Sebab-sebab Masuk Neraka (5) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Kedua Puluh Enam.

Kajian Ramadhan.

Sebab-sebab Masuk Neraka (5).

"Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: 'Kami beriman,' dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): 'Matilah kamu karena kemarahanmu itu.' Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan." (QS. Ali 'Imran (3): 119-120)

Keempat, menimbulkan fitnah di antara sesama kaum Muslimin dan memecah belah mereka dengan kecintaan untuk melakukan hal itu. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka." (QS. At-Taubah (9): 47)

Kelima, mencintai musuh-musuh Islam dan para pemimpin kufur, memuji-muji mereka, serta menyebarkan pendapat-pendapat yang menyelisihi Islam. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui." (QS. Al-Mujadilah (58): 14)

Keenam, mengejek orang-orang mukmin serta mengejek mereka di dalam melakukan ibadah. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih." (QS. At-Taubah (9): 79)

Mereka akan mencela orang-orang yang bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan ibadah dengan mengatakan riya' dan mencela orang-orang yang lemah (kurang mampu) melaksanakannya sebagai tindak penyepelean.

Ketujuh, menyombongkan diri dari panggilan orang-orang beriman dengan merendahkan dan meragukan. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri." (QS. Al-Munafiqun (63): 5)

Kedelapan, berat menjalankan shalat dan bermalas-malasan untuk mengerjakannya. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisa' (4): 142)

Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat shubuh." (Mutafaq 'alaih)

Kesembilan, menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman:

"Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: 'Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.'" (QS. At-Taubah (9): 61)

"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, serta menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab (33): 57-58)

Demikianlah sejumlah tanda orang-orang munafik yang kami sebutkan agar kita mewaspadainya dan membersihkan jiwa dari melakukan hal itu.

Ya Allah, lindungilah kami dari kemunafikan. Bantulah kami untuk bisa merealisasikan iman sebagaimana yang Engkau ridhai untuk kami lakukan. Ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum Muslimin, wahai Rabb semesta alam. Semoga Allah selalu mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan para Shahabat seluruhnya.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah