Ucapan yang Terlarang | Kitab Tauhid
Orang yang Tidak Rela Bersumpah dengan Nama Allah | Kitab Tauhid
Larangan Menjadikan Sekutu Bagi Allah | Kitab Tauhid
Ingkar Terhadap Nikmat Allah | Kitab Tauhid
Mengingkari Sebagian Nama-nama dan Sifat-sifat Allah | Kitab Tauhid
Bab 40
Mengingkari Sebagian Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Allah Ta'ala berfirman,
"Mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah, 'Dialah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia. Hanya kepada-Nyalah, aku bertawakal dan bertaubat." (QS. Ar Ra'd: 30)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Ali (radhiyallahu 'anhu) berkata,
"Bicaralah dengan orang sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Apakah kalian menginginkan bahwa Allah dan Rasul-Nya dituduh tidak benar?" (HR. Bukhari 127)
'Abdurrazzaq meriwayatkan dengan sanad yang shahih, dari Ma'mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma melihat seseorang yang terperanjat ketika mendengar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbicara tentang sifat-sifat Allah karena merasa tidak sependapat dengannya. Ibnu Abbas berkata,
"Apakah yang membuat mereka takut sehingga mereka menerima ayat yang muhkam akan tetapi mencelakakan diri (karena merasa keberatan) ketika bertemu dengan ayat mutasyabihat (karena mengingkari dan tidak mau mengembalikannya kepada ayat yang muhkam, -pent)." (HR. 'Abdurrazzaq 20895)
Tatkala orang-orang Quraisy mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut sifat Allah Ar Rahman, maka mereka mengingkarinya. Allah lantas menurunkan ayat berkenaan dengan mereka,
"Mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah."
Kandungan Bab
1. Orang yang mengingkari sebagian nama-nama dan sifat-sifat Allah dikatakan tidak beriman.
2. Tafsir surat Ar Ra'du ayat: 30. (164)
3. Hendaknya tidak berbicara dengan sesuatu yang tidak dipahami oleh lawan bicara.
4. Disebutkan bahwa sebabnya adalah agar hal itu tidak menyebabkan orang melontarkan tuduhan yang tidak benar kepada Allah dan Rasul-Nya, walaupun sebenarnya sang pelaku tersebut tidak sengaja melakukan hal itu.
5. Ketika ada orang yang mengingkari sebagian sifat Allah, maka Ibnu Abbas berkomentar bahwa pengingkarannya itu akan membinasakan dirinya sendiri.
=====
Catatan Kaki:
164. Ayat ini menjelaskan bahwa mengingkari sebagian nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kafir karena ini bertentangan dengan tauhid asma' wa shifat. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 353)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Berhukum Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid
Taklid Buta Terhadap Ulama dan Penguasa | Kitab Tauhid
Beramal dengan Orientasi Duniawi | Kitab Tauhid
Riya' | Kitab Tauhid
Sabar Terhadap Takdir Allah | Kitab Tauhid
Merasa Aman dari Siksa Allah dan Putus Asa dari Rahmat-Nya | Kitab Tauhid
Bab 34
Merasa Aman dari Siksa Allah dan Putus Asa dari Rahmat-Nya
Allah Ta'ala berfirman,
"Maka apakah mereka merasa aman dari makar (148) Allah? Tiadalah yang merasa aman dari siksa Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. Al A'raf: 99)
"Ibrahim berkata, 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang-orang yang sesat.'" (QS. Al Hijr: 56)
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau menjawab,
"Menyekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah." (Hasan, diriwayatkan oleh Bazzar dalam kitab Kasyful Astar 106)
'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan,
"Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, berputus asa dari rahmat Allah dalam meraih cita-cita dan menyelesaikan permasalahan." (149) (Shahih, diriwayatkan oleh Abdurrazzaq 19701, Ibnu Jarir 5/40, Thabrani dalam kitab Al Kabir 8784)
Kandungan Bab
1. Tafsir surat Al A'raf ayat: 99. (150)
2. Tafsir surat Al Hijr ayat: 56. (151)
3. Ancaman yang sangat keras bagi orang yang merasa aman dari makar Allah.
4. Ancaman yang sangat keras bagi orang yang putus asa.
=====
Catatan Kaki:
(148) Makar Allah artinya adalah Allah membuai orang-orang yang berbuat maksiat dengan limpahan nikmat yang banyak.
(149) Al Qunuth adalah merasa putus asa dari rahmat Allah dan putus asa untuk bisa meraih cita-cita yang diinginkan. Sedangkan Al Ya'su adalah merasa putus asa untuk bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: II/50)
150. Ayat ini menjelaskan haramnya merasa aman dari makar Allah karena ini berkonsekuensi merendahkan kesempurnaan Allah yang mutlak dan melenyapkan kesempurnaan tauhid seseorang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 307)
151. Ayat ini menjelaskan haramnya berputus asa dari rahmat Allah karena ini adalah bentuk penghinaan terhadap kemuliaan Allah yang mutlak dan menghilangkan kesempurnaan tauhid seseorang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 308)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Tawakal Kepada Allah | Kitab Tauhid
Bab 33
Tawakal Kepada Allah
Allah Ta'ala berfirman,
"Hanya kepada Allah-lah, hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman." (QS. Al Maidah: 23)
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) serta kepada Rabblah mereka bertawakal." (QS. Al Anfal: 2)
"Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu." (QS. Al Anfal: 64)
"Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Thalaq: 3)
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa ketika Nabi Ibrahim 'alaihis salam dilemparkan dalam api, beliau mengucapkan,
"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173) (HR. Bukhari 4563, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 11081)
Ketika orang-orang berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka." Akan tetapi perkataan itu justru menambah keimanan orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengatakan, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (QS. Ali Imran: 173) (HR. Bukhari Muslim)
Kandungan Bab
1. Tawakal itu hukumnya wajib.
2. Tawakal adalah salah satu syarat keimanan.
3. Tafsir surat Al Anfal ayat: 6.
4. Tafsir surat Al Anfal ayat: 64. (146)
5. Tafsir surat Ath Thalaq ayat: 3. (147)
6. Kalimat, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung," memiliki kedudukan yang sangat agung, karena kalimat ini pernah diucapkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dalam kondisi genting.
=====
Catatan Kaki:
146. Kedua ayat dalam surat Al Anfal di atas menjelaskan bahwa tawakal adalah salah satu bentuk ibadah. Menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 301)
147. Ayat ini menjelaskan kewajiban untuk bertawakal kepada Allah dan merasa cukup dengan-Nya tidak kepada selain-Nya. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 304)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Takut Kepada Allah | Kitab Tauhid
Cinta Kepada Allah | Kitab Tauhid
Menisbatkan Turunnya Hujan Kepada Bintang | Kitab Tauhid
Ilmu Nujum | Kitab Tauhid
Hukum Tathayur | Kitab Tauhid
Hukum Nusyrah | Kitab Tauhid
Bab 27
Hukum Nusyrah
Jabir radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang nusyrah. Beliau lantas menjawab,
"Nusyrah adalah perbuatan setan." (HR. Ahmad 3/294 dengan sanad yang jayyid dan Abu Dawud 3868)
Imam Ahmad (rahimahullah) ketika ditanya tentang nusyrah berkata, "Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu) membenci semua bentuk nusyrah."
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Qatadah (131), dia berkata kepada Ibnul Musayyab, "Ada orang yang terkena sihir atau mungkin ditenung sehingga tidak bisa menggauli isterinya, apakah dia diperbolehkan untuk melakukan nusyrah? Ibnul Musayyab mengatakan,
"Tidak mengapa, karena mereka melakukannya dalam rangka untuk kebaikan. Nusyrah yang bisa bermanfaat itu tidaklah dilarang." Sekian penukilan dari Shahih Bukhari. (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari secara mu'allaq dalam kitab Ath Thibb, bab Hal yustakhraju As Sihr. Ibnu Abdil Bar meriwayatkan secara maushul dalam kitab At Tamhid (6/243))
Al Hasan (132) mengatakan, "Tidaklah ada orang yang mampu menghilangkan pengaruh sihir kecuali tukang sihir itu sendiri."
Ibnul Qayyim (133) mengatakan, "Nusyrah adalah menghilangkan pengaruh sihir dari seseorang. Nusyrah ada dua bentuk:
a) Menghilangkan pengaruh sihir dengan sihir pula. Nusyrah inilah yang merupakan amal perbuatan setan. Oleh karena itu perkataan Al Hasan di atas harus didudukkan bahwa orang yang melakukan nusyrah dan orang yang meminta diobati itu sama-sama mendekatkan diri kepada setan dengan sesuatu yang disenangi setan sehingga pengaruh sihir itu pun bisa hilang dari orang yang tersihir tadi.
b) Nusyrah dengan menggunakan ruqyah, bacaan ta'awwudz, obat-obatan dan do'a-do'a yang diperbolehkan syariat. Nusyrah dengan cara demikian itu diperbolehkan.
Kandungan Bab
1. Larangan melakukan nusyrah.
2. Perbedaan antara nusyrah yang dilarang dan nusyrah yang diperbolehkan sehingga sekarang jelaslah permasalahannya.
=====
Catatan Kaki:
131. Beliau adalah Qatadah bin Du'amah As Sadusi. Beliau adalah perawi yang terpercaya, fakih dan termasuk tabi'in yang banyak menghafal hadits. Beliau wafat pada tahun 110-an H.
132. Beliau adalah Al Hasan Al Bashri.
133. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakr bin Ayub bin Sa'ad bin Huraiz Az Zar'i Ad Dimasyqi. Beliau terkenal dengan panggilan Ibnu Qayyim Al Jauziah.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.