Kesurupan
Bagaimana setan masuk manusia?
Setan itu berkata, "Aku benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untukku). Aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak) lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya." Barangsiapa yang menjadikan setan pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (QS. An-Nisa': 118-119)
Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka yang bersyukur." (QS. Al-A'raaf: 16-17)
Iblis berkata, "Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya." (QS. Al-Hijr: 39)
Pernyataan iblis pada ayat-ayat di atas jelas terlihat sebagai program yang diperjuangkannya dengan menggunakan berbagai cara, dan tidak mengenal lelah selama belum mencapai sasaran. Dengan tegas dia ungkapkan pernyataannya dengan menggunakan kata-kata yang diperkuat, yaitu menggunakan lam ibtida dan nun taukid yaitu huruf yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan. Mari kita perhatikan kata-katanya:
لأتخذنّ, لأضلنّ, لأمنينّ, لاَمرنّ, لأقعدنّ, لاَتينّ, لأزيننّ, لأغوينّ
Semua kata kerja yang dikatakannya didahului dengan huruf lam yang mengandung makna sungguh dan ditambah dengan nun yang benar-benar.
Setan selalu memantau kehidupan manusia dan mencari kesempatan untuk menggodanya agar dapat diajak untuk masuk ke dalam golongannya. Mengutip ungkapan Ibnul Qayyim, Wahid (4) menerangkan: Ada enam langkah yang ditempuh setan dalam menggoda manusia yaitu:
1. Mengajak kepada kekufuran dan kemusyrikan.
2. Melakukan bid'ah.
3. Melakukan dosa besar.
4. Melakukan dosa kecil.
5. Membuat sibuk melakukan yang mubah.
6. Membuat sibuk dengan melakukan yang kurang utama.
===
(4) Wahid 'Abdus Salaam Bali, Wiqayatul Insan Minal jin wasy syaithan, maktabah ash-Shahabah, Jeddah 1992:170.
===
Maraji'/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung - Indonesia, Cetakan Februari 2004 M.
===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT