Ucapan yang Terlarang | Kitab Tauhid

Bab 44

Ucapan yang Terlarang

Di antara ucapan yang dilarang adalah mengucapkan, "Atas kehendak Allahbdan kehendak si Fulan."

Qutailah (166) radhiyallahu 'anhu menuturkan,

"Ada seorang yahudi yang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengatakan, 'Sesungguhnya kalian telah berbuat syirik karena kalian mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan atas kehendakmu,' dan mengatakan, 'Demi Ka'bah.'' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas memerintahkan para sahabat jika ingin bersumpah hendaknya mengucapkan, 'Demi Rabb Ka'bah,' dan mengucapkan, 'Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.'" (Shahih, diriwayatkan oleh Nasa'i 7/7, Ahmad 6/371-372, Hakim 4/297, Baihaqi 3/216)

Nasa'i meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Atas kehendak Allah dan atas kehendakmu." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata kepadanya,

"Apakah engkau menjadikanku sebagai sekutu bagi Allah? Katakanlah, 'Atas kehendak Allah semata.'" (Hasan, diriwayatkan oleh Nasa'i dalam Al Kubra 10825, Ibnu Majah 2117, Ahmad 1/214, Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad 783)

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ath Thufail, saudara seibu Aisyah, dia menuturkan bahwa dirinya bermimpi seolah-olah mendatangi sekelompok orang yahudi. Dia lantas berkata, "Kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengucapkan, 'Uzair adalah anak Allah.'" Mereka mengatakan, "Kalian juga adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad.'"

Setelah itu (masih dalam mimpi, -ed.) Ath Thufail bertemu dengan orang-orang nashrani dan mengatakan, "Kalian adalah sebaik-baik kaum kalau kalian tidak mengucapkan, 'Al Masih adalah anak Allah.'" Mereka mengatakan, "Kalian adalah sebaik-baik kaum, kalau kalian tidak mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad.'"

Pada pagi harinya, Ath Thufail mengabarkan hal itu kepada orang-orang. Dia lantas mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberitahu hal itu. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apakah engkau telah mengabarkan hal ini kepada seseorang?" Dia menjawab, "Ya." Setelah memuji dan menyanjung Allah, Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Ath Thufail telah bermimpi dan telah diberitahukannya beberapa orang di antara kalian. Sesungguhnya kalian telah mengatakan suatu ucapan yang belum sempat aku larang karena ada beberapa penghalang. Oleh karena itu, sekarang janganlah kalian mengucapkan, 'Atas kehendak Allah dan atas kehendak Muhammad,' akan tetapi katakanlah, 'Atas kehendak Allah semata.'" (Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2118, Ahmad 5/399)

Kandungan Bab

1. Orang yahudi juga mengetahui permasalahan syirik ashghar.

2. Pemahaman seseorang terkadang dipengaruhi oleh hawa nafsunya.

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkomentar (terhadap orang yang mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan atas kehendakmu.') dengan bersabda, "Apakah engkau menjadikanku sebagai sekutu bagi Allah?" Lantas bagaimanakah komentar beliau kalau ada orang yang mengatakan, "Duhai makhluk yang paling mulia, tidaklah aku memiliki tempat berlindung yang lebih baik selain engkau..." dan dua bait selanjutnya.

4. Mengucapkan, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu," tidaklah termasuk syirik akbar. Hal ini berdasarkan sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, "...karena ada beberapa penghalang..."

5. Mimpi baik termasuk salah satu macam wahyu.

6. Mimpi terkadang menjadi sebab disyariatkannya sebagian hukum.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Orang yang Tidak Rela Bersumpah dengan Nama Allah | Kitab Tauhid

Bab 43

Orang yang Tidak Rela Bersumpah dengan Nama Allah

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian bersumpah dengan nama leluhur kalian. Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah hendaklah dia jujur. Jika ada orang bersumpah kepadanya dengan menyebut nama Allah, maka hendaknya dia rela. Barangsiapa yang tidak rela, maka Allah berlepas diri darinya." (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan, bahkan hadits ini shahih dengan nomor hadits 2101)

Kandungan Bab

1. Larangan untuk bersumpah dengan nama leluhur.

2. Perintah untuk rela jika ada orang yang bersumpah dengan nama Allah kepada kita.

3. Ancaman bagi orang yang tidak rela (jika ada orang lain yang bersumpah dengan nama Allah kepadanya, -pent).

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Menjadikan Sekutu Bagi Allah | Kitab Tauhid

Bab 42

Larangan Menjadikan Sekutu Bagi Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui." (QS. Al Baqarah: 22)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menafsirkan ayat di atas, bahwa yang dimaksud dengan andad adalah syirik, yaitu suatu perbuatan yang lebih samar daripada bekas rayapan semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Perbuatan syirik yang dimaksud adalah seperti ucapan, "Demi Allah, demi hidupmu, wahai Fulan, dan demi hidupku.", "Kalau tidak ada anjing kecil ini, niscaya kita akan didatangi para pencuri.", "Kalau tidak ada angsa di rumah ini, niscaya kita akan didatangi para pencuri.", ucapan seseorang yang disampaikan kepada temannya, "Demi Allah dan demi engkau.", dan ucapan seseorang, "Kalau tidak karena Allah dan si Fulan." Janganlah menyebutkan Fulan ketika mengucapkan perkataan itu. Itu semua adalah perbuatan syirik. (HR. Ibnu Abi Hatim dalam kitab At Tafsir 229)

Umar Ibnul Khathab radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut nama selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik." (HR. Tirmidzi dan beliau menghasankan hadits ini. Diriwayatkan pula oleh Hakim dan beliau menshahihkannya, begitu pula Ahmad 2/34-125 dan Thayalisi 1896)

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

"Berdusta ketika bersumpah atas nama Allah itu lebih aku sukai daripada jujur ketika bersumpah atas nama selain-Nya." (Shahih, diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitab Al Kabir 8902)

Hudzaifah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak si Fulan,' akan tetapi katakanlah, 'Atas kehendak Allah kemudian kehendak si Fulan.'" (HR. Abu Dawud 3980 dengan sanad yang shahih, Nasa'i dalam Al Kubra 10821, dan Ahmad 5/384)

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha'i bahwa beliau membenci ucapan, "Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu." Tetapi membolehkan ucapan, "Aku berlindung kepada Allah kemudian kepadamu." Beliau juga membolehkan ucapan, "Kalau bukan karena Allah kemudian si Fulan," tetapi melarang ucapan, "Kalau bukan karena Allah dan si Fulan."

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al Baqarah ayat: 22. (165)

2. Dalam menafsirkan ayat-ayat yang diturunkan berkenaan dengan syirik akbar (besar), para sahabat juga memasukkan syirik ashghar (kecil) di dalamnya.

3. Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah adalah perbuatan syirik.

4. Jujur dalam bersumpah dengan menyebut nama selain Allah lebih besar dosanya dibandingkan dengan sumpah palsu.

5. Perbedaan antara pemakaian kata (وَ) (wa) (dan) dan (ثُمَّ) (tsumma) (kemudian) dalam ucapan-ucapan di atas.

=====

Catatan Kaki:

165. Ayat ini menjelaskan wajibnya kita menjauhkan diri dari perbuatan syirik baik yang nampak maupun yang samar (khafi), -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Ingkar Terhadap Nikmat Allah | Kitab Tauhid

Bab 41

Ingkar Terhadap Nikmat Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya..." (QS. An Nahl: 83)

Mujahid menafsirkan ayat di atas yang maknanya adalah sebagai berikut, ayat di atas berkenaan dengan seseorang yang berkata, "Ini adalah harta kesayanganku, aku mewarisinya dari bapakku."

'Aun bin Abdillah menafsirkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan orang-orang yang mengatakan, "Kalau bukan karena Fulan tentu tidak akan menjadi begini."

Qutaibah berkata, "Mereka mengatakan, 'Semua ini berkat bantuan sembahan-sembahan kita.'"

Setelah menyebutkan hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Zaid bin Khalid, yang isinya bahwa Allah berfirman, "Pagi ini, ada hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada-Ku...," sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Abul Abbas mengatakan, "Demikian itu banyak terdapat dalam Al Qur'an dan hadits. Allah Subhanahu wa Ta'ala mencela orang-orang yang menisbatkan nikmat-Nya kepada selain-Nya dan menyekutukan-Nya.

Sebagian salaf mengatakan, "Seperti halnya ucapan orang yang mengatakan, 'Anginnya enak, nahkodanya mahir' dan perkataan-perkataan lain yang biasa terlontar dari mulut orang banyak."

Kandungan Bab

1. Pengertian mengetahui nikmat Allah, tetapi kemudian mengingkarinya.

2. Perbuatan tersebut banyak terlontar dari lisan kebanyakan orang.

3. Ucapan seperti di atas termasuk perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah.

4. Dua perkara yang saling kontradiktif (mengetahui nikmat Allah akan tetapi mengingkarinya, -pent) bisa terjadi dalam hati seseorang.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Mengingkari Sebagian Nama-nama dan Sifat-sifat Allah | Kitab Tauhid

Bab 40

Mengingkari Sebagian Nama-nama dan Sifat-sifat Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah, 'Dialah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia. Hanya kepada-Nyalah, aku bertawakal dan bertaubat." (QS. Ar Ra'd: 30)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Ali (radhiyallahu 'anhu) berkata,

"Bicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Apakah kalian menginginkan bahwa Allah dan Rasul-Nya dituduh tidak benar?" (HR. Bukhari 127)

'Abdurrazzaq meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Ma'mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma melihat seseorang yang terperanjat ketika mendengar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara tentang sifat-sifat Allah karena merasa tidak sependapat dengannya. Ibnu Abbas berkata,

"Apakah yang membuat mereka takut sehingga mereka menerima ayat yang muhkam akan tetapi mencelakakan diri (karena merasa keberatan) ketika bertemu dengan ayat mutasyabihat (karena mengingkari dan tidak mau mengembalikannya kepada ayat yang muhkam, -pent)." (HR. 'Abdurrazzaq 20895)

Tatkala orang-orang Quraisy mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut sifat Allah Ar Rahman, maka mereka mengingkarinya. Allah lantas menurunkan ayat berkenaan dengan mereka,

"Mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah."

Kandungan Bab

1. Orang yang mengingkari sebagian nama-nama dan sifat-sifat Allah dikatakan tidak beriman.

2. Tafsir surat Ar Ra'du ayat: 30. (164)

3. Hendaknya tidak berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahami oleh lawan bicara.

4. Disebutkan bahwa sebabnya adalah agar hal itu tidak menyebabkan orang melontarkan tuduhan yang tidak benar kepada Allah dan Rasul-Nya, walaupun sebenarnya sang pelaku tersebut tidak sengaja melakukan hal itu.

5. Ketika ada orang yang mengingkari sebagian sifat Allah, maka Ibnu Abbas berkomentar bahwa pengingkarannya itu akan membinasakan dirinya sendiri.

=====

Catatan Kaki:

164. Ayat ini menjelaskan bahwa mengingkari sebagian nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kafir karena ini bertentangan dengan tauhid asma' wa shifat. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 353)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Berhukum Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid

Bab 39

Berhukum Kepada Selain Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut tersebut. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah kuajak (tunduk) kepada hukum yang Allah turunkan dan kepada hukum Rasul,' niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalang-halangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah lantaran ulah tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah, 'Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.'" (QS. An Nisa': 60-62)

"Apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.'" (QS. Al Baqarah: 11)

"Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya." (QS. Al A'raf: 56)

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS. Al Maidah: 50)

Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidaklah seseorang di antara kalian beriman (dengan sempurna), sebelum keinginan dirinya selaras dengan tuntunanku." (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah 15, Al Khatib dalam kitab At Tarikh 4/369)

Imam Nawawi mengatakan, "Ini adalah hadits shahih yang kami riwayatkan dalam kitab Al Hujjah dengan sanad shahih."

Asy Sya'bi menceritakan bahwa ada perselisihan yang terjadi antara seorang munafik dan seorang yahudi. Orang yahudi mengetahui bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidaklah menerima suap, oleh karena itu dia berkata, "Mari kita berhakim kepada Muhammad." Orang munafik tahu kalau orang-orang yahudi itu biasa menerima suap, oleh karena itu dia berkata, "Mari kita berhakim kepada orang yahudi." Akhirnya, keduanya sepakat untuk datang kepada seorang dukun di Juhainah. Mereka pun berhakim kepada dukun tersebut. Lantas turunlah ayat, "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya..." (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab At Tafsir 5/152)

Ada pula yang mengatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan dua orang yang saling berselisih. Salah seorang di antara mereka berkata, "Mari kita mengadukan permasalahan ini kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Seorang lagi yang lain mengatakan, "Mari kita mengadukan permasalahan ini kepada Ka'ab bin Al Asyraf." Kedua orang itu lantas mengadukan permasalahannya kepada Umar bin Al Khathab. Salah seorang dari mereka lantas menjelaskan duduk perkaranya. Umar pun berkata kepada orang yang tidak rela untuk berhukum kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Apakah benar demikian?" Dia menjawab, "Ya." Umar pun memenggal leher orang itu dan membunuhnya. (Diriwayatkan oleh Baghawi dalam kitab At Tafsir)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat An Nisa' ayat: 60-62. (160) Dalam ayat tersebut terdapat penjelasan yang bisa membantu untuk memahami makna thaghut.

2. Tafsir surat Al Baqarah: 11 (161), "Apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi.'"

3. Tafsir surat Al A'raf ayat: 56 (162), "Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya."

4. Tafsir firman Allah, "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki..." (163)

5. Penjelasan dari Asy Sya'bi tentang sebab turunnya surat An Nisa' ayat: 60-62.

6. Pengertian iman yang sejati dan iman yang palsu.

7. Kisah Umar ketika menangani kasus orang munafik.

8. Iman yang benar tidak akan diperoleh seseorang sampai keinginan dirinya selaras dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

=====

Catatan Kaki:

160. Ayat inj mengingkari orang yang tidak mau mengamalkan konsekuensi syahadat la ilaha illallah yaitu beriman kepada hukum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengharuskan dirinya mengamalkan syariatnya. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 340)

161. Ayat ini melarang adanya pengrusakan di muka bumi dan di antara tindak pengrusakan di muka bumi adalah berhukum kepada selain hukum Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 344)

162. Ayat ini melarang adanya pengrusakan di muka bumi dan di antara tindak pengrusakan di muka bumi adalah dengan berhukum kepada selain hukum Allah dan Rasul-Nya. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 342)

163. Ayat ini menjelaskan haramnya berhukum dengan selain hukum Allah karena hal ini bertentangan dengan syahadat la ilaha illallah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 456)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Taklid Buta Terhadap Ulama dan Penguasa | Kitab Tauhid

Bab 38

Taklid Buta Terhadap Ulama dan Penguasa

Barangsiapa yang menaati ulama dan penguasa dalam mengharamkan perkara yang telah dihalalkan Allah dan menghalalkan perkara yang telah diharamkan-Nya, maka dia telah menjadikan mereka sebagai rabb-rabb selain Allah.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan,

"Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, akan tetapi kalian membantah dengan perkataan Abu Bakar dan Umar." (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 1/337)

Imam Ahmad bin Hambal berkata, "Aku heran dengan orang-orang yang mengerti ilmu sanad dan keshahihan hadits akan tetapi mereka justru menjadikan pendapat Sufyan sebagai patokan, padahal Allah Ta'ala berfirman,

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih." (QS. An Nur: 63)

Apakah engkau mengetahui maksud fitnah dalam ayat di atas?! Fitnah itu adalah kesyirikan. Boleh jadi jika seseorang membantah sabda Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) maka akan timbul penyimpangan dalam hatinya sehingga dia pun akan binasa.

'Adiy bin Hatim radhiyallahu 'anhu mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang membaca ayat,

"Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahin mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang satu. Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. At Taubah: 31)

'Adiy lantas berkata kepada Nabi, "Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, lantas kalian pun ikut-ikutan mengharamkannya pula dan mereka menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, lantas kalian pun ikut-ikutan menghalalkannya?!" Aku mengatakan, "Ya." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Itulah bentuk penyembanan terhadap mereka." (HR. Ahmad, Tirmidzi 3095 dan beliau menghasankannya, Thabrani dalam Al Kabir 17/92)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat An Nur ayat: 63. (158)

2. Tafsir surat Baraah ayat: 31. (159)

3. Perlu diperhatikan makna ibadah yang sebelumnya diingkari oleh 'Adiy.

4. Contoh kasus yang disampaikan Ibnu Abbas dengan menyebut Abu Bakar dan Umar, sedangkan Imam Ahmad dengan menyebut Sufyan.

5. Kondisi zaman telah berubah sampai titik kulminasi yang demikian itu, sehingga mayoritas orang beranggapan bahwa menyembah orang-orang shalih adalah amal yang paling mulia. Penyembahan kepada orang-orang shalih itu pun dinamakan sebagai suatu kewalian. Bentuk penyembahan terhadap orang alim adalah dengan mengekor terhadap ilmu pengetahuan dan fikihnya (tanpa melihat kesesuaiannya dengan firman Allah dan Rasul-Nya, -pent). Kondisi pun terus berubah sampai-sampai orang-orang yang tidak shalih pun disembah dan orang-orang bodoh pun diikuti pendapatnya.

=====

Catatan Kaki:

158. Ayat ini mengandung larangan untuk menyelisihi Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, -pent.

159. Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa mengikuti seseorang dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, berarti dia telah menjadikan orang tersebut sebagai Rabb, -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Beramal dengan Orientasi Duniawi | Kitab Tauhid

Bab 37

Beramal dengan Orientasi Duniawi

Orang yang beramal hanya berorientasi kepada duniawi (155) semata berarti telah berbuat syirik.

Allah Ta'ala berfirman,

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna bahkan di dunia mereka tidaklah dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat melainkan Neraka. Segala yang telah mereka usahakan di dunia akan lenyap dan sia-sialah segala yang mereka kerjakan." (QS. Hud: 15-16)

Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah dan celakalah hamba khamilah. Jika diberi, hatinya senang, tapi jika tidak diberi, hatinya marah. Celakalah dia dan semoga urusannya semakin dipersulit (156). Apabila dia tertusuk duri, semoga tidak bisa mencabutnya."

"Berbahagialah orang yang memacu kudanya untuk berjihad di jalan Allah. Rambutnya lusuh dan kedua kakinya penuh dengan debu. Jika dia ditugaskan di pos penjagaan maka dia pun berjaga di pos tersebut. Jika dia ditugaskan di garis belakang, dia pun tetap setia di garis belakang. Jika dia meminta izin (untuk bertemu pemimpin, -pent), maka tidak diberi izin. Jika dia bertindak sebagai perantara (untuk bertemu pemimpin, -pent), maka dia tidak diakui." (HR. Bukhari 2887)

Kandungan Bab

1. Ada orang yang orientasi amal shalihnya adalah semata-mata duniawi.

2. Tafsir surat Hud ayat: 15-16. (157)

3. Ada orang yang mengaku Islam, akan tetapi dinamakan sebagai hamba dinar, hamba dirham, dan hamba khamishah.

4. Pengertian hamba dinar, dirham, khamishah, dan khamilah adalah orang yang jika diberi maka senang tetapi jika tidak diberi marah.

5. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendo'akan agar mereka celaka dan urusannya semakin ruwet.

6. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendo'akan agar jika mereka tertusuk duri tidak bisa mencabutnya.

7. Pujian terhadap orang yang berjihad dengan sifat seperti disebutkan dalam hadits di atas.

=====

Catatan Kaki:

155. Orang yang beramal dengan orientasi dunia ada tiga macam:

a. Beramal kebajikan dengan ikhlas akan tetapi berharap bahwa Allah akan membalasnya di dunia ini. Ini adalah bentuk yang diharamkan.

b. Beramal kebajikan karena dilihat dan didengar oleh orang lain. Ini termasuk syirik kepada Allah.

c. Beramal kebajikan karena mengharap keuntungan material dari orang lain. Ini juga termasuk syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 329)

156. "Ta'isa" adalah do'a kejelekan atas seseorang agar dia merugi dan celaka. Sedangkan "Intakasa" adalah do'a kejelekan atas seseorang agar urusan orang tersebut berbalikan dengan apa yang diinginkannya sehingga urusan tersebut menjadi begitu rumit bagi dirinya. Setiap kali orang tersebut menginginkan sesuatu maka yang terjadi adalah seratus delapan puluh derajat berbalikan dengan apa yang dikehendakinya. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: II/79)

157. Di dalam dua ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan bahwa barangsiapa memiliki kemauan yang rendah, daya pikir yang minim dan menginginkan bagian dari dunia dengan amal shalih yang diperbuatnya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan memberikannya di dunia. Akan tetapi pada hari akhir, dia akan merugi dengan amal shalih tersebut karena dia sangat membutuhkannya. Bahkan memungkinkan dirinya untuk dimasukkan ke dalam api Neraka karena amal kebajikannya telah dia minta untuk dipetik di dunia. Akhirnya, amal kebajikan itu pun hilang, lenyap dan tidak bisa menjadi sebab untuk menyelamatkannya. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 328-329)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Riya' | Kitab Tauhid

Bab 36

Riya'

Allah Ta'ala berfirman,

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kalian, akan tetapi aku diberi wahyu. Sesungguhnya sesembahan kaliam adalah sesembahan yang satu. Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah mengerjakan amal yang shalih dan tidak menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada-Nya." (QS. Al Kahfi: 110)

Imam Muslim meriwayatkan hadits marfu' dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) bahwa Allah Ta'ala berfirman,

"Aku tidaklah butuh dengan sekutu-sekutu yang lain. Barangsiapa yang berbuat sesuatu yang tercampur dengan perbuatan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya dan amal perbuatannya yang tercampuri syirik." (HR. Muslim 2985, Ibnu Majah 4202, dan Ahmad 2/301)

Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu' dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu 'anhu,

"Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku khawatirkan daripada Al Masih Ad Dajjal?" Para sahabat menjawab, "Tentu." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Syirik khafi, yaitu tatkala seseorang berdiri mengerjakan shalat, ketika ada orang lain menyaksikannya maka dia lantas membagus-baguskan shalatnya." (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 4204 dan Ahmad 3/30)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al Kahfi ayat: 110. (154)

2. Suatu perkara yang sangat penting yaitu amal shalih tidak akan diterima Allah jika amal tersebut tercampuri niatan untuk selain Allah.

3. Dijelaskan bahwa sebab tidak diterimanya amalan yang tercampur dengan syirik adalah karena Allah sangat tidak membutuhkan sekutu-sekutu yang lain.

4. Alasan lain adalah karena Allah adalah sekutu yang paling baik.

5. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam khawatir jika riya' menimpa para sahabatnya.

6. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menafsirkan syirik khafi dengan memberikan contoh seseorang yang sedang mengerjakan shalat. Ketika dia mengetahui ada orang lain yang menyaksikannya maka diapun membagus-baguskan shalatnya.

=====

Catatan Kaki:

154. Ayat yang mulia di atas menjelaskan bahwa amal seseorang tidak akan diterima Allah kecuali jika bersih dari kesyirikan dan di antara bentuk kesyirikan adalah riya'. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 324)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Sabar Terhadap Takdir Allah | Kitab Tauhid

Bab 35

Sabar Terhadap Takdir Allah

Sabar terhadap takdir Allah termasuk bentuk keimanan kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman,

"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At Taghabun: 11)

'Alqamah (152) menjelaskan bahwa ayat di atas berbicara tentang seseorang yang ditimpa musibah, lantas dia sadar bahwa musibah itu datangnya dari Allah maka dia pun rela dan pasrah.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Dua perkara yang masih dikerjakan orang padahal kedua-duanya adalah kekafiran, yaitu: mencela nasib orang lain dan meratapi orang yang telah mati." (HR. Muslim 67, Tirmidzi 1001)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu,

"Tidaklah termasuk golongan kami orang yang (ketika ditimpa musibah, -pent) memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah." (HR. Bukhari 2197 dan Muslim 103)

Anas radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Jika Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menyegerakan siksaan-Nya di dunia. Akan tetapi jika Dia menginginkan kejelekan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menunda siksaan-Nya sampai Dia membalasnya pada hari Kiamat." (Shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi 2396, Ibnu Majah 4031)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya besarnya balasan itu setimpal dengan besarnya cobaan. Jika Allah Ta'ala mencintai sekelompok orang maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa di antara mereka yang ridha maka dia akan mendapatkan keridhaan dari-Nya. Akan tetapi barangsiapa di antara mereka marah, dia akan mendapatkan kemurkaan Allah." (Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi 2396, diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah 4031)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat At Taghabun ayat: 11. (153)

2. Sesungguhnya sabar terhadap takdir Allah adalah termasuk bentuk keimanan.

3. Larangan untuk mencela nasab orang lain.

4. Ancaman yang sangat keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah.

5. Tanda ketika Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya.

6. Tanda ketika Allah menginginkan kejelekan bagi hamba-Nya.

7. Tanda ketika Allah mencintai hamba-Nya.

8. Haramnya marah-marah.

9. Pahala yang disediakan bagi orang yang ridha dengan musibah yang menimpa dirinya.

=====

Catatan Kaki:

153. Ayat yang mulia di atas menjelaskan bahwa bersabar terhadap takdir Allah dan tidak berkeluh kesah adalah tanda keimanan seseorang kepada Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 314)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Merasa Aman dari Siksa Allah dan Putus Asa dari Rahmat-Nya | Kitab Tauhid

Bab 34

Merasa Aman dari Siksa Allah dan Putus Asa dari Rahmat-Nya

Allah Ta'ala berfirman,

"Maka apakah mereka merasa aman dari makar (148) Allah? Tiadalah yang merasa aman dari siksa Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al A'raf: 99)

"Ibrahim berkata, 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat.'" (QS. Al Hijr: 56)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau menjawab,

"Menyekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah." (Hasan, diriwayatkan oleh Bazzar dalam kitab Kasyful Astar 106)

'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan,

"Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, berputus asa dari rahmat Allah dalam meraih cita-cita dan menyelesaikan permasalahan." (149) (Shahih, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq 19701, Ibnu Jarir 5/40, Thabrani dalam kitab Al Kabir 8784)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al A'raf ayat: 99. (150)

2. Tafsir surat Al Hijr ayat: 56. (151)

3. Ancaman yang sangat keras bagi orang yang merasa aman dari makar Allah.

4. Ancaman yang sangat keras bagi orang yang putus asa.

=====

Catatan Kaki:

(148) Makar Allah artinya adalah Allah membuai orang-orang yang berbuat maksiat dengan limpahan nikmat yang banyak.

(149) Al Qunuth adalah merasa putus asa dari rahmat Allah dan putus asa untuk bisa meraih cita-cita yang diinginkan. Sedangkan Al Ya'su adalah merasa putus asa untuk bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: II/50)

150. Ayat ini menjelaskan haramnya merasa aman dari makar Allah karena ini berkonsekuensi merendahkan kesempurnaan Allah yang mutlak dan melenyapkan kesempurnaan tauhid seseorang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 307)

151. Ayat ini menjelaskan haramnya berputus asa dari rahmat Allah karena ini adalah bentuk penghinaan terhadap kemuliaan Allah yang mutlak dan menghilangkan kesempurnaan tauhid seseorang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 308)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Tawakal Kepada Allah | Kitab Tauhid

Bab 33

Tawakal Kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Hanya kepada Allah-lah, hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman." (QS. Al Maidah: 23)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) serta kepada Rabblah mereka bertawakal." (QS. Al Anfal: 2)

"Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu." (QS. Al Anfal: 64)

"Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Thalaq: 3)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa ketika Nabi Ibrahim 'alaihis salam dilemparkan dalam api, beliau mengucapkan,

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173) (HR. Bukhari 4563, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 11081)

Ketika orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka." Akan tetapi perkataan itu justru menambah keimanan orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengatakan, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173) (HR. Bukhari Muslim)

Kandungan Bab

1. Tawakal itu hukumnya wajib.

2. Tawakal adalah salah satu syarat keimanan.

3. Tafsir surat Al Anfal ayat: 6.

4. Tafsir surat Al Anfal ayat: 64. (146)

5. Tafsir surat Ath Thalaq ayat: 3. (147)

6. Kalimat, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung," memiliki kedudukan yang sangat agung, karena kalimat ini pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dalam kondisi genting.

=====

Catatan Kaki:

146. Kedua ayat dalam surat Al Anfal di atas menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu bentuk ibadah. Menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 301)

147. Ayat ini menjelaskan kewajiban untuk bertawakal kepada Allah dan merasa cukup dengan-Nya tidak kepada selain-Nya. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 304)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Takut Kepada Allah | Kitab Tauhid

Bab 32

Takut Kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy). Oleh karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 175)

"Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk." (QS. At Taubah: 18)

"Di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap siksaan manusia itu seperti siksaan Allah. Sungguh, jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata, 'Sesungguhnya kami beserta kalian.' Bukankah Allah lebih memgetahui apa yang tersimpan dalam dada semua manusia?" (QS. Al Ankabut: 10)

Dalam hadits yang marfu' dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu:

"Sesungguhnya di antara bentuk lemahnya iman adalah mencari keridhaan manusia dengan melakukan perkara yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah, memuji orang lantaran rizki Allah yang diberikan lewat mereka. Sesungguhnya (datangnya) rizki Allah tak dapat dipercepat dengan semangat seseorang yang menggelora untuk mendapatkannya. Begitu pula tidak dapat digagalkan oleh kebencian seseorang." (HR. Abu Nu'aim dalam kitab Al Hilyah 5/106)

Aisyah radhiyallahu 'anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah walaupun membuat orang marah, maka Allah akan ridha kepadanya dan membuat orang-orang menjadi ridha kepadanya. Barangsiapa yang mencari keridhaan manusia dengan perkara yang bisa mendatangkan kemarahan Allah, maka Allah akan marah kepadanya dan membuat orang-orang jadi marah kepadanya." (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 276 dan Tirmidzi 2414)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Ali Imran ayat: 175. (144)

2. Tafsir surat Baraah ayat: 18.

3. Tafsir surat Al Ankabut ayat: 10. (145)

4. Keyakinan hati bisa melemah dan menguat.

5. Di antara tanda lemahnya hati adalah tiga perkara yang telah disebutkan di atas.

6. Kewajiban untuk memurnikan rasa takut hanya kepada Allah.

7. Dijelaskan pahala bagi orang yang mencari keridhaan Allah walaupun membuat orang lain marah kepadanya.

8. Ancaman bagi orang yang mencari keridhaan manusia dengan perkara-perkara yang bisa mendatangkan kemarahan Allah.

=====

144. Ayat ini menunjukkan kewajiban untuk memurnikan rasa takut (khauf) kepada Allah. Oleh karena itu khauf termasuk jenis ibadah dan menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 287)

145. Kedua ayat dalam surat Baraah dan Al Ankabut di atas menunjukkan kewajiban untuk memurnikan khasyah (takut disertai pengetahuan terhadap suatu hal yang ditakutkan) dilandasi rasa pengagungan kepada Allah. Oleh karena itu khasyah adalah termasuk amal ibadah dan menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 289)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Cinta Kepada Allah | Kitab Tauhid

Bab 31

Cinta Kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." (QS. Al Baqarah: 165)

"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. At Taubah: 24)

Anas radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Salah seorang di antara kalian tidak dikatakan beriman dengan sempurna sebelum menjadikan diriku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia." (HR. Bukhari 15, Muslim 44)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu, Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Ada tiga perkara, jika perkara-perkara itu terdapat dalam diri seseorang, maka dia akan mendapatkan manisnya rasa iman. Tiga perkara itu adalah: mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi yang selain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah dan tidak menyukai untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dirinya tidak menyukai sekiranya dijebloskan dalam Neraka." (HR. Bukhari 16, Muslim 43)

Dalam riwayat hadits yang lain dikatakan,

"Seseorang tidak akan mendapatkan manisnya iman sampai..." dst.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhu), dia mengatakan,

"Barangsiapa cinta dan benci hanya karena Allah, berteman dan memusuhi karena Allah. Sesungguhnya pertolongan Allah itu diperoleh dengan demikian itu. Seorang hamba tidak akan bisa merasakan kenikmatan iman walaupun banyak melakukan shalat dan puasa sampai dirinya berbuat demikian itu. Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan kepada kepentingan dunia. Persahabatan yang demikian itu tidak bermanfaat bagi mereka." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab Az Zuhd 353, Ibnu Abi Syaibah 13/368, Thabrani dalam kitab Al Kabir 13537)

Tentang firman Allah,

"...dan putuslah segala hubungan antara mereka sama sekali." (QS. Al Baqarah: 166),

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah kasih sayang.

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al Baqarah ayat: 165. (142)

2. Tafsir surat Al Baraah ayat: 24. (143)

3. Kewajiban untuk lebih mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam daripada diri sendiri, keluarga dan harta benda.

4. Pernyataan, "Tidak beriman..." dalam hadits di atas bukan berarti keluar dari Islam, (tetapi keimanannya kurang sempurna, -ed).

5. Iman memiliki rasa manis, akan tetapi ada orang yang bisa merasakannya dan ada pula orang yang tidak bisa merasakannya.

6. Ada empat amalan hati sehingga seseorang bisa meraih kemenangan dari Allah dan merasakan kenikmatan iman.

7. Sahabat memahami realita yang terjadi dimana persahabatan yang ada, pada umumnya hanya dilandasi oleh kepentingan duniawi.

8. Tafsir firman Allah, "...dan putuslah segala hubungan antara mereka sama sekali."

9. Di antara orang musyrik ada yang sangat mencintai Allah.

10. Ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi di atas lebih dicintainya daripada agamanya.

11. Barangsiapa yang memuja selain Allah dengan mencintainya sebagaimana mencintai Allah, maka itulah perbuatan syirik akbar.

=====

Catatan Kaki:

142. Ayat ini menjelaskan bahwa barangsiapa mencintai sesuatu seperti mencintai Allah maka berarti dia telah menjadikannya sebagai sekutu Allah dan inilah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 278)

143. Ayat ini menjelaskan kewajiban mencintai Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu cinta adalah satu bentuk ibadah dan menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 280)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang | Kitab Tauhid

Bab 30

Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang

Allah Ta'ala berfirman,

"Kalian membalas rizki (yang telah dikaruniakan Allah) kepada kalian dengan mendustakan Allah." (QS. Al Waqi'ah: 82)

Abu Malik Al Asy'ari (139) (radhiyallahu 'anhu) menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Empat perkara dalam umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang belum mereka tinggalkan adalah; membangga-banggakan kebesaran leluhur, mencela nasab orang lain, menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang dan meratapi orang yang telah meninggal." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) lantas bersabda, "Wanita yang meratapi orang yang telah meninggal jika dia tidak bertobat sebelum matinya, maka dia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dengan mengenakan pakaian yang berlumuran cairan tembaga dan mengenakan mantel yang bercampur dengan penyakit gatal." (HR. Muslim 934)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid (140) radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami kami dalam shalat Subuh di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Tatkala beliau telah selesai, maka beliau menghadap ke arah para sahabat. Beliau lantas bersabda,

"Apakah kalian mengetahui apa yang telah difirmankan Rabb kalian?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengatakan bahwa Allah berfirman, "Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada juga yang kafir. Orang yang mengatakan, 'Hujan turun kepada kami karena karunia dan rahmat Allah', dialah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, 'Hujan turun kepada kami lantaran bintang ini dan itu', dialah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang." (HR. Bukhari 1038, Muslim 71)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas yang maknanya adalah; sebagian orang ada yang mengatakan bahwa bintang ini dan itu telah benar. Allah lantas menurunkan ayat-ayat berikut ini,

"Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kalian mengetahui. Sesungguhnya Al Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia di dalam kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz). Tidaklah menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Rabb semesta alam. Apakah kalian menganggap remeh Al Qur'an ini? Kalian (mengganti) rizki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah)." (QS. Al Waqi'ah: 75-82) (HR. Muslim 73 dan hadits ini tidak diriwayatkan oleh Bukhari)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al Waqi'ah ayat: 82. (141)

2. Dijelaskan empat perkara yang termasuk perbuatan jahiliyah.

3. Disebutkan bahwa di antara empat perkara tersebut ada yang menyebabkan kekufuran (yaitu; menisbatkan turunnya hujan kepada bintang, -pent).

4. Ada bentuk kekufuran yang tidak mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

5. Penjelasan tentang hadits qudsi, "Pagi ini, di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada yang kafir." Hal ini disebabkan turunnya nikmat (hujan, -pent).

6. Perlu dipahami makna "beriman" dalam hadits di atas (yaitu dengan menisbatkan bahwa hujan adalah karunia Allah, -pent).

7. Perlu dipahami pula makna "kafir" dalam hadits di atas (yaitu dengan menisbatkan bahwa hujan itu disebabkan bintang-bintang di langit, -pent).

8. Ucapan seseorang, "Sungguh telah benar bintang ini dan itu." Mengandung unsur kekufuran (dan sama dengan ucapan, "Hujan itu turun karena bintang ini dan itu.", -pent).

9. Di antara metode pengajaran guru kepada muridnya adalah dengan melontarkan suatu pertanyaan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi, "Apakah kalian mengetahui apa yang telah difirmankan Rabb kalian?"

10. Ancaman terhadap wanita yang meratapi orang yang telah meninggal.

=====

Catatan Kaki:

139. Beliau adalah Al Harits bin Al Harits Asy Syami. Beliau adalah seorang sahabat. Hanya Abu Salam saja yang meriwayatkan hadits dari beliau. Dalam kalangan sahabat ada dua orang yang memiliki nama Abu Malik Al 'Asy`ari.

140. Beliau adalah Zaid bin Khalid Al Juhani. Beliau adalah seorang sahabat yang terkenal. Beliau wafat pada tahun 68 H dalam usia 85 tahun.

141. Ayat ini menjelaskan kafirnya orang yang mengatakan bahwa nikmat itu datang karena selain Allah, contohnya adalah mengatakan bahwa hujan itu turun karena bintang-bintang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 268)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Ilmu Nujum | Kitab Tauhid

Bab 29

Ilmu Nujum

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya bahwa Qatadah berkata,

"Allah menciptakan bintang-bintang di langit untuk tiga hal, yaitu: sebagai perhiasan di langit, sebagai alat penembak setan dan sebagai tanda penunjuk. Barangsiapa yang menafsirkan bintang-bintang itu untuk selain tujuan tersebut di atas, maka dia telah berbuat kesalahan, menyia-nyiakan nasibnya dan membebani diri dengan sesuatu yang tidak diketahuinya." Sekian penukilan dari Imam Bukhari. (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq di kitab Bad'il Khalqi bab Fin Nujum, Al Hafizh dalam Al Fath 215, Ibnu Jarir dalam kitab At Tafsir 14/91)

Qatadah menyatakan bahwa mempelajari letak-letak peredaran bulan hukumnya makruh. Ibnu 'Uyainah tidak memperbolehkan hal itu sama sekali. Harb meriwayatkan pernyataan di atas dari mereka berdua. Akan tetapi Imam Ahmad dan Ishaq memperbolehkan mempelajari letak-letak peredaran bulan.

Abu Musa radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tiga kelompok orang yang tidak akan masuk Surga adalah, pecandu khamr, pemutus hubungan kekerabatan dan orang yang percaya dengan sihir." (Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 4/399, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya 6137 dan Hakim 4/146)

Kandungan Bab

1. Hikmah diciptakannya bintang-bintang.

2. Bantahan terhadap orang yang berpendapat selain pendapat di atas.

3. Disebutkan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama tentang hukum mempelajari letak-letak peredaran bulan.

4. Ancaman bagi orang yang mempelajari sihir, walaupun dirinya mengetahui bahwa sihir itu adalah batil.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Hukum Tathayur | Kitab Tauhid

Bab 28

Hukum Tathayur

Allah Ta'ala berfirman,

"Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al A'raf: 131)

"Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalangan kalian itu adalah karena kalian sendiri. Apakah jika kalian diberi peringatan (kalian mengancam kami)? Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas.'" (QS. Yasin: 19)

Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidak ada 'adwa (134), thiyarah (135), hamah (136),  dan shafar (137)." (HR. Bukhari 5757, Muslim 2220 dengan lafazh tambahan seperti berikut ini)

"Tidak ada juga nau' dan ghul."

Imam Bukhari 5776 dan Muslim 2224 meriwayatkan hadits dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidak ada 'adwa dan thiyarah, akan tetapi yang membuatku terkagum-kagum adalah fa'l." Para sahabat bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan fa'l?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Kalimah Thayyibah (Kata-kata yang indah)."

Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari 'Uqbah bin Amir (138) radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Thiyarah disebut-sebut di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau bersabda,

"Yang paling baik adalah fa'l. Janganlah thiyarah itu menggagalkan seorang Muslim dari niatnya. Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang dibencinya, hendaknya mengucapkan,

اَللّٰهُمَّ لَا يَأْتِيْ بِالْحَسَنَاتِ إِلَّا أَنْتَ, وَلَا يَدْفَعُ السَّيِّأٰتِ إِلَّا أَنْتَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّۃَ إِلَّا بِكَ

Allaahumma laa ya`tii bil hasanaati illaa anta, wa laa yad fa'us sayyi-aati illaa anta, wa laa haulaa wa laa quwwata illaa bika.

'Ya Allah, tidak ada yang bisa mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tidak ada yang bisa menolak kejelekan kecuali Engkau pula. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.'" (HR. Abu Dawud 3919, Baihaqi 8/139)

Abu Dawud meriwayatkan hadits marfu' dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Thiyarah adalah perbuatan syirik, thiyarah adalah perbuatan syirik."

Ibnu Mas'ud menambahkan, "Tiada seorang pun di antara kita melainkan di dalam hatinya telah terkena pengaruh thiyarah. Akan tetapi Allah telah menghilangkan pengaruh itu dengan menumbuhkan rasa tawakal kepada-Nya." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 3910, Tirmidzi 1614, Ibnu Majah 3538, Ahmad 1/389)

Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu,

"Barangsiapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka dia telah berbuat syirik." Para sahabat bertanya, "Lantas apa penebus hal itu?" Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Berdo'alah,

اَللّٰهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ, وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ, وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ

Allaahumma laa khaira illaa khairuka, wa laa thaira illaa thairuka, wa laa ilaaha ghairuka.

'Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang datang dari-Mu. Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Engkau.'" (Hasan, diriwayatkan oleh Ahmad 2/220, Ibnu As Sunni dalam kitab 'Amalul Yaum wal Lailah 293)

Ahmad meriwayatkan hadits dari Al Fadhl bin Abbas,

"Thiyarah adalah sesuatu yang bisa membuatmu menunaikan atau mengurungkan niatmu."

Kandungan Bab

1. Perlu diperhatikan firman Allah, "Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah." Dan firman Allah, "Kemalangan kalian itu karena kalian sendiri."

2. Pernyataan bahwa tidak ada 'adwa.

3. Pernyataan bahwa tidak ada thiyarah.

4. Pernyataan bahwa tidak ada hamah.

5. Pernyataan bahwa tidak ada Shafar.

6. Fa'l tidak termasuk yang dilarang, akan tetapi termasuk yang diperbolehkan.

7. Pengertian fa'l.

8. Jika dalam hati seseorang timbul thiyarah akan tetapi sebenarnya dia tidak menginginkannya, maka hukumnya tidaklah mengapa. Bahkan Allah akan menghilangkan hal itu dengan tawakal kepada-Nya.

9. Dijelaskan do'a yang hendaknya diucapkan ketika mendapatkan sesuatu yang tidak disukai.

10. Penjelasan yang gamblang bahwa thiyarah itu adalah perbuatan syirik.

11. Pengertian thiyarah yang tercela.

=====

Catatan Kaki:

134. 'Adwa adalah penularan penyakit dari penderitanya kepada orang yang sehat dengan sendirinya tanpa takdir dari Allah, -pent.

135. Thiyarah adalah merasa bernasib sial karena melihat atau mendengar sesuatu, -pent.

136. Hamah adalah burung hantu yang membawa nasib sial, -pent.

137. Shafar adalah bulan yang dianggap mendatangkan kesialan, -pent.

138. Yang benar adalah 'Urwah bin 'Amir sebagaimana telah disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Tsiqat At Tabi'in.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Hukum Nusyrah | Kitab Tauhid

Bab 27

Hukum Nusyrah

Jabir radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau lantas menjawab,

"Nusyrah adalah perbuatan setan." (HR. Ahmad 3/294 dengan sanad yang jayyid dan Abu Dawud 3868)

Imam Ahmad (rahimahullah) ketika ditanya tentang nusyrah berkata, "Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu) membenci semua bentuk nusyrah."

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Qatadah (131), dia berkata kepada Ibnul Musayyab, "Ada orang yang terkena sihir atau mungkin ditenung sehingga tidak bisa menggauli isterinya, apakah dia diperbolehkan untuk melakukan nusyrah? Ibnul Musayyab mengatakan,

"Tidak mengapa, karena mereka melakukannya dalam rangka untuk kebaikan. Nusyrah yang bisa bermanfaat itu tidaklah dilarang." Sekian penukilan dari Shahih Bukhari. (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq dalam kitab Ath Thibb, bab Hal yustakhraju As Sihr. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan secara maushul dalam kitab At Tamhid (6/243))

Al Hasan (132) mengatakan, "Tidaklah ada orang yang mampu menghilangkan pengaruh sihir kecuali tukang sihir itu sendiri."

Ibnul Qayyim (133) mengatakan, "Nusyrah adalah menghilangkan pengaruh sihir dari seseorang. Nusyrah ada dua bentuk:

a) Menghilangkan pengaruh sihir dengan sihir pula. Nusyrah inilah yang merupakan amal perbuatan setan. Oleh karena itu perkataan Al Hasan di atas harus didudukkan bahwa orang yang melakukan nusyrah dan orang yang meminta diobati itu sama-sama mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang disenangi setan sehingga pengaruh sihir itu pun bisa hilang dari orang yang tersihir tadi.

b) Nusyrah dengan menggunakan ruqyah, bacaan ta'awwudz, obat-obatan dan do'a-do'a yang diperbolehkan syariat. Nusyrah dengan cara demikian itu diperbolehkan.

Kandungan Bab

1. Larangan melakukan nusyrah.
2. Perbedaan antara nusyrah yang dilarang dan nusyrah yang diperbolehkan sehingga sekarang jelaslah permasalahannya.

=====

Catatan Kaki:

131. Beliau adalah Qatadah bin Du'amah As Sadusi. Beliau adalah perawi yang terpercaya, fakih dan termasuk tabi'in yang banyak menghafal hadits. Beliau wafat pada tahun 110-an H.

132. Beliau adalah Al Hasan Al Bashri.

133. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayub bin Sa'ad bin Huraiz Az Zar'i Ad Dimasyqi. Beliau terkenal dengan panggilan Ibnu Qayyim Al Jauziah.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah