Surat Al-Faatihah (9) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (9).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Abu Sa'id yang terdapat dalam sanad hadis ini bukanlah Abu Sa'id ibnul Ma-la seperti yang diduga oleh Ibnul Atsir di dalam kitab Jami'ul Ushul-nya dan orang-orang yang mengikuti pendapatnya. Karena sesungguhnya Ibnul Ma-la adalah seorang sahabat dari kalangan Anshar, sedangkan Abu Sa'id maula ibnu Amir adalah seorang tabi'in, salah seorang maula Bani Khuza'ah (yaitu Abdullah Amir Ibnu Kuraiz Al-Khuza'i). Hadis yang pertama muttashil dan berpredikat sahih, sedangkan hadis kedua ini lahiriahnya munqati' jika memang Abu Sa'id tidak mendengarnya dari Ubay ibnu Ka'b. Jika Abu Sa'id benar-benar mendengarnya dari Ubay, maka untuk kebersihannya disyaratkan disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim.

Menurut Imam Ahmad, hadis ini diriwayatkan pula melalui Ubay ibnu Ka'b, bukan hanya dari satu jalur. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui Ubay ibnu Ka'b yang saat itu sedang salat. Beliau memanggil, "Hai Ubay!" Ubay menoleh, tetapi tidak menjawab, lalu ia mempercepat salatnya. Setelah itu ia segera menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersalam kepadanya, "Assalaamu 'alaika, ya Rasulullah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Wa'alaikas salaam, hai Ubay. Apakah yang mencegahmu untuk tidak menjawabku ketika aku memanggilmu?" Ubay menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang dalam salatku." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidakkah engkau menjumpai dalam apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepadaku, bahwa penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian? (Al-Anfal: 24)." Ubay menjawab, "Mereka benar, wahai Rasulullah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sukakah kamu bila aku mengajarkan kepadamu suatu surat yang tidak pernah diturunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil, tidak dalam kitab Zabur, tidak pula di dalam Al-Qur'an ada surat yang serupa dengannya?" Ubay menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap, mudah-mudahan sebelum aku keluar dari pintu ini kamu sudah mengetahuinya." Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangan Ubay seraya berbicara dengannya, dan Ubay memperlambat langkahnya karena khawatir beliau sampai di pintu masjid sebelum menyampaikan hadisnya. Ketika mereka mendekati pintu tersebut, Ubay bertanya, "Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkau janjikan kepadaku itu?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, "Surat apakah yang kamu baca dalam salat?" Lalu Ubay membacakan kepadanya surat Ummul Qur'an, sesudah itu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil serta tidak dalam kitab Zabur, tidak pula dalam Al-Qur'an suatu surat yang serupa dengan surat itu (Unmul Qur'an). Sesungguhnya surat itu adalah As-Sab'ul matsani."

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (8) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (8).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Demikian pula menurut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Musaddad dan Ali ibnul Madini, keduanya dari Yahya ibnu Sa'id Al-Qaththan dengan lafaz yang sama. Imam Bukhari pun meriwayatkan hadis ini pada bagian lain dalam tafsirnya, dan diriwayatkan pula oleh Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah dari berbagai jalur melalui Syu'bah dengan lafaz yang sama. Al-Waqidi meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Mu'adz Al-Anshari, dari Khubaib ibnu Abdur Rahman, dari Abu Sa'id ibnul Ma'la, dari Ubay ibnu Ka'b hadis semisal.

Di dalam kitab Muwaththa' Imam Malik terdapat sebuah hadis yang perlu diperhatikan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman ibnu Ya'qub Al-Harqi, bahwa Abu Sa'id maula Amir ibnu Kuraiz telah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) pernah memanggil Ubay ibnu Ka'b yang sedang salat. Setelah Ubay menyelesaikan salatnya, lalu ia menjumpai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangan Ubay, saat itu beliau hendak keluar menuju pintu masjid. Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap sebelum kamu keluar dari masjid ini kamu sudah mengetahui suatu surat yang belum pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, dan tidak ada pula di dalam Al-Qur'an surat yang serupa dengannya." Ubay melanjutkan kisahnya, "Maka aku mengurangi kecepatan langkahku karena mengharapkan pelajaran tersebut, kemudian aku berkata, 'Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkau janjikan kepadaku itu?' Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Apakah yang engkau baca bila membuka salatmu?' Aku membaca alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiina sampai akhir surat,' lalu beliau bersabda, 'Itulah surat yang kumaksudkan. Surat ini adalah sab'ul matsani dan Al-Qur'anul 'Azhim yang diberikan kepadaku.'"

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (7) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (7).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Hadis-hadis yang menerangkan keutamaan surat Al-Faatihah.

Imam Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal di dalam kitab Musnadnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Syu'bah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Khubaib ibnu Abdur Rahman, dari Hafzh ibnu Ashim, dari Abu Sa'id ibnul Ma'la radhiyallahu 'anhu yang menceritakan:

Aku sedang salat, kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku selesai dari salatku, lalu aku datang kepadanya dan ia bertanya, "Mengapa engkau tidak segera datang kepadaku?" Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang salat." Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bukankah Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian' (Al-Anfaal: 24)." Kemudian beliai shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar akan mengajarkan kepadamu surat yang paling besar dalam Al-Qur'an sebelum kamu keluar dari masjid ini." Lalu beliau memegang tanganku. Ketika beliau hendak keluar dari masjid, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajarkan kepadaki sebuah surat Al-Qur'an yang paling agung." Beliau menjawab, "Ya, Alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin adalah sab'ul matsani, dan Al-Qur'anul 'Azhim yang diberikan kepadaku."

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (6) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (6).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Ad-Daruquthni meriwayatkannya melalui Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) secara marfu' dengan lafaz yang sama atau semisal dengannya. Ad-Daruquthni mengatakan bahwa semua rawinya tsiqah (dipercaya). Imam Baihaqi meriwayatkan sebuah atsar dari Ali, Ibnu Abbas, dan Abu Hurairah, bahwa mereka menafsirkan firma Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Sab'an minal matsani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang)," dengan makna surat Al-Faatihah, dan basmalah termasuk salah satu ayatnya yang tujuh. Hal ini akan dibahas lebih lanjut lagi dalam pembahasan basmalah.

Al-A'masy meriwayatkan dari Ibrahim yang pernah menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Ibnu Mas'ud (radhiyallahu 'anhu), "Mengapa engkau tidak menulis Al-Faatihah dalam mush-haf-mu?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Seandainya aku menulisnya, niscaya aku akan menulisnya pada permulaan setiap surat." Abu Bakar ibnu Abu Dawud mengatakan, yang dimaksud ialah mengingat surat Al-Faatihah dibaca dalam salat, hingga cukup tidak diperlukan lagi penulisannya, sebab semua kaum Muslimin telah menghafalnya.

Suatu pendapat mengatakan bahwa surat Al-Faatihah merupakan bagian dari Al-Qur'an yang mula-mula diturunkan, seperti yang telah disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah, dinukil oleh Al-Baqilani sebagai salah satu dari tiga pendapat. Menurut pendapat lain, yang mula-mula diturunkan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut ini:

Hai orang yang berselimut. (Al-Muddatstsir: 1)

Seperti yang disebutkan di dalam hadis Jabir yang sahih. Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah firman-Nya:

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. (Al-'Alaq: 1)

Pendapat terakhir inilah yang paling sahih, seperti yang akan diterangkan nanti pada pembahasan tersendiri.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (5) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (5).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ismail ibnu Umar, dari Ibnu Abu Dzi'b dengan lafaz yang sama.

Abu Ja'far Muhammad ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Dzi'b, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

Surat Faatihah ini adalah Ummul Qur'an, Fatihatul Kitab, dan As-Sab'ul Matsani.

Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad ibnu Musa ibnu Murdawaih mengatakan di dalam tafsirnya bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ziad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Galib ibnu Harits, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abdul Wahid Al-Maushuli, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'afa ibnu Imran, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Nuh ibnu Abu Bilal, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin (surat Al-Faatihah) adalah tujuh ayat, sedangkan bismillaahir rahmaanir rahiim adalah salah satunya. Surat Al-Faatihah adalah As-Sab'ul Matsani, Al-Qur'anul 'Azhim, Ummul Kitab, dan Fatihatul Kitab.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (4) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (4).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Menurut pendapat lain, sesungguhnya surat ini dinamakan Ummul Kitab karena semua makna yang terkandung di dalam Al-Qur'an merujuk kepada apa yang terkandung di dalamnya. Ibnu Jarir mengatakan, orang Arab menamakan setiap himpunan suatu perkara atau bagian terdepan dari suatu perkara jika mempunyai kelanjutan yang mengikutinya -sebagaimana imam dalam suatu masjid besar- dengan istilah "umm". Untuk itu, mereka menyebut kulit yang melapisi otak dengan istilah "ummur ra-si". Mereka menamakan panji atau bendera suatu pasukan yang terhimpun di bawahnya dengan sebutan "umm" pula. Hal ini dapat dibuktikan melalui perkataan seorang penyair bernama Zhur Rummah, yaitu:

Pada ujung tombak itu terdapat panji kami yang merupakan lambang bagi kami dalam mengerjakan segala urusan, kami tidak akan mengkhianatinya sama sekali.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Mekah dinamakan Ummul Qura karena ia merupakan kota paling depan, mendahului semua kota lainnya, dan menghimpun kesemuanya. Pendapat lain mengatakan bahwa Mekah dinamakan Ummul Qura karena bumi ini dibulatkan mulai darinya. Adapun surat ini, dinamakan "Al-Faatihah" karena bacaan Al-Qur'an dimulai dengannya, dan para Sahabat memulai penulisan mush-haf imam dengan surat ini.

Penamaan surat Al-Faatihah dengan sebutan "As-Sab'ul matsani" dinilai sah. Mereka mengatakan, dinamakan demikian karena surat ini dibaca berulang-ulang dalam salat, pada tiap-tiap rakaat, sekalipun matsani ini mempunyai makna yang lain, seperti yang akan diterangkan nanti pada tempatnya insya Allah.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada mereka Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada mereka Ibnu Abu Dzi'b dan Hasyim ibnu Hasyim, dari Ibnu Abu Dzi'b, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu), bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Ummul Qur'an:

Surat Al-Faatihah adalah Ummul Qur'an, As-Sab'ul Matsani, dan Al-Qur'anul 'Azhim.

 =====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (3) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (2)
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abul Aliyah, surat Al-Faatihah adalah Makkiyyah. Menurut pendapat lain Madaniyyah, seperti yang dikatakan oleh Abu Hurairah, Mujahid, Atha ibnu Yasar, dan Az-Zuhri. Pendapat lainnya lagi mengatakan, surat Al-Faatihah diturunkan sebanyak dua kali, pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Tetapi pendapat pertama lebih dekat kepada kebenaran, karena firman-Nya menyebutkan:

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang. (Al-Hijr: 87)

Abu Laits As-Samarqandi meriwayatkan bahwa separo dari surat Al-Faatihah diturunkan di Mekah, sedangkan separo yang lain diturunkan di Madinah. Akan tetapi, pendapat ini sangat aneh, dinukil oleh Al-Qurthubi darinya.

Surat Al-Faatihah terdiri atas tujuh ayat tanpa ada perselisihan, tetapi Amr ibnu Ubaid mengatakannya delapan ayat, dan Husain Al-Jufi mengatakannya enam ayat; kedua pendapat ini syadz (menyendiri).

Mereka berselisih pendapat mengenai basmalah-nya, apakah merupakan ayat tersendiri sebagai permulaan Al-Faatihah seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama qurra Kufah dan segolongan orang dari kalangan para Sahabat dan para Tabi'in serta ulama Khalaf, ataukah merupakan sebagian dari ayat atau tidak terhitung sama sekali sebagai permulaan Al-Faatihah, seperti yang dikatakan oleh ulama penduduk Madinah dari kalangan ahli qurra dan ahli fiqihnya. Kesimpulan pendapat mereka terbagi menjadi tiga pendapat, seperti yang akan disebutkan nanti pada tempatnya insya Allah, dan hanya kepada-Nya kita percayakan.

Para ulama mengatakan bahwa jumlah kalimat dalam surat Al-Faatihah semuanya ada 25 kalimat, sedangkan hurufnya sebanyak 113.

Imam Bukhari dalam permulaan kitab Tafsir mengatakan bahwa surat ini dinamakan Ummul Kitab karena penulisan dalam mush-haf dimulai dengannya dan permulaan bacaan dalam salat dimulai pula dengannya.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah (2) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Surat Al-Faatihah (2).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Surat Al-Faatihah disebut pula Salat, karena ia merupakan syarat di dalam salat.

Surat Al-Faatihah dinamakan pula Syifa, seperti yang disebutkan di dalam riwayat Ad-Darimi melalui Abu Sa'id secara marfu', yaitu:

Fatihatul Kitab (surat Al-Faatihah) merupakan obat penawar bagi segala jenis racun.

Surat Al-Faatihah dikenal pula dengan nama Ruqyah, seperti yang disebutkan di dalam hadis Abu Sa'id yang sahih, yaitu di saat dia membacakannya untuk mengobati seorang lelaki sehat (yang tersengat kalajengking). Sesudah itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Sa'id (Al-Khudri) (radhiyallahu 'anhu):

Siapakah yang memberi tahu kamu bahwa surat Al-Faatihah itu adalah ruqyah?

Asy-Sya-bi meriwayatkan sebuah atsar melalui Ibnu Abbas, bahwa dia menamakannya (Al-Faatihah) Asasul Qur'an (fondasi Al-Qur'an). Ibnu Abbas mengatakan bahwa fondasi surat ini terletak pada bismillaahir rahmaanir rahiim.

Sufyan ibnu Uyaynah menamakannya Al-Waqiyah, sedangkan Yahya ibnu Katsir menamakannya Al-Kafiyah, karena surat Al-Faatihah sudah mencukupi tanpa selainnya, tetapi surat selainnya tidak dapat mencukupi bila tanpa surat Al-Faatihah, seperti yang disebutkan di dalam salah satu hadis berpredikat mursal di bawah ini:

Ummul Qur'an merupakan pengganti dari yang lainnya, sedangkan selainnya tidak dapat dijadikan sebagai penggantinya.

Surat ini dinamakan pula surat Ash-Shalah dan Al-Kanz. Kedua nama ini disebutkan oleh Az-Zamakhsyari di dalam kitab Kasysyaf.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Surat Al-Faatihah | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1

Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.

Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.

Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.

Surat Al-Faatihah.
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.

Surat ini dinamakan Al-Faatihah -yakni Fatihatul Kitab- hanya secara tulisan; dengan surat ini bacaan dalam salat dimulai. Surat ini disebut pula Ummul Kitab menurut jumhur ulama -seperti yang dituturkan oleh Anas, Al-Hasan, dan Ibnu Sirin- karena mereka tidak suka menyebutnya dengan istilah Fatihatul Kitab.

Al-Hasan dan Ibnu Sirin mengatakan, "Sesungguhnya Ummul Kitab itu adalah Lauh Mahfuzh." Al-Hasan mengatakan bahwa ayat-ayat yang muhkam adalah Ummul Kitab. Karena itu, keduanya pun tidak suka menyebut surat Al-Faatihah dengan istilah Ummul Qur'an.

Di dalam sebuah hadits sahih pada Imam Turmudzi dan dinilai sahih olehnya, disebutkan dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiina adalah Ummul Qur'an, Ummul Kitab, Sab'ul matsani, dan Al-Qur'anul 'azhim.

Surat Al-Faatihah dinamakan pula Alhamdu, juga disebut Ash-Shalat karena berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Tuhannya yang mengatakan:

Aku bagaikan salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Apabila seorang hamba mengucapkan, "Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiina" (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), maka Allah berfirman, "Hamba-Ku telah memuji-Ku." (Hadis)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah