Surat Al-Baqarah Ayat 196 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 196 (3)

BARANGSIAPA MENCUKUR RAMBUTNYA KETIKA BERIHRAM MAKA IA WAJIB MEMBAYAR FIDYAH

Firman-Nya, "Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya fidyah, yaitu berpuasa atau bershadaqah atau berkurban." Al-Bukhari meriwayatkan dari 'Abdurrahman bin al-Ashbahani, "Aku pernah mendengar 'Abdullah bin Ma'qil berkata, 'Aku pernah duduk di dekat Ka'b bin 'Ujrah di masjid ini -yakni masjid Kufah- lalu aku menanyakan kepadanya tentang fidyah dari puasa, ia pun menjawab, 'Aku pernah dibawa menghadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kutu bertebaran di wajahku, maka beliau bersabda:

ما كنت أرى أن الجهد قد بلغ بك هذا، أما تجد شاة؟

'Aku tidak menduga bahwa gangguan yang engkau alami sampai seperti ini, apakah engkau memiliki kambing?'

Aku menjawab, 'Tidak.' Kemudian beliau bersabda:

صم ثلاثة أيام أو أطعم ستة مساكين، لكل مسكين نصف صاع من طعام، واحلق رأسك.

'Berpuasalah tiga hari atau berilah makan enam orang miskin, setiap satu orang miskin memperoleh setengah sha' (809) makanan (pokok, -pent.) dan cukurlah rambutmu.'

Maka ayat tersebut ditujukan kepadaku secara khusus, dan kepada kalian secara umum.''" (810)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ka'b bin 'Ujrah, ia berkata, "Aku pernah didatangi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika aku tengah menyalakan api di bawah periuk (kuali), sedangkan kutu bertebaran di wajahku -atau ia mengatakan, 'Di dahiku'-. Maka beliau bertanya, 'Kutu-kutu di kepalamu itukah yang menyakitimu?' 'Ya,' jawabku. Kemudian beliau bersabda:

فاحلقه، وصم ثلاثة أيام، أو أطعم ستة مساكين، أو انسك نسيكة.

'Cukurlah rambutmu dan berpuasalah tiga hari atau berikanlah makan kepada enam orang miskin atau sembelihlah kurban.'

Ayyub mengatakan, 'Aku tidak tahu mana yang didahulukan.'" (811)

Dalam lafazh al-Qur-an disebutkan penjelasan rukhshah (keringanan) hingga disebutkan dari apa yang paling mudah. Allah berfirman, "Maka wajiblah atasnya fidyah, yaitu berpuasa atau bershadaqah atau berkurban."

Adapun perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ka'b bin 'Ujrah ini merupakan petunjuk kepada apa yang lebih utama, yaitu beliau bersabda, "Menyembelih seekor kambing, memberi makan enam orang miskin atau berpuasa selama tiga hari."

Dengan demikian masing-masing sesuai dengan tempatnya, walhamdulillaah.

===

Catatan Kaki:

809. [1 sha' dalam timbangan sekarang sama dengan 3 kg (ukuran yang paling hati-hati). Lihat Taudhiihul Ahkaam (III/355), cet. Maktabah al-Asadi, Makkah Al-Mukarramah, th. 1423 H].

810. Fat-hul Baari (VIII/34). [Al-Bukhari (no. 4517)].

811. Ahmad (IV/241). [(Syaikh) Syu'aib al-Arna-uth memberikan ta'liq (komentar), "Sanadnya shahih berdasarkan syarat periwayatan al-Bukhari dan Muslim." Al-Musnad (XXX/36, no. 18107), cet. Ar-Risalah].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 196 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 196 (2)

APABILA SEORANG YANG BERIHRAM TERKEPUNG (TERHALANG) DI TENGAH PERJALANAN, HENDAKLAH IA MENYEMBELIH HEWAN KURBANNYA, MENCUKUR RAMBUTNYA DAN BERTAHALLUL

Firman Allah, "Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat." Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan pada tahun ke-6 Hijriyah, yakni tahun perjanjian Hudaibiyah. Yaitu ketika kaum musyrikin menghalangi Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) agar tidak sampai ke Baitullah. Ketika itu, Allah Ta'ala menurunkan surat al-Fat-h secara keseluruhan dan memberikan keringanan kepada mereka dengan menyembelih binatang kurban yang mereka bawa, yaitu sebanyak 70 ekor unta, mencukur rambut mereka dan bertahallul. Pada saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam langsung memerintahkan mereka untuk mencukur rambut dan bertahallul, namun mereka tidak mengerjakannya karena menunggu datangnya naskh (penghapusan hukum), sehingga beliau keluar dan mencukur rambutnya, dan setelah itu orang-orang pun melakukannya. Di antara mereka ada yang hanya memendekkannya dan tidak mencukur bersih. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

رحم الله المحلقين. قالوا: والمقصرين يا رسول الله؟ فقال: في الثالثة: والمقصرين.

"Semoga Allah menurunkan rahmat kepada orang-orang yang mencukur bersih rambutnya." Para Sahabat bertanya: "Juga kepada orang-orang yang memendekkannya, ya Rasulullah?" Maka pada ucapan ketiga kalinya beliau bersabda: "Dan juga kepada orang-orang yang memendekkannya." (794)

Mereka menyembelih kurban bersama, setiap satu unta untuk tujuh orang, sedang jumlah mereka adalah 1400 orang. Ketika itu mereka berada di Hudaibiyah, di luar Tanah Haram. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka berada di pinggiran Tanah Haram. Wallaahu a'lam.

Halangan ini lebih umum dari sekedar pengepungan yang dilakukan oleh musuh, termasuk halangan sakit, tersesat, atau halangan semisalnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari al-Hajjaj bin 'Amr al-Anshari, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

من كسر أو وجع أو عرج فقد حل وعليه حجة أخرى.

'Barangsiapa terluka atau pincang, maka ia boleh bertahallul, dan wajib baginya mengerjakan haji pada waktu yang lain.'"

Al-Hajjaj mengatakan, "Lalu aku sampaikan hal itu kepada Ibnu 'Abbas dan Abu Hurairah, maka keduanya berkata: "Beliau benar."

Hadits ini diriwayatkan juga oleh para penyusun empat kitab. (795)

Dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah disebutkan:

من عرج أو كسر أو مرض...

"Barangsiapa yang pincang, terluka atau sakit..." Lalu ia menyebutkan riwayat yang semakna. (796)

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abi Hatim, (797) kemudian ia berkata: "Dan diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Ibnuz Zubair, 'Alqamah, Sa'id bin al-Musayyab, 'Urwah bin az-Zubair, Mujahid, an-Nakha'i, 'Atha' dan Muqatil bin Hayyan, mereka mengatakan: 'Terhalang oleh musuh, sakit atau terluka.'" (798)

Ats-Tsauri mengatakan: "Yaitu terhalang oleh segala sesuatu yang menganggunya." (799)

Diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menemui Dhaba'ah binti az-Zubair bin 'Abdil Muththalib, lalu ia berkata, "Ya Rasulullah, aku ingin menunaikan ibadah haji, sedang aku dalam keadaan sakit." Maka beliau pun bersabda:

حجي واشترطي أن محلي حيث حبستني.

"Tunaikanlah haji dan syaratkanlah bahwa tempat tahallulku berada di tempat aku tertahan." (800)

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma. (801)

Dengan demikian, penetapan syarat dalam haji dibenarkan berdasarkan hadits ini.

Dan firman Allah Ta'ala, "Maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat," Imam Malik meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib (radhiyallahu 'anhu) tentang firman-Nya ini, ia mengatakan: "Yaitu kambing." (802)

Ibnu 'Abbas mengatakan, "Al-hadyu termasuk delapan pasangan, yaitu unta, sapi, biri-biri, dan kambing." (803)

'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas tentang firman Allah, "Maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat," ia mengatakan, "Sesuai dengan apa yang mudah baginya." (804)

Al-'Aufi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan: "Jika mampu, maka hendaklah menyembelih unta, jika tidak mampu maka hendaklah menyembelih sapi, dan jika tidak mampu, maka hendaklah menyembelih kambing." (805)

Hisyam bin 'Urwah meriwayatkan dari ayahnya tentang firman Allah, "Maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat," ia mengatakan, "Yaitu, antara harga yang murah dan mahal (berharga sedang)." (806)

Yang menjadi dalil atas keshahihan pendapat jumhur ulama tentang dibolehkannya menyembelih kambing ketika berada dalam keadaan terkepung (terhalang), bahwa Allah telah mewajibkan penyembelihan binatang yang mudah didapat. Artinya, binatang kurban yang mudah didapat, apa pun jenisnya. Dan yang dimaksud dengan al-hadyu adalah unta, sapi dan kambing. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, seorang ulama yang berpengetahuan luas, penafsir al-Qur-an dan anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan dalam ash-Shahiihain tercantum sebuah hadits dari 'Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Suatu kali Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkurban dengan seekor kambing." (807)

Firman Allah Ta'ala, "Dan jangan kamu mencukur bersih rambutmu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya," di'athafkan kepada firman-Nya, "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah," bukan di'athafkan kepada firman-Nya, "Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat." Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullah, karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabatnya pada tahun Hudaibiyah -ketika mereka terkepung (terhalang) oleh orang-orang kafir Quraisy sehingga tidak dapat memasuki Tanah Haram- mereka mencukur rambut dan menyembelih hewan kurban mereka di luar Tanah Haram. Adapun di saat yang aman dan bisa sampai ke Tanah Haram maka mereka tidak dibolehkan mencukur rambut, "Sehingga kurban sampai ke tempat penyembelihannya." Maka selesailah pelaksanaan manasik dari semua amalan haji dan umrah jika ia mengerjakan haji Qiran. Atau mengerjakan salah satu dari keduanya jika ia mengerjakan haji Ifrad, atau Tamattu'. Sebagaimana ditegaskan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Hafshah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang bertahallul dari umrah, sementara engkau sendiri tidak bertahallul dari umrahmu?" Maka beliau menjawab,

إني لبدت رأسي وقلدت هديي، فلا أحل حتى أنحر.

"Sesungguhnya aku telah membiarkan rambutku kusut dan telah mengikat binatang kurbanku sehingga aku tidak akan bertahallul sebelum menyembelihnya." (808)

===

Catatan Kaki:

794. Muslim (II/946). [Al-Bukhari (no. 1727), Muslim (no. 1301). Lafazh di atas berdasarkan riwayat Muslim].

795. Tuhfatul Ahwadzi (IV/8), an-Nasa-i (V/198). [Shahih: At-Tirmidzi (no. 940), an-Nasa-i (no. 2860). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 6521)].

796. Abu Dawud (II/434) dan Ibnu Majah (II/1028). [Shahih: Abu Dawud (no. 1863), Ibnu Majah (no. 3078). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1640)].

797. Ibnu Abi Hatim (I/444), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

798. Ibnu Abi Hatim (I/445), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

799. Ibnu Abi Hatim (I/445), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

800. Fat-hul Baari (IX/34). [Al-Bukhari (no. 5089), Muslim (no. 1207)].

801. Muslim (II/868). [(no. 1208)].

802. Al-Muwaththa'  (I/385). [Muwaththa' Malik Riwayah Muhammad bin al-Hasan (no. 457), cet. Darul Qalam, Damaskus, th. 1413 H. Tahqiq: DR. Taqiyyudin an-Nadwi].

803. Ibnu Abi Hatim (I/450), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

804. Ibnu Abi Hatim (I/451), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

805. Ath-Thabari (IV/30).

806. Ibnu Abi Hatim (I/452), tahqiq DR. Al-Ghamidi.

807. Fat-hul Baari (III/639) dan Muslim (II/958). [Al-Bukhari (no. 1701), Muslim (no. 1321)].

808. Fat-hul Baari (III/493) dan Muslim (II/902). [Al-Bukhari (no. 1566), Muslim (no. 1229)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 196 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 196

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit), maka (sembelihlah) kurban yang mudah didapat dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya fidyah, yaitu berpuasa atau bershadaqah atau berkurban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib atasmu berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Makkah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (QS. 2:196)

PERINTAH MENYEMPURNAKAN HAJI DAN UMRAH

Setelah Allah menyebutkan hukum puasa, dilanjutkan dengan penyebutan jihad, lalu Dia mulai menjelaskan manasik. Dia memerintahkan untuk menyempurnakan ibadah haji dan umrah. Yang nampak dari konteks ayat ini adalah menyempurnakan amalan-amalan haji dan umrah setelah memulai pelaksanaannya. Maka setelah itu Allah berfirman, "Jika kamu terkepung." Artinya, jika kalian terhalang untuk sampai ke Baitullah dan terganggu dalam menyempurnakan ibadah haji dan umrah.

Oleh karena itu, para ulama sepakat bahwa memulai ibadah haji dan umrah mengharuskan penyempurnaan keduanya.

Mak-hul berkata: "(Cara) menyempurnakan haji dan umrah adalah dengan memulai keduanya dari Miqat." (788)

'Abdurrazzaq meriwayatkan, Ma'mar telah menyampaikan kepada kami dari az-Zuhri, ia berkata: "Telah sampai riwayat kepada kami bahwa 'Umar bin al-Khaththab (radhiyallahu 'anhu) berkata tentang firman Allah Ta'ala: 'Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah,' ia mengatakan, 'Termasuj kesempurnaan haji dan umrah adalah mengerjakan masing-masing dari keduanya secara tersendiri (terpisah), yaitu engkau mengerjakan umrah di luar bulan haji. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman, 'Haji itu dilakukan pada bulan-bulan yang telah dimaklumi.'" (789)

"Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah," as-Suddi mengatakan: "Yaitu, tegakkanlah haji dan umrah." (790)

Qatadah meriwayatkan dari Zurarah, dari Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma) bahwa ia berkata: "Haji adalah wuquf di 'Arafah dan umrah adalah thawaf di Ka'bah." (791)

Demikian pula diriwayatkan oleh al-A'masy dari Ibrahim, dari 'Alqamah tentang firman-Nya, "Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah," ia mengatakan: "Dalam qira-ah 'Abdullah dibaca dengan: 

وأتموا الحج والعمرة إلى البيت

(Dan sempurnakanlah haji dan umrah ke Baitullah al-Haram). Dan umrah itu tidak lain adalah thawaf di Baitullah."

Ibrahim berkata: "Aku menyebutkan hal itu kepada Sa'id bin Jubair, ia berkata: 'Begitulah yang dikatakan oleh Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma.'" (792)

Sufyan meriwayatkan dari al-A'masy, dari Ibrahim, dari 'Alqamah bahwasanya ia membaca dengan:

وأقيموا الحج والعمرة إلى البيت

(Tegakkanlah haji dan umrah sampai ke Baitullah)." (793)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh ats-Tsauri dari Ibrahim, dari Manshur dari Ibrahim, bahwa beliau membaca: "Tegakkanlah haji dan umrah sampai ke Baitullah."

===

Catatan Kaki:

788. Ibnu Abi Hatim (I/437), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

789. Ibnu Abi Hatim (I/437), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

790. Ath-Thabari (IV/12).

791. Ibnu Abi Hatim (I/439), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

792. Ath-Thabari (IV/7).

793. Ath-Thabari (IV/7).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 195 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 195

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. 2:195)

PERINTAH BERINFAK DI JALAN ALLAH

Firman Allah, "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, ia mengatakan, "Ayat tersebut turun berkenaan dengan masalah infak." (785)

Hal serupa diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ia mengatakan: "Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, 'Atha', adh-Dhahhak, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan Muqatil bin Hayyan."

Al-Laits bin Sa'ad meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, dari Aslam Abu Imran, ia mengatakan, "Seseorang dari kaum Muhajirin di Konstantinopel menyerang barisan musuh hingga mengoyak-ngoyak mereka, sedang di tengah kami ada Abu Ayyub al-Anshari. Ketika beberapa orang mengatakan, 'Orang itu telah mencampakkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan,' Abu Ayyub berkata, 'Kami lebih memahami makna ayat ini. Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan kami. Kami menjadi Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami melakukan beberapa peperangan bersama beliau, dan kami membela beliau.' Ketika Islam telah tersebar dan unggul, kaum Anshar berkumpul untuk mengungkapkan suka cita. Lalu kami mengatakan, 'Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami sebagai Sahabat dan pembela Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) sehingga Islam tersebar luas dan memiliki banyak penganut. Dan kami telah mengutamakan beliau daripada keluarga, harta kekayaan, dan anak-anak. Peperangan pun kini telah berakhir, maka kami kembali kepada keluarga dan anak-anak kami serta menetap bersama mereka, maka turunlah ayat ini kepada kami. 'Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.' Jadi, kebinasaan itu ada pada tindakan kami menetap bersama keluarga dan harta kekayaan, serta meninggalkan jihad.'"

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, 'Abd bin Humaid dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawaih, al-Hafizh Abu Ya'la dalam Musnadnya, Ibnu Hibban dalam Shahiihnya, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. (786) At-Tirmidzi mengatakan, "Hadits ini hasan shahih gharib." Dan al-Hakim mengatakan bahwa hadits ini memenuhi persyaratan al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Dan lafazh Abu Dawud dari Aslam Abu Imran: Kami berada di Konstantinopel, pemimpin penduduk Mesir ketika itu adalah 'Uqbah bin 'Amir dan pemimpin penduduk Syam adalah seseorang, maksudnya adalah Fudhalah bin 'Ubaid. Maka keluarlah satu pasukan besar dari Romawi menuju Madinah. Kami pun berbaris menghadang mereka. Lalu seseorang dari pasukan kaum muslimin menyerbu pasukan Romawi hingga masuk ke tengah-tengah barisan mereka, kemudian ia keluar ke arah kami. Orang-orang berteriak kepadanya, mereka berkata: "Subhaanallaah, ia telah melemparkan dirinya ke dalam kebinasaan." Maka Abu Ayyub berkata: "Wahai manusia, kalian telah keliru dalam menafsirkan ayat ini. Sesungguhnya ayat ini turun kepada kami, kaum Anshar. Ketika Allah memenangkan agama-Nya dan pembelanya pun telah banyak, kami berkata di antara sesama kami: 'Alangkah baiknya kita sekarang mengurus harta-harta kita dan mrmperbaikinya.' Maka Allah pun menurunkan ayat ini.'" (787)

Abu Bakar bin 'Iyasy meriwayatkan dari Abu Ishaq as-Sabi'i, bahwa seseorang berkata kepada al-Bara' bin 'Azib, "Jika aku menyerang musuh sendirian lalu mereka membunuhku, apakah aku telah mencampakkan diriku ke dalam kebinasaan?" Al-Bara' menjawab, "Tidak, karena Allah Ta'ala telah berfirman kepada Rasul-Nya, 'Berperanglah kamu di jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan kewajibanmu sendiri.' (QS. An-Nisaa': 84) Sedangkan ayat ini (al-Baqarah: 195) berkenaan dengan infak."

Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih, juga al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan ia mengatakan: "Hadits ini shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya."

Diriwayatkan juga oleh ats-Tsauri dan Qais bin ar-Rabi' dari Abu Ishaq dari al-Bara'. Kemudian al-Bara' menyebutkan riwayat ini. Dan firman Allah Ta'ala, "Tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajibanmu sendiri." (QS. An-Nisaa': 84) Setelahnya ia mengatakan, "Tetapi kebinasaan itu apabila seseorang melakukan perbuatan dosa, maka ia mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan dan tidak mau bertaubat."

Tentang firman Allah, "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan," 'Atha' meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma), ia mengatakan: "Ayat ini tidak berkaitan dengan peperangan, namun berkaitan dengan infak, yaitu engkai menahan diri dari berinfak di jalan Allah, maka janganlaj melempar dirimu kepada kebinasaan.

Ayat ini mengandung perintah untuk berinfak di jalan Allah dengan segala bentuk dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Terlebih lagi menyerahkan harta untuk berperang menghadapi musuh dan memperkuat kaum muslimin dalam menghadapi mereka serta mengabarkan bahwa meninggalkannya merupakan kebinasaan dan kehancuran, yakni bagi siapa yang membiasakannya dan terus-menerus melakukannya. Kemudian Allah mengiringinya dengan perintah untuk berbuat ihsan, dan ihsan adalah derajat ketaatan yang paling tinggi. Allah berfirman, "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

===

Catatan Kaki:

785. Fat-hul Baari (VIII/33). [Al-Bukhari (no. 4516)].

786. Tuhfatul Ahwadzi (VIII/311), an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra (VI/299), Ibnu Abi Hatim (I/424), Ath-Thabari (III/590), Shahiih Ibni Hibban (VII/105), dan al-Hakim (II/775). [Shahih: At-Tirmidzi (no. 2972). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 1388), dengan lafazh yang sedikit berbeda. Juga dishahihkan oleh al-Hakim (no. 3088)].

787. Abu Dawud (III/27). [Shahih: Abu Dawud (no. 2515). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 2193)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 194 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 194 (2)

Demikian pula setelah memerangi suku Hawazin (70 km sebelah timur Makkah) dalam perang Hunain, musuh yang lari tunggang langgang bertahan di benteng kota Tha-if, lalu beliau mengalihkan pasukannya ke sana dan mengepungnya. Kemudian masuklah bulan Dzulqa'dah sementara beliau masih mengepung benteng Tha-if dengan manjaniq (alat pelontar), beliau terus mengepungnya hingga genap 40 hari, (783) sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab ash-Shahiihain dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Ketika melihat banyaknya para Sahabat yang gugur, maka beliau berpaling darinya. Sementara benteng belum bisa dikuasai. Kemudian beliau kembali ke Makkah dan melaksanakan umrah dari Ji'ranah. Di sanalah beliau membagi-bagikan ghanimah (harta rampasan perang) Hunain. Umrah beliau ini juga dilakukan pada bulan Dzulqa'dah tahun ke-8 Hijriyah. Shalawat dan salam senantiasa terlimpah atas beliau. (784)

Dan firman-Nya, "Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerangmu, maka seranglah ia, sebanding dengan serangannya terhadapmu." Allah memerintahkan untuk berlaku adil, bahkan terhadap kaum musyrikin sekalipun. Sebagaimana Dia telah berfirman, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu." (QS. An-Nahl: 126)

Firman-Nya, "Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa." Allah Ta'ala memerintahkan kepada mereka agar senantiasa berbuat taat dan bertakwa kepada-Nya sekaligus memberitahukan bahwa Dia selalu bersama orang-orang yang bertakwa dengan senantiasa menolong dan menguatkan mereka di dunia dan akhirat.

===

Catatan Kaki:

783. Beliau menggenapkan 40 hari dari hari peperangan Hunain sampai hari beliau kembali dari Ji'ranah ke Madinah.

784. Fat-hul Baari (III/701) dan Muslim (II/911). [Al-Bukhari (no. 1780), Muslim (no. 1253)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Ringkasan Tata Cara Sholat 'Ied | Fikih Sholat Hari Raya

Fikih Sholat Hari Raya

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Ringkasan Tata Cara Sholat 'Ied

1. Berniat dalam hati tanpa melafazkannya.

2. Takbiratul Ihram seraya mengangkat tangan.

3. Membaca doa istiftah.

4. Bertakbir 7 kali, disebut takbir tambahan (zawaaid).

5. Membaca Al-Fatihah dan surat lain, disunnahkan membaca pada raka'at pertama surat Qof dan raka'at kedua surat Al-Qomar, atau raka'at pertama surat Al-A'la dan raka'at kedua surat Al-Ghaasyiah.

6. Kemudian rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud dan sujud yang kedua, sama seperti sholat yang lainnya, dan hendaklah tetap thuma'ninah dalam melakukannya.

7. Bangkit ke raka'at kedua seraya bertakbir, dinamakan takbir perpindahan (intiqool).

8. Bertakbir 5 kali, selain takbir intiqool.

9. Membaca Al-Fatihah dan surat lain.

10. Kemudian rukuk, i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud yang kedua dan duduk tasyahhud akhir sampai salam, sama seperti sholat yang lainnya, dan thuma'ninah hendaklah tetap dijaga.

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Fikih Sholat Hari Raya, Penulis: Ustadz Sofyan Cholid bin Idham Ruray hafizhahullah, Penerbit: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam,30 Ramadhan 1441 H/ 23 Mei 2020 M.

Daftar Isi | Fikih Sholat Hari Raya

Fikih Sholat Hari Raya

Daftar Isi

Ringkasan Tata Cara Sholat 'Ied

Ringkasan Beberapa Sunnah Sebelum dan Sesudah Sholat 'Ied

Beberapa Masalah Fikih Sholat Hari Raya

1. Hukum Sholat 'Ied

2. Hukum Sholat 'Ied bagi Musafir

3. Waktu Sholat 'Ied

4. Tempat Sholat 'Ied di Lapangan dan Imam Langsung Memulai Sholat saat Datang, dan Makmum Hendaklah Datang Sebelum Imam

5. Hukum Sholat 'Ied di Rumah

6. Jumlah Minimal Jama'ah Sholat 'Ied

7. Adakah Adzan dan Iqomah atau Ucapan Ash-Sholaatu Jaami'ah?

8. Adakah Sholat Sunnah Sebelum dan Sesudah Sholat 'Ied?

9. Tentang Takbir Tambahan dan Mengangkat Tangan Padanya

10. Adakah Bacaan Diantara Takbir?

11. Masbuq Sholat 'Ied

12. Qodho' Sholat 'Ied

13. Berapa Raka'at Sholat 'Ied?

14. Surat yang Dianjurkan Dibaca

15. Adakah Doa Khusus Sholat 'Ied?

Beberapa Masalah Fikih Khutbah Sholat 'Ied

1. Hukum Khutbah 'Ied dan Menghadirinya

2. Khutbah Dilakukan Setelah Sholat

3. Satu atau Dua Khutbah?

4. Apakah dengan Mimbar?

5. Takbir Ketika Khutbah

6. Tema Khutbah

7. Nasihat untuk Wanita

8. Hukum Khutbah Jika Sholat di Rumah

9. Haruskah Khatib Menjadi Imam dalam Sholat 'Ied dan Jum'at?

10. Berdiri Ketika Khutbah

===

Maraji'/ Sumber:
Buku: Fikih Sholat Hari Raya, Penulis: Ustadz Sofyan Cholid bin Idham Ruray hafizhahullah, Penerbit: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam,30 Ramadhan 1441 H/ 23 Mei 2020 M.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ:

اِجْعَلْ مَا يَأْتِي كَمَا ذُكِرَ !
أَبُوْ بَكْرٍ - أَبُوْ دَاوُدَ - أَخُوْ عَلِيٍّ - أَبُوْ هُرَيْرَةَ
ذُوْ عِلْمٍ - ذُوْ فَضْلٍ - أَبُوْ سَعِيْدٍ - أَبُوْ طَالِبٍ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الأسماء الخمسة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

الأسماء الخمسة

أَبُوْكَ - أَخُوْكَ - حَمُوْكَ - فُوْكَ - ذُوْ مَالٍ
أَبَاكَ - أَخَاكَ - حَمَاكَ - فَاكَ - ذَا مَالٍ
أَبِيْكَ - أَخِيْكَ - حَمِيْكَ - فِيْكَ - ذِىْ مَالٍ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ:

اِجْعَلْ جَمْعًا مُنَاسِبًا مِنَ الْكَلِمَاتِ الْأَتِيَةِ:
مُحْسِنَةٌ - مَقْعَدٌ - بَابٌ - نَاصِرٌ - صَائِمٌ - صَائِمَةٌ
مُجْتَهِدٌ - مُجْتَهِدَةٌ - كُرْسِيٌّ - قَلَمٌ - فَاسِقٌ - نَهْرٌ
نَبِيٌّ - صَادِقَةٌ - مُشْرِكَةٌ - فَائِزٌ - جَنَّةٌ - نُوْرٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

خلاصة أقسام الإسم | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

خلاصة أقسام الإسم

مفرد » مثنى » جمع مذكر سالم
كَافِرٌ » كَافِرَانِ / كَافِرَيْنِ » كَافِرُوْنَ / كَافِرِيْنَ
مُنَافِقٌ » مُنَافِقَانِ / مُنَافِقَيْنِ » مُنَافِقُوْنَ / مُنَافِقِيْنَ

مفرد » مثنى » جمع مؤنث سالم
صَالِحَةٌ » صَالِحَتَانِ / صَالِحَتَيْنِ » صَالِحَاتٌ
صَابِرَةٌ » صَابِرَتَانِ / صَابِرَتَيْنِ » صَابِرَاتٌ

مفرد » مثنى » جمع تكسير
دَفْتَرٌ » دَفْتَرَانِ / دَفْتَرَيْنِ » دَفَاتِرُ
وَلَدٌ » وَلَدَانِ / وَلَدَيْنِ » أَوْلَادٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

جمع التكسير | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

جمع التكسير

جَمْعُ التَّكْسِيْرِ هُوَ مَا تَغَيَّرَ عَنْ صُوْرَةِ مُفْرَدِهِ، مِثْلُ:
وَلَدٌ » أَوْلَادٌ، بَيْتٌ » بُيُوْتٌ، رَجُلٌ » رِجَالٌ
دَفْتَرٌ » دَفَاتِرُ، رَسُوْلٌ » رُسُلٌ، مَسْجِدٌ » مَسَاجِدُ

وَيُعْرَفُ ذَلِكَ بِالرُّجُوْعِ إِلَى الْقَوَامِيْسِ وَكَثْرَةِ الْإِطِّلَاعِ وَالْقِرَاءَةِ. اَلْأَمْثِلَةُ:
رَأْسٌ » رُؤُوْسٌ، رِجْلٌ » أَرْجُلٌ، عَيْنٌ » أَعْيُنٌ
بَطْنٌ » بُطُوْنٌ، كِتَابٌ » كُتُبٌ، أَسَدٌ » أُسُدٌ
يَوْمٌ » أَيَّامٌ، شَهْرٌ » أَشْهُرٌ، وَجْهٌ » أَوْجُهٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ:

اِجْعَلْ مُؤَنَّثًا سَالِمًا:
سَيِّئَةٌ - جَنَّةٌ - مَخْلُوْقَةٌ - مُشْرِكَةٌ
مُؤْمِنَةٌ - ظَالِمَةٌ - عَالِمَةٌ - صَابِرَةٌ

اِجْعَلْ مُفْرَدًا:
مُجْتَهِدَاتٌ - حَيَوَانَاتٌ - قَانِتَاتٌ - حَافِظَاتٌ
صَالِحَاتٌ - كَاسِيَاتٌ - عَارِيَاتٌ - صَائِمَاتٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

جمع المؤنث السالم | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

جمع المؤنث السالم

جَمْعُ الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ هُوَ مَا دَلَّ عَلَى الْجَمْعِيَّةِ بِزِيَادَةِ أَلِفٍ وَتَاءٍ فِي أَخِرِهِ، مِثْلُ:
صَالِحَةٌ » صَالِحَاتٌ
كَافِرَةٌ » كَافِرَاتٌ
حَسَنَةٌ » حَسَنَاتٌ
مُبَلِّغَةٌ » مُبَلِّغَاتٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ:

اِجْعَلْ جَمْعًا مُذَكَّرًا سَالِمًا مِمَّا يَأْتِي !
صَابِرٌ - مُحْسِنٌ - عَالِمٌ - صَالِحٌ - مُفْسِدٌ
جَالِسٌ - صَادِقٌ - مُؤْمِنٌ - مُفْلِحٌ - شَاكِرٌ

اِجْعَلْ مُفْرَدًا !
مُشْرِكُوْنَ - مَنَافِقُوْنَ - فَاسِقُوْنَ - كَاذِبُوْنَ
رَاحِمُوْنَ - ضَارِبُوْنَ - شَارِبُوْنَ - قَاعِدُوْنَ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

جمع المذكر السالم | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

جمع المذكر السالم

جَمْعُ الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ هُوَ مَا دَلَّ عَلَى الْجَمْعِيَّةِ بِزِيَادَةِ وَاوٍ وَنُوْنٍ أَوْ يَاءٍ وَنُوْنٍ فِي أَخِرِهِ، مِثْلُ:
ُمُسْلِمٌ » مُسْلِمُوْنَ / مُسْلِمِيْنَ
كَافِرٌ » كَافِرُوْنَ / كَافِرِيْنَ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ:

اِجْعَلْ مُثَنًّى: رَسُوْلٌ - نَبِيٌّ - مُسْلِمٌ - كَافِرٌ - مَدْرَسَةٌ - سَبُّوْرَةٌ - عُثْمَانُ - سَلْمَانُ - عِلْمٌ - عَالِمٌ

اِجْعَلْ مُفْرَدًا: يَدَيْنِ - رِجْلَانِ - رَجُلَيْنِ - بَابَيْنِ - جَنَّتَانِ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

المثنى | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

المثنى

اَلْمُثَنَّى هُوَ مَا دَلَّ عَلَى اِثْنَيْنِ بِزِيَادَةِ أَلِفٍ وَنُوْنٍ أَوْ يَاءٍ وَنُوْنٍ فِي أَخِرِهِ، مِثْلُ:
بَيْتٌ » بَيْتَانِ / بَيْتَيْنِ
وَلَدٌ » وَلَدَانِ / وَلَدَيْنِ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الإسم المفرد | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

الإسم المفرد

اَلْإِسْمُ الْمُفْرَدُ هُوَ مَا دَلَّ عَلَى وَاحِدٍ، مِثْلُ: بَيْتٌ - دَفْتَرٌ - وَلَدٌ - رَجُلٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

في الأسماء | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

في الأسماء

أَقْسَامُ الْإِسْمِ:
١. مُفْرَدٌ
٢. مُثَنًّى
٣. جَمْعٌ:
» الْمُذَكَّرِ السَّالِمُ
» الْمُؤَنَّثِ السَّالِمُ
» التَّكْسِيْرِ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

التّمرين | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

اَلتَّمْرِيْنُ: مَيِّزِ الْأَسْمَاءَ وَالْأَفْعَالَ وَالْحُرُوْفَ فِيْمَا يَلِي!

١. إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ
٢. اِجْتَهَدَ مُحَمَّدٌ وَحَسَنٌ فِي فَهْمِ الدَّرْسِ
٣. إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ
٤. إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْئٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

أنواع الجملة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

أنواع الجملة

١. جُمْلَةٌ إِسْمِيَّةٌ
مَا كَانَتْ مَسْبُوْقَةً بِإِسْمٍ
مِثْلُ: أَحْمَدُ مَرِيْضٌ
اَلْوَلَدُ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ

٢. جُمْلَةٌ فِعْلِيَّةٌ
مَا كَانَتْ مَسْبُوْقَةً بِفِعْلٍ
مِثْلُ: مَرِضَ عَلِيٌّ
يَقْرَأُ الْوَلَدُ الْقُرْآنَ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الحرف | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

٣. الحرف

اَلْحَرْفُ هُوَ كَلِمَةٌ لَا يُفْهَمُ مَعْنَاهَا إِلَّا مَعَ غَيْرِهَا، مِثْلُ: مِنْ - فِي - ثُمَّ - فَـ - إِذَا - أَوْ - حَتَّى

وَلَيْسَ لِلْحَرْفِ عَلَامَاتٌ خَاصَّةٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الفعل | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

٢. الفعل

اَلْفِعْلُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى وَاقْتُرِنَتْ بِزَمَنٍ، مِثْلُ: كَتَبَ - قَرَأَ - يَكْتُبُ - يَقْرَأُ - أَكْتُبُ - أَقْرَأُ

عَلَامَاتُ الْفِعْلِ هِيَ:
١. قَدْ، مِثْلُ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ
٢. اَلسِّيْنُ، مِثْلُ: سَيَذْهَبُ - سَيَرْجِعُ
٣. سَوْفَ، مِثْلُ: سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
٤. تَاءُ التَّأْنِيْثِ السَّاكِنَةُ، مِثْلُ: قَالَتْ - ذَهَبَتْ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الإسم | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذ أ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

١. الإسم

اَلْإِسْمُ هُوَ كَلِمَةٌ دَلَّتْ عَلَى مَعْنًى وَلَمْ تُقْتَرَنْ بِزَمَنٍ، مِثْلُ: مُحَمَّدٌ - أُسْتَاذٌ - تِلْمِيْذٌ - خَيْلٌ - كَلْبٌ - قِطٌّ - دَفْتَرٌ - مِرْسَمٌ - طَبَاشِيْرٌ - شَمْسٌ - قَمَرٌ - أَشْجَارٌ

عَلَامَاتُ الْإِسْمِ هِيَ:
١. اَلْخَفْضُ، مِثْلُ: بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
٢. اَلتَّنْوِيْنُ، مِثْلُ: رَجُلٌ - اِمْرَأَةٌ - وَلَدٌ - بِنْتٌ
٣. اَلْأَلِفُ وَاللَّامُ، مِثْلُ: اَلْأُسْتَاذُ - اَلْأُسْتَاذَةُ - اَلطَّالِبُ
٤. حُرُوْفُ الْجَرِّ، مِثْلُ: مِنْ =» مِنَ اللّٰهِ، فِي =» فِي الْبَيْتِ
إِلَى =» إِلَى الْمَسْجِدِ، عَلَى =» عَلَى الْكُرْسِيِّ

وَحُرُوْفُ الْجَرِّ هِيَ:
١. مِنْ : مِنَ النَّاسِ
٢. إِلَى : إِلَى السُّوْقِ
٣. عَنْ : عَنِ النَّبِيِّ
٤. عَلَى : عَلَى الْمَكْتَبِ
٥. فِي : فِي الْبَيْتِ
٦. رُبَّ : رُبَّ رَجُلٍ كَرِيْمٍ
٧. اَلْبَاءُ : بِالْقَلَمِ - بِالْمِرْسَمِ
٨. اَلْكَافُ : كَالْأَسَدِ - كَالْقَمَرِ
٩. اَللَّامُ : لِلَّهِ - لِرَسُوْلِ اللّٰهِ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

أنواع الكلمة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

أنواع الكلمة
إِسْمٌ
فِعْلٌ
حَرْفٌ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

أقسام الحرف | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

أقسام الحرف:

حَرْفٌ هِجَائِيٌّ / مَبَانِيٌّ
مثل: أ ب ت ث

حَرْفٌ مَعَانِيٌّ
مثل: و - أو - ثمّ - من

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الجملة المفيدة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

الجملة المفيدة

اَلْجُمْلَةُ الْمُفِيْدَةُ هِيَ اَلتَّرْكِيْبُ الَّذِى يُفِيْدُ فَائِدَةً تَامَّةً وَتُسَمَّى أَيْضًا كَلَامًا، مِثْلُ: هُوَ يَجْلِسُ عَلَى الْكُرْسِيِّ
أَنَا أَكْتُبُ فِي الدَّفْتَرِ
عَلِيٌّ مَرِيْضٌ - أَحْمَدُ أُسْتَاذٌ - هُوَ غَنِيٌّ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الكلمة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

الكلمة

اَلْكَلِمَةُ هِيَ لَفْظٌ لَهُ مَعْنًى، مِثْلُ: مَدْرَسَةٌ - دَفْتَرٌ - مِرسَمٌ
يَكْتُبُ - يَقْرَأُ - يَجْلِسُ
عَلَى - بِـ - عَنْ - مِنْ - فِي

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

الحرف | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

الحرف

اَلْحَرْفُ هُوَ مَا يَتَرَكَّبُ مِنْهُ الكَلِمَةُ، مِثْلُ: بَ يَ تَ نَ حَ

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

فهرس | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

فهرس

المقدمة
فهرس الكتاب

الحرف
الكلمة
الجملة المفيدة
أقسام الحرف
أنواع الكلمة
الإسم
الفعل
الحرف
انواع الجملة

في الأسماء
الإسم المفرد
المثنى
جمع المذكر السالم
جمع المؤنث السالم
جمع التكثير
الأسماء الخمسة
الإسم المقصور
الإسم المنقوص
الإسم الذي لا ينصرف
الإعراب والبناء
الأسماء المعربات وعلامات إعرابها
الأسماء المبنيات
علامات بناء الإسم
تفاصيل الأسماء التى لا تنصرف
شروط الممنوع من الصرف

في الأفعال
الفعل الماضي
الفعل المضارع
فعل الأمر
إعراب الأفعال
الأفعال المعربات وعلامات إعرابها
الأدوات الناصبة
الأدوات الجازمة
الأفعال المبنيات
الإسم (ظاهر وضمير)
المذكر والمؤنث

مرفوعات الأسماء
١. الفاعل
٢. نائب الفاعل
٣. المبتداء
٤. الخبر
٥. كان وأخواتها
٦. إنّ وأخواتها
٧. التوابع
٨. خلاصة الأسماء المرفوعات
النكرة والمعرفة
أنواع المعرفة

منصوبات الأسماء
١. المفعول به
٢. المفعول لأجله
٣. المفعول فيه (ظرف الزمان وظرف المكان)
٤. المفعول المطلق
٥. المفعول معه
٦. الحال
٧. التمييز
٨. المستثنى
٩. خبر كان وأخواتها
١٠. إسم إن وأخواتها
١١. إسم لا
١٢. المنادى
١٣. التوابع
خلاصة الأسماء المنصوبات

مجرورات الأسماء
١. المجرور بحرف الجر
٢. المجرور بالإضافة
٣. المجرور بالتوابع

التوابع
١. النعت أو الصفة
٢. العطف
٣. التوكيد
٤. البدل
خلاصة الأسماء المجرورات والتوابع
التطبيق النحوي في إعراب القرآن

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

المقدمة | الميسّر في علم النحو

الميسّر في علم النحو
تأليف: الأستاذأ. زكريا بن أحمد كرخي
المجلد الأول

المقدمة

الحمد للّه الذى أنزل الكتاب قرآنا عربيا لعلكم تتقون، والذى يسر القرآن للذكر لعلكم تفهمون. والصلاة والسلام على نبينا محمد النبي العربي المبعوث بكتاب مبين.

وبعد،

فإن حاجة المسلم إلى معرفة قواعد اللغة العربية ضرورية جدا إذ بها سبب إلى فهم القرآن والسنة. وقد أمرنا رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم أن نتمسك بهما ونعمل بما فيهما، ولا يمكن أن نفهمهما فهما تاما إلا بعد معرفة قواعد اللغة العربية.

وما زال أكثر المسلمين يعتقدون أن قواعد اللغة العربية على جانب كبير من الصعوبة والتعقيد بحيث يتعذر على أي شخص أن يفهمها ما لم يتخصص في دراستها.

فهذا كتاب "الميسر في علم النحو"، وقد وضعته بعبارة سهلة وأمثلة كثيرة ليسهل فهمه ولا سيما للمبتدئين في دراسة النحو.

واللّه أسأل أن يجعله خالصة لوجهه الكريم وأن ينفعنا به يوم الدين وهو أرحم الراحمين.

غرة شعبان ١٤٣٦هـ

المؤلف

أ. زكريا

===

Maraji'/ sumber:
Kitab: الميسّر في علم النحو, Penulis: A. Zakaria, Editor: Yudi Wildan Rosid, Penerbit: Ibn Azka Press, Jalan Rancabango Kudangsari, Tarogong Kaler, Garut - Indonesia 44151, Tlp. (0262) 541 751, HP. 0813 2340 4808, Email. ibn_azka@yahoo.com, Edisi Revisi: Juni 2019/ Syawwal 1440 H.

Surat Al-Baqarah Ayat 194 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 194

Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash. Oleh sebab itu, barangsiapa yang menyerangmu, maka seranglah ia, sebanding dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:194)

LARANGAN BERPERANG DI BULAN-BULAN HARAM, KECUALI JIKA MUSUH MEMULAINYA

'Ikrimah dan juga adh-Dhahhak, as-Suddi, Qatadah, Muqsim, ar-Rabi' bin Anas, 'Atha', dan selain mereka meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Ketika Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) berangkat umrah pada tahun ke-6 Hijriyah, beliau bersama serombongan kaum muslimin dihalang-halangi dan dicegah oleh orang-orang musyrik untuk masuk dan sampai ke Baitullah pada bulan Dzulqa'dah yang merupakan bulan haram sehingga beliau membuat perjanjian dengan mereka untuk masuk pada tahun berikutnya. Kemudian, pada tahun berikutnya beliau bersama kaum muslimin masuk ke Baitullah dan Allah pun memberikan balasan kepada kaum musyrikin, maka turunlah pada saat itu ayat: 'Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash.'" (781)

Dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah, ia berkata, "Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak pernah berperang pada bulan haram (yang dihormati), kecuali jika beliau diserang dan mereka menyerang. Jika bulan haram tiba maka beliau menghentikan peperangan hingga bulan haram berlalu." Sanad hadits ini shahih. (782)

Oleh karena itu, ketika berita bahwa 'Utsman dibunuh sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -ketika itu beliau sedang berada di perkemahan Hudaibiyah- padahal beliau mengutus 'Utsman menemui orang-orang musyrik untuk suatu misi, maka beliau membai'at para Sahabat yang berjumlah 1400 orang di bawah sebatang pohon untuk memerangi orang-orang musyrik. Setelah beliau menerima berita (sebenarnya) bahwa 'Utsman tidak terbunuh, maka beliau pun mengurungkan niatnya tersebut dam mengalihkannya kepada perdamaian dan perjanjian sehingga terjadilah perjanjian Hudaibiyah.

===

Catatan Kaki:

781. Ath-Thabari (III/575, 576, 577, 579).

782. Ahmad (III/345). [Komentar Syaikh al-Arna'uth: "Sanadnya shahih sesuai dengan syarat periwayatan Imam Muslim." Al-Musnad (XXIII/60, no. 14713)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (7) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (7)

Serta firman-Nya, "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu." (QS. An-Nahl: 126)

Oleh karena itu, 'Ikrimah dan Qatadah mengatakan: "Orang yang zhalim adalah orang yang menolak mengucapkan kalimat laa ilaaha illallaah (tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Allah)." (779)

Tentang firman Allah Ta'ala, "Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada lagi fitnah," Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Nafi', dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan bahwa dirinya pernah didatangi oleh dua orang pada saat terjadinya fitnah Ibnuz Zubair. Kedua orang itu berkata, "Sesungguhnya orang-orang telah berbuat kerusakan, dan engkau adalah putera 'Umar serta seorang Sahabat Nabi, apa yang menghalangimu untuk keluar (berperang)?" Maka Ibnu 'Umar menjawab, "Yang menghalangiku bahwa Allah telah mengharamkan darah saudaraku." Keduanya berkata: "Bukankah Allah telah berfirman, 'Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah (syirik)?'" Ibnu 'Umar menjawab: "Kami telah berperang sehingga tidak ada lagi fitnah (syirik) dan ketaatan hanyalah untuk Allah semata. Adapun kalian hendak berperang karena menginginkan terjadinya fitnah (kekacauan) dan agar segala macam ketaatan dilakukan untuk selain Allah."

'Utsman bin Shalih menambahkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu 'Umar dan berkata: "Wahai Abu 'Abdirrahman, apa yang mendorongmu melaksanakan haji tahun ini dan umrah tahun depan lalu engkau meninggalkan jihad fii sabiilillaah 'Azza wa Jalla, sedang engkau mengetahui apa yang Allah sukai dalam hal itu?" Maka Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma menjawab: "Wahai anak saudaraku, Islam ini dibangun di atas lima perkara, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, dan haji ke Baitullah."

Mereka mengatakan: "Wahai Abu 'Abdirrahman, tidakkah engkau mendengar apa yang difirmankan oleh Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya: 'Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.' (QS. Al-Hujuraat: 9)

(Dan Dia juga berfirman,) 'Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada lagi fitnah.'

Ibnu 'Umar menjawab: "Kami telah melakukannya pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketika itu Islam masih sedikit. Dan seseorang itu terfitnah (teruji) dalam agamanya, mereka membunuh atau menyiksanya. Hingga akhirnya Islam menjadi banyak dan tidak ada lagi fitnah."

Laki-laki itu berkata: "Lalu, bagaimana pendapatmu tentang 'Utsman dan 'Ali?" Ia menjawab: "Adapun 'Utsman, Allah telah mengampuni dosanya, namun kalian enggan memaafkannya. Sedangkan 'Ali adalah anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menantu beliau." Lalu ia mengisyaratkan dengan tangannya: "Inilah rumahnya sebagaimana yang kalian lihat." (780)

===

Catatan Kaki:

779. Ath-Thabari (III/573).

780. Fat-hul Baari (VIII/32). [Al-Bukhari (no. 4513, 4514, 4515)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (6) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (6)

PERINTAH BERPERANG HINGGA FITNAH TIDAK LAGI TERSISA

Selanjutnya Allah memerintahkan untuk memerangi orang-orang kafir, Dia berfirman, "Sehingga tidak ada lagi fitnah." Maksudnya tidak ada lagi kemusyrikan. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas, Abul 'Aliyah, Mujahid, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, (774) ar-Rabi' bin Anas, Muqatil bin Hayyan, as-Suddi, dan Zaid bin Aslam. (775)

"Dan (sehingga) ketaatan itu hanya untuk Allah semata." Maksudnya, sehingga agama Allah Ta'ala benar-benar nampak (menang) dan unggul di atas semua agama yang ada. Sebagaimana tercantum dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, dari Abu Musa al-Asy'ari (radhiyallahu 'anhu), ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, berperang karena kesombongan dan berperang karena riya', manakah (di antara ketiganya) yang termasuk berperang di jalan Allah? Maka beliau menjawab:

من قاتل لتكون كلمة اللّه هي العليا فهو في سبيل اللّه.

'Barangsiapa yang berperang untuk tujuan agar kalimat Allah-lah yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah.'" (776)

Dan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أمرت أن أقاتل النّاس حتّى يقولوا لا إله إلّا اللّه، فإذا قالو ها عصموا منّي دماءهم وأموالهم إلّا بحقّها وحسابهم على اللّه.

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) kecuali Allah. Apabila mereka mengatakannya, maka terpeliharalah darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan haknya dan hisab (perhitungan) mereka terserah kepada Allah." (777)

Dan firman-Nya, "Jika mereka berhenti (memusuhimu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim." Allah Ta'ala memerintahkan, jika mereka menghentikan perbuatan mereka berupa kesyirikan dan pembunuhan terhadap orang-orang mukmin, maka berhentilah menyerang mereka. Dan orang yang tetap memerangi mereka setelah itu, maka ia termasuk orang yang zhalim, dan tidak ada lagi permusuhan kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.

Inilah makna ungkapan Mujahid, bahwa tidak dibolehkan bagi seseorang untuk memerangi orang lain kecuali terhadap orang-orang yang memeranginya. (778)

Ayat tersebut juga bisa bermakna, jika mereka berhenti (memerangimu), berarti mereka membebaskan diri dari kezhaliman, yaitu kesyirikan, maka tidak ada lagi permusuhan terhadap mereka setelah itu.

Dan yang dimaksud dengan permusuhan di sini adalah pembalasan dan peperangan, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerangmu, maka serahlah ia, sebanding dengan serangannya terhadapmu." (QS. Al-Baqarah: 194)

Dan juga firman Allah, "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa." (QS. Asy-Syuura: 40)

===

Catatan Kaki:

774. Ibnu Abi Hatim (I/415), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

775. Ibnu Abi Hatim (I/416), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

776. Fat-hul Baari (XIII/450) dan Muslim (III/1513). [Al-Bukhari (no. 123), Muslim (no. 1904)].

777. Fat-hul Baari (I/592) dan Muslim (I/53). [Al-Bukhari (no. 25), Muslim (no. 22)].

778. Ath-Thabari (III/584).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (5)

Firman-Nya, "Kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu di tempat itu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir." Yakni, janganlah kalian memerangi mereka di Masjidil Haram kecuali jika mereka mulai menyerang lebih dahulu. Maka di saat itu kalian boleh memerangi dan membunuh mereka di sana untuk mempertahankan diri dari penyerangan, sebagaimana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah membai'at para Sahabatnya untuk berperang ketika terjadinya perjanjian Hudaibiyah di bawah sebuah pohon ketika kaum Quraisy dan pendukung mereka dari Bani Tsaqif dan Ahabisy pada tahun itu berkomplot memusuhi beliau. Kemudian Allah menahan terjadinya peperangan itu di antara mereka. Dia berfirman, "Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan)mu dan menahan tanganmu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah setelah Allah memenangkan kamu atas mereka." (QS. Al-Fat-h: 24)

Allah juga berfirman, "Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tidak kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkanmu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir di antara mereka dengan adzab yang pedih." (QS. Al-Fat-h: 25)

Firman Allah, "Kemudian jika mereka berhenti (memerangimu di tempat itu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Artinya, apabila mereka meninggalkan peperangan di tanah suci Makkah dan kembali kepada Islam serta bertaubat, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka meskipun mereka telah membunuh banyak orang-orang Islam di tanah suci. Dan tidak ada satu dosa pun yang terasa berat bagi Allah untuk diampuni-Nya bagi orang yang bertaubat dari dosa itu kepada-Nya.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (4)

HARAMNYA BERPERANG DI TANAH HARAM DAN BOLEHNYA MEMPERTAHANKAN DIRI DARI SERANGAN MUSUH

Firman-Nya, "Janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram," sebagaimana tercantum dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إنّ هذا البلد حرّمه اللّه يوم خلق السّموات والأرض، فهو حرام بحرمة اللّه إلى يوم القيامة، ولم يحلّ لي إلّا ساعة من نهار، وإنّها ساعتي هذه حرام بحرمة اللّه إلى يوم القيامة، لا يعضد شجره، ولا يختلى خلاه، فإن أحد ترخّص بقتال رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم فقولوا: إنّ اللّه أذن لرسوله ولم يأذن لكم.

"Sesungguhnya negeri ini telah diharamkan (disucikan) Allah pada hari diciptakannya langit dan bumi, dan ia menjadi haram dengan pengharaman Allah sampai hari Kiamat. Dan tidak dihalalkan kecuali sesaat saja di siang hari. Dan sesungguhnya (mulai) pada saat ini adalah haram dengan pengharaman Allah sampai hari Kiamat. Pohon-pohonnya tidak boleh ditebang dan rumput-rumputnya tidak boleh dicabut. Jika seseorang mencari-cari keringanan dengan dalih peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka katakanlah: 'Sesungguhnya Allah telah memberikan izin kepada Rasul-Nya dan tidak memberikan izin kepada kalian.'" (772)

Allah memberikan izin kepada beliau untuk memerangi penduduknya di saat penaklukan kota Makkah, karena beliau menaklukkan Makkah dengan kekerasan dan ada beberapa orang laki-laki yang terbunuh di Khandamah (nama sebuah gunung di kota Makkah, -pent). Ada pula yang mengatakan bahwa penaklukan itu dilakukan secara damai, karena ucapan beliau:

من أغلق بابه فهو آمن ومن دخل المسجد فهو آمن ومن دخل دار أبي سفيان فهو آمن.

"Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka ia aman, barangsiapa memasuki masjid maka ia juga aman, dan barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan maka ia aman." (773)

===

Catatan Kaki:

772. Fat-hul Baari (VI/327) dan Muslim (II/986, 987). [Al-Bukhari (no. 3189), Muslim (no. 1353)].

773. Ahmad (II/292). [Shahih: Komentar Syaikh al-Arna-uth hafizhahullah: "Sanadnya shahih sesuai syarat periwayatan Muslim." Al-Musnad (XIII/299, no. 7922), cet. Ar-Risalah].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (3)

SYIRIK ITU LEBIH BESAR (BAHAYANYA) DARIPADA PERANG

Karena jihad mengandung resiko hilangnya nyawa dan terbunuhnya banyak orang, maka Allah Ta'ala mengingatkan bahwa kekafiran, kesyirikan, dan berpaling dari jalan Allah Ta'ala yang mereka lakukan itu bahayanya lebih berat, lebih kejam dan lebih dahsyat daripada pembunuhan. Oleh karena itu, Dia berfirman, "Dan fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan."

Abu Malik mengatakan: "Artinya, apa yang sedang kalian lakukan itu bahayanya lebih besar daripada pembunuhan." (771)

"Dan fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan," Abu 'Aliyah, Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, adh-Dhahhak, dan ar-Rabi' bin Anas mengatakan, "Syirik itu lebih berbahaya daripada pembunuhan."

===

Catatan Kaki:

771. Ibnu Abi Hatim (I/412), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193 (2)

LARANGAN MELAMPAUI BATAS, SEPERTI MELAKUKAN MUTSLAH (MEMOTONG ANGGOTA BADAN MUSUH YANG TERBUNUH) DAN GHULUL (MENGAMBIL HARTA RAMPASAN PERANG SEBELUM DIBAGIKAN)

Firman Allah Ta'ala, "Dan janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." Maksudnya, hendaklah kalian berperang di jalan Allah, tetapi jangan berlebih-lebihan dalam melakukannya. Termasuk dalam hal ini melakukan berbagai macam larangan, sebagaimana dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri, seperti menyiksa, menipu, membunuh para wanita, anak-anak dan orang-orang tua yang pikirannya sudah lemah dan tidak mampu berperang, para pendeta, penghuni rumah ibadah, membakar pepohonan atau membunuh hewan tanpa adanya satu pun kebaikan. Sebagaimana hal itu telah dikatakan oleh Ibnu 'Abbas, 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, Muqatil bin Hayyan, dan beberapa ulama lainnya.

Oleh karena itu diriwayatkan dalam Shahiih Muslim dari Buraidah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اغزوا في سبيل اللّه، قاتلوا من كفر باللّه، اغزوا ولا تغلّوا ولا تغدروا ولا تمثلوا ولا تقتلوا وليدا ولا أصحاب الصّوامع.

"Berperang di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah tetapi jangan berkhianat, jangan melanggar janji, jangan melakukan penyiksaan, jangan membunuh anak-anak, dan jangan pula membunuh para penghuni rumah ibadah." (769)

Dan diriwayatkan dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Ibnu 'Umar (radhiyallahu 'anhuma), ia berkata, "Seorang wanita ditemukan terbunuh dalam satu peperangan, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak." (770)

Dan hadits-hadits serta atsar dalam masalah ini sangatlah banyak.

===

Catatan Kaki:

769. Muslim (III/1357). [(no. 1731)].

770. Fat-hul Baari (VI/172) dan Muslim (III/1364). [Al-Bukhari (no. 3014), Muslim (no. 1744)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 190-193 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 190-193

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, (QS. 2:190) dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu (Makkah), dan fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu di tempat itu, maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. (QS. 2:191) Kemudian jika mereka berhenti (memerangimu di tempat itu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:192) Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ketaatan itu hanya untuk Allah semata. Jika mereka berhenti (memusuhimu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. (QS. 2:193)

PERINTAH UNTUK MEMERANGI ORANG YANG MEMERANGI DAN MEMBUNUHNYA DI MANA PUN DIA DIJUMPAI

Abu Ja'far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Anas, dari Abul 'Aliyah tentang firman Allah Ta'ala: "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu," ia mengatakan, "Ini adalah ayat pertama yang Allah turunkan tentang perang di Madinah. Setelah turunnya ayat ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi orang-orang yang telah memerangi beliau dan menahan diri dari orang-orang yang tidak memerangi beliau hingga turun surat at-Taubah." (767)

Demikian pula pendapat 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, hingga ia mengatakan: "Ayat ini dihapus dengan ayat: 'Maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana saja kamu jumpai mereka.'" (QS. At-Taubah: 5)

Akan tetapi pendapat ini perlu ditinjau kembali, karena firman Allah, "Orang-orang yang memerangimu," merupakan dorongan dan motivasi untuk memerangi musuh yang mereka bertujuan memerangi Islam dan kaum muslimin. Yaitu, sebagaimana mereka memerangi kalian, maka perangilah mereka. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan perangilah kaum musyrikin itu semua sebagaimana mereka memerangi kamu semua." (QS. At-Taubah: 36) (768)

Oleh karena itu Allah berfirman dalam ayat ini: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu (Makkah)." Artinya, hendaklah tekad kalian bangkit untuk memerangi mereka, sebagaimana bangkitnya tekad mereka untuk memerangi kalian. Juga tekad untuk mengusir mereka dari negeri di mana mereka telah mengeluarkan kalian darinya sebagai balasan yang setimpal.

===

Catatan Kaki:

767. Ath-Thabari (III/561).

768. Ath-Thabari (III/562).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 189 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 189 (2)

TOLOK UKUR KEBAJIKAN ADALAH TAKWA

Dan firman-Nya, "Dan bukanlah merupakan kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya," Imam al-Bukhari meriwayatkan dari al-Bara', ia mengatakan, "Jika mereka hendak melaksanakan ihram pada masa Jahiliyah, mereka memasuki Baitullah dari arah belakang. Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, 'Dan bukan merupakan kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya.'" (764)

Demikian pula diriwayatkan oleh Abu Dawud ath-Thayalisi dari al-Bara', ia mengatakan, "Dahulu, apabila kaum Anshar kembali dari Safar, maka mereka tidak memasuki rumah dari arah pintu (depan), maka turunlah ayat ini." (765)

Al-Hasan al-Bashri mengatakan: "Dahulu, sekelompok orang dari penduduk Jahiliyah, apabila salah seorang dari mereka hendak melakukan perjalanan, maka ia keluar dari rumah menuju arah safarnya. Namun, setelah ia keluar, timbul keinginannya untuk kembali dan tidak melanjutkan safarnya. Maka ketika kembali ke rumah ia tidak boleh masuk dari pintu depan, akan tetapi ia harus masuk dari pintu belakang. Maka Allah Ta'ala berfirman, "Dan bukan merupakan kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya," dan ayat seterusnya. (766)

Dan firman Allah, "Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung," artinya, bertakwalah kepada Allah dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. "Agar kamu beruntung," yaitu kelak pada saat kalian berada di hadapan-Nya, di mana Dia akan memberikan balasan kepada kalian secara penuh dan sempurna.

===

Catatan Kaki:

764. Fat-hul Baari (VIII/31). [Al-Bukhari (no. 4512)].

765. Musnad ath-Thayalisi (no. 98).

766. Ibnu Abi Hatim (I/401).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 189 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 189

Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah: "(Hilal) bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; dan bukan merupakan kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. 2:189)

PERTANYAAN TENTANG HILAL (BULAN SABIT)

Al-'Aufi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma), "Orang-orang pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hilal, maka turunlah ayat ini: 'Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: 'Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia.'' Dengan hilal tersebut mereka dapat mengetahui jatuh temponya hutang mereka dan juga 'iddah isteri mereka, serta waktu menunaikan ibadah haji." (761)

'Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

جعل اللّه الأهلّة مواقيت للنّاس، فصوموا لرؤيته، وأفطروا لرؤيته، فإن غمّ عليكم فعدّوا ثلاثين يوما.

'Allah telah menjadikan hilal sebagai penentu waktu bagi manusia. Maka berpuasalah karena kalian melihatnya dan berbukalah karena melihatnya juga. Dan jika cuaca mendung, maka genapkanlah hitungan bulan menjadi 30 hari.'" (762)

Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Hakim dalam Mustadraknya, dan menurutnya sanad hadits ini shahih, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. (763)

===

Catatan Kaki:

761. Ath-Thabari (III/554).

762. 'Abdurrazzaq (IV/156). [Shahih: Mushannaf 'Abdirrazzaq (no. 7306), cet. al-Maktab al-Islami, th. 1403 H. Tahqiq: Habiburrahman al-A'zhami. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 3093)].

763. Al-Hakim (I/423). [Al-Mustadrak 'alash Shahiihain (no. 1539), cet. Darul Kutub al-'Ilmiyyah Beirut, th. 1411 H. Tahqiq: Mushthafa 'Abdul Qadir 'Atha'].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 188 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 188 (2)

KEPUTUSAN HAKIM TIDAK BOLEH MENGHALALKAN PERKARA YANG HARAM DAN MENGHARAMKAN PERKARA YANG HALAL

Dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan dari Ummu Salamah (radhiyallahu 'anha) bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ألا إنّما أنا بشر وإنّما يأتيني الخصم، فلعلّ بعضكم أن يكون ألحن بحجّته من بعض فأقضي له، فمن قضيت له بحقّ مسلم فإنّما هي قطعة من نار، فليحملها أو ليذرها.

"Ketahuilah, sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, dan orang-orang yang bersengketa mendatangiku. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih pintar berdalih daripada sebagian lainnya sehingga aku memberikan keputusan yang dapat menguntungkannya. Maka barangsiapa yang aku putuskan mendapat hak orang muslim lainnya, sebenarnya itu tidak lain hanyalah sepotong api Neraka. Maka terserah kepadanya, apakah ia mau mengambilnya atau meninggalkannya." (759)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya keputusan hakim itu sedikit pun tidak dapat merubah hukum sesuatu, tidak merubah sesuatu yang sebenarnya haram menjadi halal atau yang halal menjadi haram, hanya saja seorang hakim terikat pada apa yang tampak (zhahir) darinya. Jika sesuai, maka itulah yang diinginkan, dan jika tidak maka hakim tetap mendapat pahala, sedangkan orang yang melakukan tipu muslihat mendapat dosa.

Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman, "Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui." Maksudnya, kalian mengetahui bahwa perkara yang kalian dakwahkan dan kalian propagandakan dalam ucapan kalian itu merupakan kebathilan.

Qatadah mengatakan, "Ketahuilah -wahai bani Adam- bahwa keputusan hakim tidak dapat menghalalkan perkara yang haram dan tidak pula perkara yang bathil menjadi haq. Hanya saja seorang qadhi atau hakim memutuskan perkara berdasarkan apa yang ia peroleh dari keterangan para saksi. Qadhi adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa juga keliru. Ketahuilah bahwa barangsiapa yang perkaranya diputuskan secara bathil maka perkaranya tidak akan dihentikan hingga Allah mengumpulkan kedua belah pihak pada hari Kiamat. Lalu Allah memutuskan bagi pihak yang benar terhadap pihak yang salah dengan keputusan yang lebih baik dari keputusan yang dahulu diberikan bagi pihak yang salah terhadap pihak yang benar ketika di dunia. (760)

===

Catatan Kaki:

759. Fat-hul Baari (XIII/190) dan Muslim (III/1373). [Al-Bukhari (no. 2680), Muslim (no. 1713)].

760. Ath-Thabari (III/550).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 188 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 188

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (QS. 2:188)

HARAMNYA SUAP

'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma), "Ayat ini berkenaan dengan seseorang yang mempunyai tanggungan harta (hutang) tetapi dalam hal ini tidak ada saksi terhadapnya, lalu ia mengingkari harta itu dan mempersengketakannya kepada penguasa, sementara ia sendiri mengetahui bahwa harta itu bukan bagian dari haknya dan juga mengetahui bahwa ia berbuat dosa dengan sebab memakan barang haram." (757)

Demikian pula diriwayatkan dari Mujahid, Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, al-Hasan al-Bashri, Qatadah, as-Suddi, Muqatil bin Hayyan dan 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, bahwa mereka mengatakan, "Janganlah engkau bersengketa sedang engkau mengetahui bahwa engkau seorang yang zhalim." (758)

===

Catatan Kaki:

757. Ath-Thabari (III/550).

758. Ibnu Abi Hatim (I/393, 394) dan ath-Thabari (III/550, 551).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah