Rasulullah Memerintahkan untuk Berobat dan Berupaya Mencari Kesembuhan serta Tidak Berputus Asa dari Kesembuhan Atas Suatu Penyakit | Bekam Cara Pengobatan Menurut Sunnah Nabi

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Memerintahkan untuk Berobat dan Berupaya Mencari Kesembuhan serta Tidak Berputus Asa dari Kesembuhan Atas Suatu Penyakit

Dari Jabir bin 'Abdillah (radhiyallahu 'anhu), dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:

"Setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang tepat dalam melakukan pengobatan suatu penyakit, maka dengan izin Allah 'Azza wa Jalla dia akan sembuh." (1)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dia bercerita: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

'Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan penyembuh untuknya.'" (2)

Dan dengan lafazh yang lain disebutkan:

"Sesungguhnya Allah tidak akan menurunkan suatu penyakit melainkan Dia turunkan juga penyembuh untuknya, yang hanya diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya." (3)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: "Mengenai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ) Likulli daa-in dawaa-un 'Setiap penyakit itu pasti ada obatnya', sebagai upaya untuk memperkuat jiwa orang yang sakit sekaligus dokter yang menanganinya. Beliau memerintahkan untuk menyelidiki serta mencari obat tersebut. Sebab, orang yang sakit jika menyadari adanya obat yang dapat menghilangkan penyakit yang diderita itu maka hatinya akan menggantungkan harapan pada kesembuhan dan sirna api keputusasaan. Hingga akhirnya terbuka baginya pintu harapan. Jika jiwanya kuat, maka akan bangkitnya pula semangat instingnya, dan itulah yang menjadi sebab bagi munculnya kekuatan roh/jiwa hewani, nabati, dan alami. (4) Jika roh/jiwa telah menguat, maka menguat pula seluruh kekuatan yang menyangganya sehingga berhasil menundukkan dan mengusir penyakit.

Demikian juga dengan dokter jika dia mengetahui bahwa penyakit tersebut ada obatnya, maka menguatlah semangatnya untuk mencari dan mendapatkan obat itu. Penyakit badan itu sama dengan penyakit hati. Allah tidaklah membuatkan penyakit bagi hati, melainkan pasti Dia buatkan penyembuh sebagai lawannya. Oleh karena itu, jika pasien yang sakit itu mengetahui obat tersebut lalu dia menggunakan obat tersebut dan tepat dengan penyakit hati yang dideritanya, maka dengan izin Allah akan sembuh." (5)

=====

Catatan Kaki:

1. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2204) dalam kitab as-Salaam, bab Li Kulli Daa-in Dawaa wa Istihbaabut Tadaawii.

2. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (X/113 no. 5678) dalam kitab ath-Thibb, bab Maa Anzala min Daa-in illaa Anzala lahu Syifaa'. Juga Ibnu Majah (no. 3439).

3. Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam kitab Musnadnya (IV/278).

4. Zaadul Ma'aad (IV/17).

5. Zaadul Ma'aad (IV/17).

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: Manhajus Salaamah fiimaa Warada fil Hijaamah, Penulis: Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nashr hafizhahullaah, Penerbit: Markaz al-Imam al-Albani lid Dirasat al-Manhajiyyah wal Abhats al-'Ilmiyyah, Cetakan Pertama, 2000 M/ 1421 H, Judul Terjemahan: Bekam Cara Pengobatan Menurut Sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, Penerjemah: M. Abdul Ghoffar E.M., Pengedit Isi: Zaki Rahmawan, dr. Zaky Basulaiman, Penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Bogor - Indonesia, Cetakan Pertama, Muharram 1426 H - Maret 2005 M.

Hukum Sihir | Kitab Tauhid

Bab 24

Hukum Sihir (118)

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya mereka telah menyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah mendapatkan keuntungan di akhirat." (QS. Al Baqarah: 102)

"Mereka beriman kepada jibt dan thaghut." (QS. An Nisa': 51)

Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa jibt adalah sihir, sedangkan thaghut adalah setan.

Jabir radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa thaghut-thaghut adalah para dukun yang ada di setiap kampung dan selalu didatangi setan.

Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) menuturkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Jauhilah tujuh perkara yang bisa membinasakan?" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu? Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan Islam, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang dan melontarkan tuduhan berzina kepada wanita yang beriman, suci dan selalu menjaga diri dari perbuatan itu." (HR. Bukhari 2766, Muslim 89)

Dalam hadits yang marfu' dari Jundab dikatakan,

"Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang." (HR. Tirmidzi 1460. Dia berkata, "Yang benar hadits ini mauquf", Hakim 4/360)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Bajalah bin Abadah (119), dia menuturkan bahwa Umar bin Al Khathab radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk membunuh semua tukang sihir baik yang laki-laki maupun perempuan. Bajalah mengatakan, "Kemudian kami pun melaksanakan hukuman mati kepada tiga orang tukang sihir perempuan." (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam kitab As Sunan 2180, Baihaqi 8/136 dengan lafazh ini, dan dishahihkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla 11/396 Bukhari 3156 tanpa menyebutkan lafazh "Tiga orang tukang sihir perempuan.")

Diriwayatkan dalam hadits shahih dari Hafshah radhiyallahu 'anha, bahwa dia telah memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh (120). Demikian pula diriwayatkan dalam hadits shahih dari Jundab.

Imam Ahmad (121) berkata, "Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa hukuman mati terhadap tukang sihir telah dilakukan oleh tiga orang sahabat (Umar, Hafshah dan Jundab, -pent)."

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Al Baqarah ayat 102. (122)

2. Tafsir surat An Nisa': 51. (123)

3. Pengertian jibt dan thaghut serta perbedaan dua hal tersebut.

4. Thaghut bisa berasal dari kalangan jin dan manusia.

5. Mengetahui tujuh perkara yang bisa membinasakan yang dilarang secara khusus.

6. Tukang sihir dihukumi kafir.

7. Tukang sihir dihukum bunuh tanpa harus diminta untuk bertaubat.

8. Tukang sihir ini telah ada di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman Umar, lantas bagaimana keberadaan mereka pada zaman yang sesudahnya? (tentunya akan lebih banyak lagi, -pent)

=====

Catatan Kaki:

118. Ar Raghib mengatakan bahwa kata sihir bisa dipakai untuk beberapa makna, yaitu:

a. Sesuatu yang lembut dan tipis.
b. Keajaiban yang terjadi dengan tipu daya dan khayalan belaka padahal sebenarnya tidak ada.
c. Keajaiban yang terjadi dengan meminta bantuan kepada setan dengan terlebih dahulu mendekatkan diri kepada mereka.
d. Keajaiban yang terjadi dengan berbicara kepada bintang-bintang. Menurut persangkaan orang, hal itu dilakukan dengan meminta ruh-ruh bintang itu turun kepada mereka.

119. Beliau adalah Bajalah bin 'Abadah At Tamimi Al 'Ambari. Beliau tinggal di kota Bashrah. Beliau adalah perawi yang terpercaya.

120. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa' dengan sanad yang terputus.

121. Beliau adalah Ahmad bin Ahmad bin Hambal salah seorang dari imam kaum muslimin. Beliau adalah penulis kitab Al Musnad.

122. Ayat di atas memperingatkan kita dari perbuatan sihir. Perbuatan sihir itu tidaklah bisa sempurna kecuali dengan perbuatan syirik. Padahal perbuatan syirik itu bertolak belakang dengan tauhid. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 220)

123. Ayat di atas menjelaskan haram dan tercelanya perbuatan sihir.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Realita Bahwa Sebagian Umat Islam Ada yang Menyembah Berhala | Kitab Tauhid

Bab 23

Realita Bahwa Sebagian Umat Islam Ada yang Menyembah Berhala

Allah Ta'ala berfirman,

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (109). Mereka mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 51)

"Katakanlah, 'Apakah kalian mau aku beritakan tentang orang-orang yang balasannya lebih buruk daripada (orang-orang fasik) di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. Di antara mereka ada yang dijadikan kera, babi dan orang-orang yang menyembah thaghut?'" (QS. Al Maidah: 60)

"Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.'" (QS. Al Kahfi: 21)

Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sungguh engkau akan mengikuti tradisi umat-umat sebelummu tahap demi tahap. Hingga kalaupun mereka masuk ke lobang dhab (hewan herbivora sejenis biawak, -pent), niscaya kalian akan ikut memasukinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah umat-umat terdahulu itu adalah orang-orang yahudi dan nashrani?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Lantas siapa lagi?" (HR. Bukhari 3456, Muslim 2669, Ahmad 4/125, Thabrani dalam kitab Al Kabir 7/40)

Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban (110) radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Allah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan barat. Sesungguhnya kekuasaan yang diraih umatku akan seluas belahan bumi yang dibentangkan kepadaku. Aku telah diberi dua perbendaharaan harta yaitu merah dan putih (111). Aku memohon kepada Rabb-ku agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik yang berkepanjangan dan jangan sampai mereka dikuasai oleh musuh yang bukan dari golongan mereka sendiri sehingga musuh itu akan merampas negeri mereka. Rabbku kemudian berfirman, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku menetapkan suatu keputusan maka keputusan itu tidak bisa dirubah lagi. Aku akan memberimu sesuatu untuk umatmu yaitu Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang berkepanjangan dan Aku juga tidak akan membuat musuh selain dari golongan mereka menguasai mereka sehingga musuh itu akan merampas negeri mereka. Musuh-musuh itu tidak akan bisa melakukan sekalipun mereka berkumpul dari segala penjuru dunia untuk memerangi umatmu sampai umatmu itu saling menghancurkan dan menawan satu sama lainnya.'" (HR. Muslim 2889)

Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Barqani dalam kitab Shahih-nya dengan tambahan,

"Sesungguhnya yang aku khawatirkan dari umatku adalah adanya pemimpin yang menyesatkan. Apabila pertumpahan darah telah terjadi dalam umatku maka tidak akan berakhir sampai hari Kiamat. Hari Kiamat itu tidak terjadi sampai suatu kaum dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sekelompok dari umatku menyembah berhala. Sesungguhnya dalam umatku akan muncul tiga puluh orang pendusta. Masing-masing mereka mengaku bahwa dirinya adalah nabi. Akulah nabi yang terakhir, tidak ada nabi lagi (yang diutus, -pent) setelahku. Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran dan mendapat pertolongan. Mereka tidak tergoyahkan dengan orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta'ala." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 4252, Ahmad 5/278, dan Hakim 4/449)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat An Nisa' ayat 51. (112)

2. Tafsir surat Al Maidah ayat 60. (113)

3. Tafsir surat Al Kahfi ayat 21. (114)

4. Suatu perkara yang sangat urgen adalah makna beriman kepada jibt dan thaghut dalam ayat diatas. Apakah sekedar percaya dalam hati atau mengikuti orang-orangnya sekalipun membenci mereka dan mengerti kebatilan mereka?

5. Ahli kitab berkata bahwa orang-orang yang kafir yang jelas-jelas kekafirannya itu justru jalannya lebih benar daripada orang-orang beriman.

6. Penyembahan terhadap berhala benar-benar akan terjadi pada umat ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Abu Sa'id di atas. Inilah yang dimaksudkan dari judul bab ini.

7. Keterangan tentang terjadinya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan oleh banyak kalangan dalam umat ini.

8. Sungguh sangat mengherankan dengan munculnya orang yang mengaku sebagai nabi di antaranya adalah orang yang bernama Al Mukhtar. Padahal dia mengucapkan dua kalimat syahadat, mengaku bahwa dirinya beragama Islam dan mengakui bahwa Rasulullah dan Al Qur'an adalah benar. Padahal di dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi. Walaupun demikian, Al Mukhtar tetap dipercaya orang dengan segala pernyataannya, meskipun jelas sekali kontradiktifnya. Al Mukhtar muncul pada akhir masa sahabat. Dia diikuti oleh banyak orang.

9. Kabar gembira (yang disampaikan oleh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), -ed) bahwa kebenaran tidak akan pernah hilang sebagaimana telah terjadi pada masa lalu. Bahkan akan senantiasa ada sekelompok orang (yang membela kebenaran itu, -pent).

10. Tanda yang menonjol dari kelompok pembela kebenaran itu adalah walaupun jumlah mereka sedikit akan tetapi mereka tidak tergoyahkan dengan adanya orang yang menghina dan menentang mereka.

11. Tanda itu akan nampak sampai hari Kiamat.

12. Dalam hadits di atas terdapat tanda-tanda kenabian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu:

a) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa Allah membentangkan belahan bumi yang timur dan barat kepadanya. Beliau lantas menjelaskan bahwa makna itu semua, maka terjadilah sebagaimana yang telah beliau kabarkan, berlainan halnya dengan belahan bumi yang selatan dan utara.

b) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa beliau akan diberi dua perbendaharaan simpanan.

c) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa dua permohonannya untuk umatnya dikabulkan Allah. (115)

d) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa permohonannya yang ketiga untuk umatnya tidak dikabulkan Allah. (116)

e) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa akan terjadi pertumpahan darah (dalam umatnya, -pent). Jika pertumpahan darah itu sudah terjadi maka tidak akan pernah berakhir.

f) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa umatnya akan saling membinasakan dan saling menawan satu sama lainnya.

g) Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengkhawatirkan umatnya dengan akan munculnya para pemimpin yang menyesatkan.

h) Kabar Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa akan muncul orang yang mengaku-aku sebagai nabi dalam umat ini. (117)

i) Kabar Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) tentang tetap eksisnya kelompok yang mendapatkan pertolongan dari Allah.

Segala yang dikabarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar terjadi persis seperti yang beliau beritakan. Walaupun semua yang dikabarkan itu adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan akal.

13. Sesuatu yang beliau takutkan menimpa umatnya adalah sebatas munculnya para pemimpin yang menyesatkan.

14. Sesuatu yang perlu diperhatikan di sini adalah tentang makna penyembahan berhala.

=====

Catatan Kaki:

109. Jibt adalah patung atau sihir. Thaghut adalah setan. Ada pula yang mengartikan bahwa thaghut adalah segala yang disembah selain Allah dan dia ridha dengan penyembahan itu. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 207)

110. Tsauban adalah maula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau senantiasa menemani dan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah Nabi wafat, beliau tinggal di Syam dan wafat di Himsh pada tahun 54 H.

111. Maksud merah dan putih ini adalah perbendaharaan harta Qaishar raja Romawi dan perbendaharaan harta Kisra raja Persia. Dikatakan merah karena kebanyakan harta Qaishar adalah berupa emas, walaupun sebenarnya dia juga memiliki perak, akan tetapi jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah emas yang dimilikinya. Dikatakan putih karena kebanyakan harta Kisra berupa permata dan perak. (Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 215)

112. Ayat di atas menjelaskan bahwa kesyirikan telah menimpa ahli kitab. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi ahli kitab. Di antara tradisi mereka adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 208)

113. Ayat di atas menjelaskan bahwa kesyirikan telah menimpa ahli kitab karena mereka menyembah thaghut. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang ahli kitab. Di antara tradisi mereka adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 210)

114. Ayat di atas menjelaskan bahwa ahli kitab telah membangun tempat ibadah di atas kubur. Lantaran perbuatannya itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat mereka karena perbuatannya itu bisa mengantarkan mereka untuk menyembah penghuni kubur tersebut. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang ahli kitab. Umat ini akan membangun masjid di atas kubur dan akhirnya mereka akan menyembah penghuni kubur tersebut. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 212)

115. Do'a agar umatnya tidak dibinasakan dengan paceklik berkepanjangan dan do'a agar umatnya tidak dikuasai oleh musuh yang berasal dari selain golongan mereka.

116. Do'a agar Allah tidak menimpakan kejelekan pada umatnya.

117. Ibnu Hajar mengatakan, "Penyebutan jumlah 30 itu bukanlah batasan jumlah orang-orang yang mengaku sebagai nabi karena jumlah mereka sebenarnya lebih dari 30 orang." Ibnu 'Utsaimin mengatakan, "Penyebutan jumlah 30 itu untuk menunjukkan batas bawah, artinya jumlah orang-orang yang mengaku nabi itu tidaklah kurang dari 30. Di sini, kami memalingkan makna tekstual kepada realita yang terjadi." (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/391)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Tindakan Preventif Rasulullah Untuk Membentengi Tauhid | Kitab Tauhid

Bab 22

Tindakan Preventif Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) Untuk Membentengi Tauhid

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berusaha melindungi tauhid umat ini. Bahkan beliau menutup semua jalan yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesyirikan.

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaan kalian. Dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Dia juga amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (QS. At Taubah: 128)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kubur. Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan. Bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada." (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan dan para perawinya adalah perawi yang terpercaya. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban 65 dan Thabrani dalam Al Kabir 1647 dengan sanad shahih)

'Ali (107) bin Al Husain radhiyallahu 'anhum melihat seseorang yang mendatangi celah yang ada pada kubur Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang itu lantas masuk di dalamnya dan berdo'a. 'Ali pun segera melarangnya dan mengatakan, "Maukah engkau kuberitahu dengan sebuah hadis yang kudengar dari bapakku dari kakekku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai tempat perayaan dan jangan pula menjadikanku rumah-rumah kalian sebagai kubur. Bershalawatlah kepadaku karena ucapan selamat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada." (Diriwayatkan oleh Abdul Ghani Al Maqdisi dalam kitab Al Ahaditsu Al Mukhtarah, Abu Ya'la 496, Adh Dhiya dalam kitab Al Mukhtarah 428. Hadits hasan)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Baraah ayat 128. (108)

2. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) berusaha untuk menjauhkan umatnya dari perbuatan syirik sejauh-jauhnya.

3. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) sangat menginginkan (agar kita beriman dan selamat, -pent). Beliau juga sangat belas kasihan dan penyayang (kepada orang-orang beriman, -pent).

4. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) melarang kita untuk menziarahi kuburnya dengan cara-cara tertentu padahal ziarah ke kuburan beliau adalah amal yang mulia.

5. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) melarang terlalu sering ziarah kubur.

6. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) menganjurkan kita untuk mengerjakan shalat sunnah di rumah.

7. Telah menjadi ketetapan para Salaf bahwa menyampaikan shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak perlu dilakukan di kubur beliau.

8. Alasan dari pernyataan di atas adalah karena ucapan shalawat dan salam seseorang yang ditujukan kepada beliau pasti akan sampai kepada beliau walaupun orang itu berada di tempat yang jauh. Oleh karena itu tidak perlu lagi dengan cara-cara seperti yang disangka orang yang ingin menyampaikan shalawat dan salam itu dari jarak yang dekat.

9. Di alam barzakh, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperlihatkan dengan amalan umatnya yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.

=====

Catatan Kaki:

107. Beliau adalah 'Ali bin Al Husain bin 'Ali bin Abi Thalib. Terkenal dengan sebutan Zainal Abidin. Termasuk tabiin yang paling mulia dan paling alim. Meninggal tahun 93 H.

108. Ayat di atas menunjukkan betapa besar keinginan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya. Hal ini memberikan konsekuensi bahwa dirinya harus menjaga sisi tauhid umat dan menutup semua jalan yang bisa mengantarkannya kepada kesyirikan. Beliau telah melakukan itu semua, beliau melarang umatnya mengagung-agungkan kubur dengan membuat bangunan di atasnya. Sebagai langkah awalnya beliau melarang hal itu terjadi pada kuburnya (walaupun dirinya belum meninggal, -pent). (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 201)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Dampak Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shalih | Kitab Tauhid

Bab 21

Dampak Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shalih

Sikap ekstrim terhadap kuburan orang shalih akan menjadikannya sebagai berhala yang disembah selain Allah.

Imam Malik (99) meriwayatkan dalam kitab Al muwatha' bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Ya Allah, janganlah engkau menjadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Alangkah murkanya Allah kepada orang yang menjadikan kubur-kubur orang shalih sebagai tempat ibadah." (Shahih, diriwayatkan oleh Malik, Bazzar secara maushul dalam kitab Kasyful Astar 440)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (100) dengan sanadnya dari Sufyan (101) dari Manshur (102) dari Mujahid (103) tentang tafsir firman Allah Ta'ala,

"Terangkanlah kepadaku (wahai musyrikin) tentang (berhala yang kalian anggap sebagai anak perempuan Allah) yaitu Al Lata dan Al Uzza." (QS. An Najm: 19)

Mujahid mengatakan bahwa Al Lata adalah orang yang dulunya mengaduk tepung untuk para jamaah haji. Setelah meninggal, orang-orang pun lantas bersemedi di kuburnya.

Demikian pula tafsir Ibnu 'Abbas sebagaimana disampaikan oleh Abul Jauza' (104). Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa Al Lata adalah orang yang dulunya mengaduk tepung untuk jamaah haji.

Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat para wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah serta membuat penerangan di atasnya." (HR. Abu Dawud 3236, Ibnu Majah 1575, Tirmidzi 320, Nasa'i 4/77, dan Ahmad 1/229)

Kandungan Bab

1. Pengertian berhala. (105)

2. Pengertian ibadah. (106)

3. Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo'a memohon perlindungan kepada Allah kecuali dari sesuatu yang dikhawatirkan akan terjadi.

4. Dalam do'a tersebut, Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) juga menyebutkan bahwa Allah murka terhadap orang yang menjadikan kuburan para Nabi sebagai tempat ibadah.

5. Disebutkan bahwa Allah sangat murka (kepada orang yang menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, -pent).

6. Perkara yang sangat urgen di sini adalah mengetahui sejarah terjadinya penyembahan kepada Al Lata, berhala yang paling besar.

7. Mengetahui bahwa berhala Al Lata itu asal mulanya dari kubur orang shalih.

8. Nama Al Lata adalah nama penghuni kubur tersebut. (Dalam bab ini, -pent) juga disebutkan pengertian dari nama tersebut.

9. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) melaknat para wanita yang berziarah kubur.

10. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) juga melaknat orang yang memberikan penerangan di atas kubur.

=====

Catatan Kaki:

99. Beliau adalah Abu Abdillah Malik bin Anas Al Ashbahi Al Madani. Beliau adalah imam di kota Madinah. Beliau wafat pada tahun 179 H.

100. Beliau adalah Muhammad bin Jarir Ath Thabari. Beliau adalah guru besar di bidang ilmu tafsir. Beliau wafat pada tahun 310 H.

101. Beliau adalah Sufyan Ats Tsari Amirul Mukminin dalam ilmu hadits. Beliau wafat pada tahun 161 H.

102. Beliau adalah Manshur bin Al Mu'tamir bin Abdillah As Sulami. Beliau adalah perawi hadits yang terpercaya dan kuat hafalannya. Beliau wafat pada tahun 132 H.

103. Beliau adalah Mujahid bin Jabar Abul Hajjaj Al Makhzumi Al Makki. Beliau adalah perawi hadits yang terpercaya dan seorang imam di bidang tafsir. Beliau wafat pada tahun 104 H.

104. Beliau adalah Aus bin Abdillah Ar Rib'i. Beliau wafat pada tahun 83 H.

105. Berhala adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah baik berupa patung, kubur, dan sebagainya. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/344)

106. Ibadah adalah merendahkan diri dan tunduk kepada sesuatu yang disembah dilandasi dengan rasa takut, harap, dan pengagungan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam), "Janganlah engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah." (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/344)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Bahaya Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Orang Shalih | Kitab Tauhid

Bab 19

Bahaya Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Orang Shalih

Faktor yang menyebabkan manusia menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka adalah sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

"Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agamamu. Janganlah berkata tentang Allah kecuali yang benar." (QS. An Nisa': 171)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari tentang tafsir firman Allah Ta'ala,

"Mereka mengatakan, 'Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) sesembahan-sesembahan kalian. Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) terhadap Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.'" (QS. Nuh: 23)

Ibnu 'Abbas (radhiyallahu 'anhuma) mengatakan, "Nama-nama di atas adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ('alaihis salam). Ketika mereka telah meninggal maka setan membisikkan sesuatu kepada kaum mereka, "Buatlah patung-patung di tempat pertemuan orang-orang shalih itu ketika mereka masih hidup. Namailah patung-patung itu masing-masing dengan nama-nama mereka." Kaum itu pun menurutinya dan patung-patung itu pun belum disembah. Tatkala umat itu telah tiada dan ilmu telah dilupakan maka patung-patung itu pun disembah." (HR. Bukhari 4920)

Ibnul Qayyim (87) menuturkan bahwa banyak dari kalangan Salaf yang mengatakan bahwa tatkala orang-orang shalih itu meninggal maka kaum itu pun berdiam diri di kubur orang-orang shalih itu. Mereka kemudian membuat patung-patung orang-orang shalih tadi. Masa pun berlalu, akhirnya mereka pun menyembah patung patung itu.

Umar radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan seperti pujian orang-orang nashrani kepada Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba. Oleh karena itu, katakanlah, '(Muhammad) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.'" (HR. Bukhari 3445, Muslim)

Umar menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Janganlah kalian bersikap berlebih-lebihan. Sesungguhnya faktor penyebab kehancuran umat-umat yang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan." (Shahih, diriwayatkan oleh Nasa'i 5/218, Ibnu Majah 3029, Ahmad 1/215, Ibnu khuzaimah 2827, Ibnu Hibban 3871, Hakim 1/466)

Imam muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Binasalah orang-orang yang bersikap ekstrim (berlebih-lebihan dalam bertindak)." Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengucapkan hal itu sebanyak tiga kali. (HR. Muslim 2670)

Kandungan Bab

1. Orang yang memahami bab ini dan dua bab berikutnya akan nampak jelas baginya keterasingan Islam. Dia akan menyaksikan kuasa Allah untuk membolak-balikkan hati dengan begitu menakjubkan.

2. Mengetahui bahwa awal mula sebab terjadinya kekeringan di muka bumi adalah adanya cara pandang yang salah dalam menyikapi orang-orang shalih.

3. Mengetahui perkara yang pertama kali terjadi yang mengakibatkan ajaran Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) berubah dan mengetahui faktor-faktor yang mendorong terjadinya perkara tersebut (88). Padahal Allah telah mengutus Rasul kepada kaum-kaum tersebut.

4. Diterimanya perkara-perkara bid'ah oleh sebagian orang, walaupun sebenarnya ditentang oleh syariat Islam dan fitrah yang masih bersih.

5. Faktor penyebab Itu semua adalah dicampuradukkannya antara kebenaran dan kebatilan. Yang pertama adalah sikap mencintai orang-orang shalih, sedangkan yang kedua adalah perbuatan beberapa orang yang memiliki ilmu dan agama yang baik. Mereka memiliki niat yang baik akan tetapi ternyata orang-orang yang sesudahnya menyangka bahwa yang dimaksud kan tidaklah demikian itu.

6. Tafsir surat Nuh ayat 23. (89)

7. Watak dasar manusia yaitu kebenaran yang berada di dalam hatinya bisa semakin berkurang akan tetapi sebaliknya kebatilan justru bisa semakin parah.

8. Kandungan bab ini menguatkan perkataan para Salaf bahwa bid'ah bisa menyebabkan kekafiran seseorang.

9. Setan mengetahui dampak perbuatan bid'ah walaupun maksud pelakunya baik.

10. Mengetahui kaidah umum yang mengatakan, "Tidak boleh berlebih-lebihan (ghuluw)." Dan mengetahui dampak dari sikap tersebut.

11. Bahaya sering berdiam diri di kuburan untuk melakukan amal kebajikan.

12. Larangan membuat patung dan hikmah memusnahkannya.

13. Kisah kaum Nabi Nuh di atas adalah kisah yang sangat menarik yang sangat dibutuhkan oleh umat ini. Meskipun sudah dilupakan oleh banyak orang.

13. Sungguh sangat mengherankan, orang-orang telah banyak membaca kisah kaum Nabi Nuh itu dalam buku-buku tafsir dan hadits dan mereka juga mengetahui maksud dari kalimat tersebut. Akan tetapi ternyata Allah menutupi hati mereka sehingga mereka menyakini bahwa perbuatan kaum Nabi Nuh itu adalah ibadah yang paling mulia.

15. Penjelasan yang sangat gamblang bahwa sebetulnya yang diinginkan oleh kaum Nabi Nuh adalah syafaat dari orang-orang shalih.

16. Mereka menyangka bahwa orang-orang yang berilmu sebelum mereka yang mendirikan patung-patung orang-orang shalih itu bermaksud agar patung-patung tersebut disembah.

17. Penjelasan yang sangat penting yang dikutip dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Janganlah kalian memujiku dengan berlebih-lebihan seperti pujian orang-orang nashrani kepada Ibnu Maryam." Semoga shalawat dan salam dari Allah senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah menyampaikan perkara ini dengan gamblang.

18. Nasehat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita bahwa orang-orang yang bersikap ekstrim akan binasa.

19. Dijelaskan bahwa patung-patung itu baru disembah ketika ilmu agama dilupakan. Dari uraian di atas maka jelaslah arti penting adanya ilmu dan bahaya yang diakibatkan hilangnya ilmu tersebut.

20. Sebab hilangnya ilmu adalah wafatnya para ulama.

=====

Catatan Kaki:

87. beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'ad Az Zur'i Ad Dimasyqi. Beliau terkenal dengan sebutan Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau adalah salah seorang murid dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau lahir pada tahun 691 H dan meninggal pada tahun 751 H.

88. Kasus yang pertama terjadi sehingga bisa merubah ajaran para Nabi adalah syirik. Timbulnya syirik ini disebabkan adanya salah sikap terhadap orang-orang shalih.

89. Ayat di atas menunjukkan bahwa sikap ekstrim terhadap orang-orang shalih adalah perbuatan syirik. Hal ini dikarenakan sikap ghuluw/ekstrim terhadap mereka itu berarti menyerahkan hak-hak ibadah yang khusus untuk Allah kepada orang-orang shalih tersebut. Demikian itu adalah bentuk perbuatan syirik kepada Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 176)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Memberi Hidayah Adalah Hak Allah | Kitab Tauhid

Bab 18

Memberi Hidayah (83) Adalah Hak Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah-lah yang memberikan petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya. Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al Qashash: 56)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnul Musayyab (84) dari bapaknya. Beliau menuturkan bahwa tatkala Abu Thalib akan meninggal, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendatanginya. Saat itu di sisinya telah ada Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahl. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) berkata kepada pamannya ini,

"Duhai pamanku, ucapkanlah La ilaha illallah, satu kalimat yang aku pergunakan sebagai bukti untukmu di hadapan Allah."

Abdullah dan Abu Jahl berkata, "Apakah engkau membenci agama Abdul Muthallib?" Abu Thalib menolak untuk mengucapkan La ilaha illallah. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) pun mengulangi perkataannya akan tetapi kedua orang itu pun juga mengulang-ulang perkataan mereka pula.

Akhirnya, kalimat terakhir yang diucapkan Abu Thalib menyatakan bahwa dirinya tetap pemeluk agama Abdul Muthallib dan menolak untuk mengucapkan La ilaha illallah. Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,

"Sungguh, aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang."

Allah 'Azza wa Jalla lantas menurunkan firman-Nya,

"Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni Neraka Jahanam." (QS. At Taubah: 113)

Mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan firman-Nya,

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi. Akan tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (HR. Bukhari 1360, Muslim 24)

Kandungan Bab

1. Tafsir firman Allah, "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi. Akan tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya." (85)

2. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik." (86)

3. Suatu permasalahan yang sangat penting, yaitu tafsir sabda Nabi, "Ucapkanlah La ilaha illallah." Tafsir kalimat ini ternyata berbeda dengan penafsiran yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku-aku bahwa dirinya memiliki ilmu.

4. Abu Jahl dan Abdullah bin Umayyah ternyata mengetahui maksud dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada pamannya, "Katakanlah, la ilaha illallah." Sungguh celaka orang yang tidak lebih tahu terhadap makna kalimat tersebut diatas daripada Abu Jahl.

5. Kesungguhan dan usaha maksimal yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengislamkan pamannya.

6. Hadits diatas adalah bantahan bagi orang yang menyangka bahwa Abdul Muthallib dan para leluhurnya memeluk agama Islam.

7. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memintakan ampunan untuk pamannya, akan tetapi ternyata Allah tidak mengampuninya. Bahkan beliau dilarang untuk melakukan hal itu.

8. Bahaya teman yang jelek bagi seseorang.

9. Bahaya mengagung-agungkan leluhur dan tokoh-tokoh besar.

10. Racun pemikiran yang dilontarkan oleh orang-orang sesat di antaranya dengan mengagung-agungkan para leluhur. Hal ini nampak dari argumentasi yang dikemukakan Abu Jahal.

11. Hadits di atas penguat dari pernyataan bahwa amalan seseorang itu tergantung dengan akhir kehidupannya. Kalau sekiranya Abu Thalib itu bersedia untuk mengucapkan kalimat La ilaha illallah maka kalimat itu berguna bagi dirinya di hadapan Allah.

12. Perhatikanlah, betapa besarnya dampak racun pemikiran (membangga-banggakan para leluhur, -pent) yang telah menyakiti hati orang orang yang sesat. Dalam kisah diatas disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Thalib kecuali (supaya menolak mengucapkan kalimat tauhid, -pent) dengan alasan kemuliaan para leluhurnya. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sudah berusaha semaksimal mungkin dan berulang kali (agar pamannya bersedia untuk mengucapkan kalimat La ilaha illallah, -pent). Mereka membatasi diri untuk tidak mengucapkan kalimat tersebut karena konsekuensi kalimat La ilaha illallah sangat agung dan jelas bagi mereka.

=====

Catatan Kaki:

83. Ada dua macam hidayah, yaitu hidayah taufik dan hidayah irsyad, bayan atau dalalah. Hidayat taufik adalah hak Allah semata. Sedangkan hidayah irsyad, bayan atau dalalah adalah menyampaikan jalan kebenaran kepada orang lain agar diikutinya. Hidayah ini bisa dilakukan oleh manusia, -pent.

84. Beliau adalah Sa'id Ibnul Musayyab bin Hazn bin Wahb Al Makhzumi. Beliau adalah salah satu dari tujuh ulama dari kalangan tabiin. Ibnul Madini berkomentar tentang beliau dengan mengatakan, "Tidaklah aku mengetahui kalau di kalangan tabiin ada orang yang memiliki ilmu lebih luas daripada Ibnul Musayyab."

85. Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Nabi Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam) tidak mampu memberikan hidayah -terlebih lagi orang selain beliau- kepada orang lain walaupun orang itu adalah orang yang paling dia cintai. Sesungguhnya memberikan hidayah taufik itu diluar kemampuan manusia. Menciptakan keimanan dalam hati itu adalah hak kuasa Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Dia bisa memberikan hidayah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dia lebih mengetahui orang yang pantas mendapatkan hidayah dari orang-orang yang tidak layak mendapatkan hal itu. Orang yang pantas mendapatkan hidayah, diberi-Nya hidayah. Sedangkan orang yang tidak layak untuk mendapatkannya, Allah akan membuatnya tetap dalam kesesatan. (Lihat Taisir Karimir Rahman hlm. 620)

86. Tidak sepantasnya dan tidaklah baik kalau sekiranya Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik. Mereka adalah orang-orang yang kafir terhadap Allah. Di samping menyembah Allah, mereka juga menyembah kepada selain-Nya. Walaupun mereka adalah kerabat dekat, setelah jelas bahwa mereka akan menjadi penghuni Neraka. Kalau kondisinya sudah demikian, maka memintakan ampun untuk mereka adalah suatu hal yang salah dan tidak bermanfaat. Hal ini dikarenakan kalau mereka mati di atas kesyirikan atau ternyata mereka diketahui meninggal di atas kesyirikan maka mereka akan mendapatkan azab dan kekal dalam api Neraka. Syafaat dan permintaan ampunan dari orang lain tidak lagi bermanfaat baginya. (Lihat Taisir Karimir Rahman hlm.353)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Syafaat | Kitab Tauhid

Bab 17

Syafaat

Allah Ta'ala berfirman,

"Berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabb mereka (pada hari Kiamat), sedangkan mereka tidak memiliki seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain Allah, agar mereka bertakwa." (QS. Al An'am: 51)

"Katakanlah, 'Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya.'" (QS. Az Zumar: 44)

"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya." (QS. Al Baqarah: 255)

"Betapa banyak Malaikat di langit, tetapi syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan kepada orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya." (QS. An Najm: 26)

"Katakanlah, 'Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai Rabb) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun dilangit dan dibumi. Mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam penciptaan langit dan bumi. Sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu-Nya. Tidaklah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu." (QS. Saba': 22-23)

Abul 'Abbas (79) mengatakan, "Allah telah menyangkal segala sesembahan selain Allah yang telah dijadikan tumpuan (tempat bergantung) oleh orang-orang musyrik. Allah juga menyangkal bahwa ada selain diri-Nya yang memiliki kekuasaan atau memiliki bagian dalam kekuasaan atau menjadi penolong-Nya. Namun, Allah tidak menyangkal bahwa seorang hamba bisa memberikan syafaat. Akan tetapi, Allah menjelaskan bahwa syafaat tidak akan bermanfaat kecuali bagi orang yang telah diizinkan Allah. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah,

"Mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang telah diridhai Allah."

"Syafaat yang disangka oleh orang-orang musyrik ini tidaklah ada pada hari Kiamat sebagaimana dinyatakan oleh Al Qur'an. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa beliau akan datang dan bersujud kepada Rabb-nya serta memuji-Nya. Beliau tidak langsung memberi syafaat terlebih dahulu. Allah lantas berfirman kepadanya, 'Angkatlah kepalamu, berkatalah niscaya perkataanmu akan didengarkan. Ajukanlah permintaan, niscaya akan diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaat yang engkau berikan diterima.'" (HR. Bukhari 3340, Muslim 194)

"Abu Hurairah bertanya, 'Siapakah orang yang paling bahagia dengan syafaatmu?' Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab,

"Orang yang mengucapkan La ilaha illallah dengan ikhlas di dalam hatinya." (HR. Bukhari 99)

Syafaat ini menjadi hak orang yang bertauhid dengan izin Allah. Syafaat ini tidak dimiliki oleh orang yang menyekutukan Allah."

"Pada hakekatnya, sesungguhnya Allah-lah yang memberikan karunia-Nya kepada orang yang ikhlas dalam beribadah. Allah mengampuni mereka dengan perantara orang yang telah Dia beri izin untuk memberikan syafaat. Hal ini dilakukan untuk memuliakan orang tersebut dan agar dia memperoleh kedudukan yang mulia."

"Bentuk syafaat yang ditentang Al Qur'an adalah syafaat yang mengandung unsur unsur kesyirikan. Oleh karena itu, dalam beberapa ayat, Al Qur'an menyebutkan syafaat yang mendapatkan izin dari Allah. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa syafaat itu hanya menjadi hak orang yang bertauhid yang ikhlas dalam beribadah kepada Allah." Sekian penukilan dari Abul Abbas Ibnu Taimiyah.

Kandungan Bab

1. Tafsir ayat-ayat yang disebutkan di atas. (80)

2. Bentuk syafaat yang dinyatakan tidak ada. (81)

3. Bentuk syafaat yang dinyatakan benar-benar ada. (82)

4. Dalam hadits di atas disebutkan adanya syafaat kubro yaitu kedudukan yang mulia.

5. Penjelasan tentang hal-hal yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (sebelum memberi syafaat, -pent). Beliau tidak langsung memberikan syafaat, tetapi bersujud terlebih dahulu kepada Allah. Ketika beliau telah mendapatkan izin dari Allah maka beliau pun memberikan syafaatnya.

6. Orang yang paling berbahagia dengan syafaat Nabi.

7. Syafaat ini tidak diberikan kepada orang yang menyekutukan Allah.

8. Penjelasan tentang hakekat syafaat yang sebenarnya.

=====

Catatan Kaki:

79. Beliau adalah Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdil Halim bin Abdis Salam bin Taimiyah. Beliau meninggal dalam keadaan belum menikah karena sibuk dengan ilmu dan jihad bukan karena meninggalkan Sunnah Nabi. Beliau memiliki usia 67 tahun dan meninggal pada tahun 728 H.

80. Ayat pertama dan ketiga menjelaskan bahwa seorang hamba tidak bisa dengan bebas memberikan syafaat. Oleh karena itu mencari syafaat dari makhluk adalah perbuatan syirik akbar. Contohnya adalah meminta syafaat kepada berhala-berhala yang kita sangka bahwa mereka bisa memberikan syafaat kepada kita dengan menyembahnya. Ayat kedua menjelaskan bahwa syafaat itu adalah milik Allah sepenuhnya. Tidak ada seorang pun selain Allah yang memiliki hak dengan syafaat. Oleh karena itu meminta syafaat kepada selain Allah adalah perbuatan syirik akbar. Ayat keempat menjelaskan bahwa syafaat itu tidak akan diperoleh sebelum mendapatkan izin dan ridha dari Allah. Dengan demikian ini menunjukkan bahwa syafaat itu adalah milik Allah sepenuhnya. Ayat kelima menjelaskan bahwa seorang hamba tidak bisa dengan bebas memberikan syafaat
 Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa syafaat itu adalah hak Allah semata. Meminta syafaat kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

81. Syafaat yang mengandung unsur unsur kesyirikan.

82. Syafaat untuk orang yang bertauhid akan tetapi disyaratkan bahwa orang yang memberi syafaat dan mendapatkan syafaat telah mendapatkan izin Dan kerelaan dari Allah.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Malaikat Tidak Berhak Untuk Diibadahi | Kitab Tauhid

Bab 16

Malaikat Tidak Berhak Untuk Diibadahi

Allah ta'ala berfirman,

"Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka (Malaikat), mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.'" (QS. Saba': 23)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para Malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk dengan firman-Nya. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gemerincing rantai di atas batu. Hal ini memekakkan mereka. Apabila rasa takut itu telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, 'Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar. Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.'"

"Setan-setan penyadap berita pun mendengarkan berita itu. Para penyadap berita itu posisinya saling bertumpuk-tumpukan. Sofyan menggambarkannya dengan memiringkan telapak tangannya dan merenggangkan jari-jemarinya. Jika setan yang di atas mendengar berita itu maka segera dia sampaikan kepada setan yang berada di bawahnya kemudian yang lainnya juga menyampaikan kepada setan yang berada di bawahnya hingga sampai kepada tukang sihir dan dukun."

"Terkadang setan penyadap berita itu terkena meteor sebelum sempat menyampaikan berita itu. Terkadang pula setan itu bisa menyampaikan berita itu sebelum terkena meteor tadi. Lalu dengan berita yang didengarnya itulah tukang sihir atau dukun itu menyampaikan banyak kedustaan. Orang-orang yang mendatangi tukang sihir atau dukun pun mengatakan, 'Bukankah pada hari anu, dia telah mengabarkan kepada kita bahwa akan terjadi demikian dan demikian.' Akibatnya, tukang sihir dan dukun itu pun dipercaya karena satu kalimat yang telah didengarnya dari langit." (HR. Bukhari 4701)

An Nuwas bin Sam'an (74) radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Apabila Allah ingin mewahyukan suatu perintah, maka Dia pun berfirman dengan wahyu tersebut. Langit pun bergetar keras karena takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Apabila Malaikat penghuni langit mendengar wahyu tersebut, mereka pun pingsan dan bersungkur sujud kepada Allah. Malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril. Allah lantas berfirman kepadanya dengan wahyu sesuai dengan kehendak-Nya."

"Jibril lantas melewati para Malaikat. Setiap kali dia melewati satu langit, para malaikat yang ada di langit tersebut bertanya kepadanya, 'Wahai Jibril, apa yang telah difirmankan oleh Rabb kita?' Jibril menjawab, 'Allah telah memfirmankan sesuatu yang benar. Dia Mahatinggi dan Mahabesar.' Semua Malaikat pun mengucapkan seperti perkataan Jibril tadi. Jibril lantas menyampaikan wahyu itu sesuai dengan perintah Allah 'Azza wa Jalla." (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab At Tafsir 22/91, Ibnu Khuzaimah dalam At Tauhid 206, Thabrani dalam kitab Musnad Asy Syamiyin 591)

Kandungan Bab

1. Tafsir surat Saba' ayat: 23. (75)

2. Ayat ini mengandung argumen tentang batilnya kesyirikan, khususnya yang ada kaitannya dengan orang-orang shalih. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat yang bisa memangkas akar-akar kesyirikan dari dalam hati.

3. Tafsir firman Allah ta'ala, "Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.'" (76)

4. Sebab pertanyaan para Malaikat tentang wahyu tersebut. (77)

5. Jibril kemudian menjawab pertanyaan para Malaikat itu dengan mengatakan, "Allah telah memfirmankan sesuatu yang benar. Dia Mahatinggi dan Mahabesar."

6. Disebutkan dalam hadis di atas bahwa Malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril. (78)

7. Jibril memberi jawaban kepada seluruh penghuni langit karena mereka semua bertanya kepadanya.

8. Seluruh Malaikat penghuni langit pingsan setelah mendengar firman Allah tersebut.

9. Langit bergetar karena mendengar kalam Allah.

10. Jibril adalah Malaikat yang menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan perintah Allah.

11. Disebutkan dalam hadis di atas bahwa ada setan yang menyadap kabar dari langit.

12. Posisi setan-setan penyadap berita itu saling menunggangi satu sama lain.

13. Peluncuran meteor (untuk menembak setan-setan penyadap berita, -pent).

14. Terkadang setan sudah tertembak meteor sebelum bisa menyampaikan kabar itu. Akan tetapi terkadang pula, dia bisa menyampaikan kabar itu kepada manusia yang menjadi anteknya sebelum tersambar oleh meteor tersebut.

15. Omongan dukun/tukang ramal terkadang bisa benar.

16. Dukun mencampur aduk kabar dari langit itu dengan banyak kedustaan.

17. Kebohongannya tidaklah bisa dipercaya kecuali karena kalimat yang diterimanya dari langit.

18. Jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk menerima kebatilan. Bagaimana orang-orang bisa berpatokan dengan satu omongan dukun yang kebetulan saja sesuai dengan kenyataan dan tidak mau mempertimbangkan banyak kedustaan yang dibuat oleh dukun tersebut.

19. Omongan dukun yang kebetulan sesuai dengan kenyataan itu tersebar luas dari mulut ke mulut. Bahkan mereka menghafalkannya dan menjadikannya sebagai bukti kebenaran perkataan (ramalan) sang dukun.

20. Penetapan sifat-sifat bagi Allah. Hal ini berbeda dengan sekte asy'ariyah yang meniadakan sifat-sifat bagi Allah.

21. Dijelaskan di atas bahwa bergetarnya langit dan pingsannya para Malaikat dikarenakan rasa takut mereka kepada Allah 'Azza wa Jalla.

22. Para Malaikat bersungkur sujud kepada Allah.

=====

Catatan Kaki:

74. Beliau adalah An Nuwas bin Sam'an bin Khalid bin Amr Al Kalabi Al Anshari. Beliau adalah seorang sahabat Nabi. Ada ulama yang mengatakan bahwa bapak beliau juga seorang sahabat.

75. Ayat ini menjelaskan bahwa sebenarnya para Malaikat takut kepada Allah, lantas bagaimana mungkin mereka dijadikan sesembahan selain Allah. Kalau beribadah kepada para Malaikat baik dengan meyakini bahwa malaikat itu yang bisa memberi syafaat atau hanya sekedar menjadikan mereka sebagai perantara untuk memperoleh syafaat itu tidak diperbolehkan, apalagi beribadah kepada selain mereka, misalnya: kubur sebagai sesembahan selain Allah. Tentunya hal itu lebih tidak layak lagi. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 148)

76. Allah 'Azza wa Jalla berfirman dengan perkataan yang benar karena Allah adalah Al Haq. Tidak akan terjadi dari diri-Nya kecuali kebenaran pula. Dia tidak akan berkata dan berbuat kecuali dengan kebenaran. (Lihat Al Qaulul Mufid Syarh Kitab At Tauhid: I/242)

77. Sebabnya adalah rasa takut yang sangat mendalam dari para Malaikat kepada Allah. Mereka takut sekiranya wahyu itu ternyata berbicara tentang mereka yaitu berisi siksaan yang tidak akan mampu mereka tanggung.

78. Ini menunjukkan keutamaan Jibril dari Malaikat-malaikat yang lainnya.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Batilnya Sesembahan Selain Allah | Kitab Tauhid

Bab 15

Batilnya Sesembahan Selain Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." (QS. Al A'raf: 191-192)

"Orang-orang yang kalian sembah selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Pada hari Kiamat, mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (QS. Fathir: 13-14)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa pada perang Uhud,

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terluka pada bagian kepalanya dan gigi taringnya patah. Beliau lantas bersabda, "Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka?" Lantas turunlah ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (QS. Ali 'Imran: 128) (Bukhari meriwayatkan secara mu'allaq di kitab Al Maghazi bab Laisa laka minal amri syaiun. Muslim meriwayatkan secara maushul 1791 dari Tsabit dari Anas, Tirmidzi 3004, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 11077, Ahmad 3/99, 20)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Umar (66), dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa tatkala mengangkat kepalanya dari ruku' pada rakaat terakhir shalat Subuh:

اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا

Allaahummal 'an Fulaanan wa Fulaanan.
"Ya Allah, kutuklah si-A dan si-B." Yaitu setelah mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu'. Lantas turunlah ayat, "Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (HR. Bukhari 4069)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau mendo'akan agar Shafwan bin Umayah, Suhail bin 'Amr dan Al Harits bin Hisyam (67) dijauhkan dari rahmat Allah. Lantas turunlah ayat,

"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari 4070, Tirmidzi secara maushul 3004, Ahmad 2/93)

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dia menuturkan bahwa tatkala turun ayat,

"Berilah peringatan kepada kerabat kerabat terdekat." (QS. Asy Syu'ara': 214)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dan bersabda,

"Wahai sekalian orang-orang Quraisy -atau dengan kalimat lain yang semisalnya- tebuslah diri kalian (dari siksa Allah dengan menyerahkan ibadah hanya kepada-Nya). Sesungguhnya sedikit pun aku tidak berguna bagi diri kalian di hadapan Allah. Wahai 'Abbas bin 'Abdil Muthalib, sedikit pun aku tidaklah berguna bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, sedikit pun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku harta yang engkau inginkan. Sedikit pun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah." (HR. Bukhari 2753, 3527, 4771, Muslim 206 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Kandungan Bab

1. Tafsir kedua ayat di atas. (69)

2. Kisah perang Uhud.

3. Dalam shalat Subuh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) sebagai pemimpin para Rasul telah melakukan qunut dan para sahabat pun yang makmum di belakang beliau mengaminkannya.

4. Orang-orang yang dido'akan oleh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) agar dijauhkan dari rahmat-Nya adalah orang-orang yang masih kafir.

5. Orang orang kafir itu telah melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir pada umumnya. Mereka berani melukai kepala Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dan sangat berambisi untuk membunuh beliau. Bahkan mereka merusak tubuh korban yang terbunuh padahal para korban itu adalah anak famili mereka sendiri.

6. Tentang perbuatan itu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada beliau, "Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu."

7. Allah Ta'ala berfirman, "Atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka." Allah lantas menerima taubat mereka lantaran mereka kemudian beriman.

8. Qunut Nazilah. (70)

9. Diperbolehkannya menyebutkan nama-nama orang tertentu beserta nama-nama orang tua mereka ketika mendo'akan kejelekan kepada mereka dalam shalat.(71)

10. Boleh melaknat orang kafir tertentu (dengan tunjuk hidung) dalam qunut. (72)

11. Kisah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala turun ayat, "Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat."

12. Kesungguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendakwahkan hal ini. Beliau telah melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan dirinya dituduh gila. Begitu pula kalau hal itu didakwahkan oleh orang sekarang ini.

13. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengingatkan kerabatnya baik yang paling jauh maupun yang paling dekat dengan bersabda, "Sedikit pun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah." sampai beliau, "Wahai Fatimah puteri Muhammad, sedikit pun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah." Rasulullah sebagai pemimpin para rasul saja mengatakan dengan terang-terangan bahwa dirinya tidak berguna bagi Fatimah, pemimpin para wanita di alam ini. Padahal orang-orang pun percaya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan perkataan kecuali yang benar. Jika kita memperhatikan fenomena yang terjadi pada kaum khawash (73) dewasa ini, maka akan jelas bagi kita bahwa orang-orang telah meninggalkan ajaran tauhid dan tuntunan agama ini telah menjadi asing.

=====

Catatan Kaki:

66. Beliau adalah 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khathab radhiyallahu 'anhuma. Beliau adalah seorang sahabat yang paling taat mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah sahabat yang paling akhir yang wafat di kota Mekkah pada tahun 73 H.

67. Akan tetapi kemudian Ketiga orang ini ternyata masuk Islam dengan hidayah Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 143)

68. Beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausi. Beliau adalah seorang sahabat terkemuka dan banyak menghafal hadits Nabi. Beliau wafat pada tahun 57 H.

69. Kalau Nabi saja yang sebagai pemimpin para Rasul sedikit pun tidak berguna bagi kerabatnya di hadapan Allah apalagi orang selain beliau. Dia tidak akan mampu menolak mara bahaya yang menimpanya maupun mendatangkan kemanfaatan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. (Lihat catatan kaki Fathul Majid Syarhu Kitab Tauhid hlm. 201)

70. Qunut Nazilah adalah qunut yang dilakukan ketika ada kaum muslim yang ditimpa mara bahaya. Oleh karena itu, dianjurkan bagi kita untuk mendo'akan Mereka hingga mara bahaya itu hilang dari mereka. Qunut ini dilakukan pada setiap shalat. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/237)

71. Hal ini diperbolehkan jika memang penyebutan itu memiliki maslahat tertentu. Penyebutan nama tersebut dalam shalat tidak membatalkan shalat karena hal ini merupakan bagian dari do'a kita kepada Allah. Perbuatan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) yang kemudian dilarang oleh Allah Ta'ala adalah melaknat orang kafir tertentu, tidak secara umum. (Diringkas Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/238)

72. Ini adalah pendapat yang aneh. Kalau yang dimaksudkan penulis rahimahullah bahwa hal ini adalah suatu hal yang pernah terjadi akan tetapi kemudian perbuatan itu dilarang Allah, maka tidak ada lagi permasalahan dalam hal ini. Akan tetapi kalau beliau memetik pelajaran dari hadits di atas bahwa kita boleh melaknat orang tertentu untuk selama-lamanya dalam qunut maka ini adalah perkara yang perlu ditinjau ulang karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah dilarang Allah untuk melakukan perbuatan tersebut. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/239)

73. Khawash adalah orang-orang yang mengaku-aku sebagai ulama atau diangkat oleh orang-orang di sekitarnya sebagai ulama dan pantas untuk diikuti padahal sebenarnya mereka bukan ulama. Mereka berdo'a kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melenyapkan mara bahaya dan mendatangkan manfaat.

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Istighatsah dan Berdoa Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid

Bab 14

Istighatsah dan Berdoa Kepada Selain Allah

Istighatsah (59) dan berdo'a (60) kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

Allah Ta'ala berfirman,

"Janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah. Jika kamu berbuat (demikian itu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang lalim. Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Yunus: 106-107)

"Mintalah rizki dari sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan." (QS. Al Ankabut: 17)

"Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak dapat mengabulkan (do'a)nya sampai hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka. Apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat) niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari perjanjian-perjanjian mereka." (QS. Al Ahqaf: 5-6)

"Siapakah yang mengabulkan (do'a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo'a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) saling bergantian di muka bumi? Apakah di samping Allah ada sesembahan yang lain? Amat sedikitlah kalian yang mengingati (Nya)." (QS. An Naml: 62)

Dengan sanadnya, Thabrani meriwayatkan bahwa dulu pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ada orang munafik yang sering mengganggu orang-orang mukmin (para sahabat). Maka salah seorang dari mereka (sahabat) berkata, "Mari kita beristighatsah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari orang munafik ini." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya tidak diperbolehkan beristighatsah kepadaku. Istighatsah itu hanya ditujukan kepada Allah." (HR. Ahmad 5/317)

Kandungan Bab

1. Doa memiliki pengertian yang lebih luas daripada istighatsah.

2. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah." (61)

3. Berdo'a kepada selain Allah adalah perbuatan syirik besar.

4. Orang yang paling shalih sekalipun, kalau dia beristighatsah atau berdo'a kepada selain Allah untuk mengambil hati orang lain, maka dia tetap termasuk golongan orang musyrik.

5. Tafsir surat Yunus ayat 107. (62)

6. Berdo'a kepada selain Allah tidak bisa memberikan manfaat duniawi, di samping perbuatan itu sendiri adalah perbuatan kufur.

7. Tafsir surat Al Ankabut ayat 17. (63)

8. Rizki itu tidak sepatutnya diminta kecuali dari Allah seperti halnya Surga juga tidak dapat diminta kecuali dari-Nya.

9. Tafsir surat Al Ahqaf ayat 5 dan 6. (64)

10. Tidak ada orang yang lebih sesat daripada orang yang berdo'a kepada selain Allah.

11. Sesembahan selain Allah itu lalai dan tidak mengetahui kalau ada orang yang memohon kepadanya.

12. Permohonan itu menyebabkan timbulnya kebencian dan permusuhan pada sesembahan selain Allah kepada orang yang memohon kepadanya.

13. Permohonan itu disebut sebagai ibadah kepada selain Allah.

14. (Pada hari Kiamat) sesembahan selain Allah itu akan mengingkari ibadah yang dilakukan orang-orang musyrik.

15. Permohonan inilah yang bisa menyebabkan seseorang menjadi orang yang paling sesat.

16. Tafsir surat An Naml ayat 62. (65)

17. Suatu hal yang sangat mengherankan, ternyata para penyembah berhala itu mengakui bahwa tidak ada yang bisa memperkenankan permohonan orang yang sedang berada dalam kesulitan kecuali Allah. Oleh karena itu, ketika ditimpa kesulitan, mereka memohon kepada Allah dengan ikhlas.

18. Sikap preventif Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk membentengi tauhid dan bersikap santun kepada Allah.

=====

Catatan Kaki:

59. Istighatsah adalah memohon keselamatan dari perkara yang menyulitkan dan membinasakan. (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Al 'Utsaimin hlm. 65)

60. Do'a ada dua macam, yaitu: do'a permohonan dan do'a ibadah. Do'a permohonan adalah do'a yang dipanjatkan seorang hamba agar dipenuhi keinginannya. Sedangkan do'a ibadah adalah do'a yang digunakan seorang hamba untuk beribadah kepada Allah untuk mendapatkan pahala dari-Nya dan agar selamat dari siksa-Nya. (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul buah karya Syaikh Al 'Utsaimin hlm. 56). Do'a memiliki cakupan yang lebih luas daripada istighatsah. Semua istighatsah adalah do'a akan tetapi tidak semua do'a itu adalah istighatsah.

61. Dalam ayat ini Allah melarang Nabi-Nya dan seluruh umatnya untuk beribadah dan meminta kepada segala sesuatu selain Allah. Hal ini dikarenakan segala sesuatu selain Allah itu tidaklah mampu mendatangkan kemanfa'atan maupun kemudharatan kepada orang lain. Jika beliau shallallahu 'alaihi wa sallam maupun orang selain beliau melakukan perbuatan itu maka dia termasuk orang musyrik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 124)

62. Ayat ini merupakan dalil yang paling tegas yang menyatakan bahwa hanya Allah sajalah yang berhak untuk diibadahi. Allah adalah Dzat yang mampu memberikan manfaat dan menolak mara bahaya (dari para hamba-Nya). Dia juga merupakan Dzat yang mampu memberi dan mencegah (nikmat pada para hamba-Nya). Jika Dia menimpakan suatu kemudharatan seperti kemiskinan, sakit dan sebagainya maka tidak ada yang mampu menghilangkan kemudharatan itu kecuali Allah. Begitu pula tidak ada seorang hamba pun yang mampu menghalang-halangi karunia dan kebaikan-Nya. Akan tetapi Allah memberikan rahmat-Nya hanya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. (Diringkas dari Taisir Karimir Rahman hlm. 375)

63. Rizki itu datangnya dari Allah. Oleh karena itu, kita wajib meminta rizki dari Allah saja. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/220)

64. Ayat ini menerangkan bahwa tidak ada orang yang lebih bodoh dan sesat daripada orang yang memohon (berdoa) kepada selain Allah. Oleh karena itu berdo'a merupakan ibadah dan menyelewengkan ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 130)

65. Ayat ini menjelaskan bahwa yang bisa mengabulkan permintaan orang yang sedang mengalami kesulitan hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka dengan demikian dapat diketahui bahwa doa (istighatsah) orang yang berada dalam kesulitan adalah suatu bentuk ibadah. Sedangkan menyelewengkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 132)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Isti'adzah (Meminta Perlindungan) Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid

Bab 13

Isti'adzah (Meminta Perlindungan) Kepada Selain Allah

Isti'adzah (56) kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Jin-jin itu menambah mereka dengan dosa dan kesalahan." (QS. Al Jin: 6)

Khaulah binti Hakim (57) menceritakan bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan,

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اﷲِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

A'uu-dzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa khalaq.

Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk yang diciptakan-Nya.

Maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat tersebut." (HR. Muslim 2708, Tirmidzi 3437, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 10394)

Kandungan Bab

1. Tafsir ayat dalam surat Al Jin. (58)

2. Meminta perlindungan kepada jin adalah perbuatan syirik.

3. Dari hadits di atas dapat dipetik pelajaran bahwa isti'adzah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. Para ulama berdalil dengan hadits di atas bahwa Al Qur'an bukanlah makhluk. Alasannya, beristi'adzah kepada makhluk adalah kesyirikan. (Seandainya Al Qur'an adalah makhluk, maka kita tidak boleh beristi'adzah dengannya sebagaimana diajarkan dalam hadits di atas, -pent)

4. Keutamaan do'a di atas walaupun ringkas.

5. Suatu perbuatan bisa dikatakan syirik walaupun bisa memberikan manfaat di dunia untuk menangkal mara bahaya atau pun mendapatkan kemanfaatan.

=====

Catatan Kaki:

56. Meminta perlindungan dari perkara hang dibenci. (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul buah karya Syaikh Al 'Utsaimin hlm. 63)

57. Beliau adalah Khalulah binti Hakim bin Umayyah As Sulamiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Syarik. Beliau adalah wanita yang shalihat yang banyak memiliki keutamaan.

58. Ada manusia yang beribadah kepada jin dengan meminta perlindungan kepadanya ketika ditimpa rasa takut. Hal ini semakin menambah kesesatan dan kesombongan jin tersebut, karena para jin itu melihat manusia itu menyembah dan meminta pertolongan kepada mereka. Ayat ini juga bisa dimaknai bahwa jin itu akan tambah membuat panik dan takut kepada manusia karena mereka melihat manusia meminta perlindungan kepada mereka. Para jin itu memaksa manusia sehingga mereka mau meminta perlindungan kepada para jin itu. (Lihat Taisir Karimir Rahman hlm. 890)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Bernadzar dengan Niat Tidak Karena Allah | Kitab Tauhid

Bab 12

Bernadzar dengan Niat Tidak Karena Allah

Bernadzar dengan niat tidak karena Allah merupakan perbuatan syirik. Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka menunaikan nadzar (55) dan takut kepada suatu hari yang siksanya merata di mana-mana." (QS. Al Insan: 7)

"Apa saja yang kalian nafkahkan atau nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS. Al Baqarah: 270)

Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, dia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang bernadzar untuk berbuat ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia memenuhinya. Barangsiapa yang bernadzar untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka janganlah dia memenuhinya." (HR. Bukhari 6696)

Kandungan Bab

1. Menunaikan nadzar hukumnya wajib.

2. Apabila sudah ditetapkan bahwa nadzar itu adalah bentuk peribadatan kepada Allah maka menyelewengkannya kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.

3. Tidak boleh menunaikan nadzar maksiat.

=====

Catatan Kaki:

55. Nadzar adalah perkara yang diwajibkan oleh seorang mukallaf untuk ditunaikannya sendiri guna taat kepada Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 113)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Menyembelih Binatang di Tempat Kesyirikan | Kitab Tauhid

Bab 11

Menyembelih Binatang di Tempat Kesyirikan

Menyembelih binatang dengan niat karena Allah tidak boleh dilakukan di tempat yang dipergunakan untuk menyembelih binatang dengan niat karena selain Allah.

Allah Ta'ala berfirman,

"Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah mencintai orang-orang yang membersihkan diri." (QS. At Taubah: 108)

Tsabit bin Adh Dhahhak radhiyallahu 'anhu mengatakan,

"Ada seseorang yang bernadzar untuk menyembelih onta di Buwanah. Dia lantas bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau pun bertanya, 'Apakah di tempat itu ada berhala peninggalan orang-orang jahiliyah yang masih disembah?' Para sahabat mengatakan, 'Tidak ada.' Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bertanya lagi, 'Apakah di tempat itu pernah diadakan salah satu perayaan oleh orang-orang jahiliyah?' Para sahabat menjawab, 'Belum pernah.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda, 'Tunaikanlah nadzarmu, akan tetapi tidak boleh menunaikan nadzar untuk berbuat maksiat kepada Allah dan nadzar di luar batas kemampuan seseorang (53).'" (HR. Abu Dawud 3313, Baihaqi 10/83. Isnad hadits ini sesuai dengan persyaratan Imam Bukhari dan Muslim)

Kandungan Bab

1. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Janganlah kamu shalat di masjid itu selama-lamanya..." (54)

2. Perbuatan maksiat sering kali membawa dampak tersendiri di muka bumi, begitu pula dengan ketaatan.

3. Masalah yang masih diragukan hendaknya dikembalikan kepada masalah yang telah gamblang untuk menghilangkan keragu-raguan tersebut.

4. Kalau diperlukan, seorang mufti diperbolehkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan keterangan yang jelas.

5. Diperbolehkan melakukan nadzar di tempat tertentu selama tempat-tempat itu bersih dari perkara-perkara yang terlarang.

6. Tidak diperbolehkan bernadzar di tempat yang pernah ada berhala jahiliyahnya walaupun sebenarnya berhala itu sudah dihilangkan.

7. Tidak diperbolehkan bernadzar di tempat yang pernah digunakan untuk perayaan jahiliyah walaupun acara tersebut sudah dihapuskan.

8. Tidak diperbolehkan menunaikan nadzar di tempat yang pernah ada berhala dan pernah digunakan untuk perayaan jahiliyah karena nadzar yang demikian itu adalah nadzar untuk berbuat kemaksiatan.

9. Harus dihindari sikap meniru-niru orang-orang musyrik dalam memperingati hari raya walaupin sebenarnya tidak memiliki maksud seperti itu.

10. Tidak boleh bernadzar untuk melakukan perbuatan maksiat.

11. Tidak boleh bernadzar dengan sesuatu di luar batas kemampuan manusia atau bernadzar dengan sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya.

=====

Catatan Kaki:

53. Bisa juga dimaknai tidak boleh bernadzar dengan sesuatu yang tidak menjadi milik pribadinya. Contohnya, aku bernadzar untuk membebaskan budak si Fulan. Nadzar yang demikian itu tidak diperbolehkan karena dirinya tidak berhak untuk membebaskan budak si Fulan tersebut. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid hlm. 189)

54. Ayat di atas menunjukkan bahwa haramnya segala sesuatu yang bisa mengantarkan kepada sesuatu yang ujung-ujungnya adalah kesyirikan. (Lihat Al Jadiid fi Syarhi Kitab At Tauhid hlm. 112)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Menyembelih Binatang yang Dipersembahkan Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid

Bab 10

Menyembelih Binatang yang Dipersembahkan Kepada Selain Allah

Allah Ta'ala berfirman,

"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb segenap alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al An'am: 162-163)

Allah Ta'ala berfirman,

"Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkorbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)

'Ali (48) radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda kepadanya tentang empat hal,

"Allah melaknat orang yang menyembelih binatang dengan niat untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi penjahat (49). Allah melaknat orang yang menggeser patok tanah." (HR. Muslim 1978, Nasa'i 7/204, Ahmad 1/108)

Thariq bin Syihab (50) radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Ada orang yang masuk Surga karena seekor lalat dan ada pula orang yang masuk Neraka karena seekor lalat." Para sahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Ada dua orang yang melewati kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak seorang pun diizinkan melewati berhala itu sampai dia memberikan persembahan kepada berhala tersebut."

Orang-orang dari kaum tersebut berkata kepada salah satu dari kedua orang tersebut, "Persembahkanlah kurban kepadanya." Orang tadi mengatakan, "Aku tidak memiliki suatu apa pun yang bisa aku persembahkan." Mereka mengatakan, "Persembahkanlah sesuatu walaupun hanya dengan seekor lalat. Orang itu pun mempersembahkan seekor lalat sehingga mereka memperkenankannya untuk meneruskan perjalanan. Karena itu, lelaki itu pun masuk Neraka. Mereka kemudian berkata kepada seorang yang lain, "Persembahkanlah kurban." Orang itu menjawab, "Aku tidak akan mempersembahkan kurban kepada seorang pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala." Kemudian mereka pun menebas leher orang tersebut. Maka lelaki itu masuk Surga karenanya." (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Az Zuhd 15-16, Abu Nu'aim dalam kitab Al Hilyah 1/204)

Kandungan Bab

1. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya shalat dan ibadahku,..." (51)

2. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah." (52)

3. Dalam hadits di atas disebutkan bahwa orang yang pertama kali terkena laknat Allah adalah orang yang menyembelih binatang dengan niat untuk selain Allah.

4. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Misalnya, kita melaknat orang tua teman sehingga dia akan balik melaknat orang tua kita.

5. Allah melaknat orang yang melindungi penjahat. Penjahat adalah orang yang melakukan tindak kriminal sehingga dia wajib dijatuhi hukuman sesuai dengan ketentuan Allah. Akan tetapi penjahat tersebut lantas meminta perlindungan kepada orang yang mampu melindunginya.

6. Allah melaknat orang yang menggeser patok tanah. Patok tanah adalah tanda yang bisa membedakan antara tanah yang menjadi hak milik seseorang dengan hak milik tetangga sebelahnya. Orang tersebut menggeser patok itu ke depan atau ke belakang.

7. Perbedaan antara melaknat orang tertentu (dengan tunjuk hidung) dan melaknat pelaku maksiat secara umum.

8. Kisah lalat di atas adalah kisah yang sangat menarik.

9. Orang yang masuk Neraka itu disebabkan karena mempersembahkan seekor lalat. Sebenarnya dia sendiri tidak pernah berniat berbuat demikian, tetapi dia lakukan agar bisa terbebas dari perlakuan buruk kaum pemuja berhala tersebut.

10. Mengetahui kadar kesyirikan yang menjangkiti hati orang yang beriman. Bagaimana ketabahannya dalam menghadapi ancaman mati dan tidak menyetujui permintaannya. Padahal para pemuja berhala itu hanya menuntut amalan lahiriyah saja?!

11. Orang yang masuk Neraka lantara seekor lalat itu adalah seorang Muslim. Kalau dia adalah orang kafir maka tidaklah dikatakan, "Ada seseorang masuk Neraka karena seekor lalat."

12. Hadits di atas adalah penguat sebuah hadits shahih yang berbunyi,

"Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya sendiri dan Neraka pun juga demikian." (HR. Bukhari 6488, Ahmad 1/387 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)

13. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang terpenting. Hal ini juga diakui oleh para pemuja berhala.

=====

Catatan Kaki:

48. Beliau adalah Abul Hasan 'Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah khalifah rasyidin yang keempat. Beliau adalah anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau terbunuh pada tahun 40 H.

49. Kalau dibaca muhdatsan maka maknanya adalah orang yang ridha dengan ahli bid'ah. (Lihat Al Jadiid fi Syarhi Kitab At Tauhid hlm. 107)

50. Beliau adalah Abu 'Abdillah Thariq bin Syihab Al Bajaly Al Ahmasy. Beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam akan tetapi belum pernah mendengar hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau wafat pada tahun 83 H.

51. Ayat ini maknanya adalah segala sembelihan kurban hanya boleh ditujukan kepada Allah saja, oleh karena itu penyembelihan adalah salah satu bentuk ibadah. Sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 105)

52. Ayat ini menunjukkan bahwa taqarrub dengan menyembelih binatang kurban hanya boleh ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, amalan ini termasuk ibadah. Sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 106)

=====

Maraji'/ Sumber:

Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah