Anda dan Harta di Dunia
Orang Muslim dan Harta (6)
Diriwayatkan dari 'Aun bin 'Abdillah bin Utbah, "Aku bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak melihat orang yang paling menderita dariku. Aku melihat kendaraan yang lebih baik dari kendaraanku, aku melihat pakaian yang lebih baik dari pakaianku. Aku bergaul dengan orang-orang miskin, maka aku tenang." Oleh karena itu, 'Umar bin al-Khaththab ra-dhiyallaahu 'anhu menulis surat ini kepada Abu Musa al-Asy'ari ra-dhiyallaahu 'anhu, "Merasa cukuplah dengan rezeki dunia yang ada padamu, karena Allah menguji dengan mengutamakan sebagian hamba-Nya di atas sebagian yang lain. Allah menguji orang yang banyak rezekinya. Dengan rezekinya apakah ia bersyukur dan melakukan kebaikan sesuai yang ditetapkan atasnya.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
'Beruntunglah orang yang berserah diri, diberi rezeki cukup (kaffaf), kemudian Allah memberinya perasaan cukup dengan apa yang diberikan." (1)
Kalimat kaffaf berarti kecukupan, tidak lebih tidak kurang. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdo'a,
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ اَلِ مُحَمَّدٍ قُوْتًا
Allaahummaj'al rizqa aali Muhammadin quutan.
"Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad kebutuhan pokok dari makanan (qut)." (2)
Kalimat qut berarti sesuatu yang dibutuhkan untuk menyambung hidup. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Sebaik-baik rezeki adalah apa yang cukup." (3)
Sehat jasmani bagi seorang muslim lebih baik dari kekayaan. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah datang dan di atas kepalanya ada bekas air. Para shahabat ra-dhiyallaahu 'anhum berkata kepada beliau, "Kami melihat engkau hari ini riang sekali." Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, dan segala puji bagi Allah." Kemudian masyarakat berbicara tentang kekayaan, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang takwa. Kesehatan bagi orang yang takwa lebih baik daripada kekayaan. Keriangan bagian dari nikmat." (4) kekayaan bukan masalah bagi orang yang takwa, karena kekayaan tanpa ketakwaan akan hancur dan menyesatkan. Seseorang, yang tidak bertakwa, tidak akan peduli dari mana mendapatkan harta. Kadang ia mengumpulkannya dari jalan yang tidak benar dan membelanjakannya di jalan yang tidak benar. Adapun orang kaya yang bertakwa, maka problem kekayaan akan sirna dan akan datang kebaikan. Dia akan mengumpulkannya dengan cara yang halal. Dengan hartanya dia menjaga dirinya dan kemuliaannya. Dengan harta dia mendekatkan diri pada Allah, dengan membelanjakannya di jalan ketaatan. Harta menjadi senjatanya dalam menghadapi zaman krisis. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
"Tidak boleh iri kecuali pada dua orang: Seseorang yang diberi harta, kemudian menguasai dan membelanjakannya di jalan yang benar..." (5)
'Umar bin al-Khaththab ra-dhiyallaahu 'anhu berkata, "Seseorang dicukupi oleh hartanya." 'Abdurrahman bin Auf -salah seorang shahabat yang kaya- berkata, "Alangkah indahnya harta. Dengannya aku menjaga harga diriku. Dengannya aku mendekatkan diri pada Rabbku."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
(1) HR. Muslim, kitab az-Zakat, bab Fadhlu at-Ta'afuf wa ash-Shabri wa al-Qana'ah.
(2) HR. Muslim, kitab az-Zakat, bab Fadhlu at-Ta'afuf wa ash-Shabri wa al-Qana'ah.
(3) Musnad Ahmad 1723. Ahmad Muhammad Syakir berkata: Isnadnya shahih.
(4) Shahih Sunan Ibni Majah 1741.
(5) HR. Al-Bukhari, kitab az-Zakat, bab Infaq al-Mal fi Haqihi.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Anta wal maala, Penulis: Syaikh Adnan ath-Tharsyah, Penerbit: Maktabah Wahbah - Kairo, Judul terjemah: Anda dan harta, Penerjemah: Taufik Damas Lc, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta - Indonesia, Cetakan I, Juli 2004 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT