Sebab-sebab Masuk Neraka (4) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Kedua Puluh Enam.

Kajian Ramadhan.

Sebab-sebab Masuk Neraka (4).

Ketujuh, Berbuat Kemunafikan.

Yaitu kafir dengan hatinya, namun menampakkan kepada manusia lain bahwa ia adalah seorang Muslim, entah melalui perkataannya ataupun perbuatannya. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An-Nisa' (4): 145)

Golongan ini lebih parah dari golongan sebelumnya. Oleh karena itu hukuman bagi pelakunya jauh lebih keras. Mereka berada di bagian terbawah dari Neraka. Sebab, kekufuran mereka menyatukan antara kekufuran, penipuan, dan ejekan terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya. Tentang mereka ini Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan hari Akhir,' padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah lagi oleh Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi', mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman,' mereka menjawab: 'Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?' Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.' Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka." (QS. Al-Baqarah (2): 8-15)

Tanda-tanda Kemunafikan

Nifaq (kemunafikan) itu mempunyai sekian banyak tanda, di antaranya adalah:

Pertama, keraguan terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah, sekalipun ia menampakkan kepada orang lain bahwa dirinya adalah seorang mukmin. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya." (QS. At-Taubah (9): 45)

Kedua, membenci hukum Allah dan Rasul-Nya. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul,' niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu." (QS. An-Nisa' (4): 60-61)

Ketiga, membenci kemenangan Islam dan kemenangan para pemeluknya serta merasa gembira dengan kekalahan dan keterlantaran mereka. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman:

"Jika kamu mendapat sesuatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya, dan jika kamu ditimpa oleh sesuatu bencana, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami sebelumnya telah memperhatikan urusan kami (tidak pergi berperang),' dan mereka berpaling dengan rasa gembira." (QS. At-Taubah (9): 50)

Baca selanjutnya: Sebab-sebab Masuk Neraka (5)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah