Jilid 1
Kitab Thaharah
Istinja'
Beberapa Adab Istinja'
Beberapa adab yang perlu diperhatikan dalam hal istinja' adalah:
1. Tidak beristinja' dengan tangan kanan. Berdasarkan hadits Abu Qutadah ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata, Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Janganlah seorang dari kamu memegang kemaluannya dengan tangan kanan ketika buang air kecil, jangan beristinja' dengan tangan kanan dan janganlah bernafas di dalam bejana." (132)
Diriwayatkan dari Salman ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Seseorang bertanya kepadaku, "Apakah shahabat kalian (yaitu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) mengajarkan kepada kalian hingga masalah buang air?" Aku menjawab, "Ya, beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar atau buang air kecil, kami dilarang untuk beristinja' dengan tangan kanan, dan beristinja' kurang dari tiga buah batu." (133)
2. Tidak menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Dasarnya adalah hadits Abu Qutadah ra-dhiyallaahu 'anhu di atas.
3. Mengusapkan tangannya ke tanah -setelah istinja'- atau mencucinya dengan sabun dan selainnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata, "Apabila Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mendatangi tempat buang air, aku mengikutinya dengan membawa seember air. Lalu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beristinja' dan mengusapkan tangannya ke tanah." (134)
Ini juga dikuatkan oleh hadits Maimunah, "Kemudian Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menuangkan air pada kemaluan dan mencucinya dengan tangan kirinya. Lalu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memukulkan tangan kirinya ke tanah lalu mencucinya." (135)
4. Memercikkan air pada kemaluan dan celananya untuk menghilangkan was-was. Dasarnya adalah hadits Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma, "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudhu' lalu memercikkan air pada kemaluannya." (136)
Bersambung...
===
(132) Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari 153, Muslim 267, dan selainnya.
(133) Shahih, diriwayatkan oleh Muslim 262, Abu Dawud 7, at-Tirmidzi 16, dan an-Nasa-i 1/16.
(134) Hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 678, an-Nasa-i 1/45 dan al-Misykah 360.
(135) Shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari 266 dan Muslim 317.
(136) Shahih, diriwayatkan oleh ad-Darimi 711 dan al-Baihaqi 1/161. Syaikh al-Albani berkata dan Tamamul Minnah hal. 66, "Sanadnya shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Shahih Fiqh as-Sunnah, wa adillatuhu wa taudhih madzahib al-a'immah, Penulis: Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Ta'liq: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, Penerbit: Maktabah at-Taufiqiyah, Kairo - Mesir, tanpa keterangan cetakan, Tahun 1424 H/ 2003 M, Judul terjemah: Shahih Fiqih Sunnah Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka at-Tazkia, Jakarta, Cetakan IV, Syawwal 1430 H/ September 2009 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT