Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (15)
IBNUZ ZUBAIR MEMBANGUN KA'BAH SEBAGAIMANA YANG DIKEHENDAKI RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Kemudian Muhammad bin Ishaq menceritakan bahwa pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Ka'bah itu berukuran delapan belas dzira' (hasta), dan ditutupi dengan kain katun dari Mesir, kemudian setelah itu dengan kain wool hitam. Dan yang pertama kali menutupinya dengan kain sutera adalah al-Hajjaj bin Yusuf. (516)
Aku (Ibnu Katsir) katakan bahwa bangunan Ka'bah itu tetap seperti yang dibangun oleh orang-orang Quraisy hingga terbakar pada awal kepemimpinan 'Abdullah bin az-Zubair, setelah tahun 60 H dan pada akhir pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah. Ketika mereka mengepung Ibnuz Zubair, maka pada saat itu Ibnu az-Zubair merobohkan Ka'bah ke tanah dan membangunnya kembali di atas pondasi yang dulu dibuat Ibrahim 'alaihis salam. Ibnu az-Zubair memasukkan al-Hijr (Hijr Isma'il) ke dalam bangunan Ka'bah dan membuatkan pintu Ka'bah pada bagian timur dan bagian barat yang bersentuhan dengan tanah. (Ibnuz Zubair melakukan hal ini) sebagaimana ia mendengar dari bibinya, Ummul Mukminin, 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Bangunan Ka'bah tetap demikian selama masa kepemimpinan Ibnuz Zubair, hingga akhirnya dibunuh oleh al-Hajjaj. Lalu al-Hajjaj mengembalikan Ka'bah itu ke bentuk semula atas perintah 'Abdul Malik bin Marwan.
Imam Muslim bin al-Hajjaj meriwayatkan dari 'Atha', ia mengatakan, "Baitullah pernah terbakar pada masa Yazid bin Mu'awiyah, yaitu pada saat penyerangan pasukan Syam. Peristiwa ini sudah dikenal luas. Baitullah mengalami kerusakan parah. Kondisinya dibiarkan seperti itu oleh Ibnuz Zubair, hingga datang musim haji. Beliau ingin memotivasi jama'ah haji dan memobilisasi mereka untuk menyerang penduduk Syam. Ketika para jama'ah haji berdatangan, Ibnuz Zubair berkata, "Wahai sekalian manusia, apa saran kalian kepadaku perihal Ka'bah ini, apakah aku harus membongkarnya kemudian membangunnya kembali atau aku memperbaiki bagian-bagian yang rusak saja?" Ibnu 'Abbas berkata, "Aku mempunyai saran, menurutku engkau cukup memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada padanya, dan engkau biarkan Baitullah seperti dahulu saat manusia memeluk Islam, yakni engkau biarkan batu-batu itu seperti dahulu saat manusia memeluk Islam, dan saat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus menjadi Rasul."
===
Catatan Kaki:
516. Ibnu Hisyam (I/211).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (14) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (14)
PERTENGKARAN TENTANG SIAPA YANG AKAN MELETAKKAN HAJAR ASWAD DAN KEBIJAKAN MUHAMMAD BIN 'ABDILLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM YANG ADIL DALAM MENYELESAIKAN PERSOALAN TERSEBUT
Muhammad bin Ishaq menceritakan bahwa beberapa kabilah Quraisy mengumpulkan batu-batu itu untuk mereka masing-masing, lalu mereka gunakan untuk membangunnya. Ketika saat peletakan Hajar Aswad tiba, terjadilah pertengkaran di antara mereka. Masing-masing kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya. Mereka berdebat, bertengkar danbahkan siap untuk berperang.
Kemudian Bani 'Abdid Daar membawa mangkuk besar yang berisi darah. Mereka dan Banu 'Adi bin Ka'ab bin Lu-ay berjanji setia untuk mati dengan bersama-sama memasukkan tangan mereka ke dalam darah yang berada di dalam mangkuk tersebut. Mereka menamakan janji setia itu dengan sebutan "la'qatud dam."
(Karena belum ada keputusan yang pasti), orang-orang Quraisy pun menunggu selama empat atau lima malam. Selanjutnya mereka berkumpul di masjid untuk memusyawarahkan dan menyelesaikan masalah seadil-adilnya.
Sebagian perawi mengatakan bahwa Abu Umayyah bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Amr bin Makhzum, orang tertua di antara orang-orang Quraisy mengatakan, "Hai sekalian kaum Quraisy, serahkanlah persoalan yang kalian perselisihkan itu kepada orang yang pertama kali masuk dari pintu masjid ini, untuk memberikan keputusan bagi kalian."
Mereka pun melakukannya, dan ternyata orang yang pertama kali masuk adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka pun berkata, "Inilah al-Amin (orang yang terpercaya), kami rela. Inilah Muhammad."
Setelah beliau berhadapan dengan mereka, dan mereka menceritakan duduk persoalannya kepada beliau, maka (beliau) shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bawakan sehelai kain untukku." Setelah kain itu dibawakan kepada beliau, kemudian beliau mengambil Hajar Aswad, lalu meletakkannya pada kain itu dengan tangannya. Kemudian beliau bersabda, "Hendaklah setiap kabilah memegang sisi kain, lalu angkatlah secara bersamaan."
Mereka pun melakukannya. Ketika sampai pada tempatnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri pada tempatnya semula dan membangunnya. Sebelum diturunkan wahyu, orang-orang Quraisy menyebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sebutan "al-Amiin".
Setelah mereka selesai merenovasi Ka'bah sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, az-Zubair bin 'Abdil Muththalib mengingatkan kepada mereka kisah ular yang membuat orang-orang Quraisy takut merenovasi Ka'bah (dalam bentuk sya'ir):
Aku takjub melihat burung elang
menyambar ular yang merayap meliuk-liuk
Dahulu ular itu mendesis dan kadang kala menyerang
Apabila kami ingin membongkar Ka'bah, ular itu menghalanginya
Ular itu benar-benar membuat kami takut membongkarnya
Di saat kami dalam ketakutan itu datanglah burung elang
Yang datang menyambarnya lalu membawanya pergi
Membuat kami leluasa melanjutkan renovasi tanpa ada penghalang
Kami pun segera bangkit bersatu membangun pondasi dan lantainya
Siang malam kami meninggikan pondasinya
Tanpa peduli baju yang melekat pada tubuh kami
Sungguh mulia raja Bani Lu-ay
Mudah-mudahan nenek moyang mereka tetap dikenang
Bersatu padu pula Bani 'Adi, Bani Murrah dan Bani Kilab
Raja telah memberi kami tempat yang mulia
Dan di sisi Allah kami mengharapkan balasan pahalanya. (515)
===
Catatan Kaki:
515. Ibnu Hisyam (I/209).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (14)
PERTENGKARAN TENTANG SIAPA YANG AKAN MELETAKKAN HAJAR ASWAD DAN KEBIJAKAN MUHAMMAD BIN 'ABDILLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM YANG ADIL DALAM MENYELESAIKAN PERSOALAN TERSEBUT
Muhammad bin Ishaq menceritakan bahwa beberapa kabilah Quraisy mengumpulkan batu-batu itu untuk mereka masing-masing, lalu mereka gunakan untuk membangunnya. Ketika saat peletakan Hajar Aswad tiba, terjadilah pertengkaran di antara mereka. Masing-masing kabilah ingin mengangkat Hajar Aswad ke tempatnya. Mereka berdebat, bertengkar danbahkan siap untuk berperang.
Kemudian Bani 'Abdid Daar membawa mangkuk besar yang berisi darah. Mereka dan Banu 'Adi bin Ka'ab bin Lu-ay berjanji setia untuk mati dengan bersama-sama memasukkan tangan mereka ke dalam darah yang berada di dalam mangkuk tersebut. Mereka menamakan janji setia itu dengan sebutan "la'qatud dam."
(Karena belum ada keputusan yang pasti), orang-orang Quraisy pun menunggu selama empat atau lima malam. Selanjutnya mereka berkumpul di masjid untuk memusyawarahkan dan menyelesaikan masalah seadil-adilnya.
Sebagian perawi mengatakan bahwa Abu Umayyah bin al-Mughirah bin 'Abdullah bin 'Amr bin Makhzum, orang tertua di antara orang-orang Quraisy mengatakan, "Hai sekalian kaum Quraisy, serahkanlah persoalan yang kalian perselisihkan itu kepada orang yang pertama kali masuk dari pintu masjid ini, untuk memberikan keputusan bagi kalian."
Mereka pun melakukannya, dan ternyata orang yang pertama kali masuk adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka pun berkata, "Inilah al-Amin (orang yang terpercaya), kami rela. Inilah Muhammad."
Setelah beliau berhadapan dengan mereka, dan mereka menceritakan duduk persoalannya kepada beliau, maka (beliau) shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bawakan sehelai kain untukku." Setelah kain itu dibawakan kepada beliau, kemudian beliau mengambil Hajar Aswad, lalu meletakkannya pada kain itu dengan tangannya. Kemudian beliau bersabda, "Hendaklah setiap kabilah memegang sisi kain, lalu angkatlah secara bersamaan."
Mereka pun melakukannya. Ketika sampai pada tempatnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meletakkan Hajar Aswad dengan tangan beliau sendiri pada tempatnya semula dan membangunnya. Sebelum diturunkan wahyu, orang-orang Quraisy menyebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sebutan "al-Amiin".
Setelah mereka selesai merenovasi Ka'bah sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, az-Zubair bin 'Abdil Muththalib mengingatkan kepada mereka kisah ular yang membuat orang-orang Quraisy takut merenovasi Ka'bah (dalam bentuk sya'ir):
Aku takjub melihat burung elang
menyambar ular yang merayap meliuk-liuk
Dahulu ular itu mendesis dan kadang kala menyerang
Apabila kami ingin membongkar Ka'bah, ular itu menghalanginya
Ular itu benar-benar membuat kami takut membongkarnya
Di saat kami dalam ketakutan itu datanglah burung elang
Yang datang menyambarnya lalu membawanya pergi
Membuat kami leluasa melanjutkan renovasi tanpa ada penghalang
Kami pun segera bangkit bersatu membangun pondasi dan lantainya
Siang malam kami meninggikan pondasinya
Tanpa peduli baju yang melekat pada tubuh kami
Sungguh mulia raja Bani Lu-ay
Mudah-mudahan nenek moyang mereka tetap dikenang
Bersatu padu pula Bani 'Adi, Bani Murrah dan Bani Kilab
Raja telah memberi kami tempat yang mulia
Dan di sisi Allah kami mengharapkan balasan pahalanya. (515)
===
Catatan Kaki:
515. Ibnu Hisyam (I/209).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (13) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (13)
Dan pada suatu hari ketika ular itu merayap di dinding Ka'bah sebagaimana biasa, Allah mengirim seekor burung lalu menyambarnya dan membawanya pergi. Orang-orang Quraisy berkata, "Kita berharap Allah telah meridhai apa yang kita inginkan. Kita memiliki pekerja yang santun dan kita memiliki kayu. Dan Allah telah membebaskan kita dari ular tersebut."
Ketika mereka sepakat untuk membongkar dan merenovai Ka'bah, bangkitlah Abu Wahb Ibnu 'Amr bin 'A-idz bin 'Abd bin 'Imran bin Makhzum. Ia berusaha melepas sebuah batu dari Ka'bah, tetapi batu itu lepas dari tangannya dan kembali ke tempatnya semula. Maka ia pun berkata, "Wahai bangsa Quraisy, janganlah kalian sumbangkan untuk pembangunan Ka'bah ini melainkan dari hasil usaha kalian yang baik-baik. Jangan campurkan dengan upah pelacur, harta riba dan harta rampasan harta orang lain."
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang menisbatkan perkataan ini kepada al-Walid bin al-Mughirah bin 'Abdillah bin 'Amr bin Makhzum." (513)
Ia melanjutkan: "Kemudian orang-orang Quraisy membagi-bagi pembangunan Ka'bah. Pembangunan pintu dilakukan oleh Bani 'Abdi Manaf dan Zuhrah. Pembangunan antara Rukun Hajar Aswad dan Rukun Yamani dilakukan oleh Bani Makhzum, dan beberapa kabilah Quraisy turut bergabung bersama mereka. Pembangunan atap Ka'bah dilakukan oleh Bani 'Abdid Dar bin Qushay, Bani Asad bin 'Abdil 'Uzza bin Qushay dan Bani 'Adi bin Ka'ab bin Lu-ayy, yang disebut juga al-Hathim.
Kemudian orang-orang takut untuk membongkar Ka'bah sehingga mereka menjadi terpecah karenanya. Maka berkatalah al-Walid bin al-Mughirah: "Aku yang akan memulai pembongkarannya!" Ia pun mengambil kapak lalu bangkit dan berkata, "Ya Allah, kami tidaklah sesat. Ya Allah, sesungguhnya kami hanya menghendaki kebaikan." Kemudian ia merobohkan bagian rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani. Orang-orang Quraisy berjaga-jaga pada malam itu. Mereka berkata, "Mari kita tunggu apa yang terjadi! Jika ia tertimpa musibah, kita tidak akan melanjutkannya lagi. Kita akan kembalikan seperti sedia kala. Jika ia tidak tertimpa apa-apa berarti Allah telah ridha atas apa yang akan kita lakukan. Malam itu juga al-Walid melanjutkan pekerjaannya dan orang-orang pun turut serta membantunya. Ketika pembongkaran sampai pada pondasi Ka'bah, yaitu pondasi yang dibangun oleh Ibrahim 'alaihi salam, mereka menemukan batu-batu berwarna hijau seperti punuk unta yang bertumpuk."
Ibnu Ishaq berkata: "Telah menceritakan kepadaku sebagian orang yang meriwayatkan hadits bahwa ada seorang laki-laki Quraisy yang turut membongkar memasukkan linggis di antara dua batu hijau tersebut untuk membongkarnya. Ketika batu itu bergerak, seluruh kota Makkah bergetar. Mereka pun membiarkan pondasi itu apa adanya." (514)
===
Catatan Kaki:
513. Ibnu Hisyam (I/204).
514. Ibnu Hisyam (I/207).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (13)
Dan pada suatu hari ketika ular itu merayap di dinding Ka'bah sebagaimana biasa, Allah mengirim seekor burung lalu menyambarnya dan membawanya pergi. Orang-orang Quraisy berkata, "Kita berharap Allah telah meridhai apa yang kita inginkan. Kita memiliki pekerja yang santun dan kita memiliki kayu. Dan Allah telah membebaskan kita dari ular tersebut."
Ketika mereka sepakat untuk membongkar dan merenovai Ka'bah, bangkitlah Abu Wahb Ibnu 'Amr bin 'A-idz bin 'Abd bin 'Imran bin Makhzum. Ia berusaha melepas sebuah batu dari Ka'bah, tetapi batu itu lepas dari tangannya dan kembali ke tempatnya semula. Maka ia pun berkata, "Wahai bangsa Quraisy, janganlah kalian sumbangkan untuk pembangunan Ka'bah ini melainkan dari hasil usaha kalian yang baik-baik. Jangan campurkan dengan upah pelacur, harta riba dan harta rampasan harta orang lain."
Ibnu Ishaq berkata, "Orang-orang menisbatkan perkataan ini kepada al-Walid bin al-Mughirah bin 'Abdillah bin 'Amr bin Makhzum." (513)
Ia melanjutkan: "Kemudian orang-orang Quraisy membagi-bagi pembangunan Ka'bah. Pembangunan pintu dilakukan oleh Bani 'Abdi Manaf dan Zuhrah. Pembangunan antara Rukun Hajar Aswad dan Rukun Yamani dilakukan oleh Bani Makhzum, dan beberapa kabilah Quraisy turut bergabung bersama mereka. Pembangunan atap Ka'bah dilakukan oleh Bani 'Abdid Dar bin Qushay, Bani Asad bin 'Abdil 'Uzza bin Qushay dan Bani 'Adi bin Ka'ab bin Lu-ayy, yang disebut juga al-Hathim.
Kemudian orang-orang takut untuk membongkar Ka'bah sehingga mereka menjadi terpecah karenanya. Maka berkatalah al-Walid bin al-Mughirah: "Aku yang akan memulai pembongkarannya!" Ia pun mengambil kapak lalu bangkit dan berkata, "Ya Allah, kami tidaklah sesat. Ya Allah, sesungguhnya kami hanya menghendaki kebaikan." Kemudian ia merobohkan bagian rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani. Orang-orang Quraisy berjaga-jaga pada malam itu. Mereka berkata, "Mari kita tunggu apa yang terjadi! Jika ia tertimpa musibah, kita tidak akan melanjutkannya lagi. Kita akan kembalikan seperti sedia kala. Jika ia tidak tertimpa apa-apa berarti Allah telah ridha atas apa yang akan kita lakukan. Malam itu juga al-Walid melanjutkan pekerjaannya dan orang-orang pun turut serta membantunya. Ketika pembongkaran sampai pada pondasi Ka'bah, yaitu pondasi yang dibangun oleh Ibrahim 'alaihi salam, mereka menemukan batu-batu berwarna hijau seperti punuk unta yang bertumpuk."
Ibnu Ishaq berkata: "Telah menceritakan kepadaku sebagian orang yang meriwayatkan hadits bahwa ada seorang laki-laki Quraisy yang turut membongkar memasukkan linggis di antara dua batu hijau tersebut untuk membongkarnya. Ketika batu itu bergerak, seluruh kota Makkah bergetar. Mereka pun membiarkan pondasi itu apa adanya." (514)
===
Catatan Kaki:
513. Ibnu Hisyam (I/204).
514. Ibnu Hisyam (I/207).
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (12) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (12)
KISAH ORANG-ORANG QURAISY MEMBANGUN KA'BAH BEBERAPA LAMA SETELAH MENINGGALNYA IBRAHIM DAN LIMA TAHUN SEBELUM DIUTUSNYA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusia 35 tahun, beliau ikut memindahkan batu (dalam rangka renovasi Baitullah) bersama orang-orang Quraisy.
Dalam kitab as-Siirah, Muhammad bin Ishaq bin Yasar menceritakan bahwa tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk merenovasi Ka'bah. Mereka bermaksud untuk memberi atap bangunan Ka'bah, namun mereka khawatir merobohkannya, padahal saat itu bangunannya hanya berupa tumpukan batu yang sedikit lebih tinggi dari ukuran orang yang sedang berdiri.
Mereka bermaksud meninggikan Ka'bah dan memberinya atap, karena ada beberapa orang yang mencuri perbendaharaan Ka'bah yang ada di dalam sebuah sumur di dalam Ka'bah. Harta simpanan Ka'bah yang dicuri itu ditemukan pada Duwaik, maula Bani Malih bin 'Amr dari Kabilah Khuza'ah, sehingga orang-orang Quraisy memotong tangannya. Orang-orang mengira bahwa (untuk menghilangkan jejak), orang-orang yang mencuri harta simpanan Ka'bah itu meletakkannya di sisi Duwaik.
Saat itu sebuah kapal terdampar di Jeddah milik seorang pedagang romawi. Orang-orang Quraisy mengambil kayu-kayunya untuk dijadikan atap Ka'bah. Dan ketika itu, di Makkah ada seorang tukang kayu dari suku Qibthi yang mempersiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan untuk memperbaiki Ka'bah.
Pernah sekali waktu ada seekor ular keluar dari sebuah sumur dekat Ka'bah. Ke sumur itulah biasanya dilemparkan barang-barang yang setiap hari dihadiahkan untuk Ka'bah. Ular itu merayap di dinding Ka'bah. Mereka takut mendekatinya, karena setiap kali ada orang yang mencoba mendekat, ular itu mendesis sambil membuka mulutnya. Oleh karena itu mereka pun takut mendekatinya. (512)
===
Catatan Kaki:
512. Lalu bagaimana mungkin mereka mencuri perbendaharaan Ka'bah sementara ular tersebut dalam keadaan demikian?
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (12)
KISAH ORANG-ORANG QURAISY MEMBANGUN KA'BAH BEBERAPA LAMA SETELAH MENINGGALNYA IBRAHIM DAN LIMA TAHUN SEBELUM DIUTUSNYA RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusia 35 tahun, beliau ikut memindahkan batu (dalam rangka renovasi Baitullah) bersama orang-orang Quraisy.
Dalam kitab as-Siirah, Muhammad bin Ishaq bin Yasar menceritakan bahwa tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy berkumpul untuk merenovasi Ka'bah. Mereka bermaksud untuk memberi atap bangunan Ka'bah, namun mereka khawatir merobohkannya, padahal saat itu bangunannya hanya berupa tumpukan batu yang sedikit lebih tinggi dari ukuran orang yang sedang berdiri.
Mereka bermaksud meninggikan Ka'bah dan memberinya atap, karena ada beberapa orang yang mencuri perbendaharaan Ka'bah yang ada di dalam sebuah sumur di dalam Ka'bah. Harta simpanan Ka'bah yang dicuri itu ditemukan pada Duwaik, maula Bani Malih bin 'Amr dari Kabilah Khuza'ah, sehingga orang-orang Quraisy memotong tangannya. Orang-orang mengira bahwa (untuk menghilangkan jejak), orang-orang yang mencuri harta simpanan Ka'bah itu meletakkannya di sisi Duwaik.
Saat itu sebuah kapal terdampar di Jeddah milik seorang pedagang romawi. Orang-orang Quraisy mengambil kayu-kayunya untuk dijadikan atap Ka'bah. Dan ketika itu, di Makkah ada seorang tukang kayu dari suku Qibthi yang mempersiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan untuk memperbaiki Ka'bah.
Pernah sekali waktu ada seekor ular keluar dari sebuah sumur dekat Ka'bah. Ke sumur itulah biasanya dilemparkan barang-barang yang setiap hari dihadiahkan untuk Ka'bah. Ular itu merayap di dinding Ka'bah. Mereka takut mendekatinya, karena setiap kali ada orang yang mencoba mendekat, ular itu mendesis sambil membuka mulutnya. Oleh karena itu mereka pun takut mendekatinya. (512)
===
Catatan Kaki:
512. Lalu bagaimana mungkin mereka mencuri perbendaharaan Ka'bah sementara ular tersebut dalam keadaan demikian?
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (11) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (11)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika itu mereka belum mempunyai makanan berupa biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, niscaya Ibrahim akanmendo'akan agar mereka diberikan berkah pada biji-bijian itu."
Ibnu 'Abbas berkata, "Bagi penduduk di luar Makkah, tidak ada seorang pun yang cocok hanya dengan memakan daging dan minum air saja."
Kemudian Nabi Ibrahim berpesan: "Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah agar ia memperkokoh palang pintu rumahnya." Ketika datang, Isma'il bertanya: "Apakah ada seseorang yang mengunjungimu?" Isterinya menjawab, "Ya, ada seorang tua yang keadaannya sangat bagus -ia menyanjung Ibrahim- dan ia menanyakan kepadaku tentang dirimu, lalu aku memberitahukannya. Kemudian ia pun menanyakan perihal kehidupan kita. Maka aku jawab bahwa kita dalam keadaan baik." "Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Isma'il. Isterinya menjawab,"Ya, ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu untuk memperkokoh palang pintu rumahmu."
Isma'il berkata, "Ia adalah ayahku. Engkaulah palang pintu yang ia maksud. Ia menyuruhku untuk tetap menahanmu (tidak menceraikanmu)."
Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka selama beberapa waktu. Kemudian ia datang kembali ketika Isma'il sedang menajamkan anak panah di bawah pohon besar dekat mata air Zamzam. Ketika melihatnya, Isma'il bangkit, dan keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anak terhadap ayahnya, atau ayah terhadap anaknya ketika bertemu.
Ibrahim berkata, "Wahai Isma'il, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku." "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabb-mu itu," sahut Isma'il. Ibrahim pun bertanya, "Apakah engkau akan membantuku?" "Aku pasti akan membantumu," jawab Isma'il. "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah (ibadah) di sini," ucap Ibrahim seraya menunjuk ke anak bukit kecil yang lebih tinggi dari daerah sekelilingnya.
Selanjutnya Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa pada saat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah. Isma'il mengangkat batu, sedangkan Ibrahim memasangnya. Ketika bangunan itu sudah tinggi, dia mendatangkan sebuah batu dan meletakkannya untuk dijadikan pijakan. Ibrahim pun berdiri di atasnya sambil memasang batu yang disodorkan Isma'il kepadanya. Lalu keduanya berdo'a, Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim "Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa keduanya membangun Ka'bah hingga keduanya mengelilinginya seraya keduanya berdo'a: Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim "Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (511)
===
Catatan Kaki:
511. Fat-hul baari (VI/456). [Al-Bukhari (no. 3364)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (11)
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketika itu mereka belum mempunyai makanan berupa biji-bijian. Seandainya mereka memilikinya, niscaya Ibrahim akanmendo'akan agar mereka diberikan berkah pada biji-bijian itu."
Ibnu 'Abbas berkata, "Bagi penduduk di luar Makkah, tidak ada seorang pun yang cocok hanya dengan memakan daging dan minum air saja."
Kemudian Nabi Ibrahim berpesan: "Jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah agar ia memperkokoh palang pintu rumahnya." Ketika datang, Isma'il bertanya: "Apakah ada seseorang yang mengunjungimu?" Isterinya menjawab, "Ya, ada seorang tua yang keadaannya sangat bagus -ia menyanjung Ibrahim- dan ia menanyakan kepadaku tentang dirimu, lalu aku memberitahukannya. Kemudian ia pun menanyakan perihal kehidupan kita. Maka aku jawab bahwa kita dalam keadaan baik." "Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Isma'il. Isterinya menjawab,"Ya, ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhmu untuk memperkokoh palang pintu rumahmu."
Isma'il berkata, "Ia adalah ayahku. Engkaulah palang pintu yang ia maksud. Ia menyuruhku untuk tetap menahanmu (tidak menceraikanmu)."
Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka selama beberapa waktu. Kemudian ia datang kembali ketika Isma'il sedang menajamkan anak panah di bawah pohon besar dekat mata air Zamzam. Ketika melihatnya, Isma'il bangkit, dan keduanya melakukan apa yang biasa dilakukan oleh anak terhadap ayahnya, atau ayah terhadap anaknya ketika bertemu.
Ibrahim berkata, "Wahai Isma'il, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku." "Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabb-mu itu," sahut Isma'il. Ibrahim pun bertanya, "Apakah engkau akan membantuku?" "Aku pasti akan membantumu," jawab Isma'il. "Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah (ibadah) di sini," ucap Ibrahim seraya menunjuk ke anak bukit kecil yang lebih tinggi dari daerah sekelilingnya.
Selanjutnya Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa pada saat itulah keduanya meninggikan pondasi Baitullah. Isma'il mengangkat batu, sedangkan Ibrahim memasangnya. Ketika bangunan itu sudah tinggi, dia mendatangkan sebuah batu dan meletakkannya untuk dijadikan pijakan. Ibrahim pun berdiri di atasnya sambil memasang batu yang disodorkan Isma'il kepadanya. Lalu keduanya berdo'a, Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim "Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa keduanya membangun Ka'bah hingga keduanya mengelilinginya seraya keduanya berdo'a: Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii'ul 'aliim "Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (511)
===
Catatan Kaki:
511. Fat-hul baari (VI/456). [Al-Bukhari (no. 3364)].
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (10) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (10)
Setelah Isma'il menikah, Nabi Ibrahim pun datang untuk menemui keluarga yang dahulu ia tinggalkan. Karena ia tidak menemukan Isma'il di sana, maka Ibrahim menanyakan Isma'il kepada isterinya (menantu Ibrahim). Maka isteri Isma'il itu menjawab, "Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami." Kemudian Ibrahim menanyakan kehidupan dan keadaan mereka, maka wanita itu pun menjawab, "Kami dalam keadaan yang buruk. Hidup kami dalam kesusahan dan kesulitan." Ia mengeluh kepada Ibrahim. Maka Ibrahim pun berpesan: "jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya."
Ketika Isma'il datang, seakan-akan ia merasakan sesuatu, kemudian bertanya, "Apakah seseorang telah datang mengunjungimu?" "Ya, kami didatangi seorang laki-laki yang sudah tua, begini dan begitu (ia menerangkan sifat-sifat orang itu), lalu ia menanyakan keberadaan dirimu, dan aku memberitahukannya. Ia pun menanyakan kondisi kehidupan kita di sini, maka aku pun menjawab bahwa hidup kita dalam kesulitan dan kesusahan," jawab isterinya. "Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Isma'il. Isterinya pun menjawab, "Ia titip salam untukmu, serta menyuruhmu untuk mengganti palang pintu rumahmu."
Isma'il pun berkata: "Ia adalah ayahku. (Pesannya itu mengandung arti bahwa) ia menyuruhku untuk menceraikanmu, karena itu kembalilah engkau kepada keluargamu." Isma'il pun menceraikannya, lalu menikahi wanita lain dari Bani Jurhum.
Setelah Nabi Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu, maka ia pun datang, namun pada saat itu pun ia tidak bertemu dengan Isma'il. Kemudian ia menemui isteri Isma'il (yang baru) dan menanyakan perihal keadaan Isma'il. Maka isterinya pun menjawab, "Ia sedang keluar untuk mencari nafkah untuk kami." "Bagaimana keadaan dan kehidupan kalian?" tanya Ibrahim. "Kami dalam keadaanbaik dan berkecukupan," jawab isteri Isma'il seraya memuji (bersyukur kepada) Allah 'Azza wa Jalla.
Lalu Ibrahim bertanya, "Apa yang biasa kalian makan?" Isteri Isma'il menjawab, "Kami makan daging." "Apa yang biasa kalian minum?" lanjut Ibrahim. Isteri Isma'il menjawab, "Air." Kemudian Nabi Ibrahim berdo'a: "Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (10)
Setelah Isma'il menikah, Nabi Ibrahim pun datang untuk menemui keluarga yang dahulu ia tinggalkan. Karena ia tidak menemukan Isma'il di sana, maka Ibrahim menanyakan Isma'il kepada isterinya (menantu Ibrahim). Maka isteri Isma'il itu menjawab, "Ia sedang pergi mencari nafkah untuk kami." Kemudian Ibrahim menanyakan kehidupan dan keadaan mereka, maka wanita itu pun menjawab, "Kami dalam keadaan yang buruk. Hidup kami dalam kesusahan dan kesulitan." Ia mengeluh kepada Ibrahim. Maka Ibrahim pun berpesan: "jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya."
Ketika Isma'il datang, seakan-akan ia merasakan sesuatu, kemudian bertanya, "Apakah seseorang telah datang mengunjungimu?" "Ya, kami didatangi seorang laki-laki yang sudah tua, begini dan begitu (ia menerangkan sifat-sifat orang itu), lalu ia menanyakan keberadaan dirimu, dan aku memberitahukannya. Ia pun menanyakan kondisi kehidupan kita di sini, maka aku pun menjawab bahwa hidup kita dalam kesulitan dan kesusahan," jawab isterinya. "Apakah ia berpesan sesuatu kepadamu?" tanya Isma'il. Isterinya pun menjawab, "Ia titip salam untukmu, serta menyuruhmu untuk mengganti palang pintu rumahmu."
Isma'il pun berkata: "Ia adalah ayahku. (Pesannya itu mengandung arti bahwa) ia menyuruhku untuk menceraikanmu, karena itu kembalilah engkau kepada keluargamu." Isma'il pun menceraikannya, lalu menikahi wanita lain dari Bani Jurhum.
Setelah Nabi Ibrahim tidak mengunjungi mereka selama beberapa waktu, maka ia pun datang, namun pada saat itu pun ia tidak bertemu dengan Isma'il. Kemudian ia menemui isteri Isma'il (yang baru) dan menanyakan perihal keadaan Isma'il. Maka isterinya pun menjawab, "Ia sedang keluar untuk mencari nafkah untuk kami." "Bagaimana keadaan dan kehidupan kalian?" tanya Ibrahim. "Kami dalam keadaanbaik dan berkecukupan," jawab isteri Isma'il seraya memuji (bersyukur kepada) Allah 'Azza wa Jalla.
Lalu Ibrahim bertanya, "Apa yang biasa kalian makan?" Isteri Isma'il menjawab, "Kami makan daging." "Apa yang biasa kalian minum?" lanjut Ibrahim. Isteri Isma'il menjawab, "Air." Kemudian Nabi Ibrahim berdo'a: "Ya Allah, berkahilah mereka pada daging dan air."
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (9) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (9)
Kemudian Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: "Lalu ia meminum air itu dan menyusui anaknya. Kemudian Malaikat itu berkata kepadanya: 'Janganlah engkau khawatir akan ditelantarkan, karena di sini ada sebuah rumah Allah (Baitullah) yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan ahli baitullah.
Baitullah itu posisinya lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit yang terkena banjir sehingga bagian kiri dan kanannya terkikis.
Keadaan ibu Isma'il terus demikian, hingga sekelompok Bani Jurhum atau sebuah keluarga dari kalangan Bani Jurhum datang melalui jalan Kida' melewati mereka.
Pada mulanya mereka (sekelompok Bani Jurhum itu) singgah di daerah sebelah bawah Makkah, lalu mereka melihat burung berputar di angkasa. Mereka pun berkata, "Burung itu pasti sedang mengitari air, padahal selama ini kita mengetahui bahwa di lembah ini tidak ada air." Mereka pun mengutus satu atau dua orang utusan. Ternyata utusan itu menemukan air. Lalu mereka kembali dan memberitahukan tentang air tersebut. Maka mereka pun mendatanginya."
Ibnu 'Abbas selanjutnya menceritakan, "Ibu Isma'il ketika itu sedang berada di sumber air itu. Mereka pun bertanya kepadanya: 'Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal di sini?' 'Ya, tetapi kalian tidak mempunyai hak atas air ini,' jawab ibu Isma'il. Mereka pun menyahut: 'Baiklah.'"
Kemudian Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda, "Maka ibu Isma'il menerima mereka, karena ia menginginkan teman." Selanjutnya mereka tinggal di sana dan mengirimkan utusan kepada keluarga mereka untuk datang dan menetap di sana bersama mereka, sehingga berdirilah beberapa rumah.
Ketika Isma'il tumbuh menginjak usia remaja dan belajar bahasa Arab dari mereka, ia menjadi seorang yang paling dihargai dan dikagumi. Setelah sampai usia dewasa mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah itu, ibu Isma'il pun wafat.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (9)
Kemudian Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma mengatakan: "Lalu ia meminum air itu dan menyusui anaknya. Kemudian Malaikat itu berkata kepadanya: 'Janganlah engkau khawatir akan ditelantarkan, karena di sini ada sebuah rumah Allah (Baitullah) yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan ahli baitullah.
Baitullah itu posisinya lebih tinggi dari permukaan bumi, seperti sebuah anak bukit yang terkena banjir sehingga bagian kiri dan kanannya terkikis.
Keadaan ibu Isma'il terus demikian, hingga sekelompok Bani Jurhum atau sebuah keluarga dari kalangan Bani Jurhum datang melalui jalan Kida' melewati mereka.
Pada mulanya mereka (sekelompok Bani Jurhum itu) singgah di daerah sebelah bawah Makkah, lalu mereka melihat burung berputar di angkasa. Mereka pun berkata, "Burung itu pasti sedang mengitari air, padahal selama ini kita mengetahui bahwa di lembah ini tidak ada air." Mereka pun mengutus satu atau dua orang utusan. Ternyata utusan itu menemukan air. Lalu mereka kembali dan memberitahukan tentang air tersebut. Maka mereka pun mendatanginya."
Ibnu 'Abbas selanjutnya menceritakan, "Ibu Isma'il ketika itu sedang berada di sumber air itu. Mereka pun bertanya kepadanya: 'Apakah engkau mengizinkan kami untuk tinggal di sini?' 'Ya, tetapi kalian tidak mempunyai hak atas air ini,' jawab ibu Isma'il. Mereka pun menyahut: 'Baiklah.'"
Kemudian Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda, "Maka ibu Isma'il menerima mereka, karena ia menginginkan teman." Selanjutnya mereka tinggal di sana dan mengirimkan utusan kepada keluarga mereka untuk datang dan menetap di sana bersama mereka, sehingga berdirilah beberapa rumah.
Ketika Isma'il tumbuh menginjak usia remaja dan belajar bahasa Arab dari mereka, ia menjadi seorang yang paling dihargai dan dikagumi. Setelah sampai usia dewasa mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan mereka. Setelah itu, ibu Isma'il pun wafat.
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (8) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (8)
Lalu Hajar menyusui Isma'il dan meminum dari air (dalam tempat dari kulit) tersebut, dan ketika air yang ada di dalam kantong itu habis, ia pun merasa kehausan, demikian pula puteranya. Dilihatnya puteranya merengek-rengek kehausan. Kemudian ia pergi karena kasihan melihatnya. Kemudian ia menaiki Shafa, bukit yang paling dekat dengannya. Ia pun berdiri di atasnya, dan kemudian menghadap ke lembah sambil melihat-lihat, adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang pun. Setelah itu ia turun dari Shafa, hingga ketika sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berlari kecil dengan susah payah hingga berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi bukit Marwah, dan kemudian berdiri di atasnya sambil melihat, apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya? Tetapi dia tidak melihat seorang pun, hingga ia melakukan hal itu sampai tujuh kali."
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Falidzalika sa'an naasu bainahumaa
"Karena itulah orang-orang melakukan sa'i (berlari-lari kecil) di antara keduanya (Shafa dan Marwah)."
Ketika menghampiri Marwah, ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata kepada dirinya sendiri: "Diam." Kemudian ia berusaha mendengar suara itu lagi hingga ia pun dapat mendengarnya. Lalu ia berkata, "Engkau telah memperdengarkan. Apakah Engkau dapat menolong?" Tiba-tiba ia mendapatkan Malaikat di tempat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya (dalam riwayat lain dengan sayapnya) sehingga muncullah air.
Kemudian ia membendung air dengan tangannya seperti ini. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke tempatnya. Dan setelah menciduknya, air itu terus mengalir dengan derasnya."
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Yarhamullahu umma ismaa'iila law tarakat zamzama -aw qaala: law lam taghrif minal maa-i- lakaanat zamzamu 'ainan ma'iinan.
"Semoga Allah mengasihi ibu Isma'il. Seandainya saja ia membiarkan Zamzam -atau beliau bersabda, 'Seandainya ia tidak menciduk airnya,- niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang terus mengalir (menjadi sungai yang mengalir).'"
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (8)
Lalu Hajar menyusui Isma'il dan meminum dari air (dalam tempat dari kulit) tersebut, dan ketika air yang ada di dalam kantong itu habis, ia pun merasa kehausan, demikian pula puteranya. Dilihatnya puteranya merengek-rengek kehausan. Kemudian ia pergi karena kasihan melihatnya. Kemudian ia menaiki Shafa, bukit yang paling dekat dengannya. Ia pun berdiri di atasnya, dan kemudian menghadap ke lembah sambil melihat-lihat, adakah seseorang, tetapi dia tidak melihat seorang pun. Setelah itu ia turun dari Shafa, hingga ketika sampai di lembah, ia mengangkat ujung bajunya dan berlari kecil dengan susah payah hingga berhasil melewati lembah. Lalu ia mendatangi bukit Marwah, dan kemudian berdiri di atasnya sambil melihat, apakah ada seseorang yang dapat dilihatnya? Tetapi dia tidak melihat seorang pun, hingga ia melakukan hal itu sampai tujuh kali."
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Falidzalika sa'an naasu bainahumaa
"Karena itulah orang-orang melakukan sa'i (berlari-lari kecil) di antara keduanya (Shafa dan Marwah)."
Ketika menghampiri Marwah, ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata kepada dirinya sendiri: "Diam." Kemudian ia berusaha mendengar suara itu lagi hingga ia pun dapat mendengarnya. Lalu ia berkata, "Engkau telah memperdengarkan. Apakah Engkau dapat menolong?" Tiba-tiba ia mendapatkan Malaikat di tempat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya (dalam riwayat lain dengan sayapnya) sehingga muncullah air.
Kemudian ia membendung air dengan tangannya seperti ini. Ia menciduk dan memasukkan air itu ke tempatnya. Dan setelah menciduknya, air itu terus mengalir dengan derasnya."
Ibnu 'Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Yarhamullahu umma ismaa'iila law tarakat zamzama -aw qaala: law lam taghrif minal maa-i- lakaanat zamzamu 'ainan ma'iinan.
"Semoga Allah mengasihi ibu Isma'il. Seandainya saja ia membiarkan Zamzam -atau beliau bersabda, 'Seandainya ia tidak menciduk airnya,- niscaya Zamzam akan menjadi mata air yang terus mengalir (menjadi sungai yang mengalir).'"
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Surat Al-Baqarah Ayat 125-128 (7) | Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (7)
Kisah Pembangunan Ka'bah, -pent.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan bahwa wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah ibu Isma'il, hal itu ia lakukan agar dapat menutupi (kehamilannya) dari Sarah (isteri Nabi Ibrahim yang pertama, ibunya Ishaq). Kemudian Ibrahim membawa isterinya (Hajar) dan puteranya, Isma'il, yang masih dia susui. Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya did ekat Baitullah di sisi sebuah pohon besar di atas sumur Zamzam di bagian atas Masjidil Haram. Dan ketika itu belum ada seorang pun di Makkah, dan juga tidak ada air. Beliau meninggalkan keduanya setelah meletakkan sebuah kantung yang berisi kurma dan tempat dari kulit yang berisi air. Kemudian Ibrahim melangkah pergi, lalu Hajar pun menyusulnya seraya bertanya, "Wahai Ibrahim, ke maan engkau akan pergi? (Apakah) engkau (akan) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu pun?" Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali: "Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?" "Ya," jawab Ibrahim. Hajar pun berucap: "Kalau memang demikian, Dia tidak akan membiarkan kami."
Hajar pun kembali, dan Ibrahim melanjutkan perjalanan, hingga ketika sampai di sebuah bukit di mana mereka tidak melihatnya, beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah. Beliau berdo'a dengan beberapa do'a seraya mengangkat kedua tangannya, dan mengucapkan:
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Shahih Tafsir Ibnu Katsir
Surat al-Baqarah
Al-Baqarah, Ayat 125-128 (7)
Kisah Pembangunan Ka'bah, -pent.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia mengatakan bahwa wanita pertama yang membuat ikat pinggang adalah ibu Isma'il, hal itu ia lakukan agar dapat menutupi (kehamilannya) dari Sarah (isteri Nabi Ibrahim yang pertama, ibunya Ishaq). Kemudian Ibrahim membawa isterinya (Hajar) dan puteranya, Isma'il, yang masih dia susui. Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya did ekat Baitullah di sisi sebuah pohon besar di atas sumur Zamzam di bagian atas Masjidil Haram. Dan ketika itu belum ada seorang pun di Makkah, dan juga tidak ada air. Beliau meninggalkan keduanya setelah meletakkan sebuah kantung yang berisi kurma dan tempat dari kulit yang berisi air. Kemudian Ibrahim melangkah pergi, lalu Hajar pun menyusulnya seraya bertanya, "Wahai Ibrahim, ke maan engkau akan pergi? (Apakah) engkau (akan) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu pun?" Hajar terus-menerus menanyakan hal itu, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Maka Hajar bertanya kembali: "Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?" "Ya," jawab Ibrahim. Hajar pun berucap: "Kalau memang demikian, Dia tidak akan membiarkan kami."
Hajar pun kembali, dan Ibrahim melanjutkan perjalanan, hingga ketika sampai di sebuah bukit di mana mereka tidak melihatnya, beliau menghadapkan wajahnya ke Baitullah. Beliau berdo'a dengan beberapa do'a seraya mengangkat kedua tangannya, dan mengucapkan:
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rizki kepada mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim: 37)
===
Maraji'/ sumber:
Kitab: al-Mishbaahul Muniiru fii Tahdziibi Tafsiiri Ibnu Katsiir, Penyusun: Tim Ahli Tafsir di bawah pengawasan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Penerbit: Daarus Salaam lin Nasyr wat Tauzi', Riyadh – Kerajaan Saudi Arabia, Cetakan terbaru yang telah direvisi dan disempurnakan, April 2000 M/ Muharram 1421 H, Judul terjemahan: Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerjemah: Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit: Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta – Indonesia, Jumadal Awwal 1436 H/ Maret 2015 M.
Al-Faatihah Ayat 1 | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Tafsir basmalah dan hukum-hukumnya.
Al-Faatihah, ayat 1.
Bismillaahi rahmaanir rahiim.
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Para sahabat memulai bacaan Kitabullah dengan basmalah, dan para ulama sepakat sepakat bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari surat An-Naml. Kemudian mereka berselisih pendapat apakah basmalah merupakan ayat tersendiri pada permulaan tiap-tiap surat, ataukah hanya ditulis pada tiap-tiap permulaan surat saja. Atau apakah basmalah merupakan sebagian dari satu ayat pada tiap-tiap surat, atau memang demikian dalam surat Al-Faatihah, tidak pada yang lainnya; ataukah basmalah sengaja ditulis untuk memisahkan antara satu surat dengan yang lainnya, sedangkan ia sendiri bukan merupakan suatu ayat. Mengenai masalah ini banyak pendapat yang dikatakan oleh ulama, baik Salaf maupun Khalaf. Pembahasannya secara panjang lebar bukan diterangkan dalam kitab ini.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu belum mengetahui pemisah di antara surat-surat sebelum diturunkan kepadanya; Bismillaahir rahmaanir rahiim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).
Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Hakim, yaitu Abu Abdullah An-Naisaburi, di dalam Mustadrak-nya. Dia meriwayatkannya secara mursal dari Sa'id ibnu Jubair.
Di dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah disebutkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca basmalah pada permulaan surat Al-Faatihah dalam salatnya, dan beliau menganggapnya sebagai salah satu ayatnya. Tetapi hadis yang melalui riwayat Umar ibnu Harun Balkhi, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ummu Salamah ini di dalam sanadnya terkandung kelemahan. Imam Daruquthni ikut meriwayatkannya melalui Abu Hurairah secara marfu'. Hal semisal diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas serta selain keduanya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Tafsir basmalah dan hukum-hukumnya.
Al-Faatihah, ayat 1.
Bismillaahi rahmaanir rahiim.
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Para sahabat memulai bacaan Kitabullah dengan basmalah, dan para ulama sepakat sepakat bahwa basmalah merupakan salah satu ayat dari surat An-Naml. Kemudian mereka berselisih pendapat apakah basmalah merupakan ayat tersendiri pada permulaan tiap-tiap surat, ataukah hanya ditulis pada tiap-tiap permulaan surat saja. Atau apakah basmalah merupakan sebagian dari satu ayat pada tiap-tiap surat, atau memang demikian dalam surat Al-Faatihah, tidak pada yang lainnya; ataukah basmalah sengaja ditulis untuk memisahkan antara satu surat dengan yang lainnya, sedangkan ia sendiri bukan merupakan suatu ayat. Mengenai masalah ini banyak pendapat yang dikatakan oleh ulama, baik Salaf maupun Khalaf. Pembahasannya secara panjang lebar bukan diterangkan dalam kitab ini.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud dengan sanad yang sahih dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dahulu belum mengetahui pemisah di antara surat-surat sebelum diturunkan kepadanya; Bismillaahir rahmaanir rahiim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).
Hadis ini diketengahkan pula oleh Imam Hakim, yaitu Abu Abdullah An-Naisaburi, di dalam Mustadrak-nya. Dia meriwayatkannya secara mursal dari Sa'id ibnu Jubair.
Di dalam kitab Shahih Ibnu Khuzaimah disebutkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca basmalah pada permulaan surat Al-Faatihah dalam salatnya, dan beliau menganggapnya sebagai salah satu ayatnya. Tetapi hadis yang melalui riwayat Umar ibnu Harun Balkhi, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Ummu Salamah ini di dalam sanadnya terkandung kelemahan. Imam Daruquthni ikut meriwayatkannya melalui Abu Hurairah secara marfu'. Hal semisal diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Abbas serta selain keduanya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (37) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (37).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (telah memeliharanya) sebenar-benarnya dari setiap setan yang sangat durhaka. Setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka, dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi, barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (Ash-Shaffat: 6-10)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al-Hijr: 16-18)
Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya. Pendapat lain mengatakan bahwa rajiim bermakna raajim, karena setan merajam manusia dengan godaan dan rayuannya. Akan tetapi, makna yang pertama lebih terkenal dan lebih sahih.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (37).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (telah memeliharanya) sebenar-benarnya dari setiap setan yang sangat durhaka. Setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka, dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi, barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. (Ash-Shaffat: 6-10)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (Al-Hijr: 16-18)
Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya. Pendapat lain mengatakan bahwa rajiim bermakna raajim, karena setan merajam manusia dengan godaan dan rayuannya. Akan tetapi, makna yang pertama lebih terkenal dan lebih sahih.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (36) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (36).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Abu Dzar pula bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Yang memutuskan salat ialah wanita, keledai dan anjing hitam. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bedanya antara anjing hitam, anjing merah, dan anjing kuning?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab bahwa anjing hitam itu adalah setan.
Ibnu Wahb mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa Khalifah Umar pernah mengendarai seekor kuda birdzaun. Ternyata kuda itu melangkah dengan langkah-langkah yang sombong, maka Umar memukulinya, tetapi hal itu justru makin menambah kesombongannya. Umar turun darinya dan berkata, "Kalian tidak memberikan kendaraan kepadaku kecuali kendaraan setan, dan tidak sekali-kali aku turun darinya melainkan setelah aku ingkar terhadap diriku sendiri." Sanad atsar ini sahih.
Ar-Rajiim adalah wazan fa'iil, tetapi bermakna maf'ul, artinya "setan itu terkutuk dan jauh dari semua kebaikan.", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kami menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan. (Al-Mulk: 5)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (36).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Di dalam kitab Shahih Muslim disebutkan dari Abu Dzar pula bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Yang memutuskan salat ialah wanita, keledai dan anjing hitam. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah bedanya antara anjing hitam, anjing merah, dan anjing kuning?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab bahwa anjing hitam itu adalah setan.
Ibnu Wahb mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa Khalifah Umar pernah mengendarai seekor kuda birdzaun. Ternyata kuda itu melangkah dengan langkah-langkah yang sombong, maka Umar memukulinya, tetapi hal itu justru makin menambah kesombongannya. Umar turun darinya dan berkata, "Kalian tidak memberikan kendaraan kepadaku kecuali kendaraan setan, dan tidak sekali-kali aku turun darinya melainkan setelah aku ingkar terhadap diriku sendiri." Sanad atsar ini sahih.
Ar-Rajiim adalah wazan fa'iil, tetapi bermakna maf'ul, artinya "setan itu terkutuk dan jauh dari semua kebaikan.", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
Sesungguhnya Kami menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan. (Al-Mulk: 5)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (35) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (35).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Sibawaih mengatakan bahwa orang Arab mengatakan tasyaithaana fulanun, artinya "si Fulan melakukan perbuatan seperti perbuatan setan". Seandainya kata syaithan ini berasal dari kata syatha, niscaya mereka (orang-orang Arab) akan mengatakannya tasyayyatha. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang benar adalah lafaz syathan berakar dari kata syathana yang berarti "jauh". Karena itu, mereka menamakan setiap orang -baik dari kalangan manusia, jin, ataupun hewan- yang bersikap membangkang tidak mau taat dengan sebutan "setan".
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk meniupu (manusia). (Al-An'aam: 112)
Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang menceritakan:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari godaan setan manusia dan setan jin (yang tidak kelihatan)!" Aku bertanya, "Apakah setan itu ada yang dari kalangan manusia?" Beliau menjawab, "Ya."
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (35).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Imam Sibawaih mengatakan bahwa orang Arab mengatakan tasyaithaana fulanun, artinya "si Fulan melakukan perbuatan seperti perbuatan setan". Seandainya kata syaithan ini berasal dari kata syatha, niscaya mereka (orang-orang Arab) akan mengatakannya tasyayyatha. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang benar adalah lafaz syathan berakar dari kata syathana yang berarti "jauh". Karena itu, mereka menamakan setiap orang -baik dari kalangan manusia, jin, ataupun hewan- yang bersikap membangkang tidak mau taat dengan sebutan "setan".
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk meniupu (manusia). (Al-An'aam: 112)
Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang menceritakan:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Hai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari godaan setan manusia dan setan jin (yang tidak kelihatan)!" Aku bertanya, "Apakah setan itu ada yang dari kalangan manusia?" Beliau menjawab, "Ya."
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (34) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (34).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai suatu keberuntungan besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 34-36)
Kata syaithaan menurut istilah bahasa berakar dari kata syathana, artinya "apabila jauh". Watak setan memang jauh berbeda dengan watak manusia; dengan kefasikannya, setan jauh dari semua kebaikan.
Menurut pendapat lain ia berakar dari kata syatha, karena ia diciptakan dari api. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama lebih sahih karena diperkuat oleh perkataan orang-orang Arab. Umayyah ibnu Abush Shilt dalam syairnya menceritakan anugerah yang dilimpahkan kepada Nabi Sulaiman 'alaihis salam:
Barang siapa (di antara setan) berbuat durhaka terhadapnya, niscaya dia (Nabi Sulaiman) menangkapnya, kemudian memenjarakannya dalam keadaan dibelenggu.
Ternyata Umayyah ibnu Abush Shilt mengatakan syaathinin, bukan syaa'ithin; dan berkatalah An-Nabigah Adz-Dzibyani, yaitu Ziad ibnu Amr ibnu Mu'awiyah ibnu Jabir ibnu Dhabab ibnu Yarbu' ibnu Murrah ibnu Sa'd ibnu Dzibyan:
Kini Su'ad berada jauh darimu, nun jauh di sana ia tinggal, dan kini hatiku selalu teringat kepadanya.
Nabigah mengatakan bahwa Su'ad kini berada di tempat yang sangat jauh.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (34).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai suatu keberuntungan besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 34-36)
Kata syaithaan menurut istilah bahasa berakar dari kata syathana, artinya "apabila jauh". Watak setan memang jauh berbeda dengan watak manusia; dengan kefasikannya, setan jauh dari semua kebaikan.
Menurut pendapat lain ia berakar dari kata syatha, karena ia diciptakan dari api. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna pertama lebih sahih karena diperkuat oleh perkataan orang-orang Arab. Umayyah ibnu Abush Shilt dalam syairnya menceritakan anugerah yang dilimpahkan kepada Nabi Sulaiman 'alaihis salam:
Barang siapa (di antara setan) berbuat durhaka terhadapnya, niscaya dia (Nabi Sulaiman) menangkapnya, kemudian memenjarakannya dalam keadaan dibelenggu.
Ternyata Umayyah ibnu Abush Shilt mengatakan syaathinin, bukan syaa'ithin; dan berkatalah An-Nabigah Adz-Dzibyani, yaitu Ziad ibnu Amr ibnu Mu'awiyah ibnu Jabir ibnu Dhabab ibnu Yarbu' ibnu Murrah ibnu Sa'd ibnu Dzibyan:
Kini Su'ad berada jauh darimu, nun jauh di sana ia tinggal, dan kini hatiku selalu teringat kepadanya.
Nabigah mengatakan bahwa Su'ad kini berada di tempat yang sangat jauh.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (33) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (33).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Demikian pengertian yang terkandung di dalam ketiga ayat Al-Qur'an yang sepengetahuan tidak ada ayat keempat yang semakna dengannya, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-A'raaf:
Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A'raaf: 199)
Hal ini berkaitan dengan sikap terhadap musuh yang terdiri atas kalangan manusia. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A'raaf: 200)
Tidaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (Al-Mu-minuun: 96-98)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (33).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Demikian pengertian yang terkandung di dalam ketiga ayat Al-Qur'an yang sepengetahuan tidak ada ayat keempat yang semakna dengannya, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat Al-A'raaf:
Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A'raaf: 199)
Hal ini berkaitan dengan sikap terhadap musuh yang terdiri atas kalangan manusia. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A'raaf: 200)
Tidaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku." (Al-Mu-minuun: 96-98)
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (32) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (32).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Isti'adzah artinya memohon perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah lindungan-Nya dari kejahatan semua makhluk yang jahat. Pengertian meminta perlindungan ini adakalanya dimaksudkan untuk menolak kejahatan dan adakalanya untuk mencari kebaikan, seperti pengertian yang terkandung di dalam perkataan Al-Mutanabbi (salah seorang penyair), yaitu:
Wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk memperoleh apa yang aku cita-citakan, dan wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk menghindar dari semua yang aku takutkan. Semua orang tidak akan dapat mengembalikan keagungan (kebesaran) yang telah engkau hancurkan, dan mereka tidak dapat menggoyahkan kebesaran yang telah engkau bangun.
Makna a'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim adalah "aku berlindung di bawah naungan Allah dari godaan setan yang terkutuk agar setan tidak dapat menimpakan mudarat pada agamaku dan duniaku, atau agar setan tidak dapat menghalang-halangi diriku untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau agar setan tidak dapat mendorongku untuk mengerjakan hal-hal yang dilarang aku mengerjakannya."
Sesungguhnya tiada seorang pun yang dapat mencegah setan terhadap manusia kecuali hanya Allah. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar kita bersikap diplomasi terhadap setan manusia dan berbasa-basi terhadapnya dengan mengulurkan kebaikan kepadanya dengan tujuan agar ia kembali kepada wataknya yang asli dan tidak mengganggu lagi. Allah memerintahkan agar kita meminta perlindungan kepada-Nya dari setan yang tidak kelihatan, mengingat setan yang tidak kelihatan itu tidak dapat disuap serta tidak terpengaruh oleh sikap yang baik, tertabiat jahat sejak pembawaan, dan tiada yang dapat mencegahnya terhadap diri kita kecuali hanya Tuhan yang menciptakannya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (32).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Isti'adzah artinya memohon perlindungan kepada Allah dan bernaung di bawah lindungan-Nya dari kejahatan semua makhluk yang jahat. Pengertian meminta perlindungan ini adakalanya dimaksudkan untuk menolak kejahatan dan adakalanya untuk mencari kebaikan, seperti pengertian yang terkandung di dalam perkataan Al-Mutanabbi (salah seorang penyair), yaitu:
Wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk memperoleh apa yang aku cita-citakan, dan wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk menghindar dari semua yang aku takutkan. Semua orang tidak akan dapat mengembalikan keagungan (kebesaran) yang telah engkau hancurkan, dan mereka tidak dapat menggoyahkan kebesaran yang telah engkau bangun.
Makna a'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim adalah "aku berlindung di bawah naungan Allah dari godaan setan yang terkutuk agar setan tidak dapat menimpakan mudarat pada agamaku dan duniaku, atau agar setan tidak dapat menghalang-halangi diriku untuk mengerjakan apa yang diperintahkan kepadaku, atau agar setan tidak dapat mendorongku untuk mengerjakan hal-hal yang dilarang aku mengerjakannya."
Sesungguhnya tiada seorang pun yang dapat mencegah setan terhadap manusia kecuali hanya Allah. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan agar kita bersikap diplomasi terhadap setan manusia dan berbasa-basi terhadapnya dengan mengulurkan kebaikan kepadanya dengan tujuan agar ia kembali kepada wataknya yang asli dan tidak mengganggu lagi. Allah memerintahkan agar kita meminta perlindungan kepada-Nya dari setan yang tidak kelihatan, mengingat setan yang tidak kelihatan itu tidak dapat disuap serta tidak terpengaruh oleh sikap yang baik, tertabiat jahat sejak pembawaan, dan tiada yang dapat mencegahnya terhadap diri kita kecuali hanya Tuhan yang menciptakannya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (31) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (31).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Termasuk faedah membaca ta'awwudz ialah untuk membersihkan apa yang telah dilakukan oleh mulut, seperti perkataan yang tak berguna dan kata-kata yang jorok, untuk mewangikannya sebelum membaca Kalamullah.
Bacaan ta'awwudz dimaksudkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dan mengakui kekuasaan-Nya, sedangkan bagi hamba yang bersangkutan merupakan pengakuan atas kelemahan dan ketidakmampuannya dalam menghadapi musuh bebuyutan tetapi tidak kelihatan, tiada seorang pun yang dapat menyangkal dan menolaknya kecuali hanya Allah yang telah menciptakannya. Setan tidak boleh diajak bersikap baik dan tidak boleh berbaik hati kepadanya. Lain halnya dengan musuh dari jenis manusia (kita boleh bersikap seperti itu), sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ayat Al-Qur'an dalam tiga tempat, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (Al-Isra: 65)
Malaikat pernah turun untuk memerangi musuh yang berupa manusia. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang kelihatan (yakni manusia), maka ia mati syahid. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan terlaknat. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tampak, maka ia adalah orang yang diperbudak. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang terfitnah atau berdosa. Mengingat setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia dianjurkan agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang melihat setan, sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (31).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Termasuk faedah membaca ta'awwudz ialah untuk membersihkan apa yang telah dilakukan oleh mulut, seperti perkataan yang tak berguna dan kata-kata yang jorok, untuk mewangikannya sebelum membaca Kalamullah.
Bacaan ta'awwudz dimaksudkan untuk memohon pertolongan kepada Allah dan mengakui kekuasaan-Nya, sedangkan bagi hamba yang bersangkutan merupakan pengakuan atas kelemahan dan ketidakmampuannya dalam menghadapi musuh bebuyutan tetapi tidak kelihatan, tiada seorang pun yang dapat menyangkal dan menolaknya kecuali hanya Allah yang telah menciptakannya. Setan tidak boleh diajak bersikap baik dan tidak boleh berbaik hati kepadanya. Lain halnya dengan musuh dari jenis manusia (kita boleh bersikap seperti itu), sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ayat Al-Qur'an dalam tiga tempat, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (Al-Isra: 65)
Malaikat pernah turun untuk memerangi musuh yang berupa manusia. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang kelihatan (yakni manusia), maka ia mati syahid. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan terlaknat. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tampak, maka ia adalah orang yang diperbudak. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang terfitnah atau berdosa. Mengingat setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia dianjurkan agar memohon perlindungan kepada Tuhan yang melihat setan, sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (30) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (30).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca ta'awwudz pada awal mulanya diwajibkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi tidak kepada umatnya. Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia tidak membaca ta'awwudz dalam salat fardunya; tetapi ta'awwudz dibaca bila mengerjakan salat sunat Ramadan pada malam pertama.
Imam Syafii di dalam kitab Al-Imla mengatakan bahwa bacaan ta'awwudz dinyaringkan, tetapi jika dipelankan, tidak mengapa. Di dalam kitab Al-Umm disebutkan boleh memilih, karena Ibnu Umar membacanya dengan pelan, sedangkan Abu Hurairah membacanya dengan suara nyaring. Tetapi bacaan ta'awwudz selain pada rakaat pertama masih diperselisihkan di kalangan mazhab Syafii, apakah disunatkan atau tidak, ada dua pendapat, tetapi yang kuat mengatakan tidak disunatkan.
Apabila orang yang membaca ta'awwudz mengucapkan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari golongan setan yang terkutuk)", maka kalimat tersebut dinilai cukup menurut Imam Syafii dan Imam Abu Hurairah.
Sebagian dari kalangan ulama ada yang menambahkan lafaz As-Sami'ul 'alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), sedangkan yang lainnya bahkan menambahkan seperti berikut: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," menurut Ats-Tsauri dan Al-Auza'i.
Diriwayatkan oleh sebagian dari mereka bahwa dia mengucapkan, "Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk," agar sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ayat dan berdasarkan kepada hadis Dhahhak, dari Ibnu Abbas, yang telah disebutkan tadi. Akan tetapi, lebih utama mengikuti hadis-hadis sahih seperti yang telah disebutkan.
Membaca ta'awwudz dalam salat hanya dilakukan untuk membaca Al-Qur'an, menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf mengatakan bahwa ta'awwudz dibaca untuk menghadapi salat itu sendiri. Berdasarkan pengertian ini, berarti makmum membaca ta'awwudz sekalipun imam tidak membacanya. Dalam salat Id (hari raya), ta'awwudz dibaca sesudah takbiratul ihram dan sebelum takbir salat hari raya. Sedangkan menurut jumhur ulama sesudah takbir Id dan sebelum membaca Al-Faatihah dimulai.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (30).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Sebagian ulama mengatakan bahwa membaca ta'awwudz pada awal mulanya diwajibkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi tidak kepada umatnya. Diriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia tidak membaca ta'awwudz dalam salat fardunya; tetapi ta'awwudz dibaca bila mengerjakan salat sunat Ramadan pada malam pertama.
Imam Syafii di dalam kitab Al-Imla mengatakan bahwa bacaan ta'awwudz dinyaringkan, tetapi jika dipelankan, tidak mengapa. Di dalam kitab Al-Umm disebutkan boleh memilih, karena Ibnu Umar membacanya dengan pelan, sedangkan Abu Hurairah membacanya dengan suara nyaring. Tetapi bacaan ta'awwudz selain pada rakaat pertama masih diperselisihkan di kalangan mazhab Syafii, apakah disunatkan atau tidak, ada dua pendapat, tetapi yang kuat mengatakan tidak disunatkan.
Apabila orang yang membaca ta'awwudz mengucapkan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari golongan setan yang terkutuk)", maka kalimat tersebut dinilai cukup menurut Imam Syafii dan Imam Abu Hurairah.
Sebagian dari kalangan ulama ada yang menambahkan lafaz As-Sami'ul 'alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), sedangkan yang lainnya bahkan menambahkan seperti berikut: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," menurut Ats-Tsauri dan Al-Auza'i.
Diriwayatkan oleh sebagian dari mereka bahwa dia mengucapkan, "Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk," agar sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ayat dan berdasarkan kepada hadis Dhahhak, dari Ibnu Abbas, yang telah disebutkan tadi. Akan tetapi, lebih utama mengikuti hadis-hadis sahih seperti yang telah disebutkan.
Membaca ta'awwudz dalam salat hanya dilakukan untuk membaca Al-Qur'an, menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Sedangkan Abu Yusuf mengatakan bahwa ta'awwudz dibaca untuk menghadapi salat itu sendiri. Berdasarkan pengertian ini, berarti makmum membaca ta'awwudz sekalipun imam tidak membacanya. Dalam salat Id (hari raya), ta'awwudz dibaca sesudah takbiratul ihram dan sebelum takbir salat hari raya. Sedangkan menurut jumhur ulama sesudah takbir Id dan sebelum membaca Al-Faatihah dimulai.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (29) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (29).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Telah diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril 'alaihis salam -pada waktu pertama kali menurunkan Al-Qur'an kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam- memerintahkannya agar membaca isti'adzah (ta'awwudz). Demikian menurut riwayat Imam Abu Ja'far ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Utsman ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Abu Rauq, dari Dhahhak, dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pada waktu pertama kali Malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, "Hai Muhammad, mohonlah perlindungan (kepada Allah)!" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk." Kemudian Malaikat jibril berkata, "Ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim." Selanjutnya Malaikat Jibril berkata lagi, "Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
Abdullah ibnu Abbas mengatakan, hal tersebut merupakan surat yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melalui lisan Malaikat Jibril.
Atsar ini berpredikat garib, sengaja kami ketengahkan untuk dikenal, mengingat di dalam sanadnya terkandung kelemahan dan inqita' (maqtu').
Jumhur ulama mengatakan bahwa membaca ta'awwudz hukumnya sunat, bukan merupakan keharusan yang mengakibatkan dosa bagi orang yang meninggalkannya. Ar-Razi meriwayatkan dari Atha ibnu Abu Rabah yang mengatakan wajib membaca ta'awwudz dalam salat dan di luar salat, yaitu bila hendak membaca Al-Qur'an.
Ibnu Sirin mengatakan, "Apabila seseorang membaca ta'awwudz sekali saja dala seumur hidupnya, hal ini sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban membaca ta'awwudz."
Ar-Razi mengemukakan hujahnya kepada Atha dengan makna lahiriah ayat yang menyatakan, "Fasta'iz (maka mintalah perlindungan kepada Allah)." Kalimat ini adalah kalimat perintah yang lahiriahnya menunjukkan makna wajib, juga berdasarkan pengalaman yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara terus-menerus. Dengan membaca ta'awwudz, maka kejahatan setan dapat ditolak. Suatu hal yang merupakan kesempurnaan bagi hal yang wajib, hukumnya wajib pula. Karena membaca ta'awwudz merupakan hal yang lebih hati-hati, sedangkan sikap hati-hati itu merupakan suatu hal yang dapat melahirkan hukum wajib.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (29).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Telah diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril 'alaihis salam -pada waktu pertama kali menurunkan Al-Qur'an kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam- memerintahkannya agar membaca isti'adzah (ta'awwudz). Demikian menurut riwayat Imam Abu Ja'far ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Utsman ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Imarah, telah menceritakan kepada kami Abu Rauq, dari Dhahhak, dari Abdullah ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pada waktu pertama kali Malaikat Jibril turun kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata, "Hai Muhammad, mohonlah perlindungan (kepada Allah)!" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk." Kemudian Malaikat jibril berkata, "Ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim." Selanjutnya Malaikat Jibril berkata lagi, "Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
Abdullah ibnu Abbas mengatakan, hal tersebut merupakan surat yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam melalui lisan Malaikat Jibril.
Atsar ini berpredikat garib, sengaja kami ketengahkan untuk dikenal, mengingat di dalam sanadnya terkandung kelemahan dan inqita' (maqtu').
Jumhur ulama mengatakan bahwa membaca ta'awwudz hukumnya sunat, bukan merupakan keharusan yang mengakibatkan dosa bagi orang yang meninggalkannya. Ar-Razi meriwayatkan dari Atha ibnu Abu Rabah yang mengatakan wajib membaca ta'awwudz dalam salat dan di luar salat, yaitu bila hendak membaca Al-Qur'an.
Ibnu Sirin mengatakan, "Apabila seseorang membaca ta'awwudz sekali saja dala seumur hidupnya, hal ini sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban membaca ta'awwudz."
Ar-Razi mengemukakan hujahnya kepada Atha dengan makna lahiriah ayat yang menyatakan, "Fasta'iz (maka mintalah perlindungan kepada Allah)." Kalimat ini adalah kalimat perintah yang lahiriahnya menunjukkan makna wajib, juga berdasarkan pengalaman yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara terus-menerus. Dengan membaca ta'awwudz, maka kejahatan setan dapat ditolak. Suatu hal yang merupakan kesempurnaan bagi hal yang wajib, hukumnya wajib pula. Karena membaca ta'awwudz merupakan hal yang lebih hati-hati, sedangkan sikap hati-hati itu merupakan suatu hal yang dapat melahirkan hukum wajib.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (28) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (28).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Ima Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Utsman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy, dari Addi ibnu Tsabit yang menceritakan bahwa Sulaiman ibnu Shard radhiyallahu 'anhu menceritakan:
Ada dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kami sedang duduk bersamanya. Salah seorang dari kedua lelaki itu mencaci lawannya seraya marah, sedangkan wajahnya tampak memerah (karena emosi). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat; seandainya dia mau mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah emosi yang membakarnya itu. Yaitu ucapan,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajim
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'" Maka mereka (para sahabat) berkata kepada lelaki yang emosi itu, "Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Lelaki itu justru menjawab, "Sesungguhnya aku tidak gila."
Imam Bukhari meriwayatkannya bersama Imam Muslim, Abu Daud, dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Al-A'masy dengan lafaz yang sama.
Sehubungan dengan masalah isti'adzah ini, banyak lagi hadis yang cukup panjang bila dikemukakan dalam kitab ini. Bagi yang menginginkan keterangan lebih lanjut, dipersilakan merujuk kepada kitab-kitab "Zikir dan Keutamaan Beramal".
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (28).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Ima Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Utsman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy, dari Addi ibnu Tsabit yang menceritakan bahwa Sulaiman ibnu Shard radhiyallahu 'anhu menceritakan:
Ada dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kami sedang duduk bersamanya. Salah seorang dari kedua lelaki itu mencaci lawannya seraya marah, sedangkan wajahnya tampak memerah (karena emosi). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat; seandainya dia mau mengucapkannya, niscaya akan lenyaplah emosi yang membakarnya itu. Yaitu ucapan,
A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajim
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'" Maka mereka (para sahabat) berkata kepada lelaki yang emosi itu, "Tidakkah kamu mendengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Lelaki itu justru menjawab, "Sesungguhnya aku tidak gila."
Imam Bukhari meriwayatkannya bersama Imam Muslim, Abu Daud, dan Imam Nasai melalui berbagai jalur dari Al-A'masy dengan lafaz yang sama.
Sehubungan dengan masalah isti'adzah ini, banyak lagi hadis yang cukup panjang bila dikemukakan dalam kitab ini. Bagi yang menginginkan keterangan lebih lanjut, dipersilakan merujuk kepada kitab-kitab "Zikir dan Keutamaan Beramal".
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Subscribe to:
Comments (Atom)