Kriteria Penghuni Surga (2) | Kajian Ramadhan

Majaalisu Syahru Ramadhaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah.

Kajian Kedua Puluh Empat.

Kajian Ramadhan.

Kriteria Penghuni Surga (2).

Berikut ini adalah beberapa kriteria para calon penghuni Surga:

Pertama: Muttaqin, yaitu orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan senantiasa melakukan penjagaan diri dari adab-Nya dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dalam rangka menunaikan kepatuhan kepada-Nya dan mengharap pahala-Nya, serta dengan cara meninggalkan segala larangan-Nya juga demi patuh kepada-Nya dan takut akan siksa-Nya.

Kedua: Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membelanjakan harta dalam hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dinafkahkan sebagaimana yang dituntut dari mereka, baik berupa zakat, sedekah, maupun memberikan nafkah kepada siapa saja yang ada hak untuk diberi, juga menafkahkan harta untuk kepentingan jihad dan untuk jalan kebaikan lainnya. Mereka menafkahkan (membelanjakan) itu semua dalam keadaan lapang maupun sempit. Kelonggaran yang ada pada diri mereka tidak menyebabkan mereka menjadi sangat cinta kepada harta dan rakus terhadapnya karena ingin selalu menambah; sedangkan keadaan sempit yang mereka alami tidak juga menjadikan mereka menahan harta karena takut bila nanti membutuhkannya.

Ketiga: Orang-orang yang menahan amarahnya. Mereka adalah orang-orang yang bisa menahan dan mengendalikan amarahnya ketika ia hendak marah, sehingga ia tidak akan berbuat melampaui batas dan tidak pula dengki terhadap orang lain karenanya.

Keempat: Orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Mereka mau memberi maaf kepada orang yang berbuat zhalim kepada mereka serta tidak menuntut balas, sekalipun mereka sebenarnya mampu melakukan hal itu. Apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan", merupakan isyarat bahwa pemberian maaf yang terpuji itu adalah jika merupakan bagian dari kebajikan (ihsan) sehingga ia sekaligus menjadi ishlah (memperbaiki/ mendamaikan). Adapun pemberian maaf yang justru akan semakin menambah tindak kejahatan yang zhalim itu, maka yang seperti ini tidaklah terpuji dan juga tidak mendatangkan pahala. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman: "Barangsiapa yang memberi maaf dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah." (QS. Asy-Syura (42): 40)

Kelima: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka."

Yang dimaksud dengan perbuatan keji adalah dosa-dosa yang termasuk dalam kategori dosa-dosa besar (al-kaba-ir), seperti membunuh jiwa manusia yang dilarang tanpa ada alasan yang benar, durhaka kepada kedua orang tua, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, zina, mencuri, serta bentuk dosa-dosa besar lainnya. Sedangkan kezhaliman (menganiaya) diri lebih bersifat umum yang mencakup dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar. Jika mereka melakukan hal yang demikian, lantas mereka ingat akan keagungan Dzat yang ia durhakai, sehingga ia menjadi takut kepada-Nya, lalu mengingat akan ampunan dan rahmat-Nya. Ia pun kemudian bergegas untuk mendapatkannya, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan, serta memohon agar semuanya ditutupi oleh Allah dan tidak dijatuhi hukuman. Firman Allah yang mengatakan: "Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?" merupakan isyarat bahwa mereka tidak akan meminta ampunan kepada selain Allah, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah.

Keenam: "Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." Maksudnya, mereka tidak terus mengerjakan dosa ketika mengetahui yang dilakukannya adalah dosa, dan juga mengetahui keagungan Dzat yang ia durhakai serta mengetahui dekatnya ampunan dari Allah. Bahkan mereka akan bergegas meninggalkan perbuatan dosa itu dan bertaubat atasnya. Terus-menerus melakukan dosa akan menyebabkan dosa-dosa kecil itu menjadi dosa-dosa besar dan akan terus membawa pelakunya kepada tingkatan yang semakin berbahaya dan sulit.

Baca selanjutnya: Kriteria Penghuni Surga (3)

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: Majaalisu Syahru Ramadhaan, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullaah, Penerbit: Daruts Tsurayya lin Nasyr - Riyadh, Cetakan I, 1422 H/ 2002 M, Judul terjemahan: Kajian Ramadhan, Penerjemah: Salafuddin Abu Sayyid, Penerbit: al-Qowam - Solo, Cetakan V, 2012 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah