Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/7)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/7).

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman tentang sifat para penghuni Surga,

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal." (QS. Ali 'Imraan [3]: 133-136)

Adapun yang dimaksud dengan istighfar adalah memohon ampun kepada Allah, sedang al-ghufr (ampunan) itu sendiri maknanya adalah menutupi sesuatu dan menghapus jejaknya.

* "فإنّ هوءلاء الثلاث" (...karena sesungguhnya tiga hal tersebut).

Yaitu rasa syukur, kesabaran dan istighfar (memohon ampunan).

* "عنوان السعادة" (...tanda-tanda kebahagiaan).

Kebahagiaan itu adalah suatu sifat yang ada pada diri seseorang, yang menjadi salah satu sebab hilangnya kegundahan dan kesedihan, bersamaan dengan hadirnya ketenangan hati. Allah 'Azza wa Jalla pun telah menerangkan bahwa orang-orang yang beriman diberikan kepada mereka ganjaran yang baik di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-A'raaf [7]: 128)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/6)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/6).

Lalu bagaimana seseorang bersabar saat tertimpa musibah? Hal ini bisa tercapai dengan menempuh beberapa hal:

Pertama, menjadikan kesabaran itu hanya untuk Allah 'Azza wa Jalla dan bukan karena berharap pujian dari manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah." (QS. Al-Muddatstsir [74]: 7)

Kedua, bersikap ridha, yaitu tidak ada kejengkelan terhadap qadha' dan qadar Allah yang menyakitkan (tidak disenangi), tidak marah dan mengutuk ketentuan-ketentuan Allah, tetapi justru ridha terhadap ketentuan dan takdir tersebut.

Ketiga, bersabar sejak awal tertimpa musibah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam:

"Sabar itu adalah muncul saat hentakan pertama." (11)

* "وإذا أذنب استغفر" (...dan jika berbuat dosa akan beristighfar (meminta ampun)).

Penulis juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar setiap orang yang membaca risalah ini dijadikan orang yang apabila melakukan dosa, maka ia akan beristighfar.

Adapun yang dimaksud dengan dosa adalah maksiat dan kesalahan yang dengannya seorang hamba mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semua hamba Allah tidak ada yang luput dari dosa ini, setinggi apa pun derajatnya, kecuali orang-orang yang memang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Orang yang ma'shum itu adalah orang yang dijaga oleh Allah." (12)

Terjadinya dosa pada seorang hamba tidak selalu menjadi tanda kekurangan dirinya. Dosa akan menjadi tanda kekurangannya apabila ia tidak beristighfar dan tidak bertaubat darinya. Apabila ia beristighfar dan bertaubat maka hal itu terkadang justru menjadi sebab tinggi derajatnya. Yang demikian dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji orang-orang Mukmin sebagai orang yang bertakwa, disebabkan mereka melakukan dosa lalu mereka pun beristighfar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka bersabar (dan meminta ampun)." (QS. Al-A'raaf [7]: 201)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

11. HR. Al-Bukhari No. 1302 dan Muslim 926.

12. HR. Al-Bukhari No. 1302.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/5)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/5).

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS. Ali 'Imraan [3]: 186)

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda dalam haditsnya,

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang meniru mereka, kemudian orang yang meniru mereka." (10)

Seorang Mukmin yang ditimpa suatu musibah disyariatkan baginya untuk bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya. Sikap sabar termasuk di antara ibadah yang paling agung, yang dengannya kita bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman,

"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).' Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah [2]: 155-157)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar [39]: 10)

Kesabaran itu ada tiga jenis:

1. Kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berdakwah kepada-Nya.

2. Kesabaran untuk menjaga diri dari maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan

3. Kesabaran ketika mengalami takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menyakitkan (tidak disukai).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

10. HR. At-Tirmidzi No. 2398 dan Ibnu Majah No. 4023.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/4)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/4).

Pertama, pengakuan bahwa nikmat tersebut datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala yang memberikannya, dan ini dilakukan di dalam hati.

Kedua, menyebutkan atau mengabarkan nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan tersebut kepada orang lain, dengan menyandarkannya hanya kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu kabarkan." (QS. Adh-Dhuha [93]: 11)

Ketiga, menggunakan nikmat tersebut pada hal-hal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dengan kata lain, syukur itu mencakup ungkapan hati, perkataan lisan dan amalan anggota badan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba' [34]: 13)

Ini menjadi dalil bahwa amal anggota badan adalah bagian dari kesyukuran.

* "وإذا ابتلي صبر" (...dan jika diuji akan bersabar).

Al-Ibtilaa' (ujian) maknanya adalah cobaan. Ujian yang diberikan kepada hamba bisa dalam bentuk tertahannya suatu kenikmatan bagi mereka, atau terjadinya pada mereka sesuatu yang tidak mereka sukai.

Ujian itu tidak menunjukkan rendahnya derajat seseorang. Justru adanya ujian menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala ingin mensucikan seorang hamba dan membersihkannya dari dosa-dosanya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan kepada Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa Sallam, para sahabat beliau yang mulia dan kita semua yang hidup setelah mereka,

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/3)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/3).

Seorang manusia boleh disifati dengan sifat mubarak ini, dan boleh pula disifati sebagai orang yang pada dirinya terdapat keberkahan. Akan tetapi, ungkapan dna sifat "تبارك" (tabaarak atau Yang Maha Suci/ Maha Memberi Berkah) tidak boleh disematkan, kecuali pada Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. (9) Hal ini dikarenakan "تبارك" adalah bentuk mufaa'alah. Tidak ada yang mampu memberikan keberkahan kepada semua hal, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, menurut pendapat yang tepat, "تبارك" dikhususkan hanya untuk Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam." (QS. Al-Furqan [25]: 1)

"Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Mulk [67]: 1)

* "أينما كنت" (...di mana saja engkau berada).

Maksudnya, agar Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikanmu manusia yang menebar berkah (kebaikan) di negeri mana saja engkau tinggali, di tempat mana saja engkau singgahi. Tidak dapat dipungkiri bahwa seorang hamba senantiasa membutuhkan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta menjadikannya sebagai penyebab suatu kebaikan dan manfaat di mana saja ia berada.

* "وأن يحعلك ممّن إذا أعطي شكر" (...dan semoga Allah juga menjadikanmu sebagai orang yang jika diberi akan bersyukur).

Pemberian yang dimaksud di sini adalah berbagai nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada seorang hamba. Adapun makna syukur di sini adalah menegakkan hak nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut, yang mencakup beberapa hal berikut.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

9. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Bada-i'ul Fawaid (2/185) berkata, "Adapun sifat "تبارك" dikhususkan untuk Allah semata sebagaimana yang dimutlakkan-Nya untuk diri-Nya... Tidaklah anda melihat hal ini disebutkan dalam Al-Qur'an berulang kali, yang disebutkan khusus untuk Allah dan tidak dimutlakkan untuk yang selain-Nya? Sifat ini datang dalam bentuk yang luas dan mubalaghah seperti pada kata "تعاظم", "تعالى" dan semacamnya. Manakala "تبارك" ini datang dalam bentuk seperti "تعالى" yang memberikan faedah sempurnanya ketinggian-Nya, maka "تبارك" ini juga menunjukkan kesempurnaan berkah, keagungan, dan keluasan-Nya..."

Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithy berkata dalam kitabnya Adwaa-ul Bayaan (6/262) setelah menukil berbagai pendapat tentang makna "تبارك", Yang lebih tepat dalam makna "تبارك" menurut bahasa Arab yang Al-Qur'an itu diturunkan dengannya, bahwa sifat ini memiliki bentuk "تفاعل" dari kata berkah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Ibnu Jarir Ath-Thabariy. Oleh karena itu, makna "تبارك" adalah banyaknya berkah dan kebaikan dari-Nya, yang menuntut adanya pengagungan dan pensucian diri-Nya dari segala hal yang tidak sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya. Sesuatu yang dapat memberikan berkah dan kebaikan dari dirinya sendiri, serta mampu memberikan rezeki yang banyak, itulah satu-satunya yang berhak mendapatkan pengagungan dan pemurnian peribadatan untuknya. Adapun yang tidak dapat memberikan semua hal itu, semisal berhala atau apa pun yang disembah selain Allah, maka tidak benar jika disembah. Bahkan ibadah yang seperti ini akan membuat orang yang melakukannya masuk ke dalam Neraka dan kekal di dalamnya... Ketahuilah bahwa "تبارك" adalah bentuk fi'il jaamid yang tidak berubah-ubah. Tidak ada fi'il mudhari'nya, tidak pula mashdar, isim fa'il, dan yang selainnya, dan ini hanya untuk Allah. Maka tidak boleh kata ini diberikan kepada yang selain-Nya.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2/2)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2/2).

* "أن يتولاّك في الدنيا والاخرة" (...agar senantiasa membimbingmu di dunia dan akhirat).

Maksudnya agar Allah Subhanahu wa Ta'ala membantumu dalam segala urusan di dunia dan akhirat. Kalau bukan karena bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sesungguhnya seorang hamba akan berada dalam kerugian, kekurangan, dan kelemahan. Jika Allah, Rabb yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, membimbing seorang hamba, maka itu pasti akan menjadi sebab kebahagiaan di dunia dan akhiratnya. Adapun untuk orang yang beriman, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan senantiasa memberikan bimbingan-Nya kepada mereka, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (QS. Al-Baqarah [2]: 257)

Bimbingan Allah Subhanahu wa Ta'ala terbagi menjadi dua macam:

1. Bimbingan secara khusus, yaitu bimbingan-Nya bagi orang yang mengumpulkan keimanan dan ketakwaan, sebagaimana yang diterangkan dalam firman-Nya:

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus [10]: 62-63)

Bimbingan seperti ini tidak bisa kita persaksikan (pastikan) ada pada seseorang.

2. Bimbingan secara umum, yaitu bimbingan-Nya bagi setiap orang Mukmin. Bimbingan jenis ini bisa kita tetapkan ada pada diri setiap Mukmin, bahkan pada diri kita. Misalnya, orang-orang Mukmin ketika mereka berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan,

"Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Terdapat nash-nash mutawatir yang menjelaskan bahwa bimbingan Allah pada seorang hamba adalah salah satu sebab penjagaan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada dirinya, dan kecukupan dalam berbagai urusannya di dunia dan akhirat.

* "وأن يحعلك مباركا" (...dan menjadikanmu seorang yang menebar kebaikan).

Penulis pada kalimat ini mendoakan setiap orang yang membaca risalahnya agar Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya sebagai orang yang mubarak (diberkahi Allah Subhanahu wa Ta'ala). Manusia yang mubarak adalah manusia yang pada dirinya terdapat kebaikan dan manfaat yang terpancar, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (2)

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba' (2).

Penulis berkata,

Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb yang memiliki 'arsy yang agung, agar senantiasa membimbingmu di dunia dan akhirat, dan menjadikanmu seorang yang menebar kebaikan di mana saja engkau berada. Semoga Allah juga menjadikanmu sebagai orang yang jika diberi akan bersyukur, jika diuji akan bersabar dan jika berbuat dosa akan beristighfar (meminta ampun). Karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah tanda-tanda kebahagiaan.

Syarah.

* "أسأل اللّه الكريم" (Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia).

Kalimat ini bermakna "Aku memohon kepada-Nya dan meminta dari-Nya". Disematkan nama Allah "Al-Kariim" (Yang Maha Mulia) karena nama inilah yang sesuai dengan doa yang dipanjatkan penulis. Hal ini dikarenakan seorang hamba apabila ia ber-tawassul dengan nama-nama Allah dalam doanya, hendaknya memilih nama Allah yang paling sesuai dengan doanya. Jika doa yang dipanjatkan berisi permohonan, maka akan sesuai jika nama yang dipilih adalah Al-Kariim, saat hamba tersebut memanjatkan doanya dan ber-tawassul dengan nama Rabbnya.

* "ربّ العرش العظيم" (Rabb yang memiliki 'arsy yang agung).

Maknanya adalah Rabb yang memiliki, menguasai, dan mengatur 'arsy tersebut. 'Arsy adalah salah satu ciptaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan merupakan makhluk-Nya yang terbesar. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala mensifatinya dengan kata agung.

Terdapat beberapa nash yang mengaitkan kata "Rabb" dengan 'arsy ini, semisal doa saat dalam kesulitan, di mana seorang hamba dituntunkan untuk membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.

(Laa ilaaha illallaahul 'azhiimul haliimu, laa ilaaha illallaahu rabbul 'arsyil 'azhiimi, laa ilaaha illallaahu rabbus samawaati wa rabbul ardhi wa rabbul 'arsyil kariimi).

"Tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah yang Maha Agung lagi Maha Lembut. Tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, Rabb dari 'arsy yang agung. Tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah, Rabb langit, bumi dan 'arsy yang mulia." (8)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

8. HR. Al-Bukhari No. 6345 dan Muslim No. 2730.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Syarah (Penjelasan) Al-Qawa'id Al-Arba'.

Penulis berkata,

بسم اللّه الرحمن الرحيم

(Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Syarah.

Penulis memulai risalah (tulisan) ini dengan basmalah (menyebut nama Allah), karena memang suatu risalah disyariatkan untuk dimulai dengan basmalah. Dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam risalah-risalah yang beliau kirimkan kepada raja-raja di zamannya memulai penulisannya dengan basmalah tanpa tahmid (pujian). Dengan landasan ini, penulis mencukupkan pembukaan risalah Al-Qawa'id Al-Arba' ini dengan basmalah tanpa menyertakan tahmid bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dikarenakan ini adalah risalah, bukan khutbah (ceramah atau penyampaian lisan).

Yang disyariatkan dalam suatu tulisan adalah dibuka dengan penyebutan nama Allah, (6) sedangkan dalam penyampaian lisan dibuka dengan pujian untuk-Nya, sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memulai khutbah-khutbahnya. (7) Adapun dalam berbagai buku, sebagian pembukaannya mirip risalah dan sebagian lagi mirip khutbah. Oleh karena itu, kita lihat sebagian penulis sampai saat ini masih memulai buku-buku mereka dengan basmalah dan tahmid bersama-sama. Sementara itu, dalam tulisan ini, penulis menjadikannya sebagai sebuah risalah, sehingga beliau pun mencukupkan pembukaannya hanya dengan basmalah.

* بسم اللّه.
(Dengan nama Allah).

Ini adalah susunan jar majruur yang menyambung pada suatu kalimat yang dihilangkan, di mana penulis (atau orang yang mengucapkannya) seakan-akan mengucapkan, "Aku memohon pertolongan dengan nama Allah", "Aku meraih ilmu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan aku memohon kepada-Nya untuk menunjukkanku kepada kebenaran", dan kalimat semacamnya.

Nama Allah merupakan perwujudan setiap sifat dari semua sifat-Nya. Karenanya tidak mengapa seseorang menyandingkan permohonannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menggunakan nama-Nya. Misalnya kita mengucapkan, "Aku memohon pertolongan dengan nama Allah", "Aku memohon anugerah ilmu dengan nama Allah", "Aku berlindung dengan nama Allah", "Aku memohon perlindungan dari setan dan makhluk sepertinya dengan nama Allah" dan kalimat-kalimat yang selainnya.

* "اللّه" (Allah).

Ini adalah nama Rabb yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.

* "الرحمن الرحيم" (Ar-Rahman Ar-Rahim).

Ini adalah dua di antara sekian banyak nama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menunjukkan sifat rahmat (kasih sayang) Allah. Dikatakan oleh sebagian ulama, Ar-Rahmaan adalah sifat kasih sayang yang mencakup baik untuk orang mukmin maupun orang kafir. Adapun sifat Ar-Rahiim hanya untuk orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya:

"Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab [33]: 43)

Ada pula yang mengatakan bahwa Ar-Rahmaan adalah bentuk mubalaghah dari sifat rahmat ini, sedangkan Ar-Rahiim adalah nama Allah dari sifat rahmat yang terus-menerus. Yang pasti, sifat rahmat merupakan salah satu sifat Allah 'Azza wa Jalla yang telah ditetapkan pada diri-Nya, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengasihi para hamba-Nya, lebih dari kasih mereka kepada diri mereka sendiri.

Setelah itu penulis melanjutkan risalah ini dengan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

6. Sebagaimana dalam risalah beliau (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) yang ditujukan kepada Raja Heraklius, yang dimuat dalam hadits riwayat Al-Bukhari Ni. 4553 dan Muslim No. 1773 dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang di risalah itu dimulai dengan:

بسم اللّه الرحمن الرحيم من محمد عبد اللّه ورسوله إلى هرقل عظيم الروم

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad hamba dan utusan Allah, kepada Heraklius pembesar Roma."

7. Seperti dalam hadits tentang khutbatul hajah, di mana Nabi (Shallallahu 'alaihi wa Sallam) memulai dengan mengucapkan:

إن الحمد للّه

"Segala puji hanya bagi Allah..."

Silakan lihat risalah Khutbatul Hajah yang ditulis oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (4) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (4).

Kaidah Keempat (القاعدة الرابعة).

Bahwa orang-orang musyrik di zaman kita ini lebih parah kesyirikannya daripada zaman kaum musyrikin terdahulu. Orang-orang musyrik di zaman dahulu hanya melakukan kesyirikan (menyekutukan Allah) saat dalam kondisi aman dan tenteram, dan mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala di saat kesulitan dan ketakutan. Adapun orang musyrik di zaman ini senantiasa melakukan kesyirikan, baik dalam kondisi aman dan tenteram maupun dalam kesulitan dan ketakutan.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dan tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)." (QS. Al-Ankabuut [29]: 65)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (3) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (3).

Kaidah Ketiga (القاعدة الثالثة).

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memerangi orang-orang yang menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan bermacam-macam peribadatan. Di antara mereka ada yang menyembah Malaikat, para Nabi dan orang shalih, bebatuan dan pepohonan, matahari dan bulan. Beliau memerangi mereka tanpa pandang bulu.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah (kesyirikan), dan agama (penyembahan) itu menjadi semata-mata milik Allah." (QS. Al-Anfaal [8]: 39)

Dalil yang melarang menyembah matahari dan bulan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sujud kepada matahari maupun bulan, tapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang hendak kamu sembah." (QS. Fushshilat [41]: 37)

Dalil yang melarang menyembah Malaikat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan dia (Nabi) tidak memerintahkan kalian untuk menjadikan para Malaikat dan Nabi sebagai sembahan." (QS. Ali 'Imraan [3]: 80)

Dalil yang melarang menyembah para Nabi adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan (ingatlah) ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?' Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (untuk mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan itu maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib." (QS. Al-Maaidah [5]: 116)

Dalil yang melarang menyembah orang-orang shalih adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya..." (QS. Al-Israa' [17]: 57)

Dalil yang melarang menyembah pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap laata dan uzza, dan manaat yang ketiga, yang terakhir (sebagai anak perempuan Allah)?" (QS. An-Najm [53]: 19-20)

Begitu juga hadits dari Abu Waqid Al-Laitsiy radhiyallahu 'anhu: "Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ke Hunain. Saat itu kami baru saja lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Orang-orang musyrik saat itu memiliki pohon bidara yang mereka kerap berlama-lama di sisi pohon tersebut dan menggantungkan senjata-senjata mereka di situ. Pohon tersebut dikenal dengan nama Dzatu Anwath (tempat menggantungkan). Tatkala kami melewati sebuah pohon bidara, kami berkata, 'Ya Rasulullah, jadikanlah buat kami pohon itu sebagai Dzatu Anwath sebagaimana orang-orang musyrik juga punya Dzatu Anwath.'" (Al-Hadits)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (2) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' (2).

Kaidah Kedua (القاعدة الثانية).

Orang-orang kafir dan musyrik yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam tersebut berkata, "Kami tidak berdoa kepada mereka (sembahan-sembahan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti Nabi, orang shalih, dan lain-lain) dan tidak pula menghadapkan wajah kami kepada mereka, kecuali supaya kami didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendapatkan syafaat mereka."

Dalil yang menjelaskan tentang harapan mereka agar didekatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.' Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang masalah yang mereka berselisih di dalamnya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur." (QS. Az-Zumar [39]: 3)

Adapun dalil yang menjelaskan tentang harapan mereka agar diberi syafa'at:

"Dan mereka menyembah sesuatu selain Allah yang sebenarnya tidak dapat mendatangkan mudharat ataupun manfaat kepada mereka dan mereka berkata, 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.'" (QS. Yunus [10]: 18)

Syafaat itu ada dua macam, yaitu syafa'at manfiyyah (yang ditolak) dan syafa'at mutsbatah (yang diterima).

Syafa'at manfiyyah (yang ditolak) adalah syafaat yang diminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hal yang tidak ada yang mampu memberikannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan dan tidak ada lagi syafaat. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah [2]: 254)

Syafa'at mutsbatah (yang diterima) adalah syafaat yang diminta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Syafi' (yang memberi syafaat) dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan hak untuk memberikan syafaat. Masyfu' lahu (orang yang diberi syafaat) adalah orang yang Allah Subhanahu wa Ta'ala ridhai perkataan dan perbuatannya, dan akan diberi syafaat yang diminta setelah adanya izin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana dalam firman-Nya, "Siapakah yang mampu memberikan syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya?" (QS. Al-Baqarah [2]: 255)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Matan Al-Qawa'id Al-Arba' | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Matan Al-Qawa'id Al-Arba'.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Saya memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb yang memiliki 'arsy yang agung agar senantiasa membimbingmu di dunia dan akhirat, dan menjadikanmu seorang yang menebar kebaikan di manapun engkau berada. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjadikanmu sebagai orang yang jika diberi akan bersyukur, jika diuji akan bersabar, dan jika berbuat dosa akan beristighfar (meminta ampun). Karena sesungguhnya tiga hal tersebut adalah tanda-tanda kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala selalu memberimu petunjuk dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya, bahwa sesungguhnya hakikat dari ajaran Hanafiyyah, agama Nabi Ibrahim 'alaihis salam adalah agar engkau beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan mengikhlaskan ibadah itu hanya untuk Dia semata. Hal ini sebagaimana firman-Nya, "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Jika engkau telah mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menciptakanmu agar engkau beribadah kepada-Nya maka sekarang ketahuilah, bahwa suatu ibadah tidak akan disebut ibadah yang sesungguhnya, kecuali dibarengi dengan tauhid, sebagaimana shalat tidak akan disebut shalat yang sesungguhnya, kecuali jika dibarengi dengan thaharah (bersuci). Jika kesyirikan masuk dalam sebuah ibadah maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana halnya jika hadats masuk dalam proses thaharah.

Jika engkau telah mengetahui bahwa kesyirikan apabila mencampuri sebuah ibadah akan merusak ibadah tersebut dan akan menghapusnya, serta menyebabkan pelakunya kekal di dalam Neraka, maka engkau akan mengetahui bahwa di antara yang wajib atasmu adalah mengetahui apa itu kesyirikan agar Allah Subhanahu wa Ta'ala membantumu untuk terbebas dari jeratannya. Syirik itu sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa' [4]: 116)

Engkau akan mengetahui hakikat syirik secara lebih jelas dengan memahami empat kaidah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan dalam Al-Qur'an, sebagai berikut:

Kaidah Pertama (القاعدة الاولى).

Ketahuilah, orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga mengakui bahwa Allah itu Maha Pencipta dan Maha Mengatur segala urusan. Namun pengakuan mereka itu tidaklah otomatis membuat mereka dianggap masuk ke dalam Islam. Dalilnya, firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) oendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?'" (QS. Yunus [10]: 31)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Muqaddimah Pensyarah (3) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Muqaddimah Pensyarah (3).

Allah Subhanahu wa Ta'ala pun memberikan kekuatan dan kemampuan kepada Imam Al-'Allamah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam berdakwah kepada manusia, mengajak mereka mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadah, dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Prinsip ini, sebagaimana yang telah dijelaskan, merupakan fondasi dakwah para Nabi 'alaihimus salaam.

Manusia ketika itu melakukan berbagai bentuk ibadah yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga sulit sekali bagi mereka untuk keluar dan meninggalkan sembahan mereka. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berusaha memerangi perbuatan mereka dan mengajak mereka ke jalan Allah. Beliau menyebarkan murid-muridnya di kalangan manusia untuk mengajak mereka kembali mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadahnya.

Beliau juga menulis berbagai karya tulis dan risalah, yang isinya disesuaikan dengan kondisi objek dakwah beliau kala itu. Di antaranya, beliau menulis Kitab At-Tauhid yang berisi dalil-dalil tentang kewajiban mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadah. Di dalam buku tersebut beliau menyebutkan berbagai contoh penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, disertai penjelasan dalil seputar pengkhususan Allah dalam ibadah. Di dalamnya beliau juga menyebutkan berbagai media yang dapat menjerumuskan ke dalam kesyirikan, sebagaimana yang terjadi di paruh pertama abad ke-10, agar tidak dilakukan lagi oleh manusia yang hidup di paruh kedua.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah juga menulis karya tulis lain yang umumnya berbentuk risalah kecil dengan kalimat-kalimat yang ringkas, namun sarat makna dan pelajaran. Ini dilakukan karena beliau menyesuaikan kondisi objek dakwahnya. Beliau kerap mengirimkan risalah tersebut kepada suatu kelompok, yang isinya sesuai dengan keadaan mereka.

Di antaranya karya tulis beliau yang lainnya adalah Al-Qawa'id Al-Arba' ini. Risalah ini memiliki faedah yang besar dan efek positif yang luas. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan nikmat bagi manusia dari zaman ke zaman, melalui perantaraan karya ini. Risalah Al-Qawa'id Al-Arba' pun sangat berperan dalam dakwah tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalamnya terdapat penjelasan mengenai berbagai syubhat (kerancuan) dalam masalah tauhid disertai bantahan terhadap syubhat tersebut.

Kami akan menyampaikan risalah ini dan memberikan ta'liqat (catatan-catatan khusus) di dalamnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Muqaddimah Pensyarah (2) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Muqaddimah Pensyarah (2).

Selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan menurunkan kepadanya sebuah kitab yang agung, yaitu Al-Qur'an yang mulia, yang di dalamnya terdapat petunjuk, penjelasan dan dalil-dalil yang qath'i (pasti) dan dapat diterima oleh akal sehat, serta mengajak untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, perintah yang pertama kali akan didapatkan oleh orang yang membaca Al-Qur'an adalah perintah dalam firman-Nya:

"Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 21)

Perintah dalam ayat ini merupakan seruan dan ajakan yang ditujukan kepada segenap manusia.

Di dalam ayat ini terdapat perintah untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam peribadatan. Di dalamnya juga terdapat dalil yang menunjukkan kewajiban pengesaan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di mana Dia adalah satu-satunya yang menciptakan manusia, baik manusia yang dijadikan objek perintah dalam ayat ini, maupun orang-orang sebelum mereka. Dengan demikian, manusia yang diciptakan hanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sudah selayaknya menunjukan ibadahnya juga hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata.

Selain itu, di dalam ayat ini juga terkandung penjelasan tentang manfaat yang akan dipetik oleh hamba yang mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadahnya, yaitu sebagaimana yang difirmankan-Nya, "...agar kamu bertakwa."

Setelah itu terdapat ayat-ayat berikutnya yang merupakan dalil penjelas tentang prinsip tauhid ini. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun mendakwahkannya hingga manusia menyambut seruannya secara berkelompok maupun individu.

Prinsip tauhid ini akhirnya menyebar di kalangan manusia. Mereka pun menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala saja. Namun, seiring perkembangan zaman, manusia mulai meremehkan berbagai perkara yang sebenarnya merupakan jalan menuju kesyirikan, yang Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dahulu telah menutup jalan-jalan tersebut. Akan tetapi, karena manusia meremehkannya, seiring berlalunya waktu manusia pun akhirnya menyembah yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di paruh kedua abad ke-10 Hijriyah, penyembahan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebar di berbagai belahan penjuru dunia, khususnya di negeri Arab. Manusia menujukan ibadah mereka kepada manusia lainnya, pepohonan, bebatuan dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa manusia atau benda-benda tersebut mampu mendatangkan manfaat dan menimbulkan mudharat, meskipun sebenarnya hanya Allah Subhanahu wa Ta'ala saja yang mampu melakukannya. Manusia menyembah benda-benda tersebut, disertai doa, rasa khauf (takut) dan raja' (pengharapan) serta shalat yang dilakukan ke arah atau di sisi benda itu.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Muqaddimah Pensyarah | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Muqaddimah Pensyarah.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kita memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya dan mengagungkan-Nya karena segala nikmat-Nya. Dia telah memberikan kita berbagai nikmat yang berantai dan kebaikan yang tidak terputus. Di antara nikmat terbesar yang telah diberikan-Nya adalah kita diberi-Nya hidayah untuk memeluk agama Islam, sebuah agama yang dibangun di atas pengesaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam peribadatan dan penyembahan. Terdapat banyak nash (dalil) yang menjelaskan bahwa ibadah adalah hak Allah 'Azza wa Jalla semata.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang berhak untuk diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, hanya Dia semata dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan shalawat dan keselamatan yang banyak bagi beliau, keluarga dan sahabat-sahabat beliau, serta orang yang mengikuti beliau sampai hari Kiamat.

Wa ba'du,

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan para hamba-Nya dalam kondisi hanif (berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala) dan menanamkan fitrah pada diri mereka, yang menjadikan mereka sebagai orang yang bertauhid dan menyembah Allah semata. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika menyebutkan bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan bahwa orang tuanya yang menjadikannya yahudi atau nashrani atau majusi (4), tidak menyebutkan "Islam" bersamaan dengan penyebutan agama lain. Hal ini dikarenakan Islamlah yang dimaksud dengan fitrah itu sendiri.

Setan pun berusaha menghadang manusia dan membelokkan jalan mereka dari fitrah (penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata) yang murni ini. Mereka menyesatkan manusia dengan berbagai cara dan upaya, yang terkadang dianggap manusia pada awalnya sebagai perkara mudah dan remeh. Namun pada akhirnya, seiring berjalannya waktu perkara-perkara yang remeh ini menyeret mereka masuk ke dalam perkara yang lebih besar, yang sangat mudah merasuk dalam hati manusia hingga mereka pun memalingkan peribadatan dan penyembahan mereka kepada yang selain Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena hal tersebut, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala pun mengutus para Rasul yang membawa kabar gembira dan peringatan, dalam rangkat mengajak manusia kembali mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ibadah mereka, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.'" (QS. An-Nahl [16]: 36)

Syirik dengan berbagai macamnya telah meliputi manusia sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits:

"Dan sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi, maka Dia pun membenci mereka, baik dari kalangan orang Arabnya maupun orang ajamnya, kecuali sebagian sisa-sisa ahli kitab." (5)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

4. HR. Al-Bukhari No. 1359 dan Muslim No. 2658 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah seorang anak dilahirkan, melainkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanya yang akan menjadikan anak tersebut yahudi, nashrani atau majusi, sebagaimana hewan ternak melahirkan hewan yang lengkap, apakah kalian melihatnya cacat?"

Kemudian Abu Hurairah membaca ayat:

"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus." (QS. Ar-Ruum [30]: 30)

5. Ini adalah potongan hadits riwayat Muslim No. 2865 dari 'Iyadh bin Himar Al-Mujasyi'i, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda dalam salah satu kesempatan khutbahnya,

"Ketahuilah, Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan kalian sesuatu yang kalian tidak ketahui, yang Dia ajarkan kepadaku hari ini. Dia berfirman, 'Setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal. Dan bahwa Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (mentauhidkan Allah). Kemudian setan-setan datang menghadang dan menyesatkan mereka dari agama tauhid mereka, dengan cara mengharamkan sesuatu yang Kuhalalkan bagi mereka. Para setan itu memerintahkan manusia untuk menyekutukan-Ku (berbuat syirik) dengan sesuatu yang tidak pernah Kuturunkan kekuasaan padanya.' Dan sesungguhnya Allah melihat penduduk bumi, maka Dia pun membenci mereka, baik dari kalangan orang Arabnya maupun orang ajamnya, kecuali sebagian sisa-sisa ahli kitab."

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Biografi Penulis Syaikhul Islam Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Biografi Penulis Syaikhul Islam Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. (3)

Nasabnya.

Beliau adalah Al-Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin Musyrif bin Umar dari keturunan Bani Tamim.

Kelahirannya.

Beliau dilahirkan di kota Uyainah tahun 1115 H di kalangan keluarga yang penuh dengan suasana ilmu, kemuliaan dan religius. Ayah beliau adalah seorang tokoh ulama besar dan kakek beliau adalah seorang alim di Nejd pada zamannya.

Masa pertumbuhannya.

Beliau telah menghafal Al-Qur'an sebelum berusia 10 tahun. Beliau mempelajari ilmu fiqh hingga menguasainya dengan penguasaan yang baik. Di antara kehebatan beliau yang mengagumkan orang tuanya adalah kekuatan hafalannya. Beliau banyak menelaah kitab-kitab tafsir dan hadits. Beliau bersungguh-sungguh menuntut ilmu sepanjang siang dan malam. Beliau pun menghafal matan-matan ilmiah dari berbagai disiplin ilmu.

Beliau mengadakan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu di berbagai penjuru Nejd dan juga kota Makkah, dan sempat belajar kepada banyak ulama di sana. Beliau juga merantau ke kota Madinah dan sempat belajar kepada ulama kota tersebut, seperti Al-Allamah Syaikh Abdullah bin Ibrahim Asy-Syammary dan anak beliau yang terkenal dalam ilmu waris, Syaikh Ibrahim Asy-Syammary, penulis kitab Al-Adzb Al-Faidh fi Syarh Alfiyah Al-Faraidh. Kedua Syaikh inilah yang memperkenalkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab kepada seorang ahli hadits terkenal, Syaikh Muhammad Hayah As-Sindy, sehingga beliau pun sempat belajar ilmu hadits dan rijalul hadits kepadanya dan Syaikh As-Sindy memberikan ijazah kepadanya untuk meriwayatkan hadits.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganugerahkan pemahaman yang cemerlang dan kecerdasan yang luar biasa kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau banyak menelaah ilmu, menulis banyak buhuts (tulisan mengenai berbagai masalah) dan buku. Beliau senantiasa menulis faedah-faedah ilmu yang terlintas di benaknya saat sedang membaca dan menulis buhuts, tanpa pernah bosan dalam melakukannya.

Beliau banyak menyadur faedah ilmu dari buku-buku Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmati keduanya. Sampai sekarang banyak naskah tulisan berharga yang beliau tulis dengan tinta penanya tersimpan di berbagai museum.

Setelah ayah beliau wafat, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pun bangkiy mendakwahkan dakwah salafiyyah yang menyerukan tauhid dan menghancurkan kemungkaran secara terang-terangan. Beliau memerangi ahli bid'ah dan orang-orang musyrik. Penguasa dari kalangan keluarga Su'ud mendukung usaha beliau sehingga bertambah kuatlah pengaruhnya dan semakin luas dakwahnya.

Karya Tulisnya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memiliki berbagai karya tulis yang bermanfaat, di antaranya:

1. Sebuah kitab yang agung dengan faedah yang besar: "كتاب التوحيد".

2. "كشف الشبهات".

3. "الكباءر".

4. "مختصر الإنصاف وشرح الكبير".

5. "مختصر زاد المعاد".

6. Kumpulan fatwa dan risalah beliau yang dikumpulkan jadi satu dan diberi judul "مجموعة موء لفات الإمام محمد بن عبد الوهاب" di bawah pengawasan Universitas Imam Muhammad bin Su'ud.

Wafatnya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah wafat pada tahun 1206 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepadanya rahmat yang luas dan membalas jasanya kepada Islam dan kaum Muslimin dengan sebaik-baiknya balasan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau semuanya.

Ditulis oleh:
Fahd bin Nashir bin Ibrahim As-Sulaiman.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuni dosa-dosanya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

3. Biografi ini disadur dan diterjemahkan oleh Muflih Safitra dari Kitab Syarah Kasyf Asy-Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan penerjemah mendapatkan izin terjemah dari anak Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Abdullah.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy (3) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (3).

Buhuts Ilmiah yang Dipublikasikan di Berbagai Jurnal Ilmiah:

1. "المصلحة عند لحنابلة" (Jurnal Al-Buhuts Al-Islamiyyah Darul Ifta').

2. "اراء الإمام ابن ماجه الأصولية" (Jurnal Al-Buhuts Al-Islamiyyah Darul Ifta').

3. "الاستد لال بالقدر المشترك" (Jurnal Universitas Imam).

4. "اراء الإمام البخاري الأصولية" (Jurnal Universitas Imam).

5. "التخريج بين الأصول والفروع" (Jurnal Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah Al-Mu'ashirah).

6. "تطبيق القواعد الأصولية على حكم الإسراف في الماء" (Jurnal Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah Al-Mu'ashirah).

7. "مقاصد الشريعة ووساءلها في المحافظة على ضرورة العرض" (Jurnal Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah Al-Mu'ashirah.

8. "الموء لفون في القواعد الفقهية في القرن" (14) (Jurnal Ad-Dir'iyyah).

9. "العلماء الذين لهم إسهام في أصول الفقه" (Jurnal Ad-Dir'iyyah).

10. "قياس العكس" (Jurnal Universitas Ummul Qura').

11. "القواعد الأصولية التي يمكن تطبيقها على بحوث الخلايا الجذرية" (Jurnal Majma' Fiqhy Makkah Al-Mukarramah).

12. "التأمين على رخصة القيادة" (Jurnal Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah Al-Mu'ashirah).

13. "تنظيم الفتوى" (Jurnal Majma' Fiqhy).

14. "المنتج البديل عن الوديعة" (Jurnal Majma' Fiqhy).

15. "القواعد الأصولية التي تطبق على الجراءم الحديثة" (Jurnal Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah Al-Mu'ashirah).

Partisipasi Ilmiah.

Syaikh Saad ikut berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan ilmiah, dengan mengajar, menjadi pembimbing dan penguji risalah ilmiah, menjadi juri dan pembicara dalam berbagai seminar, serta menjadi narasumber dalam banyak kajian, perkuliahan dan muhadharah lainnya. Di antara kegiatan beliau tersebut, yaitu sebagai berikut:

1. Mengajar di Universitas Imam untuk mata kuliah Ushul Al-Fiqh, Maqashid Asy-Syari'ah dan Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah di Fakultas Syari'ah, Ushul Ad-Din wa Ad-Da'wah.

2. Mengajar di Universitas Malik Su'ud untuk mata kuliah Mashadir Al-Ahkam, Fiqh Al-Usrah, Al-Mu'amalat Al-Maliyyah, Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah, Al-Mawarits wa Al-Washaya wa Al-Waqf dan Fiqh Al-Jinayat.

3. Mengajar di Knowledge International University (KIU) untuk mata kuliah Madkhal 'Ulum Al-Hadits, Fiqh Al-Ibadat, Fiqh Al-Usrah, Fiqh Al-Jihad wa Al-Ath'imah, Fiqh An-Nawazil, Qawa'id At-Tafsir, At-Tafsir Al-Fiqhiy.

4. Mengajar di Institut Ilmu Keamanan Nayef Al-Arabiyyah untuk mata kuliah Al-Qadha' dan At-Ta'zir.

5. Mengajar di Universitas Islam Madinah untuk mata kuliah Al-Ushul, Takhrij Al-Furu' dan Al-Furuq.

6. Menjadi pembimbing dan penguji risalah ilmiah di sejumlah universitas.

7. Menjadi pembicara dalam berbagai kajian, muhadharah umum dan daurah ilmiah.

8. Menjadi juri penelitian ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan dalam berbagai seminar dan jurnal ilmiah.

9. Menjadi narasumber dalam sejumlah stasiun TV, radio, surat kabar dan majalah.

10. Menjadi manajer proyek Knowledge International University (KIU).

11. Mengajar dan mengisi ceramah di berbagai masjid.

12. Mengisi ceramah dan kajian ilmiah di berbagai negara luar Kerajaan Arab Saudi. (2)

Seminar yang Pernah Diikuti.

Syaikh Saad pernah aktif mengikuti sejumlah seminar ilmiah, di mana beliau menjadi presenter penelitian berharga yang beliau ajukan, di antaranya:

1. "مقاصد الشريعة في محاربة الشاءعات
" (Institut Nayef - Shan'a).

2. "القواعد الأصولية التي تهم العامي في الغرب" (Kementerian Agama Islam KSA - Edinburgh).

3. "استنباط أحكام الجراءم الحديثة" (Institut Nayef - Riyadh).

4. "تغيير جنس الجنين وأثر الصبغات الوراثية في ذلك" (Kementerian Kesehatan KSA - Jeddah).

5. "معالجة العقم بالا ستنساخ" (Kementerian Kesehatan KSA - Jeddah).

6. "التوأم السيامي" (Majma' Fiqhy Makkah Al-Mukarramah).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

2. Seperti di Inggris, Bahrain, Malaysia, Singapura, dan lainnya, termasuk di Masjid Istiqlal Jakarta, Masjid Kampus UGM Jogjakarta dan daurah khusus para da'i di Bogor dan Surabaya pada pertengahan bulan Sya'ban 1434 H/ akhir Juni 2013, -pent.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy (2) | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (2).

Di antara hasil karya tulis ilmiah beliau:

Buku yang banyak dan mencakup berbagai topik aqidah, hadits, fiqh, ushul, akhlaq dan masalah lainnya:

1. المسابقات في الشر يعة الإ سلامية

2. التقليد وأحكامه في الشر يعة

3. عقد الإ يجار المنتهي بالتمليك

4. القطع واظن عند الأصوليين

5. تقسيم الشر يعة إلى أصول وفرو ع

6. قوادح الاستد لال بالإ جماع

7. مختصر صحيح البخاري

8. التفريق بين الأصول والفرو ع

9. مقدمة في مقاصد الشر يعة

10. عبادات الحج

11. شرح الورقات

12. أخلاقيات الطبيب المسلم

13. مفهوم الغذاء الحلال

14. حقيقة الإ يمان وبدع الإ رجاء في القديم والحديث

15. حكم زيارة أماكن السيرة

16. اراء الصوفية في أركان الإ يمان

17. شرح المنظومة السعدية في القواعد الفقهية

18. القواعد الأ صولية المتعلقة بالمسلم غير المجتهد

19. الطرق الشرعية لإ نشاء المباني الحكومية

20. العلماء الذين لهم إسهام في الأصول والقواعد الفقهية

21. شرح أصول العكبري

22. شرح مختصر ابن اللحام في الأصول

23. شرح بلوغ المرام

24. شرح عمدة الأحكام

25. شرح المختصر في أصول الفقه

26. شرح كتاب قواعد الأصول

27. شرح رسالة في أصول الفقه

28. المصلحة عند الحنابلة

29. الأصول والفروع حقيقتهما والأحكام المتعلقة بهما

30. شرح مقدمة التفسير

31. أدب الحوار

32. الأصول والفروع حقيقتهما وأحكامهما

33. مذ كرة في علم الأصول

34. شرح الأصول من علم الأصول لابن عثيمين

35. شرح الأربعين النووية

36. شرح مختصر الروضة للطوفي

37. فتح رب السماء في تخر يج أذكار الصباح والمساء

38. قياس العكس

39. القواعد الأصولية المنظمة لبحوث الخلايا الجذعية

40. تحقيق روضة الناظر لابن قدامة ومعه نزهة الخاطر العاطر لابن بدران

41. تحقيق وتنسيق المطالب العالية لابن حجر

42. تحقق سنن ابن ماجة

43. تحقيق مصنف ابن أبي شينة

44. اراء الإمام ابن ماجة الأصولية

45. الاستد لال بالقدر المشترك

46. اراء الإمام البخاري الأصولية

47. التخريج بين الأصول والفروع

48. تطبيق القواعد الأصولية على حكم الإسراف في الماء

49. مقاصد الشريعة ووساءلها في المحافظة على ضرورة العرض

50. المنتج البديل عن الوديعة (المجمع الفقهي)

51. بطان قات التخفيض

52. استنباط أحكام الجراءم الحديثة

53. الرعاية الشرعية للسجناء

54. الضوابط الشرعية لبحوث الجينات الاستنساخ

55. معالجة العقم بالاستنساخ

56. تغيير جنس الجنين وأثر الصبغات الوراثية في ذلك

57. التقنية الحيوية: مشرو عيتها وضوابطها الشرعية

58. احكام الجراحة الطبية

59. فقه الصيام

60. فقه المناسك

61. مشكلات من الحياة

62. شرح متون العقيدة

63. حياة القلوب

64. شرح رسالة في أصول الففه للسعدي

65. شرح نور البصاءر الألباب

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Biografi Pensyarah Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah. (1)

Nama dan Nasab.

Beliau adalah Saad bin Nashir bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdul Aziz bin Ibrahim bin Hamd bin Muhammad Asy-Syatsri. Keluarga beliau bernasab kepada kabilah Qahthan.

Rekam Jejak Keilmuan.

Dr. Saad bin Nashir bin Abdul Aziz Abu Habib Asy-Syatsri tumbuh di kalangan keluarga yang penuh dengan suasana ilmu dan agama karena ayah dan kakek beliau. Sejak masa kecilnya beliau sangat perhatian dan fokus dalam menuntut ilmu syar'i. Proses menuntut ilmu tersebut terus berlanjut hingga beliau menyelesaikan studinya di universitas, di fakultas syari'ah di kota Riyadh, sampai beliau ditunjuk sebagai salah satu dosen bantu di sana.

Beliau menempuh strata magister dan menyelesaikannya dengan sebuah thesis yang berjudul "التفريق بين الأصول والفرو ع" (At-Tafriq Bainal Ushul wal Furu') serta meraih gelar doktor pada tahun 1417 H dengan disertasi yang berjudul "القطع والظن عند الأصوليين" (Al-Qath'u wazh Zhannu 'indal Ushuliyyin).

Beliau mendapatkan rekomendasi dalam keilmuannya dari sejumlah ulama seperti Syaikh Bin Baaz, Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz Ar-Rajhi, Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzan, Syaikh Abdullah Al-Barrak dan lainnya.

Beliau meraih banyak ijazah ilmiah dalam periwayatan kutub as-sunnah dari sejumlah ulama seperti Syaikh Abdullah Al-'Aqil.

Masyaikh dan Guru Beliau.

Syaikh Saad pernah menimba ilmu dari sejumlah ulama dan masyaikh terkemuka, serta memberikan pengaruh yang luar biasa dari mereka pada diri beliau. Di antara guru beliau yang paling banyak memberikan teladan pada beliau:

* Syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah.

* Syaikh yang mulia Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh, Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Ketua Haiah Kibaril Ulama (Dewan Ulama Senior) dan Ketua Haiah Buhuts Ilmiyyah wa Al-Ifta' (Dewan Penelitian Ilmiah dan Fatwa).

* Fadhilah Asy-Syaikh Shalih Al-Athram.

* Fadhilah Asy-Syaikh Ahmad bin Ali Sir Al-Mubaraky, anggota Haiah Kibaril Ulama.

* Syaikh yang ahli dalam ilmu ushul, Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah yang Syaikh Saad sempat belajar darinya ilmu Ushul Al-Fiqh dan Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah.

* Ayah beliau sendiri, Syaikh Nashir bin Abdul Aziz bin Muhammad Asy-Syatsriy.

Rekam Jejak Pekerjaan dan Organisasi.

1. Dosen bantu Fakultas Syari'ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh tahun 1409 H.

2. Dosen Fakultas Syari'ah Universitas Islam Muhammad bin Su'ud, Riyadh tahun 1414 H.

3. Assistant Professor Fakultas Syari'ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh tahun 1418 H.

4. Associate Professor Fakultas Syari'ah Universitas Islam Imam Muhammad bin Su'ud, Riyadh tahun 1422 H.

5. Anggota Haiah Kibaril Ulama dengan predikat mumtaz tahun 1426-1431 H.

6. Anggota dosen tetap Fakultas Al-Huquq wa Al-'Ulum As-Siyasiyyah Universitas Malik Su'ud tahun 1434 H.

Karya Ilmiah.

Syaikh Saad memiliki sejumlah besar kitab dan buhuts (penelitian dalam beragam masalah) yang ikut memperkaya koleksi perpustakaan ilmiah, khususnya dalam bidan ilmu agama Islam.

Beliau juga mengisi berbagai daurah ilmiah musim panas dan daurah intensif yang diselenggarakan di berbagai masjid, serta menguji dalam seminar tugas akhir magister dan doktoral.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Catatan Kaki:

1. Biografi ini disadur dan diterjemahkan oleh Muflih Safitra dari website pribadi Syaikh: www.alshathri.net/Pages/2/سيرة-الشيخ

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Muqaddimah Penerjemah | Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah).

Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama).

Muflih Safitra.

Muqaddimah Penerjemah.

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan para ulama sebagai pewaris para Nabi, yang dari mereka umat Islam bisa menimba ilmu agamanya dengan keyakinan yang lebih mendekati kebenaran. Dengannya syari'at agama ini, khususnya masalah tauhid, bisa dipahami dan dijalankan sebagaimana yang diinginkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya.

Di antara para ulama yang banyak memiliki jasa kepada Islam dan kaum Muslimin adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah. Biografi mereka yang ada di dalam buku ini seakan memberikan gambaran kepada pembacanya bahwa usaha yang mereka kerahkan demi menjaga kemurnian agama Islam ini sangatlah besar, di antaranya melalui karya tulis mereka yang sangat banyak.

Salah satu karya tulis mereka yang memiliki faedah yang sangat berharga adalah buku yang ada di tangan pembaca ini. Al-Qawa'id Al-Arba' yang ditulis Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah risalah yang berisi empat kaidah penting dalam memahami kesyirikan. Di dalamnya penulis memaparkan bantahan terhadap syubuhat (kerancuan) yang kerap dilontarkan orang-orang berjubah Islam yang berbuat syirik, sebagai upaya membenarkan kesyirikan yang mereka lakukan. Kemudian Syaikh Saad Asy-Syatsriy dalam salah satu majelis beliau di masjid ayahnya, Jami' Nashir Asy-Syatsriy di kota Riyadh, mensyarah risalah tersebut dan memberikan ta'liqat pada poin yang dianggap penting, sehingga lebih mudah dipahami dan lebih luas faedah ilmu yang bisa dipetik darinya.

Syaikh memberikan izin tertulis kepada penerjemah untuk menerjemahkan dan mencetak beberapa kitab beliau dalam bahasa Indonesia, di antaranya Syarah Mutun Al-Aqidah yang memuat syarah beliau untuk risalah Al-Qawa'id Al-Arba'. Selanjutnya melalui pesan singkat, penerjemah meminta izin beliau untuk mencetak Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' secara terpisah dari kitab aslinya dan beliau mengabulkannya.

Dalam terjemahan ini, penerjemah melakukan beberapa hal sebagai berikut:

1. Menerjemahkan bagian ketiga kitab Syarah Mutun Al-Aqidah, yaitu Syarah Al-Qawa'id Al-Arba'.

2. Menjelaskan sebagian kalimat yang sulit dengan memberikan makna penjelasnya dalam kurung (..., -pent) ataupun catatan kaki.

3. Mencantumkan takhrij untuk hadits yang tidak disebutkan takhrijnya pada kitab asli.

4. Mencantumkan referensi tambahan untuk masalah tertentu yang butuh untuk diketahui maknanya, namun tidak dijelaskan oleh pensyarah pada kitab asli.

5. Menerjemahkan biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (disadur dari Syarah Kasyf Asy-Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin) dan Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (disadur dari website pribadi beliau).

6. Membagi buku terjemahan ini menjadi dua bagian: (1) Terjemah utuh matan Al-Qawa'id Al-Arba' (diletakkan di bagian awal buku) dan (2) Terjemah syarahnya. Ini dimaksudkan agar orang yang membacanya terlebih dahulu memiliki gambaran sempurna tentang isi matan aslinya sebelum ia membaca syarahnya. Dengan begitu si pembaca akan lebih cepat memahami maksud penulis dan pensyarah, sehingga proses belajar pun lebih mudah. Demikian saran salah satu dosen di Universitas Malik Su'ud.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan usaha penulis, pensyarah dan penerjemah dalam buku ini sebagai amal yang ikhlas untuk Dia semata, tanpa tercampuri ketamakan terhadap dunia.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan buku ini bermanfaat dalam membentengi kaum Muslimin dari kesyirikan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mematikan kita semua dalam husnul khatimah dan memasukkan kita ke dalam Surganya kelak, amin.

Balikpapan, Jumadits Tsaniyah 1436 H (April 2015).

Muflih Safitra.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba' (Syarah Mutun Al-Aqidah), Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, Penulis Syarah: Syaikh Saad bin Nashir Asy-Syatsriy hafizhahullah (Dewan Penasihat Kerajaan Saudi Arabia dan Mantan Anggota Haiah Kibaril Ulama), Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Syarah Al-Qawa'id Al-Arba', Penerjemah: Muflih Safitra, Penerbit: Naashirussunnah, Jakarta - Indonesia, Cetakan ke-1, Rabi'ul Akhir 1437 H/ Februari 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang. Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Penutup | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ketiga.

Ma'rifatun Nabi.
Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dalil (tentang wajibnya menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah dan wajibnya mengkufuri thaghut) adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, "Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. 1) Sesungguhnya telah jelas kebenaran dari kesesatan. Karena itu, barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, 2) maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang kuat. 3)" (Al-Baqarah [2]: 256). Ini adalah makna dari La Ilaha Illallah (tiada ilah selain Allah).

Dalam sebuah hadits (69) disebutkan (bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda), "Kepala (pokok) segala urusan adalah Islam, 4) tiangnya adalah shalat, 5) dan 'puncak punuk'nya adalah jihad fi sabilillah. 6)"

Wallahu a'lam, Allahlah yang lebih tahu. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, keluarga, serta para sahabatnya. 7)

Syarah:

1) Tidak ada paksaan dalam memeluk agama (Islam), karena telah tampak jelas dan gamblang dalil atau buktinya. Karena itulah, selanjutnya Allah mengatakan, "Sesungguhnya telah jelas kebenaran dari kesesatan." Jika kebenaran itu telah jelas dari kesesatan, maka setiap jiwa yang sehat pasti memilih kebenaran ketimbang kesesatan.

2) Allah 'Azza wa Jalla sengaja mendahulukan penyebutan kufur kepada thaghut sebelum penyebutan iman kepada Allah, karena di antara kesempurnaan sesuatu adalah dihilangkannya berbagai penghalang sebelum adanya ketetapan-ketetapan. Oleh karena itu, dalam pepatah dikatakan, "Mengosongkan dahulu sebelum menghiasi."

3) Yaitu, benar-benar berpegang teguh dengannya secara sempurna. Sedangkan yang dimaksud dengan al-'urwatul wutsqa 'tali yang kuat' adalah Islam. Perhatikan firman Allah "Faqad istamsaka" (Benar-benar telah berpegang teguh), bukan sekedar mengatakan, "Tamassaka" karena istimsak artinya (berpegang erat, berpegang teguh) itu lebih kuat daripada tamassuk (memegang). Karena adakalanya seseorang itu memegang namun tidak berpegangan erat.

4) Penulis rahimahullah mengambil dalil berdasarkan hadits ini dengan maksud segala sesuatu itu mempunyai "kepala"; dan kepala (pokok) segala urusan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah Islam.

5) Karena Islam tidak bisa berdiri kecuali dengan shalat. Karena itu, pendapat yang kuat adalah yang menyatakan tentang kufurnya orang yang meninggalkan shalat, dan bahwasanya ia tidak punya keIslaman.

6) Maksudnya, bagian Islam yang paling tinggi dan paling sempurna adalah jihad fi sabilillah. Karena manusia itu jika telah memperbaiki (meng-ishlah) dirinya, maka ia akan berusaha meng-ishlah orang lain dengan jihad fi sabilillah agar Islam itu berdiri tegak dan agar kalimat Allah saja yang tinggi, maka dia fi sabilillah (berada di jalan Allah). Jihad itu menjadi 'puncak punuk'-nya Islam karena dengan jihad itulah Islam menjadi tinggi di atas yang lainnya.

7) Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah menutup kitabnya ini dengan mengembalikan ilmu kepada Allah 'Azza wa Jalla dan dengan memohonkan shalawat dan salam atas Nabi-Nya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dengan ini, selesailah sudah kajian tentang Al-Ushuluts Tsalatsah serta hal-hal yang terkait dengannya. Kita memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla agar berkenan memberikan pahala yang terbaik kepada penulis buku ini, dan juga berkenan memperuntukkan kepada kita bagian dari pahala tersebut serta mengumpulkan kita dan beliau di negeri kemurahan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Pemurah.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dedengkot-dedengkot thaghut (6) | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ketiga.

Ma'rifatun Nabi.
Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan tentang orang-orang yang menjadikan orang-orang alim (ahbar) mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, bahwa mereka itu terbagi menjadi dua kategori:

a. Orang-orang yang mengetahui bahwa para ulama dan rahib-rahib tersebut mengganti agama Allah, namun orang-orang itu tetap saja mengikuti mereka terhadap tindakan mengganti agama Allah itu serta meyakini kehalalan sesuatu yang diharamkan oleh Allah dan keharaman sesuatu yang dihalalkan oleh-Nya, demi mengikuti pemimpin-pemimpinnya, sedang orang-orang itu tahu bahwa mereka itu telah menyalahi agama para Rasul; maka yang semacam itu merupakan kekufuran, bahkan Allah dan Rasul-Nya telah menyatakan hal itu sebagai bentuk kesyirikan.

b. Orang-orang yang juga punya keyakinan tetap tentang penghalalan sesuatu yang diharamkan (oleh Allah) dan pengharaman yang dihalalkan, akan tetapi orang-orang ini menaati mereka dalam bermaksiat kepada Allah sebagaimana tindakan seorang Muslim yang melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang memang ia yakini sebagai kemaksiatan; maka orang-orang seperti ini dihukumi sebagaimana para ahli dosa.

Ada perbedaan antara masalah-masalah yang dapat dikategorikan sebagai pensyariatan (legislasi) yang bersifat umum dengan masalah yang bersifat spesifik, yang disitu seorang qadhi (hakim) menghukumi dengan selain hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Sebab masalah-masalah yang tidak bisa dikategorikan sebagai pensyariatan yang bersifat umum itu tidak bisa dibagi sebagaimana di atas. Hanyasanya hal itu termasuk dalam kategori bagian pertama saja, karena orang yang membuat pensyariatan yang menyelisihi Islam itu, sudah tentu ia melakukan karena keyakinannya bahwa hal itu lebih membawa kemaslahatan daripada Islam, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia; sebagaimana yang telah dikemukakan di depan.

