Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Baqarah (26-27/3)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah (26-27/3)

Allah juga berfirman: "Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun," dan ayat seterusnya. (QS. An-Nahl: 75)

Kemudian Dia berfirman:

"Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja ia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan?" (QS. An-Nahl: 76) dan ayat selanjutnya.

Sebagaimana Dia berfirman:

"Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba-hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rizki yang telah kami berikan kepadamu," (QS. Ar-Ruum: 28) dan ayat selanjutnya.

Mengenai firman Allah: "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu," Mujahid mengatakan: "Orang-orang yang beriman mengimani perumpamaan itu, baik yang kecil maupun yang besar. Mereka mengetahui bahwa perumpamaan itu adalah kebenaran yang datang dari Rabb mereka. Dan Allah memberikan petunjuk kepada mereka dengannya." (119)

Dalam tafsirnya, as-Suddi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud, dan beberapa Shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, bahwa yang dimaksud dengan "yu-shallu bihi ka-tsiiran" (Banyak orang yang disesatkan), yakni orang-orang munafik. Dan dengannya pula Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman. Maka kesesatan mereka (orang-orang munafik) itu terus bertambah dengan pengingkaran mereka terhadap perumpamaan yang diberikan oleh Allah yang telah mereka ketahui dengan benar dan yakin. Ketika perumpamaan itu benar dan tepat, maka itu merupakan penyesatan bagi mereka." (120)

Dan dengan perumpamaan itu, "yahdii bihi" Dia memberikan petunjuk kepada kebanyakan orang-orang beriman, sehingga hidayah yang mereka peroleh semakin bertambah dan keimanan mereka semakin kuat, karena kepercayaan mereka atas apa yang mereka ketahui secara benar dan yakin, bahwa ia pasti sesuai dengan perumpamaan yang Allah sebutkan, serta pengakuan mereka atas hal itu. Itulah petunjuk yang Allah berikan kepada mereka.

Tentang firman-Nya: "Dan tidak ada yang disesatkan Allah dengannya kecuali orang-orang fasik," as-Suddi mengatakan: "Mereka itu adalah orang-orang munafik."

Orang-orang Arab biasa mengatakan: "fasaqatir ruthbatun", artinya isi kurma keluar dari kulitnya. Oleh karena itu tikus disebut fuwaisiqah, karena selalu keluar dari persembunyiannya untuk melakukan perusakan.

Telah shahih dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim sebuah hadits dari 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Ada lima jenis binatang perusak (fawasiq) yang boleh dibunuh, baik di tanah halal maupun di tanah haram, yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus dan anjing gila." (121)

Jika demikian, orang fasik di sini mencakup orang kafir dan juga orang yang durhaka. Hanya saja kefasikan orang kafir lebih berat dan lebih keji. Adapun yang dimaksud dengan orang fasik dalam ayat ini adalah orang kafir, wallaahu a'lam, dengan dalil bahwa Allah menyifati mereka melalui firman-Nya setelah itu:

"(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi." Sifat-sifat di atas adalah sifat orang-orang kafir yang bertentangan dengan sifat orang-orang mukmin, sebagaimana Allah berfirman dalam surat ar-Ra'd:

"Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk." (QS. Ar-Ra'd: 19-21) dan ayat-ayat selanjutnya.

Hingga firman-Nya:

"Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)." (QS. Ar-Ra'd: 25)

Al-'ahdu (perjanjian) yang telah dilanggar oleh orang-orang fasik itu adalah wasiat dan perintah Allah kepada seluruh makhluk-Nya untuk senantiasa menaati-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di dalam Kitab-kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-rasul-Nya. Dan mereka melanggarnya dengan tidak mengamalkannya.

Bersambung...

===

(119) Ibnu Abi Hatim 1/93.

(120) Tafsiir ath-Thabari 1/408.

(121) Fat-hul Baari 6/408, dan Muslim 2/856. Al-Bukhari no. 1828, Muslim no. 1198.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah