AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 133-134 (2)
Islam adalah agama seluruh Nabi, walaupun syari'atnya berbeda-beda dan manhaj (metode) mereka pun berlainan. Firman Allah Ta'ala: "Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku." (QS. Al-Anbiyaa': 25)
Banyak ayat-ayat al-Qur-an dan juga hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang membahas masalah ini, di antaranya sabda beliau:
"Kami para Nabi adalah anak-anak yang berlainan ibu, sedangkan agama kami adalah satu." (539)
Selanjutnya firman Allah Ta'ala, "Itu adalah umat yang telah lalu," artinya telah lewat, "Baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang telah kamu usahakan." Maksudnya, sesungguhnya pengakuan kalian sebagai anak keturunan umat yang terdahulu, yaitu para Nabi dan orang-orang shalih tidak akan memberi manfaat jika kalian tidak melakukan kebaikan yang menguntungkan diri kalian sendiri, karena amal perbuatan mereka itu untuk mereka sendiri dan amal perbuatan kalian untuk diri kalian sendiri. "Dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan."
Oleh karena itu dalam sebuah atsar disebutkan:
"Barangsiapa yang lambat dalam beramal, maka tidak dapat dipercepat (diungguli) oleh nasab keturunannya." (540)
===
Catatan Kaki:
539. Ahmad (II/319). Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 3443), Muslim (no. 2365), dengan perbedaan lafazh].
540. Muslim (IV/2074). [(No. 2699)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 133-134 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 133-134
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu ibadahi sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Mahaesa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. 2: 133) Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tenta apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2: 134)
JANJI YANG DIAMBIL YA'QUB DARI ANAK-ANAKNYA MENJELANG KEMATIANNYA
Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai argumen atas orang-orang musyrik Arab dari keturunan Isma'il dan juga atas orang-orang kafir dari keturunan Israil (nama lain dari Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim عليه السلام) bahwa ketika kematian menjemputnya, Ya'qub berwasiat kepada anak-anaknya untuk beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Ya'qub berkata, "'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Ilah-mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq.'" Hal ini termasuk bab taghlib (penyamarataan), karena sebenarnya Isma'il adalah paman Ya'qub.
An-Nahhas berkata, "Masyarakat Arab biasa menyebut paman dengan sebutan ayah." Demikian juga yang dinukil oleh al-Qurthubi. (537)
Ayat ini juga dijadikan dalil oleh orang-orang yang menempatkan kedudukan kakek sebagaimana kedudukan ayah, sehingga keberadaannya menghalangi saudara-saudara dalam memperoleh harta warisan. Hal ini sebagaimana pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari jalan Ibnu 'Abbas dan Ibnuz Zubair. Kemudian al-Bukhari mengatakan, "Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini." (538) 'Aisyah, Ummul Mukminin pun berpendapat seperti ini.
Demikian juga dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Thawus, dan 'Atha'. Sedngkan Malik, asy-Syafi'i dan Ahmad, menurut pendapat yang masyhur, mereka mengatakan bahwa bapak berbagi dengan para saudara dalam warisan. Pendapat ini diriwayatkan pula dari 'Umar bin al-Khaththab, 'Utsman bin 'Affan, 'Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit رضي الله عنهم, dan sekelompok ulama Salaf dan Khalaf.
Firman Allah عزوجل: "(Yaitu) Ilah Yang Mahaes." Maksudnya kami mengesakan dalamibadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. "Dan hanya kepada-Nya-lah kami berserah diri." Yakni, kami benar-benar taat dan tunduk, sebagaimana firman Allah, "Padahal kepada-Nya segala apa yanga da di langit dan bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan." (QS. Ali 'Imran: 83)
===
Catatan Kaki:
537. Al-Qurthubi (II/138).
538. Fat-hul Baari (XII/19). [Al-Bukhari, secara mu'allaq, kitab al-Faraa-idh, bab Miiraatsul Jaddi (hal. 1224)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 133-134
Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu ibadahi sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Mahaesa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. 2: 133) Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tenta apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 2: 134)
JANJI YANG DIAMBIL YA'QUB DARI ANAK-ANAKNYA MENJELANG KEMATIANNYA
Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai argumen atas orang-orang musyrik Arab dari keturunan Isma'il dan juga atas orang-orang kafir dari keturunan Israil (nama lain dari Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim عليه السلام) bahwa ketika kematian menjemputnya, Ya'qub berwasiat kepada anak-anaknya untuk beribadah kepada Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya. Ya'qub berkata, "'Apa yang kamu sembah sepeninggalku?' Mereka menjawab, 'Kami akan menyembah Ilah-mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq.'" Hal ini termasuk bab taghlib (penyamarataan), karena sebenarnya Isma'il adalah paman Ya'qub.
An-Nahhas berkata, "Masyarakat Arab biasa menyebut paman dengan sebutan ayah." Demikian juga yang dinukil oleh al-Qurthubi. (537)
Ayat ini juga dijadikan dalil oleh orang-orang yang menempatkan kedudukan kakek sebagaimana kedudukan ayah, sehingga keberadaannya menghalangi saudara-saudara dalam memperoleh harta warisan. Hal ini sebagaimana pendapat Abu Bakar ash-Shiddiq yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari jalan Ibnu 'Abbas dan Ibnuz Zubair. Kemudian al-Bukhari mengatakan, "Tidak ada yang menyelisihi pendapat ini." (538) 'Aisyah, Ummul Mukminin pun berpendapat seperti ini.
Demikian juga dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Thawus, dan 'Atha'. Sedngkan Malik, asy-Syafi'i dan Ahmad, menurut pendapat yang masyhur, mereka mengatakan bahwa bapak berbagi dengan para saudara dalam warisan. Pendapat ini diriwayatkan pula dari 'Umar bin al-Khaththab, 'Utsman bin 'Affan, 'Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit رضي الله عنهم, dan sekelompok ulama Salaf dan Khalaf.
Firman Allah عزوجل: "(Yaitu) Ilah Yang Mahaes." Maksudnya kami mengesakan dalamibadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. "Dan hanya kepada-Nya-lah kami berserah diri." Yakni, kami benar-benar taat dan tunduk, sebagaimana firman Allah, "Padahal kepada-Nya segala apa yanga da di langit dan bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allah mereka dikembalikan." (QS. Ali 'Imran: 83)
===
Catatan Kaki:
537. Al-Qurthubi (II/138).
538. Fat-hul Baari (XII/19). [Al-Bukhari, secara mu'allaq, kitab al-Faraa-idh, bab Miiraatsul Jaddi (hal. 1224)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 130-132 (5) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (5)
KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA TAUHID HINGGA MATI
Firman Allah عزوجل: "Ibrahim berkata, 'Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.'" Maknanya, berbuat baiklah kalian semasa hidup ini, dan tetaplah pada agama ini, niscaya Allah Ta'ala akan menganugerahkan kematian dalam keadaan Islam kepada kalian. Karena pada umumnya, seseorang itu akan meninggal dunia sesuai dengan agama yang diyakini selama hidupnya dan juga akan dibangkitkan dalam agama yang dianutnya itu. Dan Allah telah menetapkan Sunnah-Nya, bahwa siapa yang menghendaki kebaikan, dia akan diberikan taufiq dan dimudahkan untuk mencapainya. Dan barangsiapa berniat kepada suatu amal shalih, maka ia akan diteguhkan padanya.
Sunnatullah di atas tidak bertentangan dengan keterangan dalam hadits shahih, yakni sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
"Sesungguhnya (ada) seseorang yang benar-benar mengerjakan amalan penghuni Surga, hingg ajarak antara dirinya dengan Surga tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh al-Kitab (ketentuan takdir yang berada di Lauhul Mahfuzh), maka ia pun mengerjakan amalan penghuni Neraka, sehingga ia pun masuk Neraka. Dan sesungguhnya (ada pula) seseorang yang benar-benar mengerjakan amalan penghuni Neraka hingga antara dirinya dengan Neraka tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh al-Kitab, maka ia pun mengerjakan amalan penghuni Surga hingga ia pun masuk Surga." (535)
Karena dalam riwayat lain, hadits ini disebutkan dengan lafazh:
"Ia mengerjakan amalan yang terlihat oleh manusia sebagai amalan penghuni Surga (padahal amalan itu amalan ahli Neraka), dan ada juga yang mengerjakan suatu amalan yang terlihat oleh manusia sebagai amalan penghuni Neraka (padahal amalan itu adalah amalan ahli Surga)." (536)
Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. Al-Lail: 5-10)
===
Catatan Kaki:
535. Fat-hul Baari (VI/105). [Al-Bukhari (no. 3332), Muslim (no. 2643)].
536. [Al-Bukhari (no. 2898), kitab al-Jihaad, Muslim (no. 112), kitab al-Iimaan].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (5)
KEWAJIBAN BERPEGANG KEPADA TAUHID HINGGA MATI
Firman Allah عزوجل: "Ibrahim berkata, 'Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.'" Maknanya, berbuat baiklah kalian semasa hidup ini, dan tetaplah pada agama ini, niscaya Allah Ta'ala akan menganugerahkan kematian dalam keadaan Islam kepada kalian. Karena pada umumnya, seseorang itu akan meninggal dunia sesuai dengan agama yang diyakini selama hidupnya dan juga akan dibangkitkan dalam agama yang dianutnya itu. Dan Allah telah menetapkan Sunnah-Nya, bahwa siapa yang menghendaki kebaikan, dia akan diberikan taufiq dan dimudahkan untuk mencapainya. Dan barangsiapa berniat kepada suatu amal shalih, maka ia akan diteguhkan padanya.
Sunnatullah di atas tidak bertentangan dengan keterangan dalam hadits shahih, yakni sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
"Sesungguhnya (ada) seseorang yang benar-benar mengerjakan amalan penghuni Surga, hingg ajarak antara dirinya dengan Surga tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh al-Kitab (ketentuan takdir yang berada di Lauhul Mahfuzh), maka ia pun mengerjakan amalan penghuni Neraka, sehingga ia pun masuk Neraka. Dan sesungguhnya (ada pula) seseorang yang benar-benar mengerjakan amalan penghuni Neraka hingga antara dirinya dengan Neraka tinggal satu depa atau satu hasta, tetapi ia didahului oleh al-Kitab, maka ia pun mengerjakan amalan penghuni Surga hingga ia pun masuk Surga." (535)
Karena dalam riwayat lain, hadits ini disebutkan dengan lafazh:
"Ia mengerjakan amalan yang terlihat oleh manusia sebagai amalan penghuni Surga (padahal amalan itu amalan ahli Neraka), dan ada juga yang mengerjakan suatu amalan yang terlihat oleh manusia sebagai amalan penghuni Neraka (padahal amalan itu adalah amalan ahli Surga)." (536)
Dan Allah Ta'ala telah berfirman:
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. Al-Lail: 5-10)
===
Catatan Kaki:
535. Fat-hul Baari (VI/105). [Al-Bukhari (no. 3332), Muslim (no. 2643)].
536. [Al-Bukhari (no. 2898), kitab al-Jihaad, Muslim (no. 112), kitab al-Iimaan].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 130-132 (4) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (4)
Dan nampaknya, wallaahu a'lam, dapat disimpulkan bahwa Ishaq dikaruniai anak, yaitu Ya'qub ketika Ibrahim dan Sarah masih hidup. Karena kabar gembira yang diberikan kepada Ibrahim mencakup keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (QS. Huud: 71)
Dan ada pula yang mmebaca nashab kata يَعْقُوْبَ dengan menghilangkan harf khafidh. Kalaulah Ya'qub belum lahir pada masa keduanya (Ibrahim dan Sarah) hidup, tentu tidak ada faedah yang besar dalam menyebutkannya sebagai deretan anak keturunan Ishaq. Dan juga Allah telah berfirman dalam surat al-'Ankabuut: "Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya." (QS. Al-Ankabuut: 27)
Dan dalam ayat yang lain: "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami)." (QS. Al-Anbiyaa': 72)
Ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim hidup pada masa itu. Dan beliau jugalah yang membangun Baitul Maqdis, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab suci terdahulu. Dan telah disebutkan dalam kitab ash-Shahiihain dari hadits Abu Dzarr رضي الله عنه, ia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?' Nabi menjawab, 'Masjidil Haram.' 'Kemudian masjid apa?' tanyaku lagi. Beliau menjawab, 'Baitul Maqdis.' 'Berapa lama jarak antara keduanya?' tanyaku lagi. Beliau menjawab, 'Empat puluh tahun...'" (dan seterusnya) (534)
Demikian pula wasiat Ya'qub kepada anak-anaknya, seperti yang akan disebutkan nanti, menunjukkan bahwa ia termasuk yang mendapat wasiat.
===
Catatan Kaki:
534. Fat-hul Baari (VI/469) dan Muslim (I/370). [Al-Bukhari (no. 3366), Muslim (no. 520)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (4)
Dan nampaknya, wallaahu a'lam, dapat disimpulkan bahwa Ishaq dikaruniai anak, yaitu Ya'qub ketika Ibrahim dan Sarah masih hidup. Karena kabar gembira yang diberikan kepada Ibrahim mencakup keduanya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, "Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan sesudah Ishaq (lahir pula) Ya'qub." (QS. Huud: 71)
Dan ada pula yang mmebaca nashab kata يَعْقُوْبَ dengan menghilangkan harf khafidh. Kalaulah Ya'qub belum lahir pada masa keduanya (Ibrahim dan Sarah) hidup, tentu tidak ada faedah yang besar dalam menyebutkannya sebagai deretan anak keturunan Ishaq. Dan juga Allah telah berfirman dalam surat al-'Ankabuut: "Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub, dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya." (QS. Al-Ankabuut: 27)
Dan dalam ayat yang lain: "Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (dari Kami)." (QS. Al-Anbiyaa': 72)
Ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim hidup pada masa itu. Dan beliau jugalah yang membangun Baitul Maqdis, sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab suci terdahulu. Dan telah disebutkan dalam kitab ash-Shahiihain dari hadits Abu Dzarr رضي الله عنه, ia berkata, "Aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun?' Nabi menjawab, 'Masjidil Haram.' 'Kemudian masjid apa?' tanyaku lagi. Beliau menjawab, 'Baitul Maqdis.' 'Berapa lama jarak antara keduanya?' tanyaku lagi. Beliau menjawab, 'Empat puluh tahun...'" (dan seterusnya) (534)
Demikian pula wasiat Ya'qub kepada anak-anaknya, seperti yang akan disebutkan nanti, menunjukkan bahwa ia termasuk yang mendapat wasiat.
===
Catatan Kaki:
534. Fat-hul Baari (VI/469) dan Muslim (I/370). [Al-Bukhari (no. 3366), Muslim (no. 520)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 130-132 (3) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (3)
Kemudian firman Allah, "Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.'" Yakni, Allah Ta'ala memerintahkannya untuk ikhlas, tunduk, dan patuh kepada-Nya. Maka Ibrahim pun memenuhi perintah itu sesuai dengan syari'at dan ketetapan-Nya.
Adapun firman Allah selanjutnya: "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub." Maksudnya, Ibrahim telah mewasiatkan agama ini (Islam). Atau, dhamir (kata ganti pada lafazh بِهَا) itu kembali kepada lafazh كَلِمَةً (kalimat yang diucapkan Ibrahim) yang tersebut dalam firman-Nya, "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam." Karena kesungguhan mereka memeluk Islam dan kecintaan mereka kepadanya, maka mereka benar-benar memeliharanya sampai akhir hayat. Mereka pun mewasiatkannya kepada anak cucu mereka yang lahir kemudian. Penafsiran ini sesuai dengan firman Allah عزوجل: "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya." (QS. Az-Zukhruf: 28)
Sebagian Salaf membaca 'وَيَعْقُوْبَ' dengan menashabkannya sebagai 'athaf kepada kata بَنِيْهِ (anak Ibrahim, yakni Ishaq). Seakan-akan Ibrahim berwasiat kepada anak dan cucunya, yaitu Ya'qub bin Ishaq. Dengan kata lain pada saat Ibrahim berwasiat, Ya'qub turut hadir.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (3)
Kemudian firman Allah, "Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: 'Tunduk patuhlah!' Ibrahim menjawab, 'Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.'" Yakni, Allah Ta'ala memerintahkannya untuk ikhlas, tunduk, dan patuh kepada-Nya. Maka Ibrahim pun memenuhi perintah itu sesuai dengan syari'at dan ketetapan-Nya.
Adapun firman Allah selanjutnya: "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub." Maksudnya, Ibrahim telah mewasiatkan agama ini (Islam). Atau, dhamir (kata ganti pada lafazh بِهَا) itu kembali kepada lafazh كَلِمَةً (kalimat yang diucapkan Ibrahim) yang tersebut dalam firman-Nya, "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam." Karena kesungguhan mereka memeluk Islam dan kecintaan mereka kepadanya, maka mereka benar-benar memeliharanya sampai akhir hayat. Mereka pun mewasiatkannya kepada anak cucu mereka yang lahir kemudian. Penafsiran ini sesuai dengan firman Allah عزوجل: "Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya." (QS. Az-Zukhruf: 28)
Sebagian Salaf membaca 'وَيَعْقُوْبَ' dengan menashabkannya sebagai 'athaf kepada kata بَنِيْهِ (anak Ibrahim, yakni Ishaq). Seakan-akan Ibrahim berwasiat kepada anak dan cucunya, yaitu Ya'qub bin Ishaq. Dengan kata lain pada saat Ibrahim berwasiat, Ya'qub turut hadir.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 130-132 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (2)
Dan Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih." (QS. An-Nahl: 120-122)
Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: "Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri." Artinya, benci kepada jalan dan cara hidup Nabi Ibrahim dan menyelisihinya. Hal itu berarti ia telah menzhalimi dirinya sendiri dengan kebodohannya itu dan buruknya perhatian mereka dengan meninggalkan kebenaran dan memilih kesesatan. Mereka menyalahi jalan orang yang sudah dipilih oleh Allah عزوجل di dunia untuk memberi petunjuk dan bimbingan sejak ia (Ibrahim) masih muda hingga ia dijadikan Allah sebagai khalil (kekasih)-Nya. Dan di akhirat kelak, ia termasuk orang-orang yang shalih dan bahagia.
Maka adakah kebodohan yang lebih parah dari orang yang meninggalkan jalan Nabi Ibrahim dan agamanya lalu mengikuti jalan kesesatan? Atau adakah kezhaliman yang lebih berat darinya? Padahal Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya kemusyrikan (menyekutukan Allah) itu benar-benar merupakan kezhaliman yang sangat besar." (QS. Luqman: 13)
Abu 'Aliyah dan Qatadah mengatakan: "Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yahudi yang mengadakan cara baru yang bukan dari sisi Allah serta menyalahi agama Ibrahim yang telah mereka jalankan sebelumnya." (533) Kebenaran tafsir ini diperkuat oleh firman Allah Ta'ala:
"Ibrahim bukanlah seorang yahudi dan bukan (pula) seorang nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 67-68)
===
Catatan Kaki:
533. Ibnu Abi Hatim (I/392)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132 (2)
Dan Allah juga berfirman:
"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang menyekutukan (Rabb), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih." (QS. An-Nahl: 120-122)
Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman: "Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri." Artinya, benci kepada jalan dan cara hidup Nabi Ibrahim dan menyelisihinya. Hal itu berarti ia telah menzhalimi dirinya sendiri dengan kebodohannya itu dan buruknya perhatian mereka dengan meninggalkan kebenaran dan memilih kesesatan. Mereka menyalahi jalan orang yang sudah dipilih oleh Allah عزوجل di dunia untuk memberi petunjuk dan bimbingan sejak ia (Ibrahim) masih muda hingga ia dijadikan Allah sebagai khalil (kekasih)-Nya. Dan di akhirat kelak, ia termasuk orang-orang yang shalih dan bahagia.
Maka adakah kebodohan yang lebih parah dari orang yang meninggalkan jalan Nabi Ibrahim dan agamanya lalu mengikuti jalan kesesatan? Atau adakah kezhaliman yang lebih berat darinya? Padahal Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya kemusyrikan (menyekutukan Allah) itu benar-benar merupakan kezhaliman yang sangat besar." (QS. Luqman: 13)
Abu 'Aliyah dan Qatadah mengatakan: "Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yahudi yang mengadakan cara baru yang bukan dari sisi Allah serta menyalahi agama Ibrahim yang telah mereka jalankan sebelumnya." (533) Kebenaran tafsir ini diperkuat oleh firman Allah Ta'ala:
"Ibrahim bukanlah seorang yahudi dan bukan (pula) seorang nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 67-68)
===
Catatan Kaki:
533. Ibnu Abi Hatim (I/392)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 130-132 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang shalih.(QS. 2: 130) Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab, "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam." (QS. 2:131) Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula kepada Ya'qub, (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS. 2: 132)
TIDAK ADA YANG MEMBENCI MILLAH (AGAMA) IBRAHIM KECUALI ORANG-ORANG YANG BODOH
Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى berfirman untuk membantah orang-orang kafir atas berbagai perkara baru yang mereka ada-adakan berupa syirik kepada-Nya yang bertentangan dengan agama Ibrahim, kekasih Allah dan pemimpin orang-orang yang hanif (lurus). Dialah yang telah memurnikan tauhid kepada Rabb-nya, Allah سبحانه وتعالى. Ia tidak pernah menyeru ilah selain Allah, tidak pula menyekutukan-Nya sekejap mata pun. Ia berlepas diri dari setiap sembahan selain diri-Nya. Sikap Ibrahim tersebut ditentang oleh kaumnya, bahkan ia pun berlepas diri dari ayahnya sendiri. Ibrahim berkata,
"Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah." (QS. Al-An'aam: 78-79)
Allah juga berfirman:
"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) yang telah menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.'" (QS. Zukhruf: 26-27)
Dia juga berfirman:
"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (QS. At-Taubah: 114)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 130-132
Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang shalih.(QS. 2: 130) Ketika Rabb-nya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab, "Aku tunduk patuh kepada Rabb semesta alam." (QS. 2:131) Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula kepada Ya'qub, (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (QS. 2: 132)
TIDAK ADA YANG MEMBENCI MILLAH (AGAMA) IBRAHIM KECUALI ORANG-ORANG YANG BODOH
Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى berfirman untuk membantah orang-orang kafir atas berbagai perkara baru yang mereka ada-adakan berupa syirik kepada-Nya yang bertentangan dengan agama Ibrahim, kekasih Allah dan pemimpin orang-orang yang hanif (lurus). Dialah yang telah memurnikan tauhid kepada Rabb-nya, Allah سبحانه وتعالى. Ia tidak pernah menyeru ilah selain Allah, tidak pula menyekutukan-Nya sekejap mata pun. Ia berlepas diri dari setiap sembahan selain diri-Nya. Sikap Ibrahim tersebut ditentang oleh kaumnya, bahkan ia pun berlepas diri dari ayahnya sendiri. Ibrahim berkata,
"Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah." (QS. Al-An'aam: 78-79)
Allah juga berfirman:
"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah Rabb) yang telah menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.'" (QS. Zukhruf: 26-27)
Dia juga berfirman:
"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (QS. At-Taubah: 114)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 129 (2) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 129 (2)
TAFSIR (KATA) AL-KITAB DAN AL-HIKMAH
Firman Allah Ta'ala: "Dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab," yakni al-Qur-an, "Dan al-Hikmah," yakni as-Sunnah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Abu Malik, dan lain-lain. (531)
Ada juga yang menafsirkan "al-hikmah" dengan pemahaman terhadap agama. Dan keduanya tidak saling bertentangan.
Firman-Nya, "Dan menyucikan mereka," 'Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu 'Abbas, "Yakni ketaatan kepada Allah Ta'ala." (532)
Sedangkan firman-Nya, "Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," yakni Dia-lah al-'Aziiz, yaitu yang tidak dikalahkan oleh sesuatu pun, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah al-Hakim, yaitu Yang Mahabijaksana dalam setiap perbuatan dan ucapan-Nya. Dengan demikian, Allah akan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, karena pengetahuan, kebijakan, dan keadilan-Nya.
===
Catatan Kaki:
531. Ibnu Abi Hatim (I/390).
532. Ibnu Abi Hatim (I/391).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 129 (2)
TAFSIR (KATA) AL-KITAB DAN AL-HIKMAH
Firman Allah Ta'ala: "Dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab," yakni al-Qur-an, "Dan al-Hikmah," yakni as-Sunnah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Qatadah, Muqatil bin Hayyan, Abu Malik, dan lain-lain. (531)
Ada juga yang menafsirkan "al-hikmah" dengan pemahaman terhadap agama. Dan keduanya tidak saling bertentangan.
Firman-Nya, "Dan menyucikan mereka," 'Ali bin Abi Thalhah menceritakan dari Ibnu 'Abbas, "Yakni ketaatan kepada Allah Ta'ala." (532)
Sedangkan firman-Nya, "Sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," yakni Dia-lah al-'Aziiz, yaitu yang tidak dikalahkan oleh sesuatu pun, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah al-Hakim, yaitu Yang Mahabijaksana dalam setiap perbuatan dan ucapan-Nya. Dengan demikian, Allah akan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, karena pengetahuan, kebijakan, dan keadilan-Nya.
===
Catatan Kaki:
531. Ibnu Abi Hatim (I/390).
532. Ibnu Abi Hatim (I/391).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 129 | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
AL-MISHBAAHUL MUNIIRU FII TAHDZIIBI TAFSIIRI IBNU KATSIIR
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 129
Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 2: 129)
AL-KHALIIL IBRAHIM عليه السلام BERDO'A KEPADA ALLAH MEMOHON PENGUTUSAN NABI صلى الله عليه وسلم
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya adalah Ahmad (Muhammad)." (QS. Ash-Shaff: 6)
(Inilah latar belakang mengapa) Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits yang telah berlalu (528): "(Diutusnya aku berawal dari) do'a ayahku, Ibrahim عليه السلام dan berita gembira yang disampaikan oleh 'Isa bin Maryam عليهماالسلام
Adapun sabda beliau selanjutnya, "Ibuku bermimmpi seolah-olah telah keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana di negeri Syam." (529) Ada yang mengatakan, yaitu mimpi ibunda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika sedang mengandung beliau. Mimpi itu diceritakannya kepada kaumnya sehingga tersebar dan dikenal oleh masyarakat. Demikianlah permulaannya.
Sedangkan pengkhususan Syam (Syiria) sebagai wilayah yang diterangi cahaya menunjukkan bahwa kejayaan agama dan kenabiannya akan sampai di negeri Syam itu. Karena itulah di akhir zaman negeri Syam akan menjadi benteng bagi Islam dan para pemeluknya. Di sana pula 'Isa putera Maryam akan turun, yaitu di Damaskus, tepatnya di menara timur yang berwarna putih.
Diriwayatkan dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang membela kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan yang menyelisihi mereka, hingga datang keputusan Allah (hari Kiamat), sedang mereka tetap dalam keadaan seperti itu (membela kebenaran)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sedangkan dalam kitab Shahiih al-Bukhari disebutkan: "وَهُمْ بِالشَّامِ (...sedangkan mereka berada di Syam.)" (530)
===
Catatan Kaki:
528. Lihat foot note no. 502, -pent.
529. Ahmad (V/262).
530. Fat-hul Baari (VI/731) dan Muslim (II/1524). [Al-Bukhari (no. 3641), Muslim (no. 1037)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
SHAHIH TAFSIR IBNU KATSIR
SURAT AL-BAQARAH
AL-BAQARAH, AYAT 129
Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (QS. 2: 129)
AL-KHALIIL IBRAHIM عليه السلام BERDO'A KEPADA ALLAH MEMOHON PENGUTUSAN NABI صلى الله عليه وسلم
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira dengan seorang Rasul yang akan datang setelahku, yang namanya adalah Ahmad (Muhammad)." (QS. Ash-Shaff: 6)
(Inilah latar belakang mengapa) Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda dalam hadits yang telah berlalu (528): "(Diutusnya aku berawal dari) do'a ayahku, Ibrahim عليه السلام dan berita gembira yang disampaikan oleh 'Isa bin Maryam عليهماالسلام
Adapun sabda beliau selanjutnya, "Ibuku bermimmpi seolah-olah telah keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana di negeri Syam." (529) Ada yang mengatakan, yaitu mimpi ibunda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ketika sedang mengandung beliau. Mimpi itu diceritakannya kepada kaumnya sehingga tersebar dan dikenal oleh masyarakat. Demikianlah permulaannya.
Sedangkan pengkhususan Syam (Syiria) sebagai wilayah yang diterangi cahaya menunjukkan bahwa kejayaan agama dan kenabiannya akan sampai di negeri Syam itu. Karena itulah di akhir zaman negeri Syam akan menjadi benteng bagi Islam dan para pemeluknya. Di sana pula 'Isa putera Maryam akan turun, yaitu di Damaskus, tepatnya di menara timur yang berwarna putih.
Diriwayatkan dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang membela kebenaran. Tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menghina dan yang menyelisihi mereka, hingga datang keputusan Allah (hari Kiamat), sedang mereka tetap dalam keadaan seperti itu (membela kebenaran)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sedangkan dalam kitab Shahiih al-Bukhari disebutkan: "وَهُمْ بِالشَّامِ (...sedangkan mereka berada di Syam.)" (530)
===
Catatan Kaki:
528. Lihat foot note no. 502, -pent.
529. Ahmad (V/262).
530. Fat-hul Baari (VI/731) dan Muslim (II/1524). [Al-Bukhari (no. 3641), Muslim (no. 1037)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (21) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (21)
TAFSIR MANASIK
Firman Allah, (وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا) "Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami."
Sa'id bin Manshur berkata, "Telah mengabarkan kepada kami 'Atab bin Basyir dari Khushaif dari Mujahid, ia mengatakan bahwa Nabi Ibrahim berkata, 'Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.' Maka turunlah malaikat Jibril, lalu mendatangi Baitullah dan berkata, "Tinggikanlah pondasinya.' Maka Nabi Ibrahim pun meninggikan pondasinya lalu menyelesaikan pembangunannya. Kemudian Jibril menuntun tangannya dan membawanya ke bukit Shafa lalu berkata, 'Ini merupakan syi'ar-syi'ar Allah.' Kemudian Jibril membawanya ke bukit Marwah dan berkata, "Ini merupakan syiar-syiar Allah.' Kemudian Jibril membawanya ke arah Mina. Ketika sampai di 'Aqabah, tiba-tiba muncul iblis berdiri di bawah pohon. Jibril berkata, 'Bertakbir dan lemparlah ia!' Maka Nabi Ibrahim pun melemparnya, kemudian iblis pergi, lalu berdiri pada Jumratul Wustha. Tatkala Malaikat Jibril dan Nabi Ibrahim melewatinya, Malaikat Jibril berkata, 'Bertakbirlah dan lemparlah ia, maka Nabi Ibrahim bertakbir dan melemparnya dan pergilah si jahat iblis. Si jahat iblis ini ingin memasukkan sesuatu dalam proses ibadah haji namun dia tidak mampu. Kemudian Jibril menuntun tangan Ibrahim hingga sampai ke Masy'aril Haram (Muzdalifah) dan berkata, 'Ini adalah Masy'aril Haram.' Lalu Jibril menuntun tangan Ibrahim sampai ke padang 'Arafah.
Kemudian Jibril berkata, "Mengertikah engkau apa yang telah aku perlihatkan tadi kepadamu?" Jibril bertanya seperti itu tiga kali. Nabi Ibrahim menjawab, "Ya!" (526)
Diriwayatkan juga dari Abu Mijlaz dan Qatadah seperti itu. (527)
===
Catatan Kaki:
526. Sa'id bin Manshur (II/615).
527. Ibnu Abi Hatim (I/387).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (21)
TAFSIR MANASIK
Firman Allah, (وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا) "Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami."
Sa'id bin Manshur berkata, "Telah mengabarkan kepada kami 'Atab bin Basyir dari Khushaif dari Mujahid, ia mengatakan bahwa Nabi Ibrahim berkata, 'Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami.' Maka turunlah malaikat Jibril, lalu mendatangi Baitullah dan berkata, "Tinggikanlah pondasinya.' Maka Nabi Ibrahim pun meninggikan pondasinya lalu menyelesaikan pembangunannya. Kemudian Jibril menuntun tangannya dan membawanya ke bukit Shafa lalu berkata, 'Ini merupakan syi'ar-syi'ar Allah.' Kemudian Jibril membawanya ke bukit Marwah dan berkata, "Ini merupakan syiar-syiar Allah.' Kemudian Jibril membawanya ke arah Mina. Ketika sampai di 'Aqabah, tiba-tiba muncul iblis berdiri di bawah pohon. Jibril berkata, 'Bertakbir dan lemparlah ia!' Maka Nabi Ibrahim pun melemparnya, kemudian iblis pergi, lalu berdiri pada Jumratul Wustha. Tatkala Malaikat Jibril dan Nabi Ibrahim melewatinya, Malaikat Jibril berkata, 'Bertakbirlah dan lemparlah ia, maka Nabi Ibrahim bertakbir dan melemparnya dan pergilah si jahat iblis. Si jahat iblis ini ingin memasukkan sesuatu dalam proses ibadah haji namun dia tidak mampu. Kemudian Jibril menuntun tangan Ibrahim hingga sampai ke Masy'aril Haram (Muzdalifah) dan berkata, 'Ini adalah Masy'aril Haram.' Lalu Jibril menuntun tangan Ibrahim sampai ke padang 'Arafah.
Kemudian Jibril berkata, "Mengertikah engkau apa yang telah aku perlihatkan tadi kepadamu?" Jibril bertanya seperti itu tiga kali. Nabi Ibrahim menjawab, "Ya!" (526)
Diriwayatkan juga dari Abu Mijlaz dan Qatadah seperti itu. (527)
===
Catatan Kaki:
526. Sa'id bin Manshur (II/615).
527. Ibnu Abi Hatim (I/387).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (20) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (20)
DO'A AL-KHALIL
Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menceritakan do'a Ibrahim dan Isma'il 'alaihis salam:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا اُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang," Ibnu Jarir mengatakan bahwa maksud keduanya adalah, "Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mematuhi perintah-Mu, tunduk mentaati-Mu, serta tidak menyekutukan-Mu dengan seorang pun di dalam ketaatan dan dalam beribadah." (524)
'Ikrimah mengatakan, (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ) "Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu," Allah berfirman: "Aku telah melakukannya." (وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا اُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ) "Dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu," maka Allah berfirman: "Aku telah melakukannya (mengabulkan do'anya)."
Inilah do'a yang dipanjatkan oleh Ibrahim dan Isma'il 'alaihis salam, sebagaimana diberitakan oleh Allah 'Azza wa Jalla mengenai hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan beriman dalam firman-Nya,
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Dan orang-orang yang mengatakan, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan: 74)
Hal ini sangat dianjurkan secara syar'i, karena sebagian dari kesempurnaan cinta dalam ibadah kepada Allah Ta'ala adalah penuh harap agar anak keturunannya pun beribadah hanya kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Oleh karena itu, tatkala Allah Ta'ala berfirman kepada Ibrahim 'alaihis salam: (اِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا) "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh umat manusia." Maka Ibrahim berkata, (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَايَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْنَ) "Dan saya mohon juga dari keturunanku." Allah berfirman: "Janji-Ku ini tidak akan mengenai orang-orang yang zhalim.'" Karena itu Nabi Ibrahim berdo'a lagi: (وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ اَنَّعْبُدَ الأَصْنَامَ) "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala." (QS. Ibrahim: 35)
Dan dalam kitab Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo'akannya." (525)
===
Catatan kaki:
524. Ath-Thabari (III/73).
525. Muslim (III/1255). [(No. 2682)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (20)
DO'A AL-KHALIL
Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menceritakan do'a Ibrahim dan Isma'il 'alaihis salam:
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا اُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang," Ibnu Jarir mengatakan bahwa maksud keduanya adalah, "Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mematuhi perintah-Mu, tunduk mentaati-Mu, serta tidak menyekutukan-Mu dengan seorang pun di dalam ketaatan dan dalam beribadah." (524)
'Ikrimah mengatakan, (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ) "Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu," Allah berfirman: "Aku telah melakukannya." (وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا اُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ) "Dan jadikanlah di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu," maka Allah berfirman: "Aku telah melakukannya (mengabulkan do'anya)."
Inilah do'a yang dipanjatkan oleh Ibrahim dan Isma'il 'alaihis salam, sebagaimana diberitakan oleh Allah 'Azza wa Jalla mengenai hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan beriman dalam firman-Nya,
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
"Dan orang-orang yang mengatakan, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan: 74)
Hal ini sangat dianjurkan secara syar'i, karena sebagian dari kesempurnaan cinta dalam ibadah kepada Allah Ta'ala adalah penuh harap agar anak keturunannya pun beribadah hanya kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Oleh karena itu, tatkala Allah Ta'ala berfirman kepada Ibrahim 'alaihis salam: (اِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا) "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh umat manusia." Maka Ibrahim berkata, (وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَايَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِيْنَ) "Dan saya mohon juga dari keturunanku." Allah berfirman: "Janji-Ku ini tidak akan mengenai orang-orang yang zhalim.'" Karena itu Nabi Ibrahim berdo'a lagi: (وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ اَنَّعْبُدَ الأَصْنَامَ) "Dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala." (QS. Ibrahim: 35)
Dan dalam kitab Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendo'akannya." (525)
===
Catatan kaki:
524. Ath-Thabari (III/73).
525. Muslim (III/1255). [(No. 2682)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (19) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (19)
SEORANG HABASYI (BUDAK HABASYAH/ETHIOPIA) AKAN MENGHANCURKAN KA'BAH MENJELANG HARI KIAMAT
Hal itu telah ditegaskan dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Ka'bah itu akan dihancurkan oleh Dzus Suwaiqatain (pemilik kaki seperti huruf o) dari Habasyah (Ethiopia)."
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (520)
Dan diriwayatkan dari Ibnu 'Ababs radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Seakan-akan aku mengenalnya seperti orang berkulit hitam yang berkaki pengkor. Dia melepaskan batu Ka'bah satu demi satu." (HR. Al-Bukhari)(521)
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnadnya dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Ka'bah akan dirusak oleh Dzus Suwaiqatain dari Habasyah (Ethiopia), dilepasnya perhiasan Ka'bah dan kiswah (kain penutup)nya ditanggalkan. Seakan-akan aku menyaksikan Dzus Suwaiqatain itu botak dan berkaki pengkor. Ia menghantam Ka'bah dengan sekop dan linggisnya.'" (522)
Al-fada' artinya yang berkaki bengkok antara tapak kaki dan tulang betis.
Hal ini akan terjadi, wallaahu a'lam, setelah ya'-juj dan Ma'-juj keluar, berdasarkan riwayat dalam kitab Shahiih al-Bukhari, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Sesungguhnya Baitullah ini tetap akan dijadikan tempat menunaikan ibadah haji dan umrah setelah keluarnya ya'-juj dan Ma'-juj.'" (523)
===
Catatan Kaki:
520. Fat-hul Baari (III/538) dan Muslim (IV/2232). [Al-Bukhari (no. 1591), Muslim (no. 2909)].
521. Fat-hul Baari (III/ 358). [Al-Bukhari (no. 1595)].
522. Ahmad (II/220). [Komentar Syaikh Syu'aib al-Arna-uth: "Hadits ini sebagiannya (penggalan pertama yaitu, يخرِّبِ...مِنْ كِسْوَتِهَا) diriwayatkan secara marfu' dan shahih, dan sebagian penggalan berikutnya diriwayatkan secara marfu' dan mauquf.' Dan yang diriwayatkan secara mauquf derajatnya lebih shahih," al-Musnad (XI/629). Penggalan pertama (يُخَرِّبُ...مِنَ الْحَبَشَةِ) hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 8064)].
523. Fat-hul Baari (III/531). [Al-Bukhari (no. 1593)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (19)
SEORANG HABASYI (BUDAK HABASYAH/ETHIOPIA) AKAN MENGHANCURKAN KA'BAH MENJELANG HARI KIAMAT
Hal itu telah ditegaskan dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Ka'bah itu akan dihancurkan oleh Dzus Suwaiqatain (pemilik kaki seperti huruf o) dari Habasyah (Ethiopia)."
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. (520)
Dan diriwayatkan dari Ibnu 'Ababs radhiyallahu 'anhuma, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Seakan-akan aku mengenalnya seperti orang berkulit hitam yang berkaki pengkor. Dia melepaskan batu Ka'bah satu demi satu." (HR. Al-Bukhari)(521)
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnadnya dari 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Ka'bah akan dirusak oleh Dzus Suwaiqatain dari Habasyah (Ethiopia), dilepasnya perhiasan Ka'bah dan kiswah (kain penutup)nya ditanggalkan. Seakan-akan aku menyaksikan Dzus Suwaiqatain itu botak dan berkaki pengkor. Ia menghantam Ka'bah dengan sekop dan linggisnya.'" (522)
Al-fada' artinya yang berkaki bengkok antara tapak kaki dan tulang betis.
Hal ini akan terjadi, wallaahu a'lam, setelah ya'-juj dan Ma'-juj keluar, berdasarkan riwayat dalam kitab Shahiih al-Bukhari, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Sesungguhnya Baitullah ini tetap akan dijadikan tempat menunaikan ibadah haji dan umrah setelah keluarnya ya'-juj dan Ma'-juj.'" (523)
===
Catatan Kaki:
520. Fat-hul Baari (III/538) dan Muslim (IV/2232). [Al-Bukhari (no. 1591), Muslim (no. 2909)].
521. Fat-hul Baari (III/ 358). [Al-Bukhari (no. 1595)].
522. Ahmad (II/220). [Komentar Syaikh Syu'aib al-Arna-uth: "Hadits ini sebagiannya (penggalan pertama yaitu, يخرِّبِ...مِنْ كِسْوَتِهَا) diriwayatkan secara marfu' dan shahih, dan sebagian penggalan berikutnya diriwayatkan secara marfu' dan mauquf.' Dan yang diriwayatkan secara mauquf derajatnya lebih shahih," al-Musnad (XI/629). Penggalan pertama (يُخَرِّبُ...مِنَ الْحَبَشَةِ) hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami' (no. 8064)].
523. Fat-hul Baari (III/531). [Al-Bukhari (no. 1593)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (18) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (18)
Sebaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari 'Abdullah bin 'Ubaid ia berkata, "Al-Harits bin 'Abdillah datang menemui 'Abdul Malik bin Marwan pada masa kekhalifahannya. 'Abdul Malik berkata, "Menurut dugaanku Abu Khabaib -yakni Ibnuz Zubair- tidak mendengar hal itu dari 'Aisyah. Ia hanya mengatakan telah mendengarnya dari 'Aisyah."
Al-Harits berkata, "Bahkan aku mendengarnya langsung dari 'Aisyah."
'Abdul Malik berkata, "Apa yang engkau dengar darinya?"
Al-Harits berkata, "Aku dengar ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya kaummu menganggap pembangunan Ka'bah belum sempurna. Kalaulah bukan karena mereka baru saja keluar dari kemusyrikan, niscaya aku akan melanjutkan pembangunan yang mereka tinggalkan. Jika nanti muncul dari kaummu ide pembangunan kembali Ka'bah sepeninggalku, marilah aku tunjukkan kepadamu pembangunan yang belum mereka rampungkan." Nabi memperlihatkan kepadanya sekitar tujuh hasta. Al-Walid bin 'Atha' -salah seorang perawi- menambahkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Niscaya aku akan membuat dua buah pintu yang rata dengan tanah. Pintu sebelah timur dan pintu sebelah barat. Tahukah engkaku mengapa kaummu meninggikan pintunya?' 'Aisyah menjawab, 'Tidak!' Nabi berkata, 'Karena kesombongan, agar tidak masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang mereka kehendaki. Apabila ada orang yang ingin memasukinya, mereka memanggilnya untuk naik ke atas. Lalu apabila ia hampir memasukinya, mereka menolaknya hingga jatuh.'" 'Abdul Malik berkata, "Aku katakan kepada al-Harits: 'Benarkah engkau mendengarnya dari 'Aisyah?'" Al-Harits menjawab, "Benar." 'Abdul Malik termenung sejenak (sambil) bertelekan pada tongkatnya kemudian berkata, "Alangkah baik sekiranya aku biarkan saja begitu, seperti yang dibangun oleh Ibnuz Zubair." (519)
===
Catatan Kaki:
519. Muslim (II/970). [(No. 1333)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (18)
Sebaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari 'Abdullah bin 'Ubaid ia berkata, "Al-Harits bin 'Abdillah datang menemui 'Abdul Malik bin Marwan pada masa kekhalifahannya. 'Abdul Malik berkata, "Menurut dugaanku Abu Khabaib -yakni Ibnuz Zubair- tidak mendengar hal itu dari 'Aisyah. Ia hanya mengatakan telah mendengarnya dari 'Aisyah."
Al-Harits berkata, "Bahkan aku mendengarnya langsung dari 'Aisyah."
'Abdul Malik berkata, "Apa yang engkau dengar darinya?"
Al-Harits berkata, "Aku dengar ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya kaummu menganggap pembangunan Ka'bah belum sempurna. Kalaulah bukan karena mereka baru saja keluar dari kemusyrikan, niscaya aku akan melanjutkan pembangunan yang mereka tinggalkan. Jika nanti muncul dari kaummu ide pembangunan kembali Ka'bah sepeninggalku, marilah aku tunjukkan kepadamu pembangunan yang belum mereka rampungkan." Nabi memperlihatkan kepadanya sekitar tujuh hasta. Al-Walid bin 'Atha' -salah seorang perawi- menambahkan: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Niscaya aku akan membuat dua buah pintu yang rata dengan tanah. Pintu sebelah timur dan pintu sebelah barat. Tahukah engkaku mengapa kaummu meninggikan pintunya?' 'Aisyah menjawab, 'Tidak!' Nabi berkata, 'Karena kesombongan, agar tidak masuk ke dalamnya kecuali orang-orang yang mereka kehendaki. Apabila ada orang yang ingin memasukinya, mereka memanggilnya untuk naik ke atas. Lalu apabila ia hampir memasukinya, mereka menolaknya hingga jatuh.'" 'Abdul Malik berkata, "Aku katakan kepada al-Harits: 'Benarkah engkau mendengarnya dari 'Aisyah?'" Al-Harits menjawab, "Benar." 'Abdul Malik termenung sejenak (sambil) bertelekan pada tongkatnya kemudian berkata, "Alangkah baik sekiranya aku biarkan saja begitu, seperti yang dibangun oleh Ibnuz Zubair." (519)
===
Catatan Kaki:
519. Muslim (II/970). [(No. 1333)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (17) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (17)
Setelah Ibnuz Zubair terbunuh, al-Hajjaj menulis surat kepada 'Abdul Malik untuk meminta izin kepadanya dan mengabarkan bahwa Ibnuz Zubair telah melakukan pembangunan di atas pondasi berdasarkan persaksian penduduk Makkah yang bisa dipercaya.
'Abdul Malik menulis surat kepadanya: "Sesungguhnya kami tidak mau ikut campur atas perbuatan kotor Ibnuz Zubair! Adapun penambahan tinggi Ka'bah, aku menyetujuinya. Sedangkan penambahan tinggi Hijir Isma'il, maka kembalikanlah ia kepada bentuk semula. Dan tutuplah pintu keluar yang dibuat olehnya."
Maka al-Hajjaj membongkar dan mengembalikannya kepada bentuknya semula." (517)
An-Nasa-i telah meriwayatkannya dalam Sunannya, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bagian yang marfu' saja (518) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tidak menyebutkan kisahnya secara keseluruhan.
Menurut Sunnah Nabi, yang dilakukan oleh 'Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhu itulah yang benar, karena memang itulah yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hanya saja beliau khawatir hati sebagian orang yang baru masuk Islam mengingkarinya, mereka baru saja keluar dari kekafiran. Akan tetapi Sunnah Nabi ini tidak diketahui oleh 'Abdul Malik bin Marwan. Oleh karen aitu setelah ia benar-benar mengetahui hal itu dari 'Aisyah, bahwa 'Aisyah memang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Abdul Malik mengatakan, "Alangkah baiknya jika kita biarkan saja seperti itu, seperti yang dibangun oleh Ibnuz Zubair."
===
Catatan Kaki:
517. Muslim II/970. [Muslim (no. 1333)].
518. An-Nasa-i (V/218). [An-Nasa-i (no. 2910). Lihat Shahiihul Jami' (no. 5323)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (17)
Setelah Ibnuz Zubair terbunuh, al-Hajjaj menulis surat kepada 'Abdul Malik untuk meminta izin kepadanya dan mengabarkan bahwa Ibnuz Zubair telah melakukan pembangunan di atas pondasi berdasarkan persaksian penduduk Makkah yang bisa dipercaya.
'Abdul Malik menulis surat kepadanya: "Sesungguhnya kami tidak mau ikut campur atas perbuatan kotor Ibnuz Zubair! Adapun penambahan tinggi Ka'bah, aku menyetujuinya. Sedangkan penambahan tinggi Hijir Isma'il, maka kembalikanlah ia kepada bentuk semula. Dan tutuplah pintu keluar yang dibuat olehnya."
Maka al-Hajjaj membongkar dan mengembalikannya kepada bentuknya semula." (517)
An-Nasa-i telah meriwayatkannya dalam Sunannya, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma bagian yang marfu' saja (518) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tidak menyebutkan kisahnya secara keseluruhan.
Menurut Sunnah Nabi, yang dilakukan oleh 'Abdullah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhu itulah yang benar, karena memang itulah yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hanya saja beliau khawatir hati sebagian orang yang baru masuk Islam mengingkarinya, mereka baru saja keluar dari kekafiran. Akan tetapi Sunnah Nabi ini tidak diketahui oleh 'Abdul Malik bin Marwan. Oleh karen aitu setelah ia benar-benar mengetahui hal itu dari 'Aisyah, bahwa 'Aisyah memang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Abdul Malik mengatakan, "Alangkah baiknya jika kita biarkan saja seperti itu, seperti yang dibangun oleh Ibnuz Zubair."
===
Catatan Kaki:
517. Muslim II/970. [Muslim (no. 1333)].
518. An-Nasa-i (V/218). [An-Nasa-i (no. 2910). Lihat Shahiihul Jami' (no. 5323)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (16) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (16)
Ibnuz Zubair berkata, "Kalaulah rumah salah seorang dari kalian terbakar tentu ia ingin memperbaharuinya. Bagaimana pula dengan rumah Rabb kalian!? Aku akan beristikharah tiga kali. Aku berkeinginan kuat membongkarnya."
Setelah Ibnuz Zubair beristikharah tiga kali dan bertekad membongkarnya, orang-orang tetap tidak ada yang berani memulainya. Mereka takut akan turunnya adzab dari langit kepada orang yang pertama kali memulainya. Akhirnya seorang laki-laki menaiki Ka'bah lalu membongkar sebuah batu. Ketika melihat tidak terjadi sesuatu pada lelaki itu, orang-orang pun berduyun-duyun membongkarnya hingga rata dengan tanah.
Untuk sementara waktu Ibnuz Zubair membuat tiang-tiang lalu menutupnya dengan tirai. Setelah dinding Ka'bah sudah agak tinggi, Ibnuz Zubair berkata, "Sesungguhnya aku mendengar 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kalaulah bukan karena orang-orang baru saja masuk Islam dan lagi pula aku tidak mempunyai biaya untuk membangunnya, niscaya aku akan memasukkan Hijir Isma'il (hingga sekomplek dengan Ka'bah) seluas lima hasta. Dan niscaya aku buat satu pintu masuk dan satu pintu keluar."
Kemudian Ibnuz Zubair berkata, "Aku mempunyai biaya dan aku tidak takut kepada manusia."
'Atha' melanjutkan ceritanya. Ia berkata bahwa Ibnuz Zubair pun menambah Hijir Isma'il 5 hasta pada bangunan Ka'bah. Ibnuz Zubair menunjukkan pondasi awal Hijir Isma'il kepada orang-orang, lalu ia membangun di atas pondasi tersebut. Sebelumnya tinggi bangunan Ka'bah adalah 18 hasta. Ketika Ka'bah diperluas, Ibnuz Zubair menganggap bahwa tingginya kurang. Pada awalnya ia menambahnya 10 hasta, dan membuat dua buah pintu, yaitu pintu masuk dan pintu keluar.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (16)
Ibnuz Zubair berkata, "Kalaulah rumah salah seorang dari kalian terbakar tentu ia ingin memperbaharuinya. Bagaimana pula dengan rumah Rabb kalian!? Aku akan beristikharah tiga kali. Aku berkeinginan kuat membongkarnya."
Setelah Ibnuz Zubair beristikharah tiga kali dan bertekad membongkarnya, orang-orang tetap tidak ada yang berani memulainya. Mereka takut akan turunnya adzab dari langit kepada orang yang pertama kali memulainya. Akhirnya seorang laki-laki menaiki Ka'bah lalu membongkar sebuah batu. Ketika melihat tidak terjadi sesuatu pada lelaki itu, orang-orang pun berduyun-duyun membongkarnya hingga rata dengan tanah.
Untuk sementara waktu Ibnuz Zubair membuat tiang-tiang lalu menutupnya dengan tirai. Setelah dinding Ka'bah sudah agak tinggi, Ibnuz Zubair berkata, "Sesungguhnya aku mendengar 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kalaulah bukan karena orang-orang baru saja masuk Islam dan lagi pula aku tidak mempunyai biaya untuk membangunnya, niscaya aku akan memasukkan Hijir Isma'il (hingga sekomplek dengan Ka'bah) seluas lima hasta. Dan niscaya aku buat satu pintu masuk dan satu pintu keluar."
Kemudian Ibnuz Zubair berkata, "Aku mempunyai biaya dan aku tidak takut kepada manusia."
'Atha' melanjutkan ceritanya. Ia berkata bahwa Ibnuz Zubair pun menambah Hijir Isma'il 5 hasta pada bangunan Ka'bah. Ibnuz Zubair menunjukkan pondasi awal Hijir Isma'il kepada orang-orang, lalu ia membangun di atas pondasi tersebut. Sebelumnya tinggi bangunan Ka'bah adalah 18 hasta. Ketika Ka'bah diperluas, Ibnuz Zubair menganggap bahwa tingginya kurang. Pada awalnya ia menambahnya 10 hasta, dan membuat dua buah pintu, yaitu pintu masuk dan pintu keluar.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Subscribe to:
Comments (Atom)