Surat Al-Faatihah (9) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah (8) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah (7) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah (6) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah (5) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (5).
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ismail ibnu Umar, dari Ibnu Abu Dzi'b dengan lafaz yang sama.
Abu Ja'far Muhammad ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Dzi'b, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Surat Faatihah ini adalah Ummul Qur'an, Fatihatul Kitab, dan As-Sab'ul Matsani.
Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad ibnu Musa ibnu Murdawaih mengatakan di dalam tafsirnya bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ziad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Galib ibnu Harits, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abdul Wahid Al-Maushuli, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'afa ibnu Imran, dari Abdul Hamid ibnu Ja'far, dari Nuh ibnu Abu Bilal, dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu) yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
Alhamdu lillaahi rabbil 'aalamiin (surat Al-Faatihah) adalah tujuh ayat, sedangkan bismillaahir rahmaanir rahiim adalah salah satunya. Surat Al-Faatihah adalah As-Sab'ul Matsani, Al-Qur'anul 'Azhim, Ummul Kitab, dan Fatihatul Kitab.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (4) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah (3) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Surat Al-Faatihah (2)
(Pembukaan).
Makkiyyah, 7 ayat.
Menurut Ibnu Abbas, Qatadah, dan Abul Aliyah, surat Al-Faatihah adalah Makkiyyah. Menurut pendapat lain Madaniyyah, seperti yang dikatakan oleh Abu Hurairah, Mujahid, Atha ibnu Yasar, dan Az-Zuhri. Pendapat lainnya lagi mengatakan, surat Al-Faatihah diturunkan sebanyak dua kali, pertama di Mekah, dan kedua di Madinah. Tetapi pendapat pertama lebih dekat kepada kebenaran, karena firman-Nya menyebutkan:
Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang. (Al-Hijr: 87)
Abu Laits As-Samarqandi meriwayatkan bahwa separo dari surat Al-Faatihah diturunkan di Mekah, sedangkan separo yang lain diturunkan di Madinah. Akan tetapi, pendapat ini sangat aneh, dinukil oleh Al-Qurthubi darinya.
Surat Al-Faatihah terdiri atas tujuh ayat tanpa ada perselisihan, tetapi Amr ibnu Ubaid mengatakannya delapan ayat, dan Husain Al-Jufi mengatakannya enam ayat; kedua pendapat ini syadz (menyendiri).
Mereka berselisih pendapat mengenai basmalah-nya, apakah merupakan ayat tersendiri sebagai permulaan Al-Faatihah seperti yang dikatakan oleh jumhur ulama qurra Kufah dan segolongan orang dari kalangan para Sahabat dan para Tabi'in serta ulama Khalaf, ataukah merupakan sebagian dari ayat atau tidak terhitung sama sekali sebagai permulaan Al-Faatihah, seperti yang dikatakan oleh ulama penduduk Madinah dari kalangan ahli qurra dan ahli fiqihnya. Kesimpulan pendapat mereka terbagi menjadi tiga pendapat, seperti yang akan disebutkan nanti pada tempatnya insya Allah, dan hanya kepada-Nya kita percayakan.
Para ulama mengatakan bahwa jumlah kalimat dalam surat Al-Faatihah semuanya ada 25 kalimat, sedangkan hurufnya sebanyak 113.
Imam Bukhari dalam permulaan kitab Tafsir mengatakan bahwa surat ini dinamakan Ummul Kitab karena penulisan dalam mush-haf dimulai dengannya dan permulaan bacaan dalam salat dimulai pula dengannya.
=====
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Surat Al-Faatihah (2) | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Surat Al-Faatihah | Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim Juz 1
Pengantar Sebelum Tafsir Surat Al-Faatihah (3) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Pengantar Sebelum Tafsir Surat Al-Faatihah (2) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim.
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pengantar Sebelum Tafsir Surat Al-Faatihah (2).
Sepertujuh yang keenam sampai pada huruf wawu dari firman-Nya dalah surat Al-Fat-h, yaitu:
yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. (Al-Fat-h: 6)
Sedangkan sepertujuh yang terakhir ialah sampai akhir dari Al-Qur'an.
Salam Abu Muhammad mengatakan, kami mempelajari semua itu dalam waktu empat bulan. Mereka mengatakan bahwa Al-Hajjaj setiap malamnya selalu membaca seperempat Al-Qur'an. Seperempat yang pertama sampai pada akhir surat Al-An'am, seperempat yang kedua sampai pada walyatalaththaf dari surat Al-Kahfi, seperempat yang ketiga sampai pada akhir surat Az-Zumar, sedangkan seperempat yang terakhir sampai akhir Al-Qur'an. Akan tetapi, Syekh Abu Amr Ad-Dani di dalam kitab Al-Bayan meriwayatkan hal yang berbeda dengan semuanya itu.
Dengan adanya pembagian Al-Qur'an ke dalam istilah "hizb" dan "juz", maka dikenallah pembagian Al-Qur'an ke dalam tiga puluh juz, sebagaimana telah terkenal pula istilah "perempatan" di kalangan madrasah-madrasah dan lain-lainnya. Kami mengetengahkan dalam pembahasan yang lalu bahwa para sahabat pun telah melakukan pembagian ini terhadap Al-Qur'an. Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad dan Sunan Abu Daud serta Ibnu Majah dan lain-lainnya disebutkan sebuah hadits dari Aus ibnu Hudzaifah, bahwa ia pernah bertanya kepada sahabat-sahabat Rasul semasa Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup, "Bagaimanakah kalian membagi-bagi Al-Qur'an?" Mereka menjawab, "Sepertiga, seperlima, sepertujuh, sepersembilan, sepersebelas, dan sepertiga belas serta pembagian mufashshal hingga khatam."
Makna lafaz "surat" masih diperselisihkan, dari kata apakah ia berakar. Suatu pendapat mengatakan bahwa "surat" berasal dari penjelasan (bayan) dan kedudukan yang tinggi, seperti pengertian yang terkandung di dalam perkataan penyair An-Nabigah berikut ini:
Tidakkah kamu melihat bahwa Allah telah memberimu penjelasan/kedudukan yang tinggi, kamu melihat semua raja merasa bingung menghadapinya.
Seakan-akan melalui "surat" tersebut si pembaca berpindah dari suatu kedudukan ke kedudukan yang lain.
Menurut suatu pendapat, dikatakan "surat" karena kehormatan dan ketinggiannya sama seperti tembok-tembok pembatas negeri. Menurut pendapat yang lain, dinamakan "surat" karena merupakan sepotong dari Al-Qur'an dan bagian darinya, diambil dari kata asaarul inaa yang artinya "sisa air minum yang ada pada wadahnya". Dengan demikian, berarti bentuk asalnya adalah memakai hamzah (yakni "surun"); dan sesungguhnya hamzah di-takhfif-kan, lalu diganti dengan wawu, mengingat harakat dhammah sebelumnya (hingga jadilah "surun", selanjutnya menjadi "surat"). Menurut pendapat yang lainnya lagi, dikatakan demikian karena kelengkapan dan kesempurnaannya; orang-orang Arab menyebut unta betina yang sempurna dengan sebutan "surat".
Menurut kami, dapat pula dikatakan bahwa "surat" berasal dari pengertian "menghimpun dan meliputi ayat-ayat yang terkandung di dalamnya"; sebagaimana tembok pembatas sebuah negeri (kota), dinamakan "surat" karena tembok tersebut meliputi semua perumahan dan kemah yang terhimpun di dalamnya. Bentuk jamak dari "surat" ialah suwarun dengan huruf wawu yang di-fat-hah-kan, tetapi adakalanya dijamakkan dalam bentuk surat dan suwarat.
Sedangkan pengertian "ayat" merupakan pertanda terputusnya suatu pembicaraan dari ayat sebelum dan sesudahnya, serta terpisah darinya. Dengan kata lain, suatu ayat terpisah dari ayat lainnya dan berdiri sendiri. Allab Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
Sesungguhnya tanda ja akan jadi raja. (Al-Baqarah: 248)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
Ringkasan Shahih Bukhari (331)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
13. Bab: Adzan Sebelum Shubuh.
331. Dari Abdullah bin Mas'ud (radhiyallahu 'anhu), dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Janganlah sekali-kali adzannya Bilal menghalangi seseorang di antara kalian terhadap sahurnya, karena sebenarnya Bilal adzan pada malam hari agar orang yang sedang shalat segera kembali dan untuk mengingatkan orang yang masih tidur. Bilal bukannya memberitahukan terbitnya fajar atau waktu Shubuh." -seraya beliau mengisyaratkan dengan jarinya yang diangkat ke atas lalu ditukikkan ke bawah- demikian yang disebutkan beliau. Zuhair berkata, "Beliau mengisyaratkan dengan kedua jari telunjuknya. Salah satunya di atas yang lainnya, kemudian menariknya ke kanan dan ke kiri." (Dalam riwayat lain: Yazid menunjukkan kedua tangannya lalu menjauhkan salah satunya dari yang lainnya." 6/176).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (330)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
12. Bab: Adzan setelah Shubuh.
330. Dari Hafshah (radhiyallahu 'anha), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam jika muadzinnya diam (339) ketika Shubuh, sementara waktu Shubuh sudah tiba, maka beliau shalat dua rakaat yang ringan sebelum didirikannya shalat.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
339. Ini yang terdapat pada sebagian besar para perawi Al Bukhari, tapi ini salah. Adapun yang benar adalah yang tersebut dalam Al Muwaththa` yang juga riwayat dari jalur ini yang disebutkan penulisnya dengan kalimat sakata (diam). Silahkan merujuk Fathul Baari. Ada riwayat serupa, yaitu hadits Aisyah (radhiyallahu 'anhuma) yang akan disebutkan.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (329)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
11. Bab: Adzannya Orang Buta Jika Diberitahu Tibanya Waktu Shalat.
329. Dari Abdullah (Ibnu Umar) (radhiyallahu 'anhuma), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka {saat itu} makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum menyerukan adzan." Abdullah berkata, "Ia {Ibnu Ummi Maktum} adalah seorang yang buta. Ia tidak mengumandangkan adzan sebelum diberitahukan kepadanya, (dalam riwayat lain: "Sebelum ada orang yang berkata kepadanya, 3/152) 'Sudah Shubuh, sudah Shubuh.'"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (328)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
10. Bab: Berbicara Ketika Adzan.
136. (337) Sulaiman bin Shurd pernah berbicara ketika mengumandangkan adzan.
137. (338) Al Hasan berkata, "Tidak mengapa tertawa ketika adzan atau iqamah."
328. Dari Abdullah bin Al Harits [putra paman Muhammad bin Sirin, 1/216] dia berkata, "Ibnu Abbas berkhutbah di hadapan kami pada suatu hari ketika tanah becek. Ketika bacaan muadzin sampai pada kalimat hayya 'alash-shalah, Ibnu Abbas menyuruhnya untuk menyerukan ("ash-shalaatu fir rihaal") shalat di kendaraan masing-masing. (Dalam riwayat lain: Ibnu Abbas berkata kepada muadzinnya pada suatu hari ketika hujan turun, 'Jika engkau mengucapkan, "asyhadu anna Muhammadar rasuulullah", janganlah engkau mengucapkan hayya 'alash-shalah, tapi ucapkanlah, "shalluu fii buyuutikum" (shalatlah di rumah kalian). Lalu orang-orang saling memandang, [seolah-olah mereka tidak menerima itu. 1/163] Lalu Ibnu Abbas berkata, ["Tampaknya kalian tidak menerima ini."] Ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik darinya, (dalam riwayat lain: "Lebih baik dariku." Maksudnya adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam) dan ini (dalam riwayat lain: sesungguhnya di hari Jum'at) terjadi suatu bencana, [dan sesungguhnya aku tidak suka membuat kalian berdosa, lalu kalian kembali sehingga menginjak tanah. (Dalam riwayat lain: sehingga kalian berjalan pada tanah dan lumpur) menuju kendaraan kalian.")]
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
337. Diriwayatkan secara maushul oleh penyusun dalam kitab At-Tarikh dengan isnad shahih darinya.
338. Al Hafizh berkata, "Menurutku riwayat ini tidak maushul."
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pengantar Sebelum Tafsir Surat Al-Faatihah | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pengantar Sebelum Tafsir Surat Al-Faatihah.
Abu Bakar ibnul Anbari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ishaq Al-Qadhi, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah yang pernah mengatakan bahwa surat-surat yang diturunkan di Madinah ialah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa, Al-Maaidah, Bara-ah (At-Taubah), Ar-Ra'd, An-Nahl, Al-Hajj, An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fat-h, Al-Hujurat, Ar-Rahmaan, Al-Hadiid, Al-Mujaadilah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Ash-Shaff, Al-Jumu'ah, Al-Munaafiquun, At-Tagaabun, dan Ath-Thalaq serta ayat:
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya? (At-Tahrim: 1)
sampai dengan permulaan ayat yang kesepuluh, juga surat Az-Zalzalah dan An-Nashr. Semua surat yang disebut di atas diturunkan di Madinah, sedangkan surat-surat lainnya diturunkan di Mekah.
Ayat Al-Qur'an seluruhnya berjumlah enam ribu ayat, kemudian selebihnya masih diperselisihkan oleh beberapa ulama. Di antara mereka ada yang mengatakan tidak lebih dari 6.000 ayat, ada pula yang mengatakan lebih dari 204 ayat. Menurut pendapat yang lain lebih dari 214 ayat, pendapat yang lainnya lagi mengatakan lebih dari 219 ayat. Pendapat lain mengatakan lebih dari 225 ayat atau 226 ayat. Ada pula yang mengatakan lebih dari 236 ayat. Semuanya itu diketengahkan oleh Abu Amr Ad-Dani di dalam kitab Al-Bayan.
Jumlah kalimat Al-Qur'an menurut Al-Fadhl ibnu Syadzan, dari Atha ibnu Yasar, adalah 77. 439 kalimat.
Jumlah semua huruf dalam Al-Qur'an menurut Abdullah ibnu Katsir, dari Mujahid, adalah 321. 180 huruf. Sedangkan menurut Al-Fadhl ibnu Atha ibnu Yasar adalah 323.015 huruf.
Salam Abu Muhammad Al-Hammani mengatakan bahwa Al-Hajjaj pernah mengumpulkan semua ahli qurra, para huffaz, dan penulis khat Al-Qur'an, lalu ia bertanya, "Ceritakanlah kepadaku tentang seluruh Al-Qur'an, berapakah jumlah hurufnya?" Al-Hammani melanjutkan kisahnya, "Lalu kami menghitungnya, dan akhirnya mereka sepakat bahwa di dalam Al-Qur'an terdapat 340.740 huruf." Kemudian Al-Hajjah bertanya, "Ceritakanlah kepadaku tentang pertengahan Al-Qur'an!" Setelah kami hitung, ternyata pertengahan Al-Qur'an jatuh pada huruf fa dari firman-Nya dalam surat Al-Kahfi, yaitu:
Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut... (Al-Kahfi: 19)
Sepertiga yang pertama dari Al-Qur'an jatuh pada permulaan ayat yang keseratus dari surat Al-Bara-ah (At-Taubah), sepertiga yang kedua jatuh pada permulaan ayat yang keseratus atau keseratus satu dari surat Asy-Syu'ara, sedangkan sepertiga yang terakhir hingga sampai pada akhir dari Al-Qur'an (mush-haf).
Sepertujuh yang pertama dari Al-Qur'an jatuh pada huruf dal dari firman-Nya:
Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu) ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya (An-Nisaa: 55)
Sepertujuh yang kedua jatuh pada huruf ta dari firman-Nya dalam surat Al-A'raf, yaitu:
Sia-sialah amal perbuatan mereka. (Al-A'raf: 147)
Sepertujuh yang ketiga jatuh pada huruf alif yang kedua dari firman-Nya dalam surat Ar-Ra'd, yaitu:
Buah-buahan tiada henti-hentinya. (Ar-Ra'd: 35)
Sepertujuh yang keempat jatuh sampai huruf alif dari firman-Nya dalam surat Al-Hajj, yaitu:
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban). (Al-Hajj: 34)
Sepertujuh yang kelima jatuh pada huruf ha dari firman-Nya dalam surat Al-Ahzab, yaitu:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin. (Al-Ahzab: 36)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (327)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
9. Bab: Mengundi untuk Mengumandangkan Adzan.
135. (336) Diceritakan bahwa, ada beberapa orang yang berebut untuk mengumandangkan adzan, lalu Sa'ad mengundi mereka.
327. Dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Seandainya manusia mengetahui kebaikan yang terkandung dalam adzan dan shaf pertama {barisan paling depan dalam shalat} lalu mereka tidak menemukan cara kecuali harus melakukan undian, tentulah mereka akan mengundi. Seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terkandung dalam bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terkandung dalam shalat Isya dan Shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
336. Ada indikasi yang menunjukkan lemahnya riwayat ini, yakni disambungkan Al Baihaqi dan lainnya dengan sanad yang terputus, dan disambungkan oleh Saif bin Umar, seorang yang haditsnya ditinggalkan.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (326)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
8. Bab: Doa Setelah Adzan.
326. Dari Jabir bin Abdullah (radhiyallahu 'anhu), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Barang siapa ketika mendengar adzan mengucapkan,
اللهم رب هذه الدعوة التا مة والصلاة القاءمة ات محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته
Allaahumma rabba hadzihid da'watit taammati wash shalaatil qaa-imati aati Muhammadanil wasiilata wal fadhiilata wab'ats-hu maqaaman mahmuudanil ladzii wa 'adtah.
'Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan pemilik shalat yang akan didirikan ini, berikanlah perantara dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkanlah Muhammad pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya',
maka ia berhak mendapatkan syafaatku pada hari Kiamat."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (325)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
7. Bab: Apa yang Diucapkan Ketika Mendengar Suara Muadzin?
325. Dari Abu Sa'id Al Khudri (radhiyallahu 'anhu), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Jika kalian mendengar suara adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Menangguhkan Penyerangan Karena Seruan Adzan | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
6. Bab: Menangguhkan Penyerangan Karena Seruan Adzan.
(Haditsnya adalah bagian dari hadits Anas (radhiyallahu 'anhu) yang akan disebutkan pada kitab ke 55 bab 26).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pendahuluan (12) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pendahuluan (12).
Atsar-atsar yang sahih ini dan lainnya yang sejenis dari para imam ulama Salaf mengandung makna yang menyatakan bahwa mereka merasa keberatan berbicara tentang tafsir tanpa ada pengetahuan pada mereka. Adapun orang yang membicarakan tentang tafsir yang dia ketahui makna lugawi dan syar'i-nya, tidak ada dosa baginya. Telah diriwayatkan dari mereka dan yang lainnya berbagai pendapat mengenai tafsir, tetapi tidak ada pertentangan karena mereka berbicara tentang apa yang mereka ketahui, dan mereka diam tidak membicarakan hal-hal yang tidak mereka ketahui. Hal seperti inilah yang wajib dilakukan oleh setiap orang, sebagaimana diwajibkan atas seseorang untuk diam tidak membicarakan hal yang tidak ia ketahui, maka diwajibkan pula baginya menjawab pertanyaan apa yang dia ketahui, karena ada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan:
Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya. (Ali Imran: 187)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur disebutkan:
Barang siapa ditanya mengenai suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, niscaya mulutnya akan disumbat dengan kendali dari api di hari Kiamat nanti.
Mengenai hadis yang diriwayatkan Abu Ja'far ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Abbas ibnu Abdul Azhim, Muhammad ibnu Khalid ibnu Atsamah, Abu Ja'far ibnu Muhammad Az-Zubairi, telah menceritakan kepadaku Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah yang mengatakan, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak pernah menafsirkan sesuatu dari Al-Qur'an kecuali hanya beberapa bilangan ayat saja yang pernah diajarkan oleh Malaikat Jibril kepadanya." Kemudian Abu Ja'far meriwayatkannya pula dari Abu Bakar Muhammad ibnu Yazid Ath-Thartusi, dari Ma'an ibnu Isa, dari Ja'far ibnu Khalid, dari Hisyam dengan lafaz yang sama. Maka kedua hadis tersebut berpredikat munkar lagi garib.
Ja'far yang disebutkan di atas adalah Ibnu Muhammad ibnu Khalid ibnuz Zubair ibnu Awwam Al-Qurasyi Az-Zubairi. Menurut Imam Bukhari, hadisnya itu tidak terpakai; sedangkan menurut penilaian Al-Hafizh Abul Fat-h Al-Azdi, hadisnya berpredikat munkar.
Akan tetapi, Al-Imam Abu Ja'far memberikan komentar yang kesimpulannya mengatakan bahwa ayat-ayat tersebut termasuk hal-hal yang tidak dapat diketahui kecuali berdasarkan pemberitahuan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepadanya. Pendapat ini merupakan takwil yang benar seandainya hadis yang dimaksud berpredikat sahih. Karena sesungguhnya ada sebagian dari Al-Qur'an yang maknanya hanya diketahui oleh Allah saja, sebagian hanya diketahui oleh ulama, sebagian dapat diketahui oleh orang Arab melalui bahasa mereka, dan sebagian tidak dimaafkan bagi seseorang bila tidak mengetahuinya, seperti yang telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhu) dalam riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abuz Zanad, bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan, "Tafsir itu ada empat macam, yaitu tafsir yang diketahui oleh orang Arab melalui bahasanya, tafsir yang tidak dimaafkan bagi seseorang bila tidak mengetahuinya, tafsir yang hanya diketahui oleh ulama, dan tafsir yang tiada seorang pun mengetahui maknanya kecuali hanya Allah."
Ibnu Jarir mengatakan, "Hadis seperti itu telah diriwayatkan pula, hanya di dalam sanadnya masih ada sesuatu yang perlu dipertimbangkan." Hadis tersebut adalah seperti berikut: Telah menceritakan kepadaku Yunus ibnu Abdul A'la Ash-Shadfi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, bahwa ia pernah mendengar Amr ibnul Harts menceritakan sebuah hadis dari Al-Kalbi, dari Abu Saleh maula Ummu Hani', dari Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhu), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda, "Al-Qur'an diturunkan terdiri atas empat kelompok, yaitu halal dan haram yang tidak dapat dimaafkan bagi seseorang bila tidak mengetahuinya, tafsir yang dapat diketahui oleh orang Arab, tafsir yang hanya diketahui oleh ulama, dan mutasyabih yang tidak diketahui kecuali hanya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Barang siapa mengakui mengetahui yang mutasyabih -selain Allah-, dia adalah dusta."
Pertimbangan yang diisyaratkan Ibnu Jarir sehubungan dengan sanadnya ialah dari segi Muhammad ibnus Saib Al-Kalbi, karena sesungguhnya dia adalah orang yang matruk (tidak terpakai) hadisnya. Akan tetapi, adakalanya dia memang matruk, hanya hadis ini diduga marfu', dan barangkali hadis ini adalah perkataan Ibnu Abbas sendiri, seperti yang telah disebutkan di atas tadi.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (324)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
5. Bab: Mengeraskan Suara Adzan.
134. (335) Umar bin Abdul Aziz berkata, "Kumandangkan adzan dengan keras. Jika tidak, maka janganlah engkau bersama kami."
324. Dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Sha'sha'ah Al Anshari Al Mazini, bahwa Abu Sa'id Al Khudri (radhiyallahu 'anhu) berkata kepadanya, "Sungguh aku melihatmu menyukai domba dan tempat gembala. Jika engkau berada di antara domba-dombamu atau sedang berada di tempat penggembalaan, maka serukanlah adzan untuk shalat dan keraskanlah suara adzanmu, karena sesungguhnya yang mendengar suara seorang muadzin, baik itu jin, manusia atau apa pun, maka ia akan bersaksi untuknya pada hari Kiamat." Abu Sa'id menyebutkan, "Aku mendengar itu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
335. Ibnu Abi Syaibah (1/154) menyebutkan secara maushul dengan sanad yang shahih darinya.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (323)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
4. Bab: Keutamaan Mengumandangkan Adzan.
323. Dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu), bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Jika dikumandangkan seruan untuk shalat, maka syetan akan lari terbirit-birit agar tidak mendengar seruan adzan tersebut. Jika seruan telah selesai dikumandangkan maka ia kembali, dan ketika shalat hendak didirikan {iqamah dibacakan} ia lari lagi, setelah iqamah setelah dibacakan ia akan kembali lagi, lalu ia menyelinap antara seseorang dengan jiwanya (dalam riwayat lain: dan hatinya 4/94) lalu membisikkan, 'Ingatlah ini...dan ingatlah itu...' Demikian terus ia perbuat [sampai ia berhasil melengahkan 2/67] sampai seseorang tidak tahu berapa rakaat yang telah ia kerjakan. (Dalam riwayat lain: tidak tahu apakah ia baru shalat tiga rakaat atau empat rakaat). [Jika seorang di antara kalian tidak tahu apakah baru shalat tiga rakaat ataukah sudah empat rakaat, maka hendaklah ia bersujud dua kali." (Dalam riwayat lain: dua kali sujud sahwi) ketika ia masih duduk." 2/67].
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Iqamah Dibaca Satu Kali Kecuali Kalimat Qad Qamatish Shalah | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
3. Bab: Iqamah Dibaca Satu Kali Kecuali Kalimat Qad Qamatish Shalah.
(Haditsnya adalah hadits Anas (radhiyallahu 'anhu) yang disebutkan).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (322)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
2. Bab: Adzan Dua Kali - Dua Kali.
322. Dari Anas bin Malik (radhiyallahu 'anhu), dia berkata, "Ketika kaum Muslimin mulai banyak, mereka mengusulkan agar mereka diberitahu tentang masuknya waktu shalat dengan sesuatu yang bisa mereka kenali. Ada yang mengusulkan dengan menyalakan api atau membunyikan lonceng, [ada yang mengusulkan seperti yang dilakukan kaum yahudi dan nasrani, 1/150]. Kemudian Bilal diperintahkan untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan iqamah [kecuali kalimat iqamahnya (334)]."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
334. Kecuali kalimat iqamah (yakni "qad qaamatish shalah") tetap diucapkan dua kali.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pendahuluan (11) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pendahuluan (11).
Abu Ubaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim, dari Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah yang menceritakan, "Seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Abbas tentang pengertian suatu hari yang lamanya seribu tahun." Tetapi Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu balik bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan suatu hari yang lamanya lima puluh ribu tahun?" Lelaki tersebut berkata, "Sesungguhnya aku bertanya kepadamu agar kamu menceritakan jawabannya kepadaku." Lalu Ibnu Abbas berkata, "Keduanya merupakah dua hari yang disebut oleh Allah di dalam Kitab-Nya. Allah lebih mengetahui tentang keduanya." Ternyata Ibnu Abbas menolak untuk mengatakan sesuatu dalam Kitabullah hal-hal yang tidak ia ketahui.
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepadaku Ya'qub (yakni Ibnu Ibrahim), telah menceritakan kepada mereka Ibnu Ulayyah, dari Mahdi ibnu Maimun, dari Al-Walid ibnu Muslim yang menceritakan bahwa Thalq ibnu Habib pernah datang kepada Jundub ibnu Abdullah, lalu bertanya kepadanya tentang makna sebuah ayat dari Al-Qur'an. Maka Jundub ibnu Abdullah berkata, "Aku merasa berdosa bila kamu mau mendengarkannya dariku dan tidak mau beranjak dariku." Atau dia mengatakan, "Aku merasa berdosa bila kamu mau duduk denganku."
Malik meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa dia pernah ditanya mengenai tafsir suatu ayat Al-Qur'an, lalu dia menjawab, "Sesungguhnya kami tidak pernah mengatakan suatu pendapat pun dari diri kami sendiri dalam Al-Qur'an."
Al-Laits meriwayatkan dari Yahya ibnu Sa'id, dari Sa'id ibnu Musayyab, bahwa dia tidak pernah berbicara mengenai Al-Qur'an kecuali hal-hal yang telah dimakluminya.
Syu'bah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah yang pernah bercerita bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Sa'id ibnul Musayyab tentang makna suatu ayat dari Al-Qur'an. Maka Sa'id ibnul Musayyab menjawab, "Janganlah kamu bertanya kepadaku mengenai Al-Qur'an, tetapi bertanyalah kepada orang yang menduga bahwa baginya tiada sesuatu pun dari Al-Qur'an yang samar." Yang dia maksudkan adalah Ikrimah.
Ibnu Syaudzab mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abu Yazid yang pernah mengatakan bahwa kami pernah bertanya kepada Sa'id ibnul Musayyab mengenai masalah halal dan haram, dia adalah orang yang paling alim mengenainya. Akan tetapi, bila kami bertanya kepadanya tentang tafsir suatu ayat dari Al-Qur'an, maka ia diam, seakan-akan tidak mendengar pertanyaan kami.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Abdah Adh-Dhabbi, Hammad ibnu Zaid, Ubaidillah ibnu Umar yang pernah mengatakan, "Aku menjumpai para ahli fiqih kota Madinah, dan ternyata mereka menganggap dosa besar orang yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri. Di antara mereka ialah Salim ibnu Abdullah, Al-Qasim ibnu Muhammad, Sa'id ibnul Musayyab, dan Nafi'."
Abu Ubaid mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, dari Laits, dari Hisyam ibnu Urwah yang pernah mengatakan, "Aku belum pernah mendengar ayahku menakwilkan suatu ayat pun dari Kitabullah."
Ayyub dan Ibnu Aun serta Hisyam Ad-Dustuwai telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Sirin yang pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya kepada Ubaidah (yakni As-Salmani) tentang makna suatu ayat dari Al-Qur'an, maka As-Salmani menjawab, "Orang-orang yang mengetahui latar belakang Al-Qur'an diturunkan telah tiada, maka bertakwalah kepada Allah dan tetaplah kamu pada jalan yang lurus."
Abu Ubaid mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'adz, dari Ibnu Aun, dari Abdullah ibnu Muslim ibnu Yasar, dari ayahnya yang menceritakan, "Apabila kamu berbicara mengenai suatu Kalamullah, maka berhentilah sebelum kamu melihat pembicaraan yang sebelum dan sesudahnya."
Telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Mugirah, dari Ibrahim yang pernah mengatakan, "Teman-teman kami selalu menghindari tafsir dan merasa takut terhadapnya."
Syu'bah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Abus Safar, bahwa Asy-Sya'bi pernah mengatakan, "Demi Allah, tiada suatu ayat pun melainkan aku pernah menanyakan tentang maknanya. Akan tetapi, jawabannya merupakan riwayat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Abu Ubaid pernah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, Amr ibnu Abu Zaidah, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq yang telah berkata, "Hindarilah tafsir oleh kalian, karena sesungguhnya tafsir itu tiada lain merupakan riwayat dari Allah." (Yakni dengan Al-Qur'an lagi).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (321)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabul Adzaan.
10. Kitab Adzan.
1. Bab: Permulaan Adzan dan Firman Allah, "Dan apabila kamu menyeru {mereka} untuk {mengerjakan} shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." {QS. Al Maa`idah (5): 58}, Firman-Nya, "Apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at." {QS. Al Jumu'ah (62): 9}
321. Dari Ibnu Umar (radhiyallahu 'anhuma), dia berkata, "Ketika kaum Muslimin datang di Madinah, mereka berkumpul menunggu-nunggu shalat karena belum ada panggilan (adzan) untuk itu. Pada suatu hari mereka membicarakan masalah tersebut, dan salah seorang mereka berkata, 'Gunakan lonceng seperti loncengnya kaum nasrani.' Lalu yang lainnya mengusulkan, 'Sebaiknya pakai terompet saja, seperti tanduk yang digunakan kaum yahudi.' Umar berkata, 'Bukankah sebaiknya kalian menunjuk seseorang untuk menyerukan panggilan shalat?' Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam berkata, 'Wahai Bilal, berdirilah dan kumandangkan seruan untuk shalat.'"
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Berbincang-bincang Tentang Fikih dan Kebaikan Setelah Isya` | Mengobrol Bersama Keluarga dan Tamu | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
41. Bab: Berbincang-bincang Tentang Fikih dan Kebaikan Setelah Isya`.
42. Bab: Mengobrol Bersama Keluarga dan Tamu.
(Haditsnya adalah hadits Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq yang akan disebutkan pada Kitab ke 61 bab 25).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Tidak Disukai Mengobrol Setelah Isya` | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
40. Bab: Tidak Disukai Mengobrol Setelah Isya`.
(Haditsnya adalah hadits Abu Barzah (radhiyallahu 'anhu) yang telah disebutkan dengan nomor 304).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Mengqadha' Beberapa Shalat dengan Cara Mengerjakan yang Lebih Dahulu | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Asep Saefullah FM, M.A.
Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
39. Bab: Mengqadha' Beberapa Shalat dengan Cara Mengerjakan yang Lebih Dahulu.
(Haditsnya adalah bagian hadits Jabir (radhiyallahu 'anhu) yang telah disebutkan).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (320)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
38. Bab: Barangsiapa yang Lupa Shalat, maka Hendaklah Mengerjakannya Ketika Ingat.
133. (332) Ibrahim mengatakan, "Barangsiapa yang meninggalkan satu shalat dua puluh tahun, maka ia tidak perlu mengulang kecuali shalat yang satu itu."
320. Dari Anas (radhiyallahu 'anhu), dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Barangsiapa yang lupa akan suatu shalat, maka hendaklah ia mengerjakannya ketika ingat. Tidak ada tebusannya kecuali itu. {Firman Allah} Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" (ada lafazh lain yang menyebutkan: untuk mengingat). (333)
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
332. Diriwayatkan secara maushul oleh Ats-Tsauri dalam kitab Jami'-nya dari Manshur dan lainnya darinya, sebagai disebutkan dalam Al Fath, dan sanadnya shahih.
333. Yang benar adalah kalimat lidzikri (untuk mengingat-Ku).
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pendahuluan (10) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pendahuluan (10).
Allah Subhanahu wa Ta'ala menamakan orang-orang yang menuduh orang lain berbuat zina sebagai orang-orang pendusta, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
Mengingat mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang berdusta. (An-Nuur: 13)
Orang yang menuduh berzina adalah pendusta, sekalipun dia menuduh orang yang benar-benar berbuat zina, karena dia telah menceritakan hal yang tidak dihalalkan baginya mengemukakannya, sekalpun dia memang menceritakan apa yang dia ketahui dengan mata kepala sendiri, mengingat dia memaksakan diri melakukan hal yang tiada pengetahuan baginya tentang hal itu.
Segolongan ulama Salaf merasa keberatan menafsirkan sesuatu yang tiada pengetahuan bagi mereka tentang hal itu. Sehubungan dengan hal ini Syu'bah telah meriwayatkan dari Sulaiman, dari Abdullah ibnu Murrah, dari Abu Ma-mar, bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan, "Bumi siapakah tempat aku berpijak, langit siapakah yang menaungiku jika aku mengatakan dalam Kitabullah hal-hal yang tidak aku ketahui?"
Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid, dari Al-Awwam ibnu Hausyah, dari Ibrahim At-Taimi, bahwa Abu Bakar radhiyallahu 'anhu pernah ditanya mengenai makna firman-Nya:
Dan buah-buahan serta rumput-rumputan. (Abasa: 31)
Abu Bakar menjawab, "Bumi siapakah tempat aku berpijak, langit siapakah yang menaungiku jika aku mengatakan dalam Kitabullah hal-hal yang tidak kuketahui?" Atsar ini berpredikat munqati'.
Abu Ubaid mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Yazid, dari Humaid, dari Anas, bahwa Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu pernah membacakan ayat berikut di atas mimbar:
Dan buah-buahan serta rumput-rumputan. (Abasa: 31)
Lalu ia mengatakan, "Kalau buah-buahan ini kami telah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan al-ab?" Kemudian Umar berkata kepada dirinya sendiri, "Hai Umar, sesungguhnya apa yang kamu lakukan itu benar-benar suatu perbuatan memaksakan diri."
Muhammad ibnu Sa'd mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Harb, Hammad ibnu Zaid, dari Tsabit, dari Anas yang mengatakan, "Suatu ketika kami berada di dekat Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu, dia memakai baju yang ada empat buah tambalan, lalu dia membacakan firman-Nya, 'Dan buah-buahan serta rumput-rumputan.' (Abasa: 31) Lalu dia berkata, 'Apakah al-ab itu?' Dia menjawab sendiri pertanyaannya, 'Ini hal yang dipaksakan, tiada dosa bagimu bila tidak mengetahuinya.'"
Semua riwayat di atas diinterprestasikan bahwa sesungguhnya kedua sahabat tersebut (Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma) hanya ingin mengetahui rahasia yang terkandung di dalam al-ab ini, mengingat pengertian lahiriahnya yang menunjukkan bahwa al-ab adalah suatu jenis tumbuh-tumbuhan bumi sudah jelas dan tidak samar lagi, seperti dalam firman lainnya, yaitu:
Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu dan anggur. (Abasa: 27-28)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim dan Ibnu Ulayyah, dari Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Ibnu Abbas (radhiyallahu 'anhu) pernah ditanya mengenai makna suatu ayat 'seandainya seseorang di antara kalian ditanya mengenainya, niscaya dia akan menjawabnya.' Akan tetapi, Ibnu Abbas menolak dan tidak mau menjawabnya. Atsar ini berpredikat sahih.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (319)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
37. Bab: Shalat Berjama'ah Setelah Lewatnya Waktu.
319. Dari Jabir bin Abdullah (radhiyallahu 'anhu), bahwa Umar bin Khaththab (radhiyallahu 'anhu) datang pada hari penggalian parit {ketika perang Khandaq} setelah matahari terbenam. Umar mencari kaum kafir Quraisy [dan 5/48] berkata, "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak shalat Ashar sampai matahari hampir terbenam, [dan itu setelah berbukanya orang yang puasa." 1/157] (331) Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Bahkan aku, 1/277] demi Allah, belum mengerjakannya." Kemudian kami berdiri menuju sungai, beliau berwudhu untuk shalat, dan kami pun demikian, lalu beliau shalat Ashar setelah matahari terbenam, kemudian setelah itu beliau shalat Maghrib.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
331. Menunjukkan waktu dimana Umar (radhiyallahu 'anhu) berbicara kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, bukan waktu shalat Asharnya Umar, karena itu adalah waktu mendekati Maghrib, sebagaimana diisyaratkan oleh kata "كاد" (hampir). Demikian menurut Al Hafizh.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (318)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
36. Bab: Adzan Setelah Lewat Waktunya.
318. Dari Abu Qatadah (radhiyallahu 'anhu), ia berkata, "Pada suatu malam kami berjalan bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, seseorang di antara kami berkata, 'Maukah engkau singgah sebentar bersama kami wahai Rasulullah.' Beliau menjawab, 'Aku khawatir kalian tertidur sehingga melewatkan shalat.' Bilal menimpali, 'Aku akan membangunkan kalian.' Maka mereka pun berbaring, sementara Bilal bersandar pada hewan tunggangannya, lalu ia pun tertidur. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bangun, sinar matahari sudah mulai terbit, maka beliau berkata, 'Wahai Bilal, mana bukti ucapanmu?' Bilal berkata, 'Aku belum pernah tertidur seperti ini.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah memegang ruh kalian ketika menghendaki-Nya dan Dia mengembalikannya kepada kalian ketika menghendaki-Nya. Wahai Bilal, berdirilah lalu kumandangkan adzan untuk shalat kepada orang-orang.' Kemudian beliau berwudhu (dalam riwayat lain: Orang-orang pun buang hajat lalu berwudhu hingga matahari terbit. 8/192) Ketika matahari mulai tinggi dan cahayanya sudah terang, beliau berdiri dan mengerjakan shalat."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Bab Menyegerakan Shalat pada Hari Berawan | Ringkasan Shahih Bukhari
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
35. Bab: Menyegerakan Shalat pada Hari Berawan.
(Haditsnya adalah hadits Abu Al Malih yang telah disebutkan, yaitu hadits nomor 308).
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Ringkasan Shahih Bukhari (317)
Ringkasan Shahih Bukhari.
Imam al-Bukhari rahimahullah.
Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
Kitaabu Mawaaqiitish Shalaah.
9. Kitab Waktu Shalat.
34. Bab: Mengerjakan Shalat yang Tertinggal atau Lainnya Setelah Ashar.
317. Dari Aiman, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, bahwa ia mendengar Aisyah berkata, "Demi Dzat yang telah mewafatkan beliau, beliau tidak pernah meninggalkan keduanya hingga beliau bertemu Allah {meninggal dunia}. Dan beliau tidak bertemu Allah Ta'ala hingga berat terhadap shalat. Seringkali beliau shalat sambil duduk yakni dua rakaat setelah Ashar -Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah mengerjakan dua rakaat tersebut, tapi beliau tidak mengerjakannya- di masjid karena khawatir akan memberatkan umatnya, beliau menyukai keringanan bagi mereka." (330)
Dari jalur kedua, dari Aisyah (radhiyallahu 'anhuma), ia berkata, "Ada dua rakaat shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau selalu mengerjakannya baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, yaitu dua rakaat sebelum Shubuh dan dua rakaat setelah Ashar."
Dari jalan lain, juga dari Aisyah, ia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak pernah sehari pun datang kepadaku setelah shalat Ashar, kecuali {terlebih dahulu} beliau shalat dua rakaat."
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Catatan Kaki:
330. Akan disebutkan pada kitab ke 25 bab 72 dari dua jalur berbeda darinya.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Mukhtashar Shahih Al Imam Al Bukhari, Penulis: Imam Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullaah, tanpa keterangan penerbit, tanpa keterangan cetakan, tanpa keterangan tahun, Judul Terjemahan: Ringkasan Shahih Bukhari Jilid 1, Penerjemah: Asep Saefullah FM, M.A., Drs. Kamaluddin Sa'adiyatulharamain, Editor: Abu Rania, Abu Fahmi Huaidi, Fajar Inayati, Penerbit: Pustaka Azzam, Jakarta - Indonesia, Cetakan keenam, Nopember 2013 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Pendahuluan (9) | Tafsir Al-Qur-an Al-'Azhim Juz 1
Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah.
Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi rahimahullah.
Bahrun Abu Bakar Lc.
H. Anwar Abu Bakar Lc.
Pendahuluan (9).
Syu'bah ibnul Hajjaj dan lain-lainnya pernah mengatakan bahwa pendapat para tabi'in dalam masalah furu' (cabang) bukan merupakan suatu hujah, maka bagaimana pendapat mereka dalam tafsir dapat dijadikan sebagai hujah? Dengan kata lain, pendapat mereka tidak dapat dijadikan sebagai hujjah terhadap selain mereka yang berpendapat berbeda, dan memang pendapat ini benar. Akan tetapi, jika mereka sepakat atas sesuatu hal, tidak diragukan lagi kesepakatan mereka itu merupakan suatu hujah. Jika mereka berselisih pendapat, maka pendapat sebagian dari mereka tidak dapat dijadikan sebagai hujah atas yang lainnya, tidak pula atas orang-orang sesudah mereka. Sebagai jalan keluarnya ialah merujuk kepada bahasa Al-Qur'an, atau sunnah, atau bahasa Arab secara umum, atau pendapat para sahabat.
Mengenai menafsirkan Al-Qur'an berdasarkan rasio belaka, hukumnya haram menurut riwayat Muhammad ibnu Jarir. Dia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, Yahya ibnu Sa'id, Sufyan; dan telah menceritakan kepadaku Abdul A'la, yaitu Ibnu Amir Ats-Tsa'labi, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang bersabda:
Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri atau dengan apa yang tidak ia ketahui, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di Neraka.
Demikianlah menurut yang diketengahkan oleh Imam Turmudzi dan Imam Nasai melalui berbagai jalur Sufyan Ats-Tsauri. Hadis yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Abu Daud, dari Musaddad, dari Abu Awanah, dari Abdul A'la secara marfu'. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini hasan. Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Yahya ibnu Thalhah Al-Yarbu'i, dari Syarik, dari Abdul A'la secara marfu'. Tetapi hadis ini diriwayatkan pula oleh Muhammad ibnu Hummad ibnu Humaid, dari Al-Hakam ibnu Basyir, dari Amr ibnu Qais Al-Malai, dari Abdul A'la, dari Sa'id, dari Ibnu Abbas secara mauquf. Juga dari Muhammad ibnu Humaid, dari Jarir, dari Laits, dari Bakr, dari Said ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dianggap sebagai perkataan Ibnu Abbas sendiri (mauquf).
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Abbas ibnu Abdul Azhim Al-Anbari, Hayyan ibnu Hilal, Sahl (saudara Hazm), dan Abu Imran Al-Juni, dari Jundub, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Barang siapa yang mengartikan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, sesungguhnya dia telah keliru.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, dan Imam Nasai, dari hadis Sahl ibnu Abu Hazm Al-Qutai'i. Imam Turmudzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat garib karena ada sebagian ahlul 'ilmi membicarakan tentang diri Suhail. Menurut lafaz hadis lainnya -dari mereka juga- disebutkan seperti berikut:
Barang siapa yang mengartikan Kitabullah dengan pendapatnya sendiri dan ternyata benar, maka sesungguhnya dia keliru.
Dengan kata lain, dia telah memaksakan diri melakukan hal yang tiada pengetahuan baginya tentang hal itu, dan dia telah menempuh jalan selain dari apa yang diperintahkan kepadanya. Seandainya dia benar dalam mengupas makna sesuai dengan apa yang dimaksud, ia masih tetap tergolong keliru karena jalur yang dilaluinya bukan yang semestinya. Perihalnya sama dengan orang yang memutuskan hukum di antara manusia tanpa pengetahuan, maka dia masuk Neraka, sekalipun hukum yang diputuskannya sesuai dengan kebenaran yang dimaksud, hanya saja dosanya lebih ringan daripada dosa orang yang keliru.
Baca selanjutnya:
Kembali ke Daftar Isi Buku ini.
Kembali ke Daftar Buku Perpustakaan ini.
===
Maraji'/ Sumber:
Kitab: Tafsiirul Qur-aanil 'Azhiim, Penulis: Al-Imam Abul Fida Isma'il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan dan Tahun, Judul Terjemahan: Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 Al-Faatihah - Al-Baqarah, Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Lc, H. Anwar Abu Bakar Lc, Penyunting: Drs. Ii Sufyana M. Bakri, Penerbit: Sinar Baru Algensindo, Bandung - Indonesia, Cetakan Ketiga, 2003 M.
===
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!