Bolehkah berdo'a agar panjang umur? (2)
Argumen para 'ulama yang membolehkan do'a ini, adalah sebagai berikut:
Ibnu Hajar rahimahullaah berpendapat, seseorang diperbolehkan berdo'a panjang umur. Sebagaimana disebutkaan dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahiih-nya yang bersumber dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu: "Ibuku berkata, 'Wahai Rasulullah, do'akanlah untuk pembantumu Anas bin Malik.' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a:
اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ
'Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, berikanlah keberkahan terhadap apa yang Engkau berikan padanya.'" (23)
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam at-Tirmidzi rahimahumullaah. Tetapi dalam hadits ini tidak ditemukan lafazh "dipanjangkan umurnya". Namun, Imam al-Bukhari menulis satu bab khusus mengenai hal ini, yaitu: Bab Do'a Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk Pembantunya Agar Diperpanjang Umurnya dan Diperbanyak hartanya.
Ibnu Hajar menjelaskan alasan penetapan bab khusus oleh Imam al-Bukhari, walaupun tak ada kata panjang umur, yaitu bahwa do'a Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk Anas radhiyallaahu 'anhu agar diperbanyak keturunannya secara langsung terkait dengan panjang umur. Dengan banyaknya keturunan, maka nama ayah senantiasa akan dikenang. Seolah ia belum meninggal dunia.
Imam al-Bukhari dalam kitab Adab al-Mufrad menyebutkan hadits ini dari perawi selain Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu: "Berkata Ummu Sulaim radhiyallaahu 'anha (ibu Anas bin Malik) kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, 'Pembantu kecilmu, maukah engkau mendo'akannya?' Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a, 'Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya, panjangkanlah umurnya dan ampunilah dosa-dosanya'." (24)
Dalam lafazh riwayat Imam Muslim, tercantum lafazh, "Banyaknya keturunan dan harta milik Anas." Di bagian akhir hadits ini, melalui sanad Ishaq bin 'Abdullah bin Abi Talhah, disebutkan perkataan Anas, "Demi Allah! Sesungguhnya aku memiliki harta yang berlebihan dan keturunanku melebihi seratus (orang)." (25)
Imam Muslim menyarankan dalam berdo'a agar diperbanyak harta dan keturunan tidak menafikan kebaikan yang bersifat ukhrawi. (26)
Abu 'Umar adh-Dharir meriwayatkan, Abu Awanah pernah bercerita, "Suatu hari, aku mengunjungi Humam bin Yahya yang sedang sakit di rumahnya. Ia berkata kepadaku, 'Wahai Abu Awanah! Mintalah kepada Allah agar Dia menangguhkan kematianku hingga anak bungsuku tiba di sini.' Aku pun berkata, 'Sesungguhnya ajal adalah sesuatu yang pasti.' Ia berkata kepadaku, 'Engkau semakin jauh tersesat.' Aku berkata, 'Ini adalah seburuk-buruk ucapan.' Ia berkata, 'Segala sesuatu telah ditetapkan termasuk umur. Tapi berdo'a agar dipanjangkan umur itu tidak mengapa.'
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah mendo'akan pembantu Anas radhiyallaahu 'anhu agar dipanjangkan umurnya. Allah Mahakuasa menetapkan sesuatu dan Mahakuasa menghapus sesuatu. Bisa jadi panjang umurnya seseorang yang tercatat pada 'ilmu Allah bersyarat dengan do'a yang terkabul. 'Tak ada yang sanggup mengubah ketentuan Allah kecuali do'a'." (27)
Syaikh Bakr Abu Zaid menukil pendapat Abu Hilal al-Askari tentang hukum mengucapkan, "Semoga Allah memanjangkan umurmu." Bahwa yang pertama kali mengucapkan perkataan ini adalah 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu.
'Ali bin Harbi al-Mushili berkata kepada 'Ubaid bin Rifa'ah. Ayahnya (Rifa'ah) bercerita, "Suatu ketika, 'Ali, Zubair, dan Sa'ad tengah berada di hadapan 'Umar. Mereka berdiskusi tentang hukum 'azl (menumpahkan sperma di luar rahim isteri, -ed). Ia berkata, 'Itu tidak mengapa.' Seorang pria berkata, 'Kalian mengira itu adalah maudah sughra (makhluq kecil). 'Ali berkata, 'Ia tidak menjadi maudah sughra sebelum melalui tujuh tahap: Dari tanah liat, lalu terbentuk air mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian tulang-belulang lalu dibungkus dengan daging, selanjutnya menjadi makhluq yang berbentuk.' 'Umar berkata, 'Engkau benar. Semoga Allah memanjangkan umurmu.' Sejak saat itu, orang terbiasa mengucapkan ungkapan tersebut." (28)
Syaikh al-Albani rahimahullaah mengomentari hadits Anas di atas, "Seseorang diperbolehkan berdo'a kepada Allah agar dipanjangkan umurnya sebagaimana kebiasaan sebagian bangsa Arab. Tak ada perbedaan antara do'a agar diberikan umur panjang dan do'a memohon kebahagiaan. Sebab, keduanya telah ditetapkan oleh Allah." (29)
Syaikh al-'Utsaimin rahimahullaah pernah ditanya tentang hukum mengucapkan "Semoga Allah memanjangkan umurmu." Ia menjawab, "Tidak layak diungkapkan secara mutlak 'Semoga Allah memanjangkan umurmu'. Sebab, panjangnya umur tidak menjamin seseorang menjadi shalih. Seburuk-buruk manusia adalah mereka yang panjang umur namun buruk 'amalnya. Karena itu, ketika orang mengucapkan 'Semoga Allah memanjangkan umurmu' hendaknya ia menambahkan dengan ucapan 'Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam ketaatan.' Dengan begitu, ungkapan seperti itu tak mengapa." (30)
Bersambung...
===
(23) Kitab Shahiih al-Bukhari 11/149, 11/140, 11/18, 4/268, kitab Shahiih Muslim 16/39, kitab Sunan at-Tirmidzi 13/223.
(24) Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Adab al-Mufrad nomor 653, hadits ini dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam kitab Shahih Adab al-Mufrad nomor 508, diriwayatkan juga oleh Imam ath-Thabrani dalam kitab Mu'jam al-Kabir nomor 710, dalam kitab Shahiih al-Bukhari, Shahiih Muslim, dan Sunan at-Tirmidzi tidak ditemukan lafazh "Thul al'umr" (memanjangkan umur).
(25) Kitab Fath al-Bari Syarh Shahiih al-Bukhari Ibnu Hajar al-Asqalani 11/149, halaman 6344.
(26) Idem.
(27) Kitab Nuzhah al-Fudhala Tahdzib Siyar A'lam an-Nubala 2/633.
(28) Kitab Mu'jam Manahi al-Lafzhiyah, Syaikh Bakr Abu Zaid, halaman 49. Lihat kitab al-Adab asy-Syar'iyyah, Ibnu Muflih 1/414.
(29) Kitab Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah 5/288.
(30) Kitab al-Manahi al-Lafzhiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, halaman 9-10. Lihat kitab Majmu' Tsamin min Fataawa Fadhilah asy-Syaikh Muhammad al-'Utsaimin, 2/225.
===
Maroji'/ Sumber:
Kitab: Kaifa Tu-thilu 'Umruka al-Intaajii, Penyusun: Muhammad bin Ibrohim an-Nu'aim, Pengantar: Syaikh Dr. Sholih bin Ghonim as-Sadlan, Syaikh 'Abdurrohim bin Ibrohim al-Hasyim, Penerbit: Daar adz-Dzakhoir, Dammam - Arob Saudi, Cetakan ke-3, Tahun 1422 H, Judul terjemah: Manajemen Umur, Resep Sunnah Menambah Pahala dan Usia, Penerjemah: M. Yasir 'Abdul Muthalib Lc, Penerbit: Pustaka at-Tazkia, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Robi'ul Awwal 1426 H/ Mei 2005 M.
===
Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com
===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT