang-orang musyrik, baik yang dari Al Qur'an atau sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam saya tidak paham maknanya. Akan tetapi, saya yakin bahwa Kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak ada yang saling berlawanan dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak akan berlawanan dengan firman Allah. [2]

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah yakin, kalau kita mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihat kepada yang muhkam akan tahu bahwa kaum musyrik dahulu di zaman Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) mengakui tauhid rububiyah. Keimanan mereka mantap terhadap tauhid tersebut, tidak diliputi keraguan sama sekali. Akan tetapi mereka beribadah kepada para Malaikat dan lainnya. Mereka mengatakan bahwa Malaikat-malaikat itu akan memberi syafa'at kepada mereka di sisi Allah (pada hari Kiamat). Oleh karena itu, mereka tetap dihukumi sebagai orang musyrik yang dihalalkan oleh Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) darah dan hartanya. Ini merupakan dalil yang muhkam (terang, jelas), dan tidak sama lagi bahwa sesungguhnya Allah tidak mempunyai sekutu dalam sifat-sifat uluhiyah-Nya dan dalam masalah peribadahan, begitu pula dalam sifat-sifat rububiyah dan kerajaan-Nya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam sifat-sifat uluhiyah-Nya, berarti dia telah musyrik, sekalipun dia mentauhidkan Allah dalam sifat rububiyah-Nya.

[2] Perkataan Syaikh rahimahullah, "Saya tidak tahu maknanya" maksudnya, saya tidak tahu makna yang engkau pahami dari Al Qur'an. Saya tidak mengakui, bahkan mengingkari pemahaman tersebut, karena saya mengetahui bahwa Kalam Allah tidak ada yang saling berlawanan dan sabda Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tidak bakal menyelisihi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah berfirman:

"Apakah kalian tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau seandainya Al Qur'an itu bukan dari Allah, tentulah mereka akan mendapat banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An Nisa': 82)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab sebagai penjelas segala sesuatu." (QS. An Nahl: 89)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

"Agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka mau memikirkan." (QS. An Nahl: 44)

Sabda Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) tidak akan bertentangan dengan firman Allah. Firman-firman Allah juga tidak akan bertentangan satu sama lain. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya. Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda,

"Islam dibangun atas lima perkara, persaksian bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil-dalil di atas saling menguatkan satu dengan yang lain yang kesemuanya menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mempunyai sekutu dalam sifat-sifat uluhiyah-Nya sebagaimana tidak mempunyai sekutu dalam sifat-sifat rububiyah-Nya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 31

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Dalam sebuah hadits shahih [1] Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) bersabda,

"Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang Allah sebut sebagai orang yang hatinya condong kepada kesesatan. Berhati-hatilah kalian terhadap mereka!" (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai contoh atas hal itu, mungkin saja ada sebagian orang-orang musyrik berkata kepada engkau membawakan ayat,

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut pada mereka dan tidak pula bersedih hati." (QS. Yunus: 62)

dan mengatakan bahwa syafa'at itu sesuatu yang haq (benar) dan para Nabi itu memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah atau sebagian orang musyrik itu menyebutkan suatu ucapan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang dia jadikan dalil bagi kebatilannya, sementara engkau tidak memahami maknanya yang benar.

Perkataan mereka seperti itu hendaklah engkau jawab dengan mengatakan, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah menyebutkan dalam Al Qur'an bahwa orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka meninggalkan ayat-ayat yang muhkam (terang atau jelas) dan mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (samar)."

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah berdalil dengan hadits di atas bahwa seseorang yang mengikuti dalil-dalil yang mutasyabihat baik dari Al Qur'an maupun dari As Sunnah dan menjadikan dalil-dalil tersebut sebagai alat untuk menyembunyikan kebatilan, mereka adalah orang-orang yang telah Allah sitir dalam firman-Nya, "Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kecondongan kepada kesesatan."

Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) memerintahkan kita untuk berhati-hati terhadap mereka. Beliau bersabda,

"Hati-hatilah kalian terhadap mereka yang akan menyesatkan kalian dari jalan Allah karena mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat. Berhati-hatilah kalian juga dari jalan mereka."

Peringatan untuk berhati-hati di sini mencakup berhati-hati terhadap mereka dan berhati-hati terhadap langkah-langkah mereka.

Kemudian Syaikh rahimahullah menyebutkan bahwa mungkin ada orang musyrik yang berkata kepada kita, "Bukankah Allah telah berfirman, 'Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali (kekasih) Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati' atau berkata, 'Bukankah wali-wali itu memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah?' atau berkata, 'Bukankah syafa'at itu ada menurut Al Qur'an dan As Sunnah?' atau perkataan-perkataan lain seperti itu. Bila dia berkata seperti itu, maka kita jawab, 'Ya, semua itu memang benar. Akan tetapi, itu bukan dalil yang membolehkan kita menyekutukan Allah dengan para wali, para Rasul, atau dengan mereka yang memiliki syafa'at di sisi Allah. Anggapan mereka bahwa semua itu menunjukkan bolehnya menyekutukan Allah dengan mereka adalah batil. Hanya orang-orang batil saja yang berpendapat seperti itu. Bila mereka memaksakan pendapat seperti itu, maka mereka termasuk dalam pembicaraan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kecondongan kepada kesesatan, mereka senantiasa mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat."

Dan kalau ayat-ayat yang mutasyabihat seperti itu kita kembalikan kepada ayat-ayat yang muhkam, niscaya kita akan tahu bahwa pengertian ayat-ayat tersebut tidak seperti apa yang mereka sangka.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 30

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Maka kami katakan, bantahan terhadap hujjah ahlu batil bisa dilakukan dengan dua cara, mujmal (global) dan mufashshal (terperinci). Bantahan secara garis besar ini merupakan perkara besar dan sangat bermanfaat bagi orang yang mau memikirkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat muhkamat (terang dan jelas) yang merupakan pokok-pokok isi Al Qur'an. Dan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat (samar). Orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah." (QS. Ali Imran: 7) [1]

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah menjelaskan bahwa bantahan terhadap syubhat-syubhat ahlu batil itu bisa dengan dua cara:

Pertama: Mujmal (global). Bantahan ini mencakup umum untuk setiap syubhat.

Kedua: Mufashshal (terperinci), ini untuk tiap-tiap masalah.

Seharusnya, seorang ulama dalam beradu argumentasi dan berdebat dengan ahlu batil mampu membawakan bantahan secara global sehingga bisa mematahkan semua hujjah yang disampaikan orang-orang yang suka memutar balik dan menyamarkan permasalahan sesungguhnya. Selain itu, dia juga harus memberikan bantahan secara terperinci dari masalah yang diperdebatkan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Hud: 1)

Syaikh rahimahullah menyebutkan bantahan secara global bahwa orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat itu adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan. Dalam hadits yang shahih, Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) menjelaskan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Ali Imran ayat tujuh seperti itu.

Oleh karena itu, kita mendapati orang-orang yang dalam hatinya ada penyimpangan tersebut selalu membawakan ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menyamarkan kebatilan mereka. Misalnya mereka mengatakan, "Allah berfirman dalam ayat ini begini, namun dalam ayat lain berfirman begitu, bagaimana ini?"

Menghadapi hal seperti itu cukuplah kita mengambil pelajaran dari perdebatan antara Nafi' bin Al Azraq dengan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang disebutkan Imam As Suyuthi dalam kitab Al Itqan dan mungkin dalam kitab lainnya. Dalam perdebatan tersebut kita bisa mengetahui bagaimana ahlu batil menyamarkan kebenaran.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 29

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat ini berlaku umum meliputi semua hujjah yang akan didatangkan oleh ahlu batil sampai hari Kiamat. Aku akan menyebutkan beberapa bantahan yang disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya sebagai jawaban atas hujjah orang-orang musyrik kepada kami pada zaman ini. [1]

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah mengatakan bahwa hujjah ahlu tauhid lebih jelas dan lebih terang daripada hujjah mereka yang bukan ahlu tauhid, walaupun mereka yang mempunyai kepandaian bicara dan menjelaskan sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan tidaklah mereka mendatangkan kepadamu sesuatu yang ganjil melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan lebih baik penjelasannya."

Yakni, tatkala mereka mendatangkan kepadamu sesuatu yang ganjil untuk membantahmu dan mencampur-adukkan yang benar dengan yang batil, pasti Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan lebih baik penjelasannya. Oleh karena itu, kita dapati banyak sekali ayat Al Qur'an yang merupakan jawaban Allah Subhanahu wa Ta'ala dari pertanyaan-pertanyaan orang-orang musyrik dan semisalnya untuk menjelaskan kepada manusia ajaran yang benar sehingga kebenaran itu menjadi jelas bagi setiap orang.

Akan tetapi, ada perkara yang wajib dipahami dengan benar, yakni tidak boleh kita masuk ke dalam perdebatan dengan seseorang sebelum kita mengetahui dengan benar hujjah orang tersebut sehingga kita memiliki kesiapan untuk menolak dan membantahnya. Apabila kita masuk perdebatan tanpa ada persiapan seperti itu, maka akibat yang buruk pun akan menimpa kita, kecuali Allah menghendaki lain. Ibaratnya seperti seseorang yang hendak masuk ke medan pertempuran melawan musuh, tentu dia perlu senjata dan keberanian.

Kemudian Syaikh rahimahullah menyebutkan bahwa beliau akan menjelaskan dalamnya ini hujjah-hujjah (yang sebenarnya syubhat-syubhat) yang biasa dipakai oleh orang-orang musyrik dalam menghadapi beliau. Beliau singkap semua syubhat yang penuh dengan kerancuan dan pemutarbalikan kebenaran.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 28

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Oleh karenanya, setiap kali ahlu batil datang dengan suatu hujjah, Kami telah siapkan jawaban yang membatalkan sekaligus menjelaskan kebatilan hujjah mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (QS. Al Furqan: 33) [1]

Penjelasan.

[1] Tidaklah ahlu batil mendatangkan hujjah untuk membela kebatilannya, melainkan telah dijelaskan dalam Al Qur'an. Dan setiap kali ahlu batil mendatangkan suatu dalil yang shahih dari Al Kitab maupun As Sunnah untuk membela kebatilannya, maka dalil tersebut justru akan berbalik menyerang mereka. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam mukadimah kitabnya yang berjudul Dar'ut Ta'arudh An Naqli wal 'Aqli berkata, "Setiap kali ahlu bid'ah dan ahlu batil berhujjah dengan dalil dari Al Kitab maupun As Sunnah yang shahih untuk membela kebatilannya, maka dalil yang mereka gunakan tersebut akan berbalik menyerang mereka."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 27

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan nikmat kepada kita berupa Kitab-Nya yang Dia jadikan sebagai "Penjelas segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (QS. An Nahl: 89) [1]

Penjelasan.

[1] Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi nikmat kepada kita berupa Kitab-Nya yang mulia yang "Tidak akan tersentuh kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." (QS. Fushilat: 42)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Al Qur'an sebagai penjelas, yakni penjelas segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia di dunia dan di akhirat. Penjelasan Al Qur'an terhadap segala sesuatu itu terbagi menjadi dua macam,

Pertama: Penjelasan yang tegas, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Diharamkan atas kalian darah dan daging babi." (QS. Al Maidah: 3)

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Diharamkan atas engkau (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara perempuan ibumu, anak-anak perempuan dari saudara-saudara laki-lakimu, anak-anak dari saudara-saudara perempuanmu, ibu-ibumu yang menyusui engkau, saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu, anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah engkau campuri, tetapi jika engkau belum campur dengan istrimu itu (dan sudah engkau ceraikan) maka tidak ada dosa bagi engkau mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu) dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga engkau mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang engkau miliki. (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas engkau. Dan dihalalkan bagi engkau selain yang demikian." (QS. An Nisa': 23-24)

Kedua: Penjelasan yang berwujud isyarat kepada pokok penjelasan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Dan Allah menurunkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah." (QS. An Nisa': 113)

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengisyaratkan Al Hikmah (As Sunnah) pada ayat di atas sebagai penjelas Al Qur'an.

Begitu juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa kita harus mengembalikan segala perkara kepada ahlinya, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Diriwayatkan bahwa dulu ada seorang ulama didatangi seorang nasrani yang bermaksud mencela Al Qur'an ketika tengah berada di sebuah rumah makan. Bertanyalah orang nasrani tersebut, "Di mana (bisa ditemukan) penjelasan bagaimana membuat makanan ini?" Ulama tadi memanggil pemilik rumah makan dan berkata, "Beritahukan kepada kami cara membuat makanan ini!" Maka pemilik rumah makan itu pun menjelaskannya. Setelah itu ulama tadi berkata (kepada orang nasrani), "Seperti itulah yang disebutkan dalam Al Qur'an." Seketika itu heranlah orang nasrani itu sehingga dia berkata, "Bagaimana bisa demikian?" Ulama tadi menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman, 'Bertanyalah kalian kepada orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan jika kalian tidak mengetahui."

Jadi, jelaslah bagi kita bahwa kunci segala pengetahuan adalah bertanya kepada orang-orang yang berilmu. Ini telah dijelaskan dalam Al Qur'an. Mencari tahu tentang suatu ilmu kepada orang yang lebih dulu tahu merupakan kunci dari ilmu itu sendiri.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Kasyfu Syubuhat 26

Syarh Kasyf Asy Syubuhaat.

Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.

Bayu Abdurrahman.

Tentara Allah-lah yang akan menang dengan hujjah dan lisan, sebagaimana mereka menang dengan pedang dan tombak [1]. Perasaan takut itu hanya ada pada orang bertauhid yang menempuh jalan (Allah) tanpa membekali diri dengan senjata. [2]

Penjelasan.

[1] Syaikh rahimahullah mengisyaratkan bahwa tentara Allah adalah hamba-hamba-Nya yang Mukmin, yang menolong Allah dan Rasul-Nya, yang berjihad dengan dua cara:

Pertama: Berjihad dengan hujjah dan bayan (penjelasan). Cara ini ditujukan kepada orang-orang munafik yang tidak menampakkan permusuhan kepada kaum Muslimin.

Kedua: Berjihad dengan pedang dan tombak. Cara ini ditujukan kepada orang-orang kafir yang menampakkan permusuhan dan kekufuran mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah kepada mereka. Tempat mereka adalah Jahannam, dan Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali." (QS. At-Tahrim: 9)

Jihad jenis kedua di atas tidak langsung diterapkan begitu saja, tetapi harus didahului dengan dakwah, hujjah dan penjelasan. Kemudian, bila mereka tidak mau menerima dakwah dan kebenaran tersebut, barulah mereka diperangi dengan pedang dan tombak.

Oleh karena itu, wajib bagi kita menghadapi musuh-musuh yang menyerang Islam dengan tangkisan yang sesuai. Orang-orang yang memerangi Islam dengan pemikiran dan teori-teori wajib dipatahkan dengan berdasarkan teori dan akal sehat yang disandarkan pada dalil-dalil syar'i. Orang yang memerangi Islam dari segi ekonomi wajib dilawan bahkan dikalahkan, jika mungkin, sepadan dengan apa yang telah mereka lakukan. Orang-orang yang memerangi Islam dengan pedang wajib dihadapi dengan apa yang sepadan dengan pedang.

[2] Yakni, kekhawatiran terhadap ahlu tauhid yang menempuh jalan (Allah) tanpa senjata (ilmu). Dia akan kalah jika berdebat dengan orang musyrik, dan akan menyebabkan dia celaka. Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita memiliki ilmu untuk mematahkan syubhat-syubhat dan membungkam orang-orang yang mendebat kita. Karena berdebat selalu membutuhkan dua hal:

a. Dalil yang menguatkan ucapannya.

b. Dalil yang mematahkan hujjah lawan debatnya.

Agar kita bisa memiliki dua hal tersebut tidak ada jalan lain kecuali dengan mengetahui kebenaran Islam dan mengetahui kebatilan lawan sehingga kita bisa mengalahkannya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (7/2)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Ijtihad terus berlaku sampai kapan pun dan keberadaannya termasuk dalam bagian ilmu atau pembahasan masalah ilmiah. Perlu dicatat bahwa seorang mujtahid harus berusaha mengerahkan kesungguhannya dalam mencari kebenaran untuk kemudian berhukum dengannya. Seseorang yang berijtihad kalau benar mendapatkan dua pahala; pahala karena dia telah berijtihad dan pahala atas kebenaran ijtihadnya, karena ketika dia benar ijtihadnya berarti telah memperlihatkan kebenaran itu dan memungkinkan orang mengamalkannya; dan kalau dia salah, maka dia mendapat satu pahala dan kesalahan ijtihadnya itu diampuni, karena sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Apabila seorang hakim menetapkan hukum dengan cara berijtihad dan ternyata benar, maka dia mendapat dua pahala dan apabila dia ternyata salah, maka dia mendapat satu pahala." (HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila ada satu perkara tidak jelas hukumnya bagi seseorang, wajib baginya tawaquf (mendiamkannya) dan dia boleh taklid karena mau tidak mau dia harus begitu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki ilmu, jika kalian tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43)

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Sikap taklid kedudukannya sama seperti makan bangkai. Oleh karena itu, apabila seseorang mampu menetapkan hukum dari dalil-dalil yang ada, tidak halal baginya bertaklid." Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Nuniyah:

Ilmu itu mengetahui petunjuk dengan dalil;
Tidaklah sama antara ilmu dan taklid.

Taklid boleh dilakukan pada dua tempat,

1. Orang awam yang tidak mampu menetapkan hukum sendiri dibolehkan untuk taklid. Dasarnya firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, jika kalian tidak mengetahui." (QS. An Nahl: 43)

Diutamakan bertaklid kepada orang yang berilmu dan wara' (bisa menjaga diri dari perkara-perkara yang akan menjurus kepada hal-hal yang diharamkan, -ed.). Apabila didapati ada dua orang yang sama dalam keilmuannya, maka yang dipilih yang paling baik akhlaknya.

2. Seorang mujtahid yang menemukan perkara baru yang harus segera diputuskan, yang tidak mungkin dia menelitinya, maka pada saat itu dia boleh taklid.

Taklid itu ada dua macam, yaitu taklid umum dan taklid khusus.

Taklid umum ialah berpegang dengan madzhab tertentu dalam semua perkara agamanya, karena ketidakmampuannya menetapkan hukum sendiri.

Dalam masalah tersebut ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat wajib taklid seperti itu, karena merupakan kesulitan besar bagi kalangan mutaakhirin bila mereka dituntut untuk berijtihad. Di antara mereka ada yang berpendapat haram taklid seperti itu, karena hal itu sama saja dengan berhukum secara tetap kepada seseorang selain Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Pendapat yang mewajibkan taat kepada selain Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam setiap perintah dan larangannya menyelisihi ijma' ulama. Adapun kalau sekadar membolehkan, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat."

Taklid khusus ialah mengambil pendapat tertentu dalam perkara-perkara tertentu. Hal ini diperbolehkan apabila seseorang tidak mampu menetapkan kebenaran dengan cara berijtihad sendiri, baik karena tidak mampu sama sekali atau dia mampu tetapi dalam keadaan tertentu mengalami kesulitan besar.

Dengan ini selesailah risalah Ushulus Sittah. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semoga memberi pahala kepada penulisnya dengan sebaik-baik pahala dan mengumpulkan kita dan dia di Surga. Sesungguhnya Dia Maha Memberi lagi Mahamulia. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (7)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Landasan Keenam.

Landasan keenam berisi bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan oleh setan yang mengajak manusia meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah kemudian mengikuti pendapat-pendapat hawa nafsu yang beragam. Syubhat yang mereka lontarkan adalah bahwa Al Qur'an dan As Sunnah tidak bisa dipahami kecuali oleh seorang mujtahid, sedangkan mujtahid adalah seseorang yang mempunyai kriteria tertentu yang barangkali tidak akan dapat dimiliki oleh siapa pun, termasuk Abu Bakar dan 'Umar (radhiyallahu 'anhum). Oleh karena itu, wajib bagi kita meninggalkan Al Qur'an dan As Sunnah, tidak ragu dan tidak samar lagi. Barangsiapa yang mencari petunjuk dari Al Qur'an dan As Sunnah, maka dia adalah zindiq atau gila, karena ketidakmungkinan memahami keduanya.

Mahasuci Allah dan segala puji bagi-Nya. Betapa banyak penjelasan Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik dengan perintah-perintah dan larangan maupun dengan hukum-hukum kauni dalam membantah syubhat yang tercela ini mencakup berbagai seginya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Allah berfirman,

"Sesungguhnya telah berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, sehingga mereka tertengadah. Dan Kami beri mereka dinding penutup di hadapan dan di belakang mereka. Kami juga menutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja, mereka itu kamu beri peringatan ataukah tidak (mereka tidak mau beriman). Sesungguhnya tugas kamu hanya memberi peringatan kepada mereka yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Allah Yang Maha Pemurah walaupun mereka tidak bisa melihat-Nya. Berilah kabar gembira (kepada orang-orang seperti ini) ampunan dan pahala yang mulia." (QS. Yasin: 7-11)

Akhirnya, segala puji bagi Allah Rabbul 'Alamin dan shalawat dan salam semoga terlimpah ata Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya sampai hari Kiamat.

Penjelasan.

Al Ijtihad secara bahasa berarti mengerahkan kesungguhan untuk memecahkan sesuatu perkara. Secara istilah artinya mengerahkan kesungguhan untuk menemukan hukum syar'i.

Orang yang melakukan ijtihada dipersyaratkan beberapa hal di antaranya:

1. Mengetahui dalil-dalil syar'i yang dibutuhkan dalam berijtihad seperti ayat-ayat hukum dan hadits-haditsnya.

2. Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan keshahihan hadits dan kedhaifannya, seperti mengetahui sanad dan para periwayat hadits dan lain-lain.

3. Mengetahui nasikh-mansukh dan perkara-perkara yang telah menjadi ijma' (kesepakatan ulama), sehingga dia tidak berhukum dengan apa yang telah mansukh (dihapus hukumnya) atau menyelisihi ijma'.

4. Mengetahui dalil-dalil yang sifatnya takhsis, taqyid atau yang semisalnya, lalu bisa menyelaraskannya dengan ketentuan asal yang menjadi pokok permasalahan.

5. Mengetahui ilmu bahasa, ushul fikih, dalil-dalil yang mempunyai hubungan umum-khusus, mutlak-muqayyad, mujmal-bayan, dan yang semisalnya sehingga akurat dalam menetapkan hukum.

6. Mempunyai kemampuan beristimbat (mengambil kesimpulan) hukum-hukum dari dalil-dalilnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (6/5)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Kebanyakan dari mereka dalam meyakini seseorang sebagai wali Allah bersandar kepada mukasyafah (kemampuan menyingkap rahasia) yang dimiliki atau karena dia mempunyai kemampuan yang di luar kebiasaan. Padahal perkara-perkara tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa pemiliknya adalah wali Allah, bahkan telah disepakati oleh para wali Allah bahwa kalau ada seseorang yang bisa terbang di udara atau berjalan di atas air, maka kita tidak boleh tertipu. Kita harus menyelidiki, dia melakukan hal tersebut menerjang perintah dan larangan Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) atau tidak.

Perlu diketahui bahwa karamah para wali Allah lebih mulia dari perkara itu. Orang yang memiliki kemampuan-kemampuan di luar kebiasaan tersebut yang disangka kebanyakan orang wali Allah, terkadang justru sebenarnya musuh Allah. Karena kemampuan-kemampuan yang luar biasa itu banyak dimiliki orang-orang kafir, orang-orang munafik, ahlul kitab, dan orang-orang musyrikin; demikian juga ahlu bid'ah, sehingga boleh jadi keluarbiasaan itu berasal dari setan. Oleh karena itu, kita tidak boleh menyangka bahwa setiap orang yang memiliki keluarbiasaan termasuk wali Allah. Kewalian seseorang diukur dengan sifat-sifat dan perilaku wali Allah yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As Sunnah; atau bisa juga diukur dari sejauh mana pengetahuan dia tentang Al Qur'an dan hakikat-hakikat keimanan dan sejauh mana dia menerapkan syariat-syariat Islam.

Para ulama salaf, imam-imam mujtahid, dan semua wali Allah Subhanahu wa Ta'ala sepakat bahwa para Nabi adalah hamba yang lebih utama dari para wali yang bukan Nabi. Allah menyebutkan secara berurut para hambanya yang berbahagia yang diberi nikmat dalam empat tingkatan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka bersama orang-orang yang Allah telah beri nikmat dari kalangan para Nabi, para shiddiq, para syuhada, orang-orang shalih. Mereka itu adalah sebaik-baik teman." (QS. An Nisa': 69)

Wali-wali Allah yang bertakwa dan merupakan orang-orang pilihan, dimuliakan oleh Allah dengan diberi karamah sebagai hujjah bagi agama dan hujjah bagi kaum Muslimin sebagaimana mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada Nabi. Dan karamah para wali Allah diberikan sebagai barakah tindakan mereka mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Jadi, pada hakekatnya karamah termasuk kategori mukjizat Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Perlu diketahui bahwa karamah terkadang diberikan kepada wali Allah disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila dia membutuhkan karamah karena lemahnya iman atau karena kaum Muslimin membutuhkannya, maka diberikanlah karamah kepadanya untuk memperkuat imannya dan memenuhi kebutuhan kaum Muslimin tadi. Pada orang yang sempurna perwaliannya kepada Allah, sehingga tidak diperlukan lagi karamah untuk memperkuat imannya, maka karamah itu tidak diberikan kepadanya. Oleh karena itu, karamah pada tabi'in lebih banyak daripada sahabat.

Orang yang memiliki keluarbiasaan sebagai petunjuk bagi manusia dan karena kebutuhan mereka kepadanya, derajat perwaliannya lebih tinggi daripada yang membutuhkannya karena kelemahan iman.

Terhadap masalah ini manusia terbagi menjadi tiga golongan:

Golongan pertama. Golongan ini mengakui adanya keluarbiasaan, tetapi hanya untuk Nabi saja, tidak untuk kebanyakan manusia karena anggapan bahwa kebanyakan manusia bukan wali Allah.

Golongan kedua. Golongan ini mempercayai bahwa setiap orang yang memiliki keluarbiasaan berarti dia wali Allah.

Kedua golongan ini salah. Golongan kedua mengatakan bahwa orang-orang musyrikin dan ahlul kitab memiliki penolong-penolong dalam memerangi kaum Muslimin yang termasuk wali-wali Allah. Perkataan tersebut ditolak oleh golongan pertama yang menolak adanya keluarbiasaan pada mereka yang bukan Nabi. Yang benar adalah golongan ketiga yakni bahwa mereka dibantu oleh orang-orang dari jenis mereka yang bukan termasuk wali Allah. (24)

Kami cukupkan nukilan ini insya Allah Ta'ala. Barangsiapa yang menghendaki keterangan lebih lanjut silakan merujuk pada kitab aslinya. Wallahu Al Muwafiq.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

24. Golongan ketiga ini mempercayai bahwa keluarbiasaan bisa diberikan kepada seorang Nabi maupun kepada yang bukan Nabi. Orang yang diberi keluarbiasaan oleh Allah belum tentu wali Allah. Gelar wali Allah hanya diberikan kepada orang-orang beriman dan bertakwa, yang mau menjalankan syariat Allah dengan baik, -ed.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (6/4)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Dalam masalah ini manusia terbagi menjadi tiga golongan; dua golongan yang ekstrim dan satu golongan yang pertengahan. Di antara mereka ada segolongan orang yang apabila meyakini bahwa seseorang adalah wali Allah, dia akan menyetujui setiap perbuatan orang tersebut walaupun apa yang dia lakukan berdasarkan ilham dari Allah (menurut sangkaan orang tersebut). Di antara mereka ada segolongan lain yang apabila melihat seseorang (yang dianggap wali Allah, -ed.) berkata atau bertingkah laku tidak sesuai dengan syariat, langsung menetapkan dirinya bukan wali Allah secara mutlak sekalipun orang itu mujtahid yang salah atau keliru dalam perkara tersebut. Yang terbaik adalah golongan yang pertengahan, yakni golongan yang berpendapat bahwa tidak ada orang yang ma'shum (terjaga dari kesalahan) dan golongan yang berpendapat bahwa tidak dipandang berdosa seorang mujtahid yang salah dalam berijtihad. Menurut golongan ini, tidak wajib diikuti setiap apa yang dikatakan seorang mujtahid dan dia tidak dihukumi kafir atau fasik bila ijtihadnya keliru. Yang diwajibkan kepada kita adalah mengikuti apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Para ulama salaf dan para imam mujtahid sepakat bahwa ucapan seseorang bisa diambil dan bisa pula ditinggalkan, kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Itulah perbedaan antara Nabi dengan yang bukan Nabi. Kita wajib mengimani semua kabar dari Allah yang dibawa oleh para Nabi shalawatullah 'alaihim dan menaati apa yang diperintahkan oleh mereka. Berbeda dengan para wali; tidak ada kewajiban bagi kita menaati setiap apa yang mereka perintahkan dan mengimani apa-apa yang mereka kabarkan. Perintah dan kabar dari mereka harus ditimbang dengan Al Kitab dan As Sunnah; yang sesuai dengan Al Kitab dan As Sunnah kita terima dan yang bertentangan kita tolak. Seorang wali Allah yang berpredikat mujtahid, bila dia keliru dalam berijtihad, tetap memperoleh pahala dan kesalahan ijtihadnya diampuni apabila dia telah berusaha maksimal sesuai kemampuannya.

Jadi, wali-wali Allah wajib berpegang teguh kepada Al Kitab dan As Sunnah dan mereka tidak ma'shum. Dia atau orang lain tidak bisa seenaknya mengikuti apa yang terlintas dalam hatinya tanpa diukur dengan Al Kitab dan As Sunnah. Inilah satu ketentuan yang telah disepakati berkenaan dengan wali-wali Allah. Barangsiapa yang tidak memenuhi ketentuan tersebut, maka dia bukan termasuk wali-wali Allah yang perlu kita ikuti; mungkin dia itu orang kafir atau orang yang keterlaluan bodohnya.

Banyak manusia keliru dalam masalah ini. Mereka menyangka bahwa jika seseorang telah dianggap sebagai wali Allah, maka semua ucapan dan perbuatannya mesti diterima dan dibenarkan sekalipun menyelisihi Al Kitab dan As Sunnah. Mereka tetap menganggapnya wali, meskipun dia menyelisihi apa yang Allah sampaikan kepada Rasul-Nya, berupa kewajiban yang harus dibenarkan dan ditaati oleh seorang hamba, kewajiban kepada Allah yang dapat menjadi pembeda antara wali-wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya, antara ahlu al jannah dan ahlu an naar, antara orang-orang yang memperoleh kebahagiaan dan kesengsaraan. Barangsiapa yang menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, dia termasuk wali-wali Allah yang bertakwa dan tentara-Nya yang beruntung serta hamba-hamba-Nya yang shalih; sebaliknya, siapa yang tidak mau menjalankan kewajiban, dia termasuk musuh-musuh Allah yang merugi dan terkutuk.

Kembali ke pokok permasalahan. Mereka yang beranggapan salah itu selanjutnya akan menyelisihi Rasul dan mengikuti orang yang dianggap wali tersebut yang tanpa dia sadari akan menyeretnya perlahan-lahan, mulai dari perkara bid'ah dan kesesatan hingga sampai kepada kekafiran dan kemunafikan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (6/3)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Kita harus bisa membedakan antara wali-wali Allah dan wali-wali setan. Wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa; mereka beriman dan loyal kepada-Nya; mereka mencintai apa-apa yang Allah cintai dan membenci apa-apa yang Allah benci; mereka ridha kepada apa-apa yang Allah ridhai dan benci dengan apa-apa yang Allah benci; mereka memerintahkan apa-apa yang diperintahkan-Nya dan melarang apa saja yang dilarang-Nya; mereka memberi kepada siapa yang Dia suka untuk diberi dan menahan pemberian kepada siapa yang tidak berhak untuk Dia beri; mereka memberi dan menahan sesuai dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karena itu, tidak akan menjadi wali Allah melainkan orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diajarkan oleh Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan mengikutinya secara lahir dan batin. Barangsiapa yang mendakwakan cinta kepada Allah dan menjadi wali-Nya, tetapi dia tidak mau mengikuti Rasul Shallallahu 'alaihi wa Sallam, berarti dia bukan termasuk wali-wali Allah. Dia malah layak disebut sebagai musuh-musuh Allah dan wali-wali setan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian." (QS. Ali 'Imran: 31)

Wali-wali Allah Subhanahu wa Ta'ala mempunyai tingkatan yang berbeda-beda tergantung kadar keimanan dan ketakwaan mereka. Musuh-musuh Allah pun mempunyai tingkatan yang berbeda-beda tergantung kadar kekafiran dan kemunafikan mereka. Wali-wali Allah itu ada dua golongan:

Pertama, golongan orang-orang yang terdahulu yang didekatkan kepada Allah (seperti para Nabi dan para syuhada, -ed.).

Kedua, golongan kanan.

Allah menyebutkan mereka di beberapa tempat dalam Al Qur'an Al 'Aziz, yaitu di awal dan akhir surat Al Waqi'ah, dalam surat Al Insan dan Al Muthafifin dan dalam surat Al Fathir.

Surga juga terdiri dari beberapa tingkatan. Tiap tingkatan memiliki kelebihan dan keutamaan yang besar. Dan wali-wali Allah yang beriman dan bertakwa memperoleh tingkatan Surga sesuai kadar iman dan takwa mereka.

Barangsiapa tidak mendekatkan diri kepada Allah, tidak berbuat kebajikan dan tidak meninggalkan kejelekan, dia tidak bisa menjadi wali Allah. Tidak boleh seseorang memiliki keyakinan bahwa dirinya termasuk wali Allah, lebih-lebih jika dia beralasan mempunyai kemampuan menyingkap rahasia gaib atau keanehan lainnya. Kita juga tidak boleh menganggap orang lain sebagai wali Allah hanya karena kemampuan-kemampuan tadi, jika belum mengetahui apakah perbuatan-perbuatan orang tersebut sesuai sifat-sifat wali Allah atau tidak. Kalau ternyata perbuatan orang tersebut bertentangan dengan sifat wali Allah, jelas dia bukan wali Allah. Misalnya orang tersebut tidak meyakini wajibnya mengikuti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam secara lahir dan batin; atau dia meyakini bahwa dirinya cukup hanya mengikuti syariat yang lahir tanpa terikat dengan hal yang bersifat batin; atau dia meyakini bahwa wali-wali Allah memiliki jalan tersendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga tidak perlu mengikuti jalan para Nabi 'alaihimus salam.

Dengan demikian, barangsiapa yang menganggap dirinya sebagai wali, tetapi tidak menunaikan kewajiban-kewajiban dan tidak menjauhi yang diharamkan, maka tidak boleh kita menganggapnya sebagai wali Allah.

Tidak ada beda antara wali-wali Allah dengan manusia yang lain secara lahir dalam perkara-perkara yang mubah. Wali Allah tidak dipersyaratkan harus terjaga dari dosa, tidak pernah keliru dan tidak pernah salah.

Seorang wali Allah bisa saja melakukan kesalahan atau ada perkara agama yang belum diketahuinya. Oleh karena itu, tidak boleh kita mengimani semua yang dia katakan karena dia bukan Nabi. Kita wajib mengukur semua ucapannya dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Apabila sesuai dengan ajaran beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka ucapannya diterima dan apabila bertentangan dengan ajaran beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam maka ucapannya tidak boleh diterima. Apabila kita tidak tahu perbuatannya itu sesuai atau bertentangan dengan ajaran beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam maka sikap kita tawaqquf (tidak mengomentari).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (6/2)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Syaikh rahimahullah menyebutkan tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Allah dan ciri-ciri wali Allah, yang beliau ambil dari beberapa ayat dalam Al Qur'an.

Ayat pertama. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Ali 'Imran:

"Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian." (QS. Ali 'Imran: 31)

Ayat ini disebut ayatul mihnah (yakni ayat ujian). Ayat ini turun tatkala ada suatu kaum mengaku mencintai Allah. Barangsiapa yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita lihat amalannya. Apabila amalannya mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, berarti pengakuan dia benar, dan apabila ternyata amalannya tidak mengikuti beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam, berarti dia tidak mencintai Allah.

Ayat kedua. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agama Allah, maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya." (QS. Al Maidah: 54)

Dua ayat tadi memberitahukan sifat-sifat wali Allah yang merupakan tanda dan buah dari cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya:

1. Lemah lembut terhadap orang-orang Mukmin, tidak memerangi, tidak melawan, serta tidak berseteru dengan mereka.

2. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir.

3. Berjihad di jalan Allah dengan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memerangi musuh-musuh Allah agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.

4. Tidak takut terhadap celaan orang dalam menjalankan agama Allah, sehingga celaan tersebut tidak akan menyurutkan mereka dalam menegakkan agama Allah.

Ayat ketiga. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al Qur'an surat Yunus,

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa ketakutan dan tidak pula merasa bersedih hati (yakni) orang-orang yang beriman dan mereka tetap bertakwa." (QS. Yunus: 62)

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa wali-wali Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah mereka yang disebutkan oleh Allah mempunyai dua sifat: iman dan takwa. Iman tempatnya dalam hati sedangkan takwa dilaksanakan dengan anggota badan. Barangsiapa yang mengaku wali tapi tidak memiliki dua sifat ini, berarti dia telah berdusta.

Kemudian Syaikh rahimahullah menjelaskan bahwasanya makna wali-wali Allah ini dibalik oleh mereka yang mengaku berilmu dan sanggup memberi petunjuk kepada manusia serta menguasai ilmu-ilmu syar'i. Wali menurut mereka adalah orang yang tidak mengikuti para Rasul, tidak berjihad di jalan Allah dan tidak beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Alangkah baiknya jika kita menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam bukunya berjudul Al Furqan Baina Auliya Ar Rahman wa Auliya Asy Syaithan (Pembeda Antara Wali-wali Ar Rahman dan Wali-wali Setan). Beliau berkata, "Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya dan di dalam Sunnah Rasul-Nya bahwa Allah memiliki waliwali dari kalangan manusia; begitu juga setan, dia memiliki wali-wali dari kalangan manusia juga. Dan Allah membedakan antara wali-wali Ar Rahman dan wali-wali setan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang wali-wali Ar Rahman,

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa ketakutan dan tidak pula merasa bersedih hati (yakni) orang-orang yang beriman dan mereka tetap bertakwa. Mereka mendepat kabar gembira bakal berbahagia di dunia dan akhirat. Tidak ada pergantian dalam kalimat-kalimat Allah. Yang demikian adalah kemenangan yang besar." (QS. Yunus: 62-64)

Allah berfirman tentang wali-wali setan,

"Apabila kamu membaca Al Qur'an, berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan itu tidak mempunyai kekuasaan terhadap orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah terhadap orang-orang yang mengambilnya sebagai wali dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (QS. An Nahl: 98)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (6)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Landasan Kelima.

Landasan kelima ini berisi penjelasan tentang wali-wali Allah dan perbedaan mereka dengan musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang jahat yang menyerupai mereka.

Dalam masalah ini cukuplah kita memperhatikan satu ayat dari surat Ali 'Imran yakni firman-Nya,

"Katakanlah, 'Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.'" (QS. Ali 'Imran: 31)

dan satu ayat dalam surat Al Maidah yakni firman-Nya,

"Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agama Allah, maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya." (QS. Al Maidah: 54)

serta satu ayat dalam surat Yunus yakni firman-Nya,

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak akan merasa ketakutan dan tidak pula merasa bersedih hati (yakni) orang-orang yang beriman dan mereka tetap bertakwa." (QS. Yunus: 62)

Kemudian makna wali-wali Allah ini dirubah oleh mereka yang mengaku memiliki ilmu dan sanggup memberi petunjuk kepada manusia serta menguasai ilmu-ilmu syari'at. Mereka menganggap bahwa wali-wali Allah adalah mereka yang meninggalkan teladan para Rasul, sedangkan yang meneladani para Rasul bukan termasuk wali. Selain itu, menurut mereka, para wali adalah mereka yang meninggalkan jihad, keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Barangsiapa yang berjihad, beriman dan bertakwa kepada Allah, maka dia bukan termasuk wali.

Ya Allah, kami mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan (dari anggapan sesat mereka). Sesungguhnya Engkau Maha Mengabulkan do'a.

Penjelasan.

Wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan istiqamah menjalankan agama-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kriteria sebagaimana disebutkan Allah dalam Al Qur'an,

"Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan tetap bertakwa." (QS. Yunus: 62)

Tidak semua orang yang mengaku wali dapat dikatakan sebagai wali, karena setiap orang bisa saja mengaku-aku sebagai wali Allah. Bila ada orang mengaku sebagai wali, perlu kita lihat amalannya. Jika amalannya berdasarkan iman dan takwa, maka dia adalah seorang wali; jika tidak, maka dia bukanlah seorang wali. Sebenarnya orang yang mengaku dan menganggap diri sebagai wali saja menunjukkan bahwa dia bukan orang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena dia telah menganggap dirinya suci. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Janganlah kalian mengatakan bahwa diri kalian suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang bertakwa." (QS. An Najm: 32)

Seseorang yang mendakwakan dirinya sebagai wali Allah, berarti dia telah menganggap dirinya suci dan anggapan itu menyebabkan dia terjatuh ke dalam kemaksiatan dan apa yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini jelas menunjukkan bahwa dia bukan orang yang bertakwa. Wali-wali Allah tidak akan menganggap dirinya suci. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala secara sempurna. Mereka tidak menipu manusia dan mengelabui mereka dengan pengakuannya sebagai wali, lalu menyesatkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Orang-orang yang mendakwakan dirinya sebagai wali, terkadang menyebut dirinya sebagai sayyid (tuan). Kalau kita mau memperhatikan mereka, niscaya kita akan tahu ternyata perbuatan dan tingkah laku mereka sangat jauh dari pengakuannya. Oleh karena itu, saya nasihatkan kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, jangan percaya kepada orang yang mengaku sebagai wali, sebelum mencocokkan kriteria wali Allah yang tercantum dalam nas Al Qur'an dan Sunnah.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (5/3)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Kisah di atas sangat masyhur. Kisah tersebut diriwayatkan dari Abu Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan Al Khudri radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Dulu, pada masa sebelum kalian hidup, ada seorang laki-laki yang membunuh 99 jiwa. Dia bertanya kepada orang yang paling berilmu di muka bumi ini. Ditunjukkanlah kepadanya seorang rahib. Dia pun mendatanginya dan berkata bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa, apakah dirinya masih bisa bertaubat. Si rahib mengatakan tidak bisa, maka dibunuhlah rahib itu sehingga genaplah 100 orang yang dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi, siapa penduduk bumi yang paling berilmu. Ditunjukkanlah kepadanya seorang yang berilmu. Lalu datanglah dia kepadanya dan berkata bahwa dirinya telah membunuh 100 jiwa, apakah dirinya masih bisa bertaubat. Orang yang berilmu tersebut mengatakan bisa, dan mengatakan lagi bahwa tidak ada yang bisa menghalangi orang tersebut dari taubat. Dan selanjutnya orang yang berilmu tadi menganjurkan kepada laki-laki itu untuk pergi ke suatu negeri yang kebanyakan penduduknya adalah orang-orang shalih dan taat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; dan dia juga menganjurkan kepadanya untuk hidup dan beribadah bersama mereka dan tidak kembali ke negeri asalnya, karena sesungguhnya negeri asalnya itu adalah negeri yang jelek. Kemudian dia pun berangkatlah. Ketika masih berada di paruh perjalanannya, ajal menjemput. Malaikat rahmat dan Malaikat azab memperebutkan orang ini. Malaikat rahmat berkata, "Dia mati sebagai orang yang bertaubat menghadapkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." Lalu Malaikat azab berkata, "Dia belum beramal shalih sedikit pun." Kemudian datanglah Malaikat dalam bentuk manusia yang diperintahkan oleh Allah sebagai hakim. Dia berkata, "Ukurlah jarak di antara kedua negeri, mana yang lebih dekat, itulah yang kita jadikan patokan." Jarak tempat dia meninggal diukur dan hasilnya ternyata lebih dekat ke negeri yang hendak dituju. Nyawa orang tersebut diambil oleh Malaikat rahmat. Dalam riwayat lain disebutkan, "Demi Allah, karena jaraknya ke negeri orang-orang shalih lebih dekat 1 jengkal, maka dia dihitung sebagai penghuni negeri tersebut." Dalam riwayat lainnya disebutkan, "Allah mewahyukan kepada jarak (negeri asalnya) supaya menjauh dan jarak (negeri orang-orang shalih) supaya mendekat. Kemudian memerintahkan Malaikat (yang bertindak sebagai haki, -ed.) untuk mengukur jarak kedua negeri tersebut. Hasilnya ternyata jarak ke negeri orang-orang shalih lebih dekat 1 jengkal. Dalam riwayat lain disebutkan, "Dadanya mengarah ke arah negeri orang-orang shalih." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah perbedaan antara orang yang berilmu dengan orang yang bodoh.

Sekarang perkaranya telah jelas. Oleh karena itu, tentu sekarang kita mengetahui siapa yang disebut ulama yang sebenarnya, yang terbimbing dengan ajaran Allah dan mendidik manusia berdasarkan syari'at-Nya dan siapa yang hanya meniru-niru mereka, baik dalam penampilan, pemikiran, perkataan dan perbuatan, namun pada hakekatnya bukan ulama. Orang-orang seperti itu tidak menasehati manusia dan tidak menghendaki kebenaran. Mereka hanyalah mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan dengan polesan ungkapan-ungkapan yang indah dan menipu. Ungkapan mereka hanyalah fatamorgana, penuh dengan bid'ah yang menyesatkan, meskipun orang awam yang mendengarnya bisa saja menganggap sebagai ilmu yang perlu diamalkan. Mereka juga menganggap kebenaran yang menyelisihi keyakinan mereka hanyalah bualan orang-orang zindiq atau gila.

Nampaknya yang dimaksud oleh Syaikh rahimahullah adalah para pemuka ahlu bid'ah yang menyesatkan yang menjuluki ulama ahlus sunnah dengan julukan-julukan yang tidak benar. Julukan yang dilontarkan dengan tujuan menghalangi manusia mengambil ilmu dari mereka. Sikap yang muncul karena kedengkian mereka dan karena mereka mendustkan para Rasul sebagaimana disitir dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

"Demikianlah, tidaklah datang para Rasul kepada orang-orang yang sebelum mereka melainkan mereka mengatakan, 'Dia tukang sihir atau dia gila.'" (QS. Adz Dzaariyaat: 52)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Apakah mereka saling berpesan terhadap apa yang dikatakan itu? Mamng, mereka itu adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Adz Dzariyat: 53)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (5/2)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Di antara faidah ilmu syar'i:

* Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu syar'i, baik di akhirat maupun di dunia. Di akhirat Allah akan mengangkat derajat mereka sesuai dengan apa yang mereka laksanakan dengan ilmu itu; dakwah di jalan Allah dan amal shalih lainnya. Di dunia, Allah mengangkat derajat mereka di hadapan hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang mereka laksanakan dengan ilmu itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang memiliki ilmu beberapa derajat." (QS. Al Mujadalah: 11)

* Ilmu syar'i adalah warisan Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau,

"Sesungguhnya para Nabi tidak mewarisi dinar dan tidak pula dirham. Mereka hanya mewarisi ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang besar." (21)

* Ilmu termasuk tiga perkara yang akan menyertai manusia sampai mati sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Apabila seorang hamba meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo'akan kedua orang tuanya." (22)

* Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melarang seseorang dengki terhadap kenikmatan-kenikmatan yang diperoleh orang lain, kecuali pada dua nikmat, yaitu penuntut ilmu yang beramal dengan ilmunya dan orang yang memiliki harta dan menginfakkan hartanya untuk Islam. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Tidak boleh hasad kecuali kepada dua hal; seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya harta, kemudian dia pergunakan harta itu untuk membela kebenaran dan seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya ilmu, kemudian dia amalkan dan ajarkan ilmunya itu." (23)

* Ilmu merupakan cahaya yang menerangi diri seorang hamba sehingga mampu mengetahui bagaimana beribadah kepada Rabb-nya dan bagaimana dia bermuamalah sesamanya, dengan begitu jalan hidupnya selalu berdasarkan ilmu.

* Ilmu laksanakan cahaya yang menerangi manusia dalam urusan agama dan dunia. Kita tentu ingat, sebuah kisah yang sangat masyhur tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang telah membunuh 99 jiwa, lalu dia bertanya kepada seorang ahli ibadah, apakah dia masih bisa bertaubat atau tidak. Si ahli ibadah berkata, "Tidak", maka laki-laki tadi membunuhnya sehingga dia genap membunuh 100 jiwa. Kemudian dia pergi ke rumah seorang yang berilmu dan bertanya, lalu diberitahukan kepadanya bahwa dia masih bisa bertaubat dan diberitahukan pula bahwa tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya untuk bertaubat. Kemudian orang yang berilmu tadi menunjukkannya ke suatu negeri yang penduduknya terdiri dari orang-orang shalih. Pergilah laki-laki itu ke negeri tersebut. Tetapi ketika dia masih berada di pertengahan jalan, tiba-tiba kematian menjemputnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

21. Takhrij hadits ini telah disebutkan di muka.

22. Diriwayatkan oleh Muslim kitab Al Washiyah bab "Ma Yalhaqu Al Insan min Ats Tsawab Ba'da Wafatihi".

23. Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Al 'Ilm bab "Al Ightibath fi Al Ilm wa Al Hikmah" dan Muslim dalam kitab Al Musafirin min kitab Ash Shalah bab "Man Yaquumu bi Al Qur'an wa Yu'allimuhu".

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Ushulus Sittah (5)

Syarh Al Ushul As Sittah.

Syarah Ushulus Sittah.

Penjelasan Enam Landasan Utama.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah.

Bayu Abdurrahman.

Landasan Keempat.

Landasan keempat ini berisi penjelasan tentang ilmu dan ulama, fikih dan ahli fikih serta orang yang berlagak seperti mereka namun tidak termasuk golongan mereka.

Allah telah menjelaskan landasan ini dalam awal surat Al Baqarah dalam firman-Nya,

"Hai Bani Israil, ingatlah kalian kepada nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan penuhilah janji-Ku, niscaya Aku penuhi janji kalian." (QS. Al Baqarah: 40)

sampai firman-Nya,

"Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan sesungguhnya Aku telah melebihkan kalian atas seluruh manusia." (QS. Al Baqarah: 47)

Sunnah Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) juga menjelaskan hal ini sehingga menjadi semakin jelas dan gamblang bagi orang awam yang bodoh sekalipun. Akan tetapi, di kemudian hari perkara ini menjadi sesuatu yang paling asing; ilmu dan fikih dianggap sebagai bid'ah dan kesesatan. Pilihan terbaik menurut mereka adalah mengaburkan antara yang hak dan yang batil. Mereka menganggap ilmu yang wajib dipelajari manusia dan pujian bagi orang-orang yang berilmu hanyalah bualan orang-orang zindiq atau gila, sedangkan orang yang mengingkari dan memusuhi ilmu serta melarang orang-orang mempelajarinya dianggap sebagai orang yang fakih dan 'alim.

Penjelasan.

Yang dimaksud dengan ilmu syar'i adalah ilmu yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam berupa keterangan dan petunjuk; atau ilmu yang mengandung pujian dan sanjungan kepada Allah; atau ilmu yang terdapat dalam Al Kitab dan As Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Katakanlah, 'Apakah orang yang mengetahui sama dengan orang yang tidak mengetahui? Peringatan itu hanyalah akan (berguna) bagi orang-orang yang mau memikirkan." (QS. Az Zumar: 9)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Barangsiapa yang Allah kehendaki baik, niscaya Allah akan pahamkan agama kepadanya." (19)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang besar." (20)

Dan telah diketahui bahwa yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu agama. Meskipun begitu, kita tidak mengingkari keberadaan ilmu lain yang berfaedah. Selain ilmu syar'i, apabila ilmu tersebut membantu mewujudkan ketaatan kepada Allah atau menolong agama Allah serta bermanfaat bagi hamba-hamba Allah, maka dipandang sebagai ilmu yang baik dan bermanfaat. Dan sebagian ulama menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi hukumnya fardhu kifayah. Pendapat ini masih perlu diteliti dan masih diperselisihkan.

Jelasnya, ilmu yang benar dan orang-orang yang mempelajarinya akan mendapatkan pujian adalah ilmu tentan Al Qur'an dan hadits Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam). Selain ilmu tersebut, apabila dipergunakan untuk kebaikan, maka dihukumi baik dan apabila dipergunakan untuk menuju kejelekan, maka dihukumi jelek. Sedangkan jika suatu ilmu tidak untuk kebaikan dan tidak mendatangkan kejelekan maka dihukumi sebagai ilmu yang sia-sia, membuang-buang waktu, dan main-main.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

19. Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab Al Ilmu bab "Man Yuridillahu Bihi 'Ilman Yufaqqihhu fi Ad Din" dan Muslim kitab Az Zakat bab "An Nahyu an Al Mas'alah".

20. Diriwayatkan oleh Ahmad Juz 5 hlm. 196, Abu Dawud dalam kitab Al 'Ilm bab "Al Hatstsu 'ala Thalabil 'Ilmi", Tirmidzi dalam kitab Al 'Ilmi bab "Ma Jaa fi Fadhl Al Fiqh 'ala Al Ibadah", Ibnu Majah dalam Al Muqaddimah bab "Fadhl Ulama wa Al Hatstsu 'ala Thalab Al 'Ilm", Ad Darimi dalam Al Muqaddimah bab "Fadhl Al 'Ilmi wa Al 'Alim", Al Baghawi dalam Syarh As Sunnah Juz 1 hlm. 275 no. 129, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 88, Al Haitsami dalam Mawari Azh Zhaman Juz 1 hlm. 177 no. 80, dan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir Juz 8 hlm. 337. Al Hafizh berkata dalam Al Fath Juz 1 hlm. 160, "Hadits ini punya hadits-hadits lain yang menguatkannya."

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Kasyf Asy Syubuhaat wa Yaliihi Syarh Al Ushul 'alaihis salam Sittah, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Penerbit: Dar Ats Tsarayya, Kerajaan Saudi Arabia, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1416 H/ 1996 M, Judul Terjemahan: Syarah Kasyfu Syubuhat Membongkar Akar Kesyirikan dilengkapi Syarah Ushulus Sittah, Penerjemah: Bayu Abdurrahman, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Rabi'uts Tsani 1425 H/ Juni 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah