Shahih Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Baqarah (26-27/2)

Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Surat al-Baqarah (26-27/2)

Perumpamaan Dunia.

Tentang ayat ini Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas, ia mengatakan: "Ini adalah perumpamaan dunia yang Allah sebutkan, bahwa nyamuk itu hidup tanpa rasa lapar, namun jika kekenyangan ia pun mati. Seperti itulah perumpamaan orang-orang yang telah dibuat perumpamaan tentang mereka dalam al-Qur-an, apabila mereka telah kenyang dengan dunia, maka saat itulah Allah mencabut nyawa mereka. Kemudian beliau membacakan ayat:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka." (QS. Al-An'aam: 44)

Makna ayat ini, Allah mengabarkan bahwa Dia tidak malu, yakni tidak merasa enggan. Ada juga yang mengatakan: "Tidak takut untuk membuat perumpamaan apa saja. Yaitu perumpamaan apa pun dengan objek apa saja, baik benda yang besar maupun yang kecil."

Firman Allah Ta'ala: "Famaa fauqahaa" maksudnya adalah apa-apa yang lebih besar darinya, karena tidak ada yang lebih hina dan lebih kecil daripada nyamuk.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari 'Aisyah ra-dhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau apa yang lebih besar darinya melainkan dicatat baginya derajat dan dihapuskan dosa darinya." (118)

Maka Allah Sub-haanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa Dia tidak pernah menganggap remeh sesuatu pun yang Dia jadikan perumpamaan, meskipun hal itu hina dan kecil seperti nyamuk.

Sebagaiman Allah tidak merasa enggan untuk menciptakannya, demikian pula Dia tidak merasa enggan untuk membuat perumpamaan dengannya.

Sebagaimana Dia membuat perumpamaan dengan lalat dan laba-laba dalam firman-Nya:

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (QS. Al-Hajj: 73)

Allah Ta'ala juga berfirman:

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba seandainya mereka mengetahui." (QS. Al-'Ankabuut: 41)

Allah juga berfirman:

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (QS. Ibrahim: 24-27)

Bersambung...

===

(118) Muslim 4/1991 no. 2572.

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah