Rasulullah Memerintahkan untuk Berobat dan Berupaya Mencari Kesembuhan serta Tidak Berputus Asa dari Kesembuhan Atas Suatu Penyakit | Bekam Cara Pengobatan Menurut Sunnah Nabi
Hukum Sihir | Kitab Tauhid
Bab 24
Hukum Sihir (118)
Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya mereka telah menyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tidaklah mendapatkan keuntungan di akhirat." (QS. Al Baqarah: 102)
"Mereka beriman kepada jibt dan thaghut." (QS. An Nisa': 51)
Umar radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa jibt adalah sihir, sedangkan thaghut adalah setan.
Jabir radhiyallahu 'anhu mengatakan bahwa thaghut-thaghut adalah para dukun yang ada di setiap kampung dan selalu didatangi setan.
Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) menuturkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,
"Jauhilah tujuh perkara yang bisa membinasakan?" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah tujuh perkara itu? Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan Islam, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang dan melontarkan tuduhan berzina kepada wanita yang beriman, suci dan selalu menjaga diri dari perbuatan itu." (HR. Bukhari 2766, Muslim 89)
Dalam hadits yang marfu' dari Jundab dikatakan,
"Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal dengan pedang." (HR. Tirmidzi 1460. Dia berkata, "Yang benar hadits ini mauquf", Hakim 4/360)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Bajalah bin Abadah (119), dia menuturkan bahwa Umar bin Al Khathab radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk membunuh semua tukang sihir baik yang laki-laki maupun perempuan. Bajalah mengatakan, "Kemudian kami pun melaksanakan hukuman mati kepada tiga orang tukang sihir perempuan." (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Said bin Manshur dalam kitab As Sunan 2180, Baihaqi 8/136 dengan lafazh ini, dan dishahihkan oleh Ibnu Hazm dalam kitab Al Muhalla 11/396 Bukhari 3156 tanpa menyebutkan lafazh "Tiga orang tukang sihir perempuan.")
Diriwayatkan dalam hadits shahih dari Hafshah radhiyallahu 'anha, bahwa dia telah memerintahkan untuk menghukum mati budak perempuan yang telah menyihirnya. Budak itu pun lantas dibunuh (120). Demikian pula diriwayatkan dalam hadits shahih dari Jundab.
Imam Ahmad (121) berkata, "Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa hukuman mati terhadap tukang sihir telah dilakukan oleh tiga orang sahabat (Umar, Hafshah dan Jundab, -pent)."
Kandungan Bab
1. Tafsir surat Al Baqarah ayat 102. (122)
2. Tafsir surat An Nisa': 51. (123)
3. Pengertian jibt dan thaghut serta perbedaan dua hal tersebut.
4. Thaghut bisa berasal dari kalangan jin dan manusia.
5. Mengetahui tujuh perkara yang bisa membinasakan yang dilarang secara khusus.
6. Tukang sihir dihukumi kafir.
7. Tukang sihir dihukum bunuh tanpa harus diminta untuk bertaubat.
8. Tukang sihir ini telah ada di tengah-tengah kaum muslimin pada zaman Umar, lantas bagaimana keberadaan mereka pada zaman yang sesudahnya? (tentunya akan lebih banyak lagi, -pent)
=====
Catatan Kaki:
118. Ar Raghib mengatakan bahwa kata sihir bisa dipakai untuk beberapa makna, yaitu:
a. Sesuatu yang lembut dan tipis.
b. Keajaiban yang terjadi dengan tipu daya dan khayalan belaka padahal sebenarnya tidak ada.
c. Keajaiban yang terjadi dengan meminta bantuan kepada setan dengan terlebih dahulu mendekatkan diri kepada mereka.
d. Keajaiban yang terjadi dengan berbicara kepada bintang-bintang. Menurut persangkaan orang, hal itu dilakukan dengan meminta ruh-ruh bintang itu turun kepada mereka.
119. Beliau adalah Bajalah bin 'Abadah At Tamimi Al 'Ambari. Beliau tinggal di kota Bashrah. Beliau adalah perawi yang terpercaya.
120. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa' dengan sanad yang terputus.
121. Beliau adalah Ahmad bin Ahmad bin Hambal salah seorang dari imam kaum muslimin. Beliau adalah penulis kitab Al Musnad.
122. Ayat di atas memperingatkan kita dari perbuatan sihir. Perbuatan sihir itu tidaklah bisa sempurna kecuali dengan perbuatan syirik. Padahal perbuatan syirik itu bertolak belakang dengan tauhid. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 220)
123. Ayat di atas menjelaskan haram dan tercelanya perbuatan sihir.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Realita Bahwa Sebagian Umat Islam Ada yang Menyembah Berhala | Kitab Tauhid
Bab 23
Realita Bahwa Sebagian Umat Islam Ada yang Menyembah Berhala
Allah Ta'ala berfirman,
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut (109). Mereka mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman." (QS. An-Nisa': 51)
"Katakanlah, 'Apakah kalian mau aku beritakan tentang orang-orang yang balasannya lebih buruk daripada (orang-orang fasik) di sisi Allah. Mereka adalah orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. Di antara mereka ada yang dijadikan kera, babi dan orang-orang yang menyembah thaghut?'" (QS. Al Maidah: 60)
"Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.'" (QS. Al Kahfi: 21)
Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sungguh engkau akan mengikuti tradisi umat-umat sebelummu tahap demi tahap. Hingga kalaupun mereka masuk ke lobang dhab (hewan herbivora sejenis biawak, -pent), niscaya kalian akan ikut memasukinya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah umat-umat terdahulu itu adalah orang-orang yahudi dan nashrani?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) menjawab, "Lantas siapa lagi?" (HR. Bukhari 3456, Muslim 2669, Ahmad 4/125, Thabrani dalam kitab Al Kabir 7/40)
Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban (110) radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda,
"Allah membentangkan bumi kepadaku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan barat. Sesungguhnya kekuasaan yang diraih umatku akan seluas belahan bumi yang dibentangkan kepadaku. Aku telah diberi dua perbendaharaan harta yaitu merah dan putih (111). Aku memohon kepada Rabb-ku agar umatku tidak dibinasakan dengan paceklik yang berkepanjangan dan jangan sampai mereka dikuasai oleh musuh yang bukan dari golongan mereka sendiri sehingga musuh itu akan merampas negeri mereka. Rabbku kemudian berfirman, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku menetapkan suatu keputusan maka keputusan itu tidak bisa dirubah lagi. Aku akan memberimu sesuatu untuk umatmu yaitu Aku tidak akan membinasakan mereka dengan paceklik yang berkepanjangan dan Aku juga tidak akan membuat musuh selain dari golongan mereka menguasai mereka sehingga musuh itu akan merampas negeri mereka. Musuh-musuh itu tidak akan bisa melakukan sekalipun mereka berkumpul dari segala penjuru dunia untuk memerangi umatmu sampai umatmu itu saling menghancurkan dan menawan satu sama lainnya.'" (HR. Muslim 2889)
Hadits di atas diriwayatkan oleh Al Barqani dalam kitab Shahih-nya dengan tambahan,
"Sesungguhnya yang aku khawatirkan dari umatku adalah adanya pemimpin yang menyesatkan. Apabila pertumpahan darah telah terjadi dalam umatku maka tidak akan berakhir sampai hari Kiamat. Hari Kiamat itu tidak terjadi sampai suatu kaum dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sekelompok dari umatku menyembah berhala. Sesungguhnya dalam umatku akan muncul tiga puluh orang pendusta. Masing-masing mereka mengaku bahwa dirinya adalah nabi. Akulah nabi yang terakhir, tidak ada nabi lagi (yang diutus, -pent) setelahku. Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang membela kebenaran dan mendapat pertolongan. Mereka tidak tergoyahkan dengan orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah Tabaraka wa Ta'ala." (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 4252, Ahmad 5/278, dan Hakim 4/449)
Kandungan Bab
1. Tafsir surat An Nisa' ayat 51. (112)
2. Tafsir surat Al Maidah ayat 60. (113)
3. Tafsir surat Al Kahfi ayat 21. (114)
4. Suatu perkara yang sangat urgen adalah makna beriman kepada jibt dan thaghut dalam ayat diatas. Apakah sekedar percaya dalam hati atau mengikuti orang-orangnya sekalipun membenci mereka dan mengerti kebatilan mereka?
5. Ahli kitab berkata bahwa orang-orang yang kafir yang jelas-jelas kekafirannya itu justru jalannya lebih benar daripada orang-orang beriman.
6. Penyembahan terhadap berhala benar-benar akan terjadi pada umat ini sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Abu Sa'id di atas. Inilah yang dimaksudkan dari judul bab ini.
7. Keterangan tentang terjadinya penyembahan terhadap berhala yang dilakukan oleh banyak kalangan dalam umat ini.
8. Sungguh sangat mengherankan dengan munculnya orang yang mengaku sebagai nabi di antaranya adalah orang yang bernama Al Mukhtar. Padahal dia mengucapkan dua kalimat syahadat, mengaku bahwa dirinya beragama Islam dan mengakui bahwa Rasulullah dan Al Qur'an adalah benar. Padahal di dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Muhammad adalah penutup para nabi. Walaupun demikian, Al Mukhtar tetap dipercaya orang dengan segala pernyataannya, meskipun jelas sekali kontradiktifnya. Al Mukhtar muncul pada akhir masa sahabat. Dia diikuti oleh banyak orang.
9. Kabar gembira (yang disampaikan oleh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam), -ed) bahwa kebenaran tidak akan pernah hilang sebagaimana telah terjadi pada masa lalu. Bahkan akan senantiasa ada sekelompok orang (yang membela kebenaran itu, -pent).
10. Tanda yang menonjol dari kelompok pembela kebenaran itu adalah walaupun jumlah mereka sedikit akan tetapi mereka tidak tergoyahkan dengan adanya orang yang menghina dan menentang mereka.
11. Tanda itu akan nampak sampai hari Kiamat.
12. Dalam hadits di atas terdapat tanda-tanda kenabian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu:
a) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa Allah membentangkan belahan bumi yang timur dan barat kepadanya. Beliau lantas menjelaskan bahwa makna itu semua, maka terjadilah sebagaimana yang telah beliau kabarkan, berlainan halnya dengan belahan bumi yang selatan dan utara.
b) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa beliau akan diberi dua perbendaharaan simpanan.
c) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa dua permohonannya untuk umatnya dikabulkan Allah. (115)
d) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa permohonannya yang ketiga untuk umatnya tidak dikabulkan Allah. (116)
e) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa akan terjadi pertumpahan darah (dalam umatnya, -pent). Jika pertumpahan darah itu sudah terjadi maka tidak akan pernah berakhir.
f) Kabar dari Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa umatnya akan saling membinasakan dan saling menawan satu sama lainnya.
g) Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengkhawatirkan umatnya dengan akan munculnya para pemimpin yang menyesatkan.
h) Kabar Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bahwa akan muncul orang yang mengaku-aku sebagai nabi dalam umat ini. (117)
i) Kabar Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) tentang tetap eksisnya kelompok yang mendapatkan pertolongan dari Allah.
Segala yang dikabarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam benar-benar terjadi persis seperti yang beliau beritakan. Walaupun semua yang dikabarkan itu adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan akal.
13. Sesuatu yang beliau takutkan menimpa umatnya adalah sebatas munculnya para pemimpin yang menyesatkan.
14. Sesuatu yang perlu diperhatikan di sini adalah tentang makna penyembahan berhala.
=====
Catatan Kaki:
109. Jibt adalah patung atau sihir. Thaghut adalah setan. Ada pula yang mengartikan bahwa thaghut adalah segala yang disembah selain Allah dan dia ridha dengan penyembahan itu. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 207)
110. Tsauban adalah maula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau senantiasa menemani dan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah Nabi wafat, beliau tinggal di Syam dan wafat di Himsh pada tahun 54 H.
111. Maksud merah dan putih ini adalah perbendaharaan harta Qaishar raja Romawi dan perbendaharaan harta Kisra raja Persia. Dikatakan merah karena kebanyakan harta Qaishar adalah berupa emas, walaupun sebenarnya dia juga memiliki perak, akan tetapi jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah emas yang dimilikinya. Dikatakan putih karena kebanyakan harta Kisra berupa permata dan perak. (Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 215)
112. Ayat di atas menjelaskan bahwa kesyirikan telah menimpa ahli kitab. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi ahli kitab. Di antara tradisi mereka adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 208)
113. Ayat di atas menjelaskan bahwa kesyirikan telah menimpa ahli kitab karena mereka menyembah thaghut. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang ahli kitab. Di antara tradisi mereka adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 210)
114. Ayat di atas menjelaskan bahwa ahli kitab telah membangun tempat ibadah di atas kubur. Lantaran perbuatannya itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat mereka karena perbuatannya itu bisa mengantarkan mereka untuk menyembah penghuni kubur tersebut. Dalam hadits disebutkan bahwa umat ini akan mengikuti tradisi orang-orang ahli kitab. Umat ini akan membangun masjid di atas kubur dan akhirnya mereka akan menyembah penghuni kubur tersebut. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 212)
115. Do'a agar umatnya tidak dibinasakan dengan paceklik berkepanjangan dan do'a agar umatnya tidak dikuasai oleh musuh yang berasal dari selain golongan mereka.
116. Do'a agar Allah tidak menimpakan kejelekan pada umatnya.
117. Ibnu Hajar mengatakan, "Penyebutan jumlah 30 itu bukanlah batasan jumlah orang-orang yang mengaku sebagai nabi karena jumlah mereka sebenarnya lebih dari 30 orang." Ibnu 'Utsaimin mengatakan, "Penyebutan jumlah 30 itu untuk menunjukkan batas bawah, artinya jumlah orang-orang yang mengaku nabi itu tidaklah kurang dari 30. Di sini, kami memalingkan makna tekstual kepada realita yang terjadi." (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/391)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Tindakan Preventif Rasulullah Untuk Membentengi Tauhid | Kitab Tauhid
Dampak Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shalih | Kitab Tauhid
Bahaya Sikap Berlebih-lebihan Terhadap Orang Shalih | Kitab Tauhid
Memberi Hidayah Adalah Hak Allah | Kitab Tauhid
Syafaat | Kitab Tauhid
Malaikat Tidak Berhak Untuk Diibadahi | Kitab Tauhid
Batilnya Sesembahan Selain Allah | Kitab Tauhid
Bab 15
Batilnya Sesembahan Selain Allah
Allah Ta'ala berfirman,
"Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan." (QS. Al A'raf: 191-192)
"Orang-orang yang kalian sembah selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Pada hari Kiamat, mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian. Tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepada kalian seperti yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (QS. Fathir: 13-14)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia menuturkan bahwa pada perang Uhud,
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terluka pada bagian kepalanya dan gigi taringnya patah. Beliau lantas bersabda, "Bagaimana akan beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka?" Lantas turunlah ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (QS. Ali 'Imran: 128) (Bukhari meriwayatkan secara mu'allaq di kitab Al Maghazi bab Laisa laka minal amri syaiun. Muslim meriwayatkan secara maushul 1791 dari Tsabit dari Anas, Tirmidzi 3004, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 11077, Ahmad 3/99, 20)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Umar (66), dia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa tatkala mengangkat kepalanya dari ruku' pada rakaat terakhir shalat Subuh:
اَللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا
Allaahummal 'an Fulaanan wa Fulaanan.
"Ya Allah, kutuklah si-A dan si-B." Yaitu setelah mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah rabbana walakal hamdu'. Lantas turunlah ayat, "Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (HR. Bukhari 4069)
Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau mendo'akan agar Shafwan bin Umayah, Suhail bin 'Amr dan Al Harits bin Hisyam (67) dijauhkan dari rahmat Allah. Lantas turunlah ayat,
"Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu." (Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari 4070, Tirmidzi secara maushul 3004, Ahmad 2/93)
Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, dia menuturkan bahwa tatkala turun ayat,
"Berilah peringatan kepada kerabat kerabat terdekat." (QS. Asy Syu'ara': 214)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dan bersabda,
"Wahai sekalian orang-orang Quraisy -atau dengan kalimat lain yang semisalnya- tebuslah diri kalian (dari siksa Allah dengan menyerahkan ibadah hanya kepada-Nya). Sesungguhnya sedikit pun aku tidak berguna bagi diri kalian di hadapan Allah. Wahai 'Abbas bin 'Abdil Muthalib, sedikit pun aku tidaklah berguna bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyah bibi Rasulullah, sedikit pun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah. Wahai Fatimah puteri Muhammad! Mintalah kepadaku harta yang engkau inginkan. Sedikit pun aku tidak berguna bagi dirimu di hadapan Allah." (HR. Bukhari 2753, 3527, 4771, Muslim 206 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Kandungan Bab
1. Tafsir kedua ayat di atas. (69)
2. Kisah perang Uhud.
3. Dalam shalat Subuh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) sebagai pemimpin para Rasul telah melakukan qunut dan para sahabat pun yang makmum di belakang beliau mengaminkannya.
4. Orang-orang yang dido'akan oleh Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) agar dijauhkan dari rahmat-Nya adalah orang-orang yang masih kafir.
5. Orang orang kafir itu telah melakukan hal-hal yang tidak dilakukan oleh orang-orang kafir pada umumnya. Mereka berani melukai kepala Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) dan sangat berambisi untuk membunuh beliau. Bahkan mereka merusak tubuh korban yang terbunuh padahal para korban itu adalah anak famili mereka sendiri.
6. Tentang perbuatan itu Allah telah menurunkan firman-Nya kepada beliau, "Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu."
7. Allah Ta'ala berfirman, "Atau Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka." Allah lantas menerima taubat mereka lantaran mereka kemudian beriman.
8. Qunut Nazilah. (70)
9. Diperbolehkannya menyebutkan nama-nama orang tertentu beserta nama-nama orang tua mereka ketika mendo'akan kejelekan kepada mereka dalam shalat.(71)
10. Boleh melaknat orang kafir tertentu (dengan tunjuk hidung) dalam qunut. (72)
11. Kisah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala turun ayat, "Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat."
12. Kesungguhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendakwahkan hal ini. Beliau telah melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan dirinya dituduh gila. Begitu pula kalau hal itu didakwahkan oleh orang sekarang ini.
13. Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) mengingatkan kerabatnya baik yang paling jauh maupun yang paling dekat dengan bersabda, "Sedikit pun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah." sampai beliau, "Wahai Fatimah puteri Muhammad, sedikit pun aku tidak berguna bagimu di hadapan Allah." Rasulullah sebagai pemimpin para rasul saja mengatakan dengan terang-terangan bahwa dirinya tidak berguna bagi Fatimah, pemimpin para wanita di alam ini. Padahal orang-orang pun percaya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan perkataan kecuali yang benar. Jika kita memperhatikan fenomena yang terjadi pada kaum khawash (73) dewasa ini, maka akan jelas bagi kita bahwa orang-orang telah meninggalkan ajaran tauhid dan tuntunan agama ini telah menjadi asing.
=====
Catatan Kaki:
66. Beliau adalah 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khathab radhiyallahu 'anhuma. Beliau adalah seorang sahabat yang paling taat mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah sahabat yang paling akhir yang wafat di kota Mekkah pada tahun 73 H.
67. Akan tetapi kemudian Ketiga orang ini ternyata masuk Islam dengan hidayah Allah. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 143)
68. Beliau adalah 'Abdurrahman bin Shakhr Ad Dausi. Beliau adalah seorang sahabat terkemuka dan banyak menghafal hadits Nabi. Beliau wafat pada tahun 57 H.
69. Kalau Nabi saja yang sebagai pemimpin para Rasul sedikit pun tidak berguna bagi kerabatnya di hadapan Allah apalagi orang selain beliau. Dia tidak akan mampu menolak mara bahaya yang menimpanya maupun mendatangkan kemanfaatan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. (Lihat catatan kaki Fathul Majid Syarhu Kitab Tauhid hlm. 201)
70. Qunut Nazilah adalah qunut yang dilakukan ketika ada kaum muslim yang ditimpa mara bahaya. Oleh karena itu, dianjurkan bagi kita untuk mendo'akan Mereka hingga mara bahaya itu hilang dari mereka. Qunut ini dilakukan pada setiap shalat. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/237)
71. Hal ini diperbolehkan jika memang penyebutan itu memiliki maslahat tertentu. Penyebutan nama tersebut dalam shalat tidak membatalkan shalat karena hal ini merupakan bagian dari do'a kita kepada Allah. Perbuatan Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) yang kemudian dilarang oleh Allah Ta'ala adalah melaknat orang kafir tertentu, tidak secara umum. (Diringkas Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/238)
72. Ini adalah pendapat yang aneh. Kalau yang dimaksudkan penulis rahimahullah bahwa hal ini adalah suatu hal yang pernah terjadi akan tetapi kemudian perbuatan itu dilarang Allah, maka tidak ada lagi permasalahan dalam hal ini. Akan tetapi kalau beliau memetik pelajaran dari hadits di atas bahwa kita boleh melaknat orang tertentu untuk selama-lamanya dalam qunut maka ini adalah perkara yang perlu ditinjau ulang karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah dilarang Allah untuk melakukan perbuatan tersebut. (Lihat Al Qaulul Mufid 'ala Kitab At Tauhid: I/239)
73. Khawash adalah orang-orang yang mengaku-aku sebagai ulama atau diangkat oleh orang-orang di sekitarnya sebagai ulama dan pantas untuk diikuti padahal sebenarnya mereka bukan ulama. Mereka berdo'a kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melenyapkan mara bahaya dan mendatangkan manfaat.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Istighatsah dan Berdoa Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid
Isti'adzah (Meminta Perlindungan) Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid
Bab 13
Isti'adzah (Meminta Perlindungan) Kepada Selain Allah
Isti'adzah (56) kepada selain Allah adalah perbuatan syirik.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin. Jin-jin itu menambah mereka dengan dosa dan kesalahan." (QS. Al Jin: 6)
Khaulah binti Hakim (57) menceritakan bahwa dirinya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan,
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اﷲِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
A'uu-dzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa khalaq.
Aku berlindung dengan kalam Allah yang sempurna dari kejahatan segala makhluk yang diciptakan-Nya.
Maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempat tersebut." (HR. Muslim 2708, Tirmidzi 3437, Nasa'i dalam kitab Al Kubra 10394)
Kandungan Bab
1. Tafsir ayat dalam surat Al Jin. (58)
2. Meminta perlindungan kepada jin adalah perbuatan syirik.
3. Dari hadits di atas dapat dipetik pelajaran bahwa isti'adzah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. Para ulama berdalil dengan hadits di atas bahwa Al Qur'an bukanlah makhluk. Alasannya, beristi'adzah kepada makhluk adalah kesyirikan. (Seandainya Al Qur'an adalah makhluk, maka kita tidak boleh beristi'adzah dengannya sebagaimana diajarkan dalam hadits di atas, -pent)
4. Keutamaan do'a di atas walaupun ringkas.
5. Suatu perbuatan bisa dikatakan syirik walaupun bisa memberikan manfaat di dunia untuk menangkal mara bahaya atau pun mendapatkan kemanfaatan.
=====
Catatan Kaki:
56. Meminta perlindungan dari perkara hang dibenci. (Lihat Syarh Tsalatsatil Ushul buah karya Syaikh Al 'Utsaimin hlm. 63)
57. Beliau adalah Khalulah binti Hakim bin Umayyah As Sulamiyah. Beliau dikenal dengan nama Ummu Syarik. Beliau adalah wanita yang shalihat yang banyak memiliki keutamaan.
58. Ada manusia yang beribadah kepada jin dengan meminta perlindungan kepadanya ketika ditimpa rasa takut. Hal ini semakin menambah kesesatan dan kesombongan jin tersebut, karena para jin itu melihat manusia itu menyembah dan meminta pertolongan kepada mereka. Ayat ini juga bisa dimaknai bahwa jin itu akan tambah membuat panik dan takut kepada manusia karena mereka melihat manusia meminta perlindungan kepada mereka. Para jin itu memaksa manusia sehingga mereka mau meminta perlindungan kepada para jin itu. (Lihat Taisir Karimir Rahman hlm. 890)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.
Bernadzar dengan Niat Tidak Karena Allah | Kitab Tauhid
Menyembelih Binatang di Tempat Kesyirikan | Kitab Tauhid
Menyembelih Binatang yang Dipersembahkan Kepada Selain Allah | Kitab Tauhid
Bab 10
Menyembelih Binatang yang Dipersembahkan Kepada Selain Allah
Allah Ta'ala berfirman,
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb segenap alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)." (QS. Al An'am: 162-163)
Allah Ta'ala berfirman,
"Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu dan berkorbanlah." (QS. Al Kautsar: 2)
'Ali (48) radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda kepadanya tentang empat hal,
"Allah melaknat orang yang menyembelih binatang dengan niat untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi penjahat (49). Allah melaknat orang yang menggeser patok tanah." (HR. Muslim 1978, Nasa'i 7/204, Ahmad 1/108)
Thariq bin Syihab (50) radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Ada orang yang masuk Surga karena seekor lalat dan ada pula orang yang masuk Neraka karena seekor lalat." Para sahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Nabi (shallallahu 'alaihi wa sallam) bersabda, "Ada dua orang yang melewati kaum yang memiliki sebuah berhala. Tidak seorang pun diizinkan melewati berhala itu sampai dia memberikan persembahan kepada berhala tersebut."
Orang-orang dari kaum tersebut berkata kepada salah satu dari kedua orang tersebut, "Persembahkanlah kurban kepadanya." Orang tadi mengatakan, "Aku tidak memiliki suatu apa pun yang bisa aku persembahkan." Mereka mengatakan, "Persembahkanlah sesuatu walaupun hanya dengan seekor lalat. Orang itu pun mempersembahkan seekor lalat sehingga mereka memperkenankannya untuk meneruskan perjalanan. Karena itu, lelaki itu pun masuk Neraka. Mereka kemudian berkata kepada seorang yang lain, "Persembahkanlah kurban." Orang itu menjawab, "Aku tidak akan mempersembahkan kurban kepada seorang pun selain Allah Subhanahu wa Ta'ala." Kemudian mereka pun menebas leher orang tersebut. Maka lelaki itu masuk Surga karenanya." (Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Az Zuhd 15-16, Abu Nu'aim dalam kitab Al Hilyah 1/204)
Kandungan Bab
1. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya shalat dan ibadahku,..." (51)
2. Tafsir firman Allah Ta'ala, "Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah." (52)
3. Dalam hadits di atas disebutkan bahwa orang yang pertama kali terkena laknat Allah adalah orang yang menyembelih binatang dengan niat untuk selain Allah.
4. Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya. Misalnya, kita melaknat orang tua teman sehingga dia akan balik melaknat orang tua kita.
5. Allah melaknat orang yang melindungi penjahat. Penjahat adalah orang yang melakukan tindak kriminal sehingga dia wajib dijatuhi hukuman sesuai dengan ketentuan Allah. Akan tetapi penjahat tersebut lantas meminta perlindungan kepada orang yang mampu melindunginya.
6. Allah melaknat orang yang menggeser patok tanah. Patok tanah adalah tanda yang bisa membedakan antara tanah yang menjadi hak milik seseorang dengan hak milik tetangga sebelahnya. Orang tersebut menggeser patok itu ke depan atau ke belakang.
7. Perbedaan antara melaknat orang tertentu (dengan tunjuk hidung) dan melaknat pelaku maksiat secara umum.
8. Kisah lalat di atas adalah kisah yang sangat menarik.
9. Orang yang masuk Neraka itu disebabkan karena mempersembahkan seekor lalat. Sebenarnya dia sendiri tidak pernah berniat berbuat demikian, tetapi dia lakukan agar bisa terbebas dari perlakuan buruk kaum pemuja berhala tersebut.
10. Mengetahui kadar kesyirikan yang menjangkiti hati orang yang beriman. Bagaimana ketabahannya dalam menghadapi ancaman mati dan tidak menyetujui permintaannya. Padahal para pemuja berhala itu hanya menuntut amalan lahiriyah saja?!
11. Orang yang masuk Neraka lantara seekor lalat itu adalah seorang Muslim. Kalau dia adalah orang kafir maka tidaklah dikatakan, "Ada seseorang masuk Neraka karena seekor lalat."
12. Hadits di atas adalah penguat sebuah hadits shahih yang berbunyi,
"Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada tali sandalnya sendiri dan Neraka pun juga demikian." (HR. Bukhari 6488, Ahmad 1/387 dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu)
13. Mengetahui bahwa amalan hati adalah tolok ukur yang terpenting. Hal ini juga diakui oleh para pemuja berhala.
=====
Catatan Kaki:
48. Beliau adalah Abul Hasan 'Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah khalifah rasyidin yang keempat. Beliau adalah anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau terbunuh pada tahun 40 H.
49. Kalau dibaca muhdatsan maka maknanya adalah orang yang ridha dengan ahli bid'ah. (Lihat Al Jadiid fi Syarhi Kitab At Tauhid hlm. 107)
50. Beliau adalah Abu 'Abdillah Thariq bin Syihab Al Bajaly Al Ahmasy. Beliau pernah melihat Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam akan tetapi belum pernah mendengar hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau wafat pada tahun 83 H.
51. Ayat ini maknanya adalah segala sembelihan kurban hanya boleh ditujukan kepada Allah saja, oleh karena itu penyembelihan adalah salah satu bentuk ibadah. Sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 105)
52. Ayat ini menunjukkan bahwa taqarrub dengan menyembelih binatang kurban hanya boleh ditujukan kepada Allah. Oleh karena itu, amalan ini termasuk ibadah. Sedangkan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah perbuatan syirik. (Lihat Al Jadiid fi Syarh Kitab At Tauhid hlm. 106)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: At Tauhid, Alladzi Huwa Haqqullah 'alal 'Abid, Penulis: Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullaah, Penerbit: Darul Aqidah, Kairo - Mesir, Tanpa Keterangan Cetakan, Tahun 1422 H/ 2002 M, Judul Terjemahan: Kitab Tauhid, Memurnikan La Ilaha Illallah, Penerjemah: Eko Haryono, Editor, Taqdir, Hidayati, Penerbit: Media Hidayah - Indonesia, Cetakan Pertama, Sya'ban 1425 H/ Oktober 2004 M.