Bolehkah berdo'a agar panjang umur?

Memahami tujuan hidup

Bolehkah berdo'a agar panjang umur?

'Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian membolehkannya, sebagian lagi melarang.

Yang melarang berdalil dengan hadits riwayat Ummu Habibah radhiyallaahu 'anha, salah seorang isteri Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ia pernah berdo'a, "Ya Allah! Bahagiakanlah aku dengan menjadi isteri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, juga dengan Abu Sufyan dan saudaraku Mu'awiyah." Mendengar itu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh engkau telah meminta pada Allah ajal yang telah ditentukan, hari-hari yang telah ditetapkan, dan rizqi yang telah terbagi. Sesuatu tak akan dipercepat sebelum waktunya, juga tak akan ditangguhkan melebihi waktunya. Seandainya engkau mohon kepada Allah agar engkau terhindar dari adzab Neraka atau adzab kubur, niscaya itu lebih baik dan lebih utama." (17)

Imam an-Nawawi rahimahullaah mengomentari hadits ini bahwa dari hadits ini diketahui tidak bolehnya berdo'a agar dipanjangkan umurnya. Namun jik ada yang bertanya: Apakah hikmah dari larangan berdo'a panjang umur? Mengapa pula memohon terhindar dari adzab kubur lebih disukai? Jawaban kedua pertanyaan itu adalah bahwa umur sudah ditetapkan, namun berdo'a agar terhindar dari adzab api Neraka dan adzab kubur adalah 'ibadah. Syari'at memerintahkan kita beribadah.

Ada lagi yang bertanya: Bukankah kita bertawakkal terhadap segala ketentuan Allah? Jawabannya: Berbuatlah! Karena segala sesuatu telah dimudahkan urusannya.

Berdo'a panjang umur tidak termasuk 'ibadah. Seperti halnya, tidak baik meninggalkan shalat, puasa, dan dzikir hanya karena bertawakkal ats taqdir Allah. Wallahu a'lam. (18)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah meriwayatkan, seorang pria pernah berkata kepada Khalifah 'Umar bin 'Abdul 'Aziz rahimahullaah, "Semoga Allah memanjangkan umur engkau!" 'Umar bin 'Abdul 'Aziz menjawab, "Itu sudah menjadi ketentuan. Do'akanlah kebaikan untukku." (19)

Syaikh Bakr Abu Zaid mengutip perkataan al-Asfarayini tentang hukum mengucapkan "Semoga Allah memanjangkan umurmu." Bahwa ungkapan itu tidak lazim dalam adat yang berlaku pada kami."

'Abdullah bin Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullaah pernah bercerita, "Aku perhatikan ayahku jika dido'akan 'Semoga Allah memanjangkan umurmu' maka ia tidak menyukainya. Alasannya, hal itu sudah ditetapkan."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah juga berpandangan bahwa perbuatan itu dibenci. Pendapat ini dikuatkan oleh Imam Ahmad dan 'ulama-'ulama hadits lainnya rahimahumullaah. Mereka berargumen dengan hadits Ummu Habibah radhiyallaahu 'anha, seperti disebutkan terdahulu. (20)

Imam an-Nawawi rahimahullaah dalam kitab al-Adzkar menulis satu bab berjudul "Hukum mengucapkan: Semoga Allah memanjangkan umur." Disebutkan pula bahwa hal itu tidak disukai.

Abu Ja'far an-Nahhas, dalam kitabnya Shina'ah al-Kitab, menyebutkan bahwa sebagian 'ulama membenci hal itu. Sebagian 'ulama lagi memperbolehkan.

Isma'il bin Ishaq berkata, "Yang pertama kali mengucapkan 'Semoga Allah memanjangkan umurmu' adalah orang-orang zindiq (kufur)."

Hammad bin Salamah mengisahkan, kebiasaan kaum Muslimin jika hendak menulis sepucuk surat, mereka menulis kata-kata pembukaan berbunyi: "Dari fulan bin fulan. Semoga keselamatan tercurah untukmu. Sesungguhnya hanya kepada Allah aku memuji. Tak ada Rabb selain Dia. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad." Namun seiring dengan perjalanan waktu orang-orang zindiq menambahkan kata-kata "Semoga Allah memanjangkn umurmu." (21)

Namun, Ibnu Allan mengomentari pandangan Imam an-Nawawi di atas. Menurutnya, do'a itu tidak mengapa jika ditujukan untuk 'ulama, penguasa yang adil, dan kerabat terdekat. Namun tidak disukai bagi orang-orang selain mereka, bahkan hukumnya haram. (22)

Bersambung...

===

(17) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Fath ar-Rabbani 8/122, kitab Shahiih Muslim 16/212, Imam Ibnu Abi Ashim dalaam kitaab as-Sunnah 1/116.

(18) Kitab Shahiih Muslim Syarh an-Nawawi 16/213

(19) Kitab Hilyah al-Auliya wa Thabaqah al-Ashfiya', Imam Abu Nu'aim, 6/392.

(20) Kitab Mu'jam al-Manaahi al-Lafdziyah, Syaikh Bakr Abu Zaid, halaman 20. Hal ini juga disebutkan oleh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam kitab al-Adab asy-Syar'iyyah 1/409.

(21) Kitab al-Adzkar, Imam an-Nawawi, halaman 570.

(22) Kitab Futuhaat Rabbaniyah 'ala al-Adzkar an-Nawawiyah 7/122.

===

Sumber:
Kitab: Kaifa Tu-thilu 'Umruka al-Intaajii, Penyusun: Muhammad bin Ibrohim an-Nu'aim, Pengantar: Syaikh Dr. Sholih bin Ghonim as-Sadlan, Syaikh 'Abdurrohim bin Ibrohim al-Hasyim, Penerbit: Daar adz-Dzakhoir, Dammam - Arob Saudi, Cetakan ke-3, Tahun 1422 H, Judul terjemah: Manajemen Umur, Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia, Penerjemah: M. Yasir 'Abdul Muthalib Lc, Penerbit: Pustaka at-Tazkia, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Robi'ul Awwal 1426 H/ Mei 2005 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah