Kemuliaan Rasulullah (25)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Hadits ini diangkat dari riwayat Buraid yang bersumber dari Abu Bardah dan hadits ini juga dibuktikan dengan sebuah hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dengan redaksi seperti hadits tersebut, namun memiliki redaksi yang lebih lengkap.

Juga dimuat di dalam kitab "Mukhtashar" (no. 312), pada lafadz akhirnya berbunyi,

"Para pengikut yahudi dan nasrani pun marah dan berkata, 'Kenapa kami, padahal kami banyak beramal, namun kami hanya mendapat sedikit balasan?' Allah berfirman, 'Apakah Aku menzhalimi ganjaran dari kalian sedikitpun?' Mereka menjawab, 'Tidak pernah.' Allah berfirman, 'Itu adalah merupakan fadhilah yang Aku miliki dan Aku memberikannya kepada orang yang Aku kehendaki.'"

Dalam kitab "Al Bidayah", Al Hafidz Ibnu Katsir berkomentar setelah membawakan hadits tersebut:

"Maksud dari perumpamaan tersebut adalah sebagai determinasi ganjaran yang diperoleh dengan sedikitnya amal (yang dilakukan). Tapi hal ini masih relatif tergantung pada faktor lain yang dipandang penting di sisi (kebijakan) Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan berapa banyak amal yang sedikit, tetapi lebih berguna dan berpahala dari (hanya) amalan yang banyak.

Misalnya, ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar yang merupakan ibadah yang lebih afdhal dari ibadah seribu bulan. Atau juga seperti infaq yang diberikan oleh para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (walau sedikit) tetapi dilakukan dalam beberapa waktu (sering), adalah lebih baik dari infaq yang diberikan orang lain dengan memberikan emas (walau hampir menandingi berat satu mud -kurang lebih 6 ons, atau setengah korma yang diinfakkannya-).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah diangkat menjadi seorang Nabi, saat beliau berumur empat puluh tahun. Dan dipanggil kehadirat-Nya saat beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam berumur enam puluh tiga tahun. Dalam selang waktu 23 tahun, nampak sekali bahwa ilmu yang diamalkannya lebih bermanfaat dibanding ilmu-ilmu para Nabi sebelumnya. Hingga pula melebihi kemanfaatan ilmu Nabi Nuh 'alaihis salam pun yang tinggal bersama kaumnya selama 950 tahun, mengajak mereka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, dan tidak menyekutukan-Nya, serta taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala saat malam dan siang, pagi dan petang.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (24)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

t. Al Qur`an dan substansi ajaran kitab sebelumnya.

27. Al Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memuat semua (ajaran) yang tertera di dalam Taurat, Injil dan Zabur dan melebihkannya dengan Al Mufashal.

Albani menilai, bahwa bukti yang memperkuat riwayat ini adalah hadits dari Watsilah bin Al Asqa, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Aku telah diberikan tujuh buah surat panjang (Sab'u Ath-Thiwaal) sebagai tempat (pengganti) Taurat. Dan aku juga telah diberikan beberapa surat yang ayatnya berjumlah seratus lebih (Al Miaini) sebagai tempat (pengganti) Zabur. Dan aku telah diberi beberapa surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus (Al Matsani) sebagai tempat (pengganti) Injil, serta dilebihkan dengan surat-surat pendek."

Hadits ini shahih seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Al Hadits Ash-Shahihah" no. 158. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dimuat dalam kitab "Ad-Dalail" halaman 28, bersumber dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dengan riwayat marfu' yang cukup panjang. Di dalamnya memuat hadits yang diriwayatkan oleh Watsilah, dan As-Suyuthi menampilkannya di dalam kitab "Al Khashaish" (3/239). Namun hal ini tidak diperbolehkan, karena dalam sanad haditsnya terdapat Ishaq bin Basyar alias Abu Hudzaifah Al Kahili. Adz-Dzahabi mengungkapkan, "Hadits ini tidak boleh dipakai, dan para ahli hadits telah menjustifikasi kebohongan Matruk dan Ali bin Al Madini." Ad-Daruquthni berkomentar bahwa dia adalah "Kadzab (pembohong) dan matruk (haditsnya ditinggalkan)."

u. Amal dan pahala umat Muhammad (Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

28. Umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam kendatipun amalnya sedikit dari umat sebelumnya namun akan lebih banyak mendapat ganjaran dan pahala. Hal ini sebagaimana banyak disebutkan dalam hadits yang shahih.

Albani menerangkan tentang hadits yang dimaksud adalah hadits Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu yang dikatakan dari sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Perumpamaan umat Islam, yahudi dan nasrani, seperti perumpamaan seseorang yang menyewa beberapa orang untuk mengerjakan satu tugas dalam sehari semalam dengan upah tertentu. Lalu mereka melaksanakan tugas tersebut hingga tengah hari, lantas mereka berkata, 'Kami tidak butuh akan upah yang engkau janjikan kepada kami, dan (karena) apa yang telah kami kerjakan adalah bathil.' Majikan tersebut menjawab, 'Tidak, jangan kalian lakukan itu, lanjutkan sisa pekerjaan kalian dan ambillah upah kalian dengan penuh.' Namun mereka tetap enggan dan meninggalkan pekerjaan tersebut. Setelah itu sang majikan menyewa dua orang lain (untuk menggantikan pegawai yang telah pergi) dan berkata kepada mereka berdua, 'Lanjutkan sisa pekerjaan hari ini dan kalian akan memperoleh upah yang saya janjikan kepada pekerja-pekerja sebelumnya.' Lalu mereka bekerja. Hingga ketika tiba waktu ashar, kedua pegawai tersebut berkata, 'Ambillah kembali pekerjaan ini, (karena) apa yang telah kami kerjakan adalah bathil, dan ambillah upah yang kamu janjikan kepada kami.' Sang majikan menjawab, 'Lanjutkan sisa pekerjaan kalian, karena waktu siang yang tersisa hanya tinggal sebentar.' Tapi mereka berdua menolaknya. Kemudian sang majikan kembali menyewa beberapa orang untuk melanjutkan pekerjaan sisa hari itu. Lalu mereka mengerjakannya. Hingga matahari terbenam dan mereka menyelesaikan pekerjaan tersebut kemudian memperoleh upah (gabungan) dari para pekerja sebelumnya. Demikianlah perumpamaan mereka dan perumpamaan apa yang mereka dapatkan dari cahaya ini (Islam).'" (HR. Bukhari (3/90-91))

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (23)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan mengenai kata "turaabahaa" (tanahnya), Albani mengomentari bahwa seperti itulah teks aslinya yang ditemukannya yang tercantum dalam cetakan. Sedangkan yang ada pada Muslim menggunakan kalimat "Turbatuha" bukan "Turaabaha". Serta disebutkan oleh As-Suyuthi dalam kitab "Al Jami Ash-Shaghir" (no. 4099 -"Shahih Al Jami"). Sedangkan lafadz hadits tersebut berasal dari riwayat Hudzaifah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi,

"Kami diberikan keistimewaan dari umat lainnya dalam tiga hal (yaitu): 'Barisan kami dijadikan seperti barisan Malaikat, bumi seisinya dijadikan sebagai masjid bagi kami, dan tanahnya dijadikan suci bagi kami apabila tidak ditemukan air." (HR. Muslim dan lain-lain)

r. Keagungan budi pekerti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

25. Pujian Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap akhlak dan budi pekerti Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Seperti dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al Qalam (68): 4)

Dan ketika sebuah figur yang agung memuji dan mengagungkan sesuatu, hal ini mengindikasikan akan adanya keagungan orang yang dipujinya melebihi keagungan orang yang mengagungkannya tersebut. Lalu bagaimana andai yang memuji dan mengagungkannya adalah Sang Maha Agung?

s. Macam-macam wahyu.

26. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berdialog dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lewat tiga macam wahyu, yaitu:

a. Mimpi yang benar (mimpi yang sangat mendekati kenyataan sadar).

b. Berbicara langsung tanpa perantara.

c. Melalui Jibril (lewat pesan-Nya).

Albani menambahkan, bahwa menurutnya tersisa satu macam lagi pola Allah Subhanahu wa Ta'ala berdialog dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lewat wahyu-Nya, yaitu dengan cara meniupkan ke dalam hati. Seperti yang dikemukakan dalam sebuah hadits dari Abu Umamah dan lain-lain yang berbunyi,

"Sesungguhnya Jibril telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku. Dan seseorang tidaklah akan menemui kematiannya hingga waktu (ajalnya) tiba dan rezeki (yang menjadi haknya) telah cukup. Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap baiklah dalam segala usaha. Dan janganlah seseorang di antara kalian yang sekali-kali berbuat maksiat karena rezekinya agak terlambat. Karena Allah tidak akan menerima sesuatu dari hamba-Nya kecuali dengan jalan berbuat taat kepada-Nya." (Hadits ditakhrij dalam kitab "Fiqih As-Sirah" no. 96, bagian ini dinukil oleh As-Suyuthi (3/153) dari penulis buku ini. Untuk lebih detail lihat kembali pembahasan tentang macam-macam wahyu yang dikemukakan di dalam kitab "Zaad Al Ma'ad".

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (22)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

p. Umat terakhir.

23. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Kami adalah umat terakhir dan terdahulu."

(Sumber riwayat hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari riwayat Thawus, dan takhrij hadits ini telah dibahas pada pembahasan hadits no. 17, yang diriwayatkan dari Abu Nu'aim dengan riwayat Hammam dan bersumber dari riwayat Muslim).

Penulis (Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimayqi) menilai bahwa hadits di atas menunjukkan akan keberadaan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai umat yang datang dengan urutan zaman yang paling akhir, tetapi paling awal untuk memperoleh kemuliaan dan keistimewaan.

q. Dihalalkannya harta rampasan bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

24. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam diberikan keistimewaan dengan dihalalkannya (oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menggunakan) harta hasil rampasan perang, yang dulunya tidak diperbolehkan bagi siapapun (termasuk Nabi-nabi sebelumnya). Dan kelak, barisan umatnya akan menyerupai barisan Malaikat, bumi dijadikan sebagai masjid dan tanahnya suci. Keistimewaan ini membuktikan akan kemuliaan martabat beliau dan kasih atas umatnya.

Albani mengomentari, bahwa lafadz hadits ini adalah shahih, dan bersumber dari beberapa sahabat dengan lafadz yang tidak jauh berbeda. Dan hampir menyerupai lafadznya yaitu sebuah hadits marfu' dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu yang berbunyi,

"Aku telah diberikan lima keutamaan yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabipun sebelumku. Aku diutus kepada seluruh umat, bumi dijadikan sebagai masjid dan tempat yang suci, dihalalkan (bagiku) harta rampasan perang. Sedangkan Nabi sebelumku tidak diperbolehkan. Aku akan ditolong dari ketakutan selama sebulan, musuh takut akan diriku selama perjalanan sebulan. Aku diperintahkan, 'Mintalah, niscaya akan dikabulkan.' Lalu aku menangguhan permohonanku tersebut sebagai syafa'at bagi umatku, dan insya Allah (isi permohonan tersebut) akan diberikan kepada siapa yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun." (HR. Ahmad dan lain-lain dengan sanad yang shahih. Dan telah ditakhrij di dalam kitab "Al Irwa", halaman 285, hadits no. 5)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (21)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Al Haudh.

Adapun tentang Al Haudh (telaga), banyak sekali hadits yang dapat ditemukan yang menceritakan tentang topik ini. Yang jumlahnya dapat mencapai derajat mutawatir dan dengan jumlah tersebut menjadikannya sebagai bagian dari sesuatu yang qath'i (absolut). Al Hafidz Ibnu Hajar menilai bahwa hal ini terjadi karena dapat ditemukan lebih dari 30 sahabat yang meriwayatkannya langsung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Di antaranya terdapat dalam kitab "Shahih Bukhari dan Muslim", yang menunjukkan lebih dari 20 orang sahabat yang meriwayatkan hadits tentang tema ini, dan sisanya terdapat dalam kitab-kitab Shahih lainnya yang juga penukilannya dikategorikan sebagai shahih, serta dengan perawinya yang masyhur.

Albani juga mengemukakan bahwa riwayat-riwayat hadits tersebut telah diteliti oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitabnya "As-Sunnah" (2/321-360 no. 697-776) yang jumlah perawinya lebih dari 35 orang sahabat. Untuk beberapa sahabat terdapat lebih dari satu riwayat yang lengkap nama-namanya sebagai berikut:

1. Umar bin Khaththab, 2. Anas bin Malik, 3. Zaid bin Arqam, 4. Abu Barzah Al Aslami, 5. Al Barra bin 'Azib, 6. 'Aidz bin Amr, 7. Khaulah binti Hakim, 8. Tsauban, 9. Utbah bin Abdussulami, 10. Ubay bin Ka'ab, 11. Abdullah bin Amr, 12. Abu Dzar, 13. Abu Said Al Khudri, 14. Hudzaifah bin Al Yaman, 15. Abdullah bin Umar, 16. Abu Umamah, 17. Rajul bin Khuzah, 18. Abu Hurairah, 19. Samurah bin Jundub, 20. Uqbah bin Amir, 21. Abdullah bin Mas'ud, 22. Abu Darda, 23. Jabir bin Samurah, 24. Ash-Shanabihi, 25. Jubair bin Muthim, 26. Sahl bin Sa'ad, 27. Abdullah bin Abbas, 28. Abu Bakar Ash-Shiddiq, 29. Usaid bin Hudhair, 30. Abdullah bin Zaid, 31. Zaid bin Tsabit, 32. Ka'ab bin Ajarah, 33. Khubab bin Al Arif, 34. Hudzaifah bin Usaid, 35. Abu Bakar, 36. 'Aisyah, 37. Jabir bin Abdullah.

Ibnu Abbas mengungkapkan yang singkatnya sebagai berikut, "Hadits-hadits yang telah kami sebutkan tentang telaga (yang dijanjikan bagi) Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam sangat perlu diketahui. Kami mempercayai dan membenarkan akan keberadaannya, dan kami berharap dari sikap tersebut agar Allah Subhanahu wa Ta'ala juga akan menganugerahkannya kepada kami. Sehingga kami dapat meneguk setegukan (dari airnya) agar dapat menghilangkan dahaga kami untuk selama-lamanya. Dan kami juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk merestui kami akan karunia tersebut."

Kemudian tentang kalimat, "...saat sedang berada di mauqif", kalimat ini menunjukkan bahwa telaga tersebut berada sebelum lokasi Shirath. Dan makna inilah yang terimplikasi dari hadits-hadits yang mengulas tentang hal tersebut. Dan pendapat ini kemudian dikuatkan oleh Ibnu Hajar.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (20)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Adapun pendapat Ibnu Hajar dalam kitabnya "Fath Al Bari" (11/354) yang menentang pendapat Ibnu Taimiyyah tersebut, adalah kurang mendasar. Karena penambahan kebenaran sebuah hadits adalah apabila hadits tersebut diriwayatkan dari sumber yang tidak bertentangan dengan otentisitas riwayat yang sesungguhnya yang lebih otentik ataupun lebih populer (banyak) diriwayatkan oleh para ahli riwayat.

Semua ini jelas, dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Sementara hadits ini adalah yang dinukil oleh As-Suyuthi (3/449) dari pengarang teks asli buku ini Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

o. Telaga Al Kautsar.

22. Di dalam Surga terdapat Al Kautsar (nikmat yang banyak) yang dikaruniakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan Haudh (telaga) yang diberikan kepada beliau saat sedang berada di mauqif (telaga yang berada sebelum Shiraathal Mustaqiim).

Albani mengomentari bahwa ungkapan Al Kautsar yang dimaksud di atas, telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) Al Kautsar." (QS. Al Kautsar (108): 1)

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dalam menafsirkan kata "Al Kautsar" dengan kenikmatan berlimpah yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan makna ini tidak menyalahkan ucapan Aisyah radhiyallahu 'anhuma (berdasarkan riwayat Bukhari) yang menafsirkan makna kata "Al Kautsar" ini dengan sebuah sungai yang akan diberikan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang pada kedua tepinya terdapat mutiara yang berserakan, dengan bejana yang banyak sebanyak bintang di langit.

Albani menilai bahwa penafsiran tersebut tidak menafikan substansi makna "Al Kautsar" secara umum, karena sungai tersebut adalah karunia berlimpah yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan banyak sekali hadits yang berkenaan dengan topik ini, yang dapat ditemukan di dalam riwayat Bukhari dan Muslim, seperti di dalam sebuah hadits yang dinukil dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam di-mi'raj-kan ke langit beliau bersabda, 'Aku mendatangi sebuah sungai yang kedua tepinya terdapat setumpuk mutiara yang berserakan. Lalu aku bertanya, 'Wahai Jibril, apakah ini?' Dia menjawab, 'Inilah Al Kautsar.'" (HR. Bukhari 8/562). Dapat ditemukan di dalam kitab "Hadi Al Arwah ila Bilad Al Afrah" karya Ibnu Qayyim 1/283-287.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (19)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Lihat kitab "Shahih Al Jami Ash Shaghir" no. 7926-7927. Juga, lihat hadits yang dinukil dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu yang di dalamnya terdapat penegasan akan keutamaan lain daripada hadits-hadits yang dinukil darinya dengan lafadz,

"Tuhanku menjanjikan kepadaku bahwa akan masuk Surga di antara umatku sebanyak 70 ribu orang tanpa harus terkena jerat hisab ataupun siksaan. Dalam setiap kelipatan seribu tersebut, terdapat 70 ribu orang. Ditambah dengan 3 kecenderungan (kebijakan khusus) dari-Nya." (HR. Tirmidzi (2439), Ibnu Majah (3286), Ahmad (5/268), dengan sanad yang shahih serta ditambah dengan sebuah jalur riwayat lainnya. (5/250))

Hadits ini juga dapat ditemukan di kitab "As-Sunnah" karya Ibnu Abu 'Ashim yang dinilai keshahihannya oleh Ibnu Hajar yang dianalisanya dalam kitab "Dhilal Al Jannah" (814). Serta riwayat lainnya dari hadits Abu Hurairah dan Anas radhiyallahu 'anhuma yang dinukil oleh Imam Ahmad (2/359, dan 3/165, 193).

Ulasan.

Pada hadits Imran bin Hushain dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum, ditambahkan dengan lafadz,

"(Mereka yang akan masuk Surga tanpa hisab adalah) orang-orang yang tidak mencuri, tidak bercerai-berai, tidak mendendam, dan kepada Tuhannya mereka bertawakal."

Imam Muslim menambahkan redaksi hadits ini dengan lafadz, "... Mereka adalah yang suka menolak kebenaran sebuah hadits, dan tidak suka mencuri."

Ibnu Taimiyyah di dalam beberapa fatwa dan usahanya mendirayah hadits, mendha'ifkan penambahan lafadz ini. Tetapi dia tidak menjelaskan secara rinci mengenai alasan penolakannya tersebut (lihat kitab karyanya "Majmu' Al Fatawa"). Akan tetapi dia sedikit mengulas sindiran tentang hadits ini.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (18)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

m. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemilik wasilah.

20. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda,

"Wasilah adalah tempat di Surga yang hanya pantas ditempati oleh hamba Allah. Aku berharap agar aku menjadi salah satunya, maka barangsiapa yang memohon wasilah tersebut (agar diberikan) bagiku, niscaya dia akan memperoleh syafa'at (dariku)."

Albani menambahkan keterangan seputar hadits ini dengan menyebutkan sebuah hadits yang bersumber dari riwayat Abdullah bin 'Amru radhiyallahu 'anhu yang mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Apabila kalian mendengar seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah (sambutan kalimatnya) seperti apa yang diucapkannya. Lalu bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat (untukku) satu kali, niscaya Allah akan membalasnya dengan (imbalan seperti) sepuluh kali shalawat. Dan mohonlah wasilah kepada Allah bagiku, karena wasilah tersebut akan menjadi tempat (bagi sang pendoa) di Surga..." (HR. Muslim dan lain-lain. Ditakhrij dalam kitab "Al Irwaa`" no. 242)

n. 70 ribu orang yang akan masuk Surga.

21. Sebanyak 70 ribu dari umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam akan masuk Surga tanpa hisab, dan tidak diberikan (keistimewaan ini) kepada umat selainnya.

Albani menilai bahwa, terdapat banyak hadits yang mengulas tentang hal ini di dalam kitab Shahih karya Bukhari dan Muslim atau lain-lainnya yang dinukil dari riwayat beberapa sahabat radhiyallahu 'anhum. Di antaranya adalah Abu Hurairah, Imran, Sahl bin Sa'ad, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum dari mereka inilah Imam Muslim yang meriwayatkan hadits tersebut (1:136-138)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (17)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Nampaknya, As-Suyuthi telah alfa dan kembali menisbatkan hadits tersebut dengan derajat shahih dalam kitabnya "Az-Ziyadah 'Ala Al Jami Ash-Shaghir". Lihat: kitab "Shahih Al Jami" no. 1028.

3. Kekeliruan Dr. Muhammad Khalil Harras yang telah mengomentari hadits ini ketika dia mentahqiq kitab "Al Khashaish" dengan berkata, "Hadits ini tidak ditemukan dalam kitab hadits Ibnu Majah..."?, selanjutnya beliau menyebutkan bahwa Muslim dan Nasa`i meriwayatkan hadits tersebut dari riwayat Hudzaifah dengan lafadz, "Allah Subhanahu wa Ta'ala tiada memberi hidayah bagi umat sebelum kami pada hari Jum'at...sedangkan kami umat yang terakhir..."

Lalu dia menyebutkan seperti yang disebutkan sebelumnya, begitu pula menurut riwayat Ibnu Majah pada tempat yang telah kami sebutkan nomor haditsnya. Asumsi beliau kurang tepat, dengan menganggapnya dari hadits ini dibawa oleh Hudzaifah saja. Tapi sebenarnya banyak sekali para perawi yang turut meriwayatkannya melalui jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dan Abu Awanah juga meriwayatkannya dalam kitab "Shahih"-nya 1/175.

l. Orang pertama pemberi syafaat.

18. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika menyebutkan tentang kemuliaan secara mutlak. Beliau kemudian menjelaskannya lebih spesifik dengan ungkapan,

"Pada hari Kiamat, (beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam) adalah manusia pertama yang dibangkitkan dari kubur, yang pertama memberi dan diberi syafa'at." (Hadits ini telah dikomentari sebelumnya pada ulasan hadits no. 6)

19. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memberitahukan bahwa pada hari Kiamat kelak, beliau akan menjadi seorang manusia yang paling dinanti-nanti (kedatangan dengan syafa'atnya) oleh seluruh umat manusia, hingga termasuk Nabi Ibrahim 'alaihis salam yang turut menantinya.

Albani mengisyaratkan topik ini pada pembahasannya tentang hadits syafa'at yang cukup panjang, dan telah ditakhrijnya pada pembahasan terdahulu dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. (Lihat komentarnya pada pembahasan hadits no. 4, serta hadits dari riwayat Anas radhiyallahu 'anhu pada pembahasan hadits no. 5).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (16)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dari riwayat Abu Shalih langsung dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafadz,

"Kami adalah umat terakhir dan pertama pada hari Kiamat, dan kami umat yang pertama masuk Surga. Kendatipun mereka (umat-umat sebelum kami) telah diberikan (kepada mereka) sebuah kitab suci, dan kami pun diberikan sebuah kitab (Al Qur`an) setelah mereka. (Akan tetapi) kemudian mereka berselisih, dan Allah memberikan hidayah-Nya kepada kami..." (Al Hadits)

Kemudian diriwayatkan pula oleh Muslim dan Bukhari dalam bab "Jum'at" dan bab "Bani Israil" dari riwayat Thawus dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan lafadz,

"Kami adalah umat yang terakhir dan terdahulu pada hari Kiamat, mereka telah diberikan kitab..." (HR. Ibnu Qayyim)

Ia menisbatkan hadits ini kepada Bukhari dan Muslim dalam kitab "Haadi Al Arwah" (1/178) dengan tambahan lafadz, serta mengganti kata ganti orang ketika dengan "dia dan mereka". Dan As-Suyuthi juga menyebutkannya dalam kitab "Al Khashaish" (3/249) bab, "Keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bahwa umatnya akan masuk Surga sebelum yang lain masuk", dan bab sebelumnya. Tetapi dia tidak menyebutkannya dalam bab tersebut sebuah keterangan yang baik, kecuali dalam hadits dari Hudzaifah yang merupakan inti argumentasinya, walaupun tidak diterangkan secara jelas.

Perlu diingat, bahwa ada tiga orang ulama yang telah salah dalam meriwayatkan seputar hadits ini, yaitu:

1. Penulis naskah asli buku ini (Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi) yang menggabungkan hadits ini dengan tambahan hadits yang lain).

2. Al Hafizh As-Suyuthi, yang menisbatkan hadits ini hanya kepada Ibnu Majah (3/244). Ini merupakan kesalahan fatal yang dilakukan olehnya karena tidak dibenarkan untuk menisbatkan sebuah hadits yang telah disebut dalam Shahih Bukhari dan Muslim (kedua-duanya atau salah satunya), dengan menisbatkannya kepada Imam lain. Walaupun Imam yang dinisbatkan tersebut merupakan figur yang masyhur atau terhormat.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (15)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Kemudian saya mentakhrij hadits tersebut (1/109) dari riwayat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang mengatakan, "Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di-Isra'-kan, Jibril berhenti di Sidhratul Muntaha bersama beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam, letaknya di langit keenam. Di sanalah berakhir segala sesuatu yang datang dari bumi. Lalu tertahan (menetap tidak bergerak) di situ, dan di sanalah berakhir segala sesuatu yang turun dari atas Sidhratul Muntaha kemudian tertahan (diam tidak bergerak).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan ceritanya dengan berkata, "(Muhammad melihat Jibril) saat Sidhratul Muntaha diliputi dengan sesuatu yang meliputi." Maksud yang meliputi adalah kasur dari emas. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Selanjutnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dianugerahi 3 perkara, yaitu: Shalat lima waktu, penutup surat Al Baqarah dan diberikan ampunan bagi orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun."

k. Orang pertama masuk Surga.

17. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Kami adalah umat terakhir dari penduduk dunia dan yang pertama pada hari Kiamat, umat yang lebih dahulu diadili sebelum yang lainnya, dan kami adalah yang pertama akan masuk Surga." (Diriwayatkan oleh Muslim (3/7), Abu Awanah dalam kitab-kitab Shahih (1/175), An Nasa`i halaman 224 cetakan Hindiyah dan Ibnu Majah no. 1083)

Albani menerangkan:

Dari Abu Hazim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dan dari Rubi' bin Harrash dari Hudzaifah mereka berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Allah tidak menjadikan hari Jum'at sebagai hari besar bagi umat-umat sebelum kami. Umat yahudi mempunyai hari (istimewa) adalah Sabtu, dan hari Minggu bagi umat nasrani. Kemudian Allah beralih kepada kami dan memberikan hidayah-Nya hari Jum'at kepada kami. Hingga Dia melengkapi hari menjadi hari Jum'at, Sabtu dan Minggu. Dan mereka akan mengikuti kami pada hari Kiamat, sedang kami adalah umat yang terakhir." ...(Dan selanjutnya tanpa ada penambahan),... "Dan kami adalah umat yang pertama masuk Surga (sedangkan kami adalah umat yang terakhir)." (HR. Muslim (3/6-7))

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (14)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Albani menambahkan:

"Menurut hemat saya bahwa dalam ungkapan tersebut mengandung peringatan halus bahwa tidak ada ketidak-relevansian antara ayat di atas dengan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala lainnya, "Tidak ada satu umat pun kecuali diutus kepada seorang pemberi peringatan." Sebab yang dimaksud pada ayat pertama adalah zamannya Shallallahu 'alaihi wa Sallam, sedangkan yang kedua adalah masa sebelumnya Shallallahu 'alaihi wa Sallam."

j. Dialog antara Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

16. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berbicara kepada Nabi Musa 'alaihis salam di bukit Sinai dan lembah suci. Sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam diajak bicara di Sidratul muntahaa.

Albani menambahkan:

"Paragraf ini disadur penulis dari As-Suyuthi dalam kitab "Al Khashaish" (3/151). Dan dia merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surah An-Najm, "Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan."

Seperti juga dengan firman-Nya, "(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya."

Dalam sebuah hadits tentang Isra' yang diriwayat oleh Anas radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Kemudian Jibril pergi bersamaku menuju Sidratul Muntaha dan ternyata daun-daunnya seperti daun gajah, buah-buahannya seperti anjang-anjang (tiang penopong)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan sabdanya, "Sidratul Muntaha selalu diliputi oleh segala sesuatu (yang tunduk akan) perintah Allah, kapanpun turun perintah-Nya untuk berubah, maka dia pun berubah. Tak ada seorangpun yang sanggup menggambarkan akan keindahannya. Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang telah diwahyukan. Selanjutnya diwajibkanlah kepadaku shalat 50 waktu sehari semalam... [hingga akhir hadits yang berbunyi,] Allah berfirman, "Wahai Muhammad, sesungguhnya (shalat 50 waktu) menjadi 5 waktu setiap pagi dan malam. Dan pada setiap satu shalat wajib bernilai sepuluh waktu. Dengan demikian menjadi 50 shalat." (HR. Muslim (1/101), dan Bukhari no. 193-194 dalam "Mukhtashar"-nya)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (13)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan firman lainnya yang berbunyi, 'Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan kepada hamba-Nya (Muhammad) agar menjadi pemberi peringatan bagi alam semesta.'

Di dalam sebuah hadits disebutkan,

'Aku telah dianugerahi lima keutamaan yang belum pernah ada seorang Nabipun diberi hal serupa sebelum aku diutus: Aku ditolong dari rasa takut dalam perjalanan satu bulan, bumi telah dijadikan sebagai tempat bersujud dan bersuciku, siapa saja dari umatku yang mendapati tibanya waktu shalat, hendaknya dia melakukan shalat, harta rampasan perang dihalalkan bagiku; Nabi terdahulu hanya diutus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia dan aku diberikan wewenang memberikan syafa'at di hari Kiamat.' (HR. Bukhari Muslim dan lain-lain dari riwayat Jabir radhiyallahu 'anhu. Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Irwa Al Ghalil", halaman 285, hadits no. 2)"

Para Nabi memperoleh pahala dakwah yang (telah langsung) disampaikannya dalam dakwah kepada umatnya, dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam akan mendapatkan pahala seperti yang mereka dapatkan. Hanya saja beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam akan mendapatkan pahalanya sesaat setelah beliau melaksanakan dakwahnya, serta pahala yang berhubungan dengan dakwahnya tersebut (pahala yang tidak langsung).

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

"Dan seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami utus seorang pemberi peringatan di setiap negeri." (QS. Al Furqaan (25): 51)

Pesan implisit (tersirat) dari ayat tersebut adalah, andai diutus pada setiap negeri seorang pemberi peringatan -sebagaimana diutusnya beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam-, niscaya dia akan memperoleh pahala dakwah yang disampaikannya kepada penduduk negeri tersebut.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (12)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Oleh karena itu, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melakukan perjalanan pada malam isra'-nya, beliau mendapatkan Nabi Musa 'alaihis salam menangis karena merasa iri kepada beliau. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam masuk Surga dibanding umat Nabi Musa. Sebenarnya yang ditangisi Nabi Musa 'alaihis salam bukanlah karena rasa irinya -seperti rumor yang diyakini oleh beberapa orang bodoh-, tetapi yang ditangisinya adalah karena prihatin terhadap peluang keutamaan yang diperolehnya (yang tidak sebanding dengan apa yang diperoleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam).

Albani menegaskan:

Cerita ini terdapat dalam kisah Isra' Mi'raj yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu secara marfu', yang berbunyi,

"...kemudian Jibril naik bersamaku ke langit yang keenam... Ketika aku tiba, aku bertemu dengan Musa. Jibril berkata, 'Ini dia Musa, berilah salam kepadanya.' Lalu akupun memberi salam dan Musa menjawab salamku. Selanjutnya dia berkata, 'Kuucapkan selamat datang kepada saudaraku yang baik. Nabi yang baik.' Namun ketika aku pergi meninggalkannya, diapun menangis. Musa ditanya, 'Gerangan apa yang membuatmu menangis?' 'Aku menangis karena ada orang yang diutus setelahku yang umatnya lebih banyak masuk Surga dari umatku.' Jawab Musa."

i. Universalitas risalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

15. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengutus para Nabi secara khusus kepada kaumnya, sedang Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah diutus kepada jin dan segenap manusia.

Dalam hal ini Albani menambahkan:

"Seperti yang tercantum dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, 'Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.'

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (11)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan bagi setiap orang dari umat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang memiliki pengetahuan ('aarif) tentang (sirah atau biografi perjalanan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam), maka dia akan mendapatkan ganjaran atas pengetahuannya tersebut. Begitu juga bagi seorang dari umatnya yang berusaha untuk menjalani (meniru) pola hidup Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka dia akan mendapatkan ganjaran atas upayanya tersebut. Dan segala ucapan yang dilontarkannya untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari esensi ucapan dan dampak baik penyebaran ucapannya tersebut. Dan segala sikap yang juga diupayakannya untuk taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka dia akan mendapatkan ganjaran atas segala aktivitasnya tersebut, baik shalat, zakat, jihad, bakti kepada kedua orang tua, dzikir, sabar, pemaaf dan suka merangkul (bersikap toleran, ed.), maka dia akan mendapatkan ganjaran atas segala hasil usahanya tersebut.

Dan seseorang dari umat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidaklah akan mendapatkan kedudukan yang mulia dan martabat yang tinggi, kecuali apa yang akan diperolehnya berkat petunjuk dan tuntunan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam, ditambah lagi dengan ganjaran derajat dan martabatnya sebagaimana yang didapatkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dan ganjaran bagi seseorang yang telah berupaya untuk menyeru (berdakwah) kepada kebaikan dan petunjuk (Islam), atau melakukan segala yang telah digariskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, maka orang tersebut akan menuai pahala yang berlipat ganda dari amal kebajikan yang dilakukannya sendiri, serta ditambah dengan pahala amal kebajikan yang dilakukan oleh orang yang mengikuti anjurannya tersebut.

Albani menambahkan bahwa penulis ingin merujuk kepada hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk (Islam), baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan tidak sedikitpun pahala tersebut berkurang." (HR. Muslim dan lain-lain. Dan telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah", no. 863)

Pelipatgandaan pahala seperti ini, juga akan berlaku bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, karena beliaulah yang penyeru dan pemberi petunjuk yang utama akan semua hal-hal kebajikan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (10)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Albani mengomentari:

"Penulis ingin merujuk kepada hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Barangsiapa yang melakukan sebuah sunnah yang baik dalam Islam. Maka dia akan menuai ganjarannya. Dan ganjaran dari orang yang ikut mengamalkannya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun." (HR. Muslim dan lain-lain dari hadits Jarir bin Abdullah Al Bujali radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Ahkam Al Janaiz", halaman 176, cetakan Maktabah Islami.

Tingkatan keutamaan seperti ini tidak dimiliki oleh seorang Nabi pun selain beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

"Makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang paling dicintai oleh-Nya adalah yang paling bermanfaat bagi keluarganya."

Komentar Albani:

"Menurut hemat saya, hadits ini memiliki sanad yang lemah sekali meskipun hadits masyhur. Hal ini seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Silsilah Al Ahadits Adh-Dha'ifah", no. 3591, dan kitab "Ar-Randha An-Nadhir" (1/433-434). Dalam hubungan dengan hadits sepertinya akan cukup jelas dalam Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan secara marfu' dengan lafazh,

"Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Derajat hadits ini adalah hasan seperti yang telah saya jelaskan dalam kitab "Silsilah Al Ahadits Adh-Dha'ifah" no. 426. Seandainya saja penulis menggantinya dengan hadits ini, tentunya akan lebih baik.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam memiliki keutamaan pada dirinya untuk memberi manfaat kepada seluruh penghuni Surga, sedangkan para Nabi lain yang hanya dapat memberi manfaat kepada beberapa bagian saja dari keseluruhan penghuni Surga.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (9)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Menurut saya, hadits tersebut tidak hanya datang darinya namun diriwayatkan pula oleh Abu Nu'aim, halaman 418 dari dua riwayat lainnya. Jadi hadits ini menjadi kuat dengan keberadaan dua riwayat tersebut.

13. Mukjizat selanjutnya adalah, keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang dapat menghidupkan orang-orang yang hatinya telah mati dengan sinar keimanan yang dibawanya. Dan efektifitas keistimewaan ini jelas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan banyaknya jumlah dari orang-orang yang dihidupkan secara fisik oleh Nabi Isa 'alaihis salam.

Albani berkomentar:

Naskah asli dalam manuskrip tertulis, "Dari menghidupkan mereka", semoga yang benar seperti yang telah kami kemukakan di atas. Dan saya mendapatkan dalam edisi cetaknya konteks lafadz yang seperti saya ungkapkan tersebut. Namun entah kenapa disebutkan lafadz "Nabi Isa 'alaihis salam" yang kemudian sangat merusak orisinalitas maknanya.

h. Umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah umat terbaik.

14. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menggariskan ganjaran bagi setiap Nabi sesuai dengan amal perbuatan (sikap), kondisi (dinamika) dan ucapan (fenomena tanggapan) yang diapresiasikan oleh umatnya. Berbeda dengan kondisi umat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang sudah digariskan sebagai penghuni Surga. Sebagaimana yang memberitahukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah." (QS. Aali `Imraan (3): 110)

Dan keutamaan umat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam terletak pada keutamaan karakteristik wawasan, kondisi dinamis, ungkapan dan tingkah laku yang dimiliki oleh komunitas ini. Ditambah lagi dengan, kecenderungan spiritual (ibadah) dan pola cakap umatnya, serta kecenderungan mereka untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta tradisi mereka untuk bershalawat dan selalu mendoakan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang kesemuanya ini akan menjadi pendorong ganjaran kebaikan yang terus menerus bagi beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam hingga hari Kiamat kelak.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (8)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa mukjizat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam ini adalah lebih hebat dari mukjizat yang pernah dilakukan oleh Nabi Musa 'alaihis salam.

Albani melanjutkan:

"Menurut hemat saya, riwayat itu juga diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam kesempatan yang berbeda-beda dari sejumlah sahabat. Hadits-hadits mereka ditakhrij oleh Abu Nu'aim, halaman 345-350, As-Suyuthi (2/214-219), sebagiannya dalam kitab "Ash-Shahihain".

Seperti dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dikatakan, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika waktu shalat Ashar telah tiba, orang-orang mencari air wudhu namun tidak ditemukan. Kemudian beliau datang membawa air wudhu, lalu beliau meletakkan tangannya ke dalam wadah air wudhu tersebut. Dan beliau memerintahkan agar mereka segera berwudhu." Anas radhiyallahu 'anhu melanjutkan, "Kemudian saya melihat air memancar dari jari-jarinya. Orang-orang pun berwudhu hingga orang yang paling terakhir dari mereka."

12. Mukjizat Nabi Isa 'alaihis salam dapat mengembalikan (penglihatan) orang buta yang matanya masih berada (menempel) di tempatnya. Sedangkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam diberikan mukjizat untuk menyembuhkan mata seseorang yang telah keluar hingga pipinya.

Keistimewaan mukjizat ini meliputi dua dimensi:

a) Kemukjizatan untuk mengembalikan mata orang tersebut ke tempat wajarnya dengan sempurna.

b) Memulihkan penglihatan orang tersebut sediakala.

Albani menambahkan bahwa penulis ingin merujuk kepada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Abu Nu'aim dari riwayat 'Ashim bin Umar bin Qatadah, dari ayahnya, dari kakeknya Qatadah, bahwa suatu hari matanya tertimpa musibah hingga biji matanya keluar dari tengkoraknya. Kemudian mereka ingin memotongnya dan menanyakan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam menjawab, "Jangan." Kemudian beliau mendoakannya dan memejamkan mata Qatadah dengan telapak tangannya. Saat itu, beliau tidak tahu mata bagian mana yang cedera.

Riwayat ini disebutkan As-Suyuthi dalam kitabnya (1/145), sedangkan lafazhnya oleh Abu Ya'la telah dibawakan oleh Al Haitsami dalam kitab "An-Najma" (8/297-298). Dan dia berkomentar bahwa dalam sanad hadits tersebut terdapat Yahya bin Abdul Humaid Al Hamani yang riwayatnya secara dha'if.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (7)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Albani menambahkan bahwa penulis memberi isyarat kepada hadits Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

'Sungguh aku mengenal sebongkah batu di Makkah yang pernah memberi salam kepadaku sebelum aku diutus oleh Allah. Sungguh aku mengenalnya hingga saat ini." (HR. Muslim (7/58-59), Tirmidzi (3628) yang menilai bahwa hadits ini adalah hasan, Ad-Darimi dalam kitab "Mukadimah As-Sunan", Ahmad (5/89, 95, dan 105), dan Abu Nu'aim dalam kitab "Ad-Dalail", halaman 340)

Dan Albani menambahkan lagi:

Inilah mukjizat yang mutakhir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Al Hafizh Ibnu Katsir telah mengumpulkan sebagian besar penggalan fenomena mukjizat-mukjizat tersebut di dalam kitabnya "Al Bidayah", As-Suyuthi dalam kitab "Al Khashaish" (2/306-209) dari sejumlah sahabat. Di antara mereka Ibnu 'Umar, Jabir dari Bukhari dalam kitab "Al Manaqib", Abu Nu'aim halaman 341-345. Dari Jabir, ayah saya, Sahal bin Sa'ad, Abu Sa'id Al Khudri, Aisyah radhiyallahu 'anhum dan lain-lain.

Selain mereka yang disebut di atas, ada juga Anas bin Malik dan Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhum dari Ibnu Majah, no. 1415 dengan lafazh, "Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah berbicara dengan sebatang pohon, maka ketika batang pohon tersebut dijadikan mimbar, lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam naik ke atas mimbar tersebut, sang batang pohon itu menangis. Lantas beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam merangkulnya hingga diam. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Seandainya aku tidak merangkulnya, niscaya batang pohon tersebut akan menangis hingga hari Kiamat."

Hadits ini telah saya identifikasikan dalam kitab "Al Ahadits Ash-Shahihah", no. 1200. Dan As-Suyuthi menisbatkan fadhilah ini dan yang sebelumnya kepada penulis. Lihat (3/131).

11. Mukjizat lain yang sangat menakjubkan pernah terjadi pada diri Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah memancarnya air yang dari sela-sela jari beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan mukjizat seperti ini jelas lebih dahsyat daripada air yang sekedar memancar dari bebatuan. Karena sudah merupakan hal yang lumrah dan biasa ditemukan memancarnya air dari sela-sela bebatuan.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (6)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Hal ini mengindikasikan akan adanya pengagungan dan penghormatan tersendiri bagi seseorang yang memiliki panggilan istimewa. Dalam sebuah prosa diungkapkan:

"Janganlah memanggilku kecuali dengan panggilan 'Wahai hamba-Nya', karena panggilan itu adalah kemuliaan bagi salah satu nama panggilanku."

Albani menambahkan,

Ini merupakan penggalan syair yang dikutip oleh penulis dari ucapan Abu Nu'aim dalam kitab "Dalail An-Nubuwwah", halaman 9-11, kemudian As-Suyuthi meringkasnya dalam kitab "Al Khashaish Al Kubra" (3/141). Dan dia mengisyaratkan dengan ungkapan, "Ulama berpendapat di antara keistimewaan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, yaitu, 'Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak langsung memanggilnya dengan namanya..."

g. Mukjizat-mukjizat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

9. Mukjizat pada kebanyakan Nabi hanya berlaku sebatas era hidupnya saja, sedangkan mukjizat Al Qur`an pada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak akan pernah lekang oleh zaman, dan kekal hingga hari Kiamat.

Albani menegaskan bahwa penulis ingin mengisyaratkan akan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berbunyi, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 'Setiap Nabi telah dianugerahi ayat-ayat dan memilih pengikut yang beriman dengannya. Sedangkan aku telah dikaruniai wahyu yang diturunkan kepadaku, aku berharap agar akulah yang memiliki pengikut terbanyak pada hari Kiamat nanti." (HR. Bukhari, kitab "Fadha'il Al Qur'an", Muslim (1/92-93), Ahmad (2/341 dan 451).

Dan inilah fadhilah beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang dinukilkan As-Suyuthi dalam kitab "Al Khashaish" (3/131) dari penulis.

10. Di antara mukjizat keduniaan (temporer) yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, seperti mukjizat akan sebuah batu yang memberi salam kepadanya, rintihan sebuah batang pohon kepadanya, merupakan beberapa hal mukjizat yang belum pernah diberikan kepada Nabi-nabi lainnya.

Fenomena ini membuktikan kredibelitas sebuah pembuktian. Maka ambillah apa yang anda lihat dan tinggalkan apa yang anda dengar.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (5)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

e. Sumpah Allah atas nama...

7. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah bersumpah atas nama hidup Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dalam firman-Nya, "Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan)." (QS. Al Hijr (15): 72)

Sumpah yang mengatasnamakan seseorang mengindikasikan akan adanya kemuliaan dan keagungan hidup (dan pada diri) orang tersebut terhadap subjek yang melakukan sumpah. Dan memang sangat layak untuk menjadikan hidup Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk dijadikan sumpah oleh-Nya, karena hidup beliau memang memiliki dan membawa berkah baik dalam skala spesifik (khusus) maupun general (umum).

f. Kemuliaan nama panggilan.

8. Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam menyebut nama panggilan baginya. Dia memanggil dengan nama-nama yang disukai-Nya, serta kemuliaan sifat-sifat yang dimiliki olehnya.

Misalnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menggunakan ungkapan dalam firman-Nya, "Wahai Nabi." (QS. Al Anfaal (8): 64, 65, 70, dan lain-lain); dan "Wahai Rasul." (QS. Al Maa`idah (5): 41 dan 67)

Inilah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh para Nabi lainnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala cenderung menyeru mereka dengan nama biasanya. Seperti dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Wahai Adam." (QS. Al Baqarah (2): 35), "Wahai Isa bin Maryam, ingatlah akan nikmat-Ku kepadamu." (QS. Al Maa`idah (5): 110), "Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah." (QS. Al Qashash (28): 30), "Wahau Nuh, turunlah dengan selamat." (QS. Huud (11): 48), "Wahai Daud, sesungguhnya Kami telah menjadikan khalifah di bumi." (QS. Shaad (38): 26), "Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi tersebut." (QS. Ash-Shaaffat (37): 105), "Wahai Luth, sesungguhnya kami utusan Tuhanmu." (QS. Huud (11): 81), "Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberimu kabar gembira." (QS. Maryam (19): 7), "Wahai Yahya, ambillah kitab itu." (QS. Maryam (19): 12).

Semua orang pun tahu, bahwa apabila seorang majikan memanggil salah satu hamba (anak buahnya) dengan panggilan sifat atau akhlak bagus yang dimiliki oleh hamba tersebut menunjukkan dia (hamba atau anak buahnya) tersebut memiliki keistimewaan mulia dan lebih terhormat serta disenangi dari figur lainnya, dibanding dengan hamba (anak buah) yang hanya dipanggil dengan nama biasanya saja tanpa dibubuhi nama panggilan pujian yang memuliakannya.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (4)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Dan ketika semua orang memohon syafa'at dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pada hari Kiamat, beliau menjawab,

"Akulah yang berhak memberikan syafa'at." (HR. Bukhari dan Muslim dan Ibnu Abu 'Ashim dalam kitab "As-Sunnah" no. 816-817)

5. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah manusia pertama yang memberikan syafa'at dan yang pertama mendapat syafa'at. Hal ini mengindikasikan akan keistimewaan dan keutamaan beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Albani menegaskan bahwa hadits ini merupakan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan secara marfu' dengan lafazh,

"Aku adalah pemuka anak cucu Adam pada hari Kiamat. Orang pertama yang dikeluarkan dari perut bumi, orang pertama yang memberi syafa'at, dan orang pertama yang menerima syafa'at." (HR. Muslim dan lain-lain)

Hadits ini telah ditakhrij di dalam kitab "Dhilal Al Jannah fi Takhrij As-Sunnah", cetakan Maktabah Al Islami, halaman 792. Dan hadits ini juga memiliki banyak saksi, sebagaimana diuraikan di dalam kitab "Ash-Shahihah" halaman 1571.

Dan hadits ini berasal dari riwayat Abdullah bin Salam dan Abu Sa'id sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.

d. Penangguhan doa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

6. Hadits di atas merupakan indikasi didahulukannya Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam (daripada figur Nabi lainnya). Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan pengabulan ini bersifat disegerakan perwujudannya di dunia. Sedangkan bagi doa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam seputar syafa'at untuk umatnya, akan ditangguhkan efektifitasnya di akhirat kelak.

Albani menambahkan bahwa hadits ini merupakan isyarat pada sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, "Setiap Nabi memiliki doa mustajab. Akan dikabulkan saat dia berdoa. Sedangkan doaku ditangguhkan hingga hari Kiamat sebagai syafa'at bagi umatku." (HR. Bukhari, dan Muslim dan lain-lain dari hadits Abu Hurairah, Anas dan lain-lain dan telah ditakhrij dalam kitab "Azh-Zhilal" (797-799)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (3)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

3. Dan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam,

"Adam dan lain-lain di bawah pimpinanku pada hari Kiamat dan tidak sombong." (HR. Ahmad (1/281 dan 295), Tirmidzi no. 3620 dan lain-lain, dan telah di-takhrij dalam kitab "Azh-Zhilal" (275). Maknanya terdapat dalam hadits Abdullah bin Salam dan Abu Sa'id terdahulu)

Inilah keistimewaan yang menunjukkan ketinggian martabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Karena sebuah kemuliaan tidak akan berarti tanpa adanya keistimewaan dalam kedudukan dan martabat.

c. Syafaat Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

4. Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri memberitahukan bahwa Dia telah mengampuni dosa-dosa yang terdahulu dan yang akan datang bagi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dan belum pernah Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi keistimewaan seperti itu kepada Nabi-nabi lainnya, atau minimal tidak ada berita yang mengindikasikan adanya fenomena keistimewaan tersebut kepada selain Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Karena pada saat hari Kiamat nanti, ketika setiap Nabi dimintai syafa'at (pertolongan), mereka (secara individu) akan menyebutkan kesalahan yang pernah diperbuatnya sendiri, dengan mengungkapkan,

نَفْسِي نَفْسِي

Nafsii nafsii.

"Diriku, diriku."

Albani menambahkan bahwa hadits ini merupakan cuplikan hadits tentang syafa'at yang cukup panjang dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan secara marfu' dengan lafazh,

"Aku adalah pemuka manusia saat hari Kiamat. Apakah kalian tahu, mengapa demikian? Karena pada hari Kiamat Allah akan mengumpulkan manusia yang pertama hidup hingga yang terakhir dari mereka dalam sebuah lapangan..." (HR. Bukhari dan Muslim) dan telah ditakhrij dalam kitab "Zhilal Al Jannah" no. 811.

Seandainya mereka (para Nabi) telah mengetahui akan janji Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap pengampunan dosa-dosa mereka, niscaya mereka tidak akan terburu-buru untuk bersikap seperti itu (mengedepankan aspek ego -"diriku"-, ed).

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah (2)

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Zhilal Al Jannah fi Takhrij As-Sunnah" no. 393. Hadits ini mempunyai saksi lain dari hadits Abu Sa'id Al Khudri dari Tirmidzi dan lain-lain dan mengklaimnya sebagai hadits hasan. Serta juga telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" no. 1571.

Sayyid (pemuka) adalah seseorang yang memiliki sifat (dan kedudukan) yang tinggi dan memiliki akhlak yang mulia. Dan hal ini juga mengisyaratkan bahwa sayyid merupakan pemuka yang utama di dua pola kehidupan (dunia dan akhirat).

Di dunia dia memiliki sifat moralitas yang tinggi. Sedangkan di akhirat, karena adanya aspek balasan (dan perhitungan atas segala amal perbuatan seseorang ketika di dunia) sangat tergantung kepada moralitas dan etika yang sudah dilakukannya di dunia. Apabila semasa hidupnya dia memiliki pekerti dan moralitas, maka di akhirat kelak dia akan mendapati keutamaan (dan kelebihan) harkat, martabat dan derajat.

Konteks hadits tersebut di atas, adalah untuk memberikan batasan kepada manusia (sebagai umat) dalam memposisikan dirinya di hadapan Tuhannya yang Maha Agung, serta menunjukkan supremasi aspek moral dan pekerti sebagai sesuatu yang menjadi kebanggaan. Karena dengan hadits ini, beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam ingin memangkas asumsi orang-orang yang mengira bahwa menyebutkan hal demikian (kebanggaan akan moral dan pekerti sebagai kebanggaan) merupakan suatu kebodohan, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan tegas mengatakan, "Aku tidak sombong."

b. Pemimpin yang tidak sombong.

2. Penggalan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang mengungkapkan,

"Di tanganku pucuk pimpinan (keutamaan) pujian pada hari Kiamat dan tidak sombong." (HR. Ibnu Majah no. 4308)

Albani menambahkan,

"Hadits tersebut dari Abdullah bin Salam yang telah disebutkan pada pembahasan terdahulu, hanya dengan sedikit perbedaan. Adapun konteks hadits ini adalah sama dengan lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id yang telah disebutkan sebelumnya."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Bagian Kedua.

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

A. Pendahuluan.

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu dicurahkan kepada pemimpin seluruh makhluk, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sang penutup para Nabi, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "...dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepada-Mu, apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS. An-Nisaa` (4): 113)

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (QS. Al-Baqarah (2): 235)

B. Kemuliaan Rasul.

a. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemimpin anak Adam.

1. Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemuka dan pemimpin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sayalah pemuka anak cucu Adam dan tidak sombong."

Albani menambahkan bahwa hadits tersebut bermuara dari hadits Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu dengan lafazh,

"Aku adalah pemuka anak cucu Adam pada hari Kiamat dan tidak sombong. Orang pertama yang dikeluarkan dari bumi, orang pertama yang memberi syafaat, di tangankulah pimpinan pujian, di bawahnya adalah Adam, kemudian yang lain." (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Abu Ya'la dengan sanad shahih)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan (2) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Hadits ini telah ditakhrij dalam kitab "Zhilal Al Jannah fi Takhrij As-Sunnah" no. 393. Hadits ini mempunyai saksi lain dari hadits Abu Sa'id Al Khudri dari Tirmidzi dan lain-lain dan mengklaimnya sebagai hadits hasan. Serta juga telah ditakhrij dalam kitab "Ash-Shahihah" no. 1571.

Sayyid (pemuka) adalah seseorang yang memiliki sifat (dan kedudukan) yang tinggi dan memiliki akhlak yang mulia. Dan hal ini juga mengisyaratkan bahwa sayyid merupakan pemuka yang utama di dua pola kehidupan (dunia dan akhirat).

Di dunia dia memiliki sifat moralitas yang tinggi. Sedangkan di akhirat, karena adanya aspek balasan (dan perhitungan atas segala amal perbuatan seseorang ketika di dunia) sangat tergantung kepada moralitas dan etika yang sudah dilakukannya di dunia. Apabila semasa hidupnya dia memiliki pekerti dan moralitas, maka di akhirat kelak dia akan mendapati keutamaan (dan kelebihan) harkat, martabat dan derajat.

Konteks hadits tersebut di atas, adalah untuk memberikan batasan kepada manusia (sebagai umat) dalam memposisikan dirinya di hadapan Tuhannya yang Maha Agung, serta menunjukkan supremasi aspek moral dan pekerti sebagai sesuatu yang menjadi kebanggaan. Karena dengan hadits ini, beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam ingin memangkas asumsi orang-orang yang mengira bahwa menyebutkan hal demikian (kebanggaan akan moral dan pekerti sebagai kebanggaan) merupakan suatu kebodohan, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan tegas mengatakan, "Aku tidak sombong."

b. Pemimpin yang tidak sombong.

2. Penggalan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang mengungkapkan,

"Di tanganku pucuk pimpinan (keutamaan) pujian pada hari Kiamat dan tidak sombong." (HR. Ibnu Majah no. 4308)

Albani menambahkan,

"Hadits tersebut dari Abdullah bin Salam yang telah disebutkan pada pembahasan terdahulu, hanya dengan sedikit perbedaan. Adapun konteks hadits ini adalah sama dengan lafazh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id yang telah disebutkan sebelumnya."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Bagian Kedua.

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

A. Pendahuluan.

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu dicurahkan kepada pemimpin seluruh makhluk, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam sang penutup para Nabi, beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "...dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepada-Mu, apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS. An-Nisaa` (4): 113)

"Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain." (QS. Al-Baqarah (2): 235)

B. Kemuliaan Rasul.

a. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemimpin anak Adam.

1. Beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam adalah pemuka dan pemimpin. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda,

"Sayalah pemuka anak cucu Adam dan tidak sombong."

Albani menambahkan bahwa hadits tersebut bermuara dari hadits Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu dengan lafazh,

"Aku adalah pemuka anak cucu Adam pada hari Kiamat dan tidak sombong. Orang pertama yang dikeluarkan dari bumi, orang pertama yang memberi syafaat, di tangankulah pimpinan pujian, di bawahnya adalah Adam, kemudian yang lain." (HR. Ibnu Hibban dari riwayat Abu Ya'la dengan sanad shahih)

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (14) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Penulis menyebutkan bahwa hadits tersebut adalah dha'if. Berbeda dengan Adz-Dzahabi, yang mengatakan bahwa hadits tersebut adalah maudhu'. Polemik ini terkesan klise, namun andai saya memperluas pembahasan di sini dengan mengutip pendapat Al Hafizh Adz-Dzahabi pun tidak akan menemui justifikasi yang berimbang. Karena, hadits tersebut beredar di antara Husain dan 'Ulwan, Umar Al Wajihi dan para pembuat hadits palsu lainnya. Ibnu Hajar Al 'Asqalani telah membuktikan pendapat Adz-Dzahabi ini. Lihat kitab "Lisan Al Mizan" (4/289-290).

Menurut asumsi saya, Ibnu Taimiyyah pun berpendapat yang sama dalam kitabnya "Minhaj As-Sunnah". Silahkan bagi anda yang tertarik, untuk merujuk langsung kepada referensi tersebut.

Kemudian, dari hadits tersebut sangat kentara indikasi akan dimensi ke-syi'ah-an. Seperti diketahui secara luas, bahwa Ahlus Sunnah telah menetapkan keutamaan Khulafa Rasyidiin yang empat berdasarkan urutan yang telah baku. Pertama Abu Bakar, kedua Umar, ketiga 'Utsman, dan keempat Ali radhiyallahu 'anhum. Hadits tersebut tidak ada mengindikasi kemuliaan Ali radhiyallahu 'anhu saja, bahkan pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak ada seorang pun yang menandingi kedudukan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, sebagaimana keutamaan Imam Bukhari (dalam ilmu hadits) dibandingkan dengan orang lain.

Maka bagaimana mungkin untuk dapat dikatakan bahwa, "Ali radhiyallahu 'anhu adalah (satu-satunya) pemuka bangsa Arab." Dan tidak disangsikan lagi, fenomena ini merebak karena ulah dan propaganda syi'ah. Kami mencium bau ke-syi'ah-an Al Ghamari dan rekan-rekannya dari tulisan-tulisan mereka. Hingga seseorang dari mereka telah menulis sebuah makalah khusus untuk mendukung dan memperkuat dukungan terhadap Al Harits Al A'war Asy-Syi'i.

Sebagai penutup, saya memohon taufik dan hidayah-Nya bagi kami dan saudara-saudara kami sesama muslimin, agar kami dapat mengenal fadhilah, keutamaan dan sejarah Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang benar. Dan agar mendorong kita untuk menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik di dalam segala urusan kehidupan ini.

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Maha Suci Engkau, ya Allah, segala puji bagi-Mu, saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Mohon ampun dan taubat kami kepada-Mu. Shalawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam beserta keluarga-Nya.

Beirut, Senin 28/12/1401 H. [10]

Muhammad Nashiruddin Al Albani.

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

10. Karena satu dan lain hal, maka penyelesaian cetakan makalah ini agak terbengkalai hingga baru dapat diselesaikan pada media 1403 H.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Pendahuluan Muhaqqiq (13) | Kemuliaan Rasulullah

Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul.

Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.

Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Muhammad Iqbal Kadir.

Ahli hadits manakah yang akan menilai nisbat riwayat ini akan menjadi baik? Karena dengan pola nisbat seperti ini akan mempersulit kemungkinan para pembaca untuk merujuk ke sanad aslinya ketika diperlukan. Terlebih lagi pada beberapa kondisi, penulis mendiamkan (tidak mencantumkan keterangan sanad dan riwayatnya).

Sebenarnya sangat memungkinkan baginya untuk meriwayatkan teks hadits tersebut dari imam hadits yang lebih populer dari Ibnu Abu 'Ashim. Seperti Tirmidzi dan Ibnu Hibban, atau lainnya seperti yang akan anda lihat dalam takhrij kami.

Menurut pendapat para ahli hadits, penisbatan (kepada perawi yang kurang populer) seperti ini pada hakikatnya akan lebih sah andai (dalam waktu bersamaan) disertai dengan perawi yang lebih termashur. Atau pengkaitan berbagai asas manfaat dari hadits tersebut, seperti sanad orang yang dinisbatkan tersebut lebih shahih daripada sanad para perawi lain.

Atau juga, minimal dengan memberi isyarat akan adanya korelasi periwayatan yang dilakukan oleh para penyusun kitab "Shahih", seperti Ibnu Hibban karena dia termasuk perawi yang sering disebutkan dalam shahih.

Bahkan ada lagi kecenderungan penulis untuk menisbatkan hadits kepada seseorang yang sangat asing (ghariib). Seperti ketika beliau menisbatkan hadits dari Sudrah yang tercantum dalam pembahasan poin 16 kepada Nasa`i dan Ibnu Abu Hatim. Sedangkan sebenarnya hadits tersebut ada di dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

5. Disebutkan dalam takhrij hadits pembahasan poin 14, "Semua makhluk adalah tanggungan Allah..." Penulis menyebutkan, "Dan sanad hadits Ibnu Mas'ud jayyid (baik)."

Menurut saya tidak demikian, karena dalam sanadnya ada perawi yang lemah sekali, yaitu 'Umair Abu Harun Al Qarasyi dan hadits yang diriwayatkan olehnya adalah matruk (tidak dipakai). Seperti yang diungkapkan oleh Al Haitami dalam kitab "Majma Az-Zawaid" (8/191) dan lihat komentar kami yang akan datang dalam poin ini (14).

Masih dalam tipe kealfaan yang sama, penulis menyebutkan hadits Aisyah radhiyallahu 'anhuma dalam kitab "Al Mustadrak" dengan lafazh,

"Saya adalah pemuka anak cucu Adam dan Ali adalah pemuka Arab."

Baca selanjutnya:

Daftar Isi Buku Ini.

Daftar Buku Perpustakaan Ini.

===

Maraji'/ sumber:

Kitab: Bidayatu As-Suul fi Tafdili Ar-Rasul, Penulis: Imam Ibnu Abdussalam As-Sulami Asy-Syafi'i Ad-Dimasyqi, Pentahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Tanpa Keterangan Penerbit, Tanpa Keterangan Cetakan, Tanpa Keterangan Tahun, Judul Terjemahan: Kemuliaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, Penerjemah: Muhammad Iqbal Kadir, Editor: Ahmad Taufiq Abdurrahman, Sri Yulyastuti, Penerbit: Najla Press, Jakarta - Indonesia, Cetakan Pertama, September 2004 M.

===

Abu Sahla Ary Ambary bin Ahmad Awamy bin Muhammad Noor al-Bantani
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Daftar Isi Ringkasan Bidayah wa Nihayah