Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (4)

Permasalahan

Jika orang yang benar-benar dalam keadaan terpaksa menemukan bangkai dan makanan milikorang lain yang tidak dapat dipastikan pemiliknya serta tidak membahayakan, maka tidak dihalalkan baginya memakan bangkai. Tetapi ia boleh memakan makanan milik orang lain tersebut. Dan tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini.

Dalam Sunan Ibni Majah disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abbad bin Syurahbil al-'Anzi, ia berkata, "Kami pernah ditimpa kelaparan setahun penuh. Lalu aku datang ke Madinah, maka aku pun memasuki sebuah kebun dan mengambil beberapa tangkai tanaman kemudian aku menggosok-gosokkannya dan setelah itu memakannya. Dan beberapa tangkai lagi aku letakkan di dalam bajuku. Lalu pemilik kebun itu datang memukulku serta mengambil bajuku. Selanjutnya aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memberitahukan hal itu kepada beliau."

Beliau pun bersabda kepada pemilik kebun itu:

"Mengapa engkau tidak memberinya makan, jika ia dalam keadaan lapar (atau berusaha mencari makanan), dan mengapa engkau tidak mengajarkan (ilmu) kepadanya jika ia tidak tahu."

Beliau pun memerintahkan agar baju itu dikembalikan kepada pemiliknya dan memerintahkan agar ia diberi satu atau setengah wasaq (60 sha') makanan. (630)

Sanad hadits di atas shahih, kuat dan jayyid, serta memiliki banyak syahid (hadits lain yang menguatkan), di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang mengambil buah yang masih tergantung di pohon, maka beliau bersabda,

"Barangsiapa terpaksa mengambil sesuatu darinya (pohon itu) karena keperluan mendesak untuk dimakan langsung dengan tidak mengantonginya, maka tidak ada sesuatu (dosa) baginya." (631) Dan hadits selanjutnya.

Menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," Muqatil bin Hayyan mengatakan bahwa maksudnya ialah makanan yang dimakan dalam keadaan terpaksa. (632)

Sa'id bin Jubair mengatakan, "Allah Ta'ala Maha Pengampun atas makanan haram yang dimakan oleh orang itu, dan Dia Maha Penyayang karena Dia telah membolehkan baginya memakan makanan yang haram dalam keadaan terpaksa." (633)

Diriwayatkan dari Masruq, ia berkata, "Barangsiapa benar-benar dalam keadaan terpaksa, namun ia tidak makan dan minum, lalu ia meninggal dunia, maka ia masuk Neraka." (634)

Ini menunjukkan bahwa keringanan memakan bangkai bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa merupakan suatu 'azimah (keharusan) dan bukan sekedar rukhshah (keringanan).

===

Catatan Kaki:

630. Ibnu Majah (II/770). [Shahih: Ibnu Majah (no. 2298). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 5641)].

631. Tuhfatul Ahwadzi (IV/510). [Hasan: At-Tirmidzi (no. 1289). At-Tirmidzi menghasankannya, demikian juga Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 6038)].

632. Ibnu Abi Hatim (I/240), tahqiq: DR. AL-Ghamidi.

633. Ibnu Abi Hatim (I/240), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

634. Al-Baihaqi (IX/357).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (3)

BOLEHNYA MEMAKAN MAKANAN YANG HARAM KARENA KONDISI DARURAT

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala membolehkan memakan makanan yang haram karena keadaan darurat dan sangat mendesak ketika tidak ada lagi makanan lainnya. Dia berfirman: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas." "Maka tidak ada dosa baginya," memakan makanan tersebut. "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Menurut Mujahid, firman Allah Ta'ala: "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas," artinya tidak dalam keadaan merampok, atau keluar dari ketaatan imam atau bepergian dalam kemaksiatan kepada Allah, maka ia mendapatkan rukhshah (keringanan). Tetapi orang yang melampaui batas atau melanggar, atau berada dalam kemaksiatan kepada Allah, maka tidak ada keringanan baginya, meskipun terpaksa. Hal yang sama juga diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair radhiyallahu 'anhu.

Dalam salah satu riwayat Sa'id yang lain dan dari Muqatil bin Hayyan, ia mengatakan, "'Tanpa melampaui batas,' artinya tanpa menghalalkannya." (628)

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma: "Tidak melampaui batas," yakni dalam memakan bangkai itu dan tidak mengulangi memakannya (jika telah hilang keterpaksaannya)."

Qatadah mengatakan, "Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya," maksudnya tidak berselera terhadap bangkai tersebut, yakni tidak berselera memakannya. Maksud tidak (pula) melampaui batas yaitu dengan melangkahi yang halal dan memilih yang haram, sementara ia masih memiliki alternatif lainnya." (629)

===

Catatan Kaki:

628. Ibnu Abi Hatim (I/236), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

629. Ath-Thabari (III/324).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 172-173 (2)

Tatkala Allah menganugerahkan rizki dan membimbing mereka agar memakan makanan yang baik-baik, maka Allah 'Azza wa Jalla pun memberitahukan bahwa Dia tidak mengharamkan makanan-makanan itu kecuali (pertama) bangkai, yaitu binatang yang mati tanpa disembelih, baik karena tercekik, terpukul, jatuh, ditanduk atau diterkam oleh binatang buas.

Dan Allah mengecualikan bangkai hewan laut, berdasarkan firman-Nya, "Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut." (QS. Al-Maa-idah: 96) Sebagaimana akan diijelaskan nanti insya Allah. Juga berdasarkan hadits al-'anbar (kisah terdamparnya ikan besar) yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari. (622)

Dalam kitab Musnad, al-Muwaththa' dan Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkenaan dengan laut:

"Laut itu airnya suci dan bangkainya halal." (623)

Imam asy-Syafi'i, Ahmad, Ibnu Majah dan ad-Daraquthni meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu 'Umar secara marfu':

"Dihalalkan bagi kami dua jenis bangkai dan dua jenis darah, yaitu bangkai ikan dan belalang, serta hati dan limpa." (624)

Pembahasan secara rinci akan disebutkan dalam msurat al-Maa-idah, insya Allah.

(Permasalahan)

Yaitu tentang susu dan telur hewan yang sudah mati dan masih menempel padanya, maka hukumnya najis menurut Imam asy-Syafi'i dan selainnya, karena ia merupakan bagian dari bangkai tersebut. Imam Malik mengatakan dalam satu riwayat, "Hukumnya suci, hanya saja ia dihukumi najis karena masih melekat (menempel)."

Demikian pula hukum susu dari unta yang sudah mati. Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat. Namun pendapat yang masyhur di kalangan ulama adalah najis. Mereka membawakan kisah para Sahabat yang memakan keju buatan orang-orang majusi. Al-Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Keju (yang najis dari majusi), yang tercampur dengan susu (yang suci) itu hanya sedikit. Sedangkan sedikit najis, jika bercampur dengan benda cair yang suci dan banyak, maka dimaafkan." (625)

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Salman radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang minyak samin, keju dan kulit, beliau menjawab:

"Perkara halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya dan perkara haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam Kitab-Nya. Dan perkara yang tidak disebutkan (didiamkan) termasuk perkara yang dimaafkan." (626)

Selain itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengharamkan (yang kedua) daging babi, baik yang disembelih maupun yang mati dengan sendirinya. Lemak babi termasuk dalam hukum dagingnya, karena keumumannya, atau karena dagingnya mengandung lemak, atau melalui qiyas (analogi) menurut suatu pendapat. Allah Ta'ala juga mengharamkan bagi mereka (yang ketiga) binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, baik itu dengan mengatasnamakan berhala, sekutu, tandingan, dan lain sebagainya, yang dahulu menjadi kebiasaan orang-orang jahiliyah untuk mempersembahkan kurban kepadanya.

Al-Qurthubi meriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa ia pernah ditanya tentang hewan yang disembelih oleh masyarakat non Arab untuk perayaan mereka, kemudian mereka menghadiahkan sebagian dari dagingnya itu kepada kaum muslimin. Maka 'Aisyah pun menjawab, "Apa yang mereka sembelih pada hari itu, maka janganlah kalian memakannya, akan tetapi kalian boleh memakan buah-buahannya." (627)

===

Catatan Kaki:

622. Fat-hul Baari (VI/152). [Al-Bukhari (no. 4361)].

623. Ahmad (V/365), al-Muwaththa' (I/220), Abu Dawud (I/64), Tuhfatul Ahwadzi (I/224), an-Nasa-i (I/50) dan Ibnu Majah (I/136). [Shahih: Ahmad (no. 23484), Abu Dawud (no. 83), at-Tirmidzi (no. 69), an-Nasa-i (no. 59), Ibnu Majah (no. 386). Dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 7048)].

624. Tartiib Musnad asy-Syafi'i (II/173), Ahmad (II/97), Ibnu Majah (II/1073) dan ad-Daraquthni (IV/272). [Shahih: Ibnu Majah (no. 3314). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 210)].

625. Al-Qurthubi (II/221).

626. Ibnu Majah (II/1117). [Hasan: Ibnu Majah (no. 3367), Abu Dawud (no. 1710), an-Nasa-i (no. 4958). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 3195)].

627. Al-Qurthubi (II/224).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 172-173 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 172-173

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. 2:172) Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 2:173)

PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG BAIK DAN PENJELASAN TENTANG PERKARA-PERKARA HARAM

Firman Allah 'Azza wa Jalla ini memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk memakan makanan yang baik-baik dari sebagian rizki yang telah Dia anugerahkan. Allah pun memerintahkan mereka untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya atas rizki tersebut jika mereka benar-benar mengaku sebagai hamba-Nya.

Memakan makanan yang halal termasuk salah satu sebab terkabulnya do'a dan diterimanya ibadah, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

'Wahai manusia, sesuungguhnya Allah itu baik dan Dia tidak akan menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa-apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman: 'Hai para Rasul, makanlah makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (QS. Al-Mu'minuun: 51) Dan Dia berfirman: 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (QS. Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut yang kusut dan pakaian yang berdebu. Ia membentangkan kedua tangannya ke langit seraya berucap: 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' sementara itu makanan dan minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram. Maka bagaimana do'anya akan terkabul?'" (620)

Hadits di atas diriwayatkan juga oleh Muslim dalam kitab Shahiihnya dan at-Tirmidzi. (621)

===

Catatan Kaki:

620. Ahmad (II/328).

621. Muslim (II/703), Tuhfatul Ahwadzi (VIII/333). [Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no. 2989)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Muqaddimah (13) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Sebagai contoh ucapannya pada (II/285): "Di sini kai -dengan terpaksa- menghilangkan sejumlah paragraf yang kurang patut atau tidak layak..." Dan yang lebih mengherankan -sebagaimana yang saya ketahui-, ia berani menghilangkan empat lembar yang termasuk pada jilid dua, yaitu halaman 98, 99, 101 dan 102.

Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui beragam orang yang mengaku sebagai ahli ilmu di zaman ini. Akan tetapi saya belum pernah menemukan orang seberani, sebodoh dan sebangga diri si al-Fahim ini. Sekiranya kenyataannya ia tidak demikian, maka katakan padaku Demi Rabb-mu, 'bagaimana ia membolehkan dirinya melakukan tindakan buruk yang mencederai kode etik penulisan ilmiah terhadap buku Imam al-Hafizh Ibnu Katsir, dengan menambahkan sejumlah sub judul terhadapnya dan bahkan membuang sejumlah halaman, juga menghukumi dha'if sejumlah hadits shahih yang termuat di dalamnya, atau merubah maknanya dengan berdalih melakukan takwil terhadapnya dan agar makna lahirnya kelihatan logis.

Demi Allah, saya tidak dapat mengerti bagaimana penerbit dapat begitu tertarik terhadap buku ini? Dalam pengantar penerbit disebutkan: "Penelitian mendalam serta studi keotentikan (tahqiq) -alhamdulillaah dengan taufiq dari Allah- telah dilakukan oleh Syaikh Muhammad al-Fahim Abu 'Ubayyah salah seorang ulaam al-Azhar yang mulia, dan beliau... dan seterusnya. Beliau telah mencurahkan segala usaha dan jerih payahnya sehingga dapat membersihkan buku tersebut dari kesalahan-kesalahan kebahasaan dan kesalahan (atau penyimpangan) yang banyak dalam nama-nama (al-A'laam) yang tersebut di dalamnya, juga membetulkan sejumlah teks yang ada.

Demi Allah, sangat mengherankan, orang seperti al-Fahim disifati dengan sifat-sifat demikian. Padahal -kalau mau jujur- di dalam bukunya terdapat ratusan bukti yang menunjukkan bahwa -sebenarnya- ia tidak sebagaimana yang disifatkan. Sebenarnya ia telah melakukan banyak kesalahan pada teks-teks tulisannya, kesalahan-kesalahan kebahasaan, juga penyimpangan-penyimpangan meski dalam satu halaman saja (padahal negara Saudi Arabia telah banyak berbaik sangka terhadap ulama-ulama al-Azhar seperti dia).

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (12) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Menurut hemat al-Fahim ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sepertinya tidak boleh atau tidak selayaknya berbicara tentang perkara ghaib, yang mana bagi akal tidak ada pilihan lain kecuali menerimanya. Dengan demikian iman kepada hal ghaib (yang merupakan sikap membenarkan) tidak ada wujudnya dalam dirinya.

Menyikapi hadits tentang akan diadzabnya orang-orang yang menggambar (makhluk hidup) (II/50), ia memberiakn sub judul terhadapnya: "'Adzaabul Mushawwiriin al-Mujassimiin Yaumal Qiyaamah."

Pendek kata, sub-sub judul yang dibuat sendiri oleh 'al-Fahim' di sejumlah tempat dalam buku tersebut (buku Ibnu Katsir) -padahal yang demikian ini bertentangan dengan kode etik penulisan ilmiah-, di samping hal ini menunjukkan sejauh mana kedalaman ilmu yang dimilikinya, juga mengakibatkan kerugian bagi penerbit baik secara materi maupun immateri. Sebab studi Ta'liqnya telah mengubah rambu-rambu buku tersebut dan menjadikannya tampil sebagai buku lain (yang bukan lagi seperti buku karya Ibnu Katsir).

Andai saja arogansi al-Fahim terhadap kitab Ibnu Katsir hanya sampai di situ, -ternyata tidak- bahkan lebih dari itu, ia berani membuang banyak kalimat Ibnu Katsir dan hadits-hadits hasil riwayatnya yang tidak sesuai atau sulit diterima oleh logikanya. Dan itulah yang ia sebutkan di awal-awal bukunya. Ia berkata: "...bahkan kami -dengan terpaksa- menghilangkan sebagian riwayat yang oleh penulis (Ibnu Katsir) disebutkan dalam bukunya lantaran makna yang dikandungnya tidak sesuai dengan kesimpulan akal atau tidak sejalan dengan nilai-nilai agama."

Orang yang membaca karya ta'lilqnya akan mendapati -di sejumlah halaman yang ada- bahwa ia telah membuang sejumlah riwayat semaunya sendiri dengan tanpa menyebutkan kalimat-kalimat yang dibuangnya, yang semestinya diketahui oleh pembaca sebagai bentuk tanggung jawab ilmiahnya. Ini pun sekiranya membuang kalimat-kalimat karya orang lain itu boleh.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 170-171 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 170-171 (2)

ORANG MUSYRIK ITU SEPERTI HEWAN

Kemudian Allah Ta'ala membuat sesuatu perumpamaan, sebagaimana Dia berfirman, "Orang-orang yang tidak beriman kepada hari Akhir mempunyai sifat yang buruk." (QS. An-Nahl: 60)

Dia berfirman: "Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir." Yang dimaksud dengan orang-orang kafir yaitu mereka yang berada dalam kesewenang-wenangan, kesesatan dan kebodohan. Mereka seperti binatang gembalaan yang tidak memahami dan tidak mengerti apa yang diserukan kepadanya. Bahkan, apabila hewan itu diseru oleh penggembalanya kepada sesuatu yang bermanfaat, dia sama sekali tidak memahami ucapan penggembala itu. Binatang itu hanya mendengar suaranya saja. Hal serupa juga diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Abul 'Aliyah, (616) Mujahid, 'Ikrimah, (617) 'Atha' al-Khurasani, (618) al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan ar-Rabi' bin Anas. (619)

Adapun firman Allah, "Mereka tuli, bisu dan buta," yakni mereka tidak dapat mendengar kebenaran, tidak dapat mengatakannya, dan juga tidak dapat melihat jalan menuju kebenaran.

Firman Allah selanjutnya: "(Oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." Artinya, mereka tidak dapat memikirkan dan memahami apa pun.

===

Catatan Kaki:

616. Ibnu Abi Hatim (I/225), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

617. Ibnu Abi Hatim (I/226), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

618. Ibnu Abi Hatim (I/227), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

619. Ibnu Abi Hatim (I/228), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 170-171 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 170-171

Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah." Mereka menjawab, "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. 2:170) Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. 2:171)

ORANG MUSYRIK ITU ADALAH TUKANG TAQLID (IKUT-IKUTAN)

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa jika dikatakan kepada orang-orang kafir dari kalangan kaum musyrikin, "Ikutilah apa yang telah Allah Ta'ala turunkan kepada Rasul-Nya dan tinggalkanlah kesesatan dan kebodohan yang kalian lakukan." Maka mereka menjawab, "Tidak! Kami hanya akan mengikuti penyembahan yang kami dapati dari nenek moyang kami, yaitu menyembah berhala dan membuat sekut-sekut bagi-Nya."

Lalu Allah Ta'ala mengingkari mereka, seraya berfirman: "Meskipun nenek moyang mereka itu," yaitu orang-orang yang mereka jadikan panutan dan ikutan, "Tidak mengetahui sesuatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?" Maksudnya mereka tidak mempunyai pemahaman dan petunjuk.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sekelompok orang yahudi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak mereka kepada Islam, lalu mereka mengatakan, "(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami." Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat ini." (615)

===

Catatan Kaki:

615. Ath-Thabari (III/305).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Muqaddimah (11) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Sungguh ia telah melakukan hal yang sangat tidak patut -dalam buku ta'liqnya terhadap buku yang disebut di atas (buku Ibnu Katsir0 baik terhadap penulis dan bukunya di satu sisi, atau bahkan terhadap hadits Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) pada sisi lain. Yang ini menunjukkan kejahilannya. Sebab ia berani menilai dha'if -dengan pasti- hadits-hadits yang shahih, dikarenakan hatinya merasa sulit untuk dapat menerimanya (secara apa adanya) padahal sikap seperti itu belum pernah dilakukan oleh ahli ilmu sebelumnya. Sebagai misal hadits tentang al-Jasasah. Lihat bukunya pada halaman 6, 96, 101, padahal hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim. Juga hadits tentang al-Mahdi pada halaman 37, ia tidak mempedulikan status shahih yang diberikan oleh Ibnu Katsir terhadap sebagian hadits tentang hal itu.

Adapun sikap buruknya terhadap buku berikut penulisnya (Ibnu Katsir), dalam buku tersebut ia memberikan sub-sub judul sendiri tanpa memberikan catatan bahwa itu kreasi darinya dan bukan dari penulis asli (Ibnu Katsir), dan sebagiannya ditulis dengan metodologi penulisan yang tidak sesuai dengan yang digunakan oleh Ibnu Katsir yang diakui sebagai salah seorang imam dalam bidang hadits yang mengimani nash-nash hadits yang berkaitan dengan tanda-tanda datangnya hari Kiamat dengan tanpa melakukan takwil padanya yang mana (takwil) tersebut telah biasa dilakukan oleh orang-orang ahli bid'ah dari kalangan kelomppok mu'tazilah dan lainnya. Padahal Syaikh al-Fahim dalam buku Ta'liqatnya telah menjelaskan bahwa dirinya -dalam menulis bukunya- mengikuti langkah dan metodologi yang digunakan mereka.

Berikut contoh bahwa ia membuat sub judul sendiri dalam buku ta'liqatnya. Pada halaman 116 ia memberi sub judul "Hadiitsun Yajibu Sharfuhuu 'an zhaahirihii ilat Takwiil" (Hadits yang semestinya dipahami dengan jalan takwil). Sub tersebut ditempatkan di atas hadits riwayat Muslim yang menerangkan bahwasanya dajjal nanti akan membunuh seorang mukmin lalu mampu menghidupkannya kembali (Lihat potongan hadits: 17 dan 18 Abu Umamah). Begitu pula sub judul yang lain, ia menuliskan sub judul pada hadits-hadits tentang Ibnu Shayyad yang sebagiannya terdapat dalam Shahih al-Bukhari, ia menuliskan pada halaman 104 "Marwiyyaatun Marfuudhatun Liannahaa laa Tushaddaqu 'Aqlan walaitsa bima'quulin Shuduuruhaa 'Anirrasuuli shallallahu 'alaihi wa sallam" (Hadits-hadits yang tertolak, sebab sulit diterima akal, dan rasanya tidak logis ungkapan-ungkapan itu diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (10) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Imam al-Hafizh Ibnu Hajar dalam 'Fat-hul Baari'nya berkata, Imam an-Nawawi berkata: "Pemahaman yang benar -sebagaimana pendapat para Muhaqqiqun (para peneliti)- yang dimaksud 'al-Kitabah' di sini adalah benar-benar tulisan. Allah telah menjadikannya sebagai bukti yang tak terbantahkan tentang kedustaan dajjal. Allah memperlihatkan 'tulisan' tersebut bagi orang-orang beriman, sedang Dia menampakkannya atas orang-orang yang Allah kehendaki sengsara atas mereka."

Imam al-Hafizh Ibnu Hajar juga berkata: "Al-Qadhi 'Iyadh meriwayatkan pendapat (pemahaman) yang berbeda bahwa sebagian mereka berkata: 'Itu merupakan ungkapan 'Majaz' (metaforis) tentang tanda-tanda apa yang terjadi padanya.' Namun ini merupakan pendapat yang lemah."

Kemudian si al-Fahim tidak cukup hanya memilih dan menguatkan model takwil yang bathil seperti di atas, bahkan ia memastikan pemahaman seperti itulah yang benar menurutnya sesudah mengulasnya dalam sejumlah halaman. Ia berkata di halaman 118 dari bukunya dalam sub judul "Perbedaan Pendapat Tentang Hadits-hadits Mengenai Tempat Munculnya dajjal..." Dan dia mengindikasikan bahwa yang dimaksud dajjal di dalamnya adalah simbol tentang keburukan dan kerusakan yang telah melanda seluruh masyarakat..." Pendapat itulah yang ia kuatkan dan pegangi di dalam buku yang ditulisnya. Lihatlah pada halaman 6, ia berkata: "Kami sependapat dengan mereka yang menyatakan bahwa maksud 'munculnya al-Mahdy dan 'Isa 'alaihis salam' merupakan simbol dan pertanda atas kemenangan kebaikan melawan keburukan (bukan berarti muncul sebenarnya). Dajjal sebagai perlambang dominannya fitnah dan kesesatan untuk beberapa masa..."!

Saya berkata: 'Al-Fahim di sini sebagai ketua utusan dari pihak Universitas al-Azhar yang mulia di Libanon, sebagaimana itu tertulis di bawah namanya di bagian sampul buku."

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (9) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Sesudah itu, Allah kemudian menjadikannya lemah, sehingga tidak mampu membunuh orang laki-laki dan tidak pula selainnya. Kemudian Allah menghabisi peran dan segala kelebihannya, lalu dapat dibunuh oleh 'Isa. Sebagian kelompok khawarij, mu'tazilah dan al-jahmiyyah tidak menerima keyakinan seperti ini. Mereka mengingkari adanya dajjal bahkan menolak haidts-hadits shahih tentangnya.

Saya (al-Albani) berkata: "Dan pendapat ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh al-Fahim al-Azhary dan sebagian guru-gurunya -yang mengikuti langkah pendahulu mereka dari kalangan khawarij, mu'tazilah dan terakhir al-qadaaniyyah sebagaimana telah disinggung di muka- yang ada kalanya dengan meragukan keshahihan hadits-hadits yang ada dengan mengatakan bahwa hadits-hadits itu ahad, sebagaimana yang dilakukan Syaikh Mahmud Syaltut dalam sebagian artikel ilmiahnya, yang mengikuti langkah Syaikh Muhammad 'Abduh sebagaimana disebut di muka. Adakalanya pula dengan melakukan takwil dan ta'thil (memberikan pemahaman tidak sebagaimana yang tersurat) sebagaimana yang dilakukan oleh al-Fahim al-Azhari tadi. Meski di situ ia hanya sebatas memaparkan adanya dua pendpat -sesuai klaimnya- dan tidak memiliki sikap yang jelas terhadap keduanya, yang sesungguhnya ia melakukan semua itu untuk mengaburkan dan mengelabui para pembaca sekalian, juga mengkondisikan mereka secara psikologis agar membenarkan apa yang hendak ia pilih nanti. Simaklah ucapannya dalam ta'liq (komentar)nya atas potongan hadits berikut (12 Abu Umamah), 'Yaqra-uhu Kullu Mukminin Kaatibin wa Ghairi Kaatibin.' Para ulama berbeda pendapat tentang maksud al-Kitabah (tulisan) dalam hadits ini, apakah dimaknai dengan makna aslinya, ataukah ia merupakan kata 'kiasan' untuk makna tanda-tanda yang menunjukkan pemiliknya? Dan bahwasanya makna 'al-Qira'ah' di sini adalah dengan kemunculan tanda-tanda itu, jiwa yang beriman dapat menangkap hakikat sebenarnya tanpa ada keraguan... dan boleh jadi 'takwil' yang demikianlah yang lebih mendekati makna yang dimaksud dan lebih selamat." Begitulah al-Fahim berkata tentang itu sambil berpura-pura tidak mengetahui pendapat Imam an-Nawawi tentang itu dan ulama lain, yang mana pendapat mereka berlawanan dengan makna yang dipilihnya (al-Fahim al-Azhari).

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (8) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Dan begitu pula pendpat yang dikatakan tentang dajjal. Apakah ia seseorang (manusia) yang memiliki daging dan darah, yang menyebarkan kerusakan, meneror hamba-hamba Allah, dan memiliki sarana-sarana bujukan dan ancaman serta berbuat kerusakan sehingga (Allah) mendatangkan Nabi 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya? Atau dajjal adalah simbol siatuasi dimana keburukan begitu merajalela, fitnah melanda di mana-mana, serta hasrat umat kepada nilai-nilaikeutamaan sudah melemah, lalu berhembuslah angin kebaikan tersebut menghapus segala bentuk keburukan di atas, lalu menggiring manusia menuju kebaikan, nilai-nilai keadilan serta berpegang teguh kepada ajaran agama secara baik.

Saya (al-Albani) berkata: "Saudara 'al-Fahim al-Azhari' ini tidak hanya melakukan ta'thil (menafikan) nash-nash hadits dan menakwilkannya -dengan memahaminya sebagai 'simbol' dan pertanda, yang itu merupakan madzhab yang dianut kelompok 'al-Bathiniyyah' sebagaimana diketahui dari cerita Sayyid Rasyid Ridha di muka-, bahkan ia mengesankan kepada pembaca bahwa cara takwil demikian, merupakan pendapat yang dianut sebagian kelompok ulama sebagai lawan dari pendapat pertama (pemahaman secara tekstual). Sebenarnya, pendapat yang ia katakan tersebut tak seorang pun dari ahli ilmu dari kalangan Ahli Hadits dan Sunnah yang melontarkannya. Yang benar, pendapat tersebut adalah pendapat sebagian orang dari kelompok khawarij dan mu'tazilah, dari kelompok-kelompok sesat.

Al-Qadhi 'Iyadh berkata: 'Di dalam hadits-hadits -sebagaimana dimaksud di atas- terdapat hujjah bagi kalangan 'Ahlus Sunnah' tentang kebenaran wujudnya dajjal yang bahwasanya dia adalah seseorang tertentu yang mana Allah menjadikannya sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Dia memberinya sejumlah kemampuan; menghidupkan mayit yang telah ia bunuh (alinea ke 17, dan 18 dari redaksi Abu Umamah), merubah lahan-lahan menjadi subur, menampakkan sungai-sungai, Surga dan Neraka. Simpanan-simpanan kekayaan bumi turut padanya, ia mampu menyuruh langit sehingga menurunkan hujan dan bumi sehingga menumbuhkan sejumlah tanaman (alinea 19-21 -Abu Umamah, sebagaimana redaksinya). Itu semua atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta'ala.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (7) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Saya (Nashiruddin al-Albani) berkata: "Jika demikian, apa perbedaan takwil kelompok al-Bathiniyyah terhadap ayat al-Qur-an, dengan takwil kelompok al-Qaadiyaaniyyah serta Muhammad Abduh dan pengikutnya terhadap hadits-hadits tentang turunnya 'Isa dan munculnya dajjal dengan model takwil yang jelas-jelas bathil sebagaimana disebutkan di muka? Lalu mengapa Sayyid Muhammad Rasyid Ridha juga berdiam diri terhadapnya (membiarkannya) bahkan memberikan takwil baru atas model takwil mereka itu, yaitu bahwa hadits-hadits tersebut diriwayatkan secara maknanya? Sekiranya demikian, apakah itu kemudian mengesampingkan dan menolak riwayat yang shahih yang diriwayatkan secara makna oleh para Sahabat, dan bahkan secara mutawatir dari mereka?

Sebagai misal, jika ada riwayat yang mutawatir dari para Sahabat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengharamkan sesuatu, misalnya daging keledai yang dipelihara di rumah-rumah. Ini tentu bentuk periwayatan secara makna. Apakah dengan demikian, makna yang mereka riwayatkan tersebut semestinya ditolak dengan menggunakan salah satu bentuk takwil, sehingga seakan-akan larangan itu tidak pernah datang dari Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam sama sekali? Sungguh, ini adalah kesesatan yang nyata. Kita memohon kepada Allah agar memelihara kita dari perbuatan demikian.

Berikut contoh lain dari 'penakwilan' terhadap teks yang menghinggapi sebagian penulis masa kini alumni al-Azhar. Syaikh Muhammad Fahim Abu 'Ubayyah berkata dalam bukunya ketika mengomentari kitab 'Nihaayatul Bidaayah wan Nihaayah' juz 1 halaman 71: "Apakah 'Isa 'alaihis salam masih hidup hingga kini, kemudian akan turun ke bumi untuk kemudian melakukan pembaruan terhadap dakwah kepada Allah secara sendirian? Ataukah maksud dari 'turunnya 'Isa 'alaihis salam' adalah menangnya agama yang haq dan menyebarnya kembali agama tersebut, yang disampaikan oleh orang-orang yang sangat ikhlas bekerja untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk perbuatan buruk dan dosa? Dalam hal ini ada dua pendapat. Masing-masing didukung oleh sekelompok ulama.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (6) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Anehnya, pendapat atau penakwilan semacam ini telah ada sebelumnya, yaitu pendapat yang dilontarkan oleh sang pengaku Nabi Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian India. Dia senantiasa mengulang-ulang takwil semacam itu dalam sejumlah buku dan risalahnya. Dia juga menakwilkan sejumlah ayat al-Qur-an seperti takwil di atas. Dia merubah makna ayat-ayat tersebut untuk dijadikan bukti dan hujjah atas kenabiannya. Misalnya ia menakwilkan firman Allah tentang 'Isa: "Wa mubasysyiran birasuulin ya'tii min ba'dismuhuu Ahmad" (...dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Mirza mengklaim dirinyalah yang dimaksud dengan Ahmad dalam ayat tersebut. Dia (Mirza Ghulam Ahmad) banyak memiliki model takwil semacam itu dan pendapat-pendapat yang sangat lemah terhadap ayat-ayat al-Qur-an. Hal itu sebagaimana yang Rasyid Ridha katakan sendiri dalam rangka menyangkal pendapatnya, yaitu dalam tafsirnya juz 6 halaman 58, ia berkata: "Ia telah mengikuti cara para pengikut aliran al-Mahdawiyyah dari kalangan kaum syi'ah Iran, seperti kelompok 'al-Baha' dan 'al-Baab' dalam menyimpulkan dalil-dalil yang lemah dari al-Qur-an untuk mendukung dakwahnya. Bahkan sampai-sampai ia mengambil itu dari surat al-faatihah." Khusus dalam menafsirkan surat ini (al-Faatihah), ia memiliki sebuah buku yang sangat hina sebab ia mengaku 'al-Faatihah' tersebut sebagai mukjizatnya. Ia menjadikan surat tersebut sebagai pemberi kabar gembira atas kemunculannya (Mirza) danbahwa ia sebagai 'al-Masih' umat ini."

Setelah itu Sayyid Rasyid Ridha berkata: "Sesungguhnya yang membuka pintu penakwilan al-Qur-an yang aneh ini di tengah umat, juga upaya merubah muatan lafazh-lafazh dari makna yang semestinya kepada makna-maknayang nampak aneh yang tidak mirip dan tidak cocok untuknya, adalah orang-orang zindiq dari kalangan majusi dan pengikut-pengikutnya yang meletakkan dasar-dasar ajaran kelompok 'al-Bathiniyyah', yang kemudian menjadi laku keras hingga di kalangan kaum shufi."

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (5) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Di antara hal yang mendorong saya melakukan hal ini adalahs ebagai berikut:

Pertama, keraguan sebagian besar orang yang menisbahkan diri sebagai ahli ilmu -bahkan sebagai da'i Islam, lebih-lebih orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan cukup tentang Islam baik dari kalangan muda terdidik atau yang awam- terhadap ihwal turunnya 'Isa 'alaihis salam yang kemudian akan membunuh dajjal di akhir zaman. Bahkan menurut hemat saya, kebanyakan mahasiswa alumni Universitas al-Azhar, termasuk orang yang meragukan hal itu -jika tidak disebut malah mengingkarinya. Saya dapat mengetahui itu semua setelah beberapa kali melakukan dialog dengan sebagian mereka secara langsung, juga dari fatwa-fatwa sebagian mereka yang sempat saya telaah serta komentar-komentar mereka terhadap sebagian karya orang lain.

Yang paling terkenal di antara mereka adalah Syaikh Muhammad 'Abduh. Komentarnya terhadap hadits tentang turunnya 'Isa 'alaihis salam, kadang-kadang ia berkata: "Itu hadits ahad (sedikit riwayatnya)." Ucapan ini tentu sesuai dengan kadar pengetahuannya tentang hadits. Menurut hemat saya, dia adalah ulama modern yang komentarnya terhadap hadits tersebut paling jauh dari paling jauh kebenaran. Terkadang dia menakwilkan 'turunnya 'Isa dan berkuasanya di muka bumi' dengan kemenangan ruh serta rahasia risalahnya atas manusia seluruhnya; yaitu ajarannya yang menonjol berupa perintah kepada sekalian manusia agar berkasih sayang, saling mencintai dan hidup damai dan aman antar sesama. Inilah yang disitir Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dalam buku tafsirnya 'al-Manar' juz 3 halaman 317. Meski ia sendiri menyangkal pendapat itu sesudahnya dengan ucapannya: "Akan tetapi zhahir hadits-hadits tentang itu menolak pendapat tersebut." Di samping itu ia juga membantah pendapat tersebut dengan ucapan berikutnya: "Hendaknya bagi para ahli takwil berkata, 'Sesungguhnya hadits-hadits ini telah dinukil (diriwayatkan) secara maknanya sebagaimana mayoritas hadits-hadits yang ada, dan orang yang menukil secara makna berarti ia menukil apa yang ia pahami.' Suatu ketika Muhammad 'Abduh ditanya tentang al-Masih ad-dajjal dan terbunuhnya dia oleh 'Isa 'alaihis salam? Jawabnya: "Sesungguhnya dajjal merupakan simbol bagi khurafat, kedustaan dan keburukan-keburukan yang akan sirna dengan ditegakkannya syari'at di hadapannya..."

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (4) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Oleh karena itu, sesudah saya merampungkan studi hadits tersebut dan redaksinya serta menyelesaikan pula takhrij hadits-hadits lain sebagai syawahidnya, laly saya tuliskan pada buku saya "Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah" dengan nomor (2457), maka muncullah dalam benak saya gagasan bagus, yaitu menyelidiki faidah-faidah yang maksud di muka untuk kemudian mengumpulkannya di tempat yang sesuai dengan apa yang ada di hadits Abu Umamah radhiyallahu 'anhu untuk dirangkai menjadi satu rangkaian hadits (yang utuuh), sebagaimana hal itu pernah saya lakukan dalam penulisan buku "Hajjatun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kamaa Rawaahaa jabir radhiyallahu 'anhu" meski ada perbedaan menonjol antara kedua hadits tersebut. Buku yang pertama "Hajjatun Nabi..." khusus hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiyallahu 'anhu sendiri dan tidak ditambahi dengan riwayat-riwayat Sahabat selainnya. Saya telah meneliti hadits-hadits tersebut, lalu setiap ada tambahan (di hadits lain) yang shahih saya letakkan pada tempatnya yang sesuai untuk kemudian menyuguhkan dan menuliskan hadits Jabir radhiyallahu 'anhu sebagai hasil riwayat Muslim dari Abu Ja'far al-Baqir, dari Jabir.

Adapun hadits Abu Umamah, saya telah menggabungkan padanya sejumlah hadits dari riwayat-riwayat Sahabat lain yang shahih yang jumlah mereka lebih dari dua puluh orang Sahabat sebagaimana telah saya singgung di muka.

Ide serta gagasan yang saya maksud di atas senantiasa menghampiri saya dan berputar-putar di pikiran, hingga akhirnya ia menguat dan mendorong saya untuk merealisasikannya. Itu saya lakukan sesudah saya melihat urgensinya dan tuntutan yang mendesak untuk disampaikan kepada khalayak manusia dalam bentuk pemaparan yang baik lagi mudah dijangkau dan dimengerti oleh mereka -sesuai latar belakang pendidikan, keilmuan serta status sosial masing-masing- dan menyatukan hadits-hadits yang bercerai-berai yang sangat sulit bisa dipahami isinya oleh orang-orang khusus (berpendidikan), lebih-lebih oleh orang-orang awam.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (3) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Maka dari itu,s aya memusatkan perhatian untuk melakukan penelitian dan studi terhadap hadits di muka, kalimat per kalimat bahkan lafazh per lafazh, serta berusaha menyebutkan hadits-hadits lain sebagai pendukung terhadap klaimat-kalimat tersebut sebatas yang mampu saya lakukan, kemudian melakukan takhrij terhadap hadits-hadits tersebut secara keseluruhan dan mengomentari sanad-sanadnya untuk mengetahui status akhirnya; shahih atau dha'if berdasarkan pada kaidah-kaidah ilmu hadits yang ada (yaitu dalam menentukan status hadits; shahih, hasan, atau bahkan dha'if). Di samping itu saya juga berusaha mencari mutabi' serta syahid (hadits-hadits pendukung) yang dapat membantu saya membersihkan hadits tersebut dari unsur kelemahan yang ada padanya, baik dari sisi matan ataupun sanadnya, maksudnya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah di muka.

Sesudah dilakukan studi mendalam dan telaah kritis terhadap hadits di muka, akhirnya menjadi jelas bagi saya bahwa hadits di atas dengan seluruh redaksi yang ada, kecuali hanya sedikit saja masuk dalam kategori hadits hasan lighairihi. Bahkan kebanyakan dari hadits-hadits tersebut termasuk mutawatir yang tidak diragukan lagi validitasnya dan bersumber dari Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya adalah yang terkait dengan kemunculan dajjal yang buta sebelah mata, juga turunnya Nabi 'Isa 'alaihis salam dari langit dan terbunuhnya dajjal olehnya.

Adalah wajar sekali saya menemukan manfaat yang banyak sekali dari hadits-hadits yang saya teliti (takhrij) tentang 'Isa 'alaihis salam serta dajjal yang buta sebelah mata, yang itu tidak saya dapatkan dalam hadits Abu Umamah. Terlebih jumlah hadits tentang itu mencapai sekitar tiga puluh buah hadits yang diriwayatkan lebih dari dua puluh Sahabat. Ada sebagian atau sebuah hadits yang diriwayatkan dari seorang Sahabat melalui beberapa jalur periwayatan, khususnya hadits dari Abu Hurairah. Saya telah menemukan sepuluh jalur periwayatan dari dirinya (Abu Hurairah). Pada masing-masing jalur terdapat faidah serta tambahan yang tidak ada pada jalur yang lainnya.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah (2) | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Sebenarnya belum pernah terlintas sekalipun di benak saya untuk secara khusus meluangkan waktu guna menulis risalah semacam ini, akan tetapi jika Allah menghendaki sesuatu, Dia akan sediakan penyebab-penyebab (sarana-sarana)nya.

Ceritanya, pada permulaan bulan Jumadil Ula 1393 H. Usaha 'tahqiq' (penelitian) terhadap buku "al-Fat-hul Kabiir fii Dhammi az-Ziyaadati ilaal Jaami' ash-Shaghiir" -yang saya pisahkan menjadi dua buku;; Shahiihul Jaami' ash-Shaghiir dan Dha'iiful Jaami' ash-Shaghiir- telah sampai pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu 'anhu tentang peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap umatnya ihwal adanya dajjal. Dia menjelaskan tentang sifat-sifat dajjal dengan penjelasan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi sebelumnya, juga ihwal Nabi 'Isa 'alaihis salam yang nanti akan membunuh dajjal di daerah al-Ludd, Palestina, serta hal-hal yang berhubungan dengan "al-Masih" pembawa petunjuk (Nabi 'Isa) dan "al-Masih" pembawa kesesatan (dajjal).

Dengan standar 'tahqiq' yang saya terapkan pada hadits yang tersebut dalam dua buku yang telah saya sebut di atas, realita yang ada menghajatkan untuk dilakukan adanya studi dan pelacakan terhadap isnad hadits yang saya sebut di muka (hadits Abu Umamah al-Bahili). Dan setelah saya lakukan, ternyata saya dapatkan hadits tersebut 'dha'if' dan tidak mungkin dijadikan landasan atau pegangan secara sendirian. Terlebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah keyakinan yang pasti. Akan tetapis aya menangkap -setelah sekilas melihat matannya- bahwa kebanyakannya shahih dan termuat di dalam kitab Shahihain juga kitab-kitab hadits yang lain.

Mengingat -dengan hanya sekilas melihat dan mengamati hadits tersebut- tidak mungkin bagi saya menentukan status hadits dengan shahih secara keseluruhan (secara utuh), juga tidak mungkin untuk kemudian saya sebutkan pada buku pertama dari kedua buku di atas, yaitu 'Shahihul Jaami' ..., bahkan saya harus menelaah secara seksama semua bentuk susunan kalimat hadits dimaksud, bahkan sampai per lafazhnya, di samping harus melacaknya pula pada buku-buku hadits serta mencari hadits-hadits lain yang ada kaitannya dengan itu, yaitu hadits-hadits yang berhubungan -baik secara langsung atau tidak- dengan ihwal 'Isa 'alaihis salam dan dajjal (semoga Allah mengutuknya) untuk kemudian mempelajari dan meneliti sanad-sanadnya dalam bentuk tahqiq yang mendalam dan detail sebagaimana pernah saya lakukan pada buku 'Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah' dan 'Silsilatul Ahaadiits adh-Dha'iifah' sehingga pada akhirnya, saya dapat -secara meyakinkan- menentukan status keshahihannya, baik seluruhnya atau sebagian besarnya. Dan setelah itu dapat dikategorikan dalam hadits shahih baik keseluruhan matan yang ada atau sebagian besarnya sesuai hasil akhir 'tahqiq'.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Muqaddimah | Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa untuk Membunuhnya

Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihis shalaatu was salaam wa Qatlihi Iyyaahu.

Kisah Dajjal dan Turunnya 'Isa 'alaihis salaam untuk Membunuhnya.

BAGIAN PERTAMA.

MUQADDIMAH PENULIS.

Latar Belakang Penulisan Buku ini.

Sesungguhnya, segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya serta memohon pertolongan dan ampunan hanya kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari keburukan jiwa dan amal perbuatan. Barangsiapa telah diberi petunjuk oleh-Nya, maka tiada seorang pun mampu menyesatkannya, dan barangsiapa telah disesatkan oleh-Nya, maka tak seorang pun dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada 'Ilah' yang berhak disembah selain Allah, yang Mahaesa dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Dalam al-Qur-an Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (QS. Ali 'Imran: 102)

Di surat lain Dia juga berfirman:

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama sekali, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisaa': 1)

Dia juga berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba'du.

Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah "Muhdatsaat" (Hal baru dalam agama yang diadakan tanpa da petunuk sebelumnya dari Allah atau Nabi), dan setiap 'Muhdatsaat' adalah bid'ah. Setiap yang bid'ah adalah kesesatan sedang setiap kesesatan berakhir ke Neraka.

Wa ba'du.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Qishshatu al-Masiihi ad-Dajjaali wa Nuzuuli 'Isa 'alaihish shalaatu was salaamu wa Qatlihi Iyyaahu, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullaah, Penerbit: Maktabah al-Islamiyyah, 'Amman - Yordan, Cetakan I, 1421 H, Judul terjemahan: Kisah dajjal dan turunnya 'Isa 'alaihis salam untuk membunuhnya, Penerjemah: Beni Sarbeni, Penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi'i, Cetakan I, 1426 H/ 2005 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 168-169 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 168-169 (2)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu," merupakan peringatan agar menjauhkan diri darinya. Sebagaimana Allah berfirman,

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)

Allah Ta'ala juga berfirman: "Patutkah kamu mengambil dia dan anak keturunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu. Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Kahfi: 50)

Tentang firman-Nya, "Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan," Qatadah dan as-Suddi berkata, "Setiap perbuatan maksiat kepada Allah adalah langkah syaitan." (614)

'Abd bin Humaid meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, ia mengatakan, "Sumpah atau nadzar apa pun yang diucapkan dalam keadaan marah, maka itu termasuk langkah-langkah syaitan, dan kaffaratnya adalah kaffarat sumpah."

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." Maksudnya, sesungguhnya musuh kalian, yaitu syaitan, menyuruh kalian untuk melakukan perbuatan jahat, atau yang lebih berat dari itu, yaitu perbuatan keji seperti zina. Atau bahkan yang lebih berat darinya, yakni mengatakan sesuatu tentang Allah 'Azza wa Jalla tanpa dasar ilmu. Jika demikian, maka setiap orang kafir dan ahlul bid'ah termasuk ke dalam kelompok syaitan (musuh).

===

Catatan Kaki:

614. Ibnu Abi Hatim (I/221), tahqiq: DR. Al-Ghamidi.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 168-169 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 168-169

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, danjanganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. 2:168) Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruhmu bebruat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. 2:169)

PERINTAH MEMAKAN MAKANAN YANG HALAL DAN LARANGAN MENGIKUTI LANGKAH-LANGKAH SYAITAN

Setelah Allah Subhanahhu wa Ta'ala menjelaskan bahwa tidak ada sembahan yang haq kecuali Dia dan bahwasanya Dia sendirilah yang menciptakan seluruh makhluk, maka Allah menjelaskan bahwa Dia adalah Maha Pemberi rizki bagi seluruh makhluk-Nya. Tentang kedudukan-Nya sebagai Pemberi nikmat, Dia menyebutkan bahwa Dia telah mengizinkan manusia memakan segala yang ada di muka bumi, selagi makanan itu halal dari AAllah dan thayyib. Maksud thayyib adalah baik dan bermanfaat bagi dirinya, serta tidak membahayakan bagi jiwa raganya. Dia pun melarang mereka mengikuti langkah-langkah syaitan, berupa berbagai jalan dan perbuatan syaitan yang menyesatkan para pengikutnya, seperti mengharamkan bahiirah, saa-ibah, washiilah ( * ), dan lain-lain yang ditanamkan syaitan kepada mereka pada masa jahiliyah.

Dijelaskan dalam sebuah ahdits yang tercantum dalam Shahiih Muslim, yang diriwayatkan dari 'Iyadh bin Himar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Allah Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya setiap harta yang Aku anugerahkan kepada hamba-hamba-ku adalah halal bagi mereka' -dalam hadits ini disebutkan- 'Dan Aku menciptakan hamba-hamba-Ku itu cenderung kepada kebenaran (kebaikan), lalu syaitan datang kepada mereka dan menyesatkan mereka dari agama mereka serta mengharamkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan bagi mereka.'" (613)

===

Catatan Kaki:

* [Bahiirah: Unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu telinga unta betina itu dibelah, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan air susunya tidak boleh diambil lagi.

Saa-ibah: Unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja karena suatu nadzar. Seperti, jika seorang Arab jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, maka ia biasa bernadzar akan menjadikan untanya saa-ibah jika maksud atau perjalanannya berhasil dan selamat.

Washiilah: Seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.]

613. Muslim (IV/2197). [no. 2865].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

PENYAKIT SIHIR DAN PENGOBATANNYA (2) | KEAJAIBAN THIBBUN NABAWI

BAGIAN 3

PENYAKIT SIHIR DAN PENGOBATANNYA

Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya setan itu mengalir di pembuluh darah manusia." (96)

Adapun dalil-dalil mengenai adanya sihir adalah:

Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala, "Dan dari kejahatan wanita-wanita yang menghembus pada buhul-buhul." (Al-Falaq [113]: 4)

Al-Qurthubi berkata, "Yakni para wanita penyihir yang menghembus pada buhul-buhul benang, lantas mereka membacakan mantera-mantera padanya."

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam melarang sihir. Beliau shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidak akan masuk Surga pecandu khomr, orang yang mengimani sihir, dan pemutus silaturahim." (97)

Jika anda mengetahui bahwa seseorang itu merupakan penyihir, maka janganlah mendatanginya, karena bila demikian anda akan terkena sabda Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam:

"Barangsiapa mendatangi paranormal, lantas mempercayai ucapannya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (98)

Berikut ini akan saya paparkan beberapa ciri untuk mengenali seorang penyihir.

======

Catatan Kaki:

96. Bukhori (2039).

97. HR. Ibnu Hibban. Syaikh Al-Albani berkata, "Hasan." Bulughul Marom (291).

98. Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Bulughul Marom (285).

======

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi, Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.


PENYAKIT SIHIR DAN PENGOBATANNYA | KEAJAIBAN THIBBUN NABAWI

BAGIAN 3

PENYAKIT SIHIR DAN PENGOBATANNYA

Syaikh Wahid 'Abdus Salam Bali berkata tentang definisi sihir secara syar'i, "Ibnul Qoyyim berkata, 'Sihir terjadi karena pengaruh-pengaruh dari ruh-ruh jahat dan reaksi kekuatan-kekuatan alami tubuh manusia terhadapnya.'"

Sihir adalah kesepakatan antara penyihir dengan setan, di mana penyihir bersepakat melakukan hal-hal yang haram maupun syirik, sebagai kompensasi dari bantuan dan kepatuhan setan kepadanya menyangkut hal-hal yang dimintanya.

Jin tidak mau membantu penyihir kecuali bila ada kompensasinya. Jadi, penyihir dan jin adalah dua makhluk yang berteman akrab dan berjumpa di atas landasan kemaksiatan kepada Alloh.

Di antara dalil tentang keberadaan jin dan setan adalah firman Alloh, "Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (Al-jin [72]: 6)

======

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi, Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (5)

Selanjutnya firman Allah Ta'ala dalam ayat ini: "Dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali." Maksudnya, mereka menyaksikan langsung adzab Allah secara nyata, mereka sudah kehabisan akal, serta tidak mendapat tempat dan tebusan untuk menyelamatkan diri dari Neraka.

'Atha' meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas: "'Dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali.' Yaitu rasa cinta." Ini pun merupakan pendapat Mujahid, dan satu riwayat dari Abu Najih. (612)

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala selanjutnya: "Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: 'Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.'" Artinya, seandainya saja kami dapat kembali ke dunia sehingga kami dapat melepaskan diri dari mereka dan dari penyembahan terhadap mereka, niscaya kami tidak akan pernah menoleh kepada mereka. Tetapi kami akan mengesakan Allah Ta'ala semata dengan beribadah kepada-Nya. Namun mereka berdusta dalam hal itu, bahkan seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali mengerjakan apa yang dilarang itu dan mereka benar-benar berdusta, sebagaimana yang diungkapkan oleh Allah Ta'ala tentang mereka itu.

Oleh karena itu Allah berfirman: "Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka." Yakni, amal perbuatan mereka itu akan sirna dan menghilang, sebagaimana firman-Nya: "Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23)

Allah juga berfirman: "Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu ahri yang berangin kencang." (QS. Ibrahim: 18)

Allah juga berfirman: "Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga." (QS. An-Nuur: 39)

Dia berfirman: "Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka."

===

Catatan Kaki:

612. Ath-Thabari (III/290).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (4)

Allah juga berfirman:

"Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang zhalim itu di hadapkan kepada Rabb-nya, sebagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata orang-orang yang menyombongkan diri: 'Kalau tidaklah karenamu, tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman.' Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: 'Kamikah yang telah menghalangimu dari petunjuk setelah petunjuk-petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.' Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: '(Tidak), sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekut-sekutu bagi-Nya.' Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat adzab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Saba': 31-33)

Dan Allah juga berfirman:

"Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyerumu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencercaku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.' Sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. Ibrahim: 22)

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (3)

Dan jin juga berlepas diri dari mereka dan keluar dari penyembahan mereka terhadapnya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menyembah ilah-ilah selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (do'a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), niscaya ilah-ilah itu menjadi musuh mereka dan mengingkari peribadahan mereka." (QS. Al-Ahqaaf: 5-6)

Allah juga berfirman:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu menjadi musuh bagi mereka." (QS. Maryam: 81-82)

Dan al-Khaliil (Ibrahim) berkata kepada kaumnya:

"Dan Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknat sebagian (yang lain); dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (QS. Al-'Ankabuut: 25)

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 165-167 (2)

Firman Allah 'Azza wa Jalla: "Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." Disebabkan kecintaan mereka kepada Allah, kesempurnaan pengetahuan mengenai diri-Nya serta pengesaan mereka kepada-Nya, maka mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebaliknya, mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bertawakkal kepada-Nya, dan mengembalikan segala urusan mereka kepada-Nya.

Kemudian dalam firman Allah 'Azza wa Jalla berikutnya. Dia mengancam orang-orang yang berbuat syirik dan orang-orang yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan perbuatan syirik tersebut. Allah berfirman: "Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya." Maksudnya, sekiranya mereka mengetahui siksaan yang akan mereka lihat di sana secara nyata, dan apa yang akan ditimpakan kepada mereka berupa adzab yang menakutkan dan mengerikan akibat kemusyrikan dan kekufuran mereka, pasti mereka akan menghentikan kesesatan yang mereka lakukan.

Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan pengingkaran mereka terhadap berhala-berhala yang dahulu mereka sembah. Allah pun memberitahukan tentang akan berlepas dirinya orang diikuti dari orang-orang yang mengikutinya. Allah berfirman: "(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti melepaskan diri dari orang-orang yang mengikutinya." Maksudnya, para Malaikat yang mereka anggap sebagai sesembahan mereka ketika di dunia, berlepas diri dari mereka, dan para Malaikat itu berkata, "Kami menyatakan berlepas diri (dari mereka) kepada-Mu, mereka sekali-kali tidak menyembah kami." (QS. Al-Qashash: 63)

Dan para Malaikat itu pun berkata, "Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami, bukan mereka, bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu." (QS. Saba': 41)

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 165-167 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 165-167

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah itu amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. 2:165) (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan di antara mereka terputus sama sekali. (QS. 2:166) Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api Neraka. (QS. 2:167)

KEADAAN ORANG-ORANG MUSYRIK DI DUNIA DAN DI AKHIRAT, DAN ORANG-ORANG YANG DIIKUTI BERLEPAS DIRI DARI ORANG YANG MENGIKUTI MEREKA PADA HARI KIAMAT

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan keadaan orang-orang musyrik di dunia berikut siksaan yang akan mereka terima di akhirat akibat perbuatan mereka menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah, lalu mereka jadikan sekutu itu sebagai sesembahan selain Allah Ta'ala. Mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal Dia adalah Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Dia, yang tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya.

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim tercantum sebuah hadits yang diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan bahwa ia pernah bertanya, "Ya Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?" Beliau menjawab,

"Engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah, padahal Dia yang telah menciptakanmu." (611)

===

Catatan Kaki:

611. Fat-hul Baari (VIII/3) dan Muslim (I/90). [Al-Bukhari (no. 4477), Muslim (no. 86)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 164 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 164 (2)

Selanjutnya: "Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan," dalam berbagai macam bentuk, warna, dan manfaat, kecil dan besar. Dan Dia mengetahui semua itu dan memberikan rizki kepadanya, tidak ada satu pun dari hewan-hewan itu yang tidak terjangkau atau tersembunyi dari-Nya, sebagaimana Allah berfirman:

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)." (QS. Huud: 6)

Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "Dan pengisaran angin." Yakni, terkadang angin datang membawa rahmat dan terkadang berhembus membawa bencana. Terkadang datang membawa kabar gembira dengan awan sehingga turun hujan, dan terkadang berhembus dengan membawa pergi awan tersebut. Terkadang mengumpulkannya, dan terkadang mencerai-beraikannya. Terkadang berhembus dari arah utara, sehingga disebut angin utara (asy-Syamiyyah), dan terkadang dari arah selatan. Terkadang angin tersebut membawa hujan yaitu angin timur yang mengenai bagian depan Ka'bah, dan terkadang dari arah belakang yang disebut angin barat, yang menerpa bagian belakang Ka'bah. Beberapa pakar ilmu pengetahuan telah menulis sejumlah buku tentang angin, hujan, bintang-bintang, yang membahas tentang pengaruh dan ketentuan-ketentuannya. Rincian masalah ini terlalu panjang untuk dibahas di sini. Wallaahu a'lam.

"Dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi." Maksudnya yang berarak di antara langit dan bumi, yang diarahkan Allah 'Azza wa Jalla menuju wilayah dan tempat-tempat mana saja yang Dia kehendaki, Dia-lah yang mengendalikannya.

'Sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." Yakni, pada semuanya itu terdapat bukti-bukti nyata yang menunjukkan keesaan Allah Ta'ala. Sebagaimana firman-Nya,

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.'" (QS. Ali 'Imran: 190-191)

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 164 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 164

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh, (pada semua itu terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. 2:164)

DALIL-DALIL TAUHID

Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi," yaitu dalam hal ketinggian, kelembutan, dan keluasannya, serta bintang-bintang yang bergerak dan yang diam, juga peredarannya pada orbitnya. Juga dalam ketebalan dan kerendahan bumi, gunung dan laut. Demikian pula kesunyian, kesenyapan dan keramaiannya serta seluruh manfaat yang ada di dalamnya. Di samping itu pergantian siang dan malam, satu pergi dan yang lain datang menggantikannya dengan tidak saling mendahului dan tidak sedikit pun mengalami keterlambatan meski hanya sekejap. Sebagaimana Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (QS. Yaasiin: 40)

Terkadang yang satu panjang dan yang lain pendek, dan terkadang yang satu mengambil bagian yang lain, lalu saling menggantikan. Sebagaimana Allah berfirman, "Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam." (QS. Al-Hajj: 61) Artinya, menambahkan malam ke dalam siang, dan siang ke dalam malam.

Selanjutnya firman Allah Ta'ala: "Dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia," artinya Allah Ta'ala menghamparkan laut sehingga bahtera itu dapat berlayar dari satu sisi ke sisi yang lain untuk kepentingan kehidupan manusia dan agar mereka dapat mengambil manfaat dari penduduk suatu daerah dan membawanya ke daerah lain silih berganti.

"Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya." Ayat ini serupa dengan ayat:

"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (QS. Yaasiin: 33-36)

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Surat Al-Baqarah Ayat 163 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR

SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR

JUZ 2

SURAT AL-BAQARAH

AL-BAQARAH, AYAT 163

Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 2:163)

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak diibadahi. Tidak ada sekutu dan tandingan bagi-Nya, Dia Maha Esa dan Tunggal, Rabb yang kepada-Nya semua makhluk bergantung, yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, dan Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Tentang ar-Rahmaan dan ar-Rahiim telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya awal surat al-Faatihah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Nama Allah yang paling agung terdapat dalam dua ayat berikut: 'Dan Ilah-mu adalah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.' (QS. Al-Baqarah: 163) dan ayat: 'Alif Laam Miim. Allah, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.' (QS. Ali 'Imran: 1-2)" (610)

Kemudian Allah 'Azza wa Jalla menyebutkan dalil yang menunjukkan keesaan-Nya dalam Uluhiyyah dengan adanya penciptaan langit, bumi dan segala yang ada di dalamnya, serta berbagai makhluk yang menunjukkan keesaan-Nya. Maka Allah berfirman:

===

Catatan Kaki:

610. Abu Dawud (II/168). [Hasan: Abu Dawud (no. 1496). Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahiihul Jaami' (no. 980)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah