Hadits Adab Az Zifaf (3)

أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ

Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati.

Adab Az Zifaf.
Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah.

Adab Menikah.

2. Memegang Ubun-ubun Istri dan Berdoa untuknya.

Sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

"Bila salah seorang dari kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak, hendaklah ia memegang ubun-ubun istri atau budak tersebut seraya menyebut nama Allah 'Azza wa Jalla dan berdoa memintakan berkah untuknya. Hendaklah ia mengucapkan,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَا مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ, وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَا مِنْ شَرِّ مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ.

Allaahumma innii as-aluka min khairi haa maa jabaltahaa 'alaihi, wa a'uudzu bika min syarri haa min syarri maa jabaltahaa 'alaihi.

'Wahai Allah, aku memohon kepada-Mu munculnya kebaikan darinya dan dari segala apa yang Engkau ciptakan pada dirinya; dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan dari segala apa yang Engkau ciptakan pada dirinya.'" (46)

Atau berdasarkan hadits:

"Ketika membeli unta hendaklah seseorang memegang punuknya seraya berdoa seperti itu." (47)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

46. Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allahlah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, golongan Mu'tazilah dan lainnya yang sesat mengatakan bahwa keburukan seseorang tidak diciptakan oleh Allah Ta'ala. Allah bukanlah pencipta keburukan karena hal itu akan bertentangan dengan sifat kesempurnaan-Nya. Tidak benar apa yang mereka katakan itu. Bahkan, hal semacam itu merupakan sifat kesempurnaan Allah. Penjelasan tentang hal ini sangatlah panjang. Kitab bagus yang membahas masalah ini adalah kitab Syifa' Al 'Alil fi Al Qadha-i wa Al Qadar wa At Ta'lil karya Ibnul Qayyim. Bagi yang mau silakan menelaahnya. Mungkin ada yang bertanya, "Apakah doa ini juga bisa dibaca ketika kita membeli mobil dan lainnya?" Saya jawab, "Ya, selagi dia memang mengharapkan kebaikan dari barang tersebut dan mengkhawatirkan keburukan yang akan ditimbulkannya."

47. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Af'al Al 'Ibad (hlm. 77), Abu Dawud (I/ 336), Ibnu Majah (I/ 592), Al Hakim (VII/ 148), Abu Ya'la dalam kitab Musnadnya (II/ 308q) dengan sanad hasan. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Hakim yang disepakati oleh Adz Dzahabi. Al Hafizh Al 'Iraqi dalam kitabnya Takhrij Al Ihya' (I298) berkata, "Isnadnya baik." Abdul Haq Al Isybili dalam kitab Al Ahkam Al Kubra (II/ 42) tidak mengomentari hadits ini sebagai tanda bahwa dirinya menilai shahih; begitu pula Ibnu Daqiq Al 'Id dalam kitabnya, Al IImam (II/ 127).

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: (أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ) Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, Penerbit: Dar As Salam, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1423 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: Abu Shafiya, Editor: Abu Hanief, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1425 H/ Maret 2004 M, Cetakan Ketiga.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Hadits Adab Az Zifaf (2)

أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ

Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati.

Adab Az Zifaf.
Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah.

Adab Menikah.

1. Bersikap Lembut kepada Istri.

Asma' binti Yazid As Sakan, ia berkata,

"Saya pernah menghias 'Aisyah untuk disandingkan kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Saya kemudian datang kepada beliau dan memanggil beliau untuk mendatangi 'Aisyah. Beliau pun datang dan duduk di dekat 'Aisyah. Beliau mengambil segelas susu, lalu beliau minum. Beliau kemudian menyodorkannya kepada 'Aisyah. 'Aisyah menundukkan kepalanya tersipu malu. Dengan agak membentak saya katakan kepada 'Aisyah, 'Ambillah pemberian Nabi itu!' 'Aisyah mau mengambilnya, lalu minum sedikit. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata kepada 'Aisyah, 'Berikan susu itu kepada sahabatmu!'"

Asma' berkata, "Saya lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, tolong mintalah kembali dulu gelas itu, lalu tuan minum, baru berikan kepada saya.' Beliau pun meminta kembali gelas itu, lalu minum sedikit, kemudian diberikannya kepada saya. Saya duduk. Gelas itu aku letakkan di atas lututku. Kemudian saya minum dengan cara menempelkan bibirku pada gelas seraya memutar-mutarnya agar mengenai tempat bekas minum Nabi. Beliau kemudian berseru kepada wanita-wanita di sekitarku, 'Berikan susu itu kepada mereka secara bergiliran.' Kami menjawab, 'Kami tidak suka.' Nabi (shallallaahu 'alaihi wa sallam) berkata lagi, 'Sudahlah, minum saja. Jangan malu-malu!'" (45)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

45. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (VI/ 438, 452, 453, & 458) dengan dua lafal; yang satu panjang dan yang satunya agak ringkas. Kedua sanadnya saling menguatkan sebagaimana diisyaratkan oleh Al Mundziri dalam kitabnya (IV/ 29). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al Humaidi dalam kitab Musnadnya (II/ 61). Hadits ini mempunyai hadits pendukung dari Asma' binti Umaisy yang diriwayatkan Ath Thabrani dalam kitab Ash Shaghir dan Al Kabir dan dalam kitab Tarikh Ashbahan karya Abu Syaikh (hlm. 282-283), dan kitab Ash Shumtu karya Ibnu Abi Ad Dunya (II/ 26).

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: (أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ) Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, Penerbit: Dar As Salam, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1423 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: Abu Shafiya, Editor: Abu Hanief, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1425 H/ Maret 2004 M, Cetakan Ketiga.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Hadits Adab Az Zifaf (1)

أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ

Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati.

Adab Az Zifaf.
Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah.

Adab Menikah.

Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam, telah bersabda,

"Nikahilah wanita yang penyayang lagi banyak anak, karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan para Nabi pada hari Kiamat."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: (أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ) Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, Penerbit: Dar As Salam, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1423 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: Abu Shafiya, Editor: Abu Hanief, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1425 H/ Maret 2004 M, Cetakan Ketiga.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi | Adab Az Zifaf

أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ

Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati.

Adab Az Zifaf.
Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah.

Daftar Isi.

Mukadimah Edisi Baru.

Mukadimah Edisi Ketiga.

Mukadimah Edisi Kedua.

Mukadimah Edisi Pertama.

Adab Menikah.

1. Bersikap Lembut kepada Istri.

2. Memegang Ubun-ubun Istri dan Berdoa untuknya.

3. Shalat Dua Raka'at.

4. Doa Ketika Bersetubuh.

5. Cara Bersetubuh.

6. Haram Menyetubuhi Istri pada Dubur.

7. Berwudhu Bila Hendak Mengulangi Persetubuhan.

8. Mandi Lebih Baik, Bila Hendak Mengulang Persetubuhan.

9. Suami-Istri Mandi Bersama.

10. Berwudhu Setelah Bersetubuh Ketika Hendak Tidur.

11. Hukum Wudhu Bagi Orang Junub.

12. Orang Junub Boleh Tayamum Sebagai Ganti Wudhu.

13. Orang Junub Sebaiknya Mandi Dahulu Sebelum Tidur.

14. Haram Menyetubuhi Istri yang Sedang Haidh.

15. Kafarah Bagi Suami yang Menyetubuhi Istri yang Sedang Haidh.

16. Yang Halal Dilakukan Suami Terhadap Istrinya yang Sedang Haidh.

17. Kapan Istri yang Telah Selesai Haidh Boleh Disetubuhi?

18. Suami-Istri Boleh Melakukan 'Azl.

19. Lebih Baik Tidak Melakukan 'Azl.

20. Meluruskan Niat dalam Menikah.

21. Yang Dilakukan Suami-Istri Pagi Hari Setelah Melalui Malam Pertamanya.

22. Wajib Mempunyai Kamar Mandi di dalam Rumah.

23. Haram Membuka Rahasia Ranjang.

24. Wajib Mengadakan Walimah.

25. Adab-adab Walimah.

26. Boleh Mengadakan Walimah Tanpa Hidangan Daging.

27. Orang-orang Kaya Ikut Menyumbang dalam Acara Walimah.

28. Dalam Walimah Tidak Boleh Hanya Orang Kaya yang Diundang.

29. Wajib Mendatangi Undangan Walimah.

30. Wajib Memenuhi Undangan Walaupun Sedang Berpuasa.

31. Memutus Puasa Bila Menghadiri Jamuan Makan.

32. Puasa Sunnah Tidak Wajib Diganti.

33. Tidak Menghadiri Undangan Acara yang Mengandung Maksiat.

34. Hal-hal yang Disunnahkan Bagi Orang yang Menghadiri Undangan Walimah.

35. Ucapan "Semoga Harmonis dan Banyak Anak" adalah Ucapan Jahiliyah.

36. Pengantin Perempuan Boleh Ikut Menyuguhkan Jamuan untuk Para Tamu Laki-laki.

37. Bernyanyi dan Menabuh Rebana dalam Acara Pernikahan.

38. Menghadiri Tindakan yang Melanggar Syariat.

39. Wanita Haram Memakai Perhiasan Emas yang Bentuknya Melingkar.

- Bantahan Terhadap Syubhat-syubhat Berkenaan dengan Haramnya Emas bagi Wanita.

- Klaim Adanya Nasikh Terhadap Hadits-hadits di Muka dan Bantahannya.

- Bantahan Terhadap Orang yang Menolak Hadits-hadits yang Mengharamkan Perhiasan Emas bagi Kaum Wanita.

- Bantahan Terhadap Orang yang Beranggapan Bahwa Hadits-hadits Tersebut Berkenaan dengan Orang yang Belum Membayar Zakat.

- Bantahan Terhadap Orang yang Beranggapan Bahwa Hadits-hadits Tersebut Berkenaan dengan Larangan Orang yang Berhias dan Menampakkannya.

- Bantahan Terhadap Orang yang Menolak Hadits-hadits Tersebut dengan Perbuatan 'Aisyah.

- Bantahan Terhadap Orang yang Meninggalkan Hadits-hadits Tersebut Lantaran Tidak Tahu Ada Orang yang Mengamalkannya.

40. Kewajiban Mempergauli Istri dengan Baik.

41. Wasiat kepada Pasangan Suami-Istri.

- Kewajiban Wanita Melayani Suaminya.

Sumber-sumber Rujukan.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: (أَدَابُ الزِّفَافِ فِى السُّنَّةِ الْمُطَهَّرَةِ) Adaabuz Zifaafi fis Sunnatil Muthahharati, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, Penerbit: Dar As Salam, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun: 1423 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Adab Az Zifaf, Panduan Pernikahan Cara Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: Abu Shafiya, Editor: Abu Hanief, Penerbit: Media Hidayah, Jogjakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1425 H/ Maret 2004 M, Cetakan Ketiga.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (226)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

115. Bab Semua Perbuatan Baik Adalah Sedekah.

226. Abu Dzar berkata bahwa dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, "Perbuatan apa yang paling baik?" Beliau menjawab:

"Beriman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya."

Lalu bertanya lagi Abu Dzar, "Pembebasan budak yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab:

"Yang paling mahal harganya dan paling dicintai pemiliknya."

Bertanya lagi Abu Dzar, "Bagaimana pendapatmu kalau saya tidak mampu melaksanakan sebagian dari perbuatan itu?" Beliau menjawab:

"Engkau bantu siapa yang melakukannya atau lakukanlah itu pada yang tidak melakukannya sama sekali (dengan mendorongnya untuk melakukannya)."

Abu Dzar bertanya lagi, "Bagaimana kalau saya tidak mampu?" Beliau menjawab:

"Jangan berbuat jelek pada manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah, engkau bersedekah dengannya pada dirimu."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (225)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

115. Bab Semua Perbuatan Baik Adalah Sedekah.

225. Abu Musa Al Asyary berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Diwajibkan bagi setiap Muslim sedekah."

Para shahabat bertanya, "Jika dia tidak menemukannya?" Beliau menjawab:

"Hendaknya dia bekerja dengan tangannya supaya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan bersedekah."

Mereka bertanya, "Jika tidak mampu?" Beliau menjawab:

"Hendaknya dia membantu orang yang berkebutuhan yang teraniaya."

Mereka lalu bertanya, "Jika tidak mampu?" Beliau menjawab:

"Hendaknya dia menyuruh berbuat baik."

"Jika tidak mampu?" Tanya mereka lagi. Beliau menjawab:

"Hendaknya dia menahan [dirinya] dari kejelekan, sesungguhnya itu adalah sedekah baginya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (224)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

115. Bab Semua Perbuatan Baik Adalah Sedekah.

224. Jabir berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Semua perbuatan baik adalah sedekah."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (223)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

114. Bab yang Berbuat Baik di Dunia Dia yang Mendapat Perlakuan Baik di Akhirat.

223. Salman berkata, "Orang yang berbuat baik di dunia merekalah yang mendapat perlakuan baik di Akhirat."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (222)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

114. Bab yang Berbuat Baik di Dunia Dia yang Mendapat Perlakuan Baik di Akhirat.

222. Harmalah bin Abdillah berkata bahwa dia pernah pergi menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Setelah sampai dia duduk bersama beliau dan beliau mengetahuinya. Ketika pergi dia berkata pada dirinya, "Demi Allah saya akan menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam supaya bertambah ilmu saya." Saya lalu berdiri di depan beliau dan kukatakan, "Apa yang kau perintahkan kepadaku akan kukerjakan." Beliau bersabda:

"Wahai Harmalah, lakukanlah kebaikan dan jauhilah kemungkaran."

Saya lalu kembali ke kendaraanku. Kemudian saya kembali sampai tempat berdiriku dekat dengan beliau dan kukatakan, "Wahai Rasulullah, apa yang kau perintahkan kepadaku akan kukerjakan. Beliau bersabda:

"Wahai Harmalah, lakukanlah kebaikan dan jauhilah kemungkaran, dan perhatikan apa yang disukai oleh telingamu, adalah bagaimana orang-orang berkata kepadamu jika engkau melakukannya, maka lakukanlah, dan perhatikanlah apa yang tidak engkau sukai, adalah bagaimana orang-orang berkata kepadamu jika engkau melakukannya, maka tinggalkanlah."

Ketika pulang, kupikirkan hal itu. Ternyata keduanya tidak meninggalkan kekurangan sedikitpun. (39)

* Dhaif.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

39. Jika kedua nasehat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam itu dijalankan maka sempurnalah semua perbuatan, tanpa kekurangan sedikitpun.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (221)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

114. Bab yang Berbuat Baik di Dunia Dia yang Mendapat Perlakuan Baik di Akhirat.

221. Qabisah bin Burmah Al Asady, "Saya pernah bersama Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam lalu kudengar beliau bersabda:

'Orang yang berbuat baik di dunia merekalah yang mendapat perlakuan baik di Akhirat dan mereka yang melakukan kejelekan di dunia merekalah yang mendapat perlakuan jelek di Akhirat.'" (38)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

38. Maksudnya kebaikan dari Allah Ta'ala terus datang kepadanya. Karena seseorang yang berbuat baik di dunia itu adalah karena dimudahkan baginya oleh Allah Ta'ala untuk melakukannya. Sedang di Akhirat dia akan memperoleh balasan dari kebaikannya berupa Sorga yang itu juga adalah dari Allah Ta'ala.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (220)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

113. Bab Pertolongan Seseorang pada Saudaranya.

220. Abu Dzar berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam ditanya, "Perbuatan apa yang paling baik?" Beliau menjawab:

"Beriman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya."

Lalu ditanya lagi, "Pembebasan budak yang bagaimana yang paling baik?" Beliau menjawab:

"Yang paling mahal harganya dan paling dicintai pemiliknya."

Bertanya lagi orang itu, "Bagaimana pendapatmu kalau saya tidak mampu melaksanakan sebagian dari perbuatan itu?" Beliau menjawab:

"Engkau bantu siapa yang melakukannya atau lakukanlah itu pada yang tidak melakukannya sama sekali (dengan mendorongnya untuk melakukannya)."

Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana kalau saya tidak mampu?" Beliau menjawab:

"Jangan berbuat jelek pada manusia, sesungguhnya itu adalah sedekah, engkau bersedekah dengannya pada dirimu." (37)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

37. Dengan demikian menahan diri dari mendekati perbuatan jelek adalah membawa pahala bagi diri kita. Karena menahan diri adalah juga merupakan usaha sebagaimana juga usaha untuk melakukan kebaikan.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (219)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

112. Bab Siapa yang Tidak Mensyukuri manusia.

219. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman pada jiwa, 'Keluarlah.' Jiwa berkata, 'Saya tidak keluar kecuali dalam keadaan terpaksa/ tidak suka.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (254)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

88. Bab Menyilangkan Jari-jari Tangan di Masjid dan Lainnya.

254. Dari Abu Musa, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya adalah laksana bangunan, masing-masing saling mengokohkan." Seraya beliau menyilangkan jari-jarinya.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (253)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

88. Bab Menyilangkan Jari-jari Tangan di Masjid dan Lainnya.

253. Dari Ibnu Umar atau Ibnu Amr: "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah menyilangkan jari-jari beliau." (277)

95.(278) Dari Abdullah (Ibnu Umar), bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai Abdullah bin Amr, bagaimana kondisimu bila engkau tertinggal di antara orang-orang jahat seperti ini?" {Seraya menyilangkan jari-jari tangannya}. (279)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

277. Ungkapan ini bagian dari hadits mu'allaq berikutnya pada beberapa jalurnya. Ada riwayat lain yang menguatkannya, yaitu hadits Abu Hurairah yang saya keluarkan dalam Al Ahadits Ash-Shahihah (206).

278. Menurut saya hadits ini mu'allaq. Ibrahim Al Harbi telah menyambungkannya dalam kitab Gharibul Hadits, Abu Ya'la dalam kitab Musnadnya, dan lain-lainnya dengan sanad yang kuat. Riwayat ini dikeluarkan juga dalam kitab yang disebutkan tadi.

279. Menurut saya, secara lahiriah maksudnya adalah menyilangkan jari-jari. Kelengkapan hadits pada riwayat yang kami sebutkan tadi: "Sumpah dan amanat mereka telah berbaur lalu mereka berselisih sehingga mereka seperti begitu. (Seraya menyilangkan jari-jarinya)." Al Hadits.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Shalat di Masjid yang Terletak di Pasar | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

87. Bab Shalat di Masjid yang Terletak di Pasar.

125. Ibnu Aun pernah mengerjakan shalat di sebuah masjid di dalam sebuah rumah yang pintunya tertutup.

(Haditsnya adalah hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan nanti, yaitu nomor 342).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Masjid yang Terletak di Jalan Hendaknya Tidak Mengganggu Orang | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

86. Bab Masjid yang Terletak di Jalan Hendaknya Tidak Mengganggu Orang.

122-124.(276) Demikian yang dikatakan Al Hasan, Ayyub, dan Malik.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

276. 123-125 dan 126. Al Hafizh tidak mengeluarkannya. Lihat hadits nomor 356 pada halaman tambahan jilid ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (251 - 252)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

85. Bab Terlentang dan Meluruskan Kaki di Masjid.

251. Dari Abbad bin Tamim, bahwa ia pernah melihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terlentang di masjid sambil menumpangkan salah satu kaki beliau di atas kakinya yang lain.

252. Dari Sa'id bin Al Musayyab, berkata, "Umar dan Utsman pernah melakukan hal yang sama." (275)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

275. Atsar ini disinggung oleh Al Hafizh dalam masalah Al-Libas yang merupakan tambahan dalam riwayatnya di akhir hadits sebelumnya. Tampaknya ia tidak meringkas seperti apa yang dituturkan oleh pengarang di sini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (250)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

84. Bab Membuat Majelis dan Duduk-duduk di Masjid.

250. Dari Ibnu Umar, ia berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam yang sedang [di masjid] di atas mimbar [menyampaikan ceramah. Laki-laki itu berkata,] 'Apakah pendapatmu tentang (dalam riwayat lain: Bagaimana caranya) shalat malam?' Beliau menjawab, 'Dua rakaat-dua rakaat. Jika seseorang khawatir akan datang waktu subuh, maka ia shalat satu rakaat untuk mengganjilkan (dalam riwayat lain: sebagai pengganjil 2/ 2) shalat yang telah dilaksanakannya.' Beliau pun pernah berkata, 'Jadikanlah akhir shalat kalian itu ganjil {witir}.' Demikian Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan hal itu. (Dalam riwayat lain: Jika engkau khawatir akan datang waktu subuh, maka witirlah satu rakaat sebagai pengganjil shalat yang telah engkau laksanakan).'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (249)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

83. Bab Mengangkat Suara di dalam Masjid.

249. Dari Sa'id bin Yazid, ia berkata, "Ketika aku sedang berdiri di masjid, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang melemparku dengan kerikil, aku pun menengok, ternyata Umar bin Khaththab. Ia berkata, 'Pergilah, lalu bawakan kedua orang itu kepadaku.' Lalu aku pun membawakan kedua orang tersebut kepadanya. Umar berkata, 'Siapa kalian berdua? Dan darimana asal kalian?' Mereka menjawab, 'Penduduk dari Thaif.' Umar berkata lagi, 'Seandainya kalian penduduk sini, tentulah aku telah menyakiti kalian berdua, sebab kalian telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Angan-angan ahli Kitab (2) | Al-Baqarah, Ayat 111-113 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 111-113.

Angan-angan ahli Kitab (2).

Maka amalan yang dilakukan oleh para pendeta ahli ibadah dan semisalnya, meskipun mereka melakukannya dengan ikhlas karena Allah, perbuatan mereka itu tidak akan diterima oleh Allah hingga mereka mengikuti syari'at (ajaran) Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diutus kepada mereka dan juga kepada seluruh manusia. Allah Ta'ala berfirman tentang mereka dan juga orang-orang semisal mereka, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqaan: 23)

Allah Ta'ala juga berfirman, "Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, sehingga jika dia mendatanginya maka dia tidak mendapati sesuatu apa pun." (QS. An-Nuur: 39)

Dan Allah berfirman, "Banyak wajah pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (Neraka), diberi minum dengan air dari sumber yang sangat panas." (QS. Al-Ghaasyiyah: 2-5)

Adapun amal yang sejalan dengan syari'at secara lahiriyah akan tetapi pelakunya tidak mendasarinya dengan keikhlasan karena Allah Ta'ala, maka amal perbuatan seperti ini pun tertolak. Inilah keadaan orang-orang yang riya' dan orang-orang munafik, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Nama Allah kecuali sedikit sekali." (QS. An-Nisaa`: 142)

Allah Ta'ala juga berfirman, "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat riya' dan enggan menolong dengan barang yang berguna." (QS. Al-Maa'uun: 4-7)

Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman, "Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya." (QS. Al-Kahfi: 110)

Dan dalam ayat yang mulia ini Allah Ta'ala berfirman, "Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan."

Dan firman-Nya, "Maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." Allah Ta'ala memberi jaminan kepada mereka atas amal mereka itu bahwa pahalanya akan sampai kepada mereka serta Dia memberikan rasa aman dari hal-hal yang mereka khawatirkan. "Dan tidak ada kekhawatiran atas mereka," terhadap apa yang akan mereka hadapi, "Dan tidak pula mereka bersedih hati," atas apa yang telah mereka tinggalkan di masa lalu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sa'id bin Jubair, "Dan tidak kekhawatiran atas mereka," di akhirat kelak, "Dan tidak pula mereka bersedih hati," terhadap kematian. (431)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

431. Ibnu Abi Hatim (I/ 338).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Angan-angan ahli Kitab | Al-Baqarah, Ayat 111-113 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 111-113.

Dan mereka (yahudi dan nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk Surga kecuali orang-orang (yang beragama) yahudi atau nasrani." Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu termasuk orang-orang yang benar." (QS. 2: 111) (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2: 112) Dan orang-orang yahudi berkata, "Orang-orang nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan," dan orang-orang nasrani berkata, "Orang-orang yahudi tidak mempunyai suatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. 2: 113)

Angan-angan ahli Kitab.

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa orang-orang yahudi dan nasrani tertipu dengan apa yang ada pada mereka, di mana setiap kelompok dari keduanya mengatakan bahwa tidak akan ada yang masuk Surga kecuali siapa yang memeluk agama mereka, sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Ta'ala tentang mereka dengan firman-Nya dalam surat al-Maa-idah, bahwa mereka mengatakan, "Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." (QS. Al-Maa-idah: 18)

Maka Allah Ta'ala mengabarkan kedustaan pengakuan mereka itu melalui berita yang disampaikan dalam firman-Nya bahwa Dia akan mengadzab mereka karena dosa yang mereka perbuat. Seandainya keadaan mereka seperti apa yang mereka katakan, niscaya keadaannya tidak demikian. Dan sebagaimana pengakuan mereka sebelumnya yang menyatakan bahwa mereka tidak akan disentuh api Neraka kecuali beberapa hari saja, kemudian mereka akan berpindah ke Surga. Dan Allah pun membantah pengakuan mereka ini. Begitu pula Allah membantah pengakuan mereka yang tidak berdasarkan dalil, hujjah dan keterangan yang jelas, Allah Ta'ala berfirman, "Itulah angan-angan mereka." Abu 'Aliyah mengatakan, "Yakni angan-angan yang mereka dambakan dari Allah tanpa alasan yang benar." (424) Demikian pula yang dikemukakan oleh Qatadah dan ar-Rabi' bin Anas. (425)

Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah," wahai Muhammad, "Tunjukkanlah bukti kalian." Abul 'Aliyah, Mujahid, as-Suddi dan ar-Rabi' bin Anas mengatakan, "Artinya, kemukakanlah hujjah kalian." (426) Dan Qatadah mengatakan, "Terangkanlah tentang (hujjah) pengakuan kalian itu, 'Jika kalian termasuk orang-orang yang benar,' (427) dalam pengakuan kalian itu."

Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan." Artinya, barangsiapa yang mengikhlaskan amal hanya untuk Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Kemudian jika mereka mendebatmu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah 'Aku menyerahkan diriku kepada Allah, dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku,'" dan ayat seterusnya (QS. Ali 'Imran: 20)

Firman-Nya, "Bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah," Abul 'Aliyah dan ar-Rabi' bin Anas mengatakan, "(Yakni) barangsiapa yang benar-benar ikhlas karena Allah." (428)

Sa'id bin Jubair mengatakan, "(بَلَى مَنْ أَسْلَمَ), yakni yang mengikhlaskan (وَجْهَهُ) yakni agamanya." (429) Dan firman-Nya, (وَهُوَ مُحْسِنٌ) "Sedang ia berbuat kebajikan," yakni mengikuti Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, karena untuk diterimanya suatu amal haruslah memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas karena Allah Ta'ala semata dan kedua harus benar dan sejalan dengan syari'at (yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam). Jika suatu amalan dilakukan dengan ikhlas karena Allah, akan tetapi tidak benar dan tidak sesuai dengan syari'at, maka amalan tersebut tidak diterima. Oleh karena itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak sesuai dengan urusan (syari'at) kami, maka amalan itu tertolak." Diriwayatkan oleh Muslim. (430)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

424. Ibnu Abi Hatim (I/ 336).

425. Ibnu Abi Hatim (I/ 336).

426. Ibnu Abi Hatim (I/ 337).

427. Ibnu Abi Hatim (I/ 337).

428. Ibnu Abi Hatim (I/ 337).

429. Ibnu Abi Hatim (I/ 338).

430. Muslim (III/ 1344). [Muslim (no. 1718)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Dorongan Kepada Amal Kebaikan | Al-Baqarah, Ayat 109-110 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 109-110.

Dorongan Kepada Amal Kebaikan.

Firman Allah Ta'ala, "Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkan pahalanya di sisi Allah." Allah Ta'ala memerintahkan mereka untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka yang pahalanya untuk mereka sendiri pada hari Kiamat kelak, seperti mendirikan shalat dan menunaikan zakat, hingga Allah memberikan kemenangan kepada mereka dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi (hari Akhir), "Yaitu hari yang tidak berguna lagi bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya, dan bagi merekalah laknat dan bagi mereka pula tempat tinggal yang buruk." (QS. Al-Mu`-min: 52)

Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan." Yakni bahwa Allah Ta'ala tidak akan lengah terhadap suatu amalan yang dilakukan oleh orang yang melakukannya dan tidak pula menyia-nyiakannya. Sama saja, apakah amal itu berupa kebaikan atau kejahatan. Dan Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang yang berbuat sesuai dengan perbuatannya.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Larangan Menempuh Jalan ahli Kitab | Al-Baqarah, Ayat 109-110 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 109-110.

Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikanmu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (muncul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkan dan biarkanlah mereka hingga mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. 2: 109) Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkan pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. 2: 110)

Larangan Menempuh Jalan ahli Kitab.

Allah Ta'ala memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk tidak menempuh jalan orang-orang kafir dari kalangan ahli Kitab. Allah juga mengabarkan kepada mereka tentang permusuhan orang-orang kafir terhadap mereka, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan. Juga mengabarkan berbagai kedengkian terhadap orang-orang Mukmin yang meliputi mereka karena mereka mengetahui kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang Mukmin dan juga Nabi mereka. Allah juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berlapang dada, memberi maaf dan juga keleluasaan hingga tiba saatnya Allah mendatangkan pertolongan dan kemenangan. Dan Allah memerintahkan mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, serta menganjurkan dan memberikan dorongan kepada mereka untuk melakukannya.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari 'Abdullah bin Ka'b bin Malik bahwa Ka'b bin al-Asyraf al-yahudi adalah seorang tukang sya'ir. Dia gemar menyerang Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan sya'ir-sya'irnya. Tentangnya Allah menurunkan ayat, "Sebagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikanmu kepada kekafiran setelah kamu beriman," hingga firman-Nya, "Maka maafkan dan biarkanlah mereka." (415)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma bahwa seorang Rasul yang ummi telah mengabarkan kepada mereka apa yang ada di tangan mereka berupa Kitab Suci, Rasul-rasul dan ayat-ayat. Kemudian Rasul yang ummi membenarkan seluruhnya seperti pembenaran mereka. Akan tetapi mereka menolak Rasul yang ummi ini karena kekufuran, hasad dan dengki yang bersarang dalam hati mereka. Untuk itu Allah Ta'ala berfirman, "Karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri setelah nyata bagi mereka kebenaran." Ibnu 'Abbas mengatakan, "Yakni setelah terangnya kebenaran di hadapan mereka dan tidak ada sedikit pun perkara yang mereka tidak mengetahuinya, akan tetapi kedengkian membawa mereka kepada juhud (pengingkaran), maka Allah pun sungguh-sungguh mencela, menghina dan mencerca mereka dengan cercaan yang keras." (416) Kemudian mulailah Allah menganugerahkan kemuliaan-Nya, pahala-Nya yang agung dan juga pertolongan-Nya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan juga orang-orang beriman karena pembenaran dan keimanan mereka, serta pengakuan mereka atas apa yang telah Allah turunkan kepada mereka dan juga orang-orang sebelum mereka.

Firman-Nya, (مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ), ar-Rabi' bin Anas mengatakan, "(Artinya) berasal dari diri mereka sendiri." (417)

Dan firman-Nya, "Setelah nyata bagi mereka kebenaran," Abul 'Aliyah mengatakan, "Yakni setelah jelas bagi mereka bahwa Muhammad adalah Rasulullah yang mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil, lalu mereka mengingkarinya karena dengki dan zhalim, karena Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bukan dari kalangan mereka (yahudi)." (418)

Demikian pula yang dikatakan oleh Qatadah dan ar-Rabi' bin Anas. (419)

Firman-Nya, "Maka maafkan dan biarkanlah mereka hingga Allah mendatangkan perintah-Nya," seperti firman-Nya, "Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang ahli Kitab sebelummu dari orang-orang yang menyekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati," dan ayat seterusnya. (QS. Ali 'Imran: 186)

'Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas tentang firman-Nya, "Maka maafkan dan biarkanlah mereka hingga Allah mendatangkan perintah-Nya," ia mengatakan, "Ayat tersebut telah dinaskh dengan ayat-ayat berikut, 'Maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka.' (QS. At-Taubah: 5) Juga (dengan) firman-Nya, 'Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari Akhir,' -hingga firman-Nya- 'Sedang mereka dalam keadaan tunduk.'" (QS. At-Taubah: 29)

Maka pemberian maaf ini dinaskh (dihapuskan) dari orang-orang musyrik. (420)

Demikian pula yang dikemukakan oleh Abul 'Aliyah, ar-Rabi' bin Anas, Qatadah dan as-Suddi, (421) bahwa ayat tersebut mansukh (dihapus) dengan ayat saif (perintah perang). Hal itu ditujukkan juga oleh firman-Nya, "Hingga Allah mendatangkan perintah-Nya."

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, ia mengatakan, "Dahulu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau radhiyallaahu 'anhum memaafkan orang-orang musyrik dan ahli Kitab sebagaimana Allah memerintahkan mereka untuk bersabar dalam menghadapi gangguan mereka. Allah Ta'ala berfirman, 'Maka maafkan dan biarkanlah mereka hingga Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu,' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam memberi maaf sebagaimana Allah memerintahkannya hingga akhirnya Allah mengizinkan beliau memerangi mereka. Maka Allah Ta'ala pun membinasakan para pemuka Quraisy tersebut." (422)

(Ibnu Katsir berkata) Sanad hadits ini shahih dan saya belum mendapatinya tercantum dalam salah satu kitab-kitab hadits yang enam (kutubus sittah), namun asal hadits ini tercantum dalam ash-Shahiihain dari Usamah bin Zaid radhiyallaahu 'anhu. (423)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

415. Ibnu Abi Hatim (I/ 331).

416. Ath-Thabari (II/ 502).

417. Ath-Thabari (I/ 332).

418. Ibnu Abi Hatim (I/ 335).

419. Ibnu Abi Hatim (I/ 335).

420. Ibnu Abi Hatim (I/ 334).

421. Ibnu Abi Hatim (I/ 335).

422. Ibnu Abi Hatim (I/ 333).

423. Fat-hul Baari (VIII/ 87) dan Muslim (III/ 1422). [Al-Bukhari (no. 4566), Muslim (no. 1798)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (218)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

112. Bab Siapa yang Tidak Mensyukuri manusia.

218. Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tidak mensyukuri Allah siapa yang tidak mensyukuri manusia.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (217)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

111. Bab Siapa yang Tidak Menemukan Pembalasan Sebagai Ganti Maka Doakanlah Dia.

217. Anas berkata bahwa orang-orang Muhajirin berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang Anshar pergi dengan membawa seluruh ganjaran." (36) Beliau menjawab:

"Tidak, selama kalian mendoakan mereka kepada Allah dan selama kalian memuji mereka padanya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

36. Karena orang Muhajirin mereka berangkat dari Mekkah dengan tidak membawa sesuatu apapun maka mereka tidak dapat beramal dengan harta. Sebaliknya orang Anshar yang tinggal di Madinah mereka memiliki kebun dan lain sebagainya ditambah lagi dengan beribadah seperti yang dilakukan oleh orang Muhajirin, maka orang-orang Muhajirin merasa bahwa mereka tidak mampu menyamai orang Anshar.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (216)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

110. Bab Siapa yang Mendapat Perbuatan Baik Hendaknya Dia Membalasnya.

216. Abdullah bin Umar berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Siapa yang memohon perlindungan dengan nama Allah Ta'ala lindungilah dia dan yang meminta dengan nama Allah berilah dia dan siapa yang berbuat baik kepadamu balaslah dengan setimpal. Jika tidak mendapatkan maka doakanlah dia sampai dia tahu bahwa kalian telah memberinya yang setimpal.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (215)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Perbuatan Baik.

110. Bab Siapa yang Mendapat Perbuatan Baik Hendaknya Dia Membalasnya.

215. Jabir berkata, "Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Siapa yang mendapat perbuatan baik hendaknya dia membalasnya. Jika tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya hendaklah dia puji orang tersebut karena jika dia memujinya maka dia telah mensyukurinya, jika dia menyembunyikannya berarti dia telah mengkafirinya, siapa yang berpakaian dengan pakaian yang bukan diberikan untuknya seolah dia berpakaian dua baju palsu.'" (35)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

35. Al-Khitabi berkata, "Pada zaman dahulu orang-orang yang baik dan berilmu menggunakan dua baju. Maka jika ada seorang yang bukan seperti mereka keadaan dan perbuatannya lalu dia berpakaian seperti mereka maka sebenarnya pakaiannya itu adalah palsu. Manusia menganggap mereka adalah orang dapat dipercaya padahal pada hakikatnya adalah tidak. Dua pakaian di sini adalah Rida' di bagian atas dan Izaar di bagian bawah."
Sumber: Syarah Tirmidzi oleh Mubarakfuuri.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Masuknya Orang Musyrik ke dalam Masjid | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

82. Bab: Masuknya Orang Musyrik ke dalam Masjid.

(Haditsnya adalah sebagian dari hadits Abu Hurairah, yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 72).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (248)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

81. Bab: Pintu dan Kunci Ka'bah atau Masjid.

248. Dari Ibnu Juraij, ia berkata, "Ibnu Abu Mulaikah berkata kepadaku, 'Wahai Abdul Malik, aku harap engkau mau melihat masjid-masjid Ibnu Abbas, termasuk pintu-pintunya.'"

(Haditsnya adalah hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada kitab ke 56 bab 127).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (247)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

80. Bab: Pintu dan Jalan untuk Berlalu Lalang di dalam Masjid.

247. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Ketika Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam) sakit keras hendak meninggal dunia, beliau keluar dengan kepala diikat dengan sehelai kain. Begitu keluar beliau langsung duduk di atas mimbar, dan memuji Allah serta mengagungkan-Nya, kemudian bersabda,

'Sesungguhnya, tidak ada seorang manusia pun yang lebih loyal terhadap diriku daripada dirinya sendiri dan hartanya daripada Abu Bakar bin Quhafah. Seandainya aku bisa mengambil kekasih dari kalangan manusia, tentulah aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama. (Dalam riwayat lain: Akan tetapi dia cukup sebagai saudara dan sahabatku 4/ 191). Dalam riwayat lain darinya, ia berkata: Adapun yang dikatakan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah, 'Seandainya aku bisa mengambil kekasih dari umat ini, tentulah aku akan melakukannya, tetapi persaudaraan Islam itu lebih utama.' Atau beliau berkata, 'Itu yang baik, karena itu berkedudukan sebagai ayah.' Atau beliau berkata, 'Menggantikan ayah.' 8/ 7) (274) Tutupkanlah untukku setiap lubang pintu di dalam masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

274. Menurut saya, riwayat ini juga shahih dari hadits Ibnu Zubair. Insya Allah akan disebutkan pada kitab ke 62 bab 5.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (246)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

80. Bab: Pintu dan Jalan untuk Berlalu Lalang di dalam Masjid.

246. Dari Abu Sa'id Al Khudri, ia berkata, "Ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam berkhutbah [di hadapan orang-orang 4/ 190] [di atas mimbar 4/ 253], beliau berkata, 'Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci memberi pilihan kepada seorang hamba antara [memberinya dari kemegahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Lalu [hamba tersebut] memilih apa yang di sisi Allah.' Lalu menangislah Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu, [seraya berkata, 'Kami tebus kamu dengan ayah dan ibu kami.'] Aku pun berkata dalam diriku, (dalam riwayat lain: Kami kaget terhadapnya, maka orang-orang berkata,) 'Apa yang membuat syaikh itu menangis? Jika Allah memberi pilihan kepada seorang hamba antara [memberinya dari kemegahan] dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah, [Ia berkata, 'Kami menebusmu dengan ayah dan ibu kami." Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kan seorang hamba, sementara Abu Bakar orang yang paling alim di antara kita.' Beliau berkata, 'Wahai Abu Bakar, jangan menangis, sesungguhnya manusia yang paling tulus terhadapku dengan persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih [selain Rabbku] di antara umatku, tentulah aku akan mengambil Abu Bakar. Akan tetapi cukup dengan persaudaraan (dalam riwayat lain: Kekasih dalam) Islam dan kecintaannya. Tidak ada suatu pintu pun yang terbuka di dalam masjid (dalam riwayat lain: lubang pintu), kecuali pintu (dalam riwayat lain: lubang pintu) Abu Bakar.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Ringkasan Shahih Bukhari (245)

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

78. Bab: Memasukkan Unta ke dalam Masjid karena Suatu Keperluan.

94.(273) Ibnu Abbas berkata, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah melakukan thawaf dengan menunggang unta."

245. Dari Ummu Salamah, ia berkata, "Aku mengadu kepada Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam) bahwa aku sakit, lalu beliau berkata, 'Thawaflah di belakang orang-orang dengan berkendaraan.'" (Dalam riwayat lain dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam -ketika beliau di Makkah dan hendak keluar- berkata kepadanya, 'Jika shalat subuh mulai didirikan, thawaflah engkau dengan menunggang untamu sementara orang-orang sedang shalat.' 2/ 65-1661) Kemudian aku pun melakukan thawaf, sementara [saat itu 2/ 64] Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang shalat [shubuh] di samping Ka'bah, [beliau] membaca Ath-Thur wa kitabim masthur." [Ia belum melaksanakan shalat kecuali setelah aku keluar].

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

273. Akan disebutkan secara maushul pada kitab ke 25 bab 58.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Larangan Banyak Bertanya (2) | Al-Baqarah, Ayat 108 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 108.

Larangan Banyak Bertanya (2).

Firman Allah Ta'ala, "Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu sebagaimana Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu?" Artinya, bahkan kalian menghendakinya. Atau bisa juga pertanyaan itu termasuk bab istifham (pertanyaan) yang bermakna penolakan. Dan firman-Nya itu berlaku umum, terhadap orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, karena Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Ahlul Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit, maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.' Maka mereka disambar petir karena kezhaliman mereka." (QS. An-Nisaa`: 153) (413)

Muhammad bin Ishaq meriwayatkan, telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Abi Muhammad, dari 'Ikrimah atau Sa'id (bin Jubair), dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia mengatakan, "Rafi' bin Huraimalah atau Wahb bin Zaid berkata, 'Wahai Muhammad, datangkan kepada kami sebuah Kitab yang ia diturunkan kepada kami dari langit yang kami akan membacanya. Pancarkanlah untuk kami sungai-sungai, niscaya kami akan mengikuti dan membenarkanmu.' Maka dari perkataan mereka ini Allah menurunkan ayat, 'Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu sebagaimana Bani Isrial meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar keimanan dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.'" Maksudnya, bahwa Allah mencela orang yang bertanya kepada Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang suatu perkara dengan maksud mempersulit, dan mengusulkan pendapat yang baru. Sebagaimana yang ditanyakan oleh Bani Israil kepada Musa 'alaihis salaam dengan tujuan untuk menyulitkan, mendustakan dan mengingkarinya.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan barangsiapa yang menukar keimanan dengan kekafiran." Artinya, barangsiapa yang membeli kekufuran dengan keimanan, "Maka sungguh orang itu benar-benar tersesat dari jalan yang lurus." Artinya, dia telah keluar dari jalan yang lurus menuju kebodohan dan kesesatan. Begitulah keadaan orang-orang yang menolak untuk membenarkan, mengikuti dan tunduk kepada para Nabi dan berbalik dengan menyelisihi dan mendustakan mereka serta mengusulkan pendapat lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dengan tujuan untuk menyulitkan dan mengingkari. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan, yaitu Neraka Jahannam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman." (QS. Ibrahim: 28-29)

Abul 'Aliyah mengatakan, "(Yakni) menukar kebahagiaan (kemudahan) dengan kesempitan." (414)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

413. Ad-Darimi (I/ 48) dan al-Majma' (I/ 158).

414. Ibnu Abi Hatim (I/ 330).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Larangan Banyak Bertanya | Al-Baqarah, Ayat 108 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 108.

Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasulmu sebagaimana Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barangsiapa yang menukar keimanan dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus. (QS. 2: 108)

Larangan Banyak Bertanya.

Dalam ayat ini Allah Ta'ala melarang orang-orang Mukmin banyak bertanya kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang perkara-perkara yang belum terjadi, sebagaimana Dia berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya akan menyusahkanmu dan jika kamu menanyakan pada waktu al-Qur-an itu sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu." (QS. Al-Maa-idah: 101). Artinya, jika kalian menanyakan rinciannya setelah diturunkannya ayat itu, niscaya akan dijelaskan kepada kalian. Dan janganlah kalian menanyakan suatu perkara yang belum terjadi, karena mungkin saja perkara itu akan diharamkan akibat pertanyaan tersebut. Oleh karenanya dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya orang Muslim yang kejahatannya paling besar adalah yang menanyakn sesuatu yang (sebelumnya) tidak diharamkan, kemudian hal itu menjadi diharamkan dengan sebab pertanyaannya." (408)

Dan ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, ditanya tentang seseorang yang mendapati isterinya sedang bersama laki-laki lain, jika kejadian itu dibicarakan maka itu adalah perkara besar (suatu aib untuknya), dan jika dibiarkan maka pantaskah ia diamkan hal tersebut? Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tidak menyukai pertanyaan-pertanyaan seperti itu dan mencelanya. Kemudian Allah menurunkan hukum mula'anah (li'an/ persaksian (sumpah) suami yang disertai laknat yang menuduh isterinya telah berzina dengan orang lain atau sebaliknya).

Oleh karena itu, di dalam kitab ash-Shahiihain disebutkan dari al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallaahu 'anhu, "Bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam melarang dari banyak bicara dan membicarakan setiap apa yang didengarnya, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya." (409)

Dan dalam Shahiih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Biarkanlah apa-apa yang tidak aku bicarakan kepada kalian, karena binasanya orang-orang sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan mereka menentang Nabi-nabi mereka. Maka jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, laksanakanlah semampu kalian dan jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka tinggalkanlah." (410)

Sabda beliau ini diucapkan setelah dikabarkan kepada mereka bahwa Allah Ta'ala mewajibkan ibadah haji kepada mereka, lalu seseorang bertanya, "Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?" Rasulullah (shallallaahu 'alaihi wa sallam) terdiam meski telah ditanya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau pun menjawab, "Seandainya aku menjawab, 'Ya,' maka hal itu akan menjadi suatu kewajiban. Dan kalian tidak akan sanggup melaksanakannya."

Kemudian beliau bersabda, "Biarkanlah apa-apa yang tidak aku bicarakan kepada kalian..." hingga akhir hadits. (411)

Oleh karena itu Anas bin Malik pernah berkata, "Kami dilarang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tentang sesuatu. Hal yang membuat kami senang adalah jika ada seseorang dari penduduk pedalaman (Badui) yang datang dan bertanya kepada beliau dan kami pun turut mendengar." (412)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

408. [Al-Bukhari (no. 7289), Muslim (no. 2358)].

409. Fat-hul Baari (III/ 398) dan Muslim (III/ 1341). [Al-Bukhari (no. 1477), Muslim (no. 1715 (10-14)). Lafazh hadits ini secara lengkap tercantum dalam kitab keduanya].

410. [Muslim (no. 1337), dan ini adalah lafazhnya, dan al-Bukhari (no. 7288)].

411. Muslim (II/ 975). [Muslim (no. 1337)].

412. Muslim (I/ 41). [Muslim (no. 12)].

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Penjelasan Tentang Kebenaran Naskh dan Bantahan Terhadap Orang-orang yahudi yang Menganggap Hal itu Mustahil (2) | Al-Baqarah, Ayat 106-107 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 106-107.

Penjelasan Tentang Kebenaran Naskh dan Bantahan Terhadap Orang-orang yahudi yang Menganggap Hal itu Mustahil (2).

(Aku (Ibnu Katsir) katakan) Yang mendorong orang-orang yahudi membahas masalah naskh ini semata-mata karena kekufuran dan keingkaran mereka atas adanya naskh tersebut. Bukan tidak masuk akal, bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat menolak adanya naskh dalam hukum-hukum Allah Ta'ala, karena memang Dia-lah yang memutuskan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagaimana Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Dan hal itu pun telah terjadi dalam Kitab-kitab dan syari'at-syari'at-Nya yang terdahulu. Sebagai contoh, dahulu Allah membolehkan Nabi Adam ('alaihis salaam) menikahkan puterinya dengan puteranya sendiri, kemudian setelah itu Allah mengharamkannya. Allah juga pernah membolehkan Nabi Nuh ('alaihis salaam) memakan segala jenis hewan setelah ia keluar dari kapal, kemudian Allah menghapus penghalalan sebagiannya. Selain itu, Allah juga pernah membolehkan Israil (Nabi Ya'qub ('alaihis salaam)) dan anak-anaknya menikahi dua wanita yang bersaudara (bersamaan), tetapi hal itu diharamkan dalam syari'at Taurat dan Kitab-kitab setelahnya. Allah juga pernah memerintahkan Nabi Ibrahim 'alaihis salaam agar menyembelih puteranya, kemudian Dia menaskhnya sebelum beliau melaksanakannya. Allah juga memerintahkan kebanyakan Bani Israil untuk membunuh orang-orang yang menyembah anak sapi di antara mereka, kemudian Dia menarik kembali perintah tersebut agar tidak membinasakan mereka.

Dan masih banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan masalah ini. Orang-orang yahudi sendiri mengakui dan membenarkannya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan berkenaan dengan dalil-dalil ini tidak dapat memalingkan maknanya, karena itulah yang dimaksudkan. Dan sebagaimana yang masyhur tertulis dalam Kitab-kitab mereka tentang kabar gembira akan datangnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam dan perintah untuk mengikuti beliau. Hal itu memberi pengertian yang mewajibkan untuk mengikuti beliau 'alaihish shalaatu was salaam, dan suatu amalan (ibadah) tidak akan diterima kecuali jika sesuai dengan syari'atnya. Sama saja, dikatakan bahwasanya syari'at terdahulu itu terbatas sampai pengutusan Rasulullah 'alaihish shalaatu was salaam, maka yang demikian itu tidak disebut sebagai naskh, berdasarkan firman-Nya, "Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187). Maupun pendapat lain yang mengatakan bahwa syari'at itu bersifat mutlak, dan sesungguhnya syari'at Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam menaskhnya. Bagaimanapun kondisinya, mengikuti beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah keharusan, karena beliau datang dengan membawa satu Kitab yang merupakan Kitab terakhir dari Allah Tabaaraka wa Ta'aala.

Di tempat ini Allah Ta'ala menjelaskan bolehnya naskh sebagai bantahan terhadap orang-orang yahudi -la'natullaah 'alaihim-, di mana Allah Ta'ala berfirman, "Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu? Tidakkah engkau mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?" dan ayat seterusnya.

Sebagaimana Allah memiliki kekuasaan tanpa ada yang menandinginya, demikian pula hanya Dia yang berhak memutuskan hukum sesuai dengan kehendak-Nya, "Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah milik (hak) Allah." (QS. Al-A'raaf: 54)

Dan dalam surat Ali 'Imran yang kalimat pada awal-awal surat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab juga terdapat naskh, yaitu firman-Nya, "Seluruh makanan adalah halal untuk Bani Israil kecuali makanan yang diharamkan Israil (Nabi Ya'qub) untuk dirinya sendiri," dan ayat seterusnya. (QS. Ali 'Imran: 93). Sebagaimana penafsirannya akan kami sampaikan berikutnya.

Seluruh kaum Muslimin sepakat membolehkan naskh dalam hukum-hukum Allah Ta'ala, karena di dalamnya terdapat hikmah yang sangat agung. Dan mereka semua mengakui telah terjadinya naskh tersebut.

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Penjelasan Tentang Kebenaran Naskh dan Bantahan Terhadap Orang-orang yahudi yang Menganggap Hal itu Mustahil | Al-Baqarah, Ayat 106-107 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir

Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir.

Shahih Tafsir Ibnu Katsir.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah.

Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri.

Al-Baqarah, Ayat 106-107.

Penjelasan Tentang Kebenaran Naskh dan Bantahan Terhadap Orang-orang yahudi yang Menganggap Hal itu Mustahil.

Firman Allah Ta'ala, "Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung ataupun seorang penolong."

Melalui ayat ini Allah Ta'ala menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya bahwasanya Dia-lah yang mengatur seluruh makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Dia-lah yang menciptakan dan memerintah. Dia-lah yang mengatur, sebagaimana Dia menciptakan mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Dia memberikan kebahagiaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menimpakan kesengsaraan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, Dia-lah yang menjadikan sehat siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang membuat sakit siapa yang dikehendaki-Nya, Dia-lah yang memberikan taufiq siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang menelantarkan siapa yang dikehendaki-Nya. Demikian pula Dia menetapkan hukum terhadap hamba-hamba-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya. Dia menghalalkan dan mengharamkan apa yang dikehendaki-Nya, membolehkan dan melarang apa yang dikehendaki-Nya. Dia-lah yang menentukan hukum yang dikehendaki-Nya. Tidak ada yang bisa menentang (menahan) hukum-Nya. Dia tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya dan makhluklah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka. Dia-lah yang menguji hamba-hamba-Nya dan menguji ketaatan mereka terhadap Rasul-rasul-Nya dengan naskh (penghapusan hukum). Dia memerintahkan sesuatu yang mengandung maslahat (kebaikan) bagi hamba-hamba-Nya yang hanya Dia-lah yang mengetahuinya, kemudian melarang mereka dari perkara-perkara yang kemudharatannya hanya diketahui oleh-Nya. Maka ketaatan yang mutlak adalah dengan melaksanakan perintah-Nya, mengikuti Rasul-rasul-Nya dalam membenarkan setiap hal yang mereka beritakan dan meninggalkan setiap hal yang mereka larang.

Penjelasan di atas merupakan bantahan telak dan penjelasan tuntas atas kekufuran yahudi serta pemalsuan syubhat mereka -laknat Allah atas mereka- yang menyerukan tentang kemustahilan adanya penghapusan hukum Allah, baik dengan alasan logika (akal) sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian mereka karena kebodohan dan kekufuran mereka, atau dengan alasan penukilan sebagaimana yang diduga (dikira-kira) oleh sebagian lainnya yang dibuat-buat dan (mengandung) kedustaan.

Imam Abu Ja'far bin Jarir rahimahullaah mengatakan, "Penafsiran ayat tersebut adalah, 'Wahai Muhammad, tidakkah engkau tahu bahwa hanya milik-Ku-lah kerajaan dan kekuasaan langit dan bumi, bukan selain-Ku. Di dalamnya Aku menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Ku. Aku memerintahkan kepada apa yang aku kehendaki dan melarang dari apa yang Aku kehendaki. Juga menaskh, mengganti serta merubah hukum-hukum yang Aku berlakukan kepada hamba-hamba-Ku sesuai dengan kehendak-Ku, jika Aku memang menghendaki, dan Aku menempatkan apa yang Aku kehendaki."

Kemudian Abu Ja'far mengatakan, "Meskipun ayat ini Allah Ta'ala tujukan kepada Nabi-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam (yang mengabarkan) tentang keagungan-Nya, namun ayat ini sekaligus mendustakan orang-orang yahudi yang mengingkari naskh (penghapusan) hukum-hukum Taurat dan menolak kenabian 'Isa dan Muhammad 'alaihimash shalaatu was salaam, karena keduanya diutus oleh Allah dengan membawa beberapa perubahan yang memang Allah rubah dari hukum-hukum Taurat.

Maka Allah memberitahukan kepada mereka bahwa kerajaan dan kekuasaan langit dan bumi ini hanyalah milik-Nya, dan seluruh makhluk ini berada di bawah kekuasaan-Nya dan tunduk kepada-Nya. Mereka wajib mendengar dan menaati perintah dan larangan-Nya. Dia memiliki hak untuk memberikan perintah dan larangan kepada mereka, menaskh, menetapkan dan menjadikan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berupa persetujuan (penetapan), perintah dan larangan." (407)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

407. Ath-Thabari (II/ 488).

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh - Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Edit Isi: Abu Ahsan Sirojuddin Hasan Bashri Lc, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta - Indonesia, Cetakan Keempat Belas, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (214)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Pengasuh.

109. Bab Seorang Wanita adalah Pengasuh.

214. Abdullah bin Umarr berkata bahwa dia mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Kalian semua adalah pengasuh, dan kalian semua adalah bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya. Pemimpin manusia adalah pengasuh dan dia bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya, dan seorang pria adalah pengasuh keluarganya dan seorang wanita adalah pengasuh di rumah suaminya, dan hamba sahaya pada harta tuannya."

Saya mendengar itu dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan saya kira Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Dan seorang pria pada harta ayahnya."

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Surabaya - Indonesia, Cetakan Pertama, Mei 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (213)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Pengasuh.

108. Bab Seorang Pria adalah Pengasuh Keluarganya.

213. Malik bin Huwarits berkata, "Saya pernah menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan kami saat itu adalah pemuda yang hampir sama umurnya. Dan beliau menganggap bahwa kami saat itu sangat mencintai keluarga kami. Beliau lalu bertanya pada kami karena siapa kami meninggalkan keluarga kami. Lalu kami jawab. Beliau adalah seorang yang penyayang, beliau bersabda,

'Pulanglah kalian kepada keluarga kalian. Ajarilah mereka [agama] dan perintahkanlah mereka [untuk melaksanakannya]. Shalatlah kalian seperti kalian melihatku shalat. Jika datang waktu shalat hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan adzan dan hendaknya yang paling tua usianya di antara kalian yang menjadi imam.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan Pertama, Mei 2004.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (212)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Pengasuh.

108. Bab Seorang Pria adalah Pengasuh Keluarganya.

212. Abdullah bin Umar berkata, "Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

'Kalian semua adalah pengasuh, dan kalian semua adalah bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya. Pemimpin manusia adalah pengasuh dan dia bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya, dan seorang pria adalah pengasuh keluarganya dan dia bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya, dan hamba sahaya adalah pengasuh harta tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya. Kalian semua adalah pengasuh dan kalian semua adalah bertanggung jawab atas apa yang diasuhnya.'"

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan Pertama, Mei 2004.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Adabul Mufrad (211)

Adabul Mufrad.

Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah.

Kitab Pegawai.

107. Bab Apakah Boleh Mengatakan: Rabbi.

211. Mutharraf berkata: Berkata ayahku saya pernah bersama utusan Bani Wafd menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Mereka lalu berkata, "Engkau adalah tuan kita." Beliau menjawab,

"Tuan itu adalah Allah."

Mereka kemudian berkata, "Dan engkau adalah yang paling utama di antara kita dan paling mulia." Bersabdalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam,

"Ucapkanlah dengan ucapan kalian dan jangan sampai syaithan menjalankan ucapan kalian." (34)

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

34. Janganlah kita berbicara dengan berlebih-lebihan karena terdorong oleh hawa nafsu yang menyebabkan syaithan akan ikut campur dan akhirnya kita tidak sengaja mengucapkan ucapan yang menyebabkan kita berdosa.

Hadits ini masih berkait dengan tema bagian ini, yaitu dilarang memuliakan seseorang berlebihan, bahkan pada seorang Nabi sekalipun, karena itu membawa kepada kesyirikan.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Adabul Mufrad, Penulis: Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari rahimahullah, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Adabul Mufrad, Penerjemah: Muhammad Khalid Abri, Penerbit: Syiar Semesta, Cetakan Pertama, Mei 2004.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Berkemah di Masjid bagi Orang Sakit dan Lainnya | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

77. Bab: Berkemah di Masjid bagi Orang Sakit dan Lainnya.

(Haditsnya adalah hadits Aisyah, yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 72).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Mandi Setelah Memeluk Islam dan Mengikat Tawanan di Masjid | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

76. Bab: Mandi Setelah Memeluk Islam dan Mengikat Tawanan di Masjid.

121.(272) Syuraih pernah memerintahkan untuk menahan orang yang bersalah di pagar masjid.

(Haditsnya adalah hadits Abu Hurairah, yang akan disebutkan pada kitab ke 64 bab 72).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Catatan Kaki:

272. Begitu juga oleh Ma'mar dengan sanad shahih darinya.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Bab Tawanan atau Orang Bersalah yang Diikat di Masjid | Kitab Shalat | Ringkasan Shahih Bukhari

Mukhtashar Shahih al-Imam al-Bukhari.

Ringkasan Shahih Bukhari.

Imam al-Bukhari rahimahullah.

Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Kitaabush Shalaah.

8. Kitab Shalat.

75. Bab: Tawanan atau Orang Bersalah yang Diikat di Masjid.

(Haditsnya adalah hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada kitab ke 21 bab 10).

Baca selanjutnya:

Kembali ke Daftar Isi Buku ini.

Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.

===

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.

===

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah