Memilih Rofiq yang Benar-benar Ahli dalam Pengobatan | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan)

Beberapa prinsip metode pengobatan Nabawi yang telah dijelaskan oleh As-Sunnah Asy-Syarifah adalah sebagai berikut:

Memilih Rofiq (Pelaku Pengobatan) yang Benar-benar Ahli dalam Pengobatan

Diriwayatkan dari Jabir bin 'Abdillah rodhiyallohu 'anhuma bahwa Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Setiap penyakit ada obatnya, jika obat mengenai penyakit, maka ia akan sembuh dengan izin Alloh." (52)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu 'anhu, ia berkata: Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Alloh tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya." (53)

=====

52) Shohih Muslim, (2204).

53) Shohihul Bukhori, (5678).

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan) | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Rofiq Thibb (Ahli Pengobatan)

Seseorang bisa dikatakan ahli dalam hal pengobatan apabila ia -dengan seizin Alloh- bisa memisahkan unsur-unsur yang apabila berkumpul menimbulkan bahaya bagi manusia, mengumpulkan unsur-unsur yang apabila terpisah menimbulkan bahaya, mengurangi unsur-unsur yang keberadaannya dalam kadar berlebih membahayakan, atau menambah unsur-unsur yang keberadaannya dalam kadar rendah bisa membahayakan; sehingga bisa memulihkan kesehatan yang hilang, atau memelihara kesehatan dengan memasukkan unsur yang sama atau serupa, menghilangkan penyakit dengan memasukkan unsur kebalikannya, serta mengeluarkan penyakit -atau mencegah terjadinya penyakit- dengan penangkal. Anda akan melihat, dalam ajaran Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam terdapat petunjuk-petunjuk yang bisa menjadi penyembuh yang memadai, dengan daya, kekuatan, karunia, dan pertolongan Alloh. (51)

=====

51) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 9.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Metode Pengobatan Nabawi | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional

Metode Pengobatan Nabawi

Ibnul Qoyyim berkata, "Metode pengobatan Nabawi tidak sebagaimana metode pengobatan para dokter. Pengobatan Nabawi sifatnya pasti, qoth'i, dan ilahi, bersumber dari wahyu, pelita kenabian, dan kesempurnaan akal. Adapun pengobatan lainnya kebanyakan berlandaskan perkiraan, dugaan, dan percobaan-percobaan. Memang tidak perlu dibantah bahwa banyak orang sakit yang tidak merasakan manfaat pengobatan Nabawi, karena yang bisa mendapatkan manfaat pengobatan Nabawi adalah siapa yang mau menerimanya dengan percaya dan yakin akan diperolehnya kesembuhan. Ia menerimanya dengan sepenuh hati, dengan keimanan dan kepatuhan. Al-Quran yang merupakan penyembuh apa yang ada di dalam hati ini, jika tidak diterima dengan penerimaan sepenuh hati, juga tidak akan bisa mewujudkan kesembuhan hati dari berbagai macam penyakitnya, bahkan tidak menambahkan kepada orang-orang munafik selain dosa-dosa dan penyakit-penyakit yang bertumpuk-tumpuk.

Bagaimana dengan pengobatan jasmani?! Metode pengobatan Nabawi tidak cocok kecuali untuk jasmani yang baik, sebagaimana penyembuhan Al-Quran tidak cocok kecuali untuk ruh yang baik dan hati yang hidup. Berpalingnya manusia dari metode pengobatan Nabawi sebagaimana berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Quran yang merupakan penyembuh manjur. Itu bukan disebabkan kekurangan pada obat, tetapi buruknya karakter, rusaknya tempat, dan tidak adanya penerimaan." (48)

Pengobatan Nabawi adalah metode pengobatan yang digunakan, diperintahkan, dan dianjurkan oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan beliau melarang kebalikannya.

Mari kita cermati ucapan Ibnul Qoyyim tentang pengobatan para Nabawi, "Ada obat-obatan yang menyembuhkan berbagai penyakit, yang tidak terjangkau oleh nalar para pakar pengobatan serta oleh pengetahuan, eksperimen, dan analogi mereka, yaitu obat-obatan hati dan ruhani, kekuatan hati, ketergantungan, tawakal, bersandarnya hati kepada Alloh, patahnya harapan di hadapan-Nya, ketundukan kepada-Nya, sedekah, doa, taubat, istighfar, berbuat baik kepada sesama manusia, menolong orang kesusahan, dan memberikan jalan keluar orang yang kesulitan.

Obat-obatan ini sudah dicoba oleh bangsa-bangsa dengan berbagai macam agama mereka, maka mereka merasakan pengaruhnya dalam penyembuhan penyakit, yang belum bisa dicapai oleh pengetahuan, eksperimen, dan analogi dokter yang paling ahli sekalipun.

Saya dan banyak orang lain telah mencoba obat-obatan ini dan kami mendapati obat-obatan ini berkhasiat melebihi khasiat obat-obatan yang bersifat materi." (49)

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam menyayangi kita dan telah memberi kita petunjuk tentang banyak obat-obatan, mengajari kita cara untuk memanfaatkannya, sehingga diperoleh kesembuhan dengan izin Alloh. Jika kita mencermati sabda-sabda beliau tentang pengobatan, baik pengobatan yang beliau laksanakan untuk mengobati diri sendiri, atau beliau resepkan dan anjurkan kepada orang lain, maka di dalamnya akan kita temukan hikmah yang tidak mampu dinalar oleh akal kebanyakan dokter.

Ibnul Qoyyim juga berkata, "Bahkan, perbandingan metode pengobatan para dokter dengan metode pengobatan Nabawi adalah seperti perbandingan antara metode pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dengan metode pengobatan para dokter. Hal ini telah diakui oleh pakar-pakar dan tokoh-tokoh kedokteran." (50)

=====

48) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-12.

49) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-36.

50) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 11-36.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Antara Pengobatan Nabawi dan Pengobatan Konvensional

Istilah thibb, dalam bahasa Arab, digunakan untuk menyebut beberapa makna, di antaranya:

1. Perbaikan. Anda mengatakan, "Thobabtuhu", maka itu artinya, "Saya memperbaikinya."

2. Kelembutan dan pengaturan. Kadang, seseorang dinyatakan, "Thobba bil umur." (46)

3. Kecerdasan. Jauhari berkata, "Orang-orang Arab biasa menyebut siapa pun yang cerdas dengan sebutan thobib." Abu 'Ubaid berkata, "Asal istilah thibb adalah kecerdasan dan keterampilan tentang sesuatu. Bila seseorang disebut sebagai thobib adalah jika ia seorang yang cerdas dan ahli, meskipun bukan dalam urusan pengobatan orang sakit." Yang lain mengatakan, "Seseorang disebut thobib, artinya ia cerdas. Ia disebut thobib karena kecerdasannya."

4. Kebiasaan. Dikatakan "Laisa bi thibbi", artinya, "bukan kebiasaanku."

5. Sihir. Dikatakan, "Rojulun mathbub", artinya, "seseorang yang tersihir." Abu 'Ubaid berkata, "Mereka menyebut orang yang terkena sihir dengan sebutan mathbub, karena mereka menyebut sihir dengan thibb." Ibnu Sayyid berkata, "Thobb, dengan fathah pada tho', artinya orang yang mengerti berbagai persoalan. Begitu juga seorang thobib. Adapun thibb, dengan kasroh, artinya perbuatan mengobati. Adapun thubb, dengan dhommah, adalah nama tempat."

Adapun thibb secara istilah adalah ilmu untuk mengetahui kondisi-kondisi badan manusia dari aspek kesehatannya maupun apa yang hilang darinya, untuk memelihara kesehatan yang ada dan mengembalikan yang hilang. (Kutipan dari perkataan Ibnul Qoyyim) (47)

=====

46) Maksudnya, ia bisa mengatur berbagai persoalan, -penerj.

47) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 135-137.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Klasifikasi Penyakit | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Tabib dan Metode Pengobatan

Klasifikasi Penyakit

Penyakit diklasifikasikan menjadi dua, yaitu penyakit hati dan penyakit badan.

Adapun pengobatan yang merupakan sarana kesembuhan hanya satu klasifikasi, yaitu pengobatan Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, yaitu wahyu yang berasal dari Ath-Thobib (43) kepada Al-Habib shollallohu 'alaihi wa sallam. (44)

Ibnu Qoyyim (rohimahulloh) berkata, "Ada orang yang mengatakan, 'Apa kaitan ajaran Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dengan persoalan ini, penjelasan tentang khasiat obat-obatan, prinsip-prinsip penyembuhan, dan penanganan urusan kesehatan?!' Pertanyaan ini mencerminkan kekurangpahaman tentang ajaran dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam. Pemahaman yang baik tentang Alloh dan Rosul-Nya, merupakan karunia yang dianugerahkan oleh Alloh kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Saya telah sampaikan kepada Anda tentang tiga prinsip pengobatan dalam Al-Quran.

Mengapa masih juga tidak percaya bahwa syariat Islam yang dibawa oleh Rosul yang diutus untuk memperbaiki urusan dunia dan akhirat ini mencakup juga kebaikan dalam aspek fisik, sebagaimana ia mencakup kebaikan dalam aspek hati (psikis)? Jangan karena tidak tahu, lalu menjadi antipati.

Andaikata seorang hamba dikaruniai penguasaan tentang Kitab Alloh dan Sunnah Rosul-Nya serta pemahaman sempurna terhadap teks-teks berikut konsekuensi-konsekuensinya, niscaya ia tidak membutuhkan keterangan-keterangan lain dan bisa menyimpulkan semua ilmu pengetahuan yang benar darinya." (45) Demikianlah kata Ibnul Qoyyim.

=====

43) Sang Tabib atau Sang Dokter, dalam hal ini adalah Alloh Subhanahu wa Ta'ala, -penerj.

44) Sang kekasih, dalam hal ini adalah Nabi Muhammad shollallohu 'alaihi wa sallam, -penerj.

45) Ath-Thibbun Nabawi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, hal. 414.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Pengobatan Nabawi (Thibbun Nabawi) | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Tabib dan Metode Pengobatan

Pengobatan Nabawi (Thibbun Nabawi)

Pengobatan Nabawi adalah metode pengobatan yang dijelaskan oleh Nabi shollallohu'alaihi wa sallam kepada orang yang mengalami sakit tentang apa yang beliau ketahui berdasarkan wahyu. Metode pengobatan ini sangat meyakinkan untuk menjadi sebab kesembuhan, sedangkan pengobatan lain lebih banyak merupakan hipotesis (dugaan).

Pengobatan ini bersandar kuat kepada akidah Islamiyah yang menyatakan bahwa Alloh adalah pemilik alam semesta ini, bahwa di tangan Alloh terletak kesembuhan. Dia yang memberikan kesembuhan kepada manusia. Ketika Ibrohim mengatakan, "Jika aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." (Asy-Syu'aro` [26]: 80), tidak lain pernyataan ini merupakan penegasan tentang hakikat dan akidah yang seyogyanya tidak hilang dari hati setiap muslim.

Jangan pula hilang dari pemikiran setiap muslim ingatan tentang hadits Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam, "Tidak ada penularan dan tidak ada thiyaroh." (39)

Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam membantah bahwa penularan penyakit dapat terjadi dengan sendirinya. Sakit dan sembuh tidak akan terjadi kecuali dengan izin dan takdir Alloh. Juga jangan lupa sabda beliau kepada seseorang yang menyatakan dirinya sebagai tabib, "Engkau adalah seorang rofiq, sedangkan Sang Tabib adalah Alloh." (40) Kesembuhan dan kesehatan adalah di tangan Alloh saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Karena tawazun (keseimbangan) merupakan ciri khas Islam, maka dari sisi lain kita mendapati perintah Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam untuk berobat dan anjuran beliau untuk tidak berpangku tangan. (41)

Beliau juga menegaskan bahwa Alloh memberikan kesembuhan kepada siapa yang mengupayakan sebab-sebabnya, dengan syarat hendaklah ia meyakini bahwa obat merupakan sebab semata, obat sendiri tidak memiliki kemampuan alamiah untuk menyembuhkan kecuali bila Alloh menghendaki hal itu. Barangsiapa yang meyakini bahwa sebab-sebab itu bisa memberikan pengaruh dengan sendirinya, maka keyakinannya itu salah. Itulah keyakinan keliru yang terjadi pada kaum Nabi Ibrohim 'alaihis salam, ketika mereka meyakini bahwa api memiliki kekuatan substantif untuk membakar, tidak mungkin melewatkan Ibrohim dalam keadaan tidak terbakar. Maka, Alloh memperlihatkan kepada mereka sebuah contoh nyata dan mencabut sifat membakar yang ada pada api itu, sehingga jadilah api itu dingin dan selamatlah Ibrohim.

Mengupayakan sebab merupakan hal yang diperintahkan dalam syariat. Ada bermacam jenis sebab, ada yang bersifat ilahi seperti doa, ada yang bersifat alami seperti obat. Ada pula yang merupakan perpaduan dari keduanya, seperti doa yang disertai dengan obat. Alloh 'Azza wa Jalla adalah yang menciptakan doa dan obat, sebagaimana dalam hadits Usamah bin Syarik, ia berkata: Saya pernah datang kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, (keadaan hening) seolah-olah di atas kepala mereka ada burung. Saya pun mengucapkan salam, kemudian duduk. Tak lama kemudian, datanglah orang-orang Arab Badui dari sana dan sini. Mereka bertanya, "Wahai Rosululloh, apakah kami boleh berobat?" Beliau menjawab, "Berobatlah, sesungguhnya Alloh tidak menciptakan penyakit kecuali juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit, yaitu tua." (42)

Maka, kita berkewajiban mengupayakan sebab-sebab, karena Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam memerintahkan dan melaksanakannya. Ketika sakit, beliau berobat. Di samping itu, kita juga harus memiliki sifat sabar, karena bersabar terhadap penyakit berpahala surga, sebagaimana terdapat dalam hadits tentang seorang wanita yang terkena penyakit ayan. Ia menerima dan bersabar terhadap penyakit itu dengan harapan mendapat pahala surga.

=====

39) Sikap pesimis yang mencegah seseorang melakukan tindakan disebabkan melihat tanda-tanda tertentu, -penerj.

40) Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Shohihul Jami`, (1252).

41) Ash-Shina'atuth Thibbiyyah, Ibnu Thorhan, pada bagian pengantar buku.

42) Sunan Abu Dawud, Syaikh Al-Albani berkata, "Shohih." Shohihul Jami' (2930).

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Tabib dan Metode Pengobatan | Keajaiban Thibbun Nabawi

Bagian 3

Beberapa Pedoman Teori Pengobatan Nabawi

Dengan nama Alloh dan dengan memuji-Nya, saya akan menyampaikan kepada Anda materi-materi ilmiah yang berasal dari Sunnah Nabi yang shohih, pemahaman para sahabat, dan penafsiran para ulama yang dikenal kesholihan mereka. Agar hati menjadi mantap dan berucap mengakui kebenaran Alloh 'Azza wa Jalla dan kebenaran Rosul-Nya shollallohu 'alaihi wa sallam. Kami menggabungkan materi-materi ilmiah ini dengan beberapa riset medis, dalam rangka meneladani apa yang dikatakan oleh "bapak para Nabi", Ibrohim ('alaihis salam), dalam perkataannya yang dimuat dalam ayat berikut, "Dan (ingatlah) ketika Ibrohim berkata, 'Ya Robbi, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Alloh berfirman, 'Belum yakinkah kamu?' Ibrohim menjawab, 'Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)'..." (Al-Baqoroh [2]: 260)

Sholawat semoga senantiasa dilimpahkan kepada Muhammad beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Tabib dan Metode Pengobatan

Syafi'i (rohimahulloh) berkata, "Ilmu pengobatan merupakan ilmu yang paling utama setelah ilmu tentang halal dan haram."

Khoththobi berkata, "Pengobatan ada dua jenis. Pertama, pengobatan yunani yang berdasarkan analogi, dan kedua, pengobatan Arab dan India yang berdasarkan eksperimen."

Saya katakan bahwa banyak terdapat jenis pengobatan, dan pengobatan yang paling benar adalah "Pengobatan Wahyu". Pengobatan ini dilakukan hanya berdasarkan wahyu yang disampaikan kepada Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam. Dari beliau kita mempelajarinya. Ilmu pengobatan ini diturunkan dari "Sang Tabib" yang tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Nya. Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam pernah bersabda tentang orang yang berkata, "Aku seorang tabib." Sabda beliau, "Allohlah Tabib, tetapi engkau adalah seorang rofiq (kawan), tabibnya adalah yang menciptakannya." (38)

Ilmu pengobatan merupakan sebab kesembuhan, sedangkan kita diperintahkan untuk mengupayakan sebab. Sebab yang paling besar dan benar bagi kesembuhan adalah yang berdasarkan wahyu dari langit.

=====

38) As-Silsilatush Shohihah (1537), ia berkata, "Shohih."

=====

Maraji'/ Sumber:

  • Kitab: Asy-Syifaa' min Wahyi Khaatamil Anbiyaa', Penulis: Aiman bin 'Abdul Fattah, Penerbit: Darush Shohifah, Cetakan I, 1425 H/ 2004 M, Judul Terjemahan: Keajaiban Thibbun Nabawi Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi, Penerjemah: Hawin Murtadlo, Editor: Muhammad Albani, Editor Medis: dr. Wadda' A. Umar, Penerbit: al-Qowam, Solo - Indonesia, Cetakan VIII, Nopember 2012 M.

Kewajiban Mengagungkan Allah | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 67

Kewajiban Mengagungkan Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Az Zumar: 67)

Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu menuturkan bahwa salah seorang rahib (pendeta, -ed.-) yahudi mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengatakan:

"Wahai Muhammad, kami mendapatkan (dalam Taurat, -pent) bahwa Allah akan meletakkan langit di atas satu jari, bumi yang berlapis-lapis di atas satu jari, pepohonan di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari dan seluruh makhluk di atas satu jari. Allah lantas berfirman, 'Aku adalah Penguasa...'" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun tersenyum hingga nampaklah gigi-giginya karena membenarkan ucapan orang alim yahudi tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas membaca firman Allah, "Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya." (HR. Bukhari 4811, 7415, 7451, Muslim 2786, dan Tirmidzi 3238)

Dalam riwayat Imam Muslim dikatakan,

"Gunung-gunung dan pepohonan di atas satu jari. Allah lantas menggoncangkannya lantas berfirman, "Aku-lah sang Penguasa dan Aku-lah Allah."

Dalam riwayat Imam Bukhari dikatakan,

"Allah meletakkan langit di atas satu jari, air dan tanah di atas satu jari, seluruh makhluk di atas satu jari." (HR. Bukhari Muslim)

Imam Muslim meriwayatkan hadits marfu' dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma,

"Pada hari Kiamat Allah 'Azza wa Jalla akan menggulung langit lantas memegangnya dengan tangan kanan-Nya. Allah lantas berfirman, 'Aku-lah sang Penguasa, mana orang-orang yang berbuat aniaya? Mana orang-orang yang menyombongkan diri?' Allah lantas menggulung tujuh bumi dan memegangnya dengan tangan kiri-Nya (172). Allah lantas berfirman, 'Aku-lah sang Penguasa, mana orang-orang yang berbuat aniaya? Mana orang-orang yang menyombongkan diri?'" (HR. Muslim 2788)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan,

"Tujuh langit dan tujuh bumi yang berada di telapak tangan Allah itu hanya seperti sebutir biji sawi di atas tangan seseorang di antara kalian." (Hasan, diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah 1090, Thabrani dalam At Tafsir 24/54)

Ibnu Jarir menuturkan bahwa Yunus telah menyampaikan hadits kepadanya dari Ibnu Wahb dari Ibnu Zaid dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tujuh langit yang berada di kursi Allah hanya seperti tujuh keping uang dirham yang dilemparkan di atas perisai." (HR. Thabrani dalam At Tafsir 3/10)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Abu Dzar (radhiyallahu'anhu) mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Kursi yang berada di 'Arsy itu hanya bagaikan sebuah cincin besi yang dilemparkan di atas padang pasir." (HR. Thabrani dalam At Tafsir 3/10)

Ibnu Mas'ud menuturkan,

"Jarak antara satu lapisan langit dunia dengan lapisan selanjutnya adalah perjalanan 500 tahun, jarak antara langi satu dengan langit yang lainnya adalah perjalanan 500 tahun. Jarak antara langit yang ketujuh dengan kursi Allah adalah perjalanan 500 tahun. Jarak antara kursi dan samudra air adalah perjalanan 500 tahun. 'Arsy berada di atas samudra air itu dan Allah berada di atas 'Arsy tersebut. Tidak ada amal perbuatan kalian yang tidak tampak oleh-Nya." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hammad bin Salamah, dari 'Ashim, dari Zirr, dari Abdullah. Sanadnya shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab At Tauhid 149 dan Thabrani dalam Al Kabir 9887)

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Mas'udi dengan lafal yang sama dari 'Ashim, dari Abu Wail, dari Abdullah. Al Hafidz Adz Dzahabi mengatakan bahwa atsar tersebut memiliki banyak jalan periwayatan.

Al 'Abbas bin 'Abdil Muthalib menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Apakah kalian tahu berapakah jarak antara langit dan bumi?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Jarak langit dan bumi adalah perjalanan 500 tahun, sedangkan jarak antara tiap langit adalah perjalanan 500 tahun. Tebal tiap lapis langit adalah perjalanan 500 tahun. Di antara langit yang ketujuh dengan 'Arsy terdapat samudra yang jarak antara dasar dan permukaannya sama seperti jarak antara langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas semua itu. Tidak ada amal perbuatan manusia yang tidak tampak oleh-Nya." (HR. Abu Dawud dan selainnya)

Kandungan Bab

1. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat." (173)

2. Pengetahuan tentang keagungan Allah dan sebagainya masih dikenal oleh orang-orang yahudi yang hidup pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan mereka tidak mengingkarinya dan tidak puka mengotak-atik maknanya.

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan keterangan dari orang alim yahudi tersebut bahkan Al Qur'an juga membenarkan hal itu.

4. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersenyum ketika orang alim yahudi menjelaskan pengetahuan yang agung itu.

5. Diterangkan bahwa Allah memiliki dua tangan, langit berada di tangan kanan dan bumi berada di tangan Allah yang lain.

6. Dijelaskan bahwa Allah juga memiliki tangan kiri.

7. Dijelaskan tentang keberadaan orang-orang yang lalim dan menyombongkan diri terhadap keagungan Allah.

8. Dijelaskan bahwa tujuh langit dan tujuh bumi jika diletakkan di atas telapak tangan Allah hanya seperti sebutir biji sawi diletakkan di atas tangan kita.

9. Besarnya kursi Allah dibandingkan dengan langit.

10. Luasnya 'Arsy dibandingkan dengan kursi Allah.

11. 'Arsy itu bukanlah kursi Allah maupun samudra air.

12. Jarak antara langit satu dengan langit yang berikutnya.

13. Jarak antara langit ketujuh dengan kursi Allah.

14. Jarak antara kursi Allah dan samudra air.

15. 'Arsy letaknya di atas samudra air.

16. Allah berada di atas 'Arsy.

17. Jarak antara langit dan bumi.

18. Tebal setiap langit adalah perjalanan 500 tahun.

19. Jarak antara permukaan dan dasar samudra yang berada di langit adalah perjalanan 500 tahun.

Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih mengetahui. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Muhammad, keluarganya dan para sahabat semuanya.

=====

Catatan Kaki:

172. Syaikh Albani mengatakan bahwa hadits ini syadz sebagaimana beliau terangkan dalam kitab Takhrijul Mushthalatil Arba'ah Al Waridah fil Qur'an. Syaikh Albani mengatakan bahwa yang menguatkan pernyataan bahwa kedua tangan Allah adalah kanan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud yang berbunyi, "Dengan tangan-Nya yang lain," sebagai ganti dari pernyataan, "Dengan tangan kiri-Nya." Dengan demikian hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) yang menyatakan bahwa kedua tangan Allah adalah kanan. (Al Ashalah 4/15 Syawal 1413 H hal 68)

173. Ayat ini menjelaskan kewajiban untuk mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Bentuk perwujudan pengagungan terhadap Allah adalah dengan mentauhidkan-Nya dan menyucikan-Nya dengan tidak berbuat kesyirikan. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 377)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Tindakan Preventif Rasulullah untuk Menjaga Tauhid | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 66

Tindakan Preventif Rasulullah untuk Menjaga Tauhid

Abdullah bin Asy Syikhir radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa tatkala dirinya ikut pergi bersama delegasi Bani 'Amir untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami mengatakan,

"Engkau adalah sayyid (tuan) kami." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) lantas bersabda, "Sayyid yang sebenarnya adalah Allah Tabaraka wa Ta'ala." Kami berkata, "Engkau adalah orang yang paling mulia dan kaya di antara kami." Beliau bersabda, "Kalian boleh mengucapkan semua perkataanmu tadi atau sebagiannya saja. Jangan sampai kalian terseret oleh setan." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 4806, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 10076)

Anas radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa orang-orang mengatakan,

"Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami, wahai tuan kami dan putra tuan kami." Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Wahai sekalian manusia, kalian boleh mengucapkan perkataan kalian tadi atau sebagiannya saja. Jangan sampai kalian terbujuk oleh setan. Aku adalah Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya. Aku tidaklah suka kalau kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang sebenarnya seperti yang telah diberikan Allah 'Azza wa Jalla." (Shahih, diriwayatkan oleh Nasa'i dalam kitab Al Kubra 10076, Ahmad 3/153, dan Ibnu Hibban 6240)

Kandungan Bab

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan orang agar mereka tidak bersikap berlebih-lebihan.

2. Perkataan yang sepatutnya diucapkan oleh seseorang yang dipanggil dengan, "Engkau adalah sayyid (tuan) kami."

3. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Jangan sampai setan menyeret kalian," padahal para sahabat tidaklah mengatakan kecuali yang sebenarnya.

4. Makna sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Aku tidaklah suka kalau kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang sebenarnya."

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Meminta Allah Sebagai Perantara Kepada Makhluk | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 65

Meminta Allah Sebagai Perantara Kepada Makhluk

Jubair bin Muth'im menuturkan bahwa ada seorang badui mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengatakan, "Wahai Rasulullah, orang-orang telah melemah, anak isteri kelaparan dan harta benda telah musnah. Mintakanlah kami hujan kepada Rabb-mu. Sesungguhnya kami meminta Allah sebagai perantara kepadamu dan memintamu sebagai perantara kepada Allah." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Mahasuci Allah! Mahasuci Allah!" Beliau terus bertasbih, sehingga para sahabat takut sekiranya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam marah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda, "Aku kasihan kepadamu, apakah engkau tidak mengetahui siapa itu Allah? Sesungguhnya kedudukan Allah itu lebih tinggi daripada apa yang kamu ucapkan. Allah tidak boleh dijadikan perantara kepada salah seorang makhluk-Nya." (HR. Abu Dawud 4726, Ibnu Khuzaimah dalam kitab At Tauhid 147)

Kandungan Bab

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingkari orang yang mengucapkan, "Kami menjadikan Allah sebagai perantara kepadamu."

2. Tatkala mendengar ucapan itu, raut muka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berubah sehingga juga berpengaruh pada raut muka para sahabat.

3. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak mengingkari ucapan badui kepadanya, "Kami menjadikanmu sebagai perantara kepada Allah."

4. Perlu diperhatikan makna ucapan, "Subhanallah." (Mahasuci Allah dari segala hal yang tak layak dengan keagungan dan kebesaran-Nya)

5. Orang-orang Islam meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar beliau memohon (kepada Allah) supaya diturunkan hujan.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Bersumpah Mendahului Allah | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 64

Larangan Bersumpah Mendahului Allah

Jundab bin Abdillah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Ada seseorang berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan.' Allah Subhanahu wa Ta'ala lantas berfirman, 'Siapakah yang telah bersumpah mendahului-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh, Aku telah mengampuni si Fulan dan menghapuskan amal kebajikanmu.'" (HR. Muslim 2621)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) bahwa orang yang mengucapkan demikian itu adalah seorang ahli ibadah. Abu Hurairah berkomentar, "Dia telah mengucapkan perkataan yang bisa membinasakan dunia dan akhiratnya."

Kandungan Bab

1. Larangan untuk bersumpah mendahului Allah.

2. Neraka lebih dekat kepada kita daripada tali sandal kita sendiri.

3. Surga juga lebih dekat kepada kita daripada tali sandal kita sendiri.

4. Bab ini merupakan penguat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi, "Sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu perkataan (yang tanpa dia sadari akan menghancurkannya di dunia dan akhirat, -ed.)..." (HR. Bukhari 6477, Muslim 2978 dari Abu Hurairah secara marfu' dengan lafazh innal 'abda, diriwayatkan juga Tirmidzi 2314, Ibnu Majah 3970, Ahmad 2/355-533, Ibnu Hibban 5706 dengan lafazh penulis)

5. Seseorang terkadang mendapatkan ampunan justru karena suatu perkara yang paling dibencinya.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Perjanjian Allah dan Nabi-Nya | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 63

Perjanjian Allah dan Nabi-Nya

Allah Ta'ala berfirman,

"Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya karena kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui yang kalian perbuat." (QS. An Nahl: 91)

Buraidah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat komandan batalyon atau peleton, maka beliau memberikan wasiat secara khusus kepadanya agar bertakwa kepada Allah dan bersikap baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Berperanglah di jalan Allah dengan tetap memohon pertolongan-Nya. (Mohon pertolongan Allah dan tetap ikhlas kepada-Nya, -ed.) Perangilah orang-orang yang kafir kepada Allah. Seranglah, tetapi janganlah kalian menyembunyikan harta rampasan perang dan jangan pula berkhianat. Janganlah mencincang korban yang terbunuh dan jangan pula membunuh seorang anak pun."

"Jika engkau bertemu dengan orang musyrik maka ajaklah mereka kepada tiga perkara. Perkara mana saja yang mereka setujui maka terimalah dan hentikan penyerangan terhadap mereka. Ajaklah mereka untuk memeluk agama Islam, jika mereka setuju maka terimalah dari mereka. Lantas ajaklah mereka untuk pindah dari negeri mereka ke negeri orang-orang muhajirin (kota Madinah). Beritahukanlah kepada mereka bahwa jika mereka melakukan hal itu maka mereka akan mendapatkan hak dan kewajiban seperti orang-orang muhajirin."

"Kalau mereka menolak untuk berpindah dari negeri mereka maka beritahukanlah bahwa mereka akan diperlakukan seperti orang badui dan hukum Allah Ta'ala tetap berlaku bagi mereka. Mereka tidak mendapatkan ghanimah dan fa'i sedikit pun kecuali kalau mereka berjihad bersama kaum muslim yang lain."

"Kalau mereka menolak, mintalah mereka agar membayar jizyah. Kalau mereka setuju, maka terimalah dari mereka dan hentikanlah penyerangan terhadap mereka."

"Kalau mereka menolak, mohonlah bantuan Allah dan perangilah mereka. Kalau engkau telah mengepung benteng pertahanan musuh, lantas mereka memintamu membuat perjanjian Allah dan Nabi-Nya untuk mereka, maka janganlah kamu buatkan perjanjian dirimu sendiri dan perjanjian kawan-kawanmu untuk mereka, karena membatalkan perjanjian kalian sendiri dan kawan-kawan kalian lebih ringan resikonya daripada membatalkan perjanjian Allah dan Nabi-Nya. Jika engkau telah mengepung benteng pertahanan musuh, lantas mereka memintamu untuk mengeluarkan mereka dengan hukum Allah, maka janganlah engkau keluarkan mereka. Akan tetapi keluarkanlah mereka atas dasar hukummu (hukum hasil ijtihadmu, -pent) karena engkau tidak tahu apakah tindakanmu terhadap mereka itu sudah sesuai dengan hukum Allah atau belum?" (HR. Muslim 1731 dari Buraidah bin Hushaib radhiyallahu 'anhu)

Kandungan Bab

1. Perbedaan antara perjanjian Allah dan Nabi-Nya dengan perjanjian kaum muslimin.

2. Hendaknya memilih perkara yang memiliki bahaya yang paling ringan dari dua pilihan yang ada.

3. Makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Berperanglah di jalan Allah dengan memohon pertolongan kepada Allah."

4. Makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Perangilah orang-orang yang kafir terhadap Allah."

5. Makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka."

6. Perbedaan antara hukum Allah dan hukum yang dihasilkan ulama (melalui ijtihad, -pent).

7. Sikap para sahabat tatkala suatu ketetapan hukum sangat dibutuhkan padahal kesesuaian putusan tersebut dengan hukum Allah masih belum jelas.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Banyak Bersumpah | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 62

Larangan Banyak Bersumpah

Allah Ta'ala berfirman,

"Jagalah sumpah kalian." (QS. Al Maidah: 89)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sumpah itu dapat melariskan barang dagangan akan tetapo dapat menghilangkan berkah usaha." (HR. Bukhari 2087, Muslim 1606)

Salman radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tiga orang yang tidak diajak bicara dan tidak disucikan oleh Allah serta akan mendapatkan siksa yang pedih adalah; orang yang telah beruban (karena umurnya yang sudah tua, -pent) yang melakukan zina, orang miskin yang sombong dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, yaitu orang yang tidak melakukan jual beli kecuali dengan bersumpah atas Nama Allah." (HR. Thabrani dengan sanad yang shahih dalam kitab Al Ausath 5577, Ash Shaghir 2/12, dan Al Kabir 6111)

Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dari 'Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sebaik-baik umatku adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian yang berikutnya dan kemudian yang berikutnya." -'Imran mengatakan, "Aku lupa apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut kata, '...setelah masaku...' dua kali atau tiga kali." -"Kemudian akan ada sebuah kaum sesudah kalian yang memberikan kesaksian padahal mereka tidak diminta untuk memberikan kesaksian. Mereka berkhianat dan tidak bisa dipercaya. Mereka bernadzar akan tetapi tidak dipenuhi dan tubuh mereka tampak gemuk." (HR. Bukhari 3650, Muslim 2535)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sebaik-baik orang adalah mereka yang hidup pada masaku, kemudian yang berikutnya dan kemudian yang berikutnya. Lantas akan datang sebuah kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya." (HR. Bukhari 3651, Muslim 2533)

Ibrahim mengatakan bahwa dahulu kala orang-orang tua memukuli kami ketika masih kecil lantaran persaksian dan perjanjian yang kami buat.

Kandungan Bab

1. Wasiat untuk menjaga sumpah.

2. Dijelaskan bahwa sumpah bisa melariskan barang dagangan akan tetapi juga bisa menghilangkan berkah usaha.

3. Ancaman yang sangat keras terhadap orang yang selalu melakukan jual beli dengan bersumpah atas Nama Allah.

4. Perlu diperhatikan bahwa dosa dapat menjadi besar walaupun faktor pendorongnya hanya kecil.

5. Celaan bagi orang yang memberikan sumpah tanpa diminta untuk melakukannya.

6. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memuji tiga atau empat kurun generasi awal lantas beliau menyebutkan kasus yang akan terjadi setelah kurun-kurun tersebut.

7. Celaan bagi orang yang memberikan kesaksian tanpa diminta untuk melakukannya.

8. Para salaf memukul anak-anak lantaran persaksian dan perjanjian yang mereka buat.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Azab Bagi Para Perupa Makhluk Bernyawa | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 61

Azab Bagi Para Perupa Makhluk Bernyawa

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Allah Ta'ala berfirman, 'Siapakah orang yang lebih aniaya daripada orang yang bermaksud menciptakan seperti ciptaan-Ku. (Kalau bisa, -pent) ciptakanlah seekor semut, ciptakanlah sebutir biji atau ciptakanlah sehelai rambut saja." (HR. Bukhari 5953, Muslim 2111)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Orang yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang yang membuat penyerupaan dengan makhluk Allah." (HR. Bukhari 5953, Muslim 2107)

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Semua perupa masuk ke dalam Neraka. Semua gambar yang telah dilukisnya akan diberi nyawa untuk menyiksa pelukis itu di Jahanam." (HR. Bukhari 2225, Muslim 2110 dan lafazh hadits ini dari beliau)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits marfu' dari Ibnu Abbas bahwa Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Barangsiapa ketika di dunia melukis sebuah gambar maka pada hari akhirat dia akan diperintahkan untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut namun dia tidak akan sanggup melakukannya." (HR. Bukhari 5963, Muslim 2110)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Al Hiyyaj, dia menuturkan bahwa 'Ali (radhiyallahu 'anhu) berkata kepadanya,

"Maukah engkau aku utus dengan misi sebagaimana ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku?! Yaitu janganlah engkau biarkan satu gambar pun melainkan menghapusnya dan jangan pula engkau biarkan satu kubur pun yang menonjol melainkan engkau ratakan." (HR. Muslim 979)

Kandungan Bab

1. Sikap keras Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap para pelukis.

2. Diterangkan bahwa sebab larangan itu adalah karena perbuatan itu tidaklah sopan kepada Allah karena Allah berfirman, "Siapakah orang yang lebih aniaya daripada orang yang bermaksud menciptakan seperti ciptaan-Ku?"

3. Pernyataan tentang kekuasaan Allah dan lemahnya para perupa. Hal ini berdasarkan firman-Nya, "(Kalau bisa, -pent) ciptakanlah seekor semut atau ciptakanlah sehelai rambut saja."

4. Dijelaskan bahwa para pelukis adalah orang yang akan mendapatkan siksaan yang paling berat.

5. Allah akan menciptakan ruh pada tiap gambar yang dibuat untuk menyiksa pelukisnya di Jahanam.

6. Allah memerintahkan pelukis itu untuk meniupkan ruh pada gambar yang dibuatnya.

7. Perintah untuk menghapuskan gambar tersebut jika kita menemukannya.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Berprasangka Buruk Kepada Allah | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 59

Berprasangka Buruk Kepada Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka mengatakan, 'Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?' Katakanlah, 'Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.' Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, 'Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.' Katakanlah, 'Sekiranya kalian berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.' Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. Allah Maha Mengetahui isi hati." (QS. Ali Imran: 154)

"Mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk. Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Neraka Jahanam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali." (QS. Al Fath: 6)

Dalam menafsirkan ayat yang pertama, Ibnul Qayyim mengatakan, "Persangkaan dalam ayat di atas, tafsirannya adalah mereka menyangka bahwa Allah Subhanahu (wa Ta'ala) tidak akan memenangkan Rasul-Nya dan kebenaran akan lenyap. Tafsiran yang lain adalah mereka menyangka bahwa musibah yang menimpa mereka tidaklah terjadi karena takdir Allah dan hikmah yang dikehendaki-Nya. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka mengingkari hikmah, mengingkari takdir, mengingkari bahwa Allah akan menyempurnakan agama Rasul-Nya dan mengingkari bahwa Allah akan memenangkan agama Rasul-Nya di atas seluruh agama yang ada. Itu semua adalah persangkaan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang munafik dan musyrik yang tertera dalam surat Al Fath."

Itu semua adalah persangkaan buruk karena mereka menyangka sesuatu yang tidak selayaknya bagi Allah Subhanahu (wa Ta'ala), hikmah, pujian dan janji-Nya yang selalu benar.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah akan memenangkan kebatilan di atas kebenaran dengan kemenangan yang abadi sehingga kebenaran akan lenyap, mengingkari bahwa segala yang terjadi ini lantaran qadha dan qadar-Nya atau mengingkari bahwa takdir-Nya itu terjadi karena suatu hikmah yang sangat dalam sehingga Allah berhak mendapatkan pujian atau bahkan menyangka bahwa itu semua terjadi hanya semata-mata karena kehendak Allah tanpa didasari hikmah-Nya, maka persangkaannya itu seperti persangkaan orang-orang kafir. Celakalah orang-orang kafir dengan Neraka (yang diancamkan bagi mereka, -pent).

Kebanyakan orang melakukan persangkaan buruk kepada Allah baik karena perbuatan Allah terhadap mereka sendiri maupun kepada orang lain. Tidak ada orang yang terbebas dari sikap demikian itu kecuali orang yang mengenal Allah, Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya, mengetahui hikmah (dalam takdir Allah, -pent) pasti ada dan mengetahui pula kewajiban untuk memuji-Nya. Orang yang berakal dan mau menasehati dirinya sendiri hendaknya memperhatikan hal ini. Orang yang berburuk sangka kepada Allah hendaknya segera bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya.

Apabila anda selidiki, siapa pun orangnya, niscaya anda akan menemukan orang yang bingung bahkan mencela takdir dengan mengatakan, "Seharusnya begini dan begitu." Ada yang jumlahnya sedikit dan ada pula yang jumlahnya banyak. Selidikilah diri anda sendiri, adakah anda termasuk orang yang selamat dari sikap demikian itu?!

Jika bersih dari buruk sangka pada Allah, dari petaka besar atau telah selamat.

Jika tidak demikian, sungguh kukira dirimu takkan selamat dari petaka besar.

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Ali Imran ayat: 154. (171)

2. Tafsir surat Al Fath ayat: 6.

3. Diterangkan bahwa berprasangka buruk kepada Allah memiliki bentuk yang beraneka macam.

4. Dijelaskan bahwa tidak ada orang yang selamat dari sikap berprasangka buruk itu kecuali orang yang mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah dan juga mengenal dirinya sendiri.

=====

Catatan Kaki:

171. Kedua ayat dalam surat Ali Imran dan Al Fath di atas menunjukkan kewajiban untuk berbaik sangka kepada Allah karena hal ini adalah bentuk konsekuensi tauhid, -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Mencaci Maki Angin | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 58

Larangan Mencaci Maki Angin

Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian mencaci-maki angin. Jika kalian melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, berdo'alah

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيْحِ, وَخَيْرِ مَافِيْهَا, وَخَيْرِ مَاأُمِرَتْ بِهِ, وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيْحِ, وَشَرِّ مَافِيْهَا, وَشَرِّ مَاأُمِرَتْ بِهِ

Allaahumma innaa nas-aluka min khairi hadzihir riihi, wa khairi maa fiihaa, wa khairi maa umirat bihi, wa na'uudzu bika min syarri hadzihir riihi, wa syarri maa fiihaa, wa syarri maa umirat bihi.
'Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang terkandung dalam angin ini dan kebaikan yang telah diinstruksikan kepadanya. Kami berlindung kepada-Mu dari kejelekan angin ini, kejelekan yang terkandung dalam angin ini dan kejelekan yang diinstruksikan kepadanya.'" (Hadits ini dishahihkan oleh Tirmidzi 2252, Nasa'i dalam Al Kubra 10770, dan Ahmad 5/123)

Kandungan Bab

1. Larangan mencaci-maki angin.

2. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan do'a yang hendaknya diucapkan ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan.

3. Dijelaskan bahwa angin itu (bertiup, -pent) dengan perintah Allah.

4. Terkadang angin diperintahkan untuk hal kebaikan akan tetapi terkadang pula diperintahkan untuk hal kejelekan.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Berandai-andai | Kitab Tauhid

At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid

Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah

Bab 57

Berandai-andai

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka berkata, 'Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.'" (QS. Ali Imran: 154)

"Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang, 'Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.'" (QS. Ali Imran: 168)

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu dan memintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Apabila kamu ditimpa suatu kegagalan, janganlah kamu mengatakan, 'Seandainya aku berbuat demikian dan demikian,' akan tetapi ucapkanlah,

قَدَّرَ ﷲُ وَمَاشَاءَ فَعَلَ

Qaddarallaahu wa maa syaa-a fa'ala
'Allah telah menakdirkan hal ini dan segala yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.' Sesungguhnya mengatakan 'Seandainya' akan membuka celah setan untuk beraksi." (HR. Muslim 2664, Ahmad 2/366-370, dan Ibnu Majah 79)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Ali Imran ayat: 154 dan ayat: 168. (170)

2. Larangan yang sangat tegas untuk mengucapkan, "Seandainya," tatkala ditimpa musibah.

3. Alasan larangan tersebut adalah hal itu akan membuka celah setan untuk beraksi.

4. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan ucapan yang baik (ketika ditimpa musibah, -pent).

5. Perintah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu yang bermanfaat dan memohon pertolongan kepada Allah.

6. Larangan untuk bersikap lemah yang kontradiktif dengan perintah tadi.

=====

Catatan Kaki:

170. Ayat ini menjelaskan wajibnya berserah diri kepada ketetapan dan takdir Allah karena sikap demikian itu merupakan bentuk kesempurnaan tauhid seseorang. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 321)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Permohonan dengan Menyebut Wajah Allah | Kitab Tauhid

Bab 56

Permohonan dengan Menyebut Wajah Allah

Tidak boleh memohon sesuatu dengan menyebut Wajah Allah kecuali hanya Surga.

Jabir radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidak boleh dimohon dengan menyebut Wajah Allah kecuali Surga." (HR. Abu Dawud 1671, Baihaqi 4/199)

Kandungan Bab

1. Larangan memohon sesuatu dengan menyebut Wajah Allah kecuali Surga.

2. Penetapan sifat wajah bagi Allah.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Menolak Permohonan Orang yang Meminta Atas Nama Allah | Kitab Tauhid

Bab 55

Larangan Menolak Permohonan Orang yang Meminta Atas Nama Allah

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang meminta perlindungan dengan menyebut Nama Allah, maka lindungilah. Barangsiapa yang meminta sesuatu dengan menyebut Nama Allah, maka berilah (apa yang dia minta, -ed.-). Jika ada orang yang mengundang kalian maka datangilah. Apabila ada orang yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah dia. Bila kalian tidak memiliki sesuatu untuk membalasnya maka do'akanlah dia sampai kalian merasa sudah cukup untuk membalas kebaikannya." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1672, 1509, Nasa'i 5/61, dan Ahmad 2/68, 99)

Kandungan Bab

1. Perintah memberikan perlindungan kepada orang yang memohon perlindungan dengan menyebut Nama Allah.

2. Perintah untuk mendatangi undangan.

3. Perintah untuk membalas kebaikan orang lain.

4. Perintah untuk mendo'akan orang yang telah berbuat baik kepada kita jika kemampuan kita hanya sebatas hal itu saja.

5. Makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sampai kalian merasa sudah cukup untuk membalas kebaikannya."

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Jangan Mengatakan "Hambaku" ('Abdi, Amati) | Kitab Tauhid

Bab 54

Jangan Mengatakan "Hambaku" ('Abdi, Amati)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah seseorang di antara kalian mengucapkan (kepada sahaya, -ed.), 'Siapkan makan untuk rabb kamu (gustimu) dan ambilkan air wudhu untuk rabb kamu (gustimu),' akan tetapi ucapkanlah, 'Sayyidi (tuanku) dan maulaya (tuanku).' Jangan pula mengucapkan, ''Abdi (hambaku laki-laki) dan amati (hambaku perempuan),' akan tetapi ucapkanlah, 'Fataya, fatati atau ghulami (169).'" (HR. Bukhari 2552 dan Muslim 2249)

Kandungan Bab

1. Larangan mengucapkan, "'Abdi (hambaku laki-laki) dan amati (hambaku perempuan)."

2. Seorang budak tidak boleh mengatakan, "Rabbku (gustiku)," dan tidak boleh menyuruhnya dengan mengucapkan, "Jamulah rabbmu (gustimu)."

3. Pengajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap sang tuan untuk memanggil budak dengan fataya, fatati atau ghulami.

4. Pengajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap budak untuk memanggil tuannya dengan sayidi dan maulaya.

5. Maksud hal tersebut adalah untuk merealisasikan tauhid meskipun dalam hal pengucapan.

=====

Catatan Kaki:

169. Makna etimologi rabbi, sayyidi dan maulaya adalah tuanku. Akan tetapi dalam hadits tersebut, Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) melarang menggunakan kata "rabb" untuk selain Allah. Itu semua adalah dalam rangka merealisasikan tauhid dengan semurni-murninya dan menutup pintu-pintu yang menjurus kepada tindak kesyirikan. Hal ini disebabkan karena pemakaian kata rabb" untuk selain Allah akan menimbulkan kesamaan nama antara makhluk dengan Allah sehingga akan terjadi kesyirikan dalam lafazh. Makna etimologi abdi, amati, fataya, fatati dan ghulami adalah budakku. Akan tetapi dalam hadits di atas Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) melarang pemakaian kata "abdi" dan "amati" sebagai tindakan preventif untuk menjaga kemurnian tauhid umat, -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Ucapan "Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki" | Kitab Tauhid

Bab 53

Ucapan "Ya Allah Ampunilah Aku Jika Engkau Menghendaki"

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan, 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepadaku jika Engkau menghendaki.' Hendaknya dia memantapkan permintaannya karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatu yang bisa memaksa-Nya untuk melakukan sesuatu." (HR. Bukhari 6339 dan Muslim 2679)

Dalam riwayat Imam Muslim (no. 2679) dikatakan,

"Hendaknya dia memperbesar harapannya, karena Allah tidak merasa kesulitan dengan sesuatu yang akan Dia berikan."

Kandungan Bab

1. Larangan berdo'a dengan mengucapkan, "Jika Engkau menghendaki."

2. Dijelaskan sebab larangan mengucapkan perkataan tersebut.

3. Makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Hendaklah dia memantapkan permintaannya."

4. Disyariatkannya memperbesar harapan (dalam memohon kepada Allah, -pent).

5. Dijelaskan sebab perintah untuk memperbesar harapan.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Larangan Mengucapkan "As Salamu 'Alallah" | Kitab Tauhid

Bab 52

Larangan Mengucapkan "As Salamu 'Alallah"

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

"Tatkala kami mengerjakan shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kami mengucapkan, 'As salamu 'alallahi min 'ibadihi, As salamu 'ala fulan wa fulan.' (Semoga keselamatan dari hamba-hamba-Nya tercurahkan kepada Allah. Semoga keselamatan tercurahkan kepada si Fulan dan Fulan). Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) lantas menegur, 'Janganlah kalian mengucapkan, 'As salamu 'alallah,' karena sesungguhnya Allah itu As Salam (Maha Pemberi Keselamatan).'" (HR. Bukhari 835 dan Muslim 402)

Kandungan Bab

1. Pengertian as salam.

2. As salam adalah bentuk ucapan selamat.

3. Ucapan selamat seperti ini tidaklah tepat kalau ditujukan kepada Allah.

4. Alasan larangan dalam permasalahan ini.

5. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) telah mengajarkan bentuk penghormatan yang tepat untuk Allah.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Menyelewengkan Nama-nama Allah | Kitab Tauhid

Bab 51

Menyelewengkan Nama-nama Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Hanya milik Allah asmaul husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al A'raf: 180)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala,

"Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya."

Ibnu Abbas mengatakan, "Mereka telah berbuat syirik (dalam nama-nama Allah, -pent)."

Ibnu Abbas mengatakan, "Orang-orang itu menamakan Al Lata dari kata Al Ilah dan Al 'Uza dari Al 'Izzah."

Al A'masy mengatakan, "Mereka menamakan Allah dengan nama-nama yang tidak ditetapkan-Nya."

Kandungan Bab

1. Kewajiban untuk menetapkan nama-nama Allah (sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya).

2. Nama-nama Allah itu indah.

3. Diperintahkan untuk berdo'a dengan menggunakan nama-nama Allah.

4. Pengertian menyelewengkan nama-nama Allah.

5. Ancaman bagi orang yang menyelewengkan nama-nama Allah.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Nama yang Dilarang | Kitab Tauhid

Bab 50

Nama yang Dilarang

Allah Ta'ala berfirman,

"Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka kedua orang itu menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada kedua orang itu. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al A'raf: 190)

Ibnu Hazm berkata, "Para ulama sepakat tentang keharaman pemakaian nama yang diperhambakan kepada selain Allah, misalnya; Abdu Amr, Abdul Ka'bah dan sebagainya, kecuali Abdul Muthalib.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Abbas berkata, "Setelah Nabi Adam menggauli isterinya, ia pun hamil. Iblis lantas mendatangi isteri Nabi Adam dan berkata, 'Sungguh, aku adalah teman kalian berdua yang telah mengeluarkan kalian dari Surga. Oleh karena itu taatlah kepadaku, kalau tidak niscaya akan kujadikan anakmu memiliki dua tanduk seperti rusa sehingga akan keluar dari perutmu dan merobeknya. Sungguh, aku akan melakukannya." Demikianlah, iblis menakut-nakuti Adam dan isterinya. Iblis memerintahkan, "Namakanlah anakmu dengan Abdul Harits." Adam dan isterinya pun enggan menuruti omongannya. Anaknya lantas lahir dan meninggal. Isteri Adam lantas hamil lagi dan iblis pun mendatangi mereka lagi seraya mengatakan seperti yang dikatakannya dulu. Akan tetapi keduanya tetap enggan untuk menuruti omongannya. Sang anak pun lahir dan meninggal. Isteri Adam kemudian hamil lagi dan iblis mendatanginya lagi seraya mengingatkan ucapannya yang dahulu kala. Karena Adam dan isterinya sangat menginginkan kelahiran sang anak maka keduanya menamakannya Abdul Harits. Itulah tafsir firman Allah Ta'ala,

"Kedua orang itu menjadikan anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka sebagai sekutu bagi Allah." (HR. Ibnu Abu Hatim dalam kitab At Tafsir 5/1634)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Qatadah menafsirkan, "Mereka berbuat syirik lantaran menaati iblis tersebut, bukan karena beribadah kepadanya."

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa dalam menafsirkan firman Allah Ta'ala,

"Jika Engkau mengaruniakan kami anak laki-laki yang sempurna (wujudnya)." (QS. Al A'raf: 189)

Mujahid mengatakan, "Adam dan Hawa khawatir kalau bayi yang lahir itu tidak berwujud manusia." Tafsir yang semakna dengan hal itu juga diriwayatkan dari Al Hasan, Sa'id dan yang lainnya.

Kandungan Bab

1. Keharaman memakai nama yang diperhambakan kepada selain Allah.

2. Tafsir surat Al A'raf ayat: 190. (168)

3. Perbuatan syirik dalam hal ini hanya sebatas dalam pemakaian nama tanpa ada maksud hakikat dari nama tersebut.

4. Pemberian Allah kepada seseorang berupa anak perempuan yang sempurna termasuk nikmat (yang harus disyukuri, -pent).

5. Para ulama salaf telah menyebutkan perbedaan antara syirik dalam ketaatan dan syirik dalam ibadah.

=====

Catatan Kaki:

168. Ayat ini menunjukkan bahwa pemakaian nama yang bermakna penghambaan terhadap selain Allah adalah syirik, -pent.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Kufur Nikmat | Kitab Tauhid

Bab 49

Kufur Nikmat

Allah Ta'ala berfirman,

"Jika Kami mengaruniakan rahmat dari Kami kepadanya setelah ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hak milikku. Aku tidak yakin bahwa hari Kiamat akan datang. Jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka aku akan memperoleh kebaikan di sisi-Nya.' Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir tentang amal perbuatan mereka dan Kami juga akan menimpakan siksa yang mengerikan kepada mereka." (QS. Fushilat: 50)

Mujahid menafsirkan, "Ayat di atas berkenaan dengan orang yang mengatakan, 'Ini adalah hasil usahaku dan aku memang berhak terhadap hal ini.'" Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata, "Ayat di atas berkenaan dengan orang yang mengatakan, 'Ini datangnya dari diriku sendiri.'"

Allah Ta'ala berfirman,

"(Qarun) berkata, 'Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang kumiliki.'" (QS. Al Qashash: 78)

Qatadah menafsirkan, "Karena pengetahuanku tentang usaha." Ahli tafsir yang lain menafsirkan, "Karena Allah mengetahui bahwa akulah yang berhak dengan hal ini." Itulah makna tafsiran Mujahid, "Aku diberi harta kekayaan ini karena kemuliaanku."

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Dulu ada tiga orang Bani Israil yaitu; orang berpenyakit lepra, orang yang berkepala botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka dengan mengutus Malaikat kepada mereka. Malaikat itu pun mendatangi orang yang berpenyakit lepra dan mengatakan, 'Nikmat apakah yang paling engkau sukai?' Orang itu menjawab, 'Warna dan kulit yang indah dan penyakitku yang membuat jijik orang ini segera hilang (dari tubuhku, -pent).'" Abu Hurairah menuturkan bahwa Malaikat lantas mengusap orang itu sehingga lenyaplah penyakit lepra yang dideritanya. Orang itu pun diberi warna dan kulit yang indah. Malaikat bertanya lagi, "Harta apakah yang paling engkau sukai?" Orang itu mengatakan, "Onta atau mungkin sapi." (Ishaq ragu ketika meriwayatkan lafal ini). Orang itu pun diberi onta-onta yang sedang bunting dan mendo'akan, "Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu dengan onta ini."

Abu Hurairah mengatakan bahwa Malaikat itu pun kemudian mendatangi orang botak kepalanya dan mengatakan, "Nikmat apakah yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Rambut yang indah dan sesuatu yang membuat orang-orang merasa jijik kepadaku hilang (dari tubuhku, -pent)." Malaikat itu pun mengusap orang itu sehingga hilanglah penyakitnya dan dia diberi rambut yang indah. Malaikat itu lantas bertanya lagi, "Harta apakah yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Sapi atau mungkin onta." Malaikat itu memberinya sapi-sapi yang bunting dan mendo'akan, "Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu dengan sapi ini."

Malaikat itu pun lantas mendatangi orang yang buta dan mengatakan, "Nikmat apakah yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Penglihatanku dikembalikan oleh Allah sehingga aku bisa melihat orang lain." Malaikat itu mengusap orang itu sehingga Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya, "Harta apakah yang paling engkau sukai?" Orang itu menjawab, "Kambing." Orang itu pun diberi kambing-kambing yang hampir beranak.

Onta, sapi dan kambing itu pun lantas berkembang biak sehingga orang yang pertama tadi memiliki onta yang bisa memenuhi satu lembah, orang yang kedua memiliki sapi yang bisa memenuhi satu lembah dan orang yang ketiga memiliki kambing yang bisa memenuhi satu lembah.

Malaikat tadi lantas mendatangi orang yang dulunya terkena penyakit lepra dengan bentuk dan kondisi yang menyerupainya seraya mengatakan, "Aku adalah orang yang miskin dan sedang bepergian jauh. Aku telah kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalananku ini. Saat ini, tidak ada bekal lagi kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Oleh karena itu aku meminta seekor onta saja untuk melanjutkan perjalananku atas nama Allah yang telah memberimu warna dan kulit yang indah." Orang itu menjawab, "Hak-hak yang harus kupenuhi sangat banyak (dan engkau tidak memiliki hak dalam hartaku, -pent)." Malaikat itu berkata, "Sepertinya aku mengenal dirimu. Bukankah engkau dulu adalah orang yang terkena penyakit lepra sehingga orang-orang pun merasa jijik dan engkau dulunya juga adalah orang miskin. Allah lantas memberimu harta yang banyak?" Orang itu menjawab, "Harta bendaku ini aku warisi dari nenek moyangku." Malaikat tadi berkata, "Jika kamu berkata bohong maka Allah akan mengembalikanmu seperti dahulu kala."

Abu Hurairah mengatakan bahwa Malaikat itu kemudian mendatangi orang yang dulunya botak seraya mengatakan sebagaimana yang diucapkannya kepada orang yang pertama tadi. Ternyata orang yang kedua ini juga memberikan jawaban persis seperti jawaban orang yang pertama. Malaikat pun berkata, "Jika kamu berkata bohong maka Allah akan mengembalikanmu seperti sedia kala."

Abu Hurairah menuturkan bahwa Malaikat itu kemudian mendatangi orang yang buta dengan bentuk dan kondisi yang menyerupainya seraya mengatakan, "Aku adalah orang yang miskin dan sedang menempuh perjalanan yang jauh. Aku telah kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalanan. Saat ini sudah tidak ada bekal lagi kecuali dengan pertolongan Allah kemudian dengan pertolonganmu. Oleh karena itu, aku meminta kepadamu seekor kambing sehingga aku bisa melanjutkan perjalananku atas nama Allah yang telah mengembalikan penglihatanmu." Orang itu lantas menjawab, "Dulu aku ini buta, lantas Allah mengembalikan penglihatanku. Oleh karena itu ambillah kambing itu sesukamu. Demi Allah, sekarang aku tidak akan mempermasalahkan kambing yang engkau ambil atas nama Allah." Malaikat itu berkata, "Simpanlah hartamu, sesungguhnya kalian sedang diuji Allah. Allah telah ridha denganmu dan tidak ridha dengan kedua orang temanmu." (HR. Bukhari 3464, Muslim 2964)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Fushilat ayat: 50. (167)

2. Makna ucapan, "Ini adalah hakku."

3. Makna ucapan, "Aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku."

4. Pelajaran yang sangat berharga dalam kisah yang sangat menarik di atas.

=====

Catatan Kaki:

167. Ayat ini mengharamkan penisbatan nikmat kepada selain Allah karena ini adalah bentuk perbuatan syirik kepada Allah dalam hal rububiyah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 394)

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Bersenda Gurau dengan Menyebut Allah, Al Qur'an, dan Rasulullah | Kitab Tauhid

Bab 48

Bersenda Gurau dengan Menyebut Allah, Al Qur'an, dan Rasulullah

Allah Ta'ala berfirman,

"Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok.'" (QS. At Taubah: 65)

Ibnu Umar, Muhammad bin Ka'ab dan Zaid bin Aslam menuturkan hadits yang maknanya adalah sebagai berikut:

Ketika terjadi perang Tabuk ada seseorang yang berkata, "Aku belum pernah melihat orang seperti para ahli baca Al Qur'an. Mereka adalah orang yang perutnya paling buncit, paling dusta omongannya dan paling pengecut ketika berperang." Yang dimaksud oleh orang itu adalah Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur'an.

Auf bin Malik berkata kepadanya, "Omong kosong, engkau adalah orang munafik. Sungguh, aku akan melapor kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." 'Auf lantas pergi menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melaporkan hal itu. Rupanya, (sebelum ia mengabarkan kepada Rasulullah), ayat Al Qur'an telah turun kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Orang tadi lantas menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Akan tetapi beliau telah beranjak dan menaiki ontanya. Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, kami hanyalah bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang sedang bepergian jauh untuk mengisi waktu luang saja." Ibnu Umar berkata, "Sepertinya aku melihat orang itu berpegangan pada sabuk pelana onta Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan kakinya tersandung-sandung batu seraya mengucapkan, 'Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas berkata kepadanya, 'Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok.'"

Beliau pun tidak menoleh dan tidak menambah omongannya. (HR. Ibnu Jarir 10/172-173)

Kandungan Bab

1. Masalah yang sangat penting bahwa orang yang memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya dihukumi kafir.

2. Tafsir ayat di atas berkenaan dengan orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, siapa pun orangnya.

3. Perbedaan antara menghasut dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

4. Perbedaan antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dan sikap keras terhadap musuh-musuh Allah.

5. Tidak semua permintaan maaf itu harus diterima.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Memuliakan Nama-nama Allah | Kitab Tauhid

Bab 47

Memuliakan Nama-nama Allah

Dalam rangka memuliakan nama-nama Allah kita diperintahkan untuk merubah nama (yang sekiranya dengan pemakaian nama tersebut akan berarti merendahkan Allah, -pent).

Dahulu kala Abu Syuraih radhiyallahu 'anhu berkun-yah (nama panggilan yang dinisbatkan kepada anak, -pent.-) Abul Hakam. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda kepadanya,

"Allah itu adalah Al Hakam dan segala hukum itu diserahkan kepadanya." Abu Syuraih berkata, "Jika kaumku berselisih, maka mereka mendatangiku dan aku pun memutuskan perkara mereka sehingga kedua belah pihak pun bisa menerimanya." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Alangkah baiknya hal ini. Apakah engkau memiliki anak?" Dia menjawab, "Syuraih, Muslim dan Abdullah." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bertanya, "Siapakah yang paling tua di antara mereka?" Dia menjawab, "Syuraih." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Kalau demikian namamu adalah Abu Syuraih." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 4955, Nasa'i 8/199, dan Ibnu Hibban 504)

Kandungan Bab

1. Senantiasa berusaha memuliakan nama-nama dan sifat-sifat Allah (dengan tidak menggunakan nama-nama yang memiliki makna seolah-olah sejajar dengan Allah, -pent), walaupun tidak bermaksud demikian.

2. Diperintahkan untuk merubah nama (yang memiliki konotasi negatif, -pent) dalam rangka memuliakan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

3. Disyariatkannya memilih nama anak yang paling tua untuk diambil sebagai nama kun-yah.

=====

Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah