Surat al-Faatihah (6)
Al-Faatihah, Ayat 6
"Ihdi-nash shiraa-thal mustaqiim"
Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus. (QS. 1: 6)
Rahasia Diakhirkannya Do'a Setelah Pujian dan Penyebutan Sifat
Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala dan menyatakan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diiringi dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya (dalam hadits Qudsi): "Setengahnya untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."
Hal itu merupakan keadaan yang sangat sempurna bagi seseorang yang mengajukan permintaan. Pertama, ia memuji Rabb yang akan ia mintai dan kemudian memohon keperluan dirinya sendiri dan juga saudaranya dari orang-orang yang beriman, melalui ucapannya: "Ihdinash Shiraa-thal mustaqiim (Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus)." Karena hal itu lebih dekat kepada pengabulan dan dipenuhinya apa yang ia butuhkan. Karena itulah Allah Sub-haanahu wa Ta'aala membimbing kita untuk senantiasa melakukannya, karena hal itu lebih sempurna.
Permintaan itu bisa diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa 'alaihis salaam:
"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)
Permintaan itu bisa dimulai dengan menyebutkan sifat-sifat Rabb yang dia mintai, seperti ucapan Dzun Nuun (Nabi Yunus 'alaihis salaam): "Tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Anbiyaa': 87)
Tetapi terkadang permintaan itu cukup hanya dengan memuji-Nya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penya'ir:
Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malu-Mu.
Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaan-Mu.
Jika suatu hari seseorang menyampaikan pujian kepada-Mu, niscaya pujian itu mencukupi orang itu karena telah mengemukakannya.
Makna Hidayah
Kata hidayah dalam ayat ini berarti bimbingan dari taufiq. Terkadang kata hidayah itu muta'addi (membutuhkan obyek) tanpa huruf penyambung. Sebagaimana firman-Nya di sini: "Ihdinash Shiraa-thal mustaqiim (Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus."
Dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, atau berikanlah taufiq kepada kami, berikanlah rizki atau anugerah kepada kami.
Dan juga firman-Nya: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad: 10). Artinya, kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.
Selain itu kata hidayah juga bisa muta'addi dengan memakai kata "ilaa", sebagaimana firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Allah telah memilihnya dan menujukinya kepada jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 121)
Dan juga firman-Nya: "Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka." (QS. Ash-Shaaffaat: 23)
Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas adalah bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syuura: 52)
Terkadang kata hidayah muta'addi dengan memakai huruf "lam" sebagaimana ucapan para penghuni Surga: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (Jannah) ini." (QS. Al-A'raaf: 43). Artinya, Allah memberikan taufiq kepada kami untuk memperoleh Surga ini dan Dia menjadikan kami sebagai penghuninya.
Bersambung...
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Layanan GRATIS Konsultasi, Estimasi Biaya, dan Survei Lokasi: Rangka Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
Telp/ SMS/ WA: 085778018878, BB: 269C8299
http://www.bajaringantangerang.com
===
As-Salamu 'alaikum pembaca setia baitulkahfitangerang.blogspot.com, siapa tau anda - atau ada temen yang tertarik dengan properti Bali dibawah ini:
kesempatan yang langka untuk memiliki tanah "ngantong" di pantai Tanjung Benoa (beach front). Luas tanah 1,5 hektar, lebar depan 25m dan lebara belakang 100m menghadap pasir putih, tanah keren ini cocok untuk bangun hotel bintang 4-5.
Lihat denah dan informasi klik http://tinyurl.com/ovtvhhc
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT