Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125-128 (5)

Kemudian 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma membaca ayat: "Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabb-mu. Dan kemurahan Rabb-mu tidak dapat dihalangi." (QS. Al-Israa': 20)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih. Dan diriwayatkan pula dari 'Ikrimah dan Mujahid yang semakna dengan itu.

Dan riwayat ini sama seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung. (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat disebabkan kekafiran mereka." (QS. Yunus: 69-70)

Dan firman Allah,

"Dan barangsiapa kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (QS. Luqman: 23-24)

Dan firman Allah,

"Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Rabb) Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat di sisi Rabb-mu adalah untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Zukhruf: 33-35)

Selanjutnya firman Allah Ta'ala, "Kemudian Aku paksa ia menjalani siksa Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." Artinya, setelah diberikan kenikmatan dan dibentangkan baginya kemewahan hidup di dunia, kemudian Kami giring ia menjalani siksa Neraka, dan Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali. Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menunda dan memberikan tangguh kepada mereka, kemudian menyiksa mereka sebagai balasan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Sebagaimana firman-Nya, "Dan berapa banyak kota yang Aku tangguhkan (adzab-Ku) kepadanya yang penduduknya zhalim. Kemudian Aku adzab mereka, dan hanya kepada-Ku-lah kembalinya (segala sesuatu)." (QS. Al-Hajj: 48)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Tidak ada satu pun yang lebih sabar atas gangguan yang didengarnya dibanding Allah. Mereka menyatakan bahwa Allah mempunyai anak, padahal Dia-lah yang memberikan rizki dan 'afiat kepada mereka." (507)

Dan dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah memberikan tangguh kepada orang zhalim hingga jika Dia mengadzabnya, maka Dia tidak akan melepaskannya." (508)

Kemudian beliau membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan begitulah adzab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras." (QS. Huud: 102)

===

Catatan Kaki:

507. Fat-hul Baari (XIII/372) dan Muslim (IV/216). [Al-Bukhari (no. 6099), Muslim (no. 2804), dengan sedikit perbedaan lafazh].

508. Fat-hul Baari (VIII/205). [Al-Bukhari (no. 4686), dan ini lafazh Muslim (no. 2583)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125-128 (4)

Do'a Al-Khaliil (Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam) Bagi Makkah Agar Mendapatkan Keamanan dan Rizki

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang berdo'a:

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا آمِنًا

Rabbij'al Haadzaa baladan aaminan.

"Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa." Artinya, aman dari rasa takut. Maksudnya, supaya penduduknya tidak merasa takut. Dan Allah Ta'ala telah memenuhi hal itu, baik menurut syari'at maupun takdir. Sebagaimana firman-Nya, "Barangsiapa yang memasuki (Baitullah), maka ia akan aman." (QS. Ali 'Imran: 97)

Juga firman-Nya, "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia di sekitarnya rampok-merampok." (QS. Al-'Ankabuut: 67)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya. Telah dikemukakan sebelumnya hadits-hadits yang mengharamkan peperangan di sana. Dalam kitab Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak dibolehkan bagi seorang pun untuk membawa senjata di Makkah." (503)

Dalam surat al-Baqarah ini, Nabi Ibrahim 'alaihis salam berdo'a:

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا آمِنًا

Rabbij'al Haadzaa baladan aaminan.

"Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa." Artinya, jadikanlah daerah ini sebagai negeri yang aman. Do'a ini tepat, karena do'a ini (dipanjatkan) sebelum pembangunan Ka'bah.

(Do'a itu diulang kembali) dalam surat Ibrahim. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيْمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا

Wa idz qaala ibraahiimu rabbij'al haadzal balada aaminan.

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo'a: 'Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman.'" (QS. Ibrahim: 35)

Do'a ini juga sesuai, karena -wallaahu a'lam-, kemungkinan do'a ini dipanjatkan untuk kedua kalinya setelah pembangunan Baitullah (Ka'bah), dan daerah Makkah telah dihuni oleh para penduduknya, serta setelah kelahiran Ishaq, yang usianya tiga belas tahun lebih muda dari Isma'il. (Artinya, Nabi Isma'il telah berusia tiga belas tahun lebih dan telah membantu membangun Ka'bah bersama Nabi Ibrahim, -pent). Hal ini ditunjukkan oleh akhir do'a Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang berbunyi:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي وَهَبْ لِي عَلَی الْكِبَرِ إِسْمَاعِيْلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيْعُ الدُّعَآءِ

Alhamdu lillaahil ladzii wa habalii 'alal kibari ismaa'iila wa ishaaqa, innaa rabbii lasamii'ud du'aa-i.

"Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Isma'il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-ku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do'a." (QS. Ibrahim: 39)

Selanjutnya firman Allah Ta'ala:

"'Dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari Akhir.' Allah berfirman: 'Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa mereka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.'"

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab tentang firman-Nya, "Allah berfirman, 'Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa Neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali,'" bahwa Ubay mengatakan, "(Kalimat) ini adalah ucapan Allah Ta'ala." (504) Hal itu juga menjadi pendapat Mujahid dan 'Ikrimah. (505)

Mengenai firman Allah, "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo'a, 'Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian di antara mereka.'" Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Ibrahim dahulu mengkhususkannya (do'anya) bagi kaum mukminin dan tidak mendo'akan selain mereka. Lalu Allah menurunkan ayat-Nya (yang maknanya): "Dan orang-orang yang kafir juga Aku beri rizki sebagaimana Aku memberi rizki kepada kaum mukminin. Apakah Aku menciptakan makhluk yang tidak Aku beri rizki? Aku beri mereka kenikmatan sesaat lalu Aku giring mereka kepada adzab Neraka dan Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali." (506)

===

Catatan Kaki:

503. Muslim (II/989). [No. 1356].

504. Ath-Thabari (III/53).

505. Ath-Thabari (III/54).

506. Ibnu Abi Hatim (I/377).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125-128 (3)

Diriwayatkan dari Abu Syuraih al-'Adawi, ia pernah berkata kepada 'Amr bin Sa'id yang mengirimkan utusan ke Makkah, "Izinkanlah aku, wahai al-Amir untuk memberitahukan kepadamu ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada keesokan hari setelah hari pembebasan kota Makkah. Aku mendengarnya secara langsung dengan kedua telingaku, kufahami hingga lubuk hatiku, dan kusaksikan dengan kedua mataku ketika beliau menyampaikannya. Beliau memanjatkan pujian kepada Allah, lalu bersabda:

"Sesungguhnya Makkah telah diharamkan (dijadikan kota suci) oleh Allah dan tidak dibolehkan bagi seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk menumpahkan darah di sana, dan tidak boleh juga memotong pohonnya. Jika seseorang membolehkan untuk berperang dengan alasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berperang di sana, maka katakanlah: 'Sesungguhnya Allah hanya mengizinkan (untuk berperang di sana) kepada Rasul-Nya saja, tidak kepada kalian.' Allah memberikan izin kepadaku hanya sesaat pada siang hari. Dan pada hari ini pengharaman kota Makkah telah kembali lagi seperti semula. Hendaklah orang yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada orang yang tidak hadir."

Abu Syuraih ditanya: "Apakah yang dikatakan al-Amir kepadamu?" Abu Syuraih menjawab, "(Al-Amir berkata), Aku lebih mengetahui hal itu daripada kamu, wahai Abu Syuraih. Sesungguhnya Tanah Haram tidak melindungi orang yang durhaka, dan tidak pula orang yang melarikan diri karena membunuh dan tidak pula karena membuat kerusakan."

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan lafazh ini menurut riwayat Muslim. (501)

Dengan diketahuinya hal-hal di atas, maka tidak ada pertentangan antara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Allah telah mengharamkan Makkah pada hari penciptaan langit dan bumi di satu sisi, dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim 'alaihis salam telah mengharamkan Makkah di sisi lain, karena Nabi Ibrahim menyampaikan ketetapan dan pengharaman-Nya terhadap kota ini dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan Makkah, telah dan akan terus menjadi negeri haram (suci) di sisi Allah sejak sebelum Ibrahim 'alaihis salam membangunnya, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah tertulis di sisi Allah sebagai Nabi terakhir, dan bahwa Nabi Adam 'alaihis salam mesti terdampar (diturunkan) ke tanah-Nya (bumi). Seiring dengan itu, Nabi Ibrahim 'alaihis salam berdo'a:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِنْهُمْ

Rabbanaa wab'ats fiihim rasuulan minhum.

Ya Rabb kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri '"

Maka Allah pun memperkenankan do'a Nabi Ibrahim tersebut (dengan mengutus Rasul) yang sudah ada dalam pengetahuan-Nya dan telah menjadi ketentuan-Nya.

Oleh karena itu disebutkan dalam sebuah hadits bahwasanya mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah tentang awal mula kenabianmu. Maka Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda:

"(Diutusnya aku berawal dari) do'a ayahku, Ibrahim 'alaihis salam dan berita gembira yang disampaikan oleh 'Isa bin Maryam. Ibuku bermimpi seolah keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam." (502)

(Maksud pertanyaan Sahabat) yaitu ceritakanlah kepada kami awal mula munculnya perkaramu. Jawabannya sebagaimana yang akan disebutkan sebentar lagi insyaa Allah.

===

Catatan Kaki:

501. Fat-hul Baari (IV/50) dan Muslim (II/987). [Al-Bukhari (no. 104), Muslim (no. 1354)].

502. HR. Ahmad (V/262). [Komentar Syaikh al-Arna'uth hafizhahullah: "Shahih Lighairihi dalam al-Musnad (XXXVI/596). Yang semisal dengan lafazh ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah (no. 1545), Shahiihul Jaami' (no. 3451)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125-128 (2)

Pengharaman Makkah

Selanjutnya firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berdo'a, 'Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa. Dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari Akhir di antara mereka.'"

Imam Abu Ja'far bin Jarir meriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya Ibrahim telah menjadikan Baitullah sebagai tanah haram dan tempat yang aman. Dan sesungguhnya aku pun telah menjadikan kota Madinah sebagai tanah haram di antara kedua batasnya, dan binatang buruannya tidak boleh diburu, serta pepohonannya tidak boleh dipotong." (496)

Demikian riwayat an-Nasa-i (497) dan juga Muslim. (498)

Ada pula hadits lain yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengharamkan kota Makkah (menjadikannya sebagai kota suci) sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda pada waktu pembebasan kota Makkah:

"Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan oleh Allah sejak hari penciptaan langit dan bumi. Dan ia menjadi haram melalui pengharaman Allah sampai hari Kiamat kelak. Allah tidak membolehkan peperangan di dalamnya bagi seorang pun sebelumku, dan tidak juga membolehkanku (untuk berperang) kecuali sesaat saja pada siang hari. Negeri ini haram dengan pengharaman-Nya sampai hari Kiamat kelak. Pepohonannya tidak boleh dipotong dan hewan buruannya tidak boleh dibunuh. Juga barang temuannya tidak boleh diambil kecuali bagi orang yang berkehendak untuk mengumumkannya kepada orang banyak. Dan rerumputannya tidak boleh dicabut." Al-'Abbas mengatakan, "Ya Rasulullah, kecuali idzkhir (ilalang), karena dibutuhkan oleh tukang besi, dan juga untuk rumah-rumah mereka." Maka beliau pun bersabda, "Ya, kecuali idzkhir." (499)

Ini adalah lafazh Muslim. Dan keduanya (al-Bukhari dan Muslim) juga meriwayatkan hadits semisal dengannya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Setelah itu al-Bukhari meriwayatkan hadits yang semakna dengan hadits di atas dari Shafiyyah binti Syaibah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (500)

===

Catatan Kaki:

496. Ath-Thabari (III/48).

497. An-Nasa-i dalam al-Kubra (II/487). [Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 1521), dan ini adalah lafazh an-Nasa-i].

498. Muslim (II/992). [Muslim (no. 1362), dengan sedikit perbedaan lafazh].

499. Fat-hul Baari (IV/56) dan Muslim (II/986). [Al-Bukhari (no. 104, 112), Muslim (no. 1353)].

500. Fat-hul Baari (III/253). [Al-Bukhari (no. 1349)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125-128

Perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala Kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Isma'il 'alaihimas salam, -pent.

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma'il: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud." (QS. 2:125) Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: "Ya Rabb-ku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang berimana kepada Allah dan hari Kemudian di antara mereka." Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa Neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. 2:126) Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma'il (seraya berdo'a): "Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. 2:127) Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:128)

Perintah untuk Membersihkan Baitullah

Berkenaan dengan firman-Nya, "Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma'il," al-Hasan al-Bashri mengatakan, "Allah Ta'ala telah memerintahkan keduanya untuk membersihkan Baitullah dari segala macam kotoran dan najis sehingga tidak ada sedikit pun yang mengenainya." (491)

Ibnu Juraij berkata, "Aku pernah bertanya kepada 'Atha': 'Apa yang dimaksud dengan kata "عَهْدُهُ" ('ahduhu) dalam ayat tersebut?' 'Atha' menjawab, 'Maksudnya adalah perintah-Nya.'"

Mengenai firman-Nya, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf dan yang i'tikaf," Sa'id bin Jubair meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan, "Yaitu dibersihkan dari berhala-berhala."

Sedangkan menurut Mujahid dan Said bin Jubair, "Yaitu dibersihkan dari berhala-berhala, ucapan keji, perkataan dusta, dan kotoran."

Sedangkan firman-Nya, "Untuk orang-orang yang mengerjakan thawaf," sudah jelas bahwa thawaf itu hanya dikerjakan di Baitullah.

Menurut Sa'id bin Jubair, firman-Nya, "Untuk orang-orang yang mengerjakan thawaf," yakni orang yang datang dari luar Makkah, sedangkan firman-Nya, "Dan untuk orang-orang yang beri'tikaf," yaitu orang-orang yang mukim di sana. (492)

Hal senada juga diriwayatkan dari Qatadah dan ar-Rabi' bin Anas, keduanya menafsirkan kata "wal 'aakifiina" dengan penduduk yang menetap di sana, sebagaimana dikatakan oleh Sa'id bin Jubair.

Adapun mengenai firman-Nya, "Orang-orang yang ruku' dan sujud," diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Jika seseorang mengerjakan shalat berarti ia termasuk orang-orang yang ruku' dan sujud." (493)

Hal senada juga dikemukakan oleh 'Atha' dan Qatadah. (494)

Perintah penyucian masjid itu didasarkan pada ayat ini (al-Baqarah: 125), dan juga pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut Nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang hari." (QS. An-Nuur: 36)

Dan juga berdasarkan Sunnah Nabi, yaitu beberapa hadits yang memerintahkan penyucian Baitullah, perawatannya, dan pemeliharaannya dari segala macam kotoran, najis, dan sebagainya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya masjid-masjid itu didirikan untuk tujuan pendiriannya." (495)

Dan mengenai masalah itu, penulis (Ibnu Katsir) telah menghimpunnya dalam satu Kitab khusus, dan segala puji bagi Allah.

===

Catatan Kaki:

492. Ibnu Abi Hatim (I/375).

493. Ibnu Abi Hatim (I/376).

494. Ibnu Abi Hatim (I/376).

495. Muslim (I/397). [No. 569)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125 (3)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan maqam di sini adalah batu yang pernah dijadikan Ibrahim sebagai pijakan untuk membangun Ka'bah. Ketika dinding Ka'bah sudah agak tinggi, Isma'il datang membawa batu tersebut agar Ibrahim dapat berdiri di atasnya, lalu Isma'il memberikan batu-batu kepada beliau. Ibrahim meletakkan batu-batu itu dengan tangannya untuk meninggikan dinding Kabah. Apabila satu sisi sudah selesai, beliau berpindah ke sisi yang lain, berputar mengelilingi Ka'bah. Sementara Ibrahim tetap berpijak pada maqam tersebut. Setiap kali selesai membangun dinding pada satu sisi, beliau memindahkan maqam ke sisi yang lain. Begitulah seterusnya hingga dinding Ka'bah selesai dibangun, sebagaimana yang akan disebutkan penjelasannya dalam kisah Ibrahim dan Isma'il membangun Ka'bah dalam riwayat Ibnu 'Abbas yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari. Bekas tapak kaki beliau terlihat jelas pada maqam (batu) tersebut. Dan bekas telapak kakinya itu tetap nampak dan dikenal oleh masyarakat Arab pada zaman jahiliyah. Oleh karena itu, Abu Thalib bersya'ir dalam qashidah laamiyyahnya yang terkenal:

Dan bekas pijakan kaki Ibrahim di atas batu besar nan keras masih basah
dengan kedua kakinya yang telanjang tanpa sandal

Kaum muslimin masih sempat menyaksikannya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata, "Aku melihat maqam, padanya terdapat bekas jari-jemari kaki Ibrahim dan kedua tapak kaki beliau. Hanya saja bekas itu hilang karena terlalu sering disentuh tangan manusia.

Saya (Ibnu Katsir) katakan: "Dahulu maqam ini melekat pada dinding Ka'bah. Dan tempatnya sekarang dikenal di samping pintu Ka'bah dekat Hajar Aswad sebelah kanan bagi orang yang hendak masuk melalui pintu, di sebuah tempat terpisah di situ. (489)

Ketika al-Khalil 'alaihis salam selesai membangun Ka'bah beliau meletakkan maqam ini pada dinding Ka'bah, atau pada tempat itulah beliau menyelesaikan pembangunan Ka'bah, lalu beliau membiarkannya di situ. Oleh karena itu, wallaahu a'lam, diperintahkan mengerjakan shalat di situ apabila selesai mengerjakan thawaf. Dan sangat tepat bila dilakukan pada maqam Ibrahim karena pembangunan Ka'bah selesai di tempat itu. Namun yang memindahkannya dari dinding Ka'bah ke belakang adalah Amirul Mukminin 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu -salah seorang Khulafa-ur Rasyidin yang mana kita telah diperintahkan untuk mengikuti Sunnah mereka-. Beliau adalah salah seorang dari yang Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) katakan:

"Ikutilah dua orang setelahku, Abu Bakar dan 'Umar." (490)

Dan telah turun ayat al-Qur-an yang menyepakati pendapat beliau tentang shalat di belakang maqam Ibrahim. Oleh karena itu tidak ada seorang Sahabat pun yang mengingkarinya radhiyallahu 'anhum ajma'iin.

'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij, ia berkata, "Telah menyampaikan kepadaku 'Atha' dan yang lainnya dari rekan-rekan kami: "Orang pertama yang memindahkan maqam Ibrahim adalah 'Umar radhiyallahu 'anhu."

'Abdurrazzaq juga meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, "Orang pertama yang memindahkan maqam dari tempat asalnya ke tempat sekarang ini adalah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu."

Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin 'Ali bin al-Husain al-Baihaqi, meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa maqam itu pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhuma melekat pada Baitullah (Ka'bah), kemudian 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memundurkannya. Isnad hadits ini shahih.

===

Catatan Kaki:

489. Tempat ini sudah dihilangkan, lalu maqam Ibrahim diletakkan pada tiang yang pendek ditutupi kaca dan anyaman.

490. At-Tirmidzi (no. 3662). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 1142, 1144)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125 (2)

Maqam Ibrahim

Shufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair bahwa maksud firman-Nya: "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat," yakni batu yang dijadikan pijakan oleh Nabiyullah Ibrahim 'alaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjadikannya sebagai rahmat. Beliau berdiri di atas batu itu, sedangkan Isma'il memberikan batu-batu kepada beliau. Seandainya beliau mencuci kepala -seperti yang mereka katakan- niscaya akan bersilangan kedua kaki beliau. (481)

As-Suddi berkata, "Maqam Ibrahim ialah batu yang diletakkan oleh isteri Nabi Isma'il di bawah tapak kaki Ibrahim, hingga ia dapat mencuci kepala beliau." (482)

Al-Qurthubi mencantumkan hikayat ini namun beliau mendha'ifkannya, akan tetapi ulama lain menguatkannya. Ar-Razi menghikayatkannya dalam tafsirnya dari al-Hasan al-Bashri, Qatadah dan ar-Rabi' bin Anas. (483)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jabir, dia menceritakan tentang haji Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan thawaf, 'Umar berkata, 'Apakah ini maqam bapak kita?' Beliau menjawab, 'Ya.' 'Umar berkata, 'Tidakkah kita menjadikannya tempat shalat?' Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat: "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat." (484)

Al-Bukhari mencantumkan dalam kitab Shahiihnya, "Bab firman Allah, 'Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.' Artinya, tempat berkumpul dan kembali." (485)

Kemudian al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Aku mendapat persetujuan dari Rabb-ku dalam tiga perkara, atau Rabb-ku menyetujuiku dalam tiga hal. (Yaitu ketika) aku berkata, 'Ya Rasulullah, seandainya engkau jadikan sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,' maka turunlah ayat, "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat." Lalu aku berkata, 'Ya Rasulullah, banyak orang yang masuk menemuimu, ada yang baik dan ada pula yang jahat. Seandainya engkau memerintahkan Unmahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi) untuk berhijab.' Maka Allah pun menurunkan ayat hijab." Lebih lanjut 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Dan aku pernah mendengar teguran yang diberikan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sebagian isterinya. Lalu aku masuk menemui mereka dan kukatakan, 'Kalian berhenti atau Allah akan memberikan ganti kepada Rasul-Nya wanita-wanita yang lebih baik dari kalian.' Hingga akhirnya aku mendatangi salah satu isterinya, maka ia pun berkata, 'Hai 'Umar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menegur isteri-isterinya sehingga engkau menegur mereka.' Maka Allah pun menurunkan ayat: "Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Rabb-nya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang baik dari kalian, yang patuh." (QS. At-Tahriim: 5)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengusap ar-Rukn (Hajar Aswad) dengan tangannya, lalu beliau berlari kecil (ketika thawaf) tiga putaran dan berjalan kaki empat putaran. Setelah itu beliau menuju ke maqam Ibrahim seraya membaca, "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat." Kemudian beliau memposisikan maqam Ibrahim di antara dirinya dengan Baitullah, lalu beliau mengerjakan shalat dua raka'at. (486) Ini adalah potongan dari hadits panjang yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahiihnya. (487)

Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari 'Amr bin Dinar, ia berkata bahwa dia pernah mendengar Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: "Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba, beliau mengerjakan thawaf di Ka'bah tujuh putaran dan mengerjakan shalat dua raka'at di belakang maqam Ibrahim." (488)

===

Catatan Kaki:

481. Ibnu Abi Hatim (I/371).

482. Ath-Thabari (III/35).

483. Ar-Razi (IV/45).

484. Ibnu Abi Hatim (I/370).

485. [Shahiih al-Bukhari, kitab Tafsiirul Qur-aan, bab: Wattakhidzuu Mim Maqaami Ibraahiima ... (hal 807)].

486. Ath-Thabari (III/36).

487. Muslim (II/920). [Muslim (no. 1218)].

488. Fat-hul Baari (III/586). [Al-Bukhari (no. 396)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 125 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 125

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat...

Keutamaan Baitullah Al-Haram

Berkenaan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia," al-'Aufi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia berkata, "(Karena) mereka merasa hajat (keinginan)nya belum terpenuhi di sana, sehingga mereka datang, lalu pulang kepada keluarganya, dan kemudian kembali lagi."

Abu Ja'far ar-Razi berkata bahwa ar-Rabi' bin Anas meriwayatkan dari Abul 'Aliyah tentang firman-Nya, "Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan sebagai tempat yang aman," ia mengatakan, "Maksudnya yaitu aman dari musuh dan dari senjata. Karena dahulu, pada zaman jahiliyah, orang-orang saling merampas di sekitarnya, sedang di Baitullah mereka merasa aman, tidak pernah dirampas. (479)

Dan diriwayatkan dari Mujahid, 'Atha', as-Suddi, Qatadah, dan ar-Rabi' bin Anas, mereka mengatakan, "Siapa yang memasuki Baitullah, maka ia aman." (480)

Kandungan ayat ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menerangkan kemuliaan Baitullah dan beberapa hal yang Dia sifatkan padanya, baik secara syar'i (syari'at) maupun qadari (sunatullah), yakni kedudukannya sebagai tempat berkumpulnya manusia dan menjadi tempat yang selalu dirindukan oleh jiwa-jiwa manusia, meskipun setiap tahun mereka datang ke sana dalam rangka memenuhi panggilan Allah Ta'ala. Jadi Baitullah bukan sekedar untuk memenuhi keperluan terhadapnya. Semua itu tidak lain adalah berkat do'a Khalil (kekasih)-Nya, Ibrahim 'alaihis salam dalam firman-Nya,

"... Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Isma'il dan Ishaq. Sesungguhnya Rabb-ku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) do'a. Ya Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah do'aku." (QS. Ibrahim: 37-40)

Allah Ta'ala menyebutkan Baitullah sebagai tempat yang aman. Barangsiapa yang memasukinya, ia akan aman. Meskipun ia telah berbuat sesuatu (yang membuat dirinya terancam), namun apabila masuk ke sana, maka ia akan aman. Ini tidak lain disebabkan oleh kemuliaan orang yang membangunnya pertama kali, yaitu Khaliilur Rahmaan (kekasih Allah), sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku.'" (QS. Al-Hajj: 26)

Dia juga berfirman:

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia ialah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia." (QS. Ali 'Imran: 96-97)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan tentang maqam Ibrahim dan perintah untuk mengerjakan shalat di sana, dengan firman-Nya. "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat."

===

Catatan Kaki:

479. Ath-Thabari (III/29).

480. Ibnu Abi Hatim (I/370).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 124 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 124 (3)

Janji Allah Ta'ala Tidak Meliputi Orang-orang Zhalim

Firman-Nya, "Ibrahim berkata, '(Dan aku mohon juga) dari keturunanku,' Allah Ta'ala pun menjawab, 'Janji-Ku ini tidak mengenai orang-orang yang zhalim.'" Ketika Allah Ta'ala menjadikan Ibrahim sebagai imam, beliau memohon kepada Allah agar para imam sepeninggalnya berasal dari keturunannya. Maka permohonannya itu dikabulkan dan Allah mengabarkan bahwa di antara keturunannya itu akan ada orang-orang yang zhalim, dan mereka tidak termasuk ke dalam janji-Nya dan tidak akan menjadi imam (pemimpin) sepeninggalnya yang patut dijadikan teladan. Yang menjadi dalil dikabulkannya permohonan Ibrahim itu adalah firman Allah Ta'ala dalam surat al-'Ankabuut, "Dan Kami berikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya." (QS. Al-'Ankabuut: 27)

Maka setiap Nabi yang diutus oleh Allah Ta'ala sepeninggalnya berasal dari keturunan Ibrahim, dan setiap Kitab yang Dia turunkan juga diberikan kepada keturunannya.

Adapun firman-Nya, "Allah berfirman, 'Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim," Allah mengabarkan bahwa di antara anak keturunan beliau akan ada orang-orang yang zhalim, yang mana janji Allah ini tidak akan mengenai orang-orang zhalim. Dan tidaklah pantas menyerahkan urusan kepemimpinan kepadanya walaupun dia berasal dari keturunan hamba yang dicintai oleh Allah (yaitu Nabi Ibrahim). Dan di antara anak keturunan beliau akan ada pula orang-orang muhsin (baik) yang akan meneruskan dakwah beliau dan menyampaikan masalah-masalah yang hendak disampaikannya.

Ibnu Jarir berpendapat bahwa meskipun zhahir ayat ini berbentuk berita, bahwa perjanjian Allah ini, yaitu kepemimpinan tidak akan jatuh ke tangan orang-orang yang zhalim, maka di dalamnya pun Allah mengabarkan kepada Ibrahim al-Khalil 'alaihis salam bahwa akan ada di antara anak keturunan beliau orang-orang yang menzhalimi diri sendiri.

Ibnu Khuwaiz Mandad al-Maliki mengatakan, "Orang yang zhalim tidak pantas menjadi khalifah (pemimpin), hakim, mufti, saksi maupun rawi."

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 124 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 124 (2)

Apa yang Dimaksud dengan Beberapa Kalimat Ujian?

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah Ta'ala tujukan kepada Ibrahim 'alaihis salam. Ada beberapa riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma yang menyebutkan tentangnya.

'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan, "Artinya, Allah mengujinya dengan manasik haji." (473) Demikian pula Abu Ishaq meriwayatkan. (474)

'Abdurrazzaq juga meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas tentang firman Allah Ta'ala, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan)," ia mengatakan, "Allah mengujinya dengan thaharah (bersuci), yaitu lima di bagian kepala, dan lima di bagian badan. Di bagian kepala adalah memotong kumis, madhmadhah (berkumur ketika berwudhu'), istinsyaaq (menghirup air ke dalam hidung ketika berwudhu'), bersiwak, dan menyisir rambut. Dan lima di bagian badan adalah memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, serta mencuci bekas buang air besar dan bekas buang air kecil dengan air." (475)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, "Dan pendapat serupa diriwayatkan pula dari Sa'id bin al-Musayyab, Mujahid, asy-Sya'bi, an-Nakha'i, Abu Shalih dan Abul Jild." (476)

(Saya (Ibnu Katsir) katakan:) yang senada dengan pendapat ini adalah sebuah hadits yang tercantum dalam Shahiih Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,

'Sepuluh perkara yang termasuk fitrah; mencukur kumis, memanjangkan jenggot, bersiwak, istinsyaaqul maa' (menghirup air ke dalam lubang hidung), memotong kuku, menyela-nyela jari-jemari yang terhalang oleh semacam cincin, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan dan intiqaashul maa' (istinja').'

Lalu aku lupa yang kesepuluh, mungkin itu adalah madhmadhah (berkumur-kumur)."

Waki' mengatakan, "Intiqaashul maa' adalah istinja'." (477)

Dan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Fitrah itu ada lima, yaitu berkhitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak." Lafazh hadits ini menurut riwayat Muslim. (478)

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Kalimat yang telah Allah jadikan sebagai ujian atas Ibrahim lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna ialah:

1. Perintah untuk berpisah dari kaumnya karena Allah. Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka.

2. Perdebatan beliau dengan raja Namrudz demi membela agama Allah. Meskipun tindakan tersebut menimbulkan resiko yang sangat besar terhadap diri beliau.

3. Kesabaran beliau ketika mereka melemparkannya ke dalam api untuk membakar beliau serta kedahsyatan reaksi dari kaumnya karena beliau membela agama Allah.

4. Hijrah beliau setelah itu dari tanah air dan kampung halaman beliau karena Allah semata, yaitu ketika Allah memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka.

5. Perintah Allah kepada beliau untuk senantiasa menjamu tamu dan bersabar atasnya dengan jiwa, raga dan harta beliau.

6. Ujian atas beliau berupa perintah untuk menyembelih putera beliau ketika Allah memerintahkan untuk menyembelihnya.

Ketika semua ujian dari Allah itu berhasil dilalui dan menjadikan jiwanya tulus dalam menerimanya, Allah berfirman kepadanya, "'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.'" (QS. Al-Baqarah: 131) Yakni, atas apa yang beliau hadapi berupa penentangan manusia dan berlepas dirinya beliau dari mereka.

===

Catatan Kaki:

473. Ath-Thabari (III/13).

474. Ath-Thabari (III/13).

475. Abdurrazzaq (I/57).

476. Ibnu Abi Hatim (I/359).

477. Muslim (I/222) [Muslim (no. 261)].

478. Fat-hul Baari (X/347) dan Muslim (I/222) [Al-Bukhari (no. 5889), Muslim (no. 257)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 124 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 124

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia." Ibrahim berkata, "(Dan aku mohon juga) dari keturunanku." Allah berfirman, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zhalim." (QS. 2:124)

Tentang Nabi Ibrahim al-Khalil 'alaihis salam dan Pengangkatannya Sebagai Imam Bagi Seluruh Manusia

Allah Ta'ala mengingatkan akan kemuliaan Nabi Ibrahim, kekasih-Nya 'alaihis salam, bahwa Allah telah menjadikannya sebagai imam bagi manusia yang diikuti dalam perkara tauhid ketika beliau menegakkan (melaksanakan) apa yang telah Allah bebankan kepadanya berupa perintah-perintah dan larangan-larangan.

Oleh karena itu Allah berfirman, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan)." Artinya, wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang musyrik dan Ahli Kitab yang mengaku sebagai penganut agama Ibrahim, padahal mereka tidak mengikuti agama itu, bahwa sebenarnya yang berada di atas agama Ibrahim dan tegak di atasnya (menjalankannya) adalah engkau dan orang-orang mukmin yang menyertaimu, maka ceritakanlah kepada mereka ujian yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim 'alaihis salam berupa perintah dan larangan.

"Kemudian Ibrahim menunaikannya." Artinya, Nabi Ibrahim 'alaihis salam pun melaksanakan semua itu, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji." (QS. An-Najm: 37) Artinya, beliau melaksanakan setiap apa yang dibebankan oleh Allah kepada beliau -shalawat Allah tercurah atasnya-.

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), 'Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif.' Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah." (QS. An-Nahl: 120-123)

Allah jiga berfirman,

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabb-ku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukan termasuk orang-orang yang musyrik.'" (QS. Al-An'am: 161)

Dan Allah berfirman,

"Ibrahim bukan seorang yahudi dan bukan (pula) seorang nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 67-68)

Firman-Nya, "Dengan beberapa kalimat," yakni dengan seluruh syari'at (ketetapan), perintah, dan larangan-Nya. Kalimat di sini disebutkan secara mutlak (umum), bisa dimaksudkan sebagai kalimat qadariyyah (kalimat Allah berupa takdir-Nya), sebagaimana firman-Nya tentang Maryam 'alaihis salam,  "Dan ia (Maryam) membenarkan kalimat-kalimat Rabb-nya dan Kitab-kitab-Nya, dan adalah ia termasuk orang-orang yang taat." (QS. At-Tahriim: 12) Yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat ini adalah kalimat syar'iyyah (ketetapan yang dicintai oleh Allah), sebagaimana firman-Nya, "Sempurnalah kalimat Rabb-mu (al-Qur-an) sebagai kalimat yang benar dan adil." (QS. Al-An'aam: 115) Maksudnya, kalimat-kalimat (ketentuan-ketentuan) Allah yang bersifat syari'at, berupa berita yang benar maupun perintah untuk berbuat adil jika berupa perintah atau larangan. Dari uraian di atas, maka ayat yang mulia ini, "Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), kemudian ia menunaikannya," artinya, ia melaksanakan seluruhnya.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia," sebagai balasan atas apa yang telah ia lakukan. Karena ia telah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya, maka Allah menjadikannya sebagai panutan dan imam bagi seluruh manusia yang jejaknya selalu diikuti.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 122-123 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah

Al-Baqarah, Ayat 122-123

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas seluruh umat. (QS. 2:122) Dan takutlah kamu kepada suatu hari di mana seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikit pun dan tidak akan diterima suatu tebusan darinya dan tidak akan memberi manfaat satu syafa'at pun kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. 2:123)

Telah dikemukakan penafsiran ayat yang serupa dengan ayat ini di awal surat al-Baqarah. Diulangnya ayat ini dimaksudkan untuk menegaskan sekaligus merupakan perintah untuk mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seorang Nabi yang ummi, yang sifat-sifat, nama, perintah, dan umat beliau tercantum dalam Kitab-kitab suci mereka. Maka Allah memperingatkan mereka untuk tidak menyembunyikan semua itu dan tidak menyembunyikan nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka. Allah memerintahkan kepada mereka agar mengingat nikmat-nikmat dunia maupun agama yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Mereka tidak boleh hasad kepada anak-anak paman mereka, yakni bangsa Arab, atas rizki yang Allah anugerahkan kepada mereka berupa diutusnya penutup para Rasul dari kalangan mereka. Dan janganlah sifat hasad itu menyebabkan mereka menyelisihi, mendustakan dan selalu menghindar untuk mengikuti beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau hingga hari Kiamat.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah