Surat al-Baqarah (25/2)
Keserupaan Buah-buahan Surga Sebagian dengan Sebagian Lainnya.
Firman Allah Ta'ala:
"Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam Surga-surga itu, mereka mengatakan: 'Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.'"
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, ia mengatakan: "Rerumputan Surga terbuat dari za'faran, bukitnya terbuat dari kasturi. Mereka akan dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda belia dengan membawa buah-buahan dan penduduk Surga memakannya. Kemudian mereka diberikan lagi buah-buahan yang serupa. Maka berkatalah penduduk Surga: 'Ini adalah buah-buahan yang kalian bawa tadi.' Maka para pelayan muda tersebut berkata: 'Makanlah, warnanya serupa tetapi rasanya berbeda.'" Itulah makna dari firman Allah Ta'ala: "Mereka diberi buah-buahan yang serupa." Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas, dari Abul 'Aliyah, ia mengatakan: "Mereka diberi buah-buahan yang serupa," antara buah yang satu dengan buah yang lainnya ada kemiripan, tetapi rasanya berbeda. (110)
'Ikrimah mengatakan: "Mereka diberi buah-buahan yang serupa," maksudnya serupa dengan buah-buahan di dunia, hanya saja buah-buahan di Surga lebih baik. (111)
Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari al-A'masy, dari Abu Zhibyan, dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhum, ia mengatakan: "Tidak ada keserupaan antara buah-buahan Surga dengan buah-buahan di dunia, kecuali hanya namanya saja." Dalam riwayat lain disebutkan: "Tidak ada di dunia ini sesuatu yang menyerupai apa yang ada di Surga, kecuali namanya saja." (112)
Isteri-isteri yang Suci Bagi Penduduk Surga.
Mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci," Ibnu Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas ra-dhiyallaahu 'anhuma, ia mengatakan: "Maksudnya, suci dari noda dan kotoran." (113)
Mujahid mengatakan: "Yaitu suci dari haidh, tinja, air seni, dahak, ingus, mani maupun anak." (114)
Qatadah mengatakan: "Suci dari kotoran dan perbuatan dosa." Dalam salah satu riwayat darinya ia berkata: "Tidak pernah haidh dan tidak memiliki beban untuk beramal."
Hal yang sama diriwayatkan dari 'Atha', al-Hasan, adh-Dhahhak, Abu Shalih, 'Athiyyah, dan as-Suddi. (115)
Sedangkan firman-Nya: "Dan mereka kekal di dalamnya," itulah kebahagiaan yang sempurna. Dengan nikmat tersebut, mereka berada di tempat yang aman dari kematian, sehingga kenikmatan itu tiada akhir dan tidak akan ada habisnya. Bahkan mereka senantiasa berada dalam kenikmatan abadi selama-lamanya. Semoga Allah 'Azza wa Jalla memasukkan kita ke dalam golongan mereka, sesungguhnya Dia Maha Pemurah, Mahamulia lagi Maha Penyayang.
Bersambung...
===
(110) Ibnu Abi Hatim 1/90.
(111) Tafsiir ath-Thabari 1/391.
(112) Tafsiir ath-Thabari 1/392.
(113) Tafsiir ath-Thabari 1/395.
(114) Tafsiir ath-Thabari 1/396.
(115) Ibnu Abi Hatim 1/91.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
===
Ary Ambary Ahmad Abu Sahla al-Bantani
Sent from my BlackBerry® PIN 269C8299
powered by Sinyal Kuat INDOSAT