Manajemen Umur: Hal-hal yang menyebabkan panjang umur: Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Shalat di malam Lailatul Qadr

Manajemen Umur - Resep Sunnah menambah pahala dan usia

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

5. Shalat di malam Lailatul Qadr.

Berlomba-lombalah dalam mendirikan shalat pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, walaupun engkau mengkhawatirkan akan melewatkan hal-hal yang berhubungan dunia. Dengan begitu, engkau dapat memperoleh malam Lailatul Qadr yang pahalanya sangat besar.

Menggunakan Air | Sunnah-sunnah Fitrah | Surat al-Baqarah | Tafsir Wanita

Tafsir al-Qur-an al-Azhim li an-Nisa'.

Tafsir wanita.

Syaikh Imad Zaki al-Barudi.

Surat al-Baqarah.

Sunnah-sunnah fitrah.

Kedelapan: Menggunakan air.

Dalam penafsirannya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan 'menggunakan air' adalah istinja'. Ini merupakan pendapat Waki'.

Abu 'Ubaid dan yang lainnya berkata, "Menggunakan air dalam mencuci tempat keluarnya kencing, bisa mengurangi kencing itu sendiri."

Panduan praktis hukum jenazah: Memandikan mayat (3/2)

Panduan praktis hukum jenazah

Bab X

Memandikan mayat (3/2)

3. Bagi orang yang memandikan mayat akan mendapat pahala yang besar dengan dua syarat, yaitu:

2) Hanya mengharap ridha kepada Allah semata.

Ia tidak mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih atau hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. Karena ia tahu bahwa Allah Ta'ala tidak akan menerima 'amal 'ibadah kecuali yang benar-benar dilandasi rasa ikhlash hanya karena Allah semata. Dalil-dalil yang menjelaskan hal tersebut sangatlah banyak sekali. Kami cukupkan di sini dengan dua dalil saja:

Dari mana datangnya rezeki? (3) | Kisah rezeki dan harta | Anda dan harta

Anta wa Maala.

Anda dan harta.

Syaikh Adann ath-Tharsyah.

Kisah rezeki dan harta.

Dari mana datangnya rezeki? (3)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi bertahun-tahun, sebelum Allah menciptakan manusia. Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal manusia dan menyediakan makanan dan rezeki baginya, yang menjamin kehidupan dan kelanggengan manusia sampai datang ajalnya. Allah berfirman,

"Katakanlah! Apakah kalian benar-benar kufur pada Dzat yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kalian menjadikan baginya musuh-musuh? Dialah Rabb alam semesta. Dia menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi. Dia memberikan berkah dan Dia menentukan kadar makanan-makanan di muka bumi dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya."
(Qur-an Surat Fushshilat: ayat 9-10)

Allah berfirman,

"Bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Dia memancarkan darinya mata air dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhan. Gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan kokoh. (Semua itu) untuk kesenangan kalian dan binatang-binatang ternak kalian."
(Qur-an Surat an-Nazi'at: ayat 30-33)

Allah telah menciptakan bumi dalam dua hari kemudian menghamparkannya selama dua hari lagi. Allah mengeluarkan dari bumi air, rumput, tanaman, pepohonan, buah-buahan dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia dan binatang yang merupakan rezeki. Allah menjadikan di bumi ini sesuatu (tumbuhan) yang cocok di satu tempat dan tidak cocok di tempat lainnya. Seperti zaitun, dia cocok di satu tempat, tapi tidak di tempat yang lain. Demikian juga dengan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, biji-bijian, dan lain-lain. Semuanya itu memiliki tempat dan musim tertentu. Allah berfirman,

"Dialah Rabb yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Menjadikan setiap buah-buahan di muka bumi berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
(Qur-an Surat ar-Ra'du: ayat 3-4)

Jadi Allah telah menghamparkan bumi dan memanjangkannya. Memantapkannya dengan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi sehingga kerak bumi tidak bergerak dan tidak terjadi gempa.

Allah mengalirkan sungai-sungai dan mata air di atas bumi untuk menumbuhkan buah-buahan yang berbeda-beda warnanya, bentuknya, rasanya dan wanginya. Segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Walaupun sungai-sungai itu berdekatan, tapi Allah menjadikan sebagiannya segar yang bisa menumbuhkan tanaman, dan sebagian yang lain keruh dan asin sehingga tidak layak untuk tumbuhan. Dalam perbedaan ini terdapat bukti keesaan Allah dan tanda-tanda bahwa Allah adalah Pelaku yang bebas. Tidak ada sesembahan selain Dia yang telah membeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya dan menciptakan segala sesuatu berdasarkan kehendaknya. Yang demikian itu tanda kebesaran Allah bagi mereka yang berpikir.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan ketigabelas atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan ketigabelas:

Kemudian juga jawaban jin pada halaman 118:

"Itu benar..."

Perantara antara Allah dan makhluk-Nya: Para Rasul adalah perantara dalam menyampaikan risalah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Katakanlah segala puji hanya bagi Allah, keselamatan semoga terlimpah atas hamba-hamba-Nya yang terpilih. Apakah Allah lebih baik atau apa yang mereka persekutukan?

Adapun sesudah itu:

Risalah ini menceritakan tentang dua orang yang sedang berdialog, salah satunya mengatakan: Antara kita dan Allah harus ada perantara, karena kita tidak mampu untuk mencapai kepada-Nya, tanpa adanya perantara tersebut.

Para Rasul adalah perantara dalam menyampaikan risalah

(Maka jawabannya) adalah:

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (3)

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit (3)

* 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu berkata tentang firman Allah:

Sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Rabbnya yang paling besar.
(Qur-an Surat an-Najm (53): ayat 18)

Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya, memiliki 600 sayap. (42) Pada riwayat lain ada tambahan bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihatnya di dekat Sidratul Muntaha, dan dari bulu-bulu sayap Jibril bertaburan (berjatuhan) mutiara dan yakut. (43)

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (4)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (4)

Keempat, di kalangan sebagian ahli taqlid tersebar luas keragu-raguan yang menghalangi mereka untuk mengikuti Sunnah yang bertentangan dengan pendapat madzhab-madzhab mereka. Mereka beranggapan bahwa mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berarti menyalahi pendiri madzhab. Menurut mereka, hal ini berarti mencela imam mereka, padahal mencela sesama Muslim tidak boleh, apalagi mencela seorang imam?

Aku jawab: Anggapan semacam ini bathil. Hal ini akibat dari sikap meninggalkan Sunnah, sebab kalau tidak karena itu, tentulah anggapan semacam itu tidak akan mungkin dikemukakan oleh seorang Muslim yang berakal. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda:

"Apabila seorang hakim yang menetapkan hukum menghukum dengan berijtihad, ia mendapat pahala dua jika ijtihadnya benar, dan jika ijtihadnya salah, pahalanya satu."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini menolak anggapan mereka dan menegaskan bahwa perkataan "si fulan salah", secara agama berarti "si fulan mendapat satu pahala." Bila orang yang ijtihadnya salah mendapat satu pahala, lalu mengapa ada anggapan bahwa menyalahkan orang tersebut berarti mencelanya? Anggapan semacam ini tidak diragukan lagi adalah satu pandangan yang bathil yang harus ditarik kembali oleh orang yang mempunyai anggapan semacam itu, sebab kalau tidak, hal itu berarti ia telah mencela kaum Muslim, bukan hanya perorangan, tetapi juga tokoh-tokoh imam mereka, baik dari kalangan Shahabat radhiyallaahu 'anhum, tabi'in, imam-imam mujtahid, maupun lain-lainnya. Kami berkeyakinan bahwa para tokoh tersebut juga pernah saling menyalahkan dan saling membantah. (53) Apakah seseorang yang berakal akan beranggapan bahwa hal semacam itu dapat diartikan mereka saling mencela? Bahkan tersebut dalam riwayat yang shahih bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah menyalahkan Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu ketika dia menakwilkan mimpi seseorang. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

"Engkau benar sebagian, tapi engkau salah sebagian."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Baca kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits nomor 121)

Apakah dengan ucapannya itu berarti Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mencela Abu Bakar?

Sungguh mengherankan keraguan semacam ini begitu berpengaruh kepada orang-orang. Mereka menolak Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam karena menyalahi madzhab mereka, sebab dengan mengikuti Sunnah berarti mereka mencela imam mereka, sedangkan mengikuti pendapat imam sekalipun berlawanan dengan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, menurut mereka, adalah sikap menghormati dan memuliakan imam. Oleh karena itu, mereka terus menerus melestarikan sikap taqlid dengan alasan agar tidak mencela imam.

Mereka ternyata lupa dan bukan aku katakan pura-pura lupa, karena keraguan semacam ini menyebabkan mereka terjerumus ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi daripada keadaan yang ingin mereka hindari. Jika ada orang yang berkata kepada mereka bahwa bila mengikuti seseorang itu berarti penghormatan terhadap yang bersangkutan dan menyalahi pendapatnya berarti mencelanya, pertanyaan kepada engkau ialah: "Mengapa engkau membolehkan menyalahi Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak mau mengikutinya dengan alasan engkau ingin tetap mengikuti imam madzhab yang berlainan dengan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, padahal dia bukan orang yang maksum dan mencela orang semacam itu tidaklah dihukum kafir? Jika menurut engkau menyalahi pendapat imam adalah sikap mencela diri yang bersangkutan, menyalahi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentulah merupakan celaan yang lebih berat lagi terhadap beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Bahkan hal semacam itu telah membuatnya kafir. Semoga Allah melindungi kita dari hal semacam itu. Sekiranya ada orang yang berkata kepada mereka semacam itu, tentulah mereka tidak akan sanggup menjawabnya. Akan tetapi, sayangnya, ada suatu kata yang sering kali kami dengar dari mereka, yaitu pernyataan: "Kami tinggalkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, karena kami percaya sepenuh hati kepada imam madzhab kami dan dialah orang yang lebih tahu tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam daripada kami."

Jawaban kami terhadap pernyataan seperti itu telah kami paparkan secara panjang lebar dalam kata pendahuluan sebelumnya. Oleh karena itu, di sini kami akan mengemukakan satu jawaban saja secara ringkas dan insya Allah merupakan jawaban telak. Aku katakan:

"Bukan hanya imam madzhab kalian saja yang lebih tahu daripada kalian tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ada puluhan, malah ratusan imam yang lebih tahu daripada kalian tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Jika terdapat hadits shahih yang bertentangan dengan madzhab kalian, sedangkan di antara para imam itu ada yang mengambilnya dan hal itu engkau akui juga, pernyataan engkau di atas sama sekali tidak ada gunanya. Sikap engkau yang sudah menolak akan mendorong engkau untuk mengatakan: "Kami mengambil Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ini karena percaya imam madzhab telah mengambilnya." Mengikuti imam yang sesuai dengan Sunnah lebih utama daripada mengikuti imam yang berbeda pendapatnya dengan Sunnah. Hal ini sudahlah jelas dan gamblang, tidak sulit dipahami seseorang, insya Allah.

Oleh karena itu, di sini aku dapat mengatakan bahwa kitab kami ini, karena di dalamnya terkumpul hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang shahih tentang tata cara shalat beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengikutinya. Dalam buku ini tidak ada hal-hal yang oleh para 'ulama disepakati sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Bahkan setiap masalah yang tersebut dalam buku ini pasti ada segolongan dari mereka yang menyetujuinya. Bagi yang tidak sesuai dengannya akan termaafkan dan akan diberi satu pahala jika dalam masalah itu tidak ada nash yang tegas atau ada nash tetapi tidak dapat dijadikan hujjah atau alasan-alasan lain yang di kalangan para 'ulama diketahui sebagai hal yang bisa dimaafkan. Sebaliknya, bila seseorang menemukan adanya nash yang shahih, tidak ada lagi alasan baginya untuk meneruskan taqlidnya, tetapi dia wajib mengikuti nash yang terjaga kesuciannya. Inilah tujuan dari penulisan muqaddimah buku ini. Allah telah berfirman dalam surat al-Anfal (8): ayat 24:

"Wahai orang yang beriman, perkenankanlah seruan Allah dan Rasul-Nya, jika kamu diseru kepada hal yang menghidupkan kamu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah mengatur seseorang dengan hatinya dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan."

Allah memfirmankan yang benar dan Dialah pemberi petunjuk ke jalan yang benar serta Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Semoga semua rahmat dicurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para Shahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Damaskus, 20/5/1381 H.
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Bersambung...

===

(53) Baca kitab Kalam Imam Muzani halaman 62 dan kitab Kalam al-Hafizh Ibnu Rajab halaman 54.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (4)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (4)

Keempat, di kalangan sebagian ahli taqlid tersebar luas keragu-raguan yang menghalangi mereka untuk mengikuti Sunnah yang bertentangan dengan pendapat madzhab-madzhab mereka. Mereka beranggapan bahwa mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berarti menyalahi pendiri madzhab. Menurut mereka, hal ini berarti mencela imam mereka, padahal mencela sesama Muslim tidak boleh, apalagi mencela seorang imam?

Aku jawab: Anggapan semacam ini bathil. Hal ini akibat dari sikap meninggalkan Sunnah, sebab kalau tidak karena itu, tentulah anggapan semacam itu tidak akan mungkin dikemukakan oleh seorang Muslim yang berakal. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda:

"Apabila seorang hakim yang menetapkan hukum menghukum dengan berijtihad, ia mendapat pahala dua jika ijtihadnya benar, dan jika ijtihadnya salah, pahalanya satu."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Hadits ini menolak anggapan mereka dan menegaskan bahwa perkataan "si fulan salah", secara agama berarti "si fulan mendapat satu pahala." Bila orang yang ijtihadnya salah mendapat satu pahala, lalu mengapa ada anggapan bahwa menyalahkan orang tersebut berarti mencelanya? Anggapan semacam ini tidak diragukan lagi adalah satu pandangan yang bathil yang harus ditarik kembali oleh orang yang mempunyai anggapan semacam itu, sebab kalau tidak, hal itu berarti ia telah mencela kaum Muslim, bukan hanya perorangan, tetapi juga tokoh-tokoh imam mereka, baik dari kalangan Shahabat radhiyallaahu 'anhum, tabi'in, imam-imam mujtahid, maupun lain-lainnya. Kami berkeyakinan bahwa para tokoh tersebut juga pernah saling menyalahkan dan saling membantah. (53) Apakah seseorang yang berakal akan beranggapan bahwa hal semacam itu dapat diartikan mereka saling mencela? Bahkan tersebut dalam riwayat yang shahih bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah menyalahkan Abu Bakar ketika dia menakwilkan mimpi seseorang. Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya:

"Engkau benar sebagian, tapi engkau salah sebagian."
(Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Baca kitab Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits nomor 121)

Apakah dengan ucapannya itu berarti Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mencela Abu Bakar?

Sungguh mengherankan keraguan semacam ini begitu berpengaruh kepada orang-orang. Mereka menolak Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam karena menyalahi madzhab mereka, sebab dengan mengikuti Sunnah berarti mereka mencela imam mereka, sedangkan mengikuti pendapat imam sekalipun berlawanan dengan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, menurut mereka, adalah sikap menghormati dan memuliakan imam. Oleh karena itu, mereka terus menerus melestarikan sikap taqlid dengan alasan agar tidak mencela imam.

Mereka ternyata lupa dan bukan aku katakan pura-pura lupa, karena keraguan semacam ini menyebabkan mereka terjerumus ke dalam keadaan yang lebih buruk lagi daripada keadaan yang ingin mereka hindari. Jika ada orang yang berkata kepada mereka bahwa bila mengikuti seseorang itu berarti penghormatan terhadap yang bersangkutan dan menyalahi pendapatnya berarti mencelanya, pertanyaan kepada engkau ialah: "Mengapa engkau membolehkan menyalahi Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak mau mengikutinya dengan alasan engkau ingin tetap mengikuti imam madzhab yang berlainan dengan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, padahal dia bukan orang yang maksum dan mencela orang semacam itu tidaklah dihukum kafir? Jika menurut engkau menyalahi pendapat imam adalah sikap mencela diri yang bersangkutan, menyalahi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentulah merupakan celaan yang lebih berat lagi terhadap beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Bahkan hal semacam itu telah membuatnya kafir. Semoga Allah melindungi kita dari hal semacam itu. Sekiranya ada orang yang berkata kepada mereka semacam itu, tentulah mereka tidak akan sanggup menjawabnya. Akan tetapi, sayangnya, ada suatu kata yang sering kali kami dengar dari mereka, yaitu pernyataan: "Kami tinggalkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, karena kami percaya sepenuh hati kepada imam madzhab kami dan dialah orang yang lebih tahu tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam daripada kami."

Jawaban kami terhadap pernyataan seperti itu telah kami paparkan secara panjang lebar dalam kata pendahuluan sebelumnya. Oleh karena itu, di sini kami akan mengemukakan satu jawaban saja secara ringkas dan insya Allah merupakan jawaban telak. Aku katakan:

"Bukan hanya imam madzhab kalian saja yang lebih tahu daripada kalian tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Ada puluhan, malah ratusan imam yang lebih tahu daripada kalian tentang Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Jika terdapat hadits shahih yang bertentangan dengan madzhab kalian, sedangkan di antara para imam itu ada yang mengambilnya dan hal itu engkau akui juga, pernyataan engkau di atas sama sekali tidak ada gunanya. Sikap engkau yang sudah menolak akan mendorong engkau untuk mengatakan: "Kami mengambil Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ini karena percaya imam madzhab telah mengambilnya." Mengikuti imam yang sesuai dengan Sunnah lebih utama daripada mengikuti imam yang berbeda pendapatnya dengan Sunnah. Hal ini sudahlah jelas dan gamblang, tidak sulit dipahami seseorang, insya Allah.

Oleh karena itu, di sini aku dapat mengatakan bahwa kitab kami ini, karena di dalamnya terkumpul hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang shahih tentang tata cara shalat beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak mengikutinya. Dalam buku ini tidak ada hal-hal yang oleh para 'ulama disepakati sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Bahkan setiap masalah yang tersebut dalam buku ini pasti ada segolongan dari mereka yang menyetujuinya. Bagi yang tidak sesuai dengannya akan termaafkan dan akan diberi satu pahala jika dalam masalah itu tidak ada nash yang tegas atau ada nash tetapi tidak dapat dijadikan hujjah atau alasan-alasan lain yang di kalangan para 'ulama diketahui sebagai hal yang bisa dimaafkan. Sebaliknya, bila seseorang menemukan adanya nash yang shahih, tidak ada lagi alasan baginya untuk meneruskan taqlidnya, tetapi dia wajib mengikuti nash yang terjaga kesuciannya. Inilah tujuan dari penulisan muqaddimah buku ini. Allah telah berfirman dalam surat al-Anfal (8): ayat 24:

"Wahai orang yang beriman, perkenankanlah seruan Allah dan Rasul-Nya, jika kamu diseru kepada hal yang menghidupkan kamu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah mengatur seseorang dengan hatinya dan sesungguhnya hanya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan."

Allah memfirmankan yang benar dan Dialah pemberi petunjuk ke jalan yang benar serta Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong. Semoga semua rahmat dicurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para Shahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb seluruh alam.

Damaskus, 20/5/1381 H.
Muhammad Nashiruddin al-Albani

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (11)

Kitab Adabul Mufrad (11)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 6: Balas budi bagi kedua orang tua.

11. Abu Burdah melihat 'Abdullah bin 'Umar radhiyallaahu 'anhuma dan seorang dari Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka'bah sambil menggendong ibunya pada punggungnya orang itu lalu bersenandung:

Adabul Mufrad (10)

Kitab Adabul Mufrad (10)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 6: Balas budi bagi kedua orang tua.

10. Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Adabul Mufrad (9)

Kitab Adabul Mufrad (9)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 5: Ucapan yang lemah lembut kepada orang tua.

9. Urwah mengucapkan firman Allah:

"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan."
(Qur-an Surat al-Isra': ayat 24)

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (3)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (3)

Ketiga, segolongan lain beranggapan bahwa yang dimaksud dengan mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan tidak mengambil pendapat-pendapat imam yang berlawanan dengan Sunnah beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah sama sekali tidak memperdulikan pendapat mereka dan tidak memanfaatkan hasil ijtihad atau pemikiran mereka.

Aku jawab: Anggapan semacam itu sama sekali tidak benar, bahkan sama sekali bathil. Hal ini dapat dibuktikan dari keterangan-keterangan di atas. Semua penjelasan yang telah dikemukakan di atas bertentangan dengan anggapan ini. Yang kami serukan ialah bahwa kita tidak boleh menjadikan madzhab sebagai agama dan menempatkannya pada kedudukan al-Qur-an dan Sunnah dengan pengertian bahwa bila terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, kita menjadikan madzhab-madzhab tersebut sebagai rujukan untuk mendapatkan hukum-hukum terhadap hal-hal yang baru, seperti yang dilakukan oleh ahli fiqh pada zaman sekarang. Dengan bersumber pada kitab-kitab madzhab, mereka menyusun hukum baru tentang keluarga, pernikahan, thalak, dan sebagainya, tanpa mau merujuk pada al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam agar dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil. Mereka hanya mengikuti semboyan perbedaan pendapat adalah rahmat dan mengambil mana yang ringan dan mudah atau mana yang maslahat menurut anggapan mereka. Alangkah indahnya pernyataan Sulaiman at-Taimi berikut ini:

"Kalau engkau mengambil mana yang enak saja dari setiap pendapat yang dikemukakan setiap 'ulama, yang engkau dapatkan adalah celakanya saja."

Sikap semacam ini tentu kami tolak dan hal ini telah menjadi ijma' 'ulama yang sejauh pengetahuanku tidak ada perselisihan di antara mereka.

Merujuk pada pendapat-pendapat mereka, memanfaatkan hasil pemikiran mereka, dan menggunakan pendapat mereka untuk menolong memahami kebenaran dalam memilih berbagai perbedaan pendapat yang tidak terdapat ketentuannya dalam al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam atau untuk memperoleh kejelasan memahami nash agama, tidaklah kami tolak, bahkan kami anjurkan dan kami suruh. Langkah semacam ini merupakan kebaikan yang diharapkan dilakukan oleh orang yang ingin menempuh petunjuk al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam.

Ibnu 'Abdil Barr dalam kitabnya juz 2 halaman 172 mengatakan:

"Wahai saudaraku, hendaklah engkau menghafal dan memperhatikan sumber-sumber pokok agama. Ketahuilah, bahwa orang yang bersungguh-sungguh menghafalkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan hukum-hukum yang termaktub dalam al-Qur-an serta pendapat-pendapat ahli fiqh, lalu menjadikannya sebagai penolong untuk melakukan ijtihad, membuka langkah untuk berpikir dan menafsirkan kalimat-kalimat yang umum yang mempunyai beberapa pengertian yang ada dalam Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, tidak mau membeo (taqlid buta) kepada seseorang, dan tidak menganggap dirinya sebagai orang yang layak bersikap sebagai 'ulama dalam menganalisis Sunnah, mengikuti pola mereka dalam melakukan kajian, pemahaman, dan pemikiran, berterima kasih atas usaha mereka yang bermanfaat, memuji mereka karena kebenaran mereka dan begitu banyaknya pendapat-pendapat mereka, tidak menyatakan dirinya selamat dari kesalahan seperti halnya para 'ulama terdahulu, adalah seorang santri yang berpegang teguh pada tradisi Salafush Shalih. Orang semacam ini benar dalam langkahnya, terbantu dalam kelurusan berpikirnya, dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam serta petunjuk para Shahabat radhiyallaahu 'anhum.

Sebaliknya, orang yang berani berpendapat sendiri, menyimpang dari hal-hal yang kami sebutkan di atas, menentang hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dengan ra'yu (akal)nya serta mengaku sudah mencapai kemampuan untuk berijtihad sendiri, adalah orang yang sesat lagi menyesatkan. Orang yang tidak mengetahui semua itu dan memberikan fatwa tanpa 'ilmu adalah lebih buta dan lebih sesat.

"Inilah kebenaran yang tidak lagi tersembunyi. Oleh karena itu, biarkanlah aku mengikuti rambu-rambu jalan ini."

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (2/5)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2/5)

Ringkasnya, para Shahabat radhiyallaahu 'anhum berbeda dan berselisih pendapat karena darurat, namun mereka menolak perbedaan dan perselisihan pendapat itu sendiri dan menghindarkan diri dari hal semacam itu, selama mereka mendapatkan jalannya.

Adapun golongan ahli taqlid, sekalipun mereka memiliki kesempatan untuk menghindarkan diri dari perbedaan dan perselisihan pendapat, ternyata mereka tidak mau bersepakat dan menempuh jalan ke sana, bahkan mereka terus mengokohkan keadaan semacam itu. Oleh karena itu, sungguh semakin jauh jurang perbedaan dan perselisihan pendapat di antara mereka.

Inilah perbedaan yang membedakan antara para Shahabat radhiyallaahu 'anhum dan golongan Salaf dengan ahli taqlid dilihat dari sebab timbulnya perbedaan dan perselisihan pendapat.

Adapun sisi dampaknya sudahlah sangat jelas. Para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu', ternyata tetap teguh memelihara kesatuan, jauh dari perpecahan, dan tidak bercerai berai. Sebagai contoh mengenai membaca bismillaah dengan keras. Sebagian shahabat menyatakan boleh dan sebagian lagi menyatakan tidak boleh. Ada pula masalah angkat tangan bersamaan dalam takbir dalam shalat, ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat tidak. Juga masalah menyentuh perempuan setelah wudhu', ada yang berpendapat batal dan ada yang berpendapat tidak. Sekalipun demikian mereka tetap shalat berjama'ah di belakang seorang imam dan tidak mau meninggalkan imam yang dianggap berbeda pendapat dengan dirinya.

Golongan ahli taqlid, karena perbedaan pendapat yang tidak dapat dipertemukan sama sekali, menyebabkan barisan kaum Muslim bercerai berai, padahal rukun Islam yang terpenting sesudah dua kalimat syahadat adalah shalat. Orang yang berbeda madzhab tidak mau shalat berjama'ah di belakang imam yang tidak sama madzhabnya dengan alasan imamnya bathil atau setidak-tidaknya melakukan hal-hal yang berbeda dengan madzhab makmum. Hal ini pernah kami dengar dan kami saksikan sendiri seperti juga yang disaksikan oleh orang lain. (50) Bagaimana tidak terjadi dampak negatif semacam itu, karena sebagian dari kitab-kitab madzhab yang terkenal dewasa ini menerangkan hal ini bathil, hal ini makruh, sehingga akibatnya di suatu masjid jami' didirikan shalat berjama'ah empat kali karena mengikuti empat madzhab. Engkau bisa melihat beberapa orang tengah duduk menantikan datang imamnya, sedangkan kelompok lain sedang shalat dipimpin oleh imamnya.

Bahkan perselisihan dan perbedaan ini mencapai keadaan lebih ekstrim pada segolongan ahli taqlid, misalnya larangan menikah antara pengikut Hanafi dan pengikut Syafi'i. Selanjutnya, muncullah fatwa dari segolongan 'ulama Hanafi, yang disebut mufti tsaqalaini. Fatwa ini membolehkan pernikahan antara laki-laki pengikut Hanafi dan perempuan pengikut Syafi'i. Alasannya bahwa perempuan pengikut madzhab Syafi'i ini dapat disamakan dengan kedudukan ahli kitab. (51) Dari fatwa ini dapat dipahami bahwa pernikahan sebaliknya tidak boleh, yaitu bila perempuan dari madzhab Hanafi dan laki-laki dari madzhab Syafi'i, sebagaimana laki-laki ahli kitab tidak boleh menikahi perempuan Muslimat.

Itulah dua contoh perbedaan madzhab yang ternyata berpengaruh buruk pada ummat akibat perselisihan dan perbedaan 'ulama mutaakhir yang ternyata terus dipertahankan. Hal ini berbeda dengan perbedaan pendapat kalangan Salaf yang tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap ummat. Oleh karena itulah, golongan Salaf ini merupakan golongan yang selamat karena mereka mematuhi larangan bercerai berai dalam beragama. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh golongan mutaakhir. Semoga Allah memberikan petunjuk jalan yang lurus kepada kita.

Perbedaan dan perselisihan mereka (golongan mutaakhir) ternyata bahaya dan bencananya tidak hanya menimpa diri mereka, tetapi merembet ke mana-mana, bahkan sungguh amat disesalkan hal tersebut berpengaruh pula sampai ke beberapa negeri kuffar, sehingga mereka terhalangi untuk masuk Islam beramai-ramai. Dalam sebuah buku berjudul Zhulamun minal Gharbi karya Muhammad al-Ghazali halaman 200 disebutkan:

"Pada sebuah konferensi di Universitas Princeton, Amerika Serikat, salah seorang pembicaranya ditanya oleh peserta, yang kebanyakannya adalah para orientalis dan para pemerhati masalah-masalah Islam:

'Dengan ajaran apa kaum muslim bisa maju ke pentas dunia? Apakah dengan ajaran Islam yang dipahami golongan Sunni, atau yang dipahami golongan syi'ah imamiah atau syi'ah zaidiyah', padahal di antara mereka sendiri terjadi perselisihan?

Terkadang ada segolongan yang menyelesaikan suatu masalah dengan pemikiran yang modern, tetapi yang lain tetap dengan pemikiran yang kuno dan jumud.

Ringkasnya, para da'i membiarkan objek dakwahnya dalam kebingungan karena mereka sendiri mengalami kebingungan." (52)

Dalam pendahuluan buku berjudul Hadiyatus Sulthan ila Muslimi Biladi Jaban, karya Imam Muhammad Sulthan Ma'sumi, dia menulis:

"Ada sebuah pertanyaan diajukan kepadaku oleh dua orang Muslim bangsa Jepang dari kota Tokyo dan Osaka Jepang Timur, yang isinya:

'Apakah hakikat agama Islam itu? Apakah makna madzhab itu? Apakah orang harus mengikuti salah satu madzhab empat untuk menjalankan Islam? Apakah seseorang harus mengikuti madzhab Malik, atau Hanafi, atau Syafi'i, atau yang lain (Hambali), atau sama sekali tidak?

Sebab di sini telah terjadi perselisihan yang hebat dan perdebatan yang sengit.' Ketika ada beberapa orang Jepang yang berpikir jernih hendak masuk Islam, mereka datang ke salah satu organisasi Islam yang ada di Tokyo. Sekelompok muslim India menyatakan kepada mereka, agar mereka (orang Jepang tersebut) memilih madzhab Hanafi karena beliau adalah pelita ummat.

Akan tetapi sekelompok orang dari Indonesia (Jawa) mengharuskan mereka mengikuti Syafi'i. Ketika orang-orang Jepang ini mendengar pernyataan mereka, benar-benar mereka merasa heran dan menjadi bingung untuk mewujudkan keinginannya. Di sini masalah madzhab telah menjadi perintang bagi orang lain untuk masuk Islam.

Bersambung...

===

(50) Baca bab 8 dari Kitab Ma la Yajuzu fihi al-Khilaf halaman 65-72. Engkau akan menemukan banyak contoh seperti kami kemukakan di sini.

(51) Kitab al-Bahru ar-Raiq.

(52) Aku katakan di sini: "Tulisan-tulisan Muhammad Ghazali yang akhir-akhir ini banyak tersebar di sana-sini seperti bukunya yang berjudul as-Sunnah an-Nabawiyyah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits, dimana dia sendiri termasuk kategori da'i-da'i semacam itu, yaitu da'i yang kebingungan. Sebelumnya kami telah membaca buku ini dan memberi komentar terhadap beberapa Hadits yang terdapat di dalamnya serta koreksi-koreksi dalam beberapa masalah fiqh. Sebagian dari tulisan yang ada dalam buku itu penuh dengan hal-hal yang menunjukkan kebingungannya, penyimpangannya dari Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menjadikan akalnya sebagai hakim dalam mengesahkan atau mendha'ifkan hadits. Ia tidak mau berpegang pada dasar-dasar 'ilmu hadits atau para ahli dan mereka yang tahu seluk beluk hadits. Bahkan hal yang sangat aneh dilakukannya ialah menshahihkan hadits yang jelas-jelas dha'if. Akan tetapi, tidak aneh karena kita melihat dia mendha'ifkan hadits-hadits yang jelas disepakati shahihnya oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim sebagaimana dapat engkau baca hal ini dalam komentarku pada dua muqaddimah bukunya berjudul Fiqhus Sirah yang telah aku beri takhrijnya terhadap hadits-hadits yang termuat di dalamnya pada cetakan ke-4. Hal ini aku lakukan atas permintaan dia sendiri melalui salah seorang temanku dari kalangan al-Azhar. Oleh karena itu, segera aku berikan takhrij buku tersebut, dengan perkiraan bahwa hal itu menunjukkan adanya perhatian dia secara sungguh-sungguh terhadap hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan sirah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam serta ingin memeliharanya dari pemalsuan yang datang dari luar. Sekalipun ia menyatakan pujian terhadap komentar dan catatanku serta dengan terus terang menyatakan gembiranya dalam komentarnya di bawah judul Haula Ahaadiits Hadzal Kitab, namun dia sendiri berbicara tentang metode yang digunakannya dalam menerima hadits-hadits dha'if dan menolak hadits-hadits shahih semata-mata ditinjau dari segi matannya. Dengan cara semacam ini dia ingin memberikan kesan kepada pembaca bahwa metode penelitian dan koreksi yang ditentukan oleh 'ilmu hadits bagi dia sama sekali tidak ada artinya, selama hal itu bertentangan dengan kritik yang logis, padahal metode kritik yang logis berbeda antara seseorang dan yang lainnya. Terkadang suatu hadits yang diterima oleh seseorang ditolak oleh lainnya. Dengan metode semacam ini agama menjadi permainan nafsu, tanpa memiliki kaidah dan prinsip-prinsip baku, dan hanya tergantung pada selera perorangan. Hal ini jelas bertentangan dengan metode yang diikuti oleh para 'ulama kaum Muslim bahwa sanad hadits merupakan bagian dari agama. Seandainya hadits itu boleh tanpa sanad, tentu orang akan berbicara sesuka hatinya dan inilah yang dilakukan oleh Ghazali dalam sebagian hadits-hadits yang dimuat dalam kitab Sirahnya. Kitabnya memuat sebagian besar hadits mursal dan mu'dhal. Hadits dha'if dikatakan shahih seperti yang terlihat dalam takhrijku terhadap bukunya. Sekalipun demikian ternyata dia tetap keras kepala dengan memberikan pernyataan-pernyataan di bawah judul di atas:

"Aku telah melakukan ijtihad agar dapat menempuh cara yang benar dan merujuk pada sumber-sumber yang dipercaya, dan aku kira aku telah sampai dengan baik pada tingkatan ini. Aku telah mengumpulkan riwayat-riwayat yang dapat menenangkan hati seorang 'alim yang berpandangan luas."

Begitulah dia berujar. Seandainya dia ditanya, apakah kaidah yang engkau pergunakan dalam ijtihad engkau itu, apakah kaidah itu berupa prinsip-prinsip 'ilmu hadits yang merupakan satu-satunya jalan untuk dapat mengetahui mana riwayat yang shahih dan mana yang dha'if dari sirah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, jawabnya tentu ia akan mengatakan berdasarkan pemikiran pribadi. Itu adalah salah satu bentuk kebobrokannya. Sebagai buktinya, dia berani menshahihkan hadits yang tidak shahih sanadnya dan dia berani melemahkan hadits walaupun sanadnya shahih menurut Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, seperti yang pernah aku kemukakan pada muqaddimah kitabnya Fiqhus Sirah di atas dan yang telah dicetak pada terbitan keempat seperti tersebut di atas. Namun sungguh disayangkan pada terbitan-terbitan berikutnya, seperti terbitan Darul Qalam, Damaskus, dan lain-lain, muqaddimah itu telah dibuangnya. Hal semacam ini membuat sebagian orang menduga bahwa tujuan penghapusannya pada buku terbitan-terbitan baru tersebut hanyalah mengejar lakunya buku di kalangan pembaca yang telah mampu menghargai kesungguhan para pengabdi Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berusaha dengan keras untuk memilah mana hadits dha'if dan mana hadits shahih menurut kaidah-kaidah 'ilmiah, bukan selera pribadi dan dorongan nafsu yang bermacam-macam, seperti dilakukan Ghazali dalam bukunya. Begitu juga yang ia lakukan dalam bukunya yang terakhir berjudul as-Sunnah Nabawiyyah Baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits. Di situ nampak jelas bahwa Ghazali menempuh metode mu'tazilah. Jadi, bagi Ghazali jerih payah ahli hadits yang telah berlangsung puluhan tahun dalam memilah hadits shahih dari yang dha'if tidak ada artinya. Begitu pula segala jerih payah para imam ahli fiqh yang telah meletakkan kaidah-kaidah ushul dan membuat kaidah-kaidah furu', tidak ada gunanya, sebab Ghazali bisa mengambil mana saja seenaknya dan meninggalkan mana saja seenaknya, tanpa terikat oleh satu kaidahpun. Banyak ahli 'ilmu telah melakukan sanggahan terhadap hal ini. Mereka telah menjelaskan secara rinci tentang kebingungan dan penyelewengan Ghazali. Tulisan yang terbaik dalam hal ini ialah yang ditulis oleh Dr. Rabi' bin Hadi al-Madkhali yang dimuat dalam Majalah al-Mujahid Afghaniyah nomor 9-11 dan tulisan Shalih bin 'Abdul 'Aziz bin Muhammad 'Ali Syaikh dengan judul al-Mi'yaru li 'ilmil Ghazali (Bobroknya 'ilmu Ghazali).

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi: Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (7)

Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?

Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (7)

Perkataan Imam Suyuthi rahimahullaah:

Imam Suyuthi membawakan hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berikut ini di dalam kitabnya yang berjudul al-Amru bil Ittiba' wan Nahyu 'anil Ibtida' halaman 16:

Janganlah seorang di antara kamu ada yang mendahului puasa Ramadhan dengan cara berpuasa satu atau dua hari (sebelum datangnya bulan Ramadhan, lantaran khawatir kalau-kalau bulan Ramadhan telah masuk). Kecuali bila orang itu memang telah biasa berpuasa pada hari-hari tersebut, maka dia boleh untuk mempuasakannya. (157)

Kemudian beliau berkata:

Setelah seorang Muslim mendengar hadits-hadits (yang seperti ini; yakni yang berisi larangan dari 'ibadah) apakah mungkin diperbolehkan baginya untuk mengatakan bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah melarang manusia dari pelaksanaan shalat dan shaum, semata-mata lantaran perbuatan shalat dan shaumnya itu sendiri?! Barangsiapa yang mengatakan hal itu, maka dia adalah orang bodoh yang telah mengadakan penyimpangan terhadap dalil-dalil al-Qur-an dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Dan perkataan itu menunjukkan bahwa dia telah keluar dari agama Islam ini, sekaligus sebagai seorang yang telah diharamkan oleh Allah untuk memiliki pemahaman yang baik terhadap dalil-dalil al-Qur-an dan Sunnah. Walaupun sebenarnya telah jelas baginya permasalahan ini, bagaimana halnya dengan permasalahan-permasalahan yang lebih rumit lagi?! Maka siapa saja yang membantah orang-orang yang melarang manusia dari perbuatan bid'ah, maka secara tidak langsung berarti dia juga telah membantah terhadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam hal ini. Karena sesungguhnya beliaulah yang pertama kali melarang manusia dari hal itu, dan beliau pula yang telah memerintahkan kita untuk mengingkari setiap perbuatan mungkar yang ada, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala lah yang akan membuat perhitungan terhadap setiap orang yang mengada-ada dan membuat fitnah.

Bersambung...

===

(157) Muttafaq 'alaihi: Imam al-Bukhari nomor 1815 dan Imam Muslim nomor 1082.

===

Maraji'/ Sumber:
Judul buku: Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan Maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?, Penulis: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Muraja'ah: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penerbit: Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta - Indonesia, Cetakan ketiga, Syawwal 1435 H/ Agustus 2014 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (11)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (11)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

11 - Syaikh berkata: Abu 'Abdillah al-Hafizh rahimahullaah Ta'ala telah mengabarkan kepada kami. Beliau berkata: "Aku membaca tulisan Abu Amru yang didiktekan kepadanya. Beliau berkata:

Manajemen umur: Hal yang menyebabkan panjang umur: Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Memberi buka puasa

Manajemen Umur - Resep Sunnah menambah pahala dan usia

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

4. Puasa.

b. Memberi buka puasa.

Jika seseorang memperoleh pahala dengan berpuasa selama sehari dengan menghindari hal-hal yang dapat membatalkannya, maka bagaimana pendapat engkau jika engkau memperoleh pahala puasa sama dengan beberapa hari hanya dalam waktu tidak lebih dari sejam. Caranya adalah dengan menyediakan hidangan buka puasa.

Menyela-nyela Jemari | Sunnah-sunnah Fitrah | Surat al-Baqarah | Tafsir Wanita

Tafsir al-Qur-an al-Azhim li an-Nisa'.

Tafsir wanita.

Syaikh Imad Zaki al-Barudi.

Surat al-Baqarah.

Sunnah-sunnah fitrah.

Ketujuh: Menyela-nyela jemari.

Menyela-nyela dalam mencuci jemari disepakati kesunnahannya oleh para 'ulama. Ia sebenarnya merupakan sunnah yang berdiri sendiri, dan bukan hanya khusus berkaitan dengan masalah wudhu' saja.

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya: Cara melindungi diri dari fitnah dajjal (4/2)

Kisah dajjal dan turunnya Nabi 'Isa untuk membunuhnya

Muqaddimah

Cara melindungi diri dari fitnah dajjal (4/2)

Ketahuilah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan kota-kota Suci ini sebagai pelindung dari dajjal untuk orang-orang yang berdiam di sana yang beriman dan komitmen menunaikan hak dan kewajibannya terhadap Rabb mereka. Jika tidak demikian, maka bertempat tinggal di daerah-daerah Suci tersebut -sementara ia tidak berkepribadian dan beradab dengan adab-adab seorang mukmin- maka daerah tersebut tidak akan melindunginya. Pada (paragraf 25 dan 30 Abu Umamah) akan dijelaskan bahwa dajjal -semoga laknat Allah senantiasa menimpanya- ketika datang di kota Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan dicegah oleh para Malaikat, ia dapat mengguncang-guncangkan penduduknya tiga kali, sehingga dengan itu siapapun yang munafik baik laki-laki atau perempuan akan keluar dan datang menemuinya.

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit (2)

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit (2)

* (Dalam riwayat lain: Kemudian kami mendatangi langit keempat seperti itu. Aku mendatangi Idris, lalu Jibril berkata, "Ini adalah Idris, ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya, lalu dia membalas salamku dan berkata, "Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.") (27) (Dan dia mendo'akan kebaikan untukku) (lihat catatan kaki nomor 3). Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Allah Ta'ala berfirman,

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (2/5)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2/5)

Ringkasnya, para Shahabat radhiyallaahu 'anhum berbeda dan berselisih pendapat karena darurat, namun mereka menolak perbedaan dan perselisihan pendapat itu sendiri dan menghindarkan diri dari hal semacam itu, selama mereka mendapatkan jalannya.

Adapun golongan ahli taqlid, sekalipun mereka memiliki kesempatan untuk menghindarkan diri dari perbedaan dan perselisihan pendapat, ternyata mereka tidak mau bersepakat dan menempuh jalan ke sana, bahkan mereka terus mengokohkan keadaan semacam itu. Oleh karena itu, sungguh semakin jauh jurang perbedaan dan perselisihan pendapat di antara mereka.

Inilah perbedaan yang membedakan antara para Shahabat radhiyallaahu 'anhum dan golongan Salaf dengan ahli taqlid dilihat dari sebab timbulnya perbedaan dan perselisihan pendapat.

Adapun sisi dampaknya sudahlah sangat jelas. Para Shahabat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah furu', ternyata tetap teguh memelihara kesatuan, jauh dari perpecahan, dan tidak bercerai berai. Sebagai contoh mengenai membaca bismillaah dengan keras. Sebagian shahabat menyatakan boleh dan sebagian lagi menyatakan tidak boleh. Ada pula masalah angkat tangan bersamaan dalam takbir dalam shalat, ada yang berpendapat boleh dan ada yang berpendapat tidak. Juga masalah menyentuh perempuan setelah wudhu', ada yang berpendapat batal dan ada yang berpendapat tidak. Sekalipun demikian mereka tetap shalat berjama'ah di belakang seorang imam dan tidak mau meninggalkan imam yang dianggap berbeda pendapat dengan dirinya.

Golongan ahli taqlid, karena perbedaan pendapat yang tidak dapat dipertemukan sama sekali, menyebabkan barisan kaum Muslim bercerai berai, padahal rukun Islam yang terpenting sesudah dua kalimat syahadat adalah shalat. Orang yang berbeda madzhab tidak mau shalat berjama'ah di belakang imam yang tidak sama madzhabnya dengan alasan imamnya bathil atau setidak-tidaknya melakukan hal-hal yang berbeda dengan madzhab makmum. Hal ini pernah kami dengar dan kami saksikan sendiri seperti juga yang disaksikan oleh orang lain. (50) Bagaimana tidak terjadi dampak negatif semacam itu, karena sebagian dari kitab-kitab madzhab yang terkenal dewasa ini menerangkan hal ini bathil, hal ini makruh, sehingga akibatnya di suatu masjid jami' didirikan shalat berjama'ah empat kali karena mengikuti empat madzhab. Engkau bisa melihat beberapa orang tengah duduk menantikan datang imamnya, sedangkan kelompok lain sedang shalat dipimpin oleh imamnya.

Bahkan perselisihan dan perbedaan ini mencapai keadaan lebih ekstrim pada segolongan ahli taqlid, misalnya larangan menikah antara pengikut Hanafi dan pengikut Syafi'i. Selanjutnya, muncullah fatwa dari segolongan 'ulama Hanafi, yang disebut mufti tsaqalaini. Fatwa ini membolehkan pernikahan antara laki-laki pengikut Hanafi dan perempuan pengikut Syafi'i. Alasannya bahwa perempuan pengikut madzhab Syafi'i ini dapat disamakan dengan kedudukan ahli kitab. (51) Dari fatwa ini dapat dipahami bahwa pernikahan sebaliknya tidak boleh, yaitu bila perempuan dari madzhab Hanafi dan laki-laki dari madzhab Syafi'i, sebagaimana laki-laki ahli kitab tidak boleh menikahi perempuan Muslimat.

Itulah dua contoh perbedaan madzhab yang ternyata berpengaruh buruk pada ummat akibat perselisihan dan perbedaan 'ulama mutaakhir yang ternyata terus dipertahankan. Hal ini berbeda dengan perbedaan pendapat kalangan Salaf yang tidak mendatangkan pengaruh buruk terhadap ummat. Oleh karena itulah, golongan Salaf ini merupakan golongan yang selamat karena mereka mematuhi larangan bercerai berai dalam beragama. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan oleh golongan mutaakhir. Semoga Allah memberikan petunjuk jalan yang lurus kepada kita.

Perbedaan dan perselisihan mereka (golongan mutaakhir) ternyata bahaya dan bencananya tidak hanya menimpa diri mereka, tetapi merembet ke mana-mana, bahkan sungguh amat disesalkan hal tersebut berpengaruh pula sampai ke beberapa negeri kuffar, sehingga mereka terhalangi untuk masuk Islam beramai-ramai. Dalam sebuah buku berjudul Zhulamun minal Gharbi karya Muhammad al-Ghazali halaman 200 disebutkan:

"Pada sebuah konferensi di Universitas Princeton, Amerika Serikat, salah seorang pembicaranya ditanya oleh peserta, yang kebanyakannya adalah para orientalis dan para pemerhati masalah-masalah Islam:

'Dengan ajaran apa kaum muslim bisa maju ke pentas dunia? Apakah dengan ajaran Islam yang dipahami golongan Sunni, atau yang dipahami golongan syi'ah imamiah atau syi'ah zaidiyah', padahal di antara mereka sendiri terjadi perselisihan?

Terkadang ada segolongan yang menyelesaikan suatu masalah dengan pemikiran yang modern, tetapi yang lain tetap dengan pemikiran yang kuno dan jumud.

Ringkasnya, para da'i membiarkan objek dakwahnya dalam kebingungan karena mereka sendiri mengalami kebingungan." (52)

Dalam pendahuluan buku berjudul Hadiyatus Sulthan ila Muslimi Biladi Jaban, karya Imam Muhammad Sulthan Ma'sumi, dia menulis:

"Ada sebuah pertanyaan diajukan kepadaku oleh dua orang Muslim bangsa Jepang dari kota Tokyo dan Osaka Jepang Timur, yang isinya:

'Apakah hakikat agama Islam itu? Apakah makna madzhab itu? Apakah orang harus mengikuti salah satu madzhab empat untuk menjalankan Islam? Apakah seseorang harus mengikuti madzhab Malik, atau Hanafi, atau Syafi'i, atau yang lain (Hambali), atau sama sekali tidak?

Sebab di sini telah terjadi perselisihan yang hebat dan perdebatan yang sengit.' Ketika ada beberapa orang Jepang yang berpikir jernih hendak masuk Islam, mereka datang ke salah satu organisasi Islam yang ada di Tokyo. Sekelompok muslim India menyatakan kepada mereka, agar mereka (orang Jepang tersebut) memilih madzhab Hanafi karena beliau adalah pelita ummat.

Akan tetapi sekelompok orang dari Indonesia (Jawa) mengharuskan mereka mengikuti Syafi'i. Ketika orang-orang Jepang ini mendengar pernyataan mereka, benar-benar mereka merasa heran dan menjadi bingung untuk mewujudkan keinginannya. Di sini masalah madzhab telah menjadi perintang bagi orang lain untuk masuk Islam.

Bersambung...

===

(50) Baca bab 8 dari Kitab Ma la Yajuzu fihi al-Khilaf halaman 65-72. Engkau akan menemukan banyak contoh seperti kami kemukakan di sini.

(51) Kitab al-Bahru ar-Raiq.

(52) Aku katakan di sini: "Tulisan-tulisan Muhammad Ghazali yang akhir-akhir ini banyak tersebar di sana-sini seperti bukunya yang berjudul as-Sunnah an-Nabawiyyah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits, dimana dia sendiri termasuk kategori da'i-da'i semacam itu, yaitu da'i yang kebingungan. Sebelumnya kami telah membaca buku ini dan memberi komentar terhadap beberapa Hadits yang terdapat di dalamnya serta koreksi-koreksi dalam beberapa masalah fiqh...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sifat Shalat Nabi: Salah Paham dan Jawabannya (2/4)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2/4)

Jika ada yang berpendapat, sekiranya riwayat yang dikatakan dari Imam Malik itu bathil, mengapa Imam Malik bersikap enggan menerima tawaran Khalifah al-Manshur untuk menyatukan pendirian semua orang dengan kitabnya al-Muwaththa' dan beliau tidak menjawab semacam itu kepadanya?

Aku jawab: Riwayat terbaik yang aku temui adalah yang diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah dalam kitab Syarah Ikhtishar 'Ulumil Hadits halaman 31, bahwa Imam Malik rahimahullaah berkata:

"Para 'ulama telah mengumpulkan dan mengetahui perkara-perkara yang tidak kami ketahui."

Hal ini membuktikan betapa besar kesadaran beliau dan keluasan 'ilmunya, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir.

Yang jelas, perselisihan dan perbedaan pendapat itu seluruhnya buruk, bukan merupakan suatu rahmat. Oleh karena itu, ada perbedaan pendapat yang menimbulkan dosa, seperti perbedaan pendapat yang timbul karena sikap fanatik madzhab, tetapi ada juga perbedaan pendapat yang tidak menimbulkan dosa, seperti perbedaan pendapat di kalangan Shahabat radhiyallaahu 'anhum, tabi'in, dan para imam rahimahumullaah. Semoga Allah memasukkan kami dalam golongan mereka dan diberi taufik untuk mengikuti jejak mereka.

Jadi, jelaslah bahwa perbedaan dan perselisihan pendapat di kalangan Shahabat radhiyallaahu 'anhum berbeda dengan yang terjadi di kalangan ahli taqlid.

Bersambung...

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Mulai mi'raj ke atas langit

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Mulai mi'raj ke atas langit

* Kemudian dia memegang tanganku, dan membawaku naik ke langit dunia. (Dalam riwayat lain: Kemudian aku berangkat bersama Jibril 'alaihis salaam, lalu kami sampai di langit dunia). (15)

* Setelah aku tiba di langit dunia. Jibril berkata kepada penjaga langitnya, "Bukalah!" Dia bertanya, "Siapa ini?" Jibril menjawab, "Jibril." Dia bertanya, "Apakah ada seseorang bersamamu?" Jibril menjawab, "Ya, Muhammad bersamaku." Dia bertanya, "Engkau diutus (Allah) kepadanya?" Jibril menjawab, "Ya." (Dalam riwayat lain ada tambahan: Penjaga itu berkata, "Selamat datang kepadanya, orang yang terbaik telah datang"). (16)

Dari mana datangnya rezeki? (2) | Kisah rezeki dan harta | Anda dan harta

Anta wa Maala.

Anda dan harta.

Syaikh Adnan ath-Tharsyah.

Kisah rezeki dan harta.

Dari mana datangnya rezeki?

Persoalan rezeki sangat penting, sehingga kalimat rezeki disebut berulang kali dalam al-Qur-an sampai lebih dari seratus kali. Rezeki merupakan salah satu perbuatan yang membuktikan adanya rububiyah (Ketuhanan Allah) dan bukti besar akan adanya Allah Ta'ala. Oleh karena itu al-Hawariyun (pengikut Nabi 'Isa 'alaihis salaam) meminta Nabi 'Isa 'alaihis salaam, jika Rabbnya mampu menurunkan hidangan dari langit untuk mereka makan dan menenangkan hati mereka. Dengan demikian mereka mengetahui kebenaran 'Isa 'alaihis salaam dan mereka bersaksi bahwa turunnya hidangan dari langit adalah bukti dari Allah. Allah Ta'ala berfirman,

"Ketika Hawariyun berkata, 'Wahai 'Isa putera Maryam, apakah Rabbmu mampu menurunkan hidangan dari langit untuk kami?' 'Isa menjawab, 'Takutlah kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.' Mereka berkata, 'Kami ingin memakan hidangan itu agar hati kami tenang dan kami mengetahui bahwa engkau benar, dan kami termasuk orang-orang yang menyaksikan yang demikian itu.' 'Isa putera Maryam berkata, 'Ya Allah, ya Rabb kami, turunkanlah pada kami hidangan dari langit sebagai pesta bagi kami, baik yang awal dari kami atau pun yang akhir dan sebagai bukti dari Engkau. Berilah kami rezeki. Engkau adalah sebaik-baik pemberi rezeki.' Allah berfirman, 'Aku menurunkannya buat kalian. Barangsiapa di antara kalian yang kufur setelah peristiwa ini, maka akan Aku siksa dengan adzab yang tidak pernah Aku timpakan pada seorangpun di dunia ini'."
(Qur-an Surat al-Maa-idah: ayat 112-115)

Sungguh Nabi 'Isa 'alaihis salaam telah menasehati mereka untuk bersikap menerima pada apa yang sudah diberikan oleh Allah pada mereka di muka bumi ini. Tidak perlu hidangan dari langit. Karena, jika hidangan itu diturunkan dari langit, akan menjadi bukti dan cobaan bagi mereka. Mereka menolak dan tetap meminta Nabi 'Isa 'alaihis salaam melakukan itu. Maka Nabi 'Isa 'alaihis salaam berdo'a pada Rabbnya agar menurunkan hidangan dari langit. Sumber rezeki dan Yang Maha Pemberi rezeki yang sesungguhnya kepada Nabi 'Isa 'alaihis salaam adalah Allah Ta'ala. Allah berfirman,

"Katakanlah! Siapakah yang memberi rezeki pada kalian dari langit dan bumi? Katakanlah, Allah."
(Qur-an Surat Saba': 24)

Allah berfirman,

"Sesungguhnya Allah Maha Pemberi rezeki."
(Qur-an Surat adz-Dzariyat: ayat 58)

Ar-Razzaq (Maha Pemberi rezeki) adalah salah satu dari nama-nama Allah yang mulia. Allah lah yang menciptakan orang-orang yang mencari rezeki, menciptakan rezeki bagi mereka, menghubungkan mereka dengan rezekinya dan menciptakan sebab-sebab kenikmatan rezeki. Ar-Razzaq adalah sifat yang tidak bisa disandang oleh siapapun kecuali Allah Ta'ala. Rezeki tidak diharapkan kecuali dari-Nya, dan tidak ada tawakkal dalam rezeki kecuali kepada-Nya. Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang disembah oleh orang-orang musyrik tidak memiliki dan tidak mampu mendatangkan rezeki. Allah memerintahkan untuk meminta rezeki hanya kepada-Nya, beribadah hanya kepada-Nya saja dan mensyukuri atas rezeki yang ada. Allah berfirman,

"Mereka menyembah sesuatu selain Allah, yang tidak memiliki rezeki sedikitpun bagi mereka dari langit dan bumi, dan tidak mampu mendatangkan rezeki."
(Qur-an Surat an-Nahl: ayat 73)

Allah berfirman,

"Sesungguhnya kalian menyembah berhala-berhala selain Allah, dan kalian membuat kebohongan. Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah tidak memiliki rezeki bagi kalian. Maka, carilah rezeki itu di sisi Allah, sembahlah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya kalian akan kembali."
(Qur-an Surat al-'Ankabut: ayat 17)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah: Catatan keduabelas atas buku Dialog dengan jin Muslim

Alam jin menurut al-Qur-an dan as-Sunnah

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan keduabelas:

Koreksian selanjutnya pada halaman 117 dan 118, dengan judul Bagaimana jin atau syaithan menzinahi manusia, Muhammad Isa Dawud berkata:

Bagaimana pendapatmu tentang sabda Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang menyatakan, "Apabila seseorang mencampuri isterinya tanpa menyebut nama Allah, maka jin akan bergabung dengannya dan melakukan persenggamaan bersamanya?" (62)

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia: Pokok-pokok Ajaran syi'ah (20)

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia

Pokok-pokok Ajaran syi'ah

III. Di antara ajaran sesatnya:

18. Yang dimaksud kalian adalah 'umat terbaik' adalah ahlul bait.

Dalam riwayat Jabir dari Imam Baqir, bahwa beliau berkata: "Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia"

Panduan praktis hukum jenazah: Memandikan mayat (3)

Panduan praktis hukum jenazah

Bab X

Memandikan mayat (3)

3. Bagi orang yang memandikan mayat akan mendapat pahala yang besar dengan dua syarat, yaitu:

1) Menutupi aib si mayat dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak disukai dari si mayat. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam,

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Ketika perjalanan isra'

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Ketika perjalanan isra'

* Pada malam aku diisra'kan, aku melewati Musa di dekat bukit pasir merah, dia sedang berdiri shalat di dalam kuburnya. (7)
(Di dalam masjid Baitul Maqdis) aku bertemu sekelompok para Nabi. Saat itu Musa sedang shalat, dia seorang laki-laki yang tinggi, ramping dan kurus, rambutnya keriting, seperti laki-laki suku Syanuah. 'Isa juga sedang shalat, (dia seorang laki-laki yang sedang, berkulit merah, seolah-olah baru keluar dari pemandian) (8), orang yang paling mirip dengannya ialah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi. Ibrahim juga sedang shalat, orang yang paling mirip dengannya ialah kawanmu ini (Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sendiri). Kemudian masuk waktu shalat. (9)

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih: Permulaan isra'

Mabhats

Kisah Isra' Mi'raj yang shahih

Disusun oleh Muslim Atsari

Berbagai kejadian nyata di dunia ini, ketika telah diceritakan dari mulut ke mulut sering menjadi beda dengan kenyataannya. Baik karena pengurangan, penambahan, atau perubahan. Baik dengan sengaja atau tidak disengaja. Termasuk peristiwa isra' mi'raj Rasulullah Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Suatu kejadian yang termasuk tanda terbesar yang menunjukkan kebenaran beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sebagai seorang Nabi. Banyak kaum Muslimin yang melakukan bid'ah peringatan isra' mi'raj Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, mengadakan ceramah-ceramah seputarnya dengan tanpa rujukan yang benar.

Sifat Shalat Nabi: Salah paham dan jawabannya (2/3)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2/3)

Jika ada orang yang berpendapat bahwa kutipan engkau dari Imam Malik yang menyatakan kebenaran itu hanya satu, tidak bermacam-macam, hal itu berlawanan dengan apa yang tersebut dalam buku al-Madkhal al-Fiqhi karya ustadz Zarqa 1/89:

"Abu Ja'far al-Manshur, kemudian Khalifah Harun al-Rasyid sebagai pelanjutnya, keduanya ingin sekali menjadikan madzhab Imam Malik dari kitab al-Muwaththa'-nya sebagai kitab undang-undang pengadilan di wilayah Khalifah Abbasiyah, tetapi Imam Malik menolak kemauan kedua Khalifah tersebut dan beliau mengatakan:

'Para Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mempunyai pendapat yang berbeda-beda pada masalah furu' dan mereka telah terpencar-pencar di berbagai negeri dan semuanya benar.'

Lalu bagaimana pendapat engkau?"

Aku jawab: Kisah dari Imam Malik ini memang sangat terkenal. Akan tetapi, ucapan beliau pada bagian terakhir, yaitu "semuanya benar," adalah suatu ucapan yang tidak aku ketahui asal-usul sumbernya sejauh sumber-sumber yang dapat aku ketahui. (49) Hanya ada satu riwayat sebagaimana tersebut dalam riwayat Imam Abu Nu'aim dalam kitab al-Hilyah juz 6 halaman 332. Dalam sanad riwayat ini terdapat seorang yang bernama Miqdam bin Dawud. Rawi ini termasuk salah seorang rawi yang disebutkan Imam adz-Dzahabi dalam kitab adh-Dhu'afa (kumpulan rawi dh'aif). Selain itu, kalimat tersebut sebenarnya berbunyi: "Semua pendapat itu menurut masing-masing adalah benar." Di sini Imam Malik mengatakan: "Menurut masing-masing," yang berarti bahwa apa yang disebut dalam kitab Madkhal itu kurang, karena bagaimana mungkin ucapan itu muncul dari beliau, padahal ucapan tersebut bertentangan dengan riwayat-riwayat orang-orang yang terpercaya, dari Imam Malik, bahwa beliau mengatakan yang benar itu hanya satu, tidak bermacam-macam, seperti telah dijelaskan di atas. Demikianlah pendapat yang diikuti semua tokoh Shahabat radhiyallaahu 'anhum, tabi'in, imam mazhab yang empat yang ahli ijtihad rahimahumullaah, dan lain-lain.

Imam Ibnu 'Abdil Barr rahimahullaah dalam kitabnya juz 2 halaman 88 berkata:

"Kalau kebenaran itu ada pada dua pihak yang berbeda, tentulah kalangan Salaf yang satu tidak menyalahkan yang lain dalam urusan ijtihad, putusan peradilan, dan fatwa mereka. Akal tidak mau menerima adanya dua hal yang bertentangan dianggap keduanya benar. Sungguh sangat indah apa yang dikatakan orang di bawah ini:

'Mengakui dua hal yang saling berlawanan dalam satu masalah adalah sesuatu yang tak masuk akal yang paling tercela'."

Bersambung...

===

(49) Baca kitab Intiqa' Ibnu 'Abdil Barr halaman 41 dan kitab Kasyful Mughaththa, oleh al-Hafizh Ibnu 'Asakir halaman 6-7 dan kitab Tadzkiratul Huffadz 1/195 oleh Imam adz-Dzahabi.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sifat Shalat Nabi: Salah paham dan jawabannya (2/2)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2/2)

Sebagian lagi mengakui lemahnya hadits ini ("Perselisihan pendapat di ummatku adalah rahmat"), tetapi mengemukakan alasan bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat memang merupakan rahmat, karena memperluas cakrawala ummat dan memberikan kelonggaran. Alasan semacam ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat tersebut di atas dan fatwa para imam madzhab sebelumnya. Sebagian imam tersebut dengan tegas menolak sebagaimana kata Ibnul Qasim:

"Aku pernah mendengar Malik dan Laits berkata tentang terjadinya perselisihan dan perbedaan pendapat di kalangan Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, ujarnya:

'Tidaklah seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu. Perbedaan pendapat tidaklah memberikan kelonggaran untuk mengikuti semuanya, tetapi pendapat yang berbeda itu ada yang salah dan ada yang benar.'" (45)

Asyhab berkata: "Imam Malik pernah ditanya orang berkaitan dengan seseorang yang mengambil hadits dari orang yang kepercayaan, dari Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: 'Apakah menurut pendapat engkau hal semacam ini sebagai suatu kelonggaran untuk mengambil semuanya (semua pendapat)?'"

Jawabnya: Tidak. Demi Allah, yang diambil adalah yang benar dan yang benar itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidaklah dapat dikatakan dua-duanya benar, yang benar itu hanyalah satu. (46)

Imam al-Muzani rahimahullaah, seorang murid Imam asy-Syafi'i rahimahullaah, berkata:

"Para Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berbeda pendapat, tetapi ternyata yang satu menyalahkan yang lain dan yang satu meneliti pendapat yang lain dan memberikan penilaiannya. Sekiranya pendapat semua Shahabat radhiyallaahu 'anhum itu benar, tentulah mereka tidak saling mengoreksi dan menilai mana yang salah dan mana yang benar. 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu pernah marah kepada 'Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Mas'ud radhiyallaahu 'anhuma karena perbedaan mereka mengenai orang shalat yang menggunakan satu kain saja. 'Ubay mengatakan: "Shalat dengan menggunakan satu kain saja sudah baik," tetapi Ibnu Mas'ud berkata: "Hal seperti itu kurang." 'Umar lalu keluar dengan marah seraya berkata: "Dua orang shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berselisih tentang hal yang dilihatnya dan dicontohnya dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Di sini yang benar adalah 'Ubay bin Ka'ab, tetapi Ibnu Mas'ud juga tidak ngawur. Aku tidak ingin lagi mendengar seseorang yang memperselisihkan hal ini sesudah hari dimana aku berdiri ini, melainkan aku akan ambil tindakan yang demikian dan demikian kepadanya." (47)

Imam al-Muzani berkata pula:

"Bila orang membenarkan adanya perbedaan pendapat dan beranggapan bahwa dua orang 'ulama yang melakukan ijtihad, yang satu menyatakan haram, sedangkan yang satunya mengatakan halal, lalu dikatakan kedua-duanya benar, apakah pendapat semacam ini didasarkan pada nash agama atau pada qiyas (analogi)? Jika orang yang mengatakan hal itu didasarkan pada nash, kepadanya dapat ditanya lebih lanjut bagaimana hal semacam itu dikatakan berdasar kepada nash, padahal al-Qur-an menentang adanya perselisihan pendapat. Kalau engkau menjawab dasarnya adalah qiyas, lebih lanjut dapat diajukan pertanyaan: Bagaimana dengan nash-nash yang menentang perselisihan, sedangkan engkau membolehkan adanya perselisihan pendapat berdasarkan qiyas? Sikap semacam ini jelas tidak dapat diterima oleh orang yang berakal, apalagi oleh seorang 'ulama." (48)

Bersambung...

===

(45) Imam Ibnu 'Abdil Bar, kitab Jami' Bayani al-'Ilmi 2/81-82.

(46) Imam Ibnu 'Abdil Bar, kitab Jami' Bayani al-'Ilmi 2/82, 88, 89.

(47) Imam Ibnu 'Abdil Bar, kitab Jami' Bayani al-'Ilmi 2/83-84.

(48) Imam Ibnu 'Abdil Bar, kitab Jami' Bayani al-'Ilmi 2/89.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Manajemen Umur: Hal yang menyebabkan panjang umur: Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Puasa pada hari-hari tertentu

Manajemen Umur - Resep Sunnah menambah pahala dan usia

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

4. Puasa.

a. Puasa pada hari-hari tertentu.

Engkau dapat berpuasa selama 42 hari selama setahun -selain puasa Ramadhan- dan mendapatkan pahala sama dengan puasa 720 hari atau dua tahun. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Jika engkau ingin memperoleh pahala puasa selama setahun dengan tidak mengeluarkan banyak tenaga, atau tidak terkena larangan puasa setahun berturut-turut, maka kerjakanlah hal-hal berikut ini:

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia: Pokok-pokok Ajaran syi'ah (19)

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia

Pokok-pokok Ajaran syi'ah

III. Di antara ajaran sesatnya:

17. 'Ali adalah penyeru di hari Kiamat.

"Kemudian seorang penyeru mengumumkan di antara kedua golongan itu: 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zhalim'." Imam 'Ali adalah seorang penyeru di hari Kiamat, yakni menetapkan siapa yang akan menjadi penghuni Neraka dan siapa yang akan menjadi penghuni Kebaikan (Surga).
(Buku: Kecuali Ali, Penulis: Abbas Rais Kermani, Penerbit: al-Huda Jakarta, Juli 2009, halaman 50)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (10)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (10)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

10 - asy-Syaikh al-Imam Abu 'Utsman berkata: Aku menyebutkan fasal pembahasan ini secara khusus, dengan semata-mata menyadurnya dari Ibnu Mahdi. Didasari prasangka baikku terhadap dirinya,

Mencabut bulu ketiak | Sunnah-sunnah fitrah | Surat al-Baqarah | Tafsir wanita

Tafsir al-Qur-an al-Azhim li an-Nisa'

Tafsir wanita.

Syaikh Imad Zaki al-Barudi.

Surat al-Baqarah.

Sunnah-sunnah fitrah.

Keenam: Mencabut bulu ketiak.

Yang dimaksud dengan mencabut bulu ketiak adalah mencabut bulu yang ada di bawah ketiak. Namun bisa saja hal ini dilakukan dengan menggunakan cara lain dengan tanpa mencabut, yang penting asal tercapai maksudnya. Hanya saja mengikuti cara apa yang diperintahkan dalam Sunnah adalah lebih utama.

Dalam hadits digunakan kata yang berbeda antara membuang bulu kemaluan dengan membuang bulu ketiak. Dalam hal membuang bulu kemaluan dipergunakan istilah istihdad (mencukur), sedangkan dalam hal membuang bulu ketiak dipergunakan istilah naft (mencabut). Perbedaan ini didasarkan karena adanya perhatian pada perbedaan posisi keduanya.

Sifat Shalat Nabi: Salah paham dan jawabannya (2)

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya (2)

Kedua, sebagian lain berkata, jika perselisihan dan perbedaan pendapat dalam agama dilarang, lalu bagaimana pendapat engkau terhadap perbedaan dan perselisihan pendapat di kalangan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum, para imam, dan 'ulama-ulama sesudahnya rahimahumullaah? Adakah perbedaan antara perselisihan dan perbedaan faham yang terjadi di kalangan mereka dan di kalangan 'ulama-ulama mutaakhir (zaman sekarang)?

Jawab: Memang ada perbedaan mendasar di antara kedua perbedaan tersebut. Hal ini dapat dikemukakan penjelasannya sebagai berikut:

1. Tentang sebab-sebabnya, dan
2. Tentang dampaknya.

Perbedaan di kalangan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum terjadi karena semata-mata darurat dan merupakan hal yang naluriah dalam memahami sesuatu, bukan sebagai sesuatu yang sengaja diciptakan untuk berselisih dan berbeda pendapat. Di samping itu, ada faktor-faktor lain yang mendorong munculnya perbedaan itu pada masa mereka. Memang muncul pada mereka perbedaan pendapat, tetapi kemudian hilang (43). Perbedaan pendapat semacam ini memang tidak mungkin diselesaikan seluruhnya dan mereka yang berbeda pendapat ini tidaklah dapat dikatakan berbuat tercela karena menyalahi ayat-ayat di atas atau ayat lain yang semakna dengan itu, sebab mereka melakukan hal tersebut tidaklah dengan sengaja atau bermaksud mempertahankan perbedaan dan perselisihan. Oleh karena itu, para Shahabat radhiyallaahu 'anhum tidak dikatakan berbuat salah.

Adapun perbedaan dan perselisihan pendapat yang terjadi di kalangan kaum muqallid (pembeo imam atau 'ulama) pada umumnya adalah perbuatan yang tidak dapat dimaafkan. Demikianlah sebab mereka ada yang sudah mengetahui adanya keterangan dari al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam yang bertentangan dengan pendapat mereka, tetapi ternyata mereka menggunakan ayat-ayat itu untuk mendukung madzhabnya sendiri dan menyalahkan madzhab yang lain. Jadi, perselisihan dan perbedaan pendapat di sini bukan karena dalil, tetapi karena perbedaan madzhab itu sendiri. Yang menjadi sumber perselisihan dan perbedaan adalah madzhab itu sendiri. Seakan-akan madzhab mereka itulah yang benar atau merupakan agama yang dibawa oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sedang madzhab lainnya adalah agama-agama yang telah dihapuskan oleh madzhab mereka.

Yang lain lagi punya pendapat sebaliknya. Mereka memandang bahwa semua madzhab dengan segala macam perbedaan yang begitu banyak adalah sebagai Syari'at yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh sebagian 'ulama mutaakhir (44): "Tidaklah salah bila seorang Muslim mengambil pendapat mana saja yang disukainya dan meninggalkan yang lain, karena semua itu ada Syari'at juga." Mereka melestarikan perbedaan dan perselisihan pendapat yang terjadi di antara madzhab-madzhab itu dengan alasan hadits yang bathil: "Perselisihan pendapat di ummatku adalah rahmat." Alangkah seringnya hadits ini kita dengar sebagai dalil mereka.

Sebagian lagi mengakui lemahnya hadits ini, tetapi mengemukakan alasan bahwa perselisihan dan perbedaan pendapat memang merupakan rahmat, karena memperluas cakrawala ummat dan memberikan kelonggaran. Alasan semacam ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat tersebut di atas dan fatwa para imam madzhab sebelumnya.

Bersambung...

===

(43) Bacalah kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam oleh Imam Ibnu Hazm, kitab Hujjatullahi al-Balighah oleh Imam Dahlawi atau kitab khusus dia yang membahas masalah ini dengan judul Aqdu al-Jayyid fi Ahkami al-Ijtihad wa at-Taqlid.

(44) Bacalah kitab Faidhu al-Qadir, oleh Imam Munawi 1/209, dan kitab adh-Dha'ifah hadits nomor 76-77.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (6)

Para 'ulama Ahlus Sunnah tidak melarang kaum muslimin untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, akan tetapi para 'ulama Ahlus Sunnah melarang kaum muslimin dari perbuatan bid'ah dalam agama (6)

Perkataan Imam Abu Syamah rahimahullaah:

Imam Abu Syamah berkata:

Dan telah jelas dengan taufik dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala tentang kebenaran sikap siapa saja yang mengingkari sebagian dari perbuatan-perbuatan bid'ah, walaupun secara lahiriyahnya perbuatan itu adalah dalam bentuk shalat ataupun masjid, dan tidak peduli terhadap apa yang akan diperbuat oleh orang-orang bodoh yang akan berkata: "Bagaimana mungkin diperbolehkan mereka memerintahkan untuk menghancurkan masjid?! Padahal (mereka mengetahui) bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dahulu pernah menghancurkan masjid Dhirar. Atau mereka yang akan berkata: Bagaimana mungkin seseorang dilarang untuk membaca al-Qur-an ketika sedang ruku' dan sujud?! (Maka kami katakan:) Bagaimana bila mereka mendengar hadits 'Ali yang diriwayatkan di dalam kitab Shahih Muslim (156): Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarangku untuk membaca al-Qur-an pada waktu ruku' dan sujud! Maka dari itu, (sederhana di dalam) mengikuti Sunnah itu lebih baik daripada khawatir terjerumus ke dalam perbuatan bid'ah. Walaupun secara lahiriyah perbuatan itu dalam bentuk shalat, kemudian dia meninggalkannya (lantaran khawatir terjerumus ke dalam perbuatan bid'ah). Dan mengikuti Sunnah itu akan lebih banyak memberikan faidah.

Bersambung...

===

(156) Kitab Shahih Muslim nomor 2078 dengan lafazh yang agak berbeda dengan apa yang disebutkan oleh Imam Abu Syamah.

===

Maraji'/ Sumber:
Judul buku: Benarkah Shalahuddin al-Ayubi merayakan Maulid Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?, Penulis: Ustadz Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa rahimahullaah, Muraja'ah: Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullaah, Penerbit: Maktabah Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta - Indonesia, Cetakan ketiga, Syawwal 1435 H/ Agustus 2014 M.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Sifat Shalat Nabi: Salah paham dan jawabannya

Pendahuluan

Edisi Pertama

5. Salah Paham dan Jawabannya

Sepuluh tahun setelah aku menulis pendahuluan edisi pertama, aku melihat adanya dampak yang baik pada kalangan pemuda-pemuda beriman karena mereka mendapatkan petunjuk tentang kewajiban kembali kepada sumber-sumber Islam yang murni dalam urusan agama dan 'ibadah mereka. Sumber-sumber itu ialah al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Kami bersyukur kepada Allah bahwa para pemuda yang mempraktekkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan beribadah berdasarkan sumber ini semakin bertambah sehingga mereka mengenal dengan baik agamanya. Akan tetapi, aku merasakan adanya sebagian dari mereka yang bersikap ragu-ragu untuk mengamalkan Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, padahal tidak diragukan lagi adanya kewajiban semacam itu, apalagi setelah kami mengemukakan ayat-ayat dan riwayat-riwayat dari enam madzhab yang memerintahkan kembali kepada Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Hal itu disebabkan adanya isu-isu negatif yang dihembuskan oleh para 'ulama yang bertaqlid kepada madzhab sehingga mereka menjadi salah paham (terhadap kewajiban kembali kepada Sunnah). Oleh karena itu, di sini aku memandang perlu mengajukan isu-isu tersebut disertai sanggahannya agar sebagian pemuda yang ragu-ragu mengamalkan Sunnah terdorong untuk melaksanakannya, sehingga mereka dapat masuk ke dalam golongan yang selamat dengan idzin Allah.

Pertama, sebagian orang berkata, memang tidak diragukan adanya keharusan untuk kembali kepada petunjuk Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dalam urusan agama kita, terutama sekali berkaitan dengan 'ibadah-ibadah murni yang tidak menjadi bidang garap akal dan ijtihad, sebab bidang tersebut merupakan hal yang tauqifi (diterima apa adanya), seperti shalat. Akan tetapi, kita nyaris tidak pernah mendengar seorangpun 'ulama yang bertaqlid memerintahkan untuk melakukan hal tersebut, bahkan kami lihat mereka selalu menyetujui adanya berbagai perselisihan dan menganggap hal semacam itu sebagai kebebasan ummat. Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits: "Perbedaan pendapat pada ummatku adalah rahmat," untuk membantah pendapat pendukung Sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, padahal hadits tersebut bertentangan dengan jalan yang engkau (al-Albani) tempuh dalam buku sifat shalat yang engkau susun dan buku-buku lainnya. Oleh karena itu, bagaimana pendapat engkau terhadap hadits tersebut?

Jawab:

1. Hadits tersebut tidak sah (tidak shahih), bahkan bathil dan tidak ada sumbernya. Imam Subuki berkata:

"Aku tidak melihat hadits tersebut mempunyai sanad yang sah, atau dha'if, atau palsu (maudhu')."

Aku (al-Albani) menyatakan: "Hadits yang ada lafazhnya adalah:
"Perbedaan pendapat di kalangan Shahabatku (Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) adalah rahmat bagi kamu sekalian."

Hadits lain berbunyi: 'Para Shahabatku laksana bintang di langit. Siapapun di antara mereka yang kamu ikuti, niscaya kamu mendapatkan petunjuk.'

Kedua hadits ini tidak sah (tidak shahih). Hadits pertama sangat lemah (dha'if jiddan) dan hadits kedua palsu (maudhu'). Aku telah menjelaskan analisa terhadap hadits ini dalam kitab Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah hadits nomor 58, 59 dan 61."

2. Hadits palsu tersebut di atas bertentangan dengan al-Qur-an karena ayat-ayat al-Qur-an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Ayat-ayat tentang hal tersebut sudah sangat populer. Akan tetapi, tidaklah mengapa di sini aku paparkan sebagian sebagai contoh, yaitu firman Allah dalam Qur-an Surat al-Anfal (8): ayat 46:

"Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu."

Allah juga berfirman dalam Qur-an Surat Rum (30): ayat 31-32:

"Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Setiap golongan membanggakan apa yang ada pada mereka."

Allah berfirman dalam Qur-an Surat Hud (11) ayat 118-119:

"Mereka terus menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Rabbmu."

Jadi, hanya orang-orang yang mendapat rahmat dari Rabblah yang tidak berselisih. Oleh karena itu, mereka yang berselisih adalah golongan yang bathil. Bagaimana akal bisa menerima bahwa perselisihan dan perbedaan merupakan suatu rahmat, (padahal Allah melarang perbuatan semacam itu)?

Sudahlah jelas bahwa hadits tersebut tidak sah, baik sanad maupun matannya (43). Oleh karena itu, sudahlah jelas bahwa kita tidak boleh bersikap ragu-ragu dan bimbang, sehingga tidak mengamalkan al-Qur-an dan Sunnah sebagaimana yang diperintahkan oleh para imam madzhab.

Bersambung...

===

(43) Bacalah kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam oleh Imam Ibnu Hazm, kitab Hujjatullahi al-Balighah oleh Imam Dahlawi atau kitab khusus dia yang membahas masalah ini dengan judul Aqdu al-Jayyid fi Ahkami al-Ijtihad wa at-Taqlid.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Shifatu Shalaati an-Nabiyyi Shallallaahu 'alaihi wa Sallama min at-Takbiiri ilaa at-Tasliimi Ka-annaka Taraaha, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Ma'aarif, Riyadh - Kerajaan Arab Saudi, Cetakan Kedua Edisi Revisi, Tahun 1996 M/ 1417 H, Judul terjemahan: Sifat Shalat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Thalib, Penerbit: Media Hidayah, Yogyakarta - Indonesia, Cetakan 13.

===

Layanan GRATIS Estimasi Biaya Baja Ringan, Genteng Metal & Plafon Gypsum
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia: Pokok-pokok Ajaran syi'ah (18)

Kesesatan 'Aqidah dan Ajaran Syi'ah di Indonesia

Pokok-pokok Ajaran syi'ah

III. Di antara ajaran sesatnya:

16. Makna ayat, 'telinga yang mau mendengar' adalah ditujukan kepada 'Ali.

"Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.

Kematian: Fenomena sakaratul maut: Abu Hazim Salamah bin Dinar

Kematian

Fenomena sakaratul maut

18. Abu Hazim Salamah bin Dinar rahimahullaah.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Muthraf, ia berkata: "Suatu ketika kami mengunjungi Abu Hazim al-A'raj ketika ia tengah sekarat. Kami bertanya: Apa yang kau rasakan? Ia menjawab: Aku merasa baik seraya berharap kepada Allah dengan berbaik sangka pada-Nya. Sungguh tidaklah sama antara orang yang memakmurkan akhirat untuk dirinya, meletakkan akhirat di hadapannya sebelum kematian datang menjelang hingga ia mendahulukan akhirat, lalu ia dan akhirat saling berhadapan, orang seperti ini tidak sama dengan orang yang memakmurkan dunia, kelak ia akan kembali ke akhirat tanpa mendapat bagian apapun." (60)

Bersambung...

===

(60) Kitab an-Nuzhah 2/252.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing - Bogor, Cetakan II, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Kematian: Fenomena sakaratul maut: Abu Bakar at-Taimi

Kematian

Fenomena sakaratul maut

17. Abu Bakar at-Taimi rahimahullaah. (58)

Ja'far bin 'Utsman berkata: "Suatu ketika aku menjenguk Harun bin Ri'ab, ia tengah sekarat. Tidaklah aku mencari wajah orang mulia melainkan aku pasti melihatnya pada sosok Harun bin Ri'ab. Muhammad bin Wasi' bertanya: Apa yang kau rasakan? Ia menjawab: Inilah saudaramu yang hendak dibawa ke Neraka atau ampunan Allah. (59)

Bersambung...

===

(58) Harun bin Ri'ab, imam ahli 'ibadah, Abu Bakar at-Taimi al-Usaidi al-Bashri.

(59) Kitab an-Nuzhah 1/488.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah, Penulis: Syaikh Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli, judul terjemahan: Seri ke-1 (Serial Trilogi Alam Akhirah) Misteri Kematian, Menguak fenomena kematian dan rentetan peristiwa dahsyat menjelang Kiamat, Penerjemah: Umar Mujtahid Lc, Penerbit: Darul Ilmi Publishing - Bogor, Cetakan II, Rabiul Akhir 1434 H/ Februari 2013 M.

===

Layanan gratis estimasi biaya rangka atap baja ringan, genteng metal, dan plafon gypsum:
http://www.bajaringantangerang.com

===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (8)

Kitab Adabul Mufrad (8)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 5: Ucapan yang lemah lembut kepada orang tua.

8. Thaisalah bin Nayyas berkata, "Ketika aku bersama teman-teman Najdah bin Amir, aku lalu melakukan perbuatan dosa yang aku menganggapnya sebagai dosa besar. Lalu aku ceritakan hal itu kepada 'Abdullah bin 'Umar radhiyallaahu 'anhuma. Beliau bertanya, 'Perbuatan apa yang engkau lakukan?' Maka kuceritakan perbuatanku itu. Beliau menjawab, 'Itu bukan salah satu dosa besar, dosa besar itu ada sembilan:

Cara melindungi diri dari fitnah dajjal (4)

Cara melindungi diri dari fitnah dajjal (4)

4. Hendaknya ia berusaha bermukim di Makkah atau Madinah.

Sebab keduanya merupakan tempat mulia dan tidak akan dijamah oleh dajjal. Sebab Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Catatan kesebelas atas buku Dialog dengan jin Muslim

Bab ketiga

Catatan atas buku Dialog dengan jin Muslim

Catatan kesebelas:

Pada halaman 111, jin Muslim berkata:

Syaithan sendiri memang sangat tertarik pada posisi-posisi yang terletak antara dua hal yang bertentangan.

Saya berkata: Ini perlu dipertanyakan lagi, betulkah demikian? Dia (jin) mengambil salah satu hadits Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, "Apabila salah seorang di antara kamu berada di tengah matahari yang sedang bersinar, lalu bayangan yang meneduhi bergeser, sehingga sebagian badannya berada di tempat yang panas dan sebagian yang lainnya berada di tempat yang teduh, maka hendaklah dia berdiri (meninggalkan tempat tersebut)." (61)

Adabul Mufrad (7)

Kitab Adabul Mufrad (7)

Kitab Berbakti kepada kedua orang tua

Bab 4: Bakti kepada kedua orang tua meskipun keduanya itu zhalim.

7. Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata, "Tidak ada seorangpun dari kaum Muslimin yang mempunyai dua orang tua yang keduanya dalam keadaan Muslim, dimana dia sabar terhadap keduanya kecuali Allah pasti akan membukakan baginya dua pintu -maksudnya pintu Surga.

Dari mana datangnya rezeki? | Kisah rezeki dan harta | Anda dan Harta

Anda dan harta

Kisah rezeki dan harta

Dari mana datangnya rezeki?

Dari mana datangnya rezeki? Ini pertanyaan lama yang pernah dilontarkan oleh Zakaria 'alaihis salaam kepada Maryam al-Batul (wanita yang hidup melajang, tidak menikah). Allah berfirman,

"Maka Rabbnya menerima dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkan tumbuhan yang baik baginya. Dia (Allah) menyerahkan perawatannya pada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk ke dalam mihrabnya (tempat 'ibadah), Zakaria menemukan rezeki di sisinya. Dia (Zakaria) berkata, 'Wahai Maryam, dari mana datangnya ini?' Dia (Maryam) menjawab, 'Dia (rezeki) datang dari Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki pada orang yang Dia kehendaki tanpa perhitungan."
(Qur-an Surat Ali 'Imran: ayat 37)

Maryam hidup sendirian di sebuah kamar untuk beribadah kepada Allah. Dia tidak keluar dari kamar ini dan tidak seorangpun masuk dalam kamar ini kecuali Zakaria 'alaihis salaam yang merawatnya. Dia mendatangi Maryam dengan membawa makanan dan minuman yang dibutuhkan. Akan tetapi setiap kali Zakaria mendatangi Maryam, dia terkejut dengan adanya buah-buahan musim dingin di musim panas dan buah-buahan musim panas di musim dingin. Zakaria terkejut dengan kejadian itu, kemudian dia bertanya, "Dari mana datangnya rezeki ini kepadamu?" Maryam menjawab, "Sesungguhnya rezeki itu datang dari sisi Allah Yang memberi rezeki pada orang yang Dia kehendaki. Dia adalah sebaik-baik pemberi rezeki."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Memandikan mayat (2/6)

Bab X

Memandikan mayat (2/6)

2. Dalam memandikan mayat hendaknya diperhatikan hal-hal berikut:

n. Hendaklah yang memandikan mayat adalah orang yang memahami tentang tata cara memandikan mayat yang benar (sesuai dengan tuntunan Sunnah). Alangkah baiknya jika mereka adalah berasal dari keluarga dan kerabat si mayat, karena yang memandikan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam adalah dari anggota keluarga beliau, sebagaimana hadits 'Ali radhiyallaahu 'anhu, ia berkata,

Lakukan 'amal yang berpahala ganda: Puasa

Hal-hal yang menyebabkan panjang umur

Lakukan 'amal yang berpahala ganda

4. Puasa

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendorong kita memperbanyak puasa sunnah sepanjang tahun, baik di musim dingin maupun musim panas. Misalnya, puasa senin kamis, puasa ayyam al-Bidh (puasa tiga hari di setiap pertengahan bulan-bulan Hijriyah), puasa Sya'ban (*), puasa pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah (**), puasa di bulan Muharram (***), dan lainnya. Bahkan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyebut puasa Dawud sebagai puasa yang paling utama, yaitu sehari puasa dan sehari berbuka, dimana setengah usia seseorang diisi dengan 'ibadah puasa. (76)

Apakah Nabi melihat Allah? (4)

Mabhats

Apakah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihat Allah Subhaanahu wa Ta'aala? (4)

Kesimpulan

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan pendapat yang kuat, bahwasanya Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tidak melihat Rabbnya pada malam isra' dengan mata kepala beliau.

Adabul Mufrad (6)

Adabul Mufrad (6)

Berbakti kepada kedua orang tua

3. Bab Bakti kepada ayah.

6. Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata, "Ada seseorang datang menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata, 'Apa yang engkau perintahkan kepadaku?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Berbaktilah pada ibumu.'

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (9)

'Aqidah Salaf Ashabul Hadits (9)

Al-Qur-an Kalamullah dan bukan makhluk

9 - Ibnu Mahdi ath-Thabari menyebutkan dalam bukunya al-I'tiqad yang beliau susun untuk penduduk negerinya: Bahwasanya, madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah menyatakan bahwa al-Qur-an adalah Kalamullah Subhaanahu wa Ta'aala, wahyu yang diturunkan oleh-Nya, perintah dan larangan-Nya, bukannya makhluk.

Memotong kumis dan memanjangkan jenggot | Sunnah-sunnah fitrah | Surat al-Baqarah | Tafsir Wanita

Surat al-Baqarah

Sunnah-sunnah fitrah

Keempat dan kelima: Memotong kumis dan memanjangkan jenggot.

Ini hanya khusus untuk laki-laki, wanita tidak termasuk di dalamnya.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah