4. Kitab Wudhu'
5. Bab: Berlaku Ringan dalam Wudhu
92. Dari Ibnu 'Abbas (ra-dhiyallaahu 'anhuma), ia berkata: Aku menginap di rumah bibiku Maimunah [binti al-Harits, isteri Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam 1/38] pada suatu malam, [saat itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bagian gilirannya. Setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat 'Isya, beliau kembali ke rumahnya lalu shalat empat raka'at]. [Aku berkata, "Aku akan melihat shalatnya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, 5/175] [Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam berbicara sebentar dengan isterinya, lalu isterinya memberikan bantal kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam], [selanjutnya beliau bersiap-siap hendak tidur 5/174], [maka aku berbaring di atas bantal, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pun berbaring, sementara isterinya di dalam kamarnya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidur hingga pertengahan malam atau hampir pertengahan malam atau beberapa saat setelah pertengahan malam 2/58]. Malam itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bangun (dalam riwayat lain: Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terjaga, beliau duduk dan mengusap wajahnya dengan tangannya, [kemudian memandang ke langit], lalu beliau membaca ayat-ayat terakhir surat Aali 'Imraan, (dalam riwayat lain: beliau membaca ayat, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." {QS. Aali 'Imraan (3): 190}, kemudian beliau menyiapkan kebutuhannya, beliau membasuh wajah dan kedua tangannya, kemudian tidur].
Pada malam itu Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bangun, lalu berwudhu ringan dari tempat air yang digantungkan -ungkapan ringan ini disebutkan oleh 'Amr, bahkan disedikitkan [sekali 1/208] (dalam riwayat lain: Dengan wudhu di antara dua wudhu, dan tidak banyak 7/148), [beliau bersiwak], [kemudian bersabda, "Apakah anak itu masih tidur?" Atau perkataan sejenis lainnya], dan (dalam riwayat lain: kemudian) beliau berdiri untuk shalat. [Maka aku pun berdiri,] [aku menjinjit kaki karena tidak mau ketahuan kalau aku sedang mengamati beliau, 7/148] lalu aku pun berwudhu seperti cara beliau berwudhu. Kemudian aku berdiri di sebelah kirinya, -atau mungkin Sufyan mengatakan: di sebelah kanannya- [lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya di kepalaku lalu meraih telinga kananku dan memutarnya dengan tangannya] (dalam riwayat lain: beliau memegang pundakku [atau kepalaku] 7/60) kemudian memindahkanku (dalam riwayat lain: beliau meraih kepalaku dari arah belakang 1/77. Dalam riwayat lainnya lagi melalui jalur berbeda disebutkan: Beliau meraih tanganku, atau lenganku. Ia berkata, "Dengan tangannya dari arah belakangnya 1/178) ke sebelah kanannya, kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat sebanyak yang dikehendakinya. (Dalam riwayat lain, "Beliau shalat lima raka'at, kemudian shalat lagi dua raka'at." Dalam riwayat lainnya lagi, "Beliau shalat dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu dua raka'at, lalu witir." Dalam riwayat lain, "Beliau shalat sebelas raka'at.") (Dalam riwayat lain, "Semua shalatnya itu sebanyak tiga belas raka'at.") Kemudian beliau berbaring kembali dan tidur sampai mendengkur, (dalam riwayat lain, "Sampai aku mendengar suara nafasnya.") [Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam kalau tidur memang terdengar suaranya]. Kemudian muadzdzin mendatanginya (dalam riwayat lain: Bilal) lalu adzan untuk shalat, [beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam pun shalat dua raka'at ringan, lalu keluar], lalu beliau berangkat bersamanya untuk shalat. Lalu beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam [Shubuh mengimami orang-orang]. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak berwudhu lagi [dalam do'anya beliau bersabda,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا, وَ فِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا, وَ فِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا, وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا, وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا, وَفَوْقِيْ نُوْرًا, وَتَحْتِيْ نُوْرًا, وَأَمَامِيْ نُوْرًا, وَخَلفِيْ نُوْرًا, وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا.
Allaahummaj'al fii qalbii nuuran, wa fii ba-shari nuuran, wa fii sam'ii nuuran, wa 'an yamiinii nuuran, wa 'an yasaarii nuuran, wa fawqii nuuran, wa tahtii nuuran, wa amaamii nuuran, wa khalfii nuuran, waj'al lii nuuran.
'Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, dan cahaya pada lisanku. Jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan cahaya pada penglihatanku, dan jadikanlah cahaya dari belakangku dan cahaya dari depanku, dan jadikanlah cahaya dari atasku dan cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya'."
Kuraib berkata, "Tujuh yang disebutkan. Aku bertemu dengan seorang laki-laki dari keturunan al-'Abbas, dan dialah yang menceritakan kepadaku tentang itu, dengan menyebutkan: ototku, dagingku, darahku, rambutku, kulitku, dan dua lainnya] Kami {para shahabat} berkata kepada 'Amr, "Sesungguhnya orang-orang itu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kendatipun kedua matanya tidur, tapi hatinya tetap terjaga." Amr berkata, "Aku dengar Ubaid bin Umair (90) berkata, "[Sesungguhnya] mimpinya para Nabi itu adalah wahyu." Kemudian ia membacakan ayat, "Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidurku, bahwa aku menyembelihmu." {QS. Ash-Shaffaat (37): 102}
===
(90) Al-Hafizh berkata: Ubaidillah bin Umair termasuk tokoh tabi'in, ayahnya, yakni Umair bin Qatadah adalah seorang shahabat. Ucapannya "Mimpi para Nabi adalah wahyu" diriwayatkan secara marfu' oleh Imam Muslim, dan di sini akan disebutkan pada kitab ke 97 dari riwayat Syarik dari Anas.
Aku katakan, bahwa hadits Anas disebutkan pada bab 37 dengan lafazh (mata terpejam tapi hatinya terjaga). Dalam lafazhnya tidak ada kalimat (mimpi para Nabi adalah nyata) sebagaimana yang tersirat dari ucapannya. Menurutku, kalimat ini juga tidak ada pada lafazh Mulim, baik yang marfu' maupun yang mauquf, dan yang ada adalah yang diriwayatkan secara mauquf pada Ibnu 'Abbas bin Abi Ashim dalam as-Sunnah nomor 463 yang aku tahqiq dengan sanad hasan berdasarkan syarat Muslim.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT