AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162 (2)
BOLEHNYA MELAKNAT ORANG KAFIR
(Pasal) Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal bolehnya melaknat orang-orang kafir.
'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dan para pemimpin setelahnya pernah melaknat orang-orang kafir (secara umum), baik dalam qunut maupun di luar qunut. Adapun laknat terhadap orang kafir tertentu (dengan disebut namanya), maka sekelompok ulama berpendapat bahwa dia tidak boleh dilaknat, karena kita tidak tahu akhir hidup yang bagaimana yang akan Allah Ta'ala tentukan baginya.
Sebaliknya, sebagian lain membolehkan laknat terhadap orang kafir tertentu.
Di dalam kisah seorang yang dibawa ke hadapan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dalam keadaan mabuk, Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjatuhkan hadd (hukuman/siksa) kepadanya. Lalu seseorang yang berkata, "Semoga Allah melaknatnya, sering sekali ia melakukan hal itu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda,
"Janganlah engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya." (609)
Hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mencintai Allah Ta'ala dan Rasul-Nya boleh dilaknat. Wallaahu a'lam.
===
Catatan Kaki:
609. 'Abdurrazzaq (VII/381). [Yang semakna dengan hadits ini, tetapi lafazhnya berbeda diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6780)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 159-162 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat, (QS. 2:159) kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran),maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160) Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. 2:161) Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. 2:162)
LAKNAT YANG TERUS-MENERUS BAGI ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN HUKUM-HUKUM AGAMA
Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang menyembunyikan keterangan yang menjelaskan tujuan-tujuan baik dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati yang dibawa oleh para Rasul-Nya, setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya.
Abu 'Aliyah mengatakan, "Ayat ini turun mengenai ahlul kitab yang menyembunyikan sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (603) Kemudian Allah Ta'ala memberitahukan bahwa mereka dilaknat oleh segala sesuatu akibat perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagaimana seorang ulama dimohonkan ampunan oleh segala sesuatu, bahkan sampai ikan di air dan burung yang terbang di angkasa. Maka sebaliknya, ahlul kitab itu dilaknat oleh Allah dan setiap makhluk yang dapat melaknat.
Telag datang suatu hadits yang tersambung melalui beberapa jalur yang saling memperkuat satu sama lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu namun ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang api Neraka." (604)
Dan dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Seandainya bukan karena ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan sesuatu kepada seseorang." (lalu ia membaca ayat): "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk." (605)
Mujahid mengatakan, "Apabila bumi mengalami masa paceklik, maka hewan-hewan ternak berkata, 'Ini akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Bani Adam. Semoga Allah melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam.'" (606)
Tentang firman Allah 'Azza wa Jalla: "Dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat," Abul 'Aliyah, Rabi' bin Anas, dan Qatadah mengatakan, "Yakni mereka dilaknat oleh para Malaikat dan orang-orang yang beriman." (607) Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Sesungguhnya seorang alim akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga ikan yang berada di lautan." (608)
Dan dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para Malaikat, seluruh manusia, dan juga semua makhluk yang bisa melaknat, yiatu setiap orang yang fasih berbicara Arab atau berbicara 'ajam (non Arab), baik dengan lisaanul maqaal (bahasa lisan) maupun lisaanul haal (bahasa tubuh) atau setiap yang memiliki akal pada hari Kiamat. Wallaahu a'lam.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhususkan orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya, "Kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran)." Maksudnya mereka meninggalkan apa yang telah mereka kerjakan dan memperbaiki amal perbuatan mereka serta menyampaikan kepada manusia apa yang telah mereka sembunyikan: "Maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini mengandung dalil yang menunjukkan bahwa penyeru kepada kekufuran atau bid'ah, jika ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka taubatnya akan diterima.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan tentang orang-orang yang kufur dan terus-menerus berada dalam kekufuran hingga mereka menemui ajalnya, bahwa: "Mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu." Artinya, mereka akan terus-menerus mendapatkan laknat sampai hari Kiamat kelak. Lalu laknat itu menjadi teman setia mereka di Neraka Jahannam. "Tidak akan diringankan siksa dari mereka." Artinya, apa yang mereka rasakan itu tidak akan pernah berkurang, "Tidak (pula) mereka diberi tangguh." Maksudnya, siksa itu tidak akan dialihkan dari mereka meski hanya sekejap saja, akan tetapi siksa itu akan terus-menerus dan berkesinambungan. Na'uudzubillaahi min dzaalik.
===
Catatan Kaki:
603. Ibnu Abi Hatim (I/170), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
604. Ahmad (II/495). [Diriwayatkan dari banyak jalur Sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Anas bin Malik dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum. Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), Ibnu Majah (no. 261). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 120)].
605. Fat-hul Baari (I/258). [Al-Bukhari (no. 118)].
606. Ibnu Abi Hatim (I/175), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
607. Ibnu Abi Hatim (I/174), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
608. [Shahih: Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiihul Jaami' (no. 6297)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 159-162
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat, (QS. 2:159) kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran),maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:160) Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. (QS. 2:161) Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh. (QS. 2:162)
LAKNAT YANG TERUS-MENERUS BAGI ORANG YANG MENYEMBUNYIKAN HUKUM-HUKUM AGAMA
Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang menyembunyikan keterangan yang menjelaskan tujuan-tujuan baik dan petunjuk yang bermanfaat bagi hati yang dibawa oleh para Rasul-Nya, setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya dalam Kitab-kitab-Nya yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya.
Abu 'Aliyah mengatakan, "Ayat ini turun mengenai ahlul kitab yang menyembunyikan sifat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. (603) Kemudian Allah Ta'ala memberitahukan bahwa mereka dilaknat oleh segala sesuatu akibat perbuatan yang mereka lakukan.
Sebagaimana seorang ulama dimohonkan ampunan oleh segala sesuatu, bahkan sampai ikan di air dan burung yang terbang di angkasa. Maka sebaliknya, ahlul kitab itu dilaknat oleh Allah dan setiap makhluk yang dapat melaknat.
Telag datang suatu hadits yang tersambung melalui beberapa jalur yang saling memperkuat satu sama lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan selainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda,
"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu namun ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang pada hari Kiamat dengan kekang api Neraka." (604)
Dan dalam kitab Shahiih al-Bukhari juga diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Seandainya bukan karena ayat dalam Kitabullah, niscaya aku tidak akan meriwayatkan sesuatu kepada seseorang." (lalu ia membaca ayat): "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk." (605)
Mujahid mengatakan, "Apabila bumi mengalami masa paceklik, maka hewan-hewan ternak berkata, 'Ini akibat perbuatan maksiat yang dilakukan oleh Bani Adam. Semoga Allah melaknat para pelaku maksiat dari kalangan Bani Adam.'" (606)
Tentang firman Allah 'Azza wa Jalla: "Dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat," Abul 'Aliyah, Rabi' bin Anas, dan Qatadah mengatakan, "Yakni mereka dilaknat oleh para Malaikat dan orang-orang yang beriman." (607) Disebutkan dalam sebuah hadits:
"Sesungguhnya seorang alim akan dimintakan ampunan oleh segala sesuatu hingga ikan yang berada di lautan." (608)
Dan dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh Allah, para Malaikat, seluruh manusia, dan juga semua makhluk yang bisa melaknat, yiatu setiap orang yang fasih berbicara Arab atau berbicara 'ajam (non Arab), baik dengan lisaanul maqaal (bahasa lisan) maupun lisaanul haal (bahasa tubuh) atau setiap yang memiliki akal pada hari Kiamat. Wallaahu a'lam.
Setelah itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhususkan orang-orang yang bertaubat kepada-Nya, dengan firman-Nya, "Kecuali mereka yang bertaubat dan mengadakan perbaikan serta menerangkan (kebenaran)." Maksudnya mereka meninggalkan apa yang telah mereka kerjakan dan memperbaiki amal perbuatan mereka serta menyampaikan kepada manusia apa yang telah mereka sembunyikan: "Maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Aku-lah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."
Ayat ini mengandung dalil yang menunjukkan bahwa penyeru kepada kekufuran atau bid'ah, jika ia bertaubat kepada Allah 'Azza wa Jalla, maka taubatnya akan diterima.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan tentang orang-orang yang kufur dan terus-menerus berada dalam kekufuran hingga mereka menemui ajalnya, bahwa: "Mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalam laknat itu." Artinya, mereka akan terus-menerus mendapatkan laknat sampai hari Kiamat kelak. Lalu laknat itu menjadi teman setia mereka di Neraka Jahannam. "Tidak akan diringankan siksa dari mereka." Artinya, apa yang mereka rasakan itu tidak akan pernah berkurang, "Tidak (pula) mereka diberi tangguh." Maksudnya, siksa itu tidak akan dialihkan dari mereka meski hanya sekejap saja, akan tetapi siksa itu akan terus-menerus dan berkesinambungan. Na'uudzubillaahi min dzaalik.
===
Catatan Kaki:
603. Ibnu Abi Hatim (I/170), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
604. Ahmad (II/495). [Diriwayatkan dari banyak jalur Sahabat, di antaranya Abu Hurairah, Anas bin Malik dan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhum. Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), Ibnu Majah (no. 261). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 120)].
605. Fat-hul Baari (I/258). [Al-Bukhari (no. 118)].
606. Ibnu Abi Hatim (I/175), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
607. Ibnu Abi Hatim (I/174), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
608. [Shahih: Abu Dawud (no. 3641), at-Tirmidzi (no. 2682). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiihul Jaami' (no. 6297)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 158 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158 (2)
HUKUM SA'I DAN ASALNYA
Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan thawaf di Baitullah, beliau kembali ke rukun (Hajar Aswad), lalu mengusapnya. Kemudian beliau keluar melalui pintu Shafa sambil mengucapkan, "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah." Selanjutnya beliau bersabda,
"Aku memulai dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah."
Dan dalam riwayat an-Nasa-i disebutkan:
"Mulailah kalian dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah." (600)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Habibah binti Abi Tajrah, ia mengatakan: "Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, sedangkan orang-orang berada di hadapan beliau, dan beliau berada di belakang mereka. Beliau berlari-lari kecil sehingga karena sangatnya, aku dapat melihat kedua lutut beliau dililit oleh kainnya. Beliau pun bersabda,
"Kerjakanlah sa'i karena Allah Ta'ala telah mewajibkan sa'i atas kalian." (601)
Hadits ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji (sehingga haji menjadi tidak sah apabila meninggalkannya, -pent).
Pendapat lain mengatakan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah itu merupakan suatu kewajiban, bukan rukun. Karena itu barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja atau dalam keadaan lalai (hajinya tetap sah), namun ia harus menggantinya dengan membayar dam (denda).
Ada juga yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan suatu amalan mustahabb (perkara yang dianjurkan).
Dan yang benar, sa'i di antara keduanya adalah rukun atau wajib dalam haji. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu syi'ar-Nya, dan termasuk sesuatu yang disyari'atkan kepada Ibrahim 'alaihis salam dalam menunaikan ibadah haji.
Dan telah dikemukakan sebelumnya dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa asal-usul sa'i didasarkan pada peristiwa Hajar yang berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa dan Marwah dalam rangka mencari air untuk puteranya setelah air dan bekal keduanya sudah habis. Yaitu ketika Ibrahim 'alaihis salam meninggalkan keduanya di sana, sedang di tempat itu tidak ada seorang pun. maka ketika Hajar mengkhawatirkan keadaan puteranya dan perbekalan pun telah habis, ia berdiri mencari pertolongan dari Allah. Ia berjalan bolak-balik di tanah suci antara bukit Shafa dan bukit Marwah, dengan perasaan tunduk, takut dan khawatir serta memohon kepada Allah. Akhirnya, Allah melepaskan kesulitannya, menghilangkan kesepiannya dan memudahkan kesusahannya. Allah Ta'ala memancarkan air zam-zam untuk keduanya. Air yang merupakan makanan yang dapat mengenyangkan, dan obat bagi penyakit.
Orang yang sedang mengerjakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah hendaklah menghadirkan rasa tunduk, hina, dan sangat butuh kepada-Nya. Hal ini untuk meraih petunjuk bagi hatinya, kebaikan bagi keadaannya, dan pengampunan bagi dosa-dosanya. Juga hendaklah ia segera berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam rangka membersihkan dirinya dari berbagai kekurangan dan aib. Di samping itu, hendaklah ia memohon agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus dan ditetapkan di atasnya sampai ajal menjemput, serta dialihkan keadaannya yang penuh dosa dan maksiat kepada keadaan yang penuh kesempurnaan, ampunan, kelurusan dan keistiqamahan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Hajar 'alaihas salam.
Dan firman-Nya, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan dengan kerelaan hati," ada yang mengatakan, maksudnya menambahkan jumlah putaran sa'i dari jumlah yang wajib, menjadi 8 atau 9 putaran atau lebih dari itu. Ada juga yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada saat mengerjakan haji tathawwu' atau umrah tathawwu' (tidak wajib).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tathawwa'a khairan itu berlaku dalam setiap ibadah, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi yang dinisbatkan kepada al-Hasan al-Bashri. (602) Wallaahu a'lam.
Dan firman Allah, "Maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." Yakni, Dia akan memberikan pahala yang banyak atas amal yang sedikit, dan Dia Maha Mengetahui kadar pahala, sehingga Dia tidak akan mengurangi pahala seseorang dan tidak akan menzhaliminya, walaupun hanya sebesar dzarrah. Dan jika ada kabajikan, meskipun sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya. Dia akan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
===
Catatan Kaki:
600. Muslim (II/886) dan an-Nasa-i (V/239). [Lafazh pertama adalah shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218). Sedangkan lafazh kedua adalah lafazh yang syadzdz (ganjil), sehingga Syaikh al-Albani rahimahullah mendha'ifkannya dalam kitab Dha'iiful Jaami' (no. 36)].
601. Ahmad (VI/421). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 968)].
602. Ar-Razi (IV/146).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158 (2)
HUKUM SA'I DAN ASALNYA
Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari Jabir radhiyallahu 'anhu. Di dalamnya disebutkan bahwa setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan thawaf di Baitullah, beliau kembali ke rukun (Hajar Aswad), lalu mengusapnya. Kemudian beliau keluar melalui pintu Shafa sambil mengucapkan, "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah." Selanjutnya beliau bersabda,
"Aku memulai dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah."
Dan dalam riwayat an-Nasa-i disebutkan:
"Mulailah kalian dengan apa yang dijadikan permulaan oleh Allah." (600)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Habibah binti Abi Tajrah, ia mengatakan: "Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah, sedangkan orang-orang berada di hadapan beliau, dan beliau berada di belakang mereka. Beliau berlari-lari kecil sehingga karena sangatnya, aku dapat melihat kedua lutut beliau dililit oleh kainnya. Beliau pun bersabda,
"Kerjakanlah sa'i karena Allah Ta'ala telah mewajibkan sa'i atas kalian." (601)
Hadits ini menjadi dalil bagi orang yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji (sehingga haji menjadi tidak sah apabila meninggalkannya, -pent).
Pendapat lain mengatakan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah itu merupakan suatu kewajiban, bukan rukun. Karena itu barangsiapa meninggalkannya dengan sengaja atau dalam keadaan lalai (hajinya tetap sah), namun ia harus menggantinya dengan membayar dam (denda).
Ada juga yang berpendapat bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan suatu amalan mustahabb (perkara yang dianjurkan).
Dan yang benar, sa'i di antara keduanya adalah rukun atau wajib dalam haji. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu syi'ar-Nya, dan termasuk sesuatu yang disyari'atkan kepada Ibrahim 'alaihis salam dalam menunaikan ibadah haji.
Dan telah dikemukakan sebelumnya dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas bahwa asal-usul sa'i didasarkan pada peristiwa Hajar yang berlari-lari kecil bolak-balik antara Shafa dan Marwah dalam rangka mencari air untuk puteranya setelah air dan bekal keduanya sudah habis. Yaitu ketika Ibrahim 'alaihis salam meninggalkan keduanya di sana, sedang di tempat itu tidak ada seorang pun. maka ketika Hajar mengkhawatirkan keadaan puteranya dan perbekalan pun telah habis, ia berdiri mencari pertolongan dari Allah. Ia berjalan bolak-balik di tanah suci antara bukit Shafa dan bukit Marwah, dengan perasaan tunduk, takut dan khawatir serta memohon kepada Allah. Akhirnya, Allah melepaskan kesulitannya, menghilangkan kesepiannya dan memudahkan kesusahannya. Allah Ta'ala memancarkan air zam-zam untuk keduanya. Air yang merupakan makanan yang dapat mengenyangkan, dan obat bagi penyakit.
Orang yang sedang mengerjakan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah hendaklah menghadirkan rasa tunduk, hina, dan sangat butuh kepada-Nya. Hal ini untuk meraih petunjuk bagi hatinya, kebaikan bagi keadaannya, dan pengampunan bagi dosa-dosanya. Juga hendaklah ia segera berlindung kepada Allah 'Azza wa Jalla dalam rangka membersihkan dirinya dari berbagai kekurangan dan aib. Di samping itu, hendaklah ia memohon agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus dan ditetapkan di atasnya sampai ajal menjemput, serta dialihkan keadaannya yang penuh dosa dan maksiat kepada keadaan yang penuh kesempurnaan, ampunan, kelurusan dan keistiqamahan, sebagaimana yang telah dikerjakan oleh Hajar 'alaihas salam.
Dan firman-Nya, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan dengan kerelaan hati," ada yang mengatakan, maksudnya menambahkan jumlah putaran sa'i dari jumlah yang wajib, menjadi 8 atau 9 putaran atau lebih dari itu. Ada juga yang berpendapat, maksud dari ayat di atas adalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada saat mengerjakan haji tathawwu' atau umrah tathawwu' (tidak wajib).
Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tathawwa'a khairan itu berlaku dalam setiap ibadah, sebagaimana disebutkan oleh ar-Razi yang dinisbatkan kepada al-Hasan al-Bashri. (602) Wallaahu a'lam.
Dan firman Allah, "Maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." Yakni, Dia akan memberikan pahala yang banyak atas amal yang sedikit, dan Dia Maha Mengetahui kadar pahala, sehingga Dia tidak akan mengurangi pahala seseorang dan tidak akan menzhaliminya, walaupun hanya sebesar dzarrah. Dan jika ada kabajikan, meskipun sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya. Dia akan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.
===
Catatan Kaki:
600. Muslim (II/886) dan an-Nasa-i (V/239). [Lafazh pertama adalah shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218). Sedangkan lafazh kedua adalah lafazh yang syadzdz (ganjil), sehingga Syaikh al-Albani rahimahullah mendha'ifkannya dalam kitab Dha'iiful Jaami' (no. 36)].
601. Ahmad (VI/421). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 968)].
602. Ar-Razi (IV/146).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 158 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158
Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:158)
MAKNA "TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG YANG MENGERJAKAN SA'I ANTARA SHAFA DAN MARWAH"
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia bertanya (kepada 'Urwah), "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." Maka aku ('Urwah) katakan: "Demi Allah, tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah pun berkata, "Wahai anak saudara perempuanku, buruk sekali apa yang engkau katakan ini. Seandainya benar penafsiranmu itu, maka tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i antara keduanya. Tetapi ayat itu diturunkan berkenaan dengan kaum Anshar yang sebelum masuk Islam berkurban dengan berteriak menyebut nama berhala Manat yang mereka sembah di Musyallal. Dan orang-orang yang berkurban dengan berteriak untuknya itu merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Mereka pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ya Rasululllah, kami merasa bersalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliyah, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah berkata, "Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mensyari'atkan sa'i di antara Shafa dan Marwah, dan tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk meninggalkan sa'i di antara keduanya." (597) Hadist ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahiih keduanya. (598)
Dalam riwayat lain dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku sampaikan hadits ini kepada Abu Bakar bin 'Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam. Maka ia berkata, "Sungguh ilmu ini tidak pernah aku dengar sebelumnya. AAku pernah mendengar beberapa orang ahli ilmu mengatakan bahwa orang-orang -selain yang disebutkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Sesungguhnya sa'ia kita antara dua bukit ini termasuk tradisi jahiliyah."
Beberapa orang lainnya dari kaum Anshar mengatakan, "Kita hanya diperintah untuk mengerjakan thawaf di Baitullah, dan kita tidak diperintahkan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah."
Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah."
Abu Bakar bin 'Abdirrahman berkata, "Kemungkinan ayat ini turun berkenaan dengan kedua belah pihak tadi." (599)
Al-Bukhari telah meriwayatkan yang semakna dengannya dari Anas.
Asy-Sya'bi berkata, "Dahulu berhala Isaf terletak di bukit Shafa dan berhala Na-ilah di bukit Marwah. Mereka biasanya memberi hormat kepada berhala-berhala itu. Lalu mereka merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah masuk Islam. Maka turunlah ayat tersebut.
===
Catatan Kaki:
597. Ahmad (VI/144).
598. [Al-Bukhari (no. 1643), Muslim (no. 1277)].
599. Fat-hul Baari (III/581) dan Muslim (II/929). [Al-Bukhari (no. 1643, 4861), Muslim (no. 1277)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 158
Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:158)
MAKNA "TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG YANG MENGERJAKAN SA'I ANTARA SHAFA DAN MARWAH"
Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia bertanya (kepada 'Urwah), "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya." Maka aku ('Urwah) katakan: "Demi Allah, tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah pun berkata, "Wahai anak saudara perempuanku, buruk sekali apa yang engkau katakan ini. Seandainya benar penafsiranmu itu, maka tidak ada dosa bagi seseorang yang tidak mengerjakan sa'i antara keduanya. Tetapi ayat itu diturunkan berkenaan dengan kaum Anshar yang sebelum masuk Islam berkurban dengan berteriak menyebut nama berhala Manat yang mereka sembah di Musyallal. Dan orang-orang yang berkurban dengan berteriak untuknya itu merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah.
Mereka pun menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Ya Rasululllah, kami merasa bersalah mengerjakan sa'i antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliyah, lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya."
'Aisyah berkata, "Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mensyari'atkan sa'i di antara Shafa dan Marwah, dan tidak diperkenankan bagi siapa pun untuk meninggalkan sa'i di antara keduanya." (597) Hadist ini diriwayatkan juga oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahiih keduanya. (598)
Dalam riwayat lain dari az-Zuhri, ia berkata, "Aku sampaikan hadits ini kepada Abu Bakar bin 'Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam. Maka ia berkata, "Sungguh ilmu ini tidak pernah aku dengar sebelumnya. AAku pernah mendengar beberapa orang ahli ilmu mengatakan bahwa orang-orang -selain yang disebutkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Sesungguhnya sa'ia kita antara dua bukit ini termasuk tradisi jahiliyah."
Beberapa orang lainnya dari kaum Anshar mengatakan, "Kita hanya diperintah untuk mengerjakan thawaf di Baitullah, dan kita tidak diperintahkan sa'i antara bukit Shafa dan Marwah."
Maka Allah pun menurunkan ayat-Nya: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi'ar Allah."
Abu Bakar bin 'Abdirrahman berkata, "Kemungkinan ayat ini turun berkenaan dengan kedua belah pihak tadi." (599)
Al-Bukhari telah meriwayatkan yang semakna dengannya dari Anas.
Asy-Sya'bi berkata, "Dahulu berhala Isaf terletak di bukit Shafa dan berhala Na-ilah di bukit Marwah. Mereka biasanya memberi hormat kepada berhala-berhala itu. Lalu mereka merasa keberatan (gamang) melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah setelah masuk Islam. Maka turunlah ayat tersebut.
===
Catatan Kaki:
597. Ahmad (VI/144).
598. [Al-Bukhari (no. 1643), Muslim (no. 1277)].
599. Fat-hul Baari (III/581) dan Muslim (II/929). [Al-Bukhari (no. 1643, 4861), Muslim (no. 1277)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 155-157 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157 (3)
KEUTAMAAN ISTIRJA SAAT TERTIMPA MUSIBAH
Keterangan tentang pahala istirja', yaitu ucapan, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun ketika tertimpa musibah telah disebutkan dalam banyak hadits. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ummu Salamah, ia bercerita: "Pada suatu hari, setelah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Salamah mendatangiku, lalu ia menceritakan bahwa ia telah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang membuat aku merasa senang. Beliau bersabda,
'Tidak ada seseorang dari kaum muslimin yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,' lalu ia berdo'a, 'Allaahumma' jurnii fii mushiibatii wa akhliflii khairan minhaa (Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik darinya),' melainkan akan do'anya itu dikabulkan.'"
Ummu Salamah berkata, "Kemudian aku menghafal do'a dari beliau itu, dan ketika Abu Salamah wafat, maka aku pun mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,' dan berdo'a: 'Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya.' Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri: 'Dari mana aku akan memperoleh orang yang lebih baik dari Abu Salamah?' Setelah masa 'iddahku berakhir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta izin kepadaku. Ketika itu aku sedang menyamak kulit milikku, lalu aku mencuci tanganku dari qaradz (daun yang digunakan untuk menyamak). Lalu kuizinkan beliau masuk dan kusiapkan untuknya bantal tempat duduk yang berisi sabut. Maka beliau duduk di atasnya. Lalu beliau menyampaikan lamaran kepadaku. Setelah beliau berbicara, aku berkata, 'Ya Rasulullah, keadaanku akan membuatmu tak berminat. Aku ini seorang wanita yang sangat pencemburu, maka aku takut engkau mendapatkan dari diriku sesuatu yang karenanya Allah akan mengadzabku, sementara aku sendiri sudah tua dan mempunyai banyak anak.' Maka beliau bersabda,
'Adapun kecemburuanmu yang engkau sebutkan, maka semoga Allah 'Azza wa Jalla menghilangkannya darimu. Dan usia tua yang engkau sebutkan, maka aku pun mengalami apa yang engkau alami. Dan keluarga yang engkau sebutkan itu, maka sesungguhnya keluargamu adalah keluargaku juga.'
Maka Ummu Salamah menyerahkan diri kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemudian beliau menikahinya. Setelah itu Ummu Salamah pun berkata, 'Allah telah memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.'" (595)
Hadits yang semisal dengan ini disebutkan dalam Shahiih Muslim secara ringkas. (596)
===
Catatan Kaki:
595. Ahmad (IV/27).
596. Muslim (II/633).[No. 918].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157 (3)
KEUTAMAAN ISTIRJA SAAT TERTIMPA MUSIBAH
Keterangan tentang pahala istirja', yaitu ucapan, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun ketika tertimpa musibah telah disebutkan dalam banyak hadits. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ummu Salamah, ia bercerita: "Pada suatu hari, setelah menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Salamah mendatangiku, lalu ia menceritakan bahwa ia telah mendengar ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang membuat aku merasa senang. Beliau bersabda,
'Tidak ada seseorang dari kaum muslimin yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,' lalu ia berdo'a, 'Allaahumma' jurnii fii mushiibatii wa akhliflii khairan minhaa (Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah aku pengganti yang lebih baik darinya),' melainkan akan do'anya itu dikabulkan.'"
Ummu Salamah berkata, "Kemudian aku menghafal do'a dari beliau itu, dan ketika Abu Salamah wafat, maka aku pun mengucapkan, 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun,' dan berdo'a: 'Ya Allah, berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya.' Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri: 'Dari mana aku akan memperoleh orang yang lebih baik dari Abu Salamah?' Setelah masa 'iddahku berakhir, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta izin kepadaku. Ketika itu aku sedang menyamak kulit milikku, lalu aku mencuci tanganku dari qaradz (daun yang digunakan untuk menyamak). Lalu kuizinkan beliau masuk dan kusiapkan untuknya bantal tempat duduk yang berisi sabut. Maka beliau duduk di atasnya. Lalu beliau menyampaikan lamaran kepadaku. Setelah beliau berbicara, aku berkata, 'Ya Rasulullah, keadaanku akan membuatmu tak berminat. Aku ini seorang wanita yang sangat pencemburu, maka aku takut engkau mendapatkan dari diriku sesuatu yang karenanya Allah akan mengadzabku, sementara aku sendiri sudah tua dan mempunyai banyak anak.' Maka beliau bersabda,
'Adapun kecemburuanmu yang engkau sebutkan, maka semoga Allah 'Azza wa Jalla menghilangkannya darimu. Dan usia tua yang engkau sebutkan, maka aku pun mengalami apa yang engkau alami. Dan keluarga yang engkau sebutkan itu, maka sesungguhnya keluargamu adalah keluargaku juga.'
Maka Ummu Salamah menyerahkan diri kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kemudian beliau menikahinya. Setelah itu Ummu Salamah pun berkata, 'Allah telah memberikan ganti kepadaku yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.'" (595)
Hadits yang semisal dengan ini disebutkan dalam Shahiih Muslim secara ringkas. (596)
===
Catatan Kaki:
595. Ahmad (IV/27).
596. Muslim (II/633).[No. 918].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 155-157 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157 (2)
Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menjelaskan tentang orang-orang yang bersabar, yang Dia puji dalam firman-Nya, "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan, 'innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali)." Maksudnya, mereka menghibur diri dengan ucapan ini ketika ujian menimpa mereka. Mereka yakin bahwa diri mereka adalah milik Allah Ta'ala, serta Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, mereka pun meyakini bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka, meskipun hanya sebesar dzarrah (materi yang paling kecil) pada hari Kiamat kelak. Keyakinan ini menjadikan mereka mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. Karena itulah, AAllah 'Azza wa Jalla mengabarkan apa yang akan diberikan kepada mereka dengan firman-Nya: "Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka." Artinya, pujian Allah Ta'ala dan rahmat-Nya terhadap mereka.
Sa'id bin Jubair mengatakan, "Artinya, keselamatan dari adzab." (593)
Firman-Nya, "Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk," Amirul Mukminin 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Alangkah nikmatnya dua imbalan itu, dan betapa menyenangkan (anugerah) tambahan itu."
"Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka." Inilah dua imbalan. "Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." Inilah tambahannya. (594) Mereka itulah orang-orang yang diberikan pahala-pahala dan diberikan pula tambahannya.
===
Catatan Kaki:
593. Ibnu Abi Hatim (I/158), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
594. Al-Hakim (II/270).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157 (2)
Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menjelaskan tentang orang-orang yang bersabar, yang Dia puji dalam firman-Nya, "(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengatakan, 'innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali)." Maksudnya, mereka menghibur diri dengan ucapan ini ketika ujian menimpa mereka. Mereka yakin bahwa diri mereka adalah milik Allah Ta'ala, serta Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Selain itu, mereka pun meyakini bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan amalan mereka, meskipun hanya sebesar dzarrah (materi yang paling kecil) pada hari Kiamat kelak. Keyakinan ini menjadikan mereka mengakui bahwa dirinya hanyalah seorang hamba di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan mereka akan kembali kepada-Nya kelak di akhirat. Karena itulah, AAllah 'Azza wa Jalla mengabarkan apa yang akan diberikan kepada mereka dengan firman-Nya: "Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka." Artinya, pujian Allah Ta'ala dan rahmat-Nya terhadap mereka.
Sa'id bin Jubair mengatakan, "Artinya, keselamatan dari adzab." (593)
Firman-Nya, "Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk," Amirul Mukminin 'Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengatakan, "Alangkah nikmatnya dua imbalan itu, dan betapa menyenangkan (anugerah) tambahan itu."
"Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka." Inilah dua imbalan. "Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." Inilah tambahannya. (594) Mereka itulah orang-orang yang diberikan pahala-pahala dan diberikan pula tambahannya.
===
Catatan Kaki:
593. Ibnu Abi Hatim (I/158), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
594. Al-Hakim (II/270).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 155-157 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. 2:155) (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan. "Sesungguhnya kami adalah milik Alah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. 2:156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157)
SEORANG MUKMIN KETIKA DIUJI IA BERSABAR DAN MENDAPAT PAHALA
Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia akan memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (QS. Muhammad: 31)
Terkadang Allah memberikan ujian berupa kebahagiaan dan terkadang Dia memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan, sebagaimana Allah berfirman, "Oleh karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan." (QS. An-Nahl: 112)
Ujian pada orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut akan sangat terlihat jelas. Oleh karena itu Dia berfirman, "Pakaian kelaparan dan ketakutan."
Dala ayat ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan." "Dan kekurangan harta." Yakni hilangnya sebagian harta. "Serta jiwa," seperti kematian kerabat, sahabat dan orang-orang yang dicintai. "Dan buah-buahan." Yakni, ketika kebun dan ladang itu tidak dapat diolah sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, di sini AAllah Ta'ala berfirman: "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 155-157
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. 2:155) (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan. "Sesungguhnya kami adalah milik Alah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. 2:156) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:157)
SEORANG MUKMIN KETIKA DIUJI IA BERSABAR DAN MENDAPAT PAHALA
Allah Ta'ala mengabarkan bahwa Dia akan memberikan cobaan kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (QS. Muhammad: 31)
Terkadang Allah memberikan ujian berupa kebahagiaan dan terkadang Dia memberikan ujian berupa kesusahan, seperti rasa takut dan kelaparan, sebagaimana Allah berfirman, "Oleh karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan." (QS. An-Nahl: 112)
Ujian pada orang yang sedang dalam keadaan lapar dan takut akan sangat terlihat jelas. Oleh karena itu Dia berfirman, "Pakaian kelaparan dan ketakutan."
Dala ayat ini, Allah 'Azza wa Jalla berfirman, "Dengan sedikit ketakutan dan kelaparan." "Dan kekurangan harta." Yakni hilangnya sebagian harta. "Serta jiwa," seperti kematian kerabat, sahabat dan orang-orang yang dicintai. "Dan buah-buahan." Yakni, ketika kebun dan ladang itu tidak dapat diolah sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu, di sini AAllah Ta'ala berfirman: "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 153-154 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 153-154 (2)
KEHIDUPAN PARA SYUHADA'
Firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup." Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa orang-orang yang mati syahid itu tetap hidup di alam Barzakh dan tetap memperoleh rizki. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Shahiih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada' itu berada di dalam perut burung berwarna hijau yang terbang di Surga ke mana saja yang ia kehendaki. Kemudian ia kembali ke pelita-pelita yang bergantung di bawah 'Arsy. Lalu Rabb-mu melihat mereka kemudian bertanya, 'Apa yang kalian inginkan?' Mereka menjawab, 'Ya Rabb kami, apa yang harus kami inginkan? Sedangkan Engkau telah memberi kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?' Setelah itu Allah Ta'ala kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka. Dan ketika mereka melihat bahwa tidak ada jalan kecuali meminta, maka mereka pun berkata, 'Kami ingin Engkau mengembalikan kami ke dunia, dan dapat berperang kembali di jalan-Mu sehingga kami terbunuh untuk kedua kalinya karena-Mu.' -mereka melakukan hal itu karena mengetahui pahala bagi orang yang mati syahid- Maka Allah Jalla Jalaaluh berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia.'" (591)
Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam asy-Syafi'i, dari Imam Malik, dari az-Zuhri, dari 'Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik, dari ayahnya, ia mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Ruh seorang mukmin itu berwujud burung yang hinggap di pohon Surga, hingga Allah mengembalikannya kepada jasadnya pada hari ia dibangkitkan.'" (592)
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil yang menunjukkan keadaan orang-orang yang beriman secara umum, meskipun penyebutan para syuhada' dikhususkan di dalam al-Qur-an sebagai penghormatan, pemuliaan, dan penghargaan untuk mereka.
===
Catatan Kaki:
591. Muslim (III/1502). [(No. 1887)].
592. Ahmad (III/455). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 2373)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 153-154 (2)
KEHIDUPAN PARA SYUHADA'
Firman Allah Ta'ala: "Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup." Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa orang-orang yang mati syahid itu tetap hidup di alam Barzakh dan tetap memperoleh rizki. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Shahiih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya ruh-ruh para syuhada' itu berada di dalam perut burung berwarna hijau yang terbang di Surga ke mana saja yang ia kehendaki. Kemudian ia kembali ke pelita-pelita yang bergantung di bawah 'Arsy. Lalu Rabb-mu melihat mereka kemudian bertanya, 'Apa yang kalian inginkan?' Mereka menjawab, 'Ya Rabb kami, apa yang harus kami inginkan? Sedangkan Engkau telah memberi kami apa yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu?' Setelah itu Allah Ta'ala kembali mengajukan pertanyaan yang sama kepada mereka. Dan ketika mereka melihat bahwa tidak ada jalan kecuali meminta, maka mereka pun berkata, 'Kami ingin Engkau mengembalikan kami ke dunia, dan dapat berperang kembali di jalan-Mu sehingga kami terbunuh untuk kedua kalinya karena-Mu.' -mereka melakukan hal itu karena mengetahui pahala bagi orang yang mati syahid- Maka Allah Jalla Jalaaluh berfirman: 'Sesungguhnya Aku telah menetapkan bahwa mereka tidak akan kembali ke dunia.'" (591)
Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam asy-Syafi'i, dari Imam Malik, dari az-Zuhri, dari 'Abdurrahman bin Ka'ab bin Malik, dari ayahnya, ia mengatakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Ruh seorang mukmin itu berwujud burung yang hinggap di pohon Surga, hingga Allah mengembalikannya kepada jasadnya pada hari ia dibangkitkan.'" (592)
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil yang menunjukkan keadaan orang-orang yang beriman secara umum, meskipun penyebutan para syuhada' dikhususkan di dalam al-Qur-an sebagai penghormatan, pemuliaan, dan penghargaan untuk mereka.
===
Catatan Kaki:
591. Muslim (III/1502). [(No. 1887)].
592. Ahmad (III/455). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 2373)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 153-154 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 153-154
COBAAN BERAT DALAM MENEGAKKAN KEBENARAN, -pent.
Hai orang-orang yang beriman,jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 1:153) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak meyadarinya. (QS. 2:154)
KEUTAMAAN SABAR DAN SHALAT
Setelah menjelaskan perintah bersyukur, Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menjelaskan makna sabar dan bimbingan untuk memohon pertolongan melalui sabar dan shalat.
Sesungguhnya seorang hamba adakalanya mendapat nikmat kemudian mensyukurinya atau ditimpa bencana tetapi sabar dalam menghadapinya. Dalam sebuah hadits yang dijelaskan dalamkitab Musnad al-Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin itu, tidaklah menetapkan sesuatu melainkan hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya." (589)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjelaskan bahwa sebaik-baik alat bantu dalam menghadapi berbagai musibah adalah kesabaran dan shalat, sebagaimana telah diuraikan dalam firman Allah Ta'ala sebelumnya: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. Al-Baqarah: 45)
Kesabaran itu ada dua macam. Pertama, sabar ketika meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa. Kedua, sabar ketika melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Sabar jenis kedua pahalanya lebih besar, karena inilah yang dimaksud.
Ada pula jenis kesabaran ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Hal ini pun wajib, seperti memohon ampunan dari berbagai perbuatan aib. Sebagaimana dikatakan oleh 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, "Kesabaran terdapat dalam dua pintu: (pertama) sabar dalam menjalankan hal-hal yang dicintai Allah 'Azza wa Jalla walaupun terasa berat bagi jiwa dan raga. Dan (kedua) sabar dalam menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Allah Ta'ala walaupun sangat diinginkan hawa nafsu. Jika seseorang telah melakukan hal itu, maka ia benar-benar termasuk orang-orang sabar yang insya Allah akan memperoleh keselamatan.(590)
===
Catatan Kaki:
589. Muslim (IV/2292). [(No. 2999)].
590. Ibnu Abi Hatim (I/144), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 153-154
COBAAN BERAT DALAM MENEGAKKAN KEBENARAN, -pent.
Hai orang-orang yang beriman,jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 1:153) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak meyadarinya. (QS. 2:154)
KEUTAMAAN SABAR DAN SHALAT
Setelah menjelaskan perintah bersyukur, Allah Subhanahu wa Ta'ala pun menjelaskan makna sabar dan bimbingan untuk memohon pertolongan melalui sabar dan shalat.
Sesungguhnya seorang hamba adakalanya mendapat nikmat kemudian mensyukurinya atau ditimpa bencana tetapi sabar dalam menghadapinya. Dalam sebuah hadits yang dijelaskan dalamkitab Musnad al-Imam Ahmad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin itu, tidaklah menetapkan sesuatu melainkan hal itu baik baginya. Jika mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Dan jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya." (589)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga menjelaskan bahwa sebaik-baik alat bantu dalam menghadapi berbagai musibah adalah kesabaran dan shalat, sebagaimana telah diuraikan dalam firman Allah Ta'ala sebelumnya: "Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. Al-Baqarah: 45)
Kesabaran itu ada dua macam. Pertama, sabar ketika meninggalkan berbagai hal yang diharamkan dan perbuatan dosa. Kedua, sabar ketika melakukan ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Sabar jenis kedua pahalanya lebih besar, karena inilah yang dimaksud.
Ada pula jenis kesabaran ketiga, yaitu kesabaran dalam menerima dan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan. Hal ini pun wajib, seperti memohon ampunan dari berbagai perbuatan aib. Sebagaimana dikatakan oleh 'Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, "Kesabaran terdapat dalam dua pintu: (pertama) sabar dalam menjalankan hal-hal yang dicintai Allah 'Azza wa Jalla walaupun terasa berat bagi jiwa dan raga. Dan (kedua) sabar dalam menjauhi hal-hal yang dibenci oleh Allah Ta'ala walaupun sangat diinginkan hawa nafsu. Jika seseorang telah melakukan hal itu, maka ia benar-benar termasuk orang-orang sabar yang insya Allah akan memperoleh keselamatan.(590)
===
Catatan Kaki:
589. Muslim (IV/2292). [(No. 2999)].
590. Ibnu Abi Hatim (I/144), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 151-152 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (4)
Dalam firman-Nya, "Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku," Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dan dengan rasa syukur itu Dia menjanjikan tambahan kebaikan.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb-mu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Raja al-'Atharidi, ia mengatakan, "'Imran bin Hushain keluar menemui kami dengan mengenakan kain yang terbuat dari sutera. Kami belum pernah melihat ia mengenakannya sebelum dan sesudahnya. Lalu ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Siapa saja yang Allah anugerahkan kenikmatan kepadanya, maka sesungguhnya Dia senang melihat bukti/ dampak nikmat tersebut atas makhluk-Nya.'"
Rauh menyebutkan dengan lafazh:
"Atas hamba-Nya." (588)
===
Catatan Kaki:
588. Ahmad (IV/438). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 1712) dan Misykaatul Mashabiih (no. 4379)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (4)
Dalam firman-Nya, "Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku," Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya dan dengan rasa syukur itu Dia menjanjikan tambahan kebaikan.
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan (ingatlah juga) tatkala Rabb-mu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat)-Ku kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Raja al-'Atharidi, ia mengatakan, "'Imran bin Hushain keluar menemui kami dengan mengenakan kain yang terbuat dari sutera. Kami belum pernah melihat ia mengenakannya sebelum dan sesudahnya. Lalu ia berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Siapa saja yang Allah anugerahkan kenikmatan kepadanya, maka sesungguhnya Dia senang melihat bukti/ dampak nikmat tersebut atas makhluk-Nya.'"
Rauh menyebutkan dengan lafazh:
"Atas hamba-Nya." (588)
===
Catatan Kaki:
588. Ahmad (IV/438). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 1712) dan Misykaatul Mashabiih (no. 4379)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 151-152 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (3)
Disebutkan dalam sebuah hadits shahih:
"Allah Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku dalam sebuah majelis, niscaya Aku akan mengingatnya dalam majelis yang lebih baik darinya." (586)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Wahai anak Adam, jika engkau mengingat-Ku dalam dirimu, maka Aku akan mengingatmu dalam diri-Ku. Dan jika engkau mengingat-Ku di suatu majelis, maka Aku akan mengingatmu di tengah majelis para Malaikat. -Atau Allah berfirman, 'Di tengah majelis yang lebih baik darinya'-. Dan jika engkau mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadamu sehasta. Dan jika engkau mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadamu sedepa. Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatangimu dengan berlari kecil.'"
Hadits ini sanad-sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari. (587)
===
Catatan Kaki:
586. Fat-hul Baari (XIII/395). [Al-Bukhari (no. 7405)].
587. Ahmad (III/138) dan Fat-hul Baari (XIII/521). [Al-Bukhari (no. 7536)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (3)
Disebutkan dalam sebuah hadits shahih:
"Allah Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, niscaya Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku dalam sebuah majelis, niscaya Aku akan mengingatnya dalam majelis yang lebih baik darinya." (586)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Wahai anak Adam, jika engkau mengingat-Ku dalam dirimu, maka Aku akan mengingatmu dalam diri-Ku. Dan jika engkau mengingat-Ku di suatu majelis, maka Aku akan mengingatmu di tengah majelis para Malaikat. -Atau Allah berfirman, 'Di tengah majelis yang lebih baik darinya'-. Dan jika engkau mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadamu sehasta. Dan jika engkau mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadamu sedepa. Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatangimu dengan berlari kecil.'"
Hadits ini sanad-sanadnya shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari. (587)
===
Catatan Kaki:
586. Fat-hul Baari (XIII/395). [Al-Bukhari (no. 7405)].
587. Ahmad (III/138) dan Fat-hul Baari (XIII/521). [Al-Bukhari (no. 7536)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 151-152 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (2)
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka," dan ayat seterusnya. (QS. Ali 'Imran: 164)
Dan Allah mencela orang yang tidak menyadari besarnya nikmat ini, Dia berfirman: "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan." (QS. Ibrahim: 28)
Ibnu 'Abbas mengatakan, "Yakni nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (583)
Oleh karena itu, Allah Ta'ala menghimbau orang-orang yang beriman untuk mengakui nikmat tersebut dan menyambutnya dengan mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Tentang firman Allah Ta'ala: "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu," Mujahid berkata, "Sebagaimana telah Aku lakukan, maka ingatlah kalian kepada-Ku." (584)
Berkaitan dnegan firman Allah 'Azza wa Jalla: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingaat (pula) kepadamu," al-Hasan al-Bashri mengatakan, "(Maksudnya) ingatlah kalian akan apa yang telah Aku wajibkan atas kalian, niscay aAku pun akan mengingat kalian atas apa yang telah Aku tetapkan bagi kalian atas diri-Ku." (585)
===
Catatan Kaki:
583. Al-Bukhari (no. 3977).
584. Ath-Thabari (III/210).
585. Ibnu Abi Hatim (I/141), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152 (2)
Allah Ta'ala berfirman:
"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka," dan ayat seterusnya. (QS. Ali 'Imran: 164)
Dan Allah mencela orang yang tidak menyadari besarnya nikmat ini, Dia berfirman: "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan." (QS. Ibrahim: 28)
Ibnu 'Abbas mengatakan, "Yakni nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam." (583)
Oleh karena itu, Allah Ta'ala menghimbau orang-orang yang beriman untuk mengakui nikmat tersebut dan menyambutnya dengan mengingat dan bersyukur kepada-Nya. Allah berfirman: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Tentang firman Allah Ta'ala: "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu," Mujahid berkata, "Sebagaimana telah Aku lakukan, maka ingatlah kalian kepada-Ku." (584)
Berkaitan dnegan firman Allah 'Azza wa Jalla: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingaat (pula) kepadamu," al-Hasan al-Bashri mengatakan, "(Maksudnya) ingatlah kalian akan apa yang telah Aku wajibkan atas kalian, niscay aAku pun akan mengingat kalian atas apa yang telah Aku tetapkan bagi kalian atas diri-Ku." (585)
===
Catatan Kaki:
583. Al-Bukhari (no. 3977).
584. Ath-Thabari (III/210).
585. Ibnu Abi Hatim (I/141), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 151-152 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan dan mengajarimu al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. 2:151) Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. 2:152)
DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MERUPAKAN NIKMAT YANG SANGAT BESAR SEHINGGA KITA HARUS SENANTIASA MENGINGAT ALLAH DAN BERSYUKUR KEPADA-NYA
Dia Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap nikmat yang telah Dia karuniakan kepada mereka berupa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah Ta'ala kepada mereka secara jelas. Lalu Allah menyucikan mereka dari berbagai keburukan akhlak, kotoran jiwa, dans etiap perbuatan kaum jahiliyah. Allah pun mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju alam terang benderang. Dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), dan mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Padahal sebelumnya mereka hidup dalam kebodohan (jahiliyah) dan tidak mempunyai tata kesopanan dalam berbicara. Berkat risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan perjalanannya yang penuh berkah, mereka berpindah ke derajat para wali dan tingkatan para ulama. Akhirnya mereka menjadi manusia yang ilmunya paling dalam, hatinya paling baik, sikapnya paling bersahaja dan paling jujur dalam ucapannya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 151-152
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan dan mengajarimu al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. 2:151) Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. 2:152)
DIUTUSNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM MERUPAKAN NIKMAT YANG SANGAT BESAR SEHINGGA KITA HARUS SENANTIASA MENGINGAT ALLAH DAN BERSYUKUR KEPADA-NYA
Dia Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap nikmat yang telah Dia karuniakan kepada mereka berupa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah Ta'ala kepada mereka secara jelas. Lalu Allah menyucikan mereka dari berbagai keburukan akhlak, kotoran jiwa, dans etiap perbuatan kaum jahiliyah. Allah pun mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju alam terang benderang. Dia mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur'an) dan al-Hikmah (as-Sunnah), dan mengajarkan kepada mereka apa yang belum mereka ketahui. Padahal sebelumnya mereka hidup dalam kebodohan (jahiliyah) dan tidak mempunyai tata kesopanan dalam berbicara. Berkat risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan perjalanannya yang penuh berkah, mereka berpindah ke derajat para wali dan tingkatan para ulama. Akhirnya mereka menjadi manusia yang ilmunya paling dalam, hatinya paling baik, sikapnya paling bersahaja dan paling jujur dalam ucapannya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 149-150 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 149-150 (2)
HIKMAH PEMINDAHAN KIBLAT
Firman Allah Ta'ala: "Agar tidak ada hujah manusia atas kamu." Yang dimaksud dengan manusia adalah ahlul kitab. Mereka mengetahui bahwa salah satu sifat umat ini adalah menghadap ke arah Ka'bah sebagai kiblat. Jik akeinginan menghadap kiblat (Ka'bah) itu telah hilang dari sifat umat Islam ini, boleh saja mereka menjadikannya sebagai hujjah atas kaum msulimini. Selain itu, hikmah ayat ini adalah agar mereka tidak berhujjah bahwa kaum muslimin sama dengan mereka dalam hal menghadap ke Baitul Maqdis.
Dan tentang firman Allah Ta'ala, "Kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka," maksudnya orang-orang musyrik Quraisy.
Sebagian dari mereka menyampaikan argumentasi yang keji namun terpatahkan, yaitu mereka mengatakan, "Sesungguuhnya orang ini (Muhammad) memandang dirinya berada di atas agama Ibrahim. Jik adia menghadap ke Baitul Maqdis lantaran mengikuti agama Nabi Ibrahim, maka mengapa dia berpaling?"
Jawabnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih bagi Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk menghadap ke Baitul Maqdis pada awalnya karena sebuah hikmah. Dan Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menaati perintah Rabb-nya. Kemudian Allah menyuruh beliau berpaling ke kiblat Ibrahim, yaitu Ka'bah. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menaati Rabb-nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa taat kepada Allah dalam segala keadaan, tidak pernah melanggar perintah-Nya meskipun hanya sekejap mata, sedang umat beliau selalu mengikutinya.
Allah berfirman, "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku." Maksudnya, janganlah kalian takut terhadap hujjah-hujjah yang salah dari orang-orang zhalim yang menyusahkan, tetapi takutlah hanya kepada-Ku saja. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk ditakuti daripada mereka.
Firman Allah, "Dan supaya Aku menyempurnakan nikmat-Ku atasmu," merupakan athaf (sambungan) dari firman Allah sebelumnya, yaitu, "Agar tidak ada hujjah manusia atas kamu," yakni supaya Aku menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian berupa penetapan Ka'bah sebagai kiblat, agar syari'at kalian benar-benar sempurna dari segala sisi. "Dan agar kalian mendapat petunjuk." Yakni, Kami tunjukkan kalian ke jalan yang mana umat lain telah menyimpang darinya, dan Kami khususkan jalan itu hanya untuk kalian. Maka umat ini menjadi umat terbaik dan paling mulia.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 149-150 (2)
HIKMAH PEMINDAHAN KIBLAT
Firman Allah Ta'ala: "Agar tidak ada hujah manusia atas kamu." Yang dimaksud dengan manusia adalah ahlul kitab. Mereka mengetahui bahwa salah satu sifat umat ini adalah menghadap ke arah Ka'bah sebagai kiblat. Jik akeinginan menghadap kiblat (Ka'bah) itu telah hilang dari sifat umat Islam ini, boleh saja mereka menjadikannya sebagai hujjah atas kaum msulimini. Selain itu, hikmah ayat ini adalah agar mereka tidak berhujjah bahwa kaum muslimin sama dengan mereka dalam hal menghadap ke Baitul Maqdis.
Dan tentang firman Allah Ta'ala, "Kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka," maksudnya orang-orang musyrik Quraisy.
Sebagian dari mereka menyampaikan argumentasi yang keji namun terpatahkan, yaitu mereka mengatakan, "Sesungguuhnya orang ini (Muhammad) memandang dirinya berada di atas agama Ibrahim. Jik adia menghadap ke Baitul Maqdis lantaran mengikuti agama Nabi Ibrahim, maka mengapa dia berpaling?"
Jawabnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala memilih bagi Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) untuk menghadap ke Baitul Maqdis pada awalnya karena sebuah hikmah. Dan Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menaati perintah Rabb-nya. Kemudian Allah menyuruh beliau berpaling ke kiblat Ibrahim, yaitu Ka'bah. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga menaati Rabb-nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa taat kepada Allah dalam segala keadaan, tidak pernah melanggar perintah-Nya meskipun hanya sekejap mata, sedang umat beliau selalu mengikutinya.
Allah berfirman, "Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku." Maksudnya, janganlah kalian takut terhadap hujjah-hujjah yang salah dari orang-orang zhalim yang menyusahkan, tetapi takutlah hanya kepada-Ku saja. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk ditakuti daripada mereka.
Firman Allah, "Dan supaya Aku menyempurnakan nikmat-Ku atasmu," merupakan athaf (sambungan) dari firman Allah sebelumnya, yaitu, "Agar tidak ada hujjah manusia atas kamu," yakni supaya Aku menyempurnakan nikmat-Ku atas kalian berupa penetapan Ka'bah sebagai kiblat, agar syari'at kalian benar-benar sempurna dari segala sisi. "Dan agar kalian mendapat petunjuk." Yakni, Kami tunjukkan kalian ke jalan yang mana umat lain telah menyimpang darinya, dan Kami khususkan jalan itu hanya untuk kalian. Maka umat ini menjadi umat terbaik dan paling mulia.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 149-150 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 149-150
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang har dari Rabb-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:149) Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. 2:150)
MENGAPA MASALAH PENASKHAN KIBLAT DISEBUTKAN SEBANYAK TIGA KALI?
Ayat ini merupakan perintah Allah 'Azza wa Jalla yang ketiga untuk menghadap ke Masjidil Haram dari seluruh belahan dunia.
Ada yang mengatakan bahwa hal ini kembali karena berkaitan dengan rangkaian penjelasan sebelum dan sesudahnya. Pertama, firman Allah, "Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai," (QS. Al-Baqarah: 144) sampai firman-Nya, "Dan sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Dia mengabulkan permintaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan memerintahkan beliau untuk menghadap kiblat yang beliau inginkan dan beliau sukai.
Dan pada kesempatan kedua Allah berfirman:
"Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram; Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 149)
Allah menyebutkan bahwa penetapan kiblat ini benar dari Allah. Tingkatannya naik dari perkara yang pertama. Pada perkara pertama urusan pemindahan kiblat ini dikaitkan dengan keinginan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Allah menjelaskan bahwa pemindahan kiblat ini adalah kebenaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan bahwa Allah menyukai dan meridhainya. Dan pada perkara yang terakhir disebutkan hikmah yang mematahkan argumentasi orang-orang yahudi yang menyelisihinya. Mereka berargumentasi dengan kiblat pertama yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menghadap kepadanya. Dan mereka tahu dari Kitab-kitab suci mereka bahwa kiblat akan dipindahkan ke kiblat Ibrahim, yakni ke Ka'bah. Demikian pula ayat ini membungkam hujjah kaum musyrikin Arab, setelah Nabi beralih dari kiblat yahudi ke kiblat Ibrahim yang lebih mulia. Mereka dahulu mengagungkan Ka'bah dan senang jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepadanya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 149-150
Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang har dari Rabb-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:149) Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (QS. 2:150)
MENGAPA MASALAH PENASKHAN KIBLAT DISEBUTKAN SEBANYAK TIGA KALI?
Ayat ini merupakan perintah Allah 'Azza wa Jalla yang ketiga untuk menghadap ke Masjidil Haram dari seluruh belahan dunia.
Ada yang mengatakan bahwa hal ini kembali karena berkaitan dengan rangkaian penjelasan sebelum dan sesudahnya. Pertama, firman Allah, "Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai," (QS. Al-Baqarah: 144) sampai firman-Nya, "Dan sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 144)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan bahwa Dia mengabulkan permintaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan memerintahkan beliau untuk menghadap kiblat yang beliau inginkan dan beliau sukai.
Dan pada kesempatan kedua Allah berfirman:
"Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram; Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Rabb-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 149)
Allah menyebutkan bahwa penetapan kiblat ini benar dari Allah. Tingkatannya naik dari perkara yang pertama. Pada perkara pertama urusan pemindahan kiblat ini dikaitkan dengan keinginan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Allah menjelaskan bahwa pemindahan kiblat ini adalah kebenaran dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan bahwa Allah menyukai dan meridhainya. Dan pada perkara yang terakhir disebutkan hikmah yang mematahkan argumentasi orang-orang yahudi yang menyelisihinya. Mereka berargumentasi dengan kiblat pertama yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menghadap kepadanya. Dan mereka tahu dari Kitab-kitab suci mereka bahwa kiblat akan dipindahkan ke kiblat Ibrahim, yakni ke Ka'bah. Demikian pula ayat ini membungkam hujjah kaum musyrikin Arab, setelah Nabi beralih dari kiblat yahudi ke kiblat Ibrahim yang lebih mulia. Mereka dahulu mengagungkan Ka'bah dan senang jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepadanya.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 148 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 148 (2)
Abul 'Aliyah mengatakan, "Orang-orang yahudi mempunyai kiblat sendiri dan orang-orang nasrani pun mempunyai kiblat sendiri. Dan Allah Ta'ala telah memberikan petunjuk kepada kalian, wahai umat Islam, untuk menghadap ke kiblat yang hakiki." (581)
Hal serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, 'Atha', adh-Dhahhak, ar-Rabi' bin Anas, dan as-Suddi. (582)
Ayat ini serupa dengan firman Allah,
"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali." (QS. Al-Maa-idah: 48)
Dalam hal ini Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Di mana saja kamu berada, Allah pasti akan mengumpulkanmu semua (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Artinya, Allah Ta'ala mampu mengumpulkan kalian dari bumi manapun, meski tubuh dan badan kalian telah bercerai berai.
===
Catatan Kaki:
581. Ibnu Abi Hatim (I/121), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
582. Ibnu Abi Hatim (I/121-122), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 148 (2)
Abul 'Aliyah mengatakan, "Orang-orang yahudi mempunyai kiblat sendiri dan orang-orang nasrani pun mempunyai kiblat sendiri. Dan Allah Ta'ala telah memberikan petunjuk kepada kalian, wahai umat Islam, untuk menghadap ke kiblat yang hakiki." (581)
Hal serupa juga diriwayatkan dari Mujahid, 'Atha', adh-Dhahhak, ar-Rabi' bin Anas, dan as-Suddi. (582)
Ayat ini serupa dengan firman Allah,
"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua kembali." (QS. Al-Maa-idah: 48)
Dalam hal ini Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Di mana saja kamu berada, Allah pasti akan mengumpulkanmu semua (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Artinya, Allah Ta'ala mampu mengumpulkan kalian dari bumi manapun, meski tubuh dan badan kalian telah bercerai berai.
===
Catatan Kaki:
581. Ibnu Abi Hatim (I/121), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
582. Ibnu Abi Hatim (I/121-122), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 148 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 148
Danbagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:148)
TIAP-TIAP UMAT MEMILIKI KIBLAT
Mengenai firman Allah, "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya," al-'Aufi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Yakni masing-masing pemeluk agama." Ia mengatakan bahwa setiap kabilah memiliki kiblat yang mereka ridhai. Dan kiblat Allah adalah ke arah kaum mukminin menghadap." (580)
===
Catatan Kaki:
580. Ath-Thabari (III/193).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 148
Danbagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari Kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:148)
TIAP-TIAP UMAT MEMILIKI KIBLAT
Mengenai firman Allah, "Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya," al-'Aufi meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Yakni masing-masing pemeluk agama." Ia mengatakan bahwa setiap kabilah memiliki kiblat yang mereka ridhai. Dan kiblat Allah adalah ke arah kaum mukminin menghadap." (580)
===
Catatan Kaki:
580. Ath-Thabari (III/193).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 146-147 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 146-147 (2)
Al-Qurthubi berkata, diriwayatkan dari 'Umar bahwa ia berkata kepada 'Abdullah bin Sallam: "Apakah engkau mengenal anakmu sendiri?" Ia menjawab, "Ya, bahkan lebih dari itu. Al-Amin dari langit (Jibril) turun kepada Al-Amin di bumi (Muhammad) dengan karakteristiknya, maka aku pun mengenalinya. Padahal aku tidak tahu apa-apa tentang ibunya." (579)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa meskipun mereka yakin dan mengetahui secara pasti, namun mereka masih juga, "Menyembunyikan kebenaran." Artinya, mereka menyembunyikan sifat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang tertulis dalam Kitab-kitab mereka. "Padahal mereka mengetahui." Selanjutnya Allah Ta'ala meneguhkan dan memberitahukan kepada Nabi-Nya dan uga orang-orang yang beriman bahwa apa yang dibawa oleh Rasul-Nya itu adalah suatu kebenaran yang tidak perlu lagi diragukan. Allah berfirman: "Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."
===
Catatan Kaki:
579. Al-Qurthubi (II/163).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 146-147 (2)
Al-Qurthubi berkata, diriwayatkan dari 'Umar bahwa ia berkata kepada 'Abdullah bin Sallam: "Apakah engkau mengenal anakmu sendiri?" Ia menjawab, "Ya, bahkan lebih dari itu. Al-Amin dari langit (Jibril) turun kepada Al-Amin di bumi (Muhammad) dengan karakteristiknya, maka aku pun mengenalinya. Padahal aku tidak tahu apa-apa tentang ibunya." (579)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa meskipun mereka yakin dan mengetahui secara pasti, namun mereka masih juga, "Menyembunyikan kebenaran." Artinya, mereka menyembunyikan sifat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang tertulis dalam Kitab-kitab mereka. "Padahal mereka mengetahui." Selanjutnya Allah Ta'ala meneguhkan dan memberitahukan kepada Nabi-Nya dan uga orang-orang yang beriman bahwa apa yang dibawa oleh Rasul-Nya itu adalah suatu kebenaran yang tidak perlu lagi diragukan. Allah berfirman: "Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu."
===
Catatan Kaki:
579. Al-Qurthubi (II/163).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 146-147 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 146-147
Orang-orang (yahudi dan nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146) Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)
ORANG-ORANG YAHUDI MENGENAL NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DAN MEREKA MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa orang-orang yang berilmu dari kalangan ahlul kitab mengetahui kebenaran syari'at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana salah seorang di antara mengetahui dan mengenal anaknya sendiri. Orang Arab biasanya mengumpamakan kebenaran akan sesuatu dengan ungkapan tersebut. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada seorang lelaki yang tengah bersama seorang anak kecil: "Apakah ini anakmu?" Laki-laki itu menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, aku bersaksi." Beliau bersabda,
"Sungguh ia tidak akan salah mengenalimu sebagaimana engkau juga tidak akan salah mengenalinya." (578)
===
Catatan Kaki:
578. Ahmad (IV/163). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 1317)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 146-147
Orang-orang (yahudi dan nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (QS. 2:146) Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. 2:147)
ORANG-ORANG YAHUDI MENGENAL NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DAN MEREKA MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa orang-orang yang berilmu dari kalangan ahlul kitab mengetahui kebenaran syari'at yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana salah seorang di antara mengetahui dan mengenal anaknya sendiri. Orang Arab biasanya mengumpamakan kebenaran akan sesuatu dengan ungkapan tersebut. Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada seorang lelaki yang tengah bersama seorang anak kecil: "Apakah ini anakmu?" Laki-laki itu menjawab, "Benar, wahai Rasulullah, aku bersaksi." Beliau bersabda,
"Sungguh ia tidak akan salah mengenalimu sebagaimana engkau juga tidak akan salah mengenalinya." (578)
===
Catatan Kaki:
578. Ahmad (IV/163). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 1317)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 145 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 145 (2)
Oleh karena itu, dalam surat al-Baqarah ini Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu."
Adapun firman-Nya, "Dan kamu tidak akan mengikuti kiblat mereka," merupakan pemberitahuan tentang kesungguhan dan keteguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Sebagaimana mereka berpegang teguh pada pendapat dan hawa nafsu mereka, maka beliau pun sangat berpegang teguh pada perintah Allah Ta'ala, mentaati perintah-Nya, dan mengikuti keridhaan-Nya. Beliau tidak akan pernah mengikuti hawa nafsu mereka dalam segala hal. Beliau pernah menghadap ke arah Baitul Maqdis bukan karena ia merupakan kiblat orang-orang yahudi, namun karena hal itu merupakan perintah Allah Ta'ala.
Kemudian Allah memperingatkan agar tidak membelot dari kebenaran yang telah diyakini menuju kepada kesesatan, karena hujjah bagi orang yang meyakini lebih tegak daripada yang lainnya. Dan oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman yang ditujukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga umatnya: "Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti mereka setalh ilmu datang kepadamu, sesungguhnya kamu jika demikian termasuk golongan orang-orang yang zhalim."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 145 (2)
Oleh karena itu, dalam surat al-Baqarah ini Allah Ta'ala berfirman: "Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu."
Adapun firman-Nya, "Dan kamu tidak akan mengikuti kiblat mereka," merupakan pemberitahuan tentang kesungguhan dan keteguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Sebagaimana mereka berpegang teguh pada pendapat dan hawa nafsu mereka, maka beliau pun sangat berpegang teguh pada perintah Allah Ta'ala, mentaati perintah-Nya, dan mengikuti keridhaan-Nya. Beliau tidak akan pernah mengikuti hawa nafsu mereka dalam segala hal. Beliau pernah menghadap ke arah Baitul Maqdis bukan karena ia merupakan kiblat orang-orang yahudi, namun karena hal itu merupakan perintah Allah Ta'ala.
Kemudian Allah memperingatkan agar tidak membelot dari kebenaran yang telah diyakini menuju kepada kesesatan, karena hujjah bagi orang yang meyakini lebih tegak daripada yang lainnya. Dan oleh karena itulah Allah Ta'ala berfirman yang ditujukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan juga umatnya: "Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti mereka setalh ilmu datang kepadamu, sesungguhnya kamu jika demikian termasuk golongan orang-orang yang zhalim."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 145 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 145
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah ilmu datang kepadamu, sesungguhnya kamu jika demikian termasuk golongan orang-orang yang zhalim. (QS. 2:145)
KEINGKARAN DAN PENENTANGAN KAUM YAHUDI
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang kekufuran, keingkaran dan penentangan orang-orang yahudi terhadap keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mereka ketahui. Dan seandainya beliau mengemukakan semua dalil yang menunjukkan kebenaran apa yang beliau bawa, niscaya mereka tidak akan mengikutinya dan tidak akan meninggalkan keinginan hawa nafsu mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabb-mu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih." (QS. Yunus: 96-97)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 145
Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah ilmu datang kepadamu, sesungguhnya kamu jika demikian termasuk golongan orang-orang yang zhalim. (QS. 2:145)
KEINGKARAN DAN PENENTANGAN KAUM YAHUDI
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang kekufuran, keingkaran dan penentangan orang-orang yahudi terhadap keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang mereka ketahui. Dan seandainya beliau mengemukakan semua dalil yang menunjukkan kebenaran apa yang beliau bawa, niscaya mereka tidak akan mengikutinya dan tidak akan meninggalkan keinginan hawa nafsu mereka. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabb-mu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan adzab yang pedih." (QS. Yunus: 96-97)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 144 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144 (3)
MASALAH PENGALIHAN KIBLAT TELAH DIKETAHUI OLEH ORANG-ORANG YAHUDI
Firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb mereka." Maksudnya, orang-orang yahudi yang menolak pengalihankiblat kalian ke Ka'bah dan menghadapkanmu kepadanya. Pengetahuan mereka berdasarkan keterangan dalam Kitab-kitab mereka dari para Nabi mereka tentang sifat dan karakter Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya, serta kekhususan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, yaitu syari'at yang sempurna dan agung. Namun, ahlul kitab berusaha untuk saling menyembunyikan hal itu di antara mereka disebabkan karena kedengkian, kekufuran, dan keangkuhan. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla mengancam mereka melalui firman-Nya, "Dan sekali-kali Allah tidak akan lalai terhadap apa yang mereka kerjakan."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144 (3)
MASALAH PENGALIHAN KIBLAT TELAH DIKETAHUI OLEH ORANG-ORANG YAHUDI
Firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb mereka." Maksudnya, orang-orang yahudi yang menolak pengalihankiblat kalian ke Ka'bah dan menghadapkanmu kepadanya. Pengetahuan mereka berdasarkan keterangan dalam Kitab-kitab mereka dari para Nabi mereka tentang sifat dan karakter Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya, serta kekhususan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah Ta'ala kepadanya, yaitu syari'at yang sempurna dan agung. Namun, ahlul kitab berusaha untuk saling menyembunyikan hal itu di antara mereka disebabkan karena kedengkian, kekufuran, dan keangkuhan. Oleh karena itu, Allah 'Azza wa Jalla mengancam mereka melalui firman-Nya, "Dan sekali-kali Allah tidak akan lalai terhadap apa yang mereka kerjakan."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 144 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144 (2)
APAKAH KIBLAT ADALAH KA'BAH ITU SENDIRI ATAUKAH YANG DIMAKSUD ADALAH ARAH KA'BAH?
mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjdil Haram," al-hakim meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan, "Syathrah berarti menghadap ke arahnya." (576) Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, tetapi Imam al-Bukahri dan Muslim tidak meriwayatkannya.
Ini pun merupakan pendapat Abu 'Aliyah, Mujahid, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Qatadah, ar-Rabi' bin Anas, dan lain-lain. (577)
Dan firman-Nya, "Dan di mana saja kamu berada, mak apalingkanlah wajahmu ke arahnya." Allah Ta'ala memerintahkan agar menghadap ke arah Ka'bah dari setiap penjuru bumi, baik timur maupun barat, utara maupun selatan, (kecuali bagi orang yang melihat Ka'bah secara langsung, dia harus menghadap langsung ke Ka'bah, -pent). Dia tidak mengecualikan (hukum tersebut) sedikit pun, selain: (Pertama) shalat sunnah dalam keadaan musafir. Shalat sunnah itu boleh dikerjakan dengan menghadap ke arah maa saja kendaraannya menghadap . Adapun hatinya harus tetap menghadap ke Ka'bah. (Kedua) shalat dalam kondisi perang berkecamuk. Seseorang dibolehkan mengerjakan shalat dalam keadaan bagaimana pun. (ketiga) shalat yang dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui arah kiblat. Ia boleh berijtihad untuk menentukannya, meskipun pada hakekatnya ia keliru, karen Allah Ta'ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.
===
Catatan Kaki:
576. Al-Hakim (II/269).
577. Ibnu Abi Hatim (I/ 107-109), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144 (2)
APAKAH KIBLAT ADALAH KA'BAH ITU SENDIRI ATAUKAH YANG DIMAKSUD ADALAH ARAH KA'BAH?
mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjdil Haram," al-hakim meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia mengatakan, "Syathrah berarti menghadap ke arahnya." (576) Al-Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, tetapi Imam al-Bukahri dan Muslim tidak meriwayatkannya.
Ini pun merupakan pendapat Abu 'Aliyah, Mujahid, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Qatadah, ar-Rabi' bin Anas, dan lain-lain. (577)
Dan firman-Nya, "Dan di mana saja kamu berada, mak apalingkanlah wajahmu ke arahnya." Allah Ta'ala memerintahkan agar menghadap ke arah Ka'bah dari setiap penjuru bumi, baik timur maupun barat, utara maupun selatan, (kecuali bagi orang yang melihat Ka'bah secara langsung, dia harus menghadap langsung ke Ka'bah, -pent). Dia tidak mengecualikan (hukum tersebut) sedikit pun, selain: (Pertama) shalat sunnah dalam keadaan musafir. Shalat sunnah itu boleh dikerjakan dengan menghadap ke arah maa saja kendaraannya menghadap . Adapun hatinya harus tetap menghadap ke Ka'bah. (Kedua) shalat dalam kondisi perang berkecamuk. Seseorang dibolehkan mengerjakan shalat dalam keadaan bagaimana pun. (ketiga) shalat yang dilakukan oleh orang yang tidak mengetahui arah kiblat. Ia boleh berijtihad untuk menentukannya, meskipun pada hakekatnya ia keliru, karen Allah Ta'ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.
===
Catatan Kaki:
576. Al-Hakim (II/269).
577. Ibnu Abi Hatim (I/ 107-109), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 144 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144
Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2: 144)
PERKARA YANG PERTAMA DINASKH DALAM AL-QUR-AN ADALAH MASALAH KIBLAT
'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Perkara yang pertama kali dinask (dihapus hukumnya) di dalam al-Qur-an adalah masalah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada waktu itu mayoritas penduduknya adalah yahudi. Maka Allah Ta'ala memerintahkan untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Orang-orang yahudi pun merasa senang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap ke Baitul Maqdis selama sekitar belasan bulan, padahal beliau sendiri lebih menyukai (untuk menghadapkan wajah ke) kiblat Ibrahim. Karena itu, beliau berdo'a memohon kepada Allah sambil menengadahkan wajahnya ke langit, maka Allah Ta'ala pun menurunkan ayat:
"Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadahkan ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya."
Hal itu menyebabkan orang-orang yahudi menjadi goncang seraya mengatakan, "'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat.'" (QS. Al-Baqarah: 142) (575)
Dan Allah berfirman: "Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)
Dia juga berfirman: "Dan Kami tidak mennjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot." (QS. Al-Baqarah: 143)
===
Catatan Kaki:
575. Ibnu Abi Hatim (I/103), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 144
Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (yahudi dan nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. 2: 144)
PERKARA YANG PERTAMA DINASKH DALAM AL-QUR-AN ADALAH MASALAH KIBLAT
'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Perkara yang pertama kali dinask (dihapus hukumnya) di dalam al-Qur-an adalah masalah kiblat. Hal itu terjadi ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Pada waktu itu mayoritas penduduknya adalah yahudi. Maka Allah Ta'ala memerintahkan untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Orang-orang yahudi pun merasa senang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap ke Baitul Maqdis selama sekitar belasan bulan, padahal beliau sendiri lebih menyukai (untuk menghadapkan wajah ke) kiblat Ibrahim. Karena itu, beliau berdo'a memohon kepada Allah sambil menengadahkan wajahnya ke langit, maka Allah Ta'ala pun menurunkan ayat:
"Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadahkan ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya."
Hal itu menyebabkan orang-orang yahudi menjadi goncang seraya mengatakan, "'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat.'" (QS. Al-Baqarah: 142) (575)
Dan Allah berfirman: "Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)
Dia juga berfirman: "Dan Kami tidak mennjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot." (QS. Al-Baqarah: 143)
===
Catatan Kaki:
575. Ibnu Abi Hatim (I/103), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (11) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (11)
"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "Maksudnya, (Allah tidak akan menyia-nyiakan) shalat yang kalian lakukan dengan menghadap kiblat pertama (Baitul Maqdis), dan pembenaran kalian terhadap Nabi kalian, serta ketaatan kalian dalam mengikutinya untuk menghadap ke kiblat yang lain (Ka'bah). Tegasnya, Dia akan memberikan pahala atas semua itu." "Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (573)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
"Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah melihat seorang tawanan wanita yang terpisahkan dari bayinya. Setiap kali ia mendapatkan bayi tawanan lainnya, ia langsung mengambil dan mendekapnya ke dadanya, dan ia terus berkeliling mencari anaknya. Tatkala ia menemukan anaknya, maka ia mendekapnya, kemudian menyusuinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda, 'Bagaimana menurut kalian, apakah wanita ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api, padahal ia mampu untuk tidak melemparkannya?' Para Sahabat pun menjawab, 'Tidak, wahai Rasulullah.' Lalu beliau pun bersabda, 'Demi Allah, sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.'" (574)
===
Catatan Kaki:
573. Ibnu Abi Hatim 9I/99), tahqiq DR. Al-Ghamidi.
574. Muslim (IV/2109). [Al-Bukhari (no. 5999), Muslim (no. 2754), dengan perbedaan lafazh].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (11)
"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "Maksudnya, (Allah tidak akan menyia-nyiakan) shalat yang kalian lakukan dengan menghadap kiblat pertama (Baitul Maqdis), dan pembenaran kalian terhadap Nabi kalian, serta ketaatan kalian dalam mengikutinya untuk menghadap ke kiblat yang lain (Ka'bah). Tegasnya, Dia akan memberikan pahala atas semua itu." "Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (573)
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
"Sesungguhnya Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah melihat seorang tawanan wanita yang terpisahkan dari bayinya. Setiap kali ia mendapatkan bayi tawanan lainnya, ia langsung mengambil dan mendekapnya ke dadanya, dan ia terus berkeliling mencari anaknya. Tatkala ia menemukan anaknya, maka ia mendekapnya, kemudian menyusuinya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun bersabda, 'Bagaimana menurut kalian, apakah wanita ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api, padahal ia mampu untuk tidak melemparkannya?' Para Sahabat pun menjawab, 'Tidak, wahai Rasulullah.' Lalu beliau pun bersabda, 'Demi Allah, sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.'" (574)
===
Catatan Kaki:
573. Ibnu Abi Hatim 9I/99), tahqiq DR. Al-Ghamidi.
574. Muslim (IV/2109). [Al-Bukhari (no. 5999), Muslim (no. 2754), dengan perbedaan lafazh].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (10) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (10)
Oleh karena itu, orang-orang yang teguh dalam membenarkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengikuti beliau, serta menghadapkan wajah sebagaimana yang Allah perintahkan tanpa keraguan sedikit pun berasal dari para tokoh Sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa as-saabiquunal awwaluun dari kalangan Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan menghadapdua kiblat (Baitul Maqdis dan Ka'bah).
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu 'Umar tentang tafsir ayat ini, ia mengatakan, "Ketika orang-orang sedang mengerjakan shalat Shubuh di masjid Quba', tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya berkata, 'Telah diturunkan ayat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan beliau diperintahkan untuk menghadap Ka'bah. Maka mereka memutar arah dan menghadap Ka'bah.'" (568) Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (569) dan at-Tirmidzi. Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan bahwa mereka (ketika itu) sedang ruku', lalu mereka memutar arah menghadap Ka'bah dan mereka tetap dalam keadaan ruku'. (570) Imam Muslim juga meriwayatkan hadits yang serupa dari Sahabat Anas. (571)
Ini menunjukkan sempurnanya ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya serta ketundukan mereka terhadap perintah-perintah Allah عزوجل, semoga Allah meridhai mereka.
Selanjutnya firman Allah Ta'ala, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Artinya, Allah tidak menyia-nyiakan shalat kalian ketika masih menghadap Baitul Maqdis. Pahalanya tidak akan disia-siakan di sisi Allah.
Dalam kitab Shahiih (al-Bukhari), diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ishaq as-Sabi'i, dari al-Bara', ia mengatakan, "Beberapa orang yang telah meninggal dunia, sedangkan mereka shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Maka para Sahabat menanyakan tentang keadaan mereka dalam keadaan tersebut. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Hadits ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas, dan ia menshahihkannya. (572)
===
Catatan Kaki:
568. Fat-hul Baari (VIII/22). [Al-Bukhari (no. 4218)].
569. Muslim (I/375). [No. 526].
570. Tuhfatul Ahwadzi (VIII/300). [At-Tirmidzi (no. 2962)].
571. Muslim (I/375). [No. 527].
572. Fat-hul Baari (VIII/20), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/300). [Al-Bukhari (no. 4486), at-Tirmidzi (no. 2964)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (10)
Oleh karena itu, orang-orang yang teguh dalam membenarkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan mengikuti beliau, serta menghadapkan wajah sebagaimana yang Allah perintahkan tanpa keraguan sedikit pun berasal dari para tokoh Sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa as-saabiquunal awwaluun dari kalangan Muhajirin dan Anshar adalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan menghadapdua kiblat (Baitul Maqdis dan Ka'bah).
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu 'Umar tentang tafsir ayat ini, ia mengatakan, "Ketika orang-orang sedang mengerjakan shalat Shubuh di masjid Quba', tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya berkata, 'Telah diturunkan ayat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan beliau diperintahkan untuk menghadap Ka'bah. Maka mereka memutar arah dan menghadap Ka'bah.'" (568) Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim (569) dan at-Tirmidzi. Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan bahwa mereka (ketika itu) sedang ruku', lalu mereka memutar arah menghadap Ka'bah dan mereka tetap dalam keadaan ruku'. (570) Imam Muslim juga meriwayatkan hadits yang serupa dari Sahabat Anas. (571)
Ini menunjukkan sempurnanya ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya serta ketundukan mereka terhadap perintah-perintah Allah عزوجل, semoga Allah meridhai mereka.
Selanjutnya firman Allah Ta'ala, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Artinya, Allah tidak menyia-nyiakan shalat kalian ketika masih menghadap Baitul Maqdis. Pahalanya tidak akan disia-siakan di sisi Allah.
Dalam kitab Shahiih (al-Bukhari), diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ishaq as-Sabi'i, dari al-Bara', ia mengatakan, "Beberapa orang yang telah meninggal dunia, sedangkan mereka shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Maka para Sahabat menanyakan tentang keadaan mereka dalam keadaan tersebut. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu." Hadits ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dari Ibnu 'Abbas, dan ia menshahihkannya. (572)
===
Catatan Kaki:
568. Fat-hul Baari (VIII/22). [Al-Bukhari (no. 4218)].
569. Muslim (I/375). [No. 526].
570. Tuhfatul Ahwadzi (VIII/300). [At-Tirmidzi (no. 2962)].
571. Muslim (I/375). [No. 527].
572. Fat-hul Baari (VIII/20), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/300). [Al-Bukhari (no. 4486), at-Tirmidzi (no. 2964)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (9) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (9)
DI ANTARA HIKMAH PENGALIHAN KIBLAT
"Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah." Artinya, Allah عزوجل seakan-akan berfirman, "Hai Muhammad, pertama kali Kami mensyari'atkan kepadamu untuk menghadap ke Baitul Maqdis, lalu Kami palingkan engkau darinya menuju Ka'bah, agar tamapk jelas siapa saja orang yang mengikutimu dan mentaatimu serta menghadap bersamamu ke mana saja engkau menghadap, "dan siapa yang membelot," maksudnya murtad dari agamanya. Dan sungguh pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah itu terasa sangat berat bagi mereka, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta'ala ke dalam hatinya serta meyakini kebenaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan apa yang dibawanya adalah benar, tidak ada keraguan padanya. Dan bahwa Allah عزوجل dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki dan memberi keputusan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Dia berhak membebani hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dan juga menghapuskan apa yang Dia kehendaki. Dia mempunyai hikmah yang sangat sempurna dan hujjah yang sangat kuat dalam semua itu. Berbeda dengan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, yang setiap kali terjadi suatu persoalan, timbullah keraguan dalam hatinya, sebagaimana hal itu menimbulkan keyakinan dan pembenaran dalam hati orang-orang yang beriman. Sebagaimana AAllah Ta'ala berfirman:
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat itu menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada)." (QS. At-Taubah: 124-125)
Allah juga berfirman:
"Dan Kami turunkan dari al-Qur-an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur-an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian." (QS. Al-Israa': 82)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (9)
DI ANTARA HIKMAH PENGALIHAN KIBLAT
"Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah." Artinya, Allah عزوجل seakan-akan berfirman, "Hai Muhammad, pertama kali Kami mensyari'atkan kepadamu untuk menghadap ke Baitul Maqdis, lalu Kami palingkan engkau darinya menuju Ka'bah, agar tamapk jelas siapa saja orang yang mengikutimu dan mentaatimu serta menghadap bersamamu ke mana saja engkau menghadap, "dan siapa yang membelot," maksudnya murtad dari agamanya. Dan sungguh pengalihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah itu terasa sangat berat bagi mereka, kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Ta'ala ke dalam hatinya serta meyakini kebenaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan apa yang dibawanya adalah benar, tidak ada keraguan padanya. Dan bahwa Allah عزوجل dapat berbuat apa saja yang Dia kehendaki dan memberi keputusan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Dia berhak membebani hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki dan juga menghapuskan apa yang Dia kehendaki. Dia mempunyai hikmah yang sangat sempurna dan hujjah yang sangat kuat dalam semua itu. Berbeda dengan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, yang setiap kali terjadi suatu persoalan, timbullah keraguan dalam hatinya, sebagaimana hal itu menimbulkan keyakinan dan pembenaran dalam hati orang-orang yang beriman. Sebagaimana AAllah Ta'ala berfirman:
"Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surat itu menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambahlah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada)." (QS. At-Taubah: 124-125)
Allah juga berfirman:
"Dan Kami turunkan dari al-Qur-an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Qur-an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian." (QS. Al-Israa': 82)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (8) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (8)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari AAbul Aswad, ia mengatakan, 'Aku pernah datang ke Madinah dan di sana sedang berjangkit penyakit yang menyerang banyak orang, dankorban pun berjatuhan dengan cepat. Lalu aku duduk di dekat 'Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, kemudian ada jenazah yang melintas, lalu jenazah itu dipuji dengan kebaikan. 'Umar berkata, "Pasti, pasti." Kemudian jenazah lain pun melintas, dan jenazah itu disebutkan dengan keburukan, lalu 'Umar berkata, "Pasti." Setelah itu Abu Aswad bertanya kepada 'Umar bin al-Khaththab: "Ya, Amirul Mukminin, apa yang pasti itu?" 'Umar menjawab, "Aku mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم:
'Orang muslim mana pun yang diberikan kesaksian oleh empat orang bahwa ia baik, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga.' Kami bertanya, 'Juga tiga orang?' Beliau menjawab, 'Ya, meski hanya tiga orang.' Kami pun bertanya, lanjut 'Umar: 'Juga du aorang?' Beliau pun menjawab, 'Ya, termasuk dua orang.'" 'Umar lalu berkata: "Kemudian kami tidak menanyakan tentang satu orang." (566)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi, dana n-Nasa-i. (567)
===
Catatan Kaki:
566. Ahmad (I/21).
567. Fat-hul Baari (III/271), Tuhfatul Ahwadzi (IV/166) dan an-Nasa-i (IV/51). [Al-Bukhari (no. 1368), at-Tirmidzi (no. 1059), an-Nasa-i (no. 1934)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (8)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari AAbul Aswad, ia mengatakan, 'Aku pernah datang ke Madinah dan di sana sedang berjangkit penyakit yang menyerang banyak orang, dankorban pun berjatuhan dengan cepat. Lalu aku duduk di dekat 'Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, kemudian ada jenazah yang melintas, lalu jenazah itu dipuji dengan kebaikan. 'Umar berkata, "Pasti, pasti." Kemudian jenazah lain pun melintas, dan jenazah itu disebutkan dengan keburukan, lalu 'Umar berkata, "Pasti." Setelah itu Abu Aswad bertanya kepada 'Umar bin al-Khaththab: "Ya, Amirul Mukminin, apa yang pasti itu?" 'Umar menjawab, "Aku mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم:
'Orang muslim mana pun yang diberikan kesaksian oleh empat orang bahwa ia baik, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga.' Kami bertanya, 'Juga tiga orang?' Beliau menjawab, 'Ya, meski hanya tiga orang.' Kami pun bertanya, lanjut 'Umar: 'Juga du aorang?' Beliau pun menjawab, 'Ya, termasuk dua orang.'" 'Umar lalu berkata: "Kemudian kami tidak menanyakan tentang satu orang." (566)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi, dana n-Nasa-i. (567)
===
Catatan Kaki:
566. Ahmad (I/21).
567. Fat-hul Baari (III/271), Tuhfatul Ahwadzi (IV/166) dan an-Nasa-i (IV/51). [Al-Bukhari (no. 1368), at-Tirmidzi (no. 1059), an-Nasa-i (no. 1934)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (7) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (7)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan seorang Nabi bersama dua orang atau lebih. Lalu diserukan kepada kaumnya: 'Apakah dia telah menyampaikan (risalah) kepada kalian?' Mereka menjawab, 'Tidak.' lalu ditanyakan kepada Nabi tersebut: 'Apakah engkau telah menyampaikan risalah ini kepada kaummu?' Nabi itu menjawab, 'Ya, sudah.' Maka dikatakan: 'Siapa yang menjadi saksimu?' Nabi itu menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Kemudian diserukan kepada Muhammad dan umatnya: 'Apakah Nabi ini telah menyampaikan risalah kepada kaumnya?' Maka mereka menjawab, 'Ya.' Lalu dikatakan: 'Apa ilmu kalian?' Mereka menjawab, 'Telah datang kepada kami Nabi kami صلى الله عليه وسلم dan mengabarkan kepada kami bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah.' Inilah yang dimaksud dengan firman Allah عزوجل: "Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu ummatan wasathan.' Beliau mengatakan, '(Maksud wasathan), yakni adil.' 'Agar kamu menjadikan saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu.'" (565)
===
Catatan Kaki:
565. Ahmad (III/58). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 8033)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (7)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Pada hari Kiamat kelak akan didatangkan seorang Nabi bersama dua orang atau lebih. Lalu diserukan kepada kaumnya: 'Apakah dia telah menyampaikan (risalah) kepada kalian?' Mereka menjawab, 'Tidak.' lalu ditanyakan kepada Nabi tersebut: 'Apakah engkau telah menyampaikan risalah ini kepada kaummu?' Nabi itu menjawab, 'Ya, sudah.' Maka dikatakan: 'Siapa yang menjadi saksimu?' Nabi itu menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Kemudian diserukan kepada Muhammad dan umatnya: 'Apakah Nabi ini telah menyampaikan risalah kepada kaumnya?' Maka mereka menjawab, 'Ya.' Lalu dikatakan: 'Apa ilmu kalian?' Mereka menjawab, 'Telah datang kepada kami Nabi kami صلى الله عليه وسلم dan mengabarkan kepada kami bahwa para Rasul telah menyampaikan risalah.' Inilah yang dimaksud dengan firman Allah عزوجل: "Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu ummatan wasathan.' Beliau mengatakan, '(Maksud wasathan), yakni adil.' 'Agar kamu menjadikan saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu.'" (565)
===
Catatan Kaki:
565. Ahmad (III/58). [Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani رحمه الله dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 8033)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (6) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (6)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Pada hari Kiamat, Nuh عليه السلام akan dipanggil dan ditanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?' Nuh menjawab, 'Sudah.' Kemudian kaumnya diseru dan ditanya: 'Apakah Nuh telah menyampaikan (risalahnya) kepada kalian?' Mereka pun menjawab, 'Tidak ada pemberi peringatan dan tidak ada seorang pun yang datang kepada kami.' Kemudian Nabi Nuh ditanya: 'Siapakah yang dapat bersaksi untukmu?' Nuh menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Yang demikian itulah firman Allah, 'Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan.' Beliau bersabda, 'Al-wasath berarti adil. Llau kalian diseru dan diminta memberi kesaksian bagi Nuh tentang penyampaian risalah. Lalu aku pun memberikan kesaksian atas diri kalian.'" (563)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. (564)
===
563. Ahmad (III/32).
564. Fat-hul Baari (VIII/21), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/297), an-Nasa-i dalam al-Kubra (VI/292) dan Ibnu Majah (II/1432). [Al-Bukhari (no. 3339), at-Tirmidzi (no. 2961), Ibnu Majah (no. 4282)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (6)
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Pada hari Kiamat, Nuh عليه السلام akan dipanggil dan ditanya: 'Apakah engkau telah menyampaikan (risalah)?' Nuh menjawab, 'Sudah.' Kemudian kaumnya diseru dan ditanya: 'Apakah Nuh telah menyampaikan (risalahnya) kepada kalian?' Mereka pun menjawab, 'Tidak ada pemberi peringatan dan tidak ada seorang pun yang datang kepada kami.' Kemudian Nabi Nuh ditanya: 'Siapakah yang dapat bersaksi untukmu?' Nuh menjawab, 'Muhammad dan umatnya.' Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, 'Yang demikian itulah firman Allah, 'Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan.' Beliau bersabda, 'Al-wasath berarti adil. Llau kalian diseru dan diminta memberi kesaksian bagi Nuh tentang penyampaian risalah. Lalu aku pun memberikan kesaksian atas diri kalian.'" (563)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. (564)
===
563. Ahmad (III/32).
564. Fat-hul Baari (VIII/21), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/297), an-Nasa-i dalam al-Kubra (VI/292) dan Ibnu Majah (II/1432). [Al-Bukhari (no. 3339), at-Tirmidzi (no. 2961), Ibnu Majah (no. 4282)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (5)
KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
Allah Ta'ala berfirman: "Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat yang adil dan jug apilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu."
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengubah kiblat kalian ke kiblat Ibrahim عليه السلام (Ka'bah). Kami pilih kiblat itu untuk kalian supaya Kami menjadikan kalian sebagai umat pilihan, dan pada hari Kiamat kelak kalian akan menjadi saksi atas umat-umat yang lain, karena seluruh umat mengakui keutamaan kalian."
Maksud kata wasath di sini adalh pilihan yang terbaik, seperti dalam ungkapan, "قُرَيْشٌ أَوْسَطُ الْعَرَبِ نَسَبًاوَدَارً (Quraisy adalah suku Arab pilihan dalam nasab maupun tempat tinggal)." Artinya, yang terbaik. Rasulullah صلى الله عليه وسلم wasathan fii qaumihi, artinya, beliau adalah orang yang nasabnya paling baik dan paling mulia.
Demikian juga kalimat shalat Wustha, yang merupakan shalat terbaik, yaitu shalat 'Ashar, sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab shahih dan kitab-kitab hadits lainnya.
Ketika Allah سبحانه وتعالى menjadikan umat ini sebagai ummatan wasathan, maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari'at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan faham yang paling jelas.
Sebagaimana firman-Nya,
"Dia telah memilihmu dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur-an) itu, supaya Rasul itu menjadi saksi atasmu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia." (QS. Al-Hajj: 78)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (5)
KEUTAMAAN UMAT MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم
Allah Ta'ala berfirman: "Dan demikian juga Kami telah menjadikanmu (umat Islam) umat yang adil dan jug apilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu."
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Kami telah mengubah kiblat kalian ke kiblat Ibrahim عليه السلام (Ka'bah). Kami pilih kiblat itu untuk kalian supaya Kami menjadikan kalian sebagai umat pilihan, dan pada hari Kiamat kelak kalian akan menjadi saksi atas umat-umat yang lain, karena seluruh umat mengakui keutamaan kalian."
Maksud kata wasath di sini adalh pilihan yang terbaik, seperti dalam ungkapan, "قُرَيْشٌ أَوْسَطُ الْعَرَبِ نَسَبًاوَدَارً (Quraisy adalah suku Arab pilihan dalam nasab maupun tempat tinggal)." Artinya, yang terbaik. Rasulullah صلى الله عليه وسلم wasathan fii qaumihi, artinya, beliau adalah orang yang nasabnya paling baik dan paling mulia.
Demikian juga kalimat shalat Wustha, yang merupakan shalat terbaik, yaitu shalat 'Ashar, sebagaimana ditegaskan dalam kitab-kitab shahih dan kitab-kitab hadits lainnya.
Ketika Allah سبحانه وتعالى menjadikan umat ini sebagai ummatan wasathan, maka Dia memberikan kekhususan kepadanya dengan syari'at yang paling sempurna, jalan yang paling lurus, dan faham yang paling jelas.
Sebagaimana firman-Nya,
"Dia telah memilihmu dan Dia tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur-an) itu, supaya Rasul itu menjadi saksi atasmu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas seluruh manusia." (QS. Al-Hajj: 78)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (4)
Ketika hal itu terjadi, hati sebagian orang dari kalangan munafik dan orang yang ragu-ragu dan kafir dari kalangan yahudi semakiin goncang, menyimpang dari petunjuk, dan terombang-ambing dalam kebimbangan. Mereka mengatakan, "Apa yang membuat mereka berpaling dari kiblat mereka dahulu?" Yakni mereka mengatakan, "Mengapa mereka terkadang menghadap ke sana dan terkadang menghadap ke sini?" Lalu Allah menurunkan jawabannya: "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat." Yakni, hukum, pengaturan dan perintah adalah hak Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang berfirman: "Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)
Dan Dia-lah yang berfirman: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 177) Yakni yang dituntut dalam setiap kondisi adalah melaksanakan perintah Allah ke mana pun wajah kita menghadap. Ketaatan adalah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah. Meskipun kita menghadapkan wajah kita berkali-kali ke berbagai arah setiap hari. Kita adalah hamba-Nya, dalam pengaturan dan pengurusan-Nya. Ke mana pun wajah kita menghadap, Allah سبحانه وتعالى senantiasa memperhatikan hamba dan Rasul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم dan umat beliau. Dia-lah yang menunjuki mereka kepada kiblat Ibrahim Khaliilur Rahmaan dan membuat mereka mengarahkan wajah ke Ka'bah yang dibangun atas Nama-Nya Yang Mahatinggi, tiada sekutu bagi-Nya. itulah rumah Allah yang paling mulia di atas muka bumi. Dan yang membangun Ka'bah ini adalah Ibrahim al-Khalil عليه السلام. Oleh karena itu Allah berfirman: "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus."
Imam Ahmad telah meriwayatkann dari 'Aisyah رضي الله عنهما, ia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Sesungguhnya mereka (ahli kitab) tidaklah dengki kepada kita karena sesuatu, sebagaimana kedengkian mereka kepada kita karena hari Jum'at yang Allah tunjukkan kita kepadanya sementara mereka disesatkan darinya. Dan juga karena kiblat yang Allah tunjukkan kepada kita sementara mereka disesatkan darinya. Dan juga karena ucapan kita: "Aamiin" di belakang imam ketika shalat." (562)
===
Catatan Kaki:
562. Ahmad (VI/134). [komentar Syaikh Syu'aib al-Arna-uth حفظه الله: "Hadits shahih," kitab al-Musnad (XXXXI/481 no. 25029) cet. ar-Risalah. Riwayat yang semisal dengan ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 515)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (4)
Ketika hal itu terjadi, hati sebagian orang dari kalangan munafik dan orang yang ragu-ragu dan kafir dari kalangan yahudi semakiin goncang, menyimpang dari petunjuk, dan terombang-ambing dalam kebimbangan. Mereka mengatakan, "Apa yang membuat mereka berpaling dari kiblat mereka dahulu?" Yakni mereka mengatakan, "Mengapa mereka terkadang menghadap ke sana dan terkadang menghadap ke sini?" Lalu Allah menurunkan jawabannya: "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat." Yakni, hukum, pengaturan dan perintah adalah hak Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang berfirman: "Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)
Dan Dia-lah yang berfirman: "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 177) Yakni yang dituntut dalam setiap kondisi adalah melaksanakan perintah Allah ke mana pun wajah kita menghadap. Ketaatan adalah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah. Meskipun kita menghadapkan wajah kita berkali-kali ke berbagai arah setiap hari. Kita adalah hamba-Nya, dalam pengaturan dan pengurusan-Nya. Ke mana pun wajah kita menghadap, Allah سبحانه وتعالى senantiasa memperhatikan hamba dan Rasul-Nya Muhammad صلى الله عليه وسلم dan umat beliau. Dia-lah yang menunjuki mereka kepada kiblat Ibrahim Khaliilur Rahmaan dan membuat mereka mengarahkan wajah ke Ka'bah yang dibangun atas Nama-Nya Yang Mahatinggi, tiada sekutu bagi-Nya. itulah rumah Allah yang paling mulia di atas muka bumi. Dan yang membangun Ka'bah ini adalah Ibrahim al-Khalil عليه السلام. Oleh karena itu Allah berfirman: "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus."
Imam Ahmad telah meriwayatkann dari 'Aisyah رضي الله عنهما, ia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Sesungguhnya mereka (ahli kitab) tidaklah dengki kepada kita karena sesuatu, sebagaimana kedengkian mereka kepada kita karena hari Jum'at yang Allah tunjukkan kita kepadanya sementara mereka disesatkan darinya. Dan juga karena kiblat yang Allah tunjukkan kepada kita sementara mereka disesatkan darinya. Dan juga karena ucapan kita: "Aamiin" di belakang imam ketika shalat." (562)
===
Catatan Kaki:
562. Ahmad (VI/134). [komentar Syaikh Syu'aib al-Arna-uth حفظه الله: "Hadits shahih," kitab al-Musnad (XXXXI/481 no. 25029) cet. ar-Risalah. Riwayat yang semisal dengan ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 515)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (3)
Cukup banyak hadits-hadits tentang masalah ini. Dan kesimpulannya, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebelumnya diperintahkan untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Ketika masih berada di Makkah, beliau shalat di antara dua rukun dengan posisi Ka'bah berada di hadapannya, namun beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis. (559) Ketika hijrah ke Madinah, beliau tidak dapat menyatukan antara keduanya, maka Allah عزوجل memerintahkannya untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما dan jumhur (mayoritas) ulama.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahiih-nya dari al-Bara' bin 'Azib bahwa kabar (pemindahan kiblat) itu sampai kepada satu kaum dari kaum Anshar yang sedang mengerjakan shalat 'Ashar dengan menghadap ke Baitul Maqdis, maka mereka memutar arah kiblat akan menghadap ke Ka'bah. (560)
Dalam kitab ash-Shahiihain juga disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar رضي الله عنهما, ia berkata, "Ketika orang-orang mengerjakan shalat Shubuh di masjid Quba', tiba-tiba datang seseorang kepada mereka seraya berkata, "Sesungguhnya tadi malam telah diturunkan ayat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan beliau diperintahkan untuk shalat menghadap ke Ka'bah, maka menghadaplah kalian ke Ka'bah." Pada saat itu posisi mereka menghadap Syam, lalu mereka berputar menghadap ke Ka'bah." (561)
Hadits ini menunjukkan bahwa dalil nasikh yang menghapus hukum yang terdahulu konsekuensi hukumnya baru diamalkan setelah ilmunya diketahui, meskipun telah turun dan disampaikan lebih awal. Karena mereka tidak diperintahkan untuk mengulang shalat 'Ashar, Maghrib dan 'Isya'. Wallaahu a'lam.
===
Catatan Kaki:
559. Ini berlainan dengan hadits yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari yang menyebutkan shalat beliau di al-Hathim (Hijir Isma'il, bukan di antara dua rukun sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di atas) ketika beliau berada di Makkah. Silakan lihat hadits no. 3856 (kisah dicekiknya beliau oleh 'Uqbah bin Abi Mu'ith, -pent). [Lihat pula Al-Bukhari (no. 2848)] -pent.
560. Al-Bukhari (no. 399) dan mereka adalah Bani Salamah yang tinggal di masjid Qiblatain (dua kiblat).
561. Fat-hul Baari (VIII/24) dan Muslim (I/375). [Al-Bukhari (no. 403), Muslim (no. 526)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (3)
Cukup banyak hadits-hadits tentang masalah ini. Dan kesimpulannya, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebelumnya diperintahkan untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Ketika masih berada di Makkah, beliau shalat di antara dua rukun dengan posisi Ka'bah berada di hadapannya, namun beliau tetap menghadap ke Baitul Maqdis. (559) Ketika hijrah ke Madinah, beliau tidak dapat menyatukan antara keduanya, maka Allah عزوجل memerintahkannya untuk menghadap ke Baitul Maqdis. Demikian pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما dan jumhur (mayoritas) ulama.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahiih-nya dari al-Bara' bin 'Azib bahwa kabar (pemindahan kiblat) itu sampai kepada satu kaum dari kaum Anshar yang sedang mengerjakan shalat 'Ashar dengan menghadap ke Baitul Maqdis, maka mereka memutar arah kiblat akan menghadap ke Ka'bah. (560)
Dalam kitab ash-Shahiihain juga disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar رضي الله عنهما, ia berkata, "Ketika orang-orang mengerjakan shalat Shubuh di masjid Quba', tiba-tiba datang seseorang kepada mereka seraya berkata, "Sesungguhnya tadi malam telah diturunkan ayat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dan beliau diperintahkan untuk shalat menghadap ke Ka'bah, maka menghadaplah kalian ke Ka'bah." Pada saat itu posisi mereka menghadap Syam, lalu mereka berputar menghadap ke Ka'bah." (561)
Hadits ini menunjukkan bahwa dalil nasikh yang menghapus hukum yang terdahulu konsekuensi hukumnya baru diamalkan setelah ilmunya diketahui, meskipun telah turun dan disampaikan lebih awal. Karena mereka tidak diperintahkan untuk mengulang shalat 'Ashar, Maghrib dan 'Isya'. Wallaahu a'lam.
===
Catatan Kaki:
559. Ini berlainan dengan hadits yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari yang menyebutkan shalat beliau di al-Hathim (Hijir Isma'il, bukan di antara dua rukun sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir di atas) ketika beliau berada di Makkah. Silakan lihat hadits no. 3856 (kisah dicekiknya beliau oleh 'Uqbah bin Abi Mu'ith, -pent). [Lihat pula Al-Bukhari (no. 2848)] -pent.
560. Al-Bukhari (no. 399) dan mereka adalah Bani Salamah yang tinggal di masjid Qiblatain (dua kiblat).
561. Fat-hul Baari (VIII/24) dan Muslim (I/375). [Al-Bukhari (no. 403), Muslim (no. 526)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (2)
Salah seorang dari kaum muslimin berkata, "Kami menginginkan keterangan mengenai orang-orang yangtelah meninggal dunia dari kalangan kami sebelum kami menghadap ke kiblat (Ka'bah) dan bagaimana dengan shalat yang pernah kami kerjakan dengan menghadap Baitul Maqdis?" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian."
Orang-orang yang kurang akalnya, yaitu ahlul kitab bertanya, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat sebelumnya (Baitul Maqdis)?" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah: 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'" (557)
'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, bahwa ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah, Allah Ta'ala memerintahkannya untuk menghadap ke Baitul Maqdis, dan orang-orang yahudi pun merasa senang. Maka beliau pun menghadap ke Baitul Maqdis selama kurang lebih belasan bulan. Sedang Rasulullah صلى الله عليه وسلم ingin menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim عليه السلام. Beliau sering berdo'a kepada Allah ta'ala sambil menengadahkan wajahnya ke langit, maka Allah عزوجل pun menurunkan firman-Nya, "Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya."
Dengan sebab itu, orang-orang yahudi menjadi goncang seraya berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Lalu Allah عزوجل menurunkan firman-Nya, "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur danbarat. Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'" (558)
===
Catatan Kaki:
557. Ath-Thabari (III/133).
558. Ath-Thabari (III/138).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143 (2)
Salah seorang dari kaum muslimin berkata, "Kami menginginkan keterangan mengenai orang-orang yangtelah meninggal dunia dari kalangan kami sebelum kami menghadap ke kiblat (Ka'bah) dan bagaimana dengan shalat yang pernah kami kerjakan dengan menghadap Baitul Maqdis?" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian."
Orang-orang yang kurang akalnya, yaitu ahlul kitab bertanya, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblat sebelumnya (Baitul Maqdis)?" Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya,
"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?' Katakanlah: 'Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'" (557)
'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, bahwa ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم hijrah ke Madinah, Allah Ta'ala memerintahkannya untuk menghadap ke Baitul Maqdis, dan orang-orang yahudi pun merasa senang. Maka beliau pun menghadap ke Baitul Maqdis selama kurang lebih belasan bulan. Sedang Rasulullah صلى الله عليه وسلم ingin menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim عليه السلام. Beliau sering berdo'a kepada Allah ta'ala sambil menengadahkan wajahnya ke langit, maka Allah عزوجل pun menurunkan firman-Nya, "Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya."
Dengan sebab itu, orang-orang yahudi menjadi goncang seraya berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Lalu Allah عزوجل menurunkan firman-Nya, "Katakanlah, 'Kepunyaan Allah-lah timur danbarat. Dia memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.'" (558)
===
Catatan Kaki:
557. Ath-Thabari (III/133).
558. Ath-Thabari (III/138).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 142-143 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS. 2: 142) Dan demikian (pula) Kami telah menjadikanmu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad صلى الله عليه وسلم) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu). Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2:143)
PEMINDAHAN KIBLAT
Imam al-bukhari meriwayatkan dari al-Bara' رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengerjakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau ingin sekali jika kiblatnya mengarah ke Baitullah. Shalat yang pertama kali beliau kerjakan dengan menghadap Ka'bah adalah shalat 'Ashar diikuti beberapa orang Sahabat. Lalu salah seorang yang ikut mengerjakan shalat itu keluar dan melewati orang-orang yang sedang mengerjakan shalat di masjid dalam keadaan ruku'. Maka ia pun berkata, "Demi Allah, aku telah mengerjakan shalat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم dengan menghadap makkah." Maka orang-orang pun berputar menghadap Baitullah. Ada orang-orang yang meninggal sebelum kiblat diubah ke Baitullah, yaitu beberapa orang yang gugur dalam peperangan, maka kami tidak tahu apa yangharus kami katakan tentang mereka. Maka Allah سنحانه وتعالى pun menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Imam al-Bukhari bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini. (555) Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari jalan lain. (556)
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari al-Bara', bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika shalat masih menghadap ke Baitul Maqdis, beliau sering mengarahkan pandangan ke langit menunggu perintah Allah Ta'ala. Maka Allah Ta'ala pun menurunkan ayat:
'Sesungguhnya Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram." (QS. Al-Baqarah: 144)
===
Catatan Kaki:
555. Fat-hul Baari (VIII/20). [Al-Bukhari (no. 41)].
556. Muslim (I/375). [(No. 525)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
JUZ 2
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 142-143
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." (QS. 2: 142) Dan demikian (pula) Kami telah menjadikanmu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad صلى الله عليه وسلم) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu). Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2:143)
PEMINDAHAN KIBLAT
Imam al-bukhari meriwayatkan dari al-Bara' رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengerjakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Dan beliau ingin sekali jika kiblatnya mengarah ke Baitullah. Shalat yang pertama kali beliau kerjakan dengan menghadap Ka'bah adalah shalat 'Ashar diikuti beberapa orang Sahabat. Lalu salah seorang yang ikut mengerjakan shalat itu keluar dan melewati orang-orang yang sedang mengerjakan shalat di masjid dalam keadaan ruku'. Maka ia pun berkata, "Demi Allah, aku telah mengerjakan shalat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم dengan menghadap makkah." Maka orang-orang pun berputar menghadap Baitullah. Ada orang-orang yang meninggal sebelum kiblat diubah ke Baitullah, yaitu beberapa orang yang gugur dalam peperangan, maka kami tidak tahu apa yangharus kami katakan tentang mereka. Maka Allah سنحانه وتعالى pun menurunkan firman-Nya, "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
Imam al-Bukhari bersendiri dalam meriwayatkan hadits ini. (555) Hadits ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dari jalan lain. (556)
Muhammad bin Ishaq meriwayatkan dari al-Bara', bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika shalat masih menghadap ke Baitul Maqdis, beliau sering mengarahkan pandangan ke langit menunggu perintah Allah Ta'ala. Maka Allah Ta'ala pun menurunkan ayat:
'Sesungguhnya Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang engkau sukai. Maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram." (QS. Al-Baqarah: 144)
===
Catatan Kaki:
555. Fat-hul Baari (VIII/20). [Al-Bukhari (no. 41)].
556. Muslim (I/375). [(No. 525)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 139-141 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 139-141 (3)
Selanjutnya firman Allah Ta'ala: "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah (persaksian) dari Allah yang ada padanya?"
Al-Hasan al-Bashri mengatakan: "Mereka membaca did alam Kitabullah yang diturunkan kepada mereka bahwa agama (di sisi Allah) adalah Islam, Muhammad adalah rasulullah, dan Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub,s erta al-Asbaath berlepas diri dari ajaran yahudi dan nasrani, mereka bersaksi kepada Allah atas hal itu, dan mereka berikrar kepada-Nya atas hal tersebut. Lalu mereka menyembunyikan persaksian Allah yang ada di sisi mereka itu."
Firman Allah: "Dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan," (554) merupakan ancaman yang sangat keras. Yakni, ilmu Allah Ta'ala meliputi seluruh amal perbuatan kalian dan Dia akan membalasnya.
Dia berfirman: "Itu adalah umat yang telah lalu." Maknanya, mereka telah berlalu. "Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang telah kamu usahakan," bagi mereka amal perbuatan mereka dan bagi kalian pula amal perbuatan kalian. "Dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." Pengakuan kalian sebagai anak keturunan mereka tidak akan berguna bagi kalian jika kalian tidak mengikuti mereka. Dan janganlah kalian tertipu dengan hanya mengaku keturunan mereka, kecuali jika kalian menaati perintah-perintah Allah, sebagaimana yang mereka lakukan, juga mengikuti para Rasul-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Barangsiapa kafir terhadap seorang Nabi, berarti ia telah kafir terhadap seluruh Rasul, terutama kafir terhadap penghulu Nabi, penutup para Rasul dan utusan Rabb semesta alam yang diutus kepada seluruh mukallaf dari bangsa manusia dan jin. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada beliau, juga kepada seluruh Nabi Allah.
==
Catatan Kaki:
554. Ibnu Abi Hatim (I/405).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 139-141 (3)
Selanjutnya firman Allah Ta'ala: "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah (persaksian) dari Allah yang ada padanya?"
Al-Hasan al-Bashri mengatakan: "Mereka membaca did alam Kitabullah yang diturunkan kepada mereka bahwa agama (di sisi Allah) adalah Islam, Muhammad adalah rasulullah, dan Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub,s erta al-Asbaath berlepas diri dari ajaran yahudi dan nasrani, mereka bersaksi kepada Allah atas hal itu, dan mereka berikrar kepada-Nya atas hal tersebut. Lalu mereka menyembunyikan persaksian Allah yang ada di sisi mereka itu."
Firman Allah: "Dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan," (554) merupakan ancaman yang sangat keras. Yakni, ilmu Allah Ta'ala meliputi seluruh amal perbuatan kalian dan Dia akan membalasnya.
Dia berfirman: "Itu adalah umat yang telah lalu." Maknanya, mereka telah berlalu. "Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang telah kamu usahakan," bagi mereka amal perbuatan mereka dan bagi kalian pula amal perbuatan kalian. "Dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan." Pengakuan kalian sebagai anak keturunan mereka tidak akan berguna bagi kalian jika kalian tidak mengikuti mereka. Dan janganlah kalian tertipu dengan hanya mengaku keturunan mereka, kecuali jika kalian menaati perintah-perintah Allah, sebagaimana yang mereka lakukan, juga mengikuti para Rasul-Nya untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Barangsiapa kafir terhadap seorang Nabi, berarti ia telah kafir terhadap seluruh Rasul, terutama kafir terhadap penghulu Nabi, penutup para Rasul dan utusan Rabb semesta alam yang diutus kepada seluruh mukallaf dari bangsa manusia dan jin. Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada beliau, juga kepada seluruh Nabi Allah.
==
Catatan Kaki:
554. Ibnu Abi Hatim (I/405).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Subscribe to:
Comments (Atom)