Masalah ini, yaitu masalah menghukumi dengan selain hukum yang diturunkan oleh Allah, termasuk masalah-masalah besar yang menimpa para penguasa di zaman ini. Oleh karena itu, siapa saja jangan sampai terburu-buru meminta putusan hukum kepada mereka dalam persoalan yang tidak menjadi hak mereka, sampai kebenaran itu menjadi jelas baginya. Sebab, masalah ini cukup rawan dan berbahaya. Kita memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla kiranya berkenan memperbaiki para penguasa kaum Muslimin. Demikian juga, setiap orang yang diberi ilmu oleh Allah 'Azza wa Jalla agar menjelaskan hal ini kepada para penguasa agar mereka mendapatkan hujah dan tujuan pun menjadi jelas; sehingga orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata, dan orang yang hidup pun hidupnya dengan keterangan yang nyata pula. Jangan sampai orang yang berilmu itu merasa rendah diri untuk memberikan penjelasan mengenai hal ini dan jangan sampai takut kepada seorang pun dalam melakukan hal ini. Karena sesungguhnya 'izzah (kemuliaan, keperkasaan) itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang yang beriman.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dedengkot-dedengkot thaghut (5) | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ketiga.

Ma'rifatun Nabi.
Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Apakah ketiga sifat ini ditujukan kepada seorang yang disifati saja; dalam arti bahwa setiap orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang diturunkan oleh Allah, berarti dia kafir, zalim dan fasik sekaligus? Sebab, Allah 'Azza wa Jalla mensifati orang-orang kafir itu dengan sifat zalim dan fasik! Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"...dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim." (Al-Baqarah [2]: 254)

Allah juga berfirman:

"...sesungguhnya mereka itu telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik." (At-Taubah [9]: 84)

Sehingga setiap orang yang kafir itu berarti zalim dan fasik. Atau apakah sifat-sifat ini ditujukan kepada beberapa orang yang disifati sesuai dengan penyebab mereka untuk tidak berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah? Menurut saya, ini yang lebih bisa diterima (benar). Wallahu a'lam.

Dengan demikian, kami dapat mengatakan, "Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah karena meremehkannya, atau merendahkannya, atau karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat (baik) daripada hukum Allah, serta lebih bermanfaat bagi umat manusia, atau dengan alasan-alasan lain yang semisal, maka dia berarti kafir dalam bentuk kekufuran yang mengeluarkan dirinya dari agama (murtad). Di antara kategori mereka itu adalah orang yang membuat perundang-undangan buat manusia, yang menyelisihi perundang-undangan Islam, dengan tujuan agar perundang-undangan yang dibuat itu menjadi manhaj yang dipakai oleh umat manusia; maka sebenarnya mereka itu tidak membuat perundang-undangan yang menyelisihi syariat Islam melainkan mereka itu berkeyakinan bahwa hal itu lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi umat manusia. Sebab, sudah pasti dapat dimaklumi oleh akal sehat dan tabiat fitrah, bahwa manusia itu tidak akan mau berpaling dari satu manhaj menuju manhaj lain yang menyelisihinya, kecuali karena ia menyakini akan kelebihan manhaj yang ia pilih dan kekurangan manhaj yang ia tinggalkan.

Siapa yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah, namun ia tidak meremehkan dan merendahkan hukum Allah ini, serta tidak menyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat bagi dirinya daripada hukum Allah ini, maka berarti ia zalim, bukan kafir. Tingkatan-tingkatan kezalimannya itu sesuai dengan yang dihukumkan (hukum yang diberlakukan) dan perangkat hukumnya.

Orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah, bukan karena meremehkan hukum Allah, bukan karena merendahkannya, dan juga bukan karena meyakini bahwa hukum lainnya lebih bermaslahat dan lebih bermanfaat bagi manusia dan semisalnya; namun, hanyasanya ia menghukumi dengan selain hukum Allah itu karena memihak pihak yang dimenangkan dalam perkara hukumnya, atau karena terkait dengan suap, atau jenis-jenis materi duniawi lainnya, maka dia berarti fasik, bukan kafir. Tingkat kefasikannya itu berbeda-beda sesuai dengan hukum yang diberlakukan serta perangkat-perangkat hukumnya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Dedengkot-dedengkot thaghut (4) | Syarah Tsalatsatul Ushul

Syarh Tsalaatsatil Ushuul.

Syarah Tsalaatsatul Ushuul.
Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam.
Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim.

Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah.

Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman.

Syarah Tsalatsatul Ushul.

Ketiga.

Ma'rifatun Nabi.
Mengenal Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Allah 'Azza wa Jalla mensifati mereka yang mengaku beriman sedangkan sebenarnya mereka itu munafik, dengan beberapa sifat:

Pertama: Bahwa mereka menginginkan agar berhukum itu kepada thaghut; yaitu setiap hukum yang menyelisihi hukum Allah 'Azza wa Jalla dan hukum Rasul-Nya. Sebab, setiap yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya itu merupakan kezaliman dan perlawanan terhadap hukum Allah, Dzat pemilik kekuasaan hukum dan hanya kepada-Nya dikembalikan segala urusan. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Ingatlah, mencipta dan memerintah hanyalah wewenang Allah." (Al-A'raf [7]: 54)

Kedua: Ketika mereka diseru untuk tunduk kepada hukum yang telah diturunkan oleh Allah dan kepada hukum Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), maka mereka menolak dan berpaling.

Ketiga: Jika mereka mendapatkan musibah yang sebenarnya disebabkan oleh perbuatan tangan mereka sendiri -di antaranya, tertimpa oleh perbuatan mereka sendiri-, maka mereka kemudian datang untuk bersumpah bahwa mereka tidak menginginkan sesuatu melainkan penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna, seperti pernyataan orang sekarang yang menolak hukum-hukum Islam dan memilih menghukumi dengan aturan-aturan atau undang-undang yang menyelisihi hukum Islam, dengan mengemukakan alasan dan anggapan bahwa hal itu merupakan bentuk penyelesaian terbaik yang sesuai dengan kondisi aman.

Selanjutnya, Allah 'Azza wa Jalla memperingatkan mereka yang mengaku beriman namun memiliki sifat-sifat seperti itu, bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka serta apa saja yang mereka simpan dalam hati, berupa hal-hal yang berbeda dengan yang mereka katakan. Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menasihati mereka dan mengatakan perkataan yang menyasar pada jiwa mereka. Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa hikmah diutusnya Rasul itu adalah agar Rasul itu ditaati dan diikuti, bukannya mengikuti manusia lain sekalipun mempunyai pemikiran-pemikiran yang handal dan wawasan yang luas. Setelah itu, Allah bersumpah dengan rububiyah-Nya terhadap Rasul-Nya yang merupakan bentuk rububiyah yang paling khusus, dan hal itu mengandung isyarat atau petunjuk akan kebenaran risalah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Di situ Allah bersumpah dengan bentuk sumpah yang sangat dikuatkan bahwasanya keimanan itu tidak bisa sah kecuali dengan tiga perkara.

1. Dalam setiap perselisihan yang ada harus berhakim kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

2. Harus berlapang dada dalam menerima hukum (putusan) Rasulullah (Shallallahu 'alaihi wa Sallam), dan di dalam hati tidak terdapat rasa keberatan dalam menerimanya.

3. Harus pasrah atau tunduk dalam menerima apa yang dihukumkan oleh beliau, serta menunaikannya tanpa melakukan penyimpangan.

Untuk bagian yang kedua (tentang ayat-ayat yang menyatakan kekufuran, kezaliman serta kefasikan orang yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah) adalah seperti firman Allah 'Azza wa Jalla:

"... Barangsiapa yang tidak menghukumi berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir." (Al-Ma`idah [5]: 44)

"... Barangsiapa yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah ditentukan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim." (Al-Ma`idah [5]: 45)

"Barangsiapa yang tidak menghukumi dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka adalah orang-orang yang fasik." (Al-Ma`idah [5]: 47)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Syarh Tsalaatsatil Ushuul, Penulis Matan: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah, Penulis Syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, Penyusun: Syaikh Fahd bin Nashir bin Ibrahim as-Sulaiman, Penerbit: Darul Tsarya, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan III, Tahun 1997 M, Judul Terjemahan: Syarah Tsalaatsatul Ushuul (Mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, Penjelasan Singkat Tentang Ilmu-ilmu yang Wajib Diketahui Setiap Muslim), Penerjemah: Hawin Murtadlo, Salafuddin Abu Sayyid, Editor: Muhammad Albani, Penerbit: Al-Qowam, Sukoharjo - Indonesia, Cetakan XIII, Maret 2016 M.

===

Wakaf dari Ibu Anny - Jakarta untuk Perpustakaan Baitul Kahfi Tangerang.
Semoga Allah menjaganya dan memudahkan segala urusan kebaikannya.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah