Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (27).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad ibnu Hambal, dari Abu Sa'id, dari Zaidah dan Abu Daud, dari Yusuf ibnu Musa, dari Jarir ibnu Abdul Hamid; juga oleh Imam Turmudzi dan Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaumu wal Lailah-nya, dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Ats-Tsauri. Imam Nasai sendiri meriwayatkannya melalui hadis Zaidah ibnu Qudamah, ketiga-tiganya dari ABdul ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Mu'adz ibnu Jabal radhiyallahu 'anhu yang menceritakan, "Ada dua orang lelaki bertengkar di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu salah seorang dari mereka tampak memuncak emosinya hingga terbayang oelhku seakan-akan salah seorang dari keduanya mencabik-cabik hidungnya karena tiupan amarah, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat; seandainya dia mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah amarah yang menguasai dirinya.' Mu'adz ibnu Jabal radhiyallahu 'anhu menjawab, 'Apakah kalimat itu, wahai Rasulullah?' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
Allaahumma innii a'uudzu bika minasy syaithaanir rajiim
'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari godaan setan yang terkutuk.' Perawi mengatakan, 'Lalu Mu'adz memerintahkan orang yang meluap amarahnya itu untuk membacanya, tetapi dia menolak, akhirnya dia makin bertambah emosi.'"
Demikianlah lafaz yang diketengahkan oleh Abu Daud. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat mursal; dengan kata lain, Abdur Rahman ibnu Abu Laila belum pernah bersua dengan Mu'adz ibnu Jabal karena Mu'adz telah meninggal dunia sebelum tahun 20 Hijriah.
Menurut kami, barangkali Abdur Rahman ibnu Abu Laila mendengar hadis ini dari Ubay ibnu Ka'b, sebagaimana keterangan yang lalu, kemudian Ubay menyampaikan hadis ini dari Mu'adz ibnu Jabal, karena sesungguhnya kisah ini disaksikan bukan hanya oleh seorang sahabat.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (26) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (26).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ya'la ibnu Atha, dari seorang lelaki yang menceritakan kepadanya bahwa dia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili menceritakan:
Apabila rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mengerjakan salatnya, terlebih dahulu membaca takbir tiga kali, lalu mengucapkan "Laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah)" sebanyak tiga kali, dan "Subhaanallaahi wa bihamdihi (Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya)" sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berdoa,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaan, rayuan, dan bisikannya."
Al-Hafizh Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnul Mutsanna Al-Maushuli mengatakan di dalam kitab Musnad-nya bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Umar ibnu Aban Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hisyam ibnul Barid, dari Yazid ibnu Ziad, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka'b radhiyallahu 'anhu, yang menceritakan:
Ada dua orang laki-laki beradu janggut (bertengkar) di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu salah seorang darinya mencabik-cabik hidung karena marah sekali. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sesuatu; seandainya dia mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah rasa emosinya itu, yaitu,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim.
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'."
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaumu wal Lailah, dari Yusuf ibnu Isa Al-Marwazi, dari Al-Fadhl ibnu Musa, dari Yazid ibnu Abul Ja'diyyah.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (26).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Ya'la ibnu Atha, dari seorang lelaki yang menceritakan kepadanya bahwa dia pernah mendengar Abu Umamah Al-Bahili menceritakan:
Apabila rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mengerjakan salatnya, terlebih dahulu membaca takbir tiga kali, lalu mengucapkan "Laa ilaaha illallaah (Tidak ada Tuhan selain Allah)" sebanyak tiga kali, dan "Subhaanallaahi wa bihamdihi (Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya)" sebanyak tiga kali. Setelah itu beliau berdoa,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaan, rayuan, dan bisikannya."
Al-Hafizh Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnul Mutsanna Al-Maushuli mengatakan di dalam kitab Musnad-nya bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Umar ibnu Aban Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Hisyam ibnul Barid, dari Yazid ibnu Ziad, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Ubay ibnu Ka'b radhiyallahu 'anhu, yang menceritakan:
Ada dua orang laki-laki beradu janggut (bertengkar) di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu salah seorang darinya mencabik-cabik hidung karena marah sekali. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sesuatu; seandainya dia mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah rasa emosinya itu, yaitu,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim.
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'."
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaumu wal Lailah, dari Yusuf ibnu Isa Al-Marwazi, dari Al-Fadhl ibnu Musa, dari Yazid ibnu Abul Ja'diyyah.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (25) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (25).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Hadis ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah melalui hadis Syu'bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Ashim Al-Gazzi, dari Nafi' ibnu Jabir Al-Muth'im, dari ayahnya yang menceritakan:
Aku melihat Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam bila memulai salatnya mengucapkan, "Allahu akbar kabiiran" (Allah Mahabesar dengan kebesaran yang sesungguhnya), "Alhamdu lillaahi katsiiran" (segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya), "Subhaanallaahi bukratan wa ashiilan" (Mahasuci Allah di pagi dan petang hari) masing-masing tiga kali; lalu, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaannya, sifat takaburnya, dan embusan rayuannya."
Menurut Umar, al-hamz artinya kesempitan, nafakh artinya ketakaburan, dan nafats artinya syairnya yang batil.
Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mundzir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami Atha ibnus Sa'ib, dari Abu Abdur Rahman A-Sulami, dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
Allaahumma innii a'uudzu bika minasy syaithaanir rajiimi wa hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, yakni dari godaan, rayuan, dan bisikannya.
Ibnu Majah mengatakan bahwa hamzihi artinya cekikannya, nafkhihi artinya takaburnya, dan naftsihi artinya syairnya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (25).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Hadis ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah melalui hadis Syu'bah, dari Amr ibnu Murrah, dari Ashim Al-Gazzi, dari Nafi' ibnu Jabir Al-Muth'im, dari ayahnya yang menceritakan:
Aku melihat Rasulullah shallallah 'alaihi wa sallam bila memulai salatnya mengucapkan, "Allahu akbar kabiiran" (Allah Mahabesar dengan kebesaran yang sesungguhnya), "Alhamdu lillaahi katsiiran" (segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya), "Subhaanallaahi bukratan wa ashiilan" (Mahasuci Allah di pagi dan petang hari) masing-masing tiga kali; lalu, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, yaitu dari godaannya, sifat takaburnya, dan embusan rayuannya."
Menurut Umar, al-hamz artinya kesempitan, nafakh artinya ketakaburan, dan nafats artinya syairnya yang batil.
Ibnu Majah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Mundzir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami Atha ibnus Sa'ib, dari Abu Abdur Rahman A-Sulami, dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
Allaahumma innii a'uudzu bika minasy syaithaanir rajiimi wa hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari setan yang terkutuk, yakni dari godaan, rayuan, dan bisikannya.
Ibnu Majah mengatakan bahwa hamzihi artinya cekikannya, nafkhihi artinya takaburnya, dan naftsihi artinya syairnya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (24) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (24).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Anas, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnu Ali Ar-Rifa'i Al-Yasykuri, dari Abul Muttawakil At-Taji, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila mengerjakan salat di sebagian malam harinya membuka salatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan:
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuka wa ta'aala jadduka, wa laa ilaaha ghairuka - tsumma yaquulu - laa ilaaha illallaahu - tsalaatsan tsumma yaquulu - a'uudzu billaahis samii'il 'aliimi, minasy syaithaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji kepada Engkau, Mahasuci asma-Mu dan Mahatinggi keagungan-Mu; tiada Tuhan selain Engkau. Kemudian beliau mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," sebanyak tiga kali, lalu membaca doa berikut: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, yaitu dari kesempitan, ketakaburan, dan embusan rayuannya."
Hadis ini diriwayatkan dalam empat kitab Sunan melalui riwayat Ja'far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnu Ali Ar-Rifa'i. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini paling masyhur dalam babnya. Imam Turmudzi mengartikan istilah al-hamz dengan makna 'cekikan' atau 'kesempitan', an-nafakh dengan 'takabur', dan an'nafats dengan makna 'embusan rayuan yang mendorong seseorang mengeluarkan syairnya'.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (24).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Ahmad ibnu Hambal mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Hasan ibnu Anas, telah menceritakan kepada kami Ja'far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnu Ali Ar-Rifa'i Al-Yasykuri, dari Abul Muttawakil At-Taji, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila mengerjakan salat di sebagian malam harinya membuka salatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan:
Subhaanakallaahumma wa bihamdika, wa tabaarakasmuka wa ta'aala jadduka, wa laa ilaaha ghairuka - tsumma yaquulu - laa ilaaha illallaahu - tsalaatsan tsumma yaquulu - a'uudzu billaahis samii'il 'aliimi, minasy syaithaanir rajiimi min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi.
Mahasuci Engkau, ya Allah, dengan memuji kepada Engkau, Mahasuci asma-Mu dan Mahatinggi keagungan-Mu; tiada Tuhan selain Engkau. Kemudian beliau mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," sebanyak tiga kali, lalu membaca doa berikut: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, yaitu dari kesempitan, ketakaburan, dan embusan rayuannya."
Hadis ini diriwayatkan dalam empat kitab Sunan melalui riwayat Ja'far ibnu Sulaiman, dari Ali ibnu Ali Ar-Rifa'i. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini paling masyhur dalam babnya. Imam Turmudzi mengartikan istilah al-hamz dengan makna 'cekikan' atau 'kesempitan', an-nafakh dengan 'takabur', dan an'nafats dengan makna 'embusan rayuan yang mendorong seseorang mengeluarkan syairnya'.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (23) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (23).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Ta'awwudz
Segolongan ulama ahli qurra dan lain-lainnya mengatakan bahwa bacaan ta'awwudz dilakukan sesudah membaca Al-Qur'an. Mereka mengatakan demikian berdasarkan makna lahiriah ayat, untuk menolak rasa 'ujub sesudah melakukan ibadah. Orang yang berpendapat demikian antara lain ialah Hamzah, berdasarkan apa yang telah ia nukil dari Ibnu Falufa dan Abu Hatim As-Sijistani. Hal ini diriwayatkan oleh Abul Qasim Yusuf ibnu Ali ibnu Junadah Al-Hudzali Al-Magribi di dalam Kitabul 'Ibadah Al-Kamil. Ia meriwayatkan pula melalui Abu Hurairah, tetapi riwayat ini berpredikat garib, lalu dinukil oleh Muhammad ibnu Umar Ar-Razi di dalam kitab Tafsir-nya dari Ibnu Sirin; dalam suatu riwayatnya ia mengatakan bahwa pendapat ini adalah perkataan Ibrahim An-Nakha'i dan Daud ibnu Ali Al-Ashbahani Azh-Zhahiri.
Al-Qurthubi meriwayatkan dari Abu Bakar ibnu Arabi, dari sejumlah ulama, dari Imam Malik, bahwa si pembaca mengucapkan ta'awwudz sesudah surat Al-Fatihah. Akan tetapi, Ibnul Arabi sendiri menilainya garib (aneh).
Menurut pendapat ketiga, ta'awwudz dibaca pada permulaan bacaan Al-Qur'an dan pungkasannya, karena menggabungkan kedua dalil. Demikianlah yang dinukil oleh Ar-Razi.
Akan tetapi, menurut pendapat yang terkenal dan dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bacaan ta'awwudz hanya dilakukan sebelum bacaan Al-Qur'an, untuk menolak godaan yang mengganggu bacaan. Menurut mereka, makna ayat berikut:
Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (An-Nahl: 98)
ialah "apabila kamu hendak membaca Al-Qur'an". Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, yaitu:
Apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tangan kalian. (Al-Maaidah: 6)
Makna yang dimaksud ialah "bilamana kamu hendak mengerjakan salat". Pengertian ini berdasarkan hadis yang menerangkan tentangnya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (23).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Ta'awwudz
Segolongan ulama ahli qurra dan lain-lainnya mengatakan bahwa bacaan ta'awwudz dilakukan sesudah membaca Al-Qur'an. Mereka mengatakan demikian berdasarkan makna lahiriah ayat, untuk menolak rasa 'ujub sesudah melakukan ibadah. Orang yang berpendapat demikian antara lain ialah Hamzah, berdasarkan apa yang telah ia nukil dari Ibnu Falufa dan Abu Hatim As-Sijistani. Hal ini diriwayatkan oleh Abul Qasim Yusuf ibnu Ali ibnu Junadah Al-Hudzali Al-Magribi di dalam Kitabul 'Ibadah Al-Kamil. Ia meriwayatkan pula melalui Abu Hurairah, tetapi riwayat ini berpredikat garib, lalu dinukil oleh Muhammad ibnu Umar Ar-Razi di dalam kitab Tafsir-nya dari Ibnu Sirin; dalam suatu riwayatnya ia mengatakan bahwa pendapat ini adalah perkataan Ibrahim An-Nakha'i dan Daud ibnu Ali Al-Ashbahani Azh-Zhahiri.
Al-Qurthubi meriwayatkan dari Abu Bakar ibnu Arabi, dari sejumlah ulama, dari Imam Malik, bahwa si pembaca mengucapkan ta'awwudz sesudah surat Al-Fatihah. Akan tetapi, Ibnul Arabi sendiri menilainya garib (aneh).
Menurut pendapat ketiga, ta'awwudz dibaca pada permulaan bacaan Al-Qur'an dan pungkasannya, karena menggabungkan kedua dalil. Demikianlah yang dinukil oleh Ar-Razi.
Akan tetapi, menurut pendapat yang terkenal dan dijadikan pegangan oleh jumhur ulama, bacaan ta'awwudz hanya dilakukan sebelum bacaan Al-Qur'an, untuk menolak godaan yang mengganggu bacaan. Menurut mereka, makna ayat berikut:
Apabila kamu membaca Al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. (An-Nahl: 98)
ialah "apabila kamu hendak membaca Al-Qur'an". Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, yaitu:
Apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tangan kalian. (Al-Maaidah: 6)
Makna yang dimaksud ialah "bilamana kamu hendak mengerjakan salat". Pengertian ini berdasarkan hadis yang menerangkan tentangnya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Subscribe to:
Comments (Atom)