Ketika orang-orang yang getol maulidan ini mendengar para 'ulama Ahlus Sunnah yang melarang dari perayaan maulidan, maka banyak dari kaum muslimin yang salah memahaminya dengan mengatakan bahwa para 'ulama Ahlus Sunnah telah melarang mereka untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Kemudian mereka membawakan firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:
"Sekali-kali jangan, janganlah kamu taat kepadanya, sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb)."
(Qur-an Surat al-'Alaq (96): ayat 19)
Yang menarik untuk disampaikan di sini, dalam rangka meluruskan kesalahpahaman mereka terhadap para 'ulama Ahlus Sunnah adalah kisah Imam Malik rahimahullaah bersama seorang pelaku bid'ah, di bawah ini:
Atsar pertama:
Dikisahkan oleh Imam Sufyan bin 'Uyainah, ia berkata:
Aku pernah mendengar Imam Malik bin Anas rahimahullaah didatangi oleh seorang laki-laki, dan laki-laki itu bertanya kepada Imam Malik: Wahai Abu 'Abdillah (panggilan Imam Malik)! Dari mana aku harus memulai ihram? Maka Imam Malik menjawab: Hendaklah kamu memulai ihram dari Dzulhulaifah, tempat dimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memulai ihramnya, tapi laki-laki itu justru berkata: Bagaimana kalau aku ingin memulai ihramku di masjid Nabawi dari sisi kuburan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam? Maka Imam Malik berkata kepada laki-laki itu: Jangan kamu lakukan itu, karena sesungguhnya aku takut kalau kamu akan tertimpa fitnah (musibah), laki-laki itu bertanya lagi: Fitnah apa yang akan menimpa diriku lantaran perbuatanku ini? Bukankah aku hanya memulai ihram dari tempat yang lebih jauh dari Dzulhulaifah -tempat dimana Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memulai ihramnya- beberapa mil saja? Maka Imam Malik menjawab:
Fitnah apakah yang lebih besar -menurutmu- daripada persangkaanmu yang buruk, dimana kamu merasa (lebih taat dan rajin berbuat baik, yakni dengan) berbuat sebuah kebaikan yang belum pernah diperbuat oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dan sungguh aku telah mendengar Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: "...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul itu takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih." (Qur-an Surat an-Nur (24): ayat 63) (151)
Bersambung...
===
(151) Telah berlalu takhrijnya sebelum ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Judul buku: Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan Maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?, Penulis: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Muraja'ah: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penerbit: Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta - Indonesia, Cetakan ketiga, Syawwal 1435 H/ Agustus 2014 M.
===
Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT