Kiai Meruqyah jin Berakting: Langkah-langkah Mengobati Kesurupan (5)

Kiai Meruqyah jin Berakting

Langkah-langkah Mengobati Kesurupan

Hindari Rutinitas Meruqyah

Kegiatan seorang dai adalah berdakwah dengan mengikuti cara dan metode yang dicontohkan Rasul dan Salafush Shalih. Tak ada seorang pun shahabat (ra-dhiyallaahu 'anhum) yang berdakwah dengan cara menyibukkan diri sebagai ahli ruqyah walaupun mereka lebih dapat diyakini keikhlasannya dan taqarrubnya kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala. Karena itu, demi terpeliharanya ashalatudda'wah (originalitas dakwah), diharapkan para dai tidak menyibukkan diri dengan kegiatan di luar program walaupun tujuannya untuk dakwah. Bila ruqyah itu memang diperlukan, diharapkan dapat menghindari sentralisasi ruqyah kepada orang-orang tertentu. Sebab boleh jadi, ketika ruqyah diperlukan, orang yang dipandang ahli ruqyah tidak lebih tinggi ketakwaannya pada saat itu dari yang memohonnya. Karena tiada yang dapat mengetahui ketakwaan seseorang selain Allah. Apalagi ketakwaan sangat menentukan keberhasilan ruqyah, sebab ruqyah merupakan amal komunikasi seseorang dengan Allah. Berbeda dengan pengobatan medis, yang dapat berlangsung tanpa ketakwaan.

Maka sangat mungkin orang yang diminta pertolongan (atau yang dipandang ahli ruqyah) meminta bantuan yang lain untuk meruqyah, sementara dia sendiri menghadap kepada Allah di tempat lain sambil berdoa untuk kesembuhan si sakit. Seperti yang pernah dialami (Imam) Ahmad bin Hanbal (rahimahullaah). Pada suatu hari beliau kedatangan seorang anak yang ibunya sedang sakit. Anak tersebut berkata, "Ustadz, aku diutus ibuku untuk mohon bantuan ustadz. Saat ini beliau sedang menderita sakit yang agak parah. Ibuku mohon agar ustadz kiranya sudi mendoakannya supaya lekas sembuh."

Ahmad bin Hanbal berkata, "Aku bukan ahli berdoa."

Kemudian beliau pergi dan masuk kamar. Dengan khusyu beliau berdoa munajat kepada Yang Mahakuasa memohon agar sang ibu segera disembuhkan. Sementara di luar kamar, keluarga Ahmad bin Hanbal datang dan menemukan sang anak sedang menangis terisak-isak. Ketika ditanya mengapa, dia menjawab, "Aku tidak bisa pulang ke rumah karena aku belum mendapat hasil seperti yang dipesan ibuku."

"Apa pesannya?" Tanya istri Ahmad bin Hanbal.

Maka dia pun menjelaskan persoalannya serta bagaimana sikap Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditemui. Namun istri sang Imam mengetahui bahwa suaminya sedang munajat kepada Rabbnya, karenanya dia pun berupaya untuk menenangkan sang anak hingga kembali ke rumah. Di rumah ternyata ibunya menyambut bahagia karena Allah telah memberinya kesembuhan.

Demikianlah cara Salafush Shalih mengobati penyakit ummat. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak henti-hentinya mengobati penyakit ummat hingga jarang sekali beliau kelihatan tidur. Bila seorang ibu susah tidur mengingat penyakit anaknya, maka bisa kita bayangkan keadaan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melihat ummat yang tak terbatas jumlahnya dan banyak dari mereka menderita penyakit syirik, sombong, iri, jahil dan lain sebagainya. Keadaan ini membuat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sering terbangun dan melakukan ibadah hingga kakinya membengkak karena lamanya berdiri, ruku' dan sujud menghadap kepada-Nya seraya memohon kesembuhan bagi ummat yang sedang menderita penyakit jahiliyah ini.

===

Maraji'/ sumber:
Buku: Kiai Meruqyah Jin Berakting, Penulis: K.H. Saiful Islam Mubarak Lc. M.Ag, Editor: Eko Wardhana, Penerbit: PT. Syaamil Cipta Media, Bandung - Indonesia, Cetakan Februari 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary Ibnu Ahmad al-Bantani
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